Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
KABUT mulai terangkat, tapi suasana justru makin terasa berat. Paimin mengaduk sisa kopi hitam di gelas kaleng, sementara Paino menyeringai tipis melihat spanduk “ASET NEGARA” yang dipasang di gerbang pabrik.
Paimin: “Lihat itu, No. Spanduknya baru, tulisannya gede. Aset negara katanya. Kita ini apa? Bonus penderitaan?”.
Paino: “Haha… mungkin kita ini aset yang lupa dicatat. Soalnya aset yang satu ini kerjanya cuma makan nasi sama garam, nggak pakai proposal.”
Paimin tertawa hambar. “Dulu kalau pabrik butuh lembur, kita dipanggil patriot. Sekarang giliran ditutup, kita jadi angka kecil di catatan kaki.”
Paino: “Iya. Katanya gula nasional harus kuat, harus berdaulat. Tapi buruhnya disuruh puasa kedaulatan. Berdaulat menahan lapar.”
Paimin menatap tangannya yang kapalan. “Tanganku ini sudah hapal batang tebu, No. Tapi mungkin negara mikirnya tangan kayak gini bisa langsung berubah jadi tangan ahli strategi.”
Paino: “Atau disuruh jadi wirausaha. Modalnya apa? Pengalaman nunggu gajian telat?”
Mereka terdiam sebentar, lalu Paino terkekeh. “Lucunya, Min, kita disuruh sabar. Katanya perubahan butuh pengorbanan. Tapi kok yang selalu dikorbankan orang yang sama.”
Paimin: “Sabar itu kayak tebu, No. Diperas terus, manisnya diambil, ampasnya dibuang.”
Paino mengangguk pelan. “Kalau nanti pabrik ini jadi gedung baru, aku pengin datang cuma buat lihat. Biar bisa bilang ke anakku: ‘Dulu bapak ikut bikin tempat ini berdiri, walau akhirnya bapak disuruh berdiri di luar.’”
Paimin tersenyum pahit. “Ya sudahlah, No. Kita ini buruh tebang. Kalau bukan tebu yang tumbang, ya harapan kita.”
Angin berdesir. Tebu bergoyang. Dan satire hidup mereka tetap berdiri, tanpa perlu panggung.
Pencabutan hak guna usaha atas puluhan ribu hektare lahan perkebunan tebu serta fasilitas pabrik gula yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat di Lampung merupakan sebuah tipping point dalam relasi antara negara, korporasi, dan warga pekerja.
Keputusan mengembalikan lahan tersebut ke pengelolaan negara melalui institusi pertahanan bukan semata persoalan administratif agraria atau hukum semata; ia juga membuka pertanyaan mendasar soal bagaimana nilai-nilai kemanusiaan diintegrasikan dalam kebijakan redistribusi aset negara.
Dari perspektif humanisme kontemporer; yang menempatkan martabat dan kesejahteraan manusia sebagai pusat telaah, keputusan ini harus dibaca tidak hanya melalui lensa legalitas kepemilikan lahan, tetapi juga dampaknya terhadap puluhan ribu pekerja dan komunitas lokal yang bergantung pada operasi perusahaan gula itu untuk penghidupan.
Sebuah perusahaan besar tidak hanya berarti sebidang tanah dan mesin; ia mengandung kehidupan sosial-ekonomi yang terjalin melalui pekerjaan, keterampilan, industri lokal, sampai jaringan pasokan dan konsumsi.
Ketika hak guna usaha dicabut, terlebih dalam skala sangat luas, ancaman terhadap mata pencaharian pekerja bukan sekadar potensi: ia menjadi realitas yang harus dijawab secara serius.
Humanisme kontemporer menuntut kita melihat warga pekerja bukan sebagai angka statistik atau biaya produksi yang bisa dihilangkan dari neraca, tetapi sebagai individu yang memiliki hak atas rencana hidup yang aman, stabil, dan bermartabat.
Ketika ketidakpastian menggantung,“masih bisa bekerja atau tidak?” menjadi pertanyaan harian bagi banyak pekerja; ketidakpastian itu sendiri menjadi sumber trauma psikologis, tekanan sosial, dan kemungkinan pemburukan kondisi kesehatan mental serta fisik keluarga mereka.
Dalam konteks yang lebih luas, kerja memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar menghasilkan uang. Pekerjaan memberikan struktur bagi kehidupan, rasa harga diri dan kontribusi sosial. Kehilangan akses terhadap pekerjaan yang stabil berarti kehilangan akses terhadap makna sosial dan rasa keterhubungan komunitas.
Ketika masyarakat daerah menggantungkan ekonomi lokal pada industri utama seperti pabrik gula, keputusan untuk mencabut operasional itu tanpa strategi transisi yang adil berpotensi memperbesar jurang ketimpangan dan mengikis jaringan sosial yang telah terbangun selama puluhan tahun.
Humanisme kontemporer juga menekankan perlunya kebertanggungjawaban negara dalam transisi sosial-ekonomi.
Negara sebagai pemegang kedaulatan tertinggi memiliki kewajiban moral, selain legal; untuk memastikan bahwa perubahan kebijakan yang berdampak luas tidak menambah beban pada kelompok paling rentan.
Artinya, pencabutan HGU dan ambil alih lahan negara semestinya tidak berhenti pada sekadar pengembalian aset negara, tetapi juga harus diikuti dengan langkah konkret yang menjamin bahwa pekerja dan keluarga mereka tidak menjadi korban dari proses redistribusi itu sendiri.
Ini termasuk pemberdayaan ekonomi, program pelatihan ulang keterampilan, kompensasi yang adil, jaminan sosial sementara, serta akses ke peluang kerja lain, termasuk dalam proyek baru yang mungkin dijalankan di bawah manajemen negara.
Selain itu, dalam kajian humanisme, penting untuk mempertimbangkan aspirasi kolektif masyarakat lokal, yang bisa saja berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Pemerintah dan para pembuat kebijakan perlu membuka ruang dialog yang memadai dengan komunitas pekerja, serikat pekerja, dan warga desa sekitar lahan; tidak hanya pada level teknis hukum tetapi juga pada level keseharian hidup mereka.
Tanpa dialog inklusif, kebijakan apa pun berisiko dipersepsikan sebagai paksaan top-down yang mengabaikan realitas kehidupan warga, sehingga memperlemah legitimasi sosial kebijakan itu sendiri.
Di sisi lain, dari sudut pandang etika ekonomi, redistribusi lahan yang bertujuan memperbaiki kesalahan penerbitan HGU harus dirancang dengan prinsip keadilan distributif.
Jika lahan itu memang secara hukum milik negara, dan penguasaan sebelumnya merupakan sebuah kekeliruan atau pelanggaran, maka negara berhak mengambil langkah korektif. Namun, koreksi ini harus dilakukan sambil menjaga keberlangsungan mata pencaharian mereka yang terdampak.
Ide humanisme kontemporer berfungsi sebagai pengingat bahwa keadilan tidak cukup hanya ditegakkan dalam tataran hukum, tetapi juga dalam tataran kehidupan nyata warga yang bergantung pada struktur ekonomi yang sedang dipermasalahkan.
Singkatnya, dalam kaca mata humanisme kontemporer, nasib pekerja dan komunitas lokal harus menjadi pusat evaluasi kebijakan, bukan sekadar legalitas lahan atau efisiensi administratif.
Transformasi ini menuntut sebuah pendekatan yang menghormati martabat manusia, menyediakan jaminan sosial dan peluang masa depan, serta membangun dialog yang tulus antara negara dan masyarakat yang terkena dampak.
Tanpa itu, keputusan besar di lapangan bisa berubah dari gula yang memaniskan kehidupan menjadi empedu yang pahit dinikmati oleh mereka yang paling rentan, dan ironisnya ini yang paling bawah dan paling banyak. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Pastikan Tepat Sasaran, Prodi Manajemen UNMAL Gelar Evaluasi KIP Kuliah untuk Dorong Prestasi dan Kelulusan Tepat Waktu
Bandar Lampung (malahayati.ac.id) – Program Studi Manajemen Universitas Malahayati (UNMAL) menyelenggarakan kegiatan Evaluasi KIP Kuliah sebagai upaya mendorong peningkatan prestasi akademik serta keberlanjutan studi mahasiswa penerima bantuan pendidikan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 26 Januari 2026, bertempat di Ruang Perkuliahan 6.14 Universitas Malahayati.
KIP Kuliah merupakan program bantuan dari Pemerintah Indonesia yang memberikan pembebasan biaya kuliah (UKT) serta bantuan biaya hidup bulanan bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu secara ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan perhatian bersama untuk memastikan ketepatan sasaran bantuan, meningkatkan disiplin akademik penerima, serta memastikan efektivitas pemanfaatan dana dalam menunjang prestasi mahasiswa. Evaluasi berkala menjadi langkah penting untuk memverifikasi kondisi ekonomi mahasiswa, mencegah potensi penyalahgunaan dana, serta meningkatkan kualitas pendampingan akademik.
Mengusung tema “Optimalisasi Program KIP dalam Mendukung Prestasi dan Keberlanjutan Studi Mahasiswa”, kegiatan evaluasi ini diikuti oleh 36 mahasiswa penerima KIP Kuliah dan Non-KIP (Beasiswa Padamu Negeri) dari angkatan 2022 hingga 2025. Kegiatan ini menjadi bentuk komitmen Program Studi Manajemen dalam memastikan bantuan pendidikan dimanfaatkan secara efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Acara dibuka secara resmi melalui sambutan Ketua Program Studi Manajemen, Dr. Febrianty, S.E., M.Si, yang menekankan pentingnya kedisiplinan akademik dan tanggung jawab mahasiswa penerima beasiswa. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Dekan Fakultas, Dr. Rahyono, S.Sos., M.M, yang mengapresiasi pelaksanaan evaluasi sebagai langkah strategis dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan studi mahasiswa. Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Pelaksana, Hasan Arifin, S.E., M.M.
Agenda evaluasi diawali dengan pemaparan materi “All About KIP” oleh Hiro Sejati, S.E., M.M, yang disertai sesi tanya jawab untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terkait hak, kewajiban, serta ketentuan Program KIP Kuliah. Selanjutnya, Evaluasi Tahap II diisi dengan pemaparan dan penandatanganan Pakta Integritas yang disampaikan oleh Muhammad Irfan Pratama, S.E., M.E, sebagai bentuk komitmen mahasiswa dalam menjaga prestasi akademik dan menyelesaikan studi sesuai ketentuan.
Sebagai bentuk pendampingan yang lebih komprehensif, kegiatan dilanjutkan dengan sesi konseling KIP dan Non-KIP yang melibatkan Tim Dosen Program Studi Manajemen, yaitu Amril Samosir, S.Kom., M.T.I., Reza Hardian Pratama, S.E., M.M., Rizki Agung Wibowo, S.Mat., M.Mat., Ayu Nursari, S.E., M.E., Euis Mufahamah, S.E., M.Ak., dan Lestari Wuryanti, S.E., M.M. Sesi konseling ini bertujuan untuk meninjau perkembangan akademik mahasiswa, capaian Indeks Prestasi, serta kesiapan mahasiswa dalam menyelesaikan studi tepat waktu.
Melalui kegiatan evaluasi ini, Program Studi Manajemen Universitas Malahayati menegaskan komitmennya dalam mendukung pemerataan akses pendidikan tinggi yang berkeadilan, berkualitas, serta berorientasi pada keberhasilan dan keberlanjutan studi mahasiswa penerima KIP Kuliah.
Kegiatan evaluasi KIP Kuliah yang diselenggarakan oleh Program Studi Manajemen Universitas Malahayati merupakan langkah strategis dalam menjaga akuntabilitas dan keberlanjutan bantuan pendidikan. Tidak hanya berfungsi sebagai pengawasan administratif, evaluasi ini juga menjadi ruang pembinaan yang mendorong mahasiswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap prestasi akademik dan masa studinya. Melalui pendekatan evaluatif dan konseling yang berkelanjutan, program KIP Kuliah diharapkan tidak sekadar menjadi bantuan finansial, tetapi juga instrumen pembentuk karakter, kedisiplinan, serta komitmen mahasiswa dalam meraih keberhasilan pendidikan tinggi secara berkelanjutan.(fkr)
Editor : Fadly KR
Harumkan Nama Kampus Mahasiswa UNMAL Berprestasi di POPKOT Bandar Lampung 2025
Bandar Lampung (malahayati.ac.id) : Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Della Tree Yarnisha, mahasiswa Program Studi S1 Manajemen dengan NPM 25220037, berhasil mengukir prestasi gemilang pada cabang olahraga Hapkido dalam ajang Pekan Olahraga Kota (POPKOT) Bandar Lampung 2025 yang diselenggarakan pada 25–26 Desember 2025.
Dalam ajang tersebut, Della sukses meraih Juara 2 kategori Daeryun Junior Under 46 Kg, serta menambah raihan prestasi dengan Juara 3 kategori Hyung Berpasangan. Kejuaraan ini diselenggarakan oleh Wali Kota Bandar Lampung dan diikuti oleh atlet-atlet terbaik dari berbagai cabang olahraga bela diri.
Capaian ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Malahayati mampu menyeimbangkan antara aktivitas akademik dan pengembangan diri di bidang nonakademik. Ketekunan, disiplin, serta konsistensi dalam berlatih menjadi faktor utama yang mengantarkan Della meraih hasil membanggakan tersebut. Ketertarikannya pada dunia olahraga, khususnya bela diri Hapkido, menjadi dorongan kuat untuk terus berkembang dan berprestasi.
Della juga menyampaikan pesan motivatif kepada mahasiswa lainnya,
“Jadilah diri sendiri dan jangan takut akan kegagalan, karena kegagalan atau kekalahan bukan akhir dari segalanya.”
Pesan ini menjadi refleksi bahwa proses, perjuangan, dan keberanian untuk mencoba jauh lebih penting daripada sekadar hasil akhir.
Prestasi yang diraih Della Tree Yarnisha bukan hanya menjadi pencapaian individu, tetapi juga mencerminkan semangat mahasiswa Universitas Malahayati yang berani keluar dari zona nyaman. Di tengah tuntutan akademik yang padat, Della membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukan alasan untuk berhenti berprestasi. Keberhasilannya di ajang POPKOT 2025 diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa lain untuk terus menggali potensi diri, baik di bidang akademik maupun nonakademik, serta menanamkan keyakinan bahwa kegigihan dan konsistensi akan selalu menemukan jalannya menuju prestasi. (fkr)
Editor: Fadly KR
Fakultas Hukum UNMAL Rayakan Dies Natalis ke-10, Dorong Hukum Bisnis dan Kewirausahaan Menuju Indonesia Emas 2045
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) : Fakultas Hukum Universitas Malahayati (UNMAL) merayakan Dies Natalis ke-10 dengan mengusung tema “Satu Dekade Fakultas Hukum Universitas Malahayati: Meneguhkan Hukum Bisnis dan Kewirausahaan untuk Indonesia Emas 2045”. Perayaan ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen fakultas dalam pengembangan pendidikan hukum yang adaptif terhadap tantangan zaman.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, SH., MH., menyampaikan rasa bangga atas capaian fakultas selama satu dekade terakhir. Ia menegaskan bahwa Fakultas Hukum Universitas Malahayati telah berkembang menjadi pusat pengembangan ilmu hukum, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, serta mampu membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik dan profesional yang relevan dengan kebutuhan nasional maupun global, khususnya di bidang hukum bisnis dan kewirausahaan.
Perayaan Dies Natalis ke-10 ini turut dihadiri oleh Kepala Program Studi Ilmu Hukum Dr. Rissa Afni Martinouva, S.H., M.H., Dosen Pengampu Mata Kuliah Kewirausahaan Ana Setia Ratu, S.E., M.Ak., jajaran dosen Fakultas Hukum, perwakilan alumni, serta mahasiswa berprestasi.
Rangkaian kegiatan Dies Natalis berlangsung meriah dan edukatif. Kegiatan diawali dengan program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Provinsi Lampung. Selanjutnya, Fakultas Hukum menyelenggarakan Seminar Internasional ICESH 2025 serta Kuliah Pakar Hukum Bisnis yang menghadirkan narasumber kompeten, di antaranya Prof. Dr. Hamzah, S.H., M.H., PIA. (Wakil Ketua Komite Advokasi Daerah Kamar Dagang dan Industri Lampung), Riski Heber, S.H., M.H. (Hakim Pengadilan Negeri Kota Metro), dan Dr. Rissa Afni Martinouva, S.H., M.H. (Akademisi Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Malahayati).
Selain itu, Fakultas Hukum Universitas Malahayati juga menampilkan implementasi kurikulum Hukum Bisnis dan Kewirausahaan berbasis Outcome-Based Education (OBE) sebagai wujud inovasi pendidikan dan penguatan kompetensi lulusan. Puncak perayaan Dies Natalis ditandai dengan acara seremonial yang dihadiri oleh seluruh sivitas akademika, alumni, serta mitra strategis fakultas.
Sebagai bentuk dukungan terhadap semangat kewirausahaan mahasiswa, Fakultas Hukum juga memberikan sertifikat penghargaan kepada tiga kelompok terbaik mata kuliah Kewirausahaan. Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas kreativitas dan inovasi mahasiswa dalam mengembangkan ide bisnis yang aplikatif dan berkelanjutan.
Melalui peringatan satu dekade ini, Fakultas Hukum Universitas Malahayati semakin menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Fakultas Hukum juga bertekad menjadi wadah lahirnya generasi profesional hukum yang berkompeten, inovatif, beretika religius, serta berorientasi pada pengembangan law technopreneur, sejalan dengan visi dan misi program studi menuju Indonesia Emas 2045.
Peringatan satu dekade Fakultas Hukum Universitas Malahayati menjadi momentum penting yang menandai kematangan institusi dalam menjawab tantangan perkembangan hukum di era modern. Fokus pada penguatan hukum bisnis dan kewirausahaan, ditopang kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), menunjukkan komitmen Fakultas Hukum UNMAL dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif, inovatif, dan beretika religius, serta mampu berperan sebagai law technopreneur yang relevan dengan visi Indonesia Emas 2045.(fkr)
Editor : Fadly KR
Universitas Malahayati Laksanakan Rotasi dan Penyegaran Pejabat Struktural Tahun 2026
Bandar Lampung (malahayati.ac.id) : Universitas Malahayati melaksanakan rotasi dan penyegaran di kalangan pejabat struktural, Senin, 26 Januari 2026, sebagai bagian dari upaya penguatan tata kelola organisasi dan peningkatan kinerja institusi.
Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Malahayati, sejumlah pejabat struktural mendapatkan perpanjangan masa jabatan. Di antaranya Aryanti Wardiyah, Ns., M.Kep., Sp.Kep.Mat yang kembali dipercaya menjabat sebagai Ketua Program Studi S1 Keperawatan sekaligus Ketua Program Studi Profesi Keperawatan (Ners) Fakultas Ilmu Kesehatan. Selain itu, Dr. Rissa Afni Martinouva, S.H., M.H. diperpanjang masa jabatannya sebagai Ketua Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum, serta Sutikno, S.Pd.I., M.Pd.I. sebagai Kepala Asrama Universitas Malahayati.
Perpanjangan masa jabatan juga diberikan kepada sejumlah pimpinan dan pejabat struktural lainnya sebagai bagian dari kesinambungan kepemimpinan institusi, yakni Dr. Rahyono, S.Sos., M.M. sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Muhammad Luthfi, S.E., M.Si. sebagai Ketua Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Manajemen, serta Diah Astika Winahyu, S.Si., M.Si. sebagai Sekretaris Program Studi DIII Analis Farmasi dan Makanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati.
Seiring dengan itu, Universitas Malahayati juga menetapkan penyesuaian dan penggantian jabatan struktural pada sejumlah unit kerja. Sudarsono diangkat sebagai Kepala Bagian Rumah Tangga Universitas Malahayati menggantikan Agus Priyono, serta Dr. Dwi Marlina, S.Si., M.BsC diangkat sebagai Kepala UPT Laboratorium Universitas Malahayati menggantikan Andoko, Ns., M.Kes.
Di tingkat program studi, Dr. Yuni Ekawarti, S.E., M.M., CTA., ACPA ditetapkan sebagai Ketua Program Studi S2 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati menggantikan Dr. Azli Fahrizal, S.E., M.Si. Selanjutnya, Devi Kurniasari, S.S.T., M.Kes diangkat sebagai Ketua Program Studi S1 Kebidanan dan Ketua Program Studi Profesi Bidan Fakultas Ilmu Kesehatan, menggantikan Fijri Rachmawati, S.ST., M.Keb dan Nurul Isnaini, S.ST., M.Kes. Selain itu, Ike Ate Yuviska, S.SiT., M.Kes diangkat sebagai Sekretaris Program Studi DIII Kebidanan, serta Dr. Usastiawati Cik Ayu, S.I., Ns., M.Kes sebagai Ketua Program Studi S2 Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati, menggantikan Dr. Samino, S.H., M.Kes.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes, menyampaikan bahwa rotasi dan penyegaran jabatan merupakan langkah strategis untuk menjaga kesinambungan organisasi sekaligus mendorong peningkatan kinerja institusi. Ia berharap para pejabat yang diberi amanah dapat bekerja secara profesional, inovatif, serta berorientasi pada peningkatan mutu akademik dan pelayanan kepada mahasiswa.
Penataan dan penyegaran jabatan struktural ini diharapkan mampu memperkuat tata kelola organisasi dan meningkatkan kualitas akademik serta pelayanan pendidikan di Universitas Malahayati.
Kegiatan penetapan pejabat struktural tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes, Wakil Rektor II Nirwanto, S.Pd., M.Kes, Wakil Rektor III Dr. Eng. Rina Febrina, S.T., M.T., serta Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes, Ketua PMB Romy J. Utama, S.E., M.Sos, para dekan fakultas, kepala unit kerja, pejabat struktural, dosen, serta perwakilan Yayasan Alih Teknologi. (*)
Editor: Fadly KR
Mahasiswa S2 Kesmas UNMAL Gelar Webinar Kesehatan Global Bahas Transformasi Kesehatan Berkeadilan
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Program Studi Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati (UNMAL) melalui mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat sukses menyelenggarakan Webinar Kesehatan Global dengan tema “Transformasi Kesehatan Berkeadilan: Etika UHC, Pemberdayaan Masyarakat, dan Inovasi Digital dalam Pencegahan Stunting dan Eliminasi TB” pada Rabu, 21 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh kurang lebih 600 peserta dari berbagai latar belakang akademik dan praktisi kesehatan. Sementara itu, pelaksanaan secara luring diikuti secara terbatas oleh pimpinan universitas dan panitia di Rektorat Universitas Malahayati Lantai 5, Ruang Kelas Pascasarjana, dimulai pukul 08.00 WIB.
Webinar Kesehatan 2026 ini turut dihadiri oleh Prof. Dr. Sudjarwo, M.S, Guru Besar Universitas Malahayati dan dosen Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Wakil Rektor II Universitas Malahayati, Nirwanto, S.Pd., serta M.Kes, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati, Dr. Lolita Sary, S.KM., M.Kes. Hadir pula Dr. Samino, S.H., M.Kes, selaku Ketua Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Dr. Wayan Aryawati, S.KM., M.Kes selaku dosen Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, serta Fitri Ekasari, S.KM., M.Kes, dosen Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor II Universitas Malahayati, Nirwanto, S.Pd., M.Kes, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya webinar ini sebagai bentuk kontribusi nyata sivitas akademika Universitas Malahayati dalam mendukung pembangunan kesehatan nasional. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi sistem kesehatan yang berkeadilan melalui penguatan akademik, riset, serta pemanfaatan inovasi digital.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati, Dr. Lolita Sary, S.KM., M.Kes, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dalam penguatan kapasitas akademik dan profesional mahasiswa, khususnya di bidang kesehatan masyarakat. Ia berharap webinar ini dapat memberikan wawasan komprehensif bagi peserta dalam memahami strategi promotif dan preventif guna menekan angka stunting dan tuberkulosis.
Webinar ini menghadirkan narasumber Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, serta Dr. Wayan Aryawati, S.KM., M.Kes, dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati. Kedua narasumber membahas transformasi sistem kesehatan yang berkeadilan, mencakup etika Universal Health Coverage (UHC), pemberdayaan masyarakat, serta pemanfaatan inovasi digital dalam upaya pencegahan stunting dan eliminasi tuberkulosis (TB).
Kegiatan ini dipandu oleh MC Leni Hartati, S.KM, mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, dengan dr. Melly Kemerdasari KN, Sp.KKLP sebagai moderator. Diskusi berlangsung interaktif dan mendapat respons positif dari para peserta yang aktif mengikuti sesi pemaparan dan tanya jawab.
Selain memperoleh pengetahuan terkini di bidang kesehatan masyarakat, peserta juga mendapatkan berbagai manfaat, seperti sertifikat kegiatan, kesempatan memperluas jejaring profesional, serta doorprize yang menambah antusiasme peserta.
Melalui penyelenggaraan Webinar Kesehatan 2026 ini, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya dalam mendorong penguatan budaya akademik dan kontribusi nyata terhadap terwujudnya sistem kesehatan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Webinar Kesehatan 2026 yang diselenggarakan Universitas Malahayati merupakan langkah strategis dalam merespons tantangan kesehatan nasional melalui pendekatan akademik yang relevan dan aplikatif. Pemilihan tema transformasi kesehatan berkeadilan, yang mengangkat etika UHC, pemberdayaan masyarakat, serta inovasi digital, memberikan pemahaman komprehensif bagi peserta tentang pentingnya sinergi antara kebijakan, praktik, dan teknologi. Pelaksanaan kegiatan secara luring dan daring juga memperluas jangkauan partisipasi sekaligus mencerminkan adaptasi perguruan tinggi terhadap perkembangan zaman. Penulis menilai kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga memperkuat peran Universitas Malahayati sebagai institusi yang aktif berkontribusi dalam pembangunan sistem kesehatan yang adil dan berkelanjutan.(fkr)
Editor : Fadly KR
Universitas Malahayati Umumkan Para Juara Malahayati Year Festival 2026
Bandarlampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati sukses menyelenggarakan Malahayati Year Festival (MYF) 2026 dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32. Kegiatan ini berlangsung pada 19–24 Januari 2026 di lingkungan Universitas Malahayati dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai SMA/SMK sederajat di Provinsi Lampung.
Malahayati Year Festival 2026 menjadi ajang kompetisi dan apresiasi bakat pelajar dalam berbagai bidang, di antaranya Baca Puisi, Story Telling, Solo Pop, Solo Dangdut, Speech, serta Video Promosi. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat kompetisi, kreativitas, serta mempererat silaturahmi antar sekolah.
Kegiatan Malahayati Year Festival 2026 turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati, Dr. Lolita Sary, S.KM., M.Kes, yang mewakili Rektor Universitas Malahayati, beserta jajaran pimpinan dan sivitas akademika Universitas Malahayati. Hadir pula Koordinator MYF 2026, Syafik Arisandi, S.S., M.Kes, selaku penanggung jawab pelaksanaan kegiatan.
Selain itu, kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan fakultas dan program studi, di antaranya Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran, Muhammad Luthfi, S.E., M.Si selaku Ketua Program Studi Akuntansi, serta Dr. Weka Indra Dharmawan, S.T., M.T selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Malahayati.
Adapun pejabat struktural Universitas Malahayati yang turut hadir antara lain Muhammad Ricko Gunawan, S.Kep., M.Kes selaku Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan, Ahmad Iqbal, S.S selaku Kepala Biro Administrasi Akademik, Rudi Winarno, Ns., M.Kes selaku Kepala Bagian Kemahasiswaan, Sutikno, M.Pd.I selaku Kepala Asrama, serta Emil Tanhar, S.Kom selaku Kepala Bagian Humas.
Berdasarkan Surat Keputusan Juri Nomor 025/DIESUNMAL32/I/2026, panitia pelaksana menetapkan SMA Negeri 1 Bukit Kemuning sebagai Juara Umum Malahayati Year Festival Tahun 2026, setelah berhasil meraih nilai tertinggi dari akumulasi prestasi para peserta didiknya.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati, Dr. Lolita Sary, S.KM., M.Kes, yang mewakili Rektor Universitas Malahayati, menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, peserta, pendamping, serta pihak sekolah yang telah berpartisipasi aktif dalam menyukseskan Malahayati Year Festival Tahun 2026.
“Melalui Malahayati Year Festival, Universitas Malahayati berharap dapat memberikan ruang bagi para pelajar untuk mengekspresikan bakat, meningkatkan kepercayaan diri, serta mempersiapkan diri menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kami berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang luas,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator MYF 2026, Syafik Arisandi, S.S., M.Kes, juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh peserta, pendamping, serta pihak sekolah yang telah berpartisipasi aktif dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Antusiasme, semangat kompetisi, dan kreativitas para peserta telah menghadirkan suasana yang luar biasa dan penuh inspirasi. Kami berharap Malahayati Year Festival dapat menjadi pengalaman berharga serta motivasi bagi para siswa untuk terus berprestasi,” ungkapnya.
Pada malam puncak Malahayati Year Festival 2026, tercatat terdapat empat sekolah dengan perolehan piala terbanyak. Selain juara umum, tiga sekolah lainnya mendapatkan bantuan fasilitas pengembangan prestasi dari anggota Komisi X DPR RI, Bapak Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H.
Adapun tiga sekolah penerima bantuan fasilitas pengembangan prestasi tersebut adalah:
Daftar Pemenang Malahayati Year Festival 2026
Cabang Lomba Baca Puisi
Cabang Lomba Story Telling
Cabang Lomba Solo Pop Pria
Cabang Lomba Solo Pop Wanita
Cabang Lomba Solo Dangdut Wanita
Cabang Lomba Solo Dangdut Pria
Cabang Lomba Speech
Cabang Lomba Video Promosi
Universitas Malahayati berharap kegiatan Malahayati Year Festival dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai wadah pembinaan bakat, minat, dan prestasi pelajar, sekaligus memperkuat peran Universitas Malahayati sebagai institusi pendidikan yang mendukung pengembangan generasi muda berprestasi.
Malahayati Year Festival 2026 tidak hanya menjadi ajang perlombaan semata, tetapi juga mencerminkan komitmen Universitas Malahayati dalam membuka ruang apresiasi dan pembinaan bagi generasi muda. Melalui rangkaian kompetisi yang beragam, kegiatan ini mampu menjadi wadah aktualisasi bakat sekaligus sarana pembentukan karakter, kepercayaan diri, dan sportivitas pelajar. Diharapkan, Malahayati Year Festival ke depan tidak hanya mempertahankan kualitas penyelenggaraan, tetapi juga terus berkembang sebagai agenda tahunan yang inspiratif dan menjadi rujukan pengembangan prestasi pelajar di Provinsi Lampung.(fkr)
Editor : Fadly KR
Prodi Profesi Bidan FIK UNMAL Gelar Kuliah Pakar dan Scientific Midwifery Poster Exhibition
Bandarlampung (malahayati.ac.id): Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Malahayati (UNMAL) menyelenggarakan rangkaian kegiatan Kuliah Pakar dan Scientific Midwifery Poster Exhibition sebagai bagian dari upaya penguatan proses pembelajaran serta peningkatan kompetensi mahasiswa profesi bidan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Kuliah Pakar yang dilaksanakan pada 8 Januari 2026. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Nurul Isnaini, SST., M.Kes, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Bidan. Dalam sambutannya, Ketua Program Studi menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Universitas Malahayati atas dukungan dan fasilitasi yang diberikan, serta kepada seluruh pihak yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan sehingga dapat terselenggara dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Kuliah Pakar mengangkat tema “Konseling Kehamilan Menyenangkan: Membangun Ibu Berdaya dan Persalinan Aman” dengan menghadirkan Yessie Aprilia, S.SiT., Bdn., M.Kes, Founder Bidan Kita, sebagai narasumber. Narasumber yang dikenal sebagai pembicara nasional dan praktisi kebidanan ini memaparkan materi terkait penerapan konseling kehamilan yang berpusat pada ibu (woman-centered care), berbasis filosofi kebidanan dan evidence-based midwifery, sebagai bagian dari pendekatan promotif dan preventif dalam pelayanan kebidanan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Scientific Midwifery Poster Exhibition yang dilaksanakan pada 23 Januari 2026. Kegiatan ini menampilkan 21 poster ilmiah karya mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Malahayati. Poster-poster tersebut disusun di bawah bimbingan dosen kebidanan FIK UNMAL dan memuat kajian ilmiah yang terintegrasi dengan praktik asuhan kebidanan.
Kegiatan Scientific Midwifery Poster Exhibition dihadiri oleh Dekan FIK Universitas Malahayati, Dr. Lolita Sari, M.Kes, Wakil Dekan FIK, Khoidar Amirus, M.Kes, serta seluruh dosen Kebidanan FIK Universitas Malahayati sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan budaya akademik dan pengembangan profesionalisme mahasiswa profesi bidan.
Seluruh poster yang dipamerkan dinilai secara langsung oleh Dekan, Wakil Dekan, dan Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Bidan. Penilaian dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, meliputi substansi ilmiah, kebaruan dan relevansi topik, penerapan evidence-based midwifery, kreativitas penyajian, serta kemampuan komunikasi ilmiah mahasiswa. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, ditetapkan tiga poster terbaik (Best Poster) dengan tema:
Pada sesi penilaian, Dekan dan Wakil Dekan FIK menyampaikan bahwa kegiatan Scientific Midwifery Poster Exhibition merupakan kegiatan yang patut diapresiasi karena memberikan kontribusi nyata dalam penguatan iklim akademik serta mendorong penerapan filosofi kebidanan yang menekankan pelayanan promotif dan preventif berbasis bukti ilmiah. Pimpinan FIK juga menegaskan bahwa kegiatan ini layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari strategi penguatan pendidikan profesi bidan.
Melalui kegiatan ini, Universitas Malahayati terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong penguatan budaya akademik, kolaborasi antara dosen dan mahasiswa, serta integrasi pembelajaran ilmiah dengan praktik profesional guna meningkatkan mutu pelayanan kebidanan di masa depan.
Rangkaian kegiatan Kuliah Pakar dan Scientific Midwifery Poster Exhibition yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Profesi Bidan FIK Universitas Malahayati merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan pendidikan profesi bidan di era pelayanan kesehatan yang semakin kompleks. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan teoritis mahasiswa, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa praktik kebidanan harus berlandaskan filosofi kebidanan dan bukti ilmiah yang kuat.(fkr)
Editor : Fadly KR
Prodi Manajemen UNMAL Bekali Mahasiswa Melalui Pemantapan Konsentrasi Menuju Karier Unggul
Bandarlampung (malahayati.ac.id): Program Studi Manajemen Universitas Malahayati (UNMAL) menyelenggarakan kegiatan Pemantapan Konsentrasi Manajemen dengan tema “Shape Your Path: Smart Decisions for Your Academic and Career Journey” pada Senin, 19 Januari 2026. Kegiatan ini bertujuan sebagai wadah strategis bagi mahasiswa dalam menentukan konsentrasi akademik yang sesuai dengan minat, potensi, serta arah pengembangan karier di masa depan.
Pemantapan konsentrasi merupakan tahap pendalaman studi yang dilaksanakan pada semester 6, yang dirancang untuk mengasah keahlian spesifik mahasiswa agar lebih kompeten dan siap menghadapi dunia kerja. Dalam konsentrasi Manajemen, mahasiswa dibekali materi yang beragam, mulai dari teori hingga praktik, sehingga mampu berpikir kritis sekaligus menerapkan konsep sesuai dengan kebutuhan industri. Mahasiswa juga dilatih bekerja dalam tim serta mengerjakan proyek yang meniru kondisi dunia kerja nyata.
Kegiatan ini diikuti oleh 207 mahasiswa angkatan 2024 dan dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi Manajemen, Ibu Dr. Febrianty, S.E., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa pemilihan konsentrasi merupakan keputusan akademik yang sangat penting karena akan menentukan arah pendalaman kompetensi mahasiswa selama masa studi. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan mampu memilih konsentrasi secara sadar, terencana, dan berorientasi pada kebutuhan dunia kerja serta tantangan global.
Rangkaian acara disemarakkan dengan pemaparan dari para dosen pengampu masing-masing konsentrasi agar mahasiswa memperoleh gambaran yang utuh dan komprehensif.
Pemaparan pertama disampaikan oleh konsentrasi Pemasaran yang dipandu oleh Ayu Nursari, S.E., M.E. bersama tim dosen pemasaran Hasan Arifin, S.E., M.M. dan Hani Siti Solehah, S.Tr., Keb., M.M. Materi yang dibahas meliputi strategi pemasaran modern, perilaku konsumen, digital marketing, serta peluang karier di bidang pemasaran kreatif dan berbasis data.
Selanjutnya, konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) dipaparkan oleh Dr. Febrianty, S.E., M.Si. bersama tim dosen SDM, yaitu Dr. Afit Afrizal, S.Si., M.M., Reza Hardian Pratama, S.E., M.M., Ketut Sukra Yadnya, M.M., dan Romi Junanto, S.E., M.Sos. Pemaparan ini berfokus pada pengembangan kepemimpinan, manajemen talenta, manajemen kinerja, serta kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dinamika organisasi dan dunia industri.
Pemaparan ketiga yaitu konsentrasi Kewirausahaan (KWU) yang disampaikan oleh Amril Samosir, S.Kom., M.T.I. selaku koordinator mata kuliah, dilanjutkan oleh Dr. Rahyono, S.Sos., M.M., Rizki Agung Wibowo, S.Mat., M.Mat., Hamida Nur Rahmawati, S.Pd., M.Pd., dan Nurul Kholifah, S.E., M.M. Konsentrasi ini menekankan penguatan jiwa entrepreneur, inovasi model bisnis, serta pemanfaatan teknologi digital dalam menciptakan dan mengembangkan usaha mandiri.
Terakhir, konsentrasi Keuangan dipaparkan secara bergantian oleh Prof. Erna Listyaningsih, S.E., M.Si., Lestari Wuryanti, S.E., M.M., Euis Mufahamah, S.E., M.Ak., Anita, S.E., M.E., Ayyumi Khusnul Khotimah, S.E., M.M., Ulfah Alfiyah Darajad, S.E.T., M.E., Putri Ayuni, S.E., M.Ak., Hiro Sejati, S.E., M.M., Muhammad Irfan Pratama, S.E., M.E., dan Harold Kevin Alfredo, S.E., M.B.A. Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar keuangan, pentingnya pengelolaan keuangan, kemudahan pengolahan data tugas akhir, serta peluang karier lulusan di sektor perbankan, keuangan korporasi, dan lembaga keuangan.
Melalui kegiatan pemantapan konsentrasi ini, diharapkan mahasiswa tidak lagi mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan konsentrasi. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan lulusan Program Studi Manajemen yang memiliki kompetensi khusus, selaras dengan kebutuhan industri (link and match), serta memiliki perencanaan karier yang lebih terarah.(fkr)
Editor : Fadly KR
Di Balik HGU SGC, Ada Tangan Kapalan yang Selalu Diabaikan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
KABUT mulai terangkat, tapi suasana justru makin terasa berat. Paimin mengaduk sisa kopi hitam di gelas kaleng, sementara Paino menyeringai tipis melihat spanduk “ASET NEGARA” yang dipasang di gerbang pabrik.
Paimin: “Lihat itu, No. Spanduknya baru, tulisannya gede. Aset negara katanya. Kita ini apa? Bonus penderitaan?”.
Paino: “Haha… mungkin kita ini aset yang lupa dicatat. Soalnya aset yang satu ini kerjanya cuma makan nasi sama garam, nggak pakai proposal.”
Paimin tertawa hambar. “Dulu kalau pabrik butuh lembur, kita dipanggil patriot. Sekarang giliran ditutup, kita jadi angka kecil di catatan kaki.”
Paino: “Iya. Katanya gula nasional harus kuat, harus berdaulat. Tapi buruhnya disuruh puasa kedaulatan. Berdaulat menahan lapar.”
Paimin menatap tangannya yang kapalan. “Tanganku ini sudah hapal batang tebu, No. Tapi mungkin negara mikirnya tangan kayak gini bisa langsung berubah jadi tangan ahli strategi.”
Paino: “Atau disuruh jadi wirausaha. Modalnya apa? Pengalaman nunggu gajian telat?”
Mereka terdiam sebentar, lalu Paino terkekeh. “Lucunya, Min, kita disuruh sabar. Katanya perubahan butuh pengorbanan. Tapi kok yang selalu dikorbankan orang yang sama.”
Paimin: “Sabar itu kayak tebu, No. Diperas terus, manisnya diambil, ampasnya dibuang.”
Paino mengangguk pelan. “Kalau nanti pabrik ini jadi gedung baru, aku pengin datang cuma buat lihat. Biar bisa bilang ke anakku: ‘Dulu bapak ikut bikin tempat ini berdiri, walau akhirnya bapak disuruh berdiri di luar.’”
Paimin tersenyum pahit. “Ya sudahlah, No. Kita ini buruh tebang. Kalau bukan tebu yang tumbang, ya harapan kita.”
Angin berdesir. Tebu bergoyang. Dan satire hidup mereka tetap berdiri, tanpa perlu panggung.
Pencabutan hak guna usaha atas puluhan ribu hektare lahan perkebunan tebu serta fasilitas pabrik gula yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat di Lampung merupakan sebuah tipping point dalam relasi antara negara, korporasi, dan warga pekerja.
Keputusan mengembalikan lahan tersebut ke pengelolaan negara melalui institusi pertahanan bukan semata persoalan administratif agraria atau hukum semata; ia juga membuka pertanyaan mendasar soal bagaimana nilai-nilai kemanusiaan diintegrasikan dalam kebijakan redistribusi aset negara.
Dari perspektif humanisme kontemporer; yang menempatkan martabat dan kesejahteraan manusia sebagai pusat telaah, keputusan ini harus dibaca tidak hanya melalui lensa legalitas kepemilikan lahan, tetapi juga dampaknya terhadap puluhan ribu pekerja dan komunitas lokal yang bergantung pada operasi perusahaan gula itu untuk penghidupan.
Sebuah perusahaan besar tidak hanya berarti sebidang tanah dan mesin; ia mengandung kehidupan sosial-ekonomi yang terjalin melalui pekerjaan, keterampilan, industri lokal, sampai jaringan pasokan dan konsumsi.
Ketika hak guna usaha dicabut, terlebih dalam skala sangat luas, ancaman terhadap mata pencaharian pekerja bukan sekadar potensi: ia menjadi realitas yang harus dijawab secara serius.
Humanisme kontemporer menuntut kita melihat warga pekerja bukan sebagai angka statistik atau biaya produksi yang bisa dihilangkan dari neraca, tetapi sebagai individu yang memiliki hak atas rencana hidup yang aman, stabil, dan bermartabat.
Ketika ketidakpastian menggantung,“masih bisa bekerja atau tidak?” menjadi pertanyaan harian bagi banyak pekerja; ketidakpastian itu sendiri menjadi sumber trauma psikologis, tekanan sosial, dan kemungkinan pemburukan kondisi kesehatan mental serta fisik keluarga mereka.
Dalam konteks yang lebih luas, kerja memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar menghasilkan uang. Pekerjaan memberikan struktur bagi kehidupan, rasa harga diri dan kontribusi sosial. Kehilangan akses terhadap pekerjaan yang stabil berarti kehilangan akses terhadap makna sosial dan rasa keterhubungan komunitas.
Ketika masyarakat daerah menggantungkan ekonomi lokal pada industri utama seperti pabrik gula, keputusan untuk mencabut operasional itu tanpa strategi transisi yang adil berpotensi memperbesar jurang ketimpangan dan mengikis jaringan sosial yang telah terbangun selama puluhan tahun.
Humanisme kontemporer juga menekankan perlunya kebertanggungjawaban negara dalam transisi sosial-ekonomi.
Negara sebagai pemegang kedaulatan tertinggi memiliki kewajiban moral, selain legal; untuk memastikan bahwa perubahan kebijakan yang berdampak luas tidak menambah beban pada kelompok paling rentan.
Artinya, pencabutan HGU dan ambil alih lahan negara semestinya tidak berhenti pada sekadar pengembalian aset negara, tetapi juga harus diikuti dengan langkah konkret yang menjamin bahwa pekerja dan keluarga mereka tidak menjadi korban dari proses redistribusi itu sendiri.
Ini termasuk pemberdayaan ekonomi, program pelatihan ulang keterampilan, kompensasi yang adil, jaminan sosial sementara, serta akses ke peluang kerja lain, termasuk dalam proyek baru yang mungkin dijalankan di bawah manajemen negara.
Selain itu, dalam kajian humanisme, penting untuk mempertimbangkan aspirasi kolektif masyarakat lokal, yang bisa saja berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Pemerintah dan para pembuat kebijakan perlu membuka ruang dialog yang memadai dengan komunitas pekerja, serikat pekerja, dan warga desa sekitar lahan; tidak hanya pada level teknis hukum tetapi juga pada level keseharian hidup mereka.
Tanpa dialog inklusif, kebijakan apa pun berisiko dipersepsikan sebagai paksaan top-down yang mengabaikan realitas kehidupan warga, sehingga memperlemah legitimasi sosial kebijakan itu sendiri.
Di sisi lain, dari sudut pandang etika ekonomi, redistribusi lahan yang bertujuan memperbaiki kesalahan penerbitan HGU harus dirancang dengan prinsip keadilan distributif.
Jika lahan itu memang secara hukum milik negara, dan penguasaan sebelumnya merupakan sebuah kekeliruan atau pelanggaran, maka negara berhak mengambil langkah korektif. Namun, koreksi ini harus dilakukan sambil menjaga keberlangsungan mata pencaharian mereka yang terdampak.
Ide humanisme kontemporer berfungsi sebagai pengingat bahwa keadilan tidak cukup hanya ditegakkan dalam tataran hukum, tetapi juga dalam tataran kehidupan nyata warga yang bergantung pada struktur ekonomi yang sedang dipermasalahkan.
Singkatnya, dalam kaca mata humanisme kontemporer, nasib pekerja dan komunitas lokal harus menjadi pusat evaluasi kebijakan, bukan sekadar legalitas lahan atau efisiensi administratif.
Transformasi ini menuntut sebuah pendekatan yang menghormati martabat manusia, menyediakan jaminan sosial dan peluang masa depan, serta membangun dialog yang tulus antara negara dan masyarakat yang terkena dampak.
Tanpa itu, keputusan besar di lapangan bisa berubah dari gula yang memaniskan kehidupan menjadi empedu yang pahit dinikmati oleh mereka yang paling rentan, dan ironisnya ini yang paling bawah dan paling banyak. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Diam Mengungkap Makna
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Dua orang pensiunan sahabat karib sedang nongkrong di teras sebuah rumah.
“Pagi terasa lebih sunyi sejak kita tak lagi berangkat kerja, ya, San,” ujar Husen sambil menyeruput kopi yang uapnya masih mengepul pelan kepada temannya.
Hasan tersenyum tipis.
“Sunyi, tapi anehnya tidak menakutkan. Dulu, bahkan saat libur, pikiranku tetap penuh. Sekarang justru terasa lebih ringan.” “Kau rindu masa sibuk itu?” tanya Husen, sambil menatap halaman rumah yang mulai diterpa cahaya pagi.
Hasan menggeleng pelan. “Bukan rindu. Lebih ke heran. Kita dulu mengejar banyak hal: jabatan, target, pengakuan. Seolah kalau berhenti sebentar saja, hidup akan tertinggal.” Husen tertawa kecil. “Dan sekarang kita benar-benar berhenti. Tapi ternyata dunia tidak runtuh.”
“Tidak,” jawab Hasan. “Yang runtuh justru kesibukan semu itu. Awalnya aku gelisah. Bangun pagi tanpa agenda terasa kosong. Tapi setelah beberapa waktu, duduk diam tanpa tergesa justru terasa menenangkan.”
“Itu juga yang kurasakan,” sahut Husen. “Aku baru sadar, selama ini kita jarang benar-benar diam. Bahkan saat beribadah, pikiran masih ke mana-mana.”
Hasan mengangguk. “Karena kita terbiasa sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya tidak selalu penting. Banyak yang ramai, tapi sia-sia.”
“Sejak pensiun,” lanjut Husen, “aku mulai belajar memilih. Tidak semua kabar perlu diikuti, tidak semua obrolan perlu ditanggapi. Lebih banyak diam, lebih sungguh dalam ibadah.”
Hasan menatap cangkirnya sejenak sebelum berkata lirih, “Mungkin memang itu pelajaran di usia ini. Ketenangan tidak datang karena kita berhenti bekerja, tapi karena kita berhenti mengejar yang tak perlu.”
Keduanya terdiam. Dalam jeda sederhana itu, Hasan dan Husen sama-sama merasa: diam kadang lebih jujur daripada seribu kata
Di tengah budaya kekinian yang serba cepat, reaktif, dan penuh suara, diam sering disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal, diam justru dapat menjadi bentuk kejujuran paling dalam; ruang refleksi, empati, dan kesadaran diri yang menjaga makna hidup di dunia yang terlalu ramai.
Di zaman ketika kata-kata diproduksi lebih cepat daripada sempat dipikirkan, diam menjadi sesuatu yang terasa asing. Linimasa digital dipenuhi opini, komentar, dan penilaian yang saling bertabrakan. Setiap peristiwa menuntut reaksi instan, seolah keterlambatan berbicara berarti ketertinggalan.
Dalam situasi ini, kata-kata sering kehilangan bobotnya. Ia menjadi ringan, mudah dilepaskan, dan kerap menjauh dari kejujuran batin. Di tengah kebisingan seperti inilah, diam menemukan maknanya. Diam kadang lebih jujur daripada seribu kata, karena ia lahir dari kesadaran, bukan dari dorongan untuk tampil.
Diam bukan sekadar tidak berbicara. Ia adalah keputusan sadar untuk menunda respons, memberi ruang bagi pikiran dan perasaan agar tidak dikuasai emosi sesaat. Dalam konteks kekinian, banyak kata lahir dari kemarahan, ketakutan, atau keinginan untuk diakui. Reaksi cepat sering kali lebih dihargai daripada pemikiran yang matang.
Diam, sebaliknya, memberi jarak antara perasaan dan ekspresi. Dalam jarak itulah kejujuran diuji: apakah kata yang ingin diucapkan benar-benar mewakili nurani, atau hanya refleks dari tekanan sosial.
Kejujuran tidak selalu nyaman. Ia sering menuntut keberanian untuk tidak menyenangkan semua orang. Dalam dunia yang mengagungkan visibilitas dan popularitas, berkata jujur kadang berisiko disalahpahami atau ditolak. Karena itu, diam bisa menjadi pilihan paling jujur ketika kata-kata yang tersedia tidak cukup mewakili kebenaran. Diam menjaga integritas ketika berbicara justru akan mereduksi makna atau mengaburkan niat. Ia menjadi bentuk kesetiaan pada diri sendiri, bukan tanda ketidakpedulian.
Dalam kehidupan sehari-hari, diam juga berfungsi sebagai ruang refleksi. Banyak kegelisahan modern bukan lahir dari masalah yang terlalu besar, melainkan dari pikiran yang tidak pernah diberi waktu untuk berhenti. Informasi mengalir tanpa jeda, tuntutan hadir dari berbagai arah, dan manusia jarang benar-benar sendirian dengan dirinya sendiri. Diam memberi kesempatan untuk mendengar suara batin yang sering tertutup oleh kebisingan luar. Dalam keheningan, seseorang dapat mengenali apa yang benar-benar ia rasakan, bukan apa yang diharapkan untuk ia rasakan.
Diam juga mengajarkan empati yang lebih dalam. Dalam budaya percakapan hari ini, mendengar sering kalah oleh keinginan untuk berbicara. Banyak orang menunggu giliran bicara bukan untuk memahami, tetapi untuk membalas. Diam yang sadar mengubah pola ini. Dengan tidak tergesa mengisi jeda, seseorang memberi ruang bagi orang lain untuk menuntaskan pikirannya dan menata perasaannya. Dalam konteks ini, diam menjadi bahasa kepedulian yang paling jujur. Ia mengatakan, tanpa kata, bahwa kehadiran lebih penting daripada argumen.
Di ranah digital, makna diam menjadi semakin kompleks. Tidak berkomentar, tidak ikut menyebarkan, atau memilih untuk menahan diri sering dianggap sebagai sikap netral atau bahkan apatis. Padahal, diam di ruang digital bisa menjadi bentuk tanggung jawab etis. Tidak semua isu perlu ditanggapi, tidak semua konflik perlu diperbesar, dan tidak semua provokasi layak diladeni. Dengan memilih diam, seseorang menolak menjadi bagian dari kebisingan yang tidak membawa solusi. Diam menjadi cara menjaga kewarasan kolektif di tengah banjir opini yang sering lebih panas daripada bermakna.
Dalam ranah personal, diam sering menjadi tempat berlindung bagi kejujuran yang rapuh. Tidak semua perasaan perlu diumumkan, tidak semua luka perlu dijelaskan, dan tidak semua kebahagiaan perlu dipamerkan. Diam menjaga pengalaman tetap utuh, tidak tereduksi menjadi sekadar narasi konsumsi publik. Dalam diam, seseorang memberi dirinya hak untuk merasa tanpa harus menjelaskan. Ini adalah kejujuran yang paling intim, yang tidak membutuhkan pengakuan dari luar.
Di tengah dunia yang mengukur nilai diri dari seberapa sering dan seberapa keras seseorang berbicara, diam menawarkan ukuran lain: yaitu kedalaman. Diam mengingatkan bahwa makna tidak selalu lahir dari banyaknya kata, melainkan dari ketepatan dan kesadaran. Kadang, satu sikap tenang lebih bermakna daripada seribu kata yang terburu-buru. Dalam keheningan itulah, manusia kembali bertemu dengan dirinya sendiri: tanpa topeng, tanpa tuntutan, dan tanpa kebisingan yang menipu. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR