BERDAMAI DENGAN SUNYI

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

(Sebuah Ruang Pulang)

Lampu ruang tamu menyala redup. Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, seolah menegaskan jarak antara detik dan perasaan. Seorang bapak yang tidak lagi muda duduk di ujung Sofa, menatap ponsel yang layarnya gelap. Di seberangnya, seorang sahabat lama, laki-laki yang juga tidak muda lagi, datang berkunjung, menyeduh teh sendiri tanpa banyak bicara.

“Kau sendirian lagi malam ini?” tanya sang sahabat akhirnya, memecah keheningan. Ia mengangguk pelan. “Seperti biasa. Sudah terbiasa.” Sahabat tadi menyelah: “Terbiasa atau terpaksa?” suara itu hati-hati, yang berupaya untuk tidak ingin melukai.

Ia tersenyum, tapi senyum itu singkat dan rapuh. “Awalnya terasa berat. Sekarang rasanya… datar. Seperti ada bagian diriku yang mati rasa.” Sahabatnya menatap lebih dalam. “Kau tidak marah?”. “Dulu iya,” jawabnya lirih. “Marah, kecewa, bertanya-tanya apa yang kurang dariku. Tapi semakin sering sendiri, marah itu habis sendiri.”

Hening kembali mengisi ruangan. Di luar, suara kendaraan sesekali melintas, lalu hilang.

“Apa yang tersisa sekarang?” tanya sahabatnya. “Sunyi,” jawabnya jujur. “Sunyi yang awalnya menyakitkan, tapi lama-lama seperti teman. Ia tidak menjawab apa-apa, tapi menemaniku berpikir.”. Sahabatnya menyergah lagi; “Dan perasaanmu padanya?”. Ia menarik napas panjang. “Masih ada. Tapi kini lebih tenang. Aku belajar mencintai tanpa harus selalu ditemani.”

Sahabatnya mengangguk pelan. “Mungkin itu caramu bertahan.” Ia menatap jendela, gelap memantul di matanya. “Mungkin. Atau mungkin aku sedang belajar berdamai dengan kehilangan yang terus berulang.”

Jam dinding terus berdetak. Di rumah itu, sunyi tidak lagi berteriak, hanya duduk diam, menyaksikan seseorang yang perlahan memahami lukanya sendiri.

Sunyi sering disalahpahami sebagai kekosongan yang menakutkan. Ia dianggap hampa, dingin, dan memanggil kesepian yang menggerogoti. Padahal, sunyi adalah ruang yang jujur, tempat suara dunia mereda dan gema batin terdengar paling jelas. Dalam sunyi, manusia tidak lagi bersembunyi di balik hiruk-pikuk, tidak berlindung pada kebisingan yang memberi ilusi kebermaknaan. Sunyi membuka pintu ke sebuah perjumpaan yang paling sulit sekaligus paling perlu: perjumpaan dengan diri sendiri.

Dunia modern memuja kecepatan dan kebisingan. Kalender penuh, layar menyala tanpa jeda, notifikasi berdenting seolah menjadi denyut nadi kehidupan. Di tengah itu, sunyi terasa seperti gangguan yang harus dihindari. Namun semakin  dihindari, semakin terasa haus yang tak terpuaskan. Ada kelelahan yang tak bisa disembuhkan oleh keramaian. Ada luka yang tak bisa ditutup oleh tawa. Pada titik itulah sunyi menawarkan sesuatu yang berbeda: kesempatan untuk berhenti, bernapas, dan mendengar.

Sunyi bukan lawan dari kebahagiaan. Ia adalah tanah tempat kebahagiaan yang lebih jujur bertumbuh. Dalam sunyi, pikiran yang berlarian mulai berjalan pelan. Emosi yang selama ini ditahan menemukan bahasa. Ketika tidak ada yang harus dipamerkan, tidak ada yang perlu dibuktikan, seseorang dapat mengakui ketakutan tanpa malu dan menerima keterbatasan tanpa menghakimi. Sunyi mengajarkan keberanian untuk tinggal, bukan lari.

Ada paradoks yang indah di sana. Sunyi memang menyingkapkan rasa sepi, tetapi sekaligus menumbuhkan rasa cukup. Ketika tidak ada suara dari luar yang memandu, intuisi mengambil alih. Hati belajar menjadi kompas. Dalam kesendirian yang dipeluk dengan sadar, muncul kejernihan: apa yang benar-benar penting dan apa yang sekadar bising. Nilai tidak lagi ditentukan oleh sorak, melainkan oleh ketenangan yang bertahan setelah sorak mereda.

Berdamai dengan sunyi bukan berarti menolak dunia. Ia justru memperkaya cara berhubungan dengan dunia. Orang yang akrab dengan sunyi tidak lagi menggantungkan makna hidup pada validasi. Ia hadir dalam keramaian tanpa larut, berelasi tanpa kehilangan diri. Ada keteguhan yang lahir dari kebiasaan mendengar diri sendiri. Dari sana, empati tumbuh lebih tulus, karena memahami diri membuat seseorang lebih peka memahami yang lain.

Sunyi juga menyimpan kekuatan penyembuhan. Ia memberi waktu bagi luka untuk bernapas. Dalam keheningan, ingatan yang terpecah bisa disusun ulang, makna yang retak bisa dijahit kembali. Proses ini tidak selalu nyaman. Terkadang sunyi menghadirkan air mata, penyesalan, atau pertanyaan yang lama dihindari. Namun justru melalui ketidaknyamanan itu, penyembuhan bekerja. Sunyi tidak memaksa jawaban cepat; ia memberi ruang agar jawaban matang.

Di dalam sunyi, kreativitas menemukan rumah. Tanpa tuntutan dan gangguan, imajinasi bergerak bebas. Gagasan lahir bukan sebagai reaksi, melainkan sebagai ekspresi. Ada kebijaksanaan yang tumbuh dari memperlambat ritme. Ketika waktu tidak dikejar, ia menjadi sahabat. Setiap detik memiliki bobot, setiap napas memiliki makna. Sunyi mengajarkan bahwa produktivitas bukan soal banyaknya hasil, melainkan kedalaman proses.

Berdamai dengan sunyi adalah latihan yang berulang. Ia tidak datang sebagai keadaan permanen, melainkan sebagai sikap batin. Ada hari-hari ketika sunyi terasa hangat, ada pula saat ia terasa tajam. Keduanya sama-sama guru. Dengan menerima perubahan itu, seseorang belajar lentur. Tidak lagi menuntut hidup selalu nyaman, tetapi percaya bahwa setiap keadaan membawa pelajaran.

Pada akhirnya, jiwa yang berdamai dengan sunyi menemukan rumah di dalam dirinya sendiri. Rumah yang tidak bergantung pada cuaca dunia. Dari rumah itu, seseorang melangkah dengan lebih ringan. Ia tahu ke mana harus kembali ketika lelah. Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan cukup mendengar. Sunyi tidak lagi menakutkan; ia menjadi sahabat yang setia.

Di tengah dunia yang terus berisik, memilih sunyi adalah tindakan berani. Ia adalah pernyataan bahwa kedalaman lebih penting daripada gemerlap, bahwa keutuhan lebih berharga daripada pengakuan. Sunyi tidak menghilangkan manusia dari kehidupan; ia menempatkan manusia kembali pada inti kehidupan. Dan di sana, dalam keheningan yang jujur, jiwa menemukan damai yang tidak bergantung pada apa pun selain keberanian untuk hadir sepenuhnya. Berkontemplasi adalah mempersiapkan diri untuk menuju perjalanan abadi. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

KADO UNTUKMU MALAHAYATI-KU “Dedikasi dan Keikhlasan”

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Universitas Malahayati akan merayakan Dies Natalis ke-32, sebuah tonggak penting dalam perjalanan panjang institusi pendidikan tinggi yang telah menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa untuk belajar, berinovasi, dan berkembang. Pada momen istimewa ini, jargon “Dedikasi dan Keikhlasan” diangkat sebagai refleksi mendalam tentang bagaimana manusia modern dapat menyeimbangkan antara produktivitas profesional, kepuasan pribadi, dan kontribusi bagi masyarakat. Jargon ini bukan sekadar slogan, tetapi filosofi yang relevan bagi mahasiswa, dosen, alumni, dan seluruh civitas akademika, sekaligus pesan inspiratif bagi masyarakat luas.

Di era globalisasi dan digitalisasi yang serba cepat, bekerja tidak lagi hanya sekadar aktivitas mencari nafkah. Pekerjaan kini menjadi bagian dari identitas diri, sarana aktualisasi potensi, dan medium untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Bekerja dengan dedikasi berarti menempatkan integritas, empati, dan kepedulian sebagai fondasi dalam setiap langkah profesional. Individu yang bekerja dengan dedikasi tidak hanya fokus pada target semata, tetapi juga pada manfaat yang dihasilkan; baik bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Bekerja dengan dedikasi berarti bekerja dengan hati, artinya setiap tugas yang dilakukan memiliki makna yang lebih dalam, tidak sekadar rutinitas semata.

Dalam konteks kontemporer, bekerja dengan hati juga berarti mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan sentuhan humanis. Misalnya, di dunia pendidikan, seorang dosen tidak hanya menyampaikan materi melalui kuliah daring atau modul digital, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang membentuk karakter, empati, dan keterampilan kritis mahasiswa. Di dunia industri, profesional memanfaatkan data, algoritma, dan teknologi artificial intelligence untuk meningkatkan efisiensi kerja, namun tetap memprioritaskan kolaborasi dan komunikasi yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, bekerja dengan hati bukan berarti menolak modernisasi, melainkan mengintegrasikannya dengan kesadaran etis dan sosial.

Dalam konteks Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati, jargon ini memiliki resonansi yang sangat kuat. Universitas bukan hanya tempat menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga menanamkan nilai integritas, empati, dan inovasi. Selama lebih dari tiga dekade, Malahayati telah membuktikan bahwa pendidikan yang menekankan kerja dengan hati akan menghasilkan alumni yang tidak hanya sukses profesional, tetapi juga memiliki kesadaran sosial tinggi. Alumni yang bekerja dengan hati mampu membangun karier yang bermakna sekaligus meraih penghasilan sepenuh hati, yaitu harmoni antara kepuasan personal, keberlanjutan profesional, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dedikasi dan keikhlasan juga menuntut kedisiplinan, keberanian mengambil risiko, dan kreativitas. Dunia kerja modern semakin kompleks: otomatisasi, persaingan global, dan ekspektasi masyarakat menuntut kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Dengan hati, individu mampu menjaga kompas moral dan motivasi intrinsik. Dengan keikhlasan, individu merasa dihargai dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Keduanya membentuk siklus produktivitas yang sehat dan berkelanjutan, yang tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga organisasi dan masyarakat luas.

Lebih jauh lagi, filosofi dedikasi dan keikhlasan mengajarkan kita tentang kepuasan sejati. Banyak orang mengira bahwa kesuksesan diukur dari jumlah materi atau status sosial semata. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa individu yang bekerja dengan hati merasa lebih bahagia, lebih bermakna, dan lebih puas dalam hidupnya, meskipun penghasilannya mungkin tidak selalu besar. Sebaliknya, individu yang hanya mengejar uang tanpa hati seringkali menghadapi stres, kebosanan, dan kehilangan arah. Filosofi ini mengingatkan bahwa keseimbangan antara nilai moral, kepuasan personal, dan imbalan yang berkah adalah kunci hidup modern yang harmonis.

Akhirnya, “Dedikasi dan Keikhlasan” bukan hanya aspirasi profesional, tetapi filosofi hidup kontemporer yang relevan bagi siapa saja. Dalam menghadapi kompleksitas dunia modern, kesuksesan sejati lahir dari keseimbangan antara kontribusi bermakna, kepuasan pribadi, dan penghargaan yang adil. Universitas Malahayati, melalui perjalanan 32 tahun, telah menunjukkan bahwa integrasi antara dedikasi dan keihlasan memungkinkan lahirnya generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi masa depan bangsa.

Dengan bekerja ikhlas, setiap individu menemukan makna dalam beraktivitas sehari-hari. Dengan dedikasi, setiap individu merasakan nilai dari usahanya. Ketika keduanya bersatu, terciptalah kehidupan profesional yang seimbang, harmonis, dan penuh makna; suatu pencapaian yang layak dirayakan di momen istimewa Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati. Jargon ini relevan bagi civitas akademika, yang menghadapi tantangan modernisasi, digitalisasi, dan kompleksitas kehidupan profesional.

Universitas Malahayati telah menunjukkan bahwa pendidikan yang menekankan kerja dengan hati bukan hanya menghasilkan lulusan cerdas, tetapi juga manusia utuh yang siap menghadapi dunia dengan integritas, inovasi, dan empati.

SELAMAT ……DIES NATALIS KE 32…..MAJU..DAN..JAYA..MALAHAYATI-KU. Salam Waras (SJ)

 Editor : Fadly KR

 

Kesempurnaan Yang Tidak Mencari Sempurna

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Sore itu, langit pesantren berwarna jingga. Suara santri mengaji samar terdengar dari kejauhan. Di serambi asrama, dua santri duduk bersila setelah shalat Ashar.

“Aku iri,” ucap salah satu dari mereka, yang sering dipanggil Udin, pelan. “Dia selalu terlihat sempurna. Hafalannya kuat, ucapannya rapi, dan semua orang memujinya.” Temannya yang bernami Sarmin, menoleh, tersenyum tipis. “Kau yakin kesempurnaan itu selalu membawa tenang?”. “Apa maksudmu?” sergah Udin sedikit galak.

“Kau lihat dia dari luar. Tapi kau tak tahu lelahnya menjaga citra. Aku pernah melihatnya menangis di mushala tengah malam,” jawabnya Sarmin lirih. Santri Udin terdiam. “Tapi aku merasa tak pernah cukup. Hafalanku sering salah, aku mudah ragu.”

“Justru itu yang membuatmu terus belajar,” sahut Sarmin. “Kiai pernah bilang, ilmu tidak tumbuh dari kesempurnaan, tapi dari kesungguhan menerima kekurangan.” Angin berembus lembut, menggoyangkan dedaunan. “Jadi kau bilang, kekurangan itu bukan aib?” tegas Udin.

“Bukan. Ia guru paling jujur,” jawabnya Sarmin mantap. “Di pesantren ini, kita diajarkan untuk merapikan hati, bukan sekadar memperindah tampilan.” Santri Udin menunduk, memandangi lantai serambi. “Mungkin selama ini aku terlalu keras pada diriku sendiri.” Sarmin tersenyum. “Kesempurnaan bukan soal tak pernah salah, tapi mau bangkit setiap kali jatuh.”

Suara adzan Maghrib menggema. Keduanya berdiri.

“Terima kasih,” ucap Udin pelan.

“Kita belajar bersama,” jawab Sarmin.

Mereka melangkah menuju masjid, membawa hati yang lebih ringan, perlahan belajar menerima diri, di antara tembok pesantren yang sunyi namun penuh makna

Sering kali manusia terjebak pada anggapan bahwa keindahan adalah tujuan akhir, dan kesempurnaan adalah syarat mutlak kebahagiaan. Mata kita terbiasa mencari yang paling memukau, telinga ingin mendengar yang paling merdu, dan hati kerap mendambakan  keadaan tanpa cela. Namun, perjalanan hidup perlahan mengajarkan bahwa yang terindah tidak selalu menjadi yang terbaik. Ada hal-hal yang tampak sempurna di permukaan, tetapi hampa di dalamnya. Sebaliknya, ada pula yang sederhana, bahkan penuh kekurangan, namun justru menghadirkan ketenangan dan makna yang mendalam.

Keindahan sering bersifat sementara. Ia memikat, tetapi mudah memudar. Apa yang hari ini dipuja, esok bisa menjadi biasa. Dalam keindahan yang hanya berdiri di atas penampilan, manusia kerap lupa menggali kedalaman. Ketika sesuatu dinilai hanya dari luarnya, kekecewaan menjadi bayangan yang tak terhindarkan. Harapan yang terlalu tinggi terhadap kesempurnaan menjadikan manusia rapuh, karena realitas jarang berjalan seiring dengan bayangan ideal yang dibangun di kepala.

Kesempurnaan pun kerap disalahartikan sebagai ketiadaan kekurangan. Padahal, hidup tidak pernah menawarkan ruang kosong dari cela. Setiap langkah membawa risiko, setiap pilihan menyimpan konsekuensi. Ketika seseorang memaksakan hidupnya agar terlihat sempurna, ia sesungguhnya sedang menolak sisi paling manusiawi dari dirinya sendiri. Dari penolakan itulah lahir kegelisahan, rasa tidak cukup, dan ketakutan akan kegagalan. Kesempurnaan yang dibangun di atas penyangkalan justru menjauhkan manusia dari kebahagiaan yang tulus.

Kebahagiaan bukanlah hasil dari hidup yang tanpa luka, melainkan dari kemampuan berdamai dengan luka tersebut. Ada kelegaan yang lahir ketika seseorang berhenti melawan kenyataan dan mulai menerimanya. Penerimaan bukan berarti menyerah, melainkan keberanian untuk melihat diri apa adanya. Di sanalah kekurangan tidak lagi menjadi beban, tetapi ruang untuk bertumbuh. Kekurangan mengajarkan kerendahan hati, mengasah empati, dan menumbuhkan rasa syukur atas hal-hal kecil yang sering terlewatkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering terlihat bagaimana standar kesempurnaan dibentuk oleh perbandingan. Manusia membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain, seolah kebahagiaan adalah perlombaan yang harus dimenangkan. Padahal, setiap orang berjalan di jalurnya masing-masing, dengan beban dan cerita yang berbeda. Apa yang tampak sempurna dari kejauhan bisa jadi menyimpan perjuangan yang tidak terlihat. Ketika perbandingan dihentikan, manusia mulai menyadari bahwa hidupnya sendiri memiliki nilai yang tidak kalah berharga.

Menerima kekurangan sebagai kelebihan bukanlah proses yang instan. Ia menuntut kejujuran pada diri sendiri dan kesabaran dalam menjalani perubahan. Ada saat-saat ketika rasa kecewa muncul, ketika harapan tidak terpenuhi, dan ketika kenyataan terasa pahit. Namun justru di titik-titik itulah makna hidup diperdalam. Kekurangan mengajarkan manusia untuk beradaptasi, menemukan cara baru, dan menghargai usaha, bukan hanya hasil akhir.

Dalam penerimaan, seseorang belajar melihat keindahan dari sudut yang berbeda. Keindahan tidak lagi diukur dari kesempurnaan bentuk, melainkan dari ketulusan proses. Hidup menjadi lebih ringan ketika tidak lagi dibebani tuntutan untuk selalu ideal. Ada kebebasan dalam mengakui bahwa tidak apa-apa untuk tidak sempurna. Dari kebebasan itu tumbuh rasa damai, karena kebahagiaan tidak lagi bergantung pada standar yang rapuh.

Kesempurnaan sejati bukanlah tentang menjadi tanpa cela, melainkan tentang utuh sebagai manusia. Utuh berarti mampu merangkul kelebihan dan kekurangan dalam satu kesadaran yang sama. Ketika seseorang mampu menerima dirinya dengan segala keterbatasan, ia tidak hanya menemukan ketenangan batin, tetapi juga membuka ruang untuk mencintai dan memahami orang lain dengan lebih dalam. Dari sanalah hubungan menjadi lebih jujur, dan kehidupan terasa lebih bermakna.

Pada akhirnya, yang terindah memang tidak selalu yang terbaik, dan yang sempurna tidak selalu menjanjikan kebahagiaan. Kebahagiaan tumbuh dari penerimaan, dari keberanian untuk melihat kekurangan bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup. Ketika manusia mampu mengubah cara pandangnya, menjadikan kekurangan sebagai kelebihan, di situlah kesempurnaan menemukan maknanya yang paling manusiawi. Orang dulu berpesan “jalani dengan tenang, nikmati dengan senang apa yang Tuhan Takar tidak akan pernah tertukar”. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Antara Hujan dan Harapan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Sore itu, kota ini di guyur hujan yang sangat lebat, orang banyak menyebutnya anomali iklim. Saat memandang curahan hujan yang begitu lebat terbersit dalam ingatan untuk menulisnya. Atas palilah (kerelaan) dari sohib jurnalis senior yang menggawangi media ini, jadilah tulisan ini. Dan, di salah satu emper toko ada dua orang yang berteduh. Seorang berprofesi sebagai tukang ojek, dan seorang lagi penjual kue keliling. Mereka berdua terlibat pembicaraan seperti ini;

“Deras banget, ya. Dari tadi kayak nggak ada niat berhenti,” kata tukang ojek sambil memarkir motornya agak ke pinggir teras agar joknya tidak terkena timpahan air dari talang air yang meluap.
“Iya, Mas. Kue saya aja sampai basah-basah. Untung masih sempat ditutup plastik,” jawab penjual kue keliling, menggeser tampahnya lebih dekat ke dinding agar tidak terkena tempias.
“Biasanya jam segini udah dapet penumpang dua atau tiga. Ini malah dapet hujan,” ucap tukang ojek, tertawa kecil.
“Sama. Biasanya sore laku buat orang pulang kerja. Hujan begini, orang milih langsung ke rumah,” kata penjual kue. “Mas ojek narik dari pagi?”
“Dari subuh. Pagi panas, siang mendung, eh sore begini. Kadang cuaca lebih susah ditebak daripada orderan,” jawab tukang ojek sambil menyeringai.

Penjual kue mengangguk. “Kalau saya, yang susah itu kue sisa. Nggak bisa disimpan lama. Besok rasanya udah beda, bahkan cenderung basi.”
“Kalau nggak habis, dibagi ke tetangga?” tanya tukang ojek.
“Kadang. Kadang ya dimakan sendiri. Capek sih, tapi mau gimana.” Jawab penjual kue memelas.

Hujan semakin keras, suara genting dipukul air tanpa jeda.
“Mas masih kuat nunggu hujan reda?” tanya penjual kue lagi.
“Kalau nekat jalan, bahaya. Jas hujan bocor lagi,” jawab tukang ojek. “Mending nunggu. Rezeki nggak ke mana.”
“Iya, ya. Kata orang, rezeki ada waktunya sendiri.” Guman penjual Kue.
“Betul. Kita mah jalanin aja. Hujan, panas, tetap keluar rumah.” Sambung tukang ojek.

Penjual kue tersenyum, dan berkata. “Kalau hujan reda, Mas mau kue satu? Nggak usah bayar.”
“Wah, jangan gitu. Saya beli. Biar sama-sama jalan rezekinya.” Jawab tukang ojek.

Mereka terdiam sejenak, mendengar hujan yang perlahan mulai mengecil, seperti memberi isyarat untuk kembali melanjutkan hari.

Hujan selalu datang tanpa meminta izin, seperti kabar yang tiba di lini masa pada jam-jam paling sibuk. Ia bisa menjadi penanda jeda, bisa pula menjadi alasan keterlambatan. Di kota-kota yang tak pernah benar-benar tidur, hujan memantulkan cahaya lampu dan menebalkan kesepian. Namun, di sela bunyinya yang jatuh berulang, ada sesuatu yang tetap hidup: harapan. Di antara hujan dan harapan, manusia kekinian belajar menata ulang makna bertahan.

Hujan hari ini bukan sekadar peristiwa cuaca. Ia adalah metafora bagi tekanan yang datang beruntun; tagihan yang jatuh tempo, notifikasi yang tak berhenti, target yang berubah setiap pekan, dan berita yang sering kali lebih cepat daripada kemampuan kita mencernanya. Kita hidup di zaman ketika rasa cemas dapat diukur dalam persentase baterai dan kecepatan jaringan. Ketika hujan turun, ritme melambat sejenak, memaksa kita mengakui bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Di trotoar yang basah, langkah-langkah menjadi hati-hati; di kepala yang penat, pikiran mencari pegangan.

Namun harapan, seperti payung yang kadang terlupa, tetap ada meski tak selalu terlihat. Harapan kekinian tidak selalu berwujud mimpi besar yang berkilau. Ia sering hadir sebagai keputusan kecil: tetap bangun pagi meski semalam gagal, mengirim lamaran lagi meski sudah berkali-kali tak berbalas, atau memilih istirahat ketika dunia menuntut lebih. Harapan bukan lagi janji masa depan yang jauh, melainkan ketekunan pada hari ini. Ia belajar merendah agar tak mudah patah.
Di layar-layar kecil, hujan sering difilter agar terlihat indah. Kita mengunggah foto jendela berembun, menulis caption puitis, lalu melanjutkan hidup. Tapi di balik estetika itu, hujan juga berarti banjir yang berulang, rumah yang terendam, pekerjaan yang tertunda. Kekinian mengajarkan paradoks: keindahan dan kesulitan bisa berdampingan, dan keberanian bukan menolak keduanya, melainkan mengakui kehadirannya. Harapan tumbuh ketika kita berhenti menyangkal kenyataan dan mulai merawat kemungkinan.

Hujan menguji solidaritas. Saat air naik, tangan-tangan saling terulur. Di tengah keterpecahan opini, ada momen-momen sederhana ketika empati bekerja tanpa slogan. Harapan mengambil bentuk gotong royong yang disesuaikan zaman: penggalangan dana daring, informasi cepat yang menyelamatkan waktu, dan ruang-ruang diskusi yang mencoba lebih mendengar. Meski sering bising, dunia digital juga menyimpan potensi merajut ulang kepercayaan.

Hujan juga menyingkap hubungan kita dengan diri sendiri. Ketika suara luar mereda, kita mendengar yang selama ini diabaikan. Keletihan yang dipendam, kegembiraan kecil yang tertunda, dan kebutuhan untuk memaafkan diri. Harapan di sini bersifat intim: kesediaan merawat kesehatan mental, menetapkan batas, dan mengakui bahwa kuat tidak selalu berarti keras. Di zaman serba cepat, keberanian paling radikal bisa jadi adalah berhenti sejenak.

Pada akhirnya, antara hujan dan harapan, ada ruang belajar menjadi manusia. Kita belajar bahwa basah bukan akhir dari perjalanan, bahwa menunggu reda pun bagian dari bergerak. Harapan tidak menghapus hujan; ia mengajarkan cara berjalan di bawahnya, kadang dengan payung, kadang dengan membiarkan diri basah sambil tertawa. Di zaman yang penuh ketidakpastian, mungkin itulah kemenangan kecil yang paling nyata: tetap melangkah, meski langit belum sepenuhnya cerah. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Menjalani Sisa Hari

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Sore itu matahari merendah di balik pepohonan taman kecil kompleks perumahan. Dua orang lelaki usia senja duduk berdampingan di bangku besi yang catnya mulai mengelupas. Udara tidak lagi panas, justru membawa rasa dingin yang pelan-pelan meresap ke tulang.

“Badanku akhir-akhir ini cepat capek,” kata Pak Rahman sambil menarik napas panjang.

Tangannya bertumpu pada tongkat kayu yang sudah cukup lama menemaninya. Pak Hadi menoleh, menatap wajah sahabat lamanya yang sudah sejak lama ditinggal istri meninggal dunia.

“Usia memang nggak bisa diajak bohong,” ujarnya pelan. “Tapi alhamdulillah, kita masih bisa jalan ke taman begini.”

Pak Rahman tersenyum tipis seraya berkata, “Kadang saya mikir; Kalau dulu saya lebih berani ambil keputusan, mungkin hidup saya tidak begini.” Pak Hadi terdiam sejenak, memandang daun-daun yang jatuh satu per satu. “Saya juga terkadang begitu. Nyesel karena terlalu banyak menunda, terlalu sering takut.” Ia lalu menghela napas. “Tapi mau gimana lagi? Waktunya sudah lewat.”

“Berat rasanya berdamai sama masa lalu,” ucap Pak Rahman lirih. “Iya,” jawab Pak Hadi. “Tetapi terus mengingatnya juga nggak bikin badan kita lebih kuat.”

Ia tersenyum kecil. “Sekarang ya dijalani aja. Bangun pagi masih bisa napas lega, lutut masih mau diajak jalan, itu sudah hal yang lebih dari cukup.”

Pak Rahman mengangguk pelan. Suara burung sore terdengar samar. “Dulu saya kira hidup itu soal jabatan dan pencapaian,”kata Pak Rahman.

“Sekarang kita tahu,” potong Pak Hadi lembut, “hidup itu soal bisa bangun tanpa rasa sakit yang berlebihan dan pulang dengan hati yang nggak terlalu penuh beban.”

Mereka berdua terdiam cukup lama. Senja semakin turun, menyisakan cahaya tipis yang hangat. “Ada satu hal yang bikin saya tenang,” kata Pak Rahman akhirnya. “Kita masih dikasih badan sehat, meski nggak sempurna.”

Pak Hadi tersenyum, lalu berdiri perlahan. “Itu sebabnya hari ini masih layak dijalani.”

Keduanya melangkah pulang karena sayup-sayup terdengar suara adzan magrib, dengan langkah pelan, meninggalkan bangku taman yang sunyi, membawa sisa usia yang tak lagi panjang, tapi masih cukup untuk terus disyukuri.

Ada kalanya hidup terasa seperti kumpulan keputusan yang datang terlambat. Kita menoleh ke belakang dan menemukan banyak hal yang seandainya saja bisa diulang, diperbaiki, atau setidaknya dipahami dengan lebih tenang.

Penyesalan sering hadir diam-diam, lalu tumbuh menjadi beban yang berat. Ia mengendap di pikiran, membuat hati lelah, dan perlahan menggerogoti rasa syukur. Namun pada satu titik, kita dihadapkan pada kesadaran sederhana: “sudah jangan disesali, sekarang dijalani saja, yang penting kita diberi badan sehat”. Kalimat ini terdengar biasa, tetapi menyimpan kebijaksanaan yang dalam dan menenangkan.

Menjalani hidup apa adanya bukan perkara mudah. Ada hari-hari ketika luka lama kembali terasa perih, ketika ingatan muncul tanpa diundang, dan ketika rasa bersalah datang tanpa ampun. Namun hidup tidak menuntut kita untuk selalu kuat, ia hanya meminta kita untuk terus berjalan. Perlahan, dengan langkah yang kadang tertatih, kita belajar bahwa bertahan saja sudah merupakan bentuk keberanian. Tidak semua orang mampu bangkit dengan gemilang; sebagian hanya mampu bangun dari tempat tidur dan itu pun sudah cukup.

Di tengah semua kegelisahan itu, kesehatan sering kali menjadi hal yang baru disadari nilainya saat ia terancam hilang. Badan yang sehat adalah anugerah yang kerap dianggap remeh. Kita sibuk mengejar pencapaian, pengakuan, dan validasi, sampai lupa bahwa tanpa tubuh yang berfungsi dengan baik, semua itu tidak akan berarti banyak. Saat tubuh masih mampu bernapas tanpa bantuan, berjalan tanpa rasa sakit, dan terbangun setiap pagi, sesungguhnya kita telah memiliki alasan yang kuat untuk melanjutkan hidup.

Kesehatan tidak selalu berarti bebas dari penyakit. Terkadang, sehat berarti masih mampu tersenyum meski ada keterbatasan, masih bisa mensyukuri hal kecil meski kondisi tidak sempurna. Ada ketenangan yang lahir ketika seseorang menyadari bahwa hidup tidak harus selalu ideal untuk tetap dijalani dengan penuh makna. Selama tubuh masih diberi kesempatan untuk bertahan, selama jantung masih setia berdetak, harapan tidak pernah benar-benar habis.

Menjalani hari ini juga berarti berdamai dengan diri sendiri. Kita berhenti membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, berhenti memaksa diri untuk memenuhi standar yang tidak kita pahami asalnya. Hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat atau paling sukses. Ia adalah perjalanan personal yang penuh tikungan dan kejutan. Ada orang yang menemukan jalannya lebih awal, ada pula yang tersesat berkali-kali sebelum akhirnya mengerti ke mana harus melangkah. Semua itu sah dan manusiawi.

Ketika penyesalan datang, mungkin yang perlu dilakukan bukan melawannya, tetapi mendengarkannya sebentar, lalu melepaskannya dengan perlahan. Penyesalan bisa menjadi pengingat agar kita lebih bijak ke depan, bukan cambuk untuk menghukum diri tanpa henti. Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana bersikap hari ini. Dan sering kali, sikap paling bijak adalah menerima hidup apa adanya dengan rasa syukur yang sederhana.

Pada akhirnya, hidup tidak selalu tentang memperbaiki semua kesalahan, melainkan tentang belajar hidup bersama konsekuensinya. Setiap orang punya cerita masing-masing. Kita mungkin tidak memiliki masa lalu yang sempurna, tetapi kita masih memiliki hari ini.

Selama badan masih sehat, selama napas masih bisa dihirup dengan bebas, selalu ada kesempatan untuk menjalani sisa hidup dengan lebih tenang. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri. Cukup jalani saja, satu hari pada satu waktu, dengan kesadaran bahwa bertahan pun adalah bentuk kemenangan kecil yang layak dirayakan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Pertemuan Yang Tak Pernah Selesai

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Pesantren satu ini agak berbeda dari yang lain. Biasanya pesantren didirikan di lereng gunung, atau perbukitan yang agak jauh dari pemukiman, tetapi pesantren ini justru dibangun di tepi laut lepas, tempatnya ada di derah yang cukup tinggi, sehingga seakan-akan menjadi pagar laut. Pemandangannya sangat indah di senja hari, dan sangat menakjubkan di pagi hari. Sore itu selepas ashar ada percakapan kecil antara Kiai dengan seorang Santri, di beranda yang ditingkahi hembusan angin laut sepoi-sepoi, dan diselingi deburan ombak; ringkas percakapan itu sebagai berikut:

“Guru,” kata seorang santri muda tadi, ketika langit mulai merunduk dan laut di kejauhan tampak seperti halaman kitab yang belum selesai dibaca. “Mengapa cakrawala selalu terlihat seperti tempat pertemuan yang kita tak akan pernah bisa gapai?”
Sang kiai menatap ke arah horison yang memudar, seakan sedang membaca sesuatu yang tak tertulis. “Karena ada hal-hal tertentu, Nak, yang diciptakan bukan untuk digapai, tetapi untuk dihayati. Cakrawala itu seperti janji yang tidak pernah selesai diucapkan.”
“Akan tetapi mengapa ia terasa begitu dekat sekaligus jauh, Guru?” tanya sang santri, suaranya ragu, seakan takut mengganggu kesunyian yang turun perlahan bersama angin dari laut. Kiai tersenyum tipis. “Begitulah hidup. Kita sering berdiri di antara dua dunia: yang kita pahami dan yang tak pernah benar-benar kita mengerti. Langit dan laut tampak bersentuhan, padahal mereka tidak. Namun manusia merasa damai saat melihatnya, seolah ada kesepakatan diam antara ketakterhinggaan di atas dan kedalaman di bawah.”

Santri itu mengangguk pelan, namun matanya masih terpaku pada garis semu yang kini hampir hilang. “Jadi, apa yang sebenarnya kita cari di sana, Guru?”. “Kita mencari diri kita sendiri,” jawab sang Kiai lirih, “Di tempat yang hanya bisa kita kunjungi lewat perenungan.”
Santri menundukkan kepala dalam-dalam seraya berkata; “Guru, jika berkenan, saya ingin sekali mendengar tausiyah tentang ini semua dari Guru, maaf Guru atas kelancangan saya”. Kiai tersenyum tipis seraya berkata “Baiklah muridku”:

Garis cakrawala yang tampak tegas itu sesungguhnya hanyalah ilusi: perbatasan yang diciptakan oleh jarak, oleh persepsi, oleh keinginan kita untuk menamai segala yang bergerak dan berubah. Namun justru pada ilusi itulah sering tersimpan kebenaran yang paling melankolis; bahwa segala yang kita kira pasti, sesungguhnya rapuh; bahwa segala yang tampak menyatu, sebenarnya hanya saling mendekat tanpa pernah benar-benar bersentuhan.
Di tempat inilah manusia sering membiarkan pikirannya berkelana. Memandang laut berarti memandang kedalaman yang tidak memiliki pusat; memandang langit berarti memandang keluasan yang tidak memiliki batas. Ketika keduanya tampak saling menyapa, kita sebenarnya sedang menyaksikan dialog antara dua ketakterhinggaan. Dan di tengah dialog itu, manusia berdiri sebagai saksi yang rapuh, yang keberadaannya hanya sekejap dibandingkan dengan rentang waktu yang dilalui ombak.

Ada keheningan tertentu yang hanya dapat lahir di tepi laut saat senja. Keheningan yang bukan berarti tidak ada suara, melainkan suara yang membaur begitu halus hingga tidak dapat dipisahkan. Debur ombak yang teratur, angin yang membawa aroma asin, serta cahaya jingga yang perlahan memudar menjadi abu-abu; semuanya berubah menjadi komposisi yang menenangkan sekaligus mencemaskan. Seolah alam sedang berbicara, namun dalam bahasa yang terlalu tua untuk dapat dimengerti, terlalu luas untuk dapat ditangkap oleh kata-kata.

Dalam keheningan semacam itu, manusia sering merasa kecil. Bukan kecil dalam arti tidak penting, tetapi kecil seperti titik yang menyadari dirinya bukan pusat dari apa pun. Laut mengajarkan bahwa kedalaman tidak memerlukan penjelasan; langit mengajarkan bahwa keluasan tidak membutuhkan alasan untuk tetap terbuka. Dan manusia di antaranya belajar bahwa hidup tidak selalu menawarkan kepastian, melainkan kemungkinan-kemungkinan untuk hanyut, untuk tenggelam, untuk terbang, atau bahkan untuk tetap terdiam di batas antara keberanian dan ketakutan.

Cakrawala menjadi metafora bagi batas-batas batin yang terus bergerak. Seperti garis yang terlihat jelas tetapi tak pernah dapat digapai, banyak hal dalam hidup tetap berada di kejauhan meskipun kita menghabiskan seluruh energi untuk mendekatinya. Kita mengejar ketenangan, tetapi ia bergeser setiap kali kita merasa hampir menyentuhnya. Kita mencari makna, tetapi ia sering kali menampakkan diri justru ketika kita berhenti memaksanya hadir. Seperti langit dan laut yang tak pernah menyatu, manusia dan harapannya sering saling mendekat tanpa benar-benar bertemu.
Namun di sanalah letak keindahannya. Ketidakpastian melahirkan kerinduan; kerinduan melahirkan gerak; dan gerak adalah bukti bahwa kita masih hidup.

Ada kesedihan samar yang muncul dari kesadaran bahwa apa pun yang kita cintai pada akhirnya akan berubah. Tetapi justru karena itulah cinta dapat terasa begitu mendalam. Melihat langit berubah warna dan laut berubah suasana mengingatkan kita bahwa segala yang sementara memiliki tempat khusus di hati: bukan karena ia kekal, tetapi karena ia menghilang.

Ketika malam mulai turun, cakrawala menghilang, dan batas antara langit dan laut larut ke dalam kegelapan. Kita tidak lagi dapat membedakan mana yang di atas dan mana yang di bawah; mana yang melindungi dan mana yang menelan. Pada saat itu, manusia belajar bahwa kejelasan bukanlah satu-satunya bentuk kebenaran. Ada kebenaran yang justru hadir lewat ketidakjelasan kebenaran; bahwa hidup bukanlah peta yang sudah lengkap, melainkan perjalanan yang membiarkan kita tersesat untuk sesaat agar dapat menemukan arah yang lebih jujur.

Di tempat langit dan laut saling menyapa itulah manusia memahami dirinya: makhluk yang dibentuk oleh jarak, disatukan oleh kerinduan, dan dijaga oleh kesadaran bahwa segala yang paling berarti justru berasal dari hal-hal yang tidak dapat digenggam sepenuhnya. Dan dalam kesadaran itulah melankoli menemukan rumahnya; senyap, dalam, namun penuh cahaya yang perlahan menyelinap di antara gelombang. Dan, itulah sejatinya kehidupan, tidak ada yang abadi, yang ada hanya kesementaraan. “Semoga kau paham nak atas kefanaan ini, karena bisa jadi wajah semanis senja memberi luka sedalam samudra ” tutup Kiai dalam tauziahnya. Salam Waras (SJ)

Editor: Fadly KR

Nak Ngebangun Ngutang, Dak Senang Tendang

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

MEMBACA berita awal tahun 2026 pada media ini yang digawangi oleh Herman Batin Mangku (HBM) memunculkan banyak pertanyaan di kepala: Pemprov Lampung ingin ngutang Rp1 triliun buat bangun jalan dan Pemkot Bandarlampung lengserkan pejabat yang baru setahun definitif. What is it? Uji kito, ado apo Wak? 

Pertanyaan ini muncul di banyak benak masyarakat daerah ini. Menjelang tutup kantor di suatu lembaga resmi pemerintahan, dua pegawai begesah, yang ringkasannya sebagai berikut:

Ujang: “Eh, Din, kau denger dak kabar dari lantai atas kemaren?”

Udin: “Kabar apo lagi, Jang? Rasanyo tiap minggu ado bae yang bikin kening bekerut.”

Ujang: “Itu soal rencana proyek lanjutan. Katonyo danonyo dari utangan lagi.”

Udin: “Halah… utangan lagi, utangan lagi. Kito ni wong bawah cuma bisa ngitung sisa kertas di laci.”

Ujang: “Iyo nian. Di rapat kito disuruh setuju bae. Dak usah banyak tanyo.”

Udin: “Kalo ado yang nyinggung dikit soal risiko, langsung dipandang cak salah ngomong.”

Ujang: “Aku kemaren nyebut anggaran rutin makin cekak, langsung diajak pindah topik.”

Udin: “Itu tandonyo, Jang. Artinyo, ‘cukup tau bae, jangan mikir jauh’.”

Ujang: “Padahal kito ni yang tiap hari ngadep masyarakat. Kito tau betul keluhannyo.”

Udin: “Yo nia. Pelayanan dipercepat di kertas, tapi di lapangan serbo terbatas.”

Ujang: “Yang aku heran, baliho proyek besaaak nian, tapi ATK bae disuruh irit.”

Udin: “Hahaha, itulah seni bertahan. Yang penting kejingokan hebat.”

Ujang: “Tapi hutang itu dak ilang, Din. Siapo yang nanggung kagek?”

Udin: “Bukan dio lagi. Pengganti, rakyat, mungkin jugo anak cucu kito.”

Ujang: “Kadang aku ngeraso kito ni dak punyo suara.”

Udin: “Suara ado, tapi volumenyo dikecik ke.”

Ujang: “Sedih yo, Din. Negeri kito sebenernyo biso maju kalo mikirnyo panjang.”

Udin: “Iyo. Tapi selagi kito di sini, kito kerjo jujur bae. Biar hati tenang.”

Ujang:“Bener. Selebihnyo, waktu yang bakal jawab.”

Ungkapan nak mbangun ngutang, idak senang tendang kini makin sering terdengar saat obrolan warung kopi di pinggir sungai sampai ke ruang diskusi kampus. Kalimat ini bukan sekadar guyonan wong kito, tapi sudah jadi kritik sosial yang pedas nian.

Di zaman kini, banyak pemimpin di negeri ini yang pikirannya sempit, muter di situ-situ bae: bagaimana caronya mbangun cepat, tapi duitnyo idak dari keringat sendiri, melainkan dari utangan. Soal bayar belakangan, itu urusan wong lain, pengganti nanti.

Asal kini nampak megah, proyek berdiri, foto terpajang, urusan selesai. Model kepemimpinan cak ini sebenarnyo idak baru, tapi di kondisi kekinian, gejalonyo makin jelas. Di tengah ekonomi yang belum stabil, beban hidup masyarakat makin berat, pemimpin malah ringan tangan ngutang.

Alasannya klise: demi pembangunan, demi percepatan, demi kepentingan rakyat. Tapi rakyat jugo yang akhirnya nanggung akibatnyo. Utang itu bukan hilang, tapi diwariskan. Anak cucu wong kito nanti yang bakal nyicilnyo pelan-pelan, lewat pajak, lewat potongan, lewat pelayanan publik yang makin diketatkan.

Yang lebih miris, kalau ado pejabat atau pihak yang ngingetin soal risiko, soal kehati-hatian, malah dianggap pengganggu. Bukannya didengar, malah “ditendang”. Ditendang bukan selalu berarti fisik, tapi bisa dalam bentuk disingkirkan, dilabeli pembangkang, atau dibuat idak punyo ruang bersuara.

Budaya kritik jadi mati. Padahal dalam pemerintahan yang sehat, kritik itu vitamin, bukan racun. Tapi bagi pemimpin yang pikirannya sudah dikunci ambisi, kritik itu dianggap ancaman.

Di sudut pandang kekinian, kondisi ini bahayo nian. Dunia sekarang menuntut transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Masyarakat sudah makin melek informasi. Media sosial jadi ruang terbuka, data bisa dicari, kebijakan bisa dipantau.

Tapi sayang, sebagian pemimpin masih pakai cara pikir lama: asal proyek jalan, asal laporan rapi, asal atasan senang. Rakyat dianggap penonton, bukan pemilik negeri.

Utang sebenarnyo idak haram. Dalam kondisi tertentu, utang bisa jadi alat bantu. Tapi masalahnyo, utang dijadikan jalan pintas, bukan pilihan terakhir. Idak ado upaya maksimal ngatur anggaran, ngurangin kebocoran, atau ningkatkan pendapatan daerah dengan cara kreatif.

Yang ado malah kebiasaan gali lubang tutup lubang. Tahun ini utang, tahun depan nambah lagi. Akhirnyo, ruang fiskal makin sempit, dan kebijakan publik jadi kaku.

Sikap “idak senang tendang” jugo nunjukkan mentalitas feodal yang belum lepas. Pemimpin merasa paling benar, paling tau, paling berkuasa. Padahal jabatan itu amanah, bukan singgasana. Dalam budaya wong Palembang, sejatinyo pemimpin itu “tue rumah”, yang tugasnyo ngemong, bukan ngusir tamu. Kalau ado yang ngingetin, harusnyo disambut, bukan ditolak.

Di zaman kini, tantangan pembangunan itu kompleks. Bukan cuma bangun gedung, jalan, atau jembatan. Tapi bangun kepercayaan, bangun kualitas hidup, bangun sistem yang adil. Semua itu idak bisa dicapai dengan utang doang, apolagi kalau utangnyo idak dikelola dengan jujur dan cerdas.

Pembangunan sejati itu mungkin idak selalu megah di mata, tapi terasa manfaatnyo di perut rakyat. Masyarakat jugo punyo peran. Jangan cuma ngeluh di belakang, tapi diam di depan. Kesadaran politik harus tumbuh. Pilihan hari ini menentukan beban esok hari.

Kalau terus milih pemimpin yang gemar ngutang dan anti kritik, jangan kaget kalau hidup makin sempit. Wong kito harus berani nuntut akal sehat, nuntut transparansi, nuntut keberanian berkata tidak pada kebijakan yang merugikan.

Ungkapan tadi akhirnya jadi cermin. “Nak mbangun ngutang, idak senang tendang” bukan sekadar sindiran, tapi peringatan. Kalau pola ini dibiarkan, negeri ini akan terus jalan di tempat, bahkan mundur. Sudah waktunyo cara pikir itu diubah.

Membangun jangan cuma mikir hari ini, tapi jugo mikir esok. Memimpin jangan cuma mau dipuji, tapi jugo siap dikritik. Kalau idak, sejarah akan mencatat, bukan sebagai pembangun, tapi sebagai pewaris masalah.

Editor: Fadly KR

SEBUAH DIALOG TENTANG CINTA DAN KEPULANGAN

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di dalam satu lingkaran jamaah tasauf, lampu-lampu temaram menyinari wajah-wajah yang tenang. Dzikir baru saja usai, menyisakan keheningan yang lembut. Dua orang sufi duduk berhadapan, sementara jamaah lain menyimak dalam diam.

“Saat dzikir tadi,” ujar salah seorang sufi perlahan, “aku merasakan seakan jarak antara hidup dan mati begitu tipis. Mengapa banyak orang tetap takut pada kematian?”. Sufi di hadapannya menarik napas dalam, seraya menjawab dengan suara lembut nyaris tak terdengar. “Karena mereka datang ke dunia ini dengan beban memiliki. Padahal hakekatnya tidak ada satupun yang benar-benar kita miliki.”

“Apakah karena itu sebabnya maka kematian terasa berat?” tanyanya lagi. “Benar,” jawabnya lembut. “Yang merasa berat adalah aku yang palsu. Jika hati telah terbiasa berserah, kematian justru terasa seperti salam pembuka.”

Semua jamaah menunduk, mendengarkan dengan khusyuk. “Panjenengan mengatakan salam,” lanjut sufi pertama. “Salam dari siapa kepada siapa?”. “Salam dari Yang Maha Dekat kepada hamba yang akhirnya sadar,” katanya. “Bukan nyawa yang dicabut, tetapi kesadaran yang dibangunkan.”

“Lalu apa fungsi hidup jika akhirnya kita kembali?” sergah pertanyaan lanjut. “Hidup adalah adab menunggu,” jawabnya. “Menata hati agar pantas bertemu. Dzikir, diam, dan khidmah hanyalah cara kita belajar mencintai tanpa menuntut.”

Sufi pertama tersenyum. “Maka kematian adalah pertemuan jamaah terakhir.”

“Ya,” balasnya pelan. “Pertemuan tanpa suara, tanpa tubuh, tanpa jarak. Hanya cinta yang saling mengenali.”

Keheningan kembali menyelimuti majelis. Dzikir pun dimulai lagi, kali ini dengan rasa rindu yang lebih jernih dan lebih dalam.

Pandangan tasawuf memandang kematian bukanlah peristiwa gelap yang memutuskan kehidupan, melainkan sebuah gerbang kesadaran yang membuka tabir hakikat. Ia tidak dipahami sebagai tercabutnya nyawa secara paksa, tetapi sebagai perjumpaan yang telah lama dinanti antara kekasih dan Yang Dikasihi. Selama hidup, manusia sering terikat pada bentuk-bentuk lahiriah: tubuh, harta, nama, dan waktu. Semua itu membangun ilusi keterpisahan, seakan-akan manusia berdiri sendiri dan jauh dari sumber keberadaannya. Tasawuf hadir untuk melunakkan ilusi tersebut, mengajak manusia menyadari bahwa hidup sejatinya adalah perjalanan pulang. “Di sini” kita hanya bermain.

Dalam perjalanan itu, cinta menjadi poros utama. Cinta bukan sekadar emosi, melainkan daya yang menggerakkan jiwa untuk mengenal asalnya. Setiap kerinduan, kegelisahan, dan pencarian makna yang muncul dalam batin manusia dapat dipahami sebagai getaran rindu kepada Yang Maha Ada. Hidup di dunia adalah kesempatan untuk memurnikan rindu itu, membersihkannya dari pamrih, ketakutan, dan keterikatan. Kematian, dalam sudut pandang ini, adalah saat ketika rindu yang terpelihara menemukan jawabannya. Bukan kehampaan yang menunggu, melainkan perjumpaan yang menenangkan.

Tasawuf memandang bahwa yang mati bukanlah hakikat manusia, melainkan tirai-tirai yang selama ini menutupinya. Tubuh hanyalah wadah sementara; ia datang dan pergi mengikuti hukum alam. Adapun ruh adalah amanah yang berasal dari sumber yang abadi. Ketika kematian tiba, yang terjadi bukanlah pemusnahan, tetapi pemulangan. Seperti setetes air yang kembali ke lautan, ia tidak lenyap, justru menemukan keluasan yang selama ini hanya diimpikan. Rasa takut terhadap kematian sering muncul karena manusia mengira dirinya adalah tubuh dan sejarahnya. Ketika identitas itu dilepas, yang tersisa adalah kesadaran murni yang telah lama dipanggil.

Dalam latihan batin tasawuf, manusia diajak untuk “mati sebelum mati”, yakni mematikan ego yang merasa memiliki dan menguasai. Ego inilah yang takut kehilangan, karena ia hidup dari klaim dan pembatasan. Selama ego berkuasa, kematian tampak seperti musuh. Namun ketika ego dilunakkan melalui keikhlasan, kesabaran, dan kehadiran hati, kematian berubah wajah menjadi sahabat. Ia tidak lagi datang sebagai perampas, tetapi sebagai penyingkap. Apa yang tersingkap adalah kedekatan yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan dunia.

Perjumpaan antara kekasih dan Yang Dikasihi tidak selalu menunggu akhir hayat. Dalam tasawuf, perjumpaan itu bisa dirasakan sebagai isyarat-isyarat halus dalam hidup: ketenangan yang tiba tanpa sebab, syukur yang meluap di tengah kekurangan, atau rasa cukup yang mengalahkan ambisi. Semua itu adalah kilasan perjumpaan, latihan kecil menuju pertemuan besar. Kematian kemudian dipahami sebagai puncak dari rangkaian perjumpaan tersebut, ketika jarak yang semu benar-benar sirna.

Dengan sudut pandang ini, kematian tidak mematikan harapan, justru menegaskannya. Hidup tidak diakhiri oleh kematian; hidup menemukan maknanya melalui kematian. Setiap napas menjadi berharga karena ia adalah langkah menuju kedekatan. Setiap amal menjadi bermakna karena ia adalah bahasa cinta. Bukan ketakutan yang memimpin langkah, melainkan kerinduan yang terdidik. Manusia yang memaknai hidup seperti ini tidak tergesa-gesa menolak dunia, tetapi juga tidak tenggelam di dalamnya. Dunia dijalani sebagai ladang persiapan, bukan tujuan akhir.

Tasawuf mengajarkan bahwa Yang Dikasihi selalu lebih dekat daripada sang kekasih menyadari. Kematian hanyalah saat kesadaran itu mencapai kepenuhannya. Maka, berbicara tentang kematian bukanlah mengajak pada keputusasaan, melainkan pada keberanian untuk hidup dengan jujur dan penuh makna. Ketika cinta menjadi dasar hidup, kematian tidak lagi menakutkan. Ia menjadi undangan lembut untuk pulang, tempat segala rindu beristirahat, dan segala pencarian menemukan jawaban. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Kebahagiaan Sebagai Jejak Kemanusiaan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Senja turun perlahan di halaman posko relawan. Beberapa kardus bantuan masih tersisa. Rani duduk di tangga, mengelap keringat, sementara Bima menyeduh teh hangat dari termos.
“Capek?” tanya Bima sambil menyerahkan gelas.
“Lumayan,” jawab Rani sambil tersenyum. “Tapi entah kenapa rasanya ringan.”
Bima mengangguk. “Aku juga sering begitu. Badan lelah, tapi kepala tenang.”
Rani memandang anak-anak yang masih bermain di kejauhan. “Tadi aku lihat Ibu itu. Yang rumahnya roboh. Dia senyum waktu terima selimut.”
“Ya,” kata Bima pelan. “Senang sekali melihatnya. Padahal yang kita beri sederhana.”
“Kadang aku bertanya,” lanjut Rani, “kenapa hal kecil bisa berarti besar buat mereka.”
“Karena mereka merasa tidak sendirian,” jawab Bima. “Dan mungkin itu juga yang kita rasakan.”
Rani terdiam sejenak. “Aku dulu sering mikir, kapan ya aku bisa benar-benar bahagia.”
“Sekarang gimana?” tanya Bima.
Rani tersenyum, menatap gelas tehnya. “Sekarang aku jarang mikir begitu. Aku lebih sering mikir, besok bisa bantu apa lagi.”
Bima tertawa kecil. “Lucu ya. Kita datang ke sini niat membantu, tapi malah pulang membawa sesuatu.”
“Apa?” tanya Rani.
“Rasa cukup,” jawab Bima mantap. “Bukan karena hidup kita sempurna, tapi karena hari ini kita berguna.”
Angin berembus pelan. Suara tawa anak-anak terdengar lagi.
Rani berdiri. “Ayo bereskan sisa kardus itu.”
Bima ikut bangkit. “Ayo. Masih ada waktu sebelum gelap.”
Mereka berjalan bersama, tanpa banyak kata, tapi dengan langkah yang terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Gagasan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari seberapa sering kita menanyai diri sendiri “apakah aku bahagia”, melainkan dari seberapa banyak orang yang telah kita bahagiakan, mengajak manusia keluar dari pusat egonya. Dalam pandangan filsafat manusia, kebahagiaan bukan sekadar keadaan batin yang privat, melainkan peristiwa relasional: ia lahir, tumbuh, dan bermakna di antara manusia. Manusia tidak hidup sebagai pulau yang terpisah; ia hadir dalam jejaring relasi yang saling memengaruhi. Karena itu, menimbang kebahagiaan dari dampak kebaikan yang kita tebarkan menjadi cara yang lebih jujur untuk memahami makna hidup.

Pertanyaan “apakah aku bahagia” sering terjebak dalam perhitungan subjektif yang rapuh. Ia bergantung pada suasana hati, pencapaian sesaat, atau perbandingan sosial. Ketika kebahagiaan dikejar sebagai tujuan langsung, ia mudah menguap. Filsafat manusia melihat bahwa hasrat yang berpusat pada diri sendiri cenderung tidak pernah selesai; selalu ada kekurangan baru yang menuntut pemenuhan. Dalam lingkaran ini, kebahagiaan menjadi objek yang dikejar, bukan buah yang tumbuh. Akibatnya, manusia menjadi letih oleh tuntutan untuk merasa cukup, padahal standar “cukup” terus bergeser.
Sebaliknya, ketika fokus berpindah pada pertanyaan “siapa yang telah kubahagiakan”, orientasi hidup berubah. Manusia menyadari dirinya sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas kehadirannya di dunia orang lain.

Tindakan kecil seperti; mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memberi waktu, menepati janji, atau menolong tanpa pamrih, menjadi begitu bermakna. Kebahagiaan muncul sebagai efek samping dari tindakan bermakna, bukan sebagai target yang dipaksa. Dalam perspektif ini, kebahagiaan bersifat emergen: ia hadir ketika makna hadir.
Relasi dengan sesama menyingkapkan dimensi etis dari kebahagiaan. Kebahagiaan tidak netral; ia terikat pada pilihan-pilihan yang menghormati martabat manusia lain. Ketika seseorang membahagiakan orang lain, ia mengakui nilai intrinsik sesama sebagai tujuan, bukan alat. Pengakuan ini membangun rasa keterhubungan yang mendalam. Manusia merasakan dirinya berguna, dibutuhkan, dan berarti. Rasa berarti inilah yang menjadi fondasi kebahagiaan yang tahan lama, karena ia tidak bergantung pada pujian atau hasil instan.

Lebih jauh, kebahagiaan yang lahir dari membahagiakan orang lain membentuk karakter. Ia melatih empati, kesabaran, dan kerendahan hati. Empati membuka kemampuan memahami penderitaan dan harapan orang lain; kesabaran menahan dorongan ego; kerendahan hati mengingatkan bahwa kebaikan tidak selalu harus terlihat. Dalam pembentukan karakter ini, manusia tidak hanya “merasa bahagia”, tetapi “menjadi” pribadi yang lebih utuh. Filsafat manusia memandang keutuhan sebagai keselarasan antara niat, tindakan, dan relasi. Di sinilah kebahagiaan menemukan rumahnya.

Namun, membahagiakan orang lain bukan berarti mengabaikan diri sendiri. Ada keseimbangan yang perlu dijaga agar kebaikan tidak berubah menjadi pengorbanan yang merusak. Filsafat manusia menekankan tanggung jawab ganda: terhadap sesama dan terhadap diri. Merawat diri memungkinkan seseorang memberi dengan tulus, bukan dari kekosongan. Dengan demikian, membahagiakan orang lain dan merawat diri bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.

Dalam kehidupan sosial yang sering mendorong kompetisi dan pencitraan, ukuran kebahagiaan yang berorientasi pada dampak kebaikan menawarkan jalan alternatif. Ia membebaskan manusia dari tirani perbandingan dan angka-angka yang menilai diri. Kebahagiaan tidak lagi diukur dari apa yang dimiliki atau dirasakan semata, tetapi dari jejak kemanusiaan yang ditinggalkan. Jejak ini mungkin tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam hubungan yang lebih hangat dan kepercayaan yang tumbuh.

Akhirnya, kebahagiaan sebagai hasil dari membahagiakan orang lain mengembalikan manusia pada makna hidup yang sederhana namun dalam. Hidup menjadi ruang untuk berkontribusi, bukan panggung untuk pembuktian diri. Ketika seseorang berhenti bertanya apakah ia bahagia dan mulai bertanya siapa yang telah ia bahagiakan, ia menemukan paradoks yang indah: kebahagiaan justru datang ketika ia tidak lagi mengejarnya, melainkan menghidupinya melalui kebaikan yang nyata. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

TAHUN BARU ITU PUNYA SIAPA ?

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di suatu perempatan jalan dua orang sedang berbicara; “Bang, hari sudah ganti tahun lagi,” kata pengamen itu sambil menggesek senar gitarnya pelan, suaranya kalah oleh bising kendaraan. Pengemis tua di sebelahnya tersenyum tipis seraya menjawab: “Iya, tapi perut kita tetap sama. Lapar tak kenal kalender.”

Pengamen berhenti bermain dan berkata. “Orang-orang bilang tahun baru itu awal yang baik. Abang percaya?”. “Percaya atau tidak, kaki ini tetap melangkah ke sini tiap pagi,” jawab si pengemis sekenanya, sambil mengangkat kaleng receh. “Kalau aku libur, siapa yang akan kasih makan?”

Pengamen tertawa kecil, pahit. “Tadi malam aku main di perempatan sana. Kembang api ramai sekali. Tapi tak satu pun pengunjunga singgah mendengar lagu ku.”

“Mereka sibuk merayakan hidupnya,” sahut pengemis. “Kita cuma latar belakang. Kayak bangunan tua di foto pesta.” Pengamen menunduk. “Kadang aku iri. Mereka hitung detik menuju tahun baru, aku hitung receh buat beli nasi kucing.”

“Jangan iri,” kata pengemis pelan. “Iri itu mewah. Kita cukup bertahan.”

“Abang tidak capek?” tanya pengamen. “Capek itu pasti,” jawabnya. “Tapi berhenti lebih menakutkan. Berhenti berarti tak ada cerita besok.”

Pengamen kembali memetik gitar. Nadanya sendu. “Kalau suatu hari keadaan berubah, abang mau apa?”. Pengemis menatap jalan. “Aku mau duduk tanpa harus minta. Minum kopi tanpa dihitung receh.” Pengamen tersenyum tipis. “Aku mau main lagu tanpa dikejar satpam.”

Mereka terdiam sejenak.

“Tahun baru itu punya siapa, Bang?” tanya pengamen. Pengemis menghela napas. “Mungkin punya mereka yang punya pilihan. Kita cuma punya hari ini.”. Lampu merah menyala. Mereka kembali pada peran masing-masing, menunggu belas kasih yang tak pernah dijanjikan

Tahun baru itu punya siapa? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan sosial yang dalam. Setiap pergantian kalender dirayakan dengan kembang api, pesta, dan resolusi penuh harapan. Namun di balik sorak sorai itu, ada kenyataan yang berjalan tanpa jeda: orang-orang miskin tetap mengais di jalanan, pengemis masih mengulurkan tangan dengan tatapan lelah, dan mereka yang hidup di pinggiran moral maupun ekonomi terus bertarung demi sekadar seporsi nasi. Tahun baru datang sebagai simbol, tetapi tidak selalu sebagai perubahan.

Dalam lanskap kota-kota hari ini, kontras sosial semakin nyata. Di satu sisi, pusat perbelanjaan penuh diskon dan perayaan. Di sisi lain, trotoar tetap menjadi ruang hidup bagi mereka yang tidak punya pilihan lain. Pergantian tahun tidak otomatis mengubah struktur ketimpangan yang sudah lama mengakar. Kemiskinan bukan sekadar soal kurangnya uang, melainkan hasil dari sistem yang menormalisasi ketidakadilan. Ketika lapangan kerja menyempit, harga kebutuhan pokok naik, dan akses pendidikan tetap timpang, maka tahun baru hanya menjadi angka baru bagi mereka yang hidup dari hari ke hari.

Fenomena ini diperparah oleh cara masyarakat memaknai keberhasilan dan kegagalan. Narasi populer sering menempatkan kemiskinan sebagai akibat dari kurangnya usaha individu. Padahal, realitas sosial menunjukkan bahwa tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang sejak lahir sudah berada dalam lingkaran keterbatasan, dengan pilihan yang sempit dan risiko yang besar. Dalam konteks ini, menyalahkan korban justru menjadi cara paling mudah untuk membebaskan diri dari tanggung jawab kolektif.

Sementara itu, ruang-ruang kekuasaan kerap jauh dari denyut kehidupan rakyat kebanyakan. Ketika kekuasaan dijalankan tanpa empati, kebijakan publik kehilangan rohnya. Korupsi dan penyalahgunaan wewenang bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap harapan banyak orang. Setiap sumber daya yang diselewengkan berarti kesempatan yang hilang bagi mereka yang paling membutuhkan: layanan kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang terjangkau, dan perlindungan sosial yang manusiawi. Dalam situasi seperti ini, tahun baru justru terasa ironis, dirayakan oleh mereka yang diuntungkan, tetapi menjadi beban bagi mereka yang terus dirugikan.

Di sisi lain, ada kelompok yang hidup di wilayah abu-abu moral karena tekanan ekonomi dan sosial. Pilihan hidup yang keras sering kali lahir dari keadaan yang keras pula. Menghakimi tanpa memahami konteks hanya memperpanjang jarak antara “kita” dan “mereka”. Pendekatan yang lebih manusiawi menuntut keberanian untuk melihat akar masalah: kemiskinan struktural, kekerasan, ketidaksetaraan gender, dan minimnya perlindungan sosial. Tanpa itu, solusi yang ditawarkan hanya akan bersifat sementara dan kosmetik.

Kajian kontemporer tentang kota dan kemiskinan menunjukkan bahwa ruang publik semakin eksklusif. Kota dibangun untuk konsumsi, bukan untuk keberlanjutan hidup semua warganya. Mereka yang tidak sesuai dengan citra “ideal” sering didorong ke pinggiran, baik itu secara fisik maupun simbolik. Tahun baru dalam konteks ini menjadi panggung besar yang menutupi retakan di bawahnya. Kita diajak merayakan optimisme, tetapi jarang diajak membongkar ketidakadilan yang membuat optimisme itu tidak merata.

Namun, pertanyaan “Tahun Baru Itu Punya Siapa?” tidak harus berakhir pada keputusasaan. Ia bisa menjadi undangan untuk refleksi dan tindakan. Tahun baru seharusnya menjadi momentum untuk meninjau ulang prioritas bersama: apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar menyentuh yang paling rentan, apakah kebijakan publik dirancang dengan mendengar suara mereka yang terdampak, dan apakah solidaritas sosial masih menjadi nilai yang hidup, bukan sekadar slogan.

Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam, dan tidak selalu terlihat spektakuler seperti kembang api. Ia sering lahir dari kerja sunyi: kebijakan yang adil, pengawasan yang konsisten, partisipasi warga, dan empati yang dipraktikkan dalam keseharian. Tahun baru akan benar-benar bermakna ketika ia tidak hanya dirayakan oleh sebagian orang, tetapi dirasakan sebagai harapan nyata oleh mereka yang selama ini tertinggal.

Pada akhirnya, tahun baru adalah cermin yang memantulkan siapa kita sebagai masyarakat. Jika cermin itu menunjukkan ketimpangan, ketidakpedulian, dan keserakahan, maka tugas kita bukan memecah cermin, melainkan memperbaiki wajah yang terpantul di dalamnya.

Selamat Tahun Baru Kawan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR