Oleh Prof Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
DALAM kehidupan berbangsa dan bernegara, kekuasaan selalu membawa dua kemungkinan sekaligus: kemampuan untuk memperbaiki keadaan, dan potensi untuk menjauh dari kenyataan. Kekuasaan memberi seseorang kewenangan untuk mengambil keputusan yang memengaruhi banyak orang.
Namun pada saat yang sama, kekuasaan juga menciptakan jarak antara pemimpin dan realitas yang dihadapi oleh masyarakat. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula kemungkinan ia tidak lagi mendengar suara yang sebenarnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu negara atau satu zaman tertentu. Ia merupakan bagian dari dinamika kekuasaan yang hampir selalu berulang dalam sejarah manusia. Dalam konteks Indonesia hari ini, pelajaran tentang bagaimana seorang pemimpin berhadapan dengan pantulan dirinya sendiri terasa semakin relevan.
Dalam ruang-ruang kekuasaan, selalu ada orang-orang yang memilih untuk menyenangkan hati pemimpin. Mereka membenarkan setiap keputusan, memuji setiap langkah, dan menghindari kata-kata yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan.
Dalam banyak kasus, sikap ini lahir bukan semata karena niat buruk, tetapi karena sistem sosial dan politik yang membuat banyak orang merasa bahwa keamanan posisi lebih penting daripada kejujuran.
Budaya hierarki yang kuat dalam birokrasi dan politik Indonesia turut memperkuat kecenderungan tersebut. Dalam struktur yang sangat menghormati atasan, kritik sering dianggap sebagai sikap tidak sopan, bahkan sebagai bentuk ketidaksetiaan.
Akibatnya, banyak orang memilih diam atau menyampaikan sesuatu dengan cara yang sangat halus hingga maknanya hampir hilang.
Di permukaan, keadaan ini tampak seperti harmoni. Rapat berjalan lancar, keputusan diterima tanpa perdebatan panjang, dan suasana di sekitar pemimpin terlihat penuh dukungan. Namun harmoni semacam ini sering kali hanyalah ketenangan yang rapuh.
Di balik persetujuan yang tampak seragam, bisa saja tersimpan banyak kegelisahan yang tidak pernah diucapkan. Dalam situasi seperti itu, seorang pemimpin sebenarnya sedang berdiri di depan sebuah cermin besar.
Orang-orang di sekelilingnya memantulkan apa yang mereka kira ingin dilihat oleh sang pemimpin. Jika pemimpin itu ingin mendengar bahwa kebijakannya berhasil, maka pantulan yang muncul adalah pujian.
Jika ia ingin melihat dirinya sebagai sosok yang selalu benar, maka lingkungan di sekitarnya akan meneguhkan keyakinan itu.
Namun cermin tidak pernah menciptakan wajah baru. Ia hanya memantulkan apa yang berdiri di depannya. Karena itu, keberadaan orang-orang yang selalu mengiyakan sebenarnya bukanlah sumber utama masalah.
Mereka hanyalah bagian dari mekanisme sosial yang muncul ketika kekuasaan bertemu dengan kebutuhan manusia untuk diakui. Selama seorang pemimpin membutuhkan penguatan ego, selama itu pula akan selalu ada orang yang bersedia memberikannya.
Di sinilah letak ujian terbesar bagi kepemimpinan. Seorang pemimpin yang tidak memiliki kesadaran diri yang kuat bisa dengan mudah terjebak dalam pantulan tersebut. Ia mulai percaya bahwa setiap kebijakannya selalu tepat.
Ia merasa bahwa kritik hanyalah gangguan dari pihak yang tidak memahami keadaan. Lambat laun, ia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara dukungan yang tulus dan persetujuan yang lahir dari kepentingan.
Kondisi ini tidak jarang terlihat dalam dinamika kehidupan publik Indonesia. Di tengah kompetisi politik yang keras, dukungan sering kali dibangun melalui loyalitas personal yang kuat.
Ketika seseorang sudah berada dalam lingkaran kekuasaan, lingkungan di sekitarnya cenderung dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan untuk menjaga kedekatan tersebut. Akibatnya, ruang untuk menyampaikan pandangan yang berbeda menjadi semakin sempit.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki tradisi panjang dalam menghargai kebijaksanaan dan kerendahan hati dalam kepemimpinan. Dalam banyak cerita, nilai yang selalu ditekankan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mendengar, menimbang, dan tidak mudah tersinggung oleh kritik.
Kepemimpinan tidak dilihat hanya dari kekuatan mengambil keputusan, tetapi juga dari kedewasaan dalam menerima masukan. Dalam konteks demokrasi modern, nilai-nilai ini seharusnya menemukan bentuk baru melalui berbagai mekanisme pengawasan.
Media massa, lembaga akademik, organisasi masyarakat sipil, dan ruang diskusi publik berfungsi sebagai cermin sosial yang memperlihatkan berbagai sisi dari sebuah kebijakan.
Melalui kritik dan analisis, pemimpin dapat melihat dampak nyata dari keputusan yang diambil. Namun tantangannya muncul ketika kritik dipersepsikan sebagai ancaman. Dalam iklim politik yang semakin sensitif, perbedaan pendapat sering berubah menjadi pertarungan identitas.
Kritik terhadap kebijakan bisa dengan cepat ditafsirkan sebagai serangan terhadap pribadi atau kelompok tertentu. Ketika hal ini terjadi, dialog yang sehat menjadi sulit berkembang.
Orang-orang lebih sibuk mempertahankan posisi daripada mencari kebenaran bersama. Padahal, dalam kehidupan bernegara yang kompleks seperti Indonesia, tidak ada kebijakan yang sempurna. Setiap keputusan selalu memiliki konsekuensi yang perlu dievaluasi.
Tanpa ruang untuk kritik, proses evaluasi itu menjadi lemah. Di sinilah pentingnya kemampuan seorang pemimpin untuk bercermin tanpa merasa terancam oleh pantulan yang dilihatnya.
Seorang pemimpin yang matang memahami bahwa pujian bukan selalu tanda keberhasilan. Ia menyadari bahwa dukungan yang terlalu seragam justru bisa menjadi pertanda bahwa orang-orang di sekitarnya tidak lagi merasa bebas untuk berbicara.
Karena itu, ia secara sadar membuka ruang bagi perbedaan pendapat. Ia tidak memusuhi kritik, tetapi mendengarkannya dengan tenang. Ia tidak merasa kehilangan wibawa ketika ada yang tidak setuju.
Sebaliknya, ia justru melihat perbedaan pandangan sebagai cara untuk memperkaya keputusan yang akan diambil.
Sikap semacam ini membutuhkan kekuatan batin yang tidak kecil. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa seorang pemimpin juga bisa keliru. Dibutuhkan keberanian untuk tetap terbuka terhadap suara yang tidak selalu menyenangkan. Namun justru di situlah letak kebesaran kepemimpinan.
Dalam perjalanan sebuah bangsa, kekuasaan akan selalu datang dan pergi. Jabatan yang hari ini tinggi suatu saat akan berganti tangan. Yang tersisa bukanlah besarnya kekuasaan yang pernah dimiliki, melainkan bagaimana kekuasaan itu dijalankan. Apakah ia digunakan untuk memperkuat ego pribadi, atau untuk melayani kepentingan bersama.
Pada akhirnya, setiap pemimpin selalu memiliki sebuah cermin di sekelilingnya. Cermin itu bisa berupa para pendukung, para penasihat, para pejabat, atau bahkan suara masyarakat yang datang melalui kritik. Semua itu memantulkan gambaran tentang dirinya sebagai pemimpin.
Pertanyaannya bukan apakah cermin itu ada atau tidak. Pertanyaannya adalah apakah ia berani melihat pantulan itu dengan jujur. Karena seorang pemimpin tidak jatuh hanya karena ada orang yang memujinya. Ia jatuh ketika ia mulai percaya bahwa bayangan dirinya sendiri adalah kebenaran yang tidak perlu lagi diuji.
Salam Ramadan
Mahasiswi Universitas Malahayati Raih Prestasi Miss Lampung Berbakat 2025
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) –
Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Marifatuz Zahra (NPM 23500010) berhasil meraih penghargaan Miss Lampung Berbakat dalam ajang pemilihan Mister dan Miss Lampung 2025 yang berlangsung pada 22–29 November 2025 di Swiss-Belhotel Lampung.
Ajang Mister dan Miss Lampung merupakan salah satu kompetisi bergengsi yang bertujuan untuk mencari generasi muda berprestasi yang tidak hanya memiliki penampilan menarik, tetapi juga memiliki bakat, kecerdasan, serta kemampuan berkontribusi positif bagi masyarakat. Dalam kompetisi tersebut, Marifatuz Zahra berhasil menunjukkan kemampuan dan bakat yang dimilikinya sehingga terpilih sebagai penerima penghargaan Miss Lampung Berbakat.
Keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Universitas Malahayati. Prestasi yang diraih Marifatuz Zahra membuktikan bahwa mahasiswa Universitas Malahayati mampu mengembangkan potensi diri tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga di bidang seni, bakat, dan pengembangan diri.
Universitas Malahayati terus mendorong mahasiswanya untuk aktif berprestasi dan mengembangkan kemampuan di berbagai bidang, baik akademik maupun nonakademik, sebagai bagian dari upaya mencetak generasi muda yang unggul, percaya diri, dan mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional.
Editor : Chandra Faza
Diantara Cukup dan Tenang
Oleh: Sudjarwo,
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) – Selepas sholat subuh di suatu pesantren; seorang santri muda mendekati Kiai di serambi pondok, dan berkata: “Yai, kenapa saya merasa selalu kurang, padahal kebutuhan sudah tercukupi?” tanya santri muda tadi. Suaranya lirih, seolah takut mengganggu ketenangan pagi yang masih diselimuti embun.
Sang kiai tidak segera menjawab. Ia memandang halaman pesantren yang masih lengang, lalu berkata pelan, “Nak, yang sering kurang itu bukan hidupmu, melainkan ukuranmu tentang hidup.” Santri itu mengangkat wajahnya. “Bukankah cukup berarti punya banyak, Yai?”. “Tidak selalu,” jawab sang kiai, sambil tersenyum tipis. “Banyak belum tentu cukup, dan sedikit belum tentu kurang. Cukup itu bukan urusan angka, melainkan urusan hati. Kalau hatimu gaduh, sebanyak apa pun yang kau punya tak akan terasa cukup. Tapi kalau hatimu tenang, yang sedikit pun bisa terasa lapang.”
Percakapan itu berhenti, tetapi maknanya tidak. Ia justru membuka pintu bagi pertanyaan yang lebih besar tentang cara manusia modern memahami hidup. Di balik dialog sederhana di pondok pesantren, tersembunyi kritik halus terhadap logika zaman yang menilai keberhasilan dari akumulasi dan kecepatan. Dunia kontemporer membentuk kesadaran bahwa hidup yang baik adalah hidup yang senantiasa bertambah: harta harus meningkat, prestasi harus naik, dan pengalaman harus semakin beragam. Namun ironisnya, di tengah kelimpahan tersebut, rasa cukup justru semakin sulit ditemukan.
Filsafat kontemporer membaca fenomena ini sebagai krisis makna. Manusia tidak kekurangan pilihan, tetapi kehilangan orientasi.
“Cukup” dan “kurang” tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan riil, melainkan oleh perbandingan tanpa henti. Media, teknologi, dan budaya kompetisi menjadikan hidup sebagai etalase pencapaian. Dalam situasi seperti ini, rasa kurang tidak muncul karena ketiadaan, tetapi karena kesadaran yang terus digeser untuk menginginkan lebih. Akibatnya, manusia hidup dalam keadaan tidak pernah tiba, selalu menuju, tetapi jarang berhenti.
Pernyataan bahwa banyak belum tentu cukup dan sedikit belum tentu kurang menantang asumsi dasar tersebut. Ia mengingatkan bahwa cukup adalah pengalaman eksistensial, bukan kondisi material semata. Dalam filsafat kontemporer, pengalaman hidup tidak dipahami sebagai fakta objektif yang berdiri sendiri, melainkan sebagai hasil interaksi antara dunia dan kesadaran. Dua orang dapat berada dalam kondisi yang sama, tetapi menghayatinya secara berbeda. Perbedaan itu terletak pada cara memaknai, bukan pada jumlah yang dimiliki.
Dari sini, ajakan untuk tidak mengejar hidup senang, melainkan hidup tenang, menjadi relevan. Hidup senang sering kali dipahami sebagai rangkaian kepuasan instan: terpenuhinya keinginan, tercapainya target, atau diperolehnya pengakuan. Namun kesenangan bersifat rapuh. Ia bergantung pada kondisi eksternal yang mudah berubah dan selalu menuntut pengulangan. Ketika kesenangan dijadikan tujuan utama, manusia akan terjebak dalam siklus hasrat yang tidak pernah selesai. Begitu satu keinginan terpenuhi, keinginan lain segera menggantikannya.
Hidup tenang tidak berarti hidup tanpa masalah atau tanpa ambisi. Ketenangan adalah sikap batin yang memungkinkan manusia menghadapi kenyataan tanpa terus-menerus dilanda kegelisahan. Ia lahir dari kesadaran akan batas: batas kemampuan, batas keinginan, dan batas kontrol manusia atas hidupnya. Filsafat kontemporer memandang pengakuan terhadap batas ini sebagai bentuk kebijaksanaan. Dengan menyadari bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, manusia justru memperoleh kebebasan batin.
Dalam kerangka ini, mengajari hati untuk bersabar dan bersyukur dalam segala hal menjadi latihan etis yang penting. Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan kemampuan menunda reaksi dan memberi ruang bagi refleksi. Di dunia yang serba cepat, kesabaran sering disalahpahami sebagai ketertinggalan. Padahal, tanpa kesabaran, manusia mudah terjebak dalam keputusan impulsif dan penilaian dangkal. Kesabaran memungkinkan manusia melihat proses sebagai bagian dari makna hidup, bukan sekadar hambatan menuju tujuan.
Rasa syukur, di sisi lain, adalah bentuk penerimaan aktif terhadap kehidupan. Bersyukur bukan berarti menutup mata terhadap penderitaan atau ketidakadilan, tetapi mengakui bahwa hidup selalu mengandung nilai, bahkan dalam keterbatasan. Filsafat kontemporer melihat rasa syukur sebagai cara manusia berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dengan bersyukur, manusia berhenti menunda kebahagiaan ke masa depan dan mulai hadir di saat ini. Kehadiran inilah yang menjadi dasar ketenangan.
Filsafat kontemporer menegaskan bahwa makna tidak selalu ditemukan, tetapi sering kali diciptakan melalui sikap. Dengan prasangka baik, manusia tidak mengubah fakta, tetapi mengubah cara berelasi dengan fakta tersebut. Hal ini memberi ruang bagi ketenangan, karena manusia tidak lagi memaksa hidup untuk selalu sesuai dengan keinginannya. Ia belajar menerima bahwa hidup memiliki logikanya sendiri yang tidak selalu dapat dipahami secara instan.
Pada akhirnya, dialog antara kiai dan santri itu mencerminkan pencarian manusia kontemporer secara umum. Di tengah dunia yang bising, cepat, dan kompetitif, manusia merindukan kesederhanaan makna. Ia lelah mengejar kesenangan yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Yang dibutuhkan bukan tambahan, melainkan penataan ulang orientasi hidup. Bukan hidup yang paling senang, tetapi hidup yang paling tenang.
Salam Ramadan (R-1)
3 Mahasiswa S1 Manajemen Universitas Malahayati Raih Prestasi di Ajang Mister dan Miss Lampung Ambassador 2026
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) –Mahasiswa Universitas Malahayati kembali menorehkan prestasi membanggakan di ajang pengembangan bakat dan potensi generasi muda. Tiga mahasiswa dari Program Studi S1 Manajemen Universitas Malahayati berhasil meraih prestasi pada ajang Mister dan Miss Lampung Ambassador yang diselenggarakan pada 18 Januari 2026.
Editor : Chandra Faza
Perkuat Kompetensi Profesional, Universitas Malahayati Buka Pendaftaran Program Pascasarjana 2026
BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Universitas Malahayati Bandar Lampung kembali membuka kesempatan bagi para lulusan sarjana untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Melalui Program Pascasarjana (S2), universitas ini menawarkan jalur akademik yang fleksibel untuk mendukung peningkatan karier para profesional di bidang kesehatan dan ekonomi.
Pada periode pendaftaran Maret-Juli 2026, Universitas Malahayati memfokuskan pada dua program studi utama, yakni Magister Kesehatan Masyarakat (S2 Kesmas) dan Magister Akuntansi (S2 Akuntansi). Keduanya hadir dengan kurikulum yang dirancang untuk menjawab tantangan industri masa kini.
Variasi Kelas dan Jalur Rekognisi (RPL) Untuk program S2 Kesehatan Masyarakat, universitas menyediakan tiga jalur pilihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa:
Kelas Reguler: Bagi mahasiswa yang fokus pada jalur akademik standar.
Kelas Khusus Eksekutif: Dirancang khusus untuk para profesional dengan jadwal yang lebih fleksibel.
Jalur RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau): Memungkinkan pengalaman kerja dikonversi menjadi kredit mata kuliah, sehingga masa studi dapat ditempuh dengan lebih efisien.
Penawaran Khusus: Bebas Sumbangan Wajib S2 Akuntansi Dalam upaya mendukung peningkatan sumber daya manusia di bidang keuangan, Universitas Malahayati merilis kebijakan khusus untuk program S2 Akuntansi Reguler. Selama periode pendaftaran Maret-Juli 2026, calon mahasiswa akan dibebaskan dari biaya Sumbangan Wajib (FREE), sehingga total biaya awal menjadi lebih kompetitif, yakni sebesar Rp5.400.000 (mencakup pendaftaran, SPP semester awal, dan PKKMB).
Rincian Biaya dan Fasilitas Pembayaran Berdasarkan data resmi PMB, rincian estimasi total biaya awal untuk program lainnya adalah sebagai berikut:
Pihak kampus juga menegaskan bahwa seluruh sistem pembayaran bersifat transparan dan dapat dilakukan melalui sistem angsuran untuk meringankan beban mahasiswa. Transaksi resmi hanya dilayani di Loket Keuangan, Gedung Rektorat Lantai 5.
Informasi Pendaftaran Masyarakat yang ingin mendaftar dapat memproses aplikasi secara mandiri dengan memindai QR Code yang tersedia di brosur resmi atau menghubungi pusat informasi di nomor 0811-7970-0505. Informasi lebih lanjut juga dapat diakses melalui situs resmi
malahayati.ac.idatau mengunjungi langsung Gedung Rektorat di Jalan Pramuka No. 27, Kemiling, Bandar Lampung.Editor : Chandra Faza
Wujudkan Gelar Sarjana Lewat Pengalaman Kerja! Universitas Malahayati Buka Program S1 RPL 2026
BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) –Universitas Malahayati resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) untuk periode Maret hingga Juli 2026. Program ini ditujukan khusus bagi para profesional dan pekerja yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang Sarjana (S1) dengan memanfaatkan pengalaman kerja mereka.
Ketua PMB Universitas Malahayati, Romy J Utama, SE., M.Sos, menyampaikan bahwa program ini merupakan solusi bagi masyarakat yang sudah memiliki rekam jejak di dunia kerja namun belum memiliki gelar akademik. Melalui mekanisme RPL, kompetensi yang didapat dari pengalaman kerja maupun pelatihan bersertifikat dapat dikonversi menjadi satuan kredit semester (sks).
“Ini adalah kesempatan untuk ‘naik level’. Dengan akreditasi program studi yang mayoritas sudah Unggul (A) dan Baik Sekali (B), kami ingin memfasilitasi para praktisi agar masa studinya bisa lebih efisien,” jelas pihak kampus dalam keterangan resminya.
Program Studi yang Ditawarkan Terdapat sembilan pilihan program studi yang tersedia dalam jalur RPL ini, mencakup bidang kesehatan, teknik, hingga ekonomi, antara lain:
S1 Kebidanan
S1 Keperawatan
S1 Kesehatan Masyarakat
S1 Farmasi (Kategori Alumni dan Non-Alumni)
S1 Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil
S1 Manajemen dan Akuntansi
Rincian Biaya dan Administrasi Berdasarkan data rincian biaya yang dirilis, total biaya awal untuk pendaftaran program RPL bervariasi tergantung program studi yang dipilih. Sebagai contoh, Program S1 Keperawatan dibanderol dengan total Rp10.325.000, sementara untuk rumpun ekonomi seperti Manajemen dan Akuntansi sebesar Rp12.425.000. Biaya tersebut sudah mencakup uang pendaftaran, sumbangan wajib, SPP semester, biaya asesmen, dan PKKMB.
Pihak universitas juga memberikan fleksibilitas bagi calon mahasiswa dengan skema pembayaran yang dapat diangsur. Seluruh transaksi pembayaran hanya dapat dilakukan secara resmi di Loket Keuangan Gedung Rektorat Lantai 5, Universitas Malahayati.
Informasi Pendaftaran Bagi masyarakat yang berminat, pendaftaran dapat dilakukan secara daring melalui tautan
s.id/RegMhsBaru. Untuk informasi lebih lanjut, calon mahasiswa dapat mendatangi Pusat Informasi PMB di Gedung Rektorat Lantai 7, Jalan Pramuka No. 27, Kemiling, Bandar Lampung, atau melalui layanan WhatsApp di nomor 0811-7970-0505.Editor : Chandra faza
Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru, Biaya Kuliah Bisa Diangsur
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Universitas Malahayati melalui Fakultas Kedokteran kembali membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2026/2027 bagi calon mahasiswa yang bercita-cita menjadi dokter. Informasi ini disampaikan melalui publikasi flyer resmi yang dirilis oleh Humas Universitas Malahayati sebagai bagian dari upaya memberikan akses pendidikan kedokteran bagi generasi muda Indonesia.
Pada flyer tersebut disampaikan bahwa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati membuka program S1 Pendidikan Dokter dengan akreditasi Baik Sekali. Program ini dirancang untuk menghasilkan lulusan dokter yang profesional, kompeten, serta memiliki kemampuan akademik dan klinis yang baik.
Untuk memudahkan calon mahasiswa, proses pendaftaran dapat dilakukan secara online dengan memindai QR Code yang tersedia pada flyer atau melalui tautan pendaftaran yang telah disediakan. Selain itu, calon mahasiswa juga dapat memperoleh informasi lebih lanjut dengan menghubungi layanan PMB di nomor 0811-7970-0505.
Berdasarkan informasi yang disampaikan, rincian biaya pendidikan pada program S1 Pendidikan Dokter juga telah diumumkan. Universitas Malahayati memberikan beberapa pilihan skema pembayaran sumbangan wajib. Pada Opsi 1, sumbangan wajib dapat dibayarkan secara penuh pada semester pertama dengan total Rp380.000.000. Sementara pada Opsi 2, pembayaran dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dengan Rp150.000.000 pada semester pertama, kemudian Rp50.000.000 pada semester kedua hingga semester keenam.
Selain itu, terdapat biaya pendaftaran sebesar Rp250.000, serta SPP per semester sebesar Rp30.000.000 yang juga dapat dibayarkan dengan sistem cicilan per bulan. Untuk kegiatan PKKMB dikenakan biaya Rp2.500.000, sementara fasilitas asrama diberikan secara gratis bagi mahasiswa.
Pihak Universitas Malahayati berharap melalui program ini semakin banyak generasi muda yang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan kedokteran dan mewujudkan cita-cita menjadi tenaga medis yang profesional serta mampu berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
Bagi para lulusan SMA/SMK sederajat yang memiliki minat di bidang kesehatan dan bercita-cita menjadi dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati membuka peluang besar untuk meraih masa depan melalui pendidikan kedokteran yang berkualitas.
Informasi lebih lengkap mengenai pendaftaran dapat diakses melalui website resmi malahayati.ac.id atau dengan menghubungi layanan informasi PMB Universitas Malahayati.
Editor : Chandra Faza
Ayo Kuliah di Universitas Malahayati, Kampus dengan Program Studi Terakreditasi Unggul dan Baik Sekali
Bandar Lampung (malahayati.ac.id) – Universitas Malahayati resmi membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Melalui publikasi flyer yang disebarkan oleh Humas Universitas Malahayati, kampus ini mengajak generasi muda untuk bergabung dan meraih masa depan melalui pendidikan tinggi yang berkualitas.
Dalam flyer tersebut disampaikan bahwa Universitas Malahayati memiliki berbagai program studi dengan akreditasi Unggul (A) dan Baik Sekali (B). Hal ini menunjukkan komitmen universitas dalam menjaga mutu pendidikan serta menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap bersaing di dunia kerja.
Universitas Malahayati menyediakan berbagai pilihan program studi dari beberapa fakultas, di antaranya Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Fakultas Teknik, serta Fakultas Hukum.
Pada Fakultas Kedokteran, tersedia program S1 Pendidikan Dokter dan Profesi Dokter. Sementara itu, Fakultas Ilmu Kesehatan menawarkan berbagai program seperti S1 dan S2 Kesehatan Masyarakat, Profesi Ners, S1 Keperawatan, S1 Psikologi, S1 Farmasi, Profesi Bidan, S1 Kebidanan, DIII Kebidanan, serta DIII Analis Farmasi dan Makanan.
Selain itu, bagi calon mahasiswa yang tertarik di bidang ekonomi tersedia program S1 Manajemen, S1 Akuntansi, dan S2 Akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Di bidang teknik, tersedia program S1 Teknik Sipil, S1 Teknik Lingkungan, S1 Teknik Industri, dan S1 Teknik Mesin pada Fakultas Teknik. Sedangkan Fakultas Hukum menyediakan program S1 Ilmu Hukum.
Calon mahasiswa yang ingin mendaftar dapat dengan mudah melakukan pendaftaran melalui QR Code yang tersedia pada flyer atau dengan menghubungi layanan informasi PMB di nomor 0811-7970-0505. Informasi lebih lanjut juga dapat diakses melalui website resmi universitas di malahayati.ac.id.
Selain itu, calon mahasiswa juga dapat melihat daftar harga atau biaya pendaftaran serta rincian biaya pendidikan melalui tautan atau QR Code yang tersedia pada flyer PMB Universitas Malahayati, sehingga memudahkan calon mahasiswa dan orang tua dalam memperoleh informasi secara lengkap sebelum melakukan pendaftaran.
Melalui pembukaan PMB ini, Universitas Malahayati berharap dapat menjaring calon mahasiswa terbaik dari berbagai daerah untuk bersama-sama belajar, berkembang, serta membangun masa depan yang lebih baik melalui pendidikan tinggi.
Bagi para lulusan SMA/SMK sederajat yang sedang mencari kampus dengan program studi unggulan dan lingkungan akademik yang berkualitas, Universitas Malahayati menjadi salah satu pilihan tepat untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita di masa depan.
Kaya Itu Berbagi
Oleh: Sudjarwo
“Memberilah saat kamu punya, sedekahlah saat kamu sempit.”
Kalimat ini terdengar sederhana, namun mengandung kedalaman makna yang sering kali baru kita pahami ketika hidup membawa kita pada dua kutub yang berbeda: kelapangan dan kesempitan. Banyak orang merasa mudah berbagi ketika keadaan berlimpah.
Ketika gaji baru saja masuk rekening, ketika usaha sedang ramai, atau ketika hasil panen sedang baik, tangan terasa ringan untuk memberi. Namun ujian sesungguhnya bukanlah pada saat kita memiliki banyak, melainkan ketika kita merasa kekurangan. Di situlah nilai sejati dari sedekah menemukan maknanya.
Memberi saat punya adalah wujud syukur. Ia menjadi cara kita mengakui bahwa apa yang kita miliki bukan semata hasil kerja keras, tetapi juga buah dari kesempatan, pertolongan, dan berbagai kebaikan yang mungkin tak kita sadari.
Dengan memberi, kita membersihkan hati dari kesombongan dan rasa memiliki yang berlebihan. Harta tidak lagi menjadi tuan yang mengendalikan, melainkan alat yang kita gunakan untuk menebar manfaat. Saat kita berbagi dalam kelapangan, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya berasal dari mengumpulkan, tetapi juga dari mengalirkan.
Namun, bersedekah saat sempit adalah bentuk kepercayaan yang jauh lebih dalam. Ketika kondisi ekonomi menurun, ketika kebutuhan terasa menumpuk, dan ketika masa depan tampak tak pasti, naluri manusia cenderung menggenggam lebih erat apa yang ada. Rasa takut kekurangan membuat kita berhitung dengan cermat, bahkan untuk sekadar berbagi sedikit.
Di sinilah sedekah berubah dari sekadar tindakan sosial menjadi latihan spiritual. Ia menantang logika sederhana yang berkata bahwa memberi akan mengurangi. Justru dalam kesempitan, memberi mengajarkan bahwa rezeki tidak selalu berbentuk angka yang bertambah, melainkan ketenangan hati, kekuatan menghadapi hari, dan jaringan kepedulian yang tak ternilai.
Sedekah dalam kondisi sempit tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Ia bisa hadir dalam bentuk waktu, tenaga, perhatian, atau sekadar senyum yang tulus.
Seseorang yang sedang berjuang mencari pekerjaan tetap bisa membantu temannya menyusun lamaran. Seorang ibu yang hidup sederhana tetap bisa berbagi makanan dengan tetangga yang lebih membutuhkan. Seorang pelajar dengan uang saku terbatas masih bisa meminjamkan buku atau berbagi catatan. Nilai sedekah tidak diukur dari nominal, melainkan dari ketulusan dan pengorbanan yang menyertainya.
Ada paradoks yang menarik dalam praktik memberi. Semakin kita takut kekurangan, semakin sempit hati kita terasa. Sebaliknya, ketika kita tetap memilih berbagi meski dalam keterbatasan, hati justru terasa lapang. Seolah-olah ada ruang baru yang terbuka di dalam diri, ruang yang dipenuhi rasa cukup. Rasa cukup inilah yang sering kali lebih berharga daripada tambahan materi. Ia membuat kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan mulai mensyukuri apa yang ada di tangan.
Memberi saat sempit juga menumbuhkan solidaritas. Dalam masyarakat, tidak semua orang berada pada titik kelapangan yang sama. Ada yang sedang naik, ada yang sedang turun. Ketika mereka yang sedang turun tetap mau berbagi, tercipta budaya saling menopang yang kuat. Hari ini kita memberi meski sedikit, esok mungkin kita yang menerima ketika keadaan berbalik. Siklus ini membangun rasa saling percaya bahwa kita tidak berjalan sendirian. Sedekah menjadi jembatan yang menghubungkan satu hati dengan hati lainnya.
Lebih jauh lagi, kebiasaan memberi membentuk karakter. Ia melatih kita untuk tidak terjebak pada mentalitas kelangkaan, yaitu keyakinan bahwa dunia ini sempit dan rezeki terbatas sehingga orang lain dianggap sebagai pesaing. Dengan bersedekah, kita menanamkan keyakinan bahwa kebaikan tidak akan pernah membuat kita rugi. Mungkin harta berkurang secara kasatmata, tetapi kualitas diri bertambah. Kita menjadi pribadi yang lebih empatik, lebih peka terhadap penderitaan, dan lebih ringan tangan dalam membantu.
Tentu saja, memberi tidak berarti mengabaikan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga. Kebijaksanaan tetap diperlukan agar sedekah tidak berubah menjadi beban baru. Namun sering kali, yang menghalangi kita bukanlah ketiadaan, melainkan ketakutan. Ketakutan bahwa apa yang kita berikan tidak akan kembali. Padahal, yang kembali tidak selalu dalam bentuk yang sama. Kebaikan yang kita tabur bisa tumbuh menjadi doa orang lain, relasi yang kuat, atau peluang yang tak terduga.
Pada akhirnya, ajakan untuk memberi saat punya dan bersedekah saat sempit adalah undangan untuk melatih hati dalam segala keadaan. Ia mengajarkan konsistensi dalam kebaikan, bukan kebaikan yang musiman. Saat lapang, kita belajar bersyukur. Saat sempit, kita belajar percaya. Keduanya sama-sama membentuk kedewasaan batin.
Hidup akan terus berputar. Tidak ada kelapangan yang abadi, dan tidak ada kesempitan yang selamanya. Namun jika dalam setiap fase kita tetap memilih untuk berbagi, kita sedang membangun sesuatu yang lebih kokoh daripada sekadar kekayaan materi: kita membangun jiwa yang dermawan. Dan jiwa seperti itulah yang, dalam keadaan apa pun, selalu menemukan alasan untuk merasa cukup dan tetap menebar cahaya bagi sekitar.
Salam Ramadan!
*Guru Besar Universitas Malahayati
Pantulan Kepemimpinan yang Memabukkan
Oleh Prof Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
DALAM kehidupan berbangsa dan bernegara, kekuasaan selalu membawa dua kemungkinan sekaligus: kemampuan untuk memperbaiki keadaan, dan potensi untuk menjauh dari kenyataan. Kekuasaan memberi seseorang kewenangan untuk mengambil keputusan yang memengaruhi banyak orang.
Namun pada saat yang sama, kekuasaan juga menciptakan jarak antara pemimpin dan realitas yang dihadapi oleh masyarakat. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula kemungkinan ia tidak lagi mendengar suara yang sebenarnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu negara atau satu zaman tertentu. Ia merupakan bagian dari dinamika kekuasaan yang hampir selalu berulang dalam sejarah manusia. Dalam konteks Indonesia hari ini, pelajaran tentang bagaimana seorang pemimpin berhadapan dengan pantulan dirinya sendiri terasa semakin relevan.
Dalam ruang-ruang kekuasaan, selalu ada orang-orang yang memilih untuk menyenangkan hati pemimpin. Mereka membenarkan setiap keputusan, memuji setiap langkah, dan menghindari kata-kata yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan.
Dalam banyak kasus, sikap ini lahir bukan semata karena niat buruk, tetapi karena sistem sosial dan politik yang membuat banyak orang merasa bahwa keamanan posisi lebih penting daripada kejujuran.
Budaya hierarki yang kuat dalam birokrasi dan politik Indonesia turut memperkuat kecenderungan tersebut. Dalam struktur yang sangat menghormati atasan, kritik sering dianggap sebagai sikap tidak sopan, bahkan sebagai bentuk ketidaksetiaan.
Akibatnya, banyak orang memilih diam atau menyampaikan sesuatu dengan cara yang sangat halus hingga maknanya hampir hilang.
Di permukaan, keadaan ini tampak seperti harmoni. Rapat berjalan lancar, keputusan diterima tanpa perdebatan panjang, dan suasana di sekitar pemimpin terlihat penuh dukungan. Namun harmoni semacam ini sering kali hanyalah ketenangan yang rapuh.
Di balik persetujuan yang tampak seragam, bisa saja tersimpan banyak kegelisahan yang tidak pernah diucapkan. Dalam situasi seperti itu, seorang pemimpin sebenarnya sedang berdiri di depan sebuah cermin besar.
Orang-orang di sekelilingnya memantulkan apa yang mereka kira ingin dilihat oleh sang pemimpin. Jika pemimpin itu ingin mendengar bahwa kebijakannya berhasil, maka pantulan yang muncul adalah pujian.
Jika ia ingin melihat dirinya sebagai sosok yang selalu benar, maka lingkungan di sekitarnya akan meneguhkan keyakinan itu.
Namun cermin tidak pernah menciptakan wajah baru. Ia hanya memantulkan apa yang berdiri di depannya. Karena itu, keberadaan orang-orang yang selalu mengiyakan sebenarnya bukanlah sumber utama masalah.
Mereka hanyalah bagian dari mekanisme sosial yang muncul ketika kekuasaan bertemu dengan kebutuhan manusia untuk diakui. Selama seorang pemimpin membutuhkan penguatan ego, selama itu pula akan selalu ada orang yang bersedia memberikannya.
Di sinilah letak ujian terbesar bagi kepemimpinan. Seorang pemimpin yang tidak memiliki kesadaran diri yang kuat bisa dengan mudah terjebak dalam pantulan tersebut. Ia mulai percaya bahwa setiap kebijakannya selalu tepat.
Ia merasa bahwa kritik hanyalah gangguan dari pihak yang tidak memahami keadaan. Lambat laun, ia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara dukungan yang tulus dan persetujuan yang lahir dari kepentingan.
Kondisi ini tidak jarang terlihat dalam dinamika kehidupan publik Indonesia. Di tengah kompetisi politik yang keras, dukungan sering kali dibangun melalui loyalitas personal yang kuat.
Ketika seseorang sudah berada dalam lingkaran kekuasaan, lingkungan di sekitarnya cenderung dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan untuk menjaga kedekatan tersebut. Akibatnya, ruang untuk menyampaikan pandangan yang berbeda menjadi semakin sempit.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki tradisi panjang dalam menghargai kebijaksanaan dan kerendahan hati dalam kepemimpinan. Dalam banyak cerita, nilai yang selalu ditekankan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mendengar, menimbang, dan tidak mudah tersinggung oleh kritik.
Kepemimpinan tidak dilihat hanya dari kekuatan mengambil keputusan, tetapi juga dari kedewasaan dalam menerima masukan. Dalam konteks demokrasi modern, nilai-nilai ini seharusnya menemukan bentuk baru melalui berbagai mekanisme pengawasan.
Media massa, lembaga akademik, organisasi masyarakat sipil, dan ruang diskusi publik berfungsi sebagai cermin sosial yang memperlihatkan berbagai sisi dari sebuah kebijakan.
Melalui kritik dan analisis, pemimpin dapat melihat dampak nyata dari keputusan yang diambil. Namun tantangannya muncul ketika kritik dipersepsikan sebagai ancaman. Dalam iklim politik yang semakin sensitif, perbedaan pendapat sering berubah menjadi pertarungan identitas.
Kritik terhadap kebijakan bisa dengan cepat ditafsirkan sebagai serangan terhadap pribadi atau kelompok tertentu. Ketika hal ini terjadi, dialog yang sehat menjadi sulit berkembang.
Orang-orang lebih sibuk mempertahankan posisi daripada mencari kebenaran bersama. Padahal, dalam kehidupan bernegara yang kompleks seperti Indonesia, tidak ada kebijakan yang sempurna. Setiap keputusan selalu memiliki konsekuensi yang perlu dievaluasi.
Tanpa ruang untuk kritik, proses evaluasi itu menjadi lemah. Di sinilah pentingnya kemampuan seorang pemimpin untuk bercermin tanpa merasa terancam oleh pantulan yang dilihatnya.
Seorang pemimpin yang matang memahami bahwa pujian bukan selalu tanda keberhasilan. Ia menyadari bahwa dukungan yang terlalu seragam justru bisa menjadi pertanda bahwa orang-orang di sekitarnya tidak lagi merasa bebas untuk berbicara.
Karena itu, ia secara sadar membuka ruang bagi perbedaan pendapat. Ia tidak memusuhi kritik, tetapi mendengarkannya dengan tenang. Ia tidak merasa kehilangan wibawa ketika ada yang tidak setuju.
Sebaliknya, ia justru melihat perbedaan pandangan sebagai cara untuk memperkaya keputusan yang akan diambil.
Sikap semacam ini membutuhkan kekuatan batin yang tidak kecil. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa seorang pemimpin juga bisa keliru. Dibutuhkan keberanian untuk tetap terbuka terhadap suara yang tidak selalu menyenangkan. Namun justru di situlah letak kebesaran kepemimpinan.
Dalam perjalanan sebuah bangsa, kekuasaan akan selalu datang dan pergi. Jabatan yang hari ini tinggi suatu saat akan berganti tangan. Yang tersisa bukanlah besarnya kekuasaan yang pernah dimiliki, melainkan bagaimana kekuasaan itu dijalankan. Apakah ia digunakan untuk memperkuat ego pribadi, atau untuk melayani kepentingan bersama.
Pada akhirnya, setiap pemimpin selalu memiliki sebuah cermin di sekelilingnya. Cermin itu bisa berupa para pendukung, para penasihat, para pejabat, atau bahkan suara masyarakat yang datang melalui kritik. Semua itu memantulkan gambaran tentang dirinya sebagai pemimpin.
Pertanyaannya bukan apakah cermin itu ada atau tidak. Pertanyaannya adalah apakah ia berani melihat pantulan itu dengan jujur. Karena seorang pemimpin tidak jatuh hanya karena ada orang yang memujinya. Ia jatuh ketika ia mulai percaya bahwa bayangan dirinya sendiri adalah kebenaran yang tidak perlu lagi diuji.
Salam Ramadan
Perkuat Kerjasama Internasional, Prodi Farmasi Universitas Malahayati Gelar “Online Lecture Series” Bersama Mitra India
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id) – Program Studi Farmasi Universitas Malahayati Bandar Lampung teru
s menunjukkan komitmennya dalam kancah internasional. Sebagai implementasi nyata dari Memorandum of Understanding (MoU) yang telah disepakati, Prodi Farmasi meluncurkan program Online Lecture Series perdana yang menghubungkan akademisi Indonesia dan India.
Kegiatan ini merupakan program pertukaran ilmu pengetahuan (knowledge exchange), di mana para dosen dari Universitas Malahayati dan institusi mitra di India memberikan kuliah secara bergantian kepada mahasiswa di kedua negara.
Seri Perdana: Mengenal Pendidikan Farmasi di India
Pada seri pertama yang diselenggarakan secara virtual via Zoom, kegiatan ini menghadirkan tamu spesial, Dr. Tulsidas Nimbekar, yang merupakan Principal dari SLMIOP, Amgaon, India.
Dalam pemaparannya, Dr. Tulsidas membawakan topik krusial mengenai “The pattern of pharmacy education in Indian pharmacy council”
Topik ini memberikan wawasan mendalam bagi mahasiswa Farmasi Universitas Malahayati mengenai standar, kurikulum, dan perkembangan praktik farmasi di India, yang dikenal sebagai salah satu negara dengan industri farmasi terbesar di dunia.
Membangun Global Mindset Mahasiswa
Program ini bertujuan untuk:
Kedepannya, dosen dari Farmasi Universitas Malahayati juga akan terjadwal memberikan materi kepada mahasiswa di India, sehingga tercipta kolaborasi dua arah yang berkelanjutan.
Editor : Chandra Faza