Program Studi D3 Anafarma Universitas Malahayati Gelar “Workshop Bedah Kurikulum Merdeka Belajar dan Pelatihan Pembuatan RPS Outcome Base Education”

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi D3 Anafarma Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati gelar “Workshop Bedah Kurikulum Merdeka Belajar Dan Pelatihan Pembuatan Rps Outcome Base Education”. Kegiatan ini dilakukan selama 2 hari, 20-21 November 2024.

Workshop ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor I, Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes dan dihadiri pula Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Dr. Lolita Sari, SKM., M.Kes serta tamu undangan. Kegiatan ini berlangsung secara offline dan online.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman cara menyusun kurikulum Program Studi D3 Analisis Farmasi dan Makanan (Anafarma) dan RPS berbasis OBE yang mendukung Kurikulum Merdeka Belajar dan Indikator Kinerja Utama Universitas Malahayati dan akan diberlakukan mulai tahun akademik 2025-2026.

Pemateri pada worksop ini diisi oleh Apt. Lutfi Chabib, M.Sc dari UII Yogyakarta, sebagai pemateri Bedah Kurikulum Merdeka Belajar dan Prima Dian Furqoni, M.Kes. dari Univ. Malahayati selaku pemateri penyusunan RPS berbasis OBE.

Agustina Retnaningsih, S.Si.,Apt.,M.Farm selaku Ka.Prodi D3 Anafarma mengatakan “Pendidikan Vokasi Kefarmasian bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan perlu melakukan pengembangan ketrampilan yang dapat menunjang keberhasilan lulusan”.

Lebih lanjut, ia menjelaskan untuk menghadapi tantangan dan tuntutan perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi, informasi dan globalisasi maka diperlukan revitalisasi Kurikulum Anafarma Universitas Malahayati agar mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang sesuai dibidangnya.

“Penyusunan kembali Revisi Kurikulum ini menggunakan pendekatan Outcome Based Education (OBE) karena telah dikembangkan berdasarkan SN-Dikti, standar kompetensi profesi tenaga vokasi Farmasi serta sesuai kebutuhan stake holder,” pungkasnya. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Bersama Tapi Berpisah

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

MITRA Sebentar lagi Pemilu Kada akan berlangsung dan setiap calon merupakan pasangan yang terdiri dari satu figure utama dan satu sebagai wakil figure utama. Saat mereka maju bersama sangat kelihatan kompak dan serasi; sehingga tampak tanpa celah, bahkan bagai “dwuet maut” yang tak terpisahkan. Apalagi saat kampanye mereka begitu tampak saling bahumembahu guna meraih simpati masa. Namun berbeda setelah mereka menang, seperti pepatah Jawa mengatakan “nek susah guyup, nek mukti congkrah” terjemahan bebasnya kalau susah akur tetapi begitu senang mereka perang. Contoh soal sudah banyak terjadi dimana-mana, baik untuk level provinsi sampai bupati/walikota semua berpotensi ini terjadi.

Ada cerita di balik cerita saat seorang kepala daerah provinsi begitu dilantik saat menyusun kabinet para kepala dinas, nota dari wakil yang berisi untuk mempertimbangkan orang-orangnya dapat dijadikan kepala dinas atau wakil kepala dinas. Sang kepala daerah terpilih langsung menukas dengan pongah berkata “abaikan itu, saya yang kuasa”. Beliau lupa kursinya itu juga disumbang suaranya oleh simpatisan wakilnya, bahkan mungkin jumlahnya lebih besar.

Ada lagi yang miris di satu kabupaten, sebelum maju mereka membuat surat semacam perjanjian bersama jika menang untuk melakukan beberapa hal bersama, siapa mengerjakan apa. Begitu pelantikan satu minggu kemudian surat perjanjian tadi sudah dilanggar dengan alasan satu kata “sesuai perkembangan perpolitikkan”. Tentu saja sang wakil gigit jari dan menahan sakitnya hati bagai biduk hilang kemudi.

Adalagi di salah satu kota juga pernah terjadi antara orang nomor satu dan nomor duanya saling gebrak meja hanya karena memperebutkan kewenangan dan mengikuti nafsu kuasa. Atas nama ketersinggungan mereka pecah kongsi, yang akhirnya terjadi kepemimpinan “one man show”, karena sang wakil memilih mengundurkan diri. Dan, sebenarnya ini yang dicita-citakan “sang raja” agar tidak diganggu oleh wakil. Sempurnalah jadinya pimpinan tanpa wakil, apakah ini yang kemudian Tuhan tidak merestui yang bersangkutan maju kegelanggang yang yang lebih tinggi lagi dengan tidak mendapat restu dari pemilik partai, hanya Tuhan yang maha tahu.

Beda lagi di sana nun jauh diperbatasan, awalnya tampak mesra antara wakil dan komandan, mereka sebiduk bersama. Sang wakil pegang pengayuh, sang komandan pegang kemudi. Namun entah setan mana yang merasuk kedua orang itu, akhirnya sang wakil merasa lelah pingin juga rasanya pegang kemudi. Maka sang wakil menyusun kekuatan pada pemilukada berikutnya menantang sang petahana. Mereka bertarung sambil saling buka kartu untuk diumbar ditengah masa. Ternyata mereka selama ini bersama, tapi sebenarnya berpisah.

Beda lagi dinegeri sono pimpinan yang baru dilantik, orang nomor satu masih berdiskusi dengan para kabinet barunya dalam rangka menyatukan visi dan misi. Ternyata sang wakil sudah kebelet ingin popular sehingga meninggalkan pertemuan untuk sekedar pergi kepasar membeli kacang goreng dan ubi rebus, agar kelihatan merakyat seperti pendahulunya. Sikap seperti ini tentu sangat tidak patut, karena seolah dari awal sudah ingin pisah. Beliau lupa wakil itu diatur dalam perundang-undangan harus duduk manis menunggu instruksi dari yang diwakili, bukan mendahului apalagi sokpandai.

Tampaknya kejadian bersama tapi berpisah ini akan terus ada sampai kapanpun, sebab hal seperti ini adalah merupakan satu konsekwensi kebersamaan antara sesama manusia. Oleh sebab itu jika ada pasangan kepemimpinan yang mampu menjaga kekompakkan sampai akhir, dan saling menutupi kelemahan; apalagi jika mereka berlanjut pada periodesasi berikutnya. Maka hal seperti ini perlu diapresiasi, sebab memelihara kebersamaan dalam perbedaan itu diperlukan tingkat kesabaran yang berlebih. Juga diperlukan upaya dan komitmen dari setiap individu sebagai pelaku, terutama dalam rangka memfilter pembisik yang sering bersifat negatif.

Sikap saling menghargai, toleransi, komunikasi yang baik, dan kerja sama adalah kunci utama yang harus dijaga dan dikembangkan. Dengan demikian, sekalipun berbeda dapat hidup harmonis dan saling melengkapi satu sama lain. Namun sayangnya semua ini dalam tataran idealistik atau konsep; pada kenyataannya sangat sulit untuk mengaplikasikannya. Ini dapat kita lihat dan analisis; unit terkecil dari masyarakat yaitu keluarga, itupun bisa terserang kondisi ini.  Hanya karena pertimbangan keilahian, kedewasaan, bahkan kesabaran tingkat tinggilah semua dapat diatasi dan dilalui; namun betapa banyak yang gagal hanya karena terkena kerikil kecil kehidupan, sekalipun dapat menghindar gunung yang besar sebagai penghalang.

Banyak faktor yang menjadi penghalang untuk terciptanya kondisi “bersama untuk tidak berpisah”, walaupun pura-pura bahagia itu butuh drama.  Salah satu kunci diantaranya dan ini paling utama bahwa hidup itu sudah ada yang mengatur dan aturan itu adalah bernama kodrat. Pesan orang bijak bahwa Tuhan tidak akan mengubah akhir dari tujuan kita. Tuhan  hanya memberi jalan yang berliku kepada setiap kita; agar ada cerita setiap perjuangan kita. Tidak harus lima ditambah lima itu sepuluh, bisa jadi jalannya delapan dikali tiga dibagi empat ditambah tujuh di kurang lima. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa D3 Anafarma Universitas Malahayati Raih Juara 1 Kompetisi PHARMALATION 2024

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Selamat kepada Mahasiswa D3 Anafarma Universitas Malahayati Bandarlampung; Della Aprensa Gestari (22500024), Nurul Azizah (22500045), Lutfia Fadmawati (22500038) yang Berhasil mendapatkan Juara 1 Lomba Produk Inovasi Tingkat Nasional, pada kegiatan PHARMALATION 2024. Acara ini diselenggarakan oleh HIMAFARSI Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, 21-09-2024.

PHARMALATION 2024 yang diselenggarakan oleh HIMAFARSI (Himpunan Mahasiswa Farmasi) Fakultas Kedokteran Universitas Lampung adalah sebuah acara yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan mahasiswa di bidang farmasi dan kesehatan. Lomba ini merupakan sebuah kompetisi yang melibatkan berbagai jenis lomba yang berkaitan dengan ilmu farmasi, inovasi di bidang kesehatan, serta pengembangan profesionalisme mahasiswa farmasi.

PHARMALATION sendiri mungkin merupakan singkatan atau nama yang mencerminkan tujuan acara ini, yaitu untuk memberikan ruang bagi mahasiswa farmasi untuk berkompetisi, berbagi pengetahuan, dan memperluas jaringan profesional mereka di bidang farmasi dan kesehatan.

Nurul Azizah selaku perwakilan dari Tim ini mengucapkan rasa syukur dan bangga atas raihan yang diperoleh Tim. “Alhamdulilah kami berhasil mendapatkan Juara 1, ini adalah buah kerja keras kami selama ini,” ujarnya.

“Kami telah melewati beberapa tahap perlombaan, dimulai dari registrasi pendaftaran sampai pembuatan produk.” ucapnya.

Disi lain, Lutfia Fadmawati bersama timnya tidak menyangka akan mendapatkan Juara 1, “Kami tidak menyangka mendapat Juara 1, kami telah mengalahkan kampus ternama Universitas Padjajaran, Universitas Udayana, dan lain-lain di kompetesi ini,” serunya.

Hal yang sama diucapkan Della Aprensa, ia menambahkan harapan untuk Timnya kedepan. “Semoga kedepannya kami dapat lebih berprestasi lagi, dan mengahrumkan nama Prodi Anafarma dan Universitas Malahayati,” tandasnya. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Memotong Jari Di Atas Paha

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Sahdan ditulis oleh Walmiki dalam Serat Barathayuda, dan didongeng-gubahkan oleh para Dalang Wayang Purwa dalam penggalan cerita; setelah Batara Kresna pulang dari Hastinapura gagal menunaikan tugas sebagai Duta Pamungkas Pandawa, yang sebelumnya saat di Pasewakan Agung Hastinapura Prabu Kresna yang sebagai Duta Besar Kuasa Penuh itu dikeroyok oleh para Kurawa untuk dibunuh; dan memuncaklah kemarahan Kresna, kemudian dia berTriwikrama menjadi Raksasa mengguncang bumi Hastina.

Untung tidak lama berselang Batara Narada turun mengingatkan Kresna bahwa perilaku itu tidak patut untuk seorang Duta. Maka Kresna sadar berubah menjadi wujud seperti sediakala, dan kemudian pulang ke Dwarawati bersama Sais Keretanya yaitu Raden Setyaki.

Dalam perjalanan pulang itulah bertemu dengan Prabu Basukarna atau populer disebut Karna. Beliau adalah putra Dewi Kunthi ibunya para Pandawa tetapi berbeda ayah, sebab ayahnya Karna adalah Betara Surya, sedangkan Ayahnya para Pandawa adalah Prabu Pandu raja Hastinapura (versi wayang Purwa Jawa). Dialog itu jika dideskripsikan secara bebas dan singkat akan tertuang sebagai berikut:

Prabu Kresna : …wahai Karna mengapa dirimu tidak bergabung dengan Pandawa, sebab itu kan saudara-saudaramu semua. Lagi pula para Kurawa jelas-jelas salah telah merampas kerajaan yang bukan miliknya. ..berarti kamu memerangi saudaramu sendiri, dan itu sama saja kamu memotong jari di atas pahamu sendiri…… Aku ingin mendengar apa alasanmu…..wahai Basukarna!

Karna menjawab sambil menghela nafas dalam-dalam : ……Kanda Prabu betul apa yang Kanda katakan, sebagai titisan Wisnu, Kanda Prabu sejatinya sudah paham akan jawaban ini…namun baiklah akan saya kemukakan alasan saya; pertama….pembeda yang benar dengan yang salah itu harus ada garis tegas sebagai pemisah, karena tanpa garis pemisah itu maka tidak tampak mana yang benar dan mana yang salah. Oleh sebab itu biarkan saya mengorbankan diri saya untuk menjadi pemisah dari keduanya..dan saya akan menjadi garis itu..…., kedua….. saya ikhlas untuk menjadi garis itu…..sebab tanpa garis itu Pandawa akan mengalami kesulitan di belakang hari…..dan tanpa garis itu maka akan bercampur mana baik mana buruk….dan itu tidak boleh terjadi.

Prabu Kresna memotong :…nanti dulu….nanti dulu…… Adinda Karna….apakah dirimu sadar bahwa perilakumu itu adalah pecundang namanya…….?

Karna menjawab: …Kakanda…seseorang ada pada posisi pecundang atau pahlawan…itu tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Saya yakin para kerabat Pandawa mengatakan saya pecundang…dan bisa jadi ada yang berpendapat saya penghianat..itu sah-sah saja…….namun sebaliknya orang Hastinapura akan mengatakan saya sebagai pahlawan….karena telah membela negara yang telah memberikan kenikmatan kepada saya. Kanda Prabu ketahuilah bawa Saya, ….Patih Sengkuni…dan Begawan Dorna…. itu keberadaannya diperlukan agar memperjelas posisi kita masing-masing. Sengkuni itu diperlukan..karena dia tukang hasut …maka yang baik akan selalu memusuhi yang buruk. Dorna diperlukan karena tukang adu domba…sebab jika baik dan buruk tidak diadu domba…maka si buruk bisa jadi merajalela…..dan si baik tidak akan menjadi kuat. …… agar si buruk dimusnahkan oleh si baik….maka dia harus kuat…caranya ya itu tadi…mereka diadu domba dan di hasut terus menerus. Dengan kata lain semestinya Pandawa berterimakasih kepada kami bertiga…sebab keberadaan kamilah yang memperjelas posisi dimana Pandawa…dan di mana Kurawa. Juga, karena kami bertigalah Pandawa menjadi kuat dan digjaya. Justru yang khianat adalah mereka-mereka yang tidak jelas posisinya, bahkan hanya ikut menang saja,.tanpa harus ikut berjuang. Teriakan mereka paling kencang, apalagi saat kemenangan, dan akan menghilang bagai ditelan bumi saat terjadi kekalahan. Mereka ini sejatinya ada di mana-mana, bahkan di setiap perselisihan apapun bentuknya. Mereka ada di situ untuk mengambil keuntungan pribadi dengan berlindung pada kepandaian mimikri atau membunglonkan diri.

Prabu Kresna :… Baiklah kalau begitu Karna…sejatinya pahlawan perang Baratayudha ini adalah dirimu…karena Adindalah yang menjadi api pembakar agar si Baik menjadi pemberani untuk melawan si Buruk…….

Karna menukas :……Bukan Kakanda….semua itu hanya karena masing-masing kita menjalani kodratnya…. Sampai di sini Kanda kita harus berpisah jalan…seperti halnya berpisah jalan kehidupan kita berdua……..sampurasun Kanda …..

Prabu Karna menyembah Prabu Kresna dan kemudian memeluknya…sambil berbisik ditelinga Kresna….”wahai Wisnu …terimakasih telah mengantarkanku lebih dahulu menuju Nirwana…sementara dirimu harus terus dan terus ada di dunia untuk mengurusi bertemunya baik dan buruk yang tidak pernah berakhir sampai nanti dunia di gulung oleh Sang Maha Widhi”….

Kresna terperanjat dan kehabisan kalimat. Kemudian mereka berpisah jalan karena Kerajaan Dwarawati tempat bermukimnya Prabu Kresna belok kanan, sementara Kerajaan Awangga tempat bermukimnya Prabu Karna belok kiri.
Sang dalang menutup pakeliran dengan menancapkan Gunungan.

Dari penggalan cerita Gubahan Dalang dalam cerita Kresna Duta itu kita dapat memetik pelajaran bahwa: baik dan buruk itu keberadaannya saling meneguhkan, sesuatu dikatakan baik karena ada yang buruk. Demikian halnya dikatakan buruk karena ada yang baik; fungsi parameter keduanyalah yang saling meneguhkan satu sama lain.

Demikian halnya dengan kehidupan, kita harus berterimakasih kepada apapun yang berbeda dengan kita, sebab dengan perbedaan itu kita dapat menarik garis imaginer yang terang diantaranya. Dan, tidak ada yang tidak berguna Tuhan menciptakan sesuatu; hanya saja keegoan manusia sering menutupi untuk memahami itu semua, sehingga segala sesuatu yang tidak sama dengannya atau tidak sesuai dengan keinginannya itu jelek atau buruk, dan harus dimusuhi bila perlu dimusnakan. Padahal semua itu tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Ternyata kelemahan kita melihat sesuatu secara holistik dan komprehensif merupakan bawaan lahir tampaknya. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Program Studi Manajemen Universitas Malahayati Laksanakan Latihan Dasar Kepemimpinan, Guna Cetak Pemimpin Muda yang Inspiratif

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati Bandarlampung baru saja sukses menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang berlangsung di Huma Dihi, Tajung Halok, Kemiling dengan tema “Kepemimpinan Efektif : Fondasi Kuat untuk Mencetak Pemimpin Muda yang Inspiratif”.

Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan kepemimpinan mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2024 yang berjumlah 217 mahasiswa, guna mempersiapkan generasi penerus yang kompeten dan berintegritas tinggi.

Kegiatan LDK ini berlangsung selama sehari dengan dihadiri Ka.Prodi Manajemen Dr. Febrianty, S.E.,M.Si, dosen Prodi Manajemen diantaranya; Lestari Wuryanti, S.E.,M.M, Euis Mufahamah, S.E.,M.Ak, Amril Samosir, S.Kom.,M.TI., Ayu Nursari, S.E.,M.E., Anita, S.E.,M.E., Hiro Sejati, S.E.,M.M., Mohammad Athian Manan, S.M.,M.M., Muhammad Irfan Pratama, S.E.,M.E., Reza Hardian Pratama, S.E.,M.M., Rizki Agung Wibowo, S.Mat.,M.Mat., dan Harold Kevin Alfredo, S.E., M.B.A serta para pemateri yang berkompeten, serta tamu undangan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

Pemateri pertama, yaitu disampaikan oleh Ayu Nursari, S.E., M.E., Seorang akademisi program studi manajemen Universitas Malahayati. Selanjutnya pemateri kedua, diisi oleh Kapten Inf. Muhammad Raffdi Pasilat, Siopsrem 043/Gatam, memberikan wawasan terkait “Kepemimpinan Militer dan Penerapan Disiplin”. Terakhir, pemateri Ketiga, dibawakan oleh Herry Novianto, S.E., M.M., Dengan pengalaman panjang di dunia kerja, memberikan materi pentingnya komunikasi yang baik dan pengelolaan tim yang efektif guna mencapai tujuan bersama.

Acara LDK ini juga dihadiri oleh Agung Berlian, Gubernur Fakultas Ekonomi dan Manajemen, yang memberikan sambutannya dan menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan ini. Diharapkan kegiatan ini bisa menjadi pondasi yang kuat bagi para mahasiswa untuk menjadi pemimpin yang cerdas dan berintegritas.

LDK ini dirancang atas kerjasama berbagai pihak termasuk Himpunan Mahasiswa Manajemen yang dikomandoi oleh Bupati HMM Raffi Aditya beserta panitia lainnya yang membuat serangkaian sesi pelatihan interaktif, diskusi kelompok, serta kegiatan lapangan yang menantang para peserta mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan jiwa kepemimpinan.

Akhir kegiatan ditutup dengan semangat baru dari para peserta yang berjanji akan membawa ilmu dan pengalaman yang didapatkan ke dalam peran kepemimpinan mereka di masa mendatang. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, Program Studi Profesi Ners Universitas Malahayati Laksanakan Praktik Stase Maternitas dan Anak di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi Profesi Ners Universitas Malahayati mengadakan Praktik Profesi Ners Stase Maternitas dan Anak, di 4 Puskesmas di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung.Jumat (15/11/2024).

Praktik Profesi Ners Stase Maternitas dan Anak ini akan dilakukan selama 1 bulan, yakni dari 18 November – 15 Desember 2024. Kegiatan diawali dengan serah terima dan orientasi di Kantor Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung.

Aryanti Wardiyah, Ns.,M.Kep.,Sp.Kep.Mat selaku Ka.Prodi Profesi Ners melakukan serah terima dan penjelasan target mahasiswa kepada Jajaran Pimpinan Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung dan 4 Kepala Puskesmas. Pada kesempatan ini, penyerahan langsung diterima oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung didampingi oleh Kepala Puskesmas Gedong Air, Puskesmas Simpur, Puskesmas Kemiling, dan Puskesmas Kedaton.

Aryanti menyampaikan ada beberapa hal yang harus diperhatikan mahasiswa antara lain kesiapan mengikuti pelayanan yang sudah ada di Puskesmas, kesiapsiagaan menangani kondisi pasien, serta menjaga kenyamanan dalam memberikan layanan serta sigap dalam melihat situasi.

“Harapannya mahasiswa ners bisa mencapai kompetensi yang ditargetkan dan dapat menyelesaikan Praktik Profesi Ners Stase Maternitas dan Anak serta memberikan dampak kepada masyarakat,” pungkasnya. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Program Studi Psikologi Universitas Malahayati Jadi Tuan Rumah Festival Mahasiswa Psikologi Lampung 2024: Meriahkan Hari Kesehatan Mental Sedunia

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, Program Studi Psikologi Universitas Malahayati sukses menyelenggarakan Festival Mahasiswa Psikologi Lampung 2024. Acara yang bekerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) ini diikuti oleh seluruh mahasiswa psikologi dari berbagai universitas di Provinsi Lampung.

Festival tahun ini mengangkat tema ” it’s Time to Prioritize Mental Healt in the Work Place ” dan menghadirkan berbagai lomba, seperti kompetisi TikTok, debat, dan esai, yang bertujuan untuk menggali kreativitas, intelektualitas, dan kemampuan komunikasi mahasiswa psikologi. Acara puncak berlangsung meriah di Gedung MCC Universitas Malahayati, dan dihadiri juga Wakil Rektor III Universitas Malahayati, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, serta tamu undangan. Sabtu (16/11/2024).

Ka.Prodi Psikologi Universitas Malahayati, Octa Reni Setiawai, M.Psi., Psikolog, menyampaikan rasa bangganya atas kesempatan menjadi tuan rumah pada tahun ini.

“Sebuah kebanggaan bahwa Prodi Psikologi Universitas Malahayati tahun ini menjadi tuan rumah dalam acara Psychology Festival 2024. Kami sangat senang bisa menjadi bagian dari peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia dan mendukung mahasiswa dalam mengembangkan potensi terbaik mereka,” ujar Octa Reni.

Selain menjadi tuan rumah, Program Studi Psikologi Universitas Malahayati juga mencetak prestasi gemilang dengan meraih gelar juara umum. Prestasi ini meliput; Kompetisi TikTok: Juara 1 hingga 4 diraih oleh mahasiswa Psikologi Universitas Malahayati, Debat: Juara 3, Esai: Juara 3.

Kami merasa bangga dengan keikutsertaan mahasiswa kami yang tidak hanya aktif berpartisipasi, tetapi juga mampu memberikan hasil yang terbaik. Menjadi juara umum adalah bukti nyata dari kerja keras dan dedikasi mahasiswa kami,” tambah Octa Reni.

Festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental di kalangan mahasiswa. Dengan tema Hari Kesehatan Mental Sedunia, berbagai diskusi dan sesi berbagi pengalaman juga diadakan untuk mendukung kesejahteraan psikologis peserta.

Festival Mahasiswa Psikologi Lampung 2024 ditutup dengan meriah oleh penampilan seni dari mahasiswa Psikologi Universitas Malahayati dan penghargaan bagi para pemenang lomba. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi dan kreativitas mahasiswa dapat menciptakan kegiatan yang bermanfaat dan penuh inspirasi.

Dengan suksesnya acara ini, HIMAPSI Universitas Malahayati berharap dapat terus menjadi pelopor dalam menggalakkan kegiatan positif yang mendukung pengembangan mahasiswa psikologi, tidak hanya di Lampung, tetapi juga di tingkat nasional. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa Universitas Malahayati Raih Prestasi, Tim Robotic Menangkan Tiga Kategori

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Selamat kepada Team Robotic UNMAL @robotics_malahayati yang berhasil membawa pulang 3 kategori pada acara Festival Automation Robotic Club of Sriwijaya 2024 yang diadakan oleh Politeknik Negeri Sriwijaya, 07 November 2024. Adapun kategori tersebut:

Juara 2 Umum Robot Line Follower: Imam Putra Asrofi (23220219) Program Studi Manajemen, Arjun Muhammad Syawal (23130024) Program Studi Teknik Industri, Ahmad Faisal Dwi Sahputra (23130009) Program Studi Teknik Industri.

Arjun Muhammad Syawal mewakili tim, mengucapkan rasa syukur dan bangga atas perjuangan tim ini yang berhasil mendapatkan Juara 2. “Proses panjang telah kami lalui, dan banyak perlombaan yang telah kami ikuti. Alhamdulilah diperlombaan inilah kami berhasil menuai hasilnya”.

“Semoga kedepannya kami dapat terus mengharumkan nama Universitas Malahayati,” ujarnya.


Strategi Terbaik Robot Sumo: Arjun Muhammad Syawal (23130024) Program Studi Teknik Industri.

Arjun juga mendapatkan penghargaan sebaik strategi terbaik robot sumo, ia berkomitment untuk tetap semangat dan tidak gampang jumawa, karena didepan sana masih banyak lomba-lomba yang akan diikuti, dan mendapatkan juara adalah tujuan utamanya.

Algoritma Terbaik Robot Line Follower: Muhammad Fadeli (23130098), Ma’ruf Fajar H (23130093), Khafidz Freyza Mahendra (23130076) ketiga mahasiswa ini berasal dari Program Studi Teknik Industri.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Muhammad Fadeli mewakili timnya. Ia berpesan untuk terus berlatih dan kembangkan kemampuan yang ada  serta berpesan kepada adik-adik tingkatnya untuk dapat semangat mencari prestasi, dan bersama-sama mengahrumkan nama kampus tercinta Universitas Malahayati. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Himpunan Mahasiswa PSIK Gelar Kegiatan Bertajuk “PESTAPORA” dalam Peringati Hari Kesehatan Nasional

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati menggelar serangkaian kegiatan dalam memperingati Hari Kesehatan Nasional. Minggu (17/11/2024).

Kegiatan ini bertajuk “PESTAPORA” (Pekan Seni Tari dan Perlombaan Olah Raga Rakyat).  Acara berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Minggu (16-17 November 2024).

Aacara ini terdiri dari berbagai macam lomba olahraga dan seni: Futsal, Volly, Badminton, Seni Tari, Video Kreatif. Perlombaan diselenggarakan di lingkungan Universitas Malahayati.

Aryanti Wardiyah, S.Kep, Ns., M.Kep., Sp.Kep. Mat selaku Ka. Prodi PSIK, “Melalui kegiatan Pestapora ini, harapannya dapat mempererat silaturrahmi antar mahasiswa PSIK dan juga dosen”.

Ka.Prodi mengingatkan dengan adanya Pestpora ini menambahkan semangat dan olahraga dalam bidang seni. Kedepannya kegiatan ini juga berdampak positif yang bisa menumbuhkan bakat-bakat baru dari mahasiswa khususnya prodi PSIK.

Lebih lanjut, Aryanti Wardiyah memberikan apresiasi khusus kepada HIMA dan Panitia yang telah berusaha maksimal dalam menyelenggarakan acara ini. “Kerja keras kalian adalah salah satu bentuk kontribusi nyata untuk prodi dan kampus ini. Semoga segala upaya yang kalian lakukan mendapatkan balasan yang setimpal,” tuturnya. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Doktor “Tangguh”

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Hampir semua media massa dalam beberapa hari terakhir memuat berita nasib gelar doktor seorang politisi yang ditinjau ulang oleh perguruan tinggi tempat dia belajar. Kemudian program studinya untuk sementara waktu ditutup sementara. Terlepas dari apa yang melatarbelakangi semua itu, tulisan ini tidak ingin masuk keranah internal kelembagaan, dan tidak juga untuk menghakimi; akan tetapi melihat dari sisi lain yaitu dari kacamata kepatutan secara filosofis guna untuk mengambil hikmah dari peristiwa ini.

Gelar doktor (Dr.) adalah gelar akademik tertinggi yang diberikan oleh institusi pendidikan tinggi. Biasanya gelar itu diraih seseorang setelah menyelesaikan program studi yang mencakup penelitian orisinal dalam suatu bidang ilmu. Gelar doktor menunjukkan pencapaian tertinggi dalam dunia akademik. Pemegang gelar ini telah menunjukkan kemampuan dalam melakukan penelitian yang mendalam dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan atau praktik profesional di bidang tertentu.

Seorang doktor diharapkan memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian secara independen. Mereka mampu mengidentifikasi masalah yang kompleks, merumuskan hipotesis, melakukan eksperimen atau kajian, dan memberikan solusi atau pemahaman baru yang mendalam mengenai topik yang diteliti. Program doktoral biasanya mengharuskan mahasiswa untuk menulis disertasi atau tesis doktoral yang berisi penelitian orisinal. Ini berarti karya tersebut harus memberikan kontribusi baru pada ilmu pengetahuan atau teknologi, bukan hanya mengulang atau meringkas apa yang sudah ada.

Proses meraih gelar doktor membutuhkan waktu yang lama, biasanya antara 3 hingga 7 tahun atau juga bisa lebih, tergantung pada bidang studi dan kecepatan penelitian. Ini mencerminkan tingkat dedikasi, ketekunan, dan komitmen yang tinggi dalam mengejar keahlian. Pengalaman membimbing calon doktor, mereka memang merasakan bagaimana tekanan yang luar biasa yang mereka terima karena harus mengikuti prosedur penelitian, kaidah penulisan, berdiskusi untuk mengurai masalah. Bahkan tidak jarang mereka sampai-sampai berurai keringat dan air mata, untuk membedah, menemukenali, mengurai, menuliskan, mempertanggungjawabkan semua laku ilmiahnya di muka sidang promotor dan sidang guru besar.

Seorang doktor yang tangguh memiliki beberapa ciri khas yang membuatnya mampu menghadapi berbagai tantangan di dunia akademik dan praktis. Berdasarkan kajian digital ditemukan beberapa ciri yang menandakan seorang doktor tangguh:

1. Ketahanan Mental (Mental Resilience)
Memiliki kemampuan untuk bertahan dan bangkit kembali dari tekanan, kegagalan, atau kritik yang tajam. Tidak mudah terpengaruh oleh kegagalan sesaat atau hambatan di tengah proses penelitian. Pandai mengelola stres dan tetap fokus pada tujuan akhir, meskipun kondisi yang dihadapi sangat berat.

2. Ketekunan (Perseverance)
Konsisten dalam upaya menyelesaikan penelitian meski harus menghadapi banyak rintangan dan revisi. Tidak menyerah meskipun proses penelitian memakan waktu yang lama dan penuh tantangan.

3. Kemandirian Berpikir (Independent Thinking)
Mampu membuat keputusan yang kuat dan berani dalam menjalankan penelitian tanpa terlalu bergantung pada arahan pembimbing. Memiliki rasa percaya diri yang tinggi terhadap metode dan ide penelitian yang dikembangkan.

4. Kritis dan Reflektif (Critical and Reflective)
Selalu mempertanyakan asumsi dan metode yang digunakan, serta terbuka untuk menerima saran dan kritik. Pandai menganalisis kekuatan dan kelemahan dari hasil penelitiannya sendiri.

5. Fleksibilitas (Flexibility)
Mampu menyesuaikan diri dengan perubahan situasi dan kondisi penelitian yang tidak terduga. Tidak kaku dengan rencana awal dan siap untuk melakukan perubahan strategi jika diperlukan.

6. Kemampuan Mengelola Waktu (Time Management)
Mampu mengatur jadwal dengan baik untuk menyelesaikan tugas-tugas penelitian, publikasi, dan kegiatan lainnya. Disiplin dalam menyelesaikan target dan tenggat waktu yang ditetapkan, baik oleh diri sendiri maupun oleh pihak eksternal.

7. Kolaboratif (Collaborative)
Meskipun mandiri, seorang Doktor yang tangguh mampu bekerja sama dengan orang lain, baik dalam tim penelitian maupun saat berkolaborasi lintas disiplin. Menghargai kontribusi dari rekan kerja dan bersedia mendengarkan serta belajar dari orang lain.

8. Penasaran dan Suka Belajar (Curious and Lifelong Learner)
Selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan tidak pernah berhenti belajar, meskipun sudah mencapai gelar tertinggi. Terbuka terhadap ide-ide baru dan selalu mencari kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.

9. Etika dan Integritas (Ethics and Integrity)
Menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dalam penelitian, tidak terlibat dalam plagiarisme atau manipulasi data. Memiliki komitmen yang kuat terhadap etika profesional dan bertanggung jawab atas hasil karyanya.

10. Kemampuan Komunikasi (Communication Skills)
Mampu menyampaikan ide dan hasil penelitian dengan jelas, baik secara tertulis dalam publikasi ilmiah maupun secara lisan dalam presentasi. Mampu mengkomunikasikan ide kompleks kepada audiens yang tidak memiliki latar belakang yang sama dengan baik.

Ciri-ciri ini membantu seorang Doktor tidak hanya untuk menyelesaikan program studi doktoral dengan sukses tetapi juga untuk berkontribusi secara signifikan di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, dan masyarakat luas.

Hal di atas adalah ciri doktor tangguh, akan menjadi berbeda jika ditambah akhiran “kan” menjadi “tangguh-kan”; sebab maknanya menjadi sangat bertolak belakang. Dunia akademik sangat paham dengan istilah ini, sebab penangguhan yang tidak terbatas waktunya, itu sama halnya penundaan, dan atau bisa jadi pencabutan yang dikemukakan secara arif bijaksana.

Jika ada institusi pendidikan yang memiliki kewenangan untuk memberikan gelar Doktor pada seseorang, dan kemudian sebelum diberikan sepenuhnya melalui sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, yang pada akhirnya menunda atau menangguhkan pemberian itu; hal itu mengindikasikan ada sesuatu yang tidak sesuai dengan standard prosedur yang ada. Berdasarkan pengalaman selama ini penaguhan itu pada umumnya berdasarkan atas kepatutan dilihat dari segi waktu, keorsinalitas, kebaharuan, tatatulis, dan ada beberapa sebab lain. Adapun penyelesaiannya sangat tergantung pada perguruan tingginya, karena ini adalah otoritas akademik yang dijunjung tinggi oleh lembaga tersebut.

Atas dasar itu seyogianya sebelum kita memutuskan untuk mengambil studi doktor hendaknya persiapkan diri, terutama ketahanan mental untuk menghadapi halangrintang yang akan ditemui. Banyak mahasiswa gagal atau tidak berhasil menyelesaikan program ini disebabkan karena tidak memiliki cukup kuat mental dalam mengarungi gelombang yang ada. Ketersediaan finansial dan kemampuan intelektual mungkin tersedia sangat cukup, namun jika tidak memiliki mental yang tangguh untuk mengurai persoalan akademik dan nonakademik; maka besar kemungkinan tidak berhasil.

Semoga peristiwa yang terjadi dapat diambil pelajaran oleh semua fihak bahwa masalah akademik memang memiliki iklim tersendiri. Untuk saat ini mungkin bisa lolos; namun seiring perjalanan waktu, masalah akademik akan mengemuka tanpa diminta. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman