Puasa Yang Sesungguhnya

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

(Bandar Lampung) -Senja turun perlahan di halaman Pesantren. Angin menggerakkan daun-daun pohon Mangga, sementara para santri baru saja selesai mengaji. Di serambi masjid, seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiai yang memegang tasbih dengan tenang.
“Yai,” tanya santri itu pelan, “mengapa banyak orang mampu berpuasa menahan lapar dan dahaga, tetapi tetap mudah marah dan saling menyakiti?”
Kiai tersenyum tipis. “Karena menahan lapar itu urusan perut, Nak. Menahan amarah itu urusan hati. Perut yang kosong terasa jelas, tetapi hati yang keruh sering tak disadari.”
Santri itu mengangguk, lalu kembali bertanya, “Apakah itu yang disebut puasa batin, Yai?”

“Benar,” jawab kiai. “Puasa batin bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Ia adalah latihan menjaga lisan agar tidak melukai, menjaga pikiran agar tidak berburuk sangka, dan menjaga niat agar tetap lurus. Orang bisa saja kuat menahan haus, tetapi belum tentu kuat menahan ego.”

Santri terdiam, memandangi lantai kayu yang mulai redup oleh cahaya senja. “Mengapa terasa lebih sulit, Yai?”
“Karena yang dilawan bukan sekadar rasa lapar,” kata kiai lembut, “melainkan diri sendiri. Nafsu ingin dipuji, ingin menang, ingin selalu benar. Itu tidak terlihat, tetapi pengaruhnya besar.”
Adzan magrib berkumandang dari menara. Kiai berdiri perlahan. “Ingatlah, Nak, puasa lahir mengosongkan perut untuk beberapa jam. Puasa batin mengosongkan kesombongan untuk seumur hidup.”

Santri itu menunduk hormat, hatinya terasa lebih penuh daripada sebelumnya.
Hampir setiap orang bisa menahan lapar dan dahaga. Tubuh memiliki kemampuan beradaptasi; perut yang kosong dapat dilatih untuk bersabar, tenggorokan yang kering dapat dikuatkan untuk bertahan hingga waktu berbuka. Puasa lahiriah adalah disiplin yang kasatmata, terukur oleh jam dan ditandai oleh terbit serta terbenamnya matahari. Ia memiliki batas yang jelas: kapan harus berhenti, kapan boleh kembali menikmati. Karena itu, banyak orang sanggup melakukannya. Ia adalah latihan fisik yang, meskipun tidak mudah, tetap berada dalam jangkauan kehendak.

Namun puasa batin tidak sesederhana menahan makan dan minum. Ia tidak diukur oleh waktu, tidak ditandai oleh perubahan cahaya, dan tidak diumumkan oleh suara apa pun. Puasa batin berlangsung di ruang yang sunyi, di wilayah terdalam dari diri manusia; di mana keinginan, amarah, iri hati, kesombongan, dan berbagai dorongan lain saling berkelindan. Jika puasa lahiriah meminta tubuh untuk berhenti sejenak, puasa batin menuntut jiwa untuk jujur dan sadar tanpa henti.

Menahan lapar adalah perkara fisik; menahan ego adalah perkara eksistensial. Lapar memiliki batas biologis, sedangkan ego seolah tidak pernah kenyang. Ia selalu ingin diakui, dipuji, dibenarkan. Ia ingin menjadi pusat perhatian, ingin menang sendiri, ingin diprioritaskan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang bisa saja berpuasa makan dan minum, tetapi tetap memelihara amarah dalam hati, tetap menyebarkan kata-kata yang menyakitkan, tetap memandang rendah sesama. Di sinilah perbedaan antara puasa sebagai ritual dan puasa sebagai kesadaran menjadi begitu nyata.

Puasa batin adalah kemampuan untuk menahan diri dari reaksi yang berlebihan. Ketika dihina, ia memilih diam yang bermartabat. Ketika dipuji, ia memilih rendah hati. Ketika tergoda untuk berbuat curang, ia memilih jujur meskipun tidak ada yang melihat. Puasa batin bukan tentang menahan sesuatu yang masuk ke dalam tubuh, melainkan menahan sesuatu yang keluar dari hati dan pikiran. Ia mengendalikan kata-kata sebelum terucap, menimbang niat sebelum menjadi tindakan, dan membersihkan motivasi sebelum menjelma keputusan.

Mengapa tidak semua orang mampu melakukannya? Karena puasa batin menuntut kesadaran yang lebih dalam daripada sekadar kepatuhan pada aturan. Ia memerlukan refleksi, keberanian untuk melihat kekurangan diri, dan kerendahan hati untuk mengakuinya. Tidak ada sorak-sorai ketika seseorang berhasil menahan amarahnya. Tidak ada pujian ketika ia menolak godaan untuk menyombongkan diri. Puasa batin sering kali sunyi dan tidak terlihat. Ia hanya diketahui oleh diri sendiri dan oleh Yang Maha Mengetahui.
Selain itu, puasa batin menantang kenyamanan. Menahan makan dan minum memang menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi ketidaknyamanan itu jelas sebabnya dan jelas pula akhirnya.

Sementara itu, menahan dendam atau memaafkan kesalahan orang lain bisa terasa jauh lebih berat dan berkepanjangan. Ia menyentuh harga diri dan luka batin. Ia meminta kita untuk melepaskan beban yang justru sering kita peluk erat-erat.

Puasa batin juga berarti menata pikiran di tengah derasnya arus informasi dan godaan dunia. Di zaman ketika segala sesuatu bergerak cepat dan serba instan, manusia mudah terjebak dalam keinginan untuk selalu memiliki, selalu tahu, selalu terlihat. Puasa batin mengajarkan jeda. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi, tidak semua keinginan perlu dipenuhi, dan tidak semua pendapat perlu diumbar. Dalam jeda itulah, manusia belajar mengenali dirinya sendiri.

Ketika seseorang menjalani puasa batin, ia sedang melatih kebebasan sejati. Bukan kebebasan untuk melakukan apa saja, melainkan kebebasan dari belenggu nafsu dan dorongan yang membutakan. Ia tidak lagi mudah diprovokasi, tidak gampang terseret arus kebencian, dan tidak cepat silau oleh pujian. Ia menjadi lebih tenang, lebih jernih, dan lebih arif dalam melihat persoalan. Dalam ketenangan itu, ia menemukan ruang untuk bertumbuh.

Pada akhirnya, puasa batin adalah perjalanan panjang yang tidak dibatasi oleh kalender. Ia tidak selesai ketika hari raya tiba, tidak berakhir ketika hidangan kembali tersaji. Ia adalah komitmen untuk terus membersihkan hati, meluruskan niat, dan mengendalikan diri dalam setiap situasi. Ia adalah latihan seumur hidup untuk menjadi manusia yang lebih utuh.

Hampir setiap orang mampu menahan lapar dan dahaga untuk beberapa waktu. Tetapi tidak semua orang bersedia menahan kesombongan, kemarahan, dan keinginan untuk selalu menang. Di situlah letak tantangan sekaligus kemuliaannya. Puasa batin adalah hening yang mengenyangkan; ia mungkin tidak mengisi perut, tetapi ia mengisi jiwa dengan kedamaian. Dan ketika jiwa kenyang oleh kedamaian, tubuh pun belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari apa yang dikonsumsi, melainkan dari apa yang mampu dikendalikan.
Salam Ramadan (R-1)

Kesendirian yang Mengantar pada Kepulangan

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Kontemplasi sendirian di rumah memang menyenangkan sekaligus menakutkan. Ada jeda yang panjang antara satu tarikan napas dan tarikan berikutnya, seakan waktu melunak dan membiarkan jiwa menyentuh dirinya sendiri. Di ruang yang sepi, suara detak jam menjadi zikir yang berulang, dan cahaya yang menembus jendela seperti tangan halus yang mengusap kepala. Kesendirian menghadirkan ruang untuk lebih khusyuk beribadah, untuk menundukkan hati tanpa distraksi, untuk berbicara dengan Yang Maha Mendengar tanpa perlu mengeraskan suara. Dalam sunyi, doa terasa lebih jujur. Ia tidak perlu bersaing dengan riuh dunia; ia meluncur perlahan, seperti air yang menemukan celah di antara batu-batu.

Rumah yang biasanya hanya menjadi tempat beristirahat berubah menjadi ruang tafakur. Lantai yang dingin menyerap jejak langkah yang pelan, seakan mengingatkan bahwa setiap pijakan adalah perjalanan menuju akhir. Dinding-dinding memantulkan bisikan doa, menyimpannya dalam gema yang tak terdengar. Di sana, sujud bisa berlangsung lebih lama, napas bisa diatur dengan tenang, dan air mata jatuh tanpa perlu ditahan. Tidak ada yang menyela, tidak ada yang mengetuk pintu, tidak ada percakapan yang memecah konsentrasi. Hanya ada keheningan yang menyelimuti, membiarkan hati membuka lapisan-lapisan yang selama ini tertutup oleh kesibukan dan tuntutan dunia.

Saat dalam kesendirian, seseorang bisa menimbang ulang hidupnya. Kesalahan-kesalahan lama muncul seperti bayangan di sudut ruangan, menunggu untuk diakui. Penyesalan yang selama ini ditekan perlahan mengemuka, meminta pengampunan. Ada kelegaan yang lahir ketika hati berani berkata jujur kepada dirinya sendiri dan kepada Tuhannya. Kesendirian memberi kesempatan untuk memperbaiki niat, meluruskan kembali arah yang sempat melenceng. Ia menjadi ruang penyucian, tempat jiwa dicuci dari debu-debu yang menempel sepanjang perjalanan.

Namun, kesunyian yang sama dapat berubah wajah ketika malam turun perlahan. Cahaya meredup, bayangan memanjang, dan pikiran mulai berjalan ke arah yang lebih gelap. Di sela-sela doa, terlintas pertanyaan yang tak selalu nyaman: bagaimana jika malaikat maut datang saat tak seorang pun berada di sekitar? Bagaimana jika napas berhenti di antara sajadah dan lantai, dan tubuh terbaring tanpa saksi? Rumah yang tadi terasa hangat mendadak menjadi ruang yang terlalu luas untuk satu tubuh yang tak lagi bergerak.

Ketakutan itu tidak semata tentang kematian, melainkan tentang waktu yang terulur tanpa kabar. Tentang hari-hari yang berlalu sebelum keluarga menyadari bahwa seseorang telah pergi. Pintu yang tetap terkunci, telepon yang berdering tanpa jawaban, pesan yang hanya berstatus terkirim. Bayangan paling getir adalah tubuh yang terbaring lama, perlahan membusuk dalam diam, sebelum akhirnya ditemukan oleh kecurigaan atau aroma yang tak lagi bisa disembunyikan. Betapa panjang sunyi yang demikian, betapa hampa akhir yang tak segera diketahui siapa pun.

Pikiran semacam itu seperti angin dingin yang menyelinap di sela-sela keimanan. Ia menguji keteguhan hati: apakah kesendirian ini benar-benar pilihan yang mendekatkan diri pada Tuhan, atau justru jarak yang memperbesar kemungkinan dilupakan? Manusia diajarkan bahwa kematian adalah kepastian, dan waktu kedatangannya adalah rahasia Ilahi. Tidak ada yang bisa menawar, tidak ada yang bisa menunda. Namun, sebagai makhluk yang lemah, tetap ada keinginan untuk ditemani di detik-detik terakhir, untuk ada tangan yang menggenggam atau suara yang membisikkan kalimat-kalimat penguat.

Kesendirian menyadarkan bahwa pada akhirnya setiap jiwa memang akan menghadap sendiri. Tak ada keluarga, tak ada sahabat, tak ada harta yang menyertai melewati batas antara hidup dan mati. Hanya amal dan rahmat yang menjadi bekal. Dalam perenungan itu, ketakutan perlahan bergeser makna. Ia tidak lagi sekadar takut pada tubuh yang membusuk tanpa diketahui, tetapi takut pada hati yang mungkin belum cukup bersih, pada doa yang mungkin belum sungguh-sungguh, pada waktu yang mungkin terbuang percuma. Jika kematian datang dalam sunyi, bukankah yang terpenting adalah kesiapan jiwa, bukan cepat atau lambatnya jasad ditemukan?

Tetap saja, manusia adalah makhluk yang merindukan kehadiran. Ada kehangatan dalam mengetahui bahwa seseorang akan mencari ketika kita tak memberi kabar. Ada penghiburan dalam keyakinan bahwa kehilangan kita akan disadari, bahwa keberadaan kita memiliki arti bagi orang lain. Ketakutan akan mati sendirian sejatinya adalah cerminan dari kebutuhan untuk diingat, untuk diakui pernah ada, untuk dirindukan setelah tiada. Rumah yang sunyi menjadi cermin dari pertanyaan itu: sejauh mana hidup kita terhubung dengan kehidupan orang lain?

Mungkin jawabannya bukan dengan menghindari kesendirian, melainkan dengan mengisinya secara utuh dan seimbang. Kontemplasi yang sejati bukan hanya tentang memperbanyak ibadah dalam sepi, tetapi juga menata hubungan dengan sesama selagi masih ada waktu. Mengabari keluarga, menyapa sahabat, memperbaiki hubungan yang retak, meninggalkan jejak kebaikan di hati orang lain. Dengan begitu, jika suatu hari malaikat maut benar-benar datang di antara dinding-dinding rumah yang sunyi, kepergian itu tidak sepenuhnya sepi. Ada doa yang menyusul, ada langkah yang bergegas, ada pelukan terakhir yang mungkin terlambat namun tetap tulus.

Sunyi akan selalu menjadi ruang yang ambigu; ia bisa menjadi taman yang menumbuhkan iman, sekaligus lorong yang memperbesar ketakutan. Di sanalah manusia belajar tentang makna hadir dan hilang, tentang jarak dan kedekatan, tentang hidup yang sementara dan mati yang pasti.

Di antara sajadah dan pintu yang terkunci, di antara doa dan bayangan kematian, tersimpan pelajaran tentang kefanaan. Bahwa hidup, betapapun sunyinya, tetap berharga selama ia dipenuhi kesadaran dan cinta. Dan bahwa mati, betapapun sendirinya, akan menemukan maknanya ketika jiwa telah siap kembali, dengan hati yang lapang dan harap yang tidak pernah padam.

 

Ketika AKU Menjadi Hijab

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Di serambi pesantren yang mulai sunyi setelah isya, seorang santri duduk bersila di hadapan kiai. Lampu temaram menggantung, angin malam membawa aroma tanah basah. “Yai,” tanya santri itu pelan, “mengapa doa saya sering terasa jauh, padahal lisan tak pernah berhenti memohon?”. Kiai tersenyum, menatap halaman gelap di depannya. “Karena yang berdiri paling depan dalam doamu bukan Tuhan, tapi ‘aku’-mu.”

Santri terdiam. “Bukankah aku yang berdoa, Yai?”. “Benar,” jawab kiai lembut, “tetapi ketika engkau merasa sebagai pemilik doa, di situlah hijab bermula. ‘Aku’ ingin didengar, ingin dikabulkan, ingin diakui. Padahal doa sejati bukan soal didengar, melainkan soal hadir.”

“Lalu bagaimana caranya menyingkirkan ‘aku’ itu?” Jawab Santri. Kiai menggeleng perlahan. “Ia tidak disingkirkan dengan marah. “Aku” dilembutkan dengan sadar. Sadari bahwa nafasmu bukan milikmu, niatmu pun dipinjamkan. Ketika engkau menyadari itu, ‘aku’ akan menunduk dengan sendirinya.”. Santri menunduk lebih dalam. “Jika ‘aku’ menunduk, apa yang tersisa, Yai?”. “Yang tersisa,” kata kiai sambil tersenyum, “adalah hamba tanpa klaim. Di sanalah makrifat mulai berbisik. Bukan dengan suara, tapi dengan ketenangan yang tak lagi bertanya apakah doa sampai atau tidak.” Angin berhembus pelan. Santri itu terdiam, bukan karena tak paham, tetapi karena hatinya sedang belajar diam.

Di antara manusia dan Tuhan berdiri sesuatu yang tampak akrab, bahkan terasa sebagai diri sendiri, yaitu “aku”. Kata ini ringan diucapkan, tetapi berat maknanya. Ia membungkus kesadaran, mengklaim pengalaman, dan menuntut pengakuan. Dalam jalan makrifat, “aku” bukan sekadar kata ganti, melainkan tirai halus yang menutup pandangan batin. Selama tirai itu belum tersingkap, doa tetap terdengar, tetapi tidak sungguh sampai; ibadah dilakukan, tetapi belum sepenuhnya berjumpa.

Ego lahir dari kebutuhan untuk bertahan dan dikenali. Ia mengatur cerita tentang siapa diri ini, apa yang pantas didapat, dan bagaimana dunia seharusnya memperlakukan kita. Dalam kehidupan sehari-hari, ego tampak wajar, bahkan perlu. Namun ketika ia dibawa masuk ke ruang ketuhanan, ego berubah menjadi penghalang. Doa yang seharusnya merupakan penyerahan berubah menjadi tuntutan. Harap yang seharusnya bersandar berubah menjadi transaksi. Kata “aku” menyusup di setiap kalimat batin: aku berdoa, aku beribadah, aku pantas dikabulkan. Pada saat itulah hubungan menjadi dua arah yang terpisah, bukan perjumpaan yang melebur.

Makrifat mengajarkan keheningan di balik kata. Di sana, kesadaran tidak lagi sibuk mengklaim. Ketika seseorang menyadari bahwa segala yang dimiliki: nafas, pikiran, bahkan kehendak, bukan sepenuhnya miliknya, maka “aku” mulai melunak. Ego tidak dihancurkan dengan kekerasan, melainkan dilunakkan dengan pengenalan. Ia dipahami, bukan dimusuhi. Kesadaran melihat bahwa ego hanyalah alat, bukan pusat. Ia berguna untuk hidup di dunia, tetapi harus ditinggalkan ketika memasuki hadirat Yang Maha Ada.

Doa yang terhijab ego sering kali penuh kata, tetapi miskin hadir. Bibir bergerak, pikiran mengembara, dan hati sibuk menghitung hasil. Dalam kondisi ini, doa menjadi cermin ego itu sendiri. Ia memantulkan keinginan, ketakutan, dan ambisi. Makrifat mengajak doa kembali pada asalnya: diam yang sadar. Dalam diam, tidak ada lagi yang meminta atas nama “aku”. Yang tersisa hanyalah kesaksian bahwa segala sesuatu berlangsung dalam kehendak-Nya. Dari sini, doa bukan lagi permohonan, melainkan penyelarasan.

Ego juga gemar merasa paling benar dan paling dekat. Ia bisa menyamar dalam kesalehan, merasa lebih suci, lebih tahu, atau lebih layak. Penyamaran ini paling halus dan paling berbahaya, karena ia membuat seseorang merasa sudah sampai, padahal justru terhenti. Makrifat tidak mengenal rasa selesai. Semakin dekat, semakin lenyap rasa memiliki. Semakin dalam, semakin ringan identitas diri. Di titik ini, ego tidak lagi memimpin, ia hanya mengikuti arus kesadaran yang lebih luas.

Menghadapi ego bukan berarti meniadakan diri secara fisik atau menolak peran hidup. Yang ditinggalkan adalah klaim, bukan keberadaan. Seseorang tetap bekerja, mencinta, dan berdoa, tetapi tanpa beban pengakuan. Ia hadir, namun tidak menuntut. Ia bergerak, namun tidak menguasai. Inilah keadaan ketika “aku” berubah menjadi amanah, bukan pusat semesta. Dalam keadaan ini, jarak dengan Tuhan menyempit bukan karena langkah mendekat, tetapi karena penghalang menyingkir.

Ketika ego mereda, doa menemukan jalannya sendiri. Ia tidak selalu berwujud terkabulnya keinginan, tetapi hadir sebagai ketenangan menerima. Jawaban tidak selalu datang sebagai perubahan keadaan, melainkan perubahan cara memandang. Inilah pengabulan yang sering luput disadari. Bukan dunia yang menyesuaikan diri dengan ego, melainkan ego yang larut dalam kehendak Ilahi. Pada saat itu, tidak ada lagi “aku” yang berdiri di depan-Nya. Yang ada hanyalah kesadaran yang bersaksi, bahwa sejak awal tidak pernah ada jarak, kecuali yang diciptakan oleh klaim diri.

Salam waras

KESALEHAN YANG RETAK

(Yang Saleh bisa salah, Yang salah bisa Saleh)

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Malam telah jauh melewati puncak sunyinya. Setelah sholat tahajud, pesantren seakan menahan napas. Sajadah-sajadah masih terhampar, aroma kayu tua dan lantunan doa yang tertinggal menggantung di udara. Seorang Santri belum beranjak dari tempat duduknya. Air matanya belum kering, dadanya masih bergetar oleh doa-doa yang tak sempat terucap dengan kata.

Di sudut Masjid itu, Kiai duduk bersandar pada tiang, memejamkan mata, seolah menyimak sesuatu yang tak terdengar. Santri itu mendekat dengan langkah ragu, lalu bersimpuh. “Yai,” bisiknya lirih, takut memecah kesunyian, “mengapa setiap selesai tahajud, hati saya justru merasa semakin kecil, seolah semua amal saya tak berarti apa-apa?”

Kiai membuka mata perlahan. Wajahnya tenang, namun suaranya menghunjam. “Karena di sepertiga malam, Tuhan tidak membesarkan manusia, Nak. DIA mengecilkannya, agar tidak ada yang tersisa selain kejujuran.” Santri itu menelan ludah. “Lalu bagaimana dengan orang-orang yang merasa sudah dekat dengan-Nya?”. “Dekat menurut siapa?” tanya kiai pelan. “Orang yang benar-benar dekat biasanya gemetar. Ia takut jika sujudnya hanya gerak, doanya hanya suara, dan taatnya hanya cara halus untuk memuja diri.”

Hening kembali jatuh. Kiai melanjutkan, “Ada manusia yang rusak hidupnya, dan juga hancur hatinya. Dari kehancuran itu, ia mengenal Tuhannya. Dan ada yang rapi ibadahnya, tapi utuh egonya. Yang utuh itu justru menutup jalan menuju Tuhan-nya.” Air mata santri itu jatuh ke sajadah. Dalam sunyi selepas tahajud, ia mengerti: Tuhan lebih sering ditemui oleh hati yang remuk daripada oleh jiwa yang merasa telah sempurna

Ungkapan bahwa yang saleh bisa salah dan yang salah bisa saleh mengguncang cara pandang moral yang sering kita anggap mapan. Ia menolak pemisahan hitam-putih antara kebaikan dan keburukan, serta membongkar ilusi bahwa kesalehan adalah status tetap yang dapat dimiliki seseorang. Dalam filsafat ketuhanan, pernyataan ini mengarahkan kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang relasi manusia dengan Yang Ilahiah: relasi yang tidak ditentukan oleh klaim kesucian, melainkan oleh kesadaran akan keterbatasan diri.

Kesalehan sering dipahami sebagai ketaatan lahiriah: kepatuhan pada aturan, konsistensi dalam ritual, dan kemampuan menjaga citra moral di hadapan sesama. Namun, ketika kesalehan diperlakukan sebagai identitas final, ia berisiko berubah menjadi bentuk keakuan yang halus. Pada titik ini, kesalehan tidak lagi mengarah ke Tuhan, melainkan berputar kembali kepada diri sendiri. Seseorang merasa telah “sampai”, merasa lebih benar, lebih bersih, dan lebih dekat kepada kebenaran dibanding yang lain. Dalam perspektif ketuhanan, inilah bentuk kesalahan yang paling sunyi namun paling berbahaya: kesalahan yang tersembunyi di balik keyakinan bahwa diri sudah benar.

Sebaliknya, kesalahan, dalam arti pelanggaran moral atau penyimpangan, sering dipandang sebagai jarak dari Tuhan. Namun pengalaman eksistensial manusia menunjukkan hal yang lebih kompleks. Kesalahan dapat menjadi ruang perjumpaan yang jujur dengan diri sendiri. Saat seseorang jatuh, runtuhlah ilusi kehebatan diri. Rasa hina, penyesalan, dan kesadaran akan kelemahan membuka ruang batin yang sebelumnya tertutup oleh kesombongan. Dalam ruang inilah, Tuhan tidak lagi dipahami sebagai legitimasi atas kebaikan diri, melainkan sebagai tempat kembali bagi jiwa yang rapuh.

Ungkapan bahwa ahli maksiat terkadang lebih mengenal Tuhannya dibanding ahli taat bukanlah glorifikasi kesalahan, melainkan kritik terhadap kesalehan palsu. Kesalahan tidak dipuji, tetapi kesadaran atas kesalahan itulah yang dinilai. Dalam filsafat ketuhanan, kesadaran adalah kunci. Tuhan tidak “didekati” melalui prestasi moral, tetapi melalui kejujuran batin. Ketika seseorang mengakui kesalahannya, ia sedang menyingkirkan tirai ego yang selama ini menghalangi pandangan kepada Yang Transenden.

Kesalehan sejati, dengan demikian, bukanlah ketiadaan dosa, melainkan keberlanjutan kesadaran. Ia hidup dalam ketegangan antara usaha dan pengakuan akan ketidakcukupan. Orang yang saleh secara autentik tidak pernah merasa aman dengan kesalehannya sendiri. Ia selalu menyisakan ruang ragu, ruang takut, dan ruang harap. Ragu terhadap kemurnian niatnya, takut terhadap kesombongannya, dan berharap pada rahmat yang melampaui perbuatannya.

Pada akhirnya, yang salah bukanlah mereka yang jatuh dan menyadari kejatuhannya, melainkan mereka yang berdiri tegak di atas keyakinan bahwa mereka tidak mungkin jatuh. Dalam pandangan ketuhanan yang mendalam, Tuhan lebih dekat pada hati yang remuk daripada dada yang membusung. Kesalahan bisa menjadi jalan, dan kesalehan bisa menjadi tirai. Yang menentukan bukan label moral, melainkan sikap batin: apakah manusia masih menunduk, atau sudah terlalu sibuk mengagumi bayangannya sendiri. Oleh karena itu para ulama terdahulu berpesan bahwa; Syariat itu mengajarkan kita untuk membenahi diri, torekat itu mengajarkan kita untuk mampu mengenali diri, hakekat itu mengajarkan kita untuk berserah diri, dan makrifat itu mengajarkan kita untuk mengenali sejatinya diri.

Salam Ramadan

Prodi Manajemen Siap Sambut Semester Genap 2025/2026 dengan Transformasi Metode Pengajaran Berbasis Teknologi dan Inovasi

Pembukaan awal semester menjadi ajang pembaharuan dalam menyambut tahun ajaran baru Genap 2025/2026 dan Prodi Manajemen sukses menyelenggarakan kegiatan pembukaan awal semester pada hari Selasa 10 Februari 2026, dengan mengangkat tema “Transformation of Teaching Methods: Innovation, Technology, and Student-Centered Learning.” Kegiatan ini diikuti oleh seluruh dosen Prodi Manajemen agar dapat dijadikan momentum strategis dalam menyelaraskan arah pembelajaran dengan tuntutan era digital serta penguatan pendekatan outcome-based education.Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Pelaksana, Harold Kevin Alfredo, S.E., M.BA., yang menegaskan bahwa transformasi metode pengajaran merupakan keniscayaan dalam menjawab perubahan lanskap pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja.


Paparan Materi: Transformasi Paradigma dan Praktik, Pemateri pertama, Dr. Febrianty, S.E., M.Si., menyampaikan materi berjudul “Paradigma Metode Pengajaran Perguruan Tinggi di Era Digital dan Outcome-Based Education.” Beliau menekankan pentingnya pergeseran dari teacher-centered learning menuju pembelajaran berbasis capaian (OBE) yang terukur dan relevan dengan kebutuhan industri. Penekanan juga diberikan pada penyusunan RPS berbasis learning outcomes serta asesmen autentik yang mampu mengukur kompetensi secara komprehensif.
Selanjutnya, Dr. Yuni Ekawati, S.E., M.M., ACPA., membawakan materi “Metode Pengajaran Terkini dan Praktik Terbaik.” Ia memaparkan pendekatan seperti case-based learning, project-based learning, dan integrasi learning management system sebagai bagian dari strategi meningkatkan keterlibatan mahasiswa. Menurutnya, praktik terbaik dalam pengajaran harus berorientasi pada efektivitas pembelajaran, bukan sekadar penggunaan teknologi.
Sebagai pemateri ketiga, Ayu Nursari, S.E., M.E., mengangkat tema “Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).” Dalam paparannya, ia menekankan bahwa transformasi pembelajaran juga harus diiringi dengan penciptaan lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan berkeadilan. Sosialisasi mekanisme pelaporan serta pemahaman regulasi PPKS menjadi bagian penting dalam membangun budaya kampus yang sehat.
Sesi Diskusi Interaktif dan Reflektif

Setelah pemaparan materi ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berlangsung dinamis dan interaktif. Para dosen dan peserta aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman mengenai implementasi metode pembelajaran inovatif di kelas masing-masing.
Diskusi berkembang pada isu-isu strategis seperti tantangan penerapan outcome-based education, efektivitas asesmen berbasis proyek, hingga integrasi nilai-nilai etika dan keamanan kampus dalam proses pembelajaran. Beberapa peserta juga menyoroti pentingnya pelatihan berkelanjutan bagi dosen agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi pembelajaran.
Sesi ini tidak hanya menjadi ruang tanya jawab, tetapi juga forum refleksi kolektif untuk menyamakan persepsi dan memperkuat kolaborasi antar dosen dalam mewujudkan pembelajaran yang lebih adaptif dan berpusat pada mahasiswa.
Komitmen Menuju Pembelajaran Transformatif


Melalui rangkaian kegiatan ini, Program Studi Manajemen menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dalam metode pengajaran, memanfaatkan teknologi secara strategis, serta memastikan terciptanya lingkungan akademik yang aman dan inklusif.
Pembukaan semester ini diharapkan menjadi titik awal konsolidasi akademik menuju sistem pembelajaran yang lebih modern, responsif, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi mahasiswa secara holistik. Dengan semangat kolaborasi dan transformasi, Prodi Manajemen optimis mampu mencetak lulusan yang unggul, adaptif, dan berintegritas di tengah dinamika global.

Editor : Chandra faza

Langkah yang tak Pernah Pulang

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Sudah menjadi kebiasaan di kantor, jika sudah lebih dari dua jam duduk, maka harus tinggalkan ruangan guna mencari udara segar untuk beberapa saat. Hari itu ternyata tidak sendiri, ada beberapa teman yang juga berangin-angin mencari udara segar diteras lantai lima gedung ini. Dasar kumpulan ilmuwan, diteraspun bicaranya tetap ilmu. Ada diskusi tampak ringan, tetapi sebenarnya berat dan menarik perhatian karena salah seorang diantara kami menyimpulkan bahwa “hidup ini bukan lingkaran, akan tetapi lintasan”; karena itu kita tidak bisa kembali. Menarik pernyataan ini, dan jika dikaji dari sudut pandang filsafat uraiannya akan begitu mendalam.

Manusia kerap kali memandang hidup sebagai sebuah perjalanan. Dalam perjalanan itu, setiap langkah yang diambil membawa kita ke tempat-tempat baru, membuka pengalaman, dan mengukir makna yang tak selalu mudah dipahami. Namun, sering kali manusia tergoda untuk memandang ke belakang, mencari asal-usulnya, dan berharap bisa kembali ke titik mula di mana segalanya tampak sederhana dan murni. Tetapi kehidupan bukanlah lingkaran yang menuntut kita kembali ke awal; ia adalah lintasan yang menuntun kita untuk terus melangkah maju, melanjutkan perjalanan, meski arah yang dituju kadang tak jelas dan jalan yang ditempuh tidak selalu lurus.

Melanjutkan perjalanan berarti menerima bahwa manusia bukan makhluk yang selesai. Ia senantiasa berada dalam proses menjadi. Dalam dirinya bersemayam kerinduan untuk mencapai sesuatu yang melampaui dirinya sendiri. Keadaan ini membuat manusia tidak pernah betul-betul tuntas mengenal siapa dirinya, karena setiap saat ia berubah, bertumbuh, dan berhadapan dengan dunia yang terus bergerak. Keberadaan manusia adalah keberadaan yang dinamis, bukan statis. Ia tidak diciptakan untuk berdiam dalam keutuhan yang telah sempurna, melainkan untuk mengupayakan kesempurnaan itu melalui langkah-langkah yang tak pernah berakhir.

Ketika seseorang ingin “kembali ke asal”, sering kali yang dirindukan adalah kepastian, ketenangan, dan rasa memiliki makna yang utuh. Namun, dunia manusia tidak pernah menawarkan kepastian mutlak. Dalam kenyataan yang penuh ketidaktentuan ini, keinginan untuk kembali justru menjadi bentuk penolakan terhadap kenyataan bahwa hidup adalah pergerakan. Ketenangan sejati bukan ditemukan dalam kembalinya seseorang ke masa lalu, melainkan dalam penerimaan bahwa perubahan dan ketidakpastian adalah bagian dari keberadaannya sendiri. Melanjutkan perjalanan berarti berdamai dengan kemungkinan, dengan waktu yang terus bergulir, dan dengan diri yang selalu berproses.

Hidup manusia juga selalu diwarnai oleh pencarian makna. Setiap tindakan, setiap pilihan, adalah upaya untuk memberi arti pada keberadaan yang sementara. Dalam perjalanan ini, makna tidak menunggu di ujung jalan, melainkan dibangun dari langkah-langkah yang diambil di sepanjang jalan itu. Manusia tidak bisa menemukan makna dengan menoleh ke belakang secara terus-menerus, karena makna bukanlah sesuatu yang sudah selesai di masa lalu. Ia tumbuh bersama pengalaman, bersama perjuangan, bersama kesadaran yang terus berkembang. Melanjutkan perjalanan berarti terus menafsirkan hidup, terus menulis ulang kisah diri, dan menerima bahwa pencarian ini tidak pernah berhenti.

Dalam perjalanan manusia, waktu memainkan peran yang menentukan. Setiap detik yang berlalu tidak bisa diulang, tetapi setiap detik pula membuka kemungkinan baru. Di sinilah manusia belajar tentang tanggung jawab terhadap hidupnya sendiri. Tidak ada jalan yang bisa dilalui dua kali dengan cara yang sama. Maka melanjutkan perjalanan berarti menyadari bahwa setiap pilihan hari ini adalah benih bagi masa depan yang akan tumbuh. Kesadaran ini membuat manusia tidak hanya berjalan secara fisik, tetapi juga secara eksistensial; ia berjalan dalam pengertian, dalam kesadaran, dalam usaha memahami siapa dirinya dan apa yang ingin dicapainya.

Melanjutkan perjalanan juga berarti menolak keputusasaan. Dalam hidup yang penuh keterbatasan, mudah bagi manusia untuk berhenti, menyerah, atau merasa segala upaya tak berarti. Namun, justru dalam keberlanjutan langkah itu makna hidup ditemukan. Keberanian untuk tetap melangkah meski jalan gelap adalah bentuk pengakuan bahwa kehidupan, betapapun rapuh dan singkat, tetap layak dijalani. Harapan tidak selalu berarti mengetahui ke mana kita akan sampai; kadang harapan itu hanya berupa keyakinan bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, memiliki arti bagi keberadaan kita sebagai manusia.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang mencapai titik akhir, melainkan tentang terus bergerak. Tidak ada kepastian bahwa seseorang akan tiba di tempat yang diinginkannya, tetapi ada kepastian bahwa selama ia berjalan, ia hidup. Melanjutkan perjalanan adalah bentuk kesetiaan terhadap hidup itu sendiri, sebuah pengakuan bahwa menjadi manusia berarti terus mencari, terus bertumbuh, dan terus menghadapi misteri yang tak akan pernah selesai dijawab.

Dengan demikian, “bukan kembali ke asal, tetapi melanjutkan perjalanan” bukan sekadar ajakan untuk maju secara fisik atau sosial, melainkan pernyataan filosofis tentang hakikat keberadaan manusia. Hidup tidak meminta kita untuk menjadi sempurna, melainkan untuk setia pada proses menjadi. Dalam langkah yang berkelanjutan itu, manusia menemukan dirinya, bukan sebagai makhluk yang sudah selesai, tetapi sebagai makhluk yang sedang berproses menuju makna yang senantiasa diperbarui. Setiap langkah adalah kelahiran baru, setiap perjalanan adalah kesempatan untuk mengenal diri dan dunia dengan cara yang lebih mendalam.

Maka, biarlah perjalanan itu berlanjut. Biarlah manusia berjalan tanpa perlu menoleh untuk kembali ke asal yang telah jauh tertinggal. Sebab asal bukan tempat untuk pulang, melainkan fondasi dari mana langkah pertama diambil. Dan, selama manusia terus melangkah, selama ia tidak berhenti mencari, selama ia memelihara harapan di tengah ketidakpastian, maka hidupnya tetap menjadi perjalanan yang berarti, sebuah perjalanan yang tak pernah benar-benar berakhir.***

LPPM Universitas Malahayati Hadiri Sosialisasi Paten Tahun 2026 Kementerian Hukum RI


Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Malahayati menghadiri kegiatan Sosialisasi Kekayaan Intelektual Paten Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia melalui Kantor Wilayah Kementerian Hukum Lampung, pada Rabu, 25 Februari 2026, bertempat di Hotel Horison Lampung.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat serta mendorong peningkatan pendaftaran dan perlindungan Kekayaan Intelektual (KI), khususnya paten, di Provinsi Lampung.

Dalam kegiatan tersebut, LPPM Universitas Malahayati mengutus perwakilannya, yaitu Wakil LPPM Eka Yudha Chrisanto, S.Kep., Ns., M.Kep., Dr. Febriyanti, SE., M.Si, serta Apt. Annisa Primadiamanti.,M.Sc untuk mengikuti rangkaian sosialisasi dan diskusi terkait mekanisme pendaftaran paten, strategi perlindungan hasil riset, serta kebijakan terbaru di bidang Kekayaan Intelektual.

Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Universitas Malahayati dalam mendorong peningkatan kualitas penelitian dosen dan luaran penelitian yang berorientasi pada Hak Kekayaan Intelektual (HKI), khususnya paten.

Melalui keikutsertaan dalam sosialisasi ini, diharapkan Universitas Malahayati dapat meningkatkan jumlah pendaftaran paten serta memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berbasis inovasi dan perlindungan hukum.

Kegiatan ini juga menjadi momentum strategis untuk mempererat sinergi antara perguruan tinggi dan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Lampung dalam mendukung ekosistem riset dan inovasi yang berdaya saing di tingkat regional maupun nasional.

Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan, Universitas Malahayati melalui LPPM akan terus mendorong dosen dan peneliti untuk menghasilkan karya inovatif yang tidak hanya berdampak secara akademik, tetapi juga memiliki perlindungan hukum melalui pendaftaran paten. Langkah ini menjadi bagian dari strategi institusi dalam memperkuat budaya riset, meningkatkan daya saing, serta memastikan setiap inovasi yang lahir memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Editor : Chandra Faza

Jajaran Pimpinan Universitas Malahayati Gelar Rapat Persiapan Kegiatan Akademik Semester Genap T.A. 2025/2026

Bandar Lampung (malahayati.ac.id) :  Rabu, 25 Februari 2026, jajaran pimpinan Universitas Malahayati menggelar Rapat Persiapan Kegiatan Akademik Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 sebagai langkah strategis dalam memastikan kesiapan penyelenggaraan perkuliahan serta optimalisasi capaian kinerja Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Rapat yang dihadiri oleh Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, Wakil Rektor IV, Kepala LPMI, Kepala LPPM, Dekan, Kaprodi, Kepala Biro, Kepala Bagian, serta Kepala Unit ini membahas sejumlah agenda penting, meliputi:
1. Evaluasi Semester Ganjil 2025/2026
2. Target Kinerja Semester Genap 2025/2026
3. Pelaporan Perkuliahan Berbasis OBE
4. PMB: Strategi Capaian Mahasiswa Baru Angkatan 2026
5. Pembukaan Program RPL
6. Pemantapan Timeline Kalender Akademik Semester Genap 2025/2026 (Yudisium, Wisuda, KKLPPM 2026)
7. Persiapan AMI 2026
8. Akreditasi Prodi yang habis Tahun 2026

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof.Dr.Dessy Hermawan.Ns., M.Kes. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kesiapan akademik yang berbasis evaluasi dan penguatan mutu berkelanjutan.

“Semester genap ini harus kita mulai dengan refleksi yang jujur terhadap capaian semester ganjil. Setiap program studi dan unit kerja perlu memastikan bahwa pembelajaran berbasis OBE tidak hanya terlaksana, tetapi juga terdokumentasi dengan baik dan terukur. Target kinerja harus realistis, terstruktur, dan dapat dipertanggungjawabkan.”
Beliau juga mengajak seluruh pimpinan unit untuk memperkuat koordinasi lintas bidang demi menjaga konsistensi mutu akademik.

Arahan selanjutnya disampaikan oleh Wakil Rektor III, Dr. Eng. Rina Febrina, ST., MT yang menyoroti strategi pencapaian mahasiswa baru serta penguatan peran institusi dalam membangun kepercayaan publik.
“Strategi PMB Angkatan 2026 harus berbasis data, kolaboratif, dan inovatif. Kita perlu mengoptimalkan potensi jejaring, alumni, serta capaian prestasi mahasiswa sebagai bagian dari branding institusi. Program RPL juga menjadi peluang strategis untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.”
Beliau menekankan pentingnya sinergi antara bidang akademik dan kemahasiswaan dalam mendukung pertumbuhan institusi.

Selanjutnya, Wakil Rektor IV, Drs.Suharman, M.Pd., M.Kes, menyampaikan arahan terkait kesiapan tata kelola dan dukungan administratif dalam menyongsong semester genap.
“Timeline kegiatan akademik seperti yudisium, wisuda, dan KKLPPM 2026 harus dipastikan berjalan sesuai rencana. Selain itu, persiapan AMI 2026 dan akreditasi prodi yang akan berakhir masa berlakunya di tahun 2026 harus menjadi perhatian bersama. Kesiapan dokumen, eviden, dan koordinasi internal menjadi kunci keberhasilan.”
Beliau menegaskan bahwa budaya mutu harus menjadi komitmen kolektif seluruh unsur pimpinan dan unit kerja.

Rapat ini menjadi momentum penting dalam menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi, serta memastikan seluruh perangkat akademik dan non-akademik siap memulai perkuliahan Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan optimal.

Melalui perencanaan yang sistematis dan kolaboratif, Universitas Malahayati berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud nyata pemenuhan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Editor : Chandra Faza

Selamat Tinggal Bromo (Jejak Sunyi di Lautan Pasir)

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID Mesin Jeep offroad meraung pelan saat mulai bergerak meninggalkan lautan pasir. Udara pagi masih dingin, kabut tipis menggantung rendah. Empat orang diantara kami duduk berhadap hadapan di dalam kabin, penulis di depan mendampingi driver; tubuh sedikit terhentak mengikuti jalur turunan ekstrim menuju lembah.
“Cepat sekali rasanya,” ujar sang istri sambil merapatkan jaket. “Tadi berangkat masih gelap, sekarang sudah pulang.”
“Sindrom enggan berpisah,” canda salah satu dokter. “Resepnya cuma satu: kembali lagi.”

Tawa kecil mengisi ruang sempit itu.
“Saya masih terbayang savananya,” kata apoteker, menoleh ke luar. “kecoklatan dan tenang sekali.”
“Iya,” sahut dokter lainnya. “Di sana rasanya kita kecil sekali.”
“Bukan kecil,” jawab sang istri pelan. “Lebih tepatnya… sadar diri.” Jeep terguncang lebih keras saat melewati turunan. “Pegangan,” kataku spontan. Semua tertawa, tapi tangan tetap mencengkeram kursi.

“Lucu ya,” ujar seorang dokter, “sehari-hari kita menyuruh orang tenang. Tadi justru kita yang belajar tenang.”
“Gunung ini seperti ruang konsultasi besar,” kata penulis. “Bedanya, yang berbicara adalah keheningan.”
Hening sejenak. Hanya suara mesin dan angin.

“Kalau ditanya apa yang dibawa pulang?” tanya apoteker.
“Rasa cukup,” jawab sang istri.
“Kerendahan hati,” tambah dokter.
Penulis memandang jejak roda yang perlahan hilang tertiup angin. “Keheningan,” ucap penulis spontan. “Karena di sana kita benar-benar mendengar diri sendiri.”

Jeep terus melaju turun, meninggalkan Bromo di belakang; dan membawa kami kembali ke hotel tempat menginap.
Pendakian Bromo telah selesai. Langkah-langkah yang kemarin terasa berat kini berubah menjadi gema kenangan yang terus berulang di dalam ingatan. Kami tinggalkan Bromo dengan sejuta kenangan, seperti butiran pasir yang tak mungkin dihitung satu per satu. Gunung itu berdiri sebagaimana adanya; diam, kokoh, dan tak pernah benar-benar peduli pada siapa yang datang dan pergi. Namun bagi kami, ia bukan sekadar bentang alam yang indah. Ia adalah ruang perenungan, tempat tubuh diuji dan jiwa diajak bercermin.

Lautan pasir Bromo membentang seperti samudra yang membeku. Tanpa ombak, tanpa air, namun menghadirkan rasa luas yang sama tak bertepinya. Angin berhembus membawa butiran pasir menari tipis di permukaan tanah. Di tempat itu, manusia tampak begitu kecil. Setiap orang hanyalah siluet yang bergerak perlahan di antara bentangan alam purba. Kesadaran itu tidak mengecilkan hati, justru menumbuhkan kerendahan. Ada keindahan dalam menyadari bahwa kita bukan pusat dari segalanya.

Ketika cahaya pertama muncul di ufuk timur, warna langit berubah pelan-pelan. Gelap yang semula pekat beralih menjadi jingga lembut, lalu keemasan yang hangat. Sinar matahari menyentuh hamparan pasir dan savana, memantulkan cahaya yang membuat semuanya tampak hidup. Rumput-rumput liar di savana bergoyang pelan diterpa angin pagi, membentuk gelombang kecoklatan yang memanjakan mata. Di sanalah rasa takjub tumbuh tanpa diminta. Alam berbicara dalam bahasa yang sederhana, namun mampu menyentuh relung terdalam jiwa.

Hamparan savana menghadirkan suasana berbeda. Jika lautan pasir terasa sunyi dan gersang, savana menawarkan kesejukan dan harapan. Warna coklat rumput yang mengering membentang luas seperti pengingat bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya, bahkan di tanah yang keras sekalipun. Berjalan di antara padang rumput itu menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan. Tidak ada yang perlu dikejar, tidak ada yang perlu dibuktikan. Hanya ada langkah yang mengalir mengikuti kontur bumi.
Perjalanan ini bukan tentang mencapai titik tertinggi, melainkan tentang mengalami setiap detiknya. Di tengah bentangan alam yang luas, pikiran yang semula riuh perlahan menjadi tenang.

Beban-beban yang selama ini terasa berat mendadak mengecil, seolah terserap oleh angin gunung. Ada ruang untuk merenung, untuk mengingat kembali tujuan, dan untuk menyadari betapa berharganya setiap proses.
Lautan pasir mengajarkan keteguhan. Ia tampak kosong, namun menyimpan kekuatan dalam diamnya. Savana mengajarkan harapan. Ia tumbuh tanpa banyak suara, tetapi menghadirkan kehidupan yang nyata. Di antara keduanya, kami belajar tentang keseimbangan. Hidup tidak selalu hijau dan subur, kadang ia kering dan tandus. Namun keduanya adalah bagian dari perjalanan yang utuh.

Jejak kaki di pasir mudah terhapus angin. Begitu pula manusia dalam arus waktu. Kesadaran itu tidak membawa kesedihan, justru menghadirkan kelegaan. Jika segala sesuatu akan berlalu, maka yang terpenting adalah bagaimana menjalaninya dengan sepenuh hati. Bromo menjadi cermin yang memantulkan kembali pertanyaan-pertanyaan sederhana: apa arti perjalanan, apa arti kebersamaan, dan apa arti pulang.

Saat tiba waktunya meninggalkan kawasan itu, ada rasa enggan yang tak terucap. Setiap sudut seperti menyimpan cerita: dingin yang menggigit di awal perjalanan, tawa yang lepas tanpa beban, dan diam yang sarat makna di tengah luasnya savana. Namun perpisahan adalah bagian dari setiap perjalanan. Tak ada pendakian tanpa langkah kembali.

Selamat tinggal, Bromo, bukanlah ucapan akhir, melainkan jeda. Gunung itu akan tetap berdiri, lautan pasirnya tetap membentang, dan savananya tetap bergoyang diterpa angin. Ia akan terus menjadi tempat kontemplasi kehidupan, ruang di mana manusia belajar mendengarkan suara hatinya sendiri. Kenangan tentangnya akan tinggal dalam ingatan: tentang langit yang perlahan memerah, tentang hamparan pasir yang tak bertepi, dan tentang savana yang menenangkan.

Kami tinggalkan Bromo dengan sejuta kenangan. Dan di antara kenangan itu, tersimpan rasa syukur yang sederhana; atas sunyi yang menguatkan, atas luas yang menyadarkan, dan atas perjalanan yang memperkaya makna kehidupan.
Selamat Tinggal Bromo. (R-1)

Editor : Chandra Faza

BATAS YANG DIJAGA DOA DAN KEPERCAYAAN

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Kabut masih tebal ketika kami berhenti di pelataran masjid kecil itu. Sepatu-sepatu pendaki berjajar rapi, napas saling beradu dengan dingin. Lampu redup menerangi wajah-wajah lelah yang justru tampak tenang.

“Lucu ya,” salah satu dokter anggota kami memecah hening sambil menggosok tangannya, “tiap hari di Puskesmas kita kejar waktu, di sini waktu malah terasa berhenti.”

Dokter satunya tersenyum kecil. “Mungkin karena di gunung, kita nggak bisa sok mengatur segalanya. Alam yang pegang kendali.”

Apoteker yang sejak tadi diam menatap kabut mengangguk pelan. “Di bawah sana, kita bicara dosis, hitungan, dan kepastian. Di sini, yang kita bawa cuma niat dan doa.”

Penulis melirik istri yang tampak sangat bersemangat. Ia merapatkan jaket, matanya menyapu sekitar masjid kecil ini, seraya berucap lirih. “Seolah setelah ini, kita masuk dunia lain.”

“Dunia Bromo,” jawabku. “Dunia yang nggak bisa kita jelaskan dengan logika biasa.”

Dokter pertama tertawa pelan. “Iya, di sini gelar nggak ada artinya. Mau dokter, apoteker, dan apapun itu, semuanya sama-sama kecil.”

“Dan sama-sama butuh perlindungan,” sambung dokter kedua. “Entah kita menyebutnya dengan bahasa apa.”

Kami terdiam. Dari kejauhan, suara langkah pendaki lain semakin ramai. Kabut bergerak pelan, seakan memberi ruang. Lalu suara adzan Subuh terdengar, lembut namun tegas, menyentuh batas paling dalam dari diri kami.

Kami saling pandang, tanpa perlu kata-kata lagi. Di titik ini, sebelum doa dilantunkan bersama pendaki lain, kami bukan lagi profesi atau identitas. Kami hanyalah manusia, yaitu tamu yang sedang meminta izin, sebelum melangkah lebih jauh ke tubuh gunung yang menyimpan janji-janji lama.

Masih dalam gelap, sebelum matahari berani menyingkap wajahnya, langkah-langkah manusia berhenti di sebuah masjid kecil; yang terakhir sebelum pendakian benar-benar dimulai. Di titik inilah sholat Subuh ditegakkan. Suara doa mengalir pelan, menyatu dengan napas yang mengepul dan kabut yang menggantung rendah. Tepat berseberangan, masyarakat Tengger menjalani hidup dengan keyakinan yang berbeda, keyakinan yang telah berakar jauh sebelum istilah agama-agama besar dikenal. Tidak ada yang saling meniadakan. Justru di tempat inilah terasa jelas sebuah batas imajiner: peralihan dari dunia yang akrab menuju dunia Bromo yang sarat makna.

Tanah Tengger menyimpan kisah lama tentang Raden Joko Seger dan Roro Anteng, sebuah kisah yang tidak sekadar legenda, melainkan fondasi kosmologis bagi masyarakat setempat. Dari nama merekalah kata “Tengger” dipercaya lahir: teguh dan tenteram. Kisah mereka bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kesetiaan pada janji, keberanian berkorban, dan hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Dalam kepercayaan lokal, Bromo bukan gunung biasa, melainkan ruang sakral tempat janji itu terus bergema.

Maka, ketika sholat Subuh ditegakkan di batas ini, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga peristiwa simbolik. Di satu sisi, manusia menghadap Tuhan dengan cara yang diyakininya. Di sisi lain, gunung berdiri sebagai pengingat bahwa sebelum semua sistem keyakinan diberi nama, manusia sudah lebih dulu bernegosiasi dengan alam; meminta, b erjanji, dan menepati. Kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng mengajarkan bahwa doa tidak selalu berakhir pada kebahagiaan tanpa harga. Ada konsekuensi, ada persembahan, ada kehilangan yang harus diterima demi keseimbangan semesta.

Bagi masyarakat Tengger, hidup adalah menjaga harmoni. Upacara-upacara adat, sesaji, dan larangan-larangan bukan sekadar tradisi kosong, melainkan cara membaca alam. Gunung diperlakukan sebagai makhluk hidup, bukan objek wisata. Bromo adalah saksi atas janji lama yang tak boleh dilupakan. Karena itulah, sebelum manusia modern melangkah lebih jauh, berhenti di masjid terakhir ini terasa seperti jeda yang diwajibkan; entah disadari atau tidak.

Batas imajiner ini seolah menjadi pintu gerbang. Di belakangnya, dunia nyata dengan segala rutinitas, ambisi, dan kebisingannya. Di depannya, dunia Bromo; dunia simbolik tempat manusia diingatkan bahwa ia hanyalah bagian kecil dari tatanan besar. Kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng hidup di ruang antara ini, sebagai pengingat bahwa hubungan manusia dengan yang Ilahi dan dengan alam tidak pernah terpisah sepenuhnya. Keduanya saling bersinggungan, seperti dua sisi kabut yang sama.

Sholat Subuh di titik ini juga menjadi bentuk penyelarasan batin. Dalam kepercayaan lokal, sebelum mendaki, manusia harus bersih; tidak hanya tubuh, tetapi juga niat. Gunung tidak menerima langkah yang sombong. Ia hanya membuka diri bagi mereka yang datang dengan rendah hati. Dalam legenda Tengger, keteguhan dan kesabaran menjadi kunci. Dalam doa Subuh, nilai yang sama dilafalkan dengan bahasa yang berbeda. Di sinilah perbedaan keyakinan bertemu pada esensi yang serupa.

Ketika adzan memudar dan langit mulai berwarna abu-abu, pendakian pun dimulai. Setiap langkah seolah menapaki jejak lama; jejak janji, pengorbanan, dan kepercayaan yang diwariskan lintas generasi. Bromo tidak meminta untuk disembah, tetapi untuk dihormati. Ia tidak menuntut ketundukan, tetapi kesadaran. Seperti kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng, gunung ini mengajarkan bahwa hidup adalah tentang menepati janji pada yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Di ambang ini, manusia belajar bahwa perbedaan bukanlah jurang. Masjid dan kepercayaan Tengger berdiri saling berhadapan bukan sebagai lawan, melainkan sebagai penanda bahwa jalan menuju makna bisa beragam. Namun ketika kabut menutup pandangan dan langkah diarahkan ke atas, semua kembali pada satu kesadaran purba: manusia hanyalah tamu. Dan Bromo, dengan segala kisah dan kesunyiannya, adalah tuan rumah yang tak pernah lupa pada janji-janji lama.

Salam waras dari “Bromo”.

Editor : Chandra Faza