Kebaikan Jangan Ditanya, Jahatnyapun Jangan Dicoba (Dua Muka Dalam Satu Wajah)

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Ruang kerja yang sejuk itu kedatangan tamu dua orang dosen muda. Dua pria tampan ini tampak sumringah; karena mereka berdua ingin melanjutkan studi lanjutnya ke program doktor di salah satu universitas ternama di negeri ini, dan hasil tes sudah diumumkan, mereka berdua diterima dengan program yang berbeda. Mereka berdua meminta wejangan, terutama bagaimana menghadapi karakter beberapa guru besar yang ada di lembaga itu. Salah satu diantara mereka berdua mengatakan bahwa ada seorang guru besar yang pernah membimbingnya saat program strata dua beberapa waktu lalu, berkarakter jika sudah baik, maka beliau sangat baik sekali, bahkan melebihi rerata orang biasa; namun jangan ditanya kalau beliau sudah tidak suka, maka jahatnyapun minta ampun.

Diskusi menjadi hangat karena berbicara menyangkut karakter manusia; dan itu tidak etis untuk dibentang pada halaman ini. Namun, yang menarik penyataan mereka berdua yaitu: “kebaikannya jangan ditanya, jahatnyapun jangan dicoba” ini menarik untuk dijadikan bahan renungan.

Manusia adalah makhluk yang penuh dengan paradoks. Di satu sisi, manusia memiliki potensi untuk melakukan kebaikan yang luar biasa, seperti misalnya; menolong, mencintai, menginspirasi, bahkan berkorban demi orang lain. Namun, di sisi lain, manusia juga menyimpan sisi gelap, diantaranya; kemampuan untuk menyakiti, menghancurkan, dan mengkhianati.

Ungkapan “Kebaikannya jangan ditanya, jahatnya pun jangan dicoba” adalah gambaran sederhana tetapi mendalam tentang kompleksitas watak manusia. Ungkapan ini juga bukan hanya sekadar kata-kata peringatan, melainkan bentuk refleksi sosial yang menunjukkan betapa seseorang bisa menjadi sangat baik bila diperlakukan dengan hormat, namun bisa sangat berbahaya jika disakiti. Melalui uraian ini kita akan membedah makna dari ungkapan tersebut dari konsep filsafat manusia.

Pada konsep filsafat, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki kebebasan moral. Jean-Paul Sartre menyatakan bahwa manusia “dikondisikan untuk memilih”, dan dari pilihan-pilihan inilah karakter seseorang terbentuk. Ungkapan “Kebaikannya jangan ditanya” menyiratkan bahwa seseorang dapat menjadi sumber kebaikan yang tak terbatas ketika hidupnya selaras dengan nilai-nilai luhur. Ia bisa menjadi panutan, pelindung, dan sumber harapan bagi sesamanya. Namun, “Jahatnya pun jangan dicoba” menyiratkan bahwa sisi gelap manusia tak kalah kuat. Seperti yang dikemukakan oleh Friedrich Nietzsche dalam konsep “will to power”, setiap manusia memiliki dorongan kekuasaan yang, jika tidak dikendalikan, dapat berubah menjadi destruktif. Dalam konteks ini, kebaikan dan kejahatan bukanlah dua kutub yang terpisah, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama: potensi yang hidup dalam diri manusia.

Psikologi modern mengakui bahwa setiap individu menyimpan sisi terang dan gelap dalam kepribadiannya. Carl Gustav Jung memperkenalkan konsep “The Shadow”—bagian dari diri seseorang yang tersembunyi, sering kali berupa keinginan, dorongan, atau karakter yang tidak disetujui oleh norma sosial. Jung percaya bahwa mengabaikan sisi gelap ini justru dapat membuat seseorang lebih mudah dikuasai oleh aspek destruktifnya.

Seseorang yang dikenal penuh kasih dan kebaikan bisa berubah menjadi sosok yang penuh kemarahan dan dendam bila disakiti atau dikhianati. Ini bukan berarti bahwa orang tersebut munafik, melainkan karena ada batas toleransi dalam diri setiap manusia. Ketika rasa sakit, pengkhianatan, atau ketidakadilan melampaui batas tersebut, maka sisi gelap dapat muncul dan mengambil alih kesadaran.

Lingkungan sosial memiliki peran besar dalam membentuk perilaku manusia. Orang yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih sayang cenderung berkembang menjadi pribadi yang hangat dan suportif. Sebaliknya, lingkungan yang keras, penuh kekerasan, atau pengkhianatan bisa membuat seseorang berubah menjadi pribadi yang kasar dan penuh kecurigaan. “Kebaikannya jangan ditanya” bisa bermakna bahwa seseorang telah terbukti memberi banyak manfaat dan cinta kepada orang-orang di sekitarnya. Namun ketika orang tersebut terus-menerus diperlakukan buruk, diabaikan, atau bahkan disakiti, maka muncul peringatan: “jahatnya pun jangan dicoba”. Ini bukan hanya tentang balas dendam, tetapi lebih pada fakta bahwa setiap manusia memiliki titik jenuh emosional.

Pada budaya Indonesia, ungkapan seperti ini kerap muncul dalam bentuk peribahasa atau pepatah. Contohnya, “Air tenang jangan disangka tiada buaya,” atau “Diam-diam menghanyutkan.” Ini adalah bentuk kearifan lokal yang mengingatkan kita untuk tidak menyepelekan seseorang karena sikap lembut atau diamnya. “Kebaikannya jangan ditanya, jahatnya pun jangan dicoba” bisa dianggap sebagai versi modern dari kebijaksanaan lama yang mengingatkan kita untuk tidak menilai seseorang hanya dari permukaan. Dalam budaya Timur yang menjunjung tinggi kesopanan dan kerendahan hati, orang-orang baik sering kali memilih diam daripada membalas. Namun, diam bukan berarti tidak mampu.

Ungkapan ini masih sangat relevan dalam dinamika kehidupan modern, terutama dalam dunia kerja, pertemanan, dan hubungan sosial. Seseorang yang selalu membantu, murah senyum, dan tidak pernah marah sering kali dianggap sebagai “orang baik” yang bisa diperlakukan seenaknya. Banyak kasus di mana orang-orang baik justru menjadi korban karena dianggap tidak akan melawan. Namun, ketika mereka “meledak” karena terus-menerus disakiti, orang-orang di sekitarnya terkejut. Padahal, itu adalah reaksi wajar dari rasa lelah dan kekecewaan yang menumpuk. Maka, ungkapan ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak menyalahgunakan kebaikan orang lain.

Hormatilah batasan mereka, karena setiap orang memiliki titik rapuhnya sendiri. Maka dari itu, marilah kita saling menghargai, saling memahami, dan tidak mempermainkan emosi atau perasaan orang lain. Karena sekali saja kita membangunkan sisi gelap seseorang yang selama ini memilih untuk diam, mungkin kita akan menghadapi sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Workshop Penulisan Karya Tulis dan Brainstorming Skripsi, Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Malahayati Siapkan Dosen Menuju Bimbingan Berkualitas

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Malahayati menggelar Workshop Penulisan Karya Tulis dan Brainstorming Skripsi Mahasiswa bagi Dosen Program Studi Pendidikan Dokter pada Kamis, 19 Juni 2025. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, yakni secara luring di Ruang Rapat Lantai 5 Gedung Rektorat Universitas Malahayati serta daring melalui platform Zoom Meeting.

Workshop ini dihadiri oleh seluruh dosen di lingkungan Program Studi Pendidikan Dokter dan bertujuan untuk memperkuat kapasitas dosen dalam membimbing penulisan skripsi mahasiswa, mulai dari aspek teknis hingga substansi ilmiah.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi Pendidikan Dokter, Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes, yang dalam sambutannya menyampaikan pentingnya keselarasan antara dosen pembimbing dan pedoman akademik terbaru dalam proses penulisan karya tulis ilmiah mahasiswa.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang penyegaran materi akademik bagi para dosen, tetapi juga forum diskusi untuk menyamakan persepsi serta meningkatkan kualitas bimbingan skripsi di Program Studi Pendidikan Dokter,” ujar Dr. Tessa.

Sejumlah narasumber kompeten turut hadir menyampaikan materi penting dalam workshop ini, di antaranya:
• dr. Nita Sahara, M.Kes., Sp.PA, yang membahas Tata Aturan Pengambilan Skripsi, termasuk prosedur, syarat, dan mekanisme yang harus ditempuh mahasiswa saat memulai tahap skripsi.
• dr. Arti Febriyani H, M.Kes, yang menyampaikan materi mengenai Penulisan BAB Karya Tulis Ilmiah (Skripsi), dengan penekanan pada struktur penulisan yang sistematis dan sesuai dengan kaidah ilmiah.
• dr. Festy Lady, M.Kes, memberikan panduan teknis penulisan skripsi mulai dari format penulisan, penggunaan referensi, hingga penataan bahasa ilmiah yang baik.
• Dwi Marlina Syukri, S.Si., M.BSc., Ph.D, memaparkan pentingnya Uji Plagiasi dan Uji Etik dalam pembuatan jurnal yang bersumber dari karya tulis ilmiah mahasiswa. Ia juga memberikan penjelasan singkat mengenai penggunaan perangkat lunak Mendeley untuk manajemen referensi.
• Dr. Mala Kurniati, S.Si., M.Biomed, melanjutkan materi dengan pembahasan seputar Pembuatan Jurnal dari Karya Tulis Ilmiah serta teknis penulisan dan penyusunan referensi menggunakan Mendeley.
• Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes, turut memberikan materi mengenai Kebaharuan (Novelty) Penelitian, yang menjadi indikator penting dalam menentukan kontribusi ilmiah dari sebuah skripsi mahasiswa.

Workshop ini berlangsung dinamis dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang aktif antara pemateri dan para peserta. Antusiasme para dosen terlihat dari partisipasi aktif mereka dalam menggali materi, terutama dalam hal penyamaan format penilaian, manajemen referensi, serta etika publikasi karya ilmiah.

Kegiatan ini menjadi bentuk nyata komitmen Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Malahayati dalam meningkatkan mutu akademik, khususnya pada tahap akhir studi mahasiswa. Harapannya, dengan pemahaman yang selaras antara dosen pembimbing dan kebijakan akademik, mahasiswa dapat menyelesaikan skripsi secara tepat waktu dengan kualitas yang tinggi dan berintegritas. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Kolaborasi Riset dan Etika Profesi, D3 Anafarma Universitas Malahayati Gelar Kuliah Pakar Inspiratif

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi D3 Anafarma Universitas Malahayati kembali menunjukkan komitmennya dalam membekali mahasiswa dengan wawasan dan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja dan industri farmasi. Pada Rabu, 18 Juni 2025, Prodi D3 Anafarma menggelar Kuliah Pakar bertajuk “Peran dan Tantangan dalam Kolaborasi Penelitian antara Laboratorium Kesehatan dan Industri”, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati.

Acara ini diikuti oleh 86 mahasiswa dan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Khoidar Amirus, SKM., M.Kes. Dalam sambutannya, Khoidar menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini, yang dinilainya sebagai langkah progresif untuk menjembatani dunia akademik dengan dunia industri.

“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperluas perspektif mahasiswa. Dunia kerja menuntut kesiapan yang tidak hanya teknis, tapi juga kolaboratif dan etis,” ujar Khoidar.

Sementara itu, Ketua Program Studi D3 Anafarma, Agustina Retnaningsih, S.Si., Apt., M.Farm, mengungkapkan rasa bangganya atas antusiasme mahasiswa yang begitu tinggi dalam mengikuti kuliah pakar ini. Ia menekankan bahwa kolaborasi dan sinergi dengan dunia luar harus terus diperkuat demi menghasilkan lulusan yang siap kerja dan berdaya saing tinggi.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya cakap di laboratorium, tapi juga mampu beradaptasi, membangun jejaring, dan memiliki pemahaman holistik mengenai tantangan di dunia industri,” kata Agustina.

Kuliah pakar menghadirkan narasumber ahli dari berbagai latar belakang profesional: Wiria Saputri, M.Si dari UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung dan Herlina Wahyuni, STP., M.Si dari PT Indokom Samudra Persada, keduanya membahas tema utama kuliah pakar yakni “Peran dan Tantangan dalam Kolaborasi Penelitian antara Laboratorium Kesehatan dan Industri”. Keduanya menyoroti pentingnya membangun komunikasi efektif antara laboratorium dan pelaku industri demi terwujudnya inovasi produk yang aman, berkualitas, dan memenuhi standar kesehatan.

Sementara itu, Indarto, S.Si., M.Sc dari Halal Expert Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menambahkan wawasan penting tentang Legalitas Usaha dan Sertifikasi Halal Produk Farmasi dan Makanan. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap regulasi halal menjadi nilai tambah penting dalam industri farmasi dan makanan di Indonesia. Eris Ferdianto, S.Psi dari PT Sumber Indah Perkasa (Sinarmas Group) menutup sesi dengan materi tentang Etika Profesi dalam Dunia Kerja. Ia menekankan pentingnya integritas, disiplin, dan profesionalitas sebagai fondasi karier yang sukses di dunia kerja modern.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan bekal keilmuan bagi mahasiswa, tetapi juga membuka wawasan praktis tentang tantangan dan peluang nyata di dunia industri kesehatan. Prodi D3 Anafarma berharap kuliah pakar ini dapat menjadi awal dari kolaborasi-kolaborasi yang lebih luas antara kampus dan dunia profesional.

Dengan semangat kolaboratif dan visi ke depan, Universitas Malahayati terus berupaya menciptakan lulusan yang unggul, adaptif, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswi Universitas Malahayati Raih Juara 3 Seni Lukis di National Art Competition (NAC) 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Nala Salsabila Fitriana (23220348), mahasiswa Program Studi S1 Manajemen, sukses meraih Juara 3 dalam ajang bergengsi National Art Competition (NAC) Vol 2 Tahun 2025 untuk kategori Seni Lukis. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Lampung pada 15 Mei 2025 dan diikuti oleh peserta dari berbagai kampus di Indonesia.

Kemenangan ini menjadi sangat istimewa bagi Nala karena merupakan pengalaman pertamanya mengikuti NAC. “Menjadi juara 3 adalah sebuah kebanggaan bagi saya. Ini menjadi awal yang baik untuk mulai percaya diri dengan menunjukkan bakat yang saya punya,” ujar Nala penuh semangat.

Ia menambahkan bahwa mengikuti NAC memberikan pengalaman yang sangat menyenangkan sekaligus menjadi pelajaran berharga. “Saya belajar banyak dari ajang ini. Ke depan, saya ingin terus berkembang dan menjadi lebih baik,” tambahnya.

Keberhasilan Nala tidak hanya membanggakan dirinya secara pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk berani mengekspresikan diri dan menggali potensi di luar kegiatan akademik. Seni, sebagai bagian dari kreativitas, menjadi wadah penting dalam membentuk karakter mahasiswa yang inovatif dan percaya diri.

Universitas Malahayati melalui berbagai program pengembangan minat dan bakat senantiasa mendukung mahasiswanya untuk berprestasi di berbagai bidang. Capaian ini membuktikan bahwa mahasiswa Malahayati tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga mampu bersaing secara nasional dalam bidang seni dan budaya.

Selamat kepada Nala Salsabila Fitriana atas prestasinya. Terus berkarya dan menginspirasi! (gil)

Editor: Gilang Agusman

Universitas Malahayati Teken MoU dan MoA dengan BAWASLU Kota Bandar Lampung, Perkuat Sinergi Pendidikan dan Demokrasi

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring dan memperkuat sinergi kelembagaan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) bersama Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU) Kota Bandar Lampung. Kegiatan ini berlangsung di Kantor Bawaslu dan disambut hangat oleh jajaran pimpinan kedua lembaga. Rabu (18/6/2025).

Dari pihak Universitas Malahayati, kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Hukum, Aditia Arief Firmanto, SH., MH, Kepala Bagian Kerja Sama, Kepala Bagian Humas dan Protokol, Emil Tanhar, S.Kom, serta beberapa perwakilan dosen Fakultas Hukum. Sementara dari pihak BAWASLU Kota Bandar Lampung hadir Muhammad Muhyi, S.Sos.I, Oddy Marsa JP, SH., MH, Juwita, S.H., MM, dan Hasanuddin Alam, S.P., M.Si.

Dalam sambutannya, Muhammad Muhyi, S.Sos.I menyampaikan apresiasi dan antusiasme atas kerja sama yang dibangun bersama Universitas Malahayati.

“Kami menyambut baik kehadiran rekan-rekan dari Universitas Malahayati. Kerja sama ini bukan hanya mempererat hubungan kelembagaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kami untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi, integritas, dan pengawasan partisipatif kepada generasi muda, khususnya para mahasiswa,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, SH., MH, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman yang sebelumnya telah dijalin antara kedua pihak. Ia menekankan pentingnya implementasi nyata dari kerja sama ini, khususnya dalam memberikan ruang magang dan pembelajaran langsung bagi mahasiswa.

“Kerja sama ini adalah langkah konkret untuk mendekatkan mahasiswa dengan praktik hukum dan demokrasi di lapangan. Kami berharap mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malahayati dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk magang dan belajar langsung dari para profesional di BAWASLU. Ini menjadi bekal penting dalam pembentukan karakter dan pemahaman hukum secara komprehensif,” jelas Aditia.

Penandatanganan MoU dan MoA ini tidak hanya menjadi simbol kolaborasi, tetapi juga menjadi tonggak awal dari berbagai program bersama yang akan datang, termasuk penyuluhan hukum, riset kolaboratif, pelatihan kepemiluan, hingga pengembangan kapasitas mahasiswa dalam pengawasan partisipatif pemilu.

Universitas Malahayati melalui Fakultas Hukum terus berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan hukum yang adaptif, aplikatif, dan responsif terhadap perkembangan zaman. Sinergi dengan lembaga seperti BAWASLU menjadi salah satu bentuk penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat dan peningkatan mutu lulusan.

Kerja sama ini bukan hanya tentang MoU, tapi tentang membangun masa depan demokrasi Indonesia bersama generasi muda yang cerdas dan berintegritas. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Beradu Punggung

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Seorang mahasiswa pasca datang untuk berkonsultasi tugas akhirnya, karena kebetulan yang bersangkutan adalah kepala unit pelayanan kesehatan tertentu, setelah selesai persoalan ilmiah yang bersangkutan ingin meminta pendapat tentang suatu keadaan yang dijumpai ditempat bekerja. Persoalannya adalah adanya staf yang semula sangat akrab dan terbuka; begitu beliau ini sekolah, staf tadi menjauh bahkan dapat terkategori “beradu punggung” dengan dirinya. Diskusi menjadi menarik dan tidak layak untuk dipaparkan pada media ini, karena itu personal sekali; namun adagium beradu punggung tampaknya menarik jika dibahas dari konsep filsafat manusia.

Filsafat manusia; sebuah cabang pemikiran yang tidak hanya bertanya tentang apa itu manusia, tetapi juga bagaimana manusia berelasi, mengenal diri, dan memahami orang lain. Melalui pandangan filsuf-filsuf seperti Martin Buber, Jean-Paul Sartre, Emmanuel Levinas, dan Erich Fromm, kita akan mencoba mengurai makna dan akar dari sikap beradu punggung ini.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk relasional. Filsafat humanistik mengakui bahwa identitas manusia tidak terbentuk dalam ruang hampa, tetapi dalam interaksi dengan yang lain. Bahkan, dalam konteks perkembangan psikologis awal, manusia tidak bisa menjadi “diri” tanpa hadirnya “yang lain” sebagai cermin dan penegas eksistensinya. Namun, ketika manusia mulai memperlakukan sesamanya sebagai alat, objek, atau ancaman, maka relasi itu akan berubah menjadi beradu punggung, ini terjadi ketika seseorang berhenti melihat yang lain sebagai pribadi dan mulai memandangnya sebagai sumber masalah, beban, atau bahkan musuh. Punggung yang saling membelakangi adalah simbol dari relasi yang telah kehilangan keintiman, kepercayaan, dan kehadiran sejati.

Jean-Paul Sartre berbeda lagi. Beliau memberikan perspektif lain yang lebih gelap. Beliau berpendapat bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk bebas, tetapi kebebasan ini membawa beban besar: tanggung jawab, kecemasan, dan kesepian. Dalam relasi antar manusia, Sartre melihat potensi konflik karena kehadiran orang lain dapat membatasi kebebasan kita. Dalam pandangannya yang terkenal beliau mengatakan “neraka adalah orang lain”. Oleh sebab itu beliau berpendapat ketika dua manusia saling beradu punggung, bisa jadi itu adalah ekspresi dari konflik kebebasan ini. Masing-masing merasa terancam oleh eksistensi yang lain. Mereka tidak mampu menghadapi kejujuran relasi yang memerlukan keterbukaan. Maka, lebih mudah untuk berpaling dengan memilih tidak melihat, tidak berinteraksi, tidak terlibat.

Erich Fromm sebagai seorang psikoanalis dan filsuf humanis; berpandangan fenomena ini dari kebutuhan manusia akan cinta dan keterhubungan. Dalam bukunya “The Art of Loving”, Fromm menyatakan bahwa cinta bukan hanya perasaan, tetapi tindakan aktif yang memerlukan disiplin, perhatian, dan keberanian. Oleh sebab itu Fromm berpendapat bahwa, keterasingan adalah kondisi dasar manusia modern. Manusia yang tidak mampu mencintai akan merasa terisolasi dan tidak terhubung, bahkan ketika secara fisik ia dikelilingi oleh orang lain. Beradu punggung adalah gejala dari kegagalan mencintai, kegagalan untuk berkomunikasi secara empatik, gagal untuk memberi, memahami, dan menyambut kehadiran yang lain.

Satu perspektif yang sangat menyentuh dan memberi harapan datang dari filsuf Emmanuel Levinas. Ia berbicara tentang “wajah yang lain” sebagai panggilan etis yang tak bisa diabaikan. Menurut Levinas, wajah orang lain adalah kehadiran yang menuntut kita untuk bertanggung jawab, bukan sekadar memahami atau menilai. Dalam konteks beradu punggung, wajah yang lain itu telah hilang dari pandangan. Ketika seseorang berpaling dari yang lain, ia bukan hanya menghindari konflik, tetapi juga menghindari tanggung jawab. Ia menolak untuk melihat kemanusiaan yang ada di depan mata. Ia menolak untuk mengakui luka, harapan, dan kerentanan yang ditawarkan oleh yang lain.

Jika beradu punggung adalah simbol keterasingan, maka menoleh adalah simbol dari keberanian untuk kembali hadir. Proses ini tidak mudah; Ia memerlukan kerendahan hati, keberanian menghadapi luka, dan pengakuan bahwa kita telah berjarak terlalu lama. Namun, inilah jalan satu-satunya menuju keutuhan relasi. Dalam kehidupan nyata, konflik antar manusia sering tidak hitam putih. Tidak ada yang sepenuhnya benar atau salah. Tapi yang paling penting adalah siapa yang bersedia membuka ruang pertama. Dalam filsafat timur, tindakan pertama untuk berdamai memiliki nilai moral yang tinggi dan ini menandakan kedewasaan batin yang baik.

Beradu punggung bukan hanya tindakan pasif, tapi sebuah sikap eksistensial yang mencerminkan krisis makna dalam relasi antar manusia. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, kita perlu kembali pada filsafat-sebagai ruang refleksi-untuk menemukan kembali nilai-nilai relasional yang memanusiakan. Melalui pemikiran Buber, Sartre, Fromm, dan Levinas, kita diajak melihat bahwa manusia tidak akan pernah utuh tanpa yang lain. Bahwa keberadaan manusia sejati bukanlah dalam dominasi atau pelarian, tetapi dalam keterbukaan untuk hadir, mendengar, dan menatap. Orang bijak mengatakan “Manusia diciptakan untuk saling memandang, bukan saling membelakangi. Karena dalam mata yang lain, kita menemukan wajah kita sendiri.” Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa Universitas Malahayati Raih Juara Harapan 1 Baca Puisi di National Art Competition 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Muhammad Maulana Yusuf (23220305), mahasiswa Program Studi S1 Manajemen, sukses meraih Juara Harapan 1 dalam ajang Baca Puisi National Art Competition (NAC) 2025 yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Lampung pada 15 Mei 2025.

Kompetisi seni tingkat nasional ini menjadi panggung pertama bagi Maulana dalam dunia lomba baca puisi. Meski baru pertama kali mengikuti ajang seperti ini, Maulana berhasil mencuri perhatian dewan juri dengan penampilan yang penuh penghayatan dan sarat makna.

“Untuk kegiatan ini adalah hal pertama yang saya ikuti dan mendapatkan Juara Harapan 1 ini adalah sebuah kebanggaan bagi saya. Karena menjadi awal yang baik untuk terus maju menggapai tujuan yang kita mau,” ujar Maulana dengan semangat.

Ia juga mengungkapkan bahwa pengalaman ini bukan sekadar soal menang atau kalah, melainkan tentang proses kreatif dan keberanian mengekspresikan diri melalui puisi. “Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Kemenangan ini bagaikan sayap yang membawaku melayang di atas puncak imajinasi. Setiap lirik yang kubaca kini memiliki gema yang indah, berkat apresiasi semuanya,” lanjutnya.

Pencapaian Maulana mendapat apresiasi hangat dari sivitas akademika Universitas Malahayati. Dosen dan rekan-rekan sesama mahasiswa turut bangga atas prestasi yang diraih, yang tidak hanya mengharumkan nama pribadi tetapi juga membawa nama baik universitas di kancah nasional.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Malahayati tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga memiliki potensi besar di ranah seni dan budaya. Semoga keberhasilan ini menjadi langkah awal bagi Maulana untuk terus berkarya dan menginspirasi generasi muda lainnya.

Selamat dan sukses untuk Muhammad Maulana Yusuf! Teruslah terbang tinggi bersama bait-bait puisi yang menggema. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Negeri “Jegog” (Antara Lelah, Pasrah, dan Salah)

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Entah kenapa sore itu rasa kantuk menyerang begitu hebat. Menunggu datangnya waktu isya’-pun terasa begitu berat. Sepulang dari musala sebelah rumah, langsung ngglosor di kursi panjang rebahan. Di arasy setengah sadar, ada terasa yang membawa pergi bersama rombongan tour ke suatu tempat. Anehnya ketua rombongan dan supir pembawa kendaraan semua bermuka “jegog”. Saya pakai sebutan jegog untuk suatu benda hidup hanya untuk menghindari sarkasme. Jegog adalah kata dalam Bahasa Jawa yang artinya gonggong.

Kami rombongan bersepuluh yang tidak saling kenal satu sama lain, menaiki kendaraan itu dan masuklah ke suatu wilayah. Di tempat tujuan, kami disambut dengan meriah oleh warganya yang semua bermuka jegog.

Selamat datang di Negeri Jegog terpampang jelas di pintu gerbang kota dengan tulisan berhuruf arkrilik berwarna keemasan. Negeri ini konon katanya gemah ripah loh jinawi, tempat di mana air tumpah bisa jadi kolam renang, dan tanah subur cukup ditanam doa langsung panen harapan. Negeri yang katanya punya budaya luhur, masyarakat ramah, dan pemerintahan bijaksana. Dan, itu tertulis jelas semua dalam brosur pariwisata. Pada kenyataannya, Negeri Jegog adalah tempat di mana akal sehat sering digadaikan demi jabatan, dan logika dikorbankan hanya mengejar konten viral. Jangan salah, negeri ini sangat demokratis karena semua orang boleh bicara apa saja, asal suaranya tidak mengganggu para penguasa.

Salah satu keajaiban Negeri Jegog adalah sistem hukumnya yang sangat “mengasyikkan”. Di negeri ini, hukum itu seperti karet: bisa melar dan mengecil tergantung siapa yang memegang. Kalau rakyat kecil mencuri singkong sebatang, hukum datang dengan sirine dan borgol. Tapi kalau pejabat mencuri uang negara triliunan, hukum datang dengan undangan makan malam dan diskon hukuman secara besar-besaran bagai bazar.

Setiap lima tahun sekali, Negeri Jegog menggelar festival yang disebut Pemilu, yaitu “Pesta Elit Menipu Umat.” Rakyat diberi panggung sejenak untuk merasa penting; dirindu puja walau berdusta, diberi air mata palsu, dan yang tidak kalah seru dikasih goyang gemoy.

Mereka disodori janji manis seperti “akan ada banyak lapangan kerja disediakan”, “semua harga akan diturunkan”, “makan siang gratis untuk anak sekolah”, “semua sekolah gratis”, dan yang dihiperbolakan “korupsi diberantas”. Namun setelah kotak suara ditutup, janji itu dibungkus rapi dan disimpan sebagai koleksi. Hebatnya lagi, pemimpin yang pernah masuk penjara karena korupsi, bisa dengan bangga mencalonkan diri lagi untuk menjadi apapun. Anehnya rakyat, Entah karena amnesia massal atau efek kebanyakan nonton sinetron, seringkali memilih kembali; dengan alasan demi stabilitas, padahal yang stabil itu cuma penderitaan tanpa akhir.

Di Negeri Jegog, media berubah fungsi menjadi alat propaganda dan pengalihan isu. Berita korupsi disisipkan di antara gosip artis dan viralnya jegog berjoget. Ketika rakyat marah soal kenaikan harga, media akan menampilkan berita: “Menteri Bagi-Bagi Sembako Sambil Tersenyum.” Di Negeri Jegog, berita buruk bukan direspon untuk perbaikan, akan tetapi untuk ditutupi.

Menarik lagi di negeri Jegog ini, sebab pulau bisa berubah penguasanya dalam tempo sesaat; hari ini dikelola oleh penguasa A; besok mendadak dikelola penguasa B. Pola kepemimpinan simsalabim adalah hal yang biasa. Jika rakyatnya teriak, buru-buru mereka meralat dengan satu kata “kesalahan komunikasi”; karena komunikasi tidak bisa dipenjarakan, didenda atau dihukum mati.

Lebih seru lagi di Negeri Jegog, hutan lindung yang merupakan hutan larangan, ternyata sudah terbit sertifikat hak milik untuk ratusan orang. Begitu terbuka persoalannya kepermukaan, mereka ramai-ramai saling tuding untuk menyalahkan. Namun setelah waktu berlalu, kasus didiamkan, maka amanlah semua. Akhirnya anak cucu mereka nanti akan diwarisi gurun gundul yang membuat banjir dimana-mana. Hebatnya mereka berkata bagai koor paduan suara “Gimana nanti aja itu urusan yang lahir belakangan”. Di Negeri Jegog bisa terjadi “orang waras di tuduh gila, orang gila dipuja-puja”; dasar Negeri Jegog semua itu dianggap biasa-biasa saja.

Sayup-sayup terdengar suara “Pak..pak..bangun…bangun jangan tidur di sini, nanti lehernya sakit…pindah kekamar sana”. Ya Allah ternyata semua itu tadi mimpi; karena tidur di kursi tamu yang posisinya tidak sempurna. Sambil berbenah, terpaksa pindah tidur ke kamar utama dengan doa “semoga tidak mimpi lagi”. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa Universitas Malahayati Raih Juara Harapan 3 Solo Dance di National Art Competition 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Elsa Blezinsky (23220163) mahasiswi Program Studi S1 Manajemen berhasil meraih Juara Harapan 3 dalam ajang Solo Dance National Art Competition (NAC) Vol. 2 Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Lampung pada 15 Mei 2025.

Kompetisi tingkat nasional ini menjadi ajang bergengsi bagi para pelaku seni muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menunjukkan bakat dan kreativitas mereka di bidang seni tari. Persaingan yang ketat tidak menyurutkan semangat Elsa untuk tampil maksimal dan memukau para juri serta penonton dengan penampilannya yang energik, ekspresif, dan penuh penghayatan.

Elsa mengungkapkan bahwa ini adalah kali keduanya mengikuti kompetisi NAC. “Bisa kembali mengikuti NAC Vol. 2 dan meraih juara merupakan kebanggaan tersendiri. Dari sekian banyak peserta, saya merasa bersyukur bisa terpilih menjadi salah satu pemenang,” ujar Elsa penuh semangat.

Lebih lanjut, ia memberikan pesan inspiratif kepada para mahasiswa dan generasi muda lainnya, “Jangan takut untuk menunjukkan bakat. Menang atau kalah hanyalah bonus, yang terpenting adalah kita sudah berani tampil, menunjukkan kemampuan kita secara maksimal, dan membuat orang lain terpukau.”

Pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi Elsa, tetapi juga menjadi motivasi bagi sivitas akademika Universitas Malahayati untuk terus mendukung mahasiswa dalam menyalurkan minat dan bakatnya, baik di bidang akademik maupun non-akademik.

Selamat kepada Elsa Blezinsky atas prestasi gemilangnya. Teruslah berkarya dan menginspirasi! (gil)

Editor: Gilang Agusman