Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati Gelar Yudisium ke-38, Cetak 22 Sarjana Baru

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Universitas Malahayati kembali mencetak generasi penerus bangsa melalui prosesi Yudisium ke-38 yang digelar di Gedung Malahayati Convention Center (MCC), Kamis (28/8/2025).

Mengusung tema “Bersama Berkarya, Membangun Negeri: Dari Kampus Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati Menuju Generasi Emas Indonesia”, acara ini menjadi momen penting bagi 22 mahasiswa yang resmi dikukuhkan sebagai sarjana. Mereka terdiri dari 16 lulusan Program Studi Manajemen dan 6 lulusan Program Studi Akuntansi.

Ketua Yudisium, Indah Lia Puspita, S.E., M.Si., memimpin langsung jalannya acara yang berlangsung khidmat. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Dekan FEM Dr. Rahyono, S.Sos., M.M., Kaprodi Manajemen Dr. Febrianty, S.E., M.Si., Kaprodi Akuntansi Muhammad Luthfi, S.E., M.Si., serta seluruh dosen FEM yang memberikan dukungan penuh bagi para peserta yudisium.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor IV Universitas Malahayati, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., yang turut hadir memberikan sambutan mewakili Rektor, berharap lulusan FEM dapat berperan aktif dalam pembangunan bangsa.
“Saya berharap lulusan Fakultas Ekonomi dan Manajemen mampu menjadi sarjana yang cakap, cerdas, dan siap bersaing di dunia kerja. Tidak hanya itu, lulusan FEM juga harus mampu menciptakan lapangan kerja baru sehingga dapat membantu mengurangi angka pengangguran di negeri ini,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan FEM Dr. Rahyono, S.Sos., M.M. menyampaikan rasa bangga sekaligus pesan mendalam bagi para lulusan.
“Selamat menempuh fase baru kehidupan. Almamater ini adalah rumah yang melahirkan ilmu dan karakter. Jadikanlah bekal ini sebagai cahaya untuk berkarya dan membangun negeri,” ujarnya.

Momen membanggakan juga datang dari para lulusan terbaik. Dari Prodi Akuntansi, predikat lulusan terbaik diraih oleh Ade Kurniawati (NPM 21210001) dengan IPK 3,97. Sementara dari Prodi Manajemen, gelar mahasiswa terbaik diraih oleh Anis Hermayana (NPM 21220020) dengan IPK 3,95. Prestasi ini menjadi bukti nyata dedikasi dan kerja keras mahasiswa FEM Universitas Malahayati selama menempuh pendidikan.

Yudisium ini bukan hanya menjadi ajang penyerahan gelar, tetapi juga momentum melepas para sarjana untuk siap berkarya, berkontribusi, dan membawa nama baik Universitas Malahayati di masyarakat maupun dunia kerja.

Dengan terselenggaranya yudisium ke-38 ini, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan berkualitas yang siap bersaing di era global dan turut serta membangun negeri menuju Generasi Emas Indonesia.

Mahasiswa KKLPPM Universitas Malahayati Sosialisasi PHBS, Cetak Agen Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Sejak Dini SDN 1 Gunung Tiga Ulubelu

 

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Mahasiswa KKLPPM Universitas Malahayati menyelenggarakan sosialisasi dan praktik PHBS untuk siswa-siswi SDN 1 Gunung Tiga, dalam rangka menanamkan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sejak usia dini, Rabu lalu, (6/8/2025).

Acara yang berlangsung meriah dan interaktif ini diikuti oleh 50 orang peserta dari gabungan kelas 1 hingga 6. Kegiatan tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik sehingga mampu menarik minat dan antusiasme para siswa. Dengan didampingi oleh 20 orang mahasiswa KKL yang bertindak sebagai panitia dan mentor, anak-anak diajak untuk memahami dan mempraktikkan langkah-langkah kecil PHBS dalam kehidupan sehari-hari.

Acara diisi dengan berbagai sesi, mulai dari pemaparan materi tentang cuci tangan yang benar, menjaga kebersihan lingkungan, hingga pentingnya mengonsumsi makanan bergizi. Siswa juga diajak bermain games dan kuis berhadiah yang membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan mudah dipahami.

Silvia Ika Damayanti, ketua pelaksana, menyampaikan apresiasinya atas partisipasi aktif seluruh pihak. Ia bersyukur sosialisasi dan praktik PHBS ini berjalan dengan sangat lancar dan sukses. Pihaknya terharu melihat antusiasme adik-adik siswa SD 1 Gunung Tiga.

Ia menjelaskan, tujuan utama adalah untuk menciptakan agen-agen perubahan kecil yang memahami dan mampu mempraktikkan PHBS, dimulai dari diri sendiri dan di lingkungan sekolah mereka. ”Kami berharap, ilmu yang didapat hari ini tidak berhenti di sini, tetapi menjadi kebiasaan baik yang terus diterapkan,” ujarnya.

Salah satu siswa peserta, Fauzi, mengungkapkan kegembiraannya. “Seru banget, tadi diajarin cuci tangan yang bener sama dikasih hadiah. Sekarang aku tahu caranya supaya tidak gampang sakit,” katanya.

Kepala Sekolah Supriyanto juga menyambut positif inisiatif dari mahasiswa KKL ini. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat sejalan dengan visi misi sekolah dalam mendidik siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga sehat dan berkarakter.

Acara ditutup dengan foto bersama, pembagian hadiah, dan bingkisan untuk seluruh peserta sebagai bentuk apresiasi atas keaktifan mereka selama sosialisasi berlangsung. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat tercipta generasi yang lebih peduli akan kesehatan dan kebersihan di masa depan. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Fakultas Teknik Universitas Malahayati Gelar Yudisium Periode ke-38, Lahirkan 15 Sarjana Baru

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Fakultas Teknik Universitas Malahayati kembali mencetak lulusan baru melalui prosesi Yudisium ke-38 yang digelar di Gedung Malahayati Convention Center (MCC), Rabu (27/8/2025). Sebanyak 15 mahasiswa dari tiga program studi, yakni Teknik Lingkungan, Teknik Sipil, dan Teknik Industri, resmi dikukuhkan sebagai sarjana.

Acara berlangsung khidmat dengan dihadiri Wakil Rektor IV Universitas Malahayati, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., yang hadir mewakili Rektor. Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan selamat sekaligus pesan penting bagi para lulusan.

“Dengan yudisium ini, Saudara resmi menyandang gelar sarjana sebagai bentuk pengakuan atas ilmu pengetahuan dan kompetensi yang telah Saudara raih. Gelar ini bukan akhir, melainkan awal tanggung jawab baru untuk berkontribusi kepada masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan setelah kampus adalah fase lanjutan yang menuntut peran nyata para lulusan. “Di kampus, Saudara berstatus sebagai mahasiswa. Kini, status baru sebagai sarjana menuntut peran, tanggung jawab, dan kontribusi yang lebih besar di tengah masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik, Dr. Weka Indra Dharmawan, S.T., M.T., dalam pesannya menegaskan bahwa kelulusan ini merupakan pencapaian penting, namun tantangan sesungguhnya justru menanti setelah mahasiswa resmi meninggalkan bangku kuliah.

“Alhamdulillah, dengan selesainya studi, satu beban telah terlepas. Namun, ingatlah bahwa pembelajaran sesungguhnya ada di lapangan. Apa yang kalian peroleh di kampus hanyalah bekal teori, sedangkan praktiknya akan kalian temui di dunia kerja dan masyarakat,” kata Dr. Weka.

Ia juga mendorong para lulusan untuk mengimplementasikan visi dan misi program studi masing-masing sebagai penentu kesuksesan mereka di masa depan.

Pada yudisium kali ini, Fakultas Teknik juga melahirkan satu lulusan cumlaude, yaitu Maulana Sidiq dari Program Studi Teknik Lingkungan dengan IPK 3,87. Prestasi tersebut semakin membanggakan karena ia berhasil menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 3,5 tahun.

Prosesi yudisium ke-38 ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor IV, Dekan Fakultas Teknik, Ketua Program Studi Teknik Lingkungan, Ketua Program Studi Teknik Sipil, Ketua Program Studi Teknik Industri, jajaran dosen, tenaga kependidikan, serta keluarga dan tamu undangan yang ikut memberikan dukungan bagi para lulusan.

Dengan yudisium ini, Fakultas Teknik Universitas Malahayati kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia unggul, berkompeten, dan siap bersaing di dunia kerja maupun dalam pengabdian kepada masyarakat. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa KKLPPM Kelompok 53 Universitas Malahayati Berikan Edukasi Anti/Perundungan di SDN 1 Sumur Tujuh Wonosobo

TANGAMUS (malahayati.ac.id): Mahasiswa KKLPPM Universitas Malahayati sukses menyelenggarakan edukasi anti-perundungan (bullying) bagi siswa-siswi SDN 1 Sumur Tujuh, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran sejak dini tentang bahaya perundungan serta mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman, ramah, dan inklusif. Kamis (7/8/2025).

Program diawali dengan pengenalan definisi perundungan (bullying) verbal, fisik, sosial, dan siber, dengan metode interaktif : penjelasan materi perundungan (bullying), pemutaran vidio pendek, serta kuis ringan. Melalui pendekatan ini, siswa dilatih mengenali tanda-tanda perundungan, cara berkata “STOP” dengan tegas, langkah melapor kepada guru/orang tua, dan sikap empati terhadap teman.

Edukasi anti-perundungan bukan sekedar pengetahuan, tetapi juga keterampilan hidup. Agar adik-adik mampu melindungi diri dan berani membela teman, ” ujar Perwakilan Kelompok 53 KKL PPM Universitas Malahayati.

Pihak sekolah menyambut baik kegitan ini. Kepala SDN 1 Sumur Tujuh menyatakan, “Materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Kami berharap setelah ini budaya saling menghargai semakin kuat di sekolah kami.”

Melalui program ini, Kelompok 53 menegaskan dukungan terhadap upaya pencegahan kekerasan di satuan pendidika yang menekankan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan.

Data Kegiatan :
– Penyelenggara : KKL PPM Kelompok 53 Universitas Malahayati
– Tanggal : 07 Agustus 2025
– Lokasi : SDN 1 Sumur Tujuh, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus
– Sasaran : Siswa-Siswi Kelas 4,5, dan 6
– Metode : Penjelasan materi, Vidio edukatif, dan diskusi.

KKL PPM Kelompok 53 Universitas Malahayati mengadakan edukasi Anti-Perundungan di SDN 1 Sumur Tujuh, Wonosobo, Tanggamus. Siswa diajak mengenali jenis bullying, cara berkata “STOP”

Dengan terlaksanakannya kegiatan ini, diharapkan tercipta budaya sekolah yang lebih aman, ramah, dan bebas dari perundungan, sekaligus menjadi langkah nyata generasi muda dalam membangun karakter bangsa. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa KKN Universitas Malahayati Stop Perundungan di Tanggamus

( malahayati.ac.id ) , Ulubelu–Mahasiswa Universitas Malayahati Bandarlampung yang sedang kuliah kerja nyata (KKN) di Kabupaten Tanggamus melaksanakan sosialisasi edukasi penolakan terhadap perundungan (stop bullying) di Pekon Sinarbanten, Kecamatan Ulubelu.

Sosialisasi dilakukan di dua sekolah, yakni SDN 1 Sinarbanten dan MTs Miftahul Khairah. Kegiatan ini diisi dengan penyuluhan, diskusi interaktif, tanya jawab, hingga permainan edukatif untuk menumbuhkan rasa empati, kerja sama, dan saling menghargai antar siswa.

Salah satu mahasiswa KKN, Bintang Sanjaya, menjelaskan bahwa bullying merupakan persoalan serius yang berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis, sosial, maupun prestasi belajar siswa.

“Anak yang menjadi korban bullying berpotensi mengalami trauma, menurunnya rasa percaya diri, bahkan kehilangan motivasi belajar. Karena itu, kegiatan edukasi stop bullying kami lakukan sebagai kontribusi menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah bagi siswa,” ujarnya kepada harianmomentum.com, Kamis (28/8/2025).

Bintang menambahkan, sosialisasi ini juga bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bentuk-bentuk perundungan, dampak negatif yang ditimbulkan, serta pentingnya menumbuhkan sikap saling menghormati.

“Alhamdulillah, siswa dapat mengenali perbedaan antara bercanda dengan bullying, memahami dampak buruknya, dan berkomitmen untuk saling menghormati di sekolah. Guru pun menyambut baik kegiatan ini karena sangat relevan dengan kebutuhan siswa,” katanya.

Program SUKA UMKM : Mahasiswa KKL-PPM Kelompok 34 Universitas Malahayati Bantu Tingkatkan Branding dan Promosi Usaha Lokal Pekon Karang Anyar Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Program SUKA UMKM : Mahasiswa KKL-PPM Kelompok 34 Universitas Malahayati Bantu Tingkatkan Branding dan Promosi Usaha Lokal Pekon Karang Anyar”, Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/nikendaa94354/68b02739c925c412be27a152/program-suka-umkm-mahasiswa-kkl-ppm-kelompok-34-universitas-malahayati-bantu-tingkatkan-branding-dan-promosi-usaha-lokal-pekon-karang-anyar?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile Kreator: Kklppmkelompok34 Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

“Dokumentasi mahasiswa KKL-PPM Kelompok 34 Universitas Malahayati saat memberikan banner usaha kepada salah satu pelaku UMKM di Pekon Karang Anyar.”

( malahayati.ac.id ) Wonosobo, 21 agustus 2025 – Mahasiswa KKL-PPM Kelompok 34 dengan bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan ibu Lestari Wuryanti, S.E., M.M., mendukung pengembangan UMKM lokal melalui program SUKA UMKM (Sinergi Unggul Kembangkan UMKM). Desa Karang Anyar terus menunjukkan komitmen dalam mendukung kemajuan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dengan program bertajuk SUKA UMKM (Sinergi Unggul Kembangkan UMKM), mahasiswa melakukan serangkaian kegiatan bersama pelaku usaha lokal. Kegiatan dimulai dengan survey UMKM untuk memetakan potensi, kendala, serta kebutuhan pengembangan usaha masyarakat. Hasil survey ini menjadi dasar untuk memberikan solusi yang tepat sasaran.

Sebagai bentuk dukungan nyata, mahasiswa juga memberikan banner usaha kepada para pelaku UMKM agar lebih mudah dikenal masyarakat dan meningkatkan daya tarik usaha. Tak hanya itu, mahasiswa turut membantu pembuatan logo usaha yang modern dan menarik, sehingga brand UMKM Karang Anyar dapat lebih profesional dan bersaing.

Ketua kelompok, Valka Fajar Mahesa, menyampaikan bahwa UMKM perlu mendapat perhatian khusus agar terus tumbuh. salah satu anggota kel 34, Andika Pra, menambahkan bahwa branding usaha mampu meningkatkan daya saing produk.

Program ini disambut antusias pelaku UMKM yang merasa terbantu dalam memperkuat identitas dan promosi usaha mereka.

 

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Program SUKA UMKM : Mahasiswa KKL-PPM Kelompok 34 Universitas Malahayati Bantu Tingkatkan Branding dan Promosi Usaha Lokal Pekon Karang Anyar”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/nikendaa94354/68b02739c925c412be27a152/program-suka-umkm-mahasiswa-kkl-ppm-kelompok-34-universitas-malahayati-bantu-tingkatkan-branding-dan-promosi-usaha-lokal-pekon-karang-anyar?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile

Kreator: Kklppmkelompok34

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

SOSIALISASI ANTI BULLYING MAHASISWA KKL-PPM 57 PEKON GUNUNG SARI UNIVERSITAS MALAHAYATI

 

SOSIALISASI ANTI BULLYING MAHASISWA KKL-PPM 57 PEKON GUNUNG SARI UNIVERSITAS MALAHAYATI

( malahayati.ac.id ) Gunung Sari, 20 Agustus 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan–Pengabdian Pada Masyarakat (KKL-PPM) Kelompok 57 Universitas Malahayati melaksanakan kegiatan sosialisasi anti bullying bertajuk AMAN (Ayo Bersatu, Melawan Bullying, Aktif Peduli, Nyatakan Kebaikan) di SD Negeri 1 Gunung Sari, Rabu (20/8).
Kegiatan ini berlangsung di 13 kelas dari kelas 1 hingga kelas 6, dengan melibatkan seluruh siswa. Mahasiswa menghadirkan materi secara interaktif melalui cerita, permainan edukatif, serta diskusi ringan agar mudah dipahami anak-anak.

Kepala Sekolah SD Negeri 1 Gunung Sari, Ibu Suprapti, menyambut baik kegiatan ini. Ia menilai kegiatan sosialisasi sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan empati sejak dini.
“Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa Universitas Malahayati. Edukasi seperti ini membuat anak-anak lebih sadar bahwa bullying tidak hanya menyakiti secara fisik, tetapi juga psikis. Harapannya, mereka lebih peduli, berani melawan, dan menciptakan suasana sekolah yang penuh kebaikan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok KKL-PPM 57, Firdaus Ilham Kurnia, menjelaskan bahwa tujuan dari program AMAN adalah memberikan pemahaman mendalam tentang dampak buruk bullying.
“Bullying bisa menimbulkan rasa takut, cemas, hilangnya kepercayaan diri, bahkan berdampak pada prestasi akademik anak. Melalui program ini, kami ingin menanamkan kesadaran kepada siswa bahwa saling menghargai, peduli, dan berbuat baik jauh lebih bermakna dibanding menyakiti teman,” ungkapnya.

Firdaus juga menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti pada sosialisasi, tetapi bisa menjadi kebiasaan positif dalam keseharian siswa.
“Kami berharap anak-anak SD Negeri 1 Gunung Sari dapat menjadi generasi yang berani berkata tidak pada bullying, serta menjadi teladan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman untuk semua,” pungkasnya.

Dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa Universitas Malahayati ingin meninggalkan jejak positif berupa budaya sekolah yang bebas dari perundungan sekaligus memperkuat kepedulian sosial siswa sejak usia dini.

 

Mahasiswa/i KKL-PPM Universitas Malahayati Bandar Lampung Kelompok 59 Menyelenggarakan Sosialisasi Stunting Di Pekon Karang Rejo,Kecamatan Ulu Belu,Kabupaten Tanggamus

Mahasiswa/i KKL-PPM Universitas Malahayati Bandar Lampung Kelompok 59 Menyelenggarakan Sosialisasi Stunting Di Pekon Karang Rejo,Kecamatan Ulu Belu,Kabupaten Tanggamus

Tanggamus ( malahayati.ac.id ) – Mahasiswa/i kkl.ppm menyelenggarakan sosialisasi stunting bekerja sama dengan kader pekon, aparatur pekon dan didukung oleh kepala pekon karang rejo bapak Rendy Gusnanto, di Karang Rejo,Ulu Belu, Tanggamus Minggu (24/08/2025).

Stunting selama ini menjadi masalah serius yang menghambat pertumbuhan
dan perkembangan anak. Tak hanya menyebabkan tubuh pendek, stunting juga berdampak pada kemampuan berpikir, prestasi belajar, bahkan produktivitas anak di masa depan. Di Karang Rejo, tantangan itu pernah ada, tetapi warga dan pemerintah desa memilih untuk tidak tinggal diam.

Melalui kerja sama antara kader posyandu, bidan desa, serta dukungan penuh dari pemerintah kecamatan dan kabupaten, program pencegahan stunting mulai digalakkan. Edukasi kepada ibu hamil dan ibu balita digencarkan, pemberian makanan tambahan bergizi dilakukan secara berkala, dan pemantauan tumbuh kembang anak diperketat. Mahasiswa juga membagikan nuget tahu serta juga memberikan buku resep masakan makanan sehat.

Kegiatan berlangsung dengan lancar, interaktif, dan mendapat respon positif dari masyarakat. Diharapkan melalui sosialisasi ini, masyarakat dapat memahami pentingnya gizi seimbang, sanitasi yang baik, dan pola asuh yang tepat untuk mencegah terjadinya stunting pada anak-anak.

Mahasiswa Universitas Malahayati Gelar Sosialisasi Mitigasi Bencana “AMERTA” dan Penyuluhan Alat Pembakar Sampah Minim Asap di Pekon Karang Rejo

Mahasiswa Universitas Malahayati Gelar Sosialisasi Mitigasi Bencana “AMERTA” dan Penyuluhan Alat Pembakar Sampah Minim Asap di Pekon Karang Rejo

Tanggamus – Kelompok 59 KKL-PPM Universitas Malahayati melaksanakan kegiatan sosialisasi mitigasi bencana tanah longsor dan luapan air sungai dengan tema “AMERTA: Aman dari Resiko Tanah Longsor & Air” di Pekon Karang Rejo, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terkait potensi bencana yang kerap mengancam wilayah Karang Rejo, terutama saat musim hujan. Warga diberi pemahaman tentang tanda-tanda awal tanah longsor dan luapan air sungai akibat penumpukan sampah, langkah pencegahan, hingga cara bertindak cepat ketika bencana terjadi.

Selain itu, mahasiswa juga memberikan penyuluhan dan pemaparan mengenai inovasi tong pembakar sampah minim asap sebagai solusi pengelolaan sampah rumah tangga yang ramah lingkungan. Alat sederhana ini dinilai mampu membantu warga mengurangi pencemaran udara akibat pembakaran sampah terbuka yang sering menimbulkan asap tebal.

“Melalui program AMERTA, kami ingin masyarakat lebih tanggap terhadap risiko bencana. Sementara inovasi tong pembakar sampah minim asap kami hadirkan agar warga memiliki cara yang lebih sehat dan aman dalam mengelola sampah,” ujar Anun, anggota KKL-PPM kelompok 59.

Warga Karang Rejo pun antusias mengikuti sosialisasi, terbukti dari banyaknya pertanyaan dan diskusi yang muncul. Kepala Pekon Karang Rejo juga memberikan apresiasi, menyebut kegiatan ini bermanfaat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.
Dengan adanya program ini, diharapkan masyarakat Pekon Karang Rejo dapat semakin tangguh menghadapi ancaman bencana alam serta memiliki pola hidup yang lebih ramah lingkungan.

Bagaimana Menerima Suatu Keadaan, Tanpa Harus Menyalahkan Keadaan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Hari itu panas terik sekali, kami baru pulang menghadiri undangan di dua tempat yang berbeda, bahkan berlawanan arah. Namun esensi acaranya sama, yaitu upacara pernikahan anak sahabat. Pada tempat pertama berperan menjadi tokoh sentral penerima pihak besan, pada acara kedua sebagai tamu undangan kehormatan. Tugas kemanusiaan usia lanjut seperti ini, hampir terjadi setiap pekan; namun hari itu sedikit special karena menjumpai keadaan yang kontradiktif. Pada posisi ini posisi harus diambil adalah menerima keadaan, tanpa harus menyalahkan keadaan. Tentu persoalan seperti ini menjadi menarik jika dibahas dari sudut pandang Filsafat Kontemporer.

“Keadaan”  adalah segala sesuatu yang terjadi di luar atau dalam diri individu, seperti halnya ; kejadian tak terduga, kehilangan, kegagalan, kondisi sosial-politik, hingga krisis makna hidup. Dalam pemikiran kontemporer, terutama eksistensialis, keadaan bukan sekadar kejadian pasif, tetapi bagian dari keberadaan manusia yang harus dihadapi secara sadar. Sartre mengatakan bahwa manusia tidak bisa menghindari tanggung jawab atas bagaimana kita merespons apa pun yang terjadi dalam hidup kita. Keadaan, dalam hal ini, bukan penyebab utama penderitaan, tetapi bagaimana kita mempersepsikannya dan bagaimana kita memilih untuk merespons. Ini menegaskan bahwa keadaan bersifat netral, dan manusialah yang memberi makna. Jean-Paul Sartre juga menolak ide bahwa manusia adalah korban nasib. Dalam bukunya Being and Nothingness, Sartre menekankan bahwa keberadaan manusia mendahului esensinya, maksudnya kita ada lebih dulu, lalu menciptakan makna atas hidup kita melalui tindakan. Maka ketika seseorang mengalami kegagalan, Sartre akan bertanya: bagaimana engkau memilih untuk menanggapi kegagalan itu?

Menyalahkan keadaan, bagi Sartre, adalah bentuk “bad faith” (itikad buruk), yakni upaya menyangkal kebebasan dan tanggung jawab pribadi. Ketika kita berkata, “Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaannya seperti ini,” kita sedang bersembunyi dari kebebasan kita sendiri. Maka, untuk benar-benar hidup secara otentik, seseorang harus mengakui bahwa sekalipun tidak bisa mengendalikan keadaan, kita tetap bebas untuk memilih sikap.

Berbeda lagi dengan Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus, beliau menggambarkan kehidupan sebagai absurd: manusia mendambakan makna, tetapi dunia tidak memberikannya. Ketika tragedi terjadi seperti; kematian orang terdekat, ketidakadilan sosial, penyakit yang tidak bisa disembuhkan, sebenarnya kita berhadapan langsung dengan absurditas ini. Namun, Camus tidak menyarankan untuk menyerah atau menyalahkan dunia. Sebaliknya, ia menawarkan sikap “pemberontakan”, yakni menerima absurditas dan terus hidup dengan kepala tegak.  Menerima keadaan, bagi Camus, bukan soal pasrah, tetapi memilih untuk tetap hidup dengan integritas, meskipun hidup itu sendiri tampak tanpa makna.

Simone de Beauvoir, dalam “The Ethics of Ambiguity”, menekankan bahwa kehidupan manusia selalu berada dalam ambiguitas yaitu, antara keterbatasan dan kebebasan. Ia mengingatkan bahwa meskipun kita tidak selalu menciptakan keadaan (misalnya, struktur patriarki atau kolonialisme), kita tetap bertanggung jawab atas bagaimana kita meresponsnya. Menyalahkan keadaan, dalam kerangka ini, justru bisa menjadi bentuk pelepasan tanggung jawab moral. Beauvoir menekankan bahwa tindakan etis adalah ketika kita memperjuangkan kebebasan: baik kebebasan diri maupun orang lain. Maka, menerima keadaan berarti mengakui keterbatasan, namun tetap bertindak demi kebaikan dan kebebasan bersama.

Viktor Frankl, seorang psikiater sekaligus penyintas kamp konsentrasi Nazi, memberikan perspektif yang mendalam tentang bagaimana menerima keadaan ekstrem tanpa kehilangan makna hidup. Dalam bukunya “Man’s Search for Meaning”, ia menyatakan bahwa: bahkan dalam penderitaan terdalam, manusia tetap memiliki kebebasan terakhir: memilih sikapnya terhadap penderitaan itu. Frankl berpendapat bahwa makna tidak harus ditemukan dalam kesuksesan atau kebahagiaan, tetapi bahkan dalam penderitaan yang tak bisa dihindari. Dengan demikian, daripada menyalahkan keadaan, manusia dapat bertanya: “Apa makna dari pengalaman ini bagi dirinya?”: Ini bukan bentuk naif, tetapi suatu bentuk keberanian eksistensial untuk menemukan makna dalam absurditas.

Filsafat postmodern, seperti yang dikembangkan oleh Jean-François Lyotard dan Michel Foucault, mengkritik narasi besar yang seolah menjelaskan segalanya secara linear dan absolut. Dalam konteks menyalahkan keadaan, postmodernisme mengajak kita untuk mempertanyakan: apakah benar keadaan itu tunggal dan obyektif? Ataukah kita sedang mengadopsi narasi tertentu tentang apa yang “seharusnya” terjadi. Dengan membongkar narasi-narasi yang membentuk cara pandang kita terhadap kehidupan (misalnya: sukses berarti kaya; hidup bahagia berarti tanpa kesulitan), postmodernisme membuka ruang bagi interpretasi yang lebih fleksibel. Penerimaan tidak lagi dipandang sebagai bentuk pasrah, tetapi sebagai bentuk kesadaran bahwa tidak ada satu pun cara hidup yang “benar”. Ini membebaskan manusia dari perangkap menyalahkan karena standar kesuksesan atau kebahagiaan bisa dikonstruksi ulang.

Penting untuk membedakan antara penerimaan dengan kepasrahan total. Dalam banyak filsafat kontemporer, penerimaan berarti pengakuan jujur terhadap kenyataan; namun bukan berarti menyerah terhadap kondisi itu. Camus menerima absurditas, tetapi ia memberontak. Frankl menerima penderitaan, tetapi ia mencari makna. Sartre menerima keterbatasan hidup, tetapi ia mengadvokasi kebebasan bertindak. Menerima keadaan tanpa menyalahkan berarti menggeser fokus dari apa yang tidak bisa kita kendalikan ke apa yang masih bisa kita pilih. Ini menuntut keberanian, kedewasaan, dan kejujuran eksistensial.

Secara praktis, filsafat kontemporer mengajarkan kita bahwa penerimaan bukan reaksi sekali jadi, melainkan suatu proses yang panjang. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, filsafat kontemporer tidak memberi jawaban instan, tetapi membuka ruang bagi refleksi yang lebih dalam; yang pada akhirnya menuntun kita pada penerimaan yang memerdekakan, bukan menindas.  Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman