Pelajaran Pagi Di Atas Dunia

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID – Pagi dini hari, beberapa hari lalu, kami rombongan kecil yang terdiri dari penulis dan istri, dua orang dokter, serta seorang apoteker; naik menuju Puncak Gunung Bromo menggunakan kendaraan offroad. Setelah sampai di pelataran terakhir kami turun dan mulai menapaki kaki menuju puncak. Percakapan kami kalau diringkas demikian;

“Dingin sekali,” ucap istri sambil merapatkan jaket, napasnya membentuk asap tipis di udara gelap. “Tapi aneh ya, rasanya justru menenangkan.”
Penulis tersenyum, menyesuaikan langkah di jalur berpasir basah yang menanjak. “Mungkin karena kita jarang memberi tubuh kesempatan untuk benar-benar merasakan alam apa adanya. Biasanya dingin langsung dilawan AC.”
Salah satu dokter rombongan kami tertawa pelan berkata. “Benar Prof. Di ruang praktik, kita sibuk mengukur suhu tubuh orang lain, tapi lupa mendengarkan tubuh sendiri. Di sini, termometer alamnya jujur.”

“Dan tidak bisa ditawar,” sambung dokter yang satunya, sambil mengencangkan penutup kepala. “Kalau dingin ya dingin. Tidak ada resep untuk menurunkan suhu Bromo.” Sambil tertawa ceria sebagai ciri khasnya. Apoteker yang berjalan di belakang kami menimpali, “Kalau ada, pasti sudah laku keras. Tapi mungkin justru karena tidak ada obatnya, kita dipaksa menerima.”

Langkah kami teratur, diselingi bunyi kerikil yang terinjak. Gelap masih berkuasa, namun di kejauhan langit mulai bergradasi, hitamnya perlahan melunak.
“Setiap hari kita bicara soal kesembuhan,” kata penulis pelan, karena takut memecah suasana. “Tapi jarang bertanya, apa sebenarnya yang menyembuhkan kita.”
Istri penulis menoleh. “Mungkin pagi ini jawabannya. Atau setidaknya, pengingatnya.”

Dokter pertama mengangguk. “Sebagai dokter, kita terbiasa merasa harus tahu. Di gunung begini, rasanya lebih jujur untuk mengaku kecil.”
“Dan lelah,” tambah apoteker sambil tersenyum. “Tapi lelah yang menyenangkan. Tidak ada target, tidak ada antrean pasien, hanya langkah demi langkah.”
Angin berembus lebih kencang. Kami berhenti sejenak, memandang ke arah timur. Garis cahaya tipis mulai muncul, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk mengubah suasana.

“Sebentar lagi matahari muncul,” ujar istri penulis lirih. “Entah kenapa, setiap melihat terbit, rasanya seperti diberi kesempatan ulang.”
Penulis mengangguk. “Seperti dunia di-reset, tanpa harus menghapus apa pun.”
“Kita mungkin menyembuhkan orang dengan ilmu,” kata dokter kedua, “tapi pagi seperti ini mengingatkan bahwa ada penyembuhan yang datang tanpa resep.”

Kami kembali melangkah, lebih pelan, seolah tak ingin tergesa sampai. Di antara dingin, sunyi, dan cahaya yang mulai lahir, percakapan pun mereda. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena masing-masing mulai menyadari: ada hal-hal yang lebih tepat direnungkan dalam diam, sambil membiarkan Bromo berbicara dengan caranya sendiri
Saat memandang siluet pagi dari puncak Bromo, ada perasaan kecil yang tiba-tiba tumbuh di dada, seolah diri ini hanyalah sebutir debu yang ikut menumpang hidup di hamparan semesta.

Gelap perlahan mundur, digantikan cahaya yang tidak datang dengan tergesa-gesa. Ia menyusup pelan, menyentuh garis cakrawala, lalu memantul pada kabut yang menggantung di antara lembah dan gunung. Dalam keheningan itu, dunia seperti sedang menarik napas panjang, bersiap menyambut hari dengan segala kemungkinan yang dikandungnya.

Angin pagi berembus dingin, menusuk kulit, namun justru membuat kesadaran terasa lebih jernih. Setiap hembusannya seakan membawa pesan tentang kebesaran Ilahi yang tidak perlu diumumkan dengan suara keras. Ia hadir dalam diam, dalam keteraturan yang nyaris tidak pernah meleset. Matahari selalu tahu kapan harus terbit, dari arah yang sama, dengan ritme yang setia. Tidak pernah ia terlambat, tidak pernah pula ingkar. Dari puncak ini, keteraturan itu tampak begitu nyata, seolah alam sedang memperlihatkan kitab terbukanya bagi siapa saja yang mau membaca dengan hati yang tenang.

Ketika cahaya mulai menyapu lautan pasir, warna-warna yang semula kelabu berubah menjadi keemasan. Bayangan gunung memanjang, membentuk siluet yang agung dan misterius. Di momen itu, terasa betapa kecilnya ambisi dan kegelisahan yang sering dibawa dari kehidupan sehari-hari. Segala kekhawatiran tentang masa depan, penyesalan tentang masa lalu, perlahan melemah di hadapan panorama yang begitu luas. Di sini, waktu seperti kehilangan sifatnya yang menekan; ia mengalir saja, tanpa tuntutan, tanpa paksaan.

Setiap matahari terbit seolah membawa janji yang sama: bahwa rezeki akan kembali ditaburkan kepada seluruh makhluk di muka dunia ini. Bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam rupa udara yang bisa dihirup, cahaya yang menghangatkan, dan kesempatan baru untuk memperbaiki diri. Dari puncak Bromo, janji itu terasa begitu inklusif. Tidak ada yang dikecualikan. Gunung, pasir, tumbuhan kecil yang bertahan di celah-celah tanah, bahkan manusia dengan segala keterbatasannya, semua mendapat bagian dari kemurahan yang sama.

Keheningan pagi memaksa diri untuk bercermin. Sejauh mana rasa syukur benar-benar hidup dalam keseharian? Ataukah ia hanya menjadi kata yang diucapkan ketika segalanya berjalan sesuai harapan? Alam tidak pernah meminta pujian, namun ia terus memberi. Dalam diamnya, ada pelajaran tentang ketulusan. Memberi tanpa perhitungan, hadir tanpa tuntutan untuk dipahami sepenuhnya. Dari ketinggian ini, muncul kesadaran bahwa hidup tidak selalu harus dipenuhi dengan kebisingan untuk terasa bermakna.

Kabut yang perlahan terangkat mengungkapkan detail demi detail permukaan bumi. Garis-garis pasir, lekuk lembah, dan kontur pegunungan menjadi semakin jelas. Begitu pula dengan pikiran, yang perlahan menemukan kejernihannya sendiri. Ada rasa pasrah yang bukan berarti menyerah, melainkan percaya bahwa ada tatanan yang lebih besar dari sekadar rencana manusia. Bahwa di balik setiap peristiwa, ada hikmah yang mungkin baru akan dipahami setelah waktu berlalu.

Di hadapan kebesaran ini, kesombongan terasa tidak pada tempatnya. Segala pencapaian manusia tampak rapuh jika dibandingkan dengan usia gunung dan siklus alam yang telah berlangsung jauh sebelum keberadaan kita. Namun justru di sanalah letak penghiburannya. Menjadi kecil bukanlah sebuah kutukan, melainkan pembebasan. Tidak semua hal harus dikendalikan, tidak semua jalan harus diketahui ujungnya sejak awal.
Saat matahari akhirnya menampakkan dirinya sepenuhnya, hangat mulai menggantikan dingin. Kehidupan kembali bergerak, meski dari kejauhan. Momen kontemplatif ini pun perlahan akan usai, digantikan oleh rutinitas dan hiruk pikuk dunia. Namun bekasnya tertinggal, seperti cahaya yang masih melekat di mata.

Dari puncak Bromo, pagi mengajarkan bahwa kebesaran Ilahi tidak selalu hadir dalam keajaiban yang spektakuler, melainkan dalam kesetiaan sebuah terbit, dalam rezeki yang terus mengalir, dan dalam kesempatan harian untuk menjadi manusia yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih bersyukur.
Salam Waras dari Puncak Bromo (R-1)

Editor : Chandra Faza

TUHAN YANG SAMA, HATI YANG BERBEDA

Guru Besar Malahayati

Di sebuah pesantren yang tenang di pinggir desa, selepas salat Maghrib, para santri duduk melingkar di serambi masjid dengan kitab-kitab terbuka di pangkuan. Angin malam berembus pelan. Lampu-lampu temaram menggantung di langit-langit, menciptakan suasana hangat dan khusyuk. Di tengah lingkaran itu, seorang kiai sepuh bersorban putih tampak bersiap menutup pengajian malam. Namun seorang santri yang sejak tadi terlihat gelisah mengangkat tangan, meminta izin untuk bertanya tentang sebuah kutipan dari Jalaluddin Rumi yang siang tadi dia baca.

“Yai, saya membaca sebuah kutipan dari Djalaludin Rumi yang membuat saya gelisah,” ujar santri itu pelan.

Kiai tersenyum, mempersilakan. “Kutipan apa, Nak?”

Santri itu menarik napas, lalu mengucapkan dengan suara bergetar, “Rumi berkata: ‘Tuhan yang kau sembah di bulan Ramadan adalah Tuhan yang kau jauhi di bulan-bulan yang lain.’”

Suasana mendadak hening. Beberapa santri saling berpandangan.

“Kenapa kalimat itu membuatmu gelisah?” tanya Kiai lembut.

“Karena saya merasa seperti sedang ditegur, Yai,” jawabnya jujur. “Di bulan Ramadan saya rajin ke masjid, rajin membaca Al-Qur’an, mudah bersedekah. Tapi setelahnya, semua perlahan berkurang. Seolah-olah semangat itu hanya milik bulan Ramadan saja.”

Kiai mengangguk pelan. “Itulah cara para sufi menyentuh hati. Mereka tidak menunjuk orang lain, tetapi membuat kita menunjuk diri sendiri.”

“Apakah berarti ibadah saya belum sungguh-sungguh, Yai?”

“Bukan begitu,” jawab Kiai. “Ramadan adalah latihan. Tapi latihan akan sia-sia jika tidak dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan yang kita sembah tidak pernah berubah oleh waktu. Kitalah yang sering berubah oleh suasana.”

Santri itu menunduk, merenung dalam-dalam, sementara angin malam kembali berembus pelan di serambi pesantren.

Ada ironi yang sering berulang setiap tahun dalam kehidupan beragama: ketika bulan Ramadan tiba, masjid-masjid penuh, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk, sedekah mengalir deras, dan ayat-ayat suci dilantunkan dengan suara yang bergetar oleh harap. Namun ketika bulan itu berlalu, perlahan-lahan semangat itu surut. Saf salat kembali renggang, mushaf kembali berdebu di rak, dan kesadaran spiritual memudar digantikan oleh kesibukan duniawi.

Fenomena ini bukan sekadar soal konsistensi ibadah, melainkan cerminan dari bagaimana manusia memaknai hubungan dengan Tuhannya. Ramadan sering dipahami sebagai bulan “kesempatan”, bulan diskon pahala, bulan pengampunan besar-besaran. Pemahaman ini tentu tidak salah. Namun ketika motivasi beribadah hanya bertumpu pada momentum dan suasana, maka kedekatan yang terbangun menjadi musiman. Ia bergantung pada atmosfer, bukan pada kesadaran mendalam.

Di bulan Ramadan, manusia lebih mudah tersentuh. Lapar dan dahaga melembutkan hati. Rutinitas yang berubah menciptakan ruang refleksi. Malam-malam yang diisi dengan doa membuat seseorang merasa dekat, bahkan intim, dengan Penciptanya. Dalam keheningan sahur dan kekhusyukan tarawih, muncul perasaan bahwa Tuhan begitu dekat, begitu hadir, begitu nyata. Namun pertanyaannya: apakah Tuhan benar-benar menjadi lebih dekat di bulan itu, ataukah hati kitalah yang akhirnya membuka diri?

Ironi terbesar terjadi ketika ibadah menjadi sekadar ritual tahunan. Seseorang mungkin mampu mengkhatamkan kitab suci dalam sebulan, tetapi setelah itu jarang sekali membacanya kembali. Seseorang mungkin rajin bersedekah selama tiga puluh hari, tetapi kembali perhitungan ketika bulan berganti. Seseorang mungkin menahan amarah dan menjaga lisan selama berpuasa, tetapi setelahnya kembali mudah menyakiti dengan kata-kata. Jika demikian, Ramadan hanya menjadi ruang latihan yang tidak pernah diterapkan dalam kehidupan nyata.

Padahal, esensi puasa bukanlah menahan lapar, melainkan melatih kesadaran. Kesadaran bahwa manusia lemah, bergantung, dan fana. Kesadaran bahwa ada kekuatan yang mengatur segala sesuatu di luar kendalinya. Ketika kesadaran ini tumbuh, ia seharusnya tidak hilang hanya karena kalender berubah. Tuhan yang Maha Mendengar tidak hanya hadir di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir, melainkan di setiap detik kehidupan. Mengapa manusia memperlakukan-Nya seolah-olah Ia hanya “aktif” pada musim tertentu?. Disinilah manusia seolah men-Tuhan-kan waktu.

Padahal, jika hubungan itu dibangun atas dasar cinta, ia tidak mengenal musim. Cinta tidak menunggu waktu khusus untuk hadir. Ia konsisten, meski intensitasnya bisa naik turun. Orang yang mencintai akan mencari, bukan menunggu dicari. Ia akan merasa hampa ketika jauh, bukan merasa lega karena bebas dari kewajiban. Jika Ramadan berhasil menumbuhkan rasa manis dalam ibadah, seharusnya rasa itu menimbulkan kerinduan untuk terus merasakannya, bukan justru dilupakan.

Ramadan seharusnya menjadi sekolah ruhani. Setelah lulus dari sekolah itu, seseorang tidak kembali menjadi buta huruf spiritual. Ia membawa bekal untuk menghadapi sebelas bulan berikutnya. Ia mungkin tidak lagi berpuasa wajib, tetapi ia tetap menjaga lisannya. Ia mungkin tidak lagi tarawih setiap malam, tetapi ia tetap menyediakan waktu sepertiga malam untuk berdoa. Ia mungkin tidak lagi berbuka bersama setiap hari, tetapi ia tetap ringan tangan membantu sesama.

Pada akhirnya, Tuhan tidak berubah antara Ramadan dan bulan lainnya. Yang berubah adalah kesadaran manusia. Maka refleksi terbesar setelah Ramadan bukanlah seberapa banyak ibadah yang telah dilakukan, melainkan seberapa dalam perubahan yang tertanam. Apakah Tuhan masih menjadi pusat perhatian ketika suasana sudah biasa? Apakah doa tetap terucap ketika tidak ada dorongan kolektif? Apakah kejujuran tetap dijaga ketika tidak ada pengingat harian tentang pahala berlipat ganda?. Jika jawabannya ya, maka Ramadan telah berhasil. Namun jika tidak, mungkin selama ini yang kita dekati hanyalah suasana, bukan Tuhan itu sendiri.

Salam Ramadan

LPPM Universitas Malahayati Laksanakan Monev Seluruh Program Studi untuk Peningkatan Mutu Tridarma

Bandar Lampung — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Malahayati melaksanakan program kerja berupa Monitoring dan Evaluasi (Monev) terhadap seluruh program studi yang ada di lingkungan Universitas Malahayati.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Kegiatan Monev ini dilaksanakan oleh tim LPPM yang dipimpin oleh Prof. Erna Listyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D bersama Dr. Febriyanti, S.E., M.Si. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan sebagai bentuk komitmen Universitas Malahayati dalam menjaga dan meningkatkan mutu akademik, khususnya pada bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui kegiatan Monev, tim LPPM melakukan Evaluasi terhadap perencanaan, pelaksanaan, capaian, serta luaran penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di masing-masing program studi. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan dan pendampingan bagi dosen agar kualitas dan relevansi kegiatan Tridarma semakin meningkat.

Prof. Erna Listyaningsih menyampaikan bahwa Monev ini tidak hanya berfokus pada aspek penilaian administratif, tetapi juga pada upaya peningkatan kualitas dan keberlanjutan kegiatan penelitian dan pengabdian. “Kami mendorong setiap program studi untuk terus mengembangkan budaya riset dan pengabdian yang berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Febriyanti menambahkan bahwa hasil Monev akan menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi dan strategi pengembangan penelitian serta pengabdian ke depan, sehingga capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi dapat tercapai secara optimal.

Melalui pelaksanaan Monev ini, Universitas Malahayati diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas luaran penelitian serta pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mewujudkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang unggul, relevan, dan berkelanjutan.

Editor : Chandra Faza

 

Katalog buku Metode Penelitian Hukum (Dilengkapi Kiat-Kiat Sukses Seminar Proposal Dan Seminar Hasil)

Judul Buku: Metode Penelitian Hukum (Dilengkapi Kiat-Kiat Sukses Seminar Proposal Dan Seminar Hasil)

Penulis:

  1. Aditia Arief Firmanto, S.H.,M.H.
  2. Heni Siswanto, S.H.,M.H.
  3. Dwi Arrasy Aprilia, S.H.,M.H.

Penerbit Universitas Malahayati

Alamat :Jalan Pramuka, No. 27, Kemiling, Bandar Lampung, Provinsi Lampung-35153
Lampung-Indonesia

ISBN: Proses

Sinopsis:

Metode Penelitian
telah menjadi komponen wajib yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa. Untuk
mempelajari metode penelitian, tidak terbatas pada pemahaman tentang pengantar metode
penelitian saja, tetapi yang lebih mendasar lagi dari aspek memecahkan persoalan hukum,
karena metode penelitian tidak dapat dilepaskan juga dari persoalan hukum dan telah banyak
perubahan terutama berkenaan dengan makin dipentingkanya alat untuk mengumpulkan data
empiris dan adanya aturan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang berubah istilah
menjadi Kampus Berdampak yaitu tugas akhir sebagai pengganti skripsi. Selanjutnya pada
tataran praktis dibahas teknis penyusunan proposal penelitian hukum yang mencakup judul
dan latar belakang masalah; rumusan masalah; tujuan penelitian; tinjauan pustaka pustaka;
teori hukum; metode penelitian.

KETIKA REZEKI MENEMUKAN PEMILIKNYA

 

Guru Besar Universitas Malahayati

Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik ketika Marno dan Santo duduk di atas tumpukan batako. Debu masih melekat di sepatu mereka, dan suara palu dari kejauhan jadi irama yang akrab.

“San, kadang aku mikir,” kata Marno sambil menyesap kopi dari gelas plastik, “hidup kita ini aneh ya. Tiap hari kerja di tempat berbeda, tapi nasib rasanya muter-muter di situ saja.”

Santo tersenyum tipis. “Iya, tapi siapa tahu muternya lagi nyari jalannya. Rezeki itu kan nggak kelihatan bentuknya.”

Marno menghela napas. “Aku kerja keras, San. Dari pagi sampai sore. Tapi kadang cukup, kadang pas-pasan. Rasanya kayak nebak-nebak.”

“Justru itu,” jawab Santo pelan. “Kita nggak pernah tahu rezeki kita di mana. Tapi aku percaya, rezeki tahu kita di mana. Kalau nggak hari ini, ya besok. Kalau bukan uang, mungkin sehat. Atau pulang masih bisa ketawa sama keluarga.”

Marno terdiam sebentar, lalu tertawa kecil. “Kamu ini kalau ngomong suka bikin mikir. Tapi ada benarnya juga. Kemarin istriku senyum pas aku pulang, capekku langsung ilang.”

Santo ikut tertawa. “Nah itu. Jangan lupa bahagia, No. Tiap hari beda cerita. Hari ini panas, besok mungkin hujan, tapi kita tetap jalan.”

Marno mengangguk, memandang bangunan setengah jadi di depan mereka. “Iya ya, San. Selama kita masih bisa kerja, masih bisa senyum, berarti rezeki belum kehabisan alamat.”

Santo berdiri, meraih helmnya. “Ayo kerja lagi. Siapa tahu hari ini ceritanya baik.”

Manusia sering berjalan dengan peta di tangan, menebak-nebak ke mana langkah akan membawa hasil. Namun kenyataannya, peta itu sering kali meleset. Ada hari ketika usaha terasa sia-sia, dan ada hari ketika kebaikan datang tanpa diminta. Dari situlah muncul kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu di mana rezekinya berada. Ia bisa tersembunyi di tikungan yang tak terpikirkan, atau datang melalui pintu yang selama ini dianggap tertutup.

Rezeki tidak selalu berwujud angka, harta, atau benda yang bisa disimpan. Ia hadir sebagai kesempatan, kesehatan, ketenangan, dan pertemuan yang mengubah arah hidup. Banyak orang baru menyadari nilai rezeki setelah ia pergi, atau ketika sesuatu yang sederhana tiba-tiba menjadi sangat berarti. Dalam diam, rezeki seolah tahu ke mana ia harus pulang, menemukan pemiliknya pada waktu yang paling tepat, meski sering kali tidak sesuai rencana manusia.

Di tengah ketidakpastian itu, senyum menjadi bentuk perlawanan yang lembut. Senyum bukan tanda bahwa hidup selalu mudah, melainkan bukti bahwa seseorang memilih untuk berdamai denga  n keadaan. Saat hari terasa berat, senyum membantu napas tetap panjang dan pikiran tetap jernih. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang belum didapat, tetapi juga tentang apa yang masih bisa disyukuri hari ini.

Kebahagiaan sering disalahartikan sebagai tujuan akhir, padahal ia lebih tepat disebut sebagai cara berjalan. Orang yang menunda bahagia sampai semua keinginannya terpenuhi akan sering merasa lelah dan kosong. Sebaliknya, mereka yang menemukan bahagia dalam proses, sekecil apa pun, akan memiliki tenaga untuk terus melangkah. Kebahagiaan tidak menunggu hari sempurna; ia tumbuh dari penerimaan dan harapan yang dijaga.

Setiap hari membawa cerita yang berbeda, dan perbedaan itulah yang membuat hidup  bergerak. Ada hari yang penuh tawa, ada hari yang sunyi, dan ada hari yang mengajarkan kesabaran. Tidak semua cerita harus dipahami saat itu juga. Beberapa baru menemukan maknanya bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang menoleh ke belakang dan menyadari bahwa setiap kejadian memiliki perannya sendiri.

Dalam perjalanan itu, manusia belajar bahwa mengontrol segalanya adalah ilusi. Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin, menjaga niat tetap lurus, dan membuka hati terhadap kemungkinan. Ketika usaha bertemu dengan waktu yang tepat, rezeki pun datang dengan caranya sendiri. Kadang ia mengetuk pelan, kadang ia datang tiba-tiba, dan kadang ia menyamar sebagai tantangan.

Tantangan sering kali menjadi pintu masuk rezeki yang tidak disangka. Dari kegagalan, lahir ketangguhan. Dari kehilangan, tumbuh kepekaan. Dari penantian, muncul kedewasaan. Jika manusia hanya mengukur hidup dari hasil instan, banyak rezeki batin akan terlewatkan. Padahal, bekal itulah yang membuat seseorang mampu menerima dan menjaga rezeki yang lebih besar ketika tiba.

Pada akhirnya, hidup adalah tentang berjalan dengan keyakinan bahwa apa yang dititipkan akan sampai. Tugas manusia bukan mengejar dengan cemas, melainkan menjemput dengan kesiapan. Jangan lupa tersenyum dan berbahagia, karena setiap hari membawa ceritanya sendiri. Selama langkah dijaga dan hati tetap terbuka, rezeki akan selalu menemukan jalannya datang.

Salam Waras

Editor : Chandra Faza

Setelah Seragam Dilipat

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di sebuah teras rumah tua yang menghadap taman, dua pria sepuh pensiunan jenderal duduk berhadapan. Seragam telah lama tergantung rapi di lemari, digantikan kemeja sederhana dan secangkir kopi yang mulai mendingin.
Salah seorang mantan jenderal yang lebih senior membuka percakapan; “Sunyi juga ya, Mil,” ujar Jendral Komar sambil menatap daun-daun yang gugur perlahan. “Dulu, satu langkah kita diikuti puluhan orang. Sekarang, suara burung lebih sering menyapa.”
Jendral Kamil, sebagai yang lebih junior menjawab sambil tersenyum tipis. “Sunyi, tapi jujur. Dulu ramainya bukan karena kita, tapi karena jabatan.”

Komar mengangguk pelan. “Aku masih ingat, saat pertama kali masuk ruangan rapat, semua berdiri. Sekarang, masuk ke kantor lama saja, prajurit jaganya sempat bertanya aku mau ke siapa.”
Kamil tertawa pendek, lalu terdiam dan sejurus kemudian berkata: “Itu bukan hinaan, jenderal. Itu pengingat. Bahwa dunia menghormati kursi, bukan orang yang duduk di atasnya.”
Komar menghela napas, dan berguman, “Masalahnya, saat kita duduk di kursi itu, mereka memuji seolah kita tak tergantikan. Begitu turun, seakan jasa kita ikut turun.”
“Kau kecewa, jenderal?” tanya jenderal Kamil lirih.
“Bukan. Lebih ke… heran,” jawab jenderal Komar, seraya menghirup kopinya yang sudah mulai dingin, seraya berkata; “Bagaimana pujian bisa secepat itu berubah jadi lupa.”

Jenderal Kamil tidak kalah seru, beliau menukas: “Aku belajar satu hal setelah pensiun. Penghormatan sejati bukan yang diucapkan keras-keras, tapi yang tetap ada meski kita tak lagi punya kuasa.”
Jenderal Komar menoleh sambil berguman. “Dan kalau itu tak ada?”.
“Berarti kita harus berdamai,” jawab Jenderal Kamil tenang, seraya menambahkan. “Bahwa yang kita lakukan dulu cukup untuk diri kita sendiri, bukan untuk ingatan dunia.”

Angin berhembus pelan. Dua jenderal pensiunan itu terdiam, bukan karena kehabisan kata, tetapi karena akhirnya mengerti: tidak semua jasa ditakdirkan untuk dikenang, dan tidak semua akhir harus dirayakan. Datang disambut, pergi dihina. Berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Begitulah dunia. Kalimat ini terasa pahit, tetapi jujur menggambarkan irama kehidupan manusia yang kerap berulang dari zaman ke zaman.

Dunia sering kali bersikap ramah di awal, penuh senyum dan harapan, namun berubah dingin ketika kepentingan telah terpenuhi. Manusia dipuja saat dibutuhkan, lalu dilupakan bahkan direndahkan ketika perannya dianggap selesai. Fenomena ini bukan sekadar cerita personal, melainkan cermin watak sosial yang masih terus hidup hingga hari ini.

Pada awal kehadiran seseorang, dunia cenderung membuka pintu dengan tangan terbuka. Sambutan hangat, sanjungan, dan pujian mengalir deras. Kehadiran dianggap membawa manfaat, solusi, atau keuntungan. Nilai seseorang diukur dari apa yang bisa ia berikan. Selama kontribusi itu nyata dan menguntungkan, ia ditempatkan di posisi terhormat. Namun, sambutan tersebut sering kali tidak lahir dari ketulusan, melainkan dari harapan akan hasil. Ketika harapan itu terpenuhi, pujian pun menjadi mata uang sosial yang murah dan mudah dibagikan.

Masalah muncul ketika waktu berjalan dan keadaan berubah. Dunia yang dulu memuji mulai menuntut lebih, tanpa melihat batas kemampuan manusia. Kesalahan kecil diperbesar, kelelahan dianggap kelemahan, dan penurunan peran dipersepsikan sebagai ketidakbergunaan. Saat seseorang tak lagi mampu memberi seperti sebelumnya, nada dunia pun berubah. Sambutan hangat berganti sikap acuh, bahkan hinaan. Seolah-olah jasa yang pernah diberikan tak pernah ada, lenyap ditelan ingatan kolektif yang selektif.

Ironisnya, manusia sering kali ikut melanggengkan pola ini. Kita terbiasa mengingat seseorang dari kegunaannya saat ini, bukan dari perjalanan dan pengorbanan yang pernah ia lalui. Penghargaan menjadi bersyarat: ada selama manfaat terasa, hilang ketika manfaat menguap. Dalam logika seperti ini, nilai manusia direduksi menjadi fungsi. Ketika fungsi dianggap rusak atau usang, manusia diperlakukan layaknya barang yang bisa dibuang.

Rasa sakit terbesar bukanlah saat tidak lagi dipuji, melainkan saat jasa masa lalu dihapus begitu saja. Pengabdian yang dulu diagungkan berubah menjadi catatan yang dianggap tidak relevan. Inilah luka yang sunyi, karena sering kali tak terlihat dan tak diakui. Banyak orang memilih diam, menelan kekecewaan, dan melanjutkan hidup dengan sisa harga diri yang masih mereka genggam. Dunia mungkin tak peduli, tetapi luka itu nyata.
Namun, di balik getirnya kenyataan tersebut, ada pelajaran yang bisa dipetik. Dunia yang mudah memuji dan menghina mengajarkan bahwa menggantungkan harga diri pada penilaian luar adalah fondasi yang rapuh. Pujian bersifat sementara, hinaan pun demikian. Keduanya datang dan pergi mengikuti kepentingan. Jika makna diri hanya dibangun dari keduanya, maka hidup akan terus terombang-ambing tanpa pijakan yang kokoh.

Kesadaran ini mendorong manusia untuk mencari nilai yang lebih dalam dan personal. Berbuat baik bukan lagi demi tepuk tangan, melainkan karena keyakinan. Bekerja dan berjasa bukan semata agar diingat, tetapi karena itu bagian dari integritas diri. Ketika penghargaan datang, ia disyukuri. Ketika hinaan muncul, ia disikapi dengan jarak emosional. Bukan karena kebal rasa, tetapi karena memahami bahwa dunia tidak selalu adil dalam menilai.
Pada akhirnya, dunia memang seperti itu: datang disambut, pergi dihina; berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Mengharapkan dunia berubah sepenuhnya mungkin terlalu utopis. Namun, manusia selalu memiliki pilihan untuk tidak sepenuhnya larut dalam pola tersebut. Kita bisa memilih untuk lebih adil dalam menilai sesama, lebih setia mengingat jasa, dan lebih manusiawi dalam memperlakukan mereka yang pernah berkontribusi.

Di tengah dunia yang mudah lupa dan cepat menghakimi, menjaga nurani adalah bentuk perlawanan paling sunyi namun bermakna. Sebab ketika dunia gagal menghargai, setidaknya kita tidak gagal menghargai diri sendiri dan orang lain. Dan mungkin, dari sikap kecil itulah, dunia yang kejam perlahan belajar untuk menjadi sedikit lebih manusiawi.
Salam Waras (Rj)

Editor : Chandra Faza

Universitas Malahayati Kukuhkan 126 Dokter Baru dalam Prosesi Sumpah Dokter Periode ke-75

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id) Suasana haru dan khidmat menyelimuti Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati, Rabu (4/02/2026), Saat Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati sukses menggelar Prosesi Sumpah Dokter ke-75. Sebanyak 126 lulusan resmi dikukuhkan sebagai dokter baru, menandai langkah awal mereka dalam pengabdian kepada masyarakat sebagai tenaga medis profesional.

Acara sakral ini menjadi momentum bersejarah bagi para lulusan, keluarga, serta civitas akademika Universitas Malahayati. Prosesi sumpah bukan sekadar seremoni kelulusan, tetapi juga bentuk janji suci untuk menjunjung tinggi etika, tanggung jawab, dan integritas profesi dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan berperikemanusiaan.

Prosesi sumpah dipimpin langsung oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Dr. dr. Tessa Sjahriani, M.Kes. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa bangga atas capaian para lulusan yang telah menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan dokter dengan penuh dedikasi.

“Menjadi dokter bukan hanya soal gelar, tetapi soal amanah dan pengabdian. Hari ini, kalian resmi memegang tanggung jawab besar untuk melayani masyarakat dengan hati dan ilmu pengetahuan. Jadilah dokter yang berempati, berintegritas, dan terus belajar sepanjang hayat,” ujar Dr. Tessa dengan penuh semangat.

Beliau juga menegaskan pentingnya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan serta profesionalisme di tengah tantangan dunia kesehatan yang terus berkembang.

Mewakili Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, S.H., M.H., hadir Wakil rektor 4: Drs. Suharman,M.Pd.,M.Kes. Dalam sambutannya, ia memberikan pesan mendalam mengenai nilai-nilai yang harus dipegang teguh oleh seorang dokter.

“Integritas dan religiusitas adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari profesi dokter. Ilmu yang kalian miliki harus selalu disertai dengan keikhlasan dalam melayani. Jadilah dokter yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia,” tutur bapak suharman.

Ia juga mengapresiasi Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati yang terus melahirkan lulusan berkualitas dan berdaya saing tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Prosesi Sumpah Dokter ke-75 ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari institusi kesehatan dan mitra rumah sakit. Di antaranya:

Perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung : Indra P, Perwakilan dinas kesehatan prov lampung : Zarma SST M.Keb, Dinas kesehatan kota bandar lampung : Nensiria Apt, IDI Provinsi Lampung : dr. Josi Harnos MARS, IDI Kota Bandar Lampung: Dr. dr. Aila Karyus SH MKes Sp.Kklp, Direktur Rs Bintang Amin: dr. Rahmawati. M.PH, Wakil Direktur RSAM : dr. Yusmaidi Sp.B KBD, Rs Bhayangkara : dr. S. Wimbo, RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro : dr. Prima Sp. PK.

Dari internal kampus, hadir pula jajaran pimpinan Universitas Malahayati, antara lain:

Wakil rektor 2: Drs. Nirwanto, M.Kes, Wakil rektor 4: Drs. Suharman,M.Pd.,M.Kes, Dekan Fakultas Kedokteran : Dr. dr. Tessa Sjahriani, M. Kes, Ka. Prodi profesi dokter: dr Ade utia detty, M.Kes, Perwakilan IKA alumni : dr. Agus kelana, Kepala PMB : Romi J Utama SE M.Sos, ketua LPMi Universitas Malahayati : Dr. Arifki Zainaro S.Kep Ns M.Kes, Balai Karantina Kesehatan Kelas I Panjang : dr. Virgin dan Perwakilan FK Universitas Aisyah Pringsewu : dr. Hafizhah HR. M.Kes

Prosesi sumpah ditutup dengan pembacaan janji dokter dan penandatanganan berita acara sumpah yang disaksikan oleh para pejabat yang hadir. Para dokter baru kemudian menerima pin dan sertifikat sumpah sebagai simbol resmi pengukuhan profesi mereka.

Momen haru terlihat ketika para lulusan memberikan penghormatan kepada orang tua dan dosen pembimbing yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka menjadi dokter.

Dengan dikukuhkannya 126 dokter baru ini, Universitas Malahayati kembali menegaskan komitmennya sebagai salah satu institusi pendidikan kedokteran terbaik di Sumatera yang melahirkan dokter-dokter unggul, beretika, dan siap mengabdi untuk masyarakat Indonesia.

Editor : Chandra Faza

 

 

 

KUNJUNGAN SILATURAHIM DAN STUDY TOUR SMA IT BABUL HIKMAH KALIANDA LAM-SEL KE UPT. PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS MALAHAYATI

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Pada tanggal 3 Februari 2026, SMA IT Babul Hikmah Kalianda, Lampung Selatan, mengadakan kegiatan Silaturahim dan Study Tour ke UPT. Perpustakaan Universitas Malahayati Bandar Lampung.

Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar lembaga pendidikan serta memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa dan pengurus sekolah tentang pengelolaan perpustakaan modern.

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan kedatangan rombongan dari SMA IT Babul Hikmah, yang terdiri dari jajaran pengurus sekolah, termasuk kepala sekolah Bapak Salamun, SE, MM, wakil kesiswaan Masruh sidiq, Sis.I., Gr, dan Mohammad Zainuri, M.Pd, Muta’alim, S.Pd.I., M.Pd., Gr, selaku Bendahara dan beberapa guru pendamping. Mereka disambut hangat oleh Kepala UPT. Perpustakaan UniversitasMalahayati, Bapak Nowo Hadiyanto, S. Sos., beserta staf perpustakaan. Sambutan resmi dilakukan di ruang tamu perpustakaan, di mana Kepala UPT. Perpustakaan  menyampaikan ucapan selamat datang dan memberikan gambaran singkat tentang sejarah serta fasilitas perpustakaan yang dikelola oleh universitas.

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi study tour.Rombongan diajak berkeliling kompleks perpustakaan, yang mencakup ruang baca utama, koleksi buku digital, area multimedia.Pengurus SMA IT Babul Hikmah mendapat penjelasan mendalam tentang sistem manajemen perpustakaan berbasis teknologi, seperti katalog online dan layanan e-book, yang dapat dijadikan inspirasi untuk pengembangan perpustakaan sekolah mereka.

Kegiatan silaturahmi mencapai puncaknya dengan sesi ramah tamah, di mana kedua belah pihak berbagi pengalaman dalam dunia pendidikan.Kepala sekolah SMA IT Babul Hikmah, Bapak Salamun, SE, MM., menyampaikan terima kasih atas sambutan dan berharap kolaborasi ini dapat berlanjut melalui program pertukaran pengetahuan atau kunjungan balik. Acara ditutup pukul 12.00 WIB dengan foto bersama dan penyerahan cendera mata sebagai simbol persaudaraan.

Kunjungan ini tidak hanya memperkuat hubungan antar lembaga tetapi juga memberikan wawasan berharga bagi SMA IT Babul Hikmah dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui fasilitas perpustakaan yang lebih baik. Semoga kegiatan serupa dapat terus dilakukan di masa depan.

Editor : Chandra fz

126 Dokter Baru Lulusan Periode Februari 2026 Universitas Malahayati Ikuti Yudisium di Graha Bintang

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Sebanyak 126 dokter baru lulusan Universitas Malahayati Bandar Lampung mengikuti acara yudisium di Graha Bintang, Selasa, 03 februari 2026. Acara tersebut menjadi momen penting sebelum mereka menjalani sumpah dokter yang akan dilaksanakan pada hari berikutnya.

Acara yudisium ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat universitas dan fakultas, di antaranya Wakil Rektor I Prof Dr. Dessy Hermawan. S.kep Ns. M.kes , Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Tessa Sjahriani, M.Kes, Wakil Dekan Dr hidayat dr sp.pk Mkes , Ka prodi profesi ade utia detty dr m.kes, Sekertaris prodi profesi anggunan Dr M.M, serta para dosen Fakultas Kedokteran yang memberikan dukungan penuh bagi para mahasiswa.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Prof Dr. Dessy Hermawan. S.kep Ns. M.kes, menyampaikan

“Hari ini merupakan momen yang sangat penting dan bersejarah bagi para mahasiswa kedokteran yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan akademik dan profesi. Perjalanan panjang yang penuh tantangan, pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, akhirnya sampai pada titik pencapaian yang membanggakan”.

Namun perlu saya tekankan, bahwa yudisium dan sumpah dokter ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Profesi dokter adalah profesi mulia yang menuntut tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kepekaan sosial, empati, integritas, dan tanggung jawab moral yang tinggi.

Sementara itu, Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kedokteran,Dr. dr. Tessa Sjahriani, M.Kes  mengucapkan selamat kepada para lulusan.

“Persiapkan diri dengan baik untuk acara sakral besok. Setelah sumpah dokter, kalian akan mengikuti internship di daerah yang ditunjuk pemerintah selama setahun,” ujarnya.

Beliau juga berpesan agar para lulusan menjaga kesehatan dan menyampaikan terima kasih kepada orang tua yang telah mempercayakan Universitas Malahayati sebagai tempat pendidikan anak-anak mereka.

Yudisium yang berlangsung khidmat dan penuh kebanggaan ini menjadi tonggak penting bagi 126 calon dokter UNMAL untuk melanjutkan pendidikan profesi di rumah sakit pendidikan. Diharapkan, mereka mampu menjalankan tugas dengan tanggung jawab, etika, dan komitmen tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. (cfz)

Editor: Chandra fz

Torehkan Prestasi Nasional, Mahasiswa Universitas Malahayati Raih Juara 2 Kejurnas Kickboxing Indonesia 2025

Bandar Lampung (malahayati.ac.id) : Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Devi Wulandari, NPM 23500010, mahasiswa Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat, berhasil meraih Juara 2 pada ajang Kejuaraan Nasional Kickboxing Indonesia Tahun 2025.

Kejuaraan nasional tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Kickboxing Indonesia dan berlangsung pada 28 November hingga 3 Desember 2025 di Jakarta. Devi Wulandari tampil mewakili Kontingen Lampung dan bertanding pada kategori Full Contact Senior -56 Kg Women.

Dalam keterangannya, Devi menyampaikan kesannya selama mengikuti kejuaraan tersebut. Ia mengatakan bahwa ikut dalam ajang ini sangat menyenangkan dan memberikan pengalaman berharga dalam meningkatkan kemampuan serta mental bertanding.

Selain itu, Devi juga menyampaikan pesan dan harapannya ke depan, yaitu kedepan lebih banyak prestasi yang lebih tinggi agar dapat terus membawa nama baik daerah dan Universitas Malahayati di tingkat nasional maupun internasional.

Prestasi yang diraih Devi Wulandari menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Malahayati tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga mampu berkompetisi dan berprestasi di bidang nonakademik, khususnya olahraga. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa dukungan kampus terhadap pengembangan minat dan bakat mahasiswa memiliki peran penting dalam mencetak generasi muda yang berprestasi, berdaya saing, dan berkarakter.

Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membawa nama baik Universitas Malahayati di tingkat nasional. Diharapkan capaian ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri dan berani berkompetisi di berbagai ajang prestasi.

Universitas Malahayati terus berkomitmen mendukung mahasiswa dalam mengembangkan minat dan bakat, serta mendorong lahirnya prestasi-prestasi membanggakan di berbagai bidang.(fkr)

Editor : Fadly KR