Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu atas dasar panggilan kepedulian terhadap dunia pendidikan, maka pagi menjelang siang melakukan edukasi kepada masyarakat bagaimana pentingnya memperhatikan pendidikan siswa kelas sepuluh di Sekolah Lanjutan Atas pada wilayah perbatasan provinsi. Oleh karena ini menyangkut aspek pemahaman dan pendampingan dari orang tua, maka sasaran edukasi adalah orang tua siswa, yang rata-rata mereka banyak belum memahami bagaimana karakteristik anak-anaknya. Peran serta mereka untuk berpartisipasi baik material maupun non-material kepada keberlangsungan pendidikan sangat diperlukan.
Bisa dibayangkan satu Sekolah Menengah Atas yang seorang siswa ditanggung oleh negara hanya satu koma lima juta, sementara pemerintah sendiri menetapkan bahwa per-siswa diperlukan alokasi dana sebesar lima koma empat juta untuk biaya pendidikan; kemudian upaya sisanya diserahkan kepada sekolah bersama masyarakat. Bersamaan dengan itu pemerintah sendiri mencanangkan pendidikan gratis.
Tentu ini membuat kepala sekolah dan komite harus putar otak bahkan main akrobat; satu sisi pendidikan dituntut harus bermutu, disisi lain tidak boleh memungut biaya; padahal biaya standard pemerintah sendiri menetapkan. Kekurangannya pemerintah angkat tangan bahkan cenderung tutup mata. Belum lagi ada aturan dari kementerian lainnya yang melarang penggunaan dana bantuan untuk keperluan kesejahteraan. Ironisnya lagi jika meminta bantuan partisipasi masyarakat orang tidak paham menjadi sok paham dan akhirnya gagal paham.
Sebelum acara inti dimulai, maka ada semacam pertemuan informal dengan para guru; tidak sengaja pertemuan itu menjadi acara reuni kecil pascasarjana, sebab hampir semua mereka adalah alumni pascasarjana yang pernah menjadi asuhan penulis. Ada yang menarik dari mereka adalah, ada diantara mereka saat menuju ketempat tugas di sekolah wilayah perbatasan, ternyata untuk mencapai lokasi harus pergi terlebih dahulu ke provinsi tetangga, kemudian baru masuk ke wilayah tugasnya. Waktu dikonfirmasi mengapa harus melakukan itu, ternyata jalan provinsi yang masuk ke wilayah kerjanya hancur. Selama yang bersangkutan dinas di wilayah itu belum pernah ada pihak provinsi yang mengunjungi apalagi untuk memperbaiki. Lebih parah lagi jika kondisi itu musim hujan, maka perjuangan semakin berat. Waktu didesak dengan pertanyaan apakah selama pergantian gubernur berkali-kali tidak ada perhatian sama sekali dengan infrastruktur jalan; yang bersangkutan tidak menjawab dengan kata akan tetapi dengan senyum khas dengan seribu makna.
Dalam konteks filsafat, “jalan sebelah” bisa merepresentasikan metode atau perspektif yang kurang konvensional atau kurang umum dibandingkan dengan yang biasa diambil oleh orang-orang pada umumnya. Filsafat sering kali menantang kita untuk memikirkan hal-hal dari sudut pandang yang berbeda, menemukan makna di luar yang terlihat jelas.
Ternyata aplikasi mata kuliah Filsafat Ilmu pada konteks berkarya pada masyarakat sangat membantu untuk mengambil sudut pandang cara berfikir. Beberapa hal menjadi semacam panduan berfikir praksis keilmuan yang muncul, diantaranya: Pertama, pendekatan non-konvensional, yaitu menghadapi kehidupan dengan cara yang berbeda dari norma atau tradisi umum. Misalnya, seseorang mungkin memilih jalur kehidupan yang tidak mengikuti standar sosial biasa (seperti karier tradisional, gaya hidup mapan, dll.), tetapi tetap menemukan makna dan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri.
Kedua, pikiran terbuka, yaitu menerima banyak perspektif dan tidak terpaku pada satu cara berpikir. “Lewat jalan sebelah” bisa berarti membuka diri terhadap filosofi, ideologi, atau pandangan hidup yang mungkin berbeda atau asing bagi mayoritas orang. Ketiga, fleksibilitas dan adaptasi. Ini juga bisa berarti cara pandang yang fleksibel, di mana seseorang siap untuk berubah dan menyesuaikan diri tergantung pada situasi yang dihadapi. Alih-alih memaksa diri melalui jalan utama yang mungkin penuh tantangan, seseorang memilih jalan lain yang lebih sesuai dengan keadaan dan tujuan mereka.
Keempat, kreativitas dalam pemecahan masalah hidup. Kadang-kadang, “jalan sebelah” bisa menggambarkan solusi yang lebih kreatif atau out of the box. Dalam menghadapi kesulitan hidup, individu mungkin menemukan cara-cara baru untuk mengatasi masalah, yang pada akhirnya membentuk pandangan hidup yang lebih dinamis.
Pandangan seperti ini mengajarkan bahwa hidup tidak selalu harus dihadapi dengan cara yang sudah ditetapkan, melainkan ada banyak “jalan” yang bisa diambil, dan setiap jalan menawarkan pandangan yang unik. Termasuk Pak Guru dan Ibu Guru yang nun jauh diperbatasan sana; mereka berjuang mendidik anak-anak bangsa ini dengan segala macam keterbatasan, baik dalam pengertian sarana-prasarana, juga keterbatasan pemahaman orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Mereka bekerja dalam sepi tetapi mengabdi dalam kekhusukan, berterima akan rezeki dengan kelapangan. Mereka tidak butuh akan pujian, apalagi sanjungan, tetapi mereka bekerja tetap dalam ketulusan. Oleh karena itu jika kita dalami secara filsafat maka filosofi bekerja dalam sepi menekankan pada konsep bekerja dengan fokus, tekun, dan tidak mencari pengakuan atau perhatian dari orang lain. Ada beberapa makna mendalam yang terkandung dalam filosofi ini: Pertama, fokus pada proses, bukan hasil. Orang yang bekerja dalam sepi cenderung lebih menghargai proses daripada hasil akhirnya. Mereka mengerjakan tugas-tugas dengan sepenuh hati tanpa terlalu banyak mengejar pengakuan eksternal, karena bagi mereka, kepuasan batin datang dari kesempurnaan usaha, bukan dari pujian.
Kedua, kesederhanaan dan keikhlasan. Bekerja dalam sepi mencerminkan kesederhanaan dalam bertindak dan ketulusan dalam bekerja. Tidak ada dorongan untuk menonjolkan diri atau menunjukkan hasil kerja secara demonstratif. Hal ini mengajarkan bahwa pekerjaan yang baik tidak selalu perlu dipublikasikan, tapi cukup dinikmati secara pribadi atau dalam lingkup yang terbatas.
Ketiga, ketenangan batin dan disiplin. Dengan bekerja dalam sepi, seseorang belajar untuk tetap tenang dan fokus meskipun tanpa pengawasan atau pujian. Ini mengembangkan disiplin diri, di mana motivasi berasal dari dalam diri, bukan dari dorongan eksternal.
Keempat, peningkatan kualitas diri. Bekerja dalam sepi juga sering dikaitkan dengan pengembangan diri yang mendalam. Karena tanpa gangguan dari luar, seseorang lebih mampu untuk merenung dan memahami dirinya sendiri. Ini memberikan kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas pekerjaan serta karakter diri.
Kelima, kebijaksanaan dan keteguhan. Filosofi ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan sering kali lahir dari kesunyian, dari ruang untuk berpikir dan mendalami makna pekerjaan. Keteguhan hati untuk bekerja meskipun tidak ada sorotan melatih ketangguhan mental dan ketekunan.
Bekerja dalam sepi mengajarkan nilai bahwa hasil terbaik sering kali lahir dari upaya yang tulus, konsisten, dan tidak bergantung pada validasi eksternal. Sekalipun harus melewati jalan sebelah dalam pengertian wilayah orang lain, tetapi karena dorongan kemulyaan pekerjaan yang dipandang sebagai ibadah, maka keberkahan akan menanti dari setiap langkah. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Bersih Diri
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Bulan September adalah bulan mengenangkan sejarah tragedi berdarah yang terjadi di negeri ini; yaitu adanya peristiwa Pemberontakan yang bernama Gerakan 30 September, yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia di tahun 1965. Saat itu korbannya adalah para jenderal terbaik negeri ini yang dibunuh secara keji di Lubang Buaya. Luka sejarah ini menjadi catatan kelam bangsa yang tidak dapat dilupakan kapanpun, terlepas dari perbedaan sudut pandang dalam melihat peristiwa.
Peristiwa itu juga meninggalkan jejak sejarah lainnya, yaitu pemerintah pada waktu itu mensyaratkan kepada siapapun di negeri ini, jika ingin menjadi pegawai pemerintah, tentara, dan kepolisian atau pejabat apapun dia; harus mengantongi surat “bersih diri”, yaitu surat yang menerangkan bahwa diri dan keluarganya, ayah dan ibu, tidak terkontaminasi dengan ajaran komunis. Bahkan untuk tentara dan kepolisian dan beberapa instansi lain lebih ketat lagi harus ada juga surat “bersih lingkungan” yaitu surat yang menyatakan keluarga besar yang bersangkutan tiga generasi ke atas, tiga generasi ke bawah, tiga ke kiri dan kanan (paman, mertua, saudara ipar, sepupu dll) tidak terindikasi ajaran komunis.
Terlepas dari implikasi atau konsekuensi dari aturan itu, tulisan ini tidak membahasnya, akan tetapi fokus pada masalah konsep “bersih diri” dari makna yang lebih dalam lagi, yaitu kajian filsafat manusia. Berdasarkan penelusuran digital ditemukan informasi, konsep “bersih diri” dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, seperti etika, spiritualitas, dan eksistensialisme.
Berikut beberapa pandangan yang berkaitan dengan konsep ini: Pertama, Etika dan Moralitas. Dalam konteks etika, “bersih diri” sering dikaitkan dengan kesucian moral, di mana seseorang dianggap bersih jika mereka hidup sesuai dengan prinsip-prinsip moral dan etika yang baik. Dalam hal ini, kebersihan diri bukan hanya menyangkut fisik, tetapi juga sikap, pikiran, dan tindakan yang bebas dari korupsi, kejahatan, atau niat jahat. Filosof seperti Immanuel Kant menekankan pentingnya niat baik dalam tindakan, di mana kebersihan moral tercermin dari tindakan yang didorong oleh rasa kewajiban dan penghargaan terhadap orang lain sebagai tujuan, bukan sarana.
Kedua, Spiritualitas. Dalam banyak tradisi agama dan filsafat spiritual, konsep kebersihan diri sering dikaitkan dengan kesucian jiwa. Tradisi Sufisme dalam Islam, misalnya, berbicara tentang pentingnya penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) sebagai jalan menuju kedekatan dengan Tuhan.
Ketiga, Eksistensialisme. Dalam filsafat eksistensialisme, seperti yang dikemukakan oleh Jean-Paul Sartre, “bersih diri” mungkin tidak secara langsung dibahas dalam hal moralitas atau spiritualitas, tetapi lebih sebagai kondisi eksistensial seseorang. Menurut eksistensialisme, manusia bertanggung jawab atas kebebasan mereka untuk menentukan makna dan arah hidup. Kebersihan diri bisa diartikan sebagai kejujuran radikal terhadap diri sendiri—otentisitas. Dalam hal ini, seseorang dianggap “bersih” ketika ia hidup sesuai dengan nilai-nilai yang dipilihnya sendiri dan tidak hidup dalam ketidakotentikan atau penyangkalan diri.
Keempat, Fenomenologi dan Kesadaran Diri. Edmund Husserl dan pengikutnya dalam aliran fenomenologi membahas kebersihan diri dalam konteks kesadaran dan niat (intentionality). Kebersihan diri dalam konteks ini berkaitan dengan kejernihan dalam pengalaman dan persepsi manusia terhadap dunia di sekitar mereka. Pengalaman manusia haruslah murni dari prasangka, interpretasi yang kabur, atau ilusi, sehingga memungkinkan seseorang melihat realitas dengan lebih jelas.
Kelima, Konsep Dualisme dalam Pikiran dan Tubuh. Filsuf seperti René Descartes yang berargumen tentang dualisme pikiran dan tubuh, melihat kebersihan diri dalam hal pikiran yang jernih. Kebersihan pikiran, bagi Descartes, adalah kunci untuk mencapai kebenaran, di mana seseorang harus membersihkan pikirannya dari segala keraguan dan prasangka agar dapat mencapai pengetahuan yang pasti.
Keenam, Praktik Sosial dan Politis. Dalam konteks sosial dan politik, kebersihan diri bisa dihubungkan dengan integritas dan tanggung jawab sosial. Filsuf seperti John Stuart Mill berbicara tentang pentingnya kemerdekaan moral individu di dalam masyarakat yang berfungsi baik. Kebersihan diri dalam konteks ini berkaitan dengan tidak memanipulasi, tidak menciderai hak orang lain, dan hidup dengan etika publik yang bersih.
Secara keseluruhan, konsep “bersih diri” dalam filsafat manusia melibatkan dimensi moral, spiritual, eksistensial, dan kesadaran, dengan fokus pada bagaimana individu menjaga kebersihan batiniah, moralitas, dan integritas mereka dalam berhubungan dengan diri sendiri, masyarakat, dan dunia. Semua ini mudah di tulis dan diucapkan, namun pada tataran implementasi sangat sulit dilakukan karena dituntut kesadaran diri dan mawas diri yang lebih tinggi sangat diperlukan. Tidak salah jika orang bijak berpesan “sejauh manusia masih memijakkan kakinya di bumi, maka salah dan alpa merupakan pakaian hidupnya”.
Pokok utamanya adalah setelah kita menyadari akan kesalahan dan kealpaan, segeralah meminta maaf dan bertaubat, karena kesempatan itu tidak akan terulang dua kali. Selagi nyawa masih dikandung badan maka bersegeralah dalam kebaikan, karena dengan pahala, salah, dan dosa-lah Tuhan meneguhkan keberadaan kita sebagai manusia ciptaan-NYA. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Lewat Jalan Sebelah
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu atas dasar panggilan kepedulian terhadap dunia pendidikan, maka pagi menjelang siang melakukan edukasi kepada masyarakat bagaimana pentingnya memperhatikan pendidikan siswa kelas sepuluh di Sekolah Lanjutan Atas pada wilayah perbatasan provinsi. Oleh karena ini menyangkut aspek pemahaman dan pendampingan dari orang tua, maka sasaran edukasi adalah orang tua siswa, yang rata-rata mereka banyak belum memahami bagaimana karakteristik anak-anaknya. Peran serta mereka untuk berpartisipasi baik material maupun non-material kepada keberlangsungan pendidikan sangat diperlukan.
Bisa dibayangkan satu Sekolah Menengah Atas yang seorang siswa ditanggung oleh negara hanya satu koma lima juta, sementara pemerintah sendiri menetapkan bahwa per-siswa diperlukan alokasi dana sebesar lima koma empat juta untuk biaya pendidikan; kemudian upaya sisanya diserahkan kepada sekolah bersama masyarakat. Bersamaan dengan itu pemerintah sendiri mencanangkan pendidikan gratis.
Tentu ini membuat kepala sekolah dan komite harus putar otak bahkan main akrobat; satu sisi pendidikan dituntut harus bermutu, disisi lain tidak boleh memungut biaya; padahal biaya standard pemerintah sendiri menetapkan. Kekurangannya pemerintah angkat tangan bahkan cenderung tutup mata. Belum lagi ada aturan dari kementerian lainnya yang melarang penggunaan dana bantuan untuk keperluan kesejahteraan. Ironisnya lagi jika meminta bantuan partisipasi masyarakat orang tidak paham menjadi sok paham dan akhirnya gagal paham.
Sebelum acara inti dimulai, maka ada semacam pertemuan informal dengan para guru; tidak sengaja pertemuan itu menjadi acara reuni kecil pascasarjana, sebab hampir semua mereka adalah alumni pascasarjana yang pernah menjadi asuhan penulis. Ada yang menarik dari mereka adalah, ada diantara mereka saat menuju ketempat tugas di sekolah wilayah perbatasan, ternyata untuk mencapai lokasi harus pergi terlebih dahulu ke provinsi tetangga, kemudian baru masuk ke wilayah tugasnya. Waktu dikonfirmasi mengapa harus melakukan itu, ternyata jalan provinsi yang masuk ke wilayah kerjanya hancur. Selama yang bersangkutan dinas di wilayah itu belum pernah ada pihak provinsi yang mengunjungi apalagi untuk memperbaiki. Lebih parah lagi jika kondisi itu musim hujan, maka perjuangan semakin berat. Waktu didesak dengan pertanyaan apakah selama pergantian gubernur berkali-kali tidak ada perhatian sama sekali dengan infrastruktur jalan; yang bersangkutan tidak menjawab dengan kata akan tetapi dengan senyum khas dengan seribu makna.
Dalam konteks filsafat, “jalan sebelah” bisa merepresentasikan metode atau perspektif yang kurang konvensional atau kurang umum dibandingkan dengan yang biasa diambil oleh orang-orang pada umumnya. Filsafat sering kali menantang kita untuk memikirkan hal-hal dari sudut pandang yang berbeda, menemukan makna di luar yang terlihat jelas.
Ternyata aplikasi mata kuliah Filsafat Ilmu pada konteks berkarya pada masyarakat sangat membantu untuk mengambil sudut pandang cara berfikir. Beberapa hal menjadi semacam panduan berfikir praksis keilmuan yang muncul, diantaranya: Pertama, pendekatan non-konvensional, yaitu menghadapi kehidupan dengan cara yang berbeda dari norma atau tradisi umum. Misalnya, seseorang mungkin memilih jalur kehidupan yang tidak mengikuti standar sosial biasa (seperti karier tradisional, gaya hidup mapan, dll.), tetapi tetap menemukan makna dan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri.
Kedua, pikiran terbuka, yaitu menerima banyak perspektif dan tidak terpaku pada satu cara berpikir. “Lewat jalan sebelah” bisa berarti membuka diri terhadap filosofi, ideologi, atau pandangan hidup yang mungkin berbeda atau asing bagi mayoritas orang. Ketiga, fleksibilitas dan adaptasi. Ini juga bisa berarti cara pandang yang fleksibel, di mana seseorang siap untuk berubah dan menyesuaikan diri tergantung pada situasi yang dihadapi. Alih-alih memaksa diri melalui jalan utama yang mungkin penuh tantangan, seseorang memilih jalan lain yang lebih sesuai dengan keadaan dan tujuan mereka.
Keempat, kreativitas dalam pemecahan masalah hidup. Kadang-kadang, “jalan sebelah” bisa menggambarkan solusi yang lebih kreatif atau out of the box. Dalam menghadapi kesulitan hidup, individu mungkin menemukan cara-cara baru untuk mengatasi masalah, yang pada akhirnya membentuk pandangan hidup yang lebih dinamis.
Pandangan seperti ini mengajarkan bahwa hidup tidak selalu harus dihadapi dengan cara yang sudah ditetapkan, melainkan ada banyak “jalan” yang bisa diambil, dan setiap jalan menawarkan pandangan yang unik. Termasuk Pak Guru dan Ibu Guru yang nun jauh diperbatasan sana; mereka berjuang mendidik anak-anak bangsa ini dengan segala macam keterbatasan, baik dalam pengertian sarana-prasarana, juga keterbatasan pemahaman orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Mereka bekerja dalam sepi tetapi mengabdi dalam kekhusukan, berterima akan rezeki dengan kelapangan. Mereka tidak butuh akan pujian, apalagi sanjungan, tetapi mereka bekerja tetap dalam ketulusan. Oleh karena itu jika kita dalami secara filsafat maka filosofi bekerja dalam sepi menekankan pada konsep bekerja dengan fokus, tekun, dan tidak mencari pengakuan atau perhatian dari orang lain. Ada beberapa makna mendalam yang terkandung dalam filosofi ini: Pertama, fokus pada proses, bukan hasil. Orang yang bekerja dalam sepi cenderung lebih menghargai proses daripada hasil akhirnya. Mereka mengerjakan tugas-tugas dengan sepenuh hati tanpa terlalu banyak mengejar pengakuan eksternal, karena bagi mereka, kepuasan batin datang dari kesempurnaan usaha, bukan dari pujian.
Kedua, kesederhanaan dan keikhlasan. Bekerja dalam sepi mencerminkan kesederhanaan dalam bertindak dan ketulusan dalam bekerja. Tidak ada dorongan untuk menonjolkan diri atau menunjukkan hasil kerja secara demonstratif. Hal ini mengajarkan bahwa pekerjaan yang baik tidak selalu perlu dipublikasikan, tapi cukup dinikmati secara pribadi atau dalam lingkup yang terbatas.
Ketiga, ketenangan batin dan disiplin. Dengan bekerja dalam sepi, seseorang belajar untuk tetap tenang dan fokus meskipun tanpa pengawasan atau pujian. Ini mengembangkan disiplin diri, di mana motivasi berasal dari dalam diri, bukan dari dorongan eksternal.
Keempat, peningkatan kualitas diri. Bekerja dalam sepi juga sering dikaitkan dengan pengembangan diri yang mendalam. Karena tanpa gangguan dari luar, seseorang lebih mampu untuk merenung dan memahami dirinya sendiri. Ini memberikan kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas pekerjaan serta karakter diri.
Kelima, kebijaksanaan dan keteguhan. Filosofi ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan sering kali lahir dari kesunyian, dari ruang untuk berpikir dan mendalami makna pekerjaan. Keteguhan hati untuk bekerja meskipun tidak ada sorotan melatih ketangguhan mental dan ketekunan.
Bekerja dalam sepi mengajarkan nilai bahwa hasil terbaik sering kali lahir dari upaya yang tulus, konsisten, dan tidak bergantung pada validasi eksternal. Sekalipun harus melewati jalan sebelah dalam pengertian wilayah orang lain, tetapi karena dorongan kemulyaan pekerjaan yang dipandang sebagai ibadah, maka keberkahan akan menanti dari setiap langkah. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung Tutup PKKMB 2024, Ajak Mahasiswa Fokus dan Jaga Integritas
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dr. H. Muhammad Khadafi, SH., MH., resmi menutup kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2024/2025 di Gedung Graha Bintang, Sabtu (28/9/2024). Sebanyak 1.731 mahasiswa baru dari berbagai jurusan turut menghadiri acara penutupan tersebut.
Dalam sambutannya, Dr. Khadafi mengucapkan selamat kepada para mahasiswa yang telah sukses menyelesaikan PKKMB. Ia menekankan pentingnya fokus pada tujuan akademik dan tanggung jawab yang diemban sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Malahayati. “Kalian sekarang sudah resmi menjadi bagian dari keluarga Universitas Malahayati. Jaga nama baik kampus dan jangan pernah lupa tujuan kalian berada di sini,” tegasnya.
Rektor juga menekankan pentingnya karakter dan integritas dalam perjalanan akademik. “Kalian harus membangun karakter yang kuat karena hal ini akan berpengaruh pada kehidupan kalian di masyarakat nanti. Jaga integritas dan tetap disiplin dalam menghadapi segala tantangan,” tambahnya.
PKKMB Lima Hari Penuh Manfaat
PKKMB Universitas Malahayati 2024 berlangsung selama lima hari dengan serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa baru dalam menghadapi kehidupan kampus dan tantangan akademik. Hari pertama, mahasiswa diperkenalkan dengan visi misi universitas, sistem akademik, serta berbagai fasilitas kampus, termasuk layanan mahasiswa dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Pada hari kedua, mahasiswa mendapat materi tentang pengembangan karakter, anti narkoba, anti korupsi, serta kampus sehat. Dr. Khadafi juga memberikan materi mengenai tantangan perguruan tinggi di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, mengajak mahasiswa untuk terus beradaptasi dengan perubahan teknologi dan sosial.
Hari ketiga diisi dengan materi tentang prospek dunia kerja, kampanye anti bullying dari Kemkumham, serta nilai-nilai kebangsaan dan pembekalan disiplin dari dari Korem 043 Garuda Hitam yang menekankan pentingnya kedisiplinan dalam mencapai kesuksesan.
Pelatihan kecantikan dari brand kosmetik ternama nuface mewarnai hari keempat PKKMB, memberikan edukasi tentang perawatan diri dan make-up yang disambut antusias oleh mahasiswa.
Pada hari kelima, mahasiswa diperkenalkan dengan program studi masing-masing, sistem pembelajaran, dan mata kuliah yang akan dihadapi selama masa studi.
Dimeriahkan Penampilan Spesial
Acara penutupan PKKMB semakin meriah dengan penampilan spesial dari dua penyanyi jebolan ajang pencarian bakat, AXL Ramadan dan Masitoh, yang memberikan hiburan kepada para mahasiswa baru.
Dengan berakhirnya PKKMB 2024/2025, Universitas Malahayati berharap para mahasiswa baru siap menghadapi perjalanan akademik dengan semangat, integritas, dan disiplin tinggi. Mereka kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar kampus dan siap melangkah menuju masa depan yang cerah. (*)
Editor : Asyihin
Prodi Manajemen Universitas Malahayati Masih Jadi Pilihan Favorit, Ini Alasannya!
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id) : Program Studi (Prodi) Manajemen Universitas Malahayati Bandar Lampung terus menjadi pilihan utama bagi calon mahasiswa yang ingin memiliki jenjang karier di dunia bisnis dan manajemen. Dengan jumlah mahasiswa aktif yang mencapai 1.233 orang, Prodi Manajemen menawarkan berbagai keunggulan kompetitif.
Salah satu keunggulan utama Prodi Manajemen Universitas Malahayati adalah tenaga pengajarnya yang terdiri dari dosen-dosen ahli di berbagai bidang keilmuan. Mereka tidak hanya berpengalaman secara akademis tetapi juga praktis, sehingga mampu menghubungkan teori dengan implementasi dan praktik di dunia kerja. Para dosen di Prodi Manajemen terbagi dalam berbagai bidang keahlian yang mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa:
Selain keunggulan dalam pengajaran, Prodi Manajemen Universitas Malahayati juga dikenal karena memiliki jaringan kerjasama yang luas dengan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA). Mitra-mitra ini meliputi berbagai sektor, mulai dari pemerintah hingga perusahaan swasta terkemuka seperti BKKBN, PT POS, BP2Mi, Imigrasi, PTPN, PT DAMRI, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, Bapenda Pringsewu, Pemda Metro, hingga Auto 2000.
Dengan adanya kerjasama ini, mahasiswa tidak hanya kompeten di bidang akademik, tetapi juga dibekali pengalaman praktik langsung melalui program magang dan pelatihan yang terintegrasi. Ini memberikan mereka keunggulan kompetitif ketika memasuki dunia kerja, di mana lulusan Prodi Manajemen Universitas Malahayati dikenal siap dan mampu bersaing.
Prodi Manajemen Universitas Malahayati juga aktif mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar di luar kampus, baik melalui magang, proyek independen, maupun penelitian. Hal ini memperkaya pengalaman mahasiswa dan memperluas jaringan mereka di dunia industri.
Prodi ini juga mengadopsi metode pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang fokus pada pencapaian kompetensi dan hasil belajar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja serta standar global. Dengan pendekatan yang berorientasi pada praktik nyata, lulusan Prodi Manajemen Universitas Malahayati memiliki keahlian yang relevan dan siap bersaing di dunia bisnis modern.
Dengan semua keunggulan ini, Prodi Manajemen Universitas Malahayati bukan hanya menjadi pilihan favorit, tetapi juga gerbang menuju sukses di dunia bisnis modern. (*)
Editor : Asyihin
Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Gelar Yudisium, Mahasiswa Didorong Maksimalkan Magang
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung menggelar acara yudisium di Malahayati Career Center, Kamis, 26 September 2024.
Dekan Fakultas Kedokteran, Dr. Toni Prasetia, dr., Sp.PD., FINASIM, dalam sambutannya menyampaikan selamat kepada para mahasiswa yang telah berhasil menyelesaikan tahap pertama pendidikan dokter.
“Selamat atas yudisium yang dilaksanakan hari ini. Satu tahap sudah selesai, dan berikutnya adalah tahap kedua, yakni pendidikan profesi,” ujar Dr. Toni.
Ia mengingatkan bahwa para mahasiswa akan menjalani proses magang selama dua tahun dan harus memanfaatkan waktu tersebut dengan baik.
“Ada waktu dua tahun untuk melaksanakan magang. Gali ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya, serta persiapkan diri kalian untuk Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD),” tambahnya.
Dr. Toni juga menekankan pentingnya fokus dalam proses magang, mengingat waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama. Ia berpesan agar mahasiswa cermat dalam menjalani masa magang sehingga dapat selesai tepat waktu.
“Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, kalian harus pintar-pintar dalam menjalani proses magang ini. Semoga bisa selesai tepat waktu,” tuturnya.
Lebih lanjut, Dr. Toni mengingatkan bahwa selama magang, mahasiswa dianggap telah menguasai teori dasar penyakit, sehingga tidak perlu lagi bertanya hal-hal yang mendasar.
“Contohnya, terkait kasus jantung koroner. Jangan lagi tanya ke dokter senior apa itu jantung koroner, karena itu pertanyaan yang aneh. Kalian sudah mempelajarinya di kampus. Jadi saat magang, fokuslah pada gejala, tindakan pengobatan, dan analisis hasil rekam medis,” jelasnya.
Kepala Program Studi S1 Pendidikan Dokter, Dr. Tessa Syahrini, dr., M. Kes, dalam kesempatan yang sama, berpesan agar para lulusan selalu menjaga etika kedokteran dan terus disiplin dalam menjalankan tugasnya.
“Suatu saat nanti, kalian akan duduk sebagai pejabat dan memberikan kebanggaan bagi orang tua serta almamater. Tetap jaga etika kedokteran dan selalu disiplin dalam bertugas,” ujar Dr. Tessa. (*)
Editor : Asyihin
PKKMB 2024, Kemenkumham Lampung Bekali 1731 Mahasiswa Baru Universitas Malahayati tentang Anti Perundungan
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Sebanyak 1731 mahasiswa baru Universitas Malahayati tahun akademik 2024/2025 mengikuti Pembekalan Kesadaran Hukum tentang anti perundungan dan Bulying pada kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2024 di Graha Bintang Rabu, 25 Agustus 2024, menghadirkan perwakilan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Provinsi Lampung.
Dalam pemaparannya, Muhammad Zuri, S.H., M.H., perwakilan Kemenkumham Provinsi Lampung, menyampaikan pentingnya membangun kepatuhan dan kesadaran hukum di lingkungan kampus. Salah satu topik yang diangkat adalah masalah bullying yang masih menjadi ancaman serius di berbagai perguruan tinggi.
“Bullying di kampus adalah masalah serius yang dapat mempengaruhi kesehatan mental dan prestasi akademik mahasiswa,” ujar Zuri.
Ia menambahkan bahwa dampak bullying sangat beragam, mulai dari depresi hingga kecemasan, yang sering kali berujung pada penurunan prestasi akademik.
Lebih lanjut, Zuri menjelaskan bahwa mahasiswa yang menjadi korban bullying sering kali merasa terisolasi dan kehilangan kepercayaan diri.
“Korban bullying tidak hanya menderita secara emosional, tetapi juga kehilangan motivasi dalam menjalani kehidupan akademik mereka,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Zuri mengajak seluruh mahasiswa baru Universitas Malahayati untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan mendukung.
“Mari kita bersama-sama patuh dan sadar hukum serta saling menjaga agar kampus kita terbebas dari tindakan bullying,” tutupnya. (*)
Reporter (Pers Mahasiswa) : Nila Aryani
Editor: Asyihin
Tips Dosen Universitas Malahayati Agar Rumah Bersih dan Sehat di Musim Hujan
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dina, mengungkapkan pentingnya menjaga kebersihan rumah untuk menciptakan lingkungan yang sehat, terutama di musim hujan.
Menurutnya, rumah sehat bukan hanya ditentukan oleh kemewahan, tetapi oleh kenyamanan dan keamanan penghuninya. Musim hujan sering kali membawa kelembapan yang tinggi dan cuaca yang tidak menentu, yang dapat memicu bau tidak sedap serta pertumbuhan jamur di dalam rumah.
“Kebersihan adalah pangkal kesehatan. Rumah yang bersih dan terawat dapat mencegah berbagai penyakit,” ujarnya.
Dina pun membagikan enam tips mudah untuk menjaga kebersihan dan kesehatan rumah selama musim hujan:
1. Jaga Kondisi Atap dan Dinding
Pastikan tidak ada kebocoran, pecahan genting, atau celah yang dapat menyebabkan air masuk. Dinding yang lembab harus segera ditangani untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
2. Jaga Sirkulasi Udara
Buka jendela dan pintu di pagi hari untuk membiarkan sinar matahari masuk dan meningkatkan sirkulasi udara. Ini membantu mengurangi kelembapan dan mencegah pertumbuhan jamur.
3. Jaga Kebersihan Ruangan
Lakukan pembersihan menyeluruh di seluruh ruangan, termasuk kamar tidur dan dapur, untuk mencegah tumbuhnya jamur dan menjaga kebersihan.
4. Jaga Kebersihan Lingkungan Rumah
Hindari membuang sampah sembarangan, terutama di selokan, untuk mencegah penyumbatan yang dapat mengakibatkan banjir.
5. Jaga Kebersihan Sebelum Masuk Rumah
Biasakan membersihkan diri sebelum masuk rumah, dan gunakan rak khusus untuk menyimpan barang basah seperti payung dan jas hujan.
6. Jaga Kebersihan Diri
Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik sebelum dan setelah membersihkan rumah untuk menjaga kesehatan pribadi.
Dengan menerapkan tips-tips ini, masyarakat diharapkan dapat menciptakan lingkungan rumah yang bersih dan sehat, serta melindungi keluarga dari berbagai penyakit selama musim hujan. (*)
Editor: Asyihin
Rektor Universitas Malahayati Ajak Mahasiswa Baru Siapkan Diri Hadapi Dunia Kerja di Era Digital
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung Periode 2024-2028 yang juga Anggota DPR RI, Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H memberikan pemaparan tentang Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 kepada 1.731 mahasiswa baru pada PKKMB 2024 di Graha Bintang, Selasa, 24 September 2024.
Dr. Muhammad Kadafi memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan di dunia kerja. Rektor Kadafi menekankan pentingnya memiliki target yang jelas selama masa studi. “Jangan sampai kalian melewati kesempatan untuk meraih kesuksesan. Tentukan apa yang ingin dicapai dan lakukan verifikasi terhadap langkah-langkah yang harus diambil,” ujarnya.
Ia juga berbagi pengalaman pribadi dan mendorong mahasiswa untuk belajar dari kakak tingkat mereka, agar dapat meraih IPK yang memuaskan di semester awal. “Pengalaman adalah guru yang luar biasa, jadi persiapkan diri sebaik mungkin. Hari ini akan menentukan masa depan kalian,” tambahnya.
Dalam pembahasannya, Kadafi menggarisbawahi bahwa di era digital ini, banyak pekerjaan yang tergantikan oleh teknologi. Oleh karena itu, mahasiswa perlu beradaptasi dengan perubahan. “Indonesia memiliki potensi besar dengan bonus demografi. Jika dimanfaatkan dengan baik, kita dapat menjadi negara yang berdaya saing tinggi,” jelasnya.
Rektor Kadafi menyebutkan, dengan kemajuan teknologi, sekitar 23 juta jenis pekerjaan telah digantikan oleh otomatisasi. Namun, terdapat pula peluang baru dengan terciptanya 27 hingga 46 juta jenis pekerjaan baru. “Ini adalah kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi diri melalui program Kampus Merdeka,” ujarnya.
Ia memberikan contoh inspiratif dari pengusaha sukses, seperti Chairul Tanjung, yang beralih dari latar belakang dokter gigi menjadi pengusaha yang berhasil berkat ketekunan dalam belajar. “Dengan Kampus Merdeka, kalian memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai bidang ilmu baru dan beradaptasi dengan perubahan zaman,” tambahnya.
Rektor Kadafi juga menekankan pentingnya peran manusia dalam era yang semakin didominasi teknologi. “Robot dan teknologi tidak akan mengalahkan kita jika kita dapat beradaptasi dan berinovasi. Kita perlu belajar untuk melihat dan menciptakan peluang baru,” katanya.
Ia mengingatkan mahasiswa untuk mengubah mindset dari ingin menjadi karyawan menjadi pengusaha atau inovator. “Dengan perubahan dalam ilmu pengetahuan dan inovasi, kalian harus semangat mencari peluang baru. Belajar dan berdiskusi adalah kunci untuk sukses,” pungkasnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk selalu ingat pesan orang tua dan menjaga nilai-nilai yang telah diajarkan. “Mulailah dewasa dengan tanggung jawab, dan insya Allah, kesuksesan akan datang pada waktunya,” tutupnya. (*)
Reporter (Pers Mahasiswa) : Nila Aryani
Editor: Asyihin
PKKMB 2024, Prof. Sudjarwo: Mahasiswa Harus Unggul dan Berkarakter Menuju Indonesia Emas
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Sebanyak 1.731 mahasiswa baru Universitas Malahayati mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2024 di Graha Bintang, Selasa (24/8/2024).
Acara ini menghadirkan Guru Besar Universitas Malahayati, Prof. Sudjarwo, yang memberikan motivasi kepada para peserta.
Dalam orasinya, Prof. Sudjarwo menekankan pentingnya mahasiswa untuk unggul dalam berbagai bidang, baik akademik maupun non-akademik. Menurutnya, keunggulan tidak hanya dilihat dari prestasi akademik semata, namun juga dari keterlibatan aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, kemampuan memimpin, serta kontribusi positif bagi lingkungan kampus dan masyarakat.
“Mahasiswa yang unggul adalah mereka yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga aktif di kegiatan ekstrakurikuler, memiliki kepemimpinan yang baik, dan mampu berkontribusi positif di lingkungan kampus dan masyarakat. Inilah yang akan membuat kalian menjadi generasi yang mampu menghadapi tantangan masa depan,” ujar Prof. Sudjarwo.
Ia juga menekankan pentingnya karakter dalam diri seorang mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa berkarakter adalah individu yang memiliki nilai-nilai moral kuat, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan integritas.
“Berkarakter itu penting. Mahasiswa yang berkarakter adalah mereka yang mampu berinteraksi dengan baik, empati terhadap orang lain, dan memiliki sikap positif dalam menghadapi tantangan. Dengan karakter yang kuat, kalian akan siap menghadapi segala perubahan yang ada,” tambahnya.
Prof. Sudjarwo mengajak mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga berprestasi di berbagai bidang seperti olahraga, seni, inovasi teknologi, dan kontribusi sosial. Ia mengingatkan bahwa Indonesia sedang menuju era “Indonesia Emas” di tahun 2045, yang membutuhkan generasi muda yang unggul dan berkarakter untuk membawa bangsa ini mencapai kejayaannya.
“Berprestasi menuju Indonesia Emas adalah visi besar kita. Ini bukan hanya tentang capaian pribadi, tetapi tentang bagaimana kita semua, terutama generasi muda, bisa berkontribusi maksimal dalam membawa kemajuan dan kejayaan bagi Indonesia,” ucap Prof. Sudjarwo.
Mengakhiri orasinya, Prof. Sudjarwo mengingatkan bahwa perubahan adalah satu-satunya hal yang abadi. “Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Maka, siapkan diri kalian untuk terus beradaptasi dan berinovasi agar bisa terus bertahan dan berkembang di dunia yang selalu berubah ini,” pungkasnya. (*)
Reporter (Pers Mahasiswa) : Nila Aryani
Editor: Asyihin
Dr. Muhammad Kadafi Kembali Jabat Rektor Universitas Malahayati Periode 2024-2028
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Dr. Muhammad Kadafi, SH., MH., kembali menjabat sebagai Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung untuk periode 2024-2028. Serah terima jabatan dilakukan, Senin, 23 September 2024, menggantikan Dr. Achmad Farich, dr., MM., yang telah menjabat sebagai Rektor sejak tahun 2019.
Dalam acara serah terima jabatan yang berlangsung di gedung rektorat Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi memberikan penghargaan atas kepemimpinan Dr. Achmad Farich yang telah banyak membawa inovasi selama lima tahun terakhir.
Selain penggantian Rektor, beberapa pejabat struktural universitas juga mengalami pergantian, berdasarkan Surat Keputusan Pengurus Yayasan Alih Teknologi Bandar Lampung, di antaranya:
1. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., NS., M.Kes menggantikan Dr. Muhammad, S.Kom., MM sebagai Wakil Rektor I Universitas Malahayati.
2. Nirwanto, S.Pd., M.Kes menggantikan Dr. Harmani Harun, SE., Ak., MM sebagai Pelaksana Tugas (PIt) Wakil Rektor II Universitas Malahayati.
3. Ahmad Iqbal, S.Sbmenggantikan Tarmizi, SE., M.Ak sebagai Kepala Bagian Administrasi Akademik Universitas Malahayati. Sebelumnya, Ahmad Iqbal menjabat sebagai Kepala Pusat Pengembangan Pembelajaran dan Teknologi (P3T), yang kini dijabat oleh Reni Tania.
4. Harmani Harun, SE., Ak., MM menggantikan Tarmizi, SE., M.Ak sebagai Kepala Bagian Administrasi Umum Universitas Malahayati.
5. Yunizar, SE menggantikan Dr. Muhammad, S.Kom., MM sebagai Kepala Bagian Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Malahayati.
Pergantian jabatan ini diharapkan mampu membawa semangat baru dalam mencapai target-target strategis Universitas Malahayati ke depan. Semua pejabat yang baru dilantik diharapkan dapat bekerja sama dalam memajukan visi universitas menuju peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan mahasiswa.
Serah terima jabatan ini disaksikan seluruh civitas akademika dan pengurus Yayasan Alih Teknologi Bandar Lampung (*)
Redaktur : Asyihin