Literasi Keuangan hingga E-Commerce, Prodi Akuntansi UNMAL Edukasi Siswa SMA N 1 Tulang Bawang Tengah

Bandarlampung (malahayati.ac.id): Sebagai penutup semester ganjil Tahun Akademik 2025–2026, Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati (UNMAL) melaksanakan kegiatan penyuluhan dan pengabdian kepada masyarakat sekaligus mengenalkan Program Studi Akuntansi kepada siswa-siswi SMA Negeri 1 Tulang Bawang Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 13 Januari 2026.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan lima kelompok, di mana setiap kelompok terdiri dari lima mahasiswa. Seluruh rangkaian kegiatan didampingi oleh dua dosen Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati, yaitu Apip Alansori, S.E., M.Ak., CAPM dan Hardini Ariningrum, S.E., M.Ak., CFRS.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menyampaikan materi edukatif yang dikemas dalam lima tema utama, meliputi:

  1. Literasi keuangan
  2. E-commerce
  3. Sistem informasi akuntansi
  4. Bullying
  5. Sistem akuntansi manajemen

Materi-materi tersebut disampaikan melalui pendekatan aplikatif dan praktik sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik siswa di era digital, khususnya Generasi Z.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi siswa-siswi serta memberikan pemahaman dasar mengenai ilmu akuntansi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati kepada siswa SMA sebagai bagian dari pengenalan dunia pendidikan tinggi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa-siswi SMA Negeri 1 Tulang Bawang Tengah memperoleh wawasan baru, khususnya dalam bidang keuangan dan akuntansi, serta mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi keuangan dan pemanfaatan teknologi secara bijak di era digital.

Pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati ini merupakan langkah positif dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus menjadi sarana efektif untuk meningkatkan literasi keuangan dan pemahaman akuntansi siswa SMA di era digital. Melalui penyampaian materi yang aplikatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam mengasah kemampuan komunikasi, kerja sama, dan kepedulian sosial, sehingga diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan jangkauan yang lebih luas.(fkr)

Editor: Fadly KR

Antara Hujan dan Harapan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Sore itu, kota ini di guyur hujan yang sangat lebat, orang banyak menyebutnya anomali iklim. Saat memandang curahan hujan yang begitu lebat terbersit dalam ingatan untuk menulisnya. Atas palilah (kerelaan) dari sohib jurnalis senior yang menggawangi media ini, jadilah tulisan ini. Dan, di salah satu emper toko ada dua orang yang berteduh. Seorang berprofesi sebagai tukang ojek, dan seorang lagi penjual kue keliling. Mereka berdua terlibat pembicaraan seperti ini;

“Deras banget, ya. Dari tadi kayak nggak ada niat berhenti,” kata tukang ojek sambil memarkir motornya agak ke pinggir teras agar joknya tidak terkena timpahan air dari talang air yang meluap.
“Iya, Mas. Kue saya aja sampai basah-basah. Untung masih sempat ditutup plastik,” jawab penjual kue keliling, menggeser tampahnya lebih dekat ke dinding agar tidak terkena tempias.
“Biasanya jam segini udah dapet penumpang dua atau tiga. Ini malah dapet hujan,” ucap tukang ojek, tertawa kecil.
“Sama. Biasanya sore laku buat orang pulang kerja. Hujan begini, orang milih langsung ke rumah,” kata penjual kue. “Mas ojek narik dari pagi?”
“Dari subuh. Pagi panas, siang mendung, eh sore begini. Kadang cuaca lebih susah ditebak daripada orderan,” jawab tukang ojek sambil menyeringai.

Penjual kue mengangguk. “Kalau saya, yang susah itu kue sisa. Nggak bisa disimpan lama. Besok rasanya udah beda, bahkan cenderung basi.”
“Kalau nggak habis, dibagi ke tetangga?” tanya tukang ojek.
“Kadang. Kadang ya dimakan sendiri. Capek sih, tapi mau gimana.” Jawab penjual kue memelas.

Hujan semakin keras, suara genting dipukul air tanpa jeda.
“Mas masih kuat nunggu hujan reda?” tanya penjual kue lagi.
“Kalau nekat jalan, bahaya. Jas hujan bocor lagi,” jawab tukang ojek. “Mending nunggu. Rezeki nggak ke mana.”
“Iya, ya. Kata orang, rezeki ada waktunya sendiri.” Guman penjual Kue.
“Betul. Kita mah jalanin aja. Hujan, panas, tetap keluar rumah.” Sambung tukang ojek.

Penjual kue tersenyum, dan berkata. “Kalau hujan reda, Mas mau kue satu? Nggak usah bayar.”
“Wah, jangan gitu. Saya beli. Biar sama-sama jalan rezekinya.” Jawab tukang ojek.

Mereka terdiam sejenak, mendengar hujan yang perlahan mulai mengecil, seperti memberi isyarat untuk kembali melanjutkan hari.

Hujan selalu datang tanpa meminta izin, seperti kabar yang tiba di lini masa pada jam-jam paling sibuk. Ia bisa menjadi penanda jeda, bisa pula menjadi alasan keterlambatan. Di kota-kota yang tak pernah benar-benar tidur, hujan memantulkan cahaya lampu dan menebalkan kesepian. Namun, di sela bunyinya yang jatuh berulang, ada sesuatu yang tetap hidup: harapan. Di antara hujan dan harapan, manusia kekinian belajar menata ulang makna bertahan.

Hujan hari ini bukan sekadar peristiwa cuaca. Ia adalah metafora bagi tekanan yang datang beruntun; tagihan yang jatuh tempo, notifikasi yang tak berhenti, target yang berubah setiap pekan, dan berita yang sering kali lebih cepat daripada kemampuan kita mencernanya. Kita hidup di zaman ketika rasa cemas dapat diukur dalam persentase baterai dan kecepatan jaringan. Ketika hujan turun, ritme melambat sejenak, memaksa kita mengakui bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Di trotoar yang basah, langkah-langkah menjadi hati-hati; di kepala yang penat, pikiran mencari pegangan.

Namun harapan, seperti payung yang kadang terlupa, tetap ada meski tak selalu terlihat. Harapan kekinian tidak selalu berwujud mimpi besar yang berkilau. Ia sering hadir sebagai keputusan kecil: tetap bangun pagi meski semalam gagal, mengirim lamaran lagi meski sudah berkali-kali tak berbalas, atau memilih istirahat ketika dunia menuntut lebih. Harapan bukan lagi janji masa depan yang jauh, melainkan ketekunan pada hari ini. Ia belajar merendah agar tak mudah patah.
Di layar-layar kecil, hujan sering difilter agar terlihat indah. Kita mengunggah foto jendela berembun, menulis caption puitis, lalu melanjutkan hidup. Tapi di balik estetika itu, hujan juga berarti banjir yang berulang, rumah yang terendam, pekerjaan yang tertunda. Kekinian mengajarkan paradoks: keindahan dan kesulitan bisa berdampingan, dan keberanian bukan menolak keduanya, melainkan mengakui kehadirannya. Harapan tumbuh ketika kita berhenti menyangkal kenyataan dan mulai merawat kemungkinan.

Hujan menguji solidaritas. Saat air naik, tangan-tangan saling terulur. Di tengah keterpecahan opini, ada momen-momen sederhana ketika empati bekerja tanpa slogan. Harapan mengambil bentuk gotong royong yang disesuaikan zaman: penggalangan dana daring, informasi cepat yang menyelamatkan waktu, dan ruang-ruang diskusi yang mencoba lebih mendengar. Meski sering bising, dunia digital juga menyimpan potensi merajut ulang kepercayaan.

Hujan juga menyingkap hubungan kita dengan diri sendiri. Ketika suara luar mereda, kita mendengar yang selama ini diabaikan. Keletihan yang dipendam, kegembiraan kecil yang tertunda, dan kebutuhan untuk memaafkan diri. Harapan di sini bersifat intim: kesediaan merawat kesehatan mental, menetapkan batas, dan mengakui bahwa kuat tidak selalu berarti keras. Di zaman serba cepat, keberanian paling radikal bisa jadi adalah berhenti sejenak.

Pada akhirnya, antara hujan dan harapan, ada ruang belajar menjadi manusia. Kita belajar bahwa basah bukan akhir dari perjalanan, bahwa menunggu reda pun bagian dari bergerak. Harapan tidak menghapus hujan; ia mengajarkan cara berjalan di bawahnya, kadang dengan payung, kadang dengan membiarkan diri basah sambil tertawa. Di zaman yang penuh ketidakpastian, mungkin itulah kemenangan kecil yang paling nyata: tetap melangkah, meski langit belum sepenuhnya cerah. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Menjalani Sisa Hari

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Sore itu matahari merendah di balik pepohonan taman kecil kompleks perumahan. Dua orang lelaki usia senja duduk berdampingan di bangku besi yang catnya mulai mengelupas. Udara tidak lagi panas, justru membawa rasa dingin yang pelan-pelan meresap ke tulang.

“Badanku akhir-akhir ini cepat capek,” kata Pak Rahman sambil menarik napas panjang.

Tangannya bertumpu pada tongkat kayu yang sudah cukup lama menemaninya. Pak Hadi menoleh, menatap wajah sahabat lamanya yang sudah sejak lama ditinggal istri meninggal dunia.

“Usia memang nggak bisa diajak bohong,” ujarnya pelan. “Tapi alhamdulillah, kita masih bisa jalan ke taman begini.”

Pak Rahman tersenyum tipis seraya berkata, “Kadang saya mikir; Kalau dulu saya lebih berani ambil keputusan, mungkin hidup saya tidak begini.” Pak Hadi terdiam sejenak, memandang daun-daun yang jatuh satu per satu. “Saya juga terkadang begitu. Nyesel karena terlalu banyak menunda, terlalu sering takut.” Ia lalu menghela napas. “Tapi mau gimana lagi? Waktunya sudah lewat.”

“Berat rasanya berdamai sama masa lalu,” ucap Pak Rahman lirih. “Iya,” jawab Pak Hadi. “Tetapi terus mengingatnya juga nggak bikin badan kita lebih kuat.”

Ia tersenyum kecil. “Sekarang ya dijalani aja. Bangun pagi masih bisa napas lega, lutut masih mau diajak jalan, itu sudah hal yang lebih dari cukup.”

Pak Rahman mengangguk pelan. Suara burung sore terdengar samar. “Dulu saya kira hidup itu soal jabatan dan pencapaian,”kata Pak Rahman.

“Sekarang kita tahu,” potong Pak Hadi lembut, “hidup itu soal bisa bangun tanpa rasa sakit yang berlebihan dan pulang dengan hati yang nggak terlalu penuh beban.”

Mereka berdua terdiam cukup lama. Senja semakin turun, menyisakan cahaya tipis yang hangat. “Ada satu hal yang bikin saya tenang,” kata Pak Rahman akhirnya. “Kita masih dikasih badan sehat, meski nggak sempurna.”

Pak Hadi tersenyum, lalu berdiri perlahan. “Itu sebabnya hari ini masih layak dijalani.”

Keduanya melangkah pulang karena sayup-sayup terdengar suara adzan magrib, dengan langkah pelan, meninggalkan bangku taman yang sunyi, membawa sisa usia yang tak lagi panjang, tapi masih cukup untuk terus disyukuri.

Ada kalanya hidup terasa seperti kumpulan keputusan yang datang terlambat. Kita menoleh ke belakang dan menemukan banyak hal yang seandainya saja bisa diulang, diperbaiki, atau setidaknya dipahami dengan lebih tenang.

Penyesalan sering hadir diam-diam, lalu tumbuh menjadi beban yang berat. Ia mengendap di pikiran, membuat hati lelah, dan perlahan menggerogoti rasa syukur. Namun pada satu titik, kita dihadapkan pada kesadaran sederhana: “sudah jangan disesali, sekarang dijalani saja, yang penting kita diberi badan sehat”. Kalimat ini terdengar biasa, tetapi menyimpan kebijaksanaan yang dalam dan menenangkan.

Menjalani hidup apa adanya bukan perkara mudah. Ada hari-hari ketika luka lama kembali terasa perih, ketika ingatan muncul tanpa diundang, dan ketika rasa bersalah datang tanpa ampun. Namun hidup tidak menuntut kita untuk selalu kuat, ia hanya meminta kita untuk terus berjalan. Perlahan, dengan langkah yang kadang tertatih, kita belajar bahwa bertahan saja sudah merupakan bentuk keberanian. Tidak semua orang mampu bangkit dengan gemilang; sebagian hanya mampu bangun dari tempat tidur dan itu pun sudah cukup.

Di tengah semua kegelisahan itu, kesehatan sering kali menjadi hal yang baru disadari nilainya saat ia terancam hilang. Badan yang sehat adalah anugerah yang kerap dianggap remeh. Kita sibuk mengejar pencapaian, pengakuan, dan validasi, sampai lupa bahwa tanpa tubuh yang berfungsi dengan baik, semua itu tidak akan berarti banyak. Saat tubuh masih mampu bernapas tanpa bantuan, berjalan tanpa rasa sakit, dan terbangun setiap pagi, sesungguhnya kita telah memiliki alasan yang kuat untuk melanjutkan hidup.

Kesehatan tidak selalu berarti bebas dari penyakit. Terkadang, sehat berarti masih mampu tersenyum meski ada keterbatasan, masih bisa mensyukuri hal kecil meski kondisi tidak sempurna. Ada ketenangan yang lahir ketika seseorang menyadari bahwa hidup tidak harus selalu ideal untuk tetap dijalani dengan penuh makna. Selama tubuh masih diberi kesempatan untuk bertahan, selama jantung masih setia berdetak, harapan tidak pernah benar-benar habis.

Menjalani hari ini juga berarti berdamai dengan diri sendiri. Kita berhenti membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, berhenti memaksa diri untuk memenuhi standar yang tidak kita pahami asalnya. Hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat atau paling sukses. Ia adalah perjalanan personal yang penuh tikungan dan kejutan. Ada orang yang menemukan jalannya lebih awal, ada pula yang tersesat berkali-kali sebelum akhirnya mengerti ke mana harus melangkah. Semua itu sah dan manusiawi.

Ketika penyesalan datang, mungkin yang perlu dilakukan bukan melawannya, tetapi mendengarkannya sebentar, lalu melepaskannya dengan perlahan. Penyesalan bisa menjadi pengingat agar kita lebih bijak ke depan, bukan cambuk untuk menghukum diri tanpa henti. Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana bersikap hari ini. Dan sering kali, sikap paling bijak adalah menerima hidup apa adanya dengan rasa syukur yang sederhana.

Pada akhirnya, hidup tidak selalu tentang memperbaiki semua kesalahan, melainkan tentang belajar hidup bersama konsekuensinya. Setiap orang punya cerita masing-masing. Kita mungkin tidak memiliki masa lalu yang sempurna, tetapi kita masih memiliki hari ini.

Selama badan masih sehat, selama napas masih bisa dihirup dengan bebas, selalu ada kesempatan untuk menjalani sisa hidup dengan lebih tenang. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri. Cukup jalani saja, satu hari pada satu waktu, dengan kesadaran bahwa bertahan pun adalah bentuk kemenangan kecil yang layak dirayakan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Matematika di Balik Jaringan Modern, Dibahas di Universitas Malahayati

BandarLampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menyelenggarakan forum ilmiah bertaraf internasional melalui kegiatan International Professor Summit yang digelar pada Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati. Kegiatan ini mengangkat tema “National Numeracy Crisis: The Strategic Role of Mathematics Education, from School to Higher Education.”

Forum ini menjadi wadah strategis bagi para akademisi dan pakar matematika nasional maupun internasional untuk mendiskusikan peran penting matematika dalam menjawab tantangan numerasi serta penerapannya dalam berbagai persoalan nyata, termasuk pengembangan infrastruktur dan sistem jaringan.

Salah satu materi disampaikan oleh Prof. Wamiliana dari Universitas Lampung (UNILA), pakar di bidang Optimization, dengan topik “The Constrained Spanning Tree Problem: Balancing Cost and Constraints.” Dalam paparannya, Prof. Wamiliana membahas pengembangan konsep Minimum Spanning Tree (MST) dalam teori graf dengan memasukkan berbagai kendala nyata yang sering ditemui dalam perencanaan jaringan.

Ia menjelaskan bahwa dalam praktik, desain jaringan tidak hanya mempertimbangkan biaya minimum, tetapi juga harus memperhitungkan berbagai batasan seperti derajat simpul, diameter jaringan, keterbatasan anggaran, hingga periode waktu pembangunan. Beberapa varian penting yang dibahas antara lain Constrained MST, Degree-Constrained MST, Multi-Period Degree-Constrained MST, serta Minimum Routing Cost Spanning Tree, yang banyak diaplikasikan dalam bidang telekomunikasi, transportasi, dan pembangunan infrastruktur.

Lebih lanjut, Prof. Wamiliana menyoroti tantangan komputasi dari permasalahan tersebut yang bersifat NP-hard, sehingga tidak selalu dapat diselesaikan secara eksak. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan solusi alternatif melalui algoritma aproksimasi, metode heuristik, serta pemrograman integer untuk memperoleh solusi yang efisien dan mendekati optimal.

Dalam pernyataannya, Prof. Wamiliana menegaskan bahwa permasalahan jaringan di dunia nyata tidak cukup diselesaikan dengan optimasi biaya semata. “Pendekatan matematika dan algoritma optimasi modern memungkinkan kita memodelkan berbagai kendala secara sistematis, sehingga solusi yang dihasilkan lebih realistis, efisien, dan aplikatif untuk pembangunan infrastruktur berskala besar,” ujarnya.

Pemaparan ini mendapat perhatian peserta karena menunjukkan kontribusi nyata matematika terapan dalam perencanaan dan pengembangan sistem jaringan modern. Melalui International Professor Summit, Universitas Malahayati terus menegaskan komitmennya dalam mendorong diskusi akademik berkualitas serta memperkuat peran matematika sebagai fondasi penting dalam pembangunan berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan.

(fkr)
Editor: Fadly KR

Mengapa Aljabar Linear Jadi Kunci Pemecahan Masalah Dunia Nyata? Ini Jawabannya di Malahayati

BandarLampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali memperkuat perannya sebagai pusat diskusi akademik internasional melalui penyelenggaraan International Professor Summit yang digelar pada Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati. Kegiatan ini mengusung tema “National Numeracy Crisis: The Strategic Role of Mathematics Education, from School to Higher Education.”

Forum ilmiah ini menghadirkan para profesor dan akademisi nasional maupun internasional untuk membahas peran strategis pendidikan matematika dalam menjawab tantangan krisis numerasi, khususnya melalui penguatan pemahaman konseptual dan penerapan matematika dalam permasalahan dunia nyata.

Salah satu materi disampaikan oleh Prof. Jumat Bin Sulaiman dari Universiti Malaysia Sabah (UMS), pakar di bidang Numerical Analysis, dengan topik “From Linear Algebra to Optimization: Reconnecting Linear Solvers with Real-World Problems.” Dalam paparannya, Prof. Jumat mengulas keterkaitan erat antara aljabar linear, sistem persamaan linear, dan penerapannya dalam berbagai permasalahan optimasi serta komputasi di dunia nyata.

Ia menjelaskan sejumlah metode numerik yang banyak digunakan dalam penyelesaian masalah nilai batas, pemrosesan citra, hingga optimasi skala besar, seperti finite difference, full-sweep, half-sweep, dan quarter-sweep. Selain itu, Prof. Jumat juga memaparkan hasil berbagai penelitian terapan yang menunjukkan bahwa metode iteratif dan pemodelan matematis mampu meningkatkan efisiensi komputasi sekaligus kualitas solusi pada bidang teknik, ekonomi, dan sains terapan.

Dalam pernyataannya, Prof. Jumat menegaskan bahwa penguasaan konsep dasar aljabar linear merupakan fondasi penting dalam menyelesaikan persoalan optimasi modern. Integrasi antara metode matematis klasik dan pendekatan komputasi yang efisien dinilai mampu menghasilkan solusi yang lebih cepat, akurat, dan berdampak langsung pada pengembangan teknologi serta pengambilan keputusan berbasis data.

Pemaparan tersebut mendapat respons positif dari peserta karena relevansinya dengan kebutuhan dunia industri dan pengembangan riset terapan. Melalui International Professor Summit, Universitas Malahayati terus mendorong penguatan literasi numerasi dan pengembangan ilmu matematika yang aplikatif sebagai kontribusi nyata dalam menjawab tantangan global di bidang pendidikan dan teknologi.(fkr)


Editor: Fadly KR

Benarkah AI Berasal dari Matematika? Ini Penjelasannya di International Professor Summit

Bandar Lampung (malahayati.ac.id) — Universitas Malahayati kembali menggelar forum ilmiah internasional melalui kegiatan International Professor Summit yang diselenggarakan pada Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati. Kegiatan ini mengusung tema “National Numeracy Crisis: The Strategic Role of Mathematics Education, from School to Higher Education.”

Forum ini menjadi ruang akademik strategis untuk membahas peran pendidikan matematika dalam menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam menghadapi era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Kegiatan tersebut menghadirkan para profesor dan akademisi dari dalam dan luar negeri untuk berbagi gagasan serta hasil kajian ilmiah.

Salah satu materi disampaikan oleh Prof. Norihan Md Arifin dari Universiti Putra Malaysia (UPM), pakar di bidang Numerical Method, dengan topik “From Equations to Intelligence: Mathematical Modeling and AI Competitions.” Dalam paparannya, Prof. Noribah menjelaskan bahwa pemodelan matematika memiliki peran penting sebagai jembatan antara persamaan matematis dan pengembangan kecerdasan buatan.

Ia menguraikan bagaimana model matematika digunakan untuk memahami, memprediksi, dan mengoptimalkan berbagai fenomena kehidupan nyata. Selain itu, Prof. Norihan juga menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu, ketika persamaan matematis tidak dapat dirumuskan secara eksplisit, pendekatan berbasis data dapat digunakan untuk membangun model yang representatif.

Lebih lanjut, Prof. Norihan memperkenalkan model cerdas seperti Artificial Neural Network (ANN) yang mampu mempelajari pola-pola kompleks dari data. Menurutnya, penguatan literasi matematika menjadi fondasi penting dalam pengembangan AI, termasuk dalam berbagai kompetisi sains dan teknologi yang mendorong inovasi dan kreativitas generasi muda.

Dalam pernyataannya, Prof. Norihan menegaskan bahwa kecerdasan buatan pada hakikatnya merupakan matematika yang mampu belajar dari data. “Dengan membekali pelajar pemahaman pemodelan matematika sejak dini, mereka tidak hanya mampu memahami kehidupan secara kuantitatif, tetapi juga siap menghadapi tantangan teknologi masa depan melalui pemikiran yang logis, analitis, dan inovatif,” ujarnya.

Pemaparan tersebut mendapat perhatian besar dari peserta karena relevansinya dengan pengembangan pendidikan matematika dan teknologi masa depan. Melalui International Professor Summit, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan literasi numerasi dan integrasi matematika dengan kecerdasan buatan sebagai bagian dari transformasi pendidikan berdaya saing global.(fkr)


Editor: Fadly KR

Mengapa Data Tak Pernah Berbohong? Peran Statistika Dibahas di International Professor Summit

Bandar Lampung (malahayati.ac.id) — Universitas Malahayati kembali menggelar forum ilmiah internasional melalui kegiatan International Professor Summit yang diselenggarakan pada Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati. Kegiatan ini mengusung tema “National Numeracy Crisis: The Strategic Role of Mathematics Education, from School to Higher Education.”

Forum akademik ini menjadi wadah diskusi strategis dalam membahas peran pendidikan matematika dan statistika dalam menjawab tantangan krisis numerasi nasional, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. International Professor Summit menghadirkan para profesor dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi untuk berbagi gagasan, riset, dan pemikiran keilmuan berbasis data.

Salah satu materi disampaikan oleh Prof. Mustopa Usman dari Universitas Lampung (UNILA) dengan topik “Peran Statistika dalam Komunikasi Pemikiran Keilmuan.” Dalam paparannya, Prof. Mustopa menjelaskan bahwa statistika memiliki peran penting sebagai sarana berpikir ilmiah sekaligus alat utama dalam mengomunikasikan pemikiran keilmuan secara objektif dan sistematis.

Ia menguraikan bahwa statistika berfungsi untuk menjelaskan fenomena alam dan sosial melalui proses penalaran induktif yang meliputi pengumpulan data, pemodelan, pengujian hipotesis, hingga interpretasi hasil. Melalui pendekatan tersebut, data mentah dapat diolah menjadi informasi ilmiah yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Sebagai contoh penerapan, Prof. Mustopa memaparkan pemodelan migrasi penduduk di Indonesia menggunakan pendekatan proses stokastik dan Markov Chain. Model tersebut menunjukkan bagaimana pola perpindahan penduduk dapat dianalisis secara matematis sehingga menghasilkan gambaran yang lebih jelas dan terukur mengenai dinamika sosial kependudukan.

Dalam pernyataannya, Prof. Mustopa menegaskan bahwa statistika bukan sekadar alat hitung, melainkan merupakan bahasa ilmiah yang menjembatani data dan pemahaman keilmuan. “Melalui statistika, fenomena yang kompleks dapat dikomunikasikan secara objektif, terstruktur, dan dapat diuji. Hal ini sangat penting dalam mendukung pengambilan keputusan ilmiah serta pengembangan ilmu pengetahuan yang berbasis data,” ujarnya.

Pemaparan tersebut mendapat perhatian peserta karena menegaskan pentingnya literasi statistika dalam dunia akademik dan penelitian. Melalui International Professor Summit, Universitas Malahayati terus berkomitmen mendorong diskusi ilmiah berkualitas dan memperkuat peran matematika serta statistika dalam mendukung pembangunan ilmu pengetahuan dan peningkatan numerasi nasional.(fkr)


Editor: Fadly KR

Dari Matematika ke Forensik, Cara Baru Mengungkap Identitas Manusia

BandarLampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menghadirkan diskusi akademik berskala internasional melalui kegiatan International Professor Summit yang diselenggarakan pada Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati. Kegiatan ini mengusung tema “National Numeracy Crisis: The Strategic Role of Mathematics Education, from School to Higher Education.”

Salah satu materi yang dipaparkan dalam forum ilmiah tersebut adalah “Mathematical Modeling in the Field of Odontology Forensic Identification (Detro-Malay Sub-Race)” yang disampaikan oleh Prof. Sudradjat Supian dari Universitas Padjadjaran (UNPAD). Materi ini menyoroti peran strategis pemodelan matematika dalam pengembangan ilmu odontologi forensik, khususnya dalam proses identifikasi individu.

Dalam pemaparannya, Prof. Sudradjat menjelaskan penerapan pemodelan matematika pada rugae palatina (lipatan langit-langit mulut) sebagai identitas biometrik alternatif pada sub-ras Deutero-Melayu. Penelitian ini mengadaptasi formulasi matematis yang selama ini digunakan dalam sistem identifikasi sidik jari, kemudian diterapkan untuk menyusun parameter unik rugae palatina setiap individu.

Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa peluang kesamaan pola rugae palatina antarindividu sangat kecil, sehingga metode ini dinilai efektif dan memiliki tingkat akurasi tinggi. Pendekatan ini menjadi sangat relevan, terutama dalam konteks identifikasi korban bencana, ketika metode identifikasi primer seperti sidik jari atau data gigi mengalami keterbatasan.

Dalam pernyataan berita acara, para pemateri menegaskan bahwa rugae palatina memiliki potensi besar sebagai metode identifikasi forensik berbasis matematika yang akurat dan stabil. Metode ini dapat menjadi pelengkap yang kuat bagi teknik identifikasi forensik konvensional, sekaligus memperluas penerapan matematika dalam bidang kesehatan dan forensik.

Melalui International Professor Summit, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya dalam mendorong kolaborasi lintas disiplin dan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis matematika yang aplikatif. Forum ini diharapkan mampu memperkaya wawasan akademik serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan riset dan solusi ilmiah terhadap tantangan global.(fkr)


Editor: Fadly KR

Rahasia Pembelajaran Efektif Matematika dan Sains Dibongkar di Universitas Malahayati

BandarLampung (malahayati.ac.id): International Professors Summit yang diselenggarakan Universitas Malahayati dalam rangka Dies Natalis ke-32 kembali menghadirkan pemateri internasional. Salah satu materi disampaikan oleh Professor Ts. Dr. Mohd Rashid bin Abd Hamid dari Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMP), pakar di bidang Applied Mathematics, pada Rabu (7/1/2026) di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati.

Dalam presentasinya yang berjudul “Multiple Intelligences: Transforming Statistical, Mathematics and Sciences Knowledge into Real World Breakthroughs”, Prof. Rashid memaparkan pentingnya penerapan Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) yang dikemukakan oleh Howard Gardner dalam dunia pendidikan, khususnya pada bidang matematika, statistika, dan sains.

Ia menjelaskan bahwa kecerdasan tidak bersifat tunggal, melainkan multidimensi. Teori tersebut mencakup kecerdasan linguistik, logis-matematis, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, hingga naturalis. Menurutnya, pemahaman terhadap ragam kecerdasan ini menjadi kunci dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan inklusif.

Prof. Rashid menekankan bahwa setiap peserta didik memiliki potensi dan gaya belajar yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran yang selaras dengan kecerdasan dominan peserta didik akan membantu mereka memahami konsep-konsep sains dan matematika secara lebih mendalam dan aplikatif.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa penerapan teori multiple intelligences mampu menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan dunia nyata. Melalui pendekatan ini, pembelajaran matematika dan sains tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga diarahkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta pemecahan masalah kontekstual.

“Penerapan teori multiple intelligences dalam pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas pendidikan dan membantu mentransformasikan pengetahuan matematika, statistika, dan sains menjadi solusi nyata bagi permasalahan di dunia nyata,” tegas Prof. Rashid.

Pemaparan tersebut mendapat perhatian luas dari peserta karena menawarkan perspektif inovatif dalam pengembangan pendidikan matematika dan sains. Melalui International Professors Summit, Universitas Malahayati terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi pendidikan berbasis riset dan praktik pembelajaran inovatif guna menjawab tantangan pendidikan di era global.(fkr)

Editor: Fadly KR

Bisakah Matematika Memprediksi Ledakan Penduduk? Ini Jawabannya di International Professors Summit

BandarLampung (malahayati.ac.id): International Professors Summit yang diselenggarakan Universitas Malahayati dalam rangka Dies Natalis ke-32 menghadirkan sejumlah profesor nasional dan internasional untuk membahas isu strategis di bidang matematika dan sains terapan. Salah satu materi disampaikan oleh Prof. Dr. Syamsuddin Toaha dari Universitas Hasanuddin dengan topik Pemodelan Matematika dalam Dinamika Populasi.

Dalam paparannya, Prof. Syamsuddin menjelaskan bahwa pemodelan matematika memiliki peran penting dalam memahami dan menganalisis dinamika populasi melalui pendekatan persamaan diferensial. Ia menguraikan dua model pertumbuhan populasi yang umum digunakan, yakni model Malthus (eksponensial) dan Verhulst (logistik). Menurutnya, model eksponensial efektif digunakan untuk memprediksi pertumbuhan populasi dalam jangka pendek, namun memiliki keterbatasan ketika diterapkan pada jangka panjang karena tidak mempertimbangkan faktor pembatas lingkungan.

Lebih lanjut, Prof. Syamsuddin memaparkan tahapan dalam pemodelan matematika, mulai dari formulasi masalah, penetapan asumsi, penyelesaian model, hingga proses validasi menggunakan data populasi nyata. Salah satu contoh yang disampaikan adalah penerapan model logistik pada data populasi Republik Rakyat Cina, yang menunjukkan hasil prediksi lebih akurat karena mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Ia menegaskan bahwa pemilihan model matematika harus disesuaikan dengan kondisi nyata agar hasil analisis dan prediksi dapat dimanfaatkan secara optimal. “Pemodelan matematika merupakan alat penting dalam menganalisis dan memprediksi dinamika populasi. Oleh karena itu, pemilihan model yang tepat sangat diperlukan agar hasil kajian dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan yang ilmiah dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Pemaparan ini mendapat perhatian peserta karena menunjukkan kontribusi nyata matematika terapan dalam menjawab persoalan kependudukan dan perencanaan pembangunan. Melalui forum International Professors Summit, Universitas Malahayati terus mendorong diskusi akademik lintas disiplin dan negara sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan dan riset berdaya saing global.(fkr)

Editor: Fadly KR