BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandarlampung gelar prosesi sumpah dokter Periode 70 dengan tema “Mewujudkan Dokter dalam Pelayanan Komunitas yang Beretika dan Religius dan Berwawasan Internasional”. Sebanyak 54 dokter baru mengikuti pengambilan sumpah dokter di Graha Bintang Universitas Malahayati. Selasa (12/11/2024).
Rektor Universitas Malahayati Bandarlampung, Dr. Muhammad Kadafi, SH., MH menyampaikan ucapan selamat kepada para lulusan serta orang tua yang turut hadir dalam momen bersejarah ini.
Dalam sambutannya, Rektor mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat-Nya yang memungkinkan acara penting ini berlangsung dengan lancar.
“Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul di sini untuk menyaksikan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan para dokter baru, yaitu prosesi sumpah dokter yang ke-70 di Universitas Malahayati,” ujar Dr. Kadafi di hadapan para dokter baru, keluarga, dan tamu undangan.
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa acara ini bukan hanya menjadi momen penting bagi para dokter baru, tetapi juga merupakan kebanggaan bagi Universitas Malahayati yang terus berkomitmen melahirkan tenaga kesehatan profesional yang berkompeten dan berintegritas tinggi.
Rektor Universitas Malahayati juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini berada dalam periode penting menuju cita-cita besar, yaitu Indonesia Emas 2045, di mana bangsa ini menargetkan menjadi negara maju dan sejahtera pada saat peringatan 100 tahun kemerdekaan. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, sektor kesehatan memegang peranan penting.
Dr. Kadafi mengingatkan para dokter baru Universitas Malahayati agar senantiasa mengingat visi dan misi universitas yang mereka jalani. Sebagai lulusan Universitas Malahayati, mereka memiliki tugas mulia untuk menerapkan visi universitas sebagai “Universitas Unggul Berstandar Internasional dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berbasis Etika-Religius.”
“Kami berharap kalian tetap mampu menjaga nilai-nilai etika dan religiusitas yang menjadi karakter dari universitas kita, meskipun dunia kesehatan semakin maju dengan teknologi dan modernisasi. Modernisasi bukan berarti mengabaikan kemanusiaan, justru kalian harus mampu memadukan teknologi dengan empati dan nilai moral,” ujar Dr. Kadafi.
Sebagai penutup, Dr. Kadafi memberikan pesan agar para dokter baru tidak pernah berhenti untuk belajar dan berinovasi. “Dunia kedokteran terus berkembang. Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang kalian miliki sekarang. Teruslah belajar, perluas wawasan, dan ikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan,” tandasnya.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Dr. Toni Prasetia, dr., Sp.PD.,FINASIM, turut memberikan ucapan selamat kepada para lulusan.
“Proses ini adalah sesuatu yang sangat dinanti-nantikan tidak hanya oleh kalian, tapi juga para orang tua dan masyarakat.,” ujarnya.
Para lulusan dokter akan berlanjut melaksanakan internship dan harus memahami aturan-aturan terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah.
“Kita sudah melihat satu prosesi yang hanya terjadi sekali seumur hidup, yaitu sumpah dokter. Ini adalah sumpah jabatan yang akan kita pegang terus seumur hidup. Saya ucapkan selamat kepada para dokter baru sebanyak 54 orang,” ucapnya.
Dr. Toni Prasetia, dr., Sp.PD.,FINASIM berharap bisa mengikuti jejak senior dokter lainnnya. “Harus mengupdate diri. Karena perkembangan ilmu kedokteran itu begitu cepat berkembang.Jadi Terus mengasah diri.Jangan sampai kita jadi dokter ketinggalan,”ucapnya.
Dr. Toni juga menyampaikan, bahwa Etika tidak pernah berubah. Sehingga, 54 dokter yang baru disumpah menjaga profesional dan tetap jaga etika baik. “Karena Prilaku (etika) Dokter itu selalu menjadi sorotan publik,” jelas Dr. Toni.
Perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lampung, Dr. dr. Fatah Satya Wibawa, Sp.THT-KL, menyampaikan bahwa 54 dokter baru disumpah cukup berbangga karena disumpah tepat di Hari Kesehatan Nasional.
“Kalian sudah disumpah dokter 12 pasal dan mendapatkan Buku kode etik kedokteran. Jadi harus dipahami. Apalagi dalam buku kode etik kedokteran didalamnya salah satunya tercantum kewajiban umum seorang dokter,” jelas Dr. dr. Fatah.
Dr. dr. Fatah, menyampaikan, 54 dokter baru disumpah akan mendapatkan bimbingan intensif selama 1-2 tahun kedepan baru bisa mandiri. “Kemandirian ini nanti menentukan anda mau berprofesi dokter umum atau melanjutkan studi kejenjang lebih lanjut. Jaga Kode Etik dan profesionalitas Dokter,” tandasnya.
Acara ini juga dihadiri Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., Wakil Dekan Fakultas Kedokteran dr. Neno Fitriani M.Kes., Kepala Program Studi Pendidikan Dokter Tessa Sjahriani, dr., M.Kes., Kepala Program Studi Profesi Dokter Muhamad Ibnu Sina, dr., M.Ked (Neu)., Sp.N., Sekretaris Program Studi Profesi Kedokteran Ade Utia Detty, dr., M.Kes.
Selain itu hadir juga, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, perwakilan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, perwakilan IDI Kota Bandar Lampung, Direktur Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin, serta para dosen Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Wakil Rektor III Universitas Malahayati “Debat Calon Presiden Mahasiswa, Wujud Nyata Semangat Demokrasi Kampus”
Kegiatan ini dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor III Universitas Malahayati, Dr. Eng. Rina Febrina, ST., MT., yang menekankan pentingnya semangat demokrasi di lingkungan kampus sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kepemimpinan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Dekan Fakultas Teknik, Ka.Biro Kemahasiswaan, tamu undangan dan jajaran akademika.
Dalam sambutannya, Dr. Rina menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari jajaran Wakil Rektor, Dekan, dosen, hingga tenaga kependidikan dan panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini. Ia juga memberikan penghormatan kepada para calon Presiden Mahasiswa beserta tim suksesnya, serta kepada seluruh mahasiswa yang hadir sebagai pendukung demokrasi kampus.
“Debat ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga merupakan ruang untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan, keberanian, dan integritas yang kelak akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam memegang peran di masyarakat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dr. Rina juga memberikan apresiasi khusus kepada Panitia Pemira yang telah berusaha maksimal dalam menyelenggarakan acara ini. “Kerja keras kalian adalah salah satu bentuk kontribusi nyata untuk kampus ini. Semoga segala upaya yang kalian lakukan mendapatkan balasan yang setimpal,” tuturnya.
Sebagai penutup, ia menyampaikan harapan agar para calon Presiden Mahasiswa menjaga sportivitas selama debat berlangsung. “Tunjukkan yang terbaik, dan jadilah pemimpin yang mampu membawa Universitas Malahayati menuju arah yang lebih baik,” pungkasnya.
Acara debat ini diharapkan mampu menjadi momentum untuk membangun generasi mahasiswa yang kritis, berintegritas, dan memiliki komitmen tinggi terhadap pengembangan lingkungan kampus.
Ia juga mengapresiasi terhadap kedua pasangan capres-cawapres mahasiswa yang terlibat dalam acar debat ini. Ia memastikan bahwa pemilihan nantinya akan berasaskan jujur, adil dan netral.
Editor: Gilang Agusman
Mengejar Mimpi, Mengais Rejeki
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu bertandang ke tepian Batavia karena mengurus perhelatan dari anak yang melangsungkan momen kebahagian hidupnya. Tentu dengan usia yang sudah tidak muda lagi urusan begini cukup melelahkan fisik. Namun karena semangat dan tanggungjawab-lah, semua dihadapi dan dijalankan dengan gembira-ria, alhasil semua dijalani dengan atas dasar ibadah, maka hasilnyapun menggembirakan. Diselah-selah kegiatan itu ada moment-moment menarik untuk dapat dijadikan bahan berbagi dan perenungan, salah satu diantaranya adalah apa yang menjadi judul tulisan ini.
Berjumpa dengan seorang jamaah masjid saat selesai melaksanakan kegiatan peribadatan subuh. Berjabat tangan dan berkenalan dengan seorang bapak yang seusia, demi kode etik jurnalis nama beliau tidak ditampilkan. Bapak ini membuka usaha berjualan makanan subuh sudah sekitar tigapuluh tahun di tepian Ibu Kota ini. Bahkan dapat dikatakan sukses, karena sudah memiliki tempat tinggal sendiri dan beberapa cabang tempat usaha yang dikelola oleh anak-anaknya. Prinsip beliau sekolah tidak perlu tinggi-tinggi, karena yang penting hidup ini memiliki mimpi ingin jadi apa ke depan, dan dimudahkan mengais rejeki ilahi yang halal dan benar. Buat apa sekolah tingi-tinggi, bekerja tempatnya mewah, tetapi bekerja dengan orang lain, rejekinya ditentukan oleh orang lain. dan, masih banyak lagi alasan pembenaran yang beliau ajukan berkaitan dengan bekerja kalau hanya sebagai karyawan, lebih baik berdagang atau buka usaha menjadi manajer sendiri. Apalagi sekarang, menurut beliau kalau tidak korupsi tidak kaya, artinya jika tidak mencuri maka tidak makan.
Pendapat beliau sah-sah saja karena itu personal sifatnya, bekerja di tempat lain dalam bentuk lain, juga sah-sah saja; asal dengan ukuran moral dan agama itu dibenarkan; sebab kita semua seolah “mengejar mimpi, untuk mendapatkan sesuap nasi”, itu menjadi pebenaran, sejauh kita masih tinggal di planet bumi. Persoalannya menjadi seru dan rumit jika diksi itu ditambah dengan “segenggam Berlian”, karena untuk mendapatkan ini diperlukan usaha super keras, dan tidak jarang kita mengambil jalan pintas, bahkan salah jalanpun dilakoni, agar mimpi itu menjadi kenyataan.
Berdasarkan penelusuran digital ditemukan informasi ungkapan “mencari sesuap nasi dan segenggam berlian” memiliki makna filosofis yang mendalam, khususnya dalam konteks kehidupan manusia yang selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus mencari sesuatu yang lebih dari itu. Mari kita lihat makna dari kedua frasa tersebut:
1. Mencari Sesuap Nasi
Makna Filosofis: Kebutuhan Dasar: Ungkapan ini menggambarkan usaha seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya, terutama makanan, yang merupakan simbol dari kebutuhan dasar manusia.
Konteks Budaya: Dalam budaya Jawa dan banyak budaya lainnya di Indonesia, “sesuap nasi” bukan hanya menggambarkan makanan fisik, tetapi juga melambangkan usaha mencari rezeki yang halal dan berkah untuk menghidupi diri dan keluarga.
2. Segenggam Berlian
Makna Filosofis: Keinginan Lebih dan Kemewahan: Segenggam berlian melambangkan pencarian akan kemewahan, kesuksesan, dan sesuatu yang lebih dari sekadar kebutuhan dasar. Ini adalah simbol pencapaian dan keberhasilan yang diinginkan oleh banyak orang.
Konteks Budaya: Berlian sebagai simbol kemewahan dan kemuliaan mencerminkan pencapaian tertinggi yang bisa didapatkan seseorang melalui kerja keras, kecerdasan, dan mungkin juga keberuntungan.
Makna Keseluruhan Filosofi dari ungkapan ini mengajarkan keseimbangan antara memenuhi kebutuhan dasar (hidup sederhana dan berjuang untuk hidup) dengan cita-cita untuk mencapai sesuatu yang lebih besar dan bernilai (impian dan ambisi tinggi). Dalam kehidupan, penting untuk memiliki keseimbangan antara “mencari sesuap nasi” (memastikan kita tidak kekurangan) dan “segenggam berlian” (mengejar impian dan kemewahan).
Secara eksistensial ini juga mengajarkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia harus mencari makna hidup yang lebih dalam, yang mungkin diwujudkan dalam bentuk pencapaian, pengakuan, dan kemakmuran. Sebab jika manusia dalam hidupnya hanya mengejar kebutuhan dasar semata, dan setelah tercapai ternyata tetap ada pada wilayah itu; ini menunjukkan bahwa dia tidak lebih berbeda dengan mahluk lain yang lebih rendah dari manusia, karena menurut pendapat aliran ini siklus seperti itu hanya milik mereka yang derajatnya ada dibawah manusia. Untuk yang satu ini kita boleh setuju tetapi juga boleh tidak, karena hidup adalah pilihan.
Mengejar mimpi bukanlah sesuatu yang ditabukan, hanya yang penting dengan cara apa, dan bagaimana melakoninya; itu semua harus berada pada koridor agama, norma etika, dan aturan negara. Oleh sebab itu tidak salah jika mereka yang melakukan korupsi karena dorongan memperkaya diri diberi hukuman mati. Dan, ini dilakukan oleh negara-negara yang memiliki hukum normative yang kokoh. Sayangnya mereka sering di cap pelanggar HAM, padahal melindungan masyarakat dari kerakusan segelintir orang juga bertugas menegakkan HAM.
Hanya perlu diingat sebelum bermimpi, kita harus tidur dulu; sebelum kita sukses harus berusaha dulu. Ini perlu disadari karena sekarang banyak pemimpi disiang hari; mau berhasil tanpa mencari. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Delegasi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Malahayati Berpartisipasi dalam NPIC 2024 di Thailand
Kelima mahasiswa yang terpilih sebagai delegasi mewakili Universitas Malahayati di ajang ini yakni: Fanya Cheftilia Ambraini (21310046), I Gede Putu Rizky Purnama (23310074), Karenina Mutiara Antoni (23310084), Mumtaz Zalfa Nabillah Nuur Jannah (23310111), Tiara Ridha Esfandari (23310158). Mahasiswa ini didampingi langsung oleh Dwi Marlina Syukri, S.Si., M.BSc., PhD dosen Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati yang diundang sekaligus sebagai Co-Chair dan Juri pada International Symposium on Natural Product Innovation and Commercialization.
Fanya Cheftilia Ambraini, salah satu anggota delegasi, mengungkapkan rasa syukur dan antusiasmenya dapat mengikuti kegiatan ini. “NPIC 2024 memberi kami kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai inovasi produk alami dan aplikasinya di dunia kedokteran. Kami berharap dapat membawa ide-ide baru yang bermanfaat untuk pengembangan kesehatan di Indonesia, serta belajar banyak dari para ahli di bidang ini.”
“Sebagai delegasi, kami bangga dapat berpartisipasi dalam program International Poster Research yang diselenggarakan oleh Natural Product Innovation and Commercialization (NPIC) di Thailand,” ujarn Anya.
“Ajang ini tidak hanya memperkaya wawasan kami tetapi juga memperkuat jaringan dengan komunitas ilmiah internasional. Ini adalah momentum berharga untuk mengharumkan nama Indonesia di panggung ilmiah dunia,” tutup Anya.
Kehadiran delegasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati di NPIC 2024 menjadi bukti nyata komitmen universitas dalam mengembangkan potensi mahasiswa untuk bersaing di dunia internasional. Dengan memanfaatkan peluang ini, mahasiswa tidak hanya memperkaya pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga berperan dalam mengembangkan inovasi produk berbasis bahan alami yang dapat memperkaya dunia kedokteran di Indonesia. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Dwi Marlina Syukri, Dosen Universitas Malahayati, Terpilih Jadi Co-Chair dan Juri di Simposium Produk Alami Internasional di Thailand
Sebagai Co-Chair, Dwi Marlina Syukri, Ph.D, memainkan peran kunci dalam memimpin salah satu sesi utama konferensi, di mana ia mengawasi jalannya diskusi panel dengan para ahli terkemuka dalam industri produk alami. Perannya ini bukan hanya mengukuhkan reputasinya sebagai ahli dalam bidangnya, tetapi juga menunjukkan penghargaan atas kontribusinya yang signifikan dalam penelitian dan aplikasi produk alami, yang kini memiliki dampak global.
Selain perannya sebagai Co-Chair, Dwi Marlina Syukri, Ph.D juga diundang untuk menjadi juri dalam kompetisi poster yang merupakan bagian integral dari simposium tersebut. Kompetisi ini menampilkan hasil penelitian terbaru dalam bidang inovasi produk alami yang memiliki potensi untuk dikomersialisasikan secara global. Sebagai juri, Dwi Marlina Syukri, Ph.D menilai kualitas ilmiah dan potensi aplikasi praktis dari setiap poster yang dipresentasikan oleh peserta dari berbagai negara, termasuk Korea, Thailand, Taiwan, Jepang, dan Indonesia.
Tentang International Symposium on Natural Product Innovation and Commercialization
Simposium ini mengundang para ahli dan pemimpin industri untuk berbagi pengetahuan tentang tren terbaru dan tantangan dalam penelitian serta pengembangan produk alami. Dalam acara ini, topik yang dibahas mencakup berbagai aspek inovasi, komersialisasi, dan penerapan produk alami dalam berbagai industri, dengan tujuan untuk mendorong kemajuan pemahaman serta pengembangan lebih lanjut dalam bidang ini. Konferensi ini dihadiri oleh para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu yang berkomitmen untuk menciptakan produk alami yang inovatif dan berkelanjutan, dengan harapan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat global.
Keikutsertaan Dwi Marlina Syukri, Ph.D di acara bergengsi ini semakin menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan pengetahuan serta teknologi berbasis alam yang tidak hanya bermanfaat bagi dunia akademik, tetapi juga untuk aplikasi industri yang lebih luas. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Fajar Demokrasi di Perguruan Tinggi
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Saat ramai pemanggilan sejumlah tokoh sebelum pelantikan kabinet di kediaman Presiden terpilih, tampak sosok tinggi besar berambut putih berkemeja batik, berkelebat di layar TV. Agak sedikit terkejut dengan penampilan sosok ini yang sudah lama tenggelam dari percaturan saat beliau selesai bertugas sebagai seorang Dirjen Dikti.
Sosok ini tidak begitu dikenal oleh para awak media masa kini, oleh sebab itu tidak disodori mikrofon saat orang lain dikerubuti seperti gula dirubung semut. Tidak heran karena memang dari zaman dulu “adik kelas Pak Ansori Djausal” ini tidak suka menonjolkan diri di muka kamera. Namun beliau dikenal seorang Dirjen yang keras dan tegas pada zamannya. Kali ini beliau ditugasi presiden untuk menjadi Menteri Pendidikan Tinggi Sain dan Teknologi (Mendiktisaintek) yang memang dunianya, sehingga bagai katak kembali kekubangan.
Gebrakan pertama yang beliau lakukan sesaat setelah dilantik menjadi menteri adalah membatalkan surat rektor salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa yang membekukan Badan Eksekutif Mahasiswanya, karena memasang karangan bunga dengan kalimat menurut mereka kurang sopan. Tentu saja mereka yang seusia penulis tidak kaget karena itu memang watak demokratis asli Pak Sat (itu panggilan akrab saat beliau Dirjen), yang pernah ditampilkan pada saat menjadi Dirjen Dikti.
Gebrakkan lain, beliau diminta sesuai aturan untuk memberikan suara saat pemilihan pimpinan satu Politeknik Negeri di Wilayah Timur Indonesia, dengan ala beliau justru dijawab “Silahkan pilih, Menteri tidak menggunakan suaranya”, sekalipun itu haknya. Ini terobosan baru yang sudah seharusnya menjadikan pemikiran para petinggi di perguruan tinggi negeri untuk tidak seenaknya menggunakan hak pilih untuk memilih dekan, ketua jurusan dan seterusnya. Dengan cara menolak menggunakan haknya, maka Menteri sebenarnya telah mendorong demokrasi untuk tumbuh kembang sebagaimana yang diharapkan. Kapan hak istimewa itu digunakan, tentu tidak sembarang tempat dan waktu, karena jika dipakai selalu, maka hak itu tidak istimewa lagi. Dan, ini adalah filosofi seorang Satriyo.
Jadi ingat saat beliau menjadi Dirjen, kami para Dekan FKIP Negeri Se-Indonesia pada waktu itu, tidak puas dengan kebijakkan beliau, maka saat pertemuan Bali digagaslah satu Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Kependidikan se-Indonesia, yang kemudian di deklarasikan di Solo dengan nama Forum Komunikasi Dekan FKIP Negeri se-Indonesia. Saat dilaporkan kepada beliau tentang keberadaan organisasi ini melalui Direktur kelembagaan Prof. Dr. Sukamto, yang kami kira akan berang; ternyata dengan senyum khas yang tipis di bibirnya dengan satu kata “Silahkan, demi kemajuan pendidikan di Indonesia”.
Organisasi itu sampai hari ini masih tetap berdiri, semoga generasi penerus dapat menangkap pesan ini guna mengundang beliau bicara di tengah forum seperti tahun 2006 lalu. Begitu juga saat beliau diundang saat pertemuan puncak di FKIP Uiversitas Bengkulu, beliau mengutus khusus Direktur Kelembagaan untuk hadir dan memberikan arahan.
Ada satu hal yang menonjol pada seorang Prof. Satriyo Sumantri Brodjonegoro ialah gemar berdebat jika ada ide baru. Manakala kita mampu menyodorkan fakta dan data ilmiah yang tak terbantahkan, saat itu pula beliau akan menyetujui. Sebaliknya, jika data dan fakta serta argumentasinya lemah, selesai juga saat itu akan beliau bantai habis. Namun ternyata beliau tidak pendendam, selesai debat minum kopi bersama dan tertawa bersama adalah biasa.
Beliau juga adalah penggagas Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTN-BH), dan beliau sangat menguasai filosofi serta seluk beluknya. Oleh sebab itu beliau sangat mendorong kemandirian perguruan tinggi. Namun disisi lain beliau menentang jika ada kenaikan “pungutan” kepada mahasiswa baru. Tentu dilema seperti ini harus menjadikan pimpinan perguruan tinggi kerja keras dan keras usaha dalam memenuhi kekurangan anggaran di lembaganya. Maju tanpa harus jadi kapitalis seolah menjadi prinsip beliau.
Kedepan, beliau akan mengoreksi alur penelitian dosen yang publikasinya seolah diarahkan menjadi kacamata kuda. Beliau akan membongkar itu, dan tentu dengan konsep yang lebih kredibel. Kebermanfaatan bagi orang banyak menjadi semacam prinsip utama kerja-kerja para insan akademik. Namun, kerja penelitian akan menjadi semacam kewajiabn utama setelah pendidikan pengajaran. Oleh sebab itu bagi dosen muda yang inovatif pada masa periode ini akan mendapat angin segar. Sementara bagi dosen yang malas, dan tidak pernah menulis apalagi meneliti; maka pada era ini akan semakin tereliminasi.
Sementara publikasi akan beliau luruskan agar tidak mendewakan satu kreteria penerbitan yang membuat menjamurnya sistem kapitalis di dunia perguruan tinggi, karena semua selama ini bisa diatur dengan rupiah, dan sistem “pengupahan” karya ilmiah. Beliau menengarai untuk menjadi Guru Besar bisa menggunakan cara-cara yang tidak akademis, bahkan menyimpang dari norma-norma kepatutan. Oleh sebab itu beliau akan mengembalikan lagi maruwah Guru Besar kepada jalan yang benar dan bermartabat. Tentu untuk ini Satriyo harus siap-siap berhadapan dengan Mafioso yang menggurita dari atas sampai bawah.
Namun Satriyo tetap manusia biasa, bukan setengah dewa. Oleh sebab itu beliau juga punya kekurangan sekaligus keunggulannya yaitu memiliki kemauan yang sangat keras, dan jika memiliki kemauan akan diperjuangkannya sampai titik akhir. Tidak ada kata mundur apalagi gagal pada konsepnya sehingga berkecenderungan sedikit otoriter itu adalah cirinya. Namun mendengar kritik bukan tabu baginya, tetapi “apa kata orang” bukan tipenya langsung percaya. Karena beliau akan berargumen silahkan kata orang, tetapi saya punya hak apa kata saya.
Mengajak benar kepada orang yang benar, maka hasilnya akan menjadi benar, itu adalah pekerjaan benar; namun demikian mengajak benar kepada mereka yang tidak benar-pun ternyata itu juga perbuatan benar. Semoga angin segar yang dibawa oleh Menteri Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi akan membawa negeri ini ke alam demokrasi kampus yang lebih terang dan dinamis.
Otoritarian kekuasaan seharusnya bisa digantikan dengan otoritas akademik yang menjadi laku utama para ilmuwan dalam menapaki kebenaran. Oleh karena itu kedepan institusi Senat di Perguruan Tinggi begitu berperan dalam menentukan semua kebijakkan akademik di lembaganya.
Orang bijak pernah berpesan: Sambut yang datang, ikhlaskan yang pergi. Hargai yang berjuang lupakan yang menyakiti. Mari berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa diubah. Mari mengikhlaskan hal-hal yang sudah terjadi, dan mari melanjutkan kehidupan dengan versi terbaik yang kita miliki. Salam Waras. (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati Lantik dan Ambil Sumpah 54 Dokter Baru Periode ke-70
Rektor Universitas Malahayati Bandarlampung, Dr. Muhammad Kadafi, SH., MH menyampaikan ucapan selamat kepada para lulusan serta orang tua yang turut hadir dalam momen bersejarah ini.
Dalam sambutannya, Rektor mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat-Nya yang memungkinkan acara penting ini berlangsung dengan lancar.
“Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul di sini untuk menyaksikan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan para dokter baru, yaitu prosesi sumpah dokter yang ke-70 di Universitas Malahayati,” ujar Dr. Kadafi di hadapan para dokter baru, keluarga, dan tamu undangan.
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa acara ini bukan hanya menjadi momen penting bagi para dokter baru, tetapi juga merupakan kebanggaan bagi Universitas Malahayati yang terus berkomitmen melahirkan tenaga kesehatan profesional yang berkompeten dan berintegritas tinggi.
Dr. Kadafi mengingatkan para dokter baru Universitas Malahayati agar senantiasa mengingat visi dan misi universitas yang mereka jalani. Sebagai lulusan Universitas Malahayati, mereka memiliki tugas mulia untuk menerapkan visi universitas sebagai “Universitas Unggul Berstandar Internasional dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berbasis Etika-Religius.”
“Kami berharap kalian tetap mampu menjaga nilai-nilai etika dan religiusitas yang menjadi karakter dari universitas kita, meskipun dunia kesehatan semakin maju dengan teknologi dan modernisasi. Modernisasi bukan berarti mengabaikan kemanusiaan, justru kalian harus mampu memadukan teknologi dengan empati dan nilai moral,” ujar Dr. Kadafi.
Sebagai penutup, Dr. Kadafi memberikan pesan agar para dokter baru tidak pernah berhenti untuk belajar dan berinovasi. “Dunia kedokteran terus berkembang. Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang kalian miliki sekarang. Teruslah belajar, perluas wawasan, dan ikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan,” tandasnya.
“Proses ini adalah sesuatu yang sangat dinanti-nantikan tidak hanya oleh kalian, tapi juga para orang tua dan masyarakat.,” ujarnya.
Para lulusan dokter akan berlanjut melaksanakan internship dan harus memahami aturan-aturan terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah.
“Kita sudah melihat satu prosesi yang hanya terjadi sekali seumur hidup, yaitu sumpah dokter. Ini adalah sumpah jabatan yang akan kita pegang terus seumur hidup. Saya ucapkan selamat kepada para dokter baru sebanyak 54 orang,” ucapnya.
Dr. Toni Prasetia, dr., Sp.PD.,FINASIM berharap bisa mengikuti jejak senior dokter lainnnya. “Harus mengupdate diri. Karena perkembangan ilmu kedokteran itu begitu cepat berkembang.Jadi Terus mengasah diri.Jangan sampai kita jadi dokter ketinggalan,”ucapnya.
Dr. Toni juga menyampaikan, bahwa Etika tidak pernah berubah. Sehingga, 54 dokter yang baru disumpah menjaga profesional dan tetap jaga etika baik. “Karena Prilaku (etika) Dokter itu selalu menjadi sorotan publik,” jelas Dr. Toni.
“Kalian sudah disumpah dokter 12 pasal dan mendapatkan Buku kode etik kedokteran. Jadi harus dipahami. Apalagi dalam buku kode etik kedokteran didalamnya salah satunya tercantum kewajiban umum seorang dokter,” jelas Dr. dr. Fatah.
Dr. dr. Fatah, menyampaikan, 54 dokter baru disumpah akan mendapatkan bimbingan intensif selama 1-2 tahun kedepan baru bisa mandiri. “Kemandirian ini nanti menentukan anda mau berprofesi dokter umum atau melanjutkan studi kejenjang lebih lanjut. Jaga Kode Etik dan profesionalitas Dokter,” tandasnya.
Selain itu hadir juga, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, perwakilan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, perwakilan IDI Kota Bandar Lampung, Direktur Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin, serta para dosen Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Rektor Universitas Malahayati: “Dokter Baru Harus Berkomitmen Tinggi untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045”
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, SH., MH. mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat-Nya yang memungkinkan acara penting ini berlangsung dengan lancar.
“Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul di sini untuk menyaksikan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan para dokter baru, yaitu prosesi sumpah dokter yang ke-70 di Universitas Malahayati,” ujar Dr. Kadafi di hadapan para dokter baru, keluarga, dan tamu undangan.
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa acara ini bukan hanya menjadi momen penting bagi para dokter baru, tetapi juga merupakan kebanggaan bagi Universitas Malahayati yang terus berkomitmen melahirkan tenaga kesehatan profesional yang berkompeten dan berintegritas tinggi.
Tantangan Kesehatan Indonesia dan Peran Para Dokter Baru
Rektor Universitas Malahayati juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini berada dalam periode penting menuju cita-cita besar, yaitu Indonesia Emas 2045, di mana bangsa ini menargetkan menjadi negara maju dan sejahtera pada saat peringatan 100 tahun kemerdekaan. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, sektor kesehatan memegang peranan penting.
“Kesehatan bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga fondasi bagi segala pencapaian bangsa. Tanpa masyarakat yang sehat, kita akan sulit mencapai kemajuan ekonomi, sosial, dan budaya yang kita cita-citakan dalam visi Indonesia Emas,” tambahnya.
Namun, Dr. Kadafi juga mengingatkan bahwa sektor kesehatan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan besar. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan, rasio dokter per 1.000 penduduk di Indonesia masih sangat rendah, jauh di bawah standar global. Di negara maju, rasio dokter bisa mencapai lebih dari 3 per 1.000 penduduk, sementara di Indonesia masih di bawah angka 1.
“Di banyak wilayah terpencil dan perbatasan, akses terhadap layanan kesehatan masih sangat terbatas. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua untuk bersama-sama mengatasi masalah ini,” tegasnya.
Tugas dan Harapan bagi Dokter Baru Universitas Malahayati
Menanggapi tantangan tersebut, Dr. Kadafi mengingatkan para dokter baru Universitas Malahayati agar senantiasa mengingat visi dan misi universitas yang mereka jalani. Sebagai lulusan Universitas Malahayati, mereka memiliki tugas mulia untuk menerapkan visi universitas sebagai “Universitas Unggul Berstandar Internasional dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berbasis Etika-Religius.”
“Kami berharap kalian tetap mampu menjaga nilai-nilai etika dan religiusitas yang menjadi karakter dari universitas kita, meskipun dunia kesehatan semakin maju dengan teknologi dan modernisasi. Modernisasi bukan berarti mengabaikan kemanusiaan, justru kalian harus mampu memadukan teknologi dengan empati dan nilai moral,” ujar Dr. Kadafi.
Ia menekankan bahwa para dokter baru harus menjadi sosok yang tidak hanya terampil dalam bidang medis, tetapi juga memiliki rasa empati dan kepekaan sosial yang tinggi. Di era Indonesia Emas, Indonesia membutuhkan dokter yang melayani dengan hati dan berkomitmen pada kemanusiaan.
Peran Dokter dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat
Rektor Universitas Malahayati juga mengingatkan pentingnya peran dokter dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. “Memperbaiki kesehatan masyarakat tidak bisa hanya dilakukan di rumah sakit atau ruang praktik. Kalian harus aktif dalam promosi kesehatan dan pencegahan penyakit,” ungkapnya.
Dr. Kadafi mengajak para dokter baru untuk lebih dekat dengan masyarakat, mengedukasi mereka, serta menginspirasi untuk menjalani pola hidup sehat. Sebagai tenaga medis, mereka diharapkan mampu memberikan edukasi yang bermanfaat agar masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan, mulai dari lingkungan keluarga hingga komunitas yang lebih luas.
Dalam era keterbukaan informasi ini, di mana masyarakat dengan mudah mendapatkan informasi kesehatan dari berbagai sumber, Dr. Kadafi juga menekankan pentingnya peran dokter sebagai penyaring informasi. “Kalian harus memastikan setiap informasi yang diterima masyarakat adalah informasi yang benar, dapat dipertanggungjawabkan, dan berbasis pada bukti ilmiah,” ujar Dr. Kadafi.
Pesan Terakhir: Integritas dan Inovasi
Sebagai penutup, Dr. Kadafi memberikan pesan agar para dokter baru tidak pernah berhenti untuk belajar dan berinovasi. “Dunia kedokteran terus berkembang. Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang kalian miliki sekarang. Teruslah belajar, perluas wawasan, dan ikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan.”
“Saya, atas nama seluruh keluarga besar Universitas Malahayati, mengucapkan selamat atas capaian luar biasa yang telah kalian raih. Kami yakin, di mana pun kalian mengabdi nantinya, kalian akan menjadi duta dari nilai-nilai luhur Universitas Malahayati. Jadilah dokter yang unggul, berstandar internasional, namun tetap mengakar pada etika dan religiusitas,” kata Dr. Kadafi mengakhiri sambutannya.
“Semoga para dokter baru Universitas Malahayati dapat mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya dan turut berkontribusi bagi perbaikan sektor kesehatan di Indonesia menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045,” Himbaunya. (gil)
Editor: Gilang Agusman
LPMI Universitas Malahayati adakan Sosialisasi Instrumen Monev Kinerja Dosen dan Program Studi Periode Tengah Semester T.A. 2024/2025
Kegiatan ini dilaksanakan via Zoom yang dihadiri oleh Dekan dan Wakil Dekan dari 5 Fakultas di lingkungan Unmal serta 20 Ketua Program Studi beserta Sekretaris Program Studi di tingkat D3,S1,Profesi, dan S2. Instrumen Monev Kinerja Dosen dan Program Studi Periode Semester Ganjil T.A. 2024/2025 mengacu pada Permendikbudristek no 53 tahun 2023 dan instrumen Indikator Kerja Utama (IKU) mengacu pada Permendikbudristek no 210/M/ 2023.
LPMI sebagai pengawal mutu Unmal mengharapkan masukan positif dari peserta sosialisasi. Masukan-masukan tersebut menjadikan instrumen lebih baik dan dapat mulai diimplementasikan dalam tahap evaluasi pada siklus PPEPP semester ganjil 2024-2025. Diharapkan kegiatan sosialisasi ini dapat mempercepat implementasi pelaksanaan Evaluasi terhadap ketercapaian kinerja Perguruan Tinggi Unmal meliputi target Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Untuk pengisian data dan instrumen Kinerja Dosen dan Prodi Periode Tengah Semester T.A. 2024/2025 didasarkan pada situasi dan kondisi Program Studi dimulai sejak tanggal 16 September s.d 17 November 2024 melalui tautan https://s.id/Monev_Kinerja_2024 . Untuk periode pelaporan ditunggu paling lambat tanggal 24 November 2024 pukul 23.59 WIB.
Contak Person : Prima Dian Furqoni,S.Kep.,Ns.,M.Kes (082378999207). (gil)
Program Studi Manajemen Universitas Malahayati Gelar Bootcamp “Penggunaan Aplikasi Statistik untuk Penyusunan Skripsi”
Acara yang dihadiri oleh para dosen Prodi Manajemen, serta pimpinan program studi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengolah data penelitian secara profesional. Acara ini disambut antusias sebanyak 150 mahasiswa Prodi Manajemen.
Bootcamp ini bertujuan untuk memberikan pelatihan intensif dalam penggunaan aplikasi statistik, yang merupakan salah satu alat utama dalam penelitian ilmiah. Dengan penguasaan yang lebih baik terhadap aplikasi-aplikasi statistik, mahasiswa diharapkan dapat menganalisis data secara lebih akurat, sehingga kualitas skripsi yang dihasilkan pun akan semakin meningkat.
Tidak lupa, ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para dosen yang turut berperan sebagai narasumber dan fasilitator dalam bootcamp ini. Mereka akan memberikan pemahaman lebih mendalam terkait penggunaan berbagai aplikasi statistik yang dapat menunjang penelitian mahasiswa.
Dengan semangat yang tinggi, para peserta berharap acara ini dapat berjalan lancar dan sukses, serta memberikan pengalaman berharga untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan dalam bidang statistik. Bootcamp ini juga menjadi kesempatan emas bagi mahasiswa untuk bertanya langsung kepada para ahli, serta mendalami teknik-teknik statistik yang relevan dengan skripsi mereka.
Acara ini diharapkan menjadi langkah awal yang positif dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan hasil skripsi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Semua peserta menyambut baik inisiatif ini, yang diharapkan dapat memperkaya kemampuan teknis mahasiswa di dunia akademik. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Gelem Dhuwite, Emoh Wonge
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Pagi buta setelah salat subuh dawai sosial berdering. Seorang keluarga mengabarkan bahwa ada Om yang istrinya meninggal dunia. Maka, semua acara hari itu saya dibatalkan. Semua disusun serba mendadak, setelah selesai makan pagi, karena ini wajib sifatnya, maka kendaraan dipacu kearah selatan untuk mengupayakan agar bisa menyalatkan jenazah.
Sementara menunggu pemandian dan pengkafanan jenazah para tamu duduk ditenda yang sudah disediakan, saat itu lamunan melayang begitu singkatnya hidup. Almarhum tiga pekan lalu masih sempat bicara dan canda di suatu perhelatan pernikahan, tenyata hari ini beliau pulang.
Saat lamunan menerawang, tiba tiba orang sebelah menegur dengan bahasa Jawa kromo inggil “Panjenengan saking pundi Pak”.
Tentu saja bahasa ibu yang sangat akrab ditelinga dan jarang terdengar akibatnya menjadikan diri seolah berada dikomunitas yang berbeda. Pembicaraan dimulai dalam adat Jawa yang istilah jawa nya “mbagekke”; yaitu menanyakan kabar kemudian berangkat jam berapa dengan siapa; hal seperti ini semacam standard untuk masyarakat jawa. Bahasa itu menjadikan rindu sosok almarhum orang tua yang sudah berpulang sejak 2006 lalu.
Pembicaraan begitu “gayeng” (mengasyikkan), mgelantur sampai pada moment pemilihan kepala daerah. Beliau “ngudo roso” (mengeluarkan isi hati) bagaimana dari pemilihan ke pemilihan. Selama itu beliau menjadi relawan salah satu pasangan calon. Dan, semua calon yang didukungnya selalu menang selama tiga kali pemilihan; namun betapa kecewanya beliau saat kandidat sudah duduk, untuk dijumpai saja setengah mati, bahkan cenderung menolak ketemu. Dari peristiwa itu maka pada saat ini beliau mengubah prinsip “gelem duwit e, emoh wong nge” seperti judul tulisan ini yang terjemahan bebasnya “Uangnya mau, milih orangnya tidak”. Tentu saja jawaban ini sangat mengejutkan, dan saat didesak untuk menjelaskan dasar filosofinya, setengah berbisik ditelinga beliau menjelaskan hakikat dan filosofinya, dan sayangnya apa yang dibisikkan itu tidak patut untuk ditulis pada media ini.
Setelah upacara pensholatan dan pemakaman jenazah selesai kami berpisah, dan dalam perjalanan pulang itulah renungan akan filosofi tadi menantang untuk disimak melalui jejak digital. Ternyata ditemukan informasi digital bahwa dalam filosofi Jawa, ungkapan “gelem duwit e, emoh wong nge” memiliki makna mendalam yang terkait dengan prinsip dan etika dalam menjalani kehidupan. Secara harfiah, frasa ini dapat diartikan sebagai “mau uangnya, tapi tidak mau orangnya.” Filosofinya berfokus pada hubungan antara kebutuhan materi dan hubungan antarmanusia, serta mengajarkan agar tidak hanya mencari keuntungan semata tanpa menghargai orang lain yang terlibat.
Keluasan dan kedalaman makna diksi ini mencakup: Pertama, Prinsip Keserakahan: Ungkapan ini mengingatkan agar seseorang tidak menjadi tamak atau hanya memikirkan keuntungan materi tanpa menghormati dan menghargai pihak lain.
Kedua, Etika dalam Hubungan: Mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar, bukan hanya memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi.
Ketiga, Keseimbangan Moral: Pentingnya keseimbangan antara materialisme dan kemanusiaan, di mana mengejar kekayaan tidak seharusnya membuat seseorang melupakan moralitas dan etika sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, pepatah ini menasihati kita agar menghargai kontribusi dan keberadaan orang lain, bukan hanya memanfaatkan hasil yang mereka berikan. Seperti apa yang dirasakan oleh “piyantun jawi” tadi, sehingga kita paham jika beliau pada akhirnya menjadi pragmatis. Pertanyaannya berapa banyak individu yang seperti ini pada era sekarang; dan tentu ini sangat membahayakan perjalanan demokrasi negeri ini.
Pertanyaan lanjut sadarkah para pengambil kebijakkan dan keputusan ditingkat pusat sampai daerah akan perubahan fenomena ini di tengah masyarakat. Belajar dari sejarah masa lalu kita sering baru menyadari setelah semuanya terlambat; akhirnya kita sibuk mencari “kambing hitam”, sementara sebenarnya kambing sudah lama berubah menjadi hitam.
Jangan sampai bak pepatah mengatakan “arang habis besi binasa”; kita sudah mengeluarkan dana triliunan rupiah hanya untuk mendudukan pasangan memimpin daerah, yang kita peroleh tidak sebanding dengan itu semua. Akibatnya kita akan memperoleh sosok pemimpin yang standard-standar saja akibat dari buah sistem yang kita bangun tidak melahirkan pemimpin yang berkualitas. Salam Waras. (SJ)
Editor: Gilang Agusman