Waktu “Surup”

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Ingat pada waktu kecil dahulu, bila senja sudah tiba, warna langit berubah jingga yang biasa disebut dengan Candikolo, dan setelahnya temaram menuju gelap. Waktu seperti itu oleh orang Jawa disebut “Surup”. Dan. Jika waktu itu tiba Ibu pasti memanggil kami anak-anaknya guna memastikan apakah sudah masuk rumah. Selanjutnya beliau akan menutup pintu menyalakan “dimar” atau lampu teplok; yaitu lampu minyak tanah yang diberi sumbu dan diberi penutup kaca. Entah mengapa, sore itu saat menuju mushala dekat rumah, kenangan itu berkelebat dalam angan dan bayang. Sepulang dari menunaikan kewajiban shalat, tergerak untuk menelusuri makna surup itu dari kacamata filsafat manusia; yang sejatinya setiap kita akan mengalami waktu “surup-nya kehidupan”.

Di dunia ini, setiap peristiwa alam sesungguhnya menggambarkan hakikat kehidupan manusia. Tidak ada yang terjadi tanpa makna, dan tidak ada yang berjalan tanpa sebab. Di antara berbagai tanda yang dihadirkan Tuhan, waktu surup adalah salah satu simbol yang sarat makna. Surup bukan sekadar perubahan warna langit dari jingga menjadi gelap, melainkan lambang dari transisi, peralihan antara terang dan gelap, antara hidup dan mati, antara kesadaran dan keheningan. Di sinilah filsafat kehidupan menemukan cerminnya, sebab dalam waktu surup manusia belajar mengenali hakikat dirinya sebagai makhluk yang selalu berubah, yang tidak kekal, dan yang pada akhirnya akan melewati masa senja kehidupannya sendiri.

Ketika langit mulai menebar warna merah keemasan dan burung-burung pulang ke sarang, muncul suasana hening yang khas. Dunia seolah berhenti sejenak, menggantung di antara terang dan gelap. Keheningan itu memberi pesan bahwa segala sesuatu yang hidup akan mengalami perubahan. Tak ada yang abadi. Manusia yang dahulu muda dan kuat, lambat laun akan memasuki masa surup kehidupannya , saat tenaga berkurang, ketika suara hati lebih nyaring daripada suara ambisi. Dalam waktu seperti itu, manusia belajar menerima kenyataan bahwa satu-satunya hal yang tetap dalam hidup adalah perubahan itu sendiri.

Pandangan orang Jawa, surup tidak hanya berarti waktu secara fisik, tetapi juga waktu yang simbolis. Ia adalah momen ketika kekuatan alam berganti arah, ketika keseimbangan antara terang dan gelap terjadi sesaat. Suasananya lembut, udara terasa tenang, dan perasaan menjadi lebih peka. Bagi manusia yang waspada, surup adalah saat paling tepat untuk menyadari keberadaannya, untuk menengok ke dalam diri. Sebab ketika cahaya luar mulai redup, cahaya dari dalam hati seharusnya menyala agar tidak tersesat dalam gelap. Di sinilah makna filosofisnya tampak jelas: ketika dunia luar menjadi gelap, manusia harus menyalakan terang di dalam dirinya.

Manusia hidup di antara terang dan gelap. Dalam terang, ia berbuat, bekerja, dan mencipta. Dalam gelap, ia merenung, menahan diri, dan berserah. Surup adalah garis tipis di antara keduanya, tempat di mana manusia diajak untuk memandang dua sisi itu dengan bijak. Surup tidak memaksa manusia memilih antara terang atau gelap, tetapi mengajarkan keseimbangan ; bahwa keduanya adalah bagian yang sama penting dari kehidupan.

Pada akhirnya, setiap manusia akan mengalami waktu surup-nya sendiri-sendiri. Tak seorang pun bisa menghindar dari masa ketika cahaya hidupnya mulai redup, ketika semangat duniawi mulai digantikan oleh ketenangan jiwa. Namun di sini tidak ada kesedihan, sebab surup bukanlah akhir. Setelah gelap, akan datang terang baru. Surup hanyalah peralihan dari satu bentuk cahaya ke bentuk cahaya lainnya; dari cahaya kasar menuju cahaya halus, dari kehidupan fisik menuju kehidupan spiritual. Dalam pemahaman ini, surup adalah simbol kesadaran rohani, pengingat bahwa kematian bukanlah penutupan, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih dalam.

Saat menatap surup, langit seperti melukis suasana melankolis yang lembut namun dalam. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak ada cahaya menyilaukan, hanya ada warna-warna lembut yang menenangkan rasa. Dalam keadaan itu, manusia bisa merasakan bahwa segala yang ada di dunia ini hanyalah singgah. Perasaan ini bukan untuk menimbulkan kesedihan, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran bahwa hidup harus dijalani dengan makna. Setiap terang akan berakhir, maka setiap masa terang harus dijalani dengan penuh arti. Surup tidak untuk ditakuti, tetapi untuk diterima sebagai pengingat bahwa tidak ada yang abadi, dan hanya kesadaran yang mampu menembus kegelapan.

Manusia yang telah melalui berbagai fase kehidupan akan lebih memahami makna surup. Saat muda, surup tampak seperti waktu yang biasa saja, hanya pertanda malam akan tiba. Namun ketika usia menua, surup menjadi simbol masa senja kehidupan, yaitu: saat seseorang lebih banyak mengingat daripada berharap. Di sini filsafat bertemu dengan rasa: kesadaran akan datangnya senja membuat manusia lebih lembut, lebih dalam, lebih dekat pada hakikat dirinya. Surup mengajarkan bahwa umur seperti perjalanan matahari; ada pagi, siang, dan senja. Tak ada yang lebih penting, sebab semuanya memiliki peran dalam kesempurnaan hidup.

Maka, waktu surup lebih dari sekadar perubahan warna langit. Ia adalah kitab filsafat yang ditulis oleh alam, yang dapat dibaca oleh siapa pun yang mau berhenti sejenak dan menatapnya dengan hati. Setiap sinar jingga yang menyatu dengan gelap memberi pelajaran bahwa hidup tidak harus selalu terang, tetapi harus jujur dalam menerima setiap perubahannya. Manusia yang memahami makna surup akan hidup lebih tenang, lebih sadar, dan lebih siap ketika masa surup-nya sendiri tiba.

Setiap waktu surup yang tampak di langit sejatinya adalah panggilan agar manusia mengingat kehidupan dirinya sendiri. Surup bukan hanya milik langit, tetapi juga ada di dalam hati setiap manusia. Setiap kali manusia mengalami kehilangan, perpisahan, atau kesedihan, ia sebenarnya sedang mengalami surup batinnya. Namun dari sana akan tumbuh cahaya baru yaitu, cahaya yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih sejati. Surup bukan akhir, melainkan awal dari kebijaksanaan yang abadi.  Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

“Nggampangke”

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Komunitas tenaga pengajar di lantai lima tempat penulis berkantor saat tiba waktu sholat selalu mendirikan sholat berjamaah. Siang itu sebelum dhuhur ada diskusi kecil diantara jamaah yang menengarai saat ini munculnya sikap “nggampangke” di semua lapisan masyarakat, dari pejabat sampai rakyat; tidak terkecuali juga mahasiswa. Beliau yang berlatar belakang budaya Jawa sangat gamblang menjelaskan ini. Selesai sholat justru diksi itu mengganggu pikiran untuk ditelusuri makna hakikinya; sebab fenomena itu ternyata banyak terjadi di tengah masyarakat, tidak terkecuali para petinggi negeri ini.

Dalam bahasa Jawa, “nggampangke” berarti menganggap sesuatu mudah, atau memudahkan semua hal, seolah semua bisa diselesaikan tanpa usaha mendalam, tanpa refleksi, tanpa proses yang sungguh-sungguh. Sikap ini sekilas tampak positif, seolah-olah penuh rasa optimis, tidak mau ribet, dan selalu mencari jalan cepat. Namun di balik kesan ringan itu, tersembunyi krisis yang lebih dalam: hilangnya kesadaran terhadap nilai proses, tanggung jawab, dan makna mendalam dari tindakan manusia.

Fenomena “nggampangke” ini menjadi cerminan cara berpikir manusia kontemporer yang hidup di tengah budaya instan. Segala sesuatu dituntut serba cepat, efisien, dan praktis. Masyarakat tidak lagi menghargai waktu yang dibutuhkan untuk memahami, meneliti, atau merenungi sesuatu secara utuh. Ketika setiap hal bisa diakses hanya dengan sentuhan jari, manusia pun mulai kehilangan kesabaran terhadap proses yang memerlukan ketekunan. Sikap “nggampangke” menjadi kebiasaan yang membentuk cara pandang baru: bahwa segala hal bisa diselesaikan dengan cepat, tanpa kedalaman. Inilah wajah baru dari krisis kesadaran manusia modern.

Pandangan filsafat kontemporer, sikap “nggampangke” dapat dipahami sebagai gejala kehilangan keterhubungan manusia dengan realitas yang sejati. Manusia kini lebih sibuk mengejar hasil dibanding memahami makna dari apa yang dikerjakan. Segalanya direduksi menjadi fungsi, efisiensi, dan manfaat jangka pendek. Akibatnya, tindakan manusia menjadi dangkal. Nilai pengetahuan direduksi menjadi informasi, nilai moral direduksi menjadi opini, dan nilai karya direduksi menjadi konten. Ketika manusia hanya melihat permukaan, ia berhenti berelasi dengan kedalaman hidup. Ia hidup di ruang datar yang penuh kesibukan, namun kosong dari refleksi.

Sikap “nggampangke” lahir dari rasa puas yang prematur. Ia menolak kompleksitas dan cenderung menghindari kesulitan. Dalam masyarakat yang dibanjiri kemudahan digital, manusia semakin terbiasa untuk mendapatkan segalanya secara instan. Belajar bisa dari potongan video singkat, bekerja cukup dengan aplikasi, bahkan berpikir pun sering digantikan oleh mesin pencarian. Semua tampak mudah, hingga akhirnya manusia tidak lagi terbiasa menghadapi tantangan yang memerlukan ketekunan. Ketika muncul masalah yang menuntut keseriusan, sikap yang lahir bukan semangat untuk memahami, melainkan keinginan untuk segera melepas atau menunda. Maka, “gampangke” menjadi jalan pintas menuju kemalasan intelektual dan emosional.

Filsafat kontemporer mengajarkan bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang harus terus berproses. Makna hidup tidak terletak pada hasil akhir, melainkan pada keterlibatan yang mendalam dalam setiap proses. Namun, budaya “nggampangke” justru mengikis kesadaran ini. Proses dianggap membuang waktu, refleksi dianggap tidak produktif, dan kesulitan dianggap hambatan yang harus dihindari. Padahal, tanpa melalui kesulitan, manusia tidak mungkin tumbuh secara autentik. Ketika semua dianggap mudah, manusia berhenti menjadi pembelajar. Ia hanya menjadi penikmat hasil, bukan pencipta makna.

Sikap “nggampangke” bukan hanya masalah pribadi, tetapi juga gejala sosial. Ia menciptakan budaya kolektif yang rapuh. Dalam masyarakat yang terbiasa dengan kemudahan, daya tahan terhadap tekanan menjadi lemah. Ketika krisis datang, baik ekonomi, sosial, maupun spiritual; masyarakat semacam ini mudah panik dan kehilangan arah. Mereka tidak terbiasa berpikir mendalam, sehingga tidak mampu membangun solusi yang berkelanjutan. Semua hal diselesaikan dengan tambal sulam, tanpa akar yang kuat. Akibatnya, masalah yang sama terus berulang, hanya berganti bentuk.

Sikap “nggampangke” juga menunjukkan krisis makna kerja dan usaha. Dalam budaya tradisional Jawa, kerja memiliki dimensi spiritual dan moral: kerja adalah laku, bagian dari perjalanan batin menuju kesempurnaan hidup. Namun dalam budaya kontemporer yang serba cepat, kerja direduksi menjadi alat mencapai hasil instan. Ketika sesuatu tidak segera membuahkan hasil, ia ditinggalkan. Nilai kesabaran dan ketekunan pun luntur. Di sini, “nggampangke” tidak hanya menjadi sikap praktis, tetapi juga bentuk pengingkaran terhadap nilai luhur kerja sebagai jalan pembentukan diri.

Pada akhirnya, “nggampangke” bukan hanya kata, tetapi cermin dari cara berpikir. Ia menunjukkan bagaimana manusia modern memandang dirinya dan dunianya. Apabila kita terus memelihara sikap ini, kita berisiko menjadi generasi yang kehilangan kedalaman berpikir dan kepekaan moral. Sebaliknya, bila kita mampu mengubahnya menjadi kesadaran baru; kesadaran bahwa setiap hal bernilai karena prosesnya, maka kita sedang menata kembali relasi kita dengan kehidupan.

Di tengah dunia yang serba cepat, mungkin justru yang paling revolusioner adalah keberanian untuk berjalan secara perlahan. Untuk tidak tergoda menganggap segala hal mudah, untuk tidak menertawakan kesulitan, dan untuk tetap menghormati perjalanan panjang menuju pemahaman sejati. Dalam kesadaran itu, manusia kembali menjadi subjek yang utuh: yang berpikir, merasakan, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, melampaui “nggampangke” bukan hanya soal mengubah perilaku, tetapi juga soal memulihkan kemanusiaan kita di tengah dunia yang nyaris kehilangan jiwa. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Senja Yang Tak Pernah Selesai

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Hari itu pulang dari mengantarkan “Pulang” kerabat, keharibaan Illahi. Tiga mingu berturut-turut mendapatkan “kehormatan” untuk mengantar pulang dari kerabat. Dan, senja menjelang malam menjadikan diri untuk berkontemplasi, merenung dan mengevaluasi diri atas semua yang terjadi. Senja adalah momen ketika waktu menunjukkan wajahnya yang paling jujur: bukan janji tentang masa depan, melainkan kesadaran akan yang telah dan tak akan kembali. Di usia senja, tubuh masih ada, nafas masih berembus, detak jantung masih berlanjut, tetapi ada sesuatu yang mulai hening. Hening bukan karena ketiadaan suara, tetapi karena suara-suara itu tak lagi bermakna sebagaimana dulu.

Hari-hari menjadi ritus yang berulang: membuka mata bukan karena mimpi, tetapi karena rutinitas yang menolak berhenti. Segala yang dilakukan tak lagi bertujuan, melainkan hanya untuk menjaga agar tidak seluruhnya diam. Bukan karena malas bergerak, tetapi karena gerak kini tak membawa kemana-mana. Apa yang dulu disebut sebagai tujuan hidup perlahan kehilangan daya. Yang dahulu menjadi cita-cita, kini hanya menjadi bagian dari sejarah internal yang tak lagi relevan dengan realitas hari ini. Di situlah senja dimulai; bukan pada pukul lima sore, tapi pada saat kesadaran tentang keterbatasan hadir sepenuhnya.

Filsafat kontemporer tidak menawarkan utopia. Tetapi hanya mempersilakan manusia berdiri tegak di hadapan absurditas, lalu bertanya: “Apakah engkau masih bersedia hidup walau tahu semuanya akan berakhir, dan bahkan mungkin tanpa alasan yang bisa kamu terima?” Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, namun ia mengguncang dasar dari apa yang selama ini dijadikan sandaran. Ketika dunia tidak lagi memberi validasi, dan hidup tak lagi menawarkan kemajuan, maka satu-satunya yang tersisa adalah kesadaran vulgar: “aku masih hidup, dan itu saja”.

Ada kehormatan dalam menerima kekosongan tanpa lari dari kenyataan. Tidak mencari pelarian ke masa lalu, tidak memaksa diri untuk membuat makna baru yang artifisial, tidak mencoba menyembuhkan luka dengan harapan palsu. Filsafat kontemporer mengajarkan bahwa yang absurd bukan untuk ditolak, tapi untuk dihidupi, bahkan dinikmati. Hidup bukan tentang mengisi kekosongan, tetapi merengkuhnya, memeluknya seperti udara: tak terlihat, namun menyusun setiap tarikan nafas. Maka kesendirian bukan kelemahan, tetapi cara keberadaan berelasi dengan dirinya sendiri secara paling murni.

Di senja yang tak pernah selesai, waktu menjadi cair. Masa lalu dan masa kini bercampur dalam ruang kesadaran yang tidak lagi peduli pada kronologi. Suatu aroma, bayangan cahaya, atau bahkan diam bisa membangkitkan sesuatu yang sudah puluhan tahun terpendam. Namun semua itu tidak lagi membawa rasa manis; yang tersisa hanyalah kepahitan nostalgia yang tak bisa diulang. Saat itulah muncul satu pemahaman penting: bahwa segala sesuatu yang indah tak ditakdirkan untuk dimiliki selamanya. Sama halnya sesuatu yang pahit juga ditakdirkan untuk tidak dinikmati sepanjang masa.

Filsafat kontemporer menolak gagasan tentang kebahagiaan sebagai tujuan akhir. Ia lebih condong pada kesadaran akan keberadaan sebagai proses terbuka, tanpa jaminan akhir yang menggembirakan. Dalam kerangka ini, usia senja adalah laboratorium paling jujur bagi kehidupan manusia. Di dalamnya, tidak ada lagi ruang untuk ilusi. Yang ada hanyalah tubuh yang menua, pikiran yang semakin selektif, dan dunia yang terus berubah tanpa menunggu siapa pun. Maka pertanyaannya bukan lagi “apa yang akan kudapatkan?”, melainkan “bekal apa yang aku persiapkan untuk pulang ?”

Menghadapi senja yang tak pernah selesai berarti menghadapi hari-hari yang terasa serupa tetapi tidak sama. Tidak ada perayaan, tidak ada gebrakan. Yang ada hanyalah keheningan. Tapi justru dalam keheningan itu, ada ruang untuk mendengar suara-suara terdalam. Suara yang selama ini tenggelam oleh hiruk pikuk dunia: suara keraguan, suara penyesalan, suara penerimaan. Semua itu muncul seperti kabut: samar, namun tak bisa diabaikan. Di sanalah proses pembersihan batin berlangsung. Bukan pembersihan moralistik, melainkan pembersihan dari segala lapisan yang tidak perlu, hingga hanya tersisa inti: keberadaan itu sendiri.

Senja adalah masa di mana manusia tak lagi menjadi pusat. Manusia belajar menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar: waktu, alam, semesta. Manusia tidak lagi mencoba mengendalikan, hanya berusaha memahami. Dan dalam pemahaman itu, ada kebebasan. Kebebasan yang tidak datang dari pilihan, tetapi dari penerimaan total. Bukan pasrah, melainkan sadar. Bahwa yang terjadi memang harus terjadi, dan yang hilang memang tak bisa lagi kembali. Maka, keterbukaan terhadap kenyataan menjadi bentuk tertinggi dari kebijaksanaan.

Tidak ada romantisme dalam kesendirian senja, tetapi di sana ada kejujuran. Kejujuran bahwa hidup tidak selalu tentang meraih, kadang hanya tentang bertahan. Tidak untuk tujuan besar, tetapi karena ada kesadaran kecil bahwa keberadaan itu sendiri cukup. Bahwa menjadi ada, meski dalam keheningan, dalam keriput, dalam lambatnya langkah; adalah bentuk kemenangan atas kehampaan mutlak. Dan kemenangan itu tidak perlu sorak-sorai, cukup dengan satu tarikan napas yang disyukuri.

Dan jika suatu hari, tubuh tak lagi kuat berjalan, jika suara tak lagi sanggup diperdengarkan, jika dunia akhirnya melupakan: tidak apa-apa. Karena keberadaan telah dituliskan, bukan di lembar sejarah atau batu nisan, tapi di ruang paling sunyi dalam kesadaran: ruang yang pernah memilih untuk hidup, sekalipun dalam sepi. Kontemplasi ini akan terus berjalan dan berulang “senja demi senja” sampai Tuhan memanggil pulang. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Identitas Membedakan Entitas

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Beberapa hari ini dunia maya dihebohkan dengan polemik menghormati seseorang, apa pun jabatan dan statusnya, dengan cara tertentu, dianggap berlebihan. Dengan salah satu alasannya adalah “sama-sama manusia”. Bahkan ada yang menganggap itu bentuk eksploitasi. Di sisi lain mereka yang melakukan penghormatan dengan cara itu dianggap biasa-biasa saja, dan wajar, karena dengan parameter tertentu yang diyakini. Bahkan ada seorang tokoh agama yang mengatakan: berlian, veros, bacan, dan kerikil sama-sama batu. Meskipun sama-sama batu, masing-masing perbedaannya sangat mencolok. Jika ada yang ingin menyamakan, maka yang bersangkutan patut diduga untuk diperiksa kesehatan jiwanya.

Tulisan ini tidak ingin memperkeruh semua itu, namun mencoba melihat dari perspektif lain; sehingga diharapkan menjadi bahan renungan.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia hidup berdampingan dengan ribuan bentuk entitas yang secara kasat mata tampak mirip, bahkan kerap disebut sama. Namun, kesamaan pada tataran istilah tidak serta-merta menghadirkan kesamaan dalam makna, nilai, atau fungsi. Kalimat yang menyebutkan bahwa berlian, veros, bacan, dan kerikil sama-sama batu ampaknya hanya menyatakan fakta sederhana tentang kategori material, yakni bahwa keempatnya tergolong batuan. Namun ketika pernyataan itu ditutup dengan, “jika ada yang mengatakan sama, maka orang itu perlu masuk rumah sakit jiwa,” kita diarahkan untuk berpikir ulang: apakah benar semua yang disebut “batu” itu memang sama? Atau justru di sinilah letak kekeliruan berpikir yang menggiring pada penyamaan identitas secara serampangan?

Filsafat kontemporer mengajarkan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang melekat hanya pada bentuk fisik atau komposisi material, melainkan pada posisi, relasi, nilai, dan makna yang muncul dari bagaimana entitas tersebut hadir dalam konteks tertentu. Berlian, bacan, veros, dan kerikil memang semuanya batu, tetapi tidak satu pun dari mereka memiliki identitas yang identik satu sama lain. Menyamakan keempatnya hanya karena kategori “batu” adalah bentuk reduksionisme konseptual yang mengabaikan dimensi nilai, sejarah, simbolisme, serta peran sosial yang melekat pada masing-masing.

Dalam pendekatan filsafat kontemporer, entitas tidak dipahami secara esensialis, melainkan melalui konstruksi sosial, linguistik, historis, dan relasional. Artinya, suatu benda atau konsep tidak memiliki makna tetap, tetapi memperoleh identitasnya dalam interaksinya dengan subjek, ruang, dan waktu. Maka dari itu, istilah “batu” tidak cukup menjelaskan apapun kecuali bahwa benda itu berasal dari mineral dan bersifat keras. Namun begitu ia dinamai “berlian” atau “kerikil”, ia masuk ke dalam jejaring makna yang sama sekali berbeda, bahkan bertolak belakang. Inilah mengapa identitas adalah mekanisme yang membedakan entitas, karena ia lahir dari konteks, bukan hanya dari zat.

Dalam konteks aksiologi, menyamakan semua batu justru berarti menghapus perbedaan nilai yang melekat pada masing-masing. Ini sama saja dengan menyamakan harga berlian dan kerikil hanya karena mereka berasal dari golongan benda yang sama. Padahal, dalam sistem kehidupan manusia, ekonomi, budaya, bahkan emosional; nilai tidak ditentukan oleh kategori fisik, melainkan oleh pemaknaan sosial dan historis. Berlian bisa menjadi pusaka keluarga, lambang cinta dalam pernikahan, atau aset bernilai tinggi. Kerikil, meski bisa menyusun jalan setapak, tidak akan pernah menempati posisi simbolik seperti itu. Ketika perbedaan nilai diabaikan, manusia kehilangan sensitivitas terhadap kompleksitas realitas.

Filsafat kontemporer juga mengingatkan bahwa keseragaman atau penyamaan makna yang terburu-buru bisa menjadi bentuk kekuasaan atau pengabaian terhadap keberagaman. Bahasa dan konsep bisa digunakan untuk menindas, untuk menyamakan demi efisiensi, atau untuk menyingkirkan hal-hal yang tak sesuai dengan arus dominan. Maka ketika seseorang berkata “semua batu itu sama,” kita tidak hanya sedang melihat kesalahan kategori, tetapi potensi bahaya dari generalisasi yang mematikan keunikan. Dunia tidak dibangun dari kesamaan, melainkan dari perbedaan yang dikenali dan dihargai.

Lalu bagaimana dengan pernyataan bahwa orang yang menyamakan semuanya “perlu masuk rumah sakit jiwa”? Secara literal, tentu ini hiperbola. Namun secara filosofis, pernyataan itu bisa dibaca sebagai kritik terhadap cara berpikir simplistik yang gagal menangkap perbedaan makna. Dalam dunia yang serba kompleks, kemampuan membedakan dan mengapresiasi perbedaan adalah bentuk kewarasan kognitif. Sebaliknya, penyamaan secara serampangan bisa menunjukkan ketumpulannya daya pikir, bahkan nihilisme makna. Maka “gila” di sini bukan berarti gangguan jiwa secara medis, melainkan ketidakwarasan berpikir yang menolak kompleksitas dan memperlakukan dunia secara datar.

Dengan demikian, penyamaan semua batu bukan hanya kekeliruan semantik, tetapi pengkhianatan terhadap keragaman makna. Dunia bukan hanya terdiri dari benda-benda, tetapi juga dari cerita, simbol, sejarah, dan relasi kuasa yang melekat pada setiap benda itu. Berlian tidak bisa dimaknai sama dengan veros, karena mereka hidup dalam semesta makna yang berlainan. Identitas membedakan entitas justru karena entitas hanya menjadi berarti ketika identitasnya dikenali dan dihargai.

Kita hidup di zaman di mana segala sesuatu bisa dikategorikan dan dikelompokkan dengan cepat, dari data hingga manusia. Namun di balik kemudahan itu tersembunyi risiko besar: kehilangan makna dalam penyederhanaan. Maka, mempertahankan pandangan bahwa identitas itu penting, dan bahwa entitas berbeda satu sama lain, bukan sekadar pilihan akademik; melainkan sikap eksistensial terhadap kehidupan itu sendiri. Kita tidak bisa memahami dunia jika kita enggan membedakan.

Pada akhirnya, pernyataan bahwa semua batu itu sama hanyalah kebenaran permukaan yang tidak mampu menembus kedalaman realitas. Ia mengabaikan sejarah, konteks, nilai, dan simbol yang membentuk identitas masing-masing entitas. Dalam terang filsafat kontemporer, tugas berpikir bukan untuk menyamaratakan segalanya, tetapi untuk mengakui dan memahami keragaman yang tersembunyi di balik kesamaan yang tampak. Sebab identitas bukan sekadar nama, tetapi cara suatu entitas hadir dan dimaknai di dalam dunia. Dan karena itu, identitaslah yang membedakan entitas; bukan zatnya, bukan bentuknya, tetapi kisah, relasi, dan nilai yang menghidupinya.

Oleh karena itu, kita tidak bisa menyamakan persepsi sepenuhnya atas dasar dugaan kita; sebab di sana masih ada sudut pandang, dan cara pandang yang berbeda. Secara bijak kita harus menghormati perbedaan itu, dengan tidak memaksakan pandangan kita kepada pandangan yang berbeda. Apalagi sampai menghakimi berdasarkan kebenaran kita. (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Ular Serasa Belut

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Salah seorang petinggi di kabinet ini memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengoperasionalkan “mesin” kekuasaannya. Selama ini pejabat tinggi sering menampilkan jaga image, sedikit wibawa, muka ditarik jika harus rapat dengan siapapun. Tokoh satu ini, yang pekerjaannya memegang kas negara; tampilannya ceplas-ceplos tanpa beban. Bahkan tidak jarang harus menentang arus, dan tidak betah ada di zona nyaman. Akibatnya, tentu saja banyak para petinggi yang merasa “kebakaran tikar”. Sampai-sampai berkeluh kesah dengan lembaga legeslatif, seolah minta dukungan atau pertolongan. Mereka lupa bahwa petinggi yang satu ini tidak berpartai, bukan juga simpatisan. Kepercayaannya hanya tegak lurus kepada presiden. Alhasil semua kelakuan lama yang sebenarnya ular, tampaknya belut; menjadi sangat terbuka, bahkan telanjang.

Selama ini rakyatnya sering disuguhi pertunjukan akrobatik yang luar biasa dari para pemimpinnya. Mereka yang duduk di kursi kekuasaan tampaknya telah lama memahami satu hal: bahwa narasi bisa lebih penting daripada kenyataan. Di atas panggung pidato, dalam suara yang dilatih agar terdengar tegas dan penuh harapan, mereka bisa mengubah apa pun. Bahkan kegagalan pun bisa disulap menjadi keberhasilan. Inilah seni menjual fatamorgana; seni yang hanya dimiliki oleh para pemimpin yang pandai membungkus ular agar tampak seperti belut. Licin, mengkilap, menggeliat, tapi mematuk dalam diam. Begitu berhadapan dengan “Sang Coy Boy” yang begitu refelksnya mencabut pistol untuk menembak; maka, banyak para ular tadi harus mengakui kekalahannya.

Setiap proyek gagal bisa dicat ulang menjadi keberhasilan lewat angka-angka yang dibengkokkan, grafik yang disunat, atau testimoni yang disusun rapi oleh tim komunikasi. Kegagalan distribusi pangan diubah menjadi keberhasilan stabilitas harga dengan membandingkan angka pada bulan berbeda. Gagalnya pembangunan infrastruktur vital dipoles menjadi simbol kebangkitan nasional, dengan mengabaikan fakta bahwa jembatan yang dibangun ambruk sebelum sempat digunakan. Keterlambatan proyek dianggap bagian dari strategi adaptif. Pembengkakan anggaran bukanlah bentuk pemborosan, tetapi “fleksibilitas fiskal”. Semua istilah disulap demi menjaga wajah pemimpin tetap bersinar, seolah ia adalah nahkoda yang membawa kapal menuju pelabuhan kejayaan, padahal kapal sudah bocor dari lambung dan perlahan tenggelam. Dan. Itu semua sekarang perlahan tapi pasti, semua terkuak kepermukaan karena ulah sang pemimpin coy boy.

Ironisnya, banyak orang akhirnya terbiasa. Ketika kebohongan diulang terus-menerus, ia mulai terdengar seperti kebenaran. Rakyat mulai menerima bahwa pemimpin yang baik bukanlah yang membuat hidup mereka lebih baik, tapi yang paling pandai menjelaskan kenapa hidup mereka tetap susah. Mereka terbuai dengan bahasa-bahasa motivasi yang dikutip dari tokoh luar negeri, diselipkan dalam pidato yang ditulis oleh tim kreatif, dibacakan dengan penuh emosi seolah berasal dari hati, padahal sekadar naskah latihan. Ini bukan lagi soal kejujuran atau integritas, melainkan soal penampilan. Semua ini sekarang terbongkar, membuat para ular yang menjelma menjadi belut kepanasan.

Pemimpin yang baik semestinya bukan yang paling banyak, bahkan lihay berbicara; tetapi mereka yang paling berani bertanggung jawab. Bukan yang menyalahkan masa lalu, tapi yang mampu memperbaiki masa kini. Bukan yang membungkus kegagalan, tapi yang jujur mengakuinya dan belajar darinya. Tapi di negeri ini, yang sering naik ke panggung adalah mereka yang bisa menjilat langit dengan kata-kata manis, sambil menutupi luka rakyat yang belum sempat diobati. Mereka yang membuat kemiskinan tampak seperti pilihan hidup. Mereka yang menyulap harga kebutuhan pokok yang melambung sebagai bukti pertumbuhan konsumsi. Mereka yang menjual mimpi tentang kemajuan sambil mengabaikan realitas keterpurukan. Begitu datang “elang” yang garang; mereka kepanasan, bahkan saat rapat kabinet-pun mereka menghindar untuk berbicara dengan sang elang.

Di tengah situasi seperti ini, harapan seolah menjadi barang mewah. Tapi harapan tidak boleh hilang. Karena suatu saat, masyarakat akan jenuh dengan sandiwara. Mereka akan bangkit dari hipnotis narasi dan mulai melihat bahwa selama ini mereka hanya disuguhi ilusi. Saat itulah, semua kepura-puraan akan runtuh. Pemimpin yang hanya bisa mengarang keberhasilan akan dihadapkan pada fakta bahwa ia tidak pernah benar-benar memimpin, hanya bercerita. Dan rakyat, yang selama ini dibohongi, akan menuntut jawaban yang tidak bisa lagi dijawab dengan pidato indah atau grafik manipulatif. Dan, saatnya sekarang tiba; seorang pemimpin bertipe elang, yang siap melayang memangsa mereka-mereka yang tidak mampu memimpin negeri ini. Walaupun harus berputar di awan yang penuh ranjau, namun pemimpin model ini sudah siap akan resiko jabatan apapun bentuknya. Selamat berjuang orang baik, untuk negeri yang sedang tidak baik-baik. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Menolak, Tetapi Mengikuti

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Seorang mahasiswa pascasarjana pagi itu menghadap untuk berkonsultasi tugas akhir; disela-sela pembicaraan; yang bersangkutan mendeskripsikan karakter salah seorang respondennya yang kebetulan pejabat tinggi di daerah penelitiannya. Mahasiwa tadi mengungkapkan bahwa responden ini memiliki ciri khas; siapapun pimpinan daerahnya selalu terpakai, dalam arti tetap memiliki jabatan; walaupun sejatinya yang bersangkutan tidak satu prinsip dengan kepala daerah, jika diskusi dilakukan secara informal.

Penulis mengatakan bahwa responden itu selalu bermain aman dengan prinsip “menolak, tetapi mengikuti”. Menolak jika diajak untuk melakukan pelanggaran etika kepemerintahan, namun mengikuti aturan jika menjalan kebijakkan. Akhirnya diskusi lanjut tentang diksi ini berkepanjangan. Dan, jika diringkas diskusi tadi sebagai berikut:

Dalam lanskap kehidupan kontemporer yang serba kompleks, tidak ada lagi garis pemisah yang tegas antara yang melawan dan yang patuh. Dunia tak lagi bisa dibaca melalui narasi oposisi biner: antara hitam dan putih, antara pelaku dan korban, antara penolak dan pengikut. Justru di antara ambiguitas dan ketegangan itulah muncul satu bentuk posisi eksistensial yang semakin relevan: menolak tetapi mengikuti. Ini adalah posisi yang tampaknya paradoksal, namun justru menjadi cermin dari realitas manusia kontemporer yang hidup di bawah tekanan sistem yang kuat namun tak terhindarkan. Menolak tetapi mengikuti adalah sikap yang tidak dapat disederhanakan sebagai bentuk kemunafikan, melainkan sebagai strategi bertahan, ekspresi kesadaran, dan bahkan bentuk perlawanan dalam logika dunia yang telah sedemikian terjebak dalam reproduksi kekuasaan.

Menolak biasanya dipahami sebagai tindakan aktif memutus hubungan dengan suatu sistem atau struktur. Sementara mengikuti berarti menerima, tunduk, atau berjalan sesuai alur sistem tersebut. Maka ketika seseorang memilih untuk menolak tetapi tetap mengikuti, ia seolah sedang berdiri dalam kontradiksi. Namun, jika ditelisik lebih dalam, justru dalam kontradiksi itu ada kejujuran yang lebih tinggi: bahwa tidak semua bentuk penolakan bisa diwujudkan dalam aksi yang terlepas dari sistem; dan bahwa mengikuti tidak selalu berarti menyetujui secara utuh. Dalam hal ini, penolakan tidak dilakukan dengan cara konfrontatif, melainkan lewat kesadaran kritis yang tetap memilih untuk berjalan dalam sistem yang sedang ditolak, bukan karena tunduk, tetapi karena menyadari keterbatasan ruang gerak dalam realitas yang tersedia.

Harus diakui bahwa kita hidup dalam dunia yang dikendalikan oleh sistem-sistem besar: ekonomi global, negara-bangsa, media sosial, algoritma, budaya konsumsi, birokrasi pendidikan, dan norma-norma sosial yang tertanam dalam institusi dan bahasa. Menolak total terhadap semua itu bukan hanya sulit, tapi hampir mustahil tanpa menarik diri secara ekstrem dari kehidupan sosial. Maka, banyak orang justru memilih untuk tetap berada dalam sistem; ikut bekerja, ikut belajar, ikut bersosialisasi, ikut berkomunikasi dengan cara-cara yang telah ditentukan, tetapi dengan membawa penolakan di dalam diri mereka. Penolakan itu mungkin tidak tampak secara kasat mata, tidak diumumkan secara lantang, tetapi ia hadir dalam bentuk sikap batin, dalam pilihan-pilihan kecil, dalam ironi, dalam jeda, dalam modifikasi yang halus terhadap aturan.

Sikap ini sepintas kilas bisa dimaknai sebagai bentuk kekalahan, tapi justru sebaliknya. Ia adalah kemenangan kecil yang terus diperjuangkan setiap hari: kemenangan dalam menjaga kesadaran, dalam menolak tunduk secara total, dalam mempertahankan ruang otonomi batin di tengah tekanan homogenisasi. Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang yang menolak tetapi mengikuti bisa saja tampak biasa-biasa saja. Mereka tidak memimpin demonstrasi, tidak menulis manifesto, tidak tampil sebagai simbol perlawanan. Tapi mereka menyimpan kritik, menyuarakan ketidakterimaan dalam forum-forum kecil, menulis dengan gaya yang menyimpang, berbicara dengan sindiran, atau sekadar menolak menjadi antusias ketika diminta ikut menyanyikan lagu pujian terhadap sistem.

Pada titik ini, menolak tetapi mengikuti bukanlah bentuk kompromi, melainkan bentuk kesadaran akan medan perjuangan yang tidak ideal. Ini adalah cara untuk tetap hidup, tetap bertahan, sambil tetap mengatakan “tidak”; meskipun tidak dengan suara keras, melainkan dengan cara berjalan yang miring, dengan langkah yang tidak seirama, dengan tindakan-tindakan kecil yang disengaja untuk menggoyang rutinitas. Menolak tetapi mengikuti menjadi bentuk etika yang tidak memaksakan kepahlawanan, tetapi menempatkan tanggung jawab pada level paling konkret dari kehidupan: bagaimana seseorang bekerja, berpikir, berinteraksi, dan mengelola posisinya dalam struktur sosial yang besar.

Sikap ini juga membuka jalan bagi pemahaman baru tentang makna keberanian. Keberanian tidak lagi hanya diukur dari kemampuan untuk melawan secara terbuka, tetapi juga dari kemampuan untuk menahan diri, tetap bertahan, dan tetap menyimpan penolakan dalam dunia yang menuntut persetujuan terus-menerus. Menolak tetapi mengikuti membutuhkan keberanian untuk tetap waras dalam sistem yang gila, untuk tetap jujur dalam struktur yang penuh kepalsuan, dan untuk tetap sadar dalam dunia yang dibanjiri distraksi. Ini adalah keberanian yang tidak mencari sorotan, tapi justru menemukan kekuatannya dalam ketenangan, dalam pengamatan, dalam konsistensi sikap yang diam-diam tapi tegas.

Dan, mungkin di sanalah letak kekuatan sebenarnya: bukan dalam penolakan yang lantang, tetapi dalam kemampuan untuk tetap menyimpan “tidak” dalam diam, untuk tetap bertahan tanpa kehilangan integritas, untuk tetap mengikuti tanpa menjadi alat. Di tengah dunia yang memaksa kita memilih antara dua kutub yang ekstrem, sikap ini menawarkan jalan ketiga, yaitu jalan yang tidak nyaman, tidak populer, tapi justru penuh potensi untuk mengubah dari dalam. Sebuah jalan di mana kita bisa menolak, bahkan ketika sedang mengikuti. Dan mungkin, justru di sanalah perubahan perlahan bisa dimulai. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Membenarkan yang Salah

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Baru-baru masyarakat Indonesia dihebohkan peristiwa seorang ibu melaporkan kepala sekolah tempat anaknya belajar ke kepolisian karena tidak terima anaknya ditampar kepala sekolah. Si anak ditampar karena merokok di sekolah. Soal itu, semuanya sudah diatur. Termasuk jika ada siswa yang merokok di sekitar sekolah.

Gubernur dan wakil gubernurnya paham undang-undang ternyata langsung tancap gas menonatifkan kepala sekolah. Setelah “dirujak” netizen mereka baru sadar kalau selama ini mereka tidak sadar. Menjadi seru lagi ada sebagian netizen yang tak paham hakikat pendidikan memberikan dukungan, dengan alasan agar guru tidak semena-mena.

Penulis menunggu ahli pendidikan di daerah ini untuk berbagi ilmunya guna menanggapi peristiwa itu. Sayangnya sampai tulisan ini dibuat, dan peristiwanya berakhir; tak satu pun ahli di daerah ini yang mau berbagi. Bisa jadi beliau-beliau menganggap peritiwa ini tidak penting, atau ada kesibukan lain yang jauh lebih penting. Untuk itu penulis mencoba sedikit berbagi menyikapi peristiwa tadi dari sudut pandang filsafat manusia.

Beberapa tahun lalu saat menjadi saksi ahli yang meringankan terdakwa, dengan pokok perkara salah seorang guru di salah satu kabupaten di daerah ini dituduh orang tua murid telah mencubit anaknya dalam proses pembelajaran.

Saat sidang penulis “terpaksa” memberikan kuliah umum di hadapan majelis hakin menggunakan teori hukuman oleh filosof sekaligus ahli pendidikan, bernama Martinus Jan Langveld.

Langveled menekankan bahwa hukuman harus bersifat mendidik, manusiawi, dan mendorong pertumbuhan moral anak. Dan, tidak kalah pentingnya hukuman tidak boleh membuat cacat, luka atau cidera permanen. Akhirnya terdakwa bebas.Namun, hukuman sosial yang menimpa siswa ini sangat berat, karena tidak ada satupun sekolah dikabupaten itu yang mau menerima pindahan dirinya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat nilai-nilai yang menjadi fondasi tegaknya tatanan moral dan etika. Salah satu nilai yang menjadi pilar penting dalam relasi antarmanusia adalah kebenaran. Namun, dalam kenyataan sehari-hari, kebenaran sering kali dipelintir, diputarbalikkan, atau bahkan ditukar tempatkan dengan kebohongan dan kekeliruan. Di zaman ketika kebebasan diartikan tanpa batas dan otoritas sering disalahpahami sebagai bentuk penindasan, kita menyaksikan paradoks: membenarkan yang tidak benar dan menyalahkan yang tidak salah.

Peristiwa seorang guru yang dilaporkan ke polisi karena menampar muridnya yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah menjadi cerminan jelas dari krisis nilai tersebut. Ini bukan sekadar persoalan hukum atau pelanggaran disiplin, tetapi merupakan peristiwa yang menyentuh akar terdalam dari relasi kemanusiaan: tentang tanggung jawab, moralitas, peran sosial, dan keutuhan makna menjadi manusia.

Guru, sebagai pendidik, adalah figur yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentuk karakter dan penanam nilai. Ketika hukuman yang dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian justru dibalas dengan pelaporan ke aparat hukum, maka sesungguhnya yang sedang dipersoalkan bukan hanya tindakan sang guru, melainkan orientasi moral masyarakat itu sendiri.

Manusia adalah makhluk yang dibekali dengan akal budi, hati nurani, dan kesadaran moral. Ia tidak semata-mata bergerak atas dorongan naluriah seperti makhluk lainnya. Dalam dirinya terdapat kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah. Namun, kemampuan ini tidak tumbuh secara otomatis, melainkan memerlukan proses pendidikan, pembiasaan, dan peneladanan. Guru adalah salah satu agen yang menjalankan fungsi ini. Ketika seorang guru menegur muridnya karena merokok, ia sebenarnya sedang menjalankan peran kodrati dalam membimbing manusia muda untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas dirinya dan lingkungan sosialnya.

Namun, ketika tindakan itu dibalas dengan pelaporan, maka terjadi pembalikan logika moral. Tindakan yang seharusnya dipandang sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian justru ditafsirkan sebagai bentuk pelanggaran atau kekerasan. Ini menandakan adanya kekeliruan dalam membaca hakikat relasi manusia dalam dunia pendidikan. Anak yang masih dalam proses pertumbuhan moral semestinya dibimbing, bukan dibebaskan tanpa arah. Kebebasan dalam filsafat manusia bukanlah kebebasan yang liar, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab, yang disertai dengan kesadaran terhadap batas dan tujuan moral dari tindakan.

Dalam perspektif filsafat manusia, relasi antara guru dan murid bukan sekadar relasi instruksional, melainkan relasi eksistensial. Guru hadir bukan hanya untuk mengisi pikiran murid dengan pengetahuan, tetapi untuk membentuk eksistensi mereka sebagai manusia yang utuh. Tindakan guru dalam menegur adalah bagian dari pembentukan karakter. Teguran itu bukan serangan terhadap kebebasan anak, melainkan panggilan untuk bertanggung jawab atas tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Di sisi lain, pelaporan terhadap guru mencerminkan adanya krisis otoritas. Otoritas, dalam pengertian sejatinya, bukan dominasi atau kekuasaan sewenang-wenang, melainkan legitimasi moral yang lahir dari tanggung jawab dan kompetensi. Seorang guru memiliki otoritas karena ia dipercaya untuk membimbing dan mendidik. Namun, dalam masyarakat yang krisis nilai, otoritas dipandang dengan kecurigaan. Ketika setiap bentuk disiplin dipandang sebagai kekerasan, dan setiap teguran dianggap sebagai pelanggaran, maka masyarakat itu sedang menggali lubang bagi kehancuran moralnya sendiri.

Manusia sebagai makhluk yang berbudaya seharusnya hidup dalam tatanan nilai yang menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama. Ketika nilai-nilai ini digeser oleh kepentingan pragmatis, maka manusia tidak lagi menjadi pribadi yang otentik, tetapi menjadi individu yang tersesat dalam relativisme moral. Membenarkan yang tidak benar dan menyalahkan yang tidak salah adalah gejala dari matinya nurani kolektif. Nurani yang mati tidak lagi mampu membedakan mana kepedulian dan mana kekerasan, mana disiplin dan mana penindasan.

Kita juga patut merenungkan bagaimana masyarakat kita memperlakukan profesi guru. Ketika guru harus berjalan di atas ketakutan akan kriminalisasi, maka yang hilang bukan hanya kebebasan mendidik, tetapi juga martabat profesi itu sendiri. Guru seharusnya diberi ruang untuk menjalankan tugasnya dengan wibawa dan tanggung jawab. Jika setiap tindakan pembinaan harus dikalkulasi secara legalistik, maka pendidikan kehilangan jiwanya sebagai ruang pertumbuhan manusia. Ketakutan akan dipolisikan membuat guru lebih memilih untuk diam daripada bertindak. Dalam jangka panjang, ini akan menciptakan generasi yang miskin bimbingan moral dan hanya mengenal hukum sebagai alat perlindungan diri, bukan sebagai panggilan keadilan.

Pada akhirnya, peristiwa ini menyadarkan kita bahwa krisis bukan terjadi karena satu tindakan, tetapi karena sistem nilai yang lemah. Sistem yang lebih memihak pada perasaan daripada kebenaran. Sistem yang lebih takut pada konflik daripada pada kehancuran nilai.

Kita hidup di tengah masyarakat yang sedang bergulat mencari arah moral. Dalam pergulatan itu, kita ditantang untuk tetap berdiri tegak memihak pada yang benar, walau harus berhadapan dengan suara-suara yang menyesatkan. Selamat berjuang wahai guru, walau hatimu semakin pilu melihat anak didikmu selalu dibawah ketiak ibu. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Pulang

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Pagi itu datang ke kampus seperti biasa, yakni sebelum petugas kebersihan selesai pekerjaan. Bertemu seorang staf senior, seperti biasa kami saling mengabarkan. Namun, di sela kabar yang disampaikan, ia memberi tahu bahwa orang tua salah seorang tenaga pengajar “berpulang”. Innalillahi wainna ilaihi rojiuun.

Kabar duka itu sesungguhnya biasa saja untuk kepulangan orang berusia menjelang 80 tahun dalam keadaan sakit. Namun, itu menarik atensi saya karena bakda zuhur kemarin kami baru membincangkan tentang kondisi almarhum dan riwayat lainnya. Betapa dekatnya kematian.

Setiap kali kabar lelayu itu hadir, saya selalu larut kepada hakikat hidup. Semua ini tampak ingin menegaskan bahwa manusia pada akhirnya harus menyadari hidup bukanlah tentang memiliki, menaklukkan, atau menguasai. Hidup, pada akhirnya, adalah tentang pulang. Bukan sekadar kembali ke rumah dalam arti fisik, melainkan sebuah perjalanan eksistensial yang membawa manusia kembali ke asal-muasalnya, ke pusat dirinya, ke tempat di mana makna tidak lagi harus dikejar, melainkan ditemukan dalam kehadiran yang utuh.

Dalam terang pemahaman ini, hidup bukan satu garis lurus yang membentang ke masa depan tak terbatas, tetapi suatu lingkaran besar yang perlahan, dalam sunyi, membawa kita kembali; bukan ke suatu tempat, tetapi ke suatu keadaan.

Filsafat kontemporer telah mengajukan banyak pertanyaan tentang makna eksistensi, kesadaran, identitas, dan hubungan manusia dengan realitas. Salah satu kegelisahan paling mendasar dari zaman ini adalah keterasingan manusia dari dirinya sendiri.

Kita hidup dalam dunia yang semakin cepat, penuh tekanan untuk menjadi, tetapi sering kali lupa untuk menyadari. Dalam logika modernitas, hidup dipandang sebagai proyek: kita dituntut untuk terus berkembang, terus bergerak, terus memperbarui versi diri agar sesuai dengan tuntutan zaman. Tapi semakin manusia bergerak menjauh dari diam, dari keheningan, dari refleksi, semakin pula ia menjauh dari dirinya sendiri. Maka wajar bila manusia kontemporer begitu sering merasa kehilangan arah, meskipun tampaknya memiliki segalanya.

Dalam konteks inilah, gagasan bahwa hidup hanyalah perjalanan pulang menjadi sangat relevan. Pernyataan ini bukan ekspresi keputusasaan atau pelarian dari realitas, melainkan bentuk kesadaran yang lahir dari perenungan mendalam tentang keberadaan. Jika sejak awal manusia adalah keberadaan yang utuh, yang tidak terpisah dari makna, dari relasi yang hakiki, dan dari rasa cukup yang mendalam, maka semua pencarian di dalam hidup hanyalah upaya untuk kembali ke titik itu. Bukan kembali ke masa lalu secara literal, tetapi pulang ke kedalaman makna yang pernah dimiliki sebelum kita dikaburkan oleh pelbagai lapisan harapan sosial, identitas palsu, dan konstruksi kultural.

Konsepsi tentang pulang ini menantang nalar fungsionalistik yang mereduksi hidup menjadi serangkaian target dan capaian. Dalam kerangka ini, kehidupan tidak lagi dilihat sebagai jalan untuk menjadi “seseorang” menurut ukuran eksternal, tetapi sebagai kesempatan untuk kembali menjadi diri sendiri; bukan versi sosial, bukan bayangan ideal, tetapi eksistensi yang murni. Setiap pengalaman, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun, bukanlah kegagalan dalam perjalanan, tetapi bagian dari arah pulang itu sendiri. Keterasingan, kehilangan, kehancuran, dan kejatuhan tidak lagi dimaknai sebagai titik akhir, melainkan sebagai tanda bahwa mungkin kita telah terlalu jauh dari rumah batin kita.

Kesadaran akan hidup sebagai perjalanan pulang juga membuka perspektif baru tentang waktu. Kita biasanya menganggap waktu sebagai garis maju: masa lalu ditinggalkan, masa kini dijalani, masa depan dikejar. Tapi jika hidup adalah pulang, maka waktu bukanlah garis, melainkan spiral. Kita bergerak, bukan untuk menjauh, tetapi untuk kembali. Setiap langkah ke depan adalah langkah yang membawa kita lebih dekat ke dalam. Masa lalu bukan sesuatu yang harus dilupakan, tetapi jendela untuk memahami siapa kita sebenarnya. Masa depan bukan sesuatu yang harus ditaklukkan, tapi arah yang menuntun kita untuk pulang.

Menghayati hidup sebagai perjalanan pulang juga mengubah cara kita memaknai kematian. Dalam paradigma modern, kematian sering dipandang sebagai kekalahan, sebagai akhir yang tragis, atau sebagai sesuatu yang harus ditunda selama mungkin. Tapi jika hidup adalah perjalanan pulang, maka kematian bukan musuh, melainkan gerbang. Ia bukan akhir dari segalanya, tetapi puncak dari perjalanan panjang yang membawa kita kembali ke asal. Ia bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi sesuatu yang bisa dipahami dengan tenang. Karena pulang, sejatinya, adalah pertemuan: pertemuan dengan asal-usul, dengan makna terdalam, dan dengan keutuhan yang selama ini hanya kita bayangkan dalam bentuk-bentuk yang sementara.

Tentu saja, ini bukan berarti hidup harus dijalani dengan sikap pasif, atau bahwa kita harus berhenti berusaha. Sebaliknya, pemahaman ini justru memberi dasar eksistensial yang kuat bagi tindakan kita. Ketika kita sadar bahwa semua yang kita lakukan adalah bagian dari perjalanan pulang, maka kita tidak lagi terjebak dalam obsesif mengejar dunia. Kita bekerja, mencinta, berproses, bukan untuk membuktikan nilai kita, tapi untuk mengungkapkan keberadaan kita. Kita tidak lagi hidup dari ketakutan akan kegagalan, tapi dari cinta akan makna. Kita berhenti membandingkan jalan kita dengan orang lain, karena kita tahu, semua orang sedang pulang; hanya lewat rute yang berbeda.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang sejauh apa kita pergi, tetapi seberapa dalam kita bisa kembali. Bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak yang bisa kita lepaskan. Dan bukan tentang seberapa lama kita hidup, tetapi apakah kita pernah benar-benar pulang. Dalam dunia yang semakin bising, kebenaran ini akan selalu berbisik: semua ini hanyalah perjalanan. Dan semua perjalanan, cepat atau lambat, akan membawa kita kembali ke tempat yang tak pernah benar-benar kita tinggalkan; ke sunyi asal, ke kedalaman makna, ke “rumah yang sejati”. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Ada Tak Dianggap, Tidak Ada Dicari

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Ruang kuliah program doktor hari itu agak sedikit berbeda dari hari-hari biasa; karena topik pembahasan pada pertemuan keempat ini banyak membahas hal-hal yang bersifat abstrak, bahkan sering harus menggunakan diksi-diksi langit. Tatkala kuliah sedang dibentang, ada mahasiswa mengintrupsi ijin bertanya agak sedikit keluar topik, yaitu bagaimana menyikapi kondisi manakala kita ada pada posisi “ada tidak dianggap, sementara kalau tidak adapun, tidak dicari” Kondisi seperti itu dalam kajian filsafat kontemporer bagaimana. Tentu intrupsi seperti ini tidak bisa dijawab dengan sepintas lalu; karena memerlukan uraian dari berbagai sudut pandang keilmuan. Salah satu sudut kajian itu jika diringkas akan terbentang seperti si bawah ini.

Ungkapan di atas di pandang dari permukaan mungkin terdengar sederhana, namun jika direnungkan lebih dalam, ia menyimpan makna yang sangat mendalam dan kaya akan refleksi spiritual. Dalam kehidupan manusia, konsep keberadaan dan ketidakberadaan bukan sekadar soal realitas fisik atau objektif, melainkan juga terkait dengan bagaimana kesadaran memproyeksikan makna dan perhatian terhadap sesuatu yang ada maupun yang tiada. Dari sudut pandang filsafat spiritual, ungkapan ini mengajak kita untuk menyelami hubungan antara kesadaran, eksistensi, dan pencarian makna yang esensial dalam hidup.

Pada intinya, kalimat tersebut menyinggung tentang bagaimana manusia memberi arti pada sesuatu hanya jika hal tersebut ada atau tampak nyata dalam pengalaman mereka. Dengan kata lain, keberadaan sesuatu yang tidak mendapat perhatian atau diakui secara sadar oleh individu atau masyarakat, secara praktis dianggap tidak ada. Ini menunjukkan bahwa keberadaan tidak semata-mata ditentukan oleh realitas objektif, melainkan oleh pengakuan dan perhatian yang diberikan oleh kesadaran. Kesadaran menjadi kunci utama dalam mengaktualisasikan apa yang dianggap ada. Maka, “ada” bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri tanpa hubungan dengan pengakuan, dan “tidak ada” bukan sekadar ketiadaan fisik, melainkan juga ketiadaan pengakuan dan pencarian.

Dalam perspektif spiritual, kesadaran bukan hanya sekadar fungsi otak atau pengalaman subjektif biasa, melainkan merupakan jembatan antara dimensi materi dan dimensi yang lebih halus, yang sering disebut dengan jiwa, roh, atau esensi batin. Kesadaran memiliki kemampuan untuk menyentuh, memahami, dan menghadirkan keberadaan sesuatu ke dalam ruang hidup seseorang. Ketika sesuatu “ada”, itu berarti kesadaran telah menyorotnya, memberi ruang dan arti, dan membiarkannya masuk ke dalam dunia pengalaman yang hidup. Sebaliknya, jika sesuatu “tidak dianggap” atau “tidak dicari”, ia tetap berada dalam bayang-bayang ketidaksadaran, yang dalam dimensi spiritual bisa diartikan sebagai ketidaktahuan atau keterpisahan dari kesadaran penuh.

Selanjutnya, konsep “tidak ada tidak dicari” membawa kita pada pemahaman tentang niat dan pencarian spiritual. Dalam hidup, pencarian tidak pernah lepas dari sesuatu yang dianggap “ada” atau “penting”. Kita tidak mencari sesuatu yang secara sadar kita anggap tidak ada atau tidak relevan. Pencarian itu sendiri adalah aktivitas kesadaran yang melibatkan energi dan fokus. Maka, jika suatu hal dianggap tidak ada, tidak ada ruang atau motivasi untuk mencarinya. Ini memberi gambaran bagaimana realitas batin manusia sering kali dibatasi oleh keyakinan, asumsi, dan perhatian yang dipilih secara sadar maupun tidak sadar.

Dalam kaitannya dengan konsep waktu dan ruang, kalimat ini juga menyinggung dimensi eksistensi yang lebih luas. Apa yang “ada” dalam satu momen atau satu tempat bisa jadi tidak “ada” dalam momen atau tempat lain jika tidak diakui oleh kesadaran di sana. Ini mengarah pada pandangan bahwa eksistensi tidak absolut dan statis, melainkan dinamis dan bergantung pada interaksi kesadaran. Dalam dimensi spiritual, ini berarti bahwa segala sesuatu bersifat interrelasional dan transformatif, terus-menerus muncul dan menghilang sesuai dengan fokus dan niat kesadaran.

Dalam konteks hubungan antar manusia dan makhluk lain, kalimat ini juga mengandung pesan mendalam tentang rasa empati dan kesadaran sosial. Ketika seseorang atau sesuatu “tidak dianggap”, maka keberadaannya menjadi tidak nyata dalam dunia orang lain. Hal ini seringkali menyebabkan penderitaan, keterasingan, dan hilangnya makna eksistensial. Dalam perjalanan spiritual, memahami dan mengakui keberadaan sesama makhluk adalah bagian dari membuka kesadaran universal yang melampaui ego dan batasan individual. Dengan menganggap dan menghargai keberadaan orang lain, kita turut membangun jaringan kesadaran kolektif yang mampu menguatkan rasa kasih dan harmoni.

Secara lebih luas, ungkapan ini juga dapat dipahami sebagai refleksi atas fenomena ilusi dan kenyataan dalam hidup. Dalam banyak pengalaman spiritual, batas antara ada dan tidak ada seringkali menjadi kabur. Apa yang kita anggap ada bisa jadi hanya bayangan dari pikiran atau persepsi yang terbatas, sedangkan yang kita anggap tidak ada bisa saja merupakan kenyataan yang lebih dalam dan abadi. Dengan demikian, kesadaran spiritual mengajak kita untuk melampaui dualitas semu antara ada dan tidak ada, untuk menemukan esensi yang melampaui bentuk dan konsep. Di sinilah letak kebijaksanaan, yaitu mampu melihat bahwa realitas sejati bukan hanya apa yang tampak dan diakui secara langsung, tapi juga apa yang tersembunyi dan membutuhkan usaha pencarian yang mendalam.

Namun perlu dipahami bahwa pada titik tertentu, saat manusia menjadi tua, maka manusia akan berada pada posisi ini. Oleh karena itu tidak salah jika orang bijak mengatakan, teman sejatimu itu adalah dirimu sendiri. Dan, karena itu pula banyak orang terdahulu berpesan “orang terakhir yang akan bersamamu sebelum dirimu sendiri adalah pasanganmu” ; oleh karena itu rawatlah kebersamaan bersamanya agar tiba waktunya kita tetap bahagia. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Hidup Mau, Matipun Jadi

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Senja menjelang malam, saya terpaksa harus keluar kompleks perumahan karena roda kendaraan ananda dokter muda kami mengalami “mati angin”. Dipakai tidak bisa, dibuang tidak mungkin. Bersama seorang tenaga keamanan kompleks, kedua roda pun dibawa ke sepesialis tambal ban di tepi jalan. Karena hari sudah gelap, tidak mudah untuk mencarinya. Namun, alhamdulillah akhirnya  bertemu satu tempat tambal ban yang masih buka.

Di sela-sela bekerja tukang tambal ban  menjawab “wawancara candaan model Purbaya” yang dilakukan penulis. Ada satu diksi yang sangat menarik dari pembicaraan tak tersetruktur itu ialah “awak ini hidup mau,  mati pun jadi” dengan dialek medok khas bahasa Sumatera Utara. Betapa penuh maknanya diksi itu jika kita renungkan dan dalami secara filosofis.

Ketika dunia melaju dalam kecepatan yang tak bersahabat, banyak individu merasa tertinggal dan terinjak oleh lajunya jaman. Kehidupan yang diidealkan sebagai perjalanan penuh makna dan pembelajaran; justru menjelma menjadi labirin gelap tanpa peta jalan keluar. Di tengah kegetiran ini, muncul satu pertanyaan filosofis yang tak bisa dihindari: apakah hidup masih layak untuk diperjuangkan?

Sebuah pertanyaan yang bukan hanya teoritis, tetapi eksistensial. Saat seseorang merasa tak lagi memiliki pegangan dalam dunia yang makin absurd, nilai hidup itu sendiri mulai dipertanyakan. Kebutuhan dasar manusia bukan lagi sekadar makan dan tempat tinggal, tetapi rasa memiliki makna dalam keberadaannya. Tanpa makna, manusia hanya menjadi objek di antara mekanisme sosial yang impersonal.

Eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan terus-menerus dibentuk oleh pengalaman, pilihan, dan kondisi lingkungan. Di sinilah kehidupan menjadi medan tempur internal: antara keinginan untuk melanjutkan dan godaan untuk menyerah. Keinginan untuk hidup muncul dari harapan-harapan kecil yang masih bersinar, meski samar. Tapi keinginan untuk mati bukan selalu tentang putus asa; terkadang ia adalah protes yang paling sunyi terhadap dunia yang tak lagi mendengarkan.

Banyak yang berjalan di atas bumi ini dengan hati yang compang-camping. Mereka tersenyum untuk menyembunyikan luka, bekerja keras bukan karena semangat tetapi karena keterpaksaan. Hidup menjadi rutinitas mekanis; bangun, bekerja, tidur, ulangi. Dalam pengulangan tanpa makna itu, seseorang bisa merasa kehilangan dirinya sendiri. Bahkan saat tubuh masih berjalan, jiwa bisa saja sudah menyerah. Maka, “hiduppun mau, matipun jadi” adalah sebuah paradoks manusia modern. Ia mau hidup karena tahu masih ada kemungkinan. Tapi ia juga siap mati, karena tahu bahwa dunia ini tak menjanjikan apa-apa untuknya.

Di dalam ruang yang serba cepat ini, manusia merasa asing terhadap dirinya sendiri. Terasing bukan karena tak mengenal orang lain, tetapi karena tak lagi mengenal siapa dirinya. Segala sesuatu diukur dari produktivitas, kecepatan, dan efisiensi, hingga rasa manusiawi tergantikan oleh algoritma dan ekspektasi sosial. Orang merasa harus “berhasil” agar dianggap layak hidup. Tapi ketika keberhasilan hanya diukur oleh angka, grafik, dan materi, maka seluruh dimensi spiritual, emosional, dan eksistensial tergerus habis.

Realitas sosial hari ini membentuk individu yang rapuh dalam diam. Kerapuhan ini bukan hasil kemalasan atau kelemahan moral, melainkan buah dari tekanan yang berlapis dan terus-menerus. Kegagalan dalam memenuhi ekspektasi sistem dianggap sebagai kegagalan personal, bukan kegagalan struktur. Maka, banyak orang menderita dalam sunyi, menganggap dirinya beban, sementara sesungguhnya mereka adalah korban dari dunia yang tak memberi ruang untuk berhenti dan bernapas.

Dalam tekanan itulah, muncul sikap pasrah: jika bisa hidup, syukur; jika mati, pun tak apa.
Sikap ini bukanlah optimisme buta, melainkan keteguhan diam yang tetap memilih hidup meski tahu hidup itu pahit. Ini bukan glorifikasi penderitaan, tetapi pengakuan jujur bahwa penderitaan ada dan tidak bisa dihindari. Dalam pengakuan itu, manusia bisa menemukan kekuatan baru, kekuatan untuk tetap menjadi diri sendiri meski dunia menolak. Karena hidup bukan tentang menang, tapi tentang terus hadir. Dalam cara pandang ini, “hiduppun mau, matipun jadi” bisa dibaca bukan sebagai sikap pasrah, melainkan sebagai kebebasan terakhir manusia: kebebasan untuk menentukan sikap terhadap hidup dan mati.

Maka, jika kita berada pada titik di mana hidup terasa seperti beban dan mati tampak sebagai pelepasan, kita sedang berdiri di ambang pemahaman terdalam tentang eksistensi. Kita tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan hidup sebagai kutukan. Justru dalam penderitaan itu tersimpan kesempatan untuk memahami apa artinya benar-benar hidup. Hidup bukan hanya tentang kebahagiaan yang bersinar, tetapi juga tentang luka yang mengajarkan kedalaman. Dari luka itu, kita mengenal kerentanan, dan dari kerentanan itu, kita belajar tentang empati, tentang harapan, tentang manusia lain yang juga berjuang diam-diam.

Pada akhirnya, “hiduppun mau, matipun jadi” adalah refleksi terdalam dari kontradiksi yang tak akan pernah bisa kita tuntaskan secara tuntas. Tapi mungkin, dalam ketidaktuntasan itulah kita menemukan ruang untuk menjadi manusia yang lebih utuh. Ruang untuk merasakan tanpa harus didahului dengan menjelaskan. Ruang untuk mengakui bahwa kita lelah tanpa harus takut dihakimi. Dan ruang untuk tetap hidup, bukan karena kita wajib, tetapi karena kita memilih. Meski dunia tak memberi jaminan apa pun, pilihan untuk tetap hadir adalah bentuk cinta paling jujur terhadap diri sendiri. Selamat Berjuang Orang baik. (SJ)

Editor: Gilang Agusman