Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Hampir setiap pekan kita disuguhi berita bagaimana pejabat tinggi negeri ini terusik oleh kerja-kerja Menteri Keuangan. Bahkan salah seorang petinggi perminyakan “mencak-mencak” menggunakan bahasa vulgar yang tidak elok didengar.
Sebelumnya juga ada pejabat senior yang juga mantan atasan Menteri Keuangan, merasa tidak nyaman dengan kelakuan mantan anak buahnya. Demikian juga ada kepala daerah yang terusik, seolah terzalimi oleh kelakuan Sang Menteri; walaupun sesungguhnya dia membuka kebodohannya sendiri.
Tampaknya fenomena sosial-politik di Indonesia akhir-akhir ini memperlihatkan dinamika menarik yang menggugah kesadaran publik. Banyak pejabat publik tiba-tiba “kebakaran jenggot” setelah tindakan tegas dari Menteri Keuangan mengungkapkan penyimpangan, penyalahgunaan wewenang, dan praktik kecurangan yang selama ini tersembunyi di balik retorika pelayanan publik.
Ungkapan “kebakaran jenggot” di sini bukan sekadar idiom humor, melainkan metafora filosofis tentang bagaimana kekuasaan, moralitas, dan kebenaran saling berkelindan dalam arena politik modern. Fenomena ini dapat dibaca bukan hanya sebagai peristiwa administratif atau hukum, tetapi sebagai cermin eksistensial dari krisis kejujuran dan tanggung jawab yang melekat dalam struktur kekuasaan kontemporer.
Filsafat kontemporer memandang kekuasaan bukan semata sebagai instrumen untuk mengatur masyarakat, melainkan sebagai medan di mana kebenaran dan kepalsuan bertarung secara halus. Dalam konteks ini, tindakan seorang pejabat tinggi yang berani menyingkap penyimpangan dapat dimaknai sebagai peristiwa pembongkaran tabir: suatu momen ketika kebenaran yang selama ini disembunyikan muncul ke permukaan dan memaksa struktur kekuasaan untuk menatap dirinya sendiri.
Ketika pejabat-pejabat lain “kebakaran jenggot”, itu menandakan bukan hanya ketakutan terhadap konsekuensi hukum, tetapi juga kecemasan eksistensial karena topeng moral yang selama ini dipakai mulai terbakar oleh nyala kebenaran.
Fenomena semacam ini mengingatkan bahwa kekuasaan selalu menyimpan paradoks. Ia menjanjikan kemampuan untuk menciptakan keteraturan, tetapi dalam praktiknya sering menjadi sumber kekacauan moral. Di dalam ruang birokrasi, logika efisiensi dan kepatuhan sering kali menggantikan logika tanggung jawab etis. Pejabat yang semestinya menjadi pelayan publik justru terjebak dalam permainan citra, angka, dan laporan yang tampak indah di permukaan.
Filsafat kontemporer melihat ini sebagai bentuk alienasi baru: individu terasing dari makna sejati pekerjaannya karena sistem mendorongnya untuk lebih peduli pada performa administratif ketimbang integritas. Maka, ketika sistem keuangan negara mulai menuntut transparansi dan akuntabilitas secara ketat, rasa terancam itu muncul bukan karena ketidakadilan, melainkan karena realitas mulai menyingkap kepalsuan yang ada selama ini, sudah dianggap wajar.
Kebakaran jenggot para pejabat itu juga dapat dibaca sebagai krisis identitas. Dalam tatanan sosial modern, posisi pejabat bukan hanya jabatan administratif, melainkan simbol status sosial, penghormatan, dan otoritas moral. Ketika simbol itu terguncang, individu di baliknya harus menghadapi kehampaan eksistensial: siapakah dirinya tanpa kekuasaan itu?
Di sinilah muncul ketakutan mendalam yang jauh melampaui urusan hukum atau karier. Ini adalah ketakutan akan kehilangan makna hidup yang dibangun di atas legitimasi palsu. Dalam kacamata filsafat kontemporer, ini adalah momen dekonstruktif, di mana subjek yang selama ini menganggap dirinya pusat kekuasaan justru disadarkan bahwa ia hanyalah bagian dari jaringan relasi yang lebih besar, dan relasi itu kini menuntut kejujuran.
Tindakan tegas dari otoritas keuangan dalam konteks ini dapat dilihat sebagai momen etis yang langka. Ia mengganggu kenyamanan sistem yang sudah terbiasa dengan kompromi dan penyesuaian moral. Dalam pandangan filosofis, tindakan semacam ini bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga bentuk praksis moral yang menantang tatanan simbolik.
Di tengah budaya birokrasi yang kerap memisahkan etika dari kebijakan, munculnya figur yang menegakkan prinsip dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap nihilisme structural; yaitu keadaan ketika nilai-nilai kehilangan bobot karena semuanya bisa dinegosiasikan.
Filsafat kontemporer mengajarkan bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang absolut dan tunggal, melainkan hasil dari pergulatan terus-menerus antara wacana dan kekuasaan. Maka, ketika seorang pejabat berani menyingkap penyimpangan, tindakan itu bukan hanya menyingkap fakta, tetapi juga menantang struktur wacana yang telah mapan. Ia mengganggu keseimbangan semu yang selama ini dijaga oleh kompromi diam-diam antara kekuasaan dan kenyamanan. Reaksi “kebakaran jenggot” menunjukkan bahwa tindakan itu berhasil mengguncang fondasi simbolik yang rapuh.
Namun filsafat kontemporer juga mengingatkan bahwa perubahan sejati tidak cukup hanya dengan menyingkap kesalahan individu. Struktur yang memungkinkan penyimpangan itu harus turut dikritik. Ketika sistem insentif, budaya birokrasi, dan mekanisme pengawasan masih memungkinkan penyalahgunaan, maka tindakan moral seorang pejabat hanya menjadi percikan kecil di tengah hutan kering.
Nyala api itu bisa padam, atau sebaliknya, membakar seluruh sistem hingga hangus. Maka tantangan filosofis bagi masyarakat modern adalah bagaimana menjaga agar api kebenaran tidak berubah menjadi bara destruktif, tetapi menjadi cahaya yang menerangi jalan reformasi berkelanjutan.
Pada akhirnya, kebakaran jenggot para pejabat akibat ulah Menteri Keuangan bukan sekadar kisah politik, melainkan kisah tentang manusia. Ia memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat menipu, bagaimana kebenaran dapat membakar, dan bagaimana moralitas dapat lahir kembali dari puing-puing kebohongan. Dalam pandangan filsafat kontemporer, momen seperti ini adalah titik balik; bukan karena sistem telah bersih, tetapi karena kesadaran akan kerapuhan sistem itu mulai muncul. Dari kesadaran inilah perubahan sejati mungkin dimulai.
Api memang menakutkan, tetapi ia juga menerangi. Di tengah kepanikan para pejabat yang terbakar oleh kebenaran, masyarakat seharusnya tidak hanya menyoraki, tetapi belajar. Sebab setiap manusia, dalam skala kecil maupun besar, memiliki potensi untuk terjebak dalam godaan kekuasaan dan kepalsuan.
Kebakaran jenggot para pejabat adalah cermin bagi kita semua; bahwa dalam kehidupan sosial, integritas bukan sekadar slogan, melainkan perjuangan terus-menerus melawan api dalam diri sendiri. Jika bangsa ini ingin maju, maka nyala api kebenaran itu harus dijaga, bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keberanian untuk terus menatapnya tanpa berpaling. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Ketika Rencana Bertemu Takdir
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Menjadi rutinitas setelah duduk dua jam lebih, maka guna menjaga kebugaran tubuh, karena memang sudah tidak muda lagi, aktivitas rutine mengelilingi separoh lantai lima Gedung Rektorat, sambil ketoilet. Entah hari itu tidak begitu bersemangat, berjalan sedikit gontai. Ternyata diujung sana ada seorang yunior, lelaki bergas, tampan, dan pandai; sedang berdiri gotai bersandar kepagar. Tatkala melewati yang bersangkutan, orang muda ini sedikit menyergah untuk sedikit berbincang. Ternyata beliau sedang dalam posisi “tidak baik-baik” saja, karena hampir separoh rencana kerjanya berantakan. Beliau bertanya dengan pertanyaan filosofis, lengkapnya “…Profesor, mengapa rencana itu terlalu sering tidak jumbuh dengan takdir ?..”. tentu pertanyaan berat ini harus diuraikan panjang kali lebar dan dalam.
Manusia adalah makhluk yang berpikir, merencanakan, dan berharap. Dalam setiap langkah hidupnya, manusia menata masa depan dengan penuh kesungguhan, seolah nasibnya dapat dibentuk sepenuhnya oleh kekuatan kehendak dan kecerdasannya. Namun, sering kali kenyataan menunjukkan bahwa sehebat apa pun rencana yang disusun dengan teliti, selalu ada ruang bagi hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Kalimat “Sehebat apa pun rencanaanmu akan kalah dengan takdirmu” mencerminkan pergulatan eksistensial manusia antara keinginan untuk mengatur kehidupan dan kesadaran akan keterbatasan di hadapan kekuatan yang melampaui dirinya.
Ketika manusia membuat rencana, ia sebenarnya sedang menegaskan eksistensinya sebagai makhluk yang sadar dan berkehendak. Ia menolak pasrah terhadap arus kehidupan yang acak. Rencana menjadi bentuk perjuangan untuk menata kekacauan menjadi keteraturan, memberi makna pada hidup yang seolah tidak menentu. Dalam tindakan merencanakan, manusia menegaskan dirinya sebagai subjek yang ingin menentukan arah hidupnya sendiri. Namun, pada saat yang sama, ketika rencana-rencana itu gagal atau berubah, manusia diingatkan akan realitas bahwa dirinya bukan penguasa tunggal atas hidup ini. Ia hanyalah bagian kecil dari keseluruhan semesta yang bekerja dengan hukum-hukum dan misteri yang tidak seluruhnya dapat dijangkau.
Takdir itu hadir sebenarnya bukan sebagai bentuk pengekangan, melainkan sebagai cermin dari keterbatasan manusia. Dalam setiap kegagalan rencana, terdapat kesempatan untuk merenungi makna eksistensi itu sendiri. Mengapa manusia merencanakan? Mengapa manusia kecewa ketika rencananya gagal? Karena di balik rencana itu ada harapan akan kendali dan kepastian. Namun, hidup menolak untuk sepenuhnya dikendalikan. Ketika takdir melampaui rencana, manusia belajar tentang kerendahan hati dan penerimaan. Ia mulai memahami bahwa kebijaksanaan tidak selalu berarti kemampuan menguasai segalanya, melainkan kesadaran untuk berdamai dengan hal-hal yang tak bisa dikendalikan.
Manusia yang hanya berpegang pada rencana cenderung terjebak dalam ilusi kontrol. Ia menganggap dunia sebagai sesuatu yang sepenuhnya dapat diprediksi dan diatur. Padahal, dalam pengalaman konkret, justru peristiwa yang tidak direncanakan sering kali membawa perubahan besar dalam hidup. Banyak perjumpaan, peluang, atau kesadaran baru muncul justru dari hal-hal yang tidak pernah masuk dalam skema perencanaan. Dari sini dapat dipahami bahwa ketidakpastian bukan semata musuh, melainkan ruang kebebasan tempat manusia menemukan dimensi terdalam dari keberadaannya.
Namun, menerima takdir bukan berarti menyerah. Penyerahan tanpa kesadaran hanyalah bentuk keputusasaan. Sebaliknya, penerimaan yang sejati adalah pengakuan bahwa manusia berhak berusaha, tetapi hasil akhirnya tidak selalu berada dalam genggamannya. Di sinilah keseimbangan antara kehendak dan kepasrahan menemukan bentuknya. Manusia perlu merencanakan hidupnya dengan sungguh-sungguh karena melalui rencana itu ia mempraktikkan kebebasannya. Tetapi ia juga harus siap menghadapi kenyataan bahwa setiap rencana memiliki kemungkinan untuk gagal. Dalam kegagalan itu, manusia belajar tentang arti ikhlas, yaitu sebuah sikap yang tidak berarti berhenti berjuang, melainkan tetap berusaha sambil menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kehendaknya sendiri.
Ketika seseorang berkata bahwa sehebat apa pun rencanamu akan kalah oleh takdirmu, hal itu bukanlah seruan untuk berhenti merencanakan. Sebaliknya, kalimat itu mengandung ajakan untuk menyadari bahwa hidup memiliki lapisan makna yang lebih luas daripada sekadar hasil. Rencana menunjukkan usaha manusia, sementara takdir menunjukkan rahasia kehidupan. Ketika keduanya dipahami secara seimbang, manusia tidak lagi merasa hancur ketika rencana gagal, karena ia tahu bahwa setiap kejadian, bahkan yang tidak diinginkan, membawa pesan yang dapat memperkaya jiwanya.
Pada akhirnya, manusia harus menerima kenyataan bahwa ia tidak dapat mengendalikan arah angin, tetapi ia dapat mengatur layar perahunya. Rencana adalah layar itu; bentuk konkret dari usaha manusia untuk mencapai tujuan. Takdir adalah angin yang menentukan arah perjalanan, kadang lembut, kadang kencang, kadang berlawanan dengan keinginan. Namun justru dalam perjumpaan antara layar dan angin itulah kehidupan menemukan maknanya. Jika hanya ada rencana tanpa takdir, hidup akan menjadi mekanis dan membosankan; jika hanya ada takdir tanpa rencana, hidup kehilangan arah dan makna.
“Sehebat apa pun rencanamu akan kalah dengan takdirmu” bukanlah kalimat yang mematikan semangat, melainkan pengingat agar manusia tetap rendah hati di hadapan misteri kehidupan. Ia mengajarkan bahwa dalam setiap usaha manusia untuk menata masa depan, selalu ada ruang bagi takdir untuk berbicara. Dan mungkin, justru di situlah letak keindahan hidup: pada ketidakpastian yang mengajarkan manusia untuk terus berusaha, berharap, dan sekaligus pasrah, karena pada akhirnya hidup bukan hanya tentang mencapai rencana, tetapi tentang bagaimana kita bertumbuh di antara kehendak dan ketentuan. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
dr. Vionita dan dr. Bagas Surya Atmaja Raih Penghargaan Lulusan Terbaik di Prosesi Sumpah Dokter ke-74 Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Dalam prosesi yang berlangsung khidmat dan penuh haru itu, dr. Vionita dinobatkan sebagai peraih nilai tertinggi Computer-Based Test (CBT) nasional periode Agustus 2025 dengan skor 88,00, sementara dr. Bagas Surya Atmaja meraih predikat lulusan terbaik dengan IPK 3,83.
Kedua dokter muda ini menjadi sosok inspiratif bagi rekan-rekannya, menunjukkan bahwa kerja keras, ketekunan, dan semangat belajar tanpa henti akan selalu membuahkan hasil terbaik.
“Saya sangat bersyukur atas kesempatan dan bimbingan yang diberikan oleh para dosen serta dukungan dari keluarga. Nilai CBT yang tinggi ini adalah hasil dari proses panjang belajar dan konsistensi. Saya berharap bisa terus mengembangkan diri dan menjadi dokter yang memberikan manfaat bagi banyak orang,” ujar dr. Vionita dengan penuh rasa haru.
“Menjadi lulusan terbaik adalah kehormatan besar. Tapi yang lebih penting bagi saya adalah bagaimana kami bisa mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari untuk masyarakat. Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama proses pendidikan. Semoga kami semua bisa mengabdi dengan sepenuh hati dan membawa nama baik almamater,” tutur dr. Bagas.
Prosesi Sumpah Dokter ke-74 ini menjadi momen bersejarah bagi Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati. Selain menjadi tonggak awal pengabdian bagi 59 dokter baru, kegiatan ini juga menegaskan komitmen universitas dalam melahirkan tenaga medis profesional yang berilmu, beretika, dan berempati terhadap kemanusiaan.
Dengan semangat baru, para dokter muda Universitas Malahayati siap melangkah ke dunia profesi, membawa semangat pengabdian, serta menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kedokteran demi kesehatan masyarakat Indonesia. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Profesi Bidan Universitas Malahayati Mulai Praktik Pra Profesi di RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro
Kegiatan praktik ini akan berlangsung selama dua minggu, mulai 3–14 November 2025, sebagai bagian dari implementasi kerja sama (MoU) antara Universitas Malahayati dengan RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro.
Acara pembukaan praktik diawali dengan penyerahan resmi mahasiswa oleh Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Bidan, Nurul Isnaini, SST., M.Kes, kepada pihak rumah sakit. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa praktik Keterampilan Dasar Klinik merupakan tahapan penting dalam proses pendidikan calon bidan profesional.
Pihak RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro yang diwakili oleh dr. Hasyil Syahdu, MKM selaku Wakil Direktur Utama Pelayanan, menerima secara resmi penyerahan mahasiswa tersebut. Ia menyambut baik kehadiran mahasiswa Universitas Malahayati dan berharap momentum ini dapat menjadi pengalaman berharga bagi para calon bidan.
“Kami menyambut dengan hangat kehadiran mahasiswa dari Universitas Malahayati. Gunakan kesempatan praktik ini dengan sebaik-baiknya sebagai bekal untuk menjadi bidan yang kompeten, profesional, dan beretika dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tutur dr. Hasyil.
Praktik Keterampilan Dasar Klinik ini diharapkan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan teknis dan sikap profesional, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan pelayanan kesehatan. Melalui kegiatan ini, Universitas Malahayati terus berkomitmen mencetak tenaga bidan yang unggul, berkarakter, dan siap mengabdi bagi masyarakat. (gil)
Editor: Gilang Agusman
dr. Ferdinand Anem Pigome, Jejak Langkah Anak Papua Menggapai Gelar Dokter di Universitas Malahayati
Ferdinand hadir didampingi sang ibu dan saudaranya, yang tampak menahan haru saat menyaksikan momen bersejarah tersebut. Bagi mereka, prosesi ini bukan sekadar seremoni kelulusan, tetapi puncak dari perjuangan panjang seorang anak Papua yang menempuh jalan penuh tantangan untuk meraih cita-cita menjadi seorang dokter.
“Awalnya saya tidak menyangka akan kuliah sejauh ini, di luar tanah kelahiran saya. Tapi saya yakin, ilmu tidak mengenal batas. Saya ingin belajar dan membawa pulang ilmu ini untuk membangun Papua,” kenang Ferdinand dengan senyum penuh syukur.
Saat namanya dipanggil dalam prosesi sumpah dokter, Ferdinand tak kuasa menahan air mata. Kemudian ia menghampiri ibunya yang hadir dengan senyum penuh bangga, simbol dari doa, perjuangan, dan pengorbanan yang terbayar tuntas.
“Bagi saya, ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang. Saya tidak akan berhenti di sini. Saya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan berkontribusi dalam memajukan Sumber Daya Manusia (SDM) Papua serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Papua,” ujar dr. Ferdinand dengan penuh semangat.
Bagi Ferdinand, masa-masa praktik profesi dokter menjadi pengalaman yang paling berharga. Di sinilah ia belajar berinteraksi langsung dengan pasien, memahami empati, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab moral sebagai calon tenaga medis. “Menjadi dokter bukan hanya soal pengetahuan medis, tapi tentang hati, tentang bagaimana kita melayani dengan rasa kemanusiaan,” ujarnya.
Ferdinand juga aktif dalam kegiatan sosial dan akademik yang digelar kampus. Pengalaman tersebut semakin meneguhkan tekadnya untuk kembali ke Papua dan berkontribusi bagi peningkatan layanan kesehatan di sana.
“Kami sangat bangga dengan capaian dr. Ferdinand. Ia bukan hanya membanggakan keluarganya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda khususnya daerah Papua. Universitas Malahayati selalu berkomitmen untuk mendukung mahasiswa dari berbagai daerah agar bisa tumbuh, berkembang, dan berkontribusi bagi bangsa,” ujar Ahmad Iqbal.
“Ia juga menambahkan bahwa Universitas Malahayati terus membuka ruang bagi putra-putri daerah melalui kerja sama dengan berbagai lembaga dan pemerintah daerah, agar kesempatan pendidikan tinggi yang berkualitas bisa dirasakan secara merata di seluruh Indonesia,”tandasnya.
Kisah perjuangan dr. Ferdinand Anem Pigome menjadi bukti nyata bahwa semangat, kerja keras, dan tekad kuat mampu menembus segala keterbatasan. Dari Jayapura hingga ke panggung kehormatan di Universitas Malahayati, ia telah menginspirasi banyak orang, khususnya generasi muda Papua untuk berani bermimpi dan berjuang mewujudkannya.
Dengan gelar dokter yang kini disandangnya, dr. Ferdinand siap melangkah ke babak baru dalam pengabdian, membawa semangat pelayanan dan cita-cita mulia untuk menjadikan kesehatan di Papua semakin maju dan merata.
“Saya ingin kembali ke tanah kelahiran saya, memberikan yang terbaik bagi masyarakat, dan membuktikan bahwa anak Papua juga bisa menjadi bagian dari solusi bagi bangsa,” – dr. Ferdinand Anem Pigome. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Konsep “Ada Sejati” Dalam Filsafat Kontemporer
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Cuaca pagi menjelang siang dihiasi mendung tebal, cuaca dingin tak berkesudahan. Namun, “Tidak” di ruang kerja penulis. Justru diskusi hangat sedang terjadi dengan seorang dosen yang berlabel diri penguat berfikir akal sehat. Kali ini topik perbincangan ada pada wilayah “Ada”, dengan sudut kajian filsafat manusia. Karena diskusi seperti ini hanya menhabiskan waktu dan kopi bagi mereka yang tidak paham, tetapi bagi kami diskusi ini menarik karena sering terjadi kajian lintas berfikir. Jika dibentang singkat, dan diambil sari patinya; maka diskusi tadi memiliki ringkasan seperti ini; Manusia sejak awal keberadaannya selalu dihantui pertanyaan tentang apa artinya “ada”.
Dalam setiap renungan, dalam setiap pergulatan dengan hidup, tersembunyi kerinduan untuk memahami sesuatu yang lebih dari sekadar bentuk dan peristiwa. Pertanyaan itu tidak pernah selesai, sebab “ada” bukan sekadar pernyataan bahwa sesuatu eksis, melainkan misteri tentang bagaimana segala sesuatu memperoleh makna keberadaannya. Di sinilah muncul gagasan tentang “Ada Sejati”; keberadaan yang tidak bersyarat, tidak bergantung pada apa pun, dan menjadi dasar dari segala wujud.
Ketika manusia menatap dunia, ia melihat perubahan yang tiada henti. Segalanya muncul dan lenyap, tumbuh dan punah, datang dan pergi. Namun di balik arus perubahan itu, selalu ada intuisi bahwa sesuatu yang tetap menopang seluruh proses itu. Seperti samudra yang tenang di balik ombak, “Ada Sejati” menjadi dasar dari setiap bentuk keberadaan, meski ia sendiri tidak berwujud. Ia bukan benda, bukan pikiran, bukan konsep, tetapi sesuatu yang memungkinkan semua itu ada. Maka, berbicara tentang “Ada Sejati” bukanlah berbicara tentang objek yang bisa dipahami, melainkan tentang sumber yang membuat pemahaman itu mungkin.
Manusia modern sering kali terperangkap dalam pemahaman yang terpisah antara subjek dan objek, antara diri dan dunia. Pengetahuan dianggap hanya sah jika diukur, diklasifikasi, dan dijelaskan melalui kategori yang pasti. Namun pandangan semacam itu, betapapun berguna, sering menutupi keutuhan keberadaan. Ketika budi manusia hanya bekerja sebagai alat analisis, ia memotong realitas menjadi potongan-potongan kecil yang terlepas dari makna keseluruhannya. Dalam keheningan reflektif, manusia menyadari bahwa realitas tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika pemisahan; yang dibutuhkan adalah kejernihan batin untuk mengalami keberadaan secara langsung. Di situlah jalan menuju “Ada Sejati” dimulai: bukan melalui penjelasan, melainkan melalui penghayatan.
Budi yang terasah adalah budi yang tidak lagi terikat oleh keserakahan, ketakutan, dan kepentingan, akan menjadi cermin bagi keberadaan. Ketika cermin itu jernih, keberadaan memantulkan dirinya tanpa distorsi. Dalam keadaan demikian, manusia tidak lagi memandang dunia sebagai kumpulan objek, tetapi sebagai kesatuan wujud yang menampakkan “Ada Sejati”. Tidak ada lagi jarak antara yang memandang dan yang dipandang; keduanya hanyalah denyut dari keberadaan yang satu. Inilah momen ketika budi menemukan kedamaian: saat menyadari bahwa dirinya bukan pusat dunia, melainkan bagian dari aliran keberadaan yang tak terpisahkan.
“Ada Sejati” tidak dapat dijangkau dengan kata-kata, sebab setiap bahasa selalu membatasi. Ia melampaui dualitas: bukan “ada” dan bukan “tiada” dalam pengertian biasa. Ia adalah dasar dari keduanya. Dalam perenungan mendalam, manusia mungkin mengalami bahwa di balik segala perubahan dan kesementaraan, ada kediaman yang tidak terguncang. Itulah “Ada Sejati” yaitu; keheningan yang tidak mati, kehadiran yang tak terkatakan. Dari keheningan itu, semua bentuk lahir, tumbuh, dan kembali. Maka “Ada Sejati” bukanlah sesuatu yang jauh atau asing; ia justru paling dekat, bahkan lebih dekat dari kesadaran manusia terhadap dirinya sendiri.
Dunia modern dengan segala kebisingan dan percepatannya sering membuat manusia kehilangan kedalaman penghayatan terhadap “ada”. Segalanya diukur dengan manfaat, efisiensi, dan kecepatan. Dalam keadaan itu, manusia menjadi makhluk yang bergerak tanpa arah, sibuk tanpa makna. Ia hidup di permukaan gelombang, tanpa sempat menyelami samudra keberadaan. Maka tugas filsafat, dan terutama tugas kesadaran manusia, adalah mengembalikan pandangan ke dasar samudra itu; ke keheningan yang memberi arti bagi semua gerak. Mengingat “Ada Sejati” berarti kembali mengingat siapa diri kita di dalam keseluruhan ini.
“Ada Sejati” bukanlah sesuatu yang harus dicapai, sebab ia selalu hadir. Yang hilang hanyalah kesadaran kita akan kehadirannya. Seperti langit yang tetap biru meski tertutup awan, “Ada Sejati” tetap ada meski kesadaran manusia tertutup oleh kabut pikiran dan emosi. Menemukannya bukan berarti menciptakan sesuatu yang baru, tetapi menyingkap tabir yang menutupi apa yang selalu ada. Proses itu membutuhkan keheningan, kesabaran, dan keterbukaan batin, yaitu sebuah sikap budi yang tidak menuntut, tidak memaksa, hanya menyadari.
Pada akhirnya, “Ada Sejati” bukanlah konsep yang bisa dimiliki, tetapi pengalaman yang hanya bisa dihayati. Ia hadir dalam keheningan doa, dalam renungan sunyi, dalam pandangan yang jernih terhadap sesama, bahkan dalam kepasrahan menghadapi kematian. Ia adalah rahasia yang menyatukan segala sesuatu tanpa harus meniadakan perbedaan. Dalam setiap nafas, dalam setiap gerak, “Ada Sejati” berdenyut; tak terlihat, tak terdengar, namun menjadi sumber dari seluruh keberadaan.
“Ada Sejati” bukan akhir dari perjalanan, tetapi kesadaran yang menyertai setiap langkah. Ia adalah keheningan yang hidup di tengah suara, cahaya yang tersembunyi di dalam bayangan, dan keberadaan yang menjiwai segala yang tampak. Ketika manusia mampu berdiam sejenak dan menatap ke dalam dirinya sendiri dengan penuh kejernihan, ia akan menemukan bahwa “Ada Sejati” tidak pernah pergi. Ia selalu ada, menunggu untuk dikenali, dalam setiap hembusan napas keberadaan. Ringkasnya: “Ada Sejati” adalah keberadaan murni yang tidak terikat bentuk, sumber dari segala yang ada, dan dapat dialami hanya melalui budi yang telah jernih dalam keheningan. Semakin kita mendekat kepadaNYA, maka NYA akan semakin lari menghampiri kita. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati Kukuhkan 59 Dokter Baru dalam Prosesi Sumpah Dokter Periode ke-74
Acara sakral ini menjadi momentum bersejarah bagi para lulusan, keluarga, serta civitas akademika Universitas Malahayati. Prosesi sumpah bukan sekadar seremoni kelulusan, tetapi juga bentuk janji suci untuk menjunjung tinggi etika, tanggung jawab, dan integritas profesi dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan berperikemanusiaan.
“Menjadi dokter bukan hanya soal gelar, tetapi soal amanah dan pengabdian. Hari ini, kalian resmi memegang tanggung jawab besar untuk melayani masyarakat dengan hati dan ilmu pengetahuan. Jadilah dokter yang berempati, berintegritas, dan terus belajar sepanjang hayat,” ujar Dr. Tessa dengan penuh semangat.
Beliau juga menegaskan pentingnya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan serta profesionalisme di tengah tantangan dunia kesehatan yang terus berkembang.
“Integritas dan religiusitas adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari profesi dokter. Ilmu yang kalian miliki harus selalu disertai dengan keikhlasan dalam melayani. Jadilah dokter yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia,” tutur Prof. Dessy.
Ia juga mengapresiasi Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati yang terus melahirkan lulusan berkualitas dan berdaya saing tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam prosesi tersebut, penghargaan diberikan kepada dr. Vionita sebagai peraih skor tertinggi Computer-Based Test (CBT) periode Agustus 2025 dengan nilai 88,00, serta kepada dr. Bagas Surya Atmaja sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,92. Kedua lulusan ini menjadi inspirasi bagi rekan-rekannya untuk terus berprestasi dan mengabdi dengan sepenuh hati.
Prosesi Sumpah Dokter ke-74 ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari institusi kesehatan dan mitra rumah sakit. Di antaranya: Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Lampung: dr. Djohan Lius, M.Kes., Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung: dr. Ria R., IDI Wilayah Provinsi Lampung: Dr. dr. Aila Karyus, S.H., M.Kes., Sp.KKLP., IDI Kota Bandar Lampung: dr. Zam Zanariah, Sp.S., M.Kes., Direktur RS Bintang Amin: dr. Rahmawati, M.PH., RSAM: dr. Edi Ramdhani, M.H.Kes., RS Ahmad Yani Metro: dr. Solehin, Sp.PD., RS Bhayangkara: dr. S. Wimbo., Balai Karantina Kesehatan Kelas I Panjang: dr. Virsa., Dekan FK Universitas Muhammadiyah Metro: dr. Windi Pratiwi, MMRS., Perwakilan Alumni: dr. Agus Kelana
Dari internal kampus, hadir pula jajaran pimpinan Universitas Malahayati, antara lain: bDrs. Suharman, M.Pd., M.Kes – Wakil Rektor IV, dr. Neno Fitriani Hasbie, M.Kes – Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. dr. Hidayat, Sp.PK., M.Kes – Wakil Dekan Bidang Non-Akademik, dr. Ade Utia Detty, M.Kes – Ketua Program Studi Profesi Dokter., Kepala PMB Universitas Malahayati: Romy J. Utama, S.E., M.Sos
Momen haru terlihat ketika para lulusan memberikan penghormatan kepada orang tua dan dosen pembimbing yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka menjadi dokter.
Dengan dikukuhkannya 59 dokter baru ini, Universitas Malahayati kembali menegaskan komitmennya sebagai salah satu institusi pendidikan kedokteran terbaik di Sumatera yang melahirkan dokter-dokter unggul, beretika, dan siap mengabdi untuk masyarakat Indonesia. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Profesi Ners Universitas Malahayati Siap Jalani Stase Keperawatan Maternitas dan Anak di Enam Puskesmas Kota Bandar Lampung
Acara serah terima mahasiswa praktik dilaksanakan di Aula Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung pada Jumat, 31 Oktober 2025, dan dihadiri oleh jajaran pimpinan dari kedua institusi. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Program Studi Profesi Ners, Aryanti Wardiyah, Ns., Sp.Kep. Mat., secara resmi menyerahkan para mahasiswa kepada pihak Dinas Kesehatan. Penyerahan diterima oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, drg. Santi Sundari, M.Kes., yang hadir mewakili Kepala Dinas Kesehatan.
“Praktik lapangan ini merupakan kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah ke dalam situasi nyata di masyarakat. Kami berharap para mahasiswa dapat menunjukkan sikap profesional, beretika, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keperawatan dalam setiap tindakan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dari kurikulum pendidikan profesi ners yang bertujuan untuk membentuk perawat yang kompeten dan berkarakter.
“Kami percaya, pengalaman klinik yang diperoleh di lapangan akan menjadi bekal berharga dalam membentuk kemampuan klinis, empati, serta komunikasi terapeutik mahasiswa,” tambahnya.
“Kami menyambut baik kerja sama ini. Mahasiswa keperawatan merupakan calon tenaga kesehatan masa depan yang akan berperan penting dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Kami berharap kegiatan ini berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, khususnya masyarakat di wilayah kerja Puskesmas,” ujarnya.
Usai acara serah terima, kegiatan dilanjutkan dengan persamaan persepsi bersama para pembimbing lahan dari masing-masing Puskesmas. Dalam sesi tersebut, Koordinator Stase Keperawatan Maternitas, Rilyani, Ns., M.Kes., dan Koordinator Stase Keperawatan Anak memberikan penjelasan mengenai tata tertib, tugas-tugas, serta target kompetensi yang harus dicapai mahasiswa selama menjalani stase.
Rilyani menekankan pentingnya disiplin, kerja sama tim, dan kemampuan komunikasi dalam menghadapi pasien maupun tenaga kesehatan di lapangan.
“Mahasiswa harus mampu menunjukkan sikap profesional sejak dini. Setiap interaksi dengan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya merupakan bagian dari proses pembelajaran yang tidak ternilai,” jelasnya.
Kegiatan praktik klinik ini merupakan bentuk nyata dari implementasi kerja sama antara Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati dengan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, yang telah terjalin secara berkesinambungan. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman praktik nyata, memperluas wawasan, serta meningkatkan kemampuan dalam memberikan asuhan keperawatan pada ibu, anak, dan keluarga.
Dengan semangat belajar dan pengabdian, para calon Ners Universitas Malahayati siap menimba pengalaman berharga di dunia pelayanan kesehatan masyarakat. Diharapkan kegiatan ini tidak hanya memperkuat kompetensi klinik mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Kota Bandar Lampung. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Api Dibalik Kekuasaan (Refleksi Filsafat Kontemporer atas “Kebakaran Jenggot” Para Pejabat)
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Hampir setiap pekan kita disuguhi berita bagaimana pejabat tinggi negeri ini terusik oleh kerja-kerja Menteri Keuangan. Bahkan salah seorang petinggi perminyakan “mencak-mencak” menggunakan bahasa vulgar yang tidak elok didengar.
Sebelumnya juga ada pejabat senior yang juga mantan atasan Menteri Keuangan, merasa tidak nyaman dengan kelakuan mantan anak buahnya. Demikian juga ada kepala daerah yang terusik, seolah terzalimi oleh kelakuan Sang Menteri; walaupun sesungguhnya dia membuka kebodohannya sendiri.
Tampaknya fenomena sosial-politik di Indonesia akhir-akhir ini memperlihatkan dinamika menarik yang menggugah kesadaran publik. Banyak pejabat publik tiba-tiba “kebakaran jenggot” setelah tindakan tegas dari Menteri Keuangan mengungkapkan penyimpangan, penyalahgunaan wewenang, dan praktik kecurangan yang selama ini tersembunyi di balik retorika pelayanan publik.
Ungkapan “kebakaran jenggot” di sini bukan sekadar idiom humor, melainkan metafora filosofis tentang bagaimana kekuasaan, moralitas, dan kebenaran saling berkelindan dalam arena politik modern. Fenomena ini dapat dibaca bukan hanya sebagai peristiwa administratif atau hukum, tetapi sebagai cermin eksistensial dari krisis kejujuran dan tanggung jawab yang melekat dalam struktur kekuasaan kontemporer.
Filsafat kontemporer memandang kekuasaan bukan semata sebagai instrumen untuk mengatur masyarakat, melainkan sebagai medan di mana kebenaran dan kepalsuan bertarung secara halus. Dalam konteks ini, tindakan seorang pejabat tinggi yang berani menyingkap penyimpangan dapat dimaknai sebagai peristiwa pembongkaran tabir: suatu momen ketika kebenaran yang selama ini disembunyikan muncul ke permukaan dan memaksa struktur kekuasaan untuk menatap dirinya sendiri.
Ketika pejabat-pejabat lain “kebakaran jenggot”, itu menandakan bukan hanya ketakutan terhadap konsekuensi hukum, tetapi juga kecemasan eksistensial karena topeng moral yang selama ini dipakai mulai terbakar oleh nyala kebenaran.
Fenomena semacam ini mengingatkan bahwa kekuasaan selalu menyimpan paradoks. Ia menjanjikan kemampuan untuk menciptakan keteraturan, tetapi dalam praktiknya sering menjadi sumber kekacauan moral. Di dalam ruang birokrasi, logika efisiensi dan kepatuhan sering kali menggantikan logika tanggung jawab etis. Pejabat yang semestinya menjadi pelayan publik justru terjebak dalam permainan citra, angka, dan laporan yang tampak indah di permukaan.
Filsafat kontemporer melihat ini sebagai bentuk alienasi baru: individu terasing dari makna sejati pekerjaannya karena sistem mendorongnya untuk lebih peduli pada performa administratif ketimbang integritas. Maka, ketika sistem keuangan negara mulai menuntut transparansi dan akuntabilitas secara ketat, rasa terancam itu muncul bukan karena ketidakadilan, melainkan karena realitas mulai menyingkap kepalsuan yang ada selama ini, sudah dianggap wajar.
Kebakaran jenggot para pejabat itu juga dapat dibaca sebagai krisis identitas. Dalam tatanan sosial modern, posisi pejabat bukan hanya jabatan administratif, melainkan simbol status sosial, penghormatan, dan otoritas moral. Ketika simbol itu terguncang, individu di baliknya harus menghadapi kehampaan eksistensial: siapakah dirinya tanpa kekuasaan itu?
Di sinilah muncul ketakutan mendalam yang jauh melampaui urusan hukum atau karier. Ini adalah ketakutan akan kehilangan makna hidup yang dibangun di atas legitimasi palsu. Dalam kacamata filsafat kontemporer, ini adalah momen dekonstruktif, di mana subjek yang selama ini menganggap dirinya pusat kekuasaan justru disadarkan bahwa ia hanyalah bagian dari jaringan relasi yang lebih besar, dan relasi itu kini menuntut kejujuran.
Tindakan tegas dari otoritas keuangan dalam konteks ini dapat dilihat sebagai momen etis yang langka. Ia mengganggu kenyamanan sistem yang sudah terbiasa dengan kompromi dan penyesuaian moral. Dalam pandangan filosofis, tindakan semacam ini bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga bentuk praksis moral yang menantang tatanan simbolik.
Di tengah budaya birokrasi yang kerap memisahkan etika dari kebijakan, munculnya figur yang menegakkan prinsip dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap nihilisme structural; yaitu keadaan ketika nilai-nilai kehilangan bobot karena semuanya bisa dinegosiasikan.
Filsafat kontemporer mengajarkan bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang absolut dan tunggal, melainkan hasil dari pergulatan terus-menerus antara wacana dan kekuasaan. Maka, ketika seorang pejabat berani menyingkap penyimpangan, tindakan itu bukan hanya menyingkap fakta, tetapi juga menantang struktur wacana yang telah mapan. Ia mengganggu keseimbangan semu yang selama ini dijaga oleh kompromi diam-diam antara kekuasaan dan kenyamanan. Reaksi “kebakaran jenggot” menunjukkan bahwa tindakan itu berhasil mengguncang fondasi simbolik yang rapuh.
Namun filsafat kontemporer juga mengingatkan bahwa perubahan sejati tidak cukup hanya dengan menyingkap kesalahan individu. Struktur yang memungkinkan penyimpangan itu harus turut dikritik. Ketika sistem insentif, budaya birokrasi, dan mekanisme pengawasan masih memungkinkan penyalahgunaan, maka tindakan moral seorang pejabat hanya menjadi percikan kecil di tengah hutan kering.
Nyala api itu bisa padam, atau sebaliknya, membakar seluruh sistem hingga hangus. Maka tantangan filosofis bagi masyarakat modern adalah bagaimana menjaga agar api kebenaran tidak berubah menjadi bara destruktif, tetapi menjadi cahaya yang menerangi jalan reformasi berkelanjutan.
Pada akhirnya, kebakaran jenggot para pejabat akibat ulah Menteri Keuangan bukan sekadar kisah politik, melainkan kisah tentang manusia. Ia memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat menipu, bagaimana kebenaran dapat membakar, dan bagaimana moralitas dapat lahir kembali dari puing-puing kebohongan. Dalam pandangan filsafat kontemporer, momen seperti ini adalah titik balik; bukan karena sistem telah bersih, tetapi karena kesadaran akan kerapuhan sistem itu mulai muncul. Dari kesadaran inilah perubahan sejati mungkin dimulai.
Api memang menakutkan, tetapi ia juga menerangi. Di tengah kepanikan para pejabat yang terbakar oleh kebenaran, masyarakat seharusnya tidak hanya menyoraki, tetapi belajar. Sebab setiap manusia, dalam skala kecil maupun besar, memiliki potensi untuk terjebak dalam godaan kekuasaan dan kepalsuan.
Kebakaran jenggot para pejabat adalah cermin bagi kita semua; bahwa dalam kehidupan sosial, integritas bukan sekadar slogan, melainkan perjuangan terus-menerus melawan api dalam diri sendiri. Jika bangsa ini ingin maju, maka nyala api kebenaran itu harus dijaga, bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keberanian untuk terus menatapnya tanpa berpaling. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Gelar Yudisium Profesi Dokter ke-74, 59 Lulusan Siap Mengabdi untuk Negeri
Acara sakral ini menjadi momen penting yang menandai langkah baru para lulusan untuk segera mengabdi kepada masyarakat sebagai tenaga medis profesional. Para peserta yudisium tampak antusias dan penuh haru saat nama mereka dipanggil satu per satu, menandakan berakhirnya perjuangan panjang dan dimulainya tanggung jawab besar sebagai dokter.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pimpinan universitas, antara lain Wakil Rektor IV, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., Dekan Fakultas Kedokteran, Dr. Tessa Syahrini, dr., M.Kes., Wakil Dekan Non Akademik, Dr. Hidayat, dr., SpPK., Subsp. P.I (K), Kepala Program Studi Profesi Dokter, dr. Ade Utia Detty, M.Kes., serta para dosen dari Program Profesi dan Pendidikan Dokter Universitas Malahayati.
“Hari ini bukan hanya tentang keberhasilan akademik, tetapi juga tentang tanggung jawab moral. Kalian kini memegang amanah besar untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat. Jadilah dokter yang membawa manfaat dan harapan bagi sesama,” ujar Drs. Suharman.
“Tetaplah menjalin hubungan dengan rekan-rekan kalian yang masih berjuang. Di mana pun kalian berada, ingatlah bahwa kalian membawa nama besar Universitas Malahayati. Jaga etika, tunjukkan kualitas, dan buktikan bahwa dokter lulusan Malahayati adalah dokter yang unggul, berkarakter, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” tambahnya.
“Hari ini adalah bukti nyata dari perjalanan panjang penuh tantangan yang kalian lalui. Keringat, air mata, dan doa yang kalian panjatkan kini terbayar lunas. Tapi ingat, perjuangan sesungguhnya baru dimulai. Di dunia nyata nanti, ilmu kalian akan diuji dengan situasi yang nyata pula,” tutur Dr. Tessa.
Ia juga berpesan agar para lulusan tidak hanya menjadi dokter yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati dan integritas tinggi dalam menjalankan profesinya.
“Jadilah dokter yang tidak hanya cerdas, tapi juga berhati nurani. Hadirkan kehangatan, ketulusan, dan kepedulian dalam setiap tindakan medis kalian. Karena sejatinya, menjadi dokter adalah tentang melayani dengan hati,” imbuhnya.
Editor: Gilang Agusman
Api yang Membakar Diri Sendiri
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu mendapat kiriman keluhan dari sahabat lama tentang kondisi saat ini, melalui media sosialnya. Beliau mengeluh penggunaan media sosial yang sangat vulgar saat ini oleh banyak kalangan, dan beliau mempertanyakan bagaimana pendidikan etika saat ini yang sudah tergerus oleh teknologi. Rasa malu yang sudah entah minggat kemana, sehingga banyak orang sudah tidak memilikinya. Bisa dibayangkan ucapan bahkan aibnya sendiri diumbar tanpa rasa sungkan, apalagi risi. Keluhan sahabat tadi memicu dawai rasa untuk menuliskan apa yang sedang terjadi dari kacamata filsafat kontemporer.
Dunia maya kini telah menjadi panggung besar tempat manusia menampilkan segala sisi dirinya tanpa batas. Di sana, segala hal mengalir begitu cepat; pikiran, perasaan, bahkan hasrat yang paling pribadi sekalipun. Media sosial yang dahulu digadang sebagai alat untuk memperluas wawasan dan mempererat koneksi antarmanusia, kini tampak seperti ruang yang berisik, vulgar, dan sering kali kehilangan arah moral. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah ini merupakan kegagalan pendidikan? Ataukah justru ini adalah cermin jujur dari wajah pendidikan itu sendiri, yang sejak awal mungkin telah kehilangan jiwanya?
Jika kita menelusuri akar persoalannya, tampak bahwa media sosial bukanlah penyebab tunggal dari lunturnya moralitas. Ia hanyalah media, bagai cermin besar tempat manusia menatap pantulan dirinya sendiri. Namun ketika pantulan itu tampak kabur, penuh dengan ekspresi syahwat, ego, dan narsisisme, maka yang patut disalahkan bukan cerminnya, melainkan wajah yang dipantulkan di dalamnya. Media sosial, dalam hal ini, hanya memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi nilai yang ditanamkan oleh sistem pendidikan dan kebudayaan kita. Ketika seseorang dengan mudah menayangkan tubuhnya, amarahnya, bahkan kehinaannya kepada dunia tanpa rasa malu, maka sesungguhnya ia sedang menegaskan bahwa nilai-nilai tentang rasa hormat, batas, dan tanggung jawab tidak lagi menjadi bagian dari kesadarannya.
Pendidikan yang sejati seharusnya tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan kebijaksanaan. Namun yang terjadi kini, pendidikan lebih sering berperan sebagai pabrik pengetahuan, yaitu mengajarkan manusia untuk memahami rumus, teori, dan konsep, tapi tidak untuk memahami dirinya sendiri. Manusia didorong untuk menjadi cerdas, produktif, dan kompetitif, tetapi tidak diarahkan untuk menjadi arif, sadar, dan beradab. Maka tak heran jika hasilnya adalah generasi yang pandai memanfaatkan teknologi, namun kehilangan arah dalam menggunakannya. Mereka mampu mengolah gambar, kata, dan algoritma, tetapi tak mampu mengolah makna, rasa, dan tanggung jawab.
Dari sudut pandang filsafat kontemporer, krisis moral di media sosial bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah gejala dari krisis yang lebih dalam: hilangnya pusat nilai dalam kehidupan manusia modern. Dunia digital hidup dalam logika yang serba cepat, instan, dan visual. Nilai-nilai moral yang sejatinya tumbuh dalam permenungan dan refleksi menjadi tidak kompatibel dengan ritme digital yang tak memberi ruang bagi jeda. Segalanya harus segera: berpikir cepat, bereaksi cepat, menilai cepat. Dalam situasi seperti itu, moralitas yang membutuhkan kedalaman justru dianggap tidak relevan. Manusia menjadi seperti bayangan yang bergerak cepat tanpa arah, mengikuti arus data dan tren tanpa sempat bertanya: untuk apa semua ini?
Pendidikan moral yang diajarkan di sekolah sering kali berhenti pada tataran normative, yaitu sekadar daftar larangan dan perintah. Ia tidak lagi berbicara kepada hati dan kesadaran manusia, melainkan hanya kepada kepatuhan formal. Maka ketika individu masuk ke dunia yang tidak memiliki pengawasan langsung, seperti media sosial, ia kehilangan orientasi. Tanpa rasa takut pada otoritas eksternal, ia menunjukkan siapa dirinya sebenarnya: produk dari pendidikan yang gagal menanamkan kesadaran moral intrinsik. Dalam arti itu, benar bahwa kebobrokan moral di media sosial adalah kegagalan pendidikan, tetapi bukan kegagalan yang terjadi di ruang kelas belaka. Ia adalah kegagalan kolektif; kegagalan keluarga, masyarakat, bahkan sistem nilai yang menopang kehidupan bersama kita.
Menyalahkan pendidikan semata juga tidak cukup. Ada dimensi lain yang harus disadari: teknologi digital sendiri dibangun di atas logika kapitalisme global yang memonetisasi perhatian. Setiap klik, setiap gambar vulgar, setiap ekspresi emosi ekstrem memiliki nilai ekonomi. Platform digital dirancang untuk menstimulasi bagian otak yang haus akan penghargaan instan. Dalam ekosistem semacam ini, nilai moral tidak memiliki tempat yang menguntungkan secara finansial. Maka tidak mengherankan bila yang paling cepat menyebar adalah yang paling sensasional, bukan yang paling bernilai. Dalam arus itu, individu yang telah kehilangan kesadaran etis akan mudah terseret, mengira bahwa popularitas adalah ukuran kebermaknaan.
Ironisnya, di tengah kebisingan media sosial, manusia modern justru semakin kesepian. Ia mengumbar diri bukan karena percaya diri, tetapi karena haus pengakuan. Ia berteriak di ruang digital karena tak lagi mampu mendengar dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, pendidikan moral seharusnya tidak lagi berbicara dengan bahasa hukuman dan dogma, melainkan dengan bahasa kesadaran dan empati. Ia harus mengajarkan manusia untuk menatap ke dalam, menyadari keterbatasannya, dan menghargai martabat dirinya sendiri.
Maka, pada akhirnya, apa yang kita saksikan di media sosial bukan hanya kegagalan pendidikan, melainkan juga kesempatan bagi manusia untuk memulai kembali. Dunia digital telah memperlihatkan betapa rapuhnya kita, dan kesadaran atas kerapuhan itu seharusnya menjadi titik tolak untuk membangun sistem pendidikan yang lebih manusiawi, pendidikan yang mengajarkan bagaimana menggunakan kebebasan dengan bijak, bagaimana menjaga kehormatan diri di tengah keterbukaan tanpa batas, dan bagaimana menjadi manusia yang utuh di tengah arus data yang melenakan.
Kebebasan yang sejati bukanlah kebebasan untuk menelanjangi diri, melainkan kebebasan untuk memilih tetap bermartabat ketika semua orang kehilangan rasa malu. Jika media sosial kini menjadi ruang yang vulgar, maka solusinya bukan dengan menutup ruang itu, melainkan dengan membuka kesadaran kita sendiri. Karena pada akhirnya, pendidikan moral yang paling hakiki tidak diajarkan di sekolah, melainkan dimulai dari keberanian untuk menatap diri dan bertanya: sudahkah aku benar-benar manusia di tengah dunia yang begitu bebas ini? Jawabannya kembali kepada hati nurani kita masing-masing yang paling dalam. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman