Mahasiswa Pendidikan Kedokteran Universitas Malahayati Kunjungi Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Dapatkan Pembekalan Program Puskesmas Sesuai Permenkes No. 9 Tahun 2024

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi Pendidikan Kedokteran Universitas Malahayati melaksanakan kunjungan akademik ke Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung pada Rabu, 22 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Blok Community Health Oriented Program (CHOP) di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Malahayati, yang berfokus pada penerapan sistem kesehatan berbasis komunitas.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Festy Ladyani, M.Kes selaku dosen pengampu blok CHOP, menjelaskan bahwa kegiatan lapangan seperti ini sangat penting untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap penerapan kedokteran komunitas.

“Berdasarkan silabus Blok CHOP pada Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan sistem kesehatan berbasis komunitas. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan lapangan yang menunjang keberhasilan mahasiswa dalam menguasai kedokteran komunitas dengan pendekatan kedokteran keluarga, serta memahami praktik penerapannya di lapangan,” ujar Dr. Festy.

Kunjungan ini juga menjadi momen penting bagi mahasiswa untuk mendapatkan pembekalan langsung dari Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung terkait program-program Puskesmas yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 Tahun 2024.

Para pemateri dari Dinas Kesehatan yang hadir dan memberikan penjelasan dalam kegiatan ini antara lain:
• drg. Santi Sundari, M.Kes
• Leni Syahnimar, SKM., MH
• Leni Septiana, SKM
• W.D. Ari Pratama Ade Putra, SKM
• Ria Rachmawati, S.Kom
• Dini Ariyanti, SKM., M.Kes

Materi yang disampaikan mencakup penjabaran lima klaster utama Puskesmas berdasarkan Permenkes No. 9 Tahun 2024, yaitu:
1. Klaster 1: Alur administrasi Puskesmas
2. Klaster 2: Kesehatan ibu hamil, bayi, balita, dan anak
3. Klaster 3: Kesehatan remaja, dewasa, dan lansia
4. Klaster 4: Penyakit menular dan tidak menular
5. Klaster 5: Lintas sektoral (pelayanan poli, farmasi, IGD, laboratorium, dan lainnya)

Turut hadir dalam kegiatan ini Wakil Dekan Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, dr. Neno Fitriyani Hasbie, M.Kes, Ka.Prodi Pendidikan Dokter, Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes, bersama dosen prodi pendidikan dokter dr. Mira Aprilika, M.Biomed.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari mahasiswa yang merasa mendapatkan banyak wawasan baru terkait sistem pelayanan kesehatan masyarakat dan peran Puskesmas dalam mendukung kesehatan primer. Melalui pembekalan ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami keterkaitan antara teori dan praktik dalam sistem kesehatan nasional, serta siap berkontribusi di masyarakat dengan pendekatan kedokteran yang holistik dan berbasis keluarga.

Dengan adanya kunjungan ini, Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati terus berkomitmen membekali mahasiswanya dengan kompetensi akademik dan keterampilan lapangan yang sejalan dengan kebijakan dan kebutuhan sektor kesehatan di Indonesia. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswi Universitas Malahayati Raih Juara 3 Solo Song Ajang Frenchtival 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Kali ini datang dari Zahwa Dwi Alisa (23220554), mahasiswi Program Studi Manajemen yang berhasil meraih Juara 3 Lomba Solo Song Bahasa Indonesia dalam ajang Frenchtival 2025.

Kompetisi bergengsi ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa Prancis Universitas Lampung (Unila) pada 21 Oktober 2025, dan diikuti oleh berbagai peserta dari universitas serta sekolah menengah di seluruh Lampung. Frenchtival sendiri merupakan festival tahunan yang menggabungkan seni, budaya, dan bahasa, dengan tujuan mempererat hubungan antar generasi muda melalui kreativitas dan ekspresi seni.

Dalam ajang tersebut, Zahwa tampil memukau dengan suara merdunya dan pembawaan panggung yang penuh percaya diri. Penampilannya sukses memikat para juri dan penonton, hingga mengantarkannya meraih posisi ketiga di kategori Solo Song Bahasa Indonesia.

Zahwa mengaku sangat bersyukur atas pencapaian ini. Ia mengatakan bahwa prestasi ini merupakan buah dari latihan dan dukungan lingkungan kampus yang selalu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan bakatnya.

“Saya sangat bersyukur bisa membawa nama Universitas Malahayati di ajang Frenchtival 2025. Awalnya saya hanya ingin tampil sebaik mungkin dan menikmati prosesnya, tapi tidak menyangka bisa meraih juara. Terima kasih untuk semua dosen dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dan semangat,” ujar Zahwa dengan penuh rasa syukur.

Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Universitas Malahayati tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga berprestasi di bidang seni dan budaya. Semangat dan dedikasi Zahwa diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan berprestasi, mengharumkan nama almamater di berbagai ajang.

Dengan semangat muda yang kreatif dan berani tampil, Universitas Malahayati terus mendorong mahasiswanya untuk mengembangkan potensi diri dalam berbagai bidang, sesuai dengan motonya: “Mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan berprestasi.” (gil)

Editor: Gilang Agusman

Katalog buku TOREFAKSI SAMPAH KOTA: Teknologi, Implementasi dan Potensi Energi Terbarukan

 

Judul Buku : TOREFAKSI SAMPAH KOTA: Teknologi, Implementasi dan Potensi Energi Terbarukan

Penulis:

Agus Apriyanto, S.T., M.T.
Fauzi Ibrahim, S.T., M.T.
Tyan Tasa, S. Kom., M. Kom.
Retno Wahyudi, S.Pd., M.T.
Adam Wisnu Murti, S.T., M.T.
Alexander Sembiring, S.T., M.T.

ISBN: Sedang proses

Sinopsis: Dalam konteks ini, teknologi torefaksi hadir sebagai salah satu solusi inovatif
yang memungkinkan konversi sampah menjadi bahan bakar padat berkualitas
tinggi, dengan proses yang efisien, ramah lingkungan, dan berpotensi diterapkan
secara luas, baik dalam skala industri maupun komunitas lokal. Sampah
merupakan material yang bersifat heterogen dengan kadar air tinggi dan energi
yang rendah. Selama ini, sampah sering dianggap sebagai masalah, terutama di
kota-kota besar di Indonesia. Namun, sampah juga memiliki potensi untuk
dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Nilai kalor dari sampah
perkotaan bisa mencapai sekitar 25,2 MJ/kg. Meski demikian, penerapan
pengolahan sampah masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi teknis
maupun non-teknis. Mengingat kondisi tersebut, dibutuhkan metode yang tepat
untuk mengolah dan memanfaatkan sampah agar bisa dijadikan sumber energi
alternatif yang efektif dalam mengurangi volume sampah. Salah satu teknologi
yang menjanjikan untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar padat bernilai
kalor tinggi adalah torefaksi.

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-97 “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu”

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Selamat Hari Sumpah Pemuda 2025! Momentum bersejarah ini menjadi pengingat bagi seluruh pemuda dan pemudi Indonesia untuk terus bersatu, bergerak, dan beraksi demi kemajuan bangsa.

Dengan mengusung semangat “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu”, Universitas Malahayati mengajak generasi muda untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu dengan karya nyata, inovasi, serta dedikasi bagi masa depan Indonesia yang lebih gemilang.

Semangat Sumpah Pemuda harus menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk terus berinovasi, berkontribusi, dan menjaga persatuan di tengah perbedaan. Karena masa depan bangsa ada di tangan generasi muda.

Sumpah Pemuda merupakan tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada 28 Oktober 1928, saat para pemuda dari berbagai daerah dan organisasi kepemudaan berkumpul dalam Kongres Pemuda II di Jakarta.

Dalam kongres tersebut, lahirlah ikrar Sumpah Pemuda yang berisi tiga butir utama:
1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ikrar ini menjadi simbol tekad bulat para pemuda untuk menyingkirkan sekat-sekat kedaerahan dan bersatu dalam satu identitas: Indonesia. Semangat inilah yang kemudian menjadi fondasi utama perjuangan menuju kemerdekaan 17 tahun kemudian, pada 17 Agustus 1945.

Kini, semangat Sumpah Pemuda bukan hanya tentang perjuangan fisik, tetapi juga perjuangan intelektual, digital, dan sosial. Generasi muda diharapkan mampu menghadapi tantangan zaman, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan iklim, hingga globalisasi dengan semangat kolaborasi dan inovasi.

Universitas Malahayati, sebagai institusi pendidikan yang berkomitmen mencetak generasi unggul, terus menanamkan nilai persatuan dan nasionalisme kepada seluruh mahasiswa. Melalui kegiatan akademik maupun sosial, mahasiswa diajak untuk tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga berjiwa nasionalis dan berorientasi pada kemajuan bangsa.

Mari kita jadikan Hari Sumpah Pemuda 2025 sebagai momentum untuk meneguhkan kembali semangat kebangsaan.  Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-97! “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu!” (gil)

Editor: Gilang Agusman

Waktu “Surup”

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Ingat pada waktu kecil dahulu, bila senja sudah tiba, warna langit berubah jingga yang biasa disebut dengan Candikolo, dan setelahnya temaram menuju gelap. Waktu seperti itu oleh orang Jawa disebut “Surup”. Dan. Jika waktu itu tiba Ibu pasti memanggil kami anak-anaknya guna memastikan apakah sudah masuk rumah. Selanjutnya beliau akan menutup pintu menyalakan “dimar” atau lampu teplok; yaitu lampu minyak tanah yang diberi sumbu dan diberi penutup kaca. Entah mengapa, sore itu saat menuju mushala dekat rumah, kenangan itu berkelebat dalam angan dan bayang. Sepulang dari menunaikan kewajiban shalat, tergerak untuk menelusuri makna surup itu dari kacamata filsafat manusia; yang sejatinya setiap kita akan mengalami waktu “surup-nya kehidupan”.

Di dunia ini, setiap peristiwa alam sesungguhnya menggambarkan hakikat kehidupan manusia. Tidak ada yang terjadi tanpa makna, dan tidak ada yang berjalan tanpa sebab. Di antara berbagai tanda yang dihadirkan Tuhan, waktu surup adalah salah satu simbol yang sarat makna. Surup bukan sekadar perubahan warna langit dari jingga menjadi gelap, melainkan lambang dari transisi, peralihan antara terang dan gelap, antara hidup dan mati, antara kesadaran dan keheningan. Di sinilah filsafat kehidupan menemukan cerminnya, sebab dalam waktu surup manusia belajar mengenali hakikat dirinya sebagai makhluk yang selalu berubah, yang tidak kekal, dan yang pada akhirnya akan melewati masa senja kehidupannya sendiri.

Ketika langit mulai menebar warna merah keemasan dan burung-burung pulang ke sarang, muncul suasana hening yang khas. Dunia seolah berhenti sejenak, menggantung di antara terang dan gelap. Keheningan itu memberi pesan bahwa segala sesuatu yang hidup akan mengalami perubahan. Tak ada yang abadi. Manusia yang dahulu muda dan kuat, lambat laun akan memasuki masa surup kehidupannya , saat tenaga berkurang, ketika suara hati lebih nyaring daripada suara ambisi. Dalam waktu seperti itu, manusia belajar menerima kenyataan bahwa satu-satunya hal yang tetap dalam hidup adalah perubahan itu sendiri.

Pandangan orang Jawa, surup tidak hanya berarti waktu secara fisik, tetapi juga waktu yang simbolis. Ia adalah momen ketika kekuatan alam berganti arah, ketika keseimbangan antara terang dan gelap terjadi sesaat. Suasananya lembut, udara terasa tenang, dan perasaan menjadi lebih peka. Bagi manusia yang waspada, surup adalah saat paling tepat untuk menyadari keberadaannya, untuk menengok ke dalam diri. Sebab ketika cahaya luar mulai redup, cahaya dari dalam hati seharusnya menyala agar tidak tersesat dalam gelap. Di sinilah makna filosofisnya tampak jelas: ketika dunia luar menjadi gelap, manusia harus menyalakan terang di dalam dirinya.

Manusia hidup di antara terang dan gelap. Dalam terang, ia berbuat, bekerja, dan mencipta. Dalam gelap, ia merenung, menahan diri, dan berserah. Surup adalah garis tipis di antara keduanya, tempat di mana manusia diajak untuk memandang dua sisi itu dengan bijak. Surup tidak memaksa manusia memilih antara terang atau gelap, tetapi mengajarkan keseimbangan ; bahwa keduanya adalah bagian yang sama penting dari kehidupan.

Pada akhirnya, setiap manusia akan mengalami waktu surup-nya sendiri-sendiri. Tak seorang pun bisa menghindar dari masa ketika cahaya hidupnya mulai redup, ketika semangat duniawi mulai digantikan oleh ketenangan jiwa. Namun di sini tidak ada kesedihan, sebab surup bukanlah akhir. Setelah gelap, akan datang terang baru. Surup hanyalah peralihan dari satu bentuk cahaya ke bentuk cahaya lainnya; dari cahaya kasar menuju cahaya halus, dari kehidupan fisik menuju kehidupan spiritual. Dalam pemahaman ini, surup adalah simbol kesadaran rohani, pengingat bahwa kematian bukanlah penutupan, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih dalam.

Saat menatap surup, langit seperti melukis suasana melankolis yang lembut namun dalam. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak ada cahaya menyilaukan, hanya ada warna-warna lembut yang menenangkan rasa. Dalam keadaan itu, manusia bisa merasakan bahwa segala yang ada di dunia ini hanyalah singgah. Perasaan ini bukan untuk menimbulkan kesedihan, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran bahwa hidup harus dijalani dengan makna. Setiap terang akan berakhir, maka setiap masa terang harus dijalani dengan penuh arti. Surup tidak untuk ditakuti, tetapi untuk diterima sebagai pengingat bahwa tidak ada yang abadi, dan hanya kesadaran yang mampu menembus kegelapan.

Manusia yang telah melalui berbagai fase kehidupan akan lebih memahami makna surup. Saat muda, surup tampak seperti waktu yang biasa saja, hanya pertanda malam akan tiba. Namun ketika usia menua, surup menjadi simbol masa senja kehidupan, yaitu: saat seseorang lebih banyak mengingat daripada berharap. Di sini filsafat bertemu dengan rasa: kesadaran akan datangnya senja membuat manusia lebih lembut, lebih dalam, lebih dekat pada hakikat dirinya. Surup mengajarkan bahwa umur seperti perjalanan matahari; ada pagi, siang, dan senja. Tak ada yang lebih penting, sebab semuanya memiliki peran dalam kesempurnaan hidup.

Maka, waktu surup lebih dari sekadar perubahan warna langit. Ia adalah kitab filsafat yang ditulis oleh alam, yang dapat dibaca oleh siapa pun yang mau berhenti sejenak dan menatapnya dengan hati. Setiap sinar jingga yang menyatu dengan gelap memberi pelajaran bahwa hidup tidak harus selalu terang, tetapi harus jujur dalam menerima setiap perubahannya. Manusia yang memahami makna surup akan hidup lebih tenang, lebih sadar, dan lebih siap ketika masa surup-nya sendiri tiba.

Setiap waktu surup yang tampak di langit sejatinya adalah panggilan agar manusia mengingat kehidupan dirinya sendiri. Surup bukan hanya milik langit, tetapi juga ada di dalam hati setiap manusia. Setiap kali manusia mengalami kehilangan, perpisahan, atau kesedihan, ia sebenarnya sedang mengalami surup batinnya. Namun dari sana akan tumbuh cahaya baru yaitu, cahaya yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih sejati. Surup bukan akhir, melainkan awal dari kebijaksanaan yang abadi.  Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

“Nggampangke”

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Komunitas tenaga pengajar di lantai lima tempat penulis berkantor saat tiba waktu sholat selalu mendirikan sholat berjamaah. Siang itu sebelum dhuhur ada diskusi kecil diantara jamaah yang menengarai saat ini munculnya sikap “nggampangke” di semua lapisan masyarakat, dari pejabat sampai rakyat; tidak terkecuali juga mahasiswa. Beliau yang berlatar belakang budaya Jawa sangat gamblang menjelaskan ini. Selesai sholat justru diksi itu mengganggu pikiran untuk ditelusuri makna hakikinya; sebab fenomena itu ternyata banyak terjadi di tengah masyarakat, tidak terkecuali para petinggi negeri ini.

Dalam bahasa Jawa, “nggampangke” berarti menganggap sesuatu mudah, atau memudahkan semua hal, seolah semua bisa diselesaikan tanpa usaha mendalam, tanpa refleksi, tanpa proses yang sungguh-sungguh. Sikap ini sekilas tampak positif, seolah-olah penuh rasa optimis, tidak mau ribet, dan selalu mencari jalan cepat. Namun di balik kesan ringan itu, tersembunyi krisis yang lebih dalam: hilangnya kesadaran terhadap nilai proses, tanggung jawab, dan makna mendalam dari tindakan manusia.

Fenomena “nggampangke” ini menjadi cerminan cara berpikir manusia kontemporer yang hidup di tengah budaya instan. Segala sesuatu dituntut serba cepat, efisien, dan praktis. Masyarakat tidak lagi menghargai waktu yang dibutuhkan untuk memahami, meneliti, atau merenungi sesuatu secara utuh. Ketika setiap hal bisa diakses hanya dengan sentuhan jari, manusia pun mulai kehilangan kesabaran terhadap proses yang memerlukan ketekunan. Sikap “nggampangke” menjadi kebiasaan yang membentuk cara pandang baru: bahwa segala hal bisa diselesaikan dengan cepat, tanpa kedalaman. Inilah wajah baru dari krisis kesadaran manusia modern.

Pandangan filsafat kontemporer, sikap “nggampangke” dapat dipahami sebagai gejala kehilangan keterhubungan manusia dengan realitas yang sejati. Manusia kini lebih sibuk mengejar hasil dibanding memahami makna dari apa yang dikerjakan. Segalanya direduksi menjadi fungsi, efisiensi, dan manfaat jangka pendek. Akibatnya, tindakan manusia menjadi dangkal. Nilai pengetahuan direduksi menjadi informasi, nilai moral direduksi menjadi opini, dan nilai karya direduksi menjadi konten. Ketika manusia hanya melihat permukaan, ia berhenti berelasi dengan kedalaman hidup. Ia hidup di ruang datar yang penuh kesibukan, namun kosong dari refleksi.

Sikap “nggampangke” lahir dari rasa puas yang prematur. Ia menolak kompleksitas dan cenderung menghindari kesulitan. Dalam masyarakat yang dibanjiri kemudahan digital, manusia semakin terbiasa untuk mendapatkan segalanya secara instan. Belajar bisa dari potongan video singkat, bekerja cukup dengan aplikasi, bahkan berpikir pun sering digantikan oleh mesin pencarian. Semua tampak mudah, hingga akhirnya manusia tidak lagi terbiasa menghadapi tantangan yang memerlukan ketekunan. Ketika muncul masalah yang menuntut keseriusan, sikap yang lahir bukan semangat untuk memahami, melainkan keinginan untuk segera melepas atau menunda. Maka, “gampangke” menjadi jalan pintas menuju kemalasan intelektual dan emosional.

Filsafat kontemporer mengajarkan bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang harus terus berproses. Makna hidup tidak terletak pada hasil akhir, melainkan pada keterlibatan yang mendalam dalam setiap proses. Namun, budaya “nggampangke” justru mengikis kesadaran ini. Proses dianggap membuang waktu, refleksi dianggap tidak produktif, dan kesulitan dianggap hambatan yang harus dihindari. Padahal, tanpa melalui kesulitan, manusia tidak mungkin tumbuh secara autentik. Ketika semua dianggap mudah, manusia berhenti menjadi pembelajar. Ia hanya menjadi penikmat hasil, bukan pencipta makna.

Sikap “nggampangke” bukan hanya masalah pribadi, tetapi juga gejala sosial. Ia menciptakan budaya kolektif yang rapuh. Dalam masyarakat yang terbiasa dengan kemudahan, daya tahan terhadap tekanan menjadi lemah. Ketika krisis datang, baik ekonomi, sosial, maupun spiritual; masyarakat semacam ini mudah panik dan kehilangan arah. Mereka tidak terbiasa berpikir mendalam, sehingga tidak mampu membangun solusi yang berkelanjutan. Semua hal diselesaikan dengan tambal sulam, tanpa akar yang kuat. Akibatnya, masalah yang sama terus berulang, hanya berganti bentuk.

Sikap “nggampangke” juga menunjukkan krisis makna kerja dan usaha. Dalam budaya tradisional Jawa, kerja memiliki dimensi spiritual dan moral: kerja adalah laku, bagian dari perjalanan batin menuju kesempurnaan hidup. Namun dalam budaya kontemporer yang serba cepat, kerja direduksi menjadi alat mencapai hasil instan. Ketika sesuatu tidak segera membuahkan hasil, ia ditinggalkan. Nilai kesabaran dan ketekunan pun luntur. Di sini, “nggampangke” tidak hanya menjadi sikap praktis, tetapi juga bentuk pengingkaran terhadap nilai luhur kerja sebagai jalan pembentukan diri.

Pada akhirnya, “nggampangke” bukan hanya kata, tetapi cermin dari cara berpikir. Ia menunjukkan bagaimana manusia modern memandang dirinya dan dunianya. Apabila kita terus memelihara sikap ini, kita berisiko menjadi generasi yang kehilangan kedalaman berpikir dan kepekaan moral. Sebaliknya, bila kita mampu mengubahnya menjadi kesadaran baru; kesadaran bahwa setiap hal bernilai karena prosesnya, maka kita sedang menata kembali relasi kita dengan kehidupan.

Di tengah dunia yang serba cepat, mungkin justru yang paling revolusioner adalah keberanian untuk berjalan secara perlahan. Untuk tidak tergoda menganggap segala hal mudah, untuk tidak menertawakan kesulitan, dan untuk tetap menghormati perjalanan panjang menuju pemahaman sejati. Dalam kesadaran itu, manusia kembali menjadi subjek yang utuh: yang berpikir, merasakan, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, melampaui “nggampangke” bukan hanya soal mengubah perilaku, tetapi juga soal memulihkan kemanusiaan kita di tengah dunia yang nyaris kehilangan jiwa. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Dosen Universitas Malahayati Muhammad Rudy, Berbagi Inovasi Pengajaran di University of Queensland Australia

BRISBANE (malahayati.ac.id): Kebanggaan datang dari Provinsi Lampung, Muhammad Rudy, S.Pd., M.Pd, seorang dosen Universitas Malahayati yang meneliti pendidikan bahasa, telah sukses mempresentasikan temuan penelitiannya di The XXIIIrd International CALL Research Conference yang dselenggarakan di University of Queensland, Brisbane, Australia pada 3-5 Oktober 2025. Keikutsertaan ini tidak hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga membawa nama Universitas Malahayati dan Provinsi Lampung dalam peta inovasi pendidikan bahasa secara global.

Konferensi internasional yang membahas pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran bahasa (Computer Assissted Language Learning/ CALL) ini bertemakan pada upaya menciptakan lingkungan belajar yang inklusif bagi semua latar belakang seperti kemampuan bahasa, sosial dan ekonomi. Pada forum ini, Muhammad Rudy, S.Pd., M.Pd, mewakili tiga peneliti lainnya yang terdiri dari Prof. Emi Emilia, Wawan Gunawan, Ph.D., dan Destiani menyumbangkan perspektif unik pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia.

Dengan bangga, ia mempresentasikan penelitian berjudul “Designing Collaborative Resources in Data-Driven Learning to Accommodate Learner Diversity” yang dalam bahasa Indonesianya “Mendesain Sumber Belajar Kolaboratif dalam Pembelajaran Berbasis Data untuk Mengakomodasi Keberagaman Pemelajar”. Penelitian ini menawarkan solusi praktis dan inovatif untuk mengakomodasi keberagaman minat dan kebutuhan mahasiswa dalam menulis abstrak.

“Berdasarkan pengalaman saya mengajar, tantangan terbesar adalah bagaimana mengajarkan menulis abstrak penelitian berbahasa Inggris kepada mahasiswa dengan latar belakang minat dan kebutuhan yang bervariasi. Pendekatan Data-Driven Learning (DDL) atau Pembelajaran Berbasis Data yang kami kembangakan memecahkan masalah ini dengan melibatkan mahasiswa secara langsung dalam menciptakan bahan ajar mereka sendiri,” papar dosen yang akrab disapa Rudy ini.

“Mereka bekerjasama membangun kumpulan teks abstrak atau yang disebut korpus abstrak yang relevan dengan bidang mereka masing-masing. Kemudian menganalisa korpus tersebut secara bersama sama. Hasilnya, selain pemahaman yang lebih mendalam, proses ini juga membangun semangat gotong royong disertai mengakomodasi berbagai minat dan kebutuhan mahasiswa dalam aspek kebahasaan.”

Metode Pembelajaran Berbasis Data yang diusung dalam penelitian ini sangat sejalan dengan kerangka deep learning yang dicanangkan Kemendikbudasmen. Pendekatan ini menekankan pembelajaran mendalam yang berbasis pada data, di mana mahasiswa mencari, mengumpulkan, menganalisa, memanfaatkan, dan mensitesis data selama proses pembelajaran. Dengan demikian mahasiswa tidak hanya menerima informasi tetapi juga terlibat aktif mengolahnya untuk membangun pemahaman.

“Semangat kolaborasi dan kekayaan intelektual yang kami coba bangun dalam penelitian ini juga mencerminkan semangat masyarakat Indonesia secara umum yang guyub dan mampu beradaptasi. Inovasi ini membuktikan bahwa talenta-talenta muda dapat berkontribusi pada wacana pendidikan tingkat dunia,” tambahnya.

Selain sebagai tempat untuk menyebarluaskan hasil penelitian, konferensi tersebut menjadi tempat bagi Rudy untuk menambah pengetahuan serta ide penelitian berdasarkan tren dan sudut pandang inklusif. Beberapa peneliti memaparkan bagaimana pengajaran dan proyek pengabdian bahasa bisa menjadi wadah inklusifitas di negaranya masing – masing.

Hal ini menjadi gagasan untuk menerapkan hal serupa di Indonesia. Selain itu bertemu dan berkumpulnya para peneliti dari berbagai negara menjadi peluang untuk membangun jejaring komunikasi dan membuka peluang kerjasama. Sangat relevan dimana para peneliti biasanya memiliki keahlian yang sangat spesifik sedangkan kehidupan era global saling terhubung yang menuntut peneliti bisa menyelesaikan permasalahan secara bersama sama.

Muhammad Rudy merupakan dosen Program Studi Farmasi di Universitas Malahayati yang saat ini sedang menempuh pendidikan jenjang S3 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan beasiswa BPI LPDP. Partisipasi di konferensi ini mendapatkan dukungan dan pendanaan dari UPI, Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI), Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT), Kemdiktisaintek, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Hasil penelitian yang dipresentasikan tersebut bisa di nikmati di proceeding online di https://doi.org/10.29140/97817637116240-17

Untuk diskusi dan komunikasi bisa melalu email: mrudy@malahayati.ac.id (gil)

Editor: Gilang Agusman

Senja Yang Tak Pernah Selesai

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Hari itu pulang dari mengantarkan “Pulang” kerabat, keharibaan Illahi. Tiga mingu berturut-turut mendapatkan “kehormatan” untuk mengantar pulang dari kerabat. Dan, senja menjelang malam menjadikan diri untuk berkontemplasi, merenung dan mengevaluasi diri atas semua yang terjadi. Senja adalah momen ketika waktu menunjukkan wajahnya yang paling jujur: bukan janji tentang masa depan, melainkan kesadaran akan yang telah dan tak akan kembali. Di usia senja, tubuh masih ada, nafas masih berembus, detak jantung masih berlanjut, tetapi ada sesuatu yang mulai hening. Hening bukan karena ketiadaan suara, tetapi karena suara-suara itu tak lagi bermakna sebagaimana dulu.

Hari-hari menjadi ritus yang berulang: membuka mata bukan karena mimpi, tetapi karena rutinitas yang menolak berhenti. Segala yang dilakukan tak lagi bertujuan, melainkan hanya untuk menjaga agar tidak seluruhnya diam. Bukan karena malas bergerak, tetapi karena gerak kini tak membawa kemana-mana. Apa yang dulu disebut sebagai tujuan hidup perlahan kehilangan daya. Yang dahulu menjadi cita-cita, kini hanya menjadi bagian dari sejarah internal yang tak lagi relevan dengan realitas hari ini. Di situlah senja dimulai; bukan pada pukul lima sore, tapi pada saat kesadaran tentang keterbatasan hadir sepenuhnya.

Filsafat kontemporer tidak menawarkan utopia. Tetapi hanya mempersilakan manusia berdiri tegak di hadapan absurditas, lalu bertanya: “Apakah engkau masih bersedia hidup walau tahu semuanya akan berakhir, dan bahkan mungkin tanpa alasan yang bisa kamu terima?” Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, namun ia mengguncang dasar dari apa yang selama ini dijadikan sandaran. Ketika dunia tidak lagi memberi validasi, dan hidup tak lagi menawarkan kemajuan, maka satu-satunya yang tersisa adalah kesadaran vulgar: “aku masih hidup, dan itu saja”.

Ada kehormatan dalam menerima kekosongan tanpa lari dari kenyataan. Tidak mencari pelarian ke masa lalu, tidak memaksa diri untuk membuat makna baru yang artifisial, tidak mencoba menyembuhkan luka dengan harapan palsu. Filsafat kontemporer mengajarkan bahwa yang absurd bukan untuk ditolak, tapi untuk dihidupi, bahkan dinikmati. Hidup bukan tentang mengisi kekosongan, tetapi merengkuhnya, memeluknya seperti udara: tak terlihat, namun menyusun setiap tarikan nafas. Maka kesendirian bukan kelemahan, tetapi cara keberadaan berelasi dengan dirinya sendiri secara paling murni.

Di senja yang tak pernah selesai, waktu menjadi cair. Masa lalu dan masa kini bercampur dalam ruang kesadaran yang tidak lagi peduli pada kronologi. Suatu aroma, bayangan cahaya, atau bahkan diam bisa membangkitkan sesuatu yang sudah puluhan tahun terpendam. Namun semua itu tidak lagi membawa rasa manis; yang tersisa hanyalah kepahitan nostalgia yang tak bisa diulang. Saat itulah muncul satu pemahaman penting: bahwa segala sesuatu yang indah tak ditakdirkan untuk dimiliki selamanya. Sama halnya sesuatu yang pahit juga ditakdirkan untuk tidak dinikmati sepanjang masa.

Filsafat kontemporer menolak gagasan tentang kebahagiaan sebagai tujuan akhir. Ia lebih condong pada kesadaran akan keberadaan sebagai proses terbuka, tanpa jaminan akhir yang menggembirakan. Dalam kerangka ini, usia senja adalah laboratorium paling jujur bagi kehidupan manusia. Di dalamnya, tidak ada lagi ruang untuk ilusi. Yang ada hanyalah tubuh yang menua, pikiran yang semakin selektif, dan dunia yang terus berubah tanpa menunggu siapa pun. Maka pertanyaannya bukan lagi “apa yang akan kudapatkan?”, melainkan “bekal apa yang aku persiapkan untuk pulang ?”

Menghadapi senja yang tak pernah selesai berarti menghadapi hari-hari yang terasa serupa tetapi tidak sama. Tidak ada perayaan, tidak ada gebrakan. Yang ada hanyalah keheningan. Tapi justru dalam keheningan itu, ada ruang untuk mendengar suara-suara terdalam. Suara yang selama ini tenggelam oleh hiruk pikuk dunia: suara keraguan, suara penyesalan, suara penerimaan. Semua itu muncul seperti kabut: samar, namun tak bisa diabaikan. Di sanalah proses pembersihan batin berlangsung. Bukan pembersihan moralistik, melainkan pembersihan dari segala lapisan yang tidak perlu, hingga hanya tersisa inti: keberadaan itu sendiri.

Senja adalah masa di mana manusia tak lagi menjadi pusat. Manusia belajar menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar: waktu, alam, semesta. Manusia tidak lagi mencoba mengendalikan, hanya berusaha memahami. Dan dalam pemahaman itu, ada kebebasan. Kebebasan yang tidak datang dari pilihan, tetapi dari penerimaan total. Bukan pasrah, melainkan sadar. Bahwa yang terjadi memang harus terjadi, dan yang hilang memang tak bisa lagi kembali. Maka, keterbukaan terhadap kenyataan menjadi bentuk tertinggi dari kebijaksanaan.

Tidak ada romantisme dalam kesendirian senja, tetapi di sana ada kejujuran. Kejujuran bahwa hidup tidak selalu tentang meraih, kadang hanya tentang bertahan. Tidak untuk tujuan besar, tetapi karena ada kesadaran kecil bahwa keberadaan itu sendiri cukup. Bahwa menjadi ada, meski dalam keheningan, dalam keriput, dalam lambatnya langkah; adalah bentuk kemenangan atas kehampaan mutlak. Dan kemenangan itu tidak perlu sorak-sorai, cukup dengan satu tarikan napas yang disyukuri.

Dan jika suatu hari, tubuh tak lagi kuat berjalan, jika suara tak lagi sanggup diperdengarkan, jika dunia akhirnya melupakan: tidak apa-apa. Karena keberadaan telah dituliskan, bukan di lembar sejarah atau batu nisan, tapi di ruang paling sunyi dalam kesadaran: ruang yang pernah memilih untuk hidup, sekalipun dalam sepi. Kontemplasi ini akan terus berjalan dan berulang “senja demi senja” sampai Tuhan memanggil pulang. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Gelar Serah Terima 53 Mahasiswa Coass di RSUD Ahmad Yani Metro

METRO (malahayati.ac.id): Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati kembali menjalin sinergi dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Yani Metro melalui kegiatan serah terima mahasiswa profesi dokter (Co-ass) yang digelar pada Rabu, 22 Oktober 2025. Sebanyak 53 mahasiswa profesi dokter resmi diserahkan untuk memulai masa pembelajaran klinik di rumah sakit tersebut.

Acara berlangsung khidmat dan penuh semangat, dihadiri oleh Direktur RSUD Ahmad Yani, dr. Fitri Agustina, M.K.M, beserta jajaran manajemen rumah sakit. Turut hadir pula Kaprodi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, dr. Ade Utia Detty, M.Kes, serta para dosen pembimbing dari Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan prosesi serah terima secara simbolis mahasiswa profesi dokter dari pihak Universitas Malahayati kepada RSUD Ahmad Yani Metro. Seremoni ini menandai dimulainya masa praktik klinik mahasiswa yang akan menjalani pembelajaran langsung di bawah bimbingan dokter-dokter spesialis dan tenaga medis profesional di rumah sakit tersebut.

Dalam sambutannya, dr. Fitri Agustina, M.K.M menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada RSUD Ahmad Yani Metro sebagai tempat pendidikan klinik bagi calon dokter muda dari Universitas Malahayati.

“Kami merasa terhormat dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa profesi dokter Universitas Malahayati. Kami berharap para mahasiswa dapat menimba ilmu dengan sungguh-sungguh, mengasah keterampilan klinis, dan menanamkan nilai-nilai profesionalisme dalam setiap pelayanan kepada pasien,” ujar dr. Fitri.

Sementara itu, dr. Ade Utia Detty, M.Kes, selaku Kaprodi Profesi Dokter, dalam sambutannya berpesan agar para mahasiswa memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.

“Co-ass adalah fase penting dalam perjalanan menuju profesi dokter. Di sinilah mahasiswa belajar langsung menghadapi dunia kerja nyata di bidang kesehatan. Gunakan kesempatan ini untuk belajar, beradaptasi, dan mengembangkan keterampilan klinis maupun empati terhadap pasien,” tutur dr. Ade.

Kegiatan serah terima ini menjadi bukti nyata komitmen Universitas Malahayati dalam mencetak lulusan dokter yang kompeten, beretika, dan siap mengabdi kepada masyarakat. Melalui kerja sama dengan berbagai rumah sakit pendidikan, termasuk RSUD Ahmad Yani Metro, mahasiswa diharapkan mampu memperoleh pengalaman klinis yang beragam dan mendalam.

Dengan dimulainya masa pembelajaran klinik ini, 53 mahasiswa Koas Universitas Malahayati siap mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah dan terus mengasah kemampuan profesional mereka sebagai calon dokter yang berintegritas dan humanis. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa S1 Farmasi Universitas Malahayati Borong Prestasi Nasional di Berbagai Ajang Kompetisi

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh mahasiswa Program Studi S1 Farmasi Universitas Malahayati. Dalam kurun waktu September hingga Oktober 2025, sejumlah mahasiswa sukses meraih juara di berbagai ajang kompetisi tingkat nasional, membuktikan kualitas dan daya saing mahasiswa Farmasi Universitas Malahayati di kancah akademik nasional.

Salah satu prestasi membanggakan diraih oleh Zaskia Syahla (24380103) yang berhasil meraih Juara 2 Lomba Poster Tingkat Nasional dalam acara Gebyar Farmasi 2025 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang pada 18 Oktober 2025.

Zaskia mengangkat tema poster tentang pentingnya inovasi farmasi dalam mendukung kesehatan masyarakat modern. “Saya sangat bersyukur dan bangga bisa membawa nama Universitas Malahayati di ajang nasional ini. Prosesnya penuh tantangan, tapi dukungan dari dosen dan teman-teman membuat saya semangat untuk memberikan yang terbaik,” ujar Zaskia dengan penuh rasa syukur.

“Kemenangan ini menjadi motivasi untuk terus berkarya di bidang farmasi yang selalu berkembang dan menuntut kreativitas tinggi,” tambahnya.

Tak hanya itu, prestasi juga datang dari Artika Tri Ambarwati (24380158) dan Syaifa Aulia Marwah (24380095) yang berhasil meraih Juara 1 Lomba Inovasi Produk Tingkat Mahasiswa dalam acara Pharmalation Dies Natalis Farmasi Lampung yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Farmasi Universitas Lampung pada 20 September 2025. Produk inovatif yang mereka ciptakan berhasil menarik perhatian dewan juri karena menggabungkan aspek ilmiah, keberlanjutan, dan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami ingin menciptakan produk yang tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga memiliki nilai sosial dan keberlanjutan. Kemenangan ini membuktikan bahwa mahasiswa farmasi bisa berinovasi secara kreatif dan solutif,” ujar Artika, penuh semangat.

Kesuksesan berlanjut di tingkat nasional saat Aulia Yunisa (24380124) bersama Artika Tri Ambarwati dan Syaifa Aulia Marwah kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan menyabet Juara 1 Produk Inovasi Tingkat Nasional dalam ajang yang diselenggarakan oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Lampung pada acara PTDA dan Pharmacy Expo 2025 di Hotel Horison, Lampung, tanggal 27 September 2025.

Tak berhenti di situ, tim ini juga berhasil meraih Juara Favorit Produk Inovasi Tingkat Nasional dalam ajang Health Research and Innovation Expo 2025 yang diselenggarakan oleh FK-KMK Universitas Gadjah Mada pada 17 Oktober 2025, serta Juara 3 Produk Inovasi Tingkat Nasional dalam Gebyar Farmasi 2025 di Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang pada 18 Oktober 2025. Prestasi beruntun ini menjadi bukti nyata semangat dan konsistensi mereka dalam mengembangkan ide-ide inovatif di bidang farmasi.

“Kami tidak menyangka bisa meraih juara di beberapa kompetisi nasional sekaligus. Ini semua berkat kerja keras tim dan bimbingan para dosen di Universitas Malahayati,” ungkap Syaifa Aulia Marwah.

“Kami belajar bahwa inovasi bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga memberikan solusi nyata untuk kebutuhan kesehatan masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Aulia Yunisa mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian tersebut. “Perjalanan kami tidak mudah, banyak riset dan uji coba yang harus dilakukan. Namun, hasil ini membuktikan bahwa dengan tekad dan kerja sama, mahasiswa bisa berkontribusi nyata bagi dunia farmasi,” ujar Aulia Yunisa.

“Kami berharap prestasi ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan membawa nama baik Universitas Malahayati di kancah nasional maupun internasional,” tutupnya.

Prestasi-prestasi ini semakin memperkuat reputasi Program Studi S1 Farmasi Universitas Malahayati sebagai salah satu program unggulan yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan riset dan inovasi. Semangat dan kerja keras para mahasiswa ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda farmasi berikutnya. (gil)

Editor: Gilang Agusman