Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
MEMBACA berita awal tahun 2026 pada media ini yang digawangi oleh Herman Batin Mangku (HBM) memunculkan banyak pertanyaan di kepala: Pemprov Lampung ingin ngutang Rp1 triliun buat bangun jalan dan Pemkot Bandarlampung lengserkan pejabat yang baru setahun definitif. What is it? Uji kito, ado apo Wak?
Pertanyaan ini muncul di banyak benak masyarakat daerah ini. Menjelang tutup kantor di suatu lembaga resmi pemerintahan, dua pegawai begesah, yang ringkasannya sebagai berikut:
Ujang: “Eh, Din, kau denger dak kabar dari lantai atas kemaren?”
Udin: “Kabar apo lagi, Jang? Rasanyo tiap minggu ado bae yang bikin kening bekerut.”
Ujang: “Itu soal rencana proyek lanjutan. Katonyo danonyo dari utangan lagi.”
Udin: “Halah… utangan lagi, utangan lagi. Kito ni wong bawah cuma bisa ngitung sisa kertas di laci.”
Ujang: “Iyo nian. Di rapat kito disuruh setuju bae. Dak usah banyak tanyo.”
Udin: “Kalo ado yang nyinggung dikit soal risiko, langsung dipandang cak salah ngomong.”
Ujang: “Aku kemaren nyebut anggaran rutin makin cekak, langsung diajak pindah topik.”
Udin: “Itu tandonyo, Jang. Artinyo, ‘cukup tau bae, jangan mikir jauh’.”
Ujang: “Padahal kito ni yang tiap hari ngadep masyarakat. Kito tau betul keluhannyo.”
Udin: “Yo nia. Pelayanan dipercepat di kertas, tapi di lapangan serbo terbatas.”
Ujang: “Yang aku heran, baliho proyek besaaak nian, tapi ATK bae disuruh irit.”
Udin: “Hahaha, itulah seni bertahan. Yang penting kejingokan hebat.”
Ujang: “Tapi hutang itu dak ilang, Din. Siapo yang nanggung kagek?”
Udin: “Bukan dio lagi. Pengganti, rakyat, mungkin jugo anak cucu kito.”
Ujang: “Kadang aku ngeraso kito ni dak punyo suara.”
Udin: “Suara ado, tapi volumenyo dikecik ke.”
Ujang: “Sedih yo, Din. Negeri kito sebenernyo biso maju kalo mikirnyo panjang.”
Udin: “Iyo. Tapi selagi kito di sini, kito kerjo jujur bae. Biar hati tenang.”
Ujang:“Bener. Selebihnyo, waktu yang bakal jawab.”
Ungkapan nak mbangun ngutang, idak senang tendang kini makin sering terdengar saat obrolan warung kopi di pinggir sungai sampai ke ruang diskusi kampus. Kalimat ini bukan sekadar guyonan wong kito, tapi sudah jadi kritik sosial yang pedas nian.
Di zaman kini, banyak pemimpin di negeri ini yang pikirannya sempit, muter di situ-situ bae: bagaimana caronya mbangun cepat, tapi duitnyo idak dari keringat sendiri, melainkan dari utangan. Soal bayar belakangan, itu urusan wong lain, pengganti nanti.
Asal kini nampak megah, proyek berdiri, foto terpajang, urusan selesai. Model kepemimpinan cak ini sebenarnyo idak baru, tapi di kondisi kekinian, gejalonyo makin jelas. Di tengah ekonomi yang belum stabil, beban hidup masyarakat makin berat, pemimpin malah ringan tangan ngutang.
Alasannya klise: demi pembangunan, demi percepatan, demi kepentingan rakyat. Tapi rakyat jugo yang akhirnya nanggung akibatnyo. Utang itu bukan hilang, tapi diwariskan. Anak cucu wong kito nanti yang bakal nyicilnyo pelan-pelan, lewat pajak, lewat potongan, lewat pelayanan publik yang makin diketatkan.
Yang lebih miris, kalau ado pejabat atau pihak yang ngingetin soal risiko, soal kehati-hatian, malah dianggap pengganggu. Bukannya didengar, malah “ditendang”. Ditendang bukan selalu berarti fisik, tapi bisa dalam bentuk disingkirkan, dilabeli pembangkang, atau dibuat idak punyo ruang bersuara.
Budaya kritik jadi mati. Padahal dalam pemerintahan yang sehat, kritik itu vitamin, bukan racun. Tapi bagi pemimpin yang pikirannya sudah dikunci ambisi, kritik itu dianggap ancaman.
Di sudut pandang kekinian, kondisi ini bahayo nian. Dunia sekarang menuntut transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Masyarakat sudah makin melek informasi. Media sosial jadi ruang terbuka, data bisa dicari, kebijakan bisa dipantau.
Tapi sayang, sebagian pemimpin masih pakai cara pikir lama: asal proyek jalan, asal laporan rapi, asal atasan senang. Rakyat dianggap penonton, bukan pemilik negeri.
Utang sebenarnyo idak haram. Dalam kondisi tertentu, utang bisa jadi alat bantu. Tapi masalahnyo, utang dijadikan jalan pintas, bukan pilihan terakhir. Idak ado upaya maksimal ngatur anggaran, ngurangin kebocoran, atau ningkatkan pendapatan daerah dengan cara kreatif.
Yang ado malah kebiasaan gali lubang tutup lubang. Tahun ini utang, tahun depan nambah lagi. Akhirnyo, ruang fiskal makin sempit, dan kebijakan publik jadi kaku.
Sikap “idak senang tendang” jugo nunjukkan mentalitas feodal yang belum lepas. Pemimpin merasa paling benar, paling tau, paling berkuasa. Padahal jabatan itu amanah, bukan singgasana. Dalam budaya wong Palembang, sejatinyo pemimpin itu “tue rumah”, yang tugasnyo ngemong, bukan ngusir tamu. Kalau ado yang ngingetin, harusnyo disambut, bukan ditolak.
Di zaman kini, tantangan pembangunan itu kompleks. Bukan cuma bangun gedung, jalan, atau jembatan. Tapi bangun kepercayaan, bangun kualitas hidup, bangun sistem yang adil. Semua itu idak bisa dicapai dengan utang doang, apolagi kalau utangnyo idak dikelola dengan jujur dan cerdas.
Pembangunan sejati itu mungkin idak selalu megah di mata, tapi terasa manfaatnyo di perut rakyat. Masyarakat jugo punyo peran. Jangan cuma ngeluh di belakang, tapi diam di depan. Kesadaran politik harus tumbuh. Pilihan hari ini menentukan beban esok hari.
Kalau terus milih pemimpin yang gemar ngutang dan anti kritik, jangan kaget kalau hidup makin sempit. Wong kito harus berani nuntut akal sehat, nuntut transparansi, nuntut keberanian berkata tidak pada kebijakan yang merugikan.
Ungkapan tadi akhirnya jadi cermin. “Nak mbangun ngutang, idak senang tendang” bukan sekadar sindiran, tapi peringatan. Kalau pola ini dibiarkan, negeri ini akan terus jalan di tempat, bahkan mundur. Sudah waktunyo cara pikir itu diubah.
Membangun jangan cuma mikir hari ini, tapi jugo mikir esok. Memimpin jangan cuma mau dipuji, tapi jugo siap dikritik. Kalau idak, sejarah akan mencatat, bukan sebagai pembangun, tapi sebagai pewaris masalah.
Editor: Fadly KR
Rahasia Pembelajaran Efektif Matematika dan Sains Dibongkar di Universitas Malahayati
BandarLampung (malahayati.ac.id): International Professors Summit yang diselenggarakan Universitas Malahayati dalam rangka Dies Natalis ke-32 kembali menghadirkan pemateri internasional. Salah satu materi disampaikan oleh Professor Ts. Dr. Mohd Rashid bin Abd Hamid dari Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMP), pakar di bidang Applied Mathematics, pada Rabu (7/1/2026) di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati.
Dalam presentasinya yang berjudul “Multiple Intelligences: Transforming Statistical, Mathematics and Sciences Knowledge into Real World Breakthroughs”, Prof. Rashid memaparkan pentingnya penerapan Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) yang dikemukakan oleh Howard Gardner dalam dunia pendidikan, khususnya pada bidang matematika, statistika, dan sains.
Ia menjelaskan bahwa kecerdasan tidak bersifat tunggal, melainkan multidimensi. Teori tersebut mencakup kecerdasan linguistik, logis-matematis, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, hingga naturalis. Menurutnya, pemahaman terhadap ragam kecerdasan ini menjadi kunci dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan inklusif.
Prof. Rashid menekankan bahwa setiap peserta didik memiliki potensi dan gaya belajar yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran yang selaras dengan kecerdasan dominan peserta didik akan membantu mereka memahami konsep-konsep sains dan matematika secara lebih mendalam dan aplikatif.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa penerapan teori multiple intelligences mampu menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan dunia nyata. Melalui pendekatan ini, pembelajaran matematika dan sains tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga diarahkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta pemecahan masalah kontekstual.
“Penerapan teori multiple intelligences dalam pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas pendidikan dan membantu mentransformasikan pengetahuan matematika, statistika, dan sains menjadi solusi nyata bagi permasalahan di dunia nyata,” tegas Prof. Rashid.
Pemaparan tersebut mendapat perhatian luas dari peserta karena menawarkan perspektif inovatif dalam pengembangan pendidikan matematika dan sains. Melalui International Professors Summit, Universitas Malahayati terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi pendidikan berbasis riset dan praktik pembelajaran inovatif guna menjawab tantangan pendidikan di era global.(fkr)
Editor: Fadly KR
Bisakah Matematika Memprediksi Ledakan Penduduk? Ini Jawabannya di International Professors Summit
BandarLampung (malahayati.ac.id): International Professors Summit yang diselenggarakan Universitas Malahayati dalam rangka Dies Natalis ke-32 menghadirkan sejumlah profesor nasional dan internasional untuk membahas isu strategis di bidang matematika dan sains terapan. Salah satu materi disampaikan oleh Prof. Dr. Syamsuddin Toaha dari Universitas Hasanuddin dengan topik Pemodelan Matematika dalam Dinamika Populasi.
Dalam paparannya, Prof. Syamsuddin menjelaskan bahwa pemodelan matematika memiliki peran penting dalam memahami dan menganalisis dinamika populasi melalui pendekatan persamaan diferensial. Ia menguraikan dua model pertumbuhan populasi yang umum digunakan, yakni model Malthus (eksponensial) dan Verhulst (logistik). Menurutnya, model eksponensial efektif digunakan untuk memprediksi pertumbuhan populasi dalam jangka pendek, namun memiliki keterbatasan ketika diterapkan pada jangka panjang karena tidak mempertimbangkan faktor pembatas lingkungan.
Lebih lanjut, Prof. Syamsuddin memaparkan tahapan dalam pemodelan matematika, mulai dari formulasi masalah, penetapan asumsi, penyelesaian model, hingga proses validasi menggunakan data populasi nyata. Salah satu contoh yang disampaikan adalah penerapan model logistik pada data populasi Republik Rakyat Cina, yang menunjukkan hasil prediksi lebih akurat karena mempertimbangkan daya dukung lingkungan.
Ia menegaskan bahwa pemilihan model matematika harus disesuaikan dengan kondisi nyata agar hasil analisis dan prediksi dapat dimanfaatkan secara optimal. “Pemodelan matematika merupakan alat penting dalam menganalisis dan memprediksi dinamika populasi. Oleh karena itu, pemilihan model yang tepat sangat diperlukan agar hasil kajian dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan yang ilmiah dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Pemaparan ini mendapat perhatian peserta karena menunjukkan kontribusi nyata matematika terapan dalam menjawab persoalan kependudukan dan perencanaan pembangunan. Melalui forum International Professors Summit, Universitas Malahayati terus mendorong diskusi akademik lintas disiplin dan negara sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan dan riset berdaya saing global.(fkr)
Editor: Fadly KR
Pertemuan Yang Tak Pernah Selesai
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Pesantren satu ini agak berbeda dari yang lain. Biasanya pesantren didirikan di lereng gunung, atau perbukitan yang agak jauh dari pemukiman, tetapi pesantren ini justru dibangun di tepi laut lepas, tempatnya ada di derah yang cukup tinggi, sehingga seakan-akan menjadi pagar laut. Pemandangannya sangat indah di senja hari, dan sangat menakjubkan di pagi hari. Sore itu selepas ashar ada percakapan kecil antara Kiai dengan seorang Santri, di beranda yang ditingkahi hembusan angin laut sepoi-sepoi, dan diselingi deburan ombak; ringkas percakapan itu sebagai berikut:
“Guru,” kata seorang santri muda tadi, ketika langit mulai merunduk dan laut di kejauhan tampak seperti halaman kitab yang belum selesai dibaca. “Mengapa cakrawala selalu terlihat seperti tempat pertemuan yang kita tak akan pernah bisa gapai?”
Sang kiai menatap ke arah horison yang memudar, seakan sedang membaca sesuatu yang tak tertulis. “Karena ada hal-hal tertentu, Nak, yang diciptakan bukan untuk digapai, tetapi untuk dihayati. Cakrawala itu seperti janji yang tidak pernah selesai diucapkan.”
“Akan tetapi mengapa ia terasa begitu dekat sekaligus jauh, Guru?” tanya sang santri, suaranya ragu, seakan takut mengganggu kesunyian yang turun perlahan bersama angin dari laut. Kiai tersenyum tipis. “Begitulah hidup. Kita sering berdiri di antara dua dunia: yang kita pahami dan yang tak pernah benar-benar kita mengerti. Langit dan laut tampak bersentuhan, padahal mereka tidak. Namun manusia merasa damai saat melihatnya, seolah ada kesepakatan diam antara ketakterhinggaan di atas dan kedalaman di bawah.”
Santri itu mengangguk pelan, namun matanya masih terpaku pada garis semu yang kini hampir hilang. “Jadi, apa yang sebenarnya kita cari di sana, Guru?”. “Kita mencari diri kita sendiri,” jawab sang Kiai lirih, “Di tempat yang hanya bisa kita kunjungi lewat perenungan.”
Santri menundukkan kepala dalam-dalam seraya berkata; “Guru, jika berkenan, saya ingin sekali mendengar tausiyah tentang ini semua dari Guru, maaf Guru atas kelancangan saya”. Kiai tersenyum tipis seraya berkata “Baiklah muridku”:
Garis cakrawala yang tampak tegas itu sesungguhnya hanyalah ilusi: perbatasan yang diciptakan oleh jarak, oleh persepsi, oleh keinginan kita untuk menamai segala yang bergerak dan berubah. Namun justru pada ilusi itulah sering tersimpan kebenaran yang paling melankolis; bahwa segala yang kita kira pasti, sesungguhnya rapuh; bahwa segala yang tampak menyatu, sebenarnya hanya saling mendekat tanpa pernah benar-benar bersentuhan.
Di tempat inilah manusia sering membiarkan pikirannya berkelana. Memandang laut berarti memandang kedalaman yang tidak memiliki pusat; memandang langit berarti memandang keluasan yang tidak memiliki batas. Ketika keduanya tampak saling menyapa, kita sebenarnya sedang menyaksikan dialog antara dua ketakterhinggaan. Dan di tengah dialog itu, manusia berdiri sebagai saksi yang rapuh, yang keberadaannya hanya sekejap dibandingkan dengan rentang waktu yang dilalui ombak.
Ada keheningan tertentu yang hanya dapat lahir di tepi laut saat senja. Keheningan yang bukan berarti tidak ada suara, melainkan suara yang membaur begitu halus hingga tidak dapat dipisahkan. Debur ombak yang teratur, angin yang membawa aroma asin, serta cahaya jingga yang perlahan memudar menjadi abu-abu; semuanya berubah menjadi komposisi yang menenangkan sekaligus mencemaskan. Seolah alam sedang berbicara, namun dalam bahasa yang terlalu tua untuk dapat dimengerti, terlalu luas untuk dapat ditangkap oleh kata-kata.
Dalam keheningan semacam itu, manusia sering merasa kecil. Bukan kecil dalam arti tidak penting, tetapi kecil seperti titik yang menyadari dirinya bukan pusat dari apa pun. Laut mengajarkan bahwa kedalaman tidak memerlukan penjelasan; langit mengajarkan bahwa keluasan tidak membutuhkan alasan untuk tetap terbuka. Dan manusia di antaranya belajar bahwa hidup tidak selalu menawarkan kepastian, melainkan kemungkinan-kemungkinan untuk hanyut, untuk tenggelam, untuk terbang, atau bahkan untuk tetap terdiam di batas antara keberanian dan ketakutan.
Cakrawala menjadi metafora bagi batas-batas batin yang terus bergerak. Seperti garis yang terlihat jelas tetapi tak pernah dapat digapai, banyak hal dalam hidup tetap berada di kejauhan meskipun kita menghabiskan seluruh energi untuk mendekatinya. Kita mengejar ketenangan, tetapi ia bergeser setiap kali kita merasa hampir menyentuhnya. Kita mencari makna, tetapi ia sering kali menampakkan diri justru ketika kita berhenti memaksanya hadir. Seperti langit dan laut yang tak pernah menyatu, manusia dan harapannya sering saling mendekat tanpa benar-benar bertemu.
Namun di sanalah letak keindahannya. Ketidakpastian melahirkan kerinduan; kerinduan melahirkan gerak; dan gerak adalah bukti bahwa kita masih hidup.
Ada kesedihan samar yang muncul dari kesadaran bahwa apa pun yang kita cintai pada akhirnya akan berubah. Tetapi justru karena itulah cinta dapat terasa begitu mendalam. Melihat langit berubah warna dan laut berubah suasana mengingatkan kita bahwa segala yang sementara memiliki tempat khusus di hati: bukan karena ia kekal, tetapi karena ia menghilang.
Ketika malam mulai turun, cakrawala menghilang, dan batas antara langit dan laut larut ke dalam kegelapan. Kita tidak lagi dapat membedakan mana yang di atas dan mana yang di bawah; mana yang melindungi dan mana yang menelan. Pada saat itu, manusia belajar bahwa kejelasan bukanlah satu-satunya bentuk kebenaran. Ada kebenaran yang justru hadir lewat ketidakjelasan kebenaran; bahwa hidup bukanlah peta yang sudah lengkap, melainkan perjalanan yang membiarkan kita tersesat untuk sesaat agar dapat menemukan arah yang lebih jujur.
Di tempat langit dan laut saling menyapa itulah manusia memahami dirinya: makhluk yang dibentuk oleh jarak, disatukan oleh kerinduan, dan dijaga oleh kesadaran bahwa segala yang paling berarti justru berasal dari hal-hal yang tidak dapat digenggam sepenuhnya. Dan dalam kesadaran itulah melankoli menemukan rumahnya; senyap, dalam, namun penuh cahaya yang perlahan menyelinap di antara gelombang. Dan, itulah sejatinya kehidupan, tidak ada yang abadi, yang ada hanya kesementaraan. “Semoga kau paham nak atas kefanaan ini, karena bisa jadi wajah semanis senja memberi luka sedalam samudra ” tutup Kiai dalam tauziahnya. Salam Waras (SJ)
Editor: Fadly KR
Malahayati Yearfest 2026 Hadirkan Kompetisi SMA/MA/SMK, Pameran Prodi, dan UMKM
BandarLampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan kreativitas generasi muda melalui penyelenggaraan Malahayati Yearfest Competition 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32 dan akan berlangsung pada 19–23 Januari 2026 di lingkungan Universitas Malahayati.
Malahayati Yearfest Competition 2026 dirancang sebagai ajang perlombaan bergengsi bagi pelajar SMA/MA/SMK se-Provinsi Lampung, yang memberikan ruang bagi peserta untuk menampilkan bakat, kreativitas, serta kemampuan komunikasi dan seni. Selain berkompetisi, peserta juga berkesempatan mengenal lebih dekat dunia perkuliahan dan lingkungan akademik Universitas Malahayati.
Adapun cabang lomba yang dipertandingkan dalam Malahayati Yearfest Competition 2026 meliputi:
Selain kompetisi lomba, rangkaian kegiatan Malahayati Yearfest 2026 juga dimeriahkan dengan:
Seluruh rangkaian kegiatan ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi, edukasi, dan inspirasi bagi pelajar serta masyarakat umum.
Yang menjadi daya tarik utama Malahayati Yearfest Competition 2026 adalah hadiah istimewa berupa beasiswa pendidikan hingga 100 persen di Universitas Malahayati bagi para pemenang lomba. Beasiswa ini merupakan bentuk apresiasi atas prestasi peserta sekaligus wujud nyata komitmen Universitas Malahayati dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda yang berprestasi dan berpotensi.
Melalui kegiatan ini, Universitas Malahayati berharap dapat melahirkan generasi muda yang kreatif, percaya diri, inovatif, dan berdaya saing, serta memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan masyarakat.
Informasi lengkap mengenai pendaftaran, ketentuan lomba, persyaratan peserta, jadwal pelaksanaan, serta mekanisme penilaian dapat diakses dengan memindai QR Code yang tersedia pada flayer resmi kegiatan. Panitia juga membuka layanan informasi melalui contact person Nurliyani, M.Kes di nomor +62 822-8295-9113.
Dengan cabang lomba yang variatif serta hadiah beasiswa 100 persen, Malahayati Yearfest Competition 2026 diharapkan menjadi salah satu ajang kompetisi pelajar paling diminati dan bergengsi di Provinsi Lampung.(fkr)
Editor: Fadly KR
Usai International Professors Summit, Universitas Malahayati Hadirkan Profesor Internasional ke 3 Sekolah Unggulan Di Bandar Lampung
Bandar Lampung (malahayati.ac.id) — Setelah sukses menyelenggarakan International Professors Summit pada 7 Januari 2026 dengan tema “The National Numeracy Crisis: The Strategic Role of Mathematics Educators from Schools to Universities”, Universitas Malahayati melanjutkan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-32 melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Professors Go to School” pada Kamis, 8 Januari 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak di tiga sekolah menengah atas di Kota Bandar Lampung, yakni SMAN 5 Bandar Lampung, SMAN 2 Bandar Lampung, dan SMAN 9 Bandar Lampung. Program ini menjadi wujud nyata komitmen Universitas Malahayati dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat di bidang pendidikan, sekaligus memperluas dampak International Professors Summit hingga ke tingkat sekolah.
Melalui kegiatan Professors Go to School, Universitas Malahayati menghadirkan para profesor dan pakar nasional maupun internasional di bidang matematika, statistika, optimasi, analisis numerik, dan sains terapan untuk memberikan sesi inspiratif dan edukatif kepada siswa. Materi yang disampaikan berfokus pada penguatan numerasi, motivasi belajar, serta pemahaman bahwa matematika memiliki peran penting dan aplikatif dalam kehidupan nyata.
Di SMA Negeri 5 Bandar Lampung, kegiatan diikuti oleh para siswa dengan menghadirkan profesor dari dalam dan luar negeri, di antaranya Prof. Norsarahaida Amin dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Johor di bidang Medical Mathematics serta Prof. Mohd Rashid Abd Hamid dari Universiti Malaysia Pahang (UMP) di bidang Applied Mathematics. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor II Universitas Malahayati, Nirwanto, S.Pd., M.Kes, sebagai bentuk dukungan pimpinan universitas terhadap penguatan literasi numerasi di tingkat sekolah. Sesi berlangsung secara interaktif melalui diskusi dan tanya jawab yang mendorong siswa lebih percaya diri dalam memahami dan mengaplikasikan matematika.
Sementara itu, di SMA Negeri 2 Bandar Lampung, kegiatan ini menghadirkan para profesor dari dalam dan luar negeri, yaitu Prof. Norsarahaida Amin dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Johor yang membahas Medical Mathematics, Prof. Sudradjat Supian dari Universitas Padjadjaran (UNPAD), serta Prof. Syamsuddin Toaha dari Universitas Hasanuddin di bidang Applied Mathematics. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes, dan Wakil Rektor III Universitas Malahayati, Dr. Eng Rina Febrina, S.T., M.T., sebagai bentuk komitmen pimpinan universitas dalam mendukung penguatan literasi numerasi di tingkat pendidikan menengah. Para narasumber menekankan pentingnya literasi numerasi, statistika, dan matematika terapan sebagai fondasi utama dalam menghadapi tantangan global serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Adapun di SMAN 9 Bandar Lampung, para siswa mendapatkan materi dari Prof. Ismail Bin Mohd dari Universiti Malaysia Terengganu (UMT) di bidang Global Optimization, Prof. Noribah Md Arifin dari Universiti Putra Malaysia (UPM) di bidang Numerical Method, serta Prof. Jumat Bin Sulaiman dari Universiti Malaysia Sabah (UMS) di bidang Numerical Analysis.
Kegiatan ini turut didampingi oleh Dwi Marlina Syukri, S.Si., M.BSc., PhD, serta dihadiri oleh Wakil Rektor IV Universitas Malahayati, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes, sebagai bentuk dukungan institusi terhadap penguatan literasi numerasi di lingkungan sekolah menengah. Para profesor menekankan bahwa matematika tidak hanya berkutat pada rumus, tetapi juga menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, pengembangan teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan dari pihak sekolah serta perwakilan pimpinan Universitas Malahayati. Selanjutnya, sesi inspiratif dan edukatif profesor berlangsung selama lebih dari satu jam, dilanjutkan dengan diskusi interaktif, refleksi, serta penyampaian pesan kunci tentang pentingnya numerasi bagi generasi muda.
Para siswa terlihat antusias mengikuti kegiatan, aktif bertanya, dan terlibat dalam diskusi. Selain menambah pemahaman konsep matematika, kegiatan ini juga memberikan motivasi kepada siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi serta membuka wawasan tentang peluang studi dan kolaborasi internasional.
Sebagai penutup, dilakukan penyerahan cenderamata dari Universitas Malahayati kepada pihak sekolah sebagai simbol kerja sama dan apresiasi, serta sesi foto bersama antara profesor, guru, panitia, dan siswa.
Melalui kegiatan Professors Go to School, Universitas Malahayati menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik di tingkat universitas, tetapi juga aktif berkontribusi langsung dalam peningkatan kualitas pendidikan di sekolah. Kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi agenda rutin dalam mendukung penguatan literasi dan numerasi generasi muda Indonesia.(fkr)
Editor: Fadly KR
Bagaimana Model Matematika Membantu Dokter Mendeteksi Penyakit Jantung?
Bandar Lampung (malahayati.ac.id) — International Professors Summit yang diselenggarakan Universitas Malahayati dalam rangka Dies Natalis ke-32 kembali menghadirkan pemateri internasional dengan kepakaran lintas disiplin. Salah satu materi disampaikan oleh Prof. Norsarahaida Amin dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Johor, yang membahas peran medical mathematics dalam mendukung inovasi klinis, khususnya pada penilaian risiko Penyakit Jantung Koroner (Coronary Artery Disease/CAD).
Dalam paparannya, Prof. Norsarahaida menjelaskan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi secara global. Kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan baru yang lebih akurat, aman, dan efisien dalam proses diagnosis dan penilaian risiko penyakit jantung, mengingat metode konvensional memiliki keterbatasan, terutama karena bersifat invasif dan berisiko bagi pasien.
Ia memaparkan pengembangan kerangka matematis terintegrasi yang mengombinasikan pemodelan berbasis fisika menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD) dengan analitik data dan statistik. Pendekatan ini digunakan untuk menghitung Fractional Flow Reserve (FFR) secara non-invasif, sehingga mampu memberikan gambaran kondisi aliran darah koroner dengan tingkat presisi yang lebih tinggi.
Menurut Prof. Norsarahaida, pendekatan hibrida yang menggabungkan model matematika berbasis fisika dengan metode data-driven memungkinkan prediksi risiko CAD yang lebih personal dan akurat. Hal ini diharapkan dapat membantu tenaga medis dalam pengambilan keputusan klinis secara lebih efektif, sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi pasien.
“Integrasi matematika, teknologi, dan ilmu medis merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan kesehatan modern. Melalui pendekatan ini, deteksi dini dan penilaian risiko penyakit jantung dapat dilakukan secara lebih aman, presisi, dan berkelanjutan,” jelasnya.
Pemaparan tersebut mendapat perhatian besar dari peserta karena menunjukkan kontribusi nyata matematika terapan dalam dunia kesehatan dan kedokteran. Materi ini juga membuka peluang kolaborasi lintas disiplin antara akademisi matematika, peneliti teknologi, dan praktisi medis dalam mengembangkan inovasi layanan kesehatan berbasis sains.
Melalui International Professors Summit, Universitas Malahayati terus mendorong penguatan riset interdisipliner dan kolaborasi internasional sebagai bagian dari komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, serta kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pelayanan kesehatan di tingkat global.(fkr)
Editor: Fadly KR
Matematika sebagai Fondasi AI, Prof. Noribah Md Arifin Sampaikan Gagasan di International Professor Summit
BandarLampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menggelar forum ilmiah berskala internasional melalui kegiatan International Professors Summit yang diselenggarakan pada Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati. Kegiatan ini mengusung tema “National Numeracy Crisis: The Strategic Role of Mathematics Education, from School to Higher Education.”
Forum ini menjadi ruang akademik strategis untuk membahas peran pendidikan matematika dalam menjawab tantangan krisis numerasi nasional, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. International Professors Summit menghadirkan para profesor dan akademisi nasional maupun internasional untuk berbagi gagasan, riset, serta solusi berbasis keilmuan.
Salah satu materi disampaikan oleh Prof. Ismail Bin Mohd – Universiti Malaysia Terengganu (UMT), Global Optimization, melalui makalah pidato pengukuhan berjudul “Kesayutan yang Tidak Tercapai, Mengembara di Kelajuan Cahaya.” Dalam paparannya, Prof. Ismail mengkaji secara mendalam keterbatasan pendekatan numerik dan komputasi dalam matematika, khususnya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang bersifat kompleks dan mengandung ketidakpastian.
Ia menjelaskan berbagai konsep matematika seperti selang, graf, kecerunan, pencarian akar, hingga metode Newton, yang selama ini banyak digunakan dalam komputasi numerik. Namun demikian, menurutnya tidak semua solusi matematika dapat dicapai secara eksak melalui perhitungan komputer. Keterbatasan tersebut menjadi tantangan serius dalam penerapan matematika terapan di berbagai bidang.
Lebih lanjut, Prof. Ismail memperkenalkan pengembangan aritmetik selang (interval arithmetic) sebagai pendekatan alternatif untuk mengendalikan ketidakpastian dan galat perhitungan. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan batasan yang lebih aman terhadap kesalahan numerik serta menjamin keberadaan solusi dalam rentang tertentu, meskipun solusi eksak tidak dapat dicapai secara langsung.
Dalam pernyataannya, Prof. Ismail menegaskan bahwa kesadaran terhadap keterbatasan komputasi merupakan hal yang sangat penting dalam matematika terapan.
“Aritmetik selang menawarkan pendekatan yang lebih realistis dan aman dalam menyelesaikan persoalan numerik yang kompleks, sekaligus mendekatkan kita pada solusi yang sebenarnya,” ujarnya.
Pemaparan tersebut mendapat perhatian besar dari peserta karena relevansinya dengan pengembangan pendidikan matematika dan penerapannya dalam dunia nyata. Melalui International Professors Summit, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya untuk terus mendorong diskusi akademik berkualitas serta berkontribusi aktif dalam upaya peningkatan literasi dan numerasi nasional melalui pendekatan ilmiah yang inovatif dan berkelanjutan.(fkr)
Editor: Fadly KR
Nak Ngebangun Ngutang, Dak Senang Tendang
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
MEMBACA berita awal tahun 2026 pada media ini yang digawangi oleh Herman Batin Mangku (HBM) memunculkan banyak pertanyaan di kepala: Pemprov Lampung ingin ngutang Rp1 triliun buat bangun jalan dan Pemkot Bandarlampung lengserkan pejabat yang baru setahun definitif. What is it? Uji kito, ado apo Wak?
Pertanyaan ini muncul di banyak benak masyarakat daerah ini. Menjelang tutup kantor di suatu lembaga resmi pemerintahan, dua pegawai begesah, yang ringkasannya sebagai berikut:
Ujang: “Eh, Din, kau denger dak kabar dari lantai atas kemaren?”
Udin: “Kabar apo lagi, Jang? Rasanyo tiap minggu ado bae yang bikin kening bekerut.”
Ujang: “Itu soal rencana proyek lanjutan. Katonyo danonyo dari utangan lagi.”
Udin: “Halah… utangan lagi, utangan lagi. Kito ni wong bawah cuma bisa ngitung sisa kertas di laci.”
Ujang: “Iyo nian. Di rapat kito disuruh setuju bae. Dak usah banyak tanyo.”
Udin: “Kalo ado yang nyinggung dikit soal risiko, langsung dipandang cak salah ngomong.”
Ujang: “Aku kemaren nyebut anggaran rutin makin cekak, langsung diajak pindah topik.”
Udin: “Itu tandonyo, Jang. Artinyo, ‘cukup tau bae, jangan mikir jauh’.”
Ujang: “Padahal kito ni yang tiap hari ngadep masyarakat. Kito tau betul keluhannyo.”
Udin: “Yo nia. Pelayanan dipercepat di kertas, tapi di lapangan serbo terbatas.”
Ujang: “Yang aku heran, baliho proyek besaaak nian, tapi ATK bae disuruh irit.”
Udin: “Hahaha, itulah seni bertahan. Yang penting kejingokan hebat.”
Ujang: “Tapi hutang itu dak ilang, Din. Siapo yang nanggung kagek?”
Udin: “Bukan dio lagi. Pengganti, rakyat, mungkin jugo anak cucu kito.”
Ujang: “Kadang aku ngeraso kito ni dak punyo suara.”
Udin: “Suara ado, tapi volumenyo dikecik ke.”
Ujang: “Sedih yo, Din. Negeri kito sebenernyo biso maju kalo mikirnyo panjang.”
Udin: “Iyo. Tapi selagi kito di sini, kito kerjo jujur bae. Biar hati tenang.”
Ujang:“Bener. Selebihnyo, waktu yang bakal jawab.”
Ungkapan nak mbangun ngutang, idak senang tendang kini makin sering terdengar saat obrolan warung kopi di pinggir sungai sampai ke ruang diskusi kampus. Kalimat ini bukan sekadar guyonan wong kito, tapi sudah jadi kritik sosial yang pedas nian.
Di zaman kini, banyak pemimpin di negeri ini yang pikirannya sempit, muter di situ-situ bae: bagaimana caronya mbangun cepat, tapi duitnyo idak dari keringat sendiri, melainkan dari utangan. Soal bayar belakangan, itu urusan wong lain, pengganti nanti.
Asal kini nampak megah, proyek berdiri, foto terpajang, urusan selesai. Model kepemimpinan cak ini sebenarnyo idak baru, tapi di kondisi kekinian, gejalonyo makin jelas. Di tengah ekonomi yang belum stabil, beban hidup masyarakat makin berat, pemimpin malah ringan tangan ngutang.
Alasannya klise: demi pembangunan, demi percepatan, demi kepentingan rakyat. Tapi rakyat jugo yang akhirnya nanggung akibatnyo. Utang itu bukan hilang, tapi diwariskan. Anak cucu wong kito nanti yang bakal nyicilnyo pelan-pelan, lewat pajak, lewat potongan, lewat pelayanan publik yang makin diketatkan.
Yang lebih miris, kalau ado pejabat atau pihak yang ngingetin soal risiko, soal kehati-hatian, malah dianggap pengganggu. Bukannya didengar, malah “ditendang”. Ditendang bukan selalu berarti fisik, tapi bisa dalam bentuk disingkirkan, dilabeli pembangkang, atau dibuat idak punyo ruang bersuara.
Budaya kritik jadi mati. Padahal dalam pemerintahan yang sehat, kritik itu vitamin, bukan racun. Tapi bagi pemimpin yang pikirannya sudah dikunci ambisi, kritik itu dianggap ancaman.
Di sudut pandang kekinian, kondisi ini bahayo nian. Dunia sekarang menuntut transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Masyarakat sudah makin melek informasi. Media sosial jadi ruang terbuka, data bisa dicari, kebijakan bisa dipantau.
Tapi sayang, sebagian pemimpin masih pakai cara pikir lama: asal proyek jalan, asal laporan rapi, asal atasan senang. Rakyat dianggap penonton, bukan pemilik negeri.
Utang sebenarnyo idak haram. Dalam kondisi tertentu, utang bisa jadi alat bantu. Tapi masalahnyo, utang dijadikan jalan pintas, bukan pilihan terakhir. Idak ado upaya maksimal ngatur anggaran, ngurangin kebocoran, atau ningkatkan pendapatan daerah dengan cara kreatif.
Yang ado malah kebiasaan gali lubang tutup lubang. Tahun ini utang, tahun depan nambah lagi. Akhirnyo, ruang fiskal makin sempit, dan kebijakan publik jadi kaku.
Sikap “idak senang tendang” jugo nunjukkan mentalitas feodal yang belum lepas. Pemimpin merasa paling benar, paling tau, paling berkuasa. Padahal jabatan itu amanah, bukan singgasana. Dalam budaya wong Palembang, sejatinyo pemimpin itu “tue rumah”, yang tugasnyo ngemong, bukan ngusir tamu. Kalau ado yang ngingetin, harusnyo disambut, bukan ditolak.
Di zaman kini, tantangan pembangunan itu kompleks. Bukan cuma bangun gedung, jalan, atau jembatan. Tapi bangun kepercayaan, bangun kualitas hidup, bangun sistem yang adil. Semua itu idak bisa dicapai dengan utang doang, apolagi kalau utangnyo idak dikelola dengan jujur dan cerdas.
Pembangunan sejati itu mungkin idak selalu megah di mata, tapi terasa manfaatnyo di perut rakyat. Masyarakat jugo punyo peran. Jangan cuma ngeluh di belakang, tapi diam di depan. Kesadaran politik harus tumbuh. Pilihan hari ini menentukan beban esok hari.
Kalau terus milih pemimpin yang gemar ngutang dan anti kritik, jangan kaget kalau hidup makin sempit. Wong kito harus berani nuntut akal sehat, nuntut transparansi, nuntut keberanian berkata tidak pada kebijakan yang merugikan.
Ungkapan tadi akhirnya jadi cermin. “Nak mbangun ngutang, idak senang tendang” bukan sekadar sindiran, tapi peringatan. Kalau pola ini dibiarkan, negeri ini akan terus jalan di tempat, bahkan mundur. Sudah waktunyo cara pikir itu diubah.
Membangun jangan cuma mikir hari ini, tapi jugo mikir esok. Memimpin jangan cuma mau dipuji, tapi jugo siap dikritik. Kalau idak, sejarah akan mencatat, bukan sebagai pembangun, tapi sebagai pewaris masalah.
Editor: Fadly KR
UNMAL Perkuat Karakter Religius Mahasiswa melalui Workshop PPAI Green Dormitory
BandarLampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati (UNMAL) melalui Program Pembinaan Agama Islam (PPAI) Green Dormitory sukses menyelenggarakan Workshop PPAI sekaligus pendistribusian sertifikat pada Selasa, 6 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen Universitas Malahayati dalam memperkuat fondasi moral, etika, dan karakter religius mahasiswa sebagai bagian dari visi kampus berbasis etika religius.
Workshop PPAI dirancang sebagai program pembinaan komprehensif yang tidak hanya menitikberatkan pada aah, tetapi spek ritual ibadjuga pada pembentukan akhlak dan muamalah dalam kehidupan sehari-hari. Program ini mencakup materi thaharah, shalat, pengurusan jenazah, puasa, zakat, haji, tajwid dan tahsin Al-Qur’an, Baca Baca Qur’an (BBQ), serta praktik fiqih yang dilaksanakan secara terstruktur selama enam semester.
Turut dihadiri Dekan Fakultas Kedokteran Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes., Kepala Program Studi S1 Pendidikan Dokter Rakhmi Rafie, dr., M.Kes., Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan Muhammad Ricko Gunawan, S.Kep., M.Kes., Kepala Bagian Humas Emil Tanhar, S.Kom., pengelola Green Dormitory, para dosen pembina, serta mahasiswa peserta Program Pembinaan Agama Islam (PPAI).
Rektor Universitas Malahayati, Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H., yang diwakili oleh Dekan Fakultas Kedokteran Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan Program PPAI. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan investasi jangka panjang dalam membangun generasi profesional yang berkarakter religius dan berakhlak mulia sebagai bekal dalam pengabdian di masyarakat.
Ketua PPAI Universitas Malahayati, Ust. Muslih, S.H.I., M.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Program PPAI bertujuan membekali mahasiswa agar mampu mengimplementasikan nilai-nilai Islam secara nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan nilai-nilai keislaman, menjaga akhlak mulia, serta memberi kontribusi positif baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat luas.
Sementara itu, Kepala Asrama Green Dormitory, Ust. Sutikno, S.Pd.I., M.Pd.I., menyampaikan tiga pesan penting kepada peserta. Pertama, kegiatan ini diharapkan tidak dimaknai secara simbolis semata, melainkan sebagai perjalanan pembentukan karakter religius. Kedua, Program PPAI yang diamanahkan kepada Green Dormitory menjadi sarana pembentukan lingkungan asrama yang religius sesuai dengan visi Universitas Malahayati. Ketiga, nilai-nilai PPAI diharapkan menjadi bekal mahasiswa di masa depan, khususnya dalam menempuh profesi sebagai dokter yang tidak hanya berilmu, tetapi juga beretika religius.
Workshop PPAI menghadirkan narasumber Ust. Jefri Husanda, S.Pd.I., Gr., Sekretaris JSIT Indonesia Wilayah Lampung sekaligus pendiri Yayasan Bina Auladina Indonesia dan SMPIT Auladina Indonesia. Dalam pemaparannya bertema “Implementasi Etika Religius Mahasiswa (PPAI): Mewujudkan Karakter Islami di Tengah Masyarakat”, ia menekankan bahwa mahasiswa kedokteran tidak hanya dipersiapkan menjadi dokter profesional, tetapi juga sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.
Menurutnya, profesi dokter merupakan amanah dan ladang ibadah yang menuntut integrasi antara ilmu, iman, dan akhlak. Akhlak, empati, sikap santun, menjaga lisan, serta menjaga rahasia pasien menjadi terapi awal bagi pasien, disertai penguatan spiritual melalui doa dan Al-Qur’an. Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan mampu menghadapi tantangan masyarakat, termasuk krisis akhlak, krisis empati, dan maraknya informasi hoaks.
Dampak positif Program PPAI Green Dormitory mulai dirasakan oleh masyarakat dan orang tua mahasiswa. Berdasarkan observasi dan umpan balik, mahasiswa menunjukkan perubahan perilaku yang lebih santun, ramah, serta lebih responsif dalam menjalankan ibadah setelah mengikuti program ini.
Universitas Malahayati berharap Program PPAI dapat terus berkelanjutan dan menjadi percontohan bagi perguruan tinggi lain dalam upaya kolektif mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkarakter religius dan berakhlak mulia.
Workshop PPAI Green Dormitory Universitas Malahayati menunjukkan bahwa pembinaan karakter religius perlu diinternalisasikan melalui lingkungan hidup mahasiswa sehari-hari. Program PPAI yang terstruktur dan berkelanjutan ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat berperan aktif dalam membentuk keseimbangan antara kecakapan akademik dan kematangan moral. Di tengah tantangan dunia modern dan profesional yang semakin kompleks, penguatan nilai etika religius menjadi fondasi penting agar mahasiswa tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki empati, integritas, dan tanggung jawab sosial. Inisiatif Universitas Malahayati melalui PPAI Green Dormitory patut diapresiasi dan diharapkan mampu menjadi model pembinaan karakter mahasiswa yang relevan dan berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi.(fkr)
Editor: Fadly KR
SEBUAH DIALOG TENTANG CINTA DAN KEPULANGAN
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Di dalam satu lingkaran jamaah tasauf, lampu-lampu temaram menyinari wajah-wajah yang tenang. Dzikir baru saja usai, menyisakan keheningan yang lembut. Dua orang sufi duduk berhadapan, sementara jamaah lain menyimak dalam diam.
“Saat dzikir tadi,” ujar salah seorang sufi perlahan, “aku merasakan seakan jarak antara hidup dan mati begitu tipis. Mengapa banyak orang tetap takut pada kematian?”. Sufi di hadapannya menarik napas dalam, seraya menjawab dengan suara lembut nyaris tak terdengar. “Karena mereka datang ke dunia ini dengan beban memiliki. Padahal hakekatnya tidak ada satupun yang benar-benar kita miliki.”
“Apakah karena itu sebabnya maka kematian terasa berat?” tanyanya lagi. “Benar,” jawabnya lembut. “Yang merasa berat adalah aku yang palsu. Jika hati telah terbiasa berserah, kematian justru terasa seperti salam pembuka.”
Semua jamaah menunduk, mendengarkan dengan khusyuk. “Panjenengan mengatakan salam,” lanjut sufi pertama. “Salam dari siapa kepada siapa?”. “Salam dari Yang Maha Dekat kepada hamba yang akhirnya sadar,” katanya. “Bukan nyawa yang dicabut, tetapi kesadaran yang dibangunkan.”
“Lalu apa fungsi hidup jika akhirnya kita kembali?” sergah pertanyaan lanjut. “Hidup adalah adab menunggu,” jawabnya. “Menata hati agar pantas bertemu. Dzikir, diam, dan khidmah hanyalah cara kita belajar mencintai tanpa menuntut.”
Sufi pertama tersenyum. “Maka kematian adalah pertemuan jamaah terakhir.”
“Ya,” balasnya pelan. “Pertemuan tanpa suara, tanpa tubuh, tanpa jarak. Hanya cinta yang saling mengenali.”
Keheningan kembali menyelimuti majelis. Dzikir pun dimulai lagi, kali ini dengan rasa rindu yang lebih jernih dan lebih dalam.
Pandangan tasawuf memandang kematian bukanlah peristiwa gelap yang memutuskan kehidupan, melainkan sebuah gerbang kesadaran yang membuka tabir hakikat. Ia tidak dipahami sebagai tercabutnya nyawa secara paksa, tetapi sebagai perjumpaan yang telah lama dinanti antara kekasih dan Yang Dikasihi. Selama hidup, manusia sering terikat pada bentuk-bentuk lahiriah: tubuh, harta, nama, dan waktu. Semua itu membangun ilusi keterpisahan, seakan-akan manusia berdiri sendiri dan jauh dari sumber keberadaannya. Tasawuf hadir untuk melunakkan ilusi tersebut, mengajak manusia menyadari bahwa hidup sejatinya adalah perjalanan pulang. “Di sini” kita hanya bermain.
Dalam perjalanan itu, cinta menjadi poros utama. Cinta bukan sekadar emosi, melainkan daya yang menggerakkan jiwa untuk mengenal asalnya. Setiap kerinduan, kegelisahan, dan pencarian makna yang muncul dalam batin manusia dapat dipahami sebagai getaran rindu kepada Yang Maha Ada. Hidup di dunia adalah kesempatan untuk memurnikan rindu itu, membersihkannya dari pamrih, ketakutan, dan keterikatan. Kematian, dalam sudut pandang ini, adalah saat ketika rindu yang terpelihara menemukan jawabannya. Bukan kehampaan yang menunggu, melainkan perjumpaan yang menenangkan.
Tasawuf memandang bahwa yang mati bukanlah hakikat manusia, melainkan tirai-tirai yang selama ini menutupinya. Tubuh hanyalah wadah sementara; ia datang dan pergi mengikuti hukum alam. Adapun ruh adalah amanah yang berasal dari sumber yang abadi. Ketika kematian tiba, yang terjadi bukanlah pemusnahan, tetapi pemulangan. Seperti setetes air yang kembali ke lautan, ia tidak lenyap, justru menemukan keluasan yang selama ini hanya diimpikan. Rasa takut terhadap kematian sering muncul karena manusia mengira dirinya adalah tubuh dan sejarahnya. Ketika identitas itu dilepas, yang tersisa adalah kesadaran murni yang telah lama dipanggil.
Dalam latihan batin tasawuf, manusia diajak untuk “mati sebelum mati”, yakni mematikan ego yang merasa memiliki dan menguasai. Ego inilah yang takut kehilangan, karena ia hidup dari klaim dan pembatasan. Selama ego berkuasa, kematian tampak seperti musuh. Namun ketika ego dilunakkan melalui keikhlasan, kesabaran, dan kehadiran hati, kematian berubah wajah menjadi sahabat. Ia tidak lagi datang sebagai perampas, tetapi sebagai penyingkap. Apa yang tersingkap adalah kedekatan yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan dunia.
Perjumpaan antara kekasih dan Yang Dikasihi tidak selalu menunggu akhir hayat. Dalam tasawuf, perjumpaan itu bisa dirasakan sebagai isyarat-isyarat halus dalam hidup: ketenangan yang tiba tanpa sebab, syukur yang meluap di tengah kekurangan, atau rasa cukup yang mengalahkan ambisi. Semua itu adalah kilasan perjumpaan, latihan kecil menuju pertemuan besar. Kematian kemudian dipahami sebagai puncak dari rangkaian perjumpaan tersebut, ketika jarak yang semu benar-benar sirna.
Dengan sudut pandang ini, kematian tidak mematikan harapan, justru menegaskannya. Hidup tidak diakhiri oleh kematian; hidup menemukan maknanya melalui kematian. Setiap napas menjadi berharga karena ia adalah langkah menuju kedekatan. Setiap amal menjadi bermakna karena ia adalah bahasa cinta. Bukan ketakutan yang memimpin langkah, melainkan kerinduan yang terdidik. Manusia yang memaknai hidup seperti ini tidak tergesa-gesa menolak dunia, tetapi juga tidak tenggelam di dalamnya. Dunia dijalani sebagai ladang persiapan, bukan tujuan akhir.
Tasawuf mengajarkan bahwa Yang Dikasihi selalu lebih dekat daripada sang kekasih menyadari. Kematian hanyalah saat kesadaran itu mencapai kepenuhannya. Maka, berbicara tentang kematian bukanlah mengajak pada keputusasaan, melainkan pada keberanian untuk hidup dengan jujur dan penuh makna. Ketika cinta menjadi dasar hidup, kematian tidak lagi menakutkan. Ia menjadi undangan lembut untuk pulang, tempat segala rindu beristirahat, dan segala pencarian menemukan jawaban. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR