Oleh: Sudjarwo,
Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID – Pagi dini hari, beberapa hari lalu, kami rombongan kecil yang terdiri dari penulis dan istri, dua orang dokter, serta seorang apoteker; naik menuju Puncak Gunung Bromo menggunakan kendaraan offroad. Setelah sampai di pelataran terakhir kami turun dan mulai menapaki kaki menuju puncak. Percakapan kami kalau diringkas demikian;
“Dingin sekali,” ucap istri sambil merapatkan jaket, napasnya membentuk asap tipis di udara gelap. “Tapi aneh ya, rasanya justru menenangkan.”
Penulis tersenyum, menyesuaikan langkah di jalur berpasir basah yang menanjak. “Mungkin karena kita jarang memberi tubuh kesempatan untuk benar-benar merasakan alam apa adanya. Biasanya dingin langsung dilawan AC.”
Salah satu dokter rombongan kami tertawa pelan berkata. “Benar Prof. Di ruang praktik, kita sibuk mengukur suhu tubuh orang lain, tapi lupa mendengarkan tubuh sendiri. Di sini, termometer alamnya jujur.”
“Dan tidak bisa ditawar,” sambung dokter yang satunya, sambil mengencangkan penutup kepala. “Kalau dingin ya dingin. Tidak ada resep untuk menurunkan suhu Bromo.” Sambil tertawa ceria sebagai ciri khasnya. Apoteker yang berjalan di belakang kami menimpali, “Kalau ada, pasti sudah laku keras. Tapi mungkin justru karena tidak ada obatnya, kita dipaksa menerima.”
Langkah kami teratur, diselingi bunyi kerikil yang terinjak. Gelap masih berkuasa, namun di kejauhan langit mulai bergradasi, hitamnya perlahan melunak.
“Setiap hari kita bicara soal kesembuhan,” kata penulis pelan, karena takut memecah suasana. “Tapi jarang bertanya, apa sebenarnya yang menyembuhkan kita.”
Istri penulis menoleh. “Mungkin pagi ini jawabannya. Atau setidaknya, pengingatnya.”
Dokter pertama mengangguk. “Sebagai dokter, kita terbiasa merasa harus tahu. Di gunung begini, rasanya lebih jujur untuk mengaku kecil.”
“Dan lelah,” tambah apoteker sambil tersenyum. “Tapi lelah yang menyenangkan. Tidak ada target, tidak ada antrean pasien, hanya langkah demi langkah.”
Angin berembus lebih kencang. Kami berhenti sejenak, memandang ke arah timur. Garis cahaya tipis mulai muncul, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk mengubah suasana.
“Sebentar lagi matahari muncul,” ujar istri penulis lirih. “Entah kenapa, setiap melihat terbit, rasanya seperti diberi kesempatan ulang.”
Penulis mengangguk. “Seperti dunia di-reset, tanpa harus menghapus apa pun.”
“Kita mungkin menyembuhkan orang dengan ilmu,” kata dokter kedua, “tapi pagi seperti ini mengingatkan bahwa ada penyembuhan yang datang tanpa resep.”
Kami kembali melangkah, lebih pelan, seolah tak ingin tergesa sampai. Di antara dingin, sunyi, dan cahaya yang mulai lahir, percakapan pun mereda. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena masing-masing mulai menyadari: ada hal-hal yang lebih tepat direnungkan dalam diam, sambil membiarkan Bromo berbicara dengan caranya sendiri
Saat memandang siluet pagi dari puncak Bromo, ada perasaan kecil yang tiba-tiba tumbuh di dada, seolah diri ini hanyalah sebutir debu yang ikut menumpang hidup di hamparan semesta.
Gelap perlahan mundur, digantikan cahaya yang tidak datang dengan tergesa-gesa. Ia menyusup pelan, menyentuh garis cakrawala, lalu memantul pada kabut yang menggantung di antara lembah dan gunung. Dalam keheningan itu, dunia seperti sedang menarik napas panjang, bersiap menyambut hari dengan segala kemungkinan yang dikandungnya.
Angin pagi berembus dingin, menusuk kulit, namun justru membuat kesadaran terasa lebih jernih. Setiap hembusannya seakan membawa pesan tentang kebesaran Ilahi yang tidak perlu diumumkan dengan suara keras. Ia hadir dalam diam, dalam keteraturan yang nyaris tidak pernah meleset. Matahari selalu tahu kapan harus terbit, dari arah yang sama, dengan ritme yang setia. Tidak pernah ia terlambat, tidak pernah pula ingkar. Dari puncak ini, keteraturan itu tampak begitu nyata, seolah alam sedang memperlihatkan kitab terbukanya bagi siapa saja yang mau membaca dengan hati yang tenang.
Ketika cahaya mulai menyapu lautan pasir, warna-warna yang semula kelabu berubah menjadi keemasan. Bayangan gunung memanjang, membentuk siluet yang agung dan misterius. Di momen itu, terasa betapa kecilnya ambisi dan kegelisahan yang sering dibawa dari kehidupan sehari-hari. Segala kekhawatiran tentang masa depan, penyesalan tentang masa lalu, perlahan melemah di hadapan panorama yang begitu luas. Di sini, waktu seperti kehilangan sifatnya yang menekan; ia mengalir saja, tanpa tuntutan, tanpa paksaan.
Setiap matahari terbit seolah membawa janji yang sama: bahwa rezeki akan kembali ditaburkan kepada seluruh makhluk di muka dunia ini. Bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam rupa udara yang bisa dihirup, cahaya yang menghangatkan, dan kesempatan baru untuk memperbaiki diri. Dari puncak Bromo, janji itu terasa begitu inklusif. Tidak ada yang dikecualikan. Gunung, pasir, tumbuhan kecil yang bertahan di celah-celah tanah, bahkan manusia dengan segala keterbatasannya, semua mendapat bagian dari kemurahan yang sama.
Keheningan pagi memaksa diri untuk bercermin. Sejauh mana rasa syukur benar-benar hidup dalam keseharian? Ataukah ia hanya menjadi kata yang diucapkan ketika segalanya berjalan sesuai harapan? Alam tidak pernah meminta pujian, namun ia terus memberi. Dalam diamnya, ada pelajaran tentang ketulusan. Memberi tanpa perhitungan, hadir tanpa tuntutan untuk dipahami sepenuhnya. Dari ketinggian ini, muncul kesadaran bahwa hidup tidak selalu harus dipenuhi dengan kebisingan untuk terasa bermakna.
Kabut yang perlahan terangkat mengungkapkan detail demi detail permukaan bumi. Garis-garis pasir, lekuk lembah, dan kontur pegunungan menjadi semakin jelas. Begitu pula dengan pikiran, yang perlahan menemukan kejernihannya sendiri. Ada rasa pasrah yang bukan berarti menyerah, melainkan percaya bahwa ada tatanan yang lebih besar dari sekadar rencana manusia. Bahwa di balik setiap peristiwa, ada hikmah yang mungkin baru akan dipahami setelah waktu berlalu.
Di hadapan kebesaran ini, kesombongan terasa tidak pada tempatnya. Segala pencapaian manusia tampak rapuh jika dibandingkan dengan usia gunung dan siklus alam yang telah berlangsung jauh sebelum keberadaan kita. Namun justru di sanalah letak penghiburannya. Menjadi kecil bukanlah sebuah kutukan, melainkan pembebasan. Tidak semua hal harus dikendalikan, tidak semua jalan harus diketahui ujungnya sejak awal.
Saat matahari akhirnya menampakkan dirinya sepenuhnya, hangat mulai menggantikan dingin. Kehidupan kembali bergerak, meski dari kejauhan. Momen kontemplatif ini pun perlahan akan usai, digantikan oleh rutinitas dan hiruk pikuk dunia. Namun bekasnya tertinggal, seperti cahaya yang masih melekat di mata.
Dari puncak Bromo, pagi mengajarkan bahwa kebesaran Ilahi tidak selalu hadir dalam keajaiban yang spektakuler, melainkan dalam kesetiaan sebuah terbit, dalam rezeki yang terus mengalir, dan dalam kesempatan harian untuk menjadi manusia yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih bersyukur.
Salam Waras dari Puncak Bromo (R-1)
Editor : Chandra Faza
LPPM Universitas Malahayati Hadiri Sosialisasi Paten Tahun 2026 Kementerian Hukum RI
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Malahayati menghadiri kegiatan Sosialisasi Kekayaan Intelektual Paten Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia melalui Kantor Wilayah Kementerian Hukum Lampung, pada Rabu, 25 Februari 2026, bertempat di Hotel Horison Lampung.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat serta mendorong peningkatan pendaftaran dan perlindungan Kekayaan Intelektual (KI), khususnya paten, di Provinsi Lampung.
Dalam kegiatan tersebut, LPPM Universitas Malahayati mengutus perwakilannya, yaitu Wakil LPPM Eka Yudha Chrisanto, S.Kep., Ns., M.Kep., Dr. Febriyanti, SE., M.Si, serta Apt. Annisa Primadiamanti.,M.Sc untuk mengikuti rangkaian sosialisasi dan diskusi terkait mekanisme pendaftaran paten, strategi perlindungan hasil riset, serta kebijakan terbaru di bidang Kekayaan Intelektual.
Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Universitas Malahayati dalam mendorong peningkatan kualitas penelitian dosen dan luaran penelitian yang berorientasi pada Hak Kekayaan Intelektual (HKI), khususnya paten.
Melalui keikutsertaan dalam sosialisasi ini, diharapkan Universitas Malahayati dapat meningkatkan jumlah pendaftaran paten serta memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berbasis inovasi dan perlindungan hukum.
Kegiatan ini juga menjadi momentum strategis untuk mempererat sinergi antara perguruan tinggi dan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Lampung dalam mendukung ekosistem riset dan inovasi yang berdaya saing di tingkat regional maupun nasional.
Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan, Universitas Malahayati melalui LPPM akan terus mendorong dosen dan peneliti untuk menghasilkan karya inovatif yang tidak hanya berdampak secara akademik, tetapi juga memiliki perlindungan hukum melalui pendaftaran paten. Langkah ini menjadi bagian dari strategi institusi dalam memperkuat budaya riset, meningkatkan daya saing, serta memastikan setiap inovasi yang lahir memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
Editor : Chandra Faza
Jajaran Pimpinan Universitas Malahayati Gelar Rapat Persiapan Kegiatan Akademik Semester Genap T.A. 2025/2026
Bandar Lampung (malahayati.ac.id) : Rabu, 25 Februari 2026, jajaran pimpinan Universitas Malahayati menggelar Rapat Persiapan Kegiatan Akademik Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 sebagai langkah strategis dalam memastikan kesiapan penyelenggaraan perkuliahan serta optimalisasi capaian kinerja Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Rapat yang dihadiri oleh Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, Wakil Rektor IV, Kepala LPMI, Kepala LPPM, Dekan, Kaprodi, Kepala Biro, Kepala Bagian, serta Kepala Unit ini membahas sejumlah agenda penting, meliputi:
1. Evaluasi Semester Ganjil 2025/2026
2. Target Kinerja Semester Genap 2025/2026
3. Pelaporan Perkuliahan Berbasis OBE
4. PMB: Strategi Capaian Mahasiswa Baru Angkatan 2026
5. Pembukaan Program RPL
6. Pemantapan Timeline Kalender Akademik Semester Genap 2025/2026 (Yudisium, Wisuda, KKLPPM 2026)
7. Persiapan AMI 2026
8. Akreditasi Prodi yang habis Tahun 2026
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof.Dr.Dessy Hermawan.Ns., M.Kes. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kesiapan akademik yang berbasis evaluasi dan penguatan mutu berkelanjutan.
“Semester genap ini harus kita mulai dengan refleksi yang jujur terhadap capaian semester ganjil. Setiap program studi dan unit kerja perlu memastikan bahwa pembelajaran berbasis OBE tidak hanya terlaksana, tetapi juga terdokumentasi dengan baik dan terukur. Target kinerja harus realistis, terstruktur, dan dapat dipertanggungjawabkan.”
Beliau juga mengajak seluruh pimpinan unit untuk memperkuat koordinasi lintas bidang demi menjaga konsistensi mutu akademik.
Arahan selanjutnya disampaikan oleh Wakil Rektor III, Dr. Eng. Rina Febrina, ST., MT yang menyoroti strategi pencapaian mahasiswa baru serta penguatan peran institusi dalam membangun kepercayaan publik.
“Strategi PMB Angkatan 2026 harus berbasis data, kolaboratif, dan inovatif. Kita perlu mengoptimalkan potensi jejaring, alumni, serta capaian prestasi mahasiswa sebagai bagian dari branding institusi. Program RPL juga menjadi peluang strategis untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.”
Beliau menekankan pentingnya sinergi antara bidang akademik dan kemahasiswaan dalam mendukung pertumbuhan institusi.
Selanjutnya, Wakil Rektor IV, Drs.Suharman, M.Pd., M.Kes, menyampaikan arahan terkait kesiapan tata kelola dan dukungan administratif dalam menyongsong semester genap.
“Timeline kegiatan akademik seperti yudisium, wisuda, dan KKLPPM 2026 harus dipastikan berjalan sesuai rencana. Selain itu, persiapan AMI 2026 dan akreditasi prodi yang akan berakhir masa berlakunya di tahun 2026 harus menjadi perhatian bersama. Kesiapan dokumen, eviden, dan koordinasi internal menjadi kunci keberhasilan.”
Beliau menegaskan bahwa budaya mutu harus menjadi komitmen kolektif seluruh unsur pimpinan dan unit kerja.
Rapat ini menjadi momentum penting dalam menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi, serta memastikan seluruh perangkat akademik dan non-akademik siap memulai perkuliahan Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan optimal.
Melalui perencanaan yang sistematis dan kolaboratif, Universitas Malahayati berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud nyata pemenuhan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Editor : Chandra Faza
Selamat Tinggal Bromo (Jejak Sunyi di Lautan Pasir)
Oleh: Sudjarwo,
Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID Mesin Jeep offroad meraung pelan saat mulai bergerak meninggalkan lautan pasir. Udara pagi masih dingin, kabut tipis menggantung rendah. Empat orang diantara kami duduk berhadap hadapan di dalam kabin, penulis di depan mendampingi driver; tubuh sedikit terhentak mengikuti jalur turunan ekstrim menuju lembah.
“Cepat sekali rasanya,” ujar sang istri sambil merapatkan jaket. “Tadi berangkat masih gelap, sekarang sudah pulang.”
“Sindrom enggan berpisah,” canda salah satu dokter. “Resepnya cuma satu: kembali lagi.”
Tawa kecil mengisi ruang sempit itu.
“Saya masih terbayang savananya,” kata apoteker, menoleh ke luar. “kecoklatan dan tenang sekali.”
“Iya,” sahut dokter lainnya. “Di sana rasanya kita kecil sekali.”
“Bukan kecil,” jawab sang istri pelan. “Lebih tepatnya… sadar diri.” Jeep terguncang lebih keras saat melewati turunan. “Pegangan,” kataku spontan. Semua tertawa, tapi tangan tetap mencengkeram kursi.
“Lucu ya,” ujar seorang dokter, “sehari-hari kita menyuruh orang tenang. Tadi justru kita yang belajar tenang.”
“Gunung ini seperti ruang konsultasi besar,” kata penulis. “Bedanya, yang berbicara adalah keheningan.”
Hening sejenak. Hanya suara mesin dan angin.
“Kalau ditanya apa yang dibawa pulang?” tanya apoteker.
“Rasa cukup,” jawab sang istri.
“Kerendahan hati,” tambah dokter.
Penulis memandang jejak roda yang perlahan hilang tertiup angin. “Keheningan,” ucap penulis spontan. “Karena di sana kita benar-benar mendengar diri sendiri.”
Jeep terus melaju turun, meninggalkan Bromo di belakang; dan membawa kami kembali ke hotel tempat menginap.
Pendakian Bromo telah selesai. Langkah-langkah yang kemarin terasa berat kini berubah menjadi gema kenangan yang terus berulang di dalam ingatan. Kami tinggalkan Bromo dengan sejuta kenangan, seperti butiran pasir yang tak mungkin dihitung satu per satu. Gunung itu berdiri sebagaimana adanya; diam, kokoh, dan tak pernah benar-benar peduli pada siapa yang datang dan pergi. Namun bagi kami, ia bukan sekadar bentang alam yang indah. Ia adalah ruang perenungan, tempat tubuh diuji dan jiwa diajak bercermin.
Lautan pasir Bromo membentang seperti samudra yang membeku. Tanpa ombak, tanpa air, namun menghadirkan rasa luas yang sama tak bertepinya. Angin berhembus membawa butiran pasir menari tipis di permukaan tanah. Di tempat itu, manusia tampak begitu kecil. Setiap orang hanyalah siluet yang bergerak perlahan di antara bentangan alam purba. Kesadaran itu tidak mengecilkan hati, justru menumbuhkan kerendahan. Ada keindahan dalam menyadari bahwa kita bukan pusat dari segalanya.
Ketika cahaya pertama muncul di ufuk timur, warna langit berubah pelan-pelan. Gelap yang semula pekat beralih menjadi jingga lembut, lalu keemasan yang hangat. Sinar matahari menyentuh hamparan pasir dan savana, memantulkan cahaya yang membuat semuanya tampak hidup. Rumput-rumput liar di savana bergoyang pelan diterpa angin pagi, membentuk gelombang kecoklatan yang memanjakan mata. Di sanalah rasa takjub tumbuh tanpa diminta. Alam berbicara dalam bahasa yang sederhana, namun mampu menyentuh relung terdalam jiwa.
Hamparan savana menghadirkan suasana berbeda. Jika lautan pasir terasa sunyi dan gersang, savana menawarkan kesejukan dan harapan. Warna coklat rumput yang mengering membentang luas seperti pengingat bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya, bahkan di tanah yang keras sekalipun. Berjalan di antara padang rumput itu menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan. Tidak ada yang perlu dikejar, tidak ada yang perlu dibuktikan. Hanya ada langkah yang mengalir mengikuti kontur bumi.
Perjalanan ini bukan tentang mencapai titik tertinggi, melainkan tentang mengalami setiap detiknya. Di tengah bentangan alam yang luas, pikiran yang semula riuh perlahan menjadi tenang.
Beban-beban yang selama ini terasa berat mendadak mengecil, seolah terserap oleh angin gunung. Ada ruang untuk merenung, untuk mengingat kembali tujuan, dan untuk menyadari betapa berharganya setiap proses.
Lautan pasir mengajarkan keteguhan. Ia tampak kosong, namun menyimpan kekuatan dalam diamnya. Savana mengajarkan harapan. Ia tumbuh tanpa banyak suara, tetapi menghadirkan kehidupan yang nyata. Di antara keduanya, kami belajar tentang keseimbangan. Hidup tidak selalu hijau dan subur, kadang ia kering dan tandus. Namun keduanya adalah bagian dari perjalanan yang utuh.
Jejak kaki di pasir mudah terhapus angin. Begitu pula manusia dalam arus waktu. Kesadaran itu tidak membawa kesedihan, justru menghadirkan kelegaan. Jika segala sesuatu akan berlalu, maka yang terpenting adalah bagaimana menjalaninya dengan sepenuh hati. Bromo menjadi cermin yang memantulkan kembali pertanyaan-pertanyaan sederhana: apa arti perjalanan, apa arti kebersamaan, dan apa arti pulang.
Saat tiba waktunya meninggalkan kawasan itu, ada rasa enggan yang tak terucap. Setiap sudut seperti menyimpan cerita: dingin yang menggigit di awal perjalanan, tawa yang lepas tanpa beban, dan diam yang sarat makna di tengah luasnya savana. Namun perpisahan adalah bagian dari setiap perjalanan. Tak ada pendakian tanpa langkah kembali.
Selamat tinggal, Bromo, bukanlah ucapan akhir, melainkan jeda. Gunung itu akan tetap berdiri, lautan pasirnya tetap membentang, dan savananya tetap bergoyang diterpa angin. Ia akan terus menjadi tempat kontemplasi kehidupan, ruang di mana manusia belajar mendengarkan suara hatinya sendiri. Kenangan tentangnya akan tinggal dalam ingatan: tentang langit yang perlahan memerah, tentang hamparan pasir yang tak bertepi, dan tentang savana yang menenangkan.
Kami tinggalkan Bromo dengan sejuta kenangan. Dan di antara kenangan itu, tersimpan rasa syukur yang sederhana; atas sunyi yang menguatkan, atas luas yang menyadarkan, dan atas perjalanan yang memperkaya makna kehidupan.
Selamat Tinggal Bromo. (R-1)
Editor : Chandra Faza
BATAS YANG DIJAGA DOA DAN KEPERCAYAAN
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Kabut masih tebal ketika kami berhenti di pelataran masjid kecil itu. Sepatu-sepatu pendaki berjajar rapi, napas saling beradu dengan dingin. Lampu redup menerangi wajah-wajah lelah yang justru tampak tenang.
“Lucu ya,” salah satu dokter anggota kami memecah hening sambil menggosok tangannya, “tiap hari di Puskesmas kita kejar waktu, di sini waktu malah terasa berhenti.”
Dokter satunya tersenyum kecil. “Mungkin karena di gunung, kita nggak bisa sok mengatur segalanya. Alam yang pegang kendali.”
Apoteker yang sejak tadi diam menatap kabut mengangguk pelan. “Di bawah sana, kita bicara dosis, hitungan, dan kepastian. Di sini, yang kita bawa cuma niat dan doa.”
Penulis melirik istri yang tampak sangat bersemangat. Ia merapatkan jaket, matanya menyapu sekitar masjid kecil ini, seraya berucap lirih. “Seolah setelah ini, kita masuk dunia lain.”
“Dunia Bromo,” jawabku. “Dunia yang nggak bisa kita jelaskan dengan logika biasa.”
Dokter pertama tertawa pelan. “Iya, di sini gelar nggak ada artinya. Mau dokter, apoteker, dan apapun itu, semuanya sama-sama kecil.”
“Dan sama-sama butuh perlindungan,” sambung dokter kedua. “Entah kita menyebutnya dengan bahasa apa.”
Kami terdiam. Dari kejauhan, suara langkah pendaki lain semakin ramai. Kabut bergerak pelan, seakan memberi ruang. Lalu suara adzan Subuh terdengar, lembut namun tegas, menyentuh batas paling dalam dari diri kami.
Kami saling pandang, tanpa perlu kata-kata lagi. Di titik ini, sebelum doa dilantunkan bersama pendaki lain, kami bukan lagi profesi atau identitas. Kami hanyalah manusia, yaitu tamu yang sedang meminta izin, sebelum melangkah lebih jauh ke tubuh gunung yang menyimpan janji-janji lama.
Masih dalam gelap, sebelum matahari berani menyingkap wajahnya, langkah-langkah manusia berhenti di sebuah masjid kecil; yang terakhir sebelum pendakian benar-benar dimulai. Di titik inilah sholat Subuh ditegakkan. Suara doa mengalir pelan, menyatu dengan napas yang mengepul dan kabut yang menggantung rendah. Tepat berseberangan, masyarakat Tengger menjalani hidup dengan keyakinan yang berbeda, keyakinan yang telah berakar jauh sebelum istilah agama-agama besar dikenal. Tidak ada yang saling meniadakan. Justru di tempat inilah terasa jelas sebuah batas imajiner: peralihan dari dunia yang akrab menuju dunia Bromo yang sarat makna.
Tanah Tengger menyimpan kisah lama tentang Raden Joko Seger dan Roro Anteng, sebuah kisah yang tidak sekadar legenda, melainkan fondasi kosmologis bagi masyarakat setempat. Dari nama merekalah kata “Tengger” dipercaya lahir: teguh dan tenteram. Kisah mereka bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kesetiaan pada janji, keberanian berkorban, dan hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Dalam kepercayaan lokal, Bromo bukan gunung biasa, melainkan ruang sakral tempat janji itu terus bergema.
Maka, ketika sholat Subuh ditegakkan di batas ini, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga peristiwa simbolik. Di satu sisi, manusia menghadap Tuhan dengan cara yang diyakininya. Di sisi lain, gunung berdiri sebagai pengingat bahwa sebelum semua sistem keyakinan diberi nama, manusia sudah lebih dulu bernegosiasi dengan alam; meminta, b erjanji, dan menepati. Kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng mengajarkan bahwa doa tidak selalu berakhir pada kebahagiaan tanpa harga. Ada konsekuensi, ada persembahan, ada kehilangan yang harus diterima demi keseimbangan semesta.
Bagi masyarakat Tengger, hidup adalah menjaga harmoni. Upacara-upacara adat, sesaji, dan larangan-larangan bukan sekadar tradisi kosong, melainkan cara membaca alam. Gunung diperlakukan sebagai makhluk hidup, bukan objek wisata. Bromo adalah saksi atas janji lama yang tak boleh dilupakan. Karena itulah, sebelum manusia modern melangkah lebih jauh, berhenti di masjid terakhir ini terasa seperti jeda yang diwajibkan; entah disadari atau tidak.
Batas imajiner ini seolah menjadi pintu gerbang. Di belakangnya, dunia nyata dengan segala rutinitas, ambisi, dan kebisingannya. Di depannya, dunia Bromo; dunia simbolik tempat manusia diingatkan bahwa ia hanyalah bagian kecil dari tatanan besar. Kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng hidup di ruang antara ini, sebagai pengingat bahwa hubungan manusia dengan yang Ilahi dan dengan alam tidak pernah terpisah sepenuhnya. Keduanya saling bersinggungan, seperti dua sisi kabut yang sama.
Sholat Subuh di titik ini juga menjadi bentuk penyelarasan batin. Dalam kepercayaan lokal, sebelum mendaki, manusia harus bersih; tidak hanya tubuh, tetapi juga niat. Gunung tidak menerima langkah yang sombong. Ia hanya membuka diri bagi mereka yang datang dengan rendah hati. Dalam legenda Tengger, keteguhan dan kesabaran menjadi kunci. Dalam doa Subuh, nilai yang sama dilafalkan dengan bahasa yang berbeda. Di sinilah perbedaan keyakinan bertemu pada esensi yang serupa.
Ketika adzan memudar dan langit mulai berwarna abu-abu, pendakian pun dimulai. Setiap langkah seolah menapaki jejak lama; jejak janji, pengorbanan, dan kepercayaan yang diwariskan lintas generasi. Bromo tidak meminta untuk disembah, tetapi untuk dihormati. Ia tidak menuntut ketundukan, tetapi kesadaran. Seperti kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng, gunung ini mengajarkan bahwa hidup adalah tentang menepati janji pada yang lebih besar dari diri kita sendiri.
Di ambang ini, manusia belajar bahwa perbedaan bukanlah jurang. Masjid dan kepercayaan Tengger berdiri saling berhadapan bukan sebagai lawan, melainkan sebagai penanda bahwa jalan menuju makna bisa beragam. Namun ketika kabut menutup pandangan dan langkah diarahkan ke atas, semua kembali pada satu kesadaran purba: manusia hanyalah tamu. Dan Bromo, dengan segala kisah dan kesunyiannya, adalah tuan rumah yang tak pernah lupa pada janji-janji lama.
Salam waras dari “Bromo”.
Editor : Chandra Faza
Pelajaran Pagi Di Atas Dunia
Oleh: Sudjarwo,
Guru Besar Universitas Malahayati
PORTALLNEWS.ID – Pagi dini hari, beberapa hari lalu, kami rombongan kecil yang terdiri dari penulis dan istri, dua orang dokter, serta seorang apoteker; naik menuju Puncak Gunung Bromo menggunakan kendaraan offroad. Setelah sampai di pelataran terakhir kami turun dan mulai menapaki kaki menuju puncak. Percakapan kami kalau diringkas demikian;
“Dingin sekali,” ucap istri sambil merapatkan jaket, napasnya membentuk asap tipis di udara gelap. “Tapi aneh ya, rasanya justru menenangkan.”
Penulis tersenyum, menyesuaikan langkah di jalur berpasir basah yang menanjak. “Mungkin karena kita jarang memberi tubuh kesempatan untuk benar-benar merasakan alam apa adanya. Biasanya dingin langsung dilawan AC.”
Salah satu dokter rombongan kami tertawa pelan berkata. “Benar Prof. Di ruang praktik, kita sibuk mengukur suhu tubuh orang lain, tapi lupa mendengarkan tubuh sendiri. Di sini, termometer alamnya jujur.”
“Dan tidak bisa ditawar,” sambung dokter yang satunya, sambil mengencangkan penutup kepala. “Kalau dingin ya dingin. Tidak ada resep untuk menurunkan suhu Bromo.” Sambil tertawa ceria sebagai ciri khasnya. Apoteker yang berjalan di belakang kami menimpali, “Kalau ada, pasti sudah laku keras. Tapi mungkin justru karena tidak ada obatnya, kita dipaksa menerima.”
Langkah kami teratur, diselingi bunyi kerikil yang terinjak. Gelap masih berkuasa, namun di kejauhan langit mulai bergradasi, hitamnya perlahan melunak.
“Setiap hari kita bicara soal kesembuhan,” kata penulis pelan, karena takut memecah suasana. “Tapi jarang bertanya, apa sebenarnya yang menyembuhkan kita.”
Istri penulis menoleh. “Mungkin pagi ini jawabannya. Atau setidaknya, pengingatnya.”
Dokter pertama mengangguk. “Sebagai dokter, kita terbiasa merasa harus tahu. Di gunung begini, rasanya lebih jujur untuk mengaku kecil.”
“Dan lelah,” tambah apoteker sambil tersenyum. “Tapi lelah yang menyenangkan. Tidak ada target, tidak ada antrean pasien, hanya langkah demi langkah.”
Angin berembus lebih kencang. Kami berhenti sejenak, memandang ke arah timur. Garis cahaya tipis mulai muncul, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk mengubah suasana.
“Sebentar lagi matahari muncul,” ujar istri penulis lirih. “Entah kenapa, setiap melihat terbit, rasanya seperti diberi kesempatan ulang.”
Penulis mengangguk. “Seperti dunia di-reset, tanpa harus menghapus apa pun.”
“Kita mungkin menyembuhkan orang dengan ilmu,” kata dokter kedua, “tapi pagi seperti ini mengingatkan bahwa ada penyembuhan yang datang tanpa resep.”
Kami kembali melangkah, lebih pelan, seolah tak ingin tergesa sampai. Di antara dingin, sunyi, dan cahaya yang mulai lahir, percakapan pun mereda. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena masing-masing mulai menyadari: ada hal-hal yang lebih tepat direnungkan dalam diam, sambil membiarkan Bromo berbicara dengan caranya sendiri
Saat memandang siluet pagi dari puncak Bromo, ada perasaan kecil yang tiba-tiba tumbuh di dada, seolah diri ini hanyalah sebutir debu yang ikut menumpang hidup di hamparan semesta.
Gelap perlahan mundur, digantikan cahaya yang tidak datang dengan tergesa-gesa. Ia menyusup pelan, menyentuh garis cakrawala, lalu memantul pada kabut yang menggantung di antara lembah dan gunung. Dalam keheningan itu, dunia seperti sedang menarik napas panjang, bersiap menyambut hari dengan segala kemungkinan yang dikandungnya.
Angin pagi berembus dingin, menusuk kulit, namun justru membuat kesadaran terasa lebih jernih. Setiap hembusannya seakan membawa pesan tentang kebesaran Ilahi yang tidak perlu diumumkan dengan suara keras. Ia hadir dalam diam, dalam keteraturan yang nyaris tidak pernah meleset. Matahari selalu tahu kapan harus terbit, dari arah yang sama, dengan ritme yang setia. Tidak pernah ia terlambat, tidak pernah pula ingkar. Dari puncak ini, keteraturan itu tampak begitu nyata, seolah alam sedang memperlihatkan kitab terbukanya bagi siapa saja yang mau membaca dengan hati yang tenang.
Ketika cahaya mulai menyapu lautan pasir, warna-warna yang semula kelabu berubah menjadi keemasan. Bayangan gunung memanjang, membentuk siluet yang agung dan misterius. Di momen itu, terasa betapa kecilnya ambisi dan kegelisahan yang sering dibawa dari kehidupan sehari-hari. Segala kekhawatiran tentang masa depan, penyesalan tentang masa lalu, perlahan melemah di hadapan panorama yang begitu luas. Di sini, waktu seperti kehilangan sifatnya yang menekan; ia mengalir saja, tanpa tuntutan, tanpa paksaan.
Setiap matahari terbit seolah membawa janji yang sama: bahwa rezeki akan kembali ditaburkan kepada seluruh makhluk di muka dunia ini. Bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam rupa udara yang bisa dihirup, cahaya yang menghangatkan, dan kesempatan baru untuk memperbaiki diri. Dari puncak Bromo, janji itu terasa begitu inklusif. Tidak ada yang dikecualikan. Gunung, pasir, tumbuhan kecil yang bertahan di celah-celah tanah, bahkan manusia dengan segala keterbatasannya, semua mendapat bagian dari kemurahan yang sama.
Keheningan pagi memaksa diri untuk bercermin. Sejauh mana rasa syukur benar-benar hidup dalam keseharian? Ataukah ia hanya menjadi kata yang diucapkan ketika segalanya berjalan sesuai harapan? Alam tidak pernah meminta pujian, namun ia terus memberi. Dalam diamnya, ada pelajaran tentang ketulusan. Memberi tanpa perhitungan, hadir tanpa tuntutan untuk dipahami sepenuhnya. Dari ketinggian ini, muncul kesadaran bahwa hidup tidak selalu harus dipenuhi dengan kebisingan untuk terasa bermakna.
Kabut yang perlahan terangkat mengungkapkan detail demi detail permukaan bumi. Garis-garis pasir, lekuk lembah, dan kontur pegunungan menjadi semakin jelas. Begitu pula dengan pikiran, yang perlahan menemukan kejernihannya sendiri. Ada rasa pasrah yang bukan berarti menyerah, melainkan percaya bahwa ada tatanan yang lebih besar dari sekadar rencana manusia. Bahwa di balik setiap peristiwa, ada hikmah yang mungkin baru akan dipahami setelah waktu berlalu.
Di hadapan kebesaran ini, kesombongan terasa tidak pada tempatnya. Segala pencapaian manusia tampak rapuh jika dibandingkan dengan usia gunung dan siklus alam yang telah berlangsung jauh sebelum keberadaan kita. Namun justru di sanalah letak penghiburannya. Menjadi kecil bukanlah sebuah kutukan, melainkan pembebasan. Tidak semua hal harus dikendalikan, tidak semua jalan harus diketahui ujungnya sejak awal.
Saat matahari akhirnya menampakkan dirinya sepenuhnya, hangat mulai menggantikan dingin. Kehidupan kembali bergerak, meski dari kejauhan. Momen kontemplatif ini pun perlahan akan usai, digantikan oleh rutinitas dan hiruk pikuk dunia. Namun bekasnya tertinggal, seperti cahaya yang masih melekat di mata.
Dari puncak Bromo, pagi mengajarkan bahwa kebesaran Ilahi tidak selalu hadir dalam keajaiban yang spektakuler, melainkan dalam kesetiaan sebuah terbit, dalam rezeki yang terus mengalir, dan dalam kesempatan harian untuk menjadi manusia yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih bersyukur.
Salam Waras dari Puncak Bromo (R-1)
Editor : Chandra Faza
TUHAN YANG SAMA, HATI YANG BERBEDA
Guru Besar Malahayati
Di sebuah pesantren yang tenang di pinggir desa, selepas salat Maghrib, para santri duduk melingkar di serambi masjid dengan kitab-kitab terbuka di pangkuan. Angin malam berembus pelan. Lampu-lampu temaram menggantung di langit-langit, menciptakan suasana hangat dan khusyuk. Di tengah lingkaran itu, seorang kiai sepuh bersorban putih tampak bersiap menutup pengajian malam. Namun seorang santri yang sejak tadi terlihat gelisah mengangkat tangan, meminta izin untuk bertanya tentang sebuah kutipan dari Jalaluddin Rumi yang siang tadi dia baca.
“Yai, saya membaca sebuah kutipan dari Djalaludin Rumi yang membuat saya gelisah,” ujar santri itu pelan.
Kiai tersenyum, mempersilakan. “Kutipan apa, Nak?”
Santri itu menarik napas, lalu mengucapkan dengan suara bergetar, “Rumi berkata: ‘Tuhan yang kau sembah di bulan Ramadan adalah Tuhan yang kau jauhi di bulan-bulan yang lain.’”
Suasana mendadak hening. Beberapa santri saling berpandangan.
“Kenapa kalimat itu membuatmu gelisah?” tanya Kiai lembut.
“Karena saya merasa seperti sedang ditegur, Yai,” jawabnya jujur. “Di bulan Ramadan saya rajin ke masjid, rajin membaca Al-Qur’an, mudah bersedekah. Tapi setelahnya, semua perlahan berkurang. Seolah-olah semangat itu hanya milik bulan Ramadan saja.”
Kiai mengangguk pelan. “Itulah cara para sufi menyentuh hati. Mereka tidak menunjuk orang lain, tetapi membuat kita menunjuk diri sendiri.”
“Apakah berarti ibadah saya belum sungguh-sungguh, Yai?”
“Bukan begitu,” jawab Kiai. “Ramadan adalah latihan. Tapi latihan akan sia-sia jika tidak dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan yang kita sembah tidak pernah berubah oleh waktu. Kitalah yang sering berubah oleh suasana.”
Santri itu menunduk, merenung dalam-dalam, sementara angin malam kembali berembus pelan di serambi pesantren.
Ada ironi yang sering berulang setiap tahun dalam kehidupan beragama: ketika bulan Ramadan tiba, masjid-masjid penuh, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk, sedekah mengalir deras, dan ayat-ayat suci dilantunkan dengan suara yang bergetar oleh harap. Namun ketika bulan itu berlalu, perlahan-lahan semangat itu surut. Saf salat kembali renggang, mushaf kembali berdebu di rak, dan kesadaran spiritual memudar digantikan oleh kesibukan duniawi.
Fenomena ini bukan sekadar soal konsistensi ibadah, melainkan cerminan dari bagaimana manusia memaknai hubungan dengan Tuhannya. Ramadan sering dipahami sebagai bulan “kesempatan”, bulan diskon pahala, bulan pengampunan besar-besaran. Pemahaman ini tentu tidak salah. Namun ketika motivasi beribadah hanya bertumpu pada momentum dan suasana, maka kedekatan yang terbangun menjadi musiman. Ia bergantung pada atmosfer, bukan pada kesadaran mendalam.
Di bulan Ramadan, manusia lebih mudah tersentuh. Lapar dan dahaga melembutkan hati. Rutinitas yang berubah menciptakan ruang refleksi. Malam-malam yang diisi dengan doa membuat seseorang merasa dekat, bahkan intim, dengan Penciptanya. Dalam keheningan sahur dan kekhusyukan tarawih, muncul perasaan bahwa Tuhan begitu dekat, begitu hadir, begitu nyata. Namun pertanyaannya: apakah Tuhan benar-benar menjadi lebih dekat di bulan itu, ataukah hati kitalah yang akhirnya membuka diri?
Ironi terbesar terjadi ketika ibadah menjadi sekadar ritual tahunan. Seseorang mungkin mampu mengkhatamkan kitab suci dalam sebulan, tetapi setelah itu jarang sekali membacanya kembali. Seseorang mungkin rajin bersedekah selama tiga puluh hari, tetapi kembali perhitungan ketika bulan berganti. Seseorang mungkin menahan amarah dan menjaga lisan selama berpuasa, tetapi setelahnya kembali mudah menyakiti dengan kata-kata. Jika demikian, Ramadan hanya menjadi ruang latihan yang tidak pernah diterapkan dalam kehidupan nyata.
Padahal, esensi puasa bukanlah menahan lapar, melainkan melatih kesadaran. Kesadaran bahwa manusia lemah, bergantung, dan fana. Kesadaran bahwa ada kekuatan yang mengatur segala sesuatu di luar kendalinya. Ketika kesadaran ini tumbuh, ia seharusnya tidak hilang hanya karena kalender berubah. Tuhan yang Maha Mendengar tidak hanya hadir di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir, melainkan di setiap detik kehidupan. Mengapa manusia memperlakukan-Nya seolah-olah Ia hanya “aktif” pada musim tertentu?. Disinilah manusia seolah men-Tuhan-kan waktu.
Padahal, jika hubungan itu dibangun atas dasar cinta, ia tidak mengenal musim. Cinta tidak menunggu waktu khusus untuk hadir. Ia konsisten, meski intensitasnya bisa naik turun. Orang yang mencintai akan mencari, bukan menunggu dicari. Ia akan merasa hampa ketika jauh, bukan merasa lega karena bebas dari kewajiban. Jika Ramadan berhasil menumbuhkan rasa manis dalam ibadah, seharusnya rasa itu menimbulkan kerinduan untuk terus merasakannya, bukan justru dilupakan.
Ramadan seharusnya menjadi sekolah ruhani. Setelah lulus dari sekolah itu, seseorang tidak kembali menjadi buta huruf spiritual. Ia membawa bekal untuk menghadapi sebelas bulan berikutnya. Ia mungkin tidak lagi berpuasa wajib, tetapi ia tetap menjaga lisannya. Ia mungkin tidak lagi tarawih setiap malam, tetapi ia tetap menyediakan waktu sepertiga malam untuk berdoa. Ia mungkin tidak lagi berbuka bersama setiap hari, tetapi ia tetap ringan tangan membantu sesama.
Pada akhirnya, Tuhan tidak berubah antara Ramadan dan bulan lainnya. Yang berubah adalah kesadaran manusia. Maka refleksi terbesar setelah Ramadan bukanlah seberapa banyak ibadah yang telah dilakukan, melainkan seberapa dalam perubahan yang tertanam. Apakah Tuhan masih menjadi pusat perhatian ketika suasana sudah biasa? Apakah doa tetap terucap ketika tidak ada dorongan kolektif? Apakah kejujuran tetap dijaga ketika tidak ada pengingat harian tentang pahala berlipat ganda?. Jika jawabannya ya, maka Ramadan telah berhasil. Namun jika tidak, mungkin selama ini yang kita dekati hanyalah suasana, bukan Tuhan itu sendiri.
Salam Ramadan
LPPM Universitas Malahayati Laksanakan Monev Seluruh Program Studi untuk Peningkatan Mutu Tridarma
Bandar Lampung — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Malahayati melaksanakan program kerja berupa Monitoring dan Evaluasi (Monev) terhadap seluruh program studi yang ada di lingkungan Universitas Malahayati.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Kegiatan Monev ini dilaksanakan oleh tim LPPM yang dipimpin oleh Prof. Erna Listyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D bersama Dr. Febriyanti, S.E., M.Si. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan sebagai bentuk komitmen Universitas Malahayati dalam menjaga dan meningkatkan mutu akademik, khususnya pada bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan Monev, tim LPPM melakukan Evaluasi terhadap perencanaan, pelaksanaan, capaian, serta luaran penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di masing-masing program studi. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan dan pendampingan bagi dosen agar kualitas dan relevansi kegiatan Tridarma semakin meningkat.
Prof. Erna Listyaningsih menyampaikan bahwa Monev ini tidak hanya berfokus pada aspek penilaian administratif, tetapi juga pada upaya peningkatan kualitas dan keberlanjutan kegiatan penelitian dan pengabdian. “Kami mendorong setiap program studi untuk terus mengembangkan budaya riset dan pengabdian yang berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Febriyanti menambahkan bahwa hasil Monev akan menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi dan strategi pengembangan penelitian serta pengabdian ke depan, sehingga capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi dapat tercapai secara optimal.
Melalui pelaksanaan Monev ini, Universitas Malahayati diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas luaran penelitian serta pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mewujudkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang unggul, relevan, dan berkelanjutan.
Editor : Chandra Faza
Katalog buku Metode Penelitian Hukum (Dilengkapi Kiat-Kiat Sukses Seminar Proposal Dan Seminar Hasil)
Judul Buku: Metode Penelitian Hukum (Dilengkapi Kiat-Kiat Sukses Seminar Proposal Dan Seminar Hasil)
Penulis:
Penerbit Universitas Malahayati
Alamat :Jalan Pramuka, No. 27, Kemiling, Bandar Lampung, Provinsi Lampung-35153
Lampung-Indonesia
ISBN: Proses
Sinopsis:
Metode Penelitian
telah menjadi komponen wajib yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa. Untuk
mempelajari metode penelitian, tidak terbatas pada pemahaman tentang pengantar metode
penelitian saja, tetapi yang lebih mendasar lagi dari aspek memecahkan persoalan hukum,
karena metode penelitian tidak dapat dilepaskan juga dari persoalan hukum dan telah banyak
perubahan terutama berkenaan dengan makin dipentingkanya alat untuk mengumpulkan data
empiris dan adanya aturan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang berubah istilah
menjadi Kampus Berdampak yaitu tugas akhir sebagai pengganti skripsi. Selanjutnya pada
tataran praktis dibahas teknis penyusunan proposal penelitian hukum yang mencakup judul
dan latar belakang masalah; rumusan masalah; tujuan penelitian; tinjauan pustaka pustaka;
teori hukum; metode penelitian.
KETIKA REZEKI MENEMUKAN PEMILIKNYA
Guru Besar Universitas Malahayati
Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik ketika Marno dan Santo duduk di atas tumpukan batako. Debu masih melekat di sepatu mereka, dan suara palu dari kejauhan jadi irama yang akrab.
“San, kadang aku mikir,” kata Marno sambil menyesap kopi dari gelas plastik, “hidup kita ini aneh ya. Tiap hari kerja di tempat berbeda, tapi nasib rasanya muter-muter di situ saja.”
Santo tersenyum tipis. “Iya, tapi siapa tahu muternya lagi nyari jalannya. Rezeki itu kan nggak kelihatan bentuknya.”
Marno menghela napas. “Aku kerja keras, San. Dari pagi sampai sore. Tapi kadang cukup, kadang pas-pasan. Rasanya kayak nebak-nebak.”
“Justru itu,” jawab Santo pelan. “Kita nggak pernah tahu rezeki kita di mana. Tapi aku percaya, rezeki tahu kita di mana. Kalau nggak hari ini, ya besok. Kalau bukan uang, mungkin sehat. Atau pulang masih bisa ketawa sama keluarga.”
Marno terdiam sebentar, lalu tertawa kecil. “Kamu ini kalau ngomong suka bikin mikir. Tapi ada benarnya juga. Kemarin istriku senyum pas aku pulang, capekku langsung ilang.”
Santo ikut tertawa. “Nah itu. Jangan lupa bahagia, No. Tiap hari beda cerita. Hari ini panas, besok mungkin hujan, tapi kita tetap jalan.”
Marno mengangguk, memandang bangunan setengah jadi di depan mereka. “Iya ya, San. Selama kita masih bisa kerja, masih bisa senyum, berarti rezeki belum kehabisan alamat.”
Santo berdiri, meraih helmnya. “Ayo kerja lagi. Siapa tahu hari ini ceritanya baik.”
Manusia sering berjalan dengan peta di tangan, menebak-nebak ke mana langkah akan membawa hasil. Namun kenyataannya, peta itu sering kali meleset. Ada hari ketika usaha terasa sia-sia, dan ada hari ketika kebaikan datang tanpa diminta. Dari situlah muncul kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu di mana rezekinya berada. Ia bisa tersembunyi di tikungan yang tak terpikirkan, atau datang melalui pintu yang selama ini dianggap tertutup.
Rezeki tidak selalu berwujud angka, harta, atau benda yang bisa disimpan. Ia hadir sebagai kesempatan, kesehatan, ketenangan, dan pertemuan yang mengubah arah hidup. Banyak orang baru menyadari nilai rezeki setelah ia pergi, atau ketika sesuatu yang sederhana tiba-tiba menjadi sangat berarti. Dalam diam, rezeki seolah tahu ke mana ia harus pulang, menemukan pemiliknya pada waktu yang paling tepat, meski sering kali tidak sesuai rencana manusia.
Di tengah ketidakpastian itu, senyum menjadi bentuk perlawanan yang lembut. Senyum bukan tanda bahwa hidup selalu mudah, melainkan bukti bahwa seseorang memilih untuk berdamai denga n keadaan. Saat hari terasa berat, senyum membantu napas tetap panjang dan pikiran tetap jernih. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang belum didapat, tetapi juga tentang apa yang masih bisa disyukuri hari ini.
Kebahagiaan sering disalahartikan sebagai tujuan akhir, padahal ia lebih tepat disebut sebagai cara berjalan. Orang yang menunda bahagia sampai semua keinginannya terpenuhi akan sering merasa lelah dan kosong. Sebaliknya, mereka yang menemukan bahagia dalam proses, sekecil apa pun, akan memiliki tenaga untuk terus melangkah. Kebahagiaan tidak menunggu hari sempurna; ia tumbuh dari penerimaan dan harapan yang dijaga.
Setiap hari membawa cerita yang berbeda, dan perbedaan itulah yang membuat hidup bergerak. Ada hari yang penuh tawa, ada hari yang sunyi, dan ada hari yang mengajarkan kesabaran. Tidak semua cerita harus dipahami saat itu juga. Beberapa baru menemukan maknanya bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang menoleh ke belakang dan menyadari bahwa setiap kejadian memiliki perannya sendiri.
Dalam perjalanan itu, manusia belajar bahwa mengontrol segalanya adalah ilusi. Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin, menjaga niat tetap lurus, dan membuka hati terhadap kemungkinan. Ketika usaha bertemu dengan waktu yang tepat, rezeki pun datang dengan caranya sendiri. Kadang ia mengetuk pelan, kadang ia datang tiba-tiba, dan kadang ia menyamar sebagai tantangan.
Tantangan sering kali menjadi pintu masuk rezeki yang tidak disangka. Dari kegagalan, lahir ketangguhan. Dari kehilangan, tumbuh kepekaan. Dari penantian, muncul kedewasaan. Jika manusia hanya mengukur hidup dari hasil instan, banyak rezeki batin akan terlewatkan. Padahal, bekal itulah yang membuat seseorang mampu menerima dan menjaga rezeki yang lebih besar ketika tiba.
Pada akhirnya, hidup adalah tentang berjalan dengan keyakinan bahwa apa yang dititipkan akan sampai. Tugas manusia bukan mengejar dengan cemas, melainkan menjemput dengan kesiapan. Jangan lupa tersenyum dan berbahagia, karena setiap hari membawa ceritanya sendiri. Selama langkah dijaga dan hati tetap terbuka, rezeki akan selalu menemukan jalannya datang.
Salam Waras
Editor : Chandra Faza
Setelah Seragam Dilipat
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Di sebuah teras rumah tua yang menghadap taman, dua pria sepuh pensiunan jenderal duduk berhadapan. Seragam telah lama tergantung rapi di lemari, digantikan kemeja sederhana dan secangkir kopi yang mulai mendingin.
Salah seorang mantan jenderal yang lebih senior membuka percakapan; “Sunyi juga ya, Mil,” ujar Jendral Komar sambil menatap daun-daun yang gugur perlahan. “Dulu, satu langkah kita diikuti puluhan orang. Sekarang, suara burung lebih sering menyapa.”
Jendral Kamil, sebagai yang lebih junior menjawab sambil tersenyum tipis. “Sunyi, tapi jujur. Dulu ramainya bukan karena kita, tapi karena jabatan.”
Komar mengangguk pelan. “Aku masih ingat, saat pertama kali masuk ruangan rapat, semua berdiri. Sekarang, masuk ke kantor lama saja, prajurit jaganya sempat bertanya aku mau ke siapa.”
Kamil tertawa pendek, lalu terdiam dan sejurus kemudian berkata: “Itu bukan hinaan, jenderal. Itu pengingat. Bahwa dunia menghormati kursi, bukan orang yang duduk di atasnya.”
Komar menghela napas, dan berguman, “Masalahnya, saat kita duduk di kursi itu, mereka memuji seolah kita tak tergantikan. Begitu turun, seakan jasa kita ikut turun.”
“Kau kecewa, jenderal?” tanya jenderal Kamil lirih.
“Bukan. Lebih ke… heran,” jawab jenderal Komar, seraya menghirup kopinya yang sudah mulai dingin, seraya berkata; “Bagaimana pujian bisa secepat itu berubah jadi lupa.”
Jenderal Kamil tidak kalah seru, beliau menukas: “Aku belajar satu hal setelah pensiun. Penghormatan sejati bukan yang diucapkan keras-keras, tapi yang tetap ada meski kita tak lagi punya kuasa.”
Jenderal Komar menoleh sambil berguman. “Dan kalau itu tak ada?”.
“Berarti kita harus berdamai,” jawab Jenderal Kamil tenang, seraya menambahkan. “Bahwa yang kita lakukan dulu cukup untuk diri kita sendiri, bukan untuk ingatan dunia.”
Angin berhembus pelan. Dua jenderal pensiunan itu terdiam, bukan karena kehabisan kata, tetapi karena akhirnya mengerti: tidak semua jasa ditakdirkan untuk dikenang, dan tidak semua akhir harus dirayakan. Datang disambut, pergi dihina. Berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Begitulah dunia. Kalimat ini terasa pahit, tetapi jujur menggambarkan irama kehidupan manusia yang kerap berulang dari zaman ke zaman.
Dunia sering kali bersikap ramah di awal, penuh senyum dan harapan, namun berubah dingin ketika kepentingan telah terpenuhi. Manusia dipuja saat dibutuhkan, lalu dilupakan bahkan direndahkan ketika perannya dianggap selesai. Fenomena ini bukan sekadar cerita personal, melainkan cermin watak sosial yang masih terus hidup hingga hari ini.
Pada awal kehadiran seseorang, dunia cenderung membuka pintu dengan tangan terbuka. Sambutan hangat, sanjungan, dan pujian mengalir deras. Kehadiran dianggap membawa manfaat, solusi, atau keuntungan. Nilai seseorang diukur dari apa yang bisa ia berikan. Selama kontribusi itu nyata dan menguntungkan, ia ditempatkan di posisi terhormat. Namun, sambutan tersebut sering kali tidak lahir dari ketulusan, melainkan dari harapan akan hasil. Ketika harapan itu terpenuhi, pujian pun menjadi mata uang sosial yang murah dan mudah dibagikan.
Masalah muncul ketika waktu berjalan dan keadaan berubah. Dunia yang dulu memuji mulai menuntut lebih, tanpa melihat batas kemampuan manusia. Kesalahan kecil diperbesar, kelelahan dianggap kelemahan, dan penurunan peran dipersepsikan sebagai ketidakbergunaan. Saat seseorang tak lagi mampu memberi seperti sebelumnya, nada dunia pun berubah. Sambutan hangat berganti sikap acuh, bahkan hinaan. Seolah-olah jasa yang pernah diberikan tak pernah ada, lenyap ditelan ingatan kolektif yang selektif.
Ironisnya, manusia sering kali ikut melanggengkan pola ini. Kita terbiasa mengingat seseorang dari kegunaannya saat ini, bukan dari perjalanan dan pengorbanan yang pernah ia lalui. Penghargaan menjadi bersyarat: ada selama manfaat terasa, hilang ketika manfaat menguap. Dalam logika seperti ini, nilai manusia direduksi menjadi fungsi. Ketika fungsi dianggap rusak atau usang, manusia diperlakukan layaknya barang yang bisa dibuang.
Rasa sakit terbesar bukanlah saat tidak lagi dipuji, melainkan saat jasa masa lalu dihapus begitu saja. Pengabdian yang dulu diagungkan berubah menjadi catatan yang dianggap tidak relevan. Inilah luka yang sunyi, karena sering kali tak terlihat dan tak diakui. Banyak orang memilih diam, menelan kekecewaan, dan melanjutkan hidup dengan sisa harga diri yang masih mereka genggam. Dunia mungkin tak peduli, tetapi luka itu nyata.
Namun, di balik getirnya kenyataan tersebut, ada pelajaran yang bisa dipetik. Dunia yang mudah memuji dan menghina mengajarkan bahwa menggantungkan harga diri pada penilaian luar adalah fondasi yang rapuh. Pujian bersifat sementara, hinaan pun demikian. Keduanya datang dan pergi mengikuti kepentingan. Jika makna diri hanya dibangun dari keduanya, maka hidup akan terus terombang-ambing tanpa pijakan yang kokoh.
Kesadaran ini mendorong manusia untuk mencari nilai yang lebih dalam dan personal. Berbuat baik bukan lagi demi tepuk tangan, melainkan karena keyakinan. Bekerja dan berjasa bukan semata agar diingat, tetapi karena itu bagian dari integritas diri. Ketika penghargaan datang, ia disyukuri. Ketika hinaan muncul, ia disikapi dengan jarak emosional. Bukan karena kebal rasa, tetapi karena memahami bahwa dunia tidak selalu adil dalam menilai.
Pada akhirnya, dunia memang seperti itu: datang disambut, pergi dihina; berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Mengharapkan dunia berubah sepenuhnya mungkin terlalu utopis. Namun, manusia selalu memiliki pilihan untuk tidak sepenuhnya larut dalam pola tersebut. Kita bisa memilih untuk lebih adil dalam menilai sesama, lebih setia mengingat jasa, dan lebih manusiawi dalam memperlakukan mereka yang pernah berkontribusi.
Di tengah dunia yang mudah lupa dan cepat menghakimi, menjaga nurani adalah bentuk perlawanan paling sunyi namun bermakna. Sebab ketika dunia gagal menghargai, setidaknya kita tidak gagal menghargai diri sendiri dan orang lain. Dan mungkin, dari sikap kecil itulah, dunia yang kejam perlahan belajar untuk menjadi sedikit lebih manusiawi.
Salam Waras (Rj)
Editor : Chandra Faza