Oleh Udo Z Karzi
DI negeri ini, orang sering lupa. Lupa janji saat kampanye. Lupa utang setelah gajian. Lupa sejarah setelah jadi pejabat. Dan yang paling sering: lupa kepada guru setelah merasa pintar.
Karena itu, ketika membaca tulisan Juwendra Asdiansyah tentang Prof. Dr. Sudjarwo berjudul “Prof Sudjarwo: Yang Siap Dilupakan, Yang Mengukir Keabadian” (Wartalampung.id, 20 Mei 2026), saya justru berpikir: bagaimana mungkin saya bisa lupa kepada Pak Djarwo?
Lupa itu perlu syarat. Pertama, orang yang mau dilupakan memang tidak meninggalkan jejak. Kedua, kita memang tak pernah benar-benar bersentuhan dengannya. Ketiga, kita malas mengenang.
Nah, masalahnya, Pak Djarwo itu meninggalkan jejak di kepala saya. Dan jejak itu bukan sekadar tanda tangan di lembar absensi kuliah.
Ia adalah dosen saya di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung. Mengajar Metode Penelitian Sosial (MPS) dan sosiologi perdesaan. Dua mata kuliah yang sebenarnya bisa sangat mengerikan bila diajarkan dengan wajah birokratis, suara datar, dan diktat lusuh hasil fotokopi generasi ketujuh.
Tapi, Pak Djarwo beda.
Ia mengajar seperti orang yang percaya bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan teori untuk ujian semester, melainkan alat memahami manusia. Dan manusia itu makhluk yang rumit, absurd, lucu, kadang tolol, tapi menarik diteliti.
Saya masih ingat salah satu hal yang paling membekas dari mata kuliah MPS: pendekatan sejarah dalam penelitian sosial. Dari situ saya makin menyukai sejarah apa saja. Sejarah politik, sejarah kebudayaan, sejarah sastra, bahkan sejarah orang putus cinta.
Sebab, sejarah membuat kita paham mengapa sesuatu terjadi. Dan, lebih penting lagi: mengapa sesuatu terus berulang.
Masalahnya memang begitu. Manusia ini makhluk keras kepala. Sudah berkali-kali sejarah menunjukkan akibat keserakahan, penyalahgunaan kuasa, kebodohan kolektif, tapi tetap saja diulang dengan penuh percaya diri. Mungkin karena manusia merasa dirinya generasi paling canggih. Padahal cuma generasi terbaru dari spesies yang sama-sama suka mengulangi kesalahan.
Itu pelajaran penting dari Pak Djarwo. Bukan sekadar teori sosiologi. Tapi cara memandang kehidupan.
Dan yang paling saya suka: beliau melarang mahasiswa mencatat saat kuliah.
Ini revolusioner.
Di kampus-kampus kita, mahasiswa biasanya sibuk mencatat sampai lupa mendengar. Tangan bergerak cepat, otak parkir. Dosen ngomong apa, tidak penting. Yang penting catatan penuh supaya bisa difotokopi sebelum ujian.
Pak Djarwo justru meminta kami mendengarkan. Menyimak. Mencerna. Setelah itu baru materi boleh difotokopi.
Kalau rajin mengumpulkan materi kuliah, jadilah diktat. Tapi Pak Djarwo tidak menjadi “diktat-or” yang menjadikan mahasiswa sebagai pasar fotokopian wajib. Ini penting dicatat. Sebab di republik pendidikan kita, kadang ada dosen yang lebih semangat menjual diktat daripada memperbarui isi kuliah.
Ada dosen yang tiap tahun mengajar teori lama dengan semangat purbakala, tetapi diktatnya berganti cover terus supaya mahasiswa tak bisa pinjam kakak tingkat.
Ekonomi kreatif memang luar biasa.
Beruntung kami punya Pak Djarwo.
Dan keberuntungan berikutnya: beliau bukan hanya dosen yang mengajar. Beliau menulis.
Nah, di sinilah masalah besar dunia akademik kita sebenarnya.
Banyak dosen bisa bicara panjang lebar di seminar, tetapi ketika menulis, kalimatnya seperti truk pengangkut batu gagal nanjak: berat, berisik, lalu mundur perlahan. Ada tulisan akademik yang setelah dibaca tiga paragraf membuat pembaca merasa bersalah telah lahir ke dunia. Padahal menulis itu mestinya menyampaikan pikiran, bukan menyembunyikannya.
Karena itu saya sepakat dengan Juwendra: dosen yang benar-benar bisa menulis dengan baik memang tidak banyak.
Pak Djarwo termasuk yang langka itu.
Ketika saya menjadi jabrik (penanggung jawab rubrik) halaman Opini di Lampung Post, sayalah yang kerap memuat tulisan-tulisannya.
Eh, redaktur Opini Lampost itu silih berganti. Seingat saya nama-nama redaktur Opini di Lampost di antaranya: Fajrun Najah Ahmad, Heri Wardoyo, Uten Sutendy, Heri Mulyadi, Rahmat Sudirman, Hesma Eryani, Budi Hutasuhut, Sudarmono, sampai SW Teofani. Sebuah zaman ketika koran masih dibaca sambil ngopi, bukan sambil rebahan sambil mengutuk algoritma media sosial.
Dan saya ingat para penulis yang rutin mengirim opini. Pak Djarwo, tentu saja. Juga Syarief Makhya, Nanang Trenggono, sampai Ari Darmastuti yang menulis meski jarang. Maaf, Bu Ari. Hehee…
Yang menarik dari tulisan-tulisan Pak Djarwo ialah nadanya. Tenang. Santun. Tidak menggebu-gebu seperti status Facebook orang baru menemukan teori konspirasi.
Sebagai sosiolog, ia tidak memaki-maki masyarakat. Ia mengajak pembaca merenung. Tidak menggurui, tetapi mempersilakan orang berpikir. Di tengah dunia yang makin berisik, tulisan model begitu justru terasa mewah.
Sekarang kita hidup di zaman semua orang ingin menjadi komentator tercepat. Semua ingin viral. Semua merasa harus marah tiap hari. Bahkan orang belum selesai membaca berita sudah siap menghina di kolom komentar.
Pak Djarwo justru mengingatkan bahwa kecendekiaan tidak harus gaduh. Bahwa pikiran jernih sering lahir dari suara yang tenang.
Ini kata Pak Djarwo yang dikutip Juwendra: “Jarang yang mau membaca (tulisan saya) karena banyak orang begitu membaca istilah filsafat langsung ambil posisi minggir sebelum berjalan.”
Kalimat ini lucu sekaligus menyedihkan. Kita memang bangsa yang cepat minder terhadap istilah-istilah intelektual. Baru membaca kata “epistemologi”, orang langsung merasa dikejar setan akademik. Padahal filsafat itu sebenarnya cuma usaha manusia memahami hidup secara lebih serius.
Masalahnya, kita sudah terlalu lama dididik untuk takut berpikir rumit. Kita lebih suka slogan daripada perenungan. Lebih suka kutipan pendek daripada membaca buku utuh. Lebih suka video 30 detik daripada esai 1.000 kata.
Dan ironisnya, di tengah budaya instan itu, masih ada orang seperti Pak Djarwo yang tekun menulis dengan kesabaran seorang guru.
Maka bagaimana saya bisa lupa?
Apalagi buku Ngilo karya beliau masih tertata rapi di Lepau Buku saya. Buku kumpulan opini yang terbit tahun 2014 itu bukan sekadar kumpulan tulisan koran. Ia semacam rekaman batin seorang intelektual yang mengamati masyarakat dengan mata teduh.
Saya kadang berpikir, mungkin memang nasib banyak guru besar yang baik adalah perlahan-lahan disisihkan oleh zaman yang lebih menghargai sensasi daripada kebijaksanaan.
Tapi ada yang tak dipahami zaman: tulisan yang baik punya umur panjang. Ia bisa melampaui tepuk tangan seminar. Melampaui jabatan. Melampaui baliho akademik. Dan dalam hal itu, Pak Djarwo mungkin benar-benar sedang mengukir keabadian.
Sedangkan kita? Kita cuma sedang sibuk scrolling.
Mahasiswa Psikologi Universitas Malahayati Raih Prestasi di Ajang Internasional I-Sciwrite 2026
Mahasiswa Universitas Malahayati, Ghina Aliya Mufidah (22370040) dari Program Studi Psikologi, berhasil meraih predikat 5th Winner dalam ajang International Scientific Writing Competition (I-Sciwrite) 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi UIN Raden Intan Lampung pada 6 Mei 2026 dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai negara, seperti Indonesia, Malaysia, dan Turki
Dalam kompetisi tersebut, Ghina mempresentasikan artikel ilmiah berjudul “The Influence of Socio-Economic Status and Internalizing and Externalizing Behavior on the Subjective Well-Being of High School Students”.
Karya tersebut dinilai langsung oleh panel dewan juri pakar lintas negara, yaitu Prof. Rena Latifa, M.Psi., Psikolog dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Prof. Dr. Melati Binti Sumari dari University of Malaya, Malaysia.
Universitas Malahayati Hadiri Undangan Kementerian Hukum Lampung dalam Penguatan Sentra Kekayaan Intelektual Perguruan Tinggi
Bandar Lampung, 12 Mei 2026 – Universitas Malahayati menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan ekosistem Kekayaan Intelektual (KI) di lingkungan perguruan tinggi dengan menghadiri kegiatan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pembentukan Sentra Kekayaan Intelektual Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum Republik Indonesia Provinsi Lampung.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Wilayah Kementerian Hukum Lampung ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor M.HH-6.OT.01.01 Tahun 2026 tentang Pembentukan dan Penguatan Pengelolaan Sentra Kekayaan Intelektual. Acara ini juga menjadi bagian dari agenda nasional What’s Up Campus Calls Out yang bertujuan memperkuat pengelolaan KI di perguruan tinggi.
Pada kesempatan tersebut, Rektor Universitas Malahayati diwakili oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Prof. Erna Listyaningsih, SE., M.Si, Ph.D. Kehadiran beliau mewakili Universitas Malahayati dalam penandatanganan PKS sebagai bentuk dukungan institusi terhadap upaya peningkatan perlindungan dan pemanfaatan hasil karya intelektual civitas akademika.
Prof. Erna Listyaningsih menyampaikan bahwa pembentukan dan penguatan Sentra Kekayaan Intelektual merupakan langkah strategis dalam mendorong dosen, mahasiswa, dan peneliti untuk menghasilkan inovasi yang memiliki nilai manfaat dan perlindungan hukum.
“Universitas Malahayati terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat melalui perlindungan kekayaan intelektual. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan proses pendampingan pendaftaran HKI dapat berjalan lebih optimal,” ujar Prof. Erna Listyaningsih.
Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Provinsi Lampung, baik secara langsung maupun daring.
Penandatanganan PKS ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara Kementerian Hukum dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan ini, Universitas Malahayati semakin menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang mendukung budaya riset, inovasi, serta perlindungan hukum terhadap hasil karya intelektual.
Dokumentasi Kegiatan
Kegiatan: Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pembentukan Sentra Kekayaan Intelektual Perguruan Tinggi
Waktu: Selasa, 12 Mei 2026
Tempat: Aula Kantor Wilayah Kementerian Hukum Republik Indonesia Provinsi Lampung
Perwakilan Universitas Malahayati: Prof. Erna Listyaningsih, S.E., M.Si, Ph.D. (Ketua LPPM)
Semoga kerja sama ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat inovasi dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual di Universitas Malahayati.
editor : Chandra fz
Finalisasi Dokumen Penilaian RPL Universitas Malahayati Digelar 25 Mei 2026
Bandar Lampung — Universitas Malahayati menggelar kegiatan Finalisasi Dokumen Penilaian Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu dan penyempurnaan sistem akademik di lingkungan universitas. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Senin, 25 Mei 2026 pukul 09.00 WIB hingga selesai, bertempat di Ruang Rapat Lantai 5 (Ruang Tengah) Universitas Malahayati.
Undangan kegiatan tersebut tertuang dalam surat bernomor 1430.48.414.05.26 tertanggal 22 Mei 2026 yang ditandatangani oleh Ketua RPL Universitas Malahayati, Nurhusnaini, S.ST., M.Kes.
Kegiatan finalisasi ini melibatkan berbagai unsur pimpinan dan pengelola akademik di lingkungan Universitas Malahayati, di antaranya Wakil Rektor I, Ketua dan Wakil Ketua LPMI, para dekan fakultas, ketua program studi terkait, serta admin RPL. Kehadiran para peserta diharapkan dapat memperkuat koordinasi dan penyelarasan dokumen penilaian RPL sesuai standar mutu pendidikan tinggi.
Adapun program studi yang turut dilibatkan meliputi S1 Teknik Sipil, S1 Akuntansi, S1 Keperawatan, S1 Kebidanan, S1 Farmasi, S1 Kesehatan Masyarakat, serta S2 Kesehatan Masyarakat.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis Universitas Malahayati dalam mendukung implementasi sistem Rekognisi Pembelajaran Lampau yang berkualitas, akuntabel, dan sesuai dengan regulasi pendidikan tinggi. Selain itu, finalisasi dokumen penilaian RPL diharapkan mampu memperkuat tata kelola akademik serta memberikan pengakuan yang tepat terhadap capaian pembelajaran dan pengalaman kerja peserta didik.
Melalui kegiatan ini, Universitas Malahayati terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan dan memperluas akses pendidikan tinggi melalui mekanisme RPL yang profesional dan terstandar.
Estafet Kepemimpinan Menwa Radin Intan Lampung, Rudi Winarno Resmi Jabat Kepala Staf Periode 2026–2029
BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) — Resimen Mahasiswa (Menwa) Radin Intan Lampung sukses menggelar upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala Staf Resimen Mahasiswa Radin Intan Lampung Periode 2026–2029. Prosesi sakral yang menandai estafet kepemimpinan baru ini berlangsung khidmat di Gedung MCC Bawah, Batalyon 207 Universitas Malahayati, pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Jabatan Kepala Staf Resimen Mahasiswa Radin Intan Lampung resmi diserahterimakan dari pejabat lama, Geo Galadra Binangkit, S.T. (Periode 2019–2026), kepada pejabat baru, Rudi Winarno, S.Kep., Ns., M.Kes. (Periode 2026–2029). Upacara sertijab ini dipimpin langsung oleh Komandan Resimen Mahasiswa Radin Intan Lampung, AKBP Vicky Dzulkarnain S.Ag., M.M.
Sesuai dengan semboyan Menwa, “Widya Castrena Dharma Sidha” (Penyempurnaan Pengabdian dengan Ilmu Pengetahuan dan Olah Keprajuritan), pergantian pengurus ini mengusung visi “Satu Komando, Satu Tekad, Membangun Menwa Radin Intan yang Profesional dan Berdedikasi”.
Dihadiri Unsur Pimpinan Daerah, Pembina, dan Struktur Komando
Acara penting ini turut dihadiri oleh jajaran komando, dewan penasihat, serta tamu undangan penting yang tercatat dalam struktur strategis Resimen Mahasiswa Radin Intan Lampung.
Selain itu, barisan struktur komando operasional dan staf ahli juga tampak memadati ruangan upacara, meliputi jajaran Wakil Komandan (Wadan 1 s.d Wadan 4), Perwira Staf Ahli, para Asisten Komando (Asisten 1 sampai Asisten 7), Kepala Polisi Menwa, Kepala Kesekretariatan, Komandan Detasemen Markas, Komandan Detasemen Siaga Operasi, hingga Kepala Pusat Penerangan.
Tidak hanya dari internal Menwa, acara ini juga dihadiri oleh para pimpinan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingkungan Universitas Malahayati. Sinergi antara korps Menwa dengan para ketua lembaga kemahasiswaan kampus ini diharapkan dapat mempererat kolaborasi dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan, bela negara, serta kondusivitas aktivitas akademik di dalam kampus.
Dengan resminya pelantikan ini, Resimen Mahasiswa Radin Intan Lampung siap melangkah ke era baru, memperkuat peran pengabdian masyarakat, serta mencetak kader-kader intelektual yang memiliki kedisiplinan dan jiwa patriotisme tinggi.
Editor : Chandra Fz
Pak Djarwo, Bagaimana Saya Bisa Lupa?
Oleh Udo Z Karzi
DI negeri ini, orang sering lupa. Lupa janji saat kampanye. Lupa utang setelah gajian. Lupa sejarah setelah jadi pejabat. Dan yang paling sering: lupa kepada guru setelah merasa pintar.
Karena itu, ketika membaca tulisan Juwendra Asdiansyah tentang Prof. Dr. Sudjarwo berjudul “Prof Sudjarwo: Yang Siap Dilupakan, Yang Mengukir Keabadian” (Wartalampung.id, 20 Mei 2026), saya justru berpikir: bagaimana mungkin saya bisa lupa kepada Pak Djarwo?
Lupa itu perlu syarat. Pertama, orang yang mau dilupakan memang tidak meninggalkan jejak. Kedua, kita memang tak pernah benar-benar bersentuhan dengannya. Ketiga, kita malas mengenang.
Nah, masalahnya, Pak Djarwo itu meninggalkan jejak di kepala saya. Dan jejak itu bukan sekadar tanda tangan di lembar absensi kuliah.
Ia adalah dosen saya di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung. Mengajar Metode Penelitian Sosial (MPS) dan sosiologi perdesaan. Dua mata kuliah yang sebenarnya bisa sangat mengerikan bila diajarkan dengan wajah birokratis, suara datar, dan diktat lusuh hasil fotokopi generasi ketujuh.
Tapi, Pak Djarwo beda.
Ia mengajar seperti orang yang percaya bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan teori untuk ujian semester, melainkan alat memahami manusia. Dan manusia itu makhluk yang rumit, absurd, lucu, kadang tolol, tapi menarik diteliti.
Saya masih ingat salah satu hal yang paling membekas dari mata kuliah MPS: pendekatan sejarah dalam penelitian sosial. Dari situ saya makin menyukai sejarah apa saja. Sejarah politik, sejarah kebudayaan, sejarah sastra, bahkan sejarah orang putus cinta.
Sebab, sejarah membuat kita paham mengapa sesuatu terjadi. Dan, lebih penting lagi: mengapa sesuatu terus berulang.
Masalahnya memang begitu. Manusia ini makhluk keras kepala. Sudah berkali-kali sejarah menunjukkan akibat keserakahan, penyalahgunaan kuasa, kebodohan kolektif, tapi tetap saja diulang dengan penuh percaya diri. Mungkin karena manusia merasa dirinya generasi paling canggih. Padahal cuma generasi terbaru dari spesies yang sama-sama suka mengulangi kesalahan.
Itu pelajaran penting dari Pak Djarwo. Bukan sekadar teori sosiologi. Tapi cara memandang kehidupan.
Dan yang paling saya suka: beliau melarang mahasiswa mencatat saat kuliah.
Ini revolusioner.
Di kampus-kampus kita, mahasiswa biasanya sibuk mencatat sampai lupa mendengar. Tangan bergerak cepat, otak parkir. Dosen ngomong apa, tidak penting. Yang penting catatan penuh supaya bisa difotokopi sebelum ujian.
Pak Djarwo justru meminta kami mendengarkan. Menyimak. Mencerna. Setelah itu baru materi boleh difotokopi.
Kalau rajin mengumpulkan materi kuliah, jadilah diktat. Tapi Pak Djarwo tidak menjadi “diktat-or” yang menjadikan mahasiswa sebagai pasar fotokopian wajib. Ini penting dicatat. Sebab di republik pendidikan kita, kadang ada dosen yang lebih semangat menjual diktat daripada memperbarui isi kuliah.
Ada dosen yang tiap tahun mengajar teori lama dengan semangat purbakala, tetapi diktatnya berganti cover terus supaya mahasiswa tak bisa pinjam kakak tingkat.
Ekonomi kreatif memang luar biasa.
Beruntung kami punya Pak Djarwo.
Dan keberuntungan berikutnya: beliau bukan hanya dosen yang mengajar. Beliau menulis.
Nah, di sinilah masalah besar dunia akademik kita sebenarnya.
Banyak dosen bisa bicara panjang lebar di seminar, tetapi ketika menulis, kalimatnya seperti truk pengangkut batu gagal nanjak: berat, berisik, lalu mundur perlahan. Ada tulisan akademik yang setelah dibaca tiga paragraf membuat pembaca merasa bersalah telah lahir ke dunia. Padahal menulis itu mestinya menyampaikan pikiran, bukan menyembunyikannya.
Karena itu saya sepakat dengan Juwendra: dosen yang benar-benar bisa menulis dengan baik memang tidak banyak.
Pak Djarwo termasuk yang langka itu.
Ketika saya menjadi jabrik (penanggung jawab rubrik) halaman Opini di Lampung Post, sayalah yang kerap memuat tulisan-tulisannya.
Eh, redaktur Opini Lampost itu silih berganti. Seingat saya nama-nama redaktur Opini di Lampost di antaranya: Fajrun Najah Ahmad, Heri Wardoyo, Uten Sutendy, Heri Mulyadi, Rahmat Sudirman, Hesma Eryani, Budi Hutasuhut, Sudarmono, sampai SW Teofani. Sebuah zaman ketika koran masih dibaca sambil ngopi, bukan sambil rebahan sambil mengutuk algoritma media sosial.
Dan saya ingat para penulis yang rutin mengirim opini. Pak Djarwo, tentu saja. Juga Syarief Makhya, Nanang Trenggono, sampai Ari Darmastuti yang menulis meski jarang. Maaf, Bu Ari. Hehee…
Yang menarik dari tulisan-tulisan Pak Djarwo ialah nadanya. Tenang. Santun. Tidak menggebu-gebu seperti status Facebook orang baru menemukan teori konspirasi.
Sebagai sosiolog, ia tidak memaki-maki masyarakat. Ia mengajak pembaca merenung. Tidak menggurui, tetapi mempersilakan orang berpikir. Di tengah dunia yang makin berisik, tulisan model begitu justru terasa mewah.
Sekarang kita hidup di zaman semua orang ingin menjadi komentator tercepat. Semua ingin viral. Semua merasa harus marah tiap hari. Bahkan orang belum selesai membaca berita sudah siap menghina di kolom komentar.
Pak Djarwo justru mengingatkan bahwa kecendekiaan tidak harus gaduh. Bahwa pikiran jernih sering lahir dari suara yang tenang.
Ini kata Pak Djarwo yang dikutip Juwendra: “Jarang yang mau membaca (tulisan saya) karena banyak orang begitu membaca istilah filsafat langsung ambil posisi minggir sebelum berjalan.”
Kalimat ini lucu sekaligus menyedihkan. Kita memang bangsa yang cepat minder terhadap istilah-istilah intelektual. Baru membaca kata “epistemologi”, orang langsung merasa dikejar setan akademik. Padahal filsafat itu sebenarnya cuma usaha manusia memahami hidup secara lebih serius.
Masalahnya, kita sudah terlalu lama dididik untuk takut berpikir rumit. Kita lebih suka slogan daripada perenungan. Lebih suka kutipan pendek daripada membaca buku utuh. Lebih suka video 30 detik daripada esai 1.000 kata.
Dan ironisnya, di tengah budaya instan itu, masih ada orang seperti Pak Djarwo yang tekun menulis dengan kesabaran seorang guru.
Maka bagaimana saya bisa lupa?
Apalagi buku Ngilo karya beliau masih tertata rapi di Lepau Buku saya. Buku kumpulan opini yang terbit tahun 2014 itu bukan sekadar kumpulan tulisan koran. Ia semacam rekaman batin seorang intelektual yang mengamati masyarakat dengan mata teduh.
Saya kadang berpikir, mungkin memang nasib banyak guru besar yang baik adalah perlahan-lahan disisihkan oleh zaman yang lebih menghargai sensasi daripada kebijaksanaan.
Tapi ada yang tak dipahami zaman: tulisan yang baik punya umur panjang. Ia bisa melampaui tepuk tangan seminar. Melampaui jabatan. Melampaui baliho akademik. Dan dalam hal itu, Pak Djarwo mungkin benar-benar sedang mengukir keabadian.
Sedangkan kita? Kita cuma sedang sibuk scrolling.
Resimen Mahasiswa (Menwa) sukses mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional
BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Tiga mahasiswa Universitas Malahayati yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Mahasiswa (Menwa) sukses mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Mereka berhasil membawa pulang trofi Juara 1 dalam ajang kejuaraan menembak bergengsi Jakarta Tactical Shooting Championship (JTSC) 2026 yang berlangsung di Markas Yonif Mekanis 202/Tajimalela, Jakarta, pada 9–10 Mei 2026.
Ketiga mahasiswa berprestasi tersebut berasal dari program studi yang berbeda, yaitu:
Stepanus Dipta Duta H (Program Studi S1 Psikologi, NPM 22370013)
M. Fathur Rizky (Program Studi S1 Manajemen, NPM 22220181)
Muhammad Sabki (Program Studi S1 Akuntansi, NPM 23210248)
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata dari kedisiplinan, ketangguhan, dan ketekunan para anggota Menwa Universitas Malahayati dalam mengasah kemampuan taktis dan konsentrasi tinggi yang diperlukan dalam cabang olahraga menembak.
Saat dimintai keterangan, Muhammad Fathur Rizky sebagai komandan Menwamengungkapkan rasa bangga dan syukurnya yang mendalam atas pencapaian ini. “Bangga sekali rasanya bisa membawa nama baik Universitas Malahayati (UNMAL) serta Komando Resimen Mahasiswa (Skomen) di ajang nasional ini. Kemenangan ini kami dedikasikan untuk kampus tercinta,” ujarnya penuh semangat, merefleksikan semboyan Widya Castrena Dharma Siddha.
Senada dengan Stepanus, M. Fathur Rizky dan Muhammad Sabki juga menyampaikan rasa bangganya karena tidak hanya membawa harum nama almamater, tetapi juga mewakili Provinsi Lampung di tingkat pusat. Mereka berharap raihan prestasi ini dapat menjadi pemantik motivasi bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya di Universitas Malahayati untuk terus aktif mendulang prestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
”Kami berharap raihan prestasi ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemeringkatan kampus dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Provinsi Lampung. Semoga ke depan, UKM Menwa Universitas Malahayati bisa terus mencetak kader-kader yang berprestasi dan berkarakter unggul,” tutur Fathur Rizky yang diamini oleh Sabki.
Rektorat beserta seluruh civitas akademika Universitas Malahayati menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas dedikasi dan kerja keras ketiga ksatria Menwa ini. Pihak kampus berkomitmen untuk terus mendukung penuh setiap kegiatan kemahasiswaan yang berdampak positif dan mampu mengharumkan nama institusi di kancah nasional maupun internasional.
Editor : chandra fz
WORKSHOP “PENINGKATAN KUALITAS PENELITIAN MAHASISWA” SUKSES DIGELAR DI UNIVERSITAS MALAHAYATI
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Program Studi Farmasi Universitas Malahayati sukses menyelenggarakan workshop bertajuk “Tingkatkan Kualitas Penelitian Melalui Pengelolaan Referensi Karya Ilmiah dan Keterampilan Analisis Data Statistik” pada Rabu–Kamis, 20–21 Mei 2026 di Ruang Kuliah I.3 Universitas Malahayati.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas penelitian mahasiswa, khususnya mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Workshop diikuti oleh 196 mahasiswa Program Studi Farmasi tingkat akhir, dengan antusiasme tinggi selama dua hari pelaksanaan.
Ketua Panitia, apt. Annisa Primadiamanti, M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola referensi karya ilmiah serta melakukan pengolahan dan analisis data statistik penelitian secara tepat dan sistematis.
“Melalui workshop ini diharapkan mahasiswa dapat memahami pentingnya penggunaan referensi ilmiah yang benar, menghindari plagiarisme, serta mampu mengolah data penelitian dengan baik sehingga menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas,” ujarnya.
Workshop menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Dr. Mala Kurniati, S.Si., M.Biomed. dengan materi “Manajemen Referensi Karya Ilmiah” serta Nova Muhani, S.S.T., M.K.M. dengan materi “Pengolahan dan Analisa Data Kesehatan dan Farmasi”.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan referensi, teknik sitasi yang benar, hingga penggunaan aplikasi manajemen referensi dalam penulisan karya ilmiah. Sementara pada sesi kedua, peserta diberikan pelatihan pengolahan data statistik penelitian kesehatan dan farmasi menggunakan software statistik disertai praktik langsung.
Program Studi Farmasi Universitas Malahayati berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai upaya mendukung peningkatan mutu penelitian dan publikasi ilmiah mahasiswa di lingkungan Universitas Malahayati.
Editor : chandra fz
Rektor Unmal Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Prof. Dr. Elfahmi sebagai Rektor ITERA Periode 2026–2030
BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Rektor beserta seluruh Sivitas Akademika Universitas Malahayati Bandar Lampung menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas terpilihnya Prof. Dr. Elfahmi, S.Si., M.Si. sebagai Rektor Institut Teknologi Sumatera (ITERA) untuk periode masa jabatan 2026–2030.
Ucapan ini disampaikan sebagai bentuk apresiasi dan dukungan penuh terhadap kepemimpinan baru di lingkungan perguruan tinggi negeri kemitraan di Lampung tersebut. Rektor Universitas Malahayati, Dr. H. Muhammad Kadafi, SH., MH, berharap momentum ini dapat mempererat hubungan akademis dan kolaborasi antar-perguruan tinggi di wilayah Sumatera.
“Segenap keluarga besar Universitas Malahayati mengucapkan selamat atas amanah baru yang diemban oleh Prof. Dr. Elfahmi. Semoga di bawah kepemimpinan beliau, ITERA semakin maju, inovatif, dan terus berkontribusi nyata dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta pembangunan SDM unggul, khususnya di Sumatera dan Indonesia,” ungkap manajemen dalam keterangan resminya.
Sinergi antarkampus di Lampung, baik swasta maupun negeri, diharapkan terus berjalan beriringan demi memajukan mutu pendidikan tinggi nasional serta menjawab tantangan global di masa depan, selaras dengan semangat “Let’s Challenge The Future”.
Editor : Chandra fz
Peringati World Thalassemia Day, IACC Gelar Edukasi dan Skrining Thalassemia di kampus
Acara yang berlangsung dengan khidmat ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Kedokteran, Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes. Kehadiran dan dukungan jajaran pimpinan institusi serta organisasi profesi menegaskan pentingnya kolaborasi edukasi kesehatan di lingkungan akademis. Turut hadir dalam agenda ini Ketua IACC Cabang Lampung, Dr. dr. Hidayat, M.Kes, Sp.PK(K), serta Wakil Rektor III yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan, M. Ricko Gunawan, M.Kes.
Langkah preventif ini dinilai sangat krusial mengingat deteksi dini merupakan salah satu kunci utama dalam memutus mata rantai penurunan penyakit Thalassemia kepada generasi penerus.
Sesi Talkshow: Pentingnya Screening Dini Thalassemia
Sebagai inti dari kegiatan edukasi, acara ini menghadirkan sesi Talkshow interaktif yang mengupas tuntas materi mengenai Thalassemia, perbedaan antara pembawa sifat (carrier) dan penderita, serta pentingnya melakukan skrining pranikah (pre-marital screening).
Diskusi edukatif ini dipandu oleh dr. Lusita, Sp.PK selaku moderator, dengan menghadirkan panel pemateri yang ahli di bidangnya, yaitu:
dr. Muhammad Nur, M.Sc., Sp.PK
dr. Mulat Muliasih, Sp.PK
Dr. dr. Hidayat, M.Kes, Sp.PK(K)
dr. Aditya, M.Biomed
Melalui pemaparan para ahli tersebut, peserta ditekankan untuk tidak hanya memahami Thalassemia secara teori, tetapi juga berani mengambil langkah nyata untuk memeriksakan status kesehatan darah mereka sejak dini melalui fasilitas skrining gratis yang disediakan di lokasi.
Selain Talk Show pada kegiatan ini juga dilakukan Screening Thalassemia kepada para mahasiswa yang hadir.
Sinergi dan Kolaborasi Kesehatan
Kegiatan ini dapat terlaksana dengan sukses berkat kolaborasi erat antara IACC Cabang Lampung dengan sejumlah organisasi profesi, lembaga kesehatan, serta instansi pendidikan, di antaranya:
Ikatan Laboratorium Kesehatan Indonesia (ILKI)
Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI)
PT. Sarana Maju Megamedilab Sentosa,
PT. Enseval.,
PT. Sumber Mitra (Summit),
PT. Lambadefa dan Laboratorium Pramitra
Antusiasme peserta terlihat cukup tinggi sepanjang acara. Selain mendengarkan pemaparan materi yang berbobot dari para narasumber, para mahasiswa juga memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan konsultasi langsung serta mengikuti rangkaian proses skrining darah yang disediakan oleh tim medis di lokasi.
Melalui gerakan Goes to Campus ini, diharapkan kesadaran akan bahaya Thalassemia dapat terus meluas di kalangan generasi muda, sehingga angka kelahiran anak dengan Thalassemia Mayor di Indonesia dapat ditekan secara signifikan di masa depan.
Editor : Chandra Fz
Rapat Pimpinan Universitas Malahayati Bahas Baseline dan Target IKU Tahun 2026
Universitas Malahayati menggelar rapat pimpinan dalam rangka pembahasan baseline dan target Indikator Kinerja Utama (IKU) Tahun 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan rektorat, para dekan, kepala lembaga, serta kepala biro di lingkungan Universitas Malahayati.
Kegiatan rapat diawali dengan arahan dari Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermawan, M.Kes yang menekankan pentingnya penyusunan baseline dan target IKU sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu dan tata kelola perguruan tinggi yang berkelanjutan. Dalam arahannya, beliau menyampaikan bahwa pencapaian IKU harus menjadi komitmen bersama seluruh unit kerja guna mendukung daya saing institusi di tingkat nasional maupun internasional.
Rapat dipandu oleh Kepala Lembaga Penjamin Mutu Internal (LPMI) Universitas Malahayati, Dr. M. Arifki Zainaro, M.Kep. Dalam kegiatan tersebut, pembahasan difokuskan pada penyamaan persepsi terkait indikator capaian, evaluasi baseline tahun sebelumnya, serta strategi penetapan target IKU Universitas Malahayati tahun 2026 yang realistis dan terukur.
Penjelasan teknis mengenai mekanisme penyusunan dan pelaporan IKU disampaikan oleh Wakil LPMI, Prima Dian Furqoni, M.Kes. Beliau menjelaskan tahapan penginputan data, penyesuaian indikator pada masing-masing unit, hingga strategi monitoring dan evaluasi pencapaian target IKU secara berkala.
Melalui rapat pimpinan ini, diharapkan seluruh unit di lingkungan Universitas Malahayati dapat meningkatkan sinergi dan komitmen dalam mencapai target IKU tahun 2026 sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola universitas yang unggul dan berdaya saing.
Editor : Chandra Fz