Dialog Imajiner Semar dengan Wisrowo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Diceritakan oleh dalang Wayang Purwa syahdan pada era jaman Lokapala hiduplah seorang tokoh agama bernama Wisrowo. Beliau adalah pemuka agama yang sangat mumpuni, terutama dalam urusan olah batin untuk mencapai kesempurnaan hidup. Namun Wisrowo dikodratkan untuk melahirkan angkara murka di bumi ini dengan ditanamkan sedikit benih duniawi oleh Yang Maha Esa untuk menunjukkan kekuasaan atas mahlukNYA. Akibat keingkaran Wisrowo maka lahirlah Dasamuka, Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Wibisana. Bagaimana penyesalan yang sudah terlanjur dilakukan, semua itu diungkapkan kepada tokoh Semar berikut ini yang bersumber dari penelusuran digital jika diringkas akan terdeskripsi demikian:

Begawan Wisrowo: “wahai Kakang Semar, kau adalah pamomong dan pengasuh sejati. Kau selalu mendampingi mereka yang mencari kebenaran. Namun, mengapa dunia ini begitu rumit? Aku, yang telah mengabdikan hidupku untuk mesu budi meninggalkan urusan dunia, akhirnya tergoda oleh cinta. Keputusanku untuk menikahi Sukesi telah membawa kehancuran bagi Lokapala dan menciptakan keturunan yang memikul beban besar. Apakah ini jalan yang benar?”

Semar sedikit terkejut dengan ucapan Wisrowo dan beliau menjawab dengan serius: “Wahai Wisrowo, benar dan salah adalah dua sisi dari perjalanan hidup. Kau mengikuti suara hatimu, dan itu adalah bagian dari wujudmu sebagai manusia. Namun, setiap tindakan membawa akibat. Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai. Bukan salahmu jika dunia ini penuh dinamika. Yang penting, bagaimana kau bertanggung jawab atas apa yang telah kau mulai.”. Sergah Wisrowo, “Tapi Semar, Rahwana, anakku itu, telah menjadi ancaman besar bagi dunia. Itu adalah buah cintaku melalui Dewi Sukesi yang berarti melalui aku dia memiliki kehidupan di dunia ini. Apakah aku bertanggung jawab atas semua kejahatannya?”

Semar dengan sabar menjawab: “Wisrowo, kau telah memberikan hidup, tetapi kau tidak mengendalikan jalan hidupnya. Anak adalah amanah, tetapi mereka memiliki kehendak bebas. Tugas seorang ayah adalah menanamkan nilai-nilai kebenaran, tetapi apa yang mereka pilih adalah perjalanan mereka sendiri. Rahwana menjadi seperti itu karena nafsunya sendiri, bukan sepenuhnya karena warisanmu.”

Jawaban Semar itu membuat Wisrowo merasa makin tersudut dan berucap: “Lalu, apakah aku harus menebus kesalahanku? Apakah aku harus kembali ke dunia untuk meluruskan apa yang telah bengkok?”

Dengan tersenyum khas Semar menjawab: “Menebus bukan berarti menghapus apa yang sudah terjadi, tetapi menerima dengan lapang dada dan terus memberikan nasehat kebaikan. Hidup adalah lakon panjang, Wisrowo. Kau telah memberi wejangan kepada Wibisana anak bungsumu, dan itu adalah awal dari perubahan. Ingat, satu obor kecil bisa menerangi kegelapan besar. Tugasmu kini adalah menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa.”

Wisrowo semakin gelisah mendengar nasehat Semar dan beliau memotong ucapan Semar: “Semar, aku hanyalah manusia yang penuh keterbatasan. Kadang aku merasa terlalu berat untuk memahami kehendak Sang Pencipta. Mengapa Ia membiarkan kesalahan-kesalahan ini terjadi?”

Sekali lagi Semar memberikan pemahaman dengan caranya:”Wisrowo, kehendak-Nya adalah misteri. Tetapi satu hal yang pasti, setiap peristiwa adalah bagian dari takdir besar yang membawa keseimbangan. Bahkan Rahwana, meskipun penuh dengan angkara murka, memiliki peran penting dalam menjaga dunia tetap bergerak. Tanpa Rahwana, Rama kelak tidak akan menunjukkan kebenarannya. Tanpa gelap, cahaya tidak akan berarti. Terimalah itu sebagai bagian dari kehidupan.”

Mendengar siraman rohani itu Wisrowo menjadi paham dan beliau berucap: “Terima kasih, wahai Semar. Kata-katamu menyejukkan hati. Aku akan kembali ketempat peribadatanku dan menyerahkan semua kepada-Nya. Aku hanya berharap, suatu hari nanti, keturunanku akan membawa harmoni bagi dunia dan isinya.”

Semar kemudian menukas: “Wisrowo, setiap langkahmu adalah pelajaran bagi dunia. Jangan pernah berhenti percaya bahwa cinta, meski membawa konsekuensi, tetaplah kekuatan yang menggerakkan semesta. Lanjutkan jalanmu, dan biarkan Yang Maha Mengetahui yang menyempurnakan kisah hidupmu ini.”

Dialog filsafat ini menggambarkan refleksi mendalam tentang kehidupan, tanggung jawab, dan keabadian. Semar, sebagai simbol kebijaksanaan dan pemomong sejati, memberikan perspektif bahwa kehidupan penuh dengan pilihan yang membawa konsekuensi, tetapi semua itu memiliki makna dalam keseimbangan semesta. Seorang Guru Besar senior di salah satu perguruan tinggi pendidikan ternama dinegeri ini pernah berpesan bahwa kuncinya berserah diri kepada Tuhan sambil berusaha dengan sebaik-baiknya, bertakwa dan beramal sholeh didasari iman yang kokoh, itulah tugas manusia didunia ini. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

BEM Fakultas Hukum Universitas Malahayati Gelar FGD-II: Bangkitkan Jiwa Kritis Mahasiswa di Era Baru Kepemimpinan Lampung

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dalam rangka Dies Natalis Ke-9, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Malahayati (Unmal)  sukses menggelar Focus Group Discussion (FGD) Jilid II pada Sabtu, 30 November 2024.

Acara ini mengangkat tema “Harapan Kawula Muda dalam Menyambut Pemimpin Provinsi Lampung yang Baru” sebagai respons terhadap hasil pemilihan kepala daerah (Pilkada) Serentak 2024.

Gubernur BEM Fakultas Hukum, Aji Bagas Pratama, menekankan pentingnya membangkitkan semangat kritis mahasiswa yang kini dinilai mulai menurun.

Dalam pernyataannya, Aji menyebutkan, “Mahasiswa harus kembali menjadi kontrol kebijakan, bukan hanya menjadi penonton. FGD ini menjadi salah satu langkah konkrit untuk membangun ruang diskusi dan membangkitkan kepedulian terhadap isu-isu lokal dan nasional.”

Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, S.H., M.H., memberikan apresiasi tinggi kepada BEM atas terselenggaranya FGD-II ini.

Menurutnya, forum seperti ini sangat relevan untuk meningkatkan kualitas pemikiran mahasiswa, terutama dalam memahami dinamika sosial dan politik di Provinsi Lampung.

Ketua Pelaksana, Risky Ageng Hadi Prayoga, melaporkan bahwa FGD-II diikuti oleh 431 peserta, termasuk mahasiswa Fakultas Hukum dan tamu undangan dari berbagai kalangan.

Diskusi ini dimoderatori oleh Prasetio Agung Wibowo, mahasiswa aktif yang dikenal vokal terhadap isu-isu kedaerahan dan nasional.

Adapun lima narasumber terkemuka yang hadir dalam diskusi ini meliputi: Wahrul Fauzi Silalahi, S.H. (DPRD Lampung Fraksi Gerindra), Tubagus M. Nassarudin, S.H., M.H. (Akademisi Hukum Universitas Malahayati), Fuad Abdulgani, S.Sos., M.A. (Pengamat Politik), Kristina Tia Ayu, S.E., S.H. (SP Sebay Lampung), Dafid Novian Mastur, S.Sos. (PC-PMII Bandar Lampung).

Hasil Diskusi: Harapan Baru untuk Lampung, diskusi menghasilkan tiga poin penting: Evaluasi kinerja gubernur sebelumnya untuk melihat capaian dan kekurangannya, Peningkatan partisipasi politik generasi muda, khususnya dalam menekan angka golput yang tinggi, Penyampaian aspirasi kawula muda kepada pemimpin baru Lampung agar lebih responsif terhadap isu-isu pemuda.

Dalam penutupan acara, Aji Bagas Pratama (22610014) menyampaikan harapannya agar mahasiswa terus menjaga semangat kritis, terutama dalam mendukung perubahan positif di Provinsi Lampung.

“FGD ini adalah awal dari gerakan intelektual mahasiswa yang lebih besar di masa depan,” ujar dia.

Ia menambahkan, acara ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malahayati berkomitmen dalam memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Pendaftaran Wisuda Periode 38 Sudah Dibuka!

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Halo Sahabat Unmal Buat kamu para pejuang wisuda, Pendaftaran Wisuda Ke 38 Periode Genap SUDAH DIBUKA…

Pendaftaran : Scan QR Code diatas atau Melalui tautan : http://103.31.249.226:814/wisuda/

Dibuka mulai 11 Desember 2024 s.d 5 Januari 2025. (untuk jadwal prosesi akan diinfokan kembali). (gil)

Editor: Gilang Agusman

Wakil Rektor 1 Universitas Malahayati Bicara Soal Peran ChatGPT: Teknologi AI Membantu, Tapi Mahasiswa Harus Tetap Verifikasi Sumbernya

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Perkembangan teknologi, khususnya dalam bidang Artificial Intelligence (AI), seperti ChatGPT, kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sebagai Wakil Rektor 1 Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes. memberikan tanggapan terkait penggunaan ChatGPT oleh pelajar dan mahasiswa, serta dampaknya terhadap dunia pendidikan.

“Teknologi memang tidak bisa dibendung, dan kita semua harus siap beradaptasi dengan perkembangan ini. ChatGPT, sebagai salah satu bentuk kecerdasan buatan, memiliki banyak sisi positif yang memudahkan pekerjaan, mempercepat proses pencarian informasi, bahkan memberikan hasil yang lebih baik dalam waktu yang lebih singkat,” ungkap Prof. Dessy.

Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, Prof. Dessy juga mengingatkan akan sisi negatif yang perlu diwaspadai, terutama bagi para mahasiswa. “Meskipun ChatGPT bisa memberikan jawaban dengan cepat, bahaya muncul jika mahasiswa hanya mengandalkan alat ini tanpa memahami konteksnya secara mendalam”.

Kecerdasan buatan tidak bisa menjamin keakuratan informasi yang diberikan. “AI hanya merangkum data besar yang telah ada, dan bisa saja informasi yang disajikan tidak sepenuhnya benar,” tegasnya.

Dampak Negatif: Potensi Menurunnya Kemampuan Akademik

Prof. Dessy juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai dampak jangka panjang penggunaan ChatGPT yang berlebihan. “Dengan adanya alat seperti ChatGPT, mahasiswa mungkin merasa lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, namun ini berisiko membuat mereka menjadi malas untuk membaca buku, jurnal, atau datang ke perpustakaan untuk menggali pengetahuan lebih dalam,” katanya.

Namun, ia tidak sepenuhnya menilai negatif penggunaan teknologi ini. “Sisi positifnya, jika digunakan dengan bijak, ChatGPT justru dapat memotivasi mahasiswa untuk menggali lebih dalam. Mereka bisa mencari sumber referensi yang lebih lengkap, seperti buku atau jurnal, untuk memverifikasi informasi yang diberikan oleh ChatGPT,” jelas Prof. Dessy.

Penggunaan ChatGPT yang Bijak: Kunci Utama

Prof. Dessy menegaskan bahwa penggunaan ChatGPT memang diperbolehkan, namun mahasiswa harus tetap berhati-hati. “Saya sarankan mahasiswa untuk tidak sepenuhnya mengandalkan ChatGPT. Selalu pastikan untuk memeriksa kembali informasi yang diberikan dengan merujuk pada sumber asli, seperti buku teks, jurnal, atau artikel yang terverifikasi,” pesannya.

Selain itu, Prof. Dessy juga mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap konteks informasi yang diberikan oleh ChatGPT. “Mahasiswa harus membaca dan memahami isi jawaban yang diberikan. Jangan hanya menerima informasi secara mentah tanpa pemahaman yang mendalam. Jika tidak, pengetahuan yang didapatkan bisa jadi tidak utuh atau bahkan menyesatkan,” tambahnya.

Pesan untuk Mahasiswa Universitas Malahayati

Sebagai penutup, Prof. Dessy memberikan pesan khusus kepada mahasiswa Universitas Malahayati. “Silakan gunakan ChatGPT sebagai alat untuk mengikuti perkembangan digital yang tak bisa kita hindari. Namun, tetap jadikan sumber referensi asli sebagai landasan untuk memverifikasi kebenaran informasi. Yang tak kalah penting, ingat bahwa pekerjaan yang melibatkan emosi atau nilai-nilai perasaan tetap harus dilakukan sendiri. Mesin tidak memiliki perasaan manusia, dan itu adalah aspek yang tak bisa digantikan oleh teknologi,” tutupnya.

Dengan menggunakan teknologi secara bijak, mahasiswa dapat memperoleh manfaat maksimal dari ChatGPT tanpa kehilangan esensi dari proses belajar yang mendalam dan kritis. Ini adalah peluang untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, sambil tetap menjaga kualitas pendidikan yang berbasis pada pengetahuan yang valid dan terpercaya.(gil)

Editor: Gilang Agusman

Ketentuan Pengisian KRS dan Jadwal Input KRS Semester Genap 2024/2025 Universitas Malahayati

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Halo Salam Sahabat Unmal..Berikut ini kami lampirkan Ketentuan Pengisian KRS (Kartu Rencana Studi) Semester Genap 2024/2025. Pengisian KRS Online WAJIB dilakukan oleh seluruh Mahasiswa Universitas Malahayati.

Untuk  Jadwal Input KRS dapat dilihat dibawah ini. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Pendukuhan Klampesireng

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Sore menjelang senja, Semar duduk diberanda depan rumah bersama istri tercinta Dewi Loro Ireng sambil menikmati kopi panas ditemani pisang goreng kesukaannya yang semua itu dibuat sendiri oleh istrinya. Mereka berdua sedang “ngudoroso” mengenai masa depan dari Pedukuhan Klampesireng tempat mereka tinggal dari zaman Koloyogo sampai Kaliyugo sekarang ini.

Pedukuhan ini sudah sangat berkembang luas dan berpenduduknya sangat banyak, bahkan sudah terkategori padat; kalau ada kenaikan status daerah maka wilayah ini sudah selayaknya naik status menjadi Kadipaten. Namun dasar Semar memang tidak mau neko-neko, beliau cukup dengan apa yang ada saja.
Pembicaraan “jagongan” sore itu berkisar seiring perjalanan waktu Semar berkeinginan memberikan tinggalan kepada anak-anaknya berupa perdikan, dengan cara membagi Pedukuhan ini menjadi empat; seperti dituturkan oleh Semar kepada istrinya “Adinda Loro Ireng berhubung kita sudah sangat tua, maka saya berkeinginan memberikan tetenger atau penanda kepada anak-anak kita Gareng, Petruk, Bagong berupa perdikan, dengan cara membagi pedukuhan ini menjadi empat. Pertama, untuk kita berdua, kemudian mereka mendapat masing-masing seperempatnya, bagaimana menurut pendapatmu”.

Dewi Loro Ireng tidak langsung menjawab, beliau berfikir keras ada apa sebenarnya dibenak Ki Lurah Semar suaminya ini, sampai ingin membagi harta satu-satunya yang mereka miliki, akhirnya beliau berkata dengan takzim “Mohon maaf beribu maaf Ki Lurah sesembahanku setelah Tuhanku, sebelum menjawab izinkan saya bertanya, ada pemikiran apa gerangan Ki Lurah kok berkeinginan membagi waris yang hanya satu-satunya ini, sementara kita berdua masih hidup segar bugar walaupun sudah tidak muda lagi. Lagipula ketiga anak-anak itu sebenarnya yang asli anak kita ya Bagong karena dia tercipta dari bayang-bayangmu, sementara Gareng dan Petruk adalah anak angkat walaupun sudah melebihi anak kandung kita. Selain itu mereka sudah berkeluarga semua bahkan sudah punya cucu, punya penghasilan cukup, apa justru nanti tidak akan memberatkan mereka”.

Semar menghela nafas panjang sambil menarik kursinya lebih dekat kepada istri yang sangat dicintainya itu, dan beliau berkata dengan lembut; “Istriku, ketahuilah bahwa zaman ini semakin tua, dan pikiran manusia semakin gila; saya tidak ingin meninggalkan perkara kepada keturunanku hanya karena harta, sementara harta itu titipan, yang nanti akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Sang Maha Tunggal, dari cara memperoleh, mengelola dan kepada siapa harta itu kita tautkan. Harta itu ibarat pakaian yang dipinjamkan kepada kita; ada yang satu jam sudah diminta kembali oleh yang punya, ada yang satu tahun, seratus tahun, bahkan ada yang seribu tahun. Namun, manakala tiba waktunya yang punya memintanya untuk kembali; tidak ada satupun yang mampu menghalangi. Pada waktu diminta kembali itulah kita harus mempertanggung jawabkan selama ada pada kita, berarti makin lama kita dipinjamkan, peluangnya makin banyak diminta pertangungjawabannya.
Oleh sebab itu manakala nanti pada zamannya ada anak lupa orang tuanya , orang tua lupa akan anaknya hanya karena masalah harta. Ya untuk generasi Gareng, Petruk, Bagong tidak ada persoalan, tetapi nanti cucu-cucu mereka atau buyut, canggah, udeg-udeg kita; saya membaca ada tanda-tanda tidak baik itu. Oleh karena itulah Istriku aku ingin kita bersama saat pulang ke alam keabadian nanti berdua, dapat bergandeng tangan menuju surga tanpa harus diribeti atau dibebani oleh masalah dunia dan isinya”.

Mendengar itu Loro Ireng yang sejatinya Dewi dari Kayangan itu, diam-diam bangga akan ketulusan dan kebersihan hati suaminya yang memang sejatinya sebagai Dewa Ismaya ngejawantah. Namun kalau tidak rewel bukan wanita namanya. Oleh karena itu, sambil ngelendot ke pundak suaminya beliau berkata “Bagaimana Kakang kalau bagian kita agak lebih besar dan ambil paling depan tepi jalan raya supaya kita tidak repot kalau pesan grab atau pesan mie rebus kesukaanmu”.

Semar tanggap sasmita akan kemanjaan Istrinya yang sudah bersamanya puluhan tahun itu dalam susah dan senang, beliau menjawab “Nanti dulu istriku, apa sudah kau pikirkan masak-masak permintaanmu itu? Sebab, jika halaman rumah terlalu luas, lalu siapa yang akan menyapu setiap hari, membersihkan rumputnya setiap bulan, menyiram tanaman saat kemarau. Dan, jika rumah letaknya di tepi jalan raya, suara bising kendaraan, polusi debu, keamanan lalu lintas, semua itu menjadi pertimbanganku mengapa aku mengambil paling belakang. Sebab kita hanya memerlukan kamar satu untuk berdua supaya kau tetap dimataku, dan kita hanya perlu satu ruang tamu untuk menyambut cucu dan canggah. Terakhir kita hanya perlu dapur kering untuk sekedar aku memasakkan makanan untukmu agar kita tetap bisa bersama sepanjang masa. Toh, nanti kita berdua hanya memerlukan lubang galian tanah panjang tiga meter lebar dua meter dan dalam dua setengah meter. Itupun apakah yang akan menguburkan kita mau memasukkan jenazah kita berdua dalam satu lubang. Semua sudah kupikir masak-masak istriku demi keberlangsungan dan kenyamanan kita berdua”.

Kalau tidak ngeyel bukan wanita, istrinya berkata lagi “Bagaimana kalau di tengah saja Kiyai, agar para keturunan kita selalu ada di mata kita, lagi pula di belakang itu sepi, saya takut”.

Semar tersenyum mendengar ucapan istrinya sambil mencium pipi istrinya, beliau menjawab dengan suara agak dinaikkan volumenya “Istriku, kamu nanti gak betah melihat kelakuan Bagong yang selalu membuat masalah dengan keluarga saudara-saudaranya. Apa kamu tidak ingat Petruk pernah kehilangan telur ayam satu petarangan, ternyata yang mengambil Bagong. Akhirnya yang memberi uang ganti rugi dirimu, lagi-lagi uang makan kita jadi berkurang, ujungnya malah kita berdua yang harus puasa”.

Diam-diam istrinya tersenyum ingat akan kelakuan anak-anaknya. Dia ingat bagaimana Bagong mengambil secara diam-diam akte tanah mereka yang diagunkan ke bank untuk meminjam uang. Begitu tidak mampu mencicil, Bagong sembunyi di kolong tempat tidur mereka sambil menangis minta tolong pada mereka berdua. Ya itulah anak-anak, sekalipun sudah punya anak tetap saja anak-anak dimata orang tua. Dari zaman Ramayana sampai Pendawa, anak-anaknya itu tidak berubah ya seperti itu; namun bektinya kepada orang tua anak-anak itu luar biasa.

Lamunan Loro Ireng buyar saat Semar memegang pundaknya sambil berkata “Sudahlah Nyai, jangan melamun, serahkan semua pada Yang Maha Kuasa, kita hanya sekedar titah yang melakoni kodrat yang telah ditulis, yang penting ikhlas dan sabar, tidak usah neko-neko dihari senja kita. Mari kita masuk karena sebentar lagi panggilan Yang Maha Tunggal untuk menghadap beliau akan berkumandang. Heningkan pikiranmu dan kita berdoa supaya diberi waktu untuk melihat matahari esok dalam keadaan sehat dan iman kepadaNya.” Salam Waras. (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Rayakan Pencapaian Tiga Tahun, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati Gelar Dies Natalis Ke-3 dengan Meriah

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Malahayati menggelar perayaan Dies Natalis yang ke-3 di Pelataran Rektorat Universitas Malahayati. Sabtu (7/12/2024).

Acara yang berlangsung meriah ini dibuka oleh Wakil Rektor 1, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., dan dihadiri juga oleh para dosen, kepala program studi (Ka.Prodi), serta mahasiswa FIK.

Perayaan Dies Natalis ke-3 ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan dan pencapaian yang telah diraih oleh FIK Universitas Malahayati sejak berdirinya. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk mempererat hubungan antara civitas akademika serta sebagai wadah untuk berbagi semangat kebersamaan dalam memajukan ilmu kesehatan.

Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., dalam sambutannya mengungkapkan rasa bangga dan apresiasinya atas perkembangan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati. “Hari ini, kita merayakan pencapaian luar biasa yang telah diraih oleh FIK, semoga dengan bertambahnya usia fakultas ini, kita dapat terus menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berkontribusi positif bagi dunia kesehatan di Indonesia,” ujar Prof. Dessy.

Prof.Dessy menegaskan dengan adanya 2 Program Studi yang saat ini terakreditasi “UNGGUL” hal ini menjadi harapan besar terhadap prodi-prodi lainnya agar bisa mencapai kriteria tersebut

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati, Dr. Lolita Sary, SKM., M.Kes., turut memberikan sambutan yang penuh semangat. Dalam pidatonya, Dr. Lolita mengungkapkan, “Dies Natalis ke-3 ini merupakan sebuah langkah penting bagi kami untuk terus berkomitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di bidang kesehatan.

“Kami bangga dengan pencapaian yang telah diraih, namun kami juga sadar bahwa masih banyak tantangan yang harus kami hadapi,” ujarnya.

Dr. Lolita menambahkan melalui perayaan ini, kami berharap dapat semakin memperkuat kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan berbagai pihak untuk terus memajukan ilmu kesehatan.

Selain rangkaian acara pembukaan, Dies Natalis FIK Universitas Malahayati juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, seperti seminar kesehatan, lomba-lomba akademik, dan hiburan yang melibatkan mahasiswa. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ajang untuk mengasah kreativitas dan memperkuat semangat kebersamaan di kalangan sivitas akademika FIK.

Kehadiran para dosen dan mahasiswa dalam acara ini menunjukkan antusiasme yang tinggi, serta semangat untuk terus berkontribusi dalam bidang ilmu kesehatan. Harapan ke depan, FIK Universitas Malahayati dapat terus berkembang dan menjadi institusi pendidikan yang unggul dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang berkualitas. (gil)

Editor: Gilang Agusman

KATALOG BUKU BELAJAR MENGENAL MATERIAL TEKNIK

 

JUDUL BUKU : BELAJAR MENGENAL MATERIAL TEKNIK

PENULIS :

Fauzi Ibrahim, S.T., M.T.
Agus Apriyanto, S.T., M.T.
Novia Utami Putri, S.T., M.T.
Adam Wisnu Murti, S.T., M.T.

SINOPIS : Buku ini disusun sebagai panduan dan referensi
yang diharapkan dapat memberikan pemahaman komprehensif
mengenai ilmu material, yang menjadi fondasi utama dalam bidang
teknik dan industri. Pembahasan dalam buku ini mencakup berbagai
aspek penting dari ilmu material, mulai dari struktur atomik, sifat
mekanik, hingga transformasi fasa

PENERBIT: UNIVERSITAS MALAHAYATI

Katalog buku Buku ajar Kesehatan Mental Berorientasi Komunitas

Judul buku : Buku ajar Kesehatan Mental Berorientasi Komunitas

Penulis:

Prida Harkina, S.Psi., M.Psi

Octa Reni Setiawati, S.Psi., M.Psi.

Asri Mutiara Putri, S.Psi., M.Psi

Supriyati, S.Psi., M.Si

Vira Sandayanti, S.Psi., M.Psi

Dewi Lutfianawati, S.Psi., M.Psi

Elsy Junilia, S.Psi., M.Psi

Sinopsis:
Buku ajar ini disusun untuk memberikan pemahaman yang
mendalam mengenai konsep-konsep kesehatan mental, termasuk
di dalamnya konsep sehat dan sakit, konsep-konsep dasar
kesehatan mental, dimensi-dimensi yang mempengaruhi
perkembangan kesehatan mental seseorang, konsep kesehatan
mental dalam pendekatan komunitas, isu-isu kesehatan mental
komunitas, serta program promosi kesehatan mental. Materi
yang disajikan dalam buku ini disusun secara sistematis dan
dilengkapi dengan contoh-contoh kasus yang relevan. Selain itu,
buku ini juga dilengkapi dengan berbagai aktivitas pembelajaran
seperti latihan soal, diskusi kelompok, dan tugas individu.
Diharapkan dengan adanya buku ajar ini, mahasiswa dapat secara
aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan memperoleh

 

Penerbit: Universitas Malahayati

Bondan Akampuh Jiwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Akhir pekan itu cuaca agak mendung tetapi udara terasa gerah, angin seolah tidak bertiup; sehingga merasa tidak nyaman jika ada pada tempat terbuka. Terpaksa jika sudah seperti ini harus masuk rumah dan menghidupkan pendingin ruangan, yang tentu saja menambah pemborosan penggunaan enargi listrik. Disaat sedang duduk melepas kegerahan udara, media sosial berbunyi dan ternyata ada pesan masuk dari sahabat lama, entah mendapatkan nomor pribadi dari mana. Doktor yang bermukim di tengah jantung pulau Sumatera ini bertanya dengan terlebih dahulu dibuka dengan permohonan maaf karena selama ini tidak mencari tahu; pertanyaan utama beliau ingin mendapatkan pencerahan tentang Bondan Akampuh Jiwo yang pernah didiskusikan beberapa puluh tahun lalu saat sama-sama menjadi mahasiswa pasca di salah satu Universitas ternama di negeri ini. Sekedar pengingat Doktor ini meneliti tentang kepemimpinan, dan saat itu penulis menawarkan konsep Kepemimpinan Nusantara bukan tidak percaya dengan teori-teori Barat, akan tetapi kekhasan Nusantara sangat mewarnai tipe kepemimpinan para pemimpin di negeri ini. Jejak yang digunakan adalah wilayah yang telah memiliki budaya tulis diasumsikan memiliki tinggalan literasi tentang tipe pemimpin di wilayah itu. Jadi paling tidak ada empat wilayah yang ada di Nusantara, pertama daerah yang berbudaya Batak, kedua, daerah yang berbudaya Lampung. Ketiga, daerah yang berbudaya Jawa, dan yang keempat daerah yang berbudaya Bugis. Beliau tidak begitu tertarik, namun seiring perjalanan waktu dan saat sekarang sudah mencapai derajat Guru Besar, hatinya tergelitik untuk menukil istilah-istilah dalam kepemimpinan Nusantara, karena banyak “keanehan-keanehan” jika parameternya yang dipakai teori teori Barat.

Tentu saja kalimat ucap yang dipindahtuliskan menjadi kalimat tulis harus disusun sesuai kaidah kebahasaan, demikian pesan seorang sahabat redaktur media online terkemuka di negeri ini. Berdasarkan penelusuran digital: Bondan Akampuh Jiwo adalah salah satu istilah dalam khasanah budaya Jawa yang melibatkan konsep kejiwaan, moralitas, dan integritas diri seseorang. Secara harfiah, istilah ini mengandung makna bahwa seseorang bernama “Bondan” adalah individu yang telah mencapai keadaan jiwa yang “akampuh,” yakni tidak tergoyahkan, stabil, dan kokoh dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Secara historis dan filosofis, istilah ini sering dihubungkan dengan ajaran Jawa kuno yang menekankan harmoni, keutuhan batin, dan kemampuan mengelola emosi serta tindakan.

Dalam budaya Jawa, nama Bondan sering diidentikkan dengan tokoh-tokoh legendaris atau pewayangan yang memiliki sifat bijaksana, penuh tanggung jawab, dan menjadi pengayom. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Bondan Kejawan, seorang penggiat seni yang berupaya keras untuk melestarikan budaya jawa, yang hidup dengan prinsip kesederhanaan, ketulusan, dan pengabdian terhadap kehidupan.

Sedangkan jika kita ingin memahami dari segi makna istilah dari Akampuh Jiwo adalah: Akampuh berarti tidak dapat dipatahkan atau tidak tergoyahkan. Jiwo berarti jiwa atau kepribadian inti seseorang. Istilah ini mencerminkan prinsip bahwa manusia yang unggul adalah manusia yang berhasil menyelaraskan pikiran, rasa, dan tindakannya sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh godaan duniawi atau tekanan eksternal. Seseorang yang hidup sesuai konsep Bondan Akampuh Jiwo adalah individu yang: Tidak mudah dipengaruhi oleh emosi negatif seperti amarah, iri hati, atau kebencian. Memiliki sikap sabar dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Berkomitmen pada nilai-nilai moralitas yang tinggi, meskipun dalam keadaan sulit.

Konsep ini tidak hanya relevan dalam konteks tradisional, tetapi juga menjadi panduan untuk menghadapi tantangan hidup modern, di mana tekanan eksternal sering kali menguji kestabilan mental dan spiritual seseorang. Dari saat pemilihan sampai pelantikan kepala daerah harus berhadapan dengan persoalan, dari yang remehtemeh sampai dengan yang berat; semua harus dihadapi dengan katangguhan yang luar biasa, baik dalam mengkoordinasikan team, sampai dengan kesiapan personal menghadapi kelelahan fisik.

Bukan setelah dilantik kemudian seenaknya menghina orang lain karena melihat jenis pekerjaan, bukannya melihat hakekat orang bekerja. Mereka yang berperilaku seperti ini hanya mampu melihat kulit luar tetapi tidak dapat melihat makna hakekat. Lebih berbahaya lagi jika berjubah agama, namun berperilaku nista kepada sesama.

Di sisi lain pemimpin yang sudah sampai pada tataran Bondan Akampuh Jiwo tidak lagi melihat “dulu dia tidak memilih saya, atau dulu memusuhi saya”; akan tetapi “dia warga saya yang harus saya bawa bersama untuk mencapai kesejahteraan bersama”. Tidak peduli dia Tukang Penjual Es, Somai, Kacang rebus, Tukang Sapu Jalan atau kongklomerat tajir, Jenderal sekalipun; jika dia warga negara saya, maka saya harus bersama mereka dalam rangka mencapai tujuan bersama.

Dengan demikian sebenarnya ajaran budi, ajaran kepemimpinan ada berserak di bumi Nusantara ini. Hanya sayang banyak diantara kita lupa diri, sehingga menganggap yang baik itu yang dari luar. Sementara kearifan local yang sudah terbukti berabad-abad keampuhannya menjadi alat perekat dalam perbedaan, sering kita abaikan bahkan kita musuhi sebagai “berhala baru” yang wajib disingkirkan. Salam Waras (gil)

Editor: Gilang Agusman