Program Studi D3 Anafarma Universitas Malahayati Gelar OSPE UKMPDFI, Targetkan Kelulusan 100% di Tahun 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan (Anafarma) Universitas Malahayati kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak tenaga teknis kefarmasian yang kompeten dan profesional. Hal ini dibuktikan dengan terselenggaranya Objective Structured Practical Examination (OSPE) dalam rangka Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia (UKMPDFI), yang digelar di Laboratorium Terpadu Universitas Malahayati pada Kamis, 3 Juli 2025.

Sebanyak 54 mahasiswa angkatan 2022 mengikuti ujian ini dengan penuh semangat dan kesiapan. OSPE sendiri merupakan bagian penting dari proses uji kompetensi, yang bertujuan untuk mengukur kemampuan praktis mahasiswa dalam situasi yang menyerupai kondisi kerja nyata di dunia farmasi. Ujian OSPE UKMPDFI ini terdiri dari beberapa station atau pos ujian, di mana mahasiswa diuji kemampuan praktiknya

Pada tahun sebelumnya, tingkat kelulusan mahasiswa D3 Anafarma Universitas Malahayati dalam UKMPDFI mencapai 86%, sebuah capaian yang membanggakan dan menjadi bukti kualitas pendidikan yang diberikan oleh institusi ini.

Ketua Program Studi D3 Anafarma, Agustina Retnaningsih, S.Si., Apt., M.Farm, menyampaikan optimisme yang tinggi terhadap hasil OSPE tahun ini.

“Kami telah melakukan berbagai persiapan secara intensif, mulai dari pembekalan materi, simulasi ujian, hingga pendampingan belajar bagi mahasiswa. Dengan persiapan yang matang, saya yakin tahun ini tingkat kelulusan bisa mencapai 90%, bahkan harapan kami bisa mencapai 100%,” ujar Agustina dengan penuh keyakinan.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan dari aspek akademik, tetapi juga dari mental kesiapan dan integritas saat menghadapi ujian praktik.

“Kami tidak hanya menekankan penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga membangun mental percaya diri dan tanggung jawab profesional mahasiswa sebagai calon tenaga teknis kefarmasian. Mereka bukan hanya harus bisa melakukan prosedur, tetapi juga memahami dampak dan pentingnya ketelitian dalam setiap tindakan,” tambahnya.

Universitas Malahayati melalui Program Studi D3 Anafarma terus berkomitmen untuk mendukung penuh pencapaian kelulusan mahasiswanya. Salah satunya dengan menyelenggarakan pelatihan intensif menjelang ujian, memperkuat fasilitas laboratorium, serta menjalin kemitraan dengan institusi farmasi untuk mendukung proses pembelajaran berbasis praktik.

Dengan semangat dan dukungan penuh dari seluruh sivitas akademika, Program Studi D3 Anafarma berharap para peserta tahun ini dapat membuktikan kompetensinya dan menjadi lulusan yang siap berkontribusi nyata di dunia kesehatan Indonesia. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Fakultas Hukum Universitas Malahayati Jalin Kerja Sama Strategis dengan Kantor Notaris & PPAT Rendy Renaldy, SH., M.Kn

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Fakultas Hukum Universitas Malahayati kembali memperluas jejaring kerja samanya melalui perpanjangan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Nota Perjanjian Kerja Sama (MoA) dengan Kantor Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Rendy Renaldy, SH., M.Kn, dalam sebuah pertemuan yang berlangsung hangat pada Senin, 30 Juni 2025.

Rombongan dari Fakultas Hukum yang dipimpin langsung oleh Dekan, Aditia Arief Firmanto, SH., MH, beserta jajaran dosen, disambut dengan penuh antusias oleh pemilik kantor, Rendy Renaldy, SH., M.Kn, bersama tim dan staf profesionalnya. Kegiatan ini menandai komitmen kedua belah pihak dalam memperkuat sinergi antara dunia akademik dan praktik profesional hukum.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, SH., MH menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan salah satu wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

“Kami menyambut baik kerja sama ini sebagai langkah penting dalam mempersiapkan mahasiswa Fakultas Hukum menghadapi dunia praktik. Dengan adanya MoU dan MoA ini, mahasiswa kami akan memiliki kesempatan untuk menjalani praktik magang langsung di lingkungan kerja notaris dan PPAT yang sesungguhnya, sehingga dapat memahami dinamika hukum pertanahan, perjanjian, dan akta secara riil,” ujarnya.

Tak hanya itu, kerja sama ini juga membuka peluang kolaborasi dalam penyusunan riset hukum terapan, pelatihan hukum praktis, serta seminar bersama yang dapat memperkaya pengetahuan dan pengalaman mahasiswa.

Sementara itu, Rendy Renaldy, SH., M.Kn menyambut kerja sama ini dengan sangat antusias dan mengapresiasi kepercayaan yang diberikan oleh Universitas Malahayati. Ia menyatakan bahwa hubungan antara kantornya dan Fakultas Hukum Universitas Malahayati sebenarnya telah terjalin cukup lama melalui program magang mahasiswa.

“Kerja sama ini menjadi bentuk perpanjangan dan penguatan dari apa yang telah kami jalani sebelumnya. Banyak mahasiswa dari Universitas Malahayati yang telah menjalani magang di sini dan menunjukkan etos kerja serta pengetahuan hukum yang baik. Dengan adanya MoU dan MoA ini, kami berharap dapat memberikan pengalaman praktik yang lebih terstruktur, bermanfaat, dan membuka wawasan profesional mereka sebelum terjun ke dunia kerja,” ungkap Rendy.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang saling menguntungkan, tidak hanya bagi mahasiswa dan dosen, tetapi juga bagi masyarakat luas yang mendapatkan pelayanan hukum yang lebih baik dari generasi hukum masa depan.

Dengan semangat membangun sumber daya manusia hukum yang unggul, Fakultas Hukum Universitas Malahayati terus berupaya menjalin kerja sama strategis dengan berbagai institusi profesional. Penandatanganan kerja sama ini menjadi langkah konkret dalam menciptakan lulusan yang tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga kompeten secara praktik. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa Universitas Malahayati Raih Juara 3 Judo Kapolda Cup 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Dimas Baskoro (24410040), mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, sukses meraih Juara 3 dalam Kejuaraan Judo Kapolda Cup 2025 untuk Kategori Senior -66 Kg. Kejuaraan ini diselenggarakan di Gedung Serba Guna (GSG) Presisi Polda Lampung dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-79. Sabtu (14/6/2025).

Kompetisi yang berlangsung sengit ini diikuti oleh atlet-atlet terbaik dari berbagai daerah, menjadikan perjuangan Dimas sebagai sebuah capaian yang patut diapresiasi. Dengan semangat juang dan kedisiplinan tinggi, Dimas berhasil menunjukkan teknik dan mental bertanding yang matang hingga berhasil naik podium juara.

“Pertandingan ini menjadi bahan bakar saya untuk berlatih lebih giat lagi. Ini bukanlah akhir, melainkan awal bagi saya untuk bertemu dengan lawan-lawan yang akan saya hadapi dengan keberanian,” ujar Dimas.

Capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membawa nama baik Universitas Malahayati di kancah olahraga daerah. Pihak kampus menyambut baik kabar tersebut dan memberikan dukungan penuh bagi pengembangan minat dan bakat mahasiswa dalam bidang non-akademik, khususnya olahraga bela diri seperti judo.

Dengan prestasi ini, Dimas Baskoro telah membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga mampu menunjukkan performa luar biasa di arena kompetisi fisik dan mental. Semoga kemenangan ini menjadi motivasi bagi seluruh mahasiswa Universitas Malahayati untuk terus berprestasi dan mengharumkan nama almamater.

Selamat dan sukses untuk Dimas Baskoro! Teruslah melangkah dengan semangat dan keberanian! (gil)

Editor: Gilang Agusman

Berdamai dengan Waktu (Ruang Eksistensial Manusia)

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Beberapa waktu lalu mendapat berita “kepulangan” seorang sahabat yang juga kerabat. Kami hanya terpaut usia satu tahun. Dan, bulan lalu tetangga dekat berusia lebih muda, juga berpulang. Tampak sekali jika manusia selalu dalam spektrum waktu; oleh sebab itu dalam filsafat, waktu bukan sekadar detik yang berdetak. Ia adalah ruang eksistensial, tempat manusia menjadi. Waktu bukan benda mati. Ia adalah pengalaman hidup itu sendiri yang terus bergerak seturut nafas dalam diri. Martin Heidegger, dalam karyanya “Being and Time”, menulis bahwa waktu adalah dimensi fundamental dari keberadaan manusia (Dasein). Artinya, manusia tak pernah terpisah dari waktu, dan manusia hidup di dalam waktu. Kita lahir, tumbuh, membuat keputusan, menyesal, berharap; semua itu terjadi karena waktu memungkinkan keberadaan itu sendiri.

Tapi anehnya, waktu juga menjadi kecemasan terbesar bagi manusia. Kita tahu bahwa waktu bergerak ke satu arah: maju, tak bisa kembali. Kita tahu bahwa dengan berjalannya waktu, kita semakin dekat pada akhir. Kesadaran akan kefanaan inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Maka pertanyaannya adalah: Bagaimana kita hidup di dalam waktu, tanpa dikendalikan oleh waktu? Bagaimana kita bisa berdamai dengan sesuatu yang tak bisa kita pegang, kendalikan, atau ulangi.

Dari sudut pandang eksistensial, manusia bukan takut terhadap waktu. Manusia takut tidak bermakna di dalam waktu. Kita takut menjadi sia-sia, takut tidak sempat mencapai sesuatu, takut dilupakan. Pada dunia modern, waktu menjadi ukuran nilai. Seseorang dianggap sukses jika ia cepat mencapai puncak. Seseorang dianggap produktif jika jadwalnya penuh dari pagi sampai malam. Kita seolah dikejar oleh “jam ideal manusia sukses”. Namun di balik itu, tersembunyi kegelisahan yang dalam: kita tidak tahu apa sebenarnya arti hidup yang kita kejar ini. Kita hanya takut tertinggal, tanpa tahu sebenarnya kita sedang menuju ke mana. Jean-Paul Sartre mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Kita bebas memilih jalan hidup kita, tapi karena itulah kita juga bertanggung jawab atas semua makna yang kita berikan pada waktu yang kita jalani. Maka ketika kita gagal, kita merasa waktu telah menghukum kita.Padahal sebenarnya kitalah yang memberinya beban makna tertentu.

Satu hal yang membuat waktu terasa mengerikan adalah karena tidak bisa diulang. Masa lalu hanya bisa dikenang, masa depan belum tentu datang, dan masa kini terlalu cepat berlalu. Inilah paradoks eksistensial manusia: kita sadar bahwa waktu adalah anugerah sekaligus keterbatasan. Namun sejatinya justru keterbatasan itulah yang memberi hidup kita makna. Jika waktu tak terbatas, mungkin kita tak akan pernah benar-benar menghargai momen yang kita miliki.

Finitude (keterbatasan) adalah tema besar dalam filsafat eksistensial. Manusia baru akan benar-benar hidup secara otentik ketika ia sadar bahwa hidup ini tak kekal. Maka berdamai dengan waktu; artinya berdamai dengan keterbatasan kita sebagai manusia. Kita tidak bisa memiliki segalanya. Kita tidak bisa mengalami segalanya. Tapi dari situ kita belajar memilah: mana yang benar-benar penting, mana yang hanya kebisingan.

Banyak diantara kita yang merasa bahwa waktu adalah musuh. Karena terlalu cepat saat kita bahagia, dan terlalu lambat saat kita menderita. Tetapi sebenarnya ialah waktu hanya memperbesar apa yang ada di dalam diri kita. Oleh sebab itu waktu, dalam posisi ini adalah cermin. Ia memantulkan sejauh mana kita hidup dengan otentik. Apakah kita menjalani hari-hari karena kita sadar dan memilihnya, atau karena kita mengikuti tekanan sosial dan ekspektasi luar. Dengan memahami bahwa waktu bukan musuh, melainkan cermin dari eksistensi kita, kita bisa mulai berdamai dengannya. Kita berhenti berlari. Kita mulai menghadirkan diri sepenuhnya dalam momen yang ada.

Penyesalan adalah produk dari waktu yang telah lewat. Harapan adalah bentuk relasi kita dengan waktu yang akan datang. Keduanya adalah pengalaman khas manusia. Oleh sebab itu dalam filsafat kita diajarkan untuk mengendalikan apa yang bisa dikendalikan, dan melepaskan sisanya. Masa lalu adalah sesuatu yang tak bisa diubah, maka menyesalinya terus-menerus adalah menyia-nyiakan waktu sekarang. Masa depan pun belum tentu datang, maka terlalu mengkhawatirkannya adalah bentuk pemborosan eksistensial.

Seneca menulis dalam On the Shortness of Life, bunyinya: “It is not that we have a short time to live, but that we waste much of it.” Waktu yang kita miliki sebenarnya cukup. Yang kurang adalah kesadaran kita untuk menjalaninya dengan penuh makna. Maka berdamai dengan waktu berarti menerima masa lalu dengan bijak, dan menyambut masa depan tanpa ketakutan berlebih. Kita tidak menyangkal rasa menyesal, tapi kita tidak membiarkannya mengikat kita. Kita tidak mematikan harapan, tapi kita tidak membiarkan masa depan mencuri hari ini.

Waktu tak bisa dihentikan. Ia juga tak bisa dipercepat atau diulang. Tapi kita bisa mengubah cara kita memandangnya. Dari musuh menjadi teman. Dari tekanan menjadi pengingat. Dari batas menjadi keindahan. Berdamai dengan waktu bukan berarti pasrah; oleh sebab itu yang paling penting bukan berapa banyak waktu yang kita punya, tapi bagaimana kita menggunakannya untuk menjadi manusia yang utuh, sadar, dan bermakna. Seperti kata Kierkegaard, bahwa hidup hanya bisa dipahami setelah kita lewati, tapi harus dijalani ke depan. Maka jalanilah hari ini, bukan dengan terburu-buru, tapi dengan kesadaran bahwa tiap detik adalah kesempatan untuk menjadi lebih manusiawi. Tuhan sudah mengingatkan dalam FirmanNYA : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Dosen Universitas Malahayati Raih “Outstanding Thesis Award 2024” dari Prince of Songkla University, Thailand

THAILAND (malahayati.ac.id): Kabar membanggakan datang dari dunia akademik Universitas Malahayati. Salah satu dosen terbaik dari Fakultas Kedokteran, Dwi Marlina Syukri, S.Si., M.BSc., Ph.D, berhasil meraih penghargaan bergengsi “Outstanding Thesis Award 2024” dari Prince of Songkla University (PSU), Thailand.

Penghargaan ini diberikan oleh Faculty of Science, Prince of Songkla University, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi luar biasa dalam riset ilmiah tingkat doktoral. Dr. Dwi Marlina Syukri, yang merupakan lulusan Program Doktor Ilmu Mikrobiologi PSU, dinilai memiliki inovasi yang sangat tinggi serta pendekatan ilmiah yang kuat dalam penelitiannya.

Tesis doktoralnya yang berjudul: “Antibacterial Functionalization of Surgical Sutures through Ex Situ and In Situ Deposition of Biogenic Silver Nanoparticles, as an Alternative Strategy to Limit Surgical Site Infections”, menjadi sorotan karena menggabungkan pendekatan green synthesis dengan pemanfaatan nanopartikel perak biogenik untuk mengatasi infeksi pascaoperasi.

Penelitian ini dinilai tidak hanya unggul dalam aspek metodologi, tetapi juga memiliki dampak aplikatif yang luas di dunia medis. Solusi yang ditawarkan sangat potensial untuk menekan risiko infeksi di lokasi pembedahan, sebuah tantangan serius dalam dunia bedah modern. Inovasi ini memanfaatkan material ramah lingkungan dan mengusung semangat keberlanjutan, sejalan dengan misi global Sustainable Development Goals (SDGs).

Pihak Prince of Songkla University menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas kontribusi Dwi Marlina Syukri, Ph.D yang dianggap telah membawa standar penelitian PSU ke level internasional serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan, kesehatan masyarakat, dan perlindungan lingkungan.

“Ini adalah pencapaian luar biasa yang tidak hanya membanggakan Fakultas Sains PSU, tetapi juga menunjukkan bagaimana riset dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan solusi nyata bagi dunia. Dwi Marlina, Ph.D adalah contoh teladan dari peneliti berdedikasi dengan visi masa depan yang kuat,” demikian pernyataan resmi dari PSU.

Sementara itu, civitas akademika Universitas Malahayati turut menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas pencapaian ini. Rektor, dekan, dosen, hingga mahasiswa memberikan ucapan selamat dan dukungan atas prestasi internasional tersebut.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa Universitas Malahayati terus mendorong dosennya untuk unggul di kancah global dan aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan berbasis riset. Dedikasi Dr. Dwi Marlina Syukri di bidang mikrobiologi dan kesehatan lingkungan diharapkan dapat menginspirasi para akademisi dan mahasiswa untuk terus berinovasi dan berkontribusi nyata bagi kemajuan dunia.

Selamat dan sukses selalu untuk Dr. Dwi Marlina Syukri Ph.D! Semoga prestasi ini menjadi motivasi untuk terus berkarya dan menjadi pionir dalam inovasi kesehatan yang berkelanjutan. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Universitas Malahayati dan KPU Kota Bandar Lampung Jalin Kerja Sama Strategis, Perkuat Sinergi Pendidikan dan Demokrasi

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring dan memperkuat sinergi lintas lembaga melalui perpanjangan MoU (Memorandum of Understanding) dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandar Lampung dan MoA (Memorandum of Agreement) Fakultas Hukum Universitas Malahayati dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandar Lampung dan MoA . Kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme di Kantor KPU Kota Bandar Lampung pada Senin, 30 Juni 2025.

Hadir dalam kegiatan ini Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, SH., MH, didampingi sejumlah dosen Fakultas Hukum serta Kepala Humas dan Protokol Universitas Malahayati, Emil Tanhar, S.Kom. Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Ketua KPU Kota Bandar Lampung, Arie Oktara, S.I.P., M.A bersama jajaran staf dan komisioner KPU.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, SH., MH menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

“Melalui perpanjangan kerja sama ini, kami berharap mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malahayati dapat memperoleh pengalaman langsung di lapangan, khususnya dalam proses kepemiluan dan tata kelola lembaga negara. Program magang dan kegiatan penelitian bersama menjadi pintu awal untuk mendekatkan dunia akademik dengan praktik demokrasi di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua KPU Kota Bandar Lampung, Arie Oktara, S.I.P., M.A, menyambut baik Universitas Malahayati dan menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap kerja sama ini. Ia menilai bahwa kehadiran mahasiswa di lingkungan KPU bukan hanya memperkaya wawasan mereka, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dalam proses edukasi dan sosialisasi demokrasi kepada masyarakat.

“KPU Kota Bandar Lampung terbuka bagi dunia pendidikan, khususnya dalam membangun pemahaman kepemiluan yang kuat sejak dini. Kami sangat menyambut baik kontribusi dari mahasiswa dan akademisi untuk bersama-sama menciptakan pemilu yang partisipatif, inklusif, dan berkualitas,” jelasnya.

Dalam sesi wawancara, Kepala Humas dan Protokol Universitas Malahayati, Emil Tanhar, S.Kom, juga turut memberikan statementnya mewakili institusi, menyampaikan bahwa kerja sama ini sejalan dengan visi Universitas Malahayati sebagai kampus yang aktif menjalin kemitraan strategis lintas sektor.

“Kolaborasi ini tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa dan institusi, tetapi juga mendukung upaya penguatan demokrasi dan partisipasi publik yang lebih luas. Kami berharap ke depan akan ada lebih banyak program konkret yang lahir dari kemitraan ini, seperti kuliah umum, pelatihan relawan demokrasi, hingga riset bersama,” paparnya.

Penandatanganan MoU dan MoA ini menandai awal dari sinergi yang lebih erat antara institusi pendidikan tinggi dan penyelenggara pemilu. Dengan semangat kolaboratif, Universitas Malahayati, Fakultas Hukum Universitas Malahayati dan KPU Kota Bandar Lampung berkomitmen untuk bersama-sama menciptakan generasi muda yang melek hukum, sadar demokrasi, dan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (gil)

Editor: Gilang Agusman

“Candikolo” (Saat Senja Mejadi Cermin)

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Senja itu tidak biasanya duduk di teras memandang ke arah matahari terbenam. Tampak semburat merah jingga. Dan, almarhumah Ibu dulu berkata “itulah namanya Candikolo”. Namun, sejatinya bagi masyarakat Jawa, candikolo bukan cuma soal langit merah di waktu senja. Ia adalah simbol, dan juga adalah pesan. Candikolo adalah momen hening yang diam-diam berbicara tentang hidup, batas, dan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu sebenarnya di dalam candikolo, kita tidak hanya melihat keindahan langit, tetapi kita dihadapkan pada diri kita sendiri.

Secara sederhana, candikolo adalah istilah Jawa, yang merujuk pada waktu senja, saat matahari mulai turun, langit mulai memerah, dan bayang-bayang malam mulai datang. Tapi bagi banyak orang tua zaman dulu, candikolo bukan sekadar waktu. Ia adalah waktu rawan; waktu di mana anak-anak harus segera masuk rumah. Waktu di mana “hal-hal yang tak terlihat” mulai berkeliaran.

Berdasarkan telusuran digital ditemukan informasi dalam bahasa Jawa, candikolo berasal dari kata “sandya kala”; yang berarti waktu peralihan, waktu antara siang dan malam. Dalam filsafat Timur, momen-momen seperti ini sering dipandang sebagai waktu sakral: ketika batas dunia manusia dan dunia gaib menjadi tipis. Namun kalau kita melihatnya dari sudut pandang filsafat manusia, candikolo justru mengajak kita merenung: apa arti menjadi manusia dalam waktu yang terus bergerak.

Filsuf Jerman, Martin Heidegger, pernah berkata bahwa manusia itu unik karena sadar akan kematiannya. Kita hidup, tetapi tahu bahwa suatu hari akan mati. Itulah yang membedakan kita dari makhluk lain. Candikolo, dengan langitnya yang merah dan suasananya yang syahdu, seperti alarm alam yang mengingatkan kita bahwa setiap terang pasti akan gelap. Hari yang panjang pasti berakhir. Hidup yang sibuk pasti menua. Di balik pemandangan yang indah, ada bisikan: “waktu kita terbatas”. Itulah sebabnya banyak orang merasa melankolis saat melihat senja. Tanpa sadar, kita sedang “bertemu” dengan ke-fanaan. Dan itu bukan sesuatu yang menakutkan, akan tetapi justru yang membuat hidup terasa berarti. Sebab saat senja tiba, dunia seperti melambat. Aktivitas mulai reda, cahaya meredup, dan suara menjadi lebih pelan. Dalam momen ini, manusia seolah diajak untuk berhenti sejenak.

Carl Jung, tokoh psikologi yang juga banyak bicara tentang makna-makna simbolik dalam budaya, percaya bahwa manusia butuh waktu untuk melihat “bayangan”-nya sendiri terutama bagian-bagian diri yang selama ini ditutupi rutinitas. Candikolo bisa menjadi waktu untuk kita merenung: Sudahkah aku hidup dengan jujur? Sudahkah aku menjadi manusia yang baik? Atau justru aku bersembunyi di balik cahaya?

Di banyak daerah di Indonesia, candikolo bukan hanya waktu reflektif. Ia juga penuh cerita. Ada yang bilang jangan bersiul di waktu senja. Jangan duduk di depan pintu saat candikolo. Jangan keluar rumah. Bahkan agama mengajarkan saat seperti ini untuk segera menutup pintu dan jendela, serta melarang anak-anak bermain di luar rumah; Karena diyakini, saat candikolo adalah saat “makhluk lain” berkeliaran.

Hal serupa ini bukan sekadar cerita kosong. Ia adalah bahasa simbolik untuk menyampaikan nilai. Dan nilai di balik candikolo adalah: kehati-hatian, kewaspadaan, dan kesadaran.
Candikolo itu “antara.” Bukan siang, bukan malam. Bukan terang, bukan gelap. Dalam filsafat, momen seperti ini disebut “liminal space”, yaitu ruang antara dua keadaan. Dan ruang seperti ini selalu menarik, karena disanalah identitas kita diuji. Fase ini disebut sebagai fase peralihan yang tidak nyaman, tapi justru membentuk kita menjadi lebih kuat. Filsafat manusia mengajarkan: dalam ketidakpastian itulah kita bertumbuh. Dalam candikolo-lah kita belajar tentang arah.

Hari ini, candikolo tak lagi disambut hening. Banyak dari kita justru melewatkan senja sambil scroll TikTok atau buru-buru pulang kerja. Senja kini sering tampil hanya sebagai latar belakang foto; bukan lagi sebagai ruang hening untuk merenung. Padahal, justru di zaman yang serba cepat ini, kita makin butuh candikolo. Bukan candikolo sebagai jam, tapi candikolo sebagai sikap hidup untuk berhenti sejenak. Untuk menyadari bahwa kita tak akan selalu muda, sehat, sibuk. Untuk menyadari bahwa diam juga bagian dari hidup. Jadi, jika suatu hari saat kita pulang di waktu senja, dan langit terlihat merah membara, coba berhentilah sejenak. Mungkin, di sana, kita akan bertemu dengan diri kita yang sebenarnya. Bahkan ada Guru Bijak berpesan “Guru sejatimu ada dalam dirimu, temuilah dia dalam hening. Maka dia akan mampu memberi pemahaman tentang rahasia Tuhanmu”. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Dosen Universitas Malahayati Berkontribusi dalam Buku Internasional Bergengsi, Kupas Tuntas Manfaat Eucalyptus camaldulensis untuk Kesehatan

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Kabar membanggakan datang dari dunia akademik Indonesia. Salah satu dosen terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Dwi Marlina Syukri, S.Si., M.BSc., PhD, mencatatkan prestasi internasional melalui kontribusinya dalam buku ilmiah bergengsi terbitan Springer Nature. Bersama rekannya, Dr. Sudarshan Singh, ia menulis sebuah chapter penting berjudul “Medicinal and Nutritional Importance of Eucalyptus camaldulensis in Human Health”.

Chapter ini termuat dalam buku Medicinal Plants and their Bioactive Compounds in Human Health: Volume 1, yang merupakan bagian dari seri Biomedical and Life Sciences dan disunting oleh Dr. Mohammad Azam Ansari, Dr. Shariq Shoaib, serta Dr. Naved Islam. Buku tersebut telah resmi diterbitkan pada 19 Oktober 2024 oleh Springer, Singapura, dan menjadi rujukan penting di bidang biomedis dan ilmu kesehatan.

Dalam tulisannya, Dwi Marlina dan tim membahas secara mendalam potensi tanaman Eucalyptus camaldulensis, spesies eucalyptus yang banyak ditemukan di wilayah tropis seperti Indonesia dan Australia. Penelitian ini menyoroti senyawa bioaktif yang terkandung dalam tanaman tersebut—termasuk flavonoid, tanin, dan minyak atsiri—yang memiliki sifat antiinflamasi, antibakteri, serta antioksidan. Potensi luar biasa ini membuka peluang besar untuk pengembangan obat herbal dan suplemen kesehatan berbasis bahan alam.

Kontribusi ilmiah ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam peta riset global, tetapi juga menjadi wujud nyata dari kolaborasi akademik lintas negara yang saling menguatkan dalam pencarian solusi kesehatan yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal. Dwi Marlina menyatakan bahwa keikutsertaannya dalam publikasi ini merupakan bagian dari komitmennya untuk mengangkat kekayaan hayati Indonesia ke panggung dunia ilmiah.

“Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat yang luar biasa. Melalui publikasi ini, kami ingin memperkenalkan potensi Eucalyptus camaldulensis sebagai bahan alami yang tidak hanya bermanfaat, tetapi juga aman dan relevan dengan kebutuhan kesehatan modern,” ujar Dwi Marlina.

Chapter ini telah tersedia secara daring dan dapat diakses melalui DOI resmi: https://doi.org/10.1007/978-981-97-6895-0_10

Informasi Buku:

Judul Buku: Medicinal Plants and their Bioactive Compounds in Human Health: Volume 1

Editor: M.A. Ansari, S. Shoaib, N. Islam

Chapter: Medicinal and Nutritional Importance of Eucalyptus camaldulensis in Human Health

Penulis Chapter: Dwi Marlina Syukri, Sudarshan Singh

Penerbit: Springer, Singapore

Tanggal Terbit: 19 Oktober 2024

ISBN Cetak: 978-981-97-6894-3

ISBN Online: 978-981-97-6895-0

Dengan pencapaian ini, Universitas Malahayati kembali menunjukkan peran aktifnya dalam dunia riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional. Semoga prestasi ini menginspirasi lebih banyak akademisi Indonesia untuk terus berkarya dan membawa harum nama bangsa di kancah global. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Secangkir Kopi Dini Hari

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Apakah karena kebanyakan tidur, atau susah tidur, malam kedua taun baru Hijriyah ini terbangun dini hari. Dan, karena mata tidak lagi mau dipejamkan, maka diputuskan untuk bangun dan merenung bersama secangkir kopi yang dibuat sendiri. Sambil menikmati antara pahit dan manisnya kopi, perjalanan angan dimulai sebagai refleksi, kontemplasi, sekaligus “mesu budi” (bahasa Jawa yang arti harfiahnya: mengendalikan diri secara fisik dan mental untuk menjaga kesehatan, budi pekerti, dan keseimbangan spiritual), kepada Yang Maha Tinggi. Karena itu adalah satu momen yang bagi penulis tetap sakral, tetap jujur, dan tetap manusiawi: “secangkir kopi di dini hari”.

Barangkali bagi sebagian orang, kopi dini hari hanyalah kebiasaan atau kebutuhan akan kafein. Tetapi bagi penulis itu lebih dari sekadar minuman; tetapi itu adalah ritual. Momen hening yang membuka ruang batin untuk berbicara dengan diri sendiri. Dalam sunyi yang tidak diisi oleh suara manusia lain atau tekanan sosial, secangkir kopi menjadi simbol kesadaran eksistensial. Ia adalah jeda di antara hari kemarin dan hari yang akan datang, disitulah saat kita bisa melihat ke dalam diri, melihat siapa kita di balik segala label, dan bertanya kembali kepada diri: apa arti menjadi manusia ini ?

Aliran filsafat eksistensial, terutama yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Søren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, hingga Jean-Paul Sartre, manusia adalah makhluk yang ditakdirkan untuk terus bertanya tentang makna dirinya. Kita hidup di dunia yang tidak menawarkan jawaban pasti, dan justru karena itulah kita bebas, namun sekaligus cemas. Eksistensi mendahului esensi, kata Sartre. Artinya, manusia tidak dilahirkan dengan makna bawaan; kita harus menciptakan makna itu sendiri melalui pilihan, tindakan, dan kesadaran akan keberadaan kita.

Kopi dini hari menjadi medium reflektif untuk menyadari kebebasan dan tanggung jawab pribadi. Tidak ada yang memaksa untuk bangun pukul dua dini hari untuk menjerang air. Tetapi saat kita memilih untuk melakukannya, memilih untuk hadir dalam ruang sunyi, dan mulai menyusun ulang serpihan-serpihan diri yang tercecer dalam keseharian. Di saat seperti ini, kita tidak sedang menjadi “seseorang” dalam arti ; bukan pekerja, bukan kakek dari cucu-cucu, bukan pasangan, bukan warga negara. Tetapi hanya manusia, yang hidup, yang merasa, dan yang berpikir. Persis seperti yang dikatakan oleh René Descartes, “Cogito, ergo sum”—“Aku berpikir, maka aku ada.” Didalam kesadaran akan pikiran sendiri-lah, keberadaan diri itu ditegaskan.

Kopi, bagi sebagian orang, adalah simbol produktivitas. Tapi dalam momen dini hari, kopi lebih menyerupai simbol kesementaraan. Ia hangat, aromatik, dan nikmat. Namun itu hanya sesaat. Dalam beberapa menit kemudian, panasnya memudar, aromanya hilang, dan cairan hitam itu tinggal endapan di dasar cangkir. Hal itu mengingatkan kita pada hidup yang juga sementara. Kita dilahirkan, berkembang, bersinar sebentar, lalu meredup kembali, dan bersiap untuk “kembali”.

Martin Heidegger, filsuf Jerman, menyebut manusia sebagai Dasein, makhluk yang “ada di dunia” dan menyadari bahwa suatu hari ia akan tiada. Kesadaran akan kematian bukan untuk ditakuti, melainkan menjadi motivasi untuk hidup lebih otentik. Setiap kali menyeruput kopi dalam hening, kita merasa sedang menjalani hidup secara sadar. Kita tidak hanya hidup karena harus, tapi karena kita memilih untuk hadir, dan untuk menikmati, untuk merenung, serta untuk merasakan. Karena pada dini hari menawarkan sesuatu yang tak bisa ditiru oleh waktu lain: kesunyian. Dunia masih tidur, jalanan masih kosong, dan suara yang tersisa hanyalah detak jam dan hembusan napas sendiri. Dalam sunyi itu, kita berhadapan langsung dengan realitas batin, dengan pertanyaan yang tak terjawab, dengan luka yang belum sembuh, dan harapan yang belum terucap.

Sayangnya, kebanyakan manusia modern takut pada sunyi. Kita sibuk mencari distraksi: media sosial, musik, notifikasi, obrolan ringan. Tapi dalam sunyi, kita bertemu dengan hal yang paling penting: kejujuran diri. Oleh sebab itu dalam filsafat manusia sangat menekankan pentingnya diam. Dalam diam, kita bisa melihat dunia sebagaimana adanya, tanpa bias, tanpa ego. Menyecap kopi dalam sunyi bukan berarti melarikan diri, tapi justru menghadapi kehidupan dengan penuh keberanian dan kesadaran.

Kebebasan, dalam pemikiran Sartre, bukanlah kenyamanan. Ia adalah beban, karena dengan kebebasan, datanglah tanggung jawab. Kita tidak bisa menyalahkan Tuhan, takdir, atau orang lain atas hidup yang kita jalani. Dalam konteks ini, bahkan memilih untuk bangun dan menyeduh kopi adalah bentuk kebebasan eksistensial. Kita tidak melakukannya karena diperintah, tapi karena saya memilih untuk hadir, untuk memaknai waktu saya sendiri.

Kopi dini hari juga bisa menjadi metafora dari pilihan hidup yang tidak umum. Ketika dunia memilih tidur, kita memilih terjaga. Ketika orang lain mengejar produktivitas sejak matahari terbit, kita mengejar kesadaran sejak fajar. Ini bukan soal menjadi berbeda, tapi soal menjadi sejati. Kebebasan manusia bukan hanya soal memilih karier atau pasangan hidup, tapi juga tentang bagaimana ia mengisi waktunya, juga termasuk waktu sunyi yang tidak dianggap penting oleh kebanyakan orang.

Kita tidak sedang mengkultuskan kopi. Tetapi percaya bahwa manusia membutuhkan simbol dan ritual kecil dalam keseharian agar tetap waras. Kita terlalu sering mengejar hal besar, seperti jabatan, gelar, proyek besar; sehingga lupa bahwa keindahan hidup terletak pada hal kecil yang dijalani dengan penuh makna. Dan secangkir kopi yang diseduh perlahan di tengah sunyi adalah salah satunya. Didalam dunia yang makin bising dan cepat, kita butuh lebih banyak ruang untuk hening. Kita butuh lebih banyak pagi yang lambat, kopi yang diseduh perlahan, dan waktu untuk berpikir tanpa distraksi. Bukan karena kita malas, tapi karena kita manusia. Dan menjadi manusia berarti bukan hanya bergerak dan bekerja, tapi juga merasa, bertanya, dan menemukan makna. Maka dari itu; menulis opini ini bukan untuk mengajak semua orang minum kopi pagi-pagi. Tetapi untuk mengajak kita semua berhenti sejenak. Untuk menepi dari kejaran waktu, dan mulai mendengarkan kembali suara hati yang mungkin sudah lama kita abaikan. Salam Waras. (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Menemukan Damai, Menyongsong Fajar

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Malam tahun baru Hijriah ini terbangun tengah malam. Mata sudah tidak mau lagi dipejamkan, entah apa penyebabnya. Dari pada tergolek ditempat tidur bagai bangkai bernyawa, lebih baik bangun berkontemplasi diri. Ditengah keheningan malam tahun baru itu terbersit rasa damai menyongsong fajar, bagai menyongsong kehidupan baru. Dalam kehidupan yang dipenuhi tuntutan, kompetisi, dan keramaian, manusia kerap kehilangan sesuatu yang mendasar: kedamaian. Banyak yang mengejar kekayaan, kekuasaan, atau popularitas, tetapi tetap merasa gelisah. Bahkan ketika usia merambat senja dan dunia mulai memudar, pertanyaan itu tetap datang. Diantara pertanyaan ituadalah; Apa makna semua ini? Ke mana kita menuju?. Tampaknya tanpa kita sadari semua mahluk itu berjalan menuju ufuk kehidupan dan menyongsong datangnya fajar kematian.

Dibantu oleh referensi digital dan konvensional ditemukan makna Menemukan Damai, Menyongsong Fajar; adalah merupakan renungan filosofis dan spiritual yang mengajak kita melihat kehidupan sebagai perjalanan. Dalam perjalanan itu, damai bukan ditemukan di akhir, tetapi dibangun sejak langkah pertama. Dan, fajar bukan sekadar simbol awal hari, melainkan kebangkitan menuju kehidupan yang lebih hakiki, yaitu kehidupan setelah dunia ini. Dari perspektif filsafat manusia dan sudut pandang ajaran Islam, kita akan menelusuri bagaimana manusia bisa menemukan kedamaian sejati, dan bagaimana ia dapat bersiap menyambut “fajar abadi”.

Dalam tradisi filsafat, manusia dikenal sebagai makhluk yang bertanya. Pertanyaan seperti “siapa aku?”, “untuk apa aku hidup?”, dan “apa yang terjadi setelah mati?” adalah bagian dari pencarian eksistensial. Filsuf eksistensialis seperti Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, yaitu makhluk yang sadar bahwa ia berada dalam waktu dan menuju kematian. Kematian, bagi Heidegger, bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan momen eksistensial yang paling jujur. Ia membangunkan manusia dari kehidupan yang “tertidur” dalam rutinitas, lalu menyodorkan pertanyaan besar, yaitu: Apakah kamu hidup dengan makna?

Damai, menurut pandangan filosofis, bukan keadaan tanpa gangguan, tapi kemampuan untuk hidup selaras dengan kebenaran diri. Dalam pemikiran Stoikisme, damai disebut ataraxia yaitu, “ketenangan batin yang datang dari menerima apa yang tak bisa diubah dan bertindak bijak atas yang bisa dikendalikan”. Oleh sebab itu, jika seseorang hidup dalam kepalsuan dengan mengikuti harapan orang lain, mengejar ambisi semu, maka jiwanya tidak pernah damai. Namun jika ia menerima keterbatasan, bersyukur atas apa yang dimiliki, dan berdamai dengan masa lalu, maka ia mulai merasakan kedamaian sebagai kondisi batin yang merdeka.

Oleh sebab itu tujuan dari perjalanan hidup dalam Islam adalah mencapai nafs muthmainnah, yakni jiwa yang damai dan tenteram karena telah bersatu dengan kehendak Ilahi. Dan, Inilah fajar abadi: kebangkitan dalam cinta dan ridha Allah, setelah hidup dijalani dengan jujur, ikhlas, dan penuh keimanan.

Di sini letak perbedaan dengan pendekatan materialis yang menganggap kematian sebagai akhir segalanya. Islam justru melihatnya sebagai awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Kematian adalah gerbang menuju alam barzakh dan kelak hari kebangkitan. Karena itu, orang yang bijak bukan yang takut mati, tapi yang mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Caranya dengan menabur amal sejak dini; dalam bentuk ilmu, kebaikan, dan cinta kasih kepada sesama mahluk, sehingga manusia dapat menanti fajar abadi dengan tenang. Ia tahu bahwa hidupnya telah berdampak, dan kematiannya bukan kehilangan, melainkan kepulangan. Oleh sebab itu kedamaian tidak bisa hadir dalam hati yang penuh dendam atau iri. Orang bijak mengatakan “Orang yang hidup dengan syukur dan memaafkan, akan mudah menemukan damai. Dan orang yang damai dalam hidup, akan lebih siap menghadapi kematian dengan senyum dan lapang dada”.

Meskipun filsafat manusia sekuler tidak selalu membicarakan akhirat, namun banyak tokohnya yang akhirnya percaya bahwa harapan adalah bagian penting dari hidup. Viktor Frankl, seorang psikolog dan filsuf, menulis: “Manusia bisa bertahan hidup dalam situasi paling berat, selama ia masih memiliki alasan untuk berharap.” Sedangkan Islam memberi harapan paling besar: “bahwa setelah malam yang panjang, akan ada fajar. Setelah hidup yang berat, akan ada keabadian dalam rahmat Allah”.

Kehidupan adalah perjalanan. Setiap kita berjalan dengan beban, luka, dan pertanyaan. Tapi jika selama hidup kita terus mencari makna, mencintai Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, maka kita telah menapaki jalan damai. Menemukan damai bukan berarti hidup tanpa tantangan. Ia berarti menerima setiap fase hidup, termasuk senja, sebagai bagian dari rencana ilahi. Dan menyongsong fajar bukan berarti takut pada kematian, tetapi menyambutnya dengan harapan, bahwa di seberang sana, ada cahaya yang lebih terang. “Kembalilah, wahai jiwa yang tenang. Masuklah ke dalam surga-Ku.”

Selamat Tahun Baru Hijriah, semoga dimudahkan semua urusan, dan dikabulkan semua doa. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman