Jejak Sunyi Nurani dan Kuasa

Guru Besar Universitas Malahayati

Oleh: Sudjarwo

Di sebuah wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan, sebuah kisah tentang keberanian dan kesunyian lahir tanpa gemuruh. Kisah ini bukan tentang kemenangan yang dirayakan, melainkan tentang pilihan yang sunyi namun bermakna. Di tanah Minahasa, seorang aparat penegak hukum “yang waras” menemukan dirinya berdiri di persimpangan antara kewajiban institusional dan panggilan hati nurani. Apa yang tampak sebagai tugas biasa, perlahan menjelma menjadi ujian moral yang tidak semua orang mampu menghadapi.

Dalam menjalankan tugasnya, ia mengungkap sebuah praktik korupsi yang telah mengakar. Tindakan tersebut bukanlah hal yang mudah, sebab korupsi sering kali bersembunyi di balik lapisan kepentingan dan relasi kuasa.

Dibutuhkan keberanian untuk membongkar sesuatu yang selama ini dianggap “biasa” oleh sebagian orang. Namun keberanian semacam itu sering kali datang dengan harga yang tidak murah. Ketika kebenaran diungkap, tidak semua pihak menyambutnya dengan tangan terbuka. Justru sebaliknya, mereka yang merasa terganggu mulai menunjukkan resistensi.

Alih-alih mendapatkan dukungan, ia justru menghadapi tekanan dari lingkungan internalnya sendiri. Atasan yang seharusnya menjadi pelindung dan pembimbing, malah menjadi sumber ketidaknyamanan. Situasi ini menggambarkan realitas pahit dalam birokrasi, di mana loyalitas kadang lebih dihargai daripada integritas. Ketika seseorang memilih untuk jujur, ia bisa saja dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai teladan.

Mutasi menjadi alat yang kerap digunakan dalam struktur organisasi untuk mengatur posisi dan peran. Namun dalam konteks tertentu, mutasi bisa berubah makna menjadi bentuk pengucilan halus. Pemindahan ke wilayah yang jauh dan terpencil bukan sekadar rotasi biasa, melainkan sinyal bahwa keberadaannya tidak lagi diinginkan di tempat semula. Di Talaud, sebuah wilayah yang jauh secara geografis, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa sistem tidak selalu berpihak pada mereka yang berani bersuara.

Namun di sinilah letak inti dari kisah ini. Di tengah tekanan dan ketidakadilan, ia tidak memilih untuk tunduk atau berkompromi. Ia justru mengambil keputusan yang jauh lebih berat: “mengundurkan diri”. Keputusan ini bukan bentuk kekalahan, melainkan pernyataan sikap. Ia menolak untuk menjadi bagian dari sistem yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang diyakininya. Dalam dunia yang sering kali memaksa individu untuk menyesuaikan diri, ia memilih untuk tetap setia pada prinsipnya.

Pengunduran diri tersebut mencerminkan keberanian yang berbeda jenisnya. Jika mengungkap korupsi adalah keberanian yang tampak di permukaan, maka meninggalkan jabatan adalah keberanian yang lebih dalam dan personal. Ini adalah keberanian untuk kehilangan, untuk melepaskan status, dan untuk menghadapi ketidakpastian. Tidak semua orang mampu mengambil langkah seperti ini, karena konsekuensinya tidak hanya bersifat profesional, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan yang lebih luas.

Lebih jauh lagi, keputusan tersebut menyiratkan pergulatan batin yang panjang. Tidak ada keputusan besar yang lahir secara tiba-tiba tanpa pertimbangan yang matang.

Di balik langkah mundur itu, ada proses perenungan yang mendalam tentang makna pekerjaan, tanggung jawab, dan tujuan hidup. Ia harus menimbang antara masa depan yang pasti namun penuh kompromi, dengan jalan yang tidak pasti namun selaras dengan nurani. Pergulatan semacam ini sering kali tidak terlihat oleh orang lain, tetapi justru menjadi inti dari kekuatan moral seseorang.

Kisah ini mengajak kita untuk merenungkan kembali makna integritas. Apakah integritas hanya relevan ketika didukung oleh sistem, atau justru diuji ketika sistem tidak berpihak? Dalam banyak kasus, integritas menjadi nilai yang mudah diucapkan namun sulit dipertahankan. Ketika tekanan datang dari berbagai arah, godaan untuk berkompromi menjadi semakin besar. Namun di sinilah nilai sejati seseorang diuji.

Lebih jauh lagi, kisah ini juga membuka ruang refleksi tentang struktur kekuasaan dalam institusi. Ketika kebenaran dianggap sebagai ancaman, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Sistem yang sehat seharusnya mampu menampung kritik dan menghargai keberanian moral. Jika tidak, maka sistem tersebut berisiko kehilangan orang-orang terbaiknya, mereka yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki kompas moral yang kuat.

Di sisi lain, keputusan untuk mundur juga menyiratkan harapan. Harapan bahwa di luar sistem yang tidak ideal, masih ada ruang untuk hidup dengan nilai-nilai yang diyakini. Harapan bahwa kebenaran tidak selalu harus diperjuangkan dari dalam struktur, tetapi bisa juga dijaga melalui pilihan hidup yang konsisten. Dalam diamnya langkah tersebut, tersimpan pesan yang kuat: bahwa kehormatan tidak selalu datang dari jabatan, tetapi dari keberanian untuk tetap jujur.

Kisah ini mungkin tidak akan tercatat dalam buku sejarah besar, namun ia hidup dalam ingatan kolektif sebagai contoh tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh. Di tengah dunia yang penuh kompromi, pilihan untuk tetap setia pada hati nurani adalah bentuk perlawanan yang paling murni. Ia tidak membutuhkan panggung, tidak memerlukan sorotan, namun dampaknya bisa melampaui batas ruang dan waktu.

Pada akhirnya, jejak yang ditinggalkan bukanlah tentang posisi atau pangkat, melainkan tentang nilai. Nilai yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dipaksakan, dan tidak bisa dimanipulasi. Dalam kesunyian Talaud dan keputusan yang diambil dengan penuh kesadaran, kita menemukan pelajaran penting: bahwa kadang, untuk tetap menjadi benar, seseorang harus berani berjalan sendiri.***

Rumah Sakit yang Mengobati Rasa

Guru Besar Universitas Malahayati

Oleh: Sudjarwo

Beberapa hari ini, pengalaman mendampingi salah seorang anak penulis yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di daerah ini; yang sedang dirawat di sebuah rumah sakit swasta ternama, di Ruang Delima Atas N0.17; menghadirkan perspektif baru tentang makna pelayanan kesehatan. Rumah sakit tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk mengobati penyakit secara medis, tetapi juga ruang di mana harapan, kenyamanan, dan kepercayaan dibangun secara bersamaan. Jargon yang mereka gaungkan tampaknya bukan sekadar slogan kosong, melainkan benar-benar tercermin dalam praktik sehari-hari.

Sejak langkah pertama memasuki lingkungan rumah sakit, suasana yang tercipta sudah berbeda dari gambaran umum fasilitas kesehatan yang seringkali identik dengan ketegangan dan kecemasan. Tata ruang yang bersih, pencahayaan yang hangat, serta keramahan petugas di setiap sudut memberikan kesan bahwa tempat ini dirancang bukan hanya untuk menyembuhkan tubuh, tetapi juga menenangkan jiwa. Dalam kondisi seperti itu, tidak mengherankan jika pasien, bahkan sebelum menerima tindakan medis; sudah merasakan perbaikan secara psikologis.

Pelayanan yang diberikan tenaga kesehatan di sana sebagian besar menunjukkan profesionalisme yang tinggi. Mereka tidak hanya menjalankan tugas secara teknis, tetapi juga mampu membangun komunikasi yang menenangkan. Senyum, sapaan hangat, dan kesabaran dalam menjelaskan kondisi pasien menjadi bagian penting dari proses penyembuhan. Dalam konteks ini, interaksi manusiawi menjadi obat awal yang seringkali terlupakan dalam sistem pelayanan kesehatan yang terlalu berorientasi pada prosedur dan efisiensi.

Bagi seorang seseorang yang sedang sakit, pendekatan seperti ini memiliki dampak yang jauh lebih besar. Ketakutan terhadap jarum suntik, rasa asing terhadap lingkungan rumah sakit, hingga kecemasan akan rasa sakit dapat berkurang ketika tenaga kesehatan mampu menghadirkan rasa aman. Tidak jarang pasien justru terlihat lebih tenang dan kooperatif ketika diperlakukan dengan empati. Hal ini menunjukkan bahwa penyembuhan tidak hanya bergantung pada obat-obatan, tetapi juga pada kualitas hubungan antara pasien dan tenaga medis.

Lebih jauh lagi, keluarga pasien juga merasakan dampak yang signifikan. Dalam situasi penuh kekhawatiran, sikap ramah dan kepedulian dari tenaga kesehatan dapat menjadi sumber kekuatan tersendiri. Penjelasan yang jelas dan tidak terburu-buru membuat keluarga merasa dilibatkan dalam proses perawatan, bukan sekadar menjadi penonton. Kepercayaan pun tumbuh, dan dengan kepercayaan tersebut, beban emosional yang dirasakan menjadi jauh lebih ringan.

Namun, di balik kesempurnaan yang tampak, tetap ada celah kecil yang menunjukkan bahwa sistem ini belum sepenuhnya ideal. Masih saja ada oknum tenaga kesehatan yang, dengan berbagai alasan, memberikan pelayanan yang terkesan setengah hati. Entah karena kelelahan, tekanan kerja yang tinggi, atau faktor pribadi lainnya, sikap tersebut tetap menjadi catatan penting. Meskipun jumlahnya tidak signifikan, keberadaan mereka menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan sangat bergantung pada konsistensi individu di dalamnya.

Fenomena ini mengingatkan bahwa dibalik sistem yang baik, manusia tetap menjadi faktor penentu utama. Standar operasional, fasilitas modern, dan manajemen yang rapi tidak akan cukup tanpa didukung oleh komitmen personal dari setiap tenaga kesehatan. Ketika ada satu saja yang abai, pengalaman pasien bisa berubah. Meski demikian, dalam kasus ini, kekurangan tersebut tidak serta-merta merusak keseluruhan layanan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem yang kuat mampu menopang dan menjaga kualitas secara umum.

Ungkapan “sembuh sebelum berobat” mungkin terdengar berlebihan, tetapi dalam konteks ini, ungkapan tersebut memiliki makna yang cukup relevan. Ketika pasien merasa dihargai, diperhatikan, dan diperlakukan dengan baik, kondisi mental mereka akan membaik. Dan seperti yang telah banyak dibuktikan, kondisi psikologis yang positif memiliki kontribusi besar terhadap proses penyembuhan fisik. Dengan kata lain, pelayanan yang baik dapat menjadi katalis yang mempercepat efektivitas pengobatan medis.

Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan yang ideal seharusnya bersifat holistik. Tidak cukup hanya mengobati gejala penyakit, tetapi juga harus memperhatikan aspek emosional dan psikologis pasien. Rumah sakit yang mampu mengintegrasikan ketiga aspek tersebut akan memiliki nilai lebih yang tidak tergantikan oleh teknologi semata. Di tengah kemajuan alat medis dan digitalisasi layanan, sentuhan manusia justru menjadi elemen yang paling dirindukan.

Pengalaman ini juga membuka ruang refleksi yang lebih luas tentang arah pelayanan kesehatan ke depan. Apakah sistem kesehatan kita sudah benar-benar menempatkan pasien sebagai pusat pelayanan? Apakah tenaga kesehatan telah mendapatkan dukungan yang cukup untuk tetap menjaga kualitas interaksi mereka dengan pasien? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting untuk memastikan bahwa kualitas pelayanan tidak hanya tinggi di permukaan, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.

Di sisi lain, penting juga untuk memahami bahwa tenaga kesehatan bekerja dalam tekanan yang tidak ringan. Jam kerja yang panjang, tuntutan profesional yang tinggi, serta tanggung jawab besar terhadap keselamatan pasien seringkali menjadi beban tersendiri. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pelayanan tidak bisa hanya dibebankan kepada individu, tetapi juga harus didukung oleh sistem yang memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan itu sendiri.

Akhirnya, pengalaman mendampingi pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa pelayanan kesehatan yang ideal adalah perpaduan antara keahlian medis dan sentuhan kemanusiaan. Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi fasilitas, nilai-nilai dasar seperti empati, kepedulian, dan kehangatan justru menjadi pembeda utama yang tidak tergantikan.

Jika konsep ini dapat diterapkan secara konsisten di berbagai fasilitas kesehatan, maka bukan tidak mungkin ungkapan “sembuh sebelum berobat” akan menjadi kenyataan yang lebih luas. Sebuah kondisi di mana pasien tidak hanya datang untuk mencari kesembuhan, tetapi juga menemukan ketenangan, rasa aman, dan harapan sejak langkah pertama mereka memasuki ruang perawatan. Dalam dunia yang semakin kompleks, pendekatan seperti ini justru menjadi sederhana sekaligus esensial: memanusiakan manusia dalam setiap proses penyembuhan.
Salam Sehat dari Delima Atas 17 (R-2)

Antara Hukum dan Keadilan di Tengah Kebun Tebu Waykanan

Penulis Prof. Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati

Dua hari lalu, Herman Batin Mangku (HBM) menulis tentang nasib para karyawan PT Pemuka Sakti Manis Indah (PSMI)—tentang mereka yang menggantungkan hidup pada pabrik, namun kini harus menunggu sesuatu yang tak kunjung pasti: hak mereka sendiri.

Pabrik gula bukan sekadar tempat produksi. Ia adalah ruang hidup. Di sanalah buruh tebang memanggul batang-batang tebu, buruh angkut menggerakkan roda logistik, dan pekerja pabrik menjaga agar mesin tetap bernyawa.

Di sanalah ribuan harapan dititipkan, dari uang sekolah anak hingga dapur yang harus tetap mengepul setiap hari. Namun ketika hukum datang dengan wajahnya yang kaku—tegas, dingin, dan tak memberi ruang—yang terhenti bukan hanya aktivitas produksi. Yang ikut terhenti adalah kehidupan.

Mesin-mesin bisa saja berhenti tanpa suara, tetapi kegelisahan para buruh berisik di dalam dada. Mereka yang tak tahu-menahu soal perkara hukum, justru menjadi pihak pertama yang menanggung akibat.Upah terhenti, pekerjaan hilang, dan masa depan berubah menjadi tanda tanya panjang.

Ketidakpastian adalah luka yang tak tampak, tetapi terasa dalam. Ia hadir setiap malam, saat kepala keluarga menghitung sisa uang di dompet. Ia mengendap di pagi hari, saat anak-anak bertanya tentang uang sekolah. Ia tumbuh dalam diam, saat kebutuhan hidup terus berjalan tanpa bisa ditunda.

Dalam situasi seperti ini, hukum yang seharusnya menjadi pelindung, justru terasa menjauh dari rasa keadilan. Ia berdiri tegak sebagai aturan, tetapi kehilangan sentuhan kemanusiaannya.
Di sinilah ironi itu muncul: mereka yang bekerja paling keras justru berada di posisi paling rapuh.

Sementara di tempat lain, ada yang mungkin tetap memperoleh keuntungan—atau setidaknya tidak merasakan beban yang sama.

Hukum memang harus ditegakkan. Ia tidak boleh tunduk pada kepentingan. Namun hukum juga bukan sekadar kumpulan pasal yang beku. Ia hidup dalam masyarakat, dan karena itu semestinya mampu merasakan denyut kehidupan yang diaturnya.

Keadilan tidak berhenti pada benar atau salah secara formal. Keadilan juga berbicara tentang dampak—tentang siapa yang paling terdampak, siapa yang paling rentan, dan siapa yang membutuhkan perlindungan lebih.

Para buruh PSMI bukan angka dalam laporan. Mereka adalah manusia dengan wajah, dengan keluarga, dengan cerita. Mereka adalah ayah yang ingin anaknya tetap sekolah, ibu yang ingin dapurnya tetap menyala, dan generasi yang berharap hidupnya sedikit lebih baik dari hari kemarin.

Ketika hukum berjalan tanpa mempertimbangkan itu semua, maka ia kehilangan ruhnya. Ia mungkin tetap sah, tetapi terasa jauh dari adil.

Karena itu, persoalan ini tidak bisa dilihat secara sempit. Menyelesaikan aspek hukum perusahaan memang penting, tetapi tidak cukup. Harus ada langkah yang memastikan para buruh tidak ditinggalkan dalam gelapnya ketidakpastian.

Negara, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan perlu hadir—bukan sekadar sebagai pengamat, tetapi sebagai penjamin bahwa kehidupan para pekerja tetap berlanjut. Bantuan sementara, skema pekerjaan alternatif, atau kebijakan yang berpihak pada buruh bukanlah kemurahan hati, melainkan bentuk tanggung jawab.

Solidaritas menjadi kata kunci. Sebab di saat sistem belum sepenuhnya mampu melindungi, kepedulianlah yang bisa menjadi jembatan. Kisah di kebun tebu Waykanan ini pada akhirnya adalah cermin. Ia memperlihatkan jurang antara hukum dan keadilan, antara mereka yang tetap berdiri dan mereka yang harus jatuh.

Dan dari sana kita belajar, bahwa setiap keputusan besar selalu membawa konsekuensi kemanusiaan.
Harapan itu masih ada—meski tipis, meski nyaris tak terdengar. Harapan bahwa hukum tidak hanya tajam dalam menegakkan aturan, tetapi juga lembut dalam merangkul keadilan.

Harapan bahwa suatu hari nanti, tidak ada lagi yang harus bertanya: siapa yang menikmati dan siapa yang gigit jari. Karena keadilan, sejatinya, adalah milik semua.

Salam waras.

ANTARA MIMBAR DAN LATAR

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Ingat masa kampanye  lalu yang selalu dipenuhi dengan kata-kata manis yang terdengar menenangkan telinga rakyat. Dari atas mimbar, para calon pemimpin mengucapkan janji yang seolah menjadi jawaban atas berbagai kesulitan hidup masyarakat. Mereka berbicara tentang pendidikan gratis, kesehatan gratis, bantuan untuk masyarakat miskin, hingga berbagai program yang digambarkan akan meringankan beban rakyat. Kata “gratis” sering diulang-ulang dengan penuh keyakinan, seakan menjadi jaminan bahwa kehidupan akan berubah menjadi lebih baik jika mereka diberi kepercayaan untuk memimpin. Bahkan guna meyakinkan dalam orasinya diselingi “gebrak-gebrak” meja podium.

Dalam suasana kampanye, mimbar menjadi panggung harapan. Para calon pemimpin memahami bahwa rakyat sedang mencari harapan tersebut. Ketika kehidupan terasa berat, ketika harga kebutuhan meningkat, dan ketika kesempatan ekonomi terasa sempit, janji-janji itu menjadi seperti cahaya yang memberikan harapan baru. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian menaruh keyakinan bahwa perubahan besar akan terjadi begitu pemimpin baru terpilih.

Namun sering kali, setelah proses pemilihan usai dan kursi kekuasaan telah diduduki, kenyataan yang muncul justru berbeda dari apa yang dahulu dijanjikan. Mimbar yang dahulu penuh dengan kata-kata manis berubah menjadi latar belakang dari kebijakan yang justru berlawanan dengan harapan rakyat. Janji tentang berbagai hal yang akan digratiskan perlahan memudar, digantikan oleh keputusan-keputusan yang terasa semakin membebani masyarakat. Mereka yang terpilih tidak jarang justru menunjukkan perilaku Narcisstic Personality Disorder (NPD).

Salah satu perubahan yang sering dirasakan adalah kenaikan pajak. Kebijakan ini biasanya dijelaskan sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas negara atau untuk membiayai pembangunan. Secara teoritis, pajak memang merupakan sumber utama pendapatan negara. Namun bagi masyarakat kecil, kenaikan pajak sering kali terasa seperti tambahan beban yang sulit ditanggung. Ketika penghasilan tidak bertambah tetapi kewajiban meningkat, kehidupan sehari-hari menjadi semakin berat.

Di sinilah jarak antara mimbar dan latar menjadi sangat jelas. Mimbar adalah tempat janji diucapkan, tempat harapan dibangun, dan tempat rakyat diyakinkan bahwa masa depan akan lebih baik. Latar adalah realitas setelah kekuasaan diperoleh, ketika kebijakan harus diambil dan kepentingan yang berbeda mulai saling mempengaruhi. Dalam banyak kasus, jarak antara keduanya ternyata sangat jauh.

Fenomena ini tidak hanya terjadi sekali atau di satu tempat saja. Ia menjadi pola yang berulang dalam banyak sistem politik. Janji sering kali menjadi alat untuk memenangkan dukungan, bukan komitmen yang benar-benar direncanakan untuk diwujudkan. Dalam situasi seperti itu, rakyat sering kali menjadi pihak yang paling dirugikan, karena mereka memberikan kepercayaan berdasarkan harapan yang ternyata tidak dipenuhi. Bisa dibayangkan sebelum mencalonkan diri berjanji itu diakui sebagai pribadi, setelah terpilih dan menjadi pejabat, itu dimaknai sebagai alat negara. Akhir bisa seenaknya membatalkan ijin penggunaan fasilitas umum utuk kepentingan umum.

Namun persoalan ini sebenarnya tidak hanya terletak pada para pemimpin saja. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menentukan arah politik. Ketika rakyat mudah terpikat oleh janji-janji yang terdengar indah tanpa menilai secara kritis apakah janji tersebut realistis atau tidak, maka ruang bagi politik yang penuh retorika akan terus terbuka. Janji yang terlalu sempurna sering kali justru patut dipertanyakan, karena kebijakan publik pada kenyataannya selalu melibatkan berbagai keterbatasan.

Selain itu, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci penting untuk memperkecil jarak antara mimbar dan latar. Pemimpin yang benar-benar memiliki komitmen kepada rakyat akan berusaha menjelaskan secara jujur apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat diwujudkan. Kejujuran semacam ini mungkin tidak selalu terdengar menyenangkan, tetapi ia jauh lebih berharga daripada janji yang pada akhirnya tidak ditepati.

Kematangan politik sebuah masyarakat juga terlihat dari kemampuannya menilai pemimpin bukan hanya dari kata-kata, tetapi juga dari rekam jejak, sikap, dan konsistensi tindakan. Ketika pemilih mulai menuntut tanggung jawab yang nyata, para calon pemimpin akan semakin berhati-hati dalam mengucapkan janji. Mereka akan menyadari bahwa mimbar bukan sekadar panggung retorika, melainkan tempat di mana komitmen moral kepada rakyat seharusnya ditegaskan.

Pada akhirnya, hubungan antara rakyat dan pemimpin dibangun di atas kepercayaan. Kepercayaan itu tidak lahir dari janji yang diucapkan dengan penuh semangat, tetapi dari kesesuaian antara kata dan tindakan. Jika mimbar dipenuhi dengan janji yang berbeda dengan realitas di latar kekuasaan, maka kepercayaan itu perlahan akan runtuh.   Karena itu, pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin, tetapi juga tentang menjaga agar janji yang diucapkan di mimbar tidak hilang ketika lampu kampanye padam dan kekuasaan benar-benar berada di tangan mereka yang terpilih. Ketika mimbar dan latar dapat berjalan seiring, barulah harapan rakyat tidak lagi sekadar menjadi kata-kata, melainkan kenyataan yang benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. pertanyaan tersisa adalah “kapan”? dan atau “utopiakah”?. Mari kita tanyakan pada “ODGJ” yang sedang lewat.

Salam Waras

Seni di Kursi Terdakwa

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

Di sebuah sudut negeri yang jauh dari pusat perhatian, lahir sebuah gagasan yang sesungguhnya sederhana namun sarat makna: mendokumentasikan kemajuan desa melalui karya video. Gagasan ini bukan sekadar upaya teknis merekam gambar dan suara, melainkan sebuah proses kreatif yang berangkat dari pengamatan sosial, pemahaman budaya, serta keinginan untuk merangkai narasi tentang perubahan. Video tersebut dimaksudkan sebagai wajah desa, sebuah representasi visual yang mampu menunjukkan identitas, perkembangan, dan potensi yang dimiliki masyarakatnya. Namun alih-alih diapresiasi sebagai bentuk inovasi, karya tersebut justru menyeret pembuatnya ke dalam pusaran persoalan hukum yang serius.

Peristiwa ini menjadi cermin betapa rapuhnya pemahaman kita terhadap nilai seni dan kreativitas. Dalam sistem yang sangat bergantung pada ukuran-ukuran kuantitatif, segala sesuatu dituntut untuk dapat dibuktikan secara konkret, dihitung secara matematis, dan dipertanggungjawabkan dalam bentuk angka. Sementara itu, seni dan kreativitas justru hidup dalam ruang yang berbeda; ruang yang tidak selalu bisa diterjemahkan ke dalam angka, tetapi memiliki dampak yang nyata dalam membentuk cara pandang, identitas, dan bahkan arah perkembangan sebuah komunitas.

Pembuatan video desa adalah bentuk kerja intelektual yang kompleks. Ia melibatkan riset tentang kondisi sosial, pemilihan sudut pandang, penyusunan alur cerita, hingga proses teknis pengambilan dan penyuntingan gambar. Setiap tahap membutuhkan keahlian, pengalaman, dan intuisi artistik yang tidak dapat diukur secara sederhana. Namun dalam kasus ini, seluruh proses tersebut seolah dipangkas habis dan direduksi menjadi satu pertanyaan tunggal: berapa nilai ekonominya? Ketika jawaban atas pertanyaan itu tidak memuaskan logika administratif, maka karya tersebut dianggap tidak bernilai.

Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Sistem hukum dan ekonomi yang seharusnya menjadi alat untuk mengatur dan melindungi justru berubah menjadi mekanisme yang membatasi dan bahkan menekan. Ketika hukum hanya mengakui apa yang bisa dilihat secara fisik dan dihitung secara pasti, maka segala bentuk ekspresi kreatif akan selalu berada dalam posisi rentan. Ia bisa dengan mudah disalahpahami, diremehkan, atau bahkan dicurigai sebagai sesuatu yang menyimpang.
Lebih jauh lagi, kasus ini menunjukkan adanya jurang yang lebar antara wacana dan praktik dalam pembangunan berbasis kreativitas. Di berbagai forum dan dokumen resmi, kreativitas sering disebut sebagai kunci masa depan. Pemerintah mendorong lahirnya inovasi, mempromosikan ekonomi kreatif, dan mengajak masyarakat untuk berpikir di luar kebiasaan. Namun ketika kreativitas itu benar-benar muncul dalam bentuk nyata, sistem yang ada justru tidak siap untuk menerimanya. Tidak ada instrumen yang memadai untuk menilai karya kreatif secara adil, sehingga yang terjadi adalah penilaian yang dipaksakan menggunakan standar yang tidak relevan.

Akibatnya sangat serius. Ketika sebuah karya seni dinyatakan tidak memiliki nilai hanya karena tidak sesuai dengan parameter administratif, maka pesan yang disampaikan kepada masyarakat menjadi sangat jelas: bahwa kreativitas adalah sesuatu yang berisiko. Bahwa inovasi bukanlah jalan yang aman. Bahwa lebih baik mengikuti pola lama yang sudah pasti diterima daripada mencoba sesuatu yang baru yang belum tentu dipahami. Pesan ini secara perlahan akan membunuh semangat berkarya, mematikan keberanian untuk bereksperimen, dan pada akhirnya menghambat kemajuan itu sendiri. Yang lebih mengkhawatirkan, situasi ini menciptakan ketidakadilan epistemik; sebuah kondisi di mana bentuk pengetahuan tertentu dianggap lebih sah daripada yang lain. Pengetahuan yang berbasis angka, laporan, dan dokumen resmi dianggap lebih valid, sementara pengetahuan yang lahir dari pengalaman, interpretasi, dan kreativitas dianggap kurang dapat dipercaya. Padahal, dalam banyak kasus, justru pendekatan kreatiflah yang mampu menangkap realitas secara lebih utuh dan mendalam.

Dalam konteks pembangunan desa, video sebagai medium kreatif memiliki peran yang sangat strategis. Ia dapat menjadi alat untuk memperkenalkan potensi lokal, menarik perhatian pihak luar, serta membangun rasa bangga di kalangan masyarakat. Video mampu menyampaikan pesan dengan cara yang lebih emosional dan mudah dipahami dibandingkan laporan tertulis yang kaku. Dengan kata lain, ia bukan hanya produk seni, tetapi juga alat komunikasi yang efektif dan relevan dengan perkembangan zaman. Namun semua potensi ini menjadi tidak berarti ketika sistem gagal melihatnya.

Ketika karya tersebut dihadapkan pada meja pengadilan dan dinilai dengan kriteria yang sempit, maka yang terjadi bukan hanya kesalahan penilaian, tetapi juga kegagalan kolektif dalam memahami arah perubahan. Dunia saat ini bergerak menuju ekonomi berbasis ide, di mana nilai tidak lagi hanya ditentukan oleh barang fisik, tetapi juga oleh kreativitas, inovasi, dan kemampuan untuk menciptakan makna. Jika kita tidak mampu menyesuaikan cara pandang dengan realitas ini, maka kita akan tertinggal.

Kasus ini juga mengingatkan kita bahwa hukum tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu dipengaruhi oleh cara pandang, asumsi, dan nilai-nilai yang dianut oleh para pelakunya. Ketika para penegak hukum tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang seni dan kreativitas, maka keputusan yang dihasilkan pun berpotensi bias. Oleh karena itu, penting untuk membangun dialog lintas disiplin, agar hukum tidak hanya menjadi alat penegak aturan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kompleksitas kehidupan modern.

Di sisi lain, perlu ada upaya serius untuk mengembangkan mekanisme evaluasi yang lebih inklusif terhadap karya kreatif. Tidak semua hal harus diukur dengan angka, tetapi bukan berarti tidak bisa dinilai sama sekali. Dibutuhkan pendekatan yang lebih kontekstual, yang mempertimbangkan proses, tujuan, serta dampak dari sebuah karya. Dengan demikian, penilaian yang dilakukan tidak lagi bersifat reduktif, melainkan mampu menangkap nilai secara lebih utuh.

Pada akhirnya, tragedi ini bukan hanya tentang satu karya atau satu individu. Ia adalah refleksi dari sistem yang belum sepenuhnya siap menghadapi perubahan zaman. Ketika kreativitas diadili dan dianggap tidak bernilai, maka yang sebenarnya sedang dipertaruhkan adalah masa depan kita sendiri. Apakah kita ingin menjadi masyarakat yang terus bergerak maju dengan membuka ruang bagi ide-ide baru, atau justru terjebak dalam ketakutan dan kecurigaan terhadap hal-hal yang belum kita pahami? Jawabannya ada dalam kejernihan kita dalam berfikir secara waras dan bertanggung jawab.
Salam Waras (R-1)

Hari Raya (lagi)

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

Setiap tahun siklus yang sama kembali berulang. Setelah sebulan penuh menjalani Ramadan, bulan pengendalian diri, kesabaran, dan kepekaan sosial; masyarakat memasuki Idulfitri dengan gegap gempita. Jalanan penuh, pasar sesak, rumah-rumah dibersihkan, hidangan disiapkan, dan pakaian baru dibeli. Namun di balik semarak itu, ada ironi yang jarang disadari.

Mereka yang paling sibuk menyambut Idulfitri justru sering kali bukan mereka yang menjalani proses spiritual selama Ramadan. Idulfitri pada hakikatnya adalah puncak perjalanan spiritual. Ia bukan sekadar perayaan setelah menahan lapar dan haus, tetapi simbol kembalinya manusia kepada kesucian, kepada kesadaran bahwa hidup bukan semata tentang diri sendiri. Selama Ramadan, orang diajak untuk merasakan lapar agar memahami penderitaan orang lain, menahan keinginan agar belajar mengendalikan nafsu, serta memperbanyak amal agar menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kepemilikan. Namun ketika Idulfitri tiba, semangat itu sering kali berubah arah. Yang tampak justru perlombaan konsumsi, pamer kemewahan, dan tradisi yang semakin jauh dari nilai yang diajarkan selama Ramadan.

Kesibukan yang muncul menjelang Idulfitri sering kali tidak lagi berkaitan dengan refleksi spiritual. Banyak orang lebih sibuk mempersiapkan simbol-simbol lahiriah daripada memperkuat makna batin. Rumah harus terlihat paling rapi, makanan harus berlimpah, pakaian harus baru, dan segala sesuatu harus tampak meriah. Di tengah semua itu, makna kemenangan yang seharusnya dirasakan oleh mereka yang berjuang selama Ramadan justru menjadi kabur. Seolah-olah Idulfitri berubah menjadi perayaan sosial yang berdiri sendiri, terlepas dari proses spiritual yang melahirkannya.
Ironinya lagi, dalam suasana yang seharusnya dipenuhi semangat berbagi, manusia tetap saja sibuk berhimpun untuk dirinya sendiri.

Tradisi berbagi memang ada, tetapi sering kali dilakukan sekadar untuk memenuhi kewajiban atau menjaga citra. Bantuan diberikan, namun tidak selalu disertai kesadaran mendalam tentang ketimpangan yang terjadi. Kadang-kadang bahkan pemberian itu menjadi bagian dari ritual sosial yang lebih menonjolkan pemberi daripada memperhatikan martabat penerima. Dalam kondisi seperti ini, berbagi kehilangan ruhnya sebagai tindakan empati dan berubah menjadi formalitas yang diulang setiap tahun.

Sementara itu, bagi sebagian orang miskin, Idulfitri justru menjadi pengingat yang menyakitkan tentang keadaan mereka. Di saat orang lain merayakan kemenangan dengan pakaian baru dan meja makan penuh hidangan, mereka terpaksa meneguhkan kembali kenyataan hidup yang serba kekurangan. Tidak sedikit yang akhirnya berdiri di pinggir jalan, di pasar, bahkan di depan rumah ibadah, berharap belas kasihan dari mereka yang sedang merayakan hari kemenangan. Pemandangan ini bukan sekadar persoalan individu yang meminta-minta, tetapi cerminan dari struktur sosial yang belum mampu menghadirkan keadilan yang lebih luas.

Ada paradoks yang sulit diabaikan. Di satu sisi, Idulfitri sering disebut sebagai momen kebersamaan dan solidaritas sosial. Di sisi lain, kesenjangan justru terlihat semakin jelas. Rumah-rumah yang penuh makanan berdiri tidak jauh dari orang-orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Senyum perayaan bercampur dengan tatapan harap yang sunyi. Situasi ini menunjukkan bahwa semangat berbagi yang sering dibicarakan belum sepenuhnya menjelma menjadi sistem sosial yang benar-benar memuliakan yang lemah.

Di tingkat yang lebih luas, keadaan ini juga mencerminkan bagaimana kekuasaan dan kebijakan sering kali kehilangan arah moralnya. Mereka yang memiliki tanggung jawab untuk mendahulukan kesejahteraan masyarakat miskin kadang justru larut dalam kepentingan sendiri. Momentum hari besar yang seharusnya menjadi kesempatan memperkuat solidaritas sosial malah berubah menjadi ruang transaksi kepentingan. Komisi dibagi, proyek diatur, dan keuntungan pribadi dicari atas nama perayaan yang seharusnya sarat makna spiritual. Dalam situasi seperti ini, nilai-nilai yang diajarkan selama Ramadan seolah berhenti hanya pada tingkat retorika.

Padahal, jika dimaknai dengan sungguh-sungguh, Idulfitri seharusnya menjadi titik balik. Ia adalah momen ketika manusia diingatkan bahwa keberhasilan menahan diri selama Ramadan tidak boleh berhenti pada praktik pribadi. Kesabaran, empati, dan kepedulian yang dilatih selama sebulan seharusnya meluas menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sosial. Idulfitri bukan hanya hari untuk saling memaafkan, tetapi juga hari untuk memperbaiki cara kita memandang sesama manusia.

Ketika seseorang benar-benar memahami makna puasa, ia tidak akan memandang kemiskinan sebagai pemandangan biasa yang muncul setiap tahun. Ia akan merasa terusik melihat ketimpangan yang begitu nyata. Ia akan menyadari bahwa kemenangan spiritual tidak lengkap jika masih ada orang yang terpaksa mengulurkan tangan untuk sekadar bertahan hidup. Dalam kesadaran itu, berbagi tidak lagi menjadi kewajiban musiman, tetapi menjadi sikap hidup yang terus menerus.

Pada akhirnya, Idulfitri bukan sekadar perayaan yang datang setelah Ramadan. Ia adalah cermin yang memperlihatkan sejauh mana manusia benar-benar belajar dari proses yang telah dijalani. Jika setelah sebulan menahan diri manusia masih terjebak dalam keserakahan, masih menutup mata terhadap penderitaan orang lain, dan masih menggunakan momentum suci untuk kepentingan pribadi, maka kemenangan yang dirayakan mungkin hanya bersifat simbolik.
Lebaran seharusnya bukan hari ketika manusia paling sibuk menunjukkan apa yang dimiliki, melainkan hari ketika manusia paling tulus menyadari bahwa hidup tidak bisa dijalani sendirian. Tanpa kesadaran itu, setiap tahun kita mungkin tetap merayakan Idulfitri dengan meriah, tetapi makna yang sesungguhnya akan terus terasa semakin jauh bahkan hampa.
Selamat Idulfitri (R-1)

Sisa yang Tertinggal

Oleh: Sudjarwo

Ada satu pemandangan yang selalu berulang setiap tahun, seolah menjadi siklus yang tak pernah gagal. Ketika bulan puasa tiba, masjid-mushola kembali hidup. Barisan saf memanjang hingga ke pelataran, suara salam bergaung lebih ramai, dan langkah kaki menuju rumah ibadah terasa lebih ringan. Subuh yang biasanya sunyi mendadak penuh dengan manusia yang seakan berlomba menggapai sesuatu yang lebih dari sekadar rutinitas. Namun, begitu satu Syawal berlalu, keramaian itu perlahan menyusut. Barisan kembali renggang, saf-saf yang dahulu rapat kini menyisakan ruang kosong, dan suasana kembali seperti sediakala. Ibadah, dalam kenyataannya, sering kali menjadi sesuatu yang musiman.

Fenomena ini menghadirkan pertanyaan yang tidak sederhana. Mengapa semangat yang begitu besar dalam satu waktu bisa menguap dalam waktu yang relatif singkat? Apakah dorongan itu lahir dari kesadaran yang mendalam, atau sekadar momentum yang terbentuk oleh suasana kolektif? Bulan puasa memang memiliki daya dorong yang luar biasa. Ia bukan hanya ritual pribadi, tetapi juga pengalaman sosial yang membentuk lingkungan. Ketika semua orang berpuasa, ketika suasana malam dihidupkan oleh ibadah, dan ketika percakapan sehari-hari dipenuhi dengan nilai-nilai spiritual, maka individu pun terdorong untuk ikut larut di dalamnya.

Namun, justru di situlah letak persoalannya. Ketika ibadah bergantung pada suasana, maka ia kehilangan akar yang kokoh dalam diri. Ia menjadi seperti daun yang mudah bergoyang oleh angin. Selama angin itu bertiup kencang, ia tampak hidup dan bergerak. Tetapi ketika angin berhenti, ia pun kembali diam, bahkan layu. Ibadah yang hanya tumbuh karena musim akan kesulitan bertahan di luar musim itu sendiri. Kondisi ini memperlihatkan bahwa manusia sering kali lebih mudah terdorong oleh kebersamaan daripada kesadaran pribadi.

Ada rasa nyaman dalam melakukan sesuatu bersama-sama. Ada semacam energi kolektif yang mengangkat semangat, membuat hal yang berat terasa ringan. Bangun di waktu subuh yang biasanya sulit menjadi lebih mudah ketika diketahui bahwa banyak orang melakukan hal yang sama. Namun, ketika kebersamaan itu memudar, ujian sesungguhnya justru dimulai. Di situlah terlihat apakah ibadah benar-benar menjadi kebutuhan jiwa, atau sekadar kebiasaan sementara.

Lebih jauh lagi, fenomena ini juga mengungkap bagaimana manusia memaknai waktu. Bulan puasa sering dianggap sebagai waktu khusus untuk memperbaiki diri, seolah-olah di luar itu, upaya tersebut bisa ditunda. Padahal, jika ibadah hanya dikerjakan secara intens dalam satu bulan, lalu diabaikan di bulan-bulan berikutnya, maka proses pembentukan diri menjadi terputus-putus. Ia seperti seseorang yang hanya berlatih dalam waktu singkat, lalu berhenti sepenuhnya, berharap hasilnya tetap bertahan.

Dalam kenyataannya, perubahan yang sejati membutuhkan konsistensi. Ia tidak lahir dari ledakan semangat sesaat, melainkan dari langkah-langkah kecil yang terus dijaga. Justru nilai dari bulan puasa seharusnya terletak pada kemampuannya menjadi titik awal, bukan puncak yang kemudian diikuti oleh penurunan. Ia adalah latihan, bukan tujuan akhir. Latihan untuk membentuk kebiasaan, menguatkan niat, dan menanamkan kesadaran yang lebih dalam.

Ketika masjid kembali sepi setelah satu Syawal, itu bukan sekadar perubahan jumlah jamaah. Ia adalah cermin yang memperlihatkan kondisi batin manusia. Sepi itu mengajak untuk bertanya: apakah hubungan dengan ibadah selama ini bersifat sementara, atau memang sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan?

Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban yang diucapkan, tetapi yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan suasana memang memengaruhi manusia. Tidak semua orang mampu mempertahankan intensitas yang sama sepanjang waktu. Namun, perbedaan intensitas bukan berarti harus jatuh ke titik terendah. Ada ruang di antara keduanya, ruang di mana seseorang tetap menjaga kesinambungan, meskipun tidak sekuat saat bulan puasa. Di ruang itulah sebenarnya keteguhan diuji.

Selain itu, ada kecenderungan manusia untuk merasa “cukup” setelah melewati satu fase yang dianggap berat. Bulan puasa sering dipahami sebagai pencapaian, bukan sebagai proses. Setelah ia berlalu, muncul perasaan seolah-olah telah menunaikan sesuatu yang besar, sehingga dorongan untuk melanjutkan menjadi melemah. Padahal, dalam makna yang lebih dalam, ibadah tidak mengenal garis akhir. Ia adalah perjalanan yang terus berlangsung, tanpa batas waktu yang pasti. Ketika satu fase selesai, seharusnya ia membuka pintu bagi fase berikutnya, bukan justru menutupnya.

Dalam konteks itu, sepinya masjid setelah musim ramai bisa juga dipahami sebagai ujian lanjutan. Jika pada bulan puasa manusia diuji dengan menahan diri, maka setelahnya ia diuji dengan mempertahankan. Menahan mungkin terasa berat karena membutuhkan usaha, tetapi mempertahankan sering kali lebih sulit karena membutuhkan kesadaran yang terus hidup. Ia tidak lagi didukung oleh suasana, tidak lagi ditopang oleh kebiasaan bersama, melainkan sepenuhnya bergantung pada kekuatan dari dalam diri.

Akhirnya, fenomena ibadah yang musiman bukan hanya soal ramai dan sepi, tetapi tentang bagaimana manusia memahami dirinya sendiri. Apakah ia hanya bergerak ketika didorong oleh keadaan, atau mampu berjalan dengan kesadaran yang lahir dari dalam?

Musim boleh datang dan pergi, tetapi nilai yang ditanamkan seharusnya tidak ikut menghilang. Sebab, yang dicari dari setiap ibadah bukanlah keramaian sesaat, melainkan perubahan yang menetap. Maka, ketika suatu pagi masjid terasa lebih lengang daripada biasanya, mungkin itu bukan sekadar kehilangan suasana. Itu adalah undangan diam untuk kembali menata niat, menguatkan langkah, dan menjadikan ibadah bukan sebagai bagian dari musim, melainkan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.***

*Guru Besar Universitas Malahayati

 

NUR DAN MAKNA

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Cahaya tidak selalu hadir dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh mata. Ada cahaya yang lebih halus, lebih dalam, dan lebih menentukan arah hidup manusia. Cahaya itu dikenal sebagai nur, sebuah penerang batin yang tidak hanya menyingkap apa yang tersembunyi, tetapi juga memberi makna pada setiap perjalanan kehidupan. Tanpa kehadiran nur, hidup mungkin tetap berjalan sebagaimana mestinya, namun terasa hampa, seperti langkah panjang yang tidak pernah benar-benar sampai pada tujuan.

Manusia hidup di antara dua dimensi yang saling berdampingan: yang tampak dan yang tak tampak. Pada dimensi yang tampak, segala sesuatu dapat dijelaskan melalui logika dan ukuran yang pasti. Keberhasilan dinilai dari pencapaian, kebahagiaan diukur dari kepemilikan, dan arah hidup sering kali mengikuti standar yang terlihat. Namun pada dimensi yang tak tampak, terdapat ruang yang lebih luas dan lebih dalam, tempat di mana makna sejati bersemayam. Dalam ruang inilah nur memainkan peran yang sangat penting.

Nur bukan sekadar cahaya yang menerangi, melainkan juga yang menghidupkan kesadaran. Ia tidak hanya membuat seseorang melihat, tetapi juga memahami. Dengan nur, manusia tidak sekadar mengetahui apa yang benar, tetapi juga merasakan kebenaran itu sebagai sesuatu yang hidup dalam dirinya. Tanpa nur, pengetahuan bisa menjadi dingin dan kering, kehilangan daya untuk membimbing langkah. Sebaliknya, dengan nur, hal-hal sederhana dapat menjelma menjadi sumber kebijaksanaan yang mendalam.

Makna, lahir dari pertemuan antara pengalaman dan kesadaran batin. Banyak orang menjalani berbagai peristiwa dalam hidup, tetapi tidak semua pengalaman itu menghadirkan makna. Ada yang hidup dalam kelimpahan kejadian, namun tetap merasa kosong. Ada pula yang menjalani hidup sederhana, tetapi mampu merasakan kedalaman arti dalam setiap langkahnya. Perbedaan ini terletak pada keberadaan nur dalam hati.

Kehadiran nur mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan. Peristiwa tidak lagi dipandang sebagai rangkaian kejadian yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari alur yang saling terhubung. Kesedihan tidak hanya dilihat sebagai penderitaan, tetapi juga sebagai proses pembentukan diri. Kegagalan tidak dianggap sebagai akhir, melainkan sebagai pintu menuju pemahaman baru. Dari cara pandang seperti inilah makna tumbuh dan berkembang.

Ketiadaan nur membuat hati kehilangan arah. Hal-hal yang tampak menyenangkan bisa terasa kosong, sementara yang seharusnya bermakna justru terabaikan. Dalam keadaan seperti ini, manusia cenderung mencari makna di luar dirinya, melalui pengakuan, pencapaian, atau kepemilikan yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Pencarian tersebut sering kali berujung pada kelelahan batin, karena apa yang dicari tidak sejalan dengan kebutuhan terdalam.

Makna sejati tidak dapat dipaksakan dari luar. Ia tumbuh perlahan dari dalam diri, seiring dengan kejernihan hati. Nur menjadi kunci dari kejernihan tersebut. Ia bekerja seperti cahaya yang menyinari ruang batin, menghilangkan kabut yang menghalangi pandangan. Hati yang jernih memungkinkan manusia melihat dirinya dengan lebih jujur, memahami orang lain dengan lebih dalam, serta menerima kehidupan dengan lebih lapang.

Keberadaan nur sangat bergantung pada kondisi hati. Hati yang dipenuhi kesombongan, kebencian, dan keinginan berlebihan akan sulit menerima cahaya tersebut. Keadaan seperti itu ibarat ruang tertutup yang tidak memberi kesempatan bagi cahaya untuk masuk. Sebaliknya, hati yang rendah, tulus, dan terbuka menjadi tempat yang subur bagi hadirnya nur. Dari sanalah muncul ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan luar.

Perjalanan menuju makna merupakan perjalanan menuju nur itu sendiri. Perjalanan ini tidak selalu mudah, karena menuntut keberanian untuk melihat ke dalam diri. Manusia perlu mengakui kekurangan, menerima keterbatasan, dan melepaskan hal-hal yang selama ini dianggap penting tetapi ternyata tidak memberi kedalaman. Dalam proses ini, nur tidak hanya menjadi tujuan akhir, tetapi juga penuntun dalam setiap langkah.

Nur memberikan keteguhan saat manusia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Ia menjadi penyeimbang dalam kegelisahan dan penenang dalam kebimbangan. Kehadirannya tidak selalu menghapus pertanyaan, tetapi membantu manusia berdamai dengan ketidakpastian. Dari situ lahir kedewasaan batin, yang tidak ditentukan oleh banyaknya jawaban, melainkan oleh kemampuan memahami makna di balik setiap pertanyaan.

Hidup yang diterangi oleh nur tidak lagi sekadar tentang menjalani hari demi hari. Setiap momen menjadi kesempatan untuk menemukan arti. Hal-hal kecil seperti kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian memiliki nilai yang mendalam ketika dilihat dengan hati yang terang. Kehidupan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai ruang untuk bertumbuh dan memahami.

Nur dan makna adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Nur menjadi sumber yang menerangi, sementara makna adalah hasil dari penerangan tersebut. Tanpa nur, hidup kehilangan arah. Tanpa makna, hidup kehilangan tujuan. Keduanya saling melengkapi, membentuk kesatuan yang memberikan kedalaman dan arti bagi kehidupan manusia.

Kesadaran akan pentingnya nur membawa manusia pada pemahaman bahwa yang paling berharga tidak selalu tampak oleh mata. Banyak hal yang bekerja dalam diam, namun memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan. Nur adalah salah satunya. Ia hadir tanpa suara, tetapi mampu mengubah cara pandang, memperdalam rasa, dan menuntun langkah menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Salam Waras

KURSI HADIAH, KINERJA BERMASALAH

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

“Nomor antrian seratus dua puluh, silakan ke loket tiga,” suara mesin memecah kesunyian ruang tunggu di sebuah Bank yang dingin oleh pendingin udara.

“Masih lama giliran kita,” gumam Pak Hasan sambil menatap kertas kecil di tangannya.

“Iya, nomor saya seratus tiga puluh dua,” jawab Pak Husen, tersenyum tipis. “Tapi begini juga enak, bisa duduk lama sambil mengamati.”

“Mengamati apa?” tanya Pak Hasan, sedikit heran.

“Ya, apa saja. Orang-orang datang dan pergi, wajah-wajah lelah, ada yang cemas, ada yang santai. Mirip seperti negeri ini, penuh cerita.”

Pak Hasan terkekeh pelan. “Kau ini masih saja suka berfilsafat, padahal kita cuma mau ambil uang pensiun.”

“Justru itu,” sahut Pak Husen. “Dulu kita kerja puluhan tahun, naik jabatan pelan-pelan, belajar dari bawah. Sekarang, lihat saja berita. Banyak orang duduk di kursi tinggi, tapi kelihatan seperti belum siap.”

“Ah, itu yang kau maksud kursi hadiah?” potong Pak Hasan.

“Iya. Dapat jabatan karena berjasa waktu kampanye. Bukan karena paham kerjaannya.”

Pak Hasan mengangguk, wajahnya berubah serius. “Makanya kadang kebijakan mereka aneh. Seperti orang salah masuk ruangan.”

“Atau seperti kita kalau disuruh tiba-tiba jadi kasir di sini,” tambah Pak Husen sambil tertawa kecil.

“Bisa kacau,” balas Pak Hasan. “Yang antri bisa makin panjang sampai jalan raya sana.”

“Begitulah kira-kira yang terjadi di luar sana,” ujar Pak Husen pelan. “Lucu sih kadang, tapi kalau dipikir-pikir, yang menunggu bukan cuma kita di bank ini, tapi satu negeri.”

Mereka terdiam sejenak, hanya suara nomor antrian yang kembali memanggil, seolah mengingatkan bahwa menunggu adalah bagian dari kenyataan.

Di banyak negeri yang mengaku menjunjung tinggi demokrasi, praktik pembagian jabatan sebagai balas jasa politik bukanlah rahasia lagi. Fenomena ini sering kali dibungkus dengan istilah yang terdengar halus, seolah bagian dari strategi atau kompromi politik yang wajar. Namun di balik itu, tersimpan persoalan mendasar tentang kualitas kepemimpinan dan arah tata kelola negara. Kursi kekuasaan yang seharusnya diisi oleh individu yang kompeten dan berintegritas, justru kerap menjadi “hadiah” bagi mereka yang setia mendukung selama masa kampanye.

Tidak dapat dipungkiri, dalam politik, loyalitas memiliki nilai. Dukungan yang diberikan pada saat-saat genting sering kali menjadi penentu kemenangan. Akan tetapi, ketika loyalitas dijadikan satu-satunya dasar dalam menentukan jabatan publik, maka kualitas menjadi taruhan. Jabatan yang seharusnya diemban dengan tanggung jawab besar berubah menjadi simbol balas budi. Di titik inilah masalah mulai muncul: ketika seseorang duduk di kursi yang tidak sesuai dengan kapasitasnya.

Kursi hadiah tidak selalu buruk. Dalam beberapa kasus, individu yang diberi kepercayaan justru mampu menunjukkan kinerja yang baik, bahkan melampaui ekspektasi. Mereka belajar cepat, beradaptasi, dan membuktikan bahwa kesempatan yang diberikan tidak sia-sia. Namun, kasus semacam ini tampaknya lebih merupakan pengecualian daripada kebiasaan. Yang lebih sering terjadi adalah sebaliknya: jabatan diisi oleh mereka yang tidak siap, tidak memahami bidangnya, dan akhirnya mengambil keputusan yang membingungkan.

Perilaku “aneh-aneh” yang muncul dari pejabat yang tidak kompeten sering kali menjadi bahan perbincangan publik. Kebijakan yang tidak masuk akal, pernyataan yang kontradiktif, hingga tindakan yang terkesan tidak profesional menjadi tontonan sehari-hari. Dalam beberapa kasus, situasi ini bahkan terasa menggelikan, seolah jabatan publik telah berubah menjadi panggung sandiwara. Namun di balik kelucuan yang tampak, ada konsekuensi serius yang harus ditanggung masyarakat.

Kebijakan yang lahir dari ketidaktahuan atau ketidakmampuan dapat berdampak luas. Program yang tidak tepat sasaran, penggunaan anggaran yang tidak efisien, hingga kegagalan dalam merespons krisis adalah beberapa contoh nyata. Rakyat, yang seharusnya menjadi penerima manfaat dari pemerintahan yang baik, justru menjadi korban dari eksperimen yang tidak direncanakan dengan matang. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menggerus kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Lebih jauh lagi, praktik kursi hadiah juga menciptakan budaya yang merusak. Ketika jabatan diberikan sebagai imbalan, maka pesan yang disampaikan adalah bahwa kompetensi bukanlah hal utama. Yang lebih penting adalah kedekatan, loyalitas, atau bahkan kemampuan untuk “bermain” dalam sistem. Budaya semacam ini dapat menurunkan motivasi individu-individu berkualitas untuk terlibat dalam pemerintahan, karena mereka merasa peluangnya tidak ditentukan oleh kemampuan, melainkan oleh koneksi.

Fenomena ini juga memperkuat lingkaran setan dalam politik. Mereka yang mendapatkan jabatan melalui cara seperti ini cenderung akan melakukan hal serupa ketika memiliki kesempatan. Mereka akan membalas dukungan dengan jabatan, menciptakan jaringan kepentingan yang semakin kompleks dan sulit diputus. Pada akhirnya, sistem menjadi semakin tertutup dan jauh dari prinsip meritokrasi.

Namun demikian, tidak semua harapan hilang. Kesadaran publik yang semakin meningkat dapat menjadi tekanan bagi para pengambil keputusan untuk lebih berhati-hati dalam menentukan pejabat. Media dan masyarakat sipil memiliki peran penting dalam mengawasi dan mengkritisi kebijakan serta perilaku pejabat. Transparansi dan akuntabilitas harus terus didorong agar praktik-praktik yang merugikan dapat diminimalkan.

Pada akhirnya, kursi kekuasaan bukanlah sekadar simbol kemenangan politik, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ketika kursi tersebut dijadikan hadiah tanpa mempertimbangkan kemampuan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi individu, tetapi juga masa depan bangsa. Fenomena pejabat yang bertingkah aneh dan menggelikan mungkin dapat menjadi bahan tawa sesaat, tetapi dampaknya jauh lebih serius daripada sekadar hiburan.

Wasit yang Menjual Pluitnya

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

Di sebuah permainan, peluit seorang wasit bukan sekadar alat kecil yang menggantung di leher, melainkan simbol kepercayaan yang besar. Setiap tiupan peluit membawa makna: menghentikan pelanggaran, menegaskan aturan, dan menjaga agar permainan tetap berjalan dalam koridor yang adil. Namun, bayangkan jika peluit itu tidak lagi ditiup berdasarkan kebenaran, melainkan berdasarkan kepentingan. Ketika peluit “dijual”, maka yang rusak bukan hanya satu keputusan, tetapi keseluruhan makna keadilan dalam permainan itu sendiri akan runtuh.

Kondisi inilah yang terasa mengemuka dalam kehidupan hari ini. Banyak pihak yang seharusnya berdiri sebagai penengah, penjaga nilai, dan pengarah moral, justru tampak ikut larut dalam pusaran kepentingan. Mereka tidak lagi menjaga jarak, tidak lagi memegang teguh posisi netral, tetapi perlahan-lahan masuk ke dalam arena, bahkan terkadang menjadi bagian dari permainan itu sendiri. Dalam situasi seperti ini, batas antara pengadil dan pemain menjadi kabur, dan keadilan berubah menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Dalam perspektif Ilmu Roso Sejati, persoalan ini tidak hanya bisa dilihat sebagai penyimpangan struktural, tetapi sebagai tanda melemahnya kesadaran batin. Roso, sebagai inti kepekaan manusia terhadap kebenaran, seharusnya menjadi landasan dalam setiap keputusan. Ia bukan sekadar perasaan biasa, melainkan kemampuan untuk merasakan keselarasan atau ketidaksesuaian dalam suatu tindakan. Ketika roso masih hidup dan jernih, seseorang akan mampu membedakan mana yang benar secara hakiki, bukan hanya secara formal.
Namun, ketika roso mulai tertutup oleh kepentingan, ambisi, atau ketakutan, maka keputusan yang diambil akan kehilangan kejernihannya. Ia mungkin tetap tampak sah di permukaan, dibungkus dengan bahasa yang rapi dan legitimasi yang kuat, tetapi di dalamnya terdapat keganjilan yang sulit disembunyikan. Dan keganjilan itu akan terasa oleh banyak orang, meskipun tidak selalu bisa dijelaskan secara logis.

Fenomena “wasit yang menjual peluitnya” mencerminkan kondisi di mana amanah telah bergeser menjadi alat. Pihak yang seharusnya menjaga nilai justru ikut menentukan arah permainan sesuai kepentingan tertentu. Mereka mungkin tidak secara terang-terangan melanggar, tetapi cara mereka memaknai dan menerapkan aturan sudah tidak lagi netral. Dalam hal ini, keberpihakan tidak selalu muncul dalam bentuk yang kasar, tetapi bisa hadir dalam bentuk pembenaran halus terhadap sesuatu yang sebenarnya menyimpang.
Di sinilah letak kerusakan yang paling dalam. Ketika lembaga atau pihak yang dipercaya sebagai penjaga moral mulai kehilangan kejernihan, maka masyarakat kehilangan rujukan. Apa yang dulu dianggap salah bisa tiba-tiba tampak benar karena dilegitimasi. Apa yang seharusnya dipertanyakan justru dibiarkan. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran tidak lagi berdiri kokoh, melainkan bergantung pada siapa yang berbicara dan dari posisi mana ia berbicara.

Ilmu Roso Sejati mengajarkan bahwa setiap peran memiliki garis rasa yang tidak boleh dilanggar. Seorang pengadil harus menjaga jarak, bukan karena ia tidak peduli, tetapi justru karena ia peduli pada keadilan. Ia tidak boleh terbawa arus, tidak boleh tergoda oleh kedekatan, dan tidak boleh takut terhadap tekanan. Ketika garis ini dilanggar, maka yang terjadi bukan hanya kesalahan peran, tetapi juga gangguan pada keseimbangan yang lebih luas.

Lebih jauh lagi, kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari akumulasi kompromi kecil yang terus-menerus dilakukan. Awalnya mungkin hanya pembiaran terhadap hal yang terasa sedikit janggal. Kemudian berkembang menjadi pembenaran. Hingga akhirnya, penyimpangan besar pun tidak lagi terasa sebagai masalah. Dalam proses ini, roso perlahan-lahan kehilangan kepekaannya. Ia tidak hilang, tetapi tertutup oleh kebiasaan untuk mengabaikan suara batin.
Ketika banyak pihak mengalami hal yang sama, maka terbentuklah sebuah sistem yang secara lahiriah tampak berjalan, tetapi secara batiniah rapuh.

Keputusan-keputusan tetap diambil, pernyataan-pernyataan tetap dikeluarkan, tetapi semuanya terasa hampa. Tidak ada getaran kejujuran di dalamnya. Dan masyarakat, dengan roso yang masih tersisa, akan merasakan kekosongan itu.
Dampaknya sangat luas. Ketika kepercayaan terhadap pengadil hilang, maka aturan kehilangan wibawanya. Orang tidak lagi percaya bahwa keadilan akan ditegakkan secara objektif. Dalam kondisi seperti ini, yang kuat akan mencari cara untuk menang, dan yang lemah akan kehilangan harapan. Permainan tidak lagi menjadi ruang yang adil, melainkan arena pertarungan kepentingan tanpa batas yang jelas.
Namun, di tengah semua itu, masih ada ruang untuk pemulihan. Ilmu Roso Sejati mengingatkan bahwa keseimbangan selalu bisa dikembalikan selama manusia mau kembali mendengarkan rosonya. Setiap individu, terutama mereka yang berada dalam posisi pengaruh, perlu berani melakukan refleksi: apakah peluit yang dipegang masih digunakan untuk menjaga keadilan, atau sudah mulai digunakan untuk melayani kepentingan?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya menuntut kejujuran yang dalam. Karena sering kali, penyimpangan tidak terjadi karena ketidaktahuan, melainkan karena pembiaran terhadap hal yang sebenarnya sudah terasa tidak tepat. Di sinilah pentingnya menjaga roso tetap hidup, agar setiap langkah selalu diuji oleh kepekaan batin, bukan sekadar oleh pertimbangan untung dan rugi.

Pada akhirnya, peluit itu adalah amanah. Ia tidak boleh diperdagangkan, tidak boleh dipengaruhi, dan tidak boleh digunakan di luar fungsinya. Ketika peluit tetap bersih, maka permainan akan berjalan dengan jujur, meskipun penuh persaingan. Tetapi ketika peluit telah “dijual”, maka keadilan berubah menjadi ilusi, dan kebenaran menjadi sesuatu yang sulit dipercaya.

Maka, menjaga agar wasit tidak menjual peluitnya bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi tanggung jawab bersama. Karena ketika roso kolektif tetap terjaga, maka setiap penyimpangan akan terasa, setiap ketidakadilan akan disadari, dan setiap upaya untuk membelokkan kebenaran tidak akan pernah benar-benar berhasil. Sebagai misal saat suatu lembaga yang harusnya indipenden dalam memandu umat di suatu negeri, karena kepentingan penguasa akhirnya memilih bersikap memihak dari pada netral; maka saat itulah “pluit” tergadai; dan lembaga akan kehilangan maruwahnya.
Salam Waras (R-2)