Ketika Perbedaan Diadili

Oleh: Sudjarwo

*Guru Besar Universitas Malahayati

Perbedaan dalam penentuan awal dan akhir puasa pada umat muslim bukanlah fenomena baru. Ia hadir berulang hampir setiap tahun, seolah menjadi siklus yang tak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga memperlihatkan dinamika cara berpikir, cara memahami otoritas, serta cara masyarakat dan negara memosisikan diri dalam menghadapi keragaman.

Fenomena ini sering kali dipandang sebagai persoalan sederhana di permukaan, namun sesungguhnya mengandung lapisan-lapisan persoalan yang lebih dalam, mulai dari aspek ontologis, epistemologis, hingga aksiologis.

Pada tataran ontologis, perbedaan ini sesungguhnya dapat dipahami sebagai sesuatu yang wajar. Realitas keberadaan bulan sebagai objek pengamatan memang memungkinkan adanya variasi penafsiran. Faktor geografis, kondisi atmosfer, serta metode pengamatan yang berbeda-beda membuka peluang terjadinya perbedaan hasil.

Dalam konteks ini, baik metode rukyat maupun hisab memiliki landasan masing-masing yang dapat dipertanggungjawabkan. Perbedaan bukanlah bentuk penyimpangan, melainkan konsekuensi logis dari keragaman cara manusia memahami realitas alam. Justru di sinilah letak kekayaan tradisi intelektual yang berkembang dalam sejarah panjang pemikiran keagamaan.

Namun persoalan menjadi lebih kompleks ketika perbedaan tersebut masuk ke wilayah epistemologi, yaitu bagaimana pengetahuan itu diperoleh, diuji, dan dianggap sah. Pada tahap ini, perbedaan tidak lagi sekadar soal hasil pengamatan, tetapi menyangkut legitimasi metode.

Masing-masing pendekatan mengklaim memiliki dasar yang lebih kuat, baik secara ilmiah maupun normatif. Ketika klaim ini tidak diiringi dengan sikap terbuka, maka ruang dialog menjadi semakin sempit. Perbedaan yang semula bersifat metodologis berubah menjadi pertarungan otoritas pengetahuan. Setiap pihak merasa memiliki kebenaran yang lebih sah, sehingga sulit menerima kemungkinan bahwa kebenaran dapat bersifat plural dalam batas tertentu.

Ketegangan epistemologis ini sering kali diperparah oleh cara penyampaiannya di ruang publik. Alih-alih menjadi diskusi yang sehat, perbedaan justru dibingkai dalam narasi yang saling menegasikan. Bahasa yang digunakan tidak lagi mencerminkan upaya mencari kebenaran bersama, tetapi cenderung menunjukkan dominasi satu pandangan atas yang lain.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat awam yang tidak memiliki akses atau kapasitas untuk memahami kompleksitas metodologis justru menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membingungkan, tanpa adanya panduan yang menenangkan.

Lebih jauh lagi, dalam wilayah aksiologi, yakni soal nilai dan praktik dalam kehidupan sosial, perbedaan ini berpotensi menimbulkan dampak yang nyata. Ibadah yang seharusnya menghadirkan kebersamaan justru memperlihatkan fragmentasi. Ada yang memulai puasa lebih awal, ada yang mengikuti kemudian.

Ada yang merayakan hari raya, sementara yang lain masih menjalankan ibadah puasa. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa memunculkan situasi yang canggung, bahkan berpotensi menimbulkan gesekan sosial. Perbedaan yang tidak dikelola dengan baik dapat berubah menjadi sumber prasangka dan penilaian negatif antar kelompok.

Di titik inilah peran negara menjadi krusial sekaligus problematis. Negara sering kali mengambil posisi sebagai penentu tunggal melalui keputusan resmi yang diharapkan menjadi acuan bersama. Tujuan dari langkah ini dapat dipahami, yakni untuk menjaga ketertiban sosial dan menciptakan keseragaman dalam praktik publik.

Dalam konteks administratif dan pelayanan masyarakat, keseragaman memang memiliki nilai praktis. Namun persoalan muncul ketika keputusan tersebut diposisikan sebagai satu-satunya kebenaran yang tidak boleh diganggu gugat.

Ketika negara melampaui fungsi administratifnya dan masuk ke ranah penilaian kebenaran, maka ia berisiko mengabaikan keberagaman pendekatan yang sebenarnya sah secara epistemologis. Negara tidak lagi sekadar mengatur, tetapi juga menghakimi. Dalam posisi seperti ini, perbedaan pandangan tidak hanya dianggap sebagai variasi, tetapi bisa dipersepsikan sebagai penyimpangan. Bahkan dalam beberapa kasus, muncul kecenderungan untuk menekan atau mendiskreditkan pandangan yang tidak sejalan dengan keputusan resmi. Bahkan sampai pada titik mengharamkan.

Masalah semakin rumit ketika pendekatan semacam ini menimbulkan kesan bahwa negara tidak netral. Alih-alih menjadi penengah yang adil, negara justru terlihat memihak satu pandangan tertentu. Hal ini dapat menggerus kepercayaan masyarakat, terutama bagi mereka yang merasa pandangannya diabaikan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menciptakan jarak antara masyarakat dan institusi negara, yang seharusnya menjadi pelindung bagi semua pihak tanpa kecuali. Padahal, dalam masyarakat yang majemuk, kedewasaan justru diukur dari kemampuan mengelola perbedaan, bukan meniadakannya.

Perbedaan dalam penentuan awal puasa seharusnya dapat menjadi ruang pembelajaran kolektif tentang pentingnya toleransi, dialog, dan penghormatan terhadap keragaman cara berpikir.

Negara seharusnya hadir sebagai penjamin kebebasan berkeyakinan, selama perbedaan tersebut tidak menimbulkan gangguan nyata terhadap ketertiban umum. Dengan demikian, masyarakat dapat menjalankan keyakinannya dengan tenang, tanpa tekanan untuk menyeragamkan diri secara paksa.

Mengelola perbedaan memang bukan perkara mudah. Ia membutuhkan kebijaksanaan, kesabaran, dan keberanian untuk menerima bahwa tidak semua hal harus diseragamkan. Dalam konteks ini, negara dituntut untuk menunjukkan kematangan dalam bersikap. Kematangan tersebut tercermin dari kemampuan untuk membuka ruang dialog, mendengarkan berbagai pandangan, serta mengakomodasi perbedaan tanpa kehilangan fungsi sebagai penjaga stabilitas sosial.

Selain itu, penting untuk menyadari bahwa tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan keputusan final yang seragam. Dalam beberapa kasus, membiarkan perbedaan tetap hidup justru menjadi bentuk penghormatan terhadap kebebasan berpikir dan berkeyakinan. Negara dapat berperan sebagai mediator yang memastikan bahwa perbedaan tidak berkembang menjadi konflik, tanpa harus memaksakan penyatuan yang artifisial. Pendekatan semacam ini membutuhkan kepekaan sosial sekaligus keberanian untuk tidak selalu mengambil jalan yang paling mudah.

Jika negara terlalu cepat mengambil posisi sebagai hakim yang menentukan benar dan salah dalam ranah yang masih terbuka untuk perbedaan, maka ia berisiko kehilangan legitimasi moralnya. Alih-alih menjadi pemersatu, negara justru dapat menjadi sumber ketegangan baru. Oleh karena itu, diperlukan refleksi yang mendalam tentang batas-batas peran negara dalam kehidupan keagamaan masyarakat, terutama dalam hal-hal yang bersifat metodologis dan interpretatif.

Pada akhirnya, perbedaan bukanlah ancaman jika dikelola dengan bijak. Ia justru dapat menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama, memperluas cara pandang, dan memperdalam pemahaman terhadap realitas. Namun tanpa pengelolaan yang matang, perbedaan dapat berubah menjadi sumber konflik yang merugikan semua pihak. Di sinilah pentingnya membangun budaya saling menghormati, baik di tingkat masyarakat maupun dalam kebijakan negara.

Kedewasaan tidak diukur dari kemampuan menyeragamkan segala sesuatu, melainkan dari kemampuan merangkul perbedaan tanpa kehilangan arah. Dalam konteks ini, perbedaan penentuan awal dan akhir puasa seharusnya tidak dilihat sebagai masalah yang harus dihapus, melainkan sebagai kenyataan yang perlu dikelola dengan bijaksana. Dengan cara demikian, kehidupan beragama tidak hanya menjadi ruang praktik ritual, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang bagaimana hidup bersama dalam perbedaan.

 

BADAI PASTI BERLALU

(Yang tersisa di hari Lebaran kemaren)

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Ayah duduk di teras rumah, memandangi langit sore yang perlahan berubah warna. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang baru saja disiram hujan. Di sampingnya, sang anak duduk diam, memegang ponsel yang sejak tadi menampilkan foto keluarga besar di kampung.

“Ayah… tahun ini kita nggak pulang lagi ya?” suara anak itu pelan, nyaris seperti bisikan.

Ayah menarik napas panjang. “Iya, Nak. Tahun ini kita masih di sini.”

Anak itu menunduk. “Teman-teman bilang mereka sudah beli tiket. Katanya mau kumpul sama nenek, makan opor bareng…” suaranya mulai bergetar.

Ayah tersenyum tipis, meski matanya menyimpan kelelahan. “Ayah juga kangen kampung. Kangen suasana Lebaran di sana. Tapi sekarang keadaan kita belum memungkinkan.”

“Karena uangnya belum cukup, ya?” tanya anak itu jujur.

Ayah mengangguk pelan. “Ayah harus pilih, Nak. Untuk sekarang, yang penting kita tetap bisa makan, bayar kebutuhan, dan tetap bersama di sini.”

Anak itu terdiam sejenak, lalu bertanya, “Lebaran di sini tetap seru nggak, Yah?”

Ayah menoleh, menatap anaknya dengan hangat. “Seru atau tidaknya bukan soal tempat. Selama kita masih bisa saling memaafkan, makan bersama, dan tertawa, itu sudah Lebaran.”

Anak itu perlahan tersenyum, meski matanya masih sedikit berkaca-kaca. “Nanti kita tetap masak enak, ya?”

“Tentu,” jawab Ayah lembut. “Mungkin tidak semeriah di kampung, tapi kita buat hangat di sini.”

Anak itu mengangguk. “Ayah… tahun depan kita bisa pulang?”

Ayah terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Kita usahakan. Badai pasti berlalu, Nak.”

Ada masa ketika hidup terasa begitu berat, seakan segala arah tertutup dan harapan hanya menjadi kata-kata kosong. Dalam situasi seperti itu, manusia cenderung melihat masa depan dengan keraguan, bahkan ketakutan. Namun, di tengah kegelisahan tersebut, ada satu keyakinan sederhana yang terus hidup dalam kesadaran kolektif: badai pasti berlalu. Keyakinan ini bukan sekadar ungkapan penghibur, melainkan cerminan dari pengalaman panjang kehidupan yang selalu bergerak dari gelap menuju terang.

Perubahan adalah hukum yang tidak pernah berhenti bekerja. Musim berganti tanpa bisa dicegah, malam selalu disusul pagi, dan kesulitan pada akhirnya akan menemukan titik akhirnya. Dalam konteks kehidupan berbangsa, keyakinan ini menjadi semakin penting, terutama ketika masyarakat dihadapkan pada tekanan ekonomi, ketidakpastian sosial, dan rasa kehilangan arah. Banyak orang merasakan bahwa kehidupan saat ini semakin berat, kebutuhan pokok meningkat, peluang terasa menyempit, dan keadilan sering kali tampak jauh dari harapan. Dalam situasi seperti ini, rasa putus asa mudah tumbuh dan menyebar.

Namun, justru di sinilah makna dari “badai pasti berlalu” menjadi relevan. Ia mengajak untuk melihat kehidupan secara lebih luas, tidak terjebak pada satu titik kesulitan saja. Sejarah telah menunjukkan bahwa setiap krisis, betapapun besar dan menyakitkan, pada akhirnya akan menemukan jalannya menuju pemulihan. Meskipun prosesnya tidak selalu cepat dan tidak selalu adil bagi semua orang, perubahan tetap terjadi. Tidak ada badai yang berlangsung selamanya.

Optimisme yang terkandung dalam keyakinan ini bukanlah optimisme kosong. Ia menuntut ketahanan, kesabaran, dan keberanian untuk terus melangkah meskipun keadaan belum membaik. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang tetap bekerja keras, saling membantu, dan mencari cara untuk bertahan di tengah keterbatasan. Ada solidaritas yang muncul secara alami, memperlihatkan bahwa di balik kesulitan, masih ada kekuatan sosial yang dapat menjadi penopang bersama.

Selain itu, ungkapan ini juga mengandung pesan tentang harapan yang aktif, bukan pasif. Menunggu badai berlalu bukan berarti diam tanpa usaha. Justru, masa-masa sulit sering kali menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat nilai-nilai kebersamaan, dan membangun kembali fondasi kehidupan yang lebih kokoh. Dalam kesulitan, manusia dipaksa untuk lebih kreatif, lebih hemat, dan lebih peduli terhadap sesama. Nilai-nilai ini sering kali terlupakan ketika keadaan sedang nyaman.

Di sisi lain, penting juga untuk menjaga keseimbangan antara harapan dan realitas. Mengakui bahwa keadaan sedang sulit bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kejujuran. Dari pengakuan itu, muncul kesadaran untuk mencari solusi yang lebih tepat dan berkelanjutan. Harapan yang sehat adalah harapan yang berpijak pada kenyataan, bukan sekadar angan-angan.

Ungkapan “badai pasti berlalu” juga mengingatkan bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar permanen. Kesulitan hari ini bukanlah identitas yang melekat selamanya. Dengan waktu, usaha, dan perubahan yang konsisten, keadaan dapat berbalik. Meskipun mungkin tidak kembali seperti sebelumnya, selalu ada kemungkinan untuk menjadi lebih baik dari kondisi saat ini.

Pada akhirnya, keyakinan ini bukan hanya tentang menunggu akhir dari kesulitan, tetapi tentang bagaimana menjalani prosesnya. Cara manusia menghadapi badai sering kali menentukan seperti apa kehidupan setelah badai itu berlalu. Apakah menjadi lebih kuat atau justru semakin rapuh, semuanya bergantung pada sikap dan tindakan selama masa sulit tersebut.

Dalam kondisi yang penuh tekanan seperti sekarang, menjaga harapan adalah bentuk perlawanan terhadap keputusasaan. Harapan memberi energi untuk terus bergerak, meskipun langkah terasa berat. Ia menjadi penuntun di tengah ketidakpastian, sekaligus pengingat bahwa kehidupan selalu memiliki kemungkinan untuk berubah.

Maka, ketika keadaan terasa paling gelap, penting untuk kembali mengingat bahwa tidak ada badai yang abadi. Musim akan berganti, luka akan perlahan sembuh, dan kehidupan akan menemukan ritmenya kembali. Keyakinan ini mungkin sederhana, tetapi justru di dalam kesederhanaannya terdapat kekuatan besar yang mampu menjaga manusia tetap bertahan. Badai pasti berlalu, dan ketika saat itu tiba, mereka yang mampu bertahan akan melihat bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk ditemukan kembali di tengah keberanian untuk terus melangkah.

Salam Satu Syawal

KETIKA RAMADAN PERGI DENGAN SUNYI

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung (malahayati.ac.id) : Ramadan hampir berakhir. Hari-harinya yang terasa begitu cepat kini tinggal menghitung waktu. Seolah baru kemarin malam-malam pertama dijalani dengan semangat yang penuh, masjid-masjid ramai oleh langkah kaki yang datang membawa harapan, dan hati dipenuhi keinginan untuk menjadi lebih baik. Namun tanpa terasa, semuanya perlahan memudar. Ramadan yang begitu dinanti itu kini bersiap pergi, meninggalkan ruang yang terasa hampa di dalam diri.

Ada sesuatu yang berbeda ketika menyadari bahwa Ramadan akan segera berakhir. Bukan sekadar pergantian bulan dalam penanggalan, melainkan sebuah perpisahan yang diam-diam menyentuh perasaan. Selama sebulan penuh, kehidupan terasa memiliki warna yang lain. Waktu dini hari tidak lagi sepi karena ada sahur yang menyatukan keluarga atau setidaknya membangunkan kesadaran bahwa hari baru dimulai dengan niat yang lebih baik. Senja tidak lagi sekadar akhir dari aktivitas, tetapi menjadi saat yang dinanti untuk berbuka dengan rasa syukur yang sederhana.

Malam-malamnya pun terasa lebih hidup. Ada doa yang dipanjatkan lebih lama dari biasanya, ada harapan yang dititipkan dalam sujud yang lebih khusyuk, dan ada air mata yang mungkin jatuh tanpa diketahui siapa pun. Ramadan menghadirkan ruang sunyi yang memungkinkan seseorang berbicara dengan hatinya sendiri. Dalam kesunyian itulah banyak orang menyadari betapa rapuhnya dirinya, betapa banyak hal yang selama ini terlewatkan dalam kesibukan dunia.

Namun kini Ramadan itu akan pergi. Seperti tamu yang singgah sebentar lalu melanjutkan perjalanan, ia tidak tinggal lebih lama dari yang telah ditentukan. Ketika hari-hari terakhirnya tiba, suasana yang dulu terasa begitu hidup mulai berubah menjadi kenangan yang perlahan menjauh. Masjid yang selama ini penuh akan kembali lengang. Malam yang biasanya diisi dengan ibadah panjang mungkin akan kembali menjadi malam yang biasa saja.

Ada rasa sedih yang sulit dijelaskan ketika menyadari hal itu. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang kesempatan yang jarang datang. Kesempatan untuk memperbaiki diri, kesempatan untuk mendekatkan hati kepada hal-hal yang lebih bermakna, dan kesempatan untuk menata kembali arah kehidupan. Ketika kesempatan itu berakhir, muncul perasaan seolah-olah sesuatu yang berharga baru saja terlepas dari genggaman.

Yang membuat perpisahan ini semakin terasa dalam adalah kesadaran bahwa tidak ada jaminan untuk bertemu kembali dengannya tahun depan. Setiap orang berjalan bersama waktu yang terus bergerak maju tanpa pernah menoleh ke belakang. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah tahun depan masih diberi usia untuk menyambut Ramadan lagi. Bagi sebagian kita, Ramadan tahun ini mungkin adalah yang terakhir tanpa pernah kita sadari sebelumnya.

Kesadaran itu membuat setiap detik Ramadan terasa lebih berarti, terutama ketika ia hampir berakhir. Tiba-tiba muncul penyesalan kecil tentang waktu-waktu yang mungkin terlewat begitu saja. Malam yang seharusnya bisa diisi dengan doa justru terlewati dengan kelelahan. Kesempatan untuk memperbaiki diri kadang ditunda dengan alasan masih ada waktu. Padahal waktu tidak pernah menunggu.

Di saat seperti ini, hati sering kali dipenuhi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban pasti. Apakah semua usaha yang telah dilakukan selama Ramadan cukup berarti? Apakah perubahan yang diharapkan benar-benar akan bertahan setelah bulan ini pergi? Dan yang paling sunyi dari semuanya adalah pertanyaan sederhana: apakah masih ada kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadan di tahun yang akan datang?

Pertanyaan itu tidak selalu diucapkan dengan kata-kata. Ia lebih sering hadir sebagai bisikan halus di dalam hati. Sebuah kesadaran bahwa hidup ini berjalan di atas waktu yang terbatas. Bahwa setiap pertemuan pada akhirnya akan berujung pada perpisahan, termasuk pertemuan dengan bulan yang begitu istimewa ini.

Namun mungkin justru di situlah letak makna dari Ramadan yang pergi. Ia tidak datang untuk tinggal selamanya, tetapi untuk meninggalkan pelajaran tentang arti kesempatan. Selama sebulan penuh manusia diingatkan bahwa dirinya mampu menjadi lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat dengan nilai-nilai kebaikan. Ramadan menunjukkan kemungkinan bahwa kehidupan bisa dijalani dengan cara yang lebih bermakna.

Ketika Ramadan akhirnya benar-benar berlalu, yang tertinggal bukan hanya kenangan tentang hari-harinya, tetapi juga jejak perasaan yang sulit dilupakan. Ada rindu yang mungkin baru terasa setelah semuanya berakhir. Rindu pada suasana sahur yang tenang, pada doa-doa yang dipanjatkan dalam gelapnya malam, dan pada perasaan damai yang jarang hadir di bulan-bulan lainnya. Ramadan pergi dengan sunyi, tetapi ia meninggalkan gema yang panjang di dalam hati. Gema yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali, dan bahwa setiap detik kehidupan seharusnya digunakan dengan lebih berarti.

Dan ketika bulan itu benar-benar menghilang dari kalender, satu pertanyaan tetap tinggal bersama kita, seperti bayangan yang tidak pernah sepenuhnya pergi: apakah suatu hari nanti masih ada usia untuk menyambutnya kembali.

Salam Silaturahim

Antara Doa dan Ambisi

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung (Malahayati.ac.id) – Pejabat itu begitu sampai di kantor menyandarkan punggungnya di kursi sambil tersenyum puas, seraya berkata kepada stafnya. “Saya tadi malam shalat malam,” katanya ringan. “Kalau kita rutin bangun malam, apa pun yang kita minta pasti dikabulkan. Saya selalu yakin begitu.”
Staf yang duduk di depannya mengangguk pelan. “Bapak sering sekali bangun malam, ya.”
“Tentu,” jawab pejabat itu dengan nada percaya diri. “Saya selalu punya permintaan yang saya sampaikan. Saya yakin Tuhan akan menuruti. Tinggal menunggu waktu saja.”
Staf itu terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata dengan hati-hati. “Bukankah shalat malam seharusnya juga tentang mendekatkan diri kepada Tuhan, Pak? Bukan hanya tentang apa yang kita inginkan.”
Pejabat itu tertawa kecil. “Ya tidak salah juga meminta. Justru itu gunanya doa. Kita bangun malam supaya keinginan kita didengar.”

Staf itu menatap meja sejenak, lalu kembali berbicara dengan suara tenang. “Meminta memang tidak salah, Pak. Tapi kadang saya berpikir, apakah kita datang karena rindu kepada Tuhan, atau karena ingin sesuatu dari-Nya.”
Pejabat itu sedikit terdiam mendengar kalimat itu. Staf itu melanjutkan pelan, “Kalau yang kita cari hanya keinginan kita sendiri, mungkin tanpa sadar kita seperti memaksa Tuhan mengikuti rencana kita. Padahal bisa jadi Tuhan memiliki rencana yang lebih baik.”
Banyak di antara kita bangun pada malam hari dengan tangan terangkat dan doa yang panjang. Dalam keheningan yang seharusnya penuh kedekatan dengan Tuhan, justru sering kali hati kita dipenuhi daftar keinginan. Kita datang bukan karena rindu untuk bersujud, tetapi karena ada sesuatu yang ingin didapatkan. Malam yang seharusnya menjadi ruang perjumpaan yang tulus berubah menjadi waktu untuk menyampaikan tuntutan bahkan paksaan. Tanpa disadari, doa yang kita panjatkan terkadang lebih mirip permohonan yang mendesak daripada ungkapan cinta kepada Sang Pencipta.

Malam memang memiliki keistimewaan. Ketika dunia menjadi sunyi dan kebisingan kehidupan mereda, manusia memiliki kesempatan untuk berbicara dengan hatinya sendiri. Pada saat seperti itu, jarak antara manusia dan Tuhannya seharusnya terasa lebih dekat. Namun kenyataannya, banyak orang memanfaatkan waktu itu hanya ketika mereka sedang terdesak oleh masalah. Kesulitan hidup, kegagalan, ketakutan, dan keinginan yang belum tercapai mendorong mereka untuk bangun malam. Mereka datang dengan harapan agar Tuhan segera mengabulkan apa yang mereka minta.

Tidak salah jika manusia berdoa dan meminta. Meminta adalah bagian dari hubungan antara makhluk dan Penciptanya. Tetapi yang sering luput adalah niat di balik permintaan itu. Ada perbedaan besar antara seorang hamba yang datang karena rindu kepada Tuhannya dan seorang hamba yang datang karena ingin memaksa kehendaknya terjadi. Rindu melahirkan kerendahan hati, sedangkan tuntutan sering kali lahir dari keinginan yang terlalu kuat terhadap dunia.

Ketika seseorang bangun malam karena rindu, ia tidak selalu membawa daftar permintaan. Ia datang untuk bersujud, untuk mengingat kebesaran Tuhan, dan untuk mengakui kelemahannya sebagai manusia. Dalam sujud itu terdapat rasa syukur, penyesalan, dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Doa yang lahir dari kerinduan biasanya lebih tenang, lebih tulus, dan tidak dipenuhi dengan desakan. Ia memahami bahwa Tuhan mengetahui apa yang terbaik, bahkan sebelum manusia mengucapkannya.

Sebaliknya, ketika bangun malam hanya untuk menuntut, hubungan spiritual menjadi terasa sempit. Doa dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang berisi keinginan pribadi. Kadang bahkan muncul kekecewaan ketika apa yang diminta tidak segera terwujud. Seolah-olah doa menjadi sebuah transaksi: manusia beribadah dengan harapan imbalan tertentu. Jika harapan itu tidak terpenuhi, maka rasa kecewa perlahan muncul dalam hati.

Sikap seperti ini sebenarnya menunjukkan betapa mudahnya manusia terjebak dalam ego dirinya sendiri. Kita ingin segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencananya. Kita berharap Tuhan menyetujui semua keinginan kita tanpa mempertimbangkan apakah itu benar-benar baik bagi kehidupan kita. Padahal, kebijaksanaan Tuhan jauh melampaui pemahaman manusia yang terbatas.

Malam seharusnya menjadi waktu untuk membersihkan hati dari kesombongan tersebut. Dalam kesunyian, manusia dapat menyadari betapa kecil dirinya di hadapan kekuasaan Tuhan. Saat dahi menyentuh lantai, sebenarnya itu adalah simbol bahwa manusia meletakkan seluruh egonya di hadapan Sang Pencipta. Ia mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kuasa apa pun tanpa izin dari Tuhan.
Kesadaran ini dapat mengubah cara seseorang berdoa. Permintaan tetap ada, tetapi tidak lagi disertai dengan sikap memaksa. Ia memohon dengan penuh harap, namun juga dengan kerelaan menerima apa pun keputusan Tuhan. Hatinya lebih lapang, karena ia percaya bahwa setiap ketetapan memiliki hikmah yang mungkin belum dipahami saat ini.

Kerinduan kepada Tuhan juga membuat seseorang tidak hanya datang ketika membutuhkan sesuatu. Ia tetap bangun malam meskipun hidupnya sedang baik-baik saja. Ia tetap bersujud meskipun tidak ada masalah besar yang sedang dihadapi. Kehadirannya dalam ibadah tidak bergantung pada keadaan, tetapi pada rasa cinta yang tumbuh dalam hatinya.

Ketika kerinduan itu mulai tumbuh, malam tidak lagi terasa sebagai beban. Bangun dari tidur menjadi sebuah panggilan yang lembut bagi jiwa. Dalam keheningan, seseorang merasakan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk dunia. Ia tidak lagi sekadar meminta, tetapi juga menikmati kedekatan dengan Tuhannya.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah alasan di balik langkah kita ketika bangun di tengah malam. Apakah kita datang karena hati yang rindu, atau karena keinginan yang ingin segera terpenuhi? Apakah doa kita lahir dari kerendahan hati, atau dari keinginan untuk mengatur takdir sesuai dengan rencana kita?

Malam selalu memberikan kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki niatnya. Ia mengajarkan bahwa hubungan dengan Tuhan tidak seharusnya dibangun di atas tuntutan, tetapi di atas cinta dan ketundukan. Ketika manusia belajar datang dengan hati yang tulus, maka doa tidak lagi menjadi alat untuk memaksa kehendak, melainkan menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.
Salam Lailatul Qadar (R-1)

Luka Sunyi

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) Ada saatnya dalam hidup ketika berkata “ya” bukan lagi tanda kebaikan, melainkan awal dari pengingkaran terhadap diri sendiri. Sejak kecil kita diajarkan untuk membantu, untuk mengulurkan tangan, untuk mendahulukan orang lain.

Nilai-nilai itu tumbuh menjadi keyakinan bahwa menolak berarti egois, bahwa berkata tidak adalah bentuk ketidaksopanan, bahkan ketidakpedulian. Namun kenyataan tidak selalu seindah ajaran. Ada kebaikan yang disambut hangat, tetapi ada pula kebaikan yang diterima tanpa rasa terima kasih, tanpa apresiasi, bahkan dianggap sebagai kewajiban. Pada titik itulah seseorang mungkin terpaksa belajar mengatakan tidak.

Kebaikan yang tidak dihargai sering kali datang secara halus. Awalnya hanya permintaan kecil, bantuan sederhana, pengorbanan waktu yang tampak sepele. Kita memberikannya dengan tulus, tanpa perhitungan. Senyum orang lain menjadi cukup sebagai balasan. Namun ketika bantuan itu berubah menjadi tuntutan, ketika kehadiran kita dianggap sesuatu yang pasti dan harus ada, makna kebaikan mulai bergeser. Ia tidak lagi dipandang sebagai pilihan, melainkan sebagai kewajiban yang tak boleh ditolak.

Ada perasaan lelah yang tumbuh perlahan. Bukan karena membantu itu salah, melainkan karena tidak ada keseimbangan. Setiap kali kita berkata “ya”, ada bagian dari diri yang tergerus. Waktu pribadi berkurang, energi terkuras, pikiran dipenuhi beban yang seharusnya tidak sepenuhnya kita tanggung.

Sementara itu, orang yang menerima bantuan mungkin tak pernah benar-benar menyadari betapa besar usaha yang telah diberikan. Mereka melihat hasil, tetapi tidak melihat proses. Mereka menikmati manfaat, tetapi lupa menghargai niat.

Dalam kondisi seperti itu, berkata “tidak” menjadi sebuah keberanian. Ia bukan sekadar penolakan, melainkan penegasan batas. Batas bahwa kita juga manusia yang memiliki kebutuhan, keterbatasan, dan hak untuk menjaga diri. Namun keberanian ini sering diiringi rasa bersalah. Ada suara dalam hati yang mempertanyakan, “Apakah aku berubah menjadi orang yang tidak peduli?”

Rasa bersalah itu muncul karena kita terbiasa mengaitkan nilai diri dengan seberapa banyak kita bisa memberi.

Padahal, kebaikan yang sehat tidak menuntut pengorbanan tanpa akhir. Ia tumbuh dari keikhlasan, bukan keterpaksaan. Ketika kita terus-menerus memberi tanpa dihargai, keikhlasan itu dapat berubah menjadi kepahitan. Senyum yang dulu tulus bisa berubah menjadi topeng. Bantuan yang dulu ringan terasa berat. Jika dibiarkan, bukan hanya hubungan yang rusak, tetapi juga cara kita memandang kebaikan itu sendiri.

Berkata tidak dalam situasi seperti ini adalah bentuk perlindungan. Ia mengajarkan orang lain bahwa kita memiliki batas. Ia juga mengingatkan diri sendiri bahwa harga diri tidak boleh ditukar dengan penerimaan semu. Terkadang, orang baru belajar menghargai setelah merasakan ketiadaan. Ketika kita selalu tersedia, kehadiran kita dianggap biasa. Namun ketika kita sesekali mundur, barulah terlihat nilai dari apa yang selama ini diberikan.

Tentu saja, tidak semua orang akan memahami keputusan itu. Ada yang merasa kecewa, ada yang menganggap kita berubah. Bahkan mungkin ada yang menuduh kita tidak lagi peduli. Tetapi tidak semua kekecewaan harus kita tanggung. Kita tidak bertanggung jawab atas ekspektasi yang tidak pernah kita janjikan. Kita hanya bertanggung jawab untuk bersikap jujur terhadap kemampuan dan batas diri.

Mengatakan “tidak” bukan berarti menutup pintu kebaikan selamanya. Ia justru membuka ruang untuk kebaikan yang lebih sehat. Dengan batas yang jelas, bantuan menjadi pilihan sadar, bukan refleks otomatis. Kita bisa memberi tanpa merasa terpaksa, karena kita tahu bahwa kita melakukannya atas kehendak sendiri. Dan ketika seseorang benar-benar menghargai, ia akan memahami bahwa penolakan bukanlah penolakan terhadap dirinya, melainkan penegasan atas situasi.

Ada kekuatan dalam kata tidak yang sering diremehkan. Ia melatih kita untuk mengenali prioritas. Ia mengajarkan bahwa menjaga diri bukanlah tindakan egois, melainkan kebutuhan. Tanpa kemampuan berkata tidak, kita mudah terjebak dalam lingkaran eksploitasi emosional. Kita menjadi sumber daya yang terus diambil, tanpa pernah diisi kembali.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak kita mengorbankan diri, melainkan tentang bagaimana kita menyeimbangkan memberi dan menerima. Kebaikan yang sejati tidak memaksa, tidak menuntut tanpa henti, dan tidak mengabaikan batas. Ia tumbuh dalam ruang saling menghargai. Jika penghargaan itu hilang, maka wajar jika kita mengambil langkah mundur.

Saat terpaksa berkata tidak kepada kebaikan yang tidak dihargai, mungkin hati terasa berat. Namun di balik berat itu ada pelajaran penting tentang martabat, tentang keberanian, dan tentang cinta terhadap diri sendiri. Kita belajar bahwa menjadi baik tidak berarti harus selalu mengiyakan. Kita belajar bahwa penolakan bisa menjadi bentuk kebaikan yang lebih besar, yaitu kebaikan terhadap diri, agar tetap utuh dan tidak habis oleh harapan orang lain. Karena pada akhirnya, kebaikan yang paling berharga adalah yang lahir dari kebebasan, bukan dari tekanan. Dan kebebasan itu sering kali dimulai dari satu kata sederhana yang diucapkan dengan tegas:” tidak”.

Salam Ramadan!

MALAM PANJANG PENJAGA GERBANG

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) Malam Ramadan hampir mencapai ujungnya. Angin berembus pelan melewati jalan-jalan perumahan yang mulai lengang setelah tarawih. Lampu-lampu teras rumah menyala redup, sebagian penghuni sudah terlelap, sementara sebagian lain masih terjaga di dalam rumah masing-masing. Di sebuah pos keamanan kecil di sudut gerbang kompleks, dua orang penjaga duduk berdampingan dengan secangkir kopi hangat di tangan. Di sela tugas ronda dan mencatat keluar masuk kendaraan, percakapan sederhana pun mengalir. Dari obrolan ringan itulah perlahan muncul cerita tentang kehidupan yang jarang terlihat oleh orang lain; tentang keluarga, tentang harapan menjelang hari raya, dan tentang kegelisahan yang sering datang pada hari-hari terakhir Ramadan.

“Komandan, malam ini sepi sekali,” kata seorang penjaga muda sambil menutup buku catatan ronda di meja pos.

“Memang begitu kalau sudah mendekati akhir Ramadan,” jawab komandannya pelan. “Orang-orang lebih banyak di rumah, istirahat setelah tarawih.”

Penjaga itu mengangguk, lalu menatap jalan kompleks yang lengang. “Kadang saya kepikiran juga, Komandan. Kita di sini menjaga rumah orang, tapi pikiran justru sering lari ke rumah sendiri.”

Komandan tersenyum tipis. “Keluarga mulai tanya soal lebaran, ya?”

“Iya, Komandan. Anak saya kemarin bertanya apakah nanti bisa beli baju baru. Saya cuma bilang, kita lihat nanti.”

Komandan menghela napas pelan. “Itu juga yang sering saya rasakan. Menjelang lebaran begini, kebutuhan di rumah biasanya banyak.”

“Kadang saya berharap ada THR dari warga,” lanjut penjaga itu hati-hati. “Tapi rasanya juga tidak enak kalau terlalu berharap.”

“Harapan boleh saja,” kata komandan tenang. “Tapi jangan sampai membuat kita kecewa kalau tidak sesuai.”

Penjaga itu mengangguk. “Benar juga, Komandan.”

Beberapa detik mereka terdiam. Angin malam berembus melewati pos kecil itu.

“Dari luar perumahan ini kelihatan mapan,” kata penjaga itu lagi. “Rumah bagus, mobil ada.”

Komandan tersenyum kecil. “Tapi kita juga tahu, banyak yang sedang berjuang dengan cicilan.”

“Jadi semuanya sebenarnya sama-sama berusaha bertahan, ya Komandan?”

“Begitulah hidup,” jawabnya. “Yang penting kita tetap menjalankan tugas dengan baik. Karena di rumah ada keluarga yang menunggu kita pulang.”

Bagi mereka, Ramadan tidak selalu identik dengan ketenangan. Ketika banyak orang berbicara tentang pahala ibadah dan rencana mudik, pikiran mereka justru sering terarah pada hal yang lebih sederhana tetapi mendesak: kebutuhan keluarga. Hari raya semakin dekat, anak-anak mulai bertanya tentang pakaian baru, makanan khas lebaran, atau sekadar harapan kecil untuk merasakan kegembiraan seperti keluarga lain. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terdengar sebagai tuntutan, tetapi cukup untuk membuat dada terasa berat.

Lingkungan perumahan tempat mereka berjaga sering tampak rapi dan mapan dari luar. Rumah-rumah berdiri kokoh dengan pagar yang tinggi, kendaraan terparkir di halaman, dan lampu teras yang menyala lembut setiap malam. Namun kehidupan di balik tembok-tembok itu tidak selalu semewah yang terlihat. Banyak keluarga yang sebenarnya hidup dalam keseimbangan rapuh antara pemasukan dan cicilan. Ada yang mencicil rumah, kendaraan, perabot, bahkan pendidikan anak. Penampilan luar sering menjadi penutup bagi kenyataan bahwa kehidupan ekonomi mereka juga penuh tekanan.

Keadaan itu membuat harapan akan tambahan rezeki menjelang hari raya terasa semakin jauh. Tradisi memberi tunjangan hari raya bagi penjaga lingkungan memang ada di banyak tempat, tetapi tidak selalu pasti. Kadang jumlahnya kecil, kadang terlambat, kadang bahkan tidak ada sama sekali. Harapan itu menggantung seperti awan yang belum tentu menurunkan hujan. Setiap malam yang dilalui dengan berpatroli membawa pertanyaan yang sama: apakah tahun ini akan ada sedikit kelegaan?

Sementara itu, waktu menuju hari gajian masih terasa sangat panjang. Hari-hari berjalan lambat, seperti langkah kaki yang menyusuri jalan kompleks yang sama setiap malam. Di pos kecil yang sederhana, secangkir kopi hangat sering menjadi teman setia untuk mengusir kantuk. Tetapi di balik percakapan ringan atau tawa kecil, selalu ada pikiran yang berputar tentang kebutuhan rumah tangga yang menunggu.

Ironisnya, mereka menghabiskan sebagian besar waktu menjaga ketenangan orang lain, sementara ketenangan dalam hidup sendiri kadang terasa rapuh. Mereka memastikan gerbang tertutup dengan baik, memeriksa sudut-sudut yang gelap, dan mengawasi jalan yang sepi agar para penghuni dapat tidur dengan aman. Namun di balik tugas itu, ada kerinduan sederhana: berada lebih lama bersama keluarga, merasakan suasana Ramadan di rumah sendiri, atau sekadar menikmati waktu berbuka tanpa harus bersiap kembali untuk ronda malam.

Akan tetapi, di tengah segala kesulitan itu, ada sesuatu yang tetap bertahan: ketabahan. Pekerjaan yang dilakukan mungkin tidak selalu dipandang penting oleh banyak orang, tetapi mereka tahu bahwa kehadiran mereka memberi rasa aman bagi sebuah komunitas. Mereka memahami bahwa setiap langkah patroli adalah bentuk tanggung jawab yang tidak terlihat, tetapi nyata.

Ketabahan itu juga lahir dari pemahaman sederhana tentang hidup. Bahwa tidak semua kebahagiaan datang dalam bentuk materi yang melimpah. Kadang kebahagiaan muncul dari hal kecil: kabar bahwa keluarga di rumah sehat, pesan singkat dari anak yang menanyakan kapan pulang, atau secangkir teh hangat yang dibagikan oleh tetangga yang masih terjaga.

Menjelang akhir Ramadan, langit malam sering terasa lebih hening. Angin berhembus lembut melewati jalan-jalan perumahan yang sepi. Di saat seperti itu, mereka yang berjaga sering memandang ke kejauhan, seolah mencoba membaca masa depan dari langit yang gelap. Harapan tetap ada, meskipun kecil dan sederhana. Harapan bahwa hari esok akan membawa kabar baik, bahwa usaha dan kesabaran tidak akan sia-sia.

Dan ketika nanti takbir akhirnya berkumandang di malam yang dinanti, mungkin tidak semua beban hidup langsung hilang. Namun ada satu hal yang tetap hidup dalam hati: keyakinan bahwa setiap pengorbanan, sekecil apa pun, memiliki makna. Seperti senja yang perlahan berubah menjadi malam, kesedihan dan harapan sering berjalan berdampingan. Dalam diam, mereka yang berjaga tetap menunggu fajar ”bukan hanya fajar hari raya, tetapi juga fajar kehidupan yang lebih lapang”.

Salam Lailatul Qadar

RAMADAN (Musim atau Perubahan)

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar lampung ( malahayati.ac.id )

Langit senja mulai meredup di atas halaman Pesantren. Cahaya jingga perlahan menghilang di balik pepohonan yang mengelilingi kompleks asrama. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan sore tadi. Dari masjid tua di tengah pesantren terdengar lantunan ayat suci yang dibaca para santri setelah salat Magrib. Ramadan sudah memasuki penghujungnya. Sepuluh malam terakhir mulai dijalani, dan suasana di pesantren terasa lebih hidup dari biasanya.

Di serambi masjid, seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiai. Wajahnya tampak serius, seolah menyimpan banyak pertanyaan. Sementara itu sang kiai memegang tasbih, memandang halaman pesantren yang mulai dipenuhi santri yang berjalan membawa kitab masing-masing.

“Yai,” tanya santri itu pelan, “kenapa setiap menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, pesantren terasa berbeda dari biasanya?”

Kiai tersenyum tipis. “Berbeda bagaimana maksudmu?”

“Rasanya lebih hidup,” jawab santri. “Masjid lebih ramai. Teman-teman yang biasanya cepat mengantuk sekarang malah kuat begadang. Bahkan yang biasanya jarang terlihat di pengajian tiba-tiba datang lebih awal.”

Kiai mengangguk perlahan. “Itu karena mereka mulai menyadari bahwa Ramadan hampir selesai. Waktu yang tersisa sedikit, sementara harapan mereka masih banyak.”

Santri itu menatap ke arah halaman pesantren yang mulai sepi. “Mereka berharap mendapatkan malam yang istimewa itu, ya Yai?”

“Benar,” jawab kiai. “Banyak orang memaknai bahwa di antara sepuluh malam terakhir ada satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu mereka berusaha memanfaatkan waktu yang tersisa.”

Santri itu tersenyum kecil. “Saya juga melihat beberapa teman membaca kitab suci hampir setiap waktu. Seolah-olah mereka tidak ingin melewatkan satu halaman pun.”

“Ramadan memang punya kekuatan seperti itu,” kata kiai. “Bulan ini mampu membangunkan hati manusia. Orang yang biasanya jarang membaca kitab suci tiba-tiba ingin menamatkannya. Orang yang jarang berdoa menjadi lebih sering menengadahkan tangan.”

Santri itu tampak berpikir sejenak. Lalu ia berkata, “Tapi Yai, saya juga mendengar cerita dari kampung. Katanya menjelang hari raya justru banyak orang yang semakin sibuk berbelanja.”

Kiai tertawa kecil. “Itu juga kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri.”

“Mereka sibuk ke pasar, mencari pakaian baru, menyiapkan makanan untuk hari raya,” lanjut santri. “Bahkan ada yang lebih sering pergi ke pusat perbelanjaan daripada ke masjid.”

Kiai mengangguk pelan. “Manusia memang memiliki banyak kesibukan. Ada yang sibuk mengejar pahala, ada yang sibuk mengejar keuntungan, dan ada pula yang sibuk mengejar kesenangan.”

Santri itu kemudian bertanya, “Apakah itu berarti mereka salah, Yai?”

“Tidak selalu,” jawab kiai dengan tenang. “Mempersiapkan kebahagiaan untuk keluarga juga bagian dari kebaikan. Namun yang perlu dijaga adalah keseimbangannya. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita melupakan tujuan Ramadan.”

Santri itu menunduk sejenak. “Tujuan Ramadan adalah agar kita menjadi lebih baik, bukan?”

“Betul,” kata kiai. “Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia melatih kesabaran, kejujuran, dan kemampuan mengendalikan diri. Selama sebulan manusia belajar untuk menahan amarah, menjaga ucapan, dan memperbanyak kebaikan.”

Beberapa santri terlihat berjalan menuju masjid untuk mengikuti pengajian malam. Suara langkah mereka terdengar pelan di halaman yang mulai dipenuhi embun.

Santri itu kembali bertanya, “Yai, kalau selama Ramadan orang bisa berubah menjadi lebih baik, kenapa setelah Ramadan banyak yang kembali seperti semula?”

Kiai memutar tasbih di tangannya sebelum menjawab. “Karena sebagian orang menganggap Ramadan sebagai tujuan, bukan sebagai latihan.”

“Latihan?” tanya santri dengan heran.

“Ya,” kata kiai. “Ramadan itu seperti madrasah selama satu bulan. Di dalamnya manusia belajar mengendalikan diri, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak. Namun setelah bulan itu selesai, banyak orang yang melupakan pelajaran yang sudah mereka dapatkan.”

Santri itu mengangguk pelan, seolah mulai memahami.

“Coba kamu perhatikan,” lanjut kiai. “Selama Ramadan masjid penuh oleh orang yang ingin salat berjamaah. Kitab suci dibaca hampir setiap hari. Sedekah juga lebih sering diberikan. Tetapi setelah bulan itu berlalu, semua perlahan kembali seperti semula.”

Santri itu menghela napas kecil. “Masjid kembali sepi, ya Yai.”

“Begitulah sering terjadi,” jawab kiai.

Santri itu menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. “Berarti ujian sebenarnya justru datang setelah Ramadan selesai.”

Kiai tersenyum. “Kamu mulai mengerti.”

“Jika seseorang hanya rajin beribadah selama Ramadan, tetapi kembali pada kebiasaan lama setelahnya, berarti Ramadan belum benar-benar mengubah dirinya.”

Santri itu terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan, “Saya ingin Ramadan tahun ini tidak berlalu begitu saja, Yai.”

“Bagus,” kata kiai. “Keinginan itu adalah langkah awal.”

“Tapi bagaimana cara menjaga semangat itu setelah Ramadan?” tanya santri.

Kiai menjawab dengan lembut, “Mulailah dari hal-hal kecil. Jika selama Ramadan kamu terbiasa membaca beberapa halaman kitab suci setiap hari, cobalah mempertahankannya walaupun tidak sebanyak sebelumnya. Jika kamu terbiasa salat berjamaah di masjid, jangan langsung meninggalkannya.”

Santri itu mengangguk mantap.

“Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan konsisten,” lanjut kiai.

Suasana malam semakin tenang. Dari dalam masjid terdengar suara santri yang mulai membaca kitab bersama-sama.

Santri itu berdiri perlahan. “Terima kasih, Yai. Saya akan mencoba menjaga pelajaran Ramadan, bukan hanya selama bulan ini.”

Kiai tersenyum sambil terus memutar tasbih di tangannya.

“Pergilah ke masjid,” katanya. “Malam masih panjang. Gunakan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.”

Santri itu berjalan menuju masjid bersama teman-temannya. Sementara itu sang kiai tetap duduk di serambi, memandang langit Ramadan yang tenang.

Dalam hatinya ia berharap para santri tidak hanya menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan, tetapi juga mampu menjaga cahaya Ramadan dalam kehidupan mereka setelah bulan suci itu berlalu.

Salam Lailatul Qadar.

LUPA SETELAH SELAMAT

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) Di sebuah serambi sederhana pada sore hari, seorang santri duduk bersila di hadapan kiainya. Angin berhembus pelan, membawa suasana tenang yang membuat percakapan terasa lebih dalam.

“Santri,” kata sang kiai dengan suara lembut, “pernahkah kamu memperhatikan bagaimana manusia bersikap ketika hidupnya sedang sulit?”

Santri itu berpikir sejenak, lalu menjawab, “Biasanya mereka menjadi lebih banyak berdoa, lebih rajin beribadah, dan lebih sering meminta pertolongan, termasuk pertolongan pada Tuhan.”

Kiai tersenyum tipis. “Benar. Saat hati terdesak oleh kesulitan, manusia menjadi sangat sadar bahwa dirinya lemah. Ia memohon dengan sungguh-sungguh, seolah seluruh harapannya digantungkan pada doa.”

Santri mengangguk pelan. “Namun saya juga sering melihat sesuatu yang aneh, Kiai.”

“Apa itu?” tanya sang kiai.

“Ketika keadaan sudah membaik, ketika rezeki menjadi lancar dan hidup terasa mudah, banyak orang justru mulai melupakan doa-doa yang dulu mereka panjatkan.”

Kiai menatap jauh ke halaman pesantren. “Itulah salah satu sifat manusia yang paling sering terjadi. Ketika sulit, mereka meminta bersama-sama dengan harapan yang besar. Namun ketika senang, mereka sering lupa segalanya.”

Santri tampak merenung. “Apakah itu berarti manusia memang mudah lupa, Kiai?”

“Ya,” jawab kiai perlahan. “Lupa bukan hanya tentang ingatan, tetapi juga tentang kesadaran. Kesenangan kadang membuat manusia merasa seolah-olah ia tidak lagi membutuhkan pertolongan.”

Santri menundukkan kepala. “Lalu bagaimana agar kita tidak menjadi seperti itu?”

Kiai kembali tersenyum. “Caranya sederhana, tetapi tidak mudah: jangan pernah melupakan masa sulitmu. Ingatlah bagaimana kamu berdoa saat itu. Jika ingatan itu kamu jaga, maka kebahagiaan tidak akan membuatmu lupa diri.”

Santri mengangguk pelan, menyadari bahwa pelajaran tentang hidup sering datang dari hal-hal yang terlihat sederhana.

Fenomena ini bukanlah sesuatu yang asing. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Ketika seseorang berada dalam kesulitan ekonomi, sakit, atau menghadapi kegagalan, ia menjadi lebih rajin berdoa, lebih tekun merenung, dan lebih sering mengingat nilai-nilai kehidupan. Kesadaran tentang betapa rapuhnya manusia membuatnya ingin mendekat pada harapan dan kebaikan. Dalam momen seperti itu, hati terasa jujur dan tulus, karena tidak ada lagi yang dapat diandalkan selain harapan dan doa.

Namun ketika keadaan berubah menjadi lebih baik, manusia sering kali merasa seolah-olah semua keberhasilan itu adalah hasil dari usahanya sendiri. Rasa syukur yang dahulu begitu hangat perlahan berubah menjadi rasa biasa. Doa yang dahulu dipanjatkan setiap malam mulai jarang diucapkan. Kesadaran tentang keterbatasan diri pun perlahan menghilang. Kehidupan yang nyaman membuat manusia merasa aman, bahkan terkadang merasa tidak lagi membutuhkan tempat untuk bersandar.

Sifat mudah lupa inilah yang sering menjadi bagian dari perjalanan manusia. Ingatan manusia ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh waktu, tetapi juga oleh keadaan. Penderitaan membuat manusia mengingat, sementara kesenangan sering membuat manusia lengah. Dalam keadaan sulit, manusia menyadari bahwa hidup tidak selalu berada dalam kendali. Tetapi ketika keadaan membaik, ia sering kembali pada keyakinan lama bahwa dirinya mampu mengendalikan segalanya.

Padahal kehidupan memiliki cara yang unik untuk mengingatkan manusia. Kesulitan dan kebahagiaan datang silih berganti seperti dua sisi dari satu perjalanan yang sama. Tidak ada keadaan yang benar-benar permanen. Hari yang cerah dapat berubah menjadi mendung, dan masa yang berat dapat berubah menjadi ringan. Jika manusia menyadari hal ini dengan lebih dalam, ia mungkin akan belajar untuk tidak mudah lupa, baik ketika sedang berada dalam kesulitan maupun ketika sedang berada dalam kelapangan.

Menghargai kebahagiaan bukan berarti melupakan masa sulit yang pernah dilewati. Justru ingatan terhadap masa sulit seharusnya menjadi sumber kebijaksanaan. Kesulitan mengajarkan kesabaran, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ketika seseorang berhasil melewati masa-masa itu, seharusnya ia membawa pelajaran tersebut ke dalam masa bahagia yang ia rasakan.

Rasa syukur yang sejati sebenarnya tidak hanya muncul ketika seseorang menerima sesuatu yang ia inginkan. Rasa syukur yang sejati adalah kemampuan untuk tetap mengingat dan menghargai perjalanan hidup secara utuh. Ia tidak bergantung pada keadaan semata. Dalam keadaan sulit, rasa syukur muncul dalam bentuk harapan. Dalam keadaan bahagia, rasa syukur muncul dalam bentuk kesadaran bahwa kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang datang tanpa makna.

Masalahnya, manusia sering kali terlalu cepat beradaptasi dengan kenyamanan. Apa yang dahulu dianggap sebagai anugerah besar, lama-kelamaan menjadi hal yang dianggap biasa. Inilah yang membuat rasa syukur memudar tanpa disadari. Bukan karena manusia tidak ingin bersyukur, tetapi karena ia terbiasa dengan apa yang ia miliki. Kebiasaan membuat keajaiban terasa biasa, dan ketika sesuatu terasa biasa, manusia cenderung berhenti memikirkannya.

Di sinilah pentingnya kesadaran diri. Manusia perlu sesekali berhenti sejenak dan mengingat kembali perjalanan hidupnya. Mengingat hari-hari ketika harapan terasa jauh, ketika doa menjadi satu-satunya pegangan, dan ketika harapan kecil terasa sangat berharga. Ingatan seperti ini bukan untuk membuka kembali luka lama, tetapi untuk menjaga kerendahan hati.

Ketika seseorang mampu mengingat masa sulitnya dengan jujur, ia akan lebih mampu menghargai kebahagiaan yang ia miliki. Ia tidak akan mudah merasa sombong atau lupa diri, karena ia tahu bahwa kehidupan dapat berubah kapan saja. Kesadaran ini membuat kebahagiaan terasa lebih bermakna, bukan sekadar kenyamanan yang dinikmati tanpa pemahaman.

Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang keluar dari kesulitan dan mencapai kebahagiaan. Kehidupan juga tentang bagaimana manusia menjaga ingatan dan kesadarannya sepanjang perjalanan itu. Kesulitan seharusnya mengajarkan kerendahan hati, dan kebahagiaan seharusnya menguatkan rasa syukur.

Jika manusia mampu menjaga ingatan ini, maka kebahagiaan tidak akan membuatnya lupa, dan kesulitan tidak akan membuatnya putus asa. Ia akan berjalan dengan kesadaran bahwa setiap keadaan memiliki maknanya sendiri. Dengan demikian, doa yang pernah dipanjatkan saat sulit tidak akan hilang begitu saja ketika kebahagiaan datang, melainkan tetap hidup sebagai pengingat bahwa segala sesuatu dalam kehidupan memiliki asal dan tujuan yang lebih dalam.

Salam Ramadan

Diantara Cukup dan Tenang

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Bandar Lampung ( malahayati.co.id ) – Selepas sholat subuh di suatu pesantren; seorang santri muda mendekati Kiai di serambi pondok, dan berkata: “Yai, kenapa saya merasa selalu kurang, padahal kebutuhan sudah tercukupi?” tanya santri muda tadi. Suaranya lirih, seolah takut mengganggu ketenangan pagi yang masih diselimuti embun.
Sang kiai tidak segera menjawab. Ia memandang halaman pesantren yang masih lengang, lalu berkata pelan, “Nak, yang sering kurang itu bukan hidupmu, melainkan ukuranmu tentang hidup.” Santri itu mengangkat wajahnya. “Bukankah cukup berarti punya banyak, Yai?”. “Tidak selalu,” jawab sang kiai, sambil tersenyum tipis. “Banyak belum tentu cukup, dan sedikit belum tentu kurang. Cukup itu bukan urusan angka, melainkan urusan hati. Kalau hatimu gaduh, sebanyak apa pun yang kau punya tak akan terasa cukup. Tapi kalau hatimu tenang, yang sedikit pun bisa terasa lapang.”

Percakapan itu berhenti, tetapi maknanya tidak. Ia justru membuka pintu bagi pertanyaan yang lebih besar tentang cara manusia modern memahami hidup. Di balik dialog sederhana di pondok pesantren, tersembunyi kritik halus terhadap logika zaman yang menilai keberhasilan dari akumulasi dan kecepatan. Dunia kontemporer membentuk kesadaran bahwa hidup yang baik adalah hidup yang senantiasa bertambah: harta harus meningkat, prestasi harus naik, dan pengalaman harus semakin beragam. Namun ironisnya, di tengah kelimpahan tersebut, rasa cukup justru semakin sulit ditemukan.

Filsafat kontemporer membaca fenomena ini sebagai krisis makna. Manusia tidak kekurangan pilihan, tetapi kehilangan orientasi.

“Cukup” dan “kurang” tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan riil, melainkan oleh perbandingan tanpa henti. Media, teknologi, dan budaya kompetisi menjadikan hidup sebagai etalase pencapaian. Dalam situasi seperti ini, rasa kurang tidak muncul karena ketiadaan, tetapi karena kesadaran yang terus digeser untuk menginginkan lebih. Akibatnya, manusia hidup dalam keadaan tidak pernah tiba, selalu menuju, tetapi jarang berhenti.

Pernyataan bahwa banyak belum tentu cukup dan sedikit belum tentu kurang menantang asumsi dasar tersebut. Ia mengingatkan bahwa cukup adalah pengalaman eksistensial, bukan kondisi material semata. Dalam filsafat kontemporer, pengalaman hidup tidak dipahami sebagai fakta objektif yang berdiri sendiri, melainkan sebagai hasil interaksi antara dunia dan kesadaran. Dua orang dapat berada dalam kondisi yang sama, tetapi menghayatinya secara berbeda. Perbedaan itu terletak pada cara memaknai, bukan pada jumlah yang dimiliki.

Dari sini, ajakan untuk tidak mengejar hidup senang, melainkan hidup tenang, menjadi relevan. Hidup senang sering kali dipahami sebagai rangkaian kepuasan instan: terpenuhinya keinginan, tercapainya target, atau diperolehnya pengakuan. Namun kesenangan bersifat rapuh. Ia bergantung pada kondisi eksternal yang mudah berubah dan selalu menuntut pengulangan. Ketika kesenangan dijadikan tujuan utama, manusia akan terjebak dalam siklus hasrat yang tidak pernah selesai. Begitu satu keinginan terpenuhi, keinginan lain segera menggantikannya.

Hidup tenang tidak berarti hidup tanpa masalah atau tanpa ambisi. Ketenangan adalah sikap batin yang memungkinkan manusia menghadapi kenyataan tanpa terus-menerus dilanda kegelisahan. Ia lahir dari kesadaran akan batas: batas kemampuan, batas keinginan, dan batas kontrol manusia atas hidupnya. Filsafat kontemporer memandang pengakuan terhadap batas ini sebagai bentuk kebijaksanaan. Dengan menyadari bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, manusia justru memperoleh kebebasan batin.

Dalam kerangka ini, mengajari hati untuk bersabar dan bersyukur dalam segala hal menjadi latihan etis yang penting. Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan kemampuan menunda reaksi dan memberi ruang bagi refleksi. Di dunia yang serba cepat, kesabaran sering disalahpahami sebagai ketertinggalan. Padahal, tanpa kesabaran, manusia mudah terjebak dalam keputusan impulsif dan penilaian dangkal. Kesabaran memungkinkan manusia melihat proses sebagai bagian dari makna hidup, bukan sekadar hambatan menuju tujuan.

Rasa syukur, di sisi lain, adalah bentuk penerimaan aktif terhadap kehidupan. Bersyukur bukan berarti menutup mata terhadap penderitaan atau ketidakadilan, tetapi mengakui bahwa hidup selalu mengandung nilai, bahkan dalam keterbatasan. Filsafat kontemporer melihat rasa syukur sebagai cara manusia berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dengan bersyukur, manusia berhenti menunda kebahagiaan ke masa depan dan mulai hadir di saat ini. Kehadiran inilah yang menjadi dasar ketenangan.

Filsafat kontemporer menegaskan bahwa makna tidak selalu ditemukan, tetapi sering kali diciptakan melalui sikap. Dengan prasangka baik, manusia tidak mengubah fakta, tetapi mengubah cara berelasi dengan fakta tersebut. Hal ini memberi ruang bagi ketenangan, karena manusia tidak lagi memaksa hidup untuk selalu sesuai dengan keinginannya. Ia belajar menerima bahwa hidup memiliki logikanya sendiri yang tidak selalu dapat dipahami secara instan.
Pada akhirnya, dialog antara kiai dan santri itu mencerminkan pencarian manusia kontemporer secara umum. Di tengah dunia yang bising, cepat, dan kompetitif, manusia merindukan kesederhanaan makna. Ia lelah mengejar kesenangan yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Yang dibutuhkan bukan tambahan, melainkan penataan ulang orientasi hidup. Bukan hidup yang paling senang, tetapi hidup yang paling tenang.
Salam Ramadan (R-1)

LPPM Universitas Malahayati Laksanakan Monev dan Berikan Apresiasi kepada Prodi Berprestasi dalam Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

 

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Malahayati melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) terhadap pencapaian luaran penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan Universitas Malahayati.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, LPPM juga memberikan penilaian serta apresiasi kepada program studi yang menunjukkan kinerja terbaik dalam Capaian Luaran Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat selama periode penilaian Tahun 2025.

Berdasarkan hasil evaluasi, tiga program studi dengan capaian luaran penelitian terbaik Tahun 2025 yaitu:

1. Program Studi Manajemen sebagai terbaik pertama.
2. Program Studi Pendidikan Dokter sebagai terbaik kedua.
3. Program Studi Kesehatan Masyarakat sebagai terbaik ketiga.

Sementara itu, untuk kategori capaian luaran Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun 2025, tiga program studi terbaik yaitu:

1. Program Studi Manajemen sebagai terbaik pertama.
2. Program Studi Kesehatan Masyarakat sebagai terbaik kedua.
3. Program Studi Teknik Lingkungan sebagai terbaik ketiga.

Penghargaan dan apresiasi kepada program studi berprestasi tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, M.Kes, serta Wakil Rektor III, Dr. Eng. Rina Febrina, S.T., M.T.

Ketua LPPM Universitas Malahayati, Prof. Erna Listyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas penelitian serta pengabdian kepada masyarakat di lingkungan Universitas Malahayati.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua LPPM Eka Yudha Chrisanto, S.Kep., Ns., M.Kep, Sekretaris LPPM Dewi Avianti, S.E., S.Psi, Ketua LPMI Universitas Malahayati, serta para dosen di lingkungan Universitas Malahayati.

Melalui kegiatan ini diharapkan seluruh program studi dapat terus meningkatkan kinerja dalam menghasilkan luaran penelitian yang berkualitas serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak nyata bagi masyarakat luas. Apresiasi yang diberikan juga diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh civitas akademika Universitas Malahayati untuk terus berprestasi dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta pemberdayaan masyarakat.

# Lppm Unggul
# Riset Unggul
# PKm Berdampak

Editor : Chandra faza