KETIKA REZEKI MENEMUKAN PEMILIKNYA

 

Guru Besar Universitas Malahayati

Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik ketika Marno dan Santo duduk di atas tumpukan batako. Debu masih melekat di sepatu mereka, dan suara palu dari kejauhan jadi irama yang akrab.

“San, kadang aku mikir,” kata Marno sambil menyesap kopi dari gelas plastik, “hidup kita ini aneh ya. Tiap hari kerja di tempat berbeda, tapi nasib rasanya muter-muter di situ saja.”

Santo tersenyum tipis. “Iya, tapi siapa tahu muternya lagi nyari jalannya. Rezeki itu kan nggak kelihatan bentuknya.”

Marno menghela napas. “Aku kerja keras, San. Dari pagi sampai sore. Tapi kadang cukup, kadang pas-pasan. Rasanya kayak nebak-nebak.”

“Justru itu,” jawab Santo pelan. “Kita nggak pernah tahu rezeki kita di mana. Tapi aku percaya, rezeki tahu kita di mana. Kalau nggak hari ini, ya besok. Kalau bukan uang, mungkin sehat. Atau pulang masih bisa ketawa sama keluarga.”

Marno terdiam sebentar, lalu tertawa kecil. “Kamu ini kalau ngomong suka bikin mikir. Tapi ada benarnya juga. Kemarin istriku senyum pas aku pulang, capekku langsung ilang.”

Santo ikut tertawa. “Nah itu. Jangan lupa bahagia, No. Tiap hari beda cerita. Hari ini panas, besok mungkin hujan, tapi kita tetap jalan.”

Marno mengangguk, memandang bangunan setengah jadi di depan mereka. “Iya ya, San. Selama kita masih bisa kerja, masih bisa senyum, berarti rezeki belum kehabisan alamat.”

Santo berdiri, meraih helmnya. “Ayo kerja lagi. Siapa tahu hari ini ceritanya baik.”

Manusia sering berjalan dengan peta di tangan, menebak-nebak ke mana langkah akan membawa hasil. Namun kenyataannya, peta itu sering kali meleset. Ada hari ketika usaha terasa sia-sia, dan ada hari ketika kebaikan datang tanpa diminta. Dari situlah muncul kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu di mana rezekinya berada. Ia bisa tersembunyi di tikungan yang tak terpikirkan, atau datang melalui pintu yang selama ini dianggap tertutup.

Rezeki tidak selalu berwujud angka, harta, atau benda yang bisa disimpan. Ia hadir sebagai kesempatan, kesehatan, ketenangan, dan pertemuan yang mengubah arah hidup. Banyak orang baru menyadari nilai rezeki setelah ia pergi, atau ketika sesuatu yang sederhana tiba-tiba menjadi sangat berarti. Dalam diam, rezeki seolah tahu ke mana ia harus pulang, menemukan pemiliknya pada waktu yang paling tepat, meski sering kali tidak sesuai rencana manusia.

Di tengah ketidakpastian itu, senyum menjadi bentuk perlawanan yang lembut. Senyum bukan tanda bahwa hidup selalu mudah, melainkan bukti bahwa seseorang memilih untuk berdamai denga  n keadaan. Saat hari terasa berat, senyum membantu napas tetap panjang dan pikiran tetap jernih. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang belum didapat, tetapi juga tentang apa yang masih bisa disyukuri hari ini.

Kebahagiaan sering disalahartikan sebagai tujuan akhir, padahal ia lebih tepat disebut sebagai cara berjalan. Orang yang menunda bahagia sampai semua keinginannya terpenuhi akan sering merasa lelah dan kosong. Sebaliknya, mereka yang menemukan bahagia dalam proses, sekecil apa pun, akan memiliki tenaga untuk terus melangkah. Kebahagiaan tidak menunggu hari sempurna; ia tumbuh dari penerimaan dan harapan yang dijaga.

Setiap hari membawa cerita yang berbeda, dan perbedaan itulah yang membuat hidup  bergerak. Ada hari yang penuh tawa, ada hari yang sunyi, dan ada hari yang mengajarkan kesabaran. Tidak semua cerita harus dipahami saat itu juga. Beberapa baru menemukan maknanya bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang menoleh ke belakang dan menyadari bahwa setiap kejadian memiliki perannya sendiri.

Dalam perjalanan itu, manusia belajar bahwa mengontrol segalanya adalah ilusi. Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin, menjaga niat tetap lurus, dan membuka hati terhadap kemungkinan. Ketika usaha bertemu dengan waktu yang tepat, rezeki pun datang dengan caranya sendiri. Kadang ia mengetuk pelan, kadang ia datang tiba-tiba, dan kadang ia menyamar sebagai tantangan.

Tantangan sering kali menjadi pintu masuk rezeki yang tidak disangka. Dari kegagalan, lahir ketangguhan. Dari kehilangan, tumbuh kepekaan. Dari penantian, muncul kedewasaan. Jika manusia hanya mengukur hidup dari hasil instan, banyak rezeki batin akan terlewatkan. Padahal, bekal itulah yang membuat seseorang mampu menerima dan menjaga rezeki yang lebih besar ketika tiba.

Pada akhirnya, hidup adalah tentang berjalan dengan keyakinan bahwa apa yang dititipkan akan sampai. Tugas manusia bukan mengejar dengan cemas, melainkan menjemput dengan kesiapan. Jangan lupa tersenyum dan berbahagia, karena setiap hari membawa ceritanya sendiri. Selama langkah dijaga dan hati tetap terbuka, rezeki akan selalu menemukan jalannya datang.

Salam Waras

Editor : Chandra Faza

Setelah Seragam Dilipat

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di sebuah teras rumah tua yang menghadap taman, dua pria sepuh pensiunan jenderal duduk berhadapan. Seragam telah lama tergantung rapi di lemari, digantikan kemeja sederhana dan secangkir kopi yang mulai mendingin.
Salah seorang mantan jenderal yang lebih senior membuka percakapan; “Sunyi juga ya, Mil,” ujar Jendral Komar sambil menatap daun-daun yang gugur perlahan. “Dulu, satu langkah kita diikuti puluhan orang. Sekarang, suara burung lebih sering menyapa.”
Jendral Kamil, sebagai yang lebih junior menjawab sambil tersenyum tipis. “Sunyi, tapi jujur. Dulu ramainya bukan karena kita, tapi karena jabatan.”

Komar mengangguk pelan. “Aku masih ingat, saat pertama kali masuk ruangan rapat, semua berdiri. Sekarang, masuk ke kantor lama saja, prajurit jaganya sempat bertanya aku mau ke siapa.”
Kamil tertawa pendek, lalu terdiam dan sejurus kemudian berkata: “Itu bukan hinaan, jenderal. Itu pengingat. Bahwa dunia menghormati kursi, bukan orang yang duduk di atasnya.”
Komar menghela napas, dan berguman, “Masalahnya, saat kita duduk di kursi itu, mereka memuji seolah kita tak tergantikan. Begitu turun, seakan jasa kita ikut turun.”
“Kau kecewa, jenderal?” tanya jenderal Kamil lirih.
“Bukan. Lebih ke… heran,” jawab jenderal Komar, seraya menghirup kopinya yang sudah mulai dingin, seraya berkata; “Bagaimana pujian bisa secepat itu berubah jadi lupa.”

Jenderal Kamil tidak kalah seru, beliau menukas: “Aku belajar satu hal setelah pensiun. Penghormatan sejati bukan yang diucapkan keras-keras, tapi yang tetap ada meski kita tak lagi punya kuasa.”
Jenderal Komar menoleh sambil berguman. “Dan kalau itu tak ada?”.
“Berarti kita harus berdamai,” jawab Jenderal Kamil tenang, seraya menambahkan. “Bahwa yang kita lakukan dulu cukup untuk diri kita sendiri, bukan untuk ingatan dunia.”

Angin berhembus pelan. Dua jenderal pensiunan itu terdiam, bukan karena kehabisan kata, tetapi karena akhirnya mengerti: tidak semua jasa ditakdirkan untuk dikenang, dan tidak semua akhir harus dirayakan. Datang disambut, pergi dihina. Berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Begitulah dunia. Kalimat ini terasa pahit, tetapi jujur menggambarkan irama kehidupan manusia yang kerap berulang dari zaman ke zaman.

Dunia sering kali bersikap ramah di awal, penuh senyum dan harapan, namun berubah dingin ketika kepentingan telah terpenuhi. Manusia dipuja saat dibutuhkan, lalu dilupakan bahkan direndahkan ketika perannya dianggap selesai. Fenomena ini bukan sekadar cerita personal, melainkan cermin watak sosial yang masih terus hidup hingga hari ini.

Pada awal kehadiran seseorang, dunia cenderung membuka pintu dengan tangan terbuka. Sambutan hangat, sanjungan, dan pujian mengalir deras. Kehadiran dianggap membawa manfaat, solusi, atau keuntungan. Nilai seseorang diukur dari apa yang bisa ia berikan. Selama kontribusi itu nyata dan menguntungkan, ia ditempatkan di posisi terhormat. Namun, sambutan tersebut sering kali tidak lahir dari ketulusan, melainkan dari harapan akan hasil. Ketika harapan itu terpenuhi, pujian pun menjadi mata uang sosial yang murah dan mudah dibagikan.

Masalah muncul ketika waktu berjalan dan keadaan berubah. Dunia yang dulu memuji mulai menuntut lebih, tanpa melihat batas kemampuan manusia. Kesalahan kecil diperbesar, kelelahan dianggap kelemahan, dan penurunan peran dipersepsikan sebagai ketidakbergunaan. Saat seseorang tak lagi mampu memberi seperti sebelumnya, nada dunia pun berubah. Sambutan hangat berganti sikap acuh, bahkan hinaan. Seolah-olah jasa yang pernah diberikan tak pernah ada, lenyap ditelan ingatan kolektif yang selektif.

Ironisnya, manusia sering kali ikut melanggengkan pola ini. Kita terbiasa mengingat seseorang dari kegunaannya saat ini, bukan dari perjalanan dan pengorbanan yang pernah ia lalui. Penghargaan menjadi bersyarat: ada selama manfaat terasa, hilang ketika manfaat menguap. Dalam logika seperti ini, nilai manusia direduksi menjadi fungsi. Ketika fungsi dianggap rusak atau usang, manusia diperlakukan layaknya barang yang bisa dibuang.

Rasa sakit terbesar bukanlah saat tidak lagi dipuji, melainkan saat jasa masa lalu dihapus begitu saja. Pengabdian yang dulu diagungkan berubah menjadi catatan yang dianggap tidak relevan. Inilah luka yang sunyi, karena sering kali tak terlihat dan tak diakui. Banyak orang memilih diam, menelan kekecewaan, dan melanjutkan hidup dengan sisa harga diri yang masih mereka genggam. Dunia mungkin tak peduli, tetapi luka itu nyata.
Namun, di balik getirnya kenyataan tersebut, ada pelajaran yang bisa dipetik. Dunia yang mudah memuji dan menghina mengajarkan bahwa menggantungkan harga diri pada penilaian luar adalah fondasi yang rapuh. Pujian bersifat sementara, hinaan pun demikian. Keduanya datang dan pergi mengikuti kepentingan. Jika makna diri hanya dibangun dari keduanya, maka hidup akan terus terombang-ambing tanpa pijakan yang kokoh.

Kesadaran ini mendorong manusia untuk mencari nilai yang lebih dalam dan personal. Berbuat baik bukan lagi demi tepuk tangan, melainkan karena keyakinan. Bekerja dan berjasa bukan semata agar diingat, tetapi karena itu bagian dari integritas diri. Ketika penghargaan datang, ia disyukuri. Ketika hinaan muncul, ia disikapi dengan jarak emosional. Bukan karena kebal rasa, tetapi karena memahami bahwa dunia tidak selalu adil dalam menilai.
Pada akhirnya, dunia memang seperti itu: datang disambut, pergi dihina; berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Mengharapkan dunia berubah sepenuhnya mungkin terlalu utopis. Namun, manusia selalu memiliki pilihan untuk tidak sepenuhnya larut dalam pola tersebut. Kita bisa memilih untuk lebih adil dalam menilai sesama, lebih setia mengingat jasa, dan lebih manusiawi dalam memperlakukan mereka yang pernah berkontribusi.

Di tengah dunia yang mudah lupa dan cepat menghakimi, menjaga nurani adalah bentuk perlawanan paling sunyi namun bermakna. Sebab ketika dunia gagal menghargai, setidaknya kita tidak gagal menghargai diri sendiri dan orang lain. Dan mungkin, dari sikap kecil itulah, dunia yang kejam perlahan belajar untuk menjadi sedikit lebih manusiawi.
Salam Waras (Rj)

Editor : Chandra Faza

Universitas Malahayati Kukuhkan 126 Dokter Baru dalam Prosesi Sumpah Dokter Periode ke-75

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id) Suasana haru dan khidmat menyelimuti Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati, Rabu (4/02/2026), Saat Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati sukses menggelar Prosesi Sumpah Dokter ke-75. Sebanyak 126 lulusan resmi dikukuhkan sebagai dokter baru, menandai langkah awal mereka dalam pengabdian kepada masyarakat sebagai tenaga medis profesional.

Acara sakral ini menjadi momentum bersejarah bagi para lulusan, keluarga, serta civitas akademika Universitas Malahayati. Prosesi sumpah bukan sekadar seremoni kelulusan, tetapi juga bentuk janji suci untuk menjunjung tinggi etika, tanggung jawab, dan integritas profesi dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan berperikemanusiaan.

Prosesi sumpah dipimpin langsung oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Dr. dr. Tessa Sjahriani, M.Kes. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa bangga atas capaian para lulusan yang telah menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan dokter dengan penuh dedikasi.

“Menjadi dokter bukan hanya soal gelar, tetapi soal amanah dan pengabdian. Hari ini, kalian resmi memegang tanggung jawab besar untuk melayani masyarakat dengan hati dan ilmu pengetahuan. Jadilah dokter yang berempati, berintegritas, dan terus belajar sepanjang hayat,” ujar Dr. Tessa dengan penuh semangat.

Beliau juga menegaskan pentingnya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan serta profesionalisme di tengah tantangan dunia kesehatan yang terus berkembang.

Mewakili Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, S.H., M.H., hadir Wakil rektor 4: Drs. Suharman,M.Pd.,M.Kes. Dalam sambutannya, ia memberikan pesan mendalam mengenai nilai-nilai yang harus dipegang teguh oleh seorang dokter.

“Integritas dan religiusitas adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari profesi dokter. Ilmu yang kalian miliki harus selalu disertai dengan keikhlasan dalam melayani. Jadilah dokter yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia,” tutur bapak suharman.

Ia juga mengapresiasi Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati yang terus melahirkan lulusan berkualitas dan berdaya saing tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Prosesi Sumpah Dokter ke-75 ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari institusi kesehatan dan mitra rumah sakit. Di antaranya:

Perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung : Indra P, Perwakilan dinas kesehatan prov lampung : Zarma SST M.Keb, Dinas kesehatan kota bandar lampung : Nensiria Apt, IDI Provinsi Lampung : dr. Josi Harnos MARS, IDI Kota Bandar Lampung: Dr. dr. Aila Karyus SH MKes Sp.Kklp, Direktur Rs Bintang Amin: dr. Rahmawati. M.PH, Wakil Direktur RSAM : dr. Yusmaidi Sp.B KBD, Rs Bhayangkara : dr. S. Wimbo, RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro : dr. Prima Sp. PK.

Dari internal kampus, hadir pula jajaran pimpinan Universitas Malahayati, antara lain:

Wakil rektor 2: Drs. Nirwanto, M.Kes, Wakil rektor 4: Drs. Suharman,M.Pd.,M.Kes, Dekan Fakultas Kedokteran : Dr. dr. Tessa Sjahriani, M. Kes, Ka. Prodi profesi dokter: dr Ade utia detty, M.Kes, Perwakilan IKA alumni : dr. Agus kelana, Kepala PMB : Romi J Utama SE M.Sos, ketua LPMi Universitas Malahayati : Dr. Arifki Zainaro S.Kep Ns M.Kes, Balai Karantina Kesehatan Kelas I Panjang : dr. Virgin dan Perwakilan FK Universitas Aisyah Pringsewu : dr. Hafizhah HR. M.Kes

Prosesi sumpah ditutup dengan pembacaan janji dokter dan penandatanganan berita acara sumpah yang disaksikan oleh para pejabat yang hadir. Para dokter baru kemudian menerima pin dan sertifikat sumpah sebagai simbol resmi pengukuhan profesi mereka.

Momen haru terlihat ketika para lulusan memberikan penghormatan kepada orang tua dan dosen pembimbing yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka menjadi dokter.

Dengan dikukuhkannya 126 dokter baru ini, Universitas Malahayati kembali menegaskan komitmennya sebagai salah satu institusi pendidikan kedokteran terbaik di Sumatera yang melahirkan dokter-dokter unggul, beretika, dan siap mengabdi untuk masyarakat Indonesia.

Editor : Chandra Faza

 

 

 

KUNJUNGAN SILATURAHIM DAN STUDY TOUR SMA IT BABUL HIKMAH KALIANDA LAM-SEL KE UPT. PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS MALAHAYATI

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Pada tanggal 3 Februari 2026, SMA IT Babul Hikmah Kalianda, Lampung Selatan, mengadakan kegiatan Silaturahim dan Study Tour ke UPT. Perpustakaan Universitas Malahayati Bandar Lampung.

Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar lembaga pendidikan serta memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa dan pengurus sekolah tentang pengelolaan perpustakaan modern.

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan kedatangan rombongan dari SMA IT Babul Hikmah, yang terdiri dari jajaran pengurus sekolah, termasuk kepala sekolah Bapak Salamun, SE, MM, wakil kesiswaan Masruh sidiq, Sis.I., Gr, dan Mohammad Zainuri, M.Pd, Muta’alim, S.Pd.I., M.Pd., Gr, selaku Bendahara dan beberapa guru pendamping. Mereka disambut hangat oleh Kepala UPT. Perpustakaan UniversitasMalahayati, Bapak Nowo Hadiyanto, S. Sos., beserta staf perpustakaan. Sambutan resmi dilakukan di ruang tamu perpustakaan, di mana Kepala UPT. Perpustakaan  menyampaikan ucapan selamat datang dan memberikan gambaran singkat tentang sejarah serta fasilitas perpustakaan yang dikelola oleh universitas.

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi study tour.Rombongan diajak berkeliling kompleks perpustakaan, yang mencakup ruang baca utama, koleksi buku digital, area multimedia.Pengurus SMA IT Babul Hikmah mendapat penjelasan mendalam tentang sistem manajemen perpustakaan berbasis teknologi, seperti katalog online dan layanan e-book, yang dapat dijadikan inspirasi untuk pengembangan perpustakaan sekolah mereka.

Kegiatan silaturahmi mencapai puncaknya dengan sesi ramah tamah, di mana kedua belah pihak berbagi pengalaman dalam dunia pendidikan.Kepala sekolah SMA IT Babul Hikmah, Bapak Salamun, SE, MM., menyampaikan terima kasih atas sambutan dan berharap kolaborasi ini dapat berlanjut melalui program pertukaran pengetahuan atau kunjungan balik. Acara ditutup pukul 12.00 WIB dengan foto bersama dan penyerahan cendera mata sebagai simbol persaudaraan.

Kunjungan ini tidak hanya memperkuat hubungan antar lembaga tetapi juga memberikan wawasan berharga bagi SMA IT Babul Hikmah dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui fasilitas perpustakaan yang lebih baik. Semoga kegiatan serupa dapat terus dilakukan di masa depan.

Editor : Chandra fz

126 Dokter Baru Lulusan Periode Februari 2026 Universitas Malahayati Ikuti Yudisium di Graha Bintang

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Sebanyak 126 dokter baru lulusan Universitas Malahayati Bandar Lampung mengikuti acara yudisium di Graha Bintang, Selasa, 03 februari 2026. Acara tersebut menjadi momen penting sebelum mereka menjalani sumpah dokter yang akan dilaksanakan pada hari berikutnya.

Acara yudisium ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat universitas dan fakultas, di antaranya Wakil Rektor I Prof Dr. Dessy Hermawan. S.kep Ns. M.kes , Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Tessa Sjahriani, M.Kes, Wakil Dekan Dr hidayat dr sp.pk Mkes , Ka prodi profesi ade utia detty dr m.kes, Sekertaris prodi profesi anggunan Dr M.M, serta para dosen Fakultas Kedokteran yang memberikan dukungan penuh bagi para mahasiswa.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Prof Dr. Dessy Hermawan. S.kep Ns. M.kes, menyampaikan

“Hari ini merupakan momen yang sangat penting dan bersejarah bagi para mahasiswa kedokteran yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan akademik dan profesi. Perjalanan panjang yang penuh tantangan, pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, akhirnya sampai pada titik pencapaian yang membanggakan”.

Namun perlu saya tekankan, bahwa yudisium dan sumpah dokter ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Profesi dokter adalah profesi mulia yang menuntut tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kepekaan sosial, empati, integritas, dan tanggung jawab moral yang tinggi.

Sementara itu, Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kedokteran,Dr. dr. Tessa Sjahriani, M.Kes  mengucapkan selamat kepada para lulusan.

“Persiapkan diri dengan baik untuk acara sakral besok. Setelah sumpah dokter, kalian akan mengikuti internship di daerah yang ditunjuk pemerintah selama setahun,” ujarnya.

Beliau juga berpesan agar para lulusan menjaga kesehatan dan menyampaikan terima kasih kepada orang tua yang telah mempercayakan Universitas Malahayati sebagai tempat pendidikan anak-anak mereka.

Yudisium yang berlangsung khidmat dan penuh kebanggaan ini menjadi tonggak penting bagi 126 calon dokter UNMAL untuk melanjutkan pendidikan profesi di rumah sakit pendidikan. Diharapkan, mereka mampu menjalankan tugas dengan tanggung jawab, etika, dan komitmen tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. (cfz)

Editor: Chandra fz

Torehkan Prestasi Nasional, Mahasiswa Universitas Malahayati Raih Juara 2 Kejurnas Kickboxing Indonesia 2025

Bandar Lampung (malahayati.ac.id) : Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Devi Wulandari, NPM 23500010, mahasiswa Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat, berhasil meraih Juara 2 pada ajang Kejuaraan Nasional Kickboxing Indonesia Tahun 2025.

Kejuaraan nasional tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Kickboxing Indonesia dan berlangsung pada 28 November hingga 3 Desember 2025 di Jakarta. Devi Wulandari tampil mewakili Kontingen Lampung dan bertanding pada kategori Full Contact Senior -56 Kg Women.

Dalam keterangannya, Devi menyampaikan kesannya selama mengikuti kejuaraan tersebut. Ia mengatakan bahwa ikut dalam ajang ini sangat menyenangkan dan memberikan pengalaman berharga dalam meningkatkan kemampuan serta mental bertanding.

Selain itu, Devi juga menyampaikan pesan dan harapannya ke depan, yaitu kedepan lebih banyak prestasi yang lebih tinggi agar dapat terus membawa nama baik daerah dan Universitas Malahayati di tingkat nasional maupun internasional.

Prestasi yang diraih Devi Wulandari menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Malahayati tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga mampu berkompetisi dan berprestasi di bidang nonakademik, khususnya olahraga. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa dukungan kampus terhadap pengembangan minat dan bakat mahasiswa memiliki peran penting dalam mencetak generasi muda yang berprestasi, berdaya saing, dan berkarakter.

Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membawa nama baik Universitas Malahayati di tingkat nasional. Diharapkan capaian ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri dan berani berkompetisi di berbagai ajang prestasi.

Universitas Malahayati terus berkomitmen mendukung mahasiswa dalam mengembangkan minat dan bakat, serta mendorong lahirnya prestasi-prestasi membanggakan di berbagai bidang.(fkr)

Editor : Fadly KR

Universitas Malahayati Sambut Kunjungan BKKBN Lampung, Dorong Kolaborasi Akademik dan Program Strategis

Bandar Lampung (malahayati.ac.id) : Universitas Malahayati menerima kunjungan resmi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Lampung dalam rangka mempererat kerja sama serta memperkuat koordinasi dan kolaborasi program, khususnya yang dapat diimplementasikan dalam bidang akademik.

Kunjungan tersebut disambut langsung oleh Wakil Rektor II Universitas Malahayati, Nirwanto, S.Pd., M.Kes., didampingi Wakil Rektor III Dr. Ing. Rina Febrina, S.T., M.T., Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., serta jajaran pimpinan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).

Turut hadir Ketua LPPM Prof. Erna Listiyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., Wakil Ketua LPPM Eka Yudha Chrisanto, S.Kep., Ners., M.Kep., serta Sekretaris LPPM Dewi Avianti, S.E., S.Psi.

Sementara itu, rombongan BKKBN Provinsi Lampung dipimpin langsung oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung, Soetriningsih, S.Sos., M.Si., bersama jajaran, di antaranya Hermina, Intan Anisa Fitri, Diah Puspita, Susanto, Hikmawan, dan Roni.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor II Universitas Malahayati, Nirwanto, S.Pd., M.Kes., menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut serta menegaskan komitmen universitas dalam mendukung dan bersinergi dengan program-program strategis BKKBN yang sejalan dengan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

“Universitas Malahayati sangat terbuka untuk menjalin kolaborasi dengan BKKBN, khususnya dalam pengembangan kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada isu kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung, Soetriningsih, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa kerja sama dengan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan program BKKBN, seperti Program Bangga Kencana, percepatan penurunan stunting, serta edukasi kesehatan reproduksi dan ketahanan keluarga.

“Perguruan tinggi merupakan mitra penting BKKBN dalam mencetak generasi muda yang berkualitas, berdaya saing, serta memiliki pemahaman yang baik terkait isu kependudukan dan keluarga,” ungkapnya.

Melalui pertemuan ini, diharapkan terjalin kolaborasi yang semakin erat antara BKKBN Provinsi Lampung dan Universitas Malahayati, baik dalam implementasi program akademik, kegiatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pelibatan mahasiswa dalam berbagai program unggulan BKKBN.

Kolaborasi antara Universitas Malahayati dan BKKBN Provinsi Lampung merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi dalam menjawab tantangan pembangunan sumber daya manusia ke depan. Sinergi antara dunia akademik dan lembaga pemerintah tidak hanya memperkaya proses pembelajaran di perguruan tinggi, tetapi juga memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan riset yang dihasilkan dapat berdampak langsung bagi masyarakat. Melalui kerja sama ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial serta pemahaman yang kuat terhadap isu kependudukan dan ketahanan keluarga.(fkr)

Editor : Fadly KR

Anomali Sosial Negeri Ketoprak

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Satu adegan kesenian ketoprak sedang berlangsung di satu panggung negeri ini. Sebelum adegan dimulai dua tokoh Kirun dan Kiran membaca naskah sambil diskusi di balik layar:

“Ran, aku ini kadang bingung, apa aku salah baca naskah atau memang ceritanya sudah terbalik,” kata Kirun.

“Kenapa lagi, Run? Jangan bilang ada lakon yang lebih aneh dari kemarin”.

“Ada. Ini soal penjambret yang mati karena menabrak tembok waktu kabur. Eh… yang dijambret malah diminta ganti rugi, ” kata Kirun.

“Hah? Jadi tembok dan dompetnya korban jadi saksi, tapi yang disalahkan malah yang dirugikan?” tanya Kiran.

”Iya. Logikanya jungkir balik. Orang jatuh karena lari dari melakukan kejahatan, tapi orang lain yang jadi korbannya harus menanggung akibatnya”.

“Kalau begitu, Run, maling jatuh ke got juga bisa minta santunan ke dinas pekerjaan umum,” Kiran tak bisa menahan tawa.

Kirun memegang perut karena  tak kuasa menahan tawa.

“Hehehe. Jangan-jangan nanti ada tulisan ‘Hati-hati, berbuat jahat bisa ditanggung bersama’”.

“Lucu tapi ngeri. Kalau pelaku kejahatan saja bisa diposisikan sebagai korban, batas benar dan salah jadi kabur,”kata Kirun,  “makanya ketoprak zaman dulu jelas. Yang jahat ya jahat, yang salah ya salah”.

“Sekarang peran ditukar. Penjahat pakai baju korban, korban disuruh mengerti, ” kata Kiran.

Akhirnya orang takut membela diri. Takut nanti malah disalahkan! ”

“Lebih aman pasrah, ya Run?”

“Iya, tapi negeri tanpa keberanian cuma jadi panggung sandiwara kosong!” entak Kirun.

“Dalangnya entah ke mana,” tukas Kiran,”pemainnya kebingungan, penontonnya cuma geleng-geleng. ”

“Kalau begini terus, ketoprak tidak lagi lucu,” kata Kirun.

“Tapi tetap kita tertawa Run… tertawa pahit, sambil bertanya dalam hati, apakah keadilan masih ikut main, atau sudah pulang duluan”.

Ketoprak, sebagai kesenian yang lahir dan tumbuh di wilayah bekas Kerajaan Mataram, sejak awal adalah panggung cerita tentang manusia: tentang kuasa, laku, dan akal sehat.

Ia memadukan humor, tragedi, dan petuah dalam satu tarikan napas. Namun di negeri yang kini terasa seperti panggung ketoprak yang salah kelola, cerita-cerita itu seolah keluar dari naskah, meloncat ke jalanan, ruang kelas, dan kantor-kantor, lalu berubah menjadi anomali sosial yang mengusik nalar.

Bayangkan sebuah adegan: seorang guru berdiri di depan kelas, menasihati murid-muridnya agar menjaga sikap, menghormati sesama, dan bertanggung jawab. Dalam logika pendidikan, itu adalah tindakan wajar, bahkan mulia. Namun di panggung ketoprak versi baru, adegan itu dipelintir.

Nasihat berubah menjadi tuduhan, teguran menjadi ancaman. Orang tua datang bukan untuk berdialog, melainkan melapor, seolah-olah kata-kata yang dimaksudkan membangun karakter telah menjelma kejahatan.

Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh justru menjadi ruang genting, tempat setiap kalimat ditimbang bukan dengan akal sehat, melainkan dengan rasa tersinggung. Dan, berujung orang tua lapor polisi untuk mempidanakan guru. Lucunya, itu dituruti oleh pihak yang harusnya mengayomi.

Adegan lain lebih absurd. Seorang penjambret terjatuh dan meninggal dunia setelah menabrak tembok saat melarikan diri. Dalam nalar hukum dan moral, peristiwa itu adalah konsekuensi tragis dari tindakan kriminal. Namun ketoprak anomali menulis ulang ceritanya: pihak yang dirugikan justru diminta bertanggung jawab, seolah-olah korban harus menebus nasib pelaku. Ketika aparat yang seharusnya menjaga rasa keadilan malah memberi ruang pada logika terbalik, publik dipaksa menelan ironi pahit. Keadilan tidak lagi berdiri di tengah, melainkan condong mengikuti sorak-sorai kekuasaan dan simpati yang salah alamat. Untung di negeri ini ada anggota dewan perwakilan yang masih waras, guna menyelamatkan muka negeri. Sekalipun ada yang mengatasnamakan “pihak yang dirugikan dengan logikanya”, masih tidak kehilangan muka untuk membela diri di ruang hampa.

Belum selesai penonton mencerna adegan itu, tirai terbuka pada kisah lain. Seorang pencuri motor gagal membawa hasil curiannya karena pemilik kendaraan mengamankan bagian penting mesin. Alih-alih lari atau menyerah, pelaku justru membakar motor tersebut. Api menyala bukan hanya pada rangka besi, tetapi juga pada nalar kolektif kita. Tindakan merusak menjadi ekspresi kemarahan yang dibiarkan, bahkan kerap dimaklumi. Dalam ketoprak ini, kegagalan berbuat jahat dibalas dengan kejahatan yang lebih besar, dan masyarakat hanya bisa menonton dengan dada sesak.

Rangkaian peristiwa itu bukan sekadar kumpulan kasus, melainkan gejala. Gejala dari masyarakat yang kehilangan kompas nilai. Ketika rasa benar dan salah menjadi cair, ketika tanggung jawab pribadi dikaburkan oleh perlindungan semu, dan ketika hukum diperlakukan seperti properti panggung yang bisa dipindah-pindah sesuai adegan, maka yang tersisa hanyalah kebisingan. Semua orang berteriak, tetapi sedikit yang benar-benar mendengar.

Satir penamaan “negeri ketoprak” bukanlah ejekan pada keseniannya, melainkan cermin bagi kita. Ketoprak sejati selalu punya pakem: ada tokoh bijak, ada penguasa lalim, ada rakyat jelata, dan ada pesan moral yang dititipkan di akhir cerita. Dalam anomali sosial yang kita saksikan hari ini, pakem itu diacak. Tokoh bijak dibungkam, penguasa abai, dan pesan moral tercecer di antara sensasi dan amarah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah normalisasi.

Ketika kejadian-kejadian ganjil itu diterima sebagai keseharian, ketika publik lebih sibuk berdebat di permukaan daripada membenahi akar masalah, maka remuk yang dirasakan bukan lagi retakan kecil. Ia menjadi keruntuhan pelan-pelan, nyaris tak terdengar, tetapi pasti. Kita tertawa getir, membuat lelucon, dan menyebutnya satir, padahal yang sedang kita hadapi adalah krisis empati dan akal sehat. Di titik itu, pertanyaannya sederhana namun mendesak: apakah kita masih penonton yang kritis, atau sudah menjadi figuran yang pasrah dalam ketoprak anomali sosial?

Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

SAKIT ITU ANUGERAH

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Perawat itu masuk dengan langkah pelan, membawa nampan obat dan segelas air hangat. Ruangan perawatan itu terasa sunyi, hanya suara detak jam yang terdengar samar. “Bagaimana rasanya pagi ini Pak?” tanya perawat muda yang tampan itu dengan suara lembut sambil tersenyum kepada pasien tua yang terbaring lemah. Pasien menarik napas perlahan. “Masih sakit. Kadang rasanya melelahkan harus bangun dengan kondisi seperti ini.”

Perawat mengangguk, seolah memahami sepenuhnya. “Wajar Pak merasa begitu. Tubuh sedang berjuang, dan perjuangan memang tidak selalu nyaman.” Pasien menatap langit-langit kamar. “Aku sering bertanya-tanya, kenapa harus sakit? Rasanya hidup kok jadi berhenti.” “Boleh saya jujur Pak?” ujar perawat sambil berdiri membetulkan botol infus. “Tentu.” Jawab pasien renta itu. Perawat menukas: “Banyak orang yang baru benar-benar mendengar dirinya sendiri justru saat sakit. Saat tidak bisa ke mana-mana, tidak bisa berpura-pura kuat.”

Pasien tua terdiam sejenak. “Aneh… sejak di sini, aku jadi lebih sering mengingat hal-hal kecil. Nafas, waktu, orang-orang yang peduli.” Perawat tersenyum tipis. “Itu bukan hal kecil. Itu kesadaran. Kadang sakit datang bukan untuk melemahkan, tapi untuk mengingatkan.” “Mengingatkan tentang apa?” tanya balik pasien pelan. Perawat menjawab sambil membenahi letak obat di meja pasien, “Bahwa kita manusia ini terbatas, oleh karena itu  butuh bantuan. Dan, tidak harus selalu kuat.” Pasien menoleh, matanya tampak lebih tenang. “Jadi menurutmu, sakit ini bukan sepenuhnya buruk?”. Perawat menyerahkan obat dengan hati-hati. “Tidak selalu. Ada pelajaran yang hanya bisa datang lewat jalan seperti ini.”

Pasien tua itu mengangguk pelan, sambil berguman. “Mungkin… di balik rasa sakit ini, ada sesuatu yang sedang disiapkan.” Perawat tampan itu sambil pamit undur diri untuk keluar sambil berkata. “Dan tugas kita adalah menjalaninya dengan sabar. Selebihnya, biarkan waktu dan Yang Maha Kuasa yang bekerja.” Pasien tua itu penasaran dan berkata sedikit berteriak; “kuliahmu di mana dulu”. Perawat itu menyilangkan tangannya di dada sambil  tersenyum ihlas dan sedikit membungkukan badan, kemudian menutup pintu.

Sakit sering dipahami sebagai sesuatu yang harus dihindari, disangkal, bahkan ditakuti. Ia hadir membawa rasa tidak nyaman, keterbatasan, dan terkadang keputusasaan. Namun di balik segala perih yang menyertainya, sakit dapat dimaknai sebagai rezeki yang indah dari Yang Maha Kuasa. Sebuah anugerah yang tidak selalu dibungkus dengan kegembiraan, tetapi menyimpan pelajaran mendalam tentang makna hidup, kesadaran diri, dan hubungan manusia dengan Penciptanya.

Dalam keadaan sehat, manusia kerap merasa mampu mengendalikan segalanya. Waktu terasa panjang, tenaga seolah tak terbatas, dan rencana masa depan disusun dengan keyakinan penuh. Namun sakit datang sebagai jeda yang memaksa. Ia menghentikan langkah yang terlalu cepat dan menundukkan kepala yang mungkin terlalu tinggi. Dalam keterbatasan itulah manusia belajar bahwa dirinya rapuh, bergantung, dan tidak sepenuhnya berkuasa atas tubuh serta hidupnya sendiri. Kesadaran ini bukan untuk melemahkan, melainkan untuk meluruskan kembali arah batin yang mungkin mulai jauh dari rasa syukur.

Sakit juga mengajarkan keheningan. Ketika aktivitas berkurang dan tubuh meminta istirahat, ruang refleksi terbuka lebar. Pikiran yang biasanya sibuk mengejar hal-hal duniawi perlahan bergeser pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam: tentang tujuan hidup, tentang makna keberadaan, dan tentang hal-hal yang benar-benar penting. Dalam sunyi itu, banyak hal yang sebelumnya terabaikan menjadi terlihat jelas. Perhatian terhadap hal kecil, seperti napas yang teratur atau detak jantung yang stabil, berubah menjadi nikmat yang tak ternilai.

Sebagai rezeki, sakit menghadirkan bentuk pemberian yang tidak kasat mata. Ia melatih kesabaran, keikhlasan, dan penerimaan. Tidak semua hal bisa diubah sesuai kehendak, dan tidak semua doa dijawab dengan cara yang diharapkan. Namun di situlah letak keindahannya. Proses menerima kenyataan, berjuang tanpa kepastian, dan tetap berharap di tengah ketidaknyamanan adalah latihan spiritual yang sangat berharga. Ia menumbuhkan kedewasaan batin yang sering kali tidak bisa diperoleh melalui kenyamanan.

Selain itu, sakit membuka pintu empati. Ketika seseorang merasakan sendiri betapa rentannya kondisi tubuh, pandangan terhadap penderitaan orang lain pun berubah. Rasa iba yang dulu mungkin hanya sebatas simpati kini tumbuh menjadi pengertian yang lebih dalam. Ada kesadaran bahwa setiap orang memikul beban yang tidak selalu terlihat. Dengan demikian, sakit berperan sebagai guru yang mengajarkan kelembutan hati dan kepedulian sosial.

Rezeki tidak selalu berbentuk materi atau kebahagiaan instan. Terkadang ia hadir sebagai ujian yang membentuk karakter. Sakit mengajarkan untuk menghargai kesehatan, sesuatu yang sering dianggap biasa sebelum ia hilang. Setelah melewati masa sulit, hal-hal sederhana seperti berjalan tanpa nyeri, tidur nyenyak, atau tersenyum tanpa beban terasa seperti hadiah besar. Rasa syukur pun tumbuh bukan karena memiliki segalanya, melainkan karena menyadari nilai dari hal-hal mendasar.

Hubungan dengan Yang Maha Kuasa juga mengalami pendalaman melalui sakit. Dalam kondisi lemah, doa menjadi lebih jujur dan harapan menjadi lebih tulus. Tidak lagi dipenuhi tuntutan, melainkan kepasrahan. Ada keintiman spiritual yang lahir dari pengakuan bahwa manusia membutuhkan pertolongan di luar dirinya. Dalam momen-momen seperti itu, iman tidak hanya diucapkan, tetapi dirasakan.

Pada akhirnya, sakit bukan untuk diratapi, tetapi untuk dimaknai. Ia bukan tanda hukuman, melainkan cara halus untuk mengingatkan, membersihkan, dan membentuk. Jika dilihat dengan kacamata keimanan dan kesadaran, sakit menjadi rezeki yang indah; indah bukan karena rasanya, tetapi karena dampak yang ditinggalkannya. Ia mengajarkan cahaya melalui luka, kekuatan melalui kelemahan, dan harapan melalui keterbatasan. Dalam perjalanan hidup, mungkin sakit adalah salah satu cara paling jujur untuk belajar menjadi manusia seutuhnya. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Tak Hanya Berprestasi Akademik, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Raih Juara 1 Kickboxing PORKAB

Bandar Lampung (malahayati.ac.id) : Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, Adika Hedi Pratama (NPM: 23410294), berhasil mengharumkan nama kampus dengan meraih Juara 1 Kickboxing Kelas 71 Kg Putra pada ajang Pekan Olahraga Kabupaten (PORKAB) Tanggamus 2025 yang diselenggarakan oleh KONI Kabupaten Tanggamus.

Kejuaraan tersebut berlangsung pada 4 hingga 19 November 2025 di Gedung Olahraga (GOR) Tanggamus, dan diikuti oleh atlet-atlet terbaik dari berbagai daerah. Dalam kompetisi ini, Adika menunjukkan performa yang konsisten, teknik bertanding yang matang, serta mental juara hingga berhasil keluar sebagai yang terbaik di kelas 71 Kg Putra.

Prestasi ini diraih dengan motivasi kuat untuk menjadi atlet profesional, sebuah tujuan yang terus diperjuangkan Adika di tengah aktivitas akademiknya sebagai mahasiswa Kesehatan Masyarakat. Ia memandang olahraga bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter, kedisiplinan, dan ketahanan mental.

“Teruslah berusaha untuk sebuah cita-cita, karena keberhasilan adalah kegagalan yang berhasil kita lewati,” ujar Adika. Pesan tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain agar tidak mudah menyerah dalam meraih prestasi.

Meski telah meraih juara pertama, Adika mengaku belum merasa puas karena masih banyak target dan pencapaian yang ingin diraih di masa depan. Semangat untuk terus berkembang ini mencerminkan mental atlet sejati yang tidak cepat berpuas diri.

Prestasi yang diraih Adika Hedi Pratama membuktikan bahwa mahasiswa tidak harus memilih antara prestasi akademik dan non-akademik. Keduanya dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan. Di tengah tuntutan perkuliahan, keberhasilan Adika menjadi contoh nyata bahwa konsistensi, disiplin, dan komitmen mampu melahirkan prestasi yang membanggakan serta membawa nama baik Universitas Malahayati di tingkat yang lebih luas.(fkr)

Editor: Fadly KR