Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Sore itu matahari merendah di balik pepohonan taman kecil kompleks perumahan. Dua orang lelaki usia senja duduk berdampingan di bangku besi yang catnya mulai mengelupas. Udara tidak lagi panas, justru membawa rasa dingin yang pelan-pelan meresap ke tulang.
“Badanku akhir-akhir ini cepat capek,” kata Pak Rahman sambil menarik napas panjang.
Tangannya bertumpu pada tongkat kayu yang sudah cukup lama menemaninya. Pak Hadi menoleh, menatap wajah sahabat lamanya yang sudah sejak lama ditinggal istri meninggal dunia.
“Usia memang nggak bisa diajak bohong,” ujarnya pelan. “Tapi alhamdulillah, kita masih bisa jalan ke taman begini.”
Pak Rahman tersenyum tipis seraya berkata, “Kadang saya mikir; Kalau dulu saya lebih berani ambil keputusan, mungkin hidup saya tidak begini.” Pak Hadi terdiam sejenak, memandang daun-daun yang jatuh satu per satu. “Saya juga terkadang begitu. Nyesel karena terlalu banyak menunda, terlalu sering takut.” Ia lalu menghela napas. “Tapi mau gimana lagi? Waktunya sudah lewat.”
“Berat rasanya berdamai sama masa lalu,” ucap Pak Rahman lirih. “Iya,” jawab Pak Hadi. “Tetapi terus mengingatnya juga nggak bikin badan kita lebih kuat.”
Ia tersenyum kecil. “Sekarang ya dijalani aja. Bangun pagi masih bisa napas lega, lutut masih mau diajak jalan, itu sudah hal yang lebih dari cukup.”
Pak Rahman mengangguk pelan. Suara burung sore terdengar samar. “Dulu saya kira hidup itu soal jabatan dan pencapaian,”kata Pak Rahman.
“Sekarang kita tahu,” potong Pak Hadi lembut, “hidup itu soal bisa bangun tanpa rasa sakit yang berlebihan dan pulang dengan hati yang nggak terlalu penuh beban.”
Mereka berdua terdiam cukup lama. Senja semakin turun, menyisakan cahaya tipis yang hangat. “Ada satu hal yang bikin saya tenang,” kata Pak Rahman akhirnya. “Kita masih dikasih badan sehat, meski nggak sempurna.”
Pak Hadi tersenyum, lalu berdiri perlahan. “Itu sebabnya hari ini masih layak dijalani.”
Keduanya melangkah pulang karena sayup-sayup terdengar suara adzan magrib, dengan langkah pelan, meninggalkan bangku taman yang sunyi, membawa sisa usia yang tak lagi panjang, tapi masih cukup untuk terus disyukuri.
Ada kalanya hidup terasa seperti kumpulan keputusan yang datang terlambat. Kita menoleh ke belakang dan menemukan banyak hal yang seandainya saja bisa diulang, diperbaiki, atau setidaknya dipahami dengan lebih tenang.
Penyesalan sering hadir diam-diam, lalu tumbuh menjadi beban yang berat. Ia mengendap di pikiran, membuat hati lelah, dan perlahan menggerogoti rasa syukur. Namun pada satu titik, kita dihadapkan pada kesadaran sederhana: “sudah jangan disesali, sekarang dijalani saja, yang penting kita diberi badan sehat”. Kalimat ini terdengar biasa, tetapi menyimpan kebijaksanaan yang dalam dan menenangkan.
Menjalani hidup apa adanya bukan perkara mudah. Ada hari-hari ketika luka lama kembali terasa perih, ketika ingatan muncul tanpa diundang, dan ketika rasa bersalah datang tanpa ampun. Namun hidup tidak menuntut kita untuk selalu kuat, ia hanya meminta kita untuk terus berjalan. Perlahan, dengan langkah yang kadang tertatih, kita belajar bahwa bertahan saja sudah merupakan bentuk keberanian. Tidak semua orang mampu bangkit dengan gemilang; sebagian hanya mampu bangun dari tempat tidur dan itu pun sudah cukup.
Di tengah semua kegelisahan itu, kesehatan sering kali menjadi hal yang baru disadari nilainya saat ia terancam hilang. Badan yang sehat adalah anugerah yang kerap dianggap remeh. Kita sibuk mengejar pencapaian, pengakuan, dan validasi, sampai lupa bahwa tanpa tubuh yang berfungsi dengan baik, semua itu tidak akan berarti banyak. Saat tubuh masih mampu bernapas tanpa bantuan, berjalan tanpa rasa sakit, dan terbangun setiap pagi, sesungguhnya kita telah memiliki alasan yang kuat untuk melanjutkan hidup.
Kesehatan tidak selalu berarti bebas dari penyakit. Terkadang, sehat berarti masih mampu tersenyum meski ada keterbatasan, masih bisa mensyukuri hal kecil meski kondisi tidak sempurna. Ada ketenangan yang lahir ketika seseorang menyadari bahwa hidup tidak harus selalu ideal untuk tetap dijalani dengan penuh makna. Selama tubuh masih diberi kesempatan untuk bertahan, selama jantung masih setia berdetak, harapan tidak pernah benar-benar habis.
Menjalani hari ini juga berarti berdamai dengan diri sendiri. Kita berhenti membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, berhenti memaksa diri untuk memenuhi standar yang tidak kita pahami asalnya. Hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat atau paling sukses. Ia adalah perjalanan personal yang penuh tikungan dan kejutan. Ada orang yang menemukan jalannya lebih awal, ada pula yang tersesat berkali-kali sebelum akhirnya mengerti ke mana harus melangkah. Semua itu sah dan manusiawi.
Ketika penyesalan datang, mungkin yang perlu dilakukan bukan melawannya, tetapi mendengarkannya sebentar, lalu melepaskannya dengan perlahan. Penyesalan bisa menjadi pengingat agar kita lebih bijak ke depan, bukan cambuk untuk menghukum diri tanpa henti. Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana bersikap hari ini. Dan sering kali, sikap paling bijak adalah menerima hidup apa adanya dengan rasa syukur yang sederhana.
Pada akhirnya, hidup tidak selalu tentang memperbaiki semua kesalahan, melainkan tentang belajar hidup bersama konsekuensinya. Setiap orang punya cerita masing-masing. Kita mungkin tidak memiliki masa lalu yang sempurna, tetapi kita masih memiliki hari ini.
Selama badan masih sehat, selama napas masih bisa dihirup dengan bebas, selalu ada kesempatan untuk menjalani sisa hidup dengan lebih tenang. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri. Cukup jalani saja, satu hari pada satu waktu, dengan kesadaran bahwa bertahan pun adalah bentuk kemenangan kecil yang layak dirayakan. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
KADO UNTUKMU MALAHAYATI-KU “Dedikasi dan Keikhlasan”
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Universitas Malahayati akan merayakan Dies Natalis ke-32, sebuah tonggak penting dalam perjalanan panjang institusi pendidikan tinggi yang telah menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa untuk belajar, berinovasi, dan berkembang. Pada momen istimewa ini, jargon “Dedikasi dan Keikhlasan” diangkat sebagai refleksi mendalam tentang bagaimana manusia modern dapat menyeimbangkan antara produktivitas profesional, kepuasan pribadi, dan kontribusi bagi masyarakat. Jargon ini bukan sekadar slogan, tetapi filosofi yang relevan bagi mahasiswa, dosen, alumni, dan seluruh civitas akademika, sekaligus pesan inspiratif bagi masyarakat luas.
Di era globalisasi dan digitalisasi yang serba cepat, bekerja tidak lagi hanya sekadar aktivitas mencari nafkah. Pekerjaan kini menjadi bagian dari identitas diri, sarana aktualisasi potensi, dan medium untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Bekerja dengan dedikasi berarti menempatkan integritas, empati, dan kepedulian sebagai fondasi dalam setiap langkah profesional. Individu yang bekerja dengan dedikasi tidak hanya fokus pada target semata, tetapi juga pada manfaat yang dihasilkan; baik bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Bekerja dengan dedikasi berarti bekerja dengan hati, artinya setiap tugas yang dilakukan memiliki makna yang lebih dalam, tidak sekadar rutinitas semata.
Dalam konteks kontemporer, bekerja dengan hati juga berarti mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan sentuhan humanis. Misalnya, di dunia pendidikan, seorang dosen tidak hanya menyampaikan materi melalui kuliah daring atau modul digital, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang membentuk karakter, empati, dan keterampilan kritis mahasiswa. Di dunia industri, profesional memanfaatkan data, algoritma, dan teknologi artificial intelligence untuk meningkatkan efisiensi kerja, namun tetap memprioritaskan kolaborasi dan komunikasi yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, bekerja dengan hati bukan berarti menolak modernisasi, melainkan mengintegrasikannya dengan kesadaran etis dan sosial.
Dalam konteks Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati, jargon ini memiliki resonansi yang sangat kuat. Universitas bukan hanya tempat menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga menanamkan nilai integritas, empati, dan inovasi. Selama lebih dari tiga dekade, Malahayati telah membuktikan bahwa pendidikan yang menekankan kerja dengan hati akan menghasilkan alumni yang tidak hanya sukses profesional, tetapi juga memiliki kesadaran sosial tinggi. Alumni yang bekerja dengan hati mampu membangun karier yang bermakna sekaligus meraih penghasilan sepenuh hati, yaitu harmoni antara kepuasan personal, keberlanjutan profesional, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dedikasi dan keikhlasan juga menuntut kedisiplinan, keberanian mengambil risiko, dan kreativitas. Dunia kerja modern semakin kompleks: otomatisasi, persaingan global, dan ekspektasi masyarakat menuntut kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Dengan hati, individu mampu menjaga kompas moral dan motivasi intrinsik. Dengan keikhlasan, individu merasa dihargai dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Keduanya membentuk siklus produktivitas yang sehat dan berkelanjutan, yang tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga organisasi dan masyarakat luas.
Lebih jauh lagi, filosofi dedikasi dan keikhlasan mengajarkan kita tentang kepuasan sejati. Banyak orang mengira bahwa kesuksesan diukur dari jumlah materi atau status sosial semata. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa individu yang bekerja dengan hati merasa lebih bahagia, lebih bermakna, dan lebih puas dalam hidupnya, meskipun penghasilannya mungkin tidak selalu besar. Sebaliknya, individu yang hanya mengejar uang tanpa hati seringkali menghadapi stres, kebosanan, dan kehilangan arah. Filosofi ini mengingatkan bahwa keseimbangan antara nilai moral, kepuasan personal, dan imbalan yang berkah adalah kunci hidup modern yang harmonis.
Akhirnya, “Dedikasi dan Keikhlasan” bukan hanya aspirasi profesional, tetapi filosofi hidup kontemporer yang relevan bagi siapa saja. Dalam menghadapi kompleksitas dunia modern, kesuksesan sejati lahir dari keseimbangan antara kontribusi bermakna, kepuasan pribadi, dan penghargaan yang adil. Universitas Malahayati, melalui perjalanan 32 tahun, telah menunjukkan bahwa integrasi antara dedikasi dan keihlasan memungkinkan lahirnya generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi masa depan bangsa.
Dengan bekerja ikhlas, setiap individu menemukan makna dalam beraktivitas sehari-hari. Dengan dedikasi, setiap individu merasakan nilai dari usahanya. Ketika keduanya bersatu, terciptalah kehidupan profesional yang seimbang, harmonis, dan penuh makna; suatu pencapaian yang layak dirayakan di momen istimewa Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati. Jargon ini relevan bagi civitas akademika, yang menghadapi tantangan modernisasi, digitalisasi, dan kompleksitas kehidupan profesional.
Universitas Malahayati telah menunjukkan bahwa pendidikan yang menekankan kerja dengan hati bukan hanya menghasilkan lulusan cerdas, tetapi juga manusia utuh yang siap menghadapi dunia dengan integritas, inovasi, dan empati.
SELAMAT ……DIES NATALIS KE 32…..MAJU..DAN..JAYA..MALAHAYATI-KU. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Katalog buku Potensi Herbal Untuk Meredakan Nyeri Punggung Kehamilan Pendekatan Berbasis Bukti Dalam Asuhan Kebidanan
judul buku: Potensi Herbal Untuk Meredakan Nyeri Punggung Kehamilan Pendekatan Berbasis Bukti Dalam Asuhan Kebidanan
Isbn:proses
Penulis:Dr. Dainty Maternity, S.ST.Bdn., M.Keb.
Penerbit: Universitas Malahayati
Sinopsis:
Nyeri punggung merupakan salah satu keluhan yang paling sering dialami oleh ibu hamil dan dapat memengaruhi aktivitas, kualitas tidur, serta kualitas hidup selama kehamilan. Kondisi ini sering kali dianggap sebagai keluhan fisiologis, sehingga tidak mendapatkan penanganan yang optimal.
Buku Potensi Herbal untuk Meredakan Nyeri Punggung Kehamilan membahas secara sistematis konsep nyeri punggung kehamilan, perubahan anatomi dan fisiologi, peran stres dan inflamasi, hingga pemanfaatan terapi nonfarmakologis dan terapi herbal sebagai pendekatan komplementer dalam asuhan kebidanan.
Disusun berdasarkan bukti ilmiah dan penelitian pra-klinik, buku ini menempatkan terapi herbal secara bijak, aman, dan sesuai dengan kewenangan bidan. Dilengkapi dengan studi kasus, latihan soal, dan contoh edukasi Kelas Ibu Hamil, buku ini diharapkan menjadi referensi praktis bagi mahasiswa kebidanan dan bidan dalam memberikan asuhan kebidanan yang holistik dan berbasis bukti.
Mahasiswa Ilmu Hukum UNMAL Buktikan Prestasi Lewat Dua Kejuaraan Beladiri 2025
Bandarlampung (malahayati.ac.id): Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Malahayati (UNMAL) kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang olahraga beladiri. Galan Prasojo (NPM 25610091) berhasil meraih dua gelar juara dalam ajang Muaythai Fight Arena dan Pekan Olahraga Kota (PORKOT) Bandar Lampung 2025 yang berlangsung pada akhir Desember 2025.
Pada cabang olahraga Muaythai, Galan Prasojo sukses meraih Juara 1 kelas 48 Kg kategori Amatir dalam event Muaythai Fight Arena Vol. 2 yang diselenggarakan oleh Gajah Lampung Fight Camp pada 27–28 Desember 2025.
Sementara itu, pada ajang Pekan Olahraga Kota (PORKOT) Bandar Lampung 2025, Galan Prasojo kembali menunjukkan performa terbaiknya dengan meraih medali emas cabang olahraga Kick Boxing kelas 51 Kg Full Contact kategori Senior. Kegiatan PORKOT ini diselenggarakan oleh Wali Kota Bandar Lampung bekerja sama dengan KONI Lampung, serta induk organisasi olahraga terkait, dan berlangsung pada 24–31 Desember 2025.
Prestasi yang diraih tersebut menjadi bukti konsistensi, disiplin, dan totalitas Galan Prasojo dalam menekuni dunia olahraga beladiri. Ia menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi pemacu semangat untuk terus berkembang dan menargetkan prestasi yang lebih tinggi di masa mendatang.
“Prestasi ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus berproses dan mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi dalam bidang olahraga,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada generasi muda agar senantiasa menjaga konsistensi dalam kondisi apa pun. Menurutnya, keberhasilan sangat ditentukan oleh sikap disiplin, konsisten, dan totalitas dalam menjalani proses latihan dan perjuangan.
Ketertarikan Galan Prasojo terhadap dunia olahraga menjadi alasan utama dirinya menekuni cabang beladiri Muaythai dan Kick Boxing. Melalui olahraga, ia tidak hanya menyalurkan bakat, tetapi juga membentuk karakter, mental, serta daya juang yang kuat.
Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa Universitas Malahayati mampu menyeimbangkan antara akademik dan non-akademik. Keberhasilan tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi serta membawa nama Universitas Malahayati ke tingkat yang lebih tinggi.(fkr)
Editor: Fadly KR
Katalog buku Pengantar Teknologi Informasi
Judul buku : Pengantar Teknologi Informasi
Penulis:
Tyan Tasa,S.Kom.,M.Kom
Dr.Sri Lestari,S.Kom.,M.Cs
Nirwana Hendrastity, S.Kom., M.Cs
ISBN: Proses
Penerbit : Universitas Malahayati
Sinopsis:
Buku ini membahas konsep-konsep fundamental Teknologi Informasi, mulai dari pengertian dan komponen TI, perangkat keras dan perangkat lunak, data dan sistem informasi, jaringan komputer, keamanan informasi, hingga etika dan perkembangan teknologi terkini. Materi disajikan dengan bahasa yang sederhana, runtut, dan dilengkapi dengan contoh penerapan agar mudah dipahami oleh pembaca pemula.
Empat Gelar Juara Sekaligus, Mahasiswa Ilmu Hukum UNMAL Tampil Gemilang di Porkot Hapkido
Bandarlampung (malahayati.ac.id): Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Malahayati (UNMAL) kembali mengharumkan nama kampus melalui prestasi gemilang di bidang olahraga beladiri. Ahmad Yoga (NPM 24610022) berhasil meraih sejumlah gelar juara dalam ajang Kejuaraan Pekan Olahraga Kota (Porkot) cabang beladiri Hapkido yang diselenggarakan pada 25–26 Desember 2025.
Kejuaraan ini digelar atas kerja sama Wali Kota Bandar Lampung, KONI Lampung, dan Hapkido Bandar Lampung, bertempat di Asrama Haji Provinsi Lampung. Ajang tersebut diikuti oleh atlet-atlet terbaik dari berbagai daerah dan menjadi wadah pembinaan serta evaluasi kemampuan atlet Hapkido.
Dalam kejuaraan tersebut, Ahmad Yoga berhasil meraih prestasi membanggakan, antara lain:
Prestasi ini menunjukkan konsistensi, dedikasi, dan kemampuan teknik yang mumpuni, sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa Universitas Malahayati mampu berprestasi tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga non-akademik.
Ahmad Yoga menyampaikan bahwa kejuaraan Hapkido ini memberikan pengalaman yang sangat bermakna. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menguji kemampuan teknik dan fisik, tetapi juga melatih mental, kepercayaan diri, serta kemampuan mengendalikan emosi. Ia juga mengapresiasi pelaksanaan pertandingan yang berjalan dengan lancar, profesional, dan penuh semangat kebersamaan.
Ia pun berpesan kepada para atlet muda untuk terus berlatih dengan tekun dan konsisten, karena prestasi tidak datang secara instan. Menang maupun kalah merupakan bagian dari proses pembelajaran yang harus disikapi dengan sikap sportif, rendah hati, serta tetap menghormati lawan dan wasit. Ia berharap kejuaraan ini dapat menjadi motivasi untuk meraih prestasi yang lebih tinggi di tingkat nasional maupun internasional.
Kejuaraan Hapkido ini diselenggarakan sebagai sarana pembinaan dan pengembangan atlet, dengan tujuan meningkatkan prestasi, menjunjung tinggi nilai sportivitas, serta mengembangkan potensi beladiri Hapkido di Provinsi Lampung.
Prestasi yang diraih Ahmad Yoga mencerminkan peran penting perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa secara menyeluruh. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Universitas Malahayati, tetapi juga menjadi bukti bahwa keseimbangan antara akademik dan non-akademik mampu melahirkan generasi muda yang berkarakter, disiplin, dan berdaya saing. Diharapkan, capaian ini dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan membawa nama kampus ke tingkat yang lebih tinggi.(fkr)
Editor: Fadly KR
Kesempurnaan Yang Tidak Mencari Sempurna
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Sore itu, langit pesantren berwarna jingga. Suara santri mengaji samar terdengar dari kejauhan. Di serambi asrama, dua santri duduk bersila setelah shalat Ashar.
“Aku iri,” ucap salah satu dari mereka, yang sering dipanggil Udin, pelan. “Dia selalu terlihat sempurna. Hafalannya kuat, ucapannya rapi, dan semua orang memujinya.” Temannya yang bernami Sarmin, menoleh, tersenyum tipis. “Kau yakin kesempurnaan itu selalu membawa tenang?”. “Apa maksudmu?” sergah Udin sedikit galak.
“Kau lihat dia dari luar. Tapi kau tak tahu lelahnya menjaga citra. Aku pernah melihatnya menangis di mushala tengah malam,” jawabnya Sarmin lirih. Santri Udin terdiam. “Tapi aku merasa tak pernah cukup. Hafalanku sering salah, aku mudah ragu.”
“Justru itu yang membuatmu terus belajar,” sahut Sarmin. “Kiai pernah bilang, ilmu tidak tumbuh dari kesempurnaan, tapi dari kesungguhan menerima kekurangan.” Angin berembus lembut, menggoyangkan dedaunan. “Jadi kau bilang, kekurangan itu bukan aib?” tegas Udin.
“Bukan. Ia guru paling jujur,” jawabnya Sarmin mantap. “Di pesantren ini, kita diajarkan untuk merapikan hati, bukan sekadar memperindah tampilan.” Santri Udin menunduk, memandangi lantai serambi. “Mungkin selama ini aku terlalu keras pada diriku sendiri.” Sarmin tersenyum. “Kesempurnaan bukan soal tak pernah salah, tapi mau bangkit setiap kali jatuh.”
Suara adzan Maghrib menggema. Keduanya berdiri.
“Terima kasih,” ucap Udin pelan.
“Kita belajar bersama,” jawab Sarmin.
Mereka melangkah menuju masjid, membawa hati yang lebih ringan, perlahan belajar menerima diri, di antara tembok pesantren yang sunyi namun penuh makna
Sering kali manusia terjebak pada anggapan bahwa keindahan adalah tujuan akhir, dan kesempurnaan adalah syarat mutlak kebahagiaan. Mata kita terbiasa mencari yang paling memukau, telinga ingin mendengar yang paling merdu, dan hati kerap mendambakan keadaan tanpa cela. Namun, perjalanan hidup perlahan mengajarkan bahwa yang terindah tidak selalu menjadi yang terbaik. Ada hal-hal yang tampak sempurna di permukaan, tetapi hampa di dalamnya. Sebaliknya, ada pula yang sederhana, bahkan penuh kekurangan, namun justru menghadirkan ketenangan dan makna yang mendalam.
Keindahan sering bersifat sementara. Ia memikat, tetapi mudah memudar. Apa yang hari ini dipuja, esok bisa menjadi biasa. Dalam keindahan yang hanya berdiri di atas penampilan, manusia kerap lupa menggali kedalaman. Ketika sesuatu dinilai hanya dari luarnya, kekecewaan menjadi bayangan yang tak terhindarkan. Harapan yang terlalu tinggi terhadap kesempurnaan menjadikan manusia rapuh, karena realitas jarang berjalan seiring dengan bayangan ideal yang dibangun di kepala.
Kesempurnaan pun kerap disalahartikan sebagai ketiadaan kekurangan. Padahal, hidup tidak pernah menawarkan ruang kosong dari cela. Setiap langkah membawa risiko, setiap pilihan menyimpan konsekuensi. Ketika seseorang memaksakan hidupnya agar terlihat sempurna, ia sesungguhnya sedang menolak sisi paling manusiawi dari dirinya sendiri. Dari penolakan itulah lahir kegelisahan, rasa tidak cukup, dan ketakutan akan kegagalan. Kesempurnaan yang dibangun di atas penyangkalan justru menjauhkan manusia dari kebahagiaan yang tulus.
Kebahagiaan bukanlah hasil dari hidup yang tanpa luka, melainkan dari kemampuan berdamai dengan luka tersebut. Ada kelegaan yang lahir ketika seseorang berhenti melawan kenyataan dan mulai menerimanya. Penerimaan bukan berarti menyerah, melainkan keberanian untuk melihat diri apa adanya. Di sanalah kekurangan tidak lagi menjadi beban, tetapi ruang untuk bertumbuh. Kekurangan mengajarkan kerendahan hati, mengasah empati, dan menumbuhkan rasa syukur atas hal-hal kecil yang sering terlewatkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering terlihat bagaimana standar kesempurnaan dibentuk oleh perbandingan. Manusia membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain, seolah kebahagiaan adalah perlombaan yang harus dimenangkan. Padahal, setiap orang berjalan di jalurnya masing-masing, dengan beban dan cerita yang berbeda. Apa yang tampak sempurna dari kejauhan bisa jadi menyimpan perjuangan yang tidak terlihat. Ketika perbandingan dihentikan, manusia mulai menyadari bahwa hidupnya sendiri memiliki nilai yang tidak kalah berharga.
Menerima kekurangan sebagai kelebihan bukanlah proses yang instan. Ia menuntut kejujuran pada diri sendiri dan kesabaran dalam menjalani perubahan. Ada saat-saat ketika rasa kecewa muncul, ketika harapan tidak terpenuhi, dan ketika kenyataan terasa pahit. Namun justru di titik-titik itulah makna hidup diperdalam. Kekurangan mengajarkan manusia untuk beradaptasi, menemukan cara baru, dan menghargai usaha, bukan hanya hasil akhir.
Dalam penerimaan, seseorang belajar melihat keindahan dari sudut yang berbeda. Keindahan tidak lagi diukur dari kesempurnaan bentuk, melainkan dari ketulusan proses. Hidup menjadi lebih ringan ketika tidak lagi dibebani tuntutan untuk selalu ideal. Ada kebebasan dalam mengakui bahwa tidak apa-apa untuk tidak sempurna. Dari kebebasan itu tumbuh rasa damai, karena kebahagiaan tidak lagi bergantung pada standar yang rapuh.
Kesempurnaan sejati bukanlah tentang menjadi tanpa cela, melainkan tentang utuh sebagai manusia. Utuh berarti mampu merangkul kelebihan dan kekurangan dalam satu kesadaran yang sama. Ketika seseorang mampu menerima dirinya dengan segala keterbatasan, ia tidak hanya menemukan ketenangan batin, tetapi juga membuka ruang untuk mencintai dan memahami orang lain dengan lebih dalam. Dari sanalah hubungan menjadi lebih jujur, dan kehidupan terasa lebih bermakna.
Pada akhirnya, yang terindah memang tidak selalu yang terbaik, dan yang sempurna tidak selalu menjanjikan kebahagiaan. Kebahagiaan tumbuh dari penerimaan, dari keberanian untuk melihat kekurangan bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup. Ketika manusia mampu mengubah cara pandangnya, menjadikan kekurangan sebagai kelebihan, di situlah kesempurnaan menemukan maknanya yang paling manusiawi. Orang dulu berpesan “jalani dengan tenang, nikmati dengan senang apa yang Tuhan Takar tidak akan pernah tertukar”. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Literasi Keuangan hingga E-Commerce, Prodi Akuntansi UNMAL Edukasi Siswa SMA N 1 Tulang Bawang Tengah
Bandarlampung (malahayati.ac.id): Sebagai penutup semester ganjil Tahun Akademik 2025–2026, Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati (UNMAL) melaksanakan kegiatan penyuluhan dan pengabdian kepada masyarakat sekaligus mengenalkan Program Studi Akuntansi kepada siswa-siswi SMA Negeri 1 Tulang Bawang Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 13 Januari 2026.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan lima kelompok, di mana setiap kelompok terdiri dari lima mahasiswa. Seluruh rangkaian kegiatan didampingi oleh dua dosen Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati, yaitu Apip Alansori, S.E., M.Ak., CAPM dan Hardini Ariningrum, S.E., M.Ak., CFRS.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menyampaikan materi edukatif yang dikemas dalam lima tema utama, meliputi:
Materi-materi tersebut disampaikan melalui pendekatan aplikatif dan praktik sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik siswa di era digital, khususnya Generasi Z.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi siswa-siswi serta memberikan pemahaman dasar mengenai ilmu akuntansi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati kepada siswa SMA sebagai bagian dari pengenalan dunia pendidikan tinggi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa-siswi SMA Negeri 1 Tulang Bawang Tengah memperoleh wawasan baru, khususnya dalam bidang keuangan dan akuntansi, serta mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi keuangan dan pemanfaatan teknologi secara bijak di era digital.
Pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati ini merupakan langkah positif dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus menjadi sarana efektif untuk meningkatkan literasi keuangan dan pemahaman akuntansi siswa SMA di era digital. Melalui penyampaian materi yang aplikatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam mengasah kemampuan komunikasi, kerja sama, dan kepedulian sosial, sehingga diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan jangkauan yang lebih luas.(fkr)
Editor: Fadly KR
Antara Hujan dan Harapan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Sore itu, kota ini di guyur hujan yang sangat lebat, orang banyak menyebutnya anomali iklim. Saat memandang curahan hujan yang begitu lebat terbersit dalam ingatan untuk menulisnya. Atas palilah (kerelaan) dari sohib jurnalis senior yang menggawangi media ini, jadilah tulisan ini. Dan, di salah satu emper toko ada dua orang yang berteduh. Seorang berprofesi sebagai tukang ojek, dan seorang lagi penjual kue keliling. Mereka berdua terlibat pembicaraan seperti ini;
“Deras banget, ya. Dari tadi kayak nggak ada niat berhenti,” kata tukang ojek sambil memarkir motornya agak ke pinggir teras agar joknya tidak terkena timpahan air dari talang air yang meluap.
“Iya, Mas. Kue saya aja sampai basah-basah. Untung masih sempat ditutup plastik,” jawab penjual kue keliling, menggeser tampahnya lebih dekat ke dinding agar tidak terkena tempias.
“Biasanya jam segini udah dapet penumpang dua atau tiga. Ini malah dapet hujan,” ucap tukang ojek, tertawa kecil.
“Sama. Biasanya sore laku buat orang pulang kerja. Hujan begini, orang milih langsung ke rumah,” kata penjual kue. “Mas ojek narik dari pagi?”
“Dari subuh. Pagi panas, siang mendung, eh sore begini. Kadang cuaca lebih susah ditebak daripada orderan,” jawab tukang ojek sambil menyeringai.
Penjual kue mengangguk. “Kalau saya, yang susah itu kue sisa. Nggak bisa disimpan lama. Besok rasanya udah beda, bahkan cenderung basi.”
“Kalau nggak habis, dibagi ke tetangga?” tanya tukang ojek.
“Kadang. Kadang ya dimakan sendiri. Capek sih, tapi mau gimana.” Jawab penjual kue memelas.
Hujan semakin keras, suara genting dipukul air tanpa jeda.
“Mas masih kuat nunggu hujan reda?” tanya penjual kue lagi.
“Kalau nekat jalan, bahaya. Jas hujan bocor lagi,” jawab tukang ojek. “Mending nunggu. Rezeki nggak ke mana.”
“Iya, ya. Kata orang, rezeki ada waktunya sendiri.” Guman penjual Kue.
“Betul. Kita mah jalanin aja. Hujan, panas, tetap keluar rumah.” Sambung tukang ojek.
Penjual kue tersenyum, dan berkata. “Kalau hujan reda, Mas mau kue satu? Nggak usah bayar.”
“Wah, jangan gitu. Saya beli. Biar sama-sama jalan rezekinya.” Jawab tukang ojek.
Mereka terdiam sejenak, mendengar hujan yang perlahan mulai mengecil, seperti memberi isyarat untuk kembali melanjutkan hari.
Hujan selalu datang tanpa meminta izin, seperti kabar yang tiba di lini masa pada jam-jam paling sibuk. Ia bisa menjadi penanda jeda, bisa pula menjadi alasan keterlambatan. Di kota-kota yang tak pernah benar-benar tidur, hujan memantulkan cahaya lampu dan menebalkan kesepian. Namun, di sela bunyinya yang jatuh berulang, ada sesuatu yang tetap hidup: harapan. Di antara hujan dan harapan, manusia kekinian belajar menata ulang makna bertahan.
Hujan hari ini bukan sekadar peristiwa cuaca. Ia adalah metafora bagi tekanan yang datang beruntun; tagihan yang jatuh tempo, notifikasi yang tak berhenti, target yang berubah setiap pekan, dan berita yang sering kali lebih cepat daripada kemampuan kita mencernanya. Kita hidup di zaman ketika rasa cemas dapat diukur dalam persentase baterai dan kecepatan jaringan. Ketika hujan turun, ritme melambat sejenak, memaksa kita mengakui bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Di trotoar yang basah, langkah-langkah menjadi hati-hati; di kepala yang penat, pikiran mencari pegangan.
Namun harapan, seperti payung yang kadang terlupa, tetap ada meski tak selalu terlihat. Harapan kekinian tidak selalu berwujud mimpi besar yang berkilau. Ia sering hadir sebagai keputusan kecil: tetap bangun pagi meski semalam gagal, mengirim lamaran lagi meski sudah berkali-kali tak berbalas, atau memilih istirahat ketika dunia menuntut lebih. Harapan bukan lagi janji masa depan yang jauh, melainkan ketekunan pada hari ini. Ia belajar merendah agar tak mudah patah.
Di layar-layar kecil, hujan sering difilter agar terlihat indah. Kita mengunggah foto jendela berembun, menulis caption puitis, lalu melanjutkan hidup. Tapi di balik estetika itu, hujan juga berarti banjir yang berulang, rumah yang terendam, pekerjaan yang tertunda. Kekinian mengajarkan paradoks: keindahan dan kesulitan bisa berdampingan, dan keberanian bukan menolak keduanya, melainkan mengakui kehadirannya. Harapan tumbuh ketika kita berhenti menyangkal kenyataan dan mulai merawat kemungkinan.
Hujan menguji solidaritas. Saat air naik, tangan-tangan saling terulur. Di tengah keterpecahan opini, ada momen-momen sederhana ketika empati bekerja tanpa slogan. Harapan mengambil bentuk gotong royong yang disesuaikan zaman: penggalangan dana daring, informasi cepat yang menyelamatkan waktu, dan ruang-ruang diskusi yang mencoba lebih mendengar. Meski sering bising, dunia digital juga menyimpan potensi merajut ulang kepercayaan.
Hujan juga menyingkap hubungan kita dengan diri sendiri. Ketika suara luar mereda, kita mendengar yang selama ini diabaikan. Keletihan yang dipendam, kegembiraan kecil yang tertunda, dan kebutuhan untuk memaafkan diri. Harapan di sini bersifat intim: kesediaan merawat kesehatan mental, menetapkan batas, dan mengakui bahwa kuat tidak selalu berarti keras. Di zaman serba cepat, keberanian paling radikal bisa jadi adalah berhenti sejenak.
Pada akhirnya, antara hujan dan harapan, ada ruang belajar menjadi manusia. Kita belajar bahwa basah bukan akhir dari perjalanan, bahwa menunggu reda pun bagian dari bergerak. Harapan tidak menghapus hujan; ia mengajarkan cara berjalan di bawahnya, kadang dengan payung, kadang dengan membiarkan diri basah sambil tertawa. Di zaman yang penuh ketidakpastian, mungkin itulah kemenangan kecil yang paling nyata: tetap melangkah, meski langit belum sepenuhnya cerah. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Menjalani Sisa Hari
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Sore itu matahari merendah di balik pepohonan taman kecil kompleks perumahan. Dua orang lelaki usia senja duduk berdampingan di bangku besi yang catnya mulai mengelupas. Udara tidak lagi panas, justru membawa rasa dingin yang pelan-pelan meresap ke tulang.
“Badanku akhir-akhir ini cepat capek,” kata Pak Rahman sambil menarik napas panjang.
Tangannya bertumpu pada tongkat kayu yang sudah cukup lama menemaninya. Pak Hadi menoleh, menatap wajah sahabat lamanya yang sudah sejak lama ditinggal istri meninggal dunia.
“Usia memang nggak bisa diajak bohong,” ujarnya pelan. “Tapi alhamdulillah, kita masih bisa jalan ke taman begini.”
Pak Rahman tersenyum tipis seraya berkata, “Kadang saya mikir; Kalau dulu saya lebih berani ambil keputusan, mungkin hidup saya tidak begini.” Pak Hadi terdiam sejenak, memandang daun-daun yang jatuh satu per satu. “Saya juga terkadang begitu. Nyesel karena terlalu banyak menunda, terlalu sering takut.” Ia lalu menghela napas. “Tapi mau gimana lagi? Waktunya sudah lewat.”
“Berat rasanya berdamai sama masa lalu,” ucap Pak Rahman lirih. “Iya,” jawab Pak Hadi. “Tetapi terus mengingatnya juga nggak bikin badan kita lebih kuat.”
Ia tersenyum kecil. “Sekarang ya dijalani aja. Bangun pagi masih bisa napas lega, lutut masih mau diajak jalan, itu sudah hal yang lebih dari cukup.”
Pak Rahman mengangguk pelan. Suara burung sore terdengar samar. “Dulu saya kira hidup itu soal jabatan dan pencapaian,”kata Pak Rahman.
“Sekarang kita tahu,” potong Pak Hadi lembut, “hidup itu soal bisa bangun tanpa rasa sakit yang berlebihan dan pulang dengan hati yang nggak terlalu penuh beban.”
Mereka berdua terdiam cukup lama. Senja semakin turun, menyisakan cahaya tipis yang hangat. “Ada satu hal yang bikin saya tenang,” kata Pak Rahman akhirnya. “Kita masih dikasih badan sehat, meski nggak sempurna.”
Pak Hadi tersenyum, lalu berdiri perlahan. “Itu sebabnya hari ini masih layak dijalani.”
Keduanya melangkah pulang karena sayup-sayup terdengar suara adzan magrib, dengan langkah pelan, meninggalkan bangku taman yang sunyi, membawa sisa usia yang tak lagi panjang, tapi masih cukup untuk terus disyukuri.
Ada kalanya hidup terasa seperti kumpulan keputusan yang datang terlambat. Kita menoleh ke belakang dan menemukan banyak hal yang seandainya saja bisa diulang, diperbaiki, atau setidaknya dipahami dengan lebih tenang.
Penyesalan sering hadir diam-diam, lalu tumbuh menjadi beban yang berat. Ia mengendap di pikiran, membuat hati lelah, dan perlahan menggerogoti rasa syukur. Namun pada satu titik, kita dihadapkan pada kesadaran sederhana: “sudah jangan disesali, sekarang dijalani saja, yang penting kita diberi badan sehat”. Kalimat ini terdengar biasa, tetapi menyimpan kebijaksanaan yang dalam dan menenangkan.
Menjalani hidup apa adanya bukan perkara mudah. Ada hari-hari ketika luka lama kembali terasa perih, ketika ingatan muncul tanpa diundang, dan ketika rasa bersalah datang tanpa ampun. Namun hidup tidak menuntut kita untuk selalu kuat, ia hanya meminta kita untuk terus berjalan. Perlahan, dengan langkah yang kadang tertatih, kita belajar bahwa bertahan saja sudah merupakan bentuk keberanian. Tidak semua orang mampu bangkit dengan gemilang; sebagian hanya mampu bangun dari tempat tidur dan itu pun sudah cukup.
Di tengah semua kegelisahan itu, kesehatan sering kali menjadi hal yang baru disadari nilainya saat ia terancam hilang. Badan yang sehat adalah anugerah yang kerap dianggap remeh. Kita sibuk mengejar pencapaian, pengakuan, dan validasi, sampai lupa bahwa tanpa tubuh yang berfungsi dengan baik, semua itu tidak akan berarti banyak. Saat tubuh masih mampu bernapas tanpa bantuan, berjalan tanpa rasa sakit, dan terbangun setiap pagi, sesungguhnya kita telah memiliki alasan yang kuat untuk melanjutkan hidup.
Kesehatan tidak selalu berarti bebas dari penyakit. Terkadang, sehat berarti masih mampu tersenyum meski ada keterbatasan, masih bisa mensyukuri hal kecil meski kondisi tidak sempurna. Ada ketenangan yang lahir ketika seseorang menyadari bahwa hidup tidak harus selalu ideal untuk tetap dijalani dengan penuh makna. Selama tubuh masih diberi kesempatan untuk bertahan, selama jantung masih setia berdetak, harapan tidak pernah benar-benar habis.
Menjalani hari ini juga berarti berdamai dengan diri sendiri. Kita berhenti membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, berhenti memaksa diri untuk memenuhi standar yang tidak kita pahami asalnya. Hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat atau paling sukses. Ia adalah perjalanan personal yang penuh tikungan dan kejutan. Ada orang yang menemukan jalannya lebih awal, ada pula yang tersesat berkali-kali sebelum akhirnya mengerti ke mana harus melangkah. Semua itu sah dan manusiawi.
Ketika penyesalan datang, mungkin yang perlu dilakukan bukan melawannya, tetapi mendengarkannya sebentar, lalu melepaskannya dengan perlahan. Penyesalan bisa menjadi pengingat agar kita lebih bijak ke depan, bukan cambuk untuk menghukum diri tanpa henti. Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana bersikap hari ini. Dan sering kali, sikap paling bijak adalah menerima hidup apa adanya dengan rasa syukur yang sederhana.
Pada akhirnya, hidup tidak selalu tentang memperbaiki semua kesalahan, melainkan tentang belajar hidup bersama konsekuensinya. Setiap orang punya cerita masing-masing. Kita mungkin tidak memiliki masa lalu yang sempurna, tetapi kita masih memiliki hari ini.
Selama badan masih sehat, selama napas masih bisa dihirup dengan bebas, selalu ada kesempatan untuk menjalani sisa hidup dengan lebih tenang. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri. Cukup jalani saja, satu hari pada satu waktu, dengan kesadaran bahwa bertahan pun adalah bentuk kemenangan kecil yang layak dirayakan. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Matematika di Balik Jaringan Modern, Dibahas di Universitas Malahayati
BandarLampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menyelenggarakan forum ilmiah bertaraf internasional melalui kegiatan International Professor Summit yang digelar pada Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati. Kegiatan ini mengangkat tema “National Numeracy Crisis: The Strategic Role of Mathematics Education, from School to Higher Education.”
Forum ini menjadi wadah strategis bagi para akademisi dan pakar matematika nasional maupun internasional untuk mendiskusikan peran penting matematika dalam menjawab tantangan numerasi serta penerapannya dalam berbagai persoalan nyata, termasuk pengembangan infrastruktur dan sistem jaringan.
Salah satu materi disampaikan oleh Prof. Wamiliana dari Universitas Lampung (UNILA), pakar di bidang Optimization, dengan topik “The Constrained Spanning Tree Problem: Balancing Cost and Constraints.” Dalam paparannya, Prof. Wamiliana membahas pengembangan konsep Minimum Spanning Tree (MST) dalam teori graf dengan memasukkan berbagai kendala nyata yang sering ditemui dalam perencanaan jaringan.
Ia menjelaskan bahwa dalam praktik, desain jaringan tidak hanya mempertimbangkan biaya minimum, tetapi juga harus memperhitungkan berbagai batasan seperti derajat simpul, diameter jaringan, keterbatasan anggaran, hingga periode waktu pembangunan. Beberapa varian penting yang dibahas antara lain Constrained MST, Degree-Constrained MST, Multi-Period Degree-Constrained MST, serta Minimum Routing Cost Spanning Tree, yang banyak diaplikasikan dalam bidang telekomunikasi, transportasi, dan pembangunan infrastruktur.
Lebih lanjut, Prof. Wamiliana menyoroti tantangan komputasi dari permasalahan tersebut yang bersifat NP-hard, sehingga tidak selalu dapat diselesaikan secara eksak. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan solusi alternatif melalui algoritma aproksimasi, metode heuristik, serta pemrograman integer untuk memperoleh solusi yang efisien dan mendekati optimal.
Dalam pernyataannya, Prof. Wamiliana menegaskan bahwa permasalahan jaringan di dunia nyata tidak cukup diselesaikan dengan optimasi biaya semata. “Pendekatan matematika dan algoritma optimasi modern memungkinkan kita memodelkan berbagai kendala secara sistematis, sehingga solusi yang dihasilkan lebih realistis, efisien, dan aplikatif untuk pembangunan infrastruktur berskala besar,” ujarnya.
Pemaparan ini mendapat perhatian peserta karena menunjukkan kontribusi nyata matematika terapan dalam perencanaan dan pengembangan sistem jaringan modern. Melalui International Professor Summit, Universitas Malahayati terus menegaskan komitmennya dalam mendorong diskusi akademik berkualitas serta memperkuat peran matematika sebagai fondasi penting dalam pembangunan berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan.
(fkr)
Editor: Fadly KR