Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa waktu lalu, melalui media digital, saya berdua dengan salah seorang jurnalis senior di negeri ini; berdiskusi hebat tentang bagaimana perkembangan digital, sampai tentang genetik kemiskinan yang sengaja ”ditanam” agar setiap saat ada; sehingga atas nama proyek kemanusiaan terus dianggarkan, terlepas anggaran itu sampai atau tidak.
Terakhir beliau mengemukakan, dengan merujuk pada “Republik Digital”; maka sempurnalah diskusi itu dengan meninggalkan sejumlah tanya; salah satu diantaranya adalah adanya “Republik Pengikut dan Penyuka”. Konsep republik di sini bukan yang konvensional dalam literatur, akan tetapi lebih kepada tatanan baru yang muncul akibat penggunaan media sosial yang masif.
Tulisan ini mencoba melihat dari sudut pandang filsafat, dengan harapan diskusi itu tidak berhenti dan terus berjalan bagai alir mengalir menuju lautan ilmu.
Berdasarkan studi digital ditemukan informasi bahwa; Plato menggambarkan manusia seperti tahanan dalam gua yang hanya melihat bayangan di dinding, dan menganggap bayangan itulah realitas. Analogi ini, yang dikenal sebagai “Allegory of the Cave”, menjadi titik berangkat yang relevan untuk menafsirkan zaman kita hari ini. Kita hidup dalam dunia digital yang penuh “bayangan”.
Media sosial membentuk dunia baru: Republik Digital yang didasarkan bukan pada pertukaran ide sejati, melainkan pada jumlah pengikut dan penyuka. Di dalamnya, manusia tidak lagi mencari kebenaran, tetapi pengakuan digital. Apa yang viral dianggap benar, yang populer, dianggap bernilai, dan itu menjadi sistem sosial baru dalam masyarakat manusia saat ini. Oleh sebab itu, apapun peristiwanya, jika ingin mendapat perhatian, maka harus di viralkan. Itu adalah algoritma berfikir baru yang hidup saat ini di alam ide manusia.
Dalam dunia media sosial, individu mengejar popularitas sebagai tujuan. Namun menurut Plato, pengejaran akan doxa (opini) tanpa episteme (pengetahuan sejati) adalah bentuk pembodohan. Platform digital menciptakan ilusi interaksi dan pengetahuan, padahal yang ada hanyalah refleksi dari refleksi: potret selfie, narasi buatan, dan persona yang dikurasi (dipilih dan diatur) algoritma.
Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, yaitu makhluk yang “ada di dunia” dan menyadari keberadaannya. Namun di dunia digital, Dasein menjadi Das-Man: manusia berupa massa yang tunduk pada opini umum. Kita mengikuti bukan karena berpikir, melainkan karena takut tertinggal. Budaya mengikuti tren, menyukai konten populer, menjadi bagian dari keramaian digital adalah bentuk keterasingan eksistensial. Heidegger menyebut ini sebagai bentuk kejatuhan dalam keberadaan yang tidak otentik (inauthentic being).
Jean Baudrillard berpendapat bahwa dalam masyarakat postmodern, tanda (simbol) telah menggantikan realitas. Di media sosial, yang penting bukan siapa Anda, akan tetapi bagaimana Anda tampil. Kita menyukai sesuatu bukan karena ia benar atau baik, tetapi karena ia tampil seolah-olah penting. Disini popularitas menjelma menjadi hiper-realitas. Dalam Republik Pengikut dan Penyuka ini, pengikut bukan lagi relasi sosial; ia adalah mata uang nilai. Penyuka bukan penilaian; ia adalah validasi eksistensial. Ini adalah dunia simulasi, bukan substansi.
Aristoteles mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai eudaimonia, yaitu kebahagiaan sejati yang diperoleh melalui kebajikan. Dalam budaya digital, manusia mengejar kebahagiaan yang ditentukan secara eksternal: jumlah pengikut, “like”, komentar positif. Apakah mengejar validasi eksternal ini membuat manusia lebih baik? Jawabannya, tidak. Karena yang lahir adalah kehidupan hedonis yang tidak berakar pada karakter dan kebajikan moral, melainkan pada pujian publik sesaat.
Kierkegaard mengingatkan akan bahaya massifikasi individu. Dalam masyarakat massa, individu tidak berani mengambil sikap. Ia larut dalam kerumunan. Di media sosial, keberanian moral digantikan dengan kalkulasi algoritma. Kita memposting apa yang “aman”, yang tidak kontroversial, atau yang sedang viral. Dan, Kierkegaard menyebut ini sebagai bentuk keputusasaan diam-diam, sebab individu kehilangan dirinya dalam apa yang disukai publik. Di tengah banjir konten, siapa saya yang sejati? menjadi pertanyaan yang tertelan oleh notifikasi.
Michel Foucault membahas bagaimana kekuasaan membentuk moral melalui wacana. Dalam Republik Pengikut dan Penyuka, algoritma menjadi bentuk baru kekuasaan yang tidak terlihat. Ia mengatur apa yang boleh dilihat, disukai, dan diikuti. Etika bukan lagi soal refleksi, tetapi soal norma algoritmis: apa yang sesuai tren, itulah yang baik. Ini melahirkan etika yang terkooptasi sistem teknologis. Moralitas menjadi kuasa “platform”, bukan kuasa hati nurani. Dan, konten Masjid Jogokariya adalah korban dari ini, bahkan ramai-ramai sumber media sosial yang berbasis algoritma mem-banned seolah-olah “keroyokan” model baru; dengan berlindung pada satu etika moral digital yang tidak terverifikasi.
Jean-Jacques Rousseau menyatakan bahwa demokrasi sejati lahir dari volonté générale, yaitu kehendak umum yang rasional. Akan tetapi dalam media sosial, yang tampil bukanlah kehendak umum, melainkan kehendak mayoritas algoritmik. Siapa yang punya buzzer, siapa yang bisa viral, dia yang seolah-olah “mewakili rakyat”. sejumlah pertanyaan yang menjadi pekerjaan rumah adalah: Apakah demokrasi digital masih demokratis, ketika kekuasaan opini dapat dibeli, dan distribusi informasi dikontrol oleh logika profit? Ini pekerjaan rumah baru bagi para ilmuwan sosial. Sebab, Republik Pengikut dan Penyuka mengaburkan batas antara warga dan penonton, antara aktor dan konsumen. Ruang publik digantikan oleh “timeline”, dan debat digantikan oleh komentar viral. Pertanyaan terakhir adalah; bagaimana kita mengubah Republik Pengikut dan Penyuka menjadi Republik Pemikir dan Pencari Kebenaran. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Menemukan Damai, Menyongsong Fajar
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Malam tahun baru Hijriah ini terbangun tengah malam. Mata sudah tidak mau lagi dipejamkan, entah apa penyebabnya. Dari pada tergolek ditempat tidur bagai bangkai bernyawa, lebih baik bangun berkontemplasi diri. Ditengah keheningan malam tahun baru itu terbersit rasa damai menyongsong fajar, bagai menyongsong kehidupan baru. Dalam kehidupan yang dipenuhi tuntutan, kompetisi, dan keramaian, manusia kerap kehilangan sesuatu yang mendasar: kedamaian. Banyak yang mengejar kekayaan, kekuasaan, atau popularitas, tetapi tetap merasa gelisah. Bahkan ketika usia merambat senja dan dunia mulai memudar, pertanyaan itu tetap datang. Diantara pertanyaan ituadalah; Apa makna semua ini? Ke mana kita menuju?. Tampaknya tanpa kita sadari semua mahluk itu berjalan menuju ufuk kehidupan dan menyongsong datangnya fajar kematian.
Dibantu oleh referensi digital dan konvensional ditemukan makna Menemukan Damai, Menyongsong Fajar; adalah merupakan renungan filosofis dan spiritual yang mengajak kita melihat kehidupan sebagai perjalanan. Dalam perjalanan itu, damai bukan ditemukan di akhir, tetapi dibangun sejak langkah pertama. Dan, fajar bukan sekadar simbol awal hari, melainkan kebangkitan menuju kehidupan yang lebih hakiki, yaitu kehidupan setelah dunia ini. Dari perspektif filsafat manusia dan sudut pandang ajaran Islam, kita akan menelusuri bagaimana manusia bisa menemukan kedamaian sejati, dan bagaimana ia dapat bersiap menyambut “fajar abadi”.
Dalam tradisi filsafat, manusia dikenal sebagai makhluk yang bertanya. Pertanyaan seperti “siapa aku?”, “untuk apa aku hidup?”, dan “apa yang terjadi setelah mati?” adalah bagian dari pencarian eksistensial. Filsuf eksistensialis seperti Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, yaitu makhluk yang sadar bahwa ia berada dalam waktu dan menuju kematian. Kematian, bagi Heidegger, bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan momen eksistensial yang paling jujur. Ia membangunkan manusia dari kehidupan yang “tertidur” dalam rutinitas, lalu menyodorkan pertanyaan besar, yaitu: Apakah kamu hidup dengan makna?
Damai, menurut pandangan filosofis, bukan keadaan tanpa gangguan, tapi kemampuan untuk hidup selaras dengan kebenaran diri. Dalam pemikiran Stoikisme, damai disebut ataraxia yaitu, “ketenangan batin yang datang dari menerima apa yang tak bisa diubah dan bertindak bijak atas yang bisa dikendalikan”. Oleh sebab itu, jika seseorang hidup dalam kepalsuan dengan mengikuti harapan orang lain, mengejar ambisi semu, maka jiwanya tidak pernah damai. Namun jika ia menerima keterbatasan, bersyukur atas apa yang dimiliki, dan berdamai dengan masa lalu, maka ia mulai merasakan kedamaian sebagai kondisi batin yang merdeka.
Oleh sebab itu tujuan dari perjalanan hidup dalam Islam adalah mencapai nafs muthmainnah, yakni jiwa yang damai dan tenteram karena telah bersatu dengan kehendak Ilahi. Dan, Inilah fajar abadi: kebangkitan dalam cinta dan ridha Allah, setelah hidup dijalani dengan jujur, ikhlas, dan penuh keimanan.
Di sini letak perbedaan dengan pendekatan materialis yang menganggap kematian sebagai akhir segalanya. Islam justru melihatnya sebagai awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Kematian adalah gerbang menuju alam barzakh dan kelak hari kebangkitan. Karena itu, orang yang bijak bukan yang takut mati, tapi yang mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Caranya dengan menabur amal sejak dini; dalam bentuk ilmu, kebaikan, dan cinta kasih kepada sesama mahluk, sehingga manusia dapat menanti fajar abadi dengan tenang. Ia tahu bahwa hidupnya telah berdampak, dan kematiannya bukan kehilangan, melainkan kepulangan. Oleh sebab itu kedamaian tidak bisa hadir dalam hati yang penuh dendam atau iri. Orang bijak mengatakan “Orang yang hidup dengan syukur dan memaafkan, akan mudah menemukan damai. Dan orang yang damai dalam hidup, akan lebih siap menghadapi kematian dengan senyum dan lapang dada”.
Meskipun filsafat manusia sekuler tidak selalu membicarakan akhirat, namun banyak tokohnya yang akhirnya percaya bahwa harapan adalah bagian penting dari hidup. Viktor Frankl, seorang psikolog dan filsuf, menulis: “Manusia bisa bertahan hidup dalam situasi paling berat, selama ia masih memiliki alasan untuk berharap.” Sedangkan Islam memberi harapan paling besar: “bahwa setelah malam yang panjang, akan ada fajar. Setelah hidup yang berat, akan ada keabadian dalam rahmat Allah”.
Kehidupan adalah perjalanan. Setiap kita berjalan dengan beban, luka, dan pertanyaan. Tapi jika selama hidup kita terus mencari makna, mencintai Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, maka kita telah menapaki jalan damai. Menemukan damai bukan berarti hidup tanpa tantangan. Ia berarti menerima setiap fase hidup, termasuk senja, sebagai bagian dari rencana ilahi. Dan menyongsong fajar bukan berarti takut pada kematian, tetapi menyambutnya dengan harapan, bahwa di seberang sana, ada cahaya yang lebih terang. “Kembalilah, wahai jiwa yang tenang. Masuklah ke dalam surga-Ku.”
Selamat Tahun Baru Hijriah, semoga dimudahkan semua urusan, dan dikabulkan semua doa. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Republik Pengikut dan Penyuka
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa waktu lalu, melalui media digital, saya berdua dengan salah seorang jurnalis senior di negeri ini; berdiskusi hebat tentang bagaimana perkembangan digital, sampai tentang genetik kemiskinan yang sengaja ”ditanam” agar setiap saat ada; sehingga atas nama proyek kemanusiaan terus dianggarkan, terlepas anggaran itu sampai atau tidak.
Terakhir beliau mengemukakan, dengan merujuk pada “Republik Digital”; maka sempurnalah diskusi itu dengan meninggalkan sejumlah tanya; salah satu diantaranya adalah adanya “Republik Pengikut dan Penyuka”. Konsep republik di sini bukan yang konvensional dalam literatur, akan tetapi lebih kepada tatanan baru yang muncul akibat penggunaan media sosial yang masif.
Tulisan ini mencoba melihat dari sudut pandang filsafat, dengan harapan diskusi itu tidak berhenti dan terus berjalan bagai alir mengalir menuju lautan ilmu.
Berdasarkan studi digital ditemukan informasi bahwa; Plato menggambarkan manusia seperti tahanan dalam gua yang hanya melihat bayangan di dinding, dan menganggap bayangan itulah realitas. Analogi ini, yang dikenal sebagai “Allegory of the Cave”, menjadi titik berangkat yang relevan untuk menafsirkan zaman kita hari ini. Kita hidup dalam dunia digital yang penuh “bayangan”.
Media sosial membentuk dunia baru: Republik Digital yang didasarkan bukan pada pertukaran ide sejati, melainkan pada jumlah pengikut dan penyuka. Di dalamnya, manusia tidak lagi mencari kebenaran, tetapi pengakuan digital. Apa yang viral dianggap benar, yang populer, dianggap bernilai, dan itu menjadi sistem sosial baru dalam masyarakat manusia saat ini. Oleh sebab itu, apapun peristiwanya, jika ingin mendapat perhatian, maka harus di viralkan. Itu adalah algoritma berfikir baru yang hidup saat ini di alam ide manusia.
Dalam dunia media sosial, individu mengejar popularitas sebagai tujuan. Namun menurut Plato, pengejaran akan doxa (opini) tanpa episteme (pengetahuan sejati) adalah bentuk pembodohan. Platform digital menciptakan ilusi interaksi dan pengetahuan, padahal yang ada hanyalah refleksi dari refleksi: potret selfie, narasi buatan, dan persona yang dikurasi (dipilih dan diatur) algoritma.
Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, yaitu makhluk yang “ada di dunia” dan menyadari keberadaannya. Namun di dunia digital, Dasein menjadi Das-Man: manusia berupa massa yang tunduk pada opini umum. Kita mengikuti bukan karena berpikir, melainkan karena takut tertinggal. Budaya mengikuti tren, menyukai konten populer, menjadi bagian dari keramaian digital adalah bentuk keterasingan eksistensial. Heidegger menyebut ini sebagai bentuk kejatuhan dalam keberadaan yang tidak otentik (inauthentic being).
Jean Baudrillard berpendapat bahwa dalam masyarakat postmodern, tanda (simbol) telah menggantikan realitas. Di media sosial, yang penting bukan siapa Anda, akan tetapi bagaimana Anda tampil. Kita menyukai sesuatu bukan karena ia benar atau baik, tetapi karena ia tampil seolah-olah penting. Disini popularitas menjelma menjadi hiper-realitas. Dalam Republik Pengikut dan Penyuka ini, pengikut bukan lagi relasi sosial; ia adalah mata uang nilai. Penyuka bukan penilaian; ia adalah validasi eksistensial. Ini adalah dunia simulasi, bukan substansi.
Aristoteles mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai eudaimonia, yaitu kebahagiaan sejati yang diperoleh melalui kebajikan. Dalam budaya digital, manusia mengejar kebahagiaan yang ditentukan secara eksternal: jumlah pengikut, “like”, komentar positif. Apakah mengejar validasi eksternal ini membuat manusia lebih baik? Jawabannya, tidak. Karena yang lahir adalah kehidupan hedonis yang tidak berakar pada karakter dan kebajikan moral, melainkan pada pujian publik sesaat.
Kierkegaard mengingatkan akan bahaya massifikasi individu. Dalam masyarakat massa, individu tidak berani mengambil sikap. Ia larut dalam kerumunan. Di media sosial, keberanian moral digantikan dengan kalkulasi algoritma. Kita memposting apa yang “aman”, yang tidak kontroversial, atau yang sedang viral. Dan, Kierkegaard menyebut ini sebagai bentuk keputusasaan diam-diam, sebab individu kehilangan dirinya dalam apa yang disukai publik. Di tengah banjir konten, siapa saya yang sejati? menjadi pertanyaan yang tertelan oleh notifikasi.
Michel Foucault membahas bagaimana kekuasaan membentuk moral melalui wacana. Dalam Republik Pengikut dan Penyuka, algoritma menjadi bentuk baru kekuasaan yang tidak terlihat. Ia mengatur apa yang boleh dilihat, disukai, dan diikuti. Etika bukan lagi soal refleksi, tetapi soal norma algoritmis: apa yang sesuai tren, itulah yang baik. Ini melahirkan etika yang terkooptasi sistem teknologis. Moralitas menjadi kuasa “platform”, bukan kuasa hati nurani. Dan, konten Masjid Jogokariya adalah korban dari ini, bahkan ramai-ramai sumber media sosial yang berbasis algoritma mem-banned seolah-olah “keroyokan” model baru; dengan berlindung pada satu etika moral digital yang tidak terverifikasi.
Jean-Jacques Rousseau menyatakan bahwa demokrasi sejati lahir dari volonté générale, yaitu kehendak umum yang rasional. Akan tetapi dalam media sosial, yang tampil bukanlah kehendak umum, melainkan kehendak mayoritas algoritmik. Siapa yang punya buzzer, siapa yang bisa viral, dia yang seolah-olah “mewakili rakyat”. sejumlah pertanyaan yang menjadi pekerjaan rumah adalah: Apakah demokrasi digital masih demokratis, ketika kekuasaan opini dapat dibeli, dan distribusi informasi dikontrol oleh logika profit? Ini pekerjaan rumah baru bagi para ilmuwan sosial. Sebab, Republik Pengikut dan Penyuka mengaburkan batas antara warga dan penonton, antara aktor dan konsumen. Ruang publik digantikan oleh “timeline”, dan debat digantikan oleh komentar viral. Pertanyaan terakhir adalah; bagaimana kita mengubah Republik Pengikut dan Penyuka menjadi Republik Pemikir dan Pencari Kebenaran. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Fakultas Hukum Universitas Malahayati dan Polda Lampung Gelar Audiensi Perjanjian Kerja Sama (MoA)
Kegiatan audiensi ini dihadiri langsung oleh Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, S.H., M.H, yang turut didampingi oleh dua dosen Fakultas Hukum. Kedatangan tim dari Universitas Malahayati disambut antusias oleh jajaran pejabat tinggi Polda Lampung, yaitu:
1. Karo SDM Polda Lampung, Kombes Pol Adi Ferdian Saputra, S.I.K., M.H.
2. Dir Intelkam Polda Lampung, Kombes Pol Efrizal, S.I.K., M.M.
3. Dir Krimum Polda Lampung, Kombes Pol Pahala Simanjuntak, S.I.K.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas berbagai peluang kerja sama yang menguntungkan, terutama dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sejalan dengan amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa MoA ini merupakan wujud nyata dari sinergi antara dunia akademik dan institusi penegak hukum.
“Kerja sama ini menjadi pintu pembuka bagi mahasiswa Fakultas Hukum untuk bisa langsung belajar dari dunia praktis. Salah satu bentuk implementasi MoA ini adalah program magang mahasiswa di Polda Lampung. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap praktik hukum di lapangan serta membangun karakter dan integritas sebagai calon profesional di bidang hukum,” ujar Aditia.
Lebih lanjut, kerja sama ini juga akan mencakup kolaborasi dalam kegiatan seminar, pelatihan hukum, penyuluhan hukum kepada masyarakat, dan riset hukum yang relevan dengan kebutuhan dan tantangan aktual di tengah masyarakat.
Pihak Polda Lampung menyambut baik inisiatif dari Universitas Malahayati ini. Kombes Pol Efrizal, S.I.K., M.M menyampaikan bahwa Polda Lampung siap mendukung program-program yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia, khususnya di kalangan mahasiswa hukum.
“Kami sangat terbuka untuk menjadi mitra strategis bagi dunia pendidikan. Melalui kerja sama ini, kami berharap dapat berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang cerdas, tangguh, dan berintegritas tinggi di bidang hukum,” ucapnya.
Dengan terlaksananya audiensi dan penandatanganan MoA ini, Fakultas Hukum Universitas Malahayati menegaskan komitmennya dalam menciptakan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja melalui pengalaman langsung di institusi strategis seperti Kepolisian Daerah Lampung.
Kerja sama ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi jangka panjang yang produktif, demi menciptakan sistem hukum yang lebih baik melalui kontribusi nyata dari kalangan akademik dan institusi penegak hukum. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Pendaftaran Mahasiswa Baru Universitas Malahayati Tahun 2025 Resmi Dibuka!
Dengan lingkungan kampus yang asri, fasilitas modern, tenaga pengajar profesional, dan berbagai program studi unggulan, Universitas Malahayati siap menjadi tempat terbaik bagi kamu yang ingin berkembang secara akademik maupun non-akademik.
Jalur Pendaftaran yang Tersedia:
1. Jalur Nilai Rapor
2. Jalur Reguler
3. Jalur Pindahan/Konversi
4. Jalur RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau)
Kenapa Harus di Universitas Malahayati?
• Lingkungan kampus yang hijau, nyaman, dan mendukung proses belajar.
• Beragam program studi terakreditasi dan sesuai kebutuhan dunia kerja.
• Kesempatan magang dan kerja sama dengan institusi nasional maupun internasional.
• Fasilitas lengkap: laboratorium modern, rumah sakit pendidikan, perpustakaan digital, serta asrama mahasiswa.
Segera Daftar, Kuota Terbatas!
Jangan lewatkan kesempatan emas ini! Pendaftaran sudah dibuka dan kuota terbatas.
Untuk informasi lengkap dan proses pendaftaran, kamu bisa langsung menghubungi:
Bpk. Nizar Arifin – 0813-6945-7605
Atau scan QR Code yang tersedia pada brosur resmi Universitas Malahayati.
Prodi Psikologi FIK Universitas Malahayati Gelar Monev Akademik dan Kinerja Tri Dharma
Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati kembali melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) pada 26 Juni 2025 sebagai bagian dari komitmen prodi dalam menjaga dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan. Kegiatan monev ini dipimpin oleh auditor internal, Dr. M. Arifki Zainaro, M.Kep, serta dihadiri oleh Ketua Program Studi, dosen, dan tim penjaminan mutu.
Dalam pelaksanaannya, auditor melakukan peninjauan menyeluruh terhadap pelaksanaan pembelajaran, termasuk kelengkapan RPS, keterbaruan materi kuliah, serta kesesuaian antara proses belajar dengan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Selain itu, prodi juga mempresentasikan perkembangan penelitian dosen, capaian pengabdian kepada masyarakat, dan laporan mengenai kerja sama program studi dengan institusi dan mitra eksternal.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi, tetapi juga ruang refleksi bagi prodi untuk mengidentifikasi tantangan dan merumuskan strategi penguatan kinerja. Hasil monev diharapkan mampu meningkatkan efektivitas manajemen akademik serta mendorong Prodi Psikologi untuk terus berinovasi dalam bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Melalui pelaksanaan monev pertengahan tahun ini, Prodi Psikologi FIK Universitas Malahayati menegaskan komitmennya untuk menjaga konsistensi mutu, meningkatkan produktivitas akademik, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat serta dunia pendidikan.
Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Laksanakan Pengabdian Masyarakat di MAN 1 Pringsewu, Angkat Isu Pernikahan Dini pada Remaja
Kegiatan yang berlangsung di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pringsewu ini mengusung tema yang sangat relevan: “Pengetahuan dan Sikap Anak Remaja terhadap Pernikahan Dini”. Bertempat di aula utama madrasah, penyuluhan diikuti oleh puluhan siswa kelas XI dan XII yang antusias mengikuti rangkaian acara hingga selesai.
“Kami ingin para remaja dapat berpikir lebih kritis dan bijak sebelum membuat keputusan besar dalam hidupnya. Salah satunya adalah soal pernikahan. Pernikahan dini bukan hanya soal usia, tetapi juga kesiapan mental, ekonomi, dan sosial,” ungkap Dr. Wayan.
Dalam penyampaiannya, Dr. Wayan juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data terbaru, sebanyak 11,1% remaja di Indonesia masih belum memiliki pemahaman yang cukup mengenai pernikahan dini, dan tren pernikahan di bawah usia 18 tahun masih cukup tinggi.
Ia menambahkan bahwa mudahnya akses terhadap media sosial dan internet turut menjadi faktor pendorong tingginya risiko pernikahan dini, karena remaja terpapar berbagai konten yang belum tentu sesuai dengan usia dan tingkat kematangan mereka.
“Internet kini sudah masuk hingga ke pelosok desa. Ini baik dari sisi edukasi dan literasi, tapi juga berisiko jika tidak diimbangi dengan bimbingan dan pengawasan. Pemerintah bahkan sudah meminta pembatasan akses terhadap konten pornografi karena efeknya yang sangat berbahaya bagi remaja,” tegasnya.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari riset mahasiswa yang akan dipublikasikan di jurnal ilmiah Universitas Malahayati sebagai bentuk kontribusi akademik dalam mengatasi permasalahan kesehatan masyarakat.
Sementara itu, Kepala MAN 1 Pringsewu, Fathul Bahri, S.Pd., M.Pd.I, memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada tim dari Universitas Malahayati. Ia menilai kegiatan semacam ini sangat dibutuhkan oleh siswa untuk membuka wawasan dan memperkuat nilai-nilai kehidupan sejak usia dini.
“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya penyuluhan ini. Topik yang diangkat sangat kontekstual dengan kondisi sosial saat ini. Semoga melalui materi ini, siswa-siswi MAN 1 Pringsewu bisa lebih memahami pentingnya menunda pernikahan hingga usia yang matang, demi masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dapat terus terjalin, khususnya dalam memberikan edukasi yang menyentuh langsung kebutuhan dan persoalan remaja masa kini. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati Umumkan Jadwal dan Ketentuan Pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) Genap Tahun Akademik 2024/2025
Syarat Wajib Mengikuti UAS:
Untuk dapat mengikuti UAS, mahasiswa diwajibkan memenuhi beberapa persyaratan administratif sebagai berikut:
1. Pelunasan SPP Genap TA 2024/2025 hingga bulan Juni 2025.
Mahasiswa wajib memastikan bahwa seluruh kewajiban pembayaran SPP telah diselesaikan hingga bulan Juni agar dapat mengikuti ujian.
2. Pembayaran Biaya UAS Genap sebesar Rp50.000
Biaya UAS ini berlaku untuk mahasiswa reguler dan harus dibayarkan melalui Loket Keuangan Rektorat Lantai 5 mulai 23 Juni sampai 04 Juli 2025.
Pembayaran harus dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh bagian keuangan.
Sementara itu, mahasiswa konversi dapat langsung melakukan konfirmasi pembayaran ke Loket Keuangan Rektorat.
3. Wajib Membawa Dokumen Saat Ujian:
• Slip Pembayaran UAS
• SK KIP (bagi penerima Kartu Indonesia Pintar)
• SK Beasiswa (jika menerima beasiswa tertentu)
Seluruh dokumen tersebut wajib dibawa dan ditunjukkan pada saat pelaksanaan ujian.
Pelayanan Pembayaran dan Jam Operasional Loket Keuangan
Untuk mendukung kelancaran proses administrasi, pelayanan di Loket Keuangan (1–4) Rektorat Lantai 5 dilakukan pada:
• Hari Senin – Jumat: Pukul 08.30 – 15.00 WIB
• Waktu Istirahat:
• Senin – Kamis: 12.00 – 13.00 WIB
• Jumat: 11.30 – 13.30 WIB
Mahasiswa diharapkan tidak menunda pembayaran dan mengikuti jadwal pembayaran Kartu Ujian sesuai ketentuan agar tidak mengganggu proses akademik.
Pihak universitas menegaskan pentingnya kedisiplinan mahasiswa dalam menyelesaikan kewajiban administrasi sebagai bagian dari tanggung jawab akademik. Mahasiswa diimbau untuk:
• Membayar tepat waktu
• Menyimpan dengan baik bukti pembayaran
• Membawa dokumen yang diperlukan saat ujian
Ketertiban dan kepatuhan terhadap jadwal yang ditentukan akan mendukung pelaksanaan UAS yang tertib, lancar, dan sukses bagi seluruh sivitas akademika.
Universitas Malahayati mencetak lulusan yang unggul, profesional, dan berintegritas. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Tinta Sudah Kering, Kerta Sudah Tiada, Liptop Tergadai Pula
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Pagi itu ikut mengantri di salah satu pusat layanan kendaraan, daerahnya di perbatasan kota, tepi jalan utama. Baru saja duduk ada kiriman masuk lewat piranti dalam saku, ternyata kiriman dari sahabat di Indonesia Timur; setelah dibuka-mata terbelalak–karena mengirimkan potongan berita yang mewartakan adanya pejabat negara konoha diduga korupsi sebesar 220 triliun rupiah. Tidak terbayang berapa jumlah angka nol dibelakannya. Negeri ini memang unik. Kalau kita bicara soal birokrasi dan korupsi, jangan harap kita akan menemukan cerita-cerita biasa. Kita seperti menonton sinetron dengan episode tanpa akhir, di mana setiap babaknya selalu lebih dahsyat dari yang sebelumnya.
Bisa dibayangkan berapa banyak tandatangan dibubuhkan untuk menyetujui agar uang sebesar itu keluar, dan sipenandatangan tidak benar-benar membaca isi; yang penting sudah “beres”; setelah amplop lewat tangan kanan. Tidak peduli apakah tinta yang untuk digunakan tandatangan sudah kering, yang penting tetap menghasilkan yang “basah”.
Bukan hanya tinta yang kering, kertas pun katanya sudah habis. tetapi, kertas habis di sini bukan berarti mereka tidak punya bahan untuk menulis, melainkan mereka tidak peduli akan isi tulisan. Di banyak kantor, laporan hanya dicetak untuk memenuhi kewajiban administratif. Soal apakah laporannya benar itu urusan belakangan. Asal ada tanda tangan dan cap basah, sudah cukup. Yang penting kan laporan sudah “dicetak”, entah isinya bohong atau tidak.
Liptop yang tergadai adalah gambaran dari pejabat yang sudah kehilangan harga diri. Tapi jangan salah, harga diri itu bisa dijual dengan harga mahal; kalau yang membeli memang punya uang lebih. Liptop bukan cuma tas kerja, tapi simbol martabat. Ketika liptop sudah tergadai, itu artinya pegawai terpaksa menjual martabat mereka demi sesuap nasi dan segenggam berlian. Bayangkan hutan lindung disertifikat, itu jelas oleh pejabat; dan bukan oleh rakyat.
Korupsi sudah seperti napas di negeri ini. Tanpa korupsi, mungkin sebagian orang akan bingung mau ngapain. Karena korupsi seolah-olah sudah jadi bagian dari kebiasaan, budaya, bahkan “tradisi” yang diwariskan. Dan, korupsi bukan hanya soal uang, tetapi juga soal waktu, tenaga, dan harapan yang dicuri; bagaimana tidak jika artikel ilmiah-pun ditukangi yang berujung dengan “mengambil” uang negara dengan cantik. Kita semua tahu pejabat suka bilang, “Kita sedang berjuang melawan korupsi.” Tapi kenyataannya, “berjuang” itu biasanya berarti berjuang cari cara supaya korupsi tetap jalan dengan tertib, rapi, dan tidak ketahuan. Uang ketok palu, uang sukses, uang pengaman; semua itu adalah bahasa rahasia yang dipakai untuk menyamarkan transaksi “resmi” dalam proyek-proyek yang dijadikan sasaran korupsi.
Bayangkan saja: sebuah proyek bisa “jalan” bukan karena kualitas dan kebutuhan, tapi karena sudah ada “uang sukses” yang diberikan. Kalau tidak, siap-siap proyek mandek dan pekerjaan jadi berantakan. Lebih runyam lagi jika kepentingan politik masuk pada wilayah ini; sekelas pejabat tinggi negara dengan seenaknya mengatakan “uangnya sudah dibagi, dan disaksikan oleh anaknya”. Seolah-olah adagium “yang bayar paling mahal, dapat kontrak. Yang tidak bayar proyeknya mangkrak”, ada benarnya.
Korupsi memang mengalir deras ke kantong segelintir orang, tetapi yang menanggung beban adalah jutaan orang. Kalau ditanya, “Apa yang bisa kita lakukan?” jawabannya memang sulit, tapi tidak mustahil. Paling tidak kita bisa memulai dari hal kecil: jangan ikut-ikutan menerima suap, jangan diam saat melihat penyimpangan, dan dukung mereka yang berani bersuara.
Negeri ini masih punya harapan; tetapi harapan itu tidak datang dari tinta yang kering, kertas yang habis, atau liptop yang tergadai. Harapan itu datang dari kita semua yang masih punya nyali dan hati nurani. Persoalannya apakah masih ada keberanian untuk menyatakan sikap hati nurani. Tentu jawabannya tidak sesederhana membalikkan telapak tangan. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Kuliah Pakar Prodi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, Soroti Peran Strategis Sensus dan Survei
Kegiatan ini diselenggarakan pada Jumat, 20 Juni 2025, sebagai bentuk integrasi antara mata kuliah Demografi Kesehatan dan Ilmu Kependudukan, serta menjadi sarana penguatan pemahaman mahasiswa tentang pentingnya data statistik dalam kebijakan kesehatan masyarakat.
Kuliah pakar ini dibuka secara resmi oleh Khoidar Amirus, SKM., M.Kes, selaku Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menanamkan budaya berpikir berbasis data di kalangan mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan masa depan.
“Era saat ini menuntut kita tidak hanya pintar bicara, tapi juga cakap membaca dan menganalisis data. Dengan begitu, kita bisa menghasilkan kebijakan atau intervensi yang benar-benar berdampak nyata,” ujar Khoidar.
“Evidence-based policy making hanya bisa dilakukan jika kita memiliki data yang valid, berkualitas, dan tepat waktu. Oleh karena itu, literasi statistik menjadi hal yang sangat penting, apalagi di tengah fenomena demografi seperti ageing population di Provinsi Lampung, di mana sejak 2022, 1 dari 10 penduduk merupakan lansia,” ungkapnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk lebih akrab dengan data dan statistik, serta berani berpikir kritis terhadap informasi yang mereka temui. “Pendidikan tinggi harus mampu melahirkan generasi muda yang melek data dan mampu menjadikannya dasar dalam pengambilan keputusan yang bijak dan berdampak,” tambahnya.
“Kegiatan ini sangat luar biasa dan bermanfaat. Kami bisa belajar langsung dari praktisi yang memang ahli di bidangnya. Ilmu yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi dunia kesehatan saat ini,” ujarnya.
Sementara itu, Okta Zafika, mahasiswi angkatan 2024, turut aktif dalam sesi tanya jawab dengan menanyakan strategi BPS dalam meningkatkan keterlibatan generasi muda (Gen Z) terhadap literasi statistik.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Erni Hanifah menjelaskan bahwa BPS telah membentuk Pojok Statistik atau dikenal juga dengan nama “Pojok Cantik” di berbagai perguruan tinggi, sebagai pusat informasi dan layanan statistik yang ramah mahasiswa.
Tak ketinggalan, Muhammad Putra Pratama, mahasiswa angkatan 2023, juga mengungkapkan apresiasinya terhadap acara ini.
“Luar biasa. Bisa bertemu dan belajar langsung dari praktisi yang sudah lebih dari dua dekade berkecimpung di dunia statistik adalah pengalaman berharga. Semoga ilmu yang kami dapatkan bisa diterapkan dalam tugas akademik maupun riset kami ke depan,” ujarnya penuh semangat.
Ketua pelaksana kegiatan, Zakiy Arya Prayoga, menyampaikan bahwa kuliah pakar ini bertujuan memberikan manfaat nyata dalam memperluas wawasan mahasiswa terkait pentingnya data dalam pembangunan kesehatan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga menjadi inspirasi dan bekal berharga untuk pengembangan akademik dan profesional mahasiswa di masa depan,” pungkasnya.
Melalui kuliah pakar ini, Universitas Malahayati terus menunjukkan komitmennya dalam membekali mahasiswa dengan ilmu yang aplikatif, relevan, dan mampu menjawab tantangan zaman—khususnya dalam dunia kesehatan masyarakat yang semakin berbasis data dan teknologi. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Akuntansi Universitas Malahayati Raih Juara Harapan 3 Baca Puisi di NAC 2025
Kompetisi NAC 2025 menjadi panggung bergengsi bagi mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia untuk menunjukkan bakat dan kemampuan seni mereka, termasuk dalam bidang baca puisi. Meskipun berasal dari jurusan yang tidak berfokus pada seni pertunjukan, Yoga membuktikan bahwa semangat dan kecintaan terhadap sastra mampu mengantarkannya menembus persaingan yang ketat dan meraih posisi terbaik.
Dalam wawancara singkat, Yoga mengungkapkan bahwa hasil yang didapatkan kali ini sebenarnya belum sepenuhnya memuaskan. Ia merasa ada ketidaksesuaian dalam proses penilaian oleh dewan juri dan panitia.
“Sejujurnya saya cukup kecewa dengan hasil yang diperoleh karena saya merasa juri dan panitia tidak cukup transparan. Tapi dari sisi positifnya, ini menjadi bahan evaluasi dan penyemangat bagi saya untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan membaca puisi,” ujar Yoga.
Ia juga menyatakan tekadnya untuk kembali tampil lebih maksimal di ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) tahun depan, dan membawa nama Universitas Malahayati lebih tinggi lagi di kancah seni mahasiswa.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Malahayati tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga aktif dan berprestasi dalam kegiatan seni dan budaya. Universitas pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Yoga atas semangat dan perjuangannya.
Selamat kepada Yoga Maryanto! Terus berkarya, terus berpuisi, dan jadilah inspirasi bagi generasi muda kampus dalam mengembangkan potensi diri di berbagai bidang. (gil)
Editor: Gilang Agusman