Lapar Lahan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Saat berkendaraan di jalan bebas hambatan Sumatera menuju arah Sumatera Selatan, untuk beberapa saat terserang rasa kantuk luar biasa, terpaksa mencari areal istirahat guna menyegarkan kembali tubuh. Ternyata kantuk yang luarbiasa menyerang itu disebabkan oleh makan pagi yang melebihi kebiasaan. Dan, jadi ingat ungkapan lama kalau kenyang ngantuk. Pertanyaan tersisa apakah kengantukan ini memang disebabkan oleh kenyang, jika ya, pantas saja mereka mereka yang kekenyangan itu berkecenderungan kehilangan daya kritis. Akhirnya jadi tertarik ingin menulis tema ini menjadi judul seperti di atas.

Berdasarkan penelusuran perpustakaan digital ditemukan informasi bahwa ungkapan “lapar ngamuk, kenyang ngantuk” lazim terdengar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Ungkapan ini sederhana, namun menyimpan paradoks eksistensial yang dalam. Ia menyiratkan betapa rentannya manusia terhadap dorongan biologis: lapar memicu amarah, dan kenyang menimbulkan kantuk. Tetapi, apakah manusia hanyalah makhluk reaktif terhadap kondisi fisik.
Dalam terang filsafat manusia, ungkapan ini membuka ruang refleksi tentang pertarungan etis yang senantiasa berlangsung dalam diri manusia: antara dorongan naluriah dan tuntutan kesadaran moral. Tulisan ini mencoba memahami bagaimana lapar dan kenyang, sebagai dua kondisi dasar biologis manusia, dapat menjadi arena pertempuran nilai, akal, dan spiritualitas.

Lapar adalah sinyal alami tubuh yang menunjukkan kebutuhan akan energi. Namun dalam laku keseharian, lapar kerap menjadi pemicu emosional. Orang bisa mudah tersinggung, marah, bahkan berbuat kasar saat lapar. Dalam pemikiran Aristoteles, manusia memiliki tiga jenis jiwa: vegetatif, sensitif, dan rasional. Lapar muncul pada tataran vegetative, bagian yang kita warisi dari hewan. Tetapi yang membuat manusia unik adalah kapasitasnya mengendalikan nafsu vegetatif dengan nalar. Ini sekaligus menjadi pembeda dari mahluk lain.

Ketika seseorang “ngamuk saat lapar”, ia sedang menunjukkan dominasi insting atas rasio. Jean-Paul Sartre menyebut bahwa manusia adalah makhluk beba s, tetapi kebebasan itu tak serta-merta aktual. Hanya ketika kita sadar dan memilih, kita menjadi manusia seutuhnya. Maka, kemarahan yang lahir dari rasa lapar bisa dilihat sebagai kegagalan dalam mengaktualkan kebebasan eksistensial, dan itu adalah sebuah kekalahan dalam pertarungan etis antara kesadaran dan naluri.

Namun, tidak semua kemarahan akibat lapar bersifat personal. Dalam kondisi sosial tertentu, lapar bisa jadi adalah produk ketidakadilan struktural. Filsuf kontemporer seperti Slavoj Žižek menegaskan bahwa reaksi emosional atas kelaparan dapat menjadi ekspresi politik, bukan semata instink. Maka, konteks menjadi penting: apakah “ngamuk” adalah gejala pribadi, atau jeritan sosial yang lahir dari penderitaan yang bersifat sistemik.

Sebaliknya, kenyang memberi efek menenangkan. Perut penuh membawa rasa puas, lalu tubuh menyerah pada rasa kantuk. Namun kenyang yang berujung malas bisa menjadi jebakan eksistensial. Dalam pandangan Plato, terlalu larut dalam kesenangan jasmani menjauhkan manusia dari dunia ide yang murni dan sempurna. Kantuk pasca makan bukan hanya bentuk istirahat, tetapi simbol kejatuhan kesadaran jika tidak dikendalikan.

Nietzsche lebih tegas lagi. Ia mengecam mentalitas nyaman yang membawa manusia pada stagnasi. Bagi Nietzsche, manusia unggul adalah mereka yang sanggup menaklukkan rasa nyaman, menolak ketenangan yang membuat lemah. Maka, kantuk setelah kenyang bisa dibaca sebagai bentuk menyerah pada kenikmatan yang membius, mengaburkan tujuan hidup yang lebih tinggi.

Sementara itu dalam perspektif spiritualitas Islam, Al-Ghazali membagi jiwa menjadi beberapa tingkatan. Nafsu makan dan kantuk berada di level nafs ammarah; atau jiwa yang condong pada keburukan. Tapi manusia tidak berhenti di sana. Ia memiliki ‘aql (akal) dan qalb (hati), yang dapat menahan nafs dan mengarahkan manusia menuju nafs mutma’innah atau jiwa yang tenang dan suci. Maka, kenyang dan kantuk bukan masalah perut semata, tapi medan tempur bagi kemurnian jiwa.

Esensi dari ungkapan “lapar ngamuk, kenyang ngantuk” adalah ketegangan antara dua kutub dalam diri manusia, yaitu antara kesadaran dan naluri. Pertarungan ini adalah inti dari keberadaan manusia sebagai makhluk moral. Di satu sisi, tubuh menuntut; di sisi lain, akal mengarahkan. Martin Heidegger, melalui konsep Dasein, menyatakan bahwa manusia bukan sekadar ada, tetapi menyadari keberadaannya. Dalam setiap kondisi biologis lapar atau kenyang, ada peluang untuk menguak makna eksistensial. Jika kita memilih ngamuk, itu adalah pilihan eksistensial; jika kita memilih sabar, itu pun pilihan yang menentukan siapa kita. Di titik inilah etika dan eksistensi bertemu.

Sedangkan Immanuel Kant, dengan prinsip imperatif kategorisnya, menekankan bahwa manusia harus bertindak berdasarkan prinsip yang bisa dijadikan hukum universal. Mengamuk karena lapar tidak bisa dijadikan prinsip etis, karena jika semua orang melakukannya, kekacauan akan terjadi. Maka, kendali diri bukan hanya kebaikan personal, tapi juga tanggung jawab sosial.

Berbeda dengan Maurice Merleau-Ponty yang menggunakan pendekatan fenomenologis bahwa tubuh bukan sekadar objek, melainkan subjek yang mengalami dunia. Lapar dan kenyang adalah pengalaman eksistensial yang membentuk kesadaran kita. Dalam rasa lapar, kita menyadari keterbatasan kita; dalam kenyang, kita diingatkan akan kecenderungan untuk larut dalam kenikmatan. Tubuh, dalam hal ini, bukan lawan akal, tapi cermin tempat akal bercermin.

Kesimpulan yang dapat kita ambil bahwa Lapar dan kenyang adalah takdir biologis manusia. Tetapi bagaimana manusia merespons keduanya adalah ruang kebebasan dan moralitas. “ngamuk” dan “ngantuk” bukan keharusan, tapi pilihan. Di sanalah pertarungan etis itu berlangsung, yaitu di antara bisikan tubuh dan panggilan jiwa.

Ungkapan “lapar ngamuk, kenyang ngantuk” seharusnya tidak dimaknai sebagai nasib, melainkan sebagai tantangan. Mampukah kita mengubahnya menjadi: “Lapar sabar, bukan ngamuk”, “Kenyang bersyukur, bukan lalai.” Dengan demikian, manusia tidak tunduk pada nalurinya, tapi mentransformasikannya menjadi jalan kebajikan. Karena pada akhirnya, menjadi manusia bukan soal kenyang atau lapar, tetapi bagaimana kita menyikapi keduanya dengan kebijaksanaan. Orang bijak pernah berpesan “berhentilah makan sebelum kenyang” sebagai pengingat dini pada kita agar tidak berlebihan dalam segala hal. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Sinergi Akademik Antar Perguruan Tinggi, Kunjungan Studi dan Kerja Sama Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati ke UPN Veteran Yogyakarta

YOGYAKARTA (malahayati.ac.id): Dalam semangat memperkuat kolaborasi antarperguruan tinggi serta meningkatkan mutu pendidikan tinggi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati melaksanakan kegiatan kunjungan studi dan kerja sama ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta pada Selasa, 15 Juli 2025.

Kegiatan ini berlangsung di kampus UPN yang terletak di Jl. Padjajaran (Lingkar Utara), Condongcatur, Sleman, Yogyakarta, dan diikuti oleh 216 mahasiswa Akuntansi angkatan 2023 Universitas Malahayati. Rombongan tiba dengan lima bus dan didampingi oleh enam dosen pembimbing: Muhammad Lutfi, S.E., M.Si selakuKetua Program Studi Akuntansi, Apip Alansori, S.E., M.Ak., CAPM, Hardini Ariningrum, S.E., M.Ak., CFRS, Eka Sariningsih, S.E., M.S.Ak, Kusnadi, S.E., M.Si, Iing Lukman, Ph.D

Sesampainya di kampus UPN, para mahasiswa disambut hangat oleh pihak tuan rumah dan diarahkan untuk mengikuti kuliah umum yang dibagi menjadi dua sesi kelas paralel. Materi pertama mengangkat tema “Data Analytic” yang disampaikan oleh Anindiyo Aji Susanto, S.E., M.Sc., S.Ak., membahas teknik pengolahan dan analisis data guna mendukung proses pengambilan keputusan dalam bidang akuntansi dan bisnis. Sesi ini menekankan pentingnya keterampilan analitik dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang berbasis data.

Sementara itu, sesi kedua menghadirkan Siti Rokhimah, S.Pd., M.Acc yang membawakan materi “Akuntansi Keuangan Daerah”. Materi ini memberikan pemahaman tentang standar pelaporan, mekanisme pengelolaan anggaran, serta tantangan dan praktik terbaik dalam pengelolaan keuangan pemerintahan daerah.

Selain kuliah umum, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang mempertemukan mahasiswa dari kedua universitas. Diskusi ini menjadi ajang bertukar pikiran, memperluas wawasan, dan mempererat hubungan antarmahasiswa sebagai bagian dari komunitas akademik yang lebih luas.

Di sisi lain, para dosen dari Universitas Malahayati mengadakan pertemuan tertutup dengan pihak Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN. Pertemuan resmi ini dibuka oleh Wakil Dekan Akademik UPN, Dr. Sri Hastuti, S.E., M.Si., Ak., CA serta Ketua Jurusan Akuntansi UPN, Dr. Kusharyati, S.E., M.Si., Ak., CA. Dalam diskusi hangat tersebut, kedua pihak sepakat untuk menjalin kerja sama strategis dalam berbagai bidang, antara lain; pengembangan dan penyelarasan kurikulum, kolaborasi penelitian ilmiah, program pertukaran mahasiswa dan dosen, kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis keilmuan akuntansi.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cinderamata sebagai bentuk apresiasi dan simbol terjalinnya kemitraan akademik yang kuat

Kegiatan ini dirancang dengan sejumlah tujuan strategis, di antaranya; Meningkatkan kompetensi akademik mahasiswa melalui materi yang aplikatif dan sesuai perkembangan dunia kerja, memperluas wawasan mahasiswa dalam bidang analitik data serta keuangan daerah yang kini menjadi fokus dalam pengelolaan tata kelola publik, menjalin kemitraan kelembagaan yang mendukung pengembangan pendidikan tinggi yang berkualitas dan responsif terhadap kebutuhan industri, mendorong kolaborasi riset dan publikasi ilmiah dosen sebagai bagian dari peningkatan mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi, memberikan ruang untuk pertukaran pengalaman akademik guna memperkuat profesionalisme tenaga pendidik, membuka peluang kolaboratif lintas institusi dalam rangka membentuk generasi akuntan yang adaptif dan berdaya saing global.

Melalui kegiatan ini, Universitas Malahayati menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya teoritis, tetapi juga kontekstual dan relevan dengan tantangan zaman. Diharapkan, sinergi yang terjalin antara Universitas Malahayati dan UPN Veteran Yogyakarta akan terus berkembang dan memberi kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan akuntansi di Indonesia. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa Teknik Industri Universitas Malahayati Raih Juara 3 dalam Bhayangkara Boxing Clash 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Carles Erlangga (24130014) mahasiswa Program Studi S1 Teknik Industri, berhasil meraih Juara 3 pada Kejuaraan Tinju “Bhayangkara Boxing Clash 2025” kategori 54 kg elite putra yang diselenggarakan oleh Polresta Bandar Lampung pada Jumat, 4 Juli 2025.

Kejuaraan ini digelar dalam rangka memeriahkan Hari Bhayangkara ke-79, dan menjadi ajang bergengsi yang mempertemukan para petinju tangguh dari berbagai daerah. Dengan semangat juang tinggi dan persiapan matang, Carles tampil impresif di atas ring, menghadirkan pertandingan yang memukau para penonton dan juri.

Meski belum meraih posisi puncak, keberhasilan Carles meraih podium ketiga merupakan pencapaian luar biasa yang patut dibanggakan. Dalam keterangannya, Carles menyampaikan rasa syukur dan semangatnya untuk terus berkembang:

“Saya merasa sangat beruntung bisa mengikuti kejuaraan nasional yang bergengsi seperti ini. Ini menjadi pengalaman luar biasa untuk saya bisa tampil lebih baik ke depannya. Karena bagi saya, lebih baik berdarah saat latihan daripada saat bertanding,” ujar Carles dengan penuh semangat.

Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Malahayati tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga aktif dalam mengasah potensi diri di dunia olahraga, khususnya olahraga keras dan penuh disiplin seperti tinju. Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan Carles menjadi inspirasi bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya untuk tidak ragu menantang diri dan berani keluar dari zona nyaman.

Pihak kampus menyampaikan apresiasi tinggi kepada Carles Erlangga atas perjuangan dan pencapaiannya. Diharapkan keberhasilan ini dapat menjadi pemicu semangat baru bagi mahasiswa Universitas Malahayati untuk terus berprestasi di berbagai bidang.

Selamat kepada Carles Erlangga! Terus kobarkan semangat juangmu, dan raih prestasi yang lebih tinggi di masa mendatang. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Universitas Malahayati Kembali Jadi Mitra Strategis BRIN dan BNN dalam Survei Gaya Hidup Masyarakat Indonesia 2025

BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menunjukkan kiprah aktifnya dalam mendukung program nasional. Kali ini, kampus hijau tersebut dipercaya menjadi Perguruan Tinggi Mitra Lokal dalam pelaksanaan Survei Gaya Hidup Masyarakat Indonesia Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN). Survey gaya hidup masyarakat Indonesia tahun 2025 untuk Provinsi Lampung dibuka oleh kepala BNN Provinsi Lampung, Brigjen Pol Norman Widjajadi, SIK. Kegiatan ini berlangsung di BallRoom Hotel Holiday Inn Bandar Lampung pada Selasa, 15-17 Juli 2025.

Hadir mewakili Universitas Malahayati, Wakil Rektor I, Prof. Dessy Hermawan, Ns., M.Kes, didampingi oleh sejumlah pimpinan universitas, antara lain Kepala dan Wakil Lembaga Penjaminan Mutu Internal (LPMI), Kepala Humas dan Protokol, serta Wakil Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).

Prof. Dessy menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang kembali diberikan oleh BRIN dan BNN kepada Universitas Malahayati. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari survei berskala nasional yang menyoroti gaya hidup masyarakat Indonesia tahun 2025, termasuk pola konsumsi dan kebiasaan sosial serta permasalahan yang mungkin muncul.

“Alhamdulillah, Universitas Malahayati kembali dipercaya menjadi mitra dalam kegiatan survei nasional ini. Ini adalah bentuk nyata kontribusi kami terhadap upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia,” ungkap Prof. Dessy.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa keterlibatan kampus dalam kegiatan ini tidak hanya mendukung program pemerintah, tetapi juga membuka ruang bagi sinergi antara dosen, mahasiswa, dan alumni untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan riset dan pengabdian kepada masyarakat (PkM).

“Saya libatkan banyak dosen, alumni, dan mahasiswa dalam kegiatan survei ini. Selain menambah wawasan dan pengalaman lapangan, ini juga menjadi bentuk penguatan atmosfer akademik yang kondusif dan kolaboratif,” tambahnya.

Survei Gaya Hidup Masyarakat Indonesia tahun 2025 ini bukanlah yang pertama kali bagi Universitas Malahayati. Sebelumnya, kampus ini telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan serupa pada tahun 2019, 2021, dan 2023. Konsistensi ini mencerminkan komitmen Universitas Malahayati untuk menjadi kampus berdampak dalam mendukung pembangunan nasional berbasis data dan riset ilmiah.

Kegiatan yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari peneliti BRIN, peneliti BNN, hingga para akademisi, diharapkan mampu menghasilkan potret yang komprehensif mengenai dinamika gaya hidup masyarakat Indonesia di tengah tantangan zaman.

Kerja sama ini juga menegaskan posisi Universitas Malahayati sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi yang adaptif, proaktif, dan siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam bidang riset, inovasi, dan pembangunan masyarakat. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Lapar Ngamuk, Kenyang Ngantuk (Refleksi Pertarungan Etis dari Sudut Pandang Filsafat Manusia)

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Saat berkendaraan di jalan bebas hambatan Sumatera menuju arah Sumatera Selatan, untuk beberapa saat terserang rasa kantuk luar biasa, terpaksa mencari areal istirahat guna menyegarkan kembali tubuh. Ternyata kantuk yang luarbiasa menyerang itu disebabkan oleh makan pagi yang melebihi kebiasaan. Dan, jadi ingat ungkapan lama kalau kenyang ngantuk. Pertanyaan tersisa apakah kengantukan ini memang disebabkan oleh kenyang, jika ya, pantas saja mereka mereka yang kekenyangan itu berkecenderungan kehilangan daya kritis. Akhirnya jadi tertarik ingin menulis tema ini menjadi judul seperti di atas.

Berdasarkan penelusuran perpustakaan digital ditemukan informasi bahwa ungkapan “lapar ngamuk, kenyang ngantuk” lazim terdengar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Ungkapan ini sederhana, namun menyimpan paradoks eksistensial yang dalam. Ia menyiratkan betapa rentannya manusia terhadap dorongan biologis: lapar memicu amarah, dan kenyang menimbulkan kantuk. Tetapi, apakah manusia hanyalah makhluk reaktif terhadap kondisi fisik.
Dalam terang filsafat manusia, ungkapan ini membuka ruang refleksi tentang pertarungan etis yang senantiasa berlangsung dalam diri manusia: antara dorongan naluriah dan tuntutan kesadaran moral. Tulisan ini mencoba memahami bagaimana lapar dan kenyang, sebagai dua kondisi dasar biologis manusia, dapat menjadi arena pertempuran nilai, akal, dan spiritualitas.

Lapar adalah sinyal alami tubuh yang menunjukkan kebutuhan akan energi. Namun dalam laku keseharian, lapar kerap menjadi pemicu emosional. Orang bisa mudah tersinggung, marah, bahkan berbuat kasar saat lapar. Dalam pemikiran Aristoteles, manusia memiliki tiga jenis jiwa: vegetatif, sensitif, dan rasional. Lapar muncul pada tataran vegetative, bagian yang kita warisi dari hewan. Tetapi yang membuat manusia unik adalah kapasitasnya mengendalikan nafsu vegetatif dengan nalar. Ini sekaligus menjadi pembeda dari mahluk lain.

Ketika seseorang “ngamuk saat lapar”, ia sedang menunjukkan dominasi insting atas rasio. Jean-Paul Sartre menyebut bahwa manusia adalah makhluk beba s, tetapi kebebasan itu tak serta-merta aktual. Hanya ketika kita sadar dan memilih, kita menjadi manusia seutuhnya. Maka, kemarahan yang lahir dari rasa lapar bisa dilihat sebagai kegagalan dalam mengaktualkan kebebasan eksistensial, dan itu adalah sebuah kekalahan dalam pertarungan etis antara kesadaran dan naluri.

Namun, tidak semua kemarahan akibat lapar bersifat personal. Dalam kondisi sosial tertentu, lapar bisa jadi adalah produk ketidakadilan struktural. Filsuf kontemporer seperti Slavoj Žižek menegaskan bahwa reaksi emosional atas kelaparan dapat menjadi ekspresi politik, bukan semata instink. Maka, konteks menjadi penting: apakah “ngamuk” adalah gejala pribadi, atau jeritan sosial yang lahir dari penderitaan yang bersifat sistemik.

Sebaliknya, kenyang memberi efek menenangkan. Perut penuh membawa rasa puas, lalu tubuh menyerah pada rasa kantuk. Namun kenyang yang berujung malas bisa menjadi jebakan eksistensial. Dalam pandangan Plato, terlalu larut dalam kesenangan jasmani menjauhkan manusia dari dunia ide yang murni dan sempurna. Kantuk pasca makan bukan hanya bentuk istirahat, tetapi simbol kejatuhan kesadaran jika tidak dikendalikan.

Nietzsche lebih tegas lagi. Ia mengecam mentalitas nyaman yang membawa manusia pada stagnasi. Bagi Nietzsche, manusia unggul adalah mereka yang sanggup menaklukkan rasa nyaman, menolak ketenangan yang membuat lemah. Maka, kantuk setelah kenyang bisa dibaca sebagai bentuk menyerah pada kenikmatan yang membius, mengaburkan tujuan hidup yang lebih tinggi.

Sementara itu dalam perspektif spiritualitas Islam, Al-Ghazali membagi jiwa menjadi beberapa tingkatan. Nafsu makan dan kantuk berada di level nafs ammarah; atau jiwa yang condong pada keburukan. Tapi manusia tidak berhenti di sana. Ia memiliki ‘aql (akal) dan qalb (hati), yang dapat menahan nafs dan mengarahkan manusia menuju nafs mutma’innah atau jiwa yang tenang dan suci. Maka, kenyang dan kantuk bukan masalah perut semata, tapi medan tempur bagi kemurnian jiwa.

Esensi dari ungkapan “lapar ngamuk, kenyang ngantuk” adalah ketegangan antara dua kutub dalam diri manusia, yaitu antara kesadaran dan naluri. Pertarungan ini adalah inti dari keberadaan manusia sebagai makhluk moral. Di satu sisi, tubuh menuntut; di sisi lain, akal mengarahkan. Martin Heidegger, melalui konsep Dasein, menyatakan bahwa manusia bukan sekadar ada, tetapi menyadari keberadaannya. Dalam setiap kondisi biologis lapar atau kenyang, ada peluang untuk menguak makna eksistensial. Jika kita memilih ngamuk, itu adalah pilihan eksistensial; jika kita memilih sabar, itu pun pilihan yang menentukan siapa kita. Di titik inilah etika dan eksistensi bertemu.

Sedangkan Immanuel Kant, dengan prinsip imperatif kategorisnya, menekankan bahwa manusia harus bertindak berdasarkan prinsip yang bisa dijadikan hukum universal. Mengamuk karena lapar tidak bisa dijadikan prinsip etis, karena jika semua orang melakukannya, kekacauan akan terjadi. Maka, kendali diri bukan hanya kebaikan personal, tapi juga tanggung jawab sosial.

Berbeda dengan Maurice Merleau-Ponty yang menggunakan pendekatan fenomenologis bahwa tubuh bukan sekadar objek, melainkan subjek yang mengalami dunia. Lapar dan kenyang adalah pengalaman eksistensial yang membentuk kesadaran kita. Dalam rasa lapar, kita menyadari keterbatasan kita; dalam kenyang, kita diingatkan akan kecenderungan untuk larut dalam kenikmatan. Tubuh, dalam hal ini, bukan lawan akal, tapi cermin tempat akal bercermin.

Kesimpulan yang dapat kita ambil bahwa Lapar dan kenyang adalah takdir biologis manusia. Tetapi bagaimana manusia merespons keduanya adalah ruang kebebasan dan moralitas. “ngamuk” dan “ngantuk” bukan keharusan, tapi pilihan. Di sanalah pertarungan etis itu berlangsung, yaitu di antara bisikan tubuh dan panggilan jiwa.

Ungkapan “lapar ngamuk, kenyang ngantuk” seharusnya tidak dimaknai sebagai nasib, melainkan sebagai tantangan. Mampukah kita mengubahnya menjadi: “Lapar sabar, bukan ngamuk”, “Kenyang bersyukur, bukan lalai.” Dengan demikian, manusia tidak tunduk pada nalurinya, tapi mentransformasikannya menjadi jalan kebajikan. Karena pada akhirnya, menjadi manusia bukan soal kenyang atau lapar, tetapi bagaimana kita menyikapi keduanya dengan kebijaksanaan. Orang bijak pernah berpesan “berhentilah makan sebelum kenyang” sebagai pengingat dini pada kita agar tidak berlebihan dalam segala hal. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Pakai Pisau Filsafat Membedah Kepemimpinan Apa Kata Ayah

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Era Generasi Alfa saat ini, kepemimpinan sudah banyak diemban oleh generasi milenial. Rerata usia mereka saat ini ada pada 30 sampai dengan 40 tahun. Mereka diwarisi oleh budaya tertentu, yang salah satu diantaranya secara nasional maupun daerah adalah: Apa kata Ayah, Bapak, atau Papa.

Oleh sebab itu, tidak jarang kita melihat campur tangan keluarga pada sistem yang dibangun oleh generasi yang melibatkan peran orangtua. Tentu saja, hal itu laku sejarah yang tidak dapat dihindari. Yang dapat dilakukan, meminimalisir atau menyeimbangkan agar tetap bisa berjalan sebagaimana alurnya.

Berdasarkan kajian literatur, baik digital maupun konvensional ditemukan informasi bahwa setiap pemimpin, tanpa terkecuali, memikul beban yang tidak selalu tampak oleh mata. Beban yang tak sekadar tanggung jawab struktural atau tugas administratif, melainkan sesuatu yang lebih halus, mendalam, dan eksistensial, yaitu bayang-bayang.

Dalam filsafat manusia, bayang-bayang dapat dimaknai sebagai manifestasi dari harapan, ketakutan, nilai yang diwariskan, atau trauma psikologis yang belum selesai, termasuk bayang-bayang yang berasal dari keluarga.

Dalam filsafat eksistensial, terutama dalam pemikiran Jean-Paul Sartre dan Martin Heidegger, manusia tidak hanya hidup di dunia, tetapi juga membangun makna melalui kesadarannya.

“Bayang-bayang” dalam konteks ini adalah representasi dari apa yang belum selesai dalam kehidupan manusia: kegagalan yang ditakuti, harapan yang belum tercapai, dan tanggung jawab yang belum dipenuhi.

Sartre menyebut manusia sebagai proyek yang belum selesai. Dia hidup dalam ketegangan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan yang membayang. Bagi seorang pemimpin, bayang-bayang ini muncul dalam bentuk tekanan untuk sukses, rasa bersalah terhadap keputusan yang salah, atau ekspektasi untuk menjadi “penyelamat”.

Heidegger memperkenalkan konsep inauthenticity, yaitu kehidupan yang tidak otentik ketika manusia menjalani hidup hanya berdasarkan “mereka” (das Man), yakni ekspektasi masyarakat. Oleh sebab itu, pemimpin yang terlalu dikendalikan oleh bayang-bayang ekspektasi eksternal sering kehilangan suara batinnya sendiri.

Salah satu bentuk bayang-bayang paling kuat yang memengaruhi kepemimpinan adalah warisan dari sang ayah atau keluarga. Dalam banyak kasus, terutama di lingkungan politik atau bisnis keluarga, pemimpin generasi kedua hidup di bawah bayangan besar orangtuanya.

Carl Jung menyebut sosok ayah sebagai archetype dari otoritas dan tatanan. Ayah adalah simbol dari struktur, kekuasaan, dan batas. Seorang anak yang kemudian menjadi pemimpin seringkali tidak hanya mewarisi harta atau posisi, tetapi juga beban ekspektasi, untuk mempertahankan, memperbesar, atau menyempurnakan apa yang telah dibangun ayahnya.

Jean-Paul Sartre mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk bebas, oleh karena itu ia harus memilih sendiri jalan hidupnya. Tetapi dalam realitas kepemimpinan keluarga, kebebasan itu sering terjerat oleh “perasaan harus melanjutkan” demi menghormati keluarga. Hal inilah yang menciptakan konflik eksistensial.

Solusinya bukan menolak warisan itu secara membabi buta, tetapi, seperti yang dijelaskan Paul Ricoeur, yaitu dengan menafsirkan ulang. Pemimpin perlu berdialog secara kritis terhadap bayangan tersebut: memelihara nilai-nilai luhur, tetapi juga berani melepas warisan yang sudah tak relevan dengan zaman.

Filsafat moral dari Immanuel Kant menyatakan bahwa manusia harus bertindak atas dasar prinsip yang bisa dijadikan hukum universal. Namun dalam praktik kepemimpinan, muncul dilema antara etika dan pragmatisme.

Bayang-bayang target ekonomi, tekanan politik, dan kepentingan kelompok bisa menggoda pemimpin untuk mengorbankan prinsip. Utilitarianisme modern, yang menekankan “kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar”, kadang jadi pembenaran untuk mengabaikan hak individu demi kepentingan kolektif.

Dalam tekanan ini, pemimpin yang tidak sadar akan bayang-bayang moral bisa mengambil langkah yang pada akhirnya mengikis integritas dirinya. Filsafat manusia menekankan pentingnya refleksi moral dalam setiap pengambilan keputusan. Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu berdiri tegak bahkan ketika pilihan etis lebih berat daripada pilihan pragmatis.

Filsafat manusia juga menuntun kita pada refleksi: pemimpin yang baik bukan yang paling mirip dengan pendahulunya, melainkan yang paling otentik terhadap dirinya sendiri. Ia bisa menghormati ayahnya, tanpa harus menjadi salinannya.
Bayang-bayang yang membayangi seorang pemimpin bisa menjadi beban yang menindih, atau bisa menjadi cermin reflektif yang membimbing.

Dari sang ayah, sejarah, teknologi, hingga harapan public, itu semuanya adalah bagian dari eksistensi manusia yang tak bisa dihindari. Namun dengan kesadaran filsafatik, seorang pemimpin mampu berdiri tegak, menatap bayangan-bayang itu, menafsirkannya, dan melangkah ke depan dengan keberanian dan integritas.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang menjadi “seperti orang lain”, melainkan menjadi manusia seutuhnya, yang sadar akan keterbatasan, tapi memilih bertindak secara bijak dan bertanggung jawab. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Bahasa yang Tak Berumah

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Setiap sudut dimanapun kita berada saat ini, tidak asing lagi dengan bunyi media genggam yang entah apa isi narasinya. Ada kekhasan di sana yaitu baru sebentar sudah berpindah atas nama scroll, dan terus berpindah; sehingga apa pesan yang disampaikan, apa maksud dari ucapan sudah tidak lagi perlu didengar, jika itu tidak memenuhi selera telinga. Seolah dunia semakin gaduh oleh bunyi, paradoksnya adalah: kata-kata semakin banyak diucapkan, namun semakin sedikit yang benar-benar didengar. Dalam percakapan harian, dalam media sosial, dalam pidato politik, dalam diskusi publik; bahasa tampaknya hadir di mana-mana, namun jarang berdiam di tempat yang seharusnya: yaitu di hati manusia. Inilah ironi zaman kini, seolah bahasa sudah kehilangan rumah. Bahasa, yang seharusnya tidak hanya dipahami sebagai alat komunikasi, tetapi seharusnya sebagai rumah bagi keberadaan diri. Manakala bahasa tidak lagi menemukan rumahnya, maka manusia pun kehilangan arah pulang ke dirinya.

Martin Heidegger, filsuf Jerman yang mendalamkan pemikiran tentang keberadaan (Being), menulis kalimat yang terkenal: “Bahasa adalah rumah dari Being. Dalam rumah itulah manusia berdiam.” Pernyataan ini menyiratkan bahwa bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan, melainkan wadah tempat eksistensi manusia menemukan bentuknya. Ketika kita berbicara, kita tidak hanya menyampaikan maksud. Kita membentuk dunia, menamai pengalaman, membangun hubungan, dan memberi struktur bagi kenyataan. Dalam arti ini, bahasa adalah rumah spiritual manusia. Ia menjadi tempat tinggal bagi pikiran dan perasaan. Maka, jika bahasa kehilangan makna atau tidak menemukan tempatnya dalam dialog manusia, sesungguhnya manusia kehilangan rumah eksistensialnya.

Namun demikian, sepertihalnya rumah yang bisa rusak karena kelalaian penghuninya, bahasa pun bisa rapuh karena disalahgunakan. Kita mengucapkan kata-kata kosong, membangun basa-basi tanpa makna, atau menyalahgunakan bahasa untuk manipulasi. Bahasa berubah menjadi alat untuk menyembunyikan, bukan menyatakan. Dari sinilah kehancuran dimulai. Kita simak dalam masyarakat kontemporer, terjadi inflasi kata. Kata-kata berserakan di mana-mana: di iklan, di kampanye politik, di media sosial. Namun, justru karena terlalu banyak diucapkan, bahasa kehilangan bobotnya. Kita menjadi terbiasa dengan eufemisme, hiperbola, dan kalimat-kalimat bombastis yang tidak mewakili kenyataan. Seperti uang yang dicetak tanpa nilai, bahasa yang tak memiliki akar akan kehilangan nilainya. Sebagai contoh kata “cinta.” Dalam budaya pop, kata ini diulang ribuan kali dalam lagu, puisi instan, atau percakapan ringan. Namun apakah kita benar-benar memahami atau menghidupi makna cinta. Kata itu menjadi seperti lukisan indah yang ditempel di dinding rumah kosong. Indah, tapi hampa.

Bahasa tak menemukan rumah bukan karena ia tidak digunakan, melainkan karena tidak dipahami. Ia mengembara tanpa makna, menyentuh telinga tapi tidak masuk ke hati. Dalam dunia digital yang serba cepat, kita lebih suka response daripada reflection. Bahasa berubah menjadi instrumen reaksi, bukan relasi.

Krisis bahasa mencerminkan krisis eksistensial manusia modern. Kita hidup dalam dunia yang terfragmentasi: identitas yang cair, relasi yang rapuh, dan orientasi hidup yang kabur. Dalam kondisi seperti ini, bahasa kehilangan jangkar. Kita berbicara, tetapi tidak benar-benar hadir. Kita mendengar, tapi tidak mendengarkan. Bahkan Jean-Paul Sartre menulis dalam konteks bahasa, ini tampak sebagai kejenuhan terhadap wacana kosong yang tidak membentuk realitas. Bahasa menjadi semacam ilusi yang menutupi kekosongan batin.

Kita menyapa karena norma, bukan karena peduli. Kita mengucapkan “terima kasih” atau “maaf” karena diajarkan, bukan karena merasa. Bahasa menjadi ritual sosial tanpa jiwa. Dalam kondisi seperti ini, bahasa tidak menemukan rumah karena rumah itu sendiri telah ditinggalkan penghuninya. Ironisnya, kadang-kadang bahasa tak menemukan rumah bahkan di rumahnya sendiri, yaitu di antara mereka yang menggunakannya. Kita merasa asing dalam keluarga, dalam pertemanan, bahkan dalam diri kita sendiri. Pernahkah Anda mencoba mengungkapkan perasaan terdalam hanya untuk disambut dengan tawa canggung atau diam yang tidak nyaman.

Bahasa emosional, seperti kesedihan, rasa kecewa, rasa syukur mendalam, sering kali tidak memiliki ruang dalam percakapan sehari-hari. Masyarakat kita mengagungkan efisiensi dan fungsionalitas, bukan kedalaman dan kerentanan. Akibatnya, kata-kata yang menyentuh eksistensi kita justru dianggap “berlebihan” atau “tidak penting”. Kita menjadi asing satu sama lain karena tidak bisa menemukan kosakata bersama untuk memahami pengalaman masing-masing. Setiap orang bicara, tapi tidak ada yang merasa didengar. Bahasa ada, tapi tidak berdiam. Inilah definisi paling nyata dari “bahasa yang tak menemukan rumah.”

Salah satu bahasa yang paling sering kehilangan rumah adalah bahasa cinta. Cinta dalam arti luas: kasih antar manusia, empati, perhatian, kelembutan. Bahasa cinta bukan hanya romantika, tetapi cara menyampaikan kebaikan secara otentik. Kenyataan sekarang dalam dunia yang serba transaksional seperti saat ini, bahasa cinta tersingkir oleh bahasa untung-rugi. Kita bertanya, “Apa manfaatnya” alih-alih “Apa artinya bagimu” Kita terbiasa bicara soal pencapaian, tapi gagap ketika diminta mengekspresikan kasih. Bahasa cinta menjadi barang langka bagai sebuah artefak yang kadang terasa janggal bila diucapkan di ruang publik. Padahal, justru bahasa cinta inilah yang paling dibutuhkan. Ia adalah rumah yang mampu menampung luka, kegelisahan, dan harapan manusia. Ia adalah bahasa yang menyembuhkan, bukan hanya menjelaskan. Sayangnya, banyak diantara kita lupa cara menggunakannya.

Dalam krisis bahasa verbal, kadang tubuh mengambil alih. Kita menangis saat tak bisa berkata-kata. Kita memeluk saat tak tahu harus berkata apa. Bahasa tubuh menjadi alternatif ketika kata-kata gagal. Namun saat ini bahasa tubuh pun sering disalahpahami, ditahan, atau diabaikan. Dalam budaya yang semakin digital dan virtual, tubuh sering dipinggirkan. Kita bicara melalui teks, emoji, dan rekaman suara. Keintiman digantikan oleh representasi. Kita lupa bahwa kehadiran fisik pun adalah bahasa, dan itu pun kini jarang menemukan tempat untuk tinggal. Ketika kata, suara, dan tubuh semuanya tidak bisa menyampaikan makna dengan utuh, manusia mengalami keterasingan yang menyeluruh. Inilah saat ketika bahasa benar-benar kehilangan rumahnya.

Filsafat memberi kita tugas untuk berpikir ulang, untuk merekonstruksi makna. Membangun kembali rumah bagi bahasa artinya: membangun kembali kejujuran, kedalaman, dan empati dalam berbicara. Kita perlu membiasakan diri dengan diam yang reflektif, bukan hanya jeda sebelum membalas. Diam yang mendengar sebelum menjawab. Diam yang menerima sebelum menilai.

Kecerdasan buatan bisa meniru bahasa, menulis puisi, bahkan meniru suara manusia. Akan tetapi, bisakah mesin memahami makna cinta? Bisakah ia merasakan luka yang tak bisa diucapkan? Bahasa manusia bukan hanya kombinasi kata, tapi juga kombinasi jiwa dan pengalaman. Oleh karena itu tantangan masa depan bukan hanya mempertahankan kemampuan berbicara, tetapi mempertahankan kemampuan merasa melalui kata-kata. Kita harus menjadikan bahasa sebagai alat untuk membangun, bukan merusak. Untuk merangkul, bukan memisahkan.

Rumah bahasa itu itu bisa kita bangun; bukan dari batu atau kayu, melainkan dari kejujuran, ketulusan, dan keberanian untuk hadir sepenuhnya dalam dialog. Setiap kali kita memilih kata yang otentik, mendengarkan dengan sungguh, dan menyampaikan tanpa topeng, dan di situlah bahasa menemukan rumahnya. Salam Waras (gil)

Editor: Gilang Agusman

Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati Kunjungi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai RI, Perkuat Wawasan Praktis Mahasiswa di Bidang Kepabeanan

JAKARTA TIMUR (malahayati.ac.id): Sebanyak 216 mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati angkatan 2023 melaksanakan kunjungan studi dan kuliah umum ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Republik Indonesia (DJBC) yang berlokasi di Jl. Jenderal Ahmad Yani (Bypass), Rawamangun, Jakarta Timur. Kegiatan edukatif ini berlangsung dengan penuh antusiasme dan menjadi momen penting dalam penguatan wawasan praktis mahasiswa mengenai sistem kepabeanan nasional. Senin (14/7/2025)

Rombongan mahasiswa yang didampingi oleh enam dosen pengampu; Muhammad Lutfi, S.E., M.Si selaku Ketua Program Studi Akuntansi, Apip Alansori, S.E., M.Ak., CAPM, Hardini Ariningrum, S.E., M.Ak., CFRS, Eka Sariningsih, S.E., M.S.Ak, Kusnadi, S.E., M.Si, dan Iing Lukman, Ph.D—tiba di kantor DJBC pada pagi hari dengan menggunakan lima unit bus. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Endang Puspawati, Kepala Seksi Penyuluhan Bea dan Cukai.

Dalam sambutannya, Endang menyampaikan pentingnya peran generasi muda, khususnya para calon akuntan, dalam memahami regulasi serta dinamika kerja Bea dan Cukai dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan negara. Ia juga menekankan bahwa pemahaman yang kuat terhadap fungsi institusi seperti DJBC sangat relevan dalam dunia kerja, khususnya di sektor publik dan pemerintahan.

Acara dilanjutkan dengan kuliah umum yang disampaikan oleh Hermoko Hadi Triwibowo selaku Pelaksana Pemeriksa DJBC. Dalam paparannya, Hermoko menjelaskan secara mendalam mengenai tugas pokok dan fungsi DJBC, termasuk proses pemeriksaan barang, strategi pengawasan lalu lintas barang di pelabuhan dan bandara, serta tantangan yang dihadapi dalam mengantisipasi penyelundupan dan perdagangan ilegal. Tak hanya itu, ia juga memaparkan bagaimana teknologi digital kini telah terintegrasi dalam sistem pelaporan dan pengawasan kepabeanan.

Mahasiswa terlihat sangat aktif dalam sesi diskusi, mengajukan berbagai pertanyaan kritis terkait proses audit internal di DJBC, standar akuntansi pemerintah, hingga sistem manajemen data yang digunakan dalam pelacakan barang. Interaksi ini mencerminkan semangat belajar yang tinggi serta kesiapan mahasiswa dalam memahami aplikasi nyata dari ilmu yang mereka pelajari di kampus.

Sebagai bentuk apresiasi dan kenang-kenangan, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama serta penyerahan cinderamata dari Universitas Malahayati kepada pihak DJBC. Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa sepanjang kegiatan, menjadikan kunjungan ini bukan hanya sarana belajar, tetapi juga jembatan sinergi antara dunia pendidikan dan instansi pemerintah.

Kegiatan ini memiliki sejumlah tujuan penting, di antaranya adalah meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai peran strategis DJBC dalam sistem ekonomi nasional, memberikan gambaran nyata penerapan ilmu akuntansi dalam konteks kepabeanan dan cukai, serta mempererat kerja sama kelembagaan antara Universitas Malahayati dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Tak kalah penting, melalui kunjungan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengasah keterampilan analitis dan kritis mereka melalui interaksi langsung dengan praktisi yang berpengalaman. Hal ini menjadi bagian dari upaya Program Studi Akuntansi dalam mempersiapkan lulusan yang adaptif, kompeten, dan siap berkarya di berbagai sektor, termasuk sektor publik dan pemerintahan.

“Kami berharap pengalaman ini bisa memperkaya pemahaman mahasiswa tidak hanya secara teoritis, tetapi juga dalam praktik nyata di lapangan,” ujar Muhammad Lutfi.

Dengan semangat belajar dan kemitraan yang terus diperkuat, Universitas Malahayati terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan berkualitas dan berdaya saing tinggi di kancah nasional. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Kewarasan yang Memudar (Ketika Manusia Lupa Bahwa Dirinya Manusia)

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Media sosial saat ini merajai dunia informasi dengan begitu masif. Di sana tidak ada filter, tidak ada larangan, tetapi ada algoritma terprogram dan mengendalikan pengguna. Oleh sebab itu dunia sekarang tampak semakin ramai, walaupun sebenarnya hampa.

Kita hidup di zaman yang ramai suara, tetapi sunyi makna. Setiap hari layar kita dijejali informasi, opini, argumen, saling ancam, dan perdebatan, bahkan caci maki. Semakin banyak yang dibicarakan, semakin sedikit yang benar-benar didengarkan. Masyarakat seakan tahu segalanya, tetapi tidak merasa apa-apa.

Inilah yang disebut oleh para pemikir sebagai krisis kewarasan. Bukan karena manusia menjadi gila dalam arti klinis, tetapi karena manusia kehilangan arah, kehilangan kejernihan berpikir, dan yang lebih dalam adalah “kehilangan daya untuk menjadi manusia seutuhnya”. Sehingga dengan mudah untuk berucap, walaupun ucapannya tidak layak didengar oleh telinga manusia. Setelah dilaporkan sebagai pelanggaran, dengan mudah menucapkan kata minta maaf, dan mengubah mimik muka untuk minta belas kasihan.

Di tengah atmosfer sosial yang penuh polarisasi seperti saat ini, banyak dari kita merasa letih secara diam-diam. Letih melihat absurditas yang menjadi normal. Letih melihat pejabat bicara soal pembangunan, tapi lupa mendengar keluhan rakyatnya. Letih menyaksikan narasi-narasi besar yang dipaksakan untuk menutup luka-luka kecil yang sesungguhnya sangat nyata, dan dalam serta menyakitkan.

Yang lebih menyedihkan: banyak orang sadar akan kegilaan ini, tetapi memilih diam. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena merasa tak berdaya. Padahal dalam filsafat manusia, sebagaimana diajarkan oleh tokoh-tokoh besar seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, hingga Descartes dan Sartre, manusia didefinisikan sebagai makhluk yang berpikir dan memilih. Manusia diberi kemampuan untuk bertanya, merenung, mempertimbangkan, dan yang paling penting adalah bertanggung jawab atas pilihannya.

Namun, apa jadinya jika kemampuan berpikir ini ditumpulkan oleh tekanan sosial, oleh manipulasi informasi/data, dan oleh kekuasaan yang antikritik. Tentu menjadikan manusia akan kehilangan otonominya sebagai subjek. Ia berubah menjadi objek yang sekadar mengikuti arus, menerima tanpa mencerna, percaya tanpa bertanya. Inilah yang disebut sebagai kewarasan yang mulai memudar.

Krisis kewarasan hari ini tidak datang secara tiba-tiba, dia muncul melalui tanda-tanda yang tampaknya sepele, tetapi sangat serius, seperti:

normalisasi ketidakadilan, ditandai dengan kita terbiasa melihat ketimpangan tanpa merasa terganggu.

Delegitimasi nalar, ditandai dengan suara yang rasional dianggap membosankan, sementara suara yang sensasional dirayakan.

Pemutusan hubungan antarrealitas, ditandai dengan kita lebih percaya meme daripada berita, lebih patuh pada opini influencer daripada ilmu pengetahuan.

Kemarahan kolektif yang tak terkendali, ditandai dengan kita mudah tersulut, tetapi sulit diajak berdiskusi jernih.

Oleh sebab itu, manusia tampak masih berpikir, tetapi tidak benar-benar merenung. Masih berbicara tetapi kehilangan makna. Masih bergerak tetapi kehilangan tujuan. Ketika masyarakat kehilangan kemampuan berpikir jernih, maka kebohongan mudah diterima sebagai kebenaran, dan kebenaran mudah dianggap sebagai gangguan.

Mungkin bangsa ini belum sepenuhnya hilang arah. Tetapi tampak jelas ada kelelahan kolektif. Kelelahan mendengar janji yang tidak ditepati. Kelelahan membaca berita yang menyakitkan. Kelelahan melihat ironi demi ironi.

Dalam filsafat eksistensialisme, kelelahan seperti ini bisa membawa manusia pada dua pilihan: menyerah dalam apatisme, atau bangkit dalam kesadaran baru. Pilihan ini sangat bergantung pada seberapa besar kemampuan kita untuk tetap menjadi manusia yang berpikir, merasa, dan peduli.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Jawabannya, tidak ada resep yang instan untuk mengembalikan kewarasan masyarakat, tetapi ada beberapa hal kecil yang dapat kita mulai dari diri sendiri, diantaranya:

Latih kepekaan terhadap kebenaran. Jangan buru-buru percaya atau membagikan informasi. Biasakan bertanya, menimbang, dan memverifikasi.

Jaga lingkungan berpikir yang sehat. Cari ruang-ruang diskusi yang jujur dan terbuka. Jauhi lingkungan yang hanya memperkuat prasangka dan kebencian. Kembalikan makna dalam tindakan sehari-hari.

Berbuat baik, meski kecil, adalah bentuk resistensi terhadap absurditas dunia.

Berani berpikir sendiri. Jangan serahkan kesadaran kita pada algoritma media sosial atau narasi politik. Dukung suara-suara yang jernih. Dalam masyarakat yang bising, mereka yang masih mau bicara dengan tenang adalah aset langka.

Di masa seperti ini, menjaga kewarasan bukan sekadar soal psikologi pribadi. Ia adalah bentuk tindakan pertahanan diri yang senyap, tapi mendalam. Di tengah narasi besar yang menenggelamkan suara hati, menjadi manusia yang jujur pada pikirannya sendiri adalah keberanian luar biasa. Kita mungkin tidak bisa langsung mengubah dunia, tetapi kita bisa menolak untuk ikut tenggelam dalam kegilaannya. Sebab, “Dalam setiap zaman, suara yang paling penting bukan yang paling keras, tetapi yang paling jernih.” Mari kita pelihara kejernihan itu, sebelum semuanya benar-benar hilang. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa Teknik Industri Universitas Malahayati, Mario Hafizh Permata, Raih Juara 1 Pencak Silat di POMPROV Lampung 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Kabar membanggakan datang dari Universitas Malahayati. Mario Hafizh Permata (24130031), mahasiswa Program Studi Teknik Industri, sukses mengharumkan nama kampus dengan meraih Juara 1 dalam cabang olahraga Pencak Silat kategori Seni Beregu Putra pada ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi (POMPROV) Lampung 2025 yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) ITERA pada 4–6 Juli 2025.

Kejuaraan bergengsi antar mahasiswa se-Provinsi Lampung ini menjadi panggung unjuk kemampuan terbaik bagi para atlet muda, termasuk Mario yang tampil memukau bersama timnya di kategori seni beregu. Dengan penuh semangat dan disiplin tinggi, mereka berhasil menyabet medali emas setelah melalui proses seleksi dan pertandingan yang ketat.

Dalam keterangannya, Mario mengungkapkan rasa syukur dan haru atas pencapaian tersebut.

“Sungguh penantian yang luar biasa. Bisa mengikuti kejuaraan bergengsi seperti ini adalah pengalaman yang tak ternilai. Syukur alhamdulillah kami bisa memenangkan kejuaraan ini dan lolos ke POMNAS 2025 di Solo, Jawa Tengah. Jangan pernah berhenti bermimpi, walaupun sesulit apa pun, tetap semangat,” ujar Mario penuh semangat.

Pencapaian Mario bukan hanya membanggakan diri pribadi dan tim, tetapi juga menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika Universitas Malahayati. Prestasi ini semakin memperkuat eksistensi kampus sebagai institusi yang mendukung pengembangan mahasiswa secara holistik, baik di bidang akademik maupun non-akademik.

Keberhasilan Mario juga memastikan langkahnya ke tingkat nasional, mewakili Provinsi Lampung pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2025 di Solo, Jawa Tengah. Ini merupakan kesempatan emas bagi Mario untuk kembali menunjukkan kemampuan terbaik dan membawa nama baik universitas di kancah nasional.

Selamat kepada Mario Hafizh Permata atas prestasi gemilangnya! Teruslah mengukir prestasi dan menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia! (gil)

Editor: Gilang Agusman