Doa Simbok

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Pada saat menjelang bulan suci ramadhan kata ini menjadi begitu dekat dengan telinga, khususnya orang Jawa. Berdasarkan penelusuran digital ditemukan informasi sebagai berikut: Kata “Simbok” dalam budaya Jawa merupakan panggilan yang penuh makna dan kedekatan emosional. Secara umum, “Simbok” berarti ibu, terutama dalam konteks masyarakat Jawa tradisional.

Kata “Simbok” berasal dari bahasa Jawa “mbok”, yang merupakan panggilan untuk ibu. Awalan “si-” dalam bahasa Jawa sering digunakan untuk memberi nuansa penghormatan atau keakraban, sehingga “Simbok” berarti “ibu” dengan rasa yang lebih akrab dan hormat. Dalam masyarakat Jawa lama, terutama di pedesaan, “Simbok” sering digunakan oleh anak-anak untuk memanggil ibu mereka secara langsung.

Selain itu, dalam budaya agraris Jawa, seorang ibu sering berperan sebagai pilar keluarga, baik dalam mengurus rumah tangga maupun bekerja di ladang. Oleh karena itu, panggilan “Simbok” tidak hanya merujuk pada status biologis sebagai ibu tetapi juga menggambarkan sosok perempuan yang pekerja keras dan penuh kasih sayang. Meskipun kata “Simbok” masih digunakan di daerah pedesaan dan dalam budaya tradisional, penggunaannya di perkotaan mulai berkurang, tergantikan oleh panggilan seperti “Ibu” atau “Mama”.

Secara keseluruhan, “Simbok” bukan sekadar panggilan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kesederhanaan, kehangatan, dan perjuangan seorang ibu. Simbok adalah simbul Surgawi bagi anak-anaknya, karena atas perkenaan doanyalah semua yang terbaik untuk anak-anaknya. Bahkan tidak salah jika ada diantara kita memberikan bahasa simbol kepada Simbok dengan kata “malaikat takbersayap” atau “malaikat pembawa rahmat” karena doanya tidak pernah putus selalu yang terbaik untuk anak-anaknya. Simbok adalah soko guru rumah tangga, jika tidak ada simbok bagi anak-anaknya; maka runtuhlah marwah keluarga itu. Tidak salah jika ada pepatah mengatakan “biarkan semua membenciku, asal tidak dari simbokku”; karena tidak mungkin simbok akan membenci anak-anaknya.

Pada saat menjelang bulan suci ini berbahagialah bagi mereka yang masih mempunyai simbok, karena masih ada syurga yang menunggu dikakinya. Bersimpuh itupun belum memberikan makna apa-apa, jika dibandingkan dengan apa yang telah beliau berikan kepada kita. Tinggal mampukah kita memaknai arti telapak kaki simbok sebagai suatu lambang keberkahan dalam kehidupan.

Pada masa punggahan seperti ini banyak diantara kita yang masih mencari Simbok untuk bersimpuh dikakinya guna meminta maaf atas segala kesalahan, salah satu bentuk penyucian diri dari segala salah dan hilaf selama ini terutama kepada kedua orang tua. Berbahagialah bagi mereka yang masih memiliki simbok, karena masih ada harap Syurga atasnya.

Namun sayangnya “simbok” setelah bermetamorfosis kealam formal menjadi “Ibu”; banyak yang berperilaku menyimpang dari kodratnya sebagai simbok yang selalu mengayomi. Justru berubah menjadi paradok, bahkan jauh dari konsep ideal. Bayangkan begitu menjadi kepala, banyak diantara mereka berubah menjadi “singa, serigala, tikus” dan atau apapun lainnya; yang mendadak berpenyakit kleptomani, yaitu mengambil milik orang lain seperti miliknya sendiri.

Sebelum mendapatkan kursinya, mereka menjadi pemain drama yang canggih; semua terlihat indah, cantik, manis dan menawan. Begitu duduk menjadi “ibu”; jalan raya yang hancur disalahkan hujan. Melihat di Ibu Kota ada bangunan yang menarik, maka pingin juga di wilayahnya ada hal yang serupa. Ada jembatan kabel-pun ingin ditiru, padahal pemukiman rakyatnya tergenang dimana-mana karena banjir melanda. Saluran mampet dibiarkan bertahun-tahun, pendangkalan sungai terjadi dibiarkan ditutup dengan janji. Kata “nanti” menjadi jawaban kunci manakala dikejar soal kapan oleh wartawan.

Sifat “kemaruk” ini membuat ibu pemimpin kehilangan sifat luhur Simbok. Menyedihkan lagi jika keluhuran simbok dibelokkan dalam menempatkan rasa sayang keluarga justru ditempatkan ke rasa sayang singgasana. Karena suami gagal mencalonkan diri jadi raja disebabkan syaratnya palsu, maka simbok maju “membela” suami dengan maju ingin menggantikan kemenangan suami. Inipun bentuk baru dari sublimasi persona diri simbok. Memang tidak ada undang-undang yang dilanggar, dan itu boleh-boleh saja; bahkan menurut sebagian pendapat justru itu namanya simbok bercibaku. Tetapi mari simbok sebelum memutuskan untuk lanjut, kita minta untuk memegang batang leher bagian belakang, apakah masih ada bulu kuduknya atau sudah dibronding. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Ikuti Workshop “Introduction to Systematic Review” di FK-KMK UGM

YOGYAKARTA (malahayati.ac.id): Sebanyak 30 mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Bandarlampung mengikuti workshop bertajuk Introduction to Systematic Review yang diselenggarakan oleh Pusat Epidemiologi Klinik dan Biostatistik (CEBU) FK-KMK UGM bersama Cochrane Indonesia. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Tahir, FK-KMK UGM, pada Jumat, 21 Februari 2025.

Workshop yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang metodologi review sistematis ini dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, yang didampingi oleh Ketua Program Studi (Ka. Prodi) Magister Kesehatan Masyarakat, Dr. Samino SH., M.Kes, serta Sekretaris Program Studi, Khoidar Amirus, SKM., M.Kes.

Prof. dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, PhD, SpOG, Subsp. KFM, selaku Direktur Cochrane Indonesia, menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai metodologi review sistematis, yang meliputi pengembangan pertanyaan penelitian, pencarian literatur, hingga ekstraksi data. “Melalui workshop ini, kami ingin meningkatkan kapasitas penelitian berbasis bukti di Indonesia. Kami juga berharap kegiatan ini dapat berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 yang berkaitan dengan kesehatan yang baik dan kesejahteraan, SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, dan SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan, melalui kolaborasi antar institusi dalam pengembangan penelitian kesehatan yang lebih efektif,” jelas Prof. Detty.

Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Dr. Samino, SH., M.Kes menjelaskan bahwa mahasiswa yang mengikuti kegiatan workshop sebanyak 30 mahasiswa. Tujuan kegiatan untuk memberi wawasan pada mahasiswa mengenai bagaimana menulis karya ilmiah tanpa harus menggunakan data primer maupun sekunder. “Artinya mahasiswa diberi wawasan mengenai menyusun artikel ilmiah dengan melakukan systematic review jurnal yang sudah terpublikasi di seluruh dunia. Model ini sangat menguntungkan, waktu penyelesaiaan lebih singkat, hasilnya bermutu, namun memerlukan pengetahuan yang mendalam mengenai manajemen review jurnal itu sendiri,” ujarnya Dr. Samino.

Materi workshop mencakup Introduction to Systematic Review, Developing Review Question, Developing Protocol and Protocol Registration, Literature Searching and Study Selection, Introduction to Metaanalysis, dan Practical Session. Dengan materi tersebut setidaknya mahasiswa memiliki pemahaman mengenai penulisan karya ilmiah mempunyai kualitas tinggi, karena hasil-hasil review jurnal ini dapat diterbitkan pada penerbitan ilmiah berkala bermutu tinggi.

Workshop ini menjadi ajang penting bagi para mahasiswa untuk memahami secara mendalam bagaimana cara melakukan penelitian berbasis bukti dengan menggunakan metodologi review sistematis. Diharapkan, para peserta dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam pengembangan penelitian kesehatan di masa depan, serta meningkatkan kualitas riset yang dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Acara tersebut juga menghadirkan berbagai sesi interaktif, diskusi kelompok, dan studi kasus yang memberikan pengalaman langsung dalam proses pembuatan systematic review. Workshop ini menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung pendidikan berkualitas dan riset berbasis bukti dalam dunia kesehatan di Indonesia. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Universitas Malahayati Umumkan Libur Menjelang Bulan Suci Ramadhan 1446 H

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1446 H, Universitas Malahayati mengumumkan jadwal libur bagi seluruh mahasiswa dan civitas akademika. Pengumuman ini disampaikan agar seluruh mahasiswa dapat mempersiapkan diri dengan baik dalam menyambut bulan penuh berkah ini.

Bagi mahasiswa Universitas Malahayati, momen libur menjelang Ramadhan ini bisa dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga, meningkatkan ibadah, serta mempersiapkan diri menghadapi bulan suci dengan lebih maksimal.

Selamat menyambut bulan suci Ramadhan 1446 H. Semoga ibadah kita semakin lancar dan penuh keberkahan. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Fakultas Hukum Universitas Malahayati Gelar Kuliah Praktik Peradilan untuk Mahasiswa Angkatan 2022

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id):  Fakultas Hukum Universitas Malahayati Bandarlampung kembali menyelenggarakan kegiatan Kuliah Praktek Peradilan pada semester Ganjil 2024-2025. Kegiatan ini diikuti oleh 107 mahasiswa, mayoritas berasal dari angkatan 2022, yang merupakan bagian integral dari mata kuliah yang diajarkan di Fakultas Hukum.

Kuliah Praktek Peradilan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman lebih dalam mengenai hukum acara kepada mahasiswa, terutama terkait dengan Hukum Acara Pidana dan Hukum Acara Perdata. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengimplementasikan langsung ilmu yang telah mereka pelajari dalam perkuliahan. Salah satu bentuk implementasi tersebut adalah melalui kunjungan ke Pengadilan Negeri Tanjung Karang, yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menyaksikan langsung jalannya sidang peradilan.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa dibekali dengan buku panduan praktek serta buku panduan untuk peradilan semu. Buku panduan ini berguna sebagai acuan dalam melaksanakan praktek peradilan, baik yang berkaitan dengan teori maupun observasi sidang. Sebagai bagian dari proses evaluasi, mahasiswa diwajibkan untuk mengisi blangko kegiatan pengamatan sidang dan membuat laporan yang harus ditandatangani oleh hakim, yang memastikan bahwa mereka benar-benar mengikuti prosedur dengan baik.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, S.H., M.H., menyatakan dukungannya terhadap kegiatan Kuliah Praktek Peradilan ini. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari pembelajaran berbasis hasil (Outcome-Based Education/OBE), yang mempersiapkan mahasiswa untuk dunia kerja, khususnya dalam bidang profesi hukum seperti jaksa, hakim, pengacara, saksi ahli, panitera, dan profesi lainnya. Ia menekankan bahwa Kuliah Praktek Peradilan merupakan bagian penting dari pendidikan di Fakultas Hukum yang bertujuan menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang hukum.

Salah satu mahasiswa peserta, Puja Nur Kholijah dari angkatan 2022, mengungkapkan pengalaman berharga yang didapatkan setelah mengikuti Kuliah Praktek Peradilan. Puja mengatakan, “Moment mengikuti Kuliah Praktek Peradilan secara langsung adalah pengalaman yang sangat berharga. Setelah melakukan kunjungan di Pengadilan Negeri Tanjung Karang, kami dapat melihat secara langsung bagaimana praktik sidang dilakukan, mulai dari pembukaan hingga penutupan sidang. Hal ini sangat membantu kami untuk memahami tata cara beracara yang baik dan benar sesuai dengan ketentuan yang ada dalam KUHAP.”

Kegiatan ini menjadi bukti komitmen Fakultas Hukum Universitas Malahayati dalam memberikan pendidikan yang terintegrasi antara teori dan praktik kepada mahasiswa, serta sebagai sarana untuk mempersiapkan mereka menghadapi tantangan di dunia profesional. Dengan adanya Kuliah Praktek Peradilan, diharapkan mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki pengalaman praktis yang sangat berharga bagi karier mereka di masa depan. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Munggah

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Kata “munggah” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “naik” atau “menaikkan”. Kata ini sering digunakan dalam berbagai konteks. Sementara dalam kontek budaya dikenal istilah punggahan. Punggahan adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa dan sebagian masyarakat di Indonesia menjelang bulan Ramadhan. Dapat dimaknai juga sebagai momen meningkatkan kualitas diri dalam menyambut bulan suci Ramadhan bagi umat muslim. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan persiapan menyucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa.

Bentuk kegiatannya bisa bermacam-macam sesuai dengan budaya tempatan, karena ini bukan perintah agama secara prinsip, maka variasinya menjadi sangat beragam. Bahkan ada yang memposisikan haram melakukannya, ada yang makruh, dan sebagainya. Namun tulisan ini tidak masuk ke wilayah itu, dan lebih fokus pada perilaku sosial.

Tradisi ini juga dikenal pada berbagai sub-etnik di nusantara dengan istilah munggah; seperti juga pada masyarakat Palembang yang selalu mengadakan kenduri ruwah. Bahkan ada yang disertai dengan mandi limau, yaitu mandi yang airnya disertai dengan perasan jeruk nipis. Dahulu beberapa daerah di Riau, Aceh dan beberapa bagian lainnya diantara masyarakat ada yang melakukan ritual ini menjelang puasa Ramadhan.

Kita tinggalkan munggah dan punggahan dalam konteks budaya, tulisan ini lebih menekankan munggah dalam arti “naik”; itupun khususon pada harga-harga kebutuhan sehari-hari di bulan Ramadhan. Sudah semacam hukum ekonomi pasar berlaku untuk situasi ini; semua kebutuhan, terutama bahan pokok, disaat seperti ini mulai merangkak naik. Kenaikan harga seperti ini masih disertai dengan kekurangan stok bahan, atau juga meningkatnya yang membutuhkan. Hukum ekonomi pasar sempurna menjadi terwujud, dan tentu akibatnya banyak dampak yang harus terjadi, baik positif maupun negatif.

Mendekati hari lebaran, maka kondisi seperti ini seolah semakin menjadi-jadi; dan anehnya semua kita termasuk pemerintah sering abai dalam mengatisipasinya. Walhasil, harga menjadi “munggah” disertai kata sejadi-jadinya, atau menggila. Tentu kondisi inilah yang diharapkan oleh para spekulan untuk meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya.

Perilaku munggahkan harga ini sebenarnya oleh para spekulan sudah dirancang jauh hari; banyak diantara mereka sudah menimbun barang satu atau dua bulan sebelumnya. Dan, menjualnyapun dengan mode tertentu, yaitu tiga hari sebelum dan tiga hari saat bulan puasa berjalan. Hal ini dilakukan karena semua orang ingin berpuasa, bahkan yang tidak menjalankan ibadah shalatpun sibuk ikut berpuasa. Kemudian pada hari keempat atau kelima mereka tidak lagi berpuasa, tetapi sibuk mencari persiapan lebaran. Pada umumnya mereka inilah yang paling getol untuk mencari uang dengan cara apapun agar dapat ikut pesta lebaran.

Penjualan berikutnya dilakukan hari-hari terakhir puasa, dimana keramaian puasa melebihi kondisi normal. Apapun yang dijual saat itu, dengan harga berapapun seolah akan habis saja. Dan terakhir dijual saat para pedagang lain masih sibuk mudik lebaran, mereka yang memanfaatkan keadaan, maka menjual barang dengan seenak sendiri saja dalam menetapkan harga. Hal ini terjadi karena pasar tidak ada pesaingnya. Mereka yang membutuhkan harus rela membayar berapapun karena merasa memerlukan dan pedagang belum banyak yang kembali berjualan.

Tampaknya siklus seperti ini berjalan dari tahun ketahun, sehingga kita seolah pasrah dengan keadaan. Para penjualpun menikmati kondisi ini dari masa ke masa. Sementara yang memang melaksanakan ibadah puasa sebagai kewajiban, tidak terpengaruh akan kenaikan harga, sebab rata-rata mereka memang sudah terbiasa berpuasa, dan tidak perlu mempersiapkan segalanya secara berlebihan. Atau memang selama ini mereka harus berpuasa sepanjang tahun karena ketidakadaan; oleh sebab itu mereka tidak merasakan perbedaan signifikan dengan hari-hari biasa.

Hal lain lagi karena banyak diantara kita terserang “hawak mata” terjemahan bebasnya lapar mata. Sesungguhnya kita tidak membutuhkan, tetapi hanya sekedar menginginkan; akhirnya semua mau diraih disiapkan di atas meja; begitu tiba waktu berbuka semua yang dikumpulkan tadi tidak tersentuh, apalagi mau dimakan.

Untuk itu teman-teman seiman,.mari kita siapkan diri untuk “munggah” dalam pengertian hakiki, yaitu mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah puasa sesuai dengan perintah agama dengan cara membersihkan diri dari penyakit hati. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Jalan-Jembatan Seiring Sejalan, Bukan Jalan Jadi Siring, Sudah Mimpi Kereta Gantung

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

SEJARAH jalan dan jembatan sangat erat kaitannya dengan perkembangan peradaban manusia. Infrastruktur ini menjadi bagian penting dalam mobilitas, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.

Berikut adalah gambaran singkat sejarah jalan dan jembatan dari masa ke masa berdasarkan referensi digital:

A. SEJARAH JALAN

Jalan Prasejarah
Manusia purba menggunakan jalur alami seperti jalan setapak di hutan atau dataran. Jalur pertama kemungkinan besar terbentuk dari kebiasaan hewan dan manusia yang berjalan berulang kali di rute yang sama.

Jalan Kuno
Mesopotamia dan Mesir sekitar 4000 SM. Peradaban Mesopotamia membangun jalan tanah untuk perdagangan. Bangsa Mesir menggunakan batu untuk jalan di sekitar piramida.

Jalan Romawi
Kekaisaran Romawi 500 SM – 476 M membangun jalan dengan teknik canggih menggunakan batu besar, pasir, dan kerikil. Beberapa jalan Romawi masih bertahan hingga sekarang.

Jalan Sutra
Jalur perdagangan 200 SM – 1400 M yang menghubungkan Tiongkok, Asia Tengah, Timur Tengah, hingga Eropa.

Revolusi Industri
Pembangunan jalan dengan teknik baru seperti penggunaan batu makadam oleh John Loudon McAdam antar thun 1700-1800-an.
Jalan Modern pada Abad ke-20 sudah berkembang pesat menggunakan aspal dan beton.
Pada Abad ke-21, jalan tol, jalan layang, dan sistem jalan pintar berbasis teknologi mulai digunakan.

B. SEJARAH JEMBATAN

Jembatan Primitif
Awalnya berupa batang kayu atau batu yang diletakkan melintasi sungai. Manusia purba juga menggunakan akar pohon yang tumbuh alami sebagai jembatan gantung sederhana.

Jembatan Kuno.
Jembatan Batu Mesopotamia sekitar 3000 SM dibangun dengan batu bata lumpur dan kayu.

Jembatan Romawi
Jembatan yang menggunakan batu dan beton tahan air sekira 500 SM – 500 M. Contoh jembatan yang terkenal pada era ini adalah Jembatan Alcántara di Spanyol.

Jembatan Gantung Inca
Jembatan gantung yang dibuat dari serat alami seperti rumput dan digunakan di Pegunungan Andes pada tahun 1400-an.

Jembatan Revolusi Industri
Jembatan Abad Pertengahan dan Revolusi Industri ini telah menggunakan besi pada 1779 di Inggris. Jembatan Iron Bridge di Shropshire, Inggris, adalah jembatan pertama dari besi tuang.

Jembatan Rel
Jembatan Era Kereta Api pada tahun 1800-an terbuat dari besi dan baja yang dibangun untuk mendukung transportasi kereta api.

Jembatan Modern
Jembatan gantung muncul mulai tahun 1900-an sampai sekarang contohnya Golden Gate Bridge di Amerika Serikat dan Jembatan Akashi-Kaikyō di Jepang.

Jembatan Kabel
Cable-Stayed Bridge mulai pada tahun 1950-an sampai sekarang misalnya Jembatan Suramadu di Indonesia).

Jembatan Berteknologi Tinggi
Jembatan yang muncul pada Abad ke-21 menggunakan material ringan dan teknologi anti-gempa.

Jalan dan jembatan terus berkembang dengan teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan daya tahan. Infrastruktur ini tetap menjadi tulang punggung transportasi global.

Berarti, jalan dan jembatan adalah pasangan ideal yang tak terpisahkan. Dengan kata lain jalannya harus bagus jembatannya juga bagus.

Yang kemudian menjadi persoalan, banyak jalan yang rusak sementara mau membangun jembatan kabel atau kereta gantung.

Pemikiran yang seperti ini jika ada pada kepala pemimpin, seyogyanya yang bersangkutan minum obat terlebih dahulu sehingga bisa berfikir jernih.

Pemimpin jangan menjadi pemimpi, walau kedua diksi ini hanya selisih satu huruf maknanya menjadi sangat jauh berbeda. Mimpi dalam pengertian visioner kedepan itu berbeda dengan mimpi dalam tidur; apalagi menjadi sangat berbeda lagi mimpinya sebelum tidur. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Fakultas Hukum Universitas Malahayati Gelar Penyuluhan Hukum Bisnis Syariah dan Praktiknya, Sebagai Wujud Pembelajaran untuk Mahasiswa

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Fakultas Hukum Universitas Malahayati berhasil menyelenggarakan kegiatan penyuluhan hukum bisnis syariah dan praktiknya yang berlangsung dengan sukses. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta, termasuk mahasiswa, dosen, dan sejumlah praktisi hukum. Penyuluhan ini dilaksanakan di kampus Fakultas Hukum Universitas Malahayati dan mendapat dukungan penuh dari Bapak Rektor dan Dekan Fakultas Hukum. Kegiatan ini terlaksana pada 19 Desember 2024.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, S.H., M.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat relevan sebagai bagian dari pembelajaran mahasiswa dalam mata kuliah Hukum Bisnis Syariah. Dengan mengusung metode perkuliahan Outcome Based Education (OBE), kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa agar lebih siap menghadapi dunia kerja yang semakin berkembang dan membutuhkan pemahaman hukum yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, khususnya dalam bidang bisnis.

“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang hukum bisnis syariah, serta memberikan pengalaman praktis yang sangat dibutuhkan sebelum terjun ke dunia profesional,” kata Dekan Fakultas Hukum, Aditia Arief Firmanto.

Kegiatan penyuluhan ini melibatkan sejumlah dosen dan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malahayati, di antaranya Muslih, S.H.I., M.H., sebagai dosen pengampu, serta mahasiswa-mahasiswa aktif yaitu Tantri Dwi Lestari, Septa Kusuma, Fadila, Fakhdafa Alga Rizki, Retno Wulandari, dan Anggi Oktapia yang turut berperan dalam kesuksesan acara ini.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta diberikan pemahaman mengenai Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Bisnis, Praktik Hukum Syariah dalam Perekonomian, serta Sosialisasi Hukum Bisnis Syariah dan Praktiknya. Selain itu, acara ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bidang hukum bisnis dan syariah serta memberikan kesempatan untuk mengaplikasikan pembelajaran yang didapatkan di dalam kelas ke dalam praktik kehidupan nyata.

Kaprodi Ilmu Hukum Universitas Malahayati, Rissa Afni Martinouva, S.H., M.H., menambahkan bahwa penyuluhan ini adalah langkah yang sangat penting untuk mengembangkan kreativitas dan semangat mahasiswa Fakultas Hukum dalam memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian yang mengusung perdagangan dan bisnis secara Islam. “Penyuluhan ini tidak hanya sebagai ajang pembelajaran, tetapi juga sebagai wadah bagi mahasiswa untuk terlibat aktif dalam pengembangan hukum bisnis syariah yang kian relevan dalam perkembangan ekonomi global,” ungkap Rissa Afni Martinouva.

Dalam konteks ekonomi global yang terus berkembang, munculnya berbagai model bisnis baru memerlukan regulasi dan tata kelola yang adil, transparan, serta sesuai dengan nilai-nilai etika. Hukum bisnis syariah hadir sebagai solusi untuk menjamin keberlanjutan usaha yang tidak hanya mengutamakan keuntungan, tetapi juga keberkahan, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami betul prinsip-prinsip hukum Islam yang mengatur aktivitas bisnis dan bagaimana menerapkannya dalam dunia nyata. Dengan demikian, mereka diharapkan mampu memberikan kontribusi yang positif bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam sektor bisnis berbasis syariah.

Semoga kegiatan ini dapat menjadi awal yang baik bagi pengembangan ilmu hukum syariah di kalangan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malahayati dan turut memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Membangun Asa yang Berserak

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Beberapa jam setelah tiba dari beraudiensi dengan perguruan tinggi negeri papan atas di negeri ini, yang berada di daerah istimewa, dalam rangka menyinkronkan rencana pembukaan suatu program bergengsi di dunia akademik, dilanjutkan pengukuhan guru besar baru di tempat tugas; berikutnya tugas baru sudah menanti. Dan, tugas yang tidak dapat digantikan diantaranya adalah menjadi ketua tim “penyatuan” keluarga besar melalui ikatan perkawinan. Sekalipun jarak yang harus ditempuh cukup jauh dan dalam kondisi lelah sangat secara fisik dan mental, karena sudah tidak muda lagi; tetapi mengingat tugas kemanusiaan yang sangat mulia itu, maka semua dijalankan dengan riang gembira bersama keluarga.
Ternyata ditengah-tengah momen kehidupan yang sakral itu; ditemukan mutiara “nasehat diri” dari peristiwa sosial yang terjadi. Keluarga-keluarga inti yang hadir ternyata hampir semua adalah produk dari amalgamasi. Sangat jarang lagi ditemukan suami-istri yang berasal dari satu sub-etnik yang sama; mereka rata-rata berbeda latar belakang budaya; sehingga membentuk budaya baru, namun tidak meninggalkan sub-budaya etniknya, minimal bahasa ibu.

Menariknya lagi himpunan mereka ini sudah terjalin sejak lama. Menurut catatan sejarah, daerah ini dibuka sekitar tahun 1930 oleh Belanda. Pemerintah kolonial membangun jalan raya yang menghubungkan antarkeresidenan di Sumatera. Pembangunan jalan ini mendorong pembukaan dan pengembangan wilayah di sepanjang rute tersebut.

Pemukim datang dan pergi seiring dengan lajunya perdagangan hasil bumi, terutama rempah masa lampau; mengakibatkan daerah ini menjadi maju pesat, dan sekarang termasuk kecamatan yang kepadatan penduduknya cukup tinggi. Dan, dari semua itu seolah daerah ini ingin memunculkan “akulah Indonesia” karena interaksi antarsubetnik di sini begitu harmonis, serta tidak pernah terjadi konflik antar mereka.

Atas dasar itu dapat disimak saat mereka memperkenalkan diri saat berlangsungnya suatu acara dengan menyebut “Bapak saya dari subetnik X, sedangkan ibu saya bersubetnik Y; saya bisa bahasa kedua orang tua saya dengan fasih”. Perkenalan diri seperti ini untuk didaerah ini sudah sangat biasa; oleh karena itu ikatan antar-intermereka secara kekeluargaan menjadi kentara dan sangat erat sekali.

Pembentukan Indonesia ternyata sudah dimulai prosesnya jauh sebelum merdeka untuk daerah ini; jejak-jejak itupun menyejarah sampai hari ini. Namun sayangnya harmoni yang seperti ini dirusak oleh mereka-mereka yang berfikir sesaat dan cenderung “norak”. Salah satu diantaranya adalah membangun tembok sosial dengan mengatasnamakan ekonomi. Mereka yang secara ekonomi lebih beruntung, maka merekalah yang berhak untuk mendapatkan status lebih dari yang lainnya. Akhirnya daerah ini menjadi penyuplai tenaga kerja sektor informal untuk luar daerah, bahkan sampai luar negeri; dengan tujuan mencari penghasilan sebanyak-banyaknya di luar untuk dibawa pulang dan memperbaiki status sosial yang ada selama ini. Bahkan ada yang tega meninggalkan keluarga demi mengejar harapan di negeri orang. Namun ada juga suami yang memanfaatkan momen ini untuk melepaskan diri dari tanggung jawab; sehingga merasa sudah memberi ijin kepada keluarga kerja keluar daerah itu berarti harus mendapatkan imbal jasa dari yang pergi.

Daerah yang masih ditopang oleh produk pertanian, terutama tanamanan keras ini, masyarakatnya memiliki karakter yang sudah berubah menjadi egaliter. Ukuran normatif individual sudah membentuk pola, oleh sebab itu secara normatif wilayah ini sudah layak disebut “kota”; namun dari aspek perilaku penunjang, masih ada pada posisi transisi.

Jika tagar untuk meninggalkan negeri guna memperbaiki nasib di negeri orang itu baru sekarang muncul; untuk daerah ini sudah lama dilakukan oleh mereka yang memang tidak melihat peluang di daerah ini. Homo Ekonomikus yang melekat pada manusia, seolah saat ini mendapatkan pintu keluar yang luas, termasuk untuk warga daerah ini. Justru slogan yang dikenal pada masyarakat ini adalah “jaga yang kita miliki, sabar menghadapi apa yang terjadi”; seolah merupakan pendorong jiwa semangat untuk meraih yang lebih baik lagi. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Kunjungi Dinas Kesehatan DIY, Penerapan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer

YOGYAKARTA (malahayati.ac.id): Sebanyak 30 mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, yang didampingi oleh sejumlah dosen dan pimpinan fakultas, melakukan kunjungan pendidikan ke Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam rangka agenda Field Trip. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan mendalam mengenai penerapan integrasi pelayanan kesehatan primer di DIY, yang telah menjadi model bagi pengembangan sistem kesehatan di Indonesia. Kamis (20/2/2025)

Universitas Malahayati dipimpin oleh Guru Besar Universitas Malahayati, Prof. Dr. Sudjarwo, MS, bersama dengan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Dr. Lolita Sary, SKM., M.Kes, Ketua Program Studi (Ka. Prodi) Magister Kesehatan Masyarakat, Dr. Samino SH., M.Kes, serta Sekretaris Prodi, Khoidar Amirus, SKM., M.Kes. Kehadiran mereka disambut dengan antusias oleh pihak Dinas Kesehatan DIY yang dipimpin oleh Drg. Pambajun Setyaningastutie, M.Kes, selaku Kepala Dinas Kesehatan DIY.

Drg. Pambajun Setyaningastutie, M.Kes dalam sambutannya menjelaskan tentang implementasi sistem integrasi pelayanan kesehatan primer yang telah berhasil diterapkan di DIY. “Integrasi pelayanan kesehatan primer adalah langkah strategis untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di tingkat pertama, yang mencakup puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya yang saling mendukung. Dengan pendekatan ini, kita dapat mengurangi kesenjangan akses kesehatan, mempercepat proses rujukan, dan memastikan bahwa setiap warga DIY mendapatkan pelayanan yang lebih cepat, tepat, dan terjangkau,” ujar Drg. Pambajun.

Beliau juga mengungkapkan bahwa upaya ini bertujuan untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih efisien dan merata, yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil. “Kami berharap penerapan sistem ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia,” tambahnya.

Dekan FIK Universitas Malahayati, Dr. Lolita Sary, SKM., M.Kes, mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan oleh Dinas Kesehatan DIY. “Kami sangat menghargai kesempatan yang diberikan untuk belajar langsung dari pengalaman Dinas Kesehatan DIY dalam menerapkan integrasi pelayanan kesehatan primer. Ini adalah contoh nyata dari kebijakan yang berdampak positif pada kesehatan masyarakat, dan kami berharap dapat mengimplementasikan pelajaran yang kami peroleh dalam pengembangan program pendidikan di Universitas Malahayati,” ucap Dr. Lolita.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Lolita juga menekankan pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor kesehatan. “Kami percaya bahwa melalui kerjasama yang lebih erat antara akademisi, pemerintah, dan praktisi kesehatan, kita bisa menciptakan sistem kesehatan yang lebih inklusif dan adaptif. Kunjungan ini memperkuat komitmen kami untuk terus mendalami isu-isu kesehatan masyarakat yang relevan, serta berkontribusi lebih banyak dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia,” tambahnya.

Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati terlihat antusias mengikuti setiap sesi pembelajaran yang diberikan selama kunjungan ini. Para mahasiswa mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai tantangan dan peluang dalam menerapkan integrasi pelayanan kesehatan primer di Indonesia, serta bagaimana kebijakan-kebijakan tersebut dapat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berdiskusi langsung dengan para ahli dan praktisi kesehatan, serta mendapatkan wawasan mengenai praktik-praktik terbaik dalam sistem pelayanan kesehatan yang sudah terintegrasi. Dengan demikian, diharapkan mahasiswa dapat lebih siap menghadapi tantangan di dunia kesehatan pasca-kelulusan dan dapat berkontribusi dalam meningkatkan sistem pelayanan kesehatan di masa depan.

Sebagai penutup, Dr. Lolita Sary menyampaikan harapannya bahwa kegiatan ini bukan hanya berhenti sebagai kunjungan edukatif, tetapi juga membuka peluang bagi kedua institusi untuk menjalin kerja sama yang lebih erat di masa depan. “Kami berharap dapat terus berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan DIY dalam mengembangkan penelitian, program-program kesehatan masyarakat, serta pelatihan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan. Kunjungan ini menjadi batu loncatan bagi kami untuk terus mendalami isu-isu kesehatan yang krusial bagi masyarakat,” tutupnya.

Kunjungan ini mendapat sambutan positif dari seluruh pihak yang terlibat, dan diharapkan dapat memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan sektor kesehatan dalam upaya menciptakan sistem kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Bukan Sekedar Pisau

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Pisau guillotine, alat pemenggal kepala yang terkenal dari Prancis. Berdasarkan jejak digital ditemukan informasi bahwa Guillotine berasal dari ide lama tentang eksekusi cepat dan “manusiawi.” Sebelum guillotine, eksekusi dilakukan dengan kapak atau pedang, yang sering kali tidak akurat dan menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan. Pada akhir abad ke-18, dokter Joseph-Ignace Guillotin, seorang anggota Majelis Nasional Prancis, mengusulkan alat eksekusi yang lebih cepat dan tanpa rasa sakit. Meski namanya melekat pada alat ini, ia bukan penciptanya. Desain guillotine dikembangkan oleh Antoine Louis, seorang ahli bedah, dan dibuat oleh tukang kayu bernama Tobias Schmidt pada tahun 1792.

Guillotine menjadi simbol utama Revolusi Prancis (1789-1799), terutama selama periode Teror (1793-1794), di mana ribuan orang dieksekusi, termasuk Raja Louis XVI dan Marie Antoinette. Guillotine tetap digunakan di Prancis hingga abad ke-20. Eksekusi terakhir dengan guillotine terjadi pada tahun 1977 terhadap Hamida Djandoubi, seorang terpidana pembunuhan. Dan kemudian Prancis menghapus hukuman mati pada tahun 1981.

Kita tinggalkan “alat eksekusi” yang mengerikan itu dan kita tilik pada dunia nyata, ternyata Guillotine sekarang sedang digunakan dinegeri ini; hanya yang dipenggal bukan leher penjahat, dan bukan juga leher para kuruptor; akan tetapi anggaran belanja disemua lini kehidupan bernegara. Bagi mereka yang menghalangi untuk tidak melakukannya karena alasan apapun, maka “leher” yang bersangkutan dilibas, dengan satu kata ganti yaitu reshuffle . Tidak mau memotong anggaran bea siswa pendidikan sudah cukup untuk dijadikan alasan bahwa yang bersangkutan melakukan pembangkangan, dan yang bersangkutan layak kena guillotine reshuffle, padahal hal ini terjadi karena yang bersangkutan paham betul dampaknya jika anggaran bea siswa dipangkas. Tentu saja agar alasan itu tampak manis dan masuk akal, dicarikan kalimat yang lebih bersifat personal; dengan demikian yang bersangkutan terkesan “tidak bisa memimpin” atau tidak layak menjadi pemimpin dan atau apapun nama lainnya.

Penggunaan guillotine anggaran itu perlu demi penghematan, namun jika digunakan secara semena-mena atau bahkan otoriter hanya karena alasan program prioritas; maka dampak dari penggunaannya sudah mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Pendapatan pegawai menjadi kecil, adanya pemangkasan tenaga kerja, pemangkasan jam kerja, mencari pekerjaan bagi tenaga kerja produktif menjadi sulit, pengangguran mulai terasa muncul dimana-mana, eksodus orang muda potensial ke luar negeri menjadi pilihan utama, pasar tradisional mulai lesu, daya beli menurun, pemberlakuan pajak tinggi dan sebagainya. Tentu saja kondisi ini muncul diluar skenario para perencana awal. Belum lagi ditambah komentar atau celetukan para pemimpin level atas yang terkadang tidak terkontrol bahkan terkesan asal bunyi, menjadikan semakin runyam keadaan. Belum lagi dilakukannya pengawasan bahkan pembungkaman social bagi mereka yang berfikir kritis; hal ini mengingatkan akan prakondisi terhadap diberlakukannya system otoriter pada kehidupan bernegara, dan ini wajib untuk kita waspadai.

Tampaknya harus ada pemikiran ulang agar terjadi penataan ulang supaya tekanan social tidak terjadi begitu massif. Salah satu diantaranya “pemangkasan bicara yang tidak perlu” bagi para pemimpin, adalah salah satu diantaranya yang juga harus dipilih.

Ternyata puasa tidak makan tidak minum itu pada sebagain kita lebih “mudah” melakukan dibandingkan puasa bicara; walaupun sebenarnya hakekat puasa itu bukan hanya menahan lapar dan haus saja, termasuk mengontrol bicara. Oleh karena itu “pembekalan” yang dilakukan oleh pimpinan tertinggi saat sebelum pengambilan sumpah jabatan, tampaknya harus diselipkan materi “metode berbicara” kepada para pembantunya.

Tampaknya kedepan kita harus lebih bijak lagi dalam mengelola negeri ini; ternyata pemangkasan anggaran itu dampaknya bukan hanya pada satu segi kehidupan. Akan tetapi merambah kemana-mana, bak lagu Bengawan Solo “mengalir sampai jauh” ; bedanya kalau bengawan solo membuat banjir air, ini justru bisa terjadi banjir air mata karena terkena pemutusan hubungan kerja.

Mengkencangkan ikat pinggang ternyata harus ditambah satu tarikan lagi, agar kita makin ramping, dan makin tidak nafsu makan karena memang tidak ada yang dimakan. Penataan ulang kehidupan tampaknya harus banyak dilakukan oleh kita setiap penggantian kepemimpinan negeri. Oleh sebab itu untuk kedepan semua ini adalah pembelajaran social yang sangat berharga bagi kita semua.

Salam Waras