Kebahagiaan Sebagai Jejak Kemanusiaan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Senja turun perlahan di halaman posko relawan. Beberapa kardus bantuan masih tersisa. Rani duduk di tangga, mengelap keringat, sementara Bima menyeduh teh hangat dari termos.
“Capek?” tanya Bima sambil menyerahkan gelas.
“Lumayan,” jawab Rani sambil tersenyum. “Tapi entah kenapa rasanya ringan.”
Bima mengangguk. “Aku juga sering begitu. Badan lelah, tapi kepala tenang.”
Rani memandang anak-anak yang masih bermain di kejauhan. “Tadi aku lihat Ibu itu. Yang rumahnya roboh. Dia senyum waktu terima selimut.”
“Ya,” kata Bima pelan. “Senang sekali melihatnya. Padahal yang kita beri sederhana.”
“Kadang aku bertanya,” lanjut Rani, “kenapa hal kecil bisa berarti besar buat mereka.”
“Karena mereka merasa tidak sendirian,” jawab Bima. “Dan mungkin itu juga yang kita rasakan.”
Rani terdiam sejenak. “Aku dulu sering mikir, kapan ya aku bisa benar-benar bahagia.”
“Sekarang gimana?” tanya Bima.
Rani tersenyum, menatap gelas tehnya. “Sekarang aku jarang mikir begitu. Aku lebih sering mikir, besok bisa bantu apa lagi.”
Bima tertawa kecil. “Lucu ya. Kita datang ke sini niat membantu, tapi malah pulang membawa sesuatu.”
“Apa?” tanya Rani.
“Rasa cukup,” jawab Bima mantap. “Bukan karena hidup kita sempurna, tapi karena hari ini kita berguna.”
Angin berembus pelan. Suara tawa anak-anak terdengar lagi.
Rani berdiri. “Ayo bereskan sisa kardus itu.”
Bima ikut bangkit. “Ayo. Masih ada waktu sebelum gelap.”
Mereka berjalan bersama, tanpa banyak kata, tapi dengan langkah yang terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Gagasan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari seberapa sering kita menanyai diri sendiri “apakah aku bahagia”, melainkan dari seberapa banyak orang yang telah kita bahagiakan, mengajak manusia keluar dari pusat egonya. Dalam pandangan filsafat manusia, kebahagiaan bukan sekadar keadaan batin yang privat, melainkan peristiwa relasional: ia lahir, tumbuh, dan bermakna di antara manusia. Manusia tidak hidup sebagai pulau yang terpisah; ia hadir dalam jejaring relasi yang saling memengaruhi. Karena itu, menimbang kebahagiaan dari dampak kebaikan yang kita tebarkan menjadi cara yang lebih jujur untuk memahami makna hidup.

Pertanyaan “apakah aku bahagia” sering terjebak dalam perhitungan subjektif yang rapuh. Ia bergantung pada suasana hati, pencapaian sesaat, atau perbandingan sosial. Ketika kebahagiaan dikejar sebagai tujuan langsung, ia mudah menguap. Filsafat manusia melihat bahwa hasrat yang berpusat pada diri sendiri cenderung tidak pernah selesai; selalu ada kekurangan baru yang menuntut pemenuhan. Dalam lingkaran ini, kebahagiaan menjadi objek yang dikejar, bukan buah yang tumbuh. Akibatnya, manusia menjadi letih oleh tuntutan untuk merasa cukup, padahal standar “cukup” terus bergeser.
Sebaliknya, ketika fokus berpindah pada pertanyaan “siapa yang telah kubahagiakan”, orientasi hidup berubah. Manusia menyadari dirinya sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas kehadirannya di dunia orang lain.

Tindakan kecil seperti; mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memberi waktu, menepati janji, atau menolong tanpa pamrih, menjadi begitu bermakna. Kebahagiaan muncul sebagai efek samping dari tindakan bermakna, bukan sebagai target yang dipaksa. Dalam perspektif ini, kebahagiaan bersifat emergen: ia hadir ketika makna hadir.
Relasi dengan sesama menyingkapkan dimensi etis dari kebahagiaan. Kebahagiaan tidak netral; ia terikat pada pilihan-pilihan yang menghormati martabat manusia lain. Ketika seseorang membahagiakan orang lain, ia mengakui nilai intrinsik sesama sebagai tujuan, bukan alat. Pengakuan ini membangun rasa keterhubungan yang mendalam. Manusia merasakan dirinya berguna, dibutuhkan, dan berarti. Rasa berarti inilah yang menjadi fondasi kebahagiaan yang tahan lama, karena ia tidak bergantung pada pujian atau hasil instan.

Lebih jauh, kebahagiaan yang lahir dari membahagiakan orang lain membentuk karakter. Ia melatih empati, kesabaran, dan kerendahan hati. Empati membuka kemampuan memahami penderitaan dan harapan orang lain; kesabaran menahan dorongan ego; kerendahan hati mengingatkan bahwa kebaikan tidak selalu harus terlihat. Dalam pembentukan karakter ini, manusia tidak hanya “merasa bahagia”, tetapi “menjadi” pribadi yang lebih utuh. Filsafat manusia memandang keutuhan sebagai keselarasan antara niat, tindakan, dan relasi. Di sinilah kebahagiaan menemukan rumahnya.

Namun, membahagiakan orang lain bukan berarti mengabaikan diri sendiri. Ada keseimbangan yang perlu dijaga agar kebaikan tidak berubah menjadi pengorbanan yang merusak. Filsafat manusia menekankan tanggung jawab ganda: terhadap sesama dan terhadap diri. Merawat diri memungkinkan seseorang memberi dengan tulus, bukan dari kekosongan. Dengan demikian, membahagiakan orang lain dan merawat diri bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.

Dalam kehidupan sosial yang sering mendorong kompetisi dan pencitraan, ukuran kebahagiaan yang berorientasi pada dampak kebaikan menawarkan jalan alternatif. Ia membebaskan manusia dari tirani perbandingan dan angka-angka yang menilai diri. Kebahagiaan tidak lagi diukur dari apa yang dimiliki atau dirasakan semata, tetapi dari jejak kemanusiaan yang ditinggalkan. Jejak ini mungkin tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam hubungan yang lebih hangat dan kepercayaan yang tumbuh.

Akhirnya, kebahagiaan sebagai hasil dari membahagiakan orang lain mengembalikan manusia pada makna hidup yang sederhana namun dalam. Hidup menjadi ruang untuk berkontribusi, bukan panggung untuk pembuktian diri. Ketika seseorang berhenti bertanya apakah ia bahagia dan mulai bertanya siapa yang telah ia bahagiakan, ia menemukan paradoks yang indah: kebahagiaan justru datang ketika ia tidak lagi mengejarnya, melainkan menghidupinya melalui kebaikan yang nyata. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

TAHUN BARU ITU PUNYA SIAPA ?

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di suatu perempatan jalan dua orang sedang berbicara; “Bang, hari sudah ganti tahun lagi,” kata pengamen itu sambil menggesek senar gitarnya pelan, suaranya kalah oleh bising kendaraan. Pengemis tua di sebelahnya tersenyum tipis seraya menjawab: “Iya, tapi perut kita tetap sama. Lapar tak kenal kalender.”

Pengamen berhenti bermain dan berkata. “Orang-orang bilang tahun baru itu awal yang baik. Abang percaya?”. “Percaya atau tidak, kaki ini tetap melangkah ke sini tiap pagi,” jawab si pengemis sekenanya, sambil mengangkat kaleng receh. “Kalau aku libur, siapa yang akan kasih makan?”

Pengamen tertawa kecil, pahit. “Tadi malam aku main di perempatan sana. Kembang api ramai sekali. Tapi tak satu pun pengunjunga singgah mendengar lagu ku.”

“Mereka sibuk merayakan hidupnya,” sahut pengemis. “Kita cuma latar belakang. Kayak bangunan tua di foto pesta.” Pengamen menunduk. “Kadang aku iri. Mereka hitung detik menuju tahun baru, aku hitung receh buat beli nasi kucing.”

“Jangan iri,” kata pengemis pelan. “Iri itu mewah. Kita cukup bertahan.”

“Abang tidak capek?” tanya pengamen. “Capek itu pasti,” jawabnya. “Tapi berhenti lebih menakutkan. Berhenti berarti tak ada cerita besok.”

Pengamen kembali memetik gitar. Nadanya sendu. “Kalau suatu hari keadaan berubah, abang mau apa?”. Pengemis menatap jalan. “Aku mau duduk tanpa harus minta. Minum kopi tanpa dihitung receh.” Pengamen tersenyum tipis. “Aku mau main lagu tanpa dikejar satpam.”

Mereka terdiam sejenak.

“Tahun baru itu punya siapa, Bang?” tanya pengamen. Pengemis menghela napas. “Mungkin punya mereka yang punya pilihan. Kita cuma punya hari ini.”. Lampu merah menyala. Mereka kembali pada peran masing-masing, menunggu belas kasih yang tak pernah dijanjikan

Tahun baru itu punya siapa? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan sosial yang dalam. Setiap pergantian kalender dirayakan dengan kembang api, pesta, dan resolusi penuh harapan. Namun di balik sorak sorai itu, ada kenyataan yang berjalan tanpa jeda: orang-orang miskin tetap mengais di jalanan, pengemis masih mengulurkan tangan dengan tatapan lelah, dan mereka yang hidup di pinggiran moral maupun ekonomi terus bertarung demi sekadar seporsi nasi. Tahun baru datang sebagai simbol, tetapi tidak selalu sebagai perubahan.

Dalam lanskap kota-kota hari ini, kontras sosial semakin nyata. Di satu sisi, pusat perbelanjaan penuh diskon dan perayaan. Di sisi lain, trotoar tetap menjadi ruang hidup bagi mereka yang tidak punya pilihan lain. Pergantian tahun tidak otomatis mengubah struktur ketimpangan yang sudah lama mengakar. Kemiskinan bukan sekadar soal kurangnya uang, melainkan hasil dari sistem yang menormalisasi ketidakadilan. Ketika lapangan kerja menyempit, harga kebutuhan pokok naik, dan akses pendidikan tetap timpang, maka tahun baru hanya menjadi angka baru bagi mereka yang hidup dari hari ke hari.

Fenomena ini diperparah oleh cara masyarakat memaknai keberhasilan dan kegagalan. Narasi populer sering menempatkan kemiskinan sebagai akibat dari kurangnya usaha individu. Padahal, realitas sosial menunjukkan bahwa tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang sejak lahir sudah berada dalam lingkaran keterbatasan, dengan pilihan yang sempit dan risiko yang besar. Dalam konteks ini, menyalahkan korban justru menjadi cara paling mudah untuk membebaskan diri dari tanggung jawab kolektif.

Sementara itu, ruang-ruang kekuasaan kerap jauh dari denyut kehidupan rakyat kebanyakan. Ketika kekuasaan dijalankan tanpa empati, kebijakan publik kehilangan rohnya. Korupsi dan penyalahgunaan wewenang bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap harapan banyak orang. Setiap sumber daya yang diselewengkan berarti kesempatan yang hilang bagi mereka yang paling membutuhkan: layanan kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang terjangkau, dan perlindungan sosial yang manusiawi. Dalam situasi seperti ini, tahun baru justru terasa ironis, dirayakan oleh mereka yang diuntungkan, tetapi menjadi beban bagi mereka yang terus dirugikan.

Di sisi lain, ada kelompok yang hidup di wilayah abu-abu moral karena tekanan ekonomi dan sosial. Pilihan hidup yang keras sering kali lahir dari keadaan yang keras pula. Menghakimi tanpa memahami konteks hanya memperpanjang jarak antara “kita” dan “mereka”. Pendekatan yang lebih manusiawi menuntut keberanian untuk melihat akar masalah: kemiskinan struktural, kekerasan, ketidaksetaraan gender, dan minimnya perlindungan sosial. Tanpa itu, solusi yang ditawarkan hanya akan bersifat sementara dan kosmetik.

Kajian kontemporer tentang kota dan kemiskinan menunjukkan bahwa ruang publik semakin eksklusif. Kota dibangun untuk konsumsi, bukan untuk keberlanjutan hidup semua warganya. Mereka yang tidak sesuai dengan citra “ideal” sering didorong ke pinggiran, baik itu secara fisik maupun simbolik. Tahun baru dalam konteks ini menjadi panggung besar yang menutupi retakan di bawahnya. Kita diajak merayakan optimisme, tetapi jarang diajak membongkar ketidakadilan yang membuat optimisme itu tidak merata.

Namun, pertanyaan “Tahun Baru Itu Punya Siapa?” tidak harus berakhir pada keputusasaan. Ia bisa menjadi undangan untuk refleksi dan tindakan. Tahun baru seharusnya menjadi momentum untuk meninjau ulang prioritas bersama: apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar menyentuh yang paling rentan, apakah kebijakan publik dirancang dengan mendengar suara mereka yang terdampak, dan apakah solidaritas sosial masih menjadi nilai yang hidup, bukan sekadar slogan.

Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam, dan tidak selalu terlihat spektakuler seperti kembang api. Ia sering lahir dari kerja sunyi: kebijakan yang adil, pengawasan yang konsisten, partisipasi warga, dan empati yang dipraktikkan dalam keseharian. Tahun baru akan benar-benar bermakna ketika ia tidak hanya dirayakan oleh sebagian orang, tetapi dirasakan sebagai harapan nyata oleh mereka yang selama ini tertinggal.

Pada akhirnya, tahun baru adalah cermin yang memantulkan siapa kita sebagai masyarakat. Jika cermin itu menunjukkan ketimpangan, ketidakpedulian, dan keserakahan, maka tugas kita bukan memecah cermin, melainkan memperbaiki wajah yang terpantul di dalamnya.

Selamat Tahun Baru Kawan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

RS Jiwa Daerah Provinsi Lampung Terima Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan UNMAL untuk Praktik Klinik Keperawatan Jiwa

BandarLampung (malahayati.ac.id): Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati (UNMAL) secara resmi melaksanakan kegiatan penyerahan mahasiswa/i S1 Ilmu Keperawatan kepada Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung sebagai wahana pelaksanaan Praktik Klinik Keperawatan Jiwa. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 61 mahasiswa/i S1 Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati yang akan menjalani praktik klinik pada stase keperawatan jiwa.

Praktik Klinik Keperawatan Jiwa ini akan berlangsung selama satu bulan, terhitung mulai tanggal 5 Januari hingga 31 Januari 2026. Penyerahan mahasiswa/i dilaksanakan secara resmi sebagai wujud sinergi dan komitmen kerja sama antara institusi pendidikan dan rumah sakit dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan sarjana keperawatan.

Penyerahan mahasiswa/i dilakukan oleh Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati, Aryanti Wardiyah, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Mat. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa praktik klinik Keperawatan Jiwa merupakan fase penting dalam pembentukan kompetensi perawat profesional, khususnya dalam penguatan keterampilan klinis dan pemahaman komprehensif terhadap asuhan keperawatan holistik.

“Melalui praktik klinik ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pengalaman langsung dalam memahami dan menangani pasien dengan berbagai masalah kesehatan mental. Kami berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya, mengintegrasikan teori dengan praktik, serta senantiasa menjaga nama baik institusi,” ujar Aryanti.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa pembelajaran praktik klinik memiliki peran strategis sebagai sarana integrasi antara teori yang diperoleh di bangku perkuliahan dengan praktik nyata di lapangan pelayanan kesehatan.

Sementara itu, dari pihak RS Jiwa Daerah Provinsi Lampung, penerimaan mahasiswa/i S1 Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati dilakukan oleh dr. Tendry Septa, Sp.KJ. Dalam sambutannya, dr. Tendry menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan Universitas Malahayati kepada RS Jiwa Daerah Provinsi Lampung sebagai wahana pendidikan klinik pada stase keperawatan jiwa.

“Kami menyambut baik kehadiran mahasiswa/i Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati untuk melaksanakan praktik klinik Keperawatan Jiwa di RS Jiwa Daerah Provinsi Lampung. Kami berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperdalam ilmu dan pengalaman, serta mampu bekerja sama dengan tim kesehatan secara profesional,” ungkap dr. Tendry.

Melalui pelaksanaan praktik klinik ini, diharapkan terjalin kolaborasi yang berkelanjutan antara Universitas Malahayati dan RS Jiwa Daerah Provinsi Lampung. Kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa/i dalam pengembangan kompetensi, tetapi juga memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan pelayanan kesehatan dalam mencetak perawat yang profesional, kompeten, terampil, aktif, dan beretika dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Praktik Klinik Keperawatan Jiwa ini menjadi langkah strategis dalam membekali mahasiswa dengan pengalaman nyata di bidang kesehatan mental. Melalui kolaborasi antara Universitas Malahayati dan RS Jiwa Daerah Provinsi Lampung, mahasiswa tidak hanya mengasah keterampilan klinis, tetapi juga memperkuat empati, profesionalisme, serta pemahaman terhadap asuhan keperawatan holistik, sebagai bekal penting dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan di masyarakat.(fkr)

Editor: Fadly KR

UNMAL Ambil Peran Strategis Jawab Tantangan Rendahnya Capaian Akademik melalui International Professors Summit

BandarLampung (malahayati.ac.id): Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung menunjukkan bahwa capaian kompetensi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Provinsi Lampung masih tergolong rendah, khususnya pada aspek penalaran dan penguasaan akademik dasar. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Disdikbud Provinsi Lampung, Thomas Amirico, sebagai bahan evaluasi bersama dalam peningkatan kualitas pendidikan daerah.

Menanggapi kondisi tersebut, Universitas Malahayati (UNMAL) mengambil peran strategis sebagai bentuk kontribusi nyata dunia pendidikan tinggi dalam mendukung upaya Pemerintah Provinsi Lampung meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan seminar internasional bertajuk “International Professors Summit”.

Kegiatan International Professors Summit ini diselenggarakan dalam rangka rangkaian Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati dan akan dilaksanakan pada Selasa, 7 Januari 2026, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Forum ini menjadi momentum strategis bagi sivitas akademika dan para pemangku kepentingan pendidikan untuk memperkuat jejaring akademik serta meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis keilmuan global.

Ini merupakan forum ilmiah berskala internasional yang menghadirkan para profesor dan pakar nasional maupun internasional di bidang matematika, optimasi, analisis numerik, serta statistika terapan. Forum ini menjadi wadah pertukaran gagasan, penguatan keilmuan, serta diskusi strategis terkait pengembangan pembelajaran dan peningkatan kualitas akademik.

Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, S.H., M.H., menyampaikan bahwa penyelenggaraan International Professors Summit merupakan bentuk komitmen institusi dalam menjawab tantangan mutu pendidikan, khususnya pada penguatan kemampuan berpikir kritis, penalaran, dan penguasaan akademik dasar.

“Universitas Malahayati berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam peningkatan kualitas pendidikan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Melalui forum akademik internasional ini, kami mendorong kolaborasi keilmuan, penguatan kapasitas pendidik, serta pengembangan metode pembelajaran yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman,” ujar Dr. Muhammad Kadafi.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan para pakar akademik menjadi kunci penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Melalui penyelenggaraan International Professors Summit, Universitas Malahayati berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di Provinsi Lampung serta menjadi bagian dari upaya bersama dalam memajukan pendidikan Indonesia secara berkelanjutan.

Penyelenggaraan International Professors Summit menjadi langkah strategis Universitas Malahayati dalam merespons tantangan mutu pendidikan, khususnya pada penguatan penalaran dan kompetensi akademik dasar. Melalui forum akademik berskala internasional ini, Universitas Malahayati tidak hanya mendorong kolaborasi keilmuan, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra pemerintah dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.(fkr)

Editor: Fadly KR

RSD dr. A. Dadi Tjokrodipo Terima Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan UNMAL untuk Praktik Klinik Keperawatan Dewasa III

BandarLampung (malahayati.ac.id): Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati (UNMAL) secara resmi melaksanakan kegiatan penyerahan mahasiswa/i kepada Rumah Sakit Daerah (RSD) dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung sebagai wahana pelaksanaan Praktik Klinik Keperawatan Dewasa III. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 61 mahasiswa/i S1 Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati.

Praktik Klinik Keperawatan Dewasa III meliputi pembelajaran dan penerapan asuhan keperawatan pada sistem muskuloskeletal, integumen, persepsi sensori, serta persyarafan. Kegiatan praktik klinik ini akan berlangsung selama satu bulan, terhitung mulai tanggal 5 Januari hingga 31 Januari 2026.

Penyerahan mahasiswa/i dilaksanakan secara resmi sebagai bentuk sinergi dan komitmen kerja sama antara institusi pendidikan dan rumah sakit dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan sarjana keperawatan, khususnya dalam penguatan kompetensi klinik mahasiswa.

Penyerahan mahasiswa/i dilakukan oleh Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati, Aryanti Wardiyah, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Mat Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Praktik Klinik Keperawatan Dewasa III memiliki peran penting dalam mengembangkan kompetensi klinik tingkat lanjut serta mendukung pencapaian kompetensi lulusan keperawatan.

“Melalui praktik klinik ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, profesionalisme, serta kesiapan praktik, khususnya dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dewasa dengan kondisi kesehatan yang kompleks. Kami berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, mengimplementasikan landasan teori yang telah diperoleh di bangku perkuliahan, serta senantiasa menjaga nama baik institusi,” ujar Aryanti.

Sementara itu, dari pihak RSD dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung, penerimaan mahasiswa/i S1 Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati dilakukan oleh Ns. Siti Rusminarni, S.Kep., M.Kes. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada RSD dr. A. Dadi Tjokrodipo sebagai wahana praktik klinik.

“Kami menyambut baik kehadiran mahasiswa/i Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati untuk melaksanakan praktik klinik di RSD dr. A. Dadi Tjokrodipo. Kami berharap mahasiswa dapat bekerja sama dengan tim kesehatan secara profesional, kompeten, serta selalu mengutamakan keselamatan dan keputusan pasien,” ungkap Ns. Siti.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin kerja sama dan kolaborasi yang berkelanjutan antara Universitas Malahayati dan RSD dr. A. Dadi Tjokrodipo. Praktik klinik ini tidak hanya menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman klinik, tetapi juga sebagai media pembelajaran bermakna dalam mengaplikasikan teori ke dalam praktik nyata dengan menjunjung tinggi etika profesi dan keselamatan pasien.

Kegiatan Praktik Klinik Keperawatan Dewasa III ini menjadi langkah strategis dalam menjembatani teori akademik dengan praktik nyata di lahan pelayanan kesehatan. Melalui kerja sama antara Universitas Malahayati dan RSD dr. A. Dadi Tjokrodipo, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman klinik, tetapi juga dilatih untuk mengembangkan sikap profesional, kemampuan berpikir kritis, serta kepekaan terhadap keselamatan dan kebutuhan pasien. Kolaborasi berkelanjutan seperti ini penting untuk mencetak lulusan keperawatan yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja di bidang kesehatan.(fkr)

Editor: Fadly KR

UNMAL Gelar Sosialisasi Implementasi Aplikasi Pajak Coretax Bersama DJP

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati (UNMAL) menggelar kegiatan Sosialisasi Implementasi Aplikasi Pajak Coretax sebagai upaya meningkatkan pemahaman dosen dan karyawan terkait sistem perpajakan digital terbaru. Kegiatan ini berlangsung dengan melibatkan langsung tim Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dari wilayah Bengkulu dan Lampung.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin, 29 Desember 2025, siang hari, bertempat di Ruang 1.13 Universitas Malahayati, dan diikuti oleh dosen serta karyawan Universitas Malahayati.

Acara ini dihadiri oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes, Wakil Rektor III Universitas Malahayati, Dr. Eng. Rina Febrina, S.T., M.T, serta Wakil Rektor IV Universitas Malahayati, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes. Turut hadir pula para dekan, dosen, dan karyawan Universitas Malahayati.

Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Seksi Bimbingan Penyuluhan dan Pengelolaan Dokumen Direktorat Jenderal Pajak, Julianty Ardiana, beserta jajaran tim DJP Bengkulu dan Lampung.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor IV Universitas Malahayati, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes. menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan sosialisasi tersebut. Ia menekankan pentingnya pemahaman terhadap implementasi aplikasi Pajak Coretax sebagai bagian dari transformasi digital di bidang perpajakan.

“Kami menyambut baik pelaksanaan Sosialisasi Implementasi Aplikasi Pajak Coretax ini. Kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dosen dan karyawan Universitas Malahayati terhadap sistem perpajakan yang kini semakin terintegrasi secara digital. Kami berharap melalui sosialisasi ini, seluruh civitas akademika dapat lebih tertib administrasi serta patuh terhadap kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Melalui sesi penyampaian materi, tim DJP memberikan penjelasan mengenai fungsi, manfaat, serta tata cara penggunaan aplikasi Pajak Coretax. Sosialisasi ini diharapkan dapat membantu peserta memahami proses pelaporan dan pengelolaan pajak secara lebih efektif, efisien, dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Kegiatan sosialisasi ini menjadi salah satu bentuk sinergi antara Universitas Malahayati dan Direktorat Jenderal Pajak dalam mendukung edukasi perpajakan serta peningkatan literasi pajak bagi civitas akademika.

sosialisasi ini, Universitas Malahayati menunjukkan komitmennya dalam menerapkan tata kelola administrasi yang tertib, transparan, dan sesuai regulasi. Sinergi antara perguruan tinggi dan Direktorat Jenderal Pajak diharapkan mampu meningkatkan literasi pajak serta mendorong implementasi sistem perpajakan digital secara berkelanjutan di lingkungan akademik.(fkr)

Editor : Fadly KR

Perpustakaan UNMAL Terima Kunjungan Adaptasi Best Practice dari Perpustakaan MPR RI

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Perpustakaan Universitas Malahayati menerima kunjungan Adaptasi Best Practice dari Perpustakaan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) pada Senin, 29 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan serta pengelolaan perpustakaan melalui pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik antarperpustakaan.

Kunjungan tersebut didasarkan pada surat resmi Sekretariat Jenderal MPR RI Nomor B-212/PS.05/B-III/SetjenMPR/12/2025 tertanggal 12 Desember 2025. Rombongan Perpustakaan MPR RI disambut secara resmi oleh jajaran pimpinan dan pengelola Perpustakaan Universitas Malahayati.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala UPT Perpustakaan Universitas Malahayati, Nowo Hadiyanto, S.Sos, jajaran Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi MPR RI, di antaranya Anies Mayangsari Muninggar, S.IP., M.E, Rosando, S.I.K., M.Si., M.H, dan Yenita Revi, S.E, beserta jajaran. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh Kepala Humas Universitas Malahayati, Emil Tanhar, S.Kom, beserta jajaran pengelola Perpustakaan Universitas Malahayati.

Acara diawali dengan sesi sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala UPT Perpustakaan Universitas Malahayati, Nowo Hadiyanto, S.Sos, yang menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Perpustakaan MPR RI untuk menjadikan Perpustakaan Universitas Malahayati sebagai rujukan dalam kegiatan adaptasi praktik terbaik. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam pengembangan layanan dan inovasi perpustakaan.

Sambutan kedua disampaikan oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi MPR RI, Anies Mayangsari Muninggar, S.IP., M.E. Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapan agar kunjungan ini dapat memperkuat sinergi dan membuka peluang kerja sama berkelanjutan antara Perpustakaan MPR RI dan Perpustakaan Universitas Malahayati, khususnya dalam pengelolaan layanan, digitalisasi, dan literasi informasi.

Sementara itu, Kepala Humas Universitas Malahayati, Emil Tanhar, S.Kom, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar kegiatan kunjungan dan adaptasi best practice ini dapat menjadi awal terjalinnya kolaborasi yang lebih luas ke depannya, khususnya antara lembaga negara dan perguruan tinggi. Ia menekankan pentingnya kerja sama berkelanjutan dalam mendukung pengembangan layanan perpustakaan, peningkatan literasi informasi, serta penguatan peran perguruan tinggi sebagai pusat edukasi dan rujukan akademik.

Sebagai bentuk penghargaan dan kenang-kenangan, acara dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata kepada Nowo Hadiyanto, S.Sos dan Anies Mayangsari Muninggar, S.IP., M.E., yang kemudian diabadikan melalui sesi foto bersama.

Agenda berikutnya adalah pemaparan profil Perpustakaan Universitas Malahayati, yang mencakup profil perpustakaan, layanan perpustakaan, inovasi layanan, digitalisasi perpustakaan, koleksi perpustakaan, serta program literasi perpustakaan. Pemaparan ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai sistem pengelolaan dan pengembangan layanan yang telah diterapkan.

Kegiatan ditutup dengan tour perpustakaan, di mana rombongan Perpustakaan MPR RI meninjau langsung fasilitas, ruang layanan, serta sistem pendukung yang dimiliki Perpustakaan Universitas Malahayati.

Melalui kunjungan ini, diharapkan terjalin kerja sama yang semakin erat serta tercipta peningkatan mutu layanan perpustakaan yang berkelanjutan, baik di lingkungan Universitas Malahayati maupun di Perpustakaan MPR RI.

Kunjungan adaptasi best practice ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat layanan informasi dan literasi akademik.(fkr)

Editor: Fadly KR

UNMAL Gelar Bakti Sosial Khitan Massal 2025 dalam Rangka Dies Natalis ke-32

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati (UNMAL) menggelar kegiatan Bakti Sosial Khitan Massal 2025 sebagai bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 28 Desember 2025, bertempat di Masjid Thoriqul Khoir, Bandar Lampung, dan dimulai sejak pukul 06.30 WIB hingga selesai.

Kegiatan khitan massal ini merupakan wujud kepedulian sosial Universitas Malahayati terhadap masyarakat sekitar, khususnya dalam memberikan layanan kesehatan gratis bagi anak-anak, sekaligus mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan lingkungan sekitar.

Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan Universitas Malahayati, di antaranya Wakil Rektor III Dr. Eng Rina Febrina, ST., MT, Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes, Ketua PMB Universitas Malahayati Romy J. Utama, S.E., M.Sos, Kepala Humas Universitas Malahayati Emil Tanhar, S.Kom, Kepala Biro Administrasi Umum (BAU) Ahmad Sidiq, ST., MT, serta Ketua Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati Dr. M. Arifki Zainaro, Ns., M.Kep.

Turut hadir pula unsur eksternal, antara lain Fajar Muntoni selaku Lurah Gedong Air, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Syaugi Rahim Kasim selaku Ketua BKM Masjid Thoriqul Khoir, serta AIPTU Kelopatra selaku Bhabinkamtibmas Kelurahan Gedong Air, yang turut mendukung kelancaran dan keamanan kegiatan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan persiapan panitia, registrasi peserta, serta pengelolaan parkir dan penerimaan tamu. Acara ceremonial pembukaan berlangsung pada pukul 08.00 WIB yang diawali oleh pembukaan oleh MC.

Dalam sambutannya, Romy J. Utama, S.E., M.Sos juga menyampaikan bahwa Rektor Universitas Malahayati Dr. Muhammad Kadafi, S.H., M.H., yang juga merupakan Anggota DPR RI Komisi X, berhalangan hadir dalam kegiatan tersebut. Meski demikian, Rektor Universitas Malahayati menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan Bakti Sosial Khitan Massal ini dan menyetujui serta mendorong agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin sebagai bentuk pengabdian Universitas Malahayati kepada masyarakat.

Sementara itu, Ketua BKM Masjid Thoriqul Khoir, Syaugi Rahim Kasim, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Universitas Malahayati atas terselenggaranya kegiatan bakti sosial di lingkungan masjid, yang dinilai sangat membantu masyarakat dan mempererat ukhuwah serta kepedulian sosial.

Selanjutnya, Lurah Gedong Air, Fajar Muntoni, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Universitas Malahayati atas kepedulian sosial yang diwujudkan melalui kegiatan khitan massal. Ia berharap kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah kelurahan dapat terus terjalin dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Pelaksanaan khitan massal dilakukan dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai pada pukul 07.30 WIB dengan pemeriksaan awal dan tindakan medis bagi 25 peserta pertama, dilanjutkan dengan sesi pemulihan pascatindakan berupa pemberian obat-obatan, celana khitan, serta uang santunan. Sesi kedua dilaksanakan mulai pukul 10.15 WIB untuk peserta gelombang berikutnya, setelah melalui proses screening lanjutan.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib dan lancar, didukung oleh tim medis, panitia, serta pengamanan dari pihak terkait. Acara ditutup dengan pembagian konsumsi makan siang bagi panitia dan tim medis.

Melalui kegiatan Bakti Sosial Khitan Massal ini, Universitas Malahayati berharap dapat terus berkontribusi nyata bagi masyarakat serta memperkuat peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai agen kepedulian sosial yang berkelanjutan.

Kegiatan Bakti Sosial Khitan Massal ini menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya terbatas pada ranah akademik, tetapi juga hadir secara nyata di tengah masyarakat. Universitas Malahayati melalui kegiatan ini dinilai berhasil membangun sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah setempat, dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan sosial. Jika dilaksanakan secara berkelanjutan, kegiatan serupa berpotensi menjadi program unggulan pengabdian masyarakat yang memberi dampak langsung dan berjangka panjang.(fkr)

Editor: Fadly KR

Cerita Yang Tidak Bisa Diceritakan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Santri itu duduk bersila di serambi pesantren, menatap halaman yang mulai lengang menjelang magrib. Ia memecah keheningan dengan suara pelan, seolah takut pertanyaannya akan mengusik ketenangan Kiainya. “Yai,” katanya, “kalau hidup ini disebut perjalanan, sebenarnya kita sedang berjalan ke mana?”

Kiai tersenyum tipis, menutup kitab yang sejak tadi dibacanya, sambil menghela nafas seraya berkata. “Pertanyaanmu sederhana, tapi jalannya panjang,” jawabnya. “Menurutmu sendiri, ke mana?”. Santri terdiam sejenak. “Saya merasa berjalan setiap hari. Belajar, menghafal, berbuat salah, lalu mencoba lagi. Tapi kadang saya tidak tahu apa arah semua itu. Rasanya seperti berjalan tanpa peta.”

Kiai mengangguk pelan. “Itu tanda kamu sadar sedang berjalan. Banyak orang melangkah tanpa pernah bertanya.” “Lalu,” lanjut santri, “apakah perjalanan ini punya akhir yang jelas?”. Kiai memandang langit yang mulai berubah warna. “Punya. Semua perjalanan manusia berakhir pada satu tempat yang sama.”

Santri menunduk. “Kematian?” …“Iya,” jawab kiai singkat tapi penuh makna. “Tapi jangan buru-buru menganggapnya sebagai penutup.”. Santri mengernyitkan keningnya dan berkata: “Bagaimana mungkin akhir bukan penutup?”

“Kematian adalah batas cerita,” kata kiai tenang, “bukan batas makna. Justru karena ada batas itulah setiap langkahmu sekarang menjadi berarti.”. Santri menarik napas dalam. “Kalau begitu, mengapa banyak bagian hidup terasa tidak bisa diceritakan, Yai?”. Kiai tersenyum lebih dalam seraya menukas. “Karena tidak semua perjalanan ditujukan untuk diceritakan. Ada yang hanya perlu dijalani. Diam-diam membentukmu, tanpa perlu kata.”

Santri terdiam. Di antara suara adzan yang mulai terdengar, ia merasa perjalanannya baru saja dimulai. Setiap perjalanan adalah cerita, tetapi tidak semua perjalanan bisa diceritakan. Dalam kehidupan manusia, gagasan ini menemukan bentuk paling mendalam ketika perjalanan dipahami sebagai gerak eksistensial menuju kematian. Sejak kelahiran, manusia tidak sekadar hadir di dunia, melainkan langsung ditempatkan dalam lintasan waktu yang bergerak satu arah. Hidup bukan keadaan statis, tetapi proses terus-menerus menuju suatu akhir yang pasti namun tak pernah sepenuhnya dipahami. Di sinilah perjalanan manusia memperoleh bobot filosofisnya: ia selalu bermakna, tetapi tidak pernah sepenuhnya dapat diungkapkan.

Dalam filsafat manusia, hidup dipahami sebagai proses menjadi. Manusia tidak pernah selesai; ia senantiasa berada “di antara”, bergerak dari apa yang telah terjadi menuju apa yang belum diketahui. Kesadaran akan kematian memberi arah pada proses ini. Tanpa batas akhir, perjalanan hidup akan kehilangan ketegangan dan urgensinya. Justru karena hidup terbatas, setiap pilihan menjadi signifikan. Setiap keputusan kecil ikut membentuk cerita tentang siapa seseorang sedang dan telah menjadi. Dengan demikian, setiap perjalanan manusia memang merupakan cerita, karena ia menyusun identitas melalui waktu.

Namun, perjalanan menuju kematian juga memperlihatkan keterbatasan manusia dalam membangun narasi tentang dirinya sendiri. Tidak semua pengalaman dapat diterjemahkan ke dalam bahasa. Ada kecemasan yang hadir tanpa bentuk, ada kesadaran akan kefanaan yang muncul sebagai rasa, bukan sebagai pikiran yang terumuskan. Ada pula penerimaan yang tumbuh perlahan, tanpa momen dramatis yang layak diceritakan. Di sinilah batas bahasa menjadi jelas. Cerita membutuhkan struktur, awal dan akhir, sebab dan akibat, sementara pengalaman batin sering kali bersifat kabur, tumpang tindih, dan tidak linear.

Perjalanan menuju kematian juga mengungkap hubungan manusia dengan waktu. Waktu tidak hanya dialami sebagai aliran peristiwa, tetapi sebagai keterbatasan. Setiap “sekarang” segera menjadi masa lalu, dan masa depan selalu berkurang. Kesadaran ini membuat manusia mampu mengambil jarak dari hidupnya sendiri, menilai kembali pilihan-pilihan yang telah diambil. Namun, penilaian ini tidak selalu menghasilkan cerita yang rapi. Banyak bagian hidup yang terasa gagal, terputus, atau tidak selaras dengan harapan awal. Bagian-bagian inilah yang sering tidak diceritakan, tetapi justru membentuk inti perjalanan batin seseorang.

Cerita tentang hidup cenderung disusun secara retrospektif. Manusia menoleh ke belakang dan mencoba merapikan pengalaman agar tampak masuk akal. Namun, perjalanan hidup yang sesungguhnya dijalani jarang serapi itu. Ia dipenuhi keraguan, pengulangan kesalahan, dan perubahan arah yang tidak direncanakan. Untuk dapat diceritakan, perjalanan harus disederhanakan. Akibatnya, banyak lapisan pengalaman hilang dalam proses penceritaan. Yang tersisa adalah versi hidup, bukan hidup itu sendiri.

Pada akhirnya, kematian adalah tujuan yang tidak dapat diceritakan dari dalam. Tidak ada subjek yang kembali untuk mengisahkan apa yang terjadi setelah akhir. Karena itu, seluruh makna perjalanan manusia terkonsentrasi pada kehidupan sebelum titik tersebut. Filsafat manusia memandang hal ini bukan sebagai kekurangan, melainkan sebagai panggilan untuk hidup secara sadar. Jika tidak semua perjalanan bisa diceritakan, maka tidak semua makna harus diungkapkan. Sebagian makna cukup dijalani, dirasakan, dan dihayati dalam keheningan.

Dengan demikian, perjalanan manusia menuju kematiannya adalah cerita yang terus berlangsung tanpa pernah sepenuhnya selesai. Ia ditulis melalui pilihan-pilihan kecil, melalui kesadaran akan batas, dan melalui diam yang tak terkatakan. Dalam keterbatasan waktu dan bahasa, manusia menemukan kedalaman keberadaannya. Perjalanan hidup memperoleh maknanya bukan karena dapat diceritakan secara utuh, melainkan karena ia sungguh-sungguh dijalani hingga akhir, dalam kesadaran bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, adalah bagian dari cerita yang tidak pernah sepenuhnya dapat diucapkan. Benar ungkapan lama yang mengatakan “manakala kita masih mampu menceritakan kematian maka sesungguhnya kita belum mati”. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR