Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu ada media online yang memuat bagaimana warga kota ini yang sudah usia sembilan tahun tidak sekolah karena kemiskinan. Di sisi lain ada program pengentasan masyarakat miskin dengan program Bina Lingkungan untuk menyekolahkan anak-anak kurang beruntung ke sekolah negeri. Sementara di pihak sana begitu banyak sekolah swasta yang tutup karena tidak mendapatkan murid. Sekolah negeri bagai rumah besar yang tidak berpagar.
Lebih memukau lagi perguruan tinggi negeri yang menggunakan program “Kapal keruk” menerima mahasiswanya dengan berbagai program, sehingga jumlah mahasiswa yang diterima tidak sebanding dengan dosen dan fasilitas yang dimiliki. Atas nama pemerataan dan kesempatan berpendidikan, jelas akan mengabaikan mutu, dan ini terbukti manakala ada pengukuran akan kualitas, ternyata perguruan tinggi swasta yang dikelola dengan baik, menduduki ranking pertama. Sehingga silogisme yang dipakai selama ini memerlukan koreksi yang tidak mungkin dipertahankan lagi.
Perguruan tinggi swasta dan sekolah swasta mendapatkan dampak yang luar biasa menderitanya karena, karena pemahaman yang kurang tepat akan makna kesempatan memperoleh pendidikan. Selama ini swasta hanya diberi “label mitra” oleh pemerintah; bahkan yang menyakitkan saat ada pertemuan, ada petinggi yang nyeletuk kalau tidak punya modal jangan buka sekolah. Mereka lupa akan marwah pendidikan; bagaimana satu sekolah berlabel kebangsaan yang digagas tokoh pendidikan negeri ini; menyebar ke seluruh negeri jauh sebelum Indonesia Merdeka; itu hanya bermodalkan tekad membangun bangsa.Ternyata setelah memerdekakan bangsanya, mereka harus menerima pahitnya kebijaksanaan.
Tidak bisa dipungkiri ada sebagian pendidikan swasta yang komersial, namun perlu juga dipahamkan jika swasta tidak dikelola dengan sistem komersial dalam arti hakekat, maka tidak mungkin lembaga pendidikannya akan berjalan. Bisa dibayangkan dengan jumlah peserta didik yang sedikit, harus mempekerjakan pendidik yang baik, dan menghasilkan lulusan terbaik. Sementara fasilitas dan segala sesuatu sebagai penunjang penyelenggaraan pendidikan harus disiapkan. Jika lembaga swasta ini semata-mata hanya mengandalkan pendapatan dari uang sekolah, tentu semua mengetahui bahwa itu adalah jalan menuju kematian.
Tampak sekali bahwa kebijakkan pemerintah berkaitan dengan pendidikan belum melaksanakan prinsip berkeadilan. Semua akan ditangani sendiri, padahal tangan yang dimiliki terbatas. Sementara jika ada pihak swasta yang berinisiatif untuk mengambil peran, sudah dicurigai duluan. Jika ada pihak ketiga yang membuka kekurangan dari sistem penyelenggaraan, maka dicurigai bahkan tidak jarang diintimidasi.
Pihak penyelenggara pendidikan pemerintah seolah-olah dikesankan selalu terbaik, padahal tidak semuanya benar. Lebih menyedihkan lagi kita masih sering mendapat informasi kemajuan atau prestasi yang diperoleh swasta, sering tidak mendapatkan pengakuan yang layak. Jika-pun ada, itu hanya sebagian kecil dengan tujuan kesan diskriminasi tidak mencolok.
Sudah waktunya untuk memikirkan pendidikan yang berkeadilan baik dalam hal kualitas, kuantitas maupun pemerataan. Program biling bisa diteruskan namun tidak monopoli negeri, biarkan swasta berperan asal kasihkan anggarannya kepada mereka dengan mematuhi mekanisme yang ada. Program “Kapal keruk” untuk perguruan tinggi negeri, sudah seharusnya dihentikan; berikan keleluasaan perguruan tinggi swasta juga berperan lebih aktif, dan jika memungkinkan pilihan studi dan ujian bersama bisa dilakukan karena akreditasinya sama. Atau menggunakan skema lain sehingga perguruan tinggi swasta dan negeri pada banyak hal bisa mengerjakan bersama, baik nasional, regional maupun local.
Negeri ini tidak cukup memiliki slogan pendidikan untuk semua, tetapi juga pendidikan yang berkeadilan, baik dalam pengertian pelayanan, partisipasi, maupun dalam tatakelola. Kebijakan yang adil bisa saja belum berkeadilan; oleh sebab itu perlu ada usaha bersama dengan tidak menafikan hakikat masing-masing. Kita tidak mungkin membesarkan gajah sama dengan membesarkan semut, atau menyemutkan gajah dan menggajahkan semut. Biarkan gajah besar dengan caranya, dan semutpun besar dengan caranya.
Tulisan ini pasti akan mengundang perdebatan, dan itu pertanda kita berfikir dan memiliki kepedulian terhadap negeri. Namun perdebatan yang memberi solusi adalah perdebatan cerdas bukan saling menindas; apalagi hanya sekedar mencari popularitas. (SJ)
Pendidikan yang Berkeadilan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu ada media online yang memuat bagaimana warga kota ini yang sudah usia sembilan tahun tidak sekolah karena kemiskinan. Di sisi lain ada program pengentasan masyarakat miskin dengan program Bina Lingkungan untuk menyekolahkan anak-anak kurang beruntung ke sekolah negeri. Sementara di pihak sana begitu banyak sekolah swasta yang tutup karena tidak mendapatkan murid. Sekolah negeri bagai rumah besar yang tidak berpagar.
Lebih memukau lagi perguruan tinggi negeri yang menggunakan program “Kapal keruk” menerima mahasiswanya dengan berbagai program, sehingga jumlah mahasiswa yang diterima tidak sebanding dengan dosen dan fasilitas yang dimiliki. Atas nama pemerataan dan kesempatan berpendidikan, jelas akan mengabaikan mutu, dan ini terbukti manakala ada pengukuran akan kualitas, ternyata perguruan tinggi swasta yang dikelola dengan baik, menduduki ranking pertama. Sehingga silogisme yang dipakai selama ini memerlukan koreksi yang tidak mungkin dipertahankan lagi.
Perguruan tinggi swasta dan sekolah swasta mendapatkan dampak yang luar biasa menderitanya karena, karena pemahaman yang kurang tepat akan makna kesempatan memperoleh pendidikan. Selama ini swasta hanya diberi “label mitra” oleh pemerintah; bahkan yang menyakitkan saat ada pertemuan, ada petinggi yang nyeletuk kalau tidak punya modal jangan buka sekolah. Mereka lupa akan marwah pendidikan; bagaimana satu sekolah berlabel kebangsaan yang digagas tokoh pendidikan negeri ini; menyebar ke seluruh negeri jauh sebelum Indonesia Merdeka; itu hanya bermodalkan tekad membangun bangsa.Ternyata setelah memerdekakan bangsanya, mereka harus menerima pahitnya kebijaksanaan.
Tidak bisa dipungkiri ada sebagian pendidikan swasta yang komersial, namun perlu juga dipahamkan jika swasta tidak dikelola dengan sistem komersial dalam arti hakekat, maka tidak mungkin lembaga pendidikannya akan berjalan. Bisa dibayangkan dengan jumlah peserta didik yang sedikit, harus mempekerjakan pendidik yang baik, dan menghasilkan lulusan terbaik. Sementara fasilitas dan segala sesuatu sebagai penunjang penyelenggaraan pendidikan harus disiapkan. Jika lembaga swasta ini semata-mata hanya mengandalkan pendapatan dari uang sekolah, tentu semua mengetahui bahwa itu adalah jalan menuju kematian.
Tampak sekali bahwa kebijakkan pemerintah berkaitan dengan pendidikan belum melaksanakan prinsip berkeadilan. Semua akan ditangani sendiri, padahal tangan yang dimiliki terbatas. Sementara jika ada pihak swasta yang berinisiatif untuk mengambil peran, sudah dicurigai duluan. Jika ada pihak ketiga yang membuka kekurangan dari sistem penyelenggaraan, maka dicurigai bahkan tidak jarang diintimidasi.
Pihak penyelenggara pendidikan pemerintah seolah-olah dikesankan selalu terbaik, padahal tidak semuanya benar. Lebih menyedihkan lagi kita masih sering mendapat informasi kemajuan atau prestasi yang diperoleh swasta, sering tidak mendapatkan pengakuan yang layak. Jika-pun ada, itu hanya sebagian kecil dengan tujuan kesan diskriminasi tidak mencolok.
Sudah waktunya untuk memikirkan pendidikan yang berkeadilan baik dalam hal kualitas, kuantitas maupun pemerataan. Program biling bisa diteruskan namun tidak monopoli negeri, biarkan swasta berperan asal kasihkan anggarannya kepada mereka dengan mematuhi mekanisme yang ada. Program “Kapal keruk” untuk perguruan tinggi negeri, sudah seharusnya dihentikan; berikan keleluasaan perguruan tinggi swasta juga berperan lebih aktif, dan jika memungkinkan pilihan studi dan ujian bersama bisa dilakukan karena akreditasinya sama. Atau menggunakan skema lain sehingga perguruan tinggi swasta dan negeri pada banyak hal bisa mengerjakan bersama, baik nasional, regional maupun local.
Negeri ini tidak cukup memiliki slogan pendidikan untuk semua, tetapi juga pendidikan yang berkeadilan, baik dalam pengertian pelayanan, partisipasi, maupun dalam tatakelola. Kebijakan yang adil bisa saja belum berkeadilan; oleh sebab itu perlu ada usaha bersama dengan tidak menafikan hakikat masing-masing. Kita tidak mungkin membesarkan gajah sama dengan membesarkan semut, atau menyemutkan gajah dan menggajahkan semut. Biarkan gajah besar dengan caranya, dan semutpun besar dengan caranya.
Tulisan ini pasti akan mengundang perdebatan, dan itu pertanda kita berfikir dan memiliki kepedulian terhadap negeri. Namun perdebatan yang memberi solusi adalah perdebatan cerdas bukan saling menindas; apalagi hanya sekedar mencari popularitas. (SJ)
Anggota DPR RI, Dr. H. Muhammad Kadafi Jadi Narasumber di PKKMB 2023 Universitas Malahayati Bandar Lampung
Bandar Lampung (malahayati.ac.id) : Acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Malahayati Bandar Lampung menjadi lebih meriah dengan kehadiran Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H., Anggota DPR RI Periode 2019 – 2024, sebagai narasumber utama, Selasa (26/9/2023).
Dalam paparannya, Dr. H. Muhammad Kadafi mengingatkan mahasiswa baru untuk merasa bersyukur karena telah memiliki kesempatan menimba ilmu di almamater yang mereka pilih. Kadafi sapaan akrabnya menegaskan pentingnya menjaga nama baik universitas dan membanggakan almamater, karena identitas universitas akan menjadi bagian dari identitas mereka di masa depan.
“Semua akan ditanya nanti lulusan mana, maka akan menjawab, ‘Saya dari Universitas Malahayati.’ Karena itu, terus dijaga nama universitas dan buatlah prestasi yang membanggakan, agar menjadi kebanggaan seluruh civitas akademika dan ikatan alumni Universitas Malahayati,” kata Dr. H. Muhammad Kadafi.
Selain itu, Kadafi juga menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam organisasi. Menurutnya, fokus hanya pada hasil belajar tidak cukup untuk berhasil di dunia kerja. Mahasiswa perlu mengembangkan soft skill, seperti kemampuan berorganisasi, berkomunikasi, dan bekerja dalam tim, untuk membangun jaringan dan menghadapi tantangan di masa depan.
Dr. H. Muhammad Kadafi menjelaskan bahwa era sekarang menuntut lebih dari sekadar pencapaian IPK tinggi. Mahasiswa diharapkan memiliki perencanaan yang matang selama tiga tahun masa kuliah mereka, termasuk persiapan untuk penelitian, skripsi, dan lainnya. Ia mendorong para mahasiswa untuk memiliki mimpi besar, gigih dalam mengejar tujuan, dan senantiasa berdoa untuk kesuksesan mereka.
“Orang sukses mempunyai mimpi yang besar. Tujuan akhir adalah memiliki mimpi besar. Jangan takut untuk bermimpi, karena mimpi itu adalah bagian dari niat kita. Niat itu adalah setengah dari keberhasilan kita,” tegasnya.
Dr. H. Muhammad Kadafi menyimpulkan bahwa sukses seseorang ditentukan oleh tiga hal, mimpi besar, aksi nyata, dan doa. Dalam pengajarannya kepada mahasiswa, ia mengajak mereka untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian akademis, tetapi juga mengembangkan nilai-nilai dan kualitas diri yang akan membantu mereka meraih kesuksesan di masa depan. (451/**)
Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dr. Achmad Farich Buka PKKMB 2023 di Graha Bintang
Bandar Lampung (Malahayati.ac.id): Universitas Malahayati Bandar Lampung menggelar kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2023/2024 dengan meriah di Graha Bintang, Selasa (26/9/2023).
Acara resmi dibuka Rektor Universitas Malahayati, Dr. Achmad Farich, dr., M.M., dan diikuti 2.397 mahasiswa baru, bertema, “Menjadi Mahasiswa Berkarakter, Humanis, dan Religius di Era Digital.”
Dalam sambutannya, Rektor Dr. Achmad Farich mengungkapkan kebanggaan atas kehadiran mahasiswa baru di Universitas Malahayati.
“Saat ini kalian telah resmi menjadi bagian dari Universitas Malahayati, yang merupakan kebanggaan bagi seluruh sivitas akademik,” kata rektor.
Rektor juga menggarisbawahi peran universitas dalam mengenalkan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru yang datang dari berbagai wilayah.
Pengalaman di sekolah dan di perguruan tinggi tentu berbeda, di mana di tingkat perguruan tinggi, mahasiswa akan mengeksplorasi konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka,”
“Kalian tidak hanya dituntut untuk memahami ilmu utama atau kompetensi inti, tetapi juga diharapkan untuk menjelajahi ilmu tambahan yang sesuai dengan minat dan aspirasi masing-masing,” ucapnya.
Rektor berharap mahasiswa telah mendapatkan gambaran yang jelas tentang peran mereka di lingkungan kampus.
Rektor juga mendorong mahasiswa untuk berkomunikasi secara aktif dengan pihak kampus, menekankan pentingnya kolaborasi dalam perjalanan akademik mereka.
Dalam acara PKKMB yang meriah ini, sejumlah pejabat dari Universitas Malahayati Bandar Lampung turut hadir, memberikan dukungan dan semangat kepada mahasiswa baru. (451/**)
Permudah Pencatatan Data Posyandu, Dosen Universitas Malahayati Ciptakan Aplikasi Silimun di Puskesmas Hajimena
NATAR (malahayati.ac.id): Tim Dosen Universitas Malahayati Bandar Lampung berkolaborasi dengan Puskesmas Desa Hajimena, Natar, Lampung Selatan, melakukan kegiatan pemberdayaan berbasis masyarakat (PBM) Sistem Informasi Laporan Imunisasi (Silimun) bayi dan Balita di Posyandu Way Layap Hajimena, Natar, Lampung Selatan, Jumat (22/9/2023).
Acara tersebut merupakan bentuk implementasi dari surat Direktur Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi nomor 0717/E5.5/AL.04/2023 tentang pengumuman penerimaan pendanaan program pengabdian kepada masyarakat tahap kedua tahun anggaran 2023 dengan kelompok skema pemberdayaan berbasis masyarakat.
Kegiatan diikuti oleh perwakilan kader yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Hajimena yang berjumlah 19 orang, aparatur Desa Hajimena, tokoh masyarakat, Kepala UPT Puskesmas Hajimena, serta pengelola program Puskesmas Hajimena.
Ketua Pengusul, Nurul Aryastuti, S.ST., M..K.M mengatakan, era digitalisasi saat ini para kader-kader Posyandu diharapkan mampu beradaptasi dengan adanya kemajuan teknologi, sehingga dapat mempermudah pekerjaan mereka dalam melakukan pencatatan dan pelaporan terutama laporan imunisasi yang ada di Posyandu.
“Sehingga Silimun hadir agar pencatatan dan pelaporan imunisasi menjadi lebih baik dan lebih lengkap, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan bayi dan Balita,” kata Nurul Aryastuti.
Dalam kegiatan tersebut, Dosen Prodi Profesi Bidan Universitas Malahayati Nurul Isnaini, S.S.T., M.Kes melakukan review kembali kepada para kader terkait tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) kader sesuai dengan PMK Nomor 12 Tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi, serta jadwal terbaru pemberian imunisasi rekomendasi IDAI 2023.
Materi inti dari kegiatan pengabdian ini disampaikan Dosen S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, Agung Aji Perdana, SKM., M.Epid dengan melakukan sosialisasi terkait penggunaan aplikasi Silimun.
Saat ini, pencatatan dan pelaporan imunisasi di Posyandu yang dilakukan oleh kader masih secara manual, sehingga beresiko terjadi kesalahan dalam penulisan, hilang data, hingga tidak keakuratan dalam mengatasi cakupan perwilayah.
Untuk itu dengan aplikasi Silimun tersebut, besar harapan dapat menjadi solusi bagi kader dalam pencatatan dan pelaporan terkait program imunisasi di Posyandu. (451/**)
Warek 1 Universitas Malahayati, Muhammad Buka Kuliah Umum dan Sosialisasi S3 Prodi Ilmu Biomedik FKUI
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Wakil Rektor 1 Universitas Malahayati, Muhammad, S. Kom., M.M., membuka acara Sosialisasi Program Magister dan Program Doktor Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Acara ini berlangsung di Malahayati Career Center (MCC), Senin, (25/9/2023).
Dalam sambutannya, Wakil Rektor 1 Universitas Malahayati, Muhammad, mendorong peserta untuk fokus dan mencatat informasi yang disampaikan pemateri dari FKUI.
Ia menjelaskan pentingnya mencatat ilmu yang diberikan, karena ilmu yang bermanfaat tidak selalu dapat diulang pada pertemuan berikutnya.
Warek 1, Muhammad juga menyatakan harapannya agar para mahasiswa dapat menemukan jalan dan kemudahan melanjutkan studi hingga ke jenjang magister dan doktoral.
“Saat ini kalian sedang berjuang mengejar sarjana dokter, mungkin nanti masih ada yang ingin melanjutkan lagi ke S2 Prodi Ilmu Biomedik hingga ke jenjang S3 doktoral,” ucapnya.
Kuliah umum pada acara ini disampaikan Ketua Program Magister Ilmu Biomedik FKUI, Prof. dr. Wawaimuli Arozal, MBiomed., Pharm.D.
Prof. dr. Wawaimuli menjelaskan bahwa tujuan kehadirannya bersama tim adalah untuk mensosialisasikan program Magister dan doktoral ilmu biomedik kepada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Malahayati.
“Mahasiswa yang telah lulus sarjana diharapkan dapat melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang magister dan doktor di FKUI,” ujarnya.
Acara juga dihadiri sejumlah pejabat dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, termasuk Ketua Program Magister Ilmu Biomedik FKUI, Dr. Fadilah, SSi, MSi., Ketua Program Studi Doktor Ilmu Biomedik FKUI, Prof. Dr. rer. nat. Dra. Asmarinah, MS., serta Sekertaris Program Studi Doktor Ilmu Biomedik FKUI, dr. Rahimi Syaidah, PhD. (451/**)
Pesan Pendahulu
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu seorang mahasiswa program doktor yang pernah menjadi bimbingan penulis mengirim komentar setelah membaca artikel, isi lengkapnya pesan itu demikian…”perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”… kalimat ini adalah sepenggal dari Pidato Ir. Soekarno, saat memperingati Hari Pahlawan 10 November 1961. Dan, saat dikonfirmasi ke beberapa rekan ternyata diberi komentar “sahih”.
Lebih lanjut mahasiswa program doktor yang cerdas tadi menambahi komentar yang dialih tuliskan sebagai beriku: skema penjajahan tempoe duloe adalah datang, rebut hasil buni, kuasai wilayah, dan rakyat melawan. Kemudian, penjajah pergi rakyat Merdeka. Skema pejajahan jaman now; penjajah datang, temui pejabat, pejabat lewat kekuasaan merebut paksa wilayah. Rakyat melawan, rakyat ditangkap dengan dalih tidak mendukung program. Apakah kita tidak selamanya terjajah. Walau komentar ini tampaknya sedikit emosional, namun untuk beberapa hal ada benarnya; tinggal dari sudut mana kita mau memandangnya. Hanya dipesankan jangan pembaca ikut-ikutan emosional.
Peristiwa lain juga terjadi sebagai pembenaran thesa mahasiswa tadi, bisa dibayangkan kalau saat ramai-ramai pencalonan anggota legislatif, ternyata mantan koruptor-pun bisa melenggang untuk ikut kontestasi politik dengan mencalonkan diri. Saat dilakukan crosscek ternyata yang bersangkutan menjawab dengan ringan “penyuap saja bisa jadi pejabat, masa kami tidak”.
Nun jauh di sana di perbatasan negeri, sekarang sedang terjadi apa yang diucapkan pendiri negara ini. Cara pandang yang berbeda antara penguasa dan rakyat jelata sedang terjadi. Atas nama kemakmuran sebagai pembungkus kegiatan pengalihfungsian lahan sedang berlangsung. Semua mencari benarnya sendiri; rakyat menuduh pemerintah dholim, pemerintah memberi stempel rakyat membangkang. Hanya karena membela Cuan dan Tuan yang semula damai berubah menjadi prahara. Sampai-sampai seorang panglima yang seharusnya dalam berbahasa tertata baik, ikut terjebak dalam “lumpur salah diksi” sehingga harus minta maaf walau sudah terburu melukai hati rakyat.
Dari semula negeri ini dirancang oleh para pendiri menjadi rumah besar bagi anak negeri, tidak peduli dengan latarbelakang yang berbeda; namun semenjak kerakusan melanda, entah dari mana musababnya sehingga semakin hari rakyat menjadi semakin terhimpit. Kemarau berkepanjangan, harga pangan merangkak naik, hasil panen gagal; walau semua ditutupi dengan operasi pasar, namun sejatinya bukan di sana masalahnya. Daya beli yang semakin terjun bebas, sekalipun ada barangnya; namun kemampuan untuk membeli yang makin hari makin merosot. Namun dalam pidato para punggawa negeri ini tetap mengatakan kita dalam keadaan baik-baik saja.
Tidak jauh dari ibu kota negeri ada ibu yang berputra tiga harus melakoni sebagai pencuri telur di Swalayan, dan apesnya beliau tertangkap. Untung petugas kepolisian baik hati dan suka menolong; sang ibu diberi bantuan natura dan dibebaskan dari tuntutan. Pertanyaan lanjut berapa banyak keluarga yang serupa tapi tak sama dengan keluarga ini. Mestinya negara hadir ditengah mereka, bukan aparat sebagai pribadi tetapi seharusnya institusi yang memiliki urusan tentang ini. Betapa banyaknya negara ini sudah abai dengan anak negerinya sendiri.
Rasanya tidak salah jika kita mau kembali sejenak meluangkan waktu membuka kembali lembaran lama untuk membaca pesan leluhur, jangan sampai menyesal kemudian tidak berguna. Salah satu pesan leluhur adalah bermusyawarah lah hingga mencapai mufakat, andai kata mufakat juga tidak tercapai maka carilah jalan keluar yang sama-sama menyenangkan. Tidak ada persoalan yang tidak bisa di urai asalkan masing-masing pihak tidak memaksakan kehendak. Semoga kasus Rempang menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua. Janganlah mendekati rakyat saat pemilihan saja, manakala rakyat dalam kesulitan semua menghilang bak ditelan bumi. Pemerintah tidak perlu juga memaksakan kehendak melalui kekuasaan, sebab pada waktunya nanti kekuasaan itu ada akhirnya. SSJ)
Selamat ngopi pagi.
Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dr. Achmad Farich : Selamat Wisuda Institut Kesehatan Indonesia Jakarta
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dr. Achmad Farich, dr., M.M., mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati Institut Kesehatan Indonesia Jakarta dalam acara wisuda, Minggu (24/9/2023).
Rektor Dr. Achmad Farich mengungkapkan kebanggaan dan penghargaan atas capaian para lulusan Institut Kesehatan Indonesia (IKI) Jakarta.
“Selamat kepada para wisudawan dan wisudawati Institut Kesehatan Indonesia yang telah menyelesaikan perjalanan pendidikan. Ini awal dari perjalanan karier dalam dunia kesehatan,” ucap rektor.
Dengan visi dan misi yang kuat, Universitas Malahayati dan Institut Kesehatan Indonesia telah bekerja sama untuk mempersiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan dunia kesehatan yang semakin kompleks.
Rektor Dr. Achmad Farich juga menekankan pentingnya integritas, etika, dan dedikasi dalam profesi kesehatan. Ia berpesan kepada para wisudawan dan wisudawati untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai ini dalam setiap langkah mereka di dunia kesehatan. (451/**)
Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dr. Achmad Farich: Selamat Dies Natalis Unila ke-58
Bandar Lampung, (Malahayati.ac.id): Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dr. Achmad Farich, DR., M.M., menghadiri kegiatan Dies Natalis Universitas Lampung ke-58 di GSG Unila, Sabtu (23/9/2023).
Dalam momen tersebut, Rektor Dr. Achmad Farich turut menyampaikan ucapan selamat kepada Unila.
“Selamat hari jadi yang ke-58, Universitas Lampung,” ucap rektor.
Rektor Dr. Achmad Farich mendoakan, semoga Unila terus tumbuh dan berkembang, memberikan pendidikan berkualitas, berkontribusi positif dalam dunia pendidikan.
Acara Dies Natalis Universitas Lampung kali ini dihadiri oleh sejumlah Rektor dari berbagai perguruan tinggi, Para dosen, yang merupakan tulang punggung Unila, juga turut meramaikan acara ini, tamu undangan dari berbagai sektor, serta mahasiswa Unila, yang menjadi fokus utama lembaga ini. (451/**)
Piting
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Kata ini sebenarnya “biasa-biasa saja” tidak bermakna apapun kalau hanya diposisikan sebagai makna kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Juga bagi anak-anak kecil di Jawa, khususnya Jawa Tengah, kata inipun menjadi istilah dalam permainan sehari-hari. Namun menjadi berubah makna manakala dimasukkan dalam wilayah epistemology dan axiology; karena berubah wilayah yang menjadi tujuan dan kegunaan sebagai esensi atas dipilihnya kata itu.
Sementara pengguna diksi juga akan memberikan bobot makna dari kata “piting” yang dipakai. Jika itu anak-anak yang sedang bermain, maka tentu penggunaan berwilayah pada permainan yang penuh senda gurau. Namun jika itu diucapkan oleh petinggi negeri yang memiliki pasukan, maka makna berubah menjadi perintah. Dan seterusnya sesuai dengan tokoh sentral pengungkap kata tadi.
Tentu saja kata bermakna menjadi tidak masuk akal jika diucapkan oleh mereka yang ada pada posisi tidak untuk mengucapkan itu. Sebagai contoh kata “binatang” tidak bermakna apa-apa kecuali hanya menunjuk mahluk; sementara menjadi berbeda jika itu diucapkan oleh seorang ayah yang sedang marah dengan nada tinggi kepada anaknya, disertai hardikan yang menggelegar.
Dampak dari ucapan-pun menjadi perhatian serius; sebab jika dampaknya melukai personal, masih mungkin bisa meminta maaf. Menjadi berbeda jika dampaknya melukai hati kolektif, maka bisa jadi akan memiliki dampak lanjut yang tidak jarang berakibat fatal. Apalagi permintaan maaf itu disertai dengan narasi pertahanan diri, pembenaran, dan berujung ancaman. Hal ini menunjukkan ketidaktulusan dalam bersikap apalagi berbuat akan maaf, justru sebaliknya menunjukkan kekerdilan sipengucap.
Kita bisa bayangkan jika tindakan itu dikenakan kepada rakyat jelata yang mempertahankan haknya, apapun alasannya, tindakan kekerasan adalah bukan satu-satunya cara untuk menghadapi. Sebab banyak contoh negosiasi-negosiasi konstruktif dapat dibangun untuk dapat digunakan sebagai sarana keputusan bersama. Justru narasa-narasi primordial hanya menyesatkan lambang-lambang komunikasi, yang pada ujungnya menjadi berhadap-hadapan itu-pun hanya membela pemilik modal.
Tampaknya kita harus mereferensi kembali ajaran-ajaran lampau untuk menjadi pemimpin pada level manapun, sebab akhir-akhir ini sering kita jumpai kesesatan berfikir akibat ketidakmampuan logika dalam menemukenali persoalan-persoalan kemasyarakatan yang semakin kompleks. Dan, ditambah lagi dengan tuntutan keadaan akan penguasaan teknologi yang semua sudah menggunakan piranti canggih.
Perlu juga dipahami sekarang ada masyarakat baru yang hadir di dunia ini yang dikenal dengan nitizen. Masyarakat ini tidak dalam bentuk nyata, tetapi dalam bentuk maya, yang memiliki tingkat solidaritas sangat tinggi, dan kemampuan menekanpun luar biasa. Oleh sebab kita tidak bisa lagi bersembunyi manakala berurusan dengan masalah orang-perorang, apalagi jika itu kolektif. Demikian halnya dengan ucapan, perbuatan siapapun kita, bisa terjadi menjadi viral; dan jika sudah seperti ini, maka sudah tidak ada lagi yang bisa dirahasiakan, dan atau ditutup-tutupi. Justru yang terjadi kita akan dikuliti oleh mereka tanpa mengenal ampun.
Pemerintah bukanlah “penjajah baru” dalam konteks moral, akan tetapi perangkat pelayanan kepada rakyat; sebab pemerintah setiap lima tahun sekali harus memperbaharui mandatnya dihadapan rakyat. Pemerintah bisa silih berganti, tetapi suara rakyat adalah abadi sepanjang masih ada negeri. Oleh sebab itu mari jaga negeri ini dengan salah satu diantara caranya adalah jangan lukai hati rakyat.
Pembangunan yang ide awalnya mensejahterakan, selalu memiliki dampak. Menyakitkan sekali justru manakala dampak itu justru menyengsarakan rakyat, lebih-lebih rakyat diposisikan sebagai korban. Sebagai contoh dampak dari pembangunan kereta cepat, ternyata menyisakan berapa ribu hektar lahan pertanian yang tidak produktif lagi karena lahannya rusak tertimbun material bekas bangunan jalan. Berarti ada kemiskinan baru di sana yang tercipta. Jangan pula akibat “piting” nanti akan ada pengangguran baru, dan jika mereka memilih untuk migrasi, kemudian memilih menjadi warganegara tetangga, jangan salahkan mereka; karena kita telah memporakporandakan marwah mereka. (SJ)
Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung Terima Kunjungan Pemred SKHU Lampungpost
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Rektor Universitas Malahayati, Dr. Achmad Farich, dr., M.M., menerima kunjungan dari Pemimpin Redaksi Surat Kabar Harian Umum (SKHU) Lampungpost, Abdul Ghofur, di Lantai 5 Gedung Rektorat Universitas Malahayati, Jumat (22/9/2023).
Dalam pertemuan tersebut, Rektor Dr. Achmad Farich menyambut hangat kunjungan dari SKHU Lampungpost. Mereka membahas potensi kerja sama antara Universitas Malahayati dan media ini dalam mendukung perkembangan dunia pendidikan dan peningkatan kualitas informasi di Lampung.
Rektor Dr. Achmad Farich berharap pertemuan ini sebagai bagian memperkuat kerja sama yang telah terjalin selama ini , serta dapat bersinergi antara dunia akademik dan media massa.
“Semoga kerja sama ini dapat membawa manfaat yang besar bagi kedua belah pihak dan masyarakat Lampung,” ucap rektor.
Pertemuan ini merupakan komitmen Universitas Malahayati dalam menjalin kemitraan yang berkelanjutan dengan berbagai pihak terutama media massa untuk meningkatkan mutu pendidikan dan informasi di Lampung.
Mendampingi Rektor, hadir, Wakil Rektor 1 Muhammad, S. Kom., MM, Wakil Rektor 3, Dr. Eng Rina Febrina, ST., MT, Kepala Bagian Kerjasama Wahid Tri Wahyudi, dan Kepala Humas Universitas Malahayati Emil Tanhar, SE.
Kunjungan turut dihadiri sejumlah perwakilan dari SKHU Lampungpost, diantaranya Bambang Irianto Kadiv Sales dan Marketing, Dat Suranta Ginting Account Manager, dan Sandy Dc Account Executive. (451/**)