Menjaga yang Nyaris Hilang

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Pagi itu kami berdua bangun seperti biasa; namun begitu tiba-tiba istri merasa badannya sebelah kebas, mata agak sedikit tertarik, tekanan darah terasa naik. Segera saja berkonsultasi dengan teman ahli medis; jawaban beliau sangat mengejutkan “Itu tanda-tanda stroke, yaitu gangguan fungsi otak akibat gangguan aliran darah ke otak”. Segera kami bergegas mencari rujukan dan untuk terus menuju ke rumah sakit terbaik yang dimiliki oleh yayasan dimana selama ini bekerja.

Berdasarkan analisis dokter ahli syaraf menjelaskan sekitar masalah “penyumbatan”, “risiko”, dan “kerusakan fungsi kognitif” memantul-mantul di ruang kecil itu. Yang tertinggal hanyalah ketakutan yang menusuk: ketakutan kehilangan seseorang yang selama ini menjadi bagian dari denyut kehidupan. Ketika akhirnya kondisi membaik dan lambat laun kemampuan berpikir berangsur pulih, muncul ruang hening yang memaksa diri sebagai suami untuk merenungkan apa yang sebenarnya terjadi; bukan hanya pada tubuh istri, tetapi lebih pada dirinya sendiri sebagai manusia.

Peristiwa ini menguak sesuatu yang kerap tersembunyi di balik rutinitas: kesadaran tentang rapuhnya eksistensi. Manusia sering bergerak seakan hari esok adalah kepastian, bukan anugerah. Kita memperlakukan waktu seperti sumber daya tak terbatas, padahal hidup dapat berbelok tanpa diduga, bahkan dalam jarak empat hari yang tampak biasa. Ketika seseorang yang dicintai terbaring antara harapan dan kemungkinan buruk, manusia dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup bukan sekadar rentetan kejadian, melainkan sesuatu yang rentan putus sewaktu-waktu.

Ketakutan kehilangan bukan sekadar emosi; ia adalah gema terdalam dari kesadaran manusia bahwa dirinya terikat pada sesuatu di luar dirinya. Hubungan antarmanusia menjadi cermin bahwa manusia tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Ketergantungan emosional, komitmen, dan cinta menunjukkan bahwa identitas kita terbentuk bersama orang lain. Karena itu, kehilangan bukan hanya tentang absennya seseorang secara fisik, tetapi juga hilangnya bagian dari diri yang selama ini ditopang oleh kehadiran orang tersebut.

Saat menyaksikan istri terbaring lemah, diri ini seolah merasakan betapa rapuh dan berharganya keberadaan manusia. Rasa takut itu bukan kelemahan; justru di situlah tersimpan kekuatan reflektif manusia. Ia menunjukkan bahwa manusia mampu menghayati keberadaannya secara mendalam, memahami bahwa semua yang dianggap biasa dapat lenyap dalam hitungan detik. Dalam rasa takut itu, lahir kesadaran bahwa hidup bukan sekadar kumpulan detik, tetapi kumpulan makna yang terjalin dari relasi, perhatian, dan kasih.
Pengalaman ini juga membuka pintu menuju pemahaman tentang tubuh dan pikiran sebagai satu kesatuan. Ketika stroke menyerang dan fungsi berpikir serta fungsi gerak sang istri terganggu, tampak jelas bahwa aktivitas yang selama ini dianggap sepele sebenarnya bergantung pada harmoni kompleks tubuh manusia. Kemampuan berpikir, menalar, dan mengekspresikan diri bukanlah hal yang berdiri terpisah dari kondisi fisik. Manusia adalah perpaduan antara raga dan kesadaran; keduanya saling menghidupi. Gangguan pada salah satunya mengguncang keberfungsian keduanya.

Namun, dalam proses pemulihan sang istri, terselip makna lain: kemampuan manusia untuk bangkit. Tubuh yang pulih, pikiran yang kembali jernih, dan langkah-langkah kecil menuju kemandirian adalah bukti bahwa manusia bukan semata makhluk rapuh, tetapi juga makhluk yang mampu memperbaiki diri. Ada daya dalam manusia yang membuatnya tak hanya menerima kondisi, tetapi melampauinya. Keberhasilan sang istri keluar dari masa kritis dan memulihkan dirinya adalah pengingat bahwa manusia punya kapasitas untuk bertahan, bahkan ketika tubuhnya sendiri sempat mengkhianati.

Pada akhirnya, pengalaman di rumah sakit itu menjadi semacam perjalanan spiritual; bukan karena ada kejadian supranatural, tetapi karena ia membawa seseorang menyentuh sisi terdalam dari kemanusiaan. Ketakutan kehilangan bukan hanya tentang kematian, tetapi tentang menyadari betapa kuatnya ikatan yang kita bangun, betapa berharganya kehadiran seseorang dalam hidup kita, dan betapa mudahnya semua itu goyah. Namun dari rasa takut itu pula muncul rasa syukur, keberanian baru, dan pemahaman yang lebih jernih tentang arti hidup bersama.

Ketika sang istri akhirnya pulih sepenuhnya, rumah yang sebelumnya dipenuhi kecemasan menjadi ruang yang kembali bernapas. Namun kali ini, segala hal terasa berbeda, seolah lebih pelan, lebih penuh makna. Setiap percakapan, senyum, atau kegiatan sehari-hari yang dulu terasa biasa kini berubah menjadi pengalaman yang disadari sepenuhnya. Manusia memang kerap belajar bukan dari hal-hal besar dan megah, tetapi dari saat-saat rentan yang membuatnya menyadari bahwa cinta, kesadaran, dan hidup itu sendiri adalah anugerah yang tak pernah boleh disepelekan. Semoga cepat sembuh teman hidupku. Dan, terimakasih wahai orang-orang baik yang telah membantu fasilitas, penanganan, perawatan dan penyembuhan serta doa kalian semua; semoga Tuhan mencatatnya sebagai amal sholeh; dan mendapatkan ganjaran berlipat, serta dimudahkan segala urusan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Universitas Malahayati Gelar Yudisium dan Sumpah Profesi FIK Bertema “Serving With Heart, Inspiring With Integrity”

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati resmi menggelar acara yudisium dan sumpah profesi bagi lulusan Fakultas Ilmu Kesehatan. Acara berlangsung di di Gedung Graha Bintang, dihadiri oleh pimpinan universitas, jajaran dekanat FIK, dosen, tenaga kependidikan menandai titik puncak perjalanan akademik para mahasiswa yang telah menyelesaikan studi. Kamis (25/12/2025)

Peserta yudisium berasal dari berbagai program studi di FIK — meliputi Sarjana, Diploma, dan Program Profesi — dan secara resmi diumumkan kelulusannya oleh senat akademik. Momen ini menjadi tonggak penting bagi para lulusan, sekaligus sebagai awal pengabdian mereka di dunia kesehatan, untuk membawa ilmu dan tanggung jawab sosial ke tengah masyarakat.

Dalam sambutannyaWakil Rektor II, Drs. Nirwanto mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi para lulusan sekaligus menegaskan harapan besar universitas terhadap mereka:

“Selamat kepada seluruh lulusan. Hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar sebagai tenaga kesehatan. Ilmu dan keterampilan yang kalian peroleh jangan berhenti di sini — teruslah asah dan perbarui pengetahuan kalian sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Jadilah profesional yang punya empati, integritas, dan siap melayani dengan hati.”

Beliau menekankan bahwa dunia kesehatan menuntut lebih dari sekadar pengetahuan — tetapi juga etika, dedikasi, dan rasa kemanusiaan. Di masa mendatang, lulusan FIK diharap mampu menjadi agen perubahan, membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan turut serta dalam pembangunan kesehatan di daerah maupun nasional.

Sementara itu, Dekan FIK, Dr. Lolita Sary, menyampaikan ucapan selamat yang hangat kepada seluruh wisudawan dan mengajak mereka untuk menjadikan momen ini sebagai awal pengabdian nyata:

“Ijazah dan gelar hanyalah awal; yang paling penting adalah bagaimana kalian dapat mengabdikan ilmu untuk kemaslahatan masyarakat. Dunia kesehatan membutuhkan dedikasi, empati, dan komitmen. Semoga kalian bukan hanya sukses secara akademis, tapi juga menjadi individu yang bermanfaat, peduli, dan mampu memberikan kontribusi nyata — memperbaiki derajat kesehatan keluarga, komunitas, dan bangsa.”

Dengan penuh harapan, beliau menyerukan agar para lulusan menjaga nama baik almamater, menjunjung tinggi nilai integritas dan profesionalisme, serta terus semangat berkontribusi dalam bidang kesehatan — baik melalui praktik klinis, edukasi masyarakat, maupun riset dan pengembangan kesehatan.

Acara yudisium dan sumpah profesi bukan sekadar seremoni — melainkan penegasan bahwa para mahasiswa telah melewati serangkaian proses akademik yang ketat: perkuliahan, praktik, modul profesi, hingga berbagai evaluasi.

Dalam sambutan dan prosesi resmi, pihak kampus juga mengingatkan bahwa kelulusan bukan akhir melainkan titik awal. Dunia kesehatan terus berubah, tantangan semakin kompleks — sehingga lulusan dituntut untuk terus belajar, meng-upgrade ilmu, serta responsif terhadap dinamika kebutuhan Masyarakat. (fkr)

Editor: Fadly KR

 

UNMAL Gelar Yudisium ke-39 Fakultas Ekonomi dan Manajemen

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati (UNMAL) menggelar Yudisium ke-39 bertema “Together We Grow Resilient and Inclusive” di Gedung Malahayati Convention Center (MCC), Rabu (3/12/2025). Kegiatan ini menjadi momen istimewa bagi mahasiswa Program Studi Manajemen dan Program Studi Akuntansi yang resmi dikukuhkan sebagai sarjana.

Acara ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas dan fakultas, di antaranya Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes, Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Dr. Rahyono, S.Sos., M.M., Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Tessa Sjahriani, M.Kes, serta seluruh dosen FEM yang memberikan dukungan dan doa terbaik bagi para lulusan.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor IV Universitas Malahayati Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes menyampaikan apresiasi mengenai pencapaian akademik para lulusan yang dinilai sebagai bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia di Indonesia.

“Kami berharap lulusan FEM tidak hanya siap bersaing di dunia kerja, tetapi juga mampu berinovasi serta menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat luas. Tetap pegang nilai integritas dan teruslah berkontribusi bagi bangsa,” ucapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Dr. Rahyono, S.Sos., M.M. mengingatkan bahwa perjuangan lulusan tidak berhenti pada wisuda atau yudisium semata.

“Perjalanan kalian baru dimulai. Jadikan ilmu dan pengalaman selama berkuliah sebagai bekal untuk berkarya. Alumni UNMAL harus menjadi agen perubahan yang adaptif dan unggul menghadapi tantangan global,” jelasnya.

Acara yudisium ini juga menjadi bukti komitmen FEM dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kompetensi, dan kemampuan berdaya saing di era revolusi industri serta perkembangan ekonomi digital.

Dengan terselenggaranya Yudisium ke-39 ini, UNMAL menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang konsisten dalam mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia melalui pemanfaatan ilmu di tengah masyarakat.

Lulusan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati mampu menjadi sumber daya manusia unggul yang berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa, serta membawa nama baik almamater di dunia kerja maupun masyarakat. (fkr)

Editor: Fadly KR

Fakultas Kedokteran UNMAL Gelar Yudisium, 14 Mahasiswa Siap Memasuki Tahap Profesi

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati (UNMAL) kembali mengukir pencapaian dalam dunia pendidikan kedokteran. Sebanyak 14 mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter secara resmi diyudisium dalam acara yang digelar di Ruang 1.13 Gedung Rektorat Universitas Malahayati, Selasa (2/12/2025).

Acara yudisium ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas dan fakultas, di antaranya Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes, Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Tessa Sjahriani, M.Kes, Ketua Program Studi Pendidikan Dokter dr. Rakhmi Rafie, M.Kes, Ketua Pelaksana Yudisium dr. Ni Putu, M.Kes, serta para dosen Fakultas Kedokteran yang memberikan dukungan penuh bagi para mahasiswa.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes menyampaikan selamat dan apresiasi atas capaian para mahasiswa yang telah berhasil menyelesaikan studi preklinik dengan penuh dedikasi.

“Hari ini menjadi awal perjalanan baru di dunia profesi kedokteran. Teruslah belajar, pegang teguh etika dan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap langkah kalian sebagai calon dokter,” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Tessa Sjahriani, M.Kes menegaskan bahwa tahap profesi merupakan fase penting dalam membentuk kompetensi klinis mahasiswa.

“Dua tahun ke depan merupakan proses pematangan diri melalui praktik klinis secara langsung. Persiapkan diri menghadapi UKMPPD dan jadilah dokter yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berjiwa pelayanan,” ujarnya.

Ketua Prodi Pendidikan Dokter dr. Rakhmi Rafie, M.Kes juga memberikan pesan kepada mahasiswa agar senantiasa menjaga profesionalitas dalam setiap penugasan.

“Nama baik orang tua dan almamater kini berada pada pundak kalian. Tunjukkan integritas serta kedisiplinan dalam praktik koas,” tegasnya.

Yudisium yang berlangsung khidmat dan penuh kebanggaan ini menjadi tonggak penting bagi 14 calon dokter UNMAL untuk melanjutkan pendidikan profesi di rumah sakit pendidikan. Diharapkan, mereka mampu menjalankan tugas dengan tanggung jawab, etika, dan komitmen tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. (fkr)

Editor: Fadly KR

Mahasiswa Manajemen UNMAL Juara 1 ISFO 2025 Sumbagsel dan Finalis Besar Nasional

Bandar Lampung – (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati (UNMAL) kembali menorehkan prestasi gemilang melalui mahasiswa Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Tim yang beranggotakan Ninda Novita (NPM 23220364), Virgilia (NPM 23220525), dan Muhammad Iqbal (NPM 23220318) berhasil meraih Juara 1 Tingkat Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) dan menjadi Finalis Besar Tingkat Nasional dengan menduduki peringkat 4 Grup A. Kompetisi ini terbagi dalam tiga grup utama, yaitu Grup A, Grup B, dan Grup C dalam ajang bergengsi Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2025.

Kompetisi ISFO diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tanggal 11–19 Oktober 2025. Selain menjadi yang terbaik di tingkat Sumbagsel, tim UNMAL juga berhasil masuk ke dalam 27 Tim Terbaik Tingkat Nasional, yang menunjukkan kualitas mahasiswa dalam penguasaan keuangan syariah di tingkat nasional.

Dalam wawancara, perwakilan tim menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas prestasi yang diraih.

“Kami bersyukur bisa meraih prestasi ini. Semua tidak lepas dari doa keluarga, bimbingan dosen, dan dukungan teman-teman. Semoga pencapaian ini dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus berusaha, tidak takut mencoba, dan berani bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.

Pihak Fakultas Ekonomi dan Manajemen serta Program Studi Manajemen memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian tersebut. Mereka berharap keberhasilan Ninda, Virgilia, dan Iqbal dapat menjadi contoh inspiratif bagi mahasiswa lainnya dalam mengembangkan kemampuan diri, khususnya pada bidang ekonomi dan keuangan syariah.

UNMAL berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan potensi mahasiswa, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik, guna mencetak lulusan unggul, percaya diri, dan berdaya saing tinggi.

Selamat kepada Ninda Novita, Virgilia, dan Muhammad Iqbal atas prestasi yang membanggakan ini. Semoga terus mengharumkan nama UNMAL di kancah nasional.(fkr)

Editor: Fadly KR

LPPM UNMAL Jalin Kerja Sama Penelitian untuk Pelaksanaan SKM Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung 2025

BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Malahayati (UNMAL) menetapkan Tim Pelaksana Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) untuk Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung Tahun 2025. Penetapan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Ketua LPPM Nomor: 756a.35.406.10.25 yang ditandatangani oleh Ketua LPPM UNMAL, Prof. Erna Listyansingh, S.E., M.Si., Ph.D., pada Kamis (17/10/2025).

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari permohonan kerja sama yang diajukan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, serta menjadi bagian dari komitmen UNMAL dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik melalui riset terapan dan analisis akademik.

Susunan Tim Pelaksana SKM Tahun 2025

Berdasarkan keputusan tersebut, LPPM UNMAL menetapkan empat personel sebagai pelaksana survei, yaitu:

  1. Dr. Lolita Sary, S.K.M., M.Kes. – Ketua Survei

  2. Dina Dwi Nuryani, S.K.M., M.Kes.

  3. Rizal Dwiyana, S.K.M.

  4. Jheni Anggierani

Tim ini diberikan kewenangan dan tanggung jawab penuh sesuai ketentuan yang berlaku untuk melaksanakan pengumpulan data, analisis, serta pelaporan hasil survey kepuasan masyarakat terhadap layanan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Komitmen Universitas Malahayati dalam Penguatan Layanan Publik

Ketua LPPM Universitas Malahayati menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik di Provinsi Lampung.

“Kami berkomitmen untuk menghadirkan hasil survey yang akurat, objektif, dan dapat dijadikan dasar peningkatan pelayanan oleh instansi terkait,” ujar Prof. Erna dalam penetapannya.

Melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), LPPM hadir sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menghasilkan berbagai penelitian aplikatif yang dapat mendukung pembangunan dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

Sebelumnya, LPPM telah menjalin kerja sama erat dengan BKKBN Provinsi Lampung, khususnya dalam bidang penelitian kesehatan reproduksi, percepatan penurunan stunting, penguatan pelayanan KB, serta penyusunan kajian berbasis data di tingkat daerah. Kolaborasi ini tidak hanya melibatkan penelitian akademis, namun juga berbagai kegiatan workshop, pendampingan, dan publikasi ilmiah bersama yang telah memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Selain itu, LPPM Universitas Malahayati juga telah menjalankan kemitraan strategis dengan RS Jiwa Provinsi Lampung melalui berbagai penelitian mengenai kesehatan jiwa masyarakat, intervensi psikososial, dan pengembangan program klinis berbasis kebutuhan lapangan. Kerja sama ini menjadi langkah penting dalam memperkuat penanganan isu kesehatan mental yang semakin relevan di berbagai lapisan masyarakat.

Dengan dilaksanakannya penandatanganan PKS terbaru bersama dinas-dinas di Provinsi Lampung, LPPM Universitas Malahayati kembali menegaskan perannya sebagai lembaga akademik yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan pembangunan daerah. Melalui sinergi riset, pertukaran data, serta implementasi program kolaboratif, LPPM berupaya menghasilkan penelitian yang tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga dapat diterapkan secara langsung oleh instansi pemerintah dan masyarakat.

Ke depan, LPPM Universitas Malahayati berkomitmen untuk terus memperluas cakupan kerja sama dengan berbagai dinas dan instansi lainnya, sehingga hasil-hasil penelitian dapat semakin bermanfaat dan memberikan dampak luas bagi Provinsi Lampung.

Penetapan Tim Pelaksana Survei Kepuasan Masyarakat ini menjadi bagian penting dari kepercayaan pemerintah daerah terhadap kapasitas akademik Universitas Malahayati dalam mendukung peningkatan kualitas layanan publik di provinsi ini. Kegiatan tersebut juga menunjukkan peran aktif perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat melalui riset dan kolaborasi nyata. (fkr)

Editor: Fadly KR

UNMAL Gelar Yudisium Periode IX Fakultas Hukum Tahun 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati (UNMAL) kembali menyelenggarakan Yudisium Periode ke-9 Tahun Akademik Genap 2024/2025 di Gedung MCC Bawah pada Jumat (28/11/2025). Sebanyak 24 peserta resmi dikukuhkan sebagai Sarjana Hukum setelah menyelesaikan seluruh proses akademik.

Dihadirkannya Kepala Biro Administrasi Akademik UNMAL, Ahmad Iqbal, S.S., selaku perwakilan universitas, Kepala Humas UNMAL, Emil Tanhar, S.Kom., serta seluruh dosen Fakultas Hukum menjadi bentuk dukungan penuh terhadap pelaksanaan yudisium ini.

Dalam sambutannya sebagai perwakilan universitas, Ahmad Iqbal, S.S., menyampaikan apresiasi kepada para lulusan yang telah menyelesaikan perjuangan panjang dalam menempuh pendidikan tinggi.
“Jadikan ilmu yang telah diperoleh sebagai bekal untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Terus belajar, berkembang, dan jaga nama baik almamater di manapun berada,” pesannya.

Dekan Fakultas Hukum UNMAL, Aditia Arief Firmanto, S.H., M.H., menegaskan bahwa yudisium merupakan momen penting bagi para lulusan untuk memasuki dunia profesional dengan bekal integritas dan tanggung jawab.

“Integritas, profesionalitas, dan kesiapan menghadapi dinamika masyarakat harus menjadi pondasi kuat bagi setiap lulusan. Semoga ilmu yang diperoleh dapat membawa manfaat bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Ketua Program Studi Ilmu Hukum UNMAL, Dr. Rissa Afni Martinouva, S.H., M.H., turut membacakan Surat Keputusan Dekan terkait pengesahan kelulusan mahasiswa Program Studi S-1 Ilmu Hukum.

Pada sesi kesan dan pesan, salah satu peserta yudisium, Ridho Zazulki, S.H., menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan dan bimbingan para dosen selama masa studi.

Dengan terselenggaranya Yudisium Periode ke-9 ini, UNMAL menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang berkarakter, kompeten, dan berintegritas, siap berkontribusi di dunia hukum yang terus berkembang.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi momen pengesahan akademik, tetapi juga menjadi tonggak penting perjalanan lulusan Fakultas Hukum UNMAL dalam memasuki dunia profesional dan pengabdian kepada masyarakat. (fkr)

Editor: Fadly KR

Mahasiswa Hukum UNMAL Raih Juara 3 Nasional Lomba Cipta Puisi LIRIK 4.5

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id) – Universitas Malahayati (UNMAL) kembali menorehkan prestasi melalui salah satu mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, Zeta Rama Efendi (NPM 24610084), yang berhasil meraih Juara 3 Tingkat Nasional pada ajang Lomba Inovasi Rima dan Imajinasi Karya (LIRIK 4.5) yang diselenggarakan oleh id.nulis pada 19 November 2025.

Kompetisi tersebut mengangkat tema “Indah Pada Waktunya” dan diikuti oleh 303 peserta dari seluruh Indonesia yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, hingga penulis umum dalam kategori cipta puisi.

Dalam ajang bergengsi ini, Zeta Rama Efendi berhasil mengharumkan nama UNMAL melalui puisinya berjudul “Metafisika dari Sebuah Penantian”, yang dinilai memiliki kekuatan diksi, kedalaman makna, dan originalitas tinggi.

Sebagai mahasiswa aktif Program Studi Ilmu Hukum angkatan 2024, Zeta menunjukkan bahwa pengembangan diri tidak hanya pada bidang akademik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui bakat dan kreativitas dalam seni serta sastra. Prestasi ini menjadi bukti kualitas dan potensi mahasiswa UNMAL dalam menorehkan capaian di berbagai bidang.

Dalam kesempatan wawancara, Zeta mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian tersebut.

“Alhamdulillah, saya bersyukur atas kesempatan ini. Prestasi ini tidak lepas dari dukungan keluarga, teman-teman, dan para pembimbing. Semoga capaian ini dapat memberikan motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan tidak ragu mencoba hal-hal baru,” ujarnya.

Pihak Program Studi Ilmu Hukum dan Fakultas Hukum UNMAL turut menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih. Mereka berharap keberhasilan ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain dalam mengembangkan seluruh potensi diri, baik di bidang akademik maupun non-akademik.

UNMAL berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan kreativitas dan prestasi mahasiswa guna mencetak lulusan yang unggul, percaya diri, serta berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Selamat kepada Zeta Rama Efendi atas pencapaian yang membanggakan ini. Semoga prestasi tersebut terus mengharumkan nama UNMAL. (fkr)

Editor: Fadly KR

Degenerasi Adab

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Siang menjelang sore, dua orang dosen senior di suatu kampus perguruan tinggi ternama sedang “ngudoroso”; dalam menyikapi perilaku junior mereka,
Dosen Pertama berguman:.“Akhir-akhir ini saya merasa hubungan antara senior dan junior makin renggang. Ada beberapa yang datang tanpa salam, langsung meminta tanda tangan seperti saya ini staf administrasi”.
Dosen Kedua menukas: “ Wah saya juga mendapatkan perlakuan yang sama. Bahkan ada yang membantah arahan di rapat dengan nada tinggi, seolah tidak ada lagi ruang untuk menghormati pengalaman orang lain, dan merasa dirinya paling jago”.
Dosen Pertama, sambil melangkah mendekat berkata, “Padahal kita dulu sudah mengajarkan bahwa adab itu lebih tinggi dari ilmu. Menghormati yang lebih dulu bukan soal hierarki, tapi soal kesadaran bahwa kita bagian dari tradisi akademik”.
Dosen Kedua, sambil menghela nafas berkata “…Benar. Saya khawatir kalau ini dibiarkan, budaya akademik bisa rusak. Ilmu memang berkembang, tapi etika tidak boleh hilang”.

Fenomena berkurangnya rasa hormat, baik dalam lingkungan akademik maupun ruang publik, kembali mengemuka ketika seorang dosen senior mengeluhkan perilaku junior yang dinilai tidak memiliki adab terhadap seniornya. Keluhan serupa juga muncul di lingkup birokrasi, ketika pejabat muda menunjukkan sikap yang dianggap tidak sopan terhadap yang lebih tua. Bisa dibayangkan sekelas wakil menteri orang muda bisa seenaknya berkata tidak sopan di atas panggung, bahkan menghardik orang tua yang notabene seniornya dalam organisasi. Dua contoh ini menggambarkan gejala yang lebih luas: hilangnya adab dan etika sebagai fondasi hubungan manusia. Dari sudut pandang filsafat manusia, persoalan ini bukan sekadar soal tata krama sosial, melainkan menyentuh inti pemahaman tentang martabat, kebijaksanaan, dan struktur relasi antarmanusia.

Dalam perspektif filsafat eksistensial, manusia dipahami sebagai makhluk yang membangun dirinya melalui pilihan, sikap, serta cara ia berinteraksi dengan yang lain. Adab menjadi refleksi dari kesadaran diri tentang keberadaan orang lain, termasuk pengakuan terhadap pengalaman, pengetahuan, dan usia. Ketika seseorang mengabaikan adab, ia bukan hanya mengabaikan orang lain, tetapi juga mengingkari dimensi kemanusiaannya sendiri, yaitu dimensi yang membutuhkan rasa hormat sebagai dasar hidup bersama. Manusia, menurut filsafat relasional, tidak pernah hidup sendiri; ia tumbuh dalam jaringan makna yang dibentuk oleh keluarga, sekolah, tradisi, dan masyarakat. Hilangnya adab menunjukkan adanya keretakan dalam jaringan tersebut.

Dari sudut pandang etika klasik, terutama warisan pemikiran moral yang menekankan keutamaan, adab adalah bagian dari kebajikan moral yang harus ditumbuhkan melalui pendidikan dan pembiasaan/kedisiplinan. Keutamaan seperti rendah hati, menghargai pengalaman, serta kemampuan menahan diri merupakan pilar utama hubungan yang harmonis. Jika generasi muda bersikap acuh terhadap senior, atau pejabat bertindak kasar kepada yang lebih tua, hal itu menandakan melemahnya pembentukan keutamaan moral. Pendidikan modern, yang cenderung menekankan prestasi teknis dan kompetensi profesional, sering kali mengabaikan aspek pembentukan karakter. Akibatnya, manusia menjadi cerdas secara intelektual tetapi miskin dalam kebijaksanaan etis.

Filsafat manusia juga menyoroti pergeseran nilai di era kontemporer. Modernitas mendorong individualisme, kebebasan berekspresi, dan kesetaraan, tetapi sering diinterpretasikan secara keliru sebagai alasan untuk menghapus tata nilai yang telah mengakar lama. Dalam lingkungan yang menempatkan kebebasan tanpa batas sebagai ukuran kemajuan, penghormatan terhadap senior dianggap sebagai tradisi kuno yang tidak relevan. Padahal, etika bukanlah pengekangan, melainkan pedoman yang memungkinkan kebebasan dipraktikkan tanpa melukai martabat orang lain. Tanpa adab, kebebasan berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Selain itu, filsafat komunikasi menekankan pentingnya dialog yang beradab. Dalam setiap percakapan, terdapat etika dasar berupa mendengar, menghargai, dan memahami konteks. Ketika yunior mengabaikan senior atau pejabat meremehkan orang yang lebih tua, terjadi kegagalan komunikasi yang bukan hanya verbal, tetapi moral. Bahasa yang kasar, sikap merendahkan, atau tindakan impulsif merusak jembatan dialog yang seharusnya menghubungkan generasi dan peran sosial. Komunikasi yang kehilangan etika akan melahirkan konflik dan memudahkan fragmentasi sosial.

Namun hilangnya adab tidak bisa hanya disalahkan kepada generasi tertentu. Dari sudut pandang filsafat struktur sosial, etika masyarakat terbentuk melalui contoh, keteladanan, dan budaya organisasi. Ketika lingkungan kerja atau institusi pendidikan tidak menegakkan norma etika secara konsisten, ketika penghargaan lebih sering diberikan pada capaian materi dibandingkan sikap bermartabat, maka individu akan belajar bahwa adab bukanlah sesuatu yang penting. Manusia adalah makhluk imitasi; ia meniru apa yang dilihat lebih kuat daripada apa yang diajarkan. Jika yang dicontohkan adalah sikap agresif, penghinaan, dan arogansi, maka itulah yang diperbanyak. Di sisi lain, perkembangan teknologi mempercepat hilangnya adab. Media sosial menghadirkan ruang tanpa batas yang sering kali membentuk kebiasaan berbicara tanpa etika, menghakimi tanpa data, dan menyinggung tanpa empati. Ketika kebiasaan digital seperti ini terbawa ke dunia nyata, maka hubungan antarmanusia mengalami degradasi.

Filsafat moral kontemporer mengingatkan bahwa teknologi seharusnya memperkaya manusia, bukan mengikis kualitas kemanusiaannya.
Jika adab adalah pilar kemanusiaan, maka upaya memulihkannya harus berangkat dari refleksi mendalam. Manusia perlu kembali memahami dirinya sebagai makhluk bermoral yang hidup dalam relasi. Penghormatan kepada yang lebih tua bukan semata-mata ritual sosial, tetapi pengakuan atas pengalaman dan kontribusi. Demikian pula, senior harus memberi ruang dialog yang sehat kepada yunior, sehingga hubungan tidak bersifat hierarkis buta, melainkan saling melengkapi dalam hikmah dan energi. Dalam perspektif filosofis, adab bukan sekadar perilaku, tetapi ekspresi kedewasaan eksistensial. Ia menunjukkan bahwa manusia telah memahami dirinya, memahami orang lain, dan memahami dunia. Ketika adab hilang, yang hilang bukan hanya sopan santun, tetapi juga kualitas dasar yang membuat manusia layak disebut manusia. Dengan demikian, memulihkan adab berarti memulihkan martabat kemanusiaan itu sendiri. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Kuasa yang Tersingkap

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Media sosial baru-baru ini ihebohkan dengan kelakuan seorang pejabat tinggi negara yang menangani urusan ibadah publik. Ia merespons kritik dengan kata-kata tidak pantas; menunjukkan paradoks klasik dalam relasi antara kekuasaan dan moralitas publik. Kekuasaan selalu mengandung ujian etis: bukan pada saat dipuji, melainkan ketika dihadapkan pada ketidaknyamanan berupa kritik. Reaksi seorang pemegang jabatan tinggi sering kali menjadi cermin kualitas batin kekuasaan itu sendiri.

Ketika kritik dibalas dengan kemarahan, ejekan, atau kata-kata yang tidak pantas, maka sesungguhnya tersingkaplah bagaimana kekuasaan tersebut dipahami, dikelola, dan dihayati.

Dalam filsafat kekuasaan, kritik adalah elemen esensial yang memastikan bahwa kekuasaan tidak berubah menjadi dominasi. Kekuasaan yang sehat bekerja dalam ruang dialog. Ia menerima keberatan, mendengar kegelisahan, dan merespons dengan akal budi, bukan amarah.

Ketika seorang pejabat publik, apalagi seorang pejabat tinggi negeri ini; tidak mampu menahan diri menghadapi kritik, hal itu mengindikasikan pergeseran persepsi bahwa jabatan adalah identitas pribadi, bukan amanah sosial. Di titik inilah kekuasaan berubah dari alat pelayanan menjadi sarana mempertahankan ego; dan pergeseran seperti ini amat berbahaya.

Respons yang tidak pantas muncul dari ketakmampuan membedakan antara kritik terhadap kebijakan dengan serangan terhadap martabat personal. Padahal, dalam prinsip dasar etika publik, pejabat negara harus memisahkan diri dari egonya. Ia wajib menyadari bahwa jabatan yang ia emban adalah bagian dari sistem yang harus terbuka terhadap koreksi. Ketika seorang pejabat bertindak seolah-olah kritik terhadap tugasnya adalah penghinaan terhadap dirinya sebagai individu, ia menunjukkan bahwa kekuasaan telah merasuki struktur pikirannya dan menciptakan identifikasi yang keliru: “jabatan adalah saya”. Relasi ini selalu melahirkan sikap over-sensitif, dan kesensitifan inilah yang sering berujung pada keluarnya kata-kata tidak pantas dari mulutnya.

Filsafat kekuasaan menegaskan bahwa kekuasaan tidak pernah berdiri netral. Ia membentuk subjek, mempengaruhi cara bertindak, bahkan cara melihat dunia. Kekuasaan tanpa pengendalian diri dapat menyulap seseorang yang sebelumnya bijak menjadi reaktif. Ketika seorang pejabat tinggi merespons kritik dengan emosi, itu menandakan bahwa struktur kekuasaan telah mengarahkan dirinya ke mode defensif, bukan reflektif. Kekuasaan yang demikian menjauh dari prinsip pelayanan publik dan mendekat pada pola kekuasaan yang mengutamakan ketaatan daripada keterbukaan.

Di sisi lain, kritik dalam konteks pelayanan ibadah publik, seperti penyelenggaraan haji, memiliki dimensi moral yang lebih dalam. Pelayanan ini bukan sekadar teknis administratif, tetapi menyangkut pengalaman spiritual rakyat. Ketika ada keluhan, ketidakpuasan, atau saran, semua itu lahir dari rasa tanggung jawab umat terhadap ibadahnya. Semestinya seorang pejabat memaknai kritik sebagai panggilan untuk memperbaiki kualitas pelayanan, bukan sebagai serangan personal. Ketidakmampuan menangkap makna moral kritik menunjukkan bahwa kekuasaan telah menumpulkan kepekaan spiritual pejabat tersebut.

Dalam teori kekuasaan modern, terutama yang menyoroti mekanisme pengawasan sosial, kritik dari masyarakat berfungsi sebagai mekanisme checks and balances informal. Ia adalah bagian dari pengaturan kekuasaan agar tetap berada dalam rel permusyawaratan. Jika pejabat merespons kritik dengan kata-kata tidak patut, ia bukan hanya sedang melukai etika komunikasi, tetapi juga sedang merusak mekanisme keseimbangan kekuasaan itu sendiri. Ia mengirim pesan bahwa kekuasaan tidak boleh disentuh, dipertanyakan, atau dievaluasi. Padahal, kekuasaan yang tidak terbiasa disentuh kritik mudah mengarah pada otoritarianisme.

Kata-kata tidak pantas dari pejabat publik juga menciptakan preseden buruk bagi budaya politik. Publik melihat bahwa kekuasaan dapat digunakan untuk menistakan bukan hanya untuk membangun. Ketika kata-kata buruk diucapkan dari posisi otoritas, ia tidak lagi sekadar mencerminkan kualitas individu, tetapi memberi legitimasi sosial bagi praktik komunikasi yang kasar. Filsafat kekuasaan mengajarkan bahwa bahasa adalah instrumen pemerintahan; ia membentuk perilaku sosial. Maka, ketika seorang pejabat mempertontonkan bahasa yang tidak pantas, ia sedang memperlihatkan wajah kekuasaan yang kehilangan kapasitas pedagogisnya.

Namun demikian, reaksi tidak pantas dari pejabat bukan hanya soal moralitas individu; ia juga menandakan lemahnya budaya institusional. Institusi yang sehat membangun tradisi kesantunan, transparansi, dan kemampuan menerima keluhan. Jika seorang pejabat merasa perlu membalas kritik dengan kata-kata kasar, itu berarti ia tidak mendapat pembiasaan institusional untuk mengelola kritik secara elegan. Kekuasaan personal yang tidak dikawal oleh etika institusional cenderung menyimpang.

Pada akhirnya, kasus di mana pejabat tinggi merespons kritik dengan kata-kata tidak pantas mengajarkan satu hal penting: kekuasaan selalu memerlukan disiplin batin. Tanpa itu, kekuasaan mudah berubah menjadi panggung pembenaran diri. Filsafat kekuasaan mengingatkan bahwa ujian tertinggi pemegang jabatan bukanlah kemampuan memerintah, tetapi kemampuan menahan diri. Kekuasaan yang sejati tidak merasa terancam oleh kritik; ia justru menjadikannya kesempatan untuk membangun kepercayaan. Ketika seorang pejabat gagal menunjukkan kebijaksanaan itu, publik berhak menilai bahwa yang terguncang bukan martabat pejabatnya, melainkan integritas kekuasaannya.

Semoga peristiwa tersebut menjadi pembelajaran kepada kita semua, bahwa kekuasaan itu adalah kewenangan yang “dipinjamkan” oleh rakyat untuk mengatur sistem yang disepakati; bukan alat untuk menunjukkan arogansi kepada siapapun. Harus disadari bahwa semua ada akhirnya, termasuk jabatan dan kewenangan yang dipinjamkan. Pepatah lama mengingatkan: “Setiap waktu ada orangnya, setiap orang ada waktunya”. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR