
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Universitas Malahayati (UNMAL) kembali menyelenggarakan agenda tahunan yang dinanti, yakni Management Expo 2025. Kegiatan ini dilaksanakan selama lima hari, mulai 15 hingga 19 Desember 2025, bertempat di lingkungan Universitas Malahayati.
Management Expo 2025 merupakan implementasi nyata Outcome-Based Education (OBE) dalam mendukung pencapaian kompetensi lulusan melalui pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoretis, tetapi juga pengalaman langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan berskala besar.
Pembukaan kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB, diawali dengan persiapan panitia dan penayangan trailer bertema Leadership, Perilaku Organisasi, dan Etika Bisnis. Tayangan tersebut merepresentasikan integrasi antara materi akademik dan praktik nyata yang menjadi karakter utama Management Expo 2025.
Acara pembukaan dipandu oleh MC Nadya Ayu Pratiwi dan Muhammad Azzam Hilmitsani, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ahmad Alinamas, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Malahayati yang diikuti oleh seluruh hadirin.
Sebagai bentuk penghormatan kepada tamu undangan, acara dimeriahkan dengan Persembahan Tari Sigeh Pengunten, tarian adat Lampung yang melambangkan penyambutan dan rasa hormat, yang dibawakan oleh mahasiswa Program Studi Manajemen.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., didampingi Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., serta Kepala Humas Universitas Malahayati Emil Tanhar, S.E.
Selain jajaran pimpinan universitas, pembukaan Management Expo 2025 turut dihadiri oleh berbagai mitra industri dan sponsor, antara lain PLN Nusantara Power, Pegadaian, Grab, Bank Mandiri, Wings Food, Siti Aminah Scaves, Yakult, Oppo, Kitty Hijab, Bukit Asam, BNI, Barenbliss, dan HB Beauty. Kehadiran para mitra ini menjadi wujud sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha dalam mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa. Hadir pula tamu undangan eksternal, perwakilan instansi mitra, alumni, serta sivitas akademika Universitas Malahayati.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Universitas Malahayati Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, dan mitra industri dalam menciptakan lulusan yang unggul, adaptif, dan berintegritas. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para sponsor, tamu undangan, serta seluruh panitia atas terselenggaranya Management Expo 2025.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kaprodi Manajemen Dr. Febrianty, S.E., M.Si., yang menegaskan bahwa Management Expo 2025 merupakan bentuk implementasi kurikulum Outcome-Based Education (OBE), di mana mahasiswa berperan aktif sebagai perencana, pelaksana, dan evaluator kegiatan. Hal ini diharapkan mampu mengasah kompetensi akademik maupun nonakademik mahasiswa secara seimbang.

Selanjutnya, Ketua Pelaksana Management Expo 2025, Amril Samosir, S.Kom., M.T.I., menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai wadah penguatan soft skills mahasiswa, meliputi kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim, serta etika profesional, yang sejalan dengan capaian pembelajaran berbasis OBE.
Usai peresmian, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama jajaran pimpinan universitas, tamu undangan, sponsor, dosen, dan panitia. Rangkaian acara harian diisi dengan berbagai penampilan mahasiswa, seperti atraksi bela diri, pertunjukan vokal, serta seni musik, yang menunjukkan kreativitas dan potensi mahasiswa Program Studi Manajemen.
Pengunjung juga diajak mengikuti Expo Tour dengan mengunjungi berbagai stan yang menampilkan bazar makanan dan minuman, photobooth, serta karya kreatif dan inovatif mahasiswa. Kegiatan ini menjadi sarana praktik kewirausahaan mahasiswa sekaligus media pembelajaran berbasis OBE.

Pada sesi siang hingga sore hari, acara dilanjutkan dengan penayangan iklan bertema Etika Bisnis, Podcast Career Path, serta presentasi sponsor dari PLN, Pegadaian, dan Grab yang memberikan wawasan seputar dunia kerja, industri, dan penerapan etika bisnis. Rangkaian hiburan dan jamming session menutup kegiatan harian Management Expo 2025 dengan penuh antusiasme.
Melalui pelaksanaan Management Expo 2025, Program Studi Manajemen Universitas Malahayati berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana pembelajaran komprehensif berbasis Outcome-Based Education, sekaligus memperkuat sinergi antara mahasiswa, akademisi, alumni, mitra industri, dan masyarakat dalam membangun ekonomi kolaboratif.
Management Expo 2025 menjadi cerminan keseriusan Program Studi Manajemen Universitas Malahayati dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pada praktik nyata dan kebutuhan dunia kerja. Kegiatan ini dinilai efektif dalam membentuk karakter mahasiswa yang mandiri, kreatif, serta mampu berkolaborasi, sehingga selaras dengan semangat Outcome-Based Education dalam mencetak lulusan yang adaptif dan berdaya saing.(fkr)
Editor: Fadly KR
RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro Terima 52 Mahasiswa Profesi Ners UNMAL
KOTAMETRO (malahayati.ac.id): Program Studi Profesi Ners Universitas Malahayati (UNMAL) secara resmi melaksanakan kegiatan penyerahan mahasiswa Profesi Ners kepada RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro sebagai wahana pelaksanaan praktik klinik profesi keperawatan. Sebanyak 52 mahasiswa Profesi Ners mengikuti kegiatan praktik klinik pada tiga stase keperawatan, meliputi Stase Keperawatan Medikal Bedah (KMB), Stase Keperawatan Gawat Darurat (KGD), dan Stase Manajemen Keperawatan.
Pelaksanaan praktik klinik profesi ini dijadwalkan berlangsung selama dua bulan, terhitung mulai 15 Desember 2025 hingga 15 Februari 2026. Penyerahan mahasiswa dilakukan secara resmi sebagai wujud sinergi dan komitmen kerja sama antara institusi pendidikan dan rumah sakit dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan profesi keperawatan.
Penyerahan mahasiswa Profesi Ners Universitas Malahayati dilakukan oleh Ketua Program Studi Profesi Ners, Aryanti Wardiyah, Ns., M.Kep., Sp.Kep.Mat. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa praktik klinik profesi merupakan tahapan penting dalam proses pembentukan kompetensi perawat profesional, khususnya dalam penguatan keterampilan klinis, manajemen pelayanan keperawatan, serta penanaman sikap profesional dan etika keperawatan.
Ia berharap mahasiswa Profesi Ners Universitas Malahayati dapat memanfaatkan kesempatan praktik klinik ini dengan sebaik-baiknya, menjunjung tinggi etika profesi, menjaga nama baik institusi, serta mampu beradaptasi dengan budaya kerja dan sistem pelayanan di RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro.
Lebih lanjut disampaikan bahwa pembelajaran berbasis praktik di lahan klinik menjadi sarana strategis dalam mengintegrasikan teori dan praktik, sekaligus sebagai bekal mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja sebagai perawat profesional.
Sementara itu, dari pihak RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro, penerimaan mahasiswa Profesi Ners diwakili oleh dr. Meli, Sp.KKLP. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Universitas Malahayati yang telah menjadikan RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro sebagai wahana pendidikan klinik profesi keperawatan.
Pihak rumah sakit menyatakan kesiapan untuk mendukung proses pembelajaran klinik serta berharap mahasiswa dapat berperan aktif, disiplin, dan mampu bekerja sama dengan seluruh tim kesehatan selama menjalani praktik.
Melalui pelaksanaan praktik klinik profesi ini, diharapkan terjalin kolaborasi yang berkelanjutan antara dunia pendidikan dan pelayanan kesehatan dalam mencetak perawat profesional yang kompeten, beretika, dan berdaya saing sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan pelayanan kesehatan.
Pelaksanaan praktik klinik Profesi Ners di RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro menunjukkan komitmen Universitas Malahayati dalam menghadirkan pendidikan keperawatan yang berorientasi pada mutu dan kebutuhan layanan kesehatan. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis dan sikap profesional sebagai fondasi dalam mencetak perawat yang siap terjun ke dunia kerja.(fkr)
Editor : Fadly KR
KETIKA KEKURANGAN TIDAK MEMBUNGKAM KEBAIKAN
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Senja itu sinar matahari tidak begitu panas lagi, bahkan cenderung meredup karena terhadang arak-arakan awan hitam yang ingin mencari teman bergumpal untuk turun sebagai hujan. Di satu ruang kampus Pascsarjana tampak ruang Profesor senior kedatangan mahasiswa yang ingin mengajak berdiskusi tentang topik penelitiannya; Profesor membuka pembicaraan; “Wajahmu tampak lelah, tetapi matamu justru menyala,” kata Profesor itu sambil menggeser liptopnya agar tidak mengganggu pemandangannya.
Mahasiswa pascasarjana itu menjawab sambil tersenyum tipis. “Mungkin karena kurang tidur, Prof. Saya bekerja malam, lalu pagi membaca.” Profesor menatapnya sejenak. “Mengapa kau memaksakan diri? Banyak yang berhenti ketika hidup terasa terlalu berat.”
“Saya tidak merasa memaksakan diri Prof,” jawab mahasiswa itu pelan. “Belajar justru membuat hidup terasa masuk akal.” Profesor mengangguk, lalu bertanya lagi, “Aku dengar kau masih menyisihkan uang untuk bersedekah. Bukankah hidupmu sendiri pas-pasan?”, Mahasiswa itu terdiam sejenak, kemudian menukas. “ahhh…professor tahu saja gerakan mahasiswanya; alasan saya Prof, karena saya tahu rasanya kekurangan, Prof. Saya tidak ingin menutup mata tentang hal itu.”
Profesor tersenyum samar. “Kau tahu, dunia akademik sering mengajarkan berpikir kritis, tetapi lupa mengajarkan kepedulian.”. “Saya pikir,” tukas mahasiswa itu, “kepedulian membuat pengetahuan tidak kosong.” Profesor berdiri, berjalan menuju ruang pembuat kopinya sambil berkata. “Mungkin itulah pelajaran paling penting yang jarang tertulis di silabus.”
Mahasiswa itu menunduk hormat. “Jika suatu hari saya berhasil, saya ingin tetap mengingat hari-hari ini.” Profesor berbalik. “Jangan hanya mengingatnya,” katanya pelan. “Jadikan ia dasar cara berpikirmu tentang manusia.”
Dialog itu pun terhenti, meninggalkan ruang sunyi yang penuh makna, seolah menjadi pintu masuk bagi sebuah perenungan yang lebih dalam. Ternyata di sudut-sudut kampus pascasarjana, ada sosok yang jarang disorot oleh statistik pembangunan atau narasi sukses akademik. Ia hidup paspasan secara ekonomi, menghitung biaya hidup dari bulan ke bulan, menimbang antara membeli buku atau menunda kebutuhan lain. Namun, di balik keterbatasan material itu, ia menyimpan dua hal yang tampak bertentangan dengan logika ekonomi modern: semangat belajar yang menyala dan kemauan untuk tetap berbagi melalui sedekah. Fenomena ini, jika dibaca dari kacamata filsafat kontemporer, membuka ruang refleksi tentang makna manusia, etika, dan harapan di tengah dunia yang sering mengukur nilai hidup dari kepemilikan.
Filsafat kontemporer melihat manusia bukan semata makhluk rasional yang selalu bertindak berdasarkan kepentingan utilitarian. Manusia adalah makhluk relasional, yang identitasnya dibentuk oleh keterhubungan dengan sesama. Mahasiswa pascasarjana yang hidup paspasan tetapi tetap bersedekah menunjukkan bahwa tindakan etis tidak selalu lahir dari kelimpahan, melainkan dari kesadaran akan penderitaan bersama. Dalam konteks ini, sedekah bukanlah sisa dari kelebihan, melainkan keputusan sadar untuk tidak menutup diri dari wajah orang lain yang membutuhkan. Ia memilih untuk tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk menarik diri dari tanggung jawab moral.
Semangat belajar yang tinggi di tengah keterbatasan ekonomi juga menantang pandangan kontemporer tentang pendidikan sebagai investasi semata. Dalam logika pasar, pendidikan sering direduksi menjadi alat mobilitas sosial dan peningkatan pendapatan. Namun bagi mahasiswa ini, belajar adalah bentuk perlawanan halus terhadap nasib yang membatasi. Ia belajar bukan hanya untuk “menjadi”, tetapi untuk “bertahan” dan “bermakna”. Pengetahuan menjadi ruang kebebasan, tempat ia bisa melampaui kondisi materialnya tanpa harus menyangkal kenyataan hidup yang keras. Di sini, belajar adalah tindakan eksistensial: cara menegaskan bahwa hidupnya lebih dari sekadar angka saldo.
Tindakan berbagi dalam kondisi paspasan juga mengandung kritik implisit terhadap etika individualisme yang dominan dalam masyarakat kontemporer, bahkan di perguruan tinggi. Ketika keberhasilan sering didefinisikan sebagai kemampuan mengamankan diri sendiri, mahasiswa ini justru memilih keterbukaan terhadap yang lain. Sedekahnya mungkin kecil secara nominal, tetapi besar secara simbolik. Ia menegaskan bahwa nilai moral tidak ditentukan oleh skala, melainkan oleh niat dan situasi. Memberi dari kekurangan memiliki bobot etis yang berbeda dari memberi dari kelimpahan, karena di sana ada risiko, pengorbanan, dan kejujuran terhadap kondisi diri.
Dari sudut pandang filsafat kehidupan sehari-hari, sikap ini menunjukkan etika yang berakar pada empati konkret, bukan pada aturan abstrak. Mahasiswa tersebut tidak menunggu stabil secara ekonomi untuk bertindak baik. Ia tidak menunda moralitas sampai keadaan ideal tercapai. Justru dalam ketidakidealan itulah etika diuji. Pilihannya untuk tetap berbagi menunjukkan bahwa moralitas tidak bersifat kondisional. Kebaikan tidak menunggu kemapanan; ia hadir sebagai keputusan di sini dan sekarang, dalam situasi yang serba terbatas.
Lebih jauh, fenomena ini mengungkap dimensi harapan yang khas dalam pemikiran kontemporer. Harapan bukan sekadar optimisme kosong, melainkan daya hidup yang memungkinkan seseorang bertindak melampaui determinasi struktural. Mahasiswa pascasarjana ini berharap bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk dunia yang lebih manusiawi. Dengan belajar sungguh-sungguh, ia berharap pada masa depan yang lebih adil. Dengan bersedekah, ia merawat harapan orang lain agar tidak sepenuhnya runtuh. Harapan, dalam pengertian ini, bersifat praksis: ia diwujudkan melalui tindakan kecil yang konsisten.
Dalam dunia yang sering sinis terhadap idealisme, sosok ini tampak seperti anomali. Namun justru anomali inilah yang mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak sepenuhnya tunduk pada logika efisiensi dan keuntungan. Ia menunjukkan bahwa di tengah tekanan struktural, manusia masih memiliki ruang kebebasan untuk memilih sikap. Kebebasan itu mungkin sempit, tetapi cukup untuk menentukan apakah hidup akan dijalani dengan kepedulian atau dengan penutupan diri.
Akhirnya, mahasiswa pascasarjana yang hidup paspasan, bersemangat belajar, dan tetap bersedekah adalah cermin bagi masyarakat kontemporer. Ia memperlihatkan bahwa etika tidak selalu lahir dari kemapanan, dan bahwa pengetahuan serta kebaikan dapat tumbuh di tanah yang gersang. Dalam dirinya, kekurangan tidak menjelma menjadi kepahitan, melainkan menjadi sumber kepekaan. Ia mengajarkan bahwa memberi bukan soal seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa dalam seseorang mengakui keberadaan orang lain sebagai sesama manusia. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Pedel Dan Perjalanannya
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Akhir pekan lalu perguruan tinggi tempat penulis bertugas menyelenggarakan perhelatan akademik; namun karena sesuatu dan lain hal; saat acara dilaksanakan tidak disertai Tongkat Pedel, sebagai media pemandu acara; karena alat itu sedang diperbaiki. Salah seorang petinggi yang kebetulan juga anggota senat bertanya apakah fungsi Pedel itu sebenarnya. Dan, saat itu dijawab oleh teman sejawat yang meninggalkan ekor kalimat “tanyakan pada profesor sebelah kita ini”; akhirnya jadilah jawaban akademik popular sebagai berikut:
Berdasarkan penelusuran sejumlah sumber ilmiah ditemukan informasi bahwa Pedel merupakan salah satu unsur penting dalam tradisi akademik perguruan tinggi yang keberadaannya berkaitan erat dengan sejarah lahirnya universitas, sebagai institusi pendidikan formal. Walaupun dalam praktik kontemporer peran pedel lebih sering dikaitkan dengan kegiatan seremonial, jabatan ini memiliki akar historis yang panjang serta makna simbolik yang kuat dalam perkembangan pendidikan tinggi, khususnya dalam tradisi universitas Barat. Untuk memahami kedudukan pedel secara utuh, penting pula menempatkannya dalam perbandingan dengan tradisi perguruan tinggi Islam klasik yang berkembang lebih awal, namun memiliki struktur kelembagaan yang berbeda.
Secara historis, pedel mulai dikenal seiring dengan munculnya universitas-universitas awal di Eropa Barat pada abad ke-12 dan ke-13. Universitas Bologna di Italia, yang berkembang sekitar akhir abad ke-11 dan sering disebut sebagai universitas tertua di dunia dalam pengertian Barat, merupakan salah satu institusi pertama yang memiliki pejabat universitas dengan fungsi yang sepadan dengan pedel. Dalam konteks Bologna yang berorientasi pada studi hukum, universitas terbentuk sebagai korporasi akademik yang memerlukan petugas resmi untuk menyampaikan perintah, mengatur pertemuan akademik, serta menjaga ketertiban kegiatan ilmiah. Pada fase ini, pedel berfungsi sebagai perpanjangan tangan otoritas universitas dan memainkan peran administratif yang penting.
Praktik serupa juga ditemukan di Universitas Paris yang berkembang pada abad ke-12 sebagai pusat studi teologi dan filsafat. Dalam universitas yang berada di bawah pengaruh kuat Gereja Katolik ini, pedel bertugas membantu pelaksanaan sidang akademik, menyampaikan pengumuman resmi, serta mengatur prosesi akademik. Keberadaan pedel di Universitas Paris menunjukkan bahwa jabatan ini telah menjadi bagian dari praktik umum universitas-universitas Eropa pada masa abad pertengahan. Dari Prancis, tradisi pedel kemudian menyebar ke Inggris, khususnya di Universitas Oxford dan Cambridge pada akhir abad ke-12 dan awal abad ke-13, di mana pedel dikenal dengan istilah bedel atau beadle dan memiliki kewenangan administratif serta disipliner yang cukup luas.
Pada masa abad pertengahan hingga awal zaman modern, pedel merupakan pejabat universitas yang memiliki kedudukan signifikan. Ia bertugas memanggil dosen dan mahasiswa untuk menghadiri perkuliahan, ujian, dan sidang akademik, menjaga ketertiban dalam lingkungan universitas, serta mewakili otoritas institusi dalam berbagai kegiatan resmi. Untuk menegaskan kewenangannya, pedel biasanya membawa tongkat atau gada kehormatan sebagai simbol legitimasi institusional. Keberadaan simbol ini mencerminkan universitas sebagai korporasi hukum yang memiliki otonomi dan tata kelola internal tersendiri.
Seiring berkembangnya negara-bangsa modern dan sistem administrasi pendidikan tinggi yang semakin kompleks pada abad ke-18 dan ke-19, fungsi pedel mengalami perubahan. Tugas-tugas administratif dan pengawasan harian dialihkan kepada birokrasi universitas yang lebih formal, sementara peran pedel secara bertahap dipersempit dan difokuskan pada fungsi protokoler serta seremonial. Pada tahap ini, pedel menjadi bagian penting dalam pelaksanaan upacara akademik resmi seperti wisuda, pelantikan pimpinan universitas, dan sidang senat terbuka. Perubahan tersebut menandai transformasi pedel dari pejabat fungsional menjadi simbol tradisi dan kewibawaan akademik.
Tradisi Pedel kemudian menyebar ke berbagai wilayah di luar Eropa melalui kolonialisme dan adopsi sistem pendidikan tinggi Barat.
Di Indonesia, keberadaan pedel diperkenalkan melalui sistem pendidikan tinggi kolonial Belanda pada awal abad ke-20, terutama di lembaga-lembaga seperti Rechtshogeschool te Batavia dan Geneeskundige Hogeschool. Setelah kemerdekaan, tradisi ini tetap dipertahankan dan diadaptasi oleh perguruan tinggi nasional sebagai bagian dari identitas akademik dan simbol kesinambungan sejarah pendidikan tinggi.
Namun demikian, ketika pembahasan pedel diperluas ke dalam konteks perguruan tinggi Islam tertua di dunia, seperti Universitas al-Qarawiyyin di Fez (859 M) dan Universitas al-Azhar di Kairo (970 M), ditemukan perbedaan mendasar.
Dalam tradisi pendidikan Islam klasik, tidak dikenal jabatan formal yang setara dengan pedel, baik dari segi istilah maupun fungsi seremonial. Hal ini disebabkan oleh perbedaan struktur kelembagaan pendidikan Islam yang tidak berkembang dalam bentuk universitas korporatif sebagaimana di Eropa, melainkan berbasis pada masjid, madrasah, dan halaqah keilmuan.
Perguruan tinggi Islam klasik tidak mengenal struktur seperti rektorat, senat akademik, atau prosesi wisuda formal. Hubungan antara guru dan murid bersifat langsung dan berlandaskan otoritas keilmuan individual seorang ulama. Oleh karena itu, simbol-simbol hierarki akademik yang bersifat visual dan seremonial tidak berkembang. Meskipun demikian, fungsi-fungsi substantif yang mirip dengan pedel tetap dijalankan oleh jabatan lain, seperti ḥājib yang mengatur akses dan ketertiban, khādim yang membantu penyelenggaraan kegiatan di masjid atau madrasah, serta nāẓir yang mengelola aspek administratif dan wakaf pendidikan.
Fungsi-fungsi ini bersifat praktis dan religius, bukan simbolik.
Perbedaan antara tradisi Barat dan Islam dalam hal ini mencerminkan dua model besar pendidikan tinggi dunia yang berkembang secara paralel. Tradisi Barat menekankan universitas sebagai institusi hukum dengan struktur administratif dan simbol kewenangan yang kuat, sementara tradisi Islam menekankan transmisi ilmu, kesederhanaan, dan egalitarianisme keilmuan. Ketika dunia Islam memasuki era modern dan mengadopsi sistem pendidikan tinggi Barat, beberapa institusi Islam modern mulai mengintegrasikan unsur-unsur seremonial akademik, termasuk keberadaan petugas protokoler yang fungsinya mendekati pedel, meskipun bukan berasal dari tradisi Islam klasik itu sendiri.
Dengan demikian, pedel merupakan produk khas dari perkembangan universitas Barat abad pertengahan yang kemudian diwariskan hingga perguruan tinggi modern di berbagai belahan dunia. Pedel tidak hanya berfungsi sebagai petugas upacara, tetapi juga sebagai simbol kewibawaan, keteraturan, dan kesinambungan sejarah akademik.
Ketidakhadirannya dalam perguruan tinggi Islam tertua tidak menunjukkan kekurangan, melainkan perbedaan paradigma kelembagaan dan budaya pendidikan. Pemahaman terhadap pedel, oleh karena itu, memberikan wawasan yang lebih luas mengenai keragaman tradisi pendidikan tinggi dunia serta cara institusi akademik membangun identitas dan legitimasi historisnya.
Perkembangan terakhir, banyak perguruan tinggi yang mengadopsi keduanya secara harmoni, dengan cara pembukaan acara dibuka dengan melantunkan ayat suci Alquran, sedangkan pelaksanaan upacara dipandu oleh Pedel. Hal seperti ini dilakukan oleh salah satu perguruan tinggi negeri terbesar di Jawa Barat, dan juga dilakukan oleh universitas dimana penulis sekarang bernaung. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Program Studi Manajemen UNMAL Gelar Management Expo 2025 sebagai Wujud Pembelajaran Berbasis OBE
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Universitas Malahayati (UNMAL) kembali menyelenggarakan agenda tahunan yang dinanti, yakni Management Expo 2025. Kegiatan ini dilaksanakan selama lima hari, mulai 15 hingga 19 Desember 2025, bertempat di lingkungan Universitas Malahayati.
Management Expo 2025 merupakan implementasi nyata Outcome-Based Education (OBE) dalam mendukung pencapaian kompetensi lulusan melalui pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoretis, tetapi juga pengalaman langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan berskala besar.
Pembukaan kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB, diawali dengan persiapan panitia dan penayangan trailer bertema Leadership, Perilaku Organisasi, dan Etika Bisnis. Tayangan tersebut merepresentasikan integrasi antara materi akademik dan praktik nyata yang menjadi karakter utama Management Expo 2025.
Acara pembukaan dipandu oleh MC Nadya Ayu Pratiwi dan Muhammad Azzam Hilmitsani, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ahmad Alinamas, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Malahayati yang diikuti oleh seluruh hadirin.
Sebagai bentuk penghormatan kepada tamu undangan, acara dimeriahkan dengan Persembahan Tari Sigeh Pengunten, tarian adat Lampung yang melambangkan penyambutan dan rasa hormat, yang dibawakan oleh mahasiswa Program Studi Manajemen.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., didampingi Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., serta Kepala Humas Universitas Malahayati Emil Tanhar, S.E.
Selain jajaran pimpinan universitas, pembukaan Management Expo 2025 turut dihadiri oleh berbagai mitra industri dan sponsor, antara lain PLN Nusantara Power, Pegadaian, Grab, Bank Mandiri, Wings Food, Siti Aminah Scaves, Yakult, Oppo, Kitty Hijab, Bukit Asam, BNI, Barenbliss, dan HB Beauty. Kehadiran para mitra ini menjadi wujud sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha dalam mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa. Hadir pula tamu undangan eksternal, perwakilan instansi mitra, alumni, serta sivitas akademika Universitas Malahayati.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Universitas Malahayati Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, dan mitra industri dalam menciptakan lulusan yang unggul, adaptif, dan berintegritas. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para sponsor, tamu undangan, serta seluruh panitia atas terselenggaranya Management Expo 2025.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kaprodi Manajemen Dr. Febrianty, S.E., M.Si., yang menegaskan bahwa Management Expo 2025 merupakan bentuk implementasi kurikulum Outcome-Based Education (OBE), di mana mahasiswa berperan aktif sebagai perencana, pelaksana, dan evaluator kegiatan. Hal ini diharapkan mampu mengasah kompetensi akademik maupun nonakademik mahasiswa secara seimbang.
Selanjutnya, Ketua Pelaksana Management Expo 2025, Amril Samosir, S.Kom., M.T.I., menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai wadah penguatan soft skills mahasiswa, meliputi kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim, serta etika profesional, yang sejalan dengan capaian pembelajaran berbasis OBE.
Usai peresmian, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama jajaran pimpinan universitas, tamu undangan, sponsor, dosen, dan panitia. Rangkaian acara harian diisi dengan berbagai penampilan mahasiswa, seperti atraksi bela diri, pertunjukan vokal, serta seni musik, yang menunjukkan kreativitas dan potensi mahasiswa Program Studi Manajemen.
Pengunjung juga diajak mengikuti Expo Tour dengan mengunjungi berbagai stan yang menampilkan bazar makanan dan minuman, photobooth, serta karya kreatif dan inovatif mahasiswa. Kegiatan ini menjadi sarana praktik kewirausahaan mahasiswa sekaligus media pembelajaran berbasis OBE.
Pada sesi siang hingga sore hari, acara dilanjutkan dengan penayangan iklan bertema Etika Bisnis, Podcast Career Path, serta presentasi sponsor dari PLN, Pegadaian, dan Grab yang memberikan wawasan seputar dunia kerja, industri, dan penerapan etika bisnis. Rangkaian hiburan dan jamming session menutup kegiatan harian Management Expo 2025 dengan penuh antusiasme.
Melalui pelaksanaan Management Expo 2025, Program Studi Manajemen Universitas Malahayati berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana pembelajaran komprehensif berbasis Outcome-Based Education, sekaligus memperkuat sinergi antara mahasiswa, akademisi, alumni, mitra industri, dan masyarakat dalam membangun ekonomi kolaboratif.
Management Expo 2025 menjadi cerminan keseriusan Program Studi Manajemen Universitas Malahayati dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pada praktik nyata dan kebutuhan dunia kerja. Kegiatan ini dinilai efektif dalam membentuk karakter mahasiswa yang mandiri, kreatif, serta mampu berkolaborasi, sehingga selaras dengan semangat Outcome-Based Education dalam mencetak lulusan yang adaptif dan berdaya saing.(fkr)
Editor: Fadly KR
UNMAL Resmi Tandatangani PKS dengan Dinkes Kota Bandar Lampung
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Pada Selasa, 9 Desember 2025, pukul 12.30 WIB, bertempat di Ruang Rapat Lantai 5 Universitas Malahayati, Universitas Malahayati (UNMAL) secara resmi melaksanakan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung (Dinkes Kota Bandar Lampung) terkait pemanfaatan sumber daya dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, S.T., M.Si.
Penandatanganan kerja sama tersebut melibatkan tiga fakultas di lingkungan Universitas Malahayati, yakni Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Fakultas Kedokteran (FK), dan Fakultas Teknik (FT). Hadir dalam kegiatan ini jajaran pimpinan Universitas Malahayati, antara lain Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermansyah, S.Kep., Ns., M.Kes., Wakil Rektor II Drs. Nirwanto, M.Kes., Wakil Rektor III Dr. Eng. Rina Febrina, S.T., M.T., Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., serta Kepala Humas Universitas Malahayati, Emil Tanhar, S.E.
Dalam sambutan pertamanya, Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermansyah, S.Kep., Ns., M.Kes., menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Malahayati dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan melalui sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa keterlibatan lintas fakultas menjadi kekuatan utama UNMAL dalam memberikan kontribusi nyata, baik melalui pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Lebih lanjut, Prof. Dessy Hermansyah menyampaikan harapannya agar kerja sama ini dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam penguatan pelayanan kesehatan di Kota Bandar Lampung.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, S.T., M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Universitas Malahayati atas terjalinnya kerja sama strategis ini. Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan langkah penting dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan, terutama dalam pemanfaatan sumber daya manusia dan pengembangan inovasi di bidang kesehatan.
Muhtadi A. Temenggung juga berharap agar kerja sama ini dapat mendukung program-program kesehatan yang sedang dan akan dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, serta memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan kepada masyarakat.
Turut hadir pula para dekan yang menandatangani perjanjian kerja sama, yaitu Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati Dr. Lolita Sary, M.Kes., Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes. , dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Malahayati Dr. Weka Indra Dharmawan, S.T., M.T. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh jajaran Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, di antaranya Nensiria Tarigan, S.Si., Apt., M.Kes. selaku Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK), Anik Listiyorini, S.KM., M.M. selaku Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes), serta drg. Susi, Kepala Puskesmas Rajabasa Indah.
Kerja sama antara UNMAL dan Dinkes Kota Bandar Lampung ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, baik dari sisi tenaga ahli, fasilitas, maupun pengembangan program pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sinergi lintas fakultas tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Kota Bandar Lampung.
Melalui penandatanganan PKS ini, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam mendukung pembangunan sektor kesehatan daerah serta memperkuat kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah demi kesejahteraan masyarakat. (fkr)
Editor: Fadly KR
Mahasiswa Teknik Sipil UNMAL Raih Juara 3 dan Gelar Putera Integritas Lampung 2025
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id) — Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Malahayati (UNMAL), Adi Candra (23110002), berhasil menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Pemilihan Putera–Puteri Grand Culture Lampung 2025 dan Putera–Puteri Lampung 2025 tingkat provinsi.
Ajang bergengsi tersebut diselenggarakan oleh ainay.id bekerja sama dengan Yayasan Putra–Putri Lampung, dengan rangkaian kegiatan yang berlangsung di Hotel Azana dan Hotel Horison, pada 27 April 2025 hingga 6 Desember 2025.
Dalam kompetisi tersebut, Adi Candra berhasil meraih Juara 3 sekaligus memperoleh Gelar Putera Integritas Lampung. Prestasi ini menjadi bukti komitmen dan dedikasi mahasiswa Universitas Malahayati dalam mengembangkan potensi diri, tidak hanya di bidang akademik tetapi juga pada bidang pengembangan karakter, budaya, dan kepemimpinan.
Ajang Pemilihan Putera–Puteri Lampung dan Grand Culture Lampung merupakan kompetisi tingkat provinsi yang menitikberatkan pada wawasan kebudayaan, kepribadian, kepemimpinan, serta nilai-nilai integritas generasi muda Lampung. Para peserta dituntut untuk mampu menjadi duta yang membawa nilai positif bagi masyarakat.
Melalui prestasi yang diraihnya, Adi Candra menyampaikan pesan dan harapannya kepada generasi muda, khususnya mahasiswa. Ia mengajak mahasiswa untuk berani melangkah lebih jauh dan mencoba hal-hal baru sebagai bagian dari proses pembentukan karakter diri.
“Melangkahlah lebih jauh untuk mendapatkan hal yang baru, karena dengan mencoba hal yang baru kita dapat membentuk karakter diri yang baik dan menjadi pribadi yang mandiri. Saya, Adi Candra dari Program Studi Teknik Sipil, mengajak seluruh mahasiswa dan mahasiswi untuk menghayati visi dan misi mahasiswa serta aktif mengikuti berbagai ajang prestasi,” ujarnya.
Universitas Malahayati mengapresiasi capaian tersebut dan berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri, berprestasi di berbagai bidang, serta membawa nama baik universitas di tingkat regional maupun nasional.
Capaian yang diraih Adi Candra menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Malahayati memiliki potensi besar untuk berprestasi di berbagai bidang, termasuk pengembangan karakter, kepemimpinan, dan pelestarian budaya. Prestasi ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa lainnya untuk lebih percaya diri dalam mengembangkan minat dan bakat, serta aktif mengikuti berbagai ajang kompetisi sebagai bagian dari upaya membentuk pribadi unggul dan berdaya saing. (fkr)
Editor : Fadly KR
UNMAL Bersama PERSADIA Lampung Gelar Peringatan Hari Diabetes Sedunia 2025
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id) — Universitas Malahayati (UNMAL) bersama Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Provinsi Lampung menyelenggarakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia 2025 dengan mengusung tema “Diabetes and Well-Being”, Sabtu–Minggu (6–7 Desember 2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan dan pengendalian diabetes, sekaligus mendorong peningkatan kualitas hidup serta kesejahteraan penyandang diabetes di Provinsi Lampung.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan sesi ilmiah yang menghadirkan empat pembicara nasional dan internasional di bidang diabetes dan kesehatan. Salah satu pembicara internasional, Prof. Cheng Chin Kuo dari Institute of Cellular and System Medicine, National Health Research Institutes (NHRI), Taiwan, memaparkan perkembangan riset terkini terkait diabetes serta implikasinya terhadap kesejahteraan pasien.
Selanjutnya, Dwi Marlina Syukri, PhD, dosen UNMAL, menyampaikan materi mengenai peran riset dan inovasi, khususnya pengembangan biogenic silver nanoparticle, dalam mendukung penanganan luka dan pencegahan komplikasi diabetes. Perspektif diagnostik dan laboratorium klinik disampaikan oleh dr. Muhamad Nur, SpPK., MSc, selaku Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik (PDS Patklin) Lampung, sementara pendekatan klinis komprehensif diabetes dipaparkan oleh dr. Ira Laurentika, Sp.PD KEMD dari RS Hermina Lampung.
Kegiatan ini juga mendapat perhatian dengan kehadiran Ibu Gubernur Lampung, yang secara langsung membuka acara serta menyampaikan apresiasi kepada PERSADIA Lampung dan UNMAL atas inisiatif dan kontribusinya dalam mendukung upaya pengendalian diabetes di Provinsi Lampung. Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan dukungan terhadap penguatan kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam menekan angka komplikasi diabetes.
Sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat, rangkaian kegiatan turut diisi dengan khitanan massal serta layanan perawatan luka pada pasien diabetes, termasuk perawatan luka menggunakan produk hasil penelitian biogenic silver nanoparticle karya Dwi Marlina Syukri, PhD. Layanan ini diharapkan dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka, mencegah infeksi, serta menurunkan risiko komplikasi lanjutan.
Rangkaian peringatan Hari Diabetes Sedunia 2025 ditutup dengan Senam Diabetes Bersama sebagai upaya promotif dan preventif dalam mendorong penerapan gaya hidup aktif dan sehat. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 600 peserta yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Lampung.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, UNMAL berharap peringatan Hari Diabetes Sedunia 2025 dapat menjadi sarana edukasi, pelayanan kesehatan, serta penguatan sinergi lintas sektor dalam mendukung pengendalian diabetes dan peningkatan well-being masyarakat Lampung.
Hari Diabetes Sedunia 2025 yang digelar UNMAL bersama PERSADIA Lampung ini mencerminkan peran strategis perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan riset, tetapi juga sebagai motor penggerak edukasi kesehatan dan pelayanan nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan serta pengendalian diabetes secara berkelanjutan di Provinsi Lampung. (fkr)
Editor : Fadly KR
Peringati Hari Toilet Sedunia 2025, Mahasiswa UNMAL Bangun Jamban Sehat di Kelurahan Pesawahan
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id) — Dalam rangka memperingati Hari Toilet Sedunia 2025, mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat semester VII Universitas Malahayati (UNMAL) melaksanakan pembangunan jamban sehat dan tangki septik di fasilitas umum Perpustakaan Ceria Pesawahan, Kelurahan Pesawahan, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung, pada 17–28 November 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Teknologi Kesehatan Lingkungan yang bertujuan mendorong mahasiswa menerapkan teknologi tepat guna di masyarakat. Pelaksanaannya dilakukan melalui kolaborasi antara Universitas Malahayati, YSC Indonesia Foundation, serta Pemerintah Kelurahan Pesawahan..
Ketua Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, Nova Muhani, SST., MKM menegaskan bahwa perguruan tinggi harus hadir secara strategis dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui kegiatan yang berkelanjutan. “Kampus perlu terus berinovasi dan berkontribusi secara berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya bersifat sementara, tetapi memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” jelasnya.
Dosen pengampu mata kuliah Teknologi Kesehatan Lingkungan, Iffah Rachmi, menyampaikan bahwa sanitasi aman, khususnya toilet dan tangki septik, merupakan teknologi sederhana namun krusial dalam mencegah pencemaran lingkungan akibat kontaminasi tinja manusia. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan teknologi tepat guna untuk mendukung kesehatan lingkungan, salah satunya melalui pembangunan tangki septik dengan sistem cetakan serta penggunaan toilet hemat air,” ujarnya.
Apresiasi turut disampaikan oleh Musa Saleh, Lurah Pesawahan. Ia menyampaikan terima kasih atas kontribusi Universitas Malahayati dalam mendukung peningkatan sanitasi di wilayahnya. “Ini merupakan proses belajar bersama antara masyarakat dan mahasiswa. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi warga,” ujarnya.
Koordinator kegiatan mahasiswa, Ari Pratama, menjelaskan bahwa kegiatan pembangunan jamban sehat ini berlangsung pada 17–28 November 2025. Mahasiswa terlibat aktif sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan teknis pembangunan. YSC Indonesia Foundation turut memfasilitasi mahasiswa dalam penyusunan desain teknis.
“Jamban yang dibangun menggunakan toilet hemat air jenis SATO, yang mampu menghemat penggunaan air hingga 80 persen dibandingkan toilet konvensional. Hal ini disesuaikan dengan kondisi wilayah pesisir yang kerap mengalami keterbatasan air,” jelas Ari. Selain itu, tangki septik dibangun dalam kondisi kedap, dilengkapi dengan sumur resapan, serta menggunakan cetakan tangki septik dari puskesmas setempat untuk mencegah pencemaran tanah dan sumber air.
Perwakilan YSC Indonesia Foundation, Cindy Dwi Islami, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi positif dalam meningkatkan akses sanitasi di fasilitas umum. YSC Indonesia juga memberikan edukasi terkait perawatan tangki septik dan toilet sehat agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Peringatan Hari Toilet Sedunia yang diperingati setiap 19 November bertujuan meningkatkan kesadaran global akan pentingnya akses sanitasi yang layak dan aman. Melalui kegiatan ini, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya peningkatan kesehatan lingkungan sekaligus mengimplementasikan peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat.
Dengan hadirnya jamban sehat dan tangki septik kedap di lingkungan Perpustakaan Ceria Pesawahan, masyarakat kini memiliki akses sanitasi yang lebih layak. Kolaborasi antara mahasiswa, mitra, dan pemerintah kelurahan ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih, dan berkelanjutan.
Kegiatan pembangunan jamban sehat ini menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat melalui aksi nyata. Inisiatif mahasiswa Universitas Malahayati dalam memperingati Hari Toilet Sedunia 2025 menjadi contoh baik bagaimana edukasi, kepedulian sosial, dan kolaborasi lintas sektor dapat berjalan seiring untuk menjawab persoalan kesehatan lingkungan. Jika kegiatan serupa terus dikembangkan secara berkelanjutan, maka kontribusi kampus terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat akan semakin terasa dan berdampak luas. (fkr)
Editor: Fadly KR
UNMAL Gelar Sosialisasi Peminatan Prodi S1 Kesehatan Masyarakat untuk Cetak Lulusan Unggul
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id) — Universitas Malahayati (UNMAL) melalui Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat menggelar kegiatan Sosialisasi Peminatan bagi mahasiswa, Selasa, 9 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya institusi dalam meningkatkan kualitas akademik serta mempersiapkan mahasiswa agar mampu menentukan peminatan secara tepat sesuai minat, potensi, dan kebutuhan dunia kerja.
Ketua Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, Nova Muhani, SST., MKM, menyampaikan bahwa sosialisasi peminatan menjadi langkah strategis dalam membantu mahasiswa merencanakan masa depan akademik dan profesional secara lebih terarah. “Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dapat menentukan pilihan peminatan berdasarkan minat dan potensi yang dimiliki, sehingga ke depan mampu menjadi lulusan yang kompeten dan memiliki daya saing tinggi,” ujarnya.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Universitas Malahayati tersebut dihadiri oleh seluruh dosen Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat dan diikuti oleh 283 mahasiswa semester V yang akan memasuki tahap pemilihan peminatan pada semester VI. Acara dipandu oleh Sekretaris Program Studi, Dina Dwi Nuryani, serta dibuka secara resmi melalui sambutan Ketua Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat.
Dalam kegiatan ini, para dosen koordinator peminatan menyampaikan pemaparan komprehensif mengenai cakupan keilmuan, kompetensi lulusan, serta prospek karier di masing-masing bidang. Adapun peminatan yang disosialisasikan meliputi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK), Epidemiologi, Biostatistika, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Kesehatan Reproduksi, serta Promosi Kesehatan.
Pemaparan materi berlangsung secara interaktif dengan mengulas aspek teoritis sekaligus gambaran praktis terkait kebutuhan tenaga kesehatan masyarakat di berbagai sektor. Antusiasme mahasiswa terlihat pada sesi diskusi terbuka, di mana berbagai pertanyaan diajukan terkait kurikulum, peluang magang, serta arah pengembangan karier sesuai peminatan yang diminati.
Melalui penyelenggaraan kegiatan Sosialisasi Peminatan ini, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya dalam meningkatkan mutu proses pendidikan serta mencetak lulusan kesehatan masyarakat yang unggul, profesional, dan siap menjawab tantangan dunia kerja. (fkr)
Editor: Fadly KR
KORUPSI SEBAGAI GEJALA KRISIS RASIONALITAS
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
“Desember Kelabu” nama sebuah lagu popular pada jamannya, dan untuk segenerasi dengan lagu itu, masih enak telinga mendengarnya. Namun kali ini bukan masalah lagu, akan tetapi masalah dua kepala daerah yang “belagu” di Provinsi ini, karena tersandung masalah hukum dengan tuduhan “korupsi”. Hanya beda lembaga penangannya; yang satu Kejaksaan Tinggi, yang terakhir justru Komisi Pemberantasan Korupsi. Secara substansial keduanya sama, yaitu sama-sama menggunakan kewenangannya untuk menyidik perkara korupsi. Tulisan ini tidak untuk mencampuri wilayah hukum dari keduanya, akan tetapi mencoba melihat dari sisi Filsafat Kontemporer guna menemukenali persoalan tadi secara substansial.
Peristiwa kedua daerah di atas dapat dibaca bukan sekadar sebagai penyimpangan hukum semata, akan tetapi sebagai gejala dari krisis lebih dalam pada struktur rasionalitas publik. Dengan mengambil inspirasi dari pemikiran filsafat kontemporer; mulai dari teori sistem, fenomenologi kekuasaan, hingga kritik budaya, peristiwa ini mengungkap keretakan yang tidak lagi dapat dijelaskan hanya oleh faktor teknis tata kelola, tetapi oleh cara masyarakat, institusi, dan aktor politik memahami serta memproduksi makna kekuasaan itu sendiri.
Dalam perspektif teori sistem, korupsi pada tingkat pemerintahan daerah mencerminkan kegagalan diferensiasi fungsional antara ranah politik, ekonomi, dan hukum. Ketika ketiga ranah ini tidak lagi beroperasi dengan kode masing-masing, seperti politik dengan legitimasi, ekonomi dengan efisiensi, hukum dengan legalitas: maka batas yang seharusnya menjaga ketertiban sosial menjadi kabur. Pada dua kabupaten yang mengalami peristiwa serupa, tampak bagaimana kepentingan ekonomi merembes masuk ke dalam sistem politik daerah tanpa resistensi normatif yang berarti. Politik tidak lagi dilihat sebagai arena pelayanan publik, tetapi sebagai mekanisme akumulasi sumber daya. Dengan demikian, tertangkapnya kepala daerah bukan hanya kecelakaan moral, tetapi konsekuensi logis dari sistem yang kehilangan kemampuan membedakan dirinya dari tekanan eksternal.
Dari sudut pandang filsafat kekuasaan, khususnya pemikiran tentang relasi kuasa dan disiplin, peristiwa ini menunjukkan bahwa praktik korupsi tidak semata-mata hasil pilihan individual. Ia tumbuh dari medan kekuasaan yang memproduksi subjek-subjek politik dengan cara tertentu. Kepala daerah, birokrat, dan bahkan warga terbentuk melalui jaringan wacana yang menjadikan korupsi sesuatu yang dapat dinegosiasikan, dinetralkan, atau bahkan dianggap wajar. Ketika perangkat institusional tidak memproduksi mekanisme disiplin yang konsisten, seperti melalui transparansi, kontrol publik, dan etika birokrasi; maka tubuh politik lokal terstruktur sedemikian rupa sehingga praktik koruptif dapat berlangsung sebagai rutinitas. Dalam konteks ini, peristiwa Lampung menunjukkan bagaimana kekuasaan tidak hanya menindas, tetapi juga memproduksi pola perilaku yang kemudian dianggap normal dalam pemerintahan daerah.
Dari perspektif kritisisme budaya, kasus ini memperlihatkan krisis nilai yang lebih luas: reduksi makna jabatan publik menjadi sekadar komoditas. Dalam budaya politik yang ditandai logika konsumsi dan pertukaran simbolik, jabatan menjadi objek investasi; modal ekonomi ditukar dengan modal politik, lalu modal politik dipakai untuk mengakumulasi kembali modal ekonomi. Siklus timbal balik ini, yang mirip dengan logika kapitalisme lanjut, mendorong pejabat publik untuk melihat kekuasaan bukan sebagai tanggung jawab, tetapi sebagai instrumen reproduksi diri. Dengan demikian, keruntuhan etika publik bukan terjadi secara tiba-tiba, tetapi sebagai efek dari sistem tanda yang memosisikan kekuasaan sebagai kapital simbolik yang harus dimaksimalkan secara sempurna.
Melalui lensa fenomenologi sosial, peristiwa ini dapat dipahami sebagai terganggunya “dunia kehidupan” masyarakat. Dunia kehidupan adalah ruang nilai, norma, dan makna yang menjadi prasyarat komunikasi rasional. Ketika praktik korupsi menggerogoti institusi lokal, dialog sosial yang seharusnya berbasis kepercayaan menjadi runtuh. Masyarakat kehilangan rasa aman normatif, dan hubungan antara warga serta pemerintah menjadi hubungan transaksional semata. Ruang publik tidak lagi menjadi tempat pertukaran argumen, tetapi tempat pertukaran kepentingan. Dua kasus berturut di wilayah yang berdekatan memperlihatkan bagaimana dunia kehidupan ini terdistorsi secara kolektif, bukan hanya individual.
Filsafat politik kontemporer juga melihat korupsi sebagai bentuk “kegagalan imajinasi politik”. Di banyak daerah, imajinasi tentang apa itu pemerintahan; sering kali masih terkungkung oleh bayangan kekuasaan tradisional: kekuasaan sebagai dominasi, bukan sebagai pelayanan; kekuasaan sebagai fasilitas, bukan sebagai amanah. Tanpa imajinasi yang lebih progresif tentang tata kelola bersih, demokrasi lokal mudah jatuh pada repetisi pola lama yang disfungsional. Peristiwa di dua daerah di Lampung ini; menjadi cermin bahwa otonomi daerah membutuhkan bukan hanya struktur administratif, tetapi juga imajinasi moral dan sosial untuk membayangkan bentuk pemerintahan yang lebih emansipatoris.
Jika ditinjau dari etika kontemporer yang menekankan tanggung jawab sebagai relasi, korupsi tidak hanya melanggar aturan formal, tetapi memutus jaringan tanggung jawab timbal balik antara pemerintah, warga, dan masa depan bersama. Korupsi mengorbankan generasi berikutnya, merampas potensi pembangunan, dan menyandera ruang publik untuk kepentingan sesaat. Dua peristiwa yang terjadi beruntun menunjukkan bahwa relasi tanggung jawab ini terpecah di tingkat fundamental.
Dengan demikian, korupsi pada dua kabupaten di Lampung harus dipahami sebagai gejala krisis rasionalitas publik: melemahnya sistem, terdistorsinya dunia kehidupan, kaburnya batas antara ranah sosial, serta runtuhnya imajinasi politik yang memungkinkan kekuasaan dimaknai secara etis. Penindakan hukum penting, tetapi tidak menyembuhkan luka epistemik dan kultural yang lebih dalam. Perlu upaya membangun kembali rasionalitas publik melalui pendidikan etika, konsolidasi ruang dialog, perbaikan struktur kontrol, dan rekonstruksi makna jabatan publik. Tanpa itu, korupsi tetap akan menjadi pola, bukan anomali, dalam dinamika politik daerah. Namun masih ada secercah cahaya harapan di sana, masih banyak orang-orang baik dan bersih di sana; hanya persoalannya bagaimana mekanisme diciptakan agar orang-orang baik dan bersih itu bukan hanya pajangan di “Etalase sosial”; akan tetapi dapat membumi memimpin negeri. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR