RAMADAN (Musim atau Perubahan)

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar lampung ( malahayati.ac.id )

Langit senja mulai meredup di atas halaman Pesantren. Cahaya jingga perlahan menghilang di balik pepohonan yang mengelilingi kompleks asrama. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan sore tadi. Dari masjid tua di tengah pesantren terdengar lantunan ayat suci yang dibaca para santri setelah salat Magrib. Ramadan sudah memasuki penghujungnya. Sepuluh malam terakhir mulai dijalani, dan suasana di pesantren terasa lebih hidup dari biasanya.

Di serambi masjid, seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiai. Wajahnya tampak serius, seolah menyimpan banyak pertanyaan. Sementara itu sang kiai memegang tasbih, memandang halaman pesantren yang mulai dipenuhi santri yang berjalan membawa kitab masing-masing.

“Yai,” tanya santri itu pelan, “kenapa setiap menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, pesantren terasa berbeda dari biasanya?”

Kiai tersenyum tipis. “Berbeda bagaimana maksudmu?”

“Rasanya lebih hidup,” jawab santri. “Masjid lebih ramai. Teman-teman yang biasanya cepat mengantuk sekarang malah kuat begadang. Bahkan yang biasanya jarang terlihat di pengajian tiba-tiba datang lebih awal.”

Kiai mengangguk perlahan. “Itu karena mereka mulai menyadari bahwa Ramadan hampir selesai. Waktu yang tersisa sedikit, sementara harapan mereka masih banyak.”

Santri itu menatap ke arah halaman pesantren yang mulai sepi. “Mereka berharap mendapatkan malam yang istimewa itu, ya Yai?”

“Benar,” jawab kiai. “Banyak orang memaknai bahwa di antara sepuluh malam terakhir ada satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu mereka berusaha memanfaatkan waktu yang tersisa.”

Santri itu tersenyum kecil. “Saya juga melihat beberapa teman membaca kitab suci hampir setiap waktu. Seolah-olah mereka tidak ingin melewatkan satu halaman pun.”

“Ramadan memang punya kekuatan seperti itu,” kata kiai. “Bulan ini mampu membangunkan hati manusia. Orang yang biasanya jarang membaca kitab suci tiba-tiba ingin menamatkannya. Orang yang jarang berdoa menjadi lebih sering menengadahkan tangan.”

Santri itu tampak berpikir sejenak. Lalu ia berkata, “Tapi Yai, saya juga mendengar cerita dari kampung. Katanya menjelang hari raya justru banyak orang yang semakin sibuk berbelanja.”

Kiai tertawa kecil. “Itu juga kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri.”

“Mereka sibuk ke pasar, mencari pakaian baru, menyiapkan makanan untuk hari raya,” lanjut santri. “Bahkan ada yang lebih sering pergi ke pusat perbelanjaan daripada ke masjid.”

Kiai mengangguk pelan. “Manusia memang memiliki banyak kesibukan. Ada yang sibuk mengejar pahala, ada yang sibuk mengejar keuntungan, dan ada pula yang sibuk mengejar kesenangan.”

Santri itu kemudian bertanya, “Apakah itu berarti mereka salah, Yai?”

“Tidak selalu,” jawab kiai dengan tenang. “Mempersiapkan kebahagiaan untuk keluarga juga bagian dari kebaikan. Namun yang perlu dijaga adalah keseimbangannya. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita melupakan tujuan Ramadan.”

Santri itu menunduk sejenak. “Tujuan Ramadan adalah agar kita menjadi lebih baik, bukan?”

“Betul,” kata kiai. “Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia melatih kesabaran, kejujuran, dan kemampuan mengendalikan diri. Selama sebulan manusia belajar untuk menahan amarah, menjaga ucapan, dan memperbanyak kebaikan.”

Beberapa santri terlihat berjalan menuju masjid untuk mengikuti pengajian malam. Suara langkah mereka terdengar pelan di halaman yang mulai dipenuhi embun.

Santri itu kembali bertanya, “Yai, kalau selama Ramadan orang bisa berubah menjadi lebih baik, kenapa setelah Ramadan banyak yang kembali seperti semula?”

Kiai memutar tasbih di tangannya sebelum menjawab. “Karena sebagian orang menganggap Ramadan sebagai tujuan, bukan sebagai latihan.”

“Latihan?” tanya santri dengan heran.

“Ya,” kata kiai. “Ramadan itu seperti madrasah selama satu bulan. Di dalamnya manusia belajar mengendalikan diri, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak. Namun setelah bulan itu selesai, banyak orang yang melupakan pelajaran yang sudah mereka dapatkan.”

Santri itu mengangguk pelan, seolah mulai memahami.

“Coba kamu perhatikan,” lanjut kiai. “Selama Ramadan masjid penuh oleh orang yang ingin salat berjamaah. Kitab suci dibaca hampir setiap hari. Sedekah juga lebih sering diberikan. Tetapi setelah bulan itu berlalu, semua perlahan kembali seperti semula.”

Santri itu menghela napas kecil. “Masjid kembali sepi, ya Yai.”

“Begitulah sering terjadi,” jawab kiai.

Santri itu menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. “Berarti ujian sebenarnya justru datang setelah Ramadan selesai.”

Kiai tersenyum. “Kamu mulai mengerti.”

“Jika seseorang hanya rajin beribadah selama Ramadan, tetapi kembali pada kebiasaan lama setelahnya, berarti Ramadan belum benar-benar mengubah dirinya.”

Santri itu terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan, “Saya ingin Ramadan tahun ini tidak berlalu begitu saja, Yai.”

“Bagus,” kata kiai. “Keinginan itu adalah langkah awal.”

“Tapi bagaimana cara menjaga semangat itu setelah Ramadan?” tanya santri.

Kiai menjawab dengan lembut, “Mulailah dari hal-hal kecil. Jika selama Ramadan kamu terbiasa membaca beberapa halaman kitab suci setiap hari, cobalah mempertahankannya walaupun tidak sebanyak sebelumnya. Jika kamu terbiasa salat berjamaah di masjid, jangan langsung meninggalkannya.”

Santri itu mengangguk mantap.

“Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan konsisten,” lanjut kiai.

Suasana malam semakin tenang. Dari dalam masjid terdengar suara santri yang mulai membaca kitab bersama-sama.

Santri itu berdiri perlahan. “Terima kasih, Yai. Saya akan mencoba menjaga pelajaran Ramadan, bukan hanya selama bulan ini.”

Kiai tersenyum sambil terus memutar tasbih di tangannya.

“Pergilah ke masjid,” katanya. “Malam masih panjang. Gunakan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.”

Santri itu berjalan menuju masjid bersama teman-temannya. Sementara itu sang kiai tetap duduk di serambi, memandang langit Ramadan yang tenang.

Dalam hatinya ia berharap para santri tidak hanya menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan, tetapi juga mampu menjaga cahaya Ramadan dalam kehidupan mereka setelah bulan suci itu berlalu.

Salam Lailatul Qadar.

LUPA SETELAH SELAMAT

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) Di sebuah serambi sederhana pada sore hari, seorang santri duduk bersila di hadapan kiainya. Angin berhembus pelan, membawa suasana tenang yang membuat percakapan terasa lebih dalam.

“Santri,” kata sang kiai dengan suara lembut, “pernahkah kamu memperhatikan bagaimana manusia bersikap ketika hidupnya sedang sulit?”

Santri itu berpikir sejenak, lalu menjawab, “Biasanya mereka menjadi lebih banyak berdoa, lebih rajin beribadah, dan lebih sering meminta pertolongan, termasuk pertolongan pada Tuhan.”

Kiai tersenyum tipis. “Benar. Saat hati terdesak oleh kesulitan, manusia menjadi sangat sadar bahwa dirinya lemah. Ia memohon dengan sungguh-sungguh, seolah seluruh harapannya digantungkan pada doa.”

Santri mengangguk pelan. “Namun saya juga sering melihat sesuatu yang aneh, Kiai.”

“Apa itu?” tanya sang kiai.

“Ketika keadaan sudah membaik, ketika rezeki menjadi lancar dan hidup terasa mudah, banyak orang justru mulai melupakan doa-doa yang dulu mereka panjatkan.”

Kiai menatap jauh ke halaman pesantren. “Itulah salah satu sifat manusia yang paling sering terjadi. Ketika sulit, mereka meminta bersama-sama dengan harapan yang besar. Namun ketika senang, mereka sering lupa segalanya.”

Santri tampak merenung. “Apakah itu berarti manusia memang mudah lupa, Kiai?”

“Ya,” jawab kiai perlahan. “Lupa bukan hanya tentang ingatan, tetapi juga tentang kesadaran. Kesenangan kadang membuat manusia merasa seolah-olah ia tidak lagi membutuhkan pertolongan.”

Santri menundukkan kepala. “Lalu bagaimana agar kita tidak menjadi seperti itu?”

Kiai kembali tersenyum. “Caranya sederhana, tetapi tidak mudah: jangan pernah melupakan masa sulitmu. Ingatlah bagaimana kamu berdoa saat itu. Jika ingatan itu kamu jaga, maka kebahagiaan tidak akan membuatmu lupa diri.”

Santri mengangguk pelan, menyadari bahwa pelajaran tentang hidup sering datang dari hal-hal yang terlihat sederhana.

Fenomena ini bukanlah sesuatu yang asing. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Ketika seseorang berada dalam kesulitan ekonomi, sakit, atau menghadapi kegagalan, ia menjadi lebih rajin berdoa, lebih tekun merenung, dan lebih sering mengingat nilai-nilai kehidupan. Kesadaran tentang betapa rapuhnya manusia membuatnya ingin mendekat pada harapan dan kebaikan. Dalam momen seperti itu, hati terasa jujur dan tulus, karena tidak ada lagi yang dapat diandalkan selain harapan dan doa.

Namun ketika keadaan berubah menjadi lebih baik, manusia sering kali merasa seolah-olah semua keberhasilan itu adalah hasil dari usahanya sendiri. Rasa syukur yang dahulu begitu hangat perlahan berubah menjadi rasa biasa. Doa yang dahulu dipanjatkan setiap malam mulai jarang diucapkan. Kesadaran tentang keterbatasan diri pun perlahan menghilang. Kehidupan yang nyaman membuat manusia merasa aman, bahkan terkadang merasa tidak lagi membutuhkan tempat untuk bersandar.

Sifat mudah lupa inilah yang sering menjadi bagian dari perjalanan manusia. Ingatan manusia ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh waktu, tetapi juga oleh keadaan. Penderitaan membuat manusia mengingat, sementara kesenangan sering membuat manusia lengah. Dalam keadaan sulit, manusia menyadari bahwa hidup tidak selalu berada dalam kendali. Tetapi ketika keadaan membaik, ia sering kembali pada keyakinan lama bahwa dirinya mampu mengendalikan segalanya.

Padahal kehidupan memiliki cara yang unik untuk mengingatkan manusia. Kesulitan dan kebahagiaan datang silih berganti seperti dua sisi dari satu perjalanan yang sama. Tidak ada keadaan yang benar-benar permanen. Hari yang cerah dapat berubah menjadi mendung, dan masa yang berat dapat berubah menjadi ringan. Jika manusia menyadari hal ini dengan lebih dalam, ia mungkin akan belajar untuk tidak mudah lupa, baik ketika sedang berada dalam kesulitan maupun ketika sedang berada dalam kelapangan.

Menghargai kebahagiaan bukan berarti melupakan masa sulit yang pernah dilewati. Justru ingatan terhadap masa sulit seharusnya menjadi sumber kebijaksanaan. Kesulitan mengajarkan kesabaran, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ketika seseorang berhasil melewati masa-masa itu, seharusnya ia membawa pelajaran tersebut ke dalam masa bahagia yang ia rasakan.

Rasa syukur yang sejati sebenarnya tidak hanya muncul ketika seseorang menerima sesuatu yang ia inginkan. Rasa syukur yang sejati adalah kemampuan untuk tetap mengingat dan menghargai perjalanan hidup secara utuh. Ia tidak bergantung pada keadaan semata. Dalam keadaan sulit, rasa syukur muncul dalam bentuk harapan. Dalam keadaan bahagia, rasa syukur muncul dalam bentuk kesadaran bahwa kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang datang tanpa makna.

Masalahnya, manusia sering kali terlalu cepat beradaptasi dengan kenyamanan. Apa yang dahulu dianggap sebagai anugerah besar, lama-kelamaan menjadi hal yang dianggap biasa. Inilah yang membuat rasa syukur memudar tanpa disadari. Bukan karena manusia tidak ingin bersyukur, tetapi karena ia terbiasa dengan apa yang ia miliki. Kebiasaan membuat keajaiban terasa biasa, dan ketika sesuatu terasa biasa, manusia cenderung berhenti memikirkannya.

Di sinilah pentingnya kesadaran diri. Manusia perlu sesekali berhenti sejenak dan mengingat kembali perjalanan hidupnya. Mengingat hari-hari ketika harapan terasa jauh, ketika doa menjadi satu-satunya pegangan, dan ketika harapan kecil terasa sangat berharga. Ingatan seperti ini bukan untuk membuka kembali luka lama, tetapi untuk menjaga kerendahan hati.

Ketika seseorang mampu mengingat masa sulitnya dengan jujur, ia akan lebih mampu menghargai kebahagiaan yang ia miliki. Ia tidak akan mudah merasa sombong atau lupa diri, karena ia tahu bahwa kehidupan dapat berubah kapan saja. Kesadaran ini membuat kebahagiaan terasa lebih bermakna, bukan sekadar kenyamanan yang dinikmati tanpa pemahaman.

Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang keluar dari kesulitan dan mencapai kebahagiaan. Kehidupan juga tentang bagaimana manusia menjaga ingatan dan kesadarannya sepanjang perjalanan itu. Kesulitan seharusnya mengajarkan kerendahan hati, dan kebahagiaan seharusnya menguatkan rasa syukur.

Jika manusia mampu menjaga ingatan ini, maka kebahagiaan tidak akan membuatnya lupa, dan kesulitan tidak akan membuatnya putus asa. Ia akan berjalan dengan kesadaran bahwa setiap keadaan memiliki maknanya sendiri. Dengan demikian, doa yang pernah dipanjatkan saat sulit tidak akan hilang begitu saja ketika kebahagiaan datang, melainkan tetap hidup sebagai pengingat bahwa segala sesuatu dalam kehidupan memiliki asal dan tujuan yang lebih dalam.

Salam Ramadan

Diantara Cukup dan Tenang

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Bandar Lampung ( malahayati.co.id ) – Selepas sholat subuh di suatu pesantren; seorang santri muda mendekati Kiai di serambi pondok, dan berkata: “Yai, kenapa saya merasa selalu kurang, padahal kebutuhan sudah tercukupi?” tanya santri muda tadi. Suaranya lirih, seolah takut mengganggu ketenangan pagi yang masih diselimuti embun.
Sang kiai tidak segera menjawab. Ia memandang halaman pesantren yang masih lengang, lalu berkata pelan, “Nak, yang sering kurang itu bukan hidupmu, melainkan ukuranmu tentang hidup.” Santri itu mengangkat wajahnya. “Bukankah cukup berarti punya banyak, Yai?”. “Tidak selalu,” jawab sang kiai, sambil tersenyum tipis. “Banyak belum tentu cukup, dan sedikit belum tentu kurang. Cukup itu bukan urusan angka, melainkan urusan hati. Kalau hatimu gaduh, sebanyak apa pun yang kau punya tak akan terasa cukup. Tapi kalau hatimu tenang, yang sedikit pun bisa terasa lapang.”

Percakapan itu berhenti, tetapi maknanya tidak. Ia justru membuka pintu bagi pertanyaan yang lebih besar tentang cara manusia modern memahami hidup. Di balik dialog sederhana di pondok pesantren, tersembunyi kritik halus terhadap logika zaman yang menilai keberhasilan dari akumulasi dan kecepatan. Dunia kontemporer membentuk kesadaran bahwa hidup yang baik adalah hidup yang senantiasa bertambah: harta harus meningkat, prestasi harus naik, dan pengalaman harus semakin beragam. Namun ironisnya, di tengah kelimpahan tersebut, rasa cukup justru semakin sulit ditemukan.

Filsafat kontemporer membaca fenomena ini sebagai krisis makna. Manusia tidak kekurangan pilihan, tetapi kehilangan orientasi.

“Cukup” dan “kurang” tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan riil, melainkan oleh perbandingan tanpa henti. Media, teknologi, dan budaya kompetisi menjadikan hidup sebagai etalase pencapaian. Dalam situasi seperti ini, rasa kurang tidak muncul karena ketiadaan, tetapi karena kesadaran yang terus digeser untuk menginginkan lebih. Akibatnya, manusia hidup dalam keadaan tidak pernah tiba, selalu menuju, tetapi jarang berhenti.

Pernyataan bahwa banyak belum tentu cukup dan sedikit belum tentu kurang menantang asumsi dasar tersebut. Ia mengingatkan bahwa cukup adalah pengalaman eksistensial, bukan kondisi material semata. Dalam filsafat kontemporer, pengalaman hidup tidak dipahami sebagai fakta objektif yang berdiri sendiri, melainkan sebagai hasil interaksi antara dunia dan kesadaran. Dua orang dapat berada dalam kondisi yang sama, tetapi menghayatinya secara berbeda. Perbedaan itu terletak pada cara memaknai, bukan pada jumlah yang dimiliki.

Dari sini, ajakan untuk tidak mengejar hidup senang, melainkan hidup tenang, menjadi relevan. Hidup senang sering kali dipahami sebagai rangkaian kepuasan instan: terpenuhinya keinginan, tercapainya target, atau diperolehnya pengakuan. Namun kesenangan bersifat rapuh. Ia bergantung pada kondisi eksternal yang mudah berubah dan selalu menuntut pengulangan. Ketika kesenangan dijadikan tujuan utama, manusia akan terjebak dalam siklus hasrat yang tidak pernah selesai. Begitu satu keinginan terpenuhi, keinginan lain segera menggantikannya.

Hidup tenang tidak berarti hidup tanpa masalah atau tanpa ambisi. Ketenangan adalah sikap batin yang memungkinkan manusia menghadapi kenyataan tanpa terus-menerus dilanda kegelisahan. Ia lahir dari kesadaran akan batas: batas kemampuan, batas keinginan, dan batas kontrol manusia atas hidupnya. Filsafat kontemporer memandang pengakuan terhadap batas ini sebagai bentuk kebijaksanaan. Dengan menyadari bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, manusia justru memperoleh kebebasan batin.

Dalam kerangka ini, mengajari hati untuk bersabar dan bersyukur dalam segala hal menjadi latihan etis yang penting. Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan kemampuan menunda reaksi dan memberi ruang bagi refleksi. Di dunia yang serba cepat, kesabaran sering disalahpahami sebagai ketertinggalan. Padahal, tanpa kesabaran, manusia mudah terjebak dalam keputusan impulsif dan penilaian dangkal. Kesabaran memungkinkan manusia melihat proses sebagai bagian dari makna hidup, bukan sekadar hambatan menuju tujuan.

Rasa syukur, di sisi lain, adalah bentuk penerimaan aktif terhadap kehidupan. Bersyukur bukan berarti menutup mata terhadap penderitaan atau ketidakadilan, tetapi mengakui bahwa hidup selalu mengandung nilai, bahkan dalam keterbatasan. Filsafat kontemporer melihat rasa syukur sebagai cara manusia berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dengan bersyukur, manusia berhenti menunda kebahagiaan ke masa depan dan mulai hadir di saat ini. Kehadiran inilah yang menjadi dasar ketenangan.

Filsafat kontemporer menegaskan bahwa makna tidak selalu ditemukan, tetapi sering kali diciptakan melalui sikap. Dengan prasangka baik, manusia tidak mengubah fakta, tetapi mengubah cara berelasi dengan fakta tersebut. Hal ini memberi ruang bagi ketenangan, karena manusia tidak lagi memaksa hidup untuk selalu sesuai dengan keinginannya. Ia belajar menerima bahwa hidup memiliki logikanya sendiri yang tidak selalu dapat dipahami secara instan.
Pada akhirnya, dialog antara kiai dan santri itu mencerminkan pencarian manusia kontemporer secara umum. Di tengah dunia yang bising, cepat, dan kompetitif, manusia merindukan kesederhanaan makna. Ia lelah mengejar kesenangan yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Yang dibutuhkan bukan tambahan, melainkan penataan ulang orientasi hidup. Bukan hidup yang paling senang, tetapi hidup yang paling tenang.
Salam Ramadan (R-1)

LUPA SETELAH SELAMAT

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Di sebuah serambi sederhana pada sore hari, seorang santri duduk bersila di hadapan kiainya. Angin berhembus pelan, membawa suasana tenang yang membuat percakapan terasa lebih dalam.

“Santri,” kata sang kiai dengan suara lembut, “pernahkah kamu memperhatikan bagaimana manusia bersikap ketika hidupnya sedang sulit?”

Santri itu berpikir sejenak, lalu menjawab, “Biasanya mereka menjadi lebih banyak berdoa, lebih rajin beribadah, dan lebih sering meminta pertolongan, termasuk pertolongan pada Tuhan.”

Kiai tersenyum tipis. “Benar. Saat hati terdesak oleh kesulitan, manusia menjadi sangat sadar bahwa dirinya lemah. Ia memohon dengan sungguh-sungguh, seolah seluruh harapannya digantungkan pada doa.”

Santri mengangguk pelan. “Namun saya juga sering melihat sesuatu yang aneh, Kiai.”

“Apa itu?” tanya sang kiai.

“Ketika keadaan sudah membaik, ketika rezeki menjadi lancar dan hidup terasa mudah, banyak orang justru mulai melupakan doa-doa yang dulu mereka panjatkan.”

Kiai menatap jauh ke halaman pesantren. “Itulah salah satu sifat manusia yang paling sering terjadi. Ketika sulit, mereka meminta bersama-sama dengan harapan yang besar. Namun ketika senang, mereka sering lupa segalanya.”

Santri tampak merenung. “Apakah itu berarti manusia memang mudah lupa, Kiai?”

“Ya,” jawab kiai perlahan. “Lupa bukan hanya tentang ingatan, tetapi juga tentang kesadaran. Kesenangan kadang membuat manusia merasa seolah-olah ia tidak lagi membutuhkan pertolongan.”

Santri menundukkan kepala. “Lalu bagaimana agar kita tidak menjadi seperti itu?”

Kiai kembali tersenyum. “Caranya sederhana, tetapi tidak mudah: jangan pernah melupakan masa sulitmu. Ingatlah bagaimana kamu berdoa saat itu. Jika ingatan itu kamu jaga, maka kebahagiaan tidak akan membuatmu lupa diri.”

Santri mengangguk pelan, menyadari bahwa pelajaran tentang hidup sering datang dari hal-hal yang terlihat sederhana.

Fenomena ini bukanlah sesuatu yang asing. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Ketika seseorang berada dalam kesulitan ekonomi, sakit, atau menghadapi kegagalan, ia menjadi lebih rajin berdoa, lebih tekun merenung, dan lebih sering mengingat nilai-nilai kehidupan. Kesadaran tentang betapa rapuhnya manusia membuatnya ingin mendekat pada harapan dan kebaikan. Dalam momen seperti itu, hati terasa jujur dan tulus, karena tidak ada lagi yang dapat diandalkan selain harapan dan doa.

Namun ketika keadaan berubah menjadi lebih baik, manusia sering kali merasa seolah-olah semua keberhasilan itu adalah hasil dari usahanya sendiri. Rasa syukur yang dahulu begitu hangat perlahan berubah menjadi rasa biasa. Doa yang dahulu dipanjatkan setiap malam mulai jarang diucapkan. Kesadaran tentang keterbatasan diri pun perlahan menghilang. Kehidupan yang nyaman membuat manusia merasa aman, bahkan terkadang merasa tidak lagi membutuhkan tempat untuk bersandar.

Sifat mudah lupa inilah yang sering menjadi bagian dari perjalanan manusia. Ingatan manusia ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh waktu, tetapi juga oleh keadaan. Penderitaan membuat manusia mengingat, sementara kesenangan sering membuat manusia lengah. Dalam keadaan sulit, manusia menyadari bahwa hidup tidak selalu berada dalam kendali. Tetapi ketika keadaan membaik, ia sering kembali pada keyakinan lama bahwa dirinya mampu mengendalikan segalanya.

Padahal kehidupan memiliki cara yang unik untuk mengingatkan manusia. Kesulitan dan kebahagiaan datang silih berganti seperti dua sisi dari satu perjalanan yang sama. Tidak ada keadaan yang benar-benar permanen. Hari yang cerah dapat berubah menjadi mendung, dan masa yang berat dapat berubah menjadi ringan. Jika manusia menyadari hal ini dengan lebih dalam, ia mungkin akan belajar untuk tidak mudah lupa, baik ketika sedang berada dalam kesulitan maupun ketika sedang berada dalam kelapangan.

Menghargai kebahagiaan bukan berarti melupakan masa sulit yang pernah dilewati. Justru ingatan terhadap masa sulit seharusnya menjadi sumber kebijaksanaan. Kesulitan mengajarkan kesabaran, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ketika seseorang berhasil melewati masa-masa itu, seharusnya ia membawa pelajaran tersebut ke dalam masa bahagia yang ia rasakan.

Rasa syukur yang sejati sebenarnya tidak hanya muncul ketika seseorang menerima sesuatu yang ia inginkan. Rasa syukur yang sejati adalah kemampuan untuk tetap mengingat dan menghargai perjalanan hidup secara utuh. Ia tidak bergantung pada keadaan semata. Dalam keadaan sulit, rasa syukur muncul dalam bentuk harapan. Dalam keadaan bahagia, rasa syukur muncul dalam bentuk kesadaran bahwa kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang datang tanpa makna.

Masalahnya, manusia sering kali terlalu cepat beradaptasi dengan kenyamanan. Apa yang dahulu dianggap sebagai anugerah besar, lama-kelamaan menjadi hal yang dianggap biasa. Inilah yang membuat rasa syukur memudar tanpa disadari. Bukan karena manusia tidak ingin bersyukur, tetapi karena ia terbiasa dengan apa yang ia miliki. Kebiasaan membuat keajaiban terasa biasa, dan ketika sesuatu terasa biasa, manusia cenderung berhenti memikirkannya.

Di sinilah pentingnya kesadaran diri. Manusia perlu sesekali berhenti sejenak dan mengingat kembali perjalanan hidupnya. Mengingat hari-hari ketika harapan terasa jauh, ketika doa menjadi satu-satunya pegangan, dan ketika harapan kecil terasa sangat berharga. Ingatan seperti ini bukan untuk membuka kembali luka lama, tetapi untuk menjaga kerendahan hati.

Ketika seseorang mampu mengingat masa sulitnya dengan jujur, ia akan lebih mampu menghargai kebahagiaan yang ia miliki. Ia tidak akan mudah merasa sombong atau lupa diri, karena ia tahu bahwa kehidupan dapat berubah kapan saja. Kesadaran ini membuat kebahagiaan terasa lebih bermakna, bukan sekadar kenyamanan yang dinikmati tanpa pemahaman.

Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang keluar dari kesulitan dan mencapai kebahagiaan. Kehidupan juga tentang bagaimana manusia menjaga ingatan dan kesadarannya sepanjang perjalanan itu. Kesulitan seharusnya mengajarkan kerendahan hati, dan kebahagiaan seharusnya menguatkan rasa syukur.

Jika manusia mampu menjaga ingatan ini, maka kebahagiaan tidak akan membuatnya lupa, dan kesulitan tidak akan membuatnya putus asa. Ia akan berjalan dengan kesadaran bahwa setiap keadaan memiliki maknanya sendiri. Dengan demikian, doa yang pernah dipanjatkan saat sulit tidak akan hilang begitu saja ketika kebahagiaan datang, melainkan tetap hidup sebagai pengingat bahwa segala sesuatu dalam kehidupan memiliki asal dan tujuan yang lebih dalam.

Salam Ramadan

Diantara Cukup dan Tenang

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) – Selepas sholat subuh di suatu pesantren; seorang santri muda mendekati Kiai di serambi pondok, dan berkata: “Yai, kenapa saya merasa selalu kurang, padahal kebutuhan sudah tercukupi?” tanya santri muda tadi. Suaranya lirih, seolah takut mengganggu ketenangan pagi yang masih diselimuti embun.
Sang kiai tidak segera menjawab. Ia memandang halaman pesantren yang masih lengang, lalu berkata pelan, “Nak, yang sering kurang itu bukan hidupmu, melainkan ukuranmu tentang hidup.” Santri itu mengangkat wajahnya. “Bukankah cukup berarti punya banyak, Yai?”. “Tidak selalu,” jawab sang kiai, sambil tersenyum tipis. “Banyak belum tentu cukup, dan sedikit belum tentu kurang. Cukup itu bukan urusan angka, melainkan urusan hati. Kalau hatimu gaduh, sebanyak apa pun yang kau punya tak akan terasa cukup. Tapi kalau hatimu tenang, yang sedikit pun bisa terasa lapang.”

Percakapan itu berhenti, tetapi maknanya tidak. Ia justru membuka pintu bagi pertanyaan yang lebih besar tentang cara manusia modern memahami hidup. Di balik dialog sederhana di pondok pesantren, tersembunyi kritik halus terhadap logika zaman yang menilai keberhasilan dari akumulasi dan kecepatan. Dunia kontemporer membentuk kesadaran bahwa hidup yang baik adalah hidup yang senantiasa bertambah: harta harus meningkat, prestasi harus naik, dan pengalaman harus semakin beragam. Namun ironisnya, di tengah kelimpahan tersebut, rasa cukup justru semakin sulit ditemukan.

Filsafat kontemporer membaca fenomena ini sebagai krisis makna. Manusia tidak kekurangan pilihan, tetapi kehilangan orientasi.

“Cukup” dan “kurang” tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan riil, melainkan oleh perbandingan tanpa henti. Media, teknologi, dan budaya kompetisi menjadikan hidup sebagai etalase pencapaian. Dalam situasi seperti ini, rasa kurang tidak muncul karena ketiadaan, tetapi karena kesadaran yang terus digeser untuk menginginkan lebih. Akibatnya, manusia hidup dalam keadaan tidak pernah tiba, selalu menuju, tetapi jarang berhenti.

Pernyataan bahwa banyak belum tentu cukup dan sedikit belum tentu kurang menantang asumsi dasar tersebut. Ia mengingatkan bahwa cukup adalah pengalaman eksistensial, bukan kondisi material semata. Dalam filsafat kontemporer, pengalaman hidup tidak dipahami sebagai fakta objektif yang berdiri sendiri, melainkan sebagai hasil interaksi antara dunia dan kesadaran. Dua orang dapat berada dalam kondisi yang sama, tetapi menghayatinya secara berbeda. Perbedaan itu terletak pada cara memaknai, bukan pada jumlah yang dimiliki.

Dari sini, ajakan untuk tidak mengejar hidup senang, melainkan hidup tenang, menjadi relevan. Hidup senang sering kali dipahami sebagai rangkaian kepuasan instan: terpenuhinya keinginan, tercapainya target, atau diperolehnya pengakuan. Namun kesenangan bersifat rapuh. Ia bergantung pada kondisi eksternal yang mudah berubah dan selalu menuntut pengulangan. Ketika kesenangan dijadikan tujuan utama, manusia akan terjebak dalam siklus hasrat yang tidak pernah selesai. Begitu satu keinginan terpenuhi, keinginan lain segera menggantikannya.

Hidup tenang tidak berarti hidup tanpa masalah atau tanpa ambisi. Ketenangan adalah sikap batin yang memungkinkan manusia menghadapi kenyataan tanpa terus-menerus dilanda kegelisahan. Ia lahir dari kesadaran akan batas: batas kemampuan, batas keinginan, dan batas kontrol manusia atas hidupnya. Filsafat kontemporer memandang pengakuan terhadap batas ini sebagai bentuk kebijaksanaan. Dengan menyadari bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, manusia justru memperoleh kebebasan batin.

Dalam kerangka ini, mengajari hati untuk bersabar dan bersyukur dalam segala hal menjadi latihan etis yang penting. Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan kemampuan menunda reaksi dan memberi ruang bagi refleksi. Di dunia yang serba cepat, kesabaran sering disalahpahami sebagai ketertinggalan. Padahal, tanpa kesabaran, manusia mudah terjebak dalam keputusan impulsif dan penilaian dangkal. Kesabaran memungkinkan manusia melihat proses sebagai bagian dari makna hidup, bukan sekadar hambatan menuju tujuan.

Rasa syukur, di sisi lain, adalah bentuk penerimaan aktif terhadap kehidupan. Bersyukur bukan berarti menutup mata terhadap penderitaan atau ketidakadilan, tetapi mengakui bahwa hidup selalu mengandung nilai, bahkan dalam keterbatasan. Filsafat kontemporer melihat rasa syukur sebagai cara manusia berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dengan bersyukur, manusia berhenti menunda kebahagiaan ke masa depan dan mulai hadir di saat ini. Kehadiran inilah yang menjadi dasar ketenangan.

Filsafat kontemporer menegaskan bahwa makna tidak selalu ditemukan, tetapi sering kali diciptakan melalui sikap. Dengan prasangka baik, manusia tidak mengubah fakta, tetapi mengubah cara berelasi dengan fakta tersebut. Hal ini memberi ruang bagi ketenangan, karena manusia tidak lagi memaksa hidup untuk selalu sesuai dengan keinginannya. Ia belajar menerima bahwa hidup memiliki logikanya sendiri yang tidak selalu dapat dipahami secara instan.
Pada akhirnya, dialog antara kiai dan santri itu mencerminkan pencarian manusia kontemporer secara umum. Di tengah dunia yang bising, cepat, dan kompetitif, manusia merindukan kesederhanaan makna. Ia lelah mengejar kesenangan yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Yang dibutuhkan bukan tambahan, melainkan penataan ulang orientasi hidup. Bukan hidup yang paling senang, tetapi hidup yang paling tenang.
Salam Ramadan (R-1)

Kaya Itu Berbagi

Oleh: Sudjarwo

“Memberilah saat kamu punya, sedekahlah saat kamu sempit.”

Kalimat ini terdengar sederhana, namun mengandung kedalaman makna yang sering kali baru kita pahami ketika hidup membawa kita pada dua kutub yang berbeda: kelapangan dan kesempitan. Banyak orang merasa mudah berbagi ketika keadaan berlimpah.

Ketika gaji baru saja masuk rekening, ketika usaha sedang ramai, atau ketika hasil panen sedang baik, tangan terasa ringan untuk memberi. Namun ujian sesungguhnya bukanlah pada saat kita memiliki banyak, melainkan ketika kita merasa kekurangan. Di situlah nilai sejati dari sedekah menemukan maknanya.

Memberi saat punya adalah wujud syukur. Ia menjadi cara kita mengakui bahwa apa yang kita miliki bukan semata hasil kerja keras, tetapi juga buah dari kesempatan, pertolongan, dan berbagai kebaikan yang mungkin tak kita sadari.

Dengan memberi, kita membersihkan hati dari kesombongan dan rasa memiliki yang berlebihan. Harta tidak lagi menjadi tuan yang mengendalikan, melainkan alat yang kita gunakan untuk menebar manfaat. Saat kita berbagi dalam kelapangan, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya berasal dari mengumpulkan, tetapi juga dari mengalirkan.

Namun, bersedekah saat sempit adalah bentuk kepercayaan yang jauh lebih dalam. Ketika kondisi ekonomi menurun, ketika kebutuhan terasa menumpuk, dan ketika masa depan tampak tak pasti, naluri manusia cenderung menggenggam lebih erat apa yang ada. Rasa takut kekurangan membuat kita berhitung dengan cermat, bahkan untuk sekadar berbagi sedikit.

Di sinilah sedekah berubah dari sekadar tindakan sosial menjadi latihan spiritual. Ia menantang logika sederhana yang berkata bahwa memberi akan mengurangi. Justru dalam kesempitan, memberi mengajarkan bahwa rezeki tidak selalu berbentuk angka yang bertambah, melainkan ketenangan hati, kekuatan menghadapi hari, dan jaringan kepedulian yang tak ternilai.

Sedekah dalam kondisi sempit tidak harus berupa uang dalam jumlah besar. Ia bisa hadir dalam bentuk waktu, tenaga, perhatian, atau sekadar senyum yang tulus.

Seseorang yang sedang berjuang mencari pekerjaan tetap bisa membantu temannya menyusun lamaran. Seorang ibu yang hidup sederhana tetap bisa berbagi makanan dengan tetangga yang lebih membutuhkan. Seorang pelajar dengan uang saku terbatas masih bisa meminjamkan buku atau berbagi catatan. Nilai sedekah tidak diukur dari nominal, melainkan dari ketulusan dan pengorbanan yang menyertainya.

Ada paradoks yang menarik dalam praktik memberi. Semakin kita takut kekurangan, semakin sempit hati kita terasa. Sebaliknya, ketika kita tetap memilih berbagi meski dalam keterbatasan, hati justru terasa lapang. Seolah-olah ada ruang baru yang terbuka di dalam diri, ruang yang dipenuhi rasa cukup. Rasa cukup inilah yang sering kali lebih berharga daripada tambahan materi. Ia membuat kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan mulai mensyukuri apa yang ada di tangan.

Memberi saat sempit juga menumbuhkan solidaritas. Dalam masyarakat, tidak semua orang berada pada titik kelapangan yang sama. Ada yang sedang naik, ada yang sedang turun. Ketika mereka yang sedang turun tetap mau berbagi, tercipta budaya saling menopang yang kuat. Hari ini kita memberi meski sedikit, esok mungkin kita yang menerima ketika keadaan berbalik. Siklus ini membangun rasa saling percaya bahwa kita tidak berjalan sendirian. Sedekah menjadi jembatan yang menghubungkan satu hati dengan hati lainnya.

Lebih jauh lagi, kebiasaan memberi membentuk karakter. Ia melatih kita untuk tidak terjebak pada mentalitas kelangkaan, yaitu keyakinan bahwa dunia ini sempit dan rezeki terbatas sehingga orang lain dianggap sebagai pesaing. Dengan bersedekah, kita menanamkan keyakinan bahwa kebaikan tidak akan pernah membuat kita rugi. Mungkin harta berkurang secara kasatmata, tetapi kualitas diri bertambah. Kita menjadi pribadi yang lebih empatik, lebih peka terhadap penderitaan, dan lebih ringan tangan dalam membantu.

Tentu saja, memberi tidak berarti mengabaikan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga. Kebijaksanaan tetap diperlukan agar sedekah tidak berubah menjadi beban baru. Namun sering kali, yang menghalangi kita bukanlah ketiadaan, melainkan ketakutan. Ketakutan bahwa apa yang kita berikan tidak akan kembali. Padahal, yang kembali tidak selalu dalam bentuk yang sama. Kebaikan yang kita tabur bisa tumbuh menjadi doa orang lain, relasi yang kuat, atau peluang yang tak terduga.

Pada akhirnya, ajakan untuk memberi saat punya dan bersedekah saat sempit adalah undangan untuk melatih hati dalam segala keadaan. Ia mengajarkan konsistensi dalam kebaikan, bukan kebaikan yang musiman. Saat lapang, kita belajar bersyukur. Saat sempit, kita belajar percaya. Keduanya sama-sama membentuk kedewasaan batin.

Hidup akan terus berputar. Tidak ada kelapangan yang abadi, dan tidak ada kesempitan yang selamanya. Namun jika dalam setiap fase kita tetap memilih untuk berbagi, kita sedang membangun sesuatu yang lebih kokoh daripada sekadar kekayaan materi: kita membangun jiwa yang dermawan. Dan jiwa seperti itulah yang, dalam keadaan apa pun, selalu menemukan alasan untuk merasa cukup dan tetap menebar cahaya bagi sekitar.

Salam Ramadan!

*Guru Besar Universitas Malahayati

Pantulan Kepemimpinan yang Memabukkan

Oleh Prof Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati

DALAM kehidupan berbangsa dan bernegara, kekuasaan selalu membawa dua kemungkinan sekaligus: kemampuan untuk memperbaiki keadaan, dan potensi untuk menjauh dari kenyataan. Kekuasaan memberi seseorang kewenangan untuk mengambil keputusan yang memengaruhi banyak orang.

Namun pada saat yang sama, kekuasaan juga menciptakan jarak antara pemimpin dan realitas yang dihadapi oleh masyarakat. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula kemungkinan ia tidak lagi mendengar suara yang sebenarnya.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu negara atau satu zaman tertentu. Ia merupakan bagian dari dinamika kekuasaan yang hampir selalu berulang dalam sejarah manusia. Dalam konteks Indonesia hari ini, pelajaran tentang bagaimana seorang pemimpin berhadapan dengan pantulan dirinya sendiri terasa semakin relevan.

Dalam ruang-ruang kekuasaan, selalu ada orang-orang yang memilih untuk menyenangkan hati pemimpin. Mereka membenarkan setiap keputusan, memuji setiap langkah, dan menghindari kata-kata yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan.

Dalam banyak kasus, sikap ini lahir bukan semata karena niat buruk, tetapi karena sistem sosial dan politik yang membuat banyak orang merasa bahwa keamanan posisi lebih penting daripada kejujuran.

Budaya hierarki yang kuat dalam birokrasi dan politik Indonesia turut memperkuat kecenderungan tersebut. Dalam struktur yang sangat menghormati atasan, kritik sering dianggap sebagai sikap tidak sopan, bahkan sebagai bentuk ketidaksetiaan.

Akibatnya, banyak orang memilih diam atau menyampaikan sesuatu dengan cara yang sangat halus hingga maknanya hampir hilang.

Di permukaan, keadaan ini tampak seperti harmoni. Rapat berjalan lancar, keputusan diterima tanpa perdebatan panjang, dan suasana di sekitar pemimpin terlihat penuh dukungan. Namun harmoni semacam ini sering kali hanyalah ketenangan yang rapuh.

Di balik persetujuan yang tampak seragam, bisa saja tersimpan banyak kegelisahan yang tidak pernah diucapkan. Dalam situasi seperti itu, seorang pemimpin sebenarnya sedang berdiri di depan sebuah cermin besar.

Orang-orang di sekelilingnya memantulkan apa yang mereka kira ingin dilihat oleh sang pemimpin. Jika pemimpin itu ingin mendengar bahwa kebijakannya berhasil, maka pantulan yang muncul adalah pujian.

Jika ia ingin melihat dirinya sebagai sosok yang selalu benar, maka lingkungan di sekitarnya akan meneguhkan keyakinan itu.

Namun cermin tidak pernah menciptakan wajah baru. Ia hanya memantulkan apa yang berdiri di depannya. Karena itu, keberadaan orang-orang yang selalu mengiyakan sebenarnya bukanlah sumber utama masalah.

Mereka hanyalah bagian dari mekanisme sosial yang muncul ketika kekuasaan bertemu dengan kebutuhan manusia untuk diakui. Selama seorang pemimpin membutuhkan penguatan ego, selama itu pula akan selalu ada orang yang bersedia memberikannya.

Di sinilah letak ujian terbesar bagi kepemimpinan. Seorang pemimpin yang tidak memiliki kesadaran diri yang kuat bisa dengan mudah terjebak dalam pantulan tersebut. Ia mulai percaya bahwa setiap kebijakannya selalu tepat.

Ia merasa bahwa kritik hanyalah gangguan dari pihak yang tidak memahami keadaan. Lambat laun, ia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara dukungan yang tulus dan persetujuan yang lahir dari kepentingan.

Kondisi ini tidak jarang terlihat dalam dinamika kehidupan publik Indonesia. Di tengah kompetisi politik yang keras, dukungan sering kali dibangun melalui loyalitas personal yang kuat.

Ketika seseorang sudah berada dalam lingkaran kekuasaan, lingkungan di sekitarnya cenderung dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan untuk menjaga kedekatan tersebut. Akibatnya, ruang untuk menyampaikan pandangan yang berbeda menjadi semakin sempit.

Di sisi lain, masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki tradisi panjang dalam menghargai kebijaksanaan dan kerendahan hati dalam kepemimpinan. Dalam banyak cerita, nilai yang selalu ditekankan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mendengar, menimbang, dan tidak mudah tersinggung oleh kritik.

Kepemimpinan tidak dilihat hanya dari kekuatan mengambil keputusan, tetapi juga dari kedewasaan dalam menerima masukan. Dalam konteks demokrasi modern, nilai-nilai ini seharusnya menemukan bentuk baru melalui berbagai mekanisme pengawasan.

Media massa, lembaga akademik, organisasi masyarakat sipil, dan ruang diskusi publik berfungsi sebagai cermin sosial yang memperlihatkan berbagai sisi dari sebuah kebijakan.

Melalui kritik dan analisis, pemimpin dapat melihat dampak nyata dari keputusan yang diambil. Namun tantangannya muncul ketika kritik dipersepsikan sebagai ancaman. Dalam iklim politik yang semakin sensitif, perbedaan pendapat sering berubah menjadi pertarungan identitas.

Kritik terhadap kebijakan bisa dengan cepat ditafsirkan sebagai serangan terhadap pribadi atau kelompok tertentu. Ketika hal ini terjadi, dialog yang sehat menjadi sulit berkembang.

Orang-orang lebih sibuk mempertahankan posisi daripada mencari kebenaran bersama. Padahal, dalam kehidupan bernegara yang kompleks seperti Indonesia, tidak ada kebijakan yang sempurna. Setiap keputusan selalu memiliki konsekuensi yang perlu dievaluasi.

Tanpa ruang untuk kritik, proses evaluasi itu menjadi lemah. Di sinilah pentingnya kemampuan seorang pemimpin untuk bercermin tanpa merasa terancam oleh pantulan yang dilihatnya.

Seorang pemimpin yang matang memahami bahwa pujian bukan selalu tanda keberhasilan. Ia menyadari bahwa dukungan yang terlalu seragam justru bisa menjadi pertanda bahwa orang-orang di sekitarnya tidak lagi merasa bebas untuk berbicara.

Karena itu, ia secara sadar membuka ruang bagi perbedaan pendapat. Ia tidak memusuhi kritik, tetapi mendengarkannya dengan tenang. Ia tidak merasa kehilangan wibawa ketika ada yang tidak setuju.

Sebaliknya, ia justru melihat perbedaan pandangan sebagai cara untuk memperkaya keputusan yang akan diambil.

Sikap semacam ini membutuhkan kekuatan batin yang tidak kecil. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa seorang pemimpin juga bisa keliru. Dibutuhkan keberanian untuk tetap terbuka terhadap suara yang tidak selalu menyenangkan. Namun justru di situlah letak kebesaran kepemimpinan.

Dalam perjalanan sebuah bangsa, kekuasaan akan selalu datang dan pergi. Jabatan yang hari ini tinggi suatu saat akan berganti tangan. Yang tersisa bukanlah besarnya kekuasaan yang pernah dimiliki, melainkan bagaimana kekuasaan itu dijalankan. Apakah ia digunakan untuk memperkuat ego pribadi, atau untuk melayani kepentingan bersama.

Pada akhirnya, setiap pemimpin selalu memiliki sebuah cermin di sekelilingnya. Cermin itu bisa berupa para pendukung, para penasihat, para pejabat, atau bahkan suara masyarakat yang datang melalui kritik. Semua itu memantulkan gambaran tentang dirinya sebagai pemimpin.

Pertanyaannya bukan apakah cermin itu ada atau tidak. Pertanyaannya adalah apakah ia berani melihat pantulan itu dengan jujur. Karena seorang pemimpin tidak jatuh hanya karena ada orang yang memujinya. Ia jatuh ketika ia mulai percaya bahwa bayangan dirinya sendiri adalah kebenaran yang tidak perlu lagi diuji.

Salam Ramadan

Sekitar Kita PULANG KE DALAM (Saat Penilaian Tak Lagi Berkuasa)

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Di serambi pesantren yang lengang selepas subuh, seorang santri duduk bersila dengan wajah gelisah. Kitab di pangkuannya tertutup sejak tadi. Sang kiai menghampiri perlahan, lalu duduk di depannya tanpa suara. “Kenapa pagi-pagi sudah berat begitu napasmu?” tanya kiai lembut. Santri menunduk. “Saya bingung, Yai. Kalau dipuji, hati saya berbunga. Tapi kalau dicela, rasanya runtuh. Saya capek bolak-balik seperti ini.”

Kiai tersenyum tipis. “Lalu apa yang kau cari dari pujian dan hinaan itu?” “Saya ingin merasa cukup,” jawab santri jujur. “Cukup menurut siapa?” tanya kiai. Santri terdiam lama. “Mungkin… menurut orang.”

Kiai mengambil segenggam kerikil di lantai. “Jika orang bilang kerikil ini emas, apakah ia berubah jadi emas?” “Tidak, Yai.” Jawab santri tegas. “Jika orang menghina emas dan menyebutnya batu, apakah emas itu kehilangan nilainya?” lanjut kiai. Santri menggeleng.

“Begitu juga dirimu,” kata kiai pelan. “Nilai tidak lahir dari lidah manusia. Ia lahir dari pengenalanmu kepada siapa dirimu di hadapan Tuhan.” Santri menarik napas. “Tapi bagaimana caranya, Yai, agar hati saya tidak ikut naik dan jatuh?” Kiai menatap halaman pesantren yang sunyi, dan berkata dengan tegas. “Pulang.” “Pulang ke mana?” jawab santri bingung. “Ke dalam,” jawab kiai. “Selama kau tinggal di luar, di mata orang, di suara manusia, kau akan terus jadi tamu. Tamu selalu gelisah. Tapi ketika kau pulang ke dalam dirimu, kau tak lagi sibuk meminta izin untuk merasa berharga.”

Santri mengangguk perlahan. “Jadi ketika pujian dan hinaan terasa sama…” “Itu bukan karena kau tak punya rasa,” potong kiai lembut, “melainkan karena rasamu sudah menemukan rumahnya.” Santri tersenyum kecil. “Berarti itu tanda saya selesai dengan diri saya?” Kiai tertawa pelan. “Bukan selesai hidup, tapi selesai bertengkar dengan diri sendiri. Dan itu awal dari ketenangan.” Angin pagi berembus. Santri menunduk, kali ini dengan dada yang lebih lapang.

Ada satu fase dalam perjalanan batin manusia yang sunyinya tidak menakutkan, justru menenangkan. Fase ketika sanjungan tidak lagi membuat dada mengembang, dan hinaan tidak lagi meruntuhkan langkah. Rasa yang muncul dari keduanya sama: netral, jernih, dan tenang. Pada titik inilah seseorang diam-diam telah menyelesaikan urusan terpanjang dalam hidupnya, yaitu urusan dengan diri sendiri.

Sejak awal, manusia tumbuh dengan cermin di sekelilingnya. Cermin itu bernama penilaian. Kita belajar mengenali diri dari apa yang dikatakan orang lain: pujian dianggap bukti keberhargaan, cercaan dianggap tanda kegagalan. Tanpa sadar, identitas dibangun dari gema suara luar. Maka tidak heran jika sanjungan terasa seperti cahaya yang menghidupkan, sementara hinaan menjelma gelap yang menyesakkan. Kita berlari mengejar yang satu dan menghindari yang lain, seolah keduanya menentukan siapa kita sebenarnya.

Namun, ada harga yang harus dibayar ketika hidup terlalu bergantung pada penilaian. Kegembiraan menjadi rapuh karena bersyarat, dan ketenangan mudah runtuh karena satu kalimat yang salah. Di sanalah kelelahan batin bermula. Seseorang bisa tampak kuat di luar, tetapi di dalam terus-menerus bernegosiasi dengan ekspektasi, membuktikan nilai, dan membela harga diri yang sesungguhnya belum benar-benar dikenal.

Ketika sanjungan dan hinaan terasa sama, bukan karena keduanya kehilangan makna, melainkan karena makna hidup tidak lagi dititipkan pada keduanya. Pujian bisa diterima sebagai apresiasi, bukan validasi. Hinaan bisa dipahami sebagai sudut pandang, bukan vonis. Keduanya lewat seperti angin: terasa, tapi tidak menetap. Yang tinggal hanyalah kesadaran bahwa nilai diri tidak berkurang oleh kebencian, dan tidak bertambah oleh kekaguman.

Di titik ini, seseorang mulai hidup dengan pijakan ke dalam. Keputusan diambil bukan untuk menyenangkan semua orang, melainkan untuk setia pada nilai yang diyakini. Ada keberanian untuk berkata tidak tanpa rasa bersalah, dan kerendahan hati untuk berkata salah tanpa takut kehilangan harga diri. Hidup menjadi lebih sederhana, bukan karena masalah berkurang, tetapi karena konflik batin tidak lagi diperpanjang.

Menyelesaikan diri sendiri juga berarti berhenti menjadikan masa lalu sebagai ruang sidang abadi. Penyesalan tidak lagi diulang-ulang untuk menghukum diri, dan kesuksesan lampau tidak terus dipuja untuk membenarkan ego. Semuanya ditempatkan sebagai pengalaman: pernah ada, memberi pelajaran, lalu dilepaskan. Dengan begitu, energi hidup tidak habis untuk mempertahankan cerita lama, tetapi tersedia untuk hadir sepenuhnya di hari ini.

Pada akhirnya, titik sunyi ini bukanlah tujuan yang bisa dipamerkan. Ia hadir diam-diam, sering kali setelah lelah mencoba menjadi banyak hal. Ketika keinginan untuk diakui berubah menjadi keberanian untuk menerima, dan kebutuhan untuk dipuji bergeser menjadi komitmen untuk jujur. Saat itulah sanjungan dan hinaan berdiri sejajar, bukan karena dunia menjadi lebih ramah, tetapi karena diri telah menjadi rumah yang aman. Dan mungkin, itulah bentuk kebebasan paling sederhana sekaligus paling langka: hidup tanpa, harus terus membela diri, tanpa harus terus membuktikan apa pun, karena kita akhirnya tahu, dan menerima, siapa diri kita sebenarnya.

Salam Ramadan

HENING TANPA TUNTUTAN

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Usai sholat Tarawih malam itu, nafas para santri masih terasa berat. Satu juz telah dilantunkan tanpa jeda panjang, membuat kaki pegal dan punggung terasa kaku. Beberapa santri langsung merebahkan diri di serambi masjid pesantren, sementara yang lain berjalan pelan menuju asrama. Di sudut halaman yang mulai sepi, seorang santri menghampiri kiai yang baru saja duduk melepas sorban.

“Yai,” ucapnya lirih, “malam ini terasa sekali lelahnya. Berdiri lama, bacaan panjang. Tapi saya justru merasa ada yang kosong.”

Kiai memandangnya lembut. “Kosong bagaimana, Nak?”

“Saya khawatir, jangan-jangan saya hanya sibuk menyelesaikan satu juz. Bangga karena kuat berdiri. Tapi hati saya tidak benar-benar hadir.”

Kiai tersenyum tipis. “Itu kegelisahan yang baik. Banyak orang selesai Tarawih merasa puas karena target tercapai. Tapi jarang yang bertanya apakah dirinya sudah benar-benar tunduk.”

Santri itu menunduk. “Bukankah semakin banyak bacaan semakin baik, Yai?”

“Baik, jika membuatmu makin kecil di hadapan Allah. Tapi kalau justru membuatmu merasa lebih kuat, lebih hebat, itu tanda ego masih ikut berdiri di saf.”

Santri itu terdiam, mengingat kembali rakaat demi rakaat yang baru saja ia jalani.

“Tarawih panjang,” lanjut kiai pelan, “seharusnya melatih kita merendah. Lelah itu mengikis kesombongan. Saat kaki gemetar dan punggung sakit, kau sadar bahwa kau rapuh. Di situlah sholat menjadi perendahan diri.”

“Jadi lelah ini bukan sia-sia, Yai?” sergah Santri.

“Tidak. Jika kau jadikan ia jalan untuk pasrah. Sholat bukan tentang kuat berdiri satu juz, tapi tentang luluhnya ‘aku’ dalam setiap ayat yang kau dengar.”

Santri itu menarik napas panjang, kali ini lebih ringan. Malam terasa hening, dan di antara rasa lelah, ia mulai memahami bahwa yang diuji bukan hanya fisiknya, melainkan egonya.

Ada satu tahap dalam perjalanan batin ketika sholat tidak lagi dipahami sebagai sekadar kewajiban ritual, gerakan tubuh, atau rangkaian bacaan yang harus ditunaikan. Ia berubah menjadi peristiwa eksistensial: perendahan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah. Pada titik ini, sholat bukan lagi tentang apa yang kita lakukan, melainkan tentang siapa yang luruh ketika berdiri, rukuk, dan sujud. Yang hadir bukan ambisi rohani, bukan pula pencitraan kesalehan, melainkan kesadaran bahwa diri ini sepenuhnya milik dan dalam genggaman-Nya.

Sering kali manusia mendekati ibadah dengan membawa agenda. Ada yang ingin ketenangan, ada yang mencari solusi, ada yang berharap pahala, bahkan ada yang ingin diakui sebagai pribadi saleh. Tanpa disadari, ego menyelinap dalam bentuk yang paling halus. Ia bersembunyi di balik doa-doa panjang, dalam kekhusyukan yang dipamerkan, dalam keinginan agar dilihat sebagai hamba yang taat. Sholat menjadi panggung sunyi tempat diri masih ingin berdiri sebagai pusat perhatian; meskipun yang dituju adalah Tuhan.

Namun bagi mereka yang telah memahami hakikatnya, sholat adalah momen penghancuran pusat itu. Ketika takbir diucapkan, yang dibesarkan bukan diri, melainkan Allah semata. Ketika berdiri, yang dirasakan bukan kebanggaan sebagai hamba yang beribadah, tetapi kesadaran akan kerapuhan diri. Ketika rukuk, tulang punggung yang biasanya tegak oleh kesombongan dipaksa tunduk. Ketika sujud, dahi, simbol martabat manusia, diletakkan di tanah, seakan mengakui bahwa asal dan akhir manusia hanyalah debu dalam kehendak-Nya.

Pada titik ini, sholat menjadi titik nol kesadaran. Segala identitas sosial menguap: jabatan, harta, reputasi, bahkan citra kesalehan. Tidak ada lagi kebutuhan untuk dianggap baik. Tidak ada lagi hasrat untuk dipuji sebagai ahli ibadah. Yang ada hanyalah kesadaran murni bahwa diri ini sepenuhnya bergantung. Ketergantungan itu bukan kelemahan, melainkan kebenaran terdalam tentang keberadaan manusia. Di hadapan Yang Mahakuasa, semua ego hanyalah ilusi yang rapuh.

“Sowan Gusti Allah” menjadi ungkapan yang tepat sekaligus dalam untuk menggambarkan keadaan ini. Bukan  datang untuk meminta, bukan pula datang untuk menawar takdir, tetapi datang sebagai hamba yang ingin hadir. Dalam keheningan itulah sholat menemukan maknanya yang paling dalam: kehadiran total tanpa syarat. Ketika seseorang sampai pada kesadaran ini, doa-doanya berubah. Ia tidak lagi didominasi oleh daftar permintaan. Bahkan permohonan pun terasa sebagai bentuk ketergantungan yang sederhana, bukan tuntutan. Jika diberi, ia bersyukur. Jika tidak, ia tetap bersujud. Kepasrahan bukan berarti pasif atau menyerah pada nasib tanpa usaha, melainkan menerima bahwa hasil akhir bukan berada dalam genggamannya. Usaha adalah kewajiban, tetapi keputusan adalah hak prerogatif Allah.

Kepasrahan total ini melahirkan kedamaian yang tidak tergantung pada keadaan. Sholat tidak lagi menjadi sarana untuk melarikan diri dari masalah, melainkan ruang untuk menempatkan masalah pada proporsinya. Masalah tetap ada, kesulitan tetap nyata, tetapi hati tidak lagi memberontak. Ada keyakinan sunyi bahwa apa pun yang terjadi adalah bagian dari kehendak-Nya yang lebih luas dari pemahaman manusia.

Di sinilah ego benar-benar lenyap. Ego selalu ingin mengendalikan, ingin memastikan, ingin dihargai, ingin diakui. Namun dalam sholat yang sejati, semua keinginan itu lepas. Hamba tidak lagi menuntut agar hidupnya sesuai dengan rencana pribadinya. Ia tidak lagi memaksa doa agar terwujud sesuai ekspektasinya. Ia menerima bahwa kehendak Allah jauh melampaui logika dan harapan manusia.

Keadaan ini bukan sesuatu yang instan. Ia lahir dari pergulatan panjang melawan diri sendiri. Setiap kali sholat dilakukan dengan kesadaran yang jernih, sedikit demi sedikit ego terkikis. Setiap sujud menjadi latihan meruntuhkan kesombongan. Setiap salam menjadi pengingat bahwa hidup setelah sholat pun harus dijalani dengan kesadaran yang sama: rendah hati, pasrah, dan tulus.

Ketika sholat dipahami sebagai pertemuan, bukan sebagai transaksi, maka orientasi hidup pun berubah. Ibadah tidak lagi diukur dari seberapa banyak orang melihat atau memuji, tetapi dari seberapa dalam hati merasa kecil di hadapan-Nya. Keikhlasan tidak lagi menjadi konsep yang diucapkan, melainkan pengalaman yang dirasakan. Ada kelegaan ketika tidak perlu lagi menjadi apa-apa di mata manusia, karena yang terpenting adalah menjadi hamba di hadapan Allah.

Pada akhirnya, sholat adalah perjalanan kembali ke asal: kesadaran bahwa manusia bukan pusat semesta. Ia adalah makhluk yang bergantung, yang hidup atas izin, yang bergerak atas kehendak. Dalam sujud yang paling dalam, manusia menemukan kebebasan tertingginya yaitu; kebebasan dari ego, dari ambisi semu, dari kebutuhan akan pengakuan. Yang tersisa hanyalah kepasrahan total. Dan dalam kepasrahan itulah, justru martabat manusia menemukan kemuliaannya.

Salam Ramadhan

DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Ruangan itu hening, seolah waktu menahan napasnya sendiri. Cahaya redup menggantung di langit-langit, dan detak yang tersisa berdentang pelan seperti lonceng jauh di lembah tak terlihat. Di antara bayang dan napas yang menipis, hadir sebuah percakapan yang tak terdengar oleh telinga dunia; percakapan antara yang datang untuk menjemput dan yang bersiap untuk pulang.

“Aku tahu kau ada,” bisik manusia itu dalam batinnya, tanpa suara, tanpa gerak bibir. “Sejak beberapa hari lalu, udara terasa berbeda. Ada dingin yang tak berasal dari angin.”

“Aku selalu ada,” jawab malaikat pencabut nyawa, lembut tanpa mengguncang. “Bukan untuk menakutkan, melainkan untuk menuntun. Setiap yang bernapas telah dijanjikan akan dipertemukan denganku.”

“Apakah ini saatnya?” tanya manusia itu. Ada gemetar di antara pasrah dan ragu.

“Waktu bukan milikmu, dan bukan pula milikku,” sahut sang malaikat. “Ia adalah titipan yang kini kembali kepada Pemiliknya. Saatnya telah sampai sebagaimana tertulis, tidak lebih cepat, tidak pula terlambat.”

Manusia itu terdiam. Ingatan berkelindan seperti lembaran-lembaran yang tersibak angin. Wajah-wajah yang dicintai, tawa yang pernah mengisi ruang makan, tangis yang pecah di sudut malam, doa-doa yang kadang khusyuk, kadang tergesa. “Aku belum selesai,” gumamnya. “Masih ada yang ingin kupeluk lebih lama. Masih ada maaf yang belum sempat kuucapkan.”

“Tak ada manusia yang merasa benar-benar selesai,” jawab malaikat itu. “Kehidupan di dunia adalah persinggahan. Ia tak dirancang untuk lengkap, melainkan untuk menguji dan membentuk. Yang kau sebut belum selesai, sering kali adalah kerinduan untuk menunda perpisahan.”

“Tapi aku takut,” suara itu kini lebih jujur. “Takut pada gelap. Takut pada pengadilan atas segala yang telah kulakukan. Ada hari-hari ketika aku lalai. Ada kata-kata yang menyakiti. Ada kesempatan berbuat baik yang kulewatkan. Ada dosa yang kulakukan”

Keheningan mengembang, namun bukan keheningan yang kosong. “Takut adalah tanda bahwa hatimu masih hidup,” kata malaikat itu. “Namun ingatlah, rahmat lebih luas daripada kesalahan. Pintu ampunan tak tertutup selama napas masih ada. Bahkan kini, di detik-detik terakhirmu, penyesalan yang tulus memiliki cahaya.”

Manusia itu merasakan sesuatu meluruh dari dadanya; bukan sakit, melainkan beban. “Apakah semua akan diperlihatkan?” tanyanya lirih.

“Semua yang kau tanam akan kau lihat tumbuhnya,” jawab Sang Penjemput. “Kebaikan sekecil apa pun tak akan hilang, sebagaimana keburukan sekecil apa pun tak akan tersembunyi. Tetapi keadilan tak pernah berdiri tanpa kasih.”

“Aku sering mengira hidup ini panjang,” lanjut manusia itu. “Aku menunda-nunda perubahan. Kukira esok selalu tersedia untuk ku.”

“Begitulah manusia belajar tentang waktu,” balas malaikat. “Ia terasa luas saat dijalani, namun tampak singkat ketika dikenang. Banyak yang baru memahami arti satu hari ketika hari-harinya hampir habis.”

Ada desir halus, seperti tirai yang bergeser. Tubuh di tempat tidur itu semakin lemah, tetapi kesadarannya justru terasa terang. “Apakah perpisahan ini menyakitkan?” pertanyaan itu meluncur seperti anak kecil yang takut pada malam.

“Bagi yang hatinya terpaut hanya pada dunia, perpisahan terasa seperti direnggut,” ujar malaikat dengan tenang. “Namun bagi yang memandang dunia sebagai ladang, ia adalah musim panen. Rasa yang kau alami akan sepadan dengan apa yang memenuhi hatimu.”

Manusia itu mencoba menimbang hatinya sendiri. Ada cinta pada keluarga, ada bangga pada pencapaian, ada sesal atas kesalahan, dan ada rindu pada kedamaian yang lebih dalam dari sekadar istirahat. “Jika aku diberi satu kesempatan lagi,” katanya, “aku ingin lebih banyak bersyukur dan lebih sedikit mengeluh. Lebih cepat meminta maaf dan lebih ringan memberi.”

“Setiap jiwa memiliki kesempatan saat waktunya berjalan,” jawab malaikat. “Kini kesempatanmu berubah bentuk. Bukan lagi untuk menambah amal, melainkan untuk menyerahkan hasilnya.”

“Apakah mereka akan baik-baik saja?” tanya manusia itu, memikirkan yang akan ditinggalkan.

“Setiap jiwa memiliki jalannya sendiri,” sahut sang malaikat. “Sebagaimana kau dijaga sepanjang hidupmu, mereka pun dalam penjagaan yang sama. Kepergianmu adalah bagian dari kisah mereka, sebagaimana kepergian orang-orang sebelum ini pernah membentuk dirimu.”

Napas itu semakin tipis, seperti benang yang hampir putus. Namun di ambang itu, ada kejernihan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. “Aku siap,” ucap manusia itu akhirnya. Bukan tanpa sedih, tetapi tanpa penolakan.

“Berserahlah,” bisik malaikat pencabut nyawa. “Lepaskan sebagaimana daun melepaskan dirinya dari dahan saat musimnya tiba. Engkau tak sedang menuju ketiadaan, melainkan berpindah dari satu ruang ke ruang yang lain.”

Detik terakhir tiba bukan dengan dentuman, melainkan dengan kelembutan yang tak terlukiskan. Di dunia, mungkin hanya terdengar helaan napas panjang yang terhenti. Namun di balik tabir, sebuah perjalanan dimulai.

Percakapan itu usai, tetapi maknanya tinggal bagi siapa pun yang masih bernapas. Bahwa kematian bukan sekadar akhir yang menakutkan, melainkan cermin yang memantulkan cara kita menjalani hidup. Di ambang sunyi yang terakhir, manusia tak lagi membawa harta atau gelar, hanya jejak amal dan keadaan hati. Dan di sana, di antara takut dan harap, setiap jiwa akhirnya belajar bahwa hidup adalah kesempatan yang terlalu berharga untuk ditunda-tunda. الْمَوْت ذَائِقَةُ نَفْسٍ كُلُّ (Kullu nafsin żā’iqatul-maut).

Salam Ramadan