Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
MEMBACA berita awal tahun 2026 pada media ini yang digawangi oleh Herman Batin Mangku (HBM) memunculkan banyak pertanyaan di kepala: Pemprov Lampung ingin ngutang Rp1 triliun buat bangun jalan dan Pemkot Bandarlampung lengserkan pejabat yang baru setahun definitif. What is it? Uji kito, ado apo Wak?
Pertanyaan ini muncul di banyak benak masyarakat daerah ini. Menjelang tutup kantor di suatu lembaga resmi pemerintahan, dua pegawai begesah, yang ringkasannya sebagai berikut:
Ujang: “Eh, Din, kau denger dak kabar dari lantai atas kemaren?”
Udin: “Kabar apo lagi, Jang? Rasanyo tiap minggu ado bae yang bikin kening bekerut.”
Ujang: “Itu soal rencana proyek lanjutan. Katonyo danonyo dari utangan lagi.”
Udin: “Halah… utangan lagi, utangan lagi. Kito ni wong bawah cuma bisa ngitung sisa kertas di laci.”
Ujang: “Iyo nian. Di rapat kito disuruh setuju bae. Dak usah banyak tanyo.”
Udin: “Kalo ado yang nyinggung dikit soal risiko, langsung dipandang cak salah ngomong.”
Ujang: “Aku kemaren nyebut anggaran rutin makin cekak, langsung diajak pindah topik.”
Udin: “Itu tandonyo, Jang. Artinyo, ‘cukup tau bae, jangan mikir jauh’.”
Ujang: “Padahal kito ni yang tiap hari ngadep masyarakat. Kito tau betul keluhannyo.”
Udin: “Yo nia. Pelayanan dipercepat di kertas, tapi di lapangan serbo terbatas.”
Ujang: “Yang aku heran, baliho proyek besaaak nian, tapi ATK bae disuruh irit.”
Udin: “Hahaha, itulah seni bertahan. Yang penting kejingokan hebat.”
Ujang: “Tapi hutang itu dak ilang, Din. Siapo yang nanggung kagek?”
Udin: “Bukan dio lagi. Pengganti, rakyat, mungkin jugo anak cucu kito.”
Ujang: “Kadang aku ngeraso kito ni dak punyo suara.”
Udin: “Suara ado, tapi volumenyo dikecik ke.”
Ujang: “Sedih yo, Din. Negeri kito sebenernyo biso maju kalo mikirnyo panjang.”
Udin: “Iyo. Tapi selagi kito di sini, kito kerjo jujur bae. Biar hati tenang.”
Ujang:“Bener. Selebihnyo, waktu yang bakal jawab.”
Ungkapan nak mbangun ngutang, idak senang tendang kini makin sering terdengar saat obrolan warung kopi di pinggir sungai sampai ke ruang diskusi kampus. Kalimat ini bukan sekadar guyonan wong kito, tapi sudah jadi kritik sosial yang pedas nian.
Di zaman kini, banyak pemimpin di negeri ini yang pikirannya sempit, muter di situ-situ bae: bagaimana caronya mbangun cepat, tapi duitnyo idak dari keringat sendiri, melainkan dari utangan. Soal bayar belakangan, itu urusan wong lain, pengganti nanti.
Asal kini nampak megah, proyek berdiri, foto terpajang, urusan selesai. Model kepemimpinan cak ini sebenarnyo idak baru, tapi di kondisi kekinian, gejalonyo makin jelas. Di tengah ekonomi yang belum stabil, beban hidup masyarakat makin berat, pemimpin malah ringan tangan ngutang.
Alasannya klise: demi pembangunan, demi percepatan, demi kepentingan rakyat. Tapi rakyat jugo yang akhirnya nanggung akibatnyo. Utang itu bukan hilang, tapi diwariskan. Anak cucu wong kito nanti yang bakal nyicilnyo pelan-pelan, lewat pajak, lewat potongan, lewat pelayanan publik yang makin diketatkan.
Yang lebih miris, kalau ado pejabat atau pihak yang ngingetin soal risiko, soal kehati-hatian, malah dianggap pengganggu. Bukannya didengar, malah “ditendang”. Ditendang bukan selalu berarti fisik, tapi bisa dalam bentuk disingkirkan, dilabeli pembangkang, atau dibuat idak punyo ruang bersuara.
Budaya kritik jadi mati. Padahal dalam pemerintahan yang sehat, kritik itu vitamin, bukan racun. Tapi bagi pemimpin yang pikirannya sudah dikunci ambisi, kritik itu dianggap ancaman.
Di sudut pandang kekinian, kondisi ini bahayo nian. Dunia sekarang menuntut transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Masyarakat sudah makin melek informasi. Media sosial jadi ruang terbuka, data bisa dicari, kebijakan bisa dipantau.
Tapi sayang, sebagian pemimpin masih pakai cara pikir lama: asal proyek jalan, asal laporan rapi, asal atasan senang. Rakyat dianggap penonton, bukan pemilik negeri.
Utang sebenarnyo idak haram. Dalam kondisi tertentu, utang bisa jadi alat bantu. Tapi masalahnyo, utang dijadikan jalan pintas, bukan pilihan terakhir. Idak ado upaya maksimal ngatur anggaran, ngurangin kebocoran, atau ningkatkan pendapatan daerah dengan cara kreatif.
Yang ado malah kebiasaan gali lubang tutup lubang. Tahun ini utang, tahun depan nambah lagi. Akhirnyo, ruang fiskal makin sempit, dan kebijakan publik jadi kaku.
Sikap “idak senang tendang” jugo nunjukkan mentalitas feodal yang belum lepas. Pemimpin merasa paling benar, paling tau, paling berkuasa. Padahal jabatan itu amanah, bukan singgasana. Dalam budaya wong Palembang, sejatinyo pemimpin itu “tue rumah”, yang tugasnyo ngemong, bukan ngusir tamu. Kalau ado yang ngingetin, harusnyo disambut, bukan ditolak.
Di zaman kini, tantangan pembangunan itu kompleks. Bukan cuma bangun gedung, jalan, atau jembatan. Tapi bangun kepercayaan, bangun kualitas hidup, bangun sistem yang adil. Semua itu idak bisa dicapai dengan utang doang, apolagi kalau utangnyo idak dikelola dengan jujur dan cerdas.
Pembangunan sejati itu mungkin idak selalu megah di mata, tapi terasa manfaatnyo di perut rakyat. Masyarakat jugo punyo peran. Jangan cuma ngeluh di belakang, tapi diam di depan. Kesadaran politik harus tumbuh. Pilihan hari ini menentukan beban esok hari.
Kalau terus milih pemimpin yang gemar ngutang dan anti kritik, jangan kaget kalau hidup makin sempit. Wong kito harus berani nuntut akal sehat, nuntut transparansi, nuntut keberanian berkata tidak pada kebijakan yang merugikan.
Ungkapan tadi akhirnya jadi cermin. “Nak mbangun ngutang, idak senang tendang” bukan sekadar sindiran, tapi peringatan. Kalau pola ini dibiarkan, negeri ini akan terus jalan di tempat, bahkan mundur. Sudah waktunyo cara pikir itu diubah.
Membangun jangan cuma mikir hari ini, tapi jugo mikir esok. Memimpin jangan cuma mau dipuji, tapi jugo siap dikritik. Kalau idak, sejarah akan mencatat, bukan sebagai pembangun, tapi sebagai pewaris masalah.
Editor: Fadly KR
Matematika sebagai Fondasi AI, Prof. Noribah Md Arifin Sampaikan Gagasan di International Professor Summit
BandarLampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menggelar forum ilmiah berskala internasional melalui kegiatan International Professors Summit yang diselenggarakan pada Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati. Kegiatan ini mengusung tema “National Numeracy Crisis: The Strategic Role of Mathematics Education, from School to Higher Education.”
Forum ini menjadi ruang akademik strategis untuk membahas peran pendidikan matematika dalam menjawab tantangan krisis numerasi nasional, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. International Professors Summit menghadirkan para profesor dan akademisi nasional maupun internasional untuk berbagi gagasan, riset, serta solusi berbasis keilmuan.
Salah satu materi disampaikan oleh Prof. Ismail Bin Mohd – Universiti Malaysia Terengganu (UMT), Global Optimization, melalui makalah pidato pengukuhan berjudul “Kesayutan yang Tidak Tercapai, Mengembara di Kelajuan Cahaya.” Dalam paparannya, Prof. Ismail mengkaji secara mendalam keterbatasan pendekatan numerik dan komputasi dalam matematika, khususnya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang bersifat kompleks dan mengandung ketidakpastian.
Ia menjelaskan berbagai konsep matematika seperti selang, graf, kecerunan, pencarian akar, hingga metode Newton, yang selama ini banyak digunakan dalam komputasi numerik. Namun demikian, menurutnya tidak semua solusi matematika dapat dicapai secara eksak melalui perhitungan komputer. Keterbatasan tersebut menjadi tantangan serius dalam penerapan matematika terapan di berbagai bidang.
Lebih lanjut, Prof. Ismail memperkenalkan pengembangan aritmetik selang (interval arithmetic) sebagai pendekatan alternatif untuk mengendalikan ketidakpastian dan galat perhitungan. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan batasan yang lebih aman terhadap kesalahan numerik serta menjamin keberadaan solusi dalam rentang tertentu, meskipun solusi eksak tidak dapat dicapai secara langsung.
Dalam pernyataannya, Prof. Ismail menegaskan bahwa kesadaran terhadap keterbatasan komputasi merupakan hal yang sangat penting dalam matematika terapan.
“Aritmetik selang menawarkan pendekatan yang lebih realistis dan aman dalam menyelesaikan persoalan numerik yang kompleks, sekaligus mendekatkan kita pada solusi yang sebenarnya,” ujarnya.
Pemaparan tersebut mendapat perhatian besar dari peserta karena relevansinya dengan pengembangan pendidikan matematika dan penerapannya dalam dunia nyata. Melalui International Professors Summit, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya untuk terus mendorong diskusi akademik berkualitas serta berkontribusi aktif dalam upaya peningkatan literasi dan numerasi nasional melalui pendekatan ilmiah yang inovatif dan berkelanjutan.(fkr)
Editor: Fadly KR
Nak Ngebangun Ngutang, Dak Senang Tendang
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
MEMBACA berita awal tahun 2026 pada media ini yang digawangi oleh Herman Batin Mangku (HBM) memunculkan banyak pertanyaan di kepala: Pemprov Lampung ingin ngutang Rp1 triliun buat bangun jalan dan Pemkot Bandarlampung lengserkan pejabat yang baru setahun definitif. What is it? Uji kito, ado apo Wak?
Pertanyaan ini muncul di banyak benak masyarakat daerah ini. Menjelang tutup kantor di suatu lembaga resmi pemerintahan, dua pegawai begesah, yang ringkasannya sebagai berikut:
Ujang: “Eh, Din, kau denger dak kabar dari lantai atas kemaren?”
Udin: “Kabar apo lagi, Jang? Rasanyo tiap minggu ado bae yang bikin kening bekerut.”
Ujang: “Itu soal rencana proyek lanjutan. Katonyo danonyo dari utangan lagi.”
Udin: “Halah… utangan lagi, utangan lagi. Kito ni wong bawah cuma bisa ngitung sisa kertas di laci.”
Ujang: “Iyo nian. Di rapat kito disuruh setuju bae. Dak usah banyak tanyo.”
Udin: “Kalo ado yang nyinggung dikit soal risiko, langsung dipandang cak salah ngomong.”
Ujang: “Aku kemaren nyebut anggaran rutin makin cekak, langsung diajak pindah topik.”
Udin: “Itu tandonyo, Jang. Artinyo, ‘cukup tau bae, jangan mikir jauh’.”
Ujang: “Padahal kito ni yang tiap hari ngadep masyarakat. Kito tau betul keluhannyo.”
Udin: “Yo nia. Pelayanan dipercepat di kertas, tapi di lapangan serbo terbatas.”
Ujang: “Yang aku heran, baliho proyek besaaak nian, tapi ATK bae disuruh irit.”
Udin: “Hahaha, itulah seni bertahan. Yang penting kejingokan hebat.”
Ujang: “Tapi hutang itu dak ilang, Din. Siapo yang nanggung kagek?”
Udin: “Bukan dio lagi. Pengganti, rakyat, mungkin jugo anak cucu kito.”
Ujang: “Kadang aku ngeraso kito ni dak punyo suara.”
Udin: “Suara ado, tapi volumenyo dikecik ke.”
Ujang: “Sedih yo, Din. Negeri kito sebenernyo biso maju kalo mikirnyo panjang.”
Udin: “Iyo. Tapi selagi kito di sini, kito kerjo jujur bae. Biar hati tenang.”
Ujang:“Bener. Selebihnyo, waktu yang bakal jawab.”
Ungkapan nak mbangun ngutang, idak senang tendang kini makin sering terdengar saat obrolan warung kopi di pinggir sungai sampai ke ruang diskusi kampus. Kalimat ini bukan sekadar guyonan wong kito, tapi sudah jadi kritik sosial yang pedas nian.
Di zaman kini, banyak pemimpin di negeri ini yang pikirannya sempit, muter di situ-situ bae: bagaimana caronya mbangun cepat, tapi duitnyo idak dari keringat sendiri, melainkan dari utangan. Soal bayar belakangan, itu urusan wong lain, pengganti nanti.
Asal kini nampak megah, proyek berdiri, foto terpajang, urusan selesai. Model kepemimpinan cak ini sebenarnyo idak baru, tapi di kondisi kekinian, gejalonyo makin jelas. Di tengah ekonomi yang belum stabil, beban hidup masyarakat makin berat, pemimpin malah ringan tangan ngutang.
Alasannya klise: demi pembangunan, demi percepatan, demi kepentingan rakyat. Tapi rakyat jugo yang akhirnya nanggung akibatnyo. Utang itu bukan hilang, tapi diwariskan. Anak cucu wong kito nanti yang bakal nyicilnyo pelan-pelan, lewat pajak, lewat potongan, lewat pelayanan publik yang makin diketatkan.
Yang lebih miris, kalau ado pejabat atau pihak yang ngingetin soal risiko, soal kehati-hatian, malah dianggap pengganggu. Bukannya didengar, malah “ditendang”. Ditendang bukan selalu berarti fisik, tapi bisa dalam bentuk disingkirkan, dilabeli pembangkang, atau dibuat idak punyo ruang bersuara.
Budaya kritik jadi mati. Padahal dalam pemerintahan yang sehat, kritik itu vitamin, bukan racun. Tapi bagi pemimpin yang pikirannya sudah dikunci ambisi, kritik itu dianggap ancaman.
Di sudut pandang kekinian, kondisi ini bahayo nian. Dunia sekarang menuntut transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Masyarakat sudah makin melek informasi. Media sosial jadi ruang terbuka, data bisa dicari, kebijakan bisa dipantau.
Tapi sayang, sebagian pemimpin masih pakai cara pikir lama: asal proyek jalan, asal laporan rapi, asal atasan senang. Rakyat dianggap penonton, bukan pemilik negeri.
Utang sebenarnyo idak haram. Dalam kondisi tertentu, utang bisa jadi alat bantu. Tapi masalahnyo, utang dijadikan jalan pintas, bukan pilihan terakhir. Idak ado upaya maksimal ngatur anggaran, ngurangin kebocoran, atau ningkatkan pendapatan daerah dengan cara kreatif.
Yang ado malah kebiasaan gali lubang tutup lubang. Tahun ini utang, tahun depan nambah lagi. Akhirnyo, ruang fiskal makin sempit, dan kebijakan publik jadi kaku.
Sikap “idak senang tendang” jugo nunjukkan mentalitas feodal yang belum lepas. Pemimpin merasa paling benar, paling tau, paling berkuasa. Padahal jabatan itu amanah, bukan singgasana. Dalam budaya wong Palembang, sejatinyo pemimpin itu “tue rumah”, yang tugasnyo ngemong, bukan ngusir tamu. Kalau ado yang ngingetin, harusnyo disambut, bukan ditolak.
Di zaman kini, tantangan pembangunan itu kompleks. Bukan cuma bangun gedung, jalan, atau jembatan. Tapi bangun kepercayaan, bangun kualitas hidup, bangun sistem yang adil. Semua itu idak bisa dicapai dengan utang doang, apolagi kalau utangnyo idak dikelola dengan jujur dan cerdas.
Pembangunan sejati itu mungkin idak selalu megah di mata, tapi terasa manfaatnyo di perut rakyat. Masyarakat jugo punyo peran. Jangan cuma ngeluh di belakang, tapi diam di depan. Kesadaran politik harus tumbuh. Pilihan hari ini menentukan beban esok hari.
Kalau terus milih pemimpin yang gemar ngutang dan anti kritik, jangan kaget kalau hidup makin sempit. Wong kito harus berani nuntut akal sehat, nuntut transparansi, nuntut keberanian berkata tidak pada kebijakan yang merugikan.
Ungkapan tadi akhirnya jadi cermin. “Nak mbangun ngutang, idak senang tendang” bukan sekadar sindiran, tapi peringatan. Kalau pola ini dibiarkan, negeri ini akan terus jalan di tempat, bahkan mundur. Sudah waktunyo cara pikir itu diubah.
Membangun jangan cuma mikir hari ini, tapi jugo mikir esok. Memimpin jangan cuma mau dipuji, tapi jugo siap dikritik. Kalau idak, sejarah akan mencatat, bukan sebagai pembangun, tapi sebagai pewaris masalah.
Editor: Fadly KR
UNMAL Perkuat Karakter Religius Mahasiswa melalui Workshop PPAI Green Dormitory
BandarLampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati (UNMAL) melalui Program Pembinaan Agama Islam (PPAI) Green Dormitory sukses menyelenggarakan Workshop PPAI sekaligus pendistribusian sertifikat pada Selasa, 6 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen Universitas Malahayati dalam memperkuat fondasi moral, etika, dan karakter religius mahasiswa sebagai bagian dari visi kampus berbasis etika religius.
Workshop PPAI dirancang sebagai program pembinaan komprehensif yang tidak hanya menitikberatkan pada aah, tetapi spek ritual ibadjuga pada pembentukan akhlak dan muamalah dalam kehidupan sehari-hari. Program ini mencakup materi thaharah, shalat, pengurusan jenazah, puasa, zakat, haji, tajwid dan tahsin Al-Qur’an, Baca Baca Qur’an (BBQ), serta praktik fiqih yang dilaksanakan secara terstruktur selama enam semester.
Turut dihadiri Dekan Fakultas Kedokteran Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes., Kepala Program Studi S1 Pendidikan Dokter Rakhmi Rafie, dr., M.Kes., Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan Muhammad Ricko Gunawan, S.Kep., M.Kes., Kepala Bagian Humas Emil Tanhar, S.Kom., pengelola Green Dormitory, para dosen pembina, serta mahasiswa peserta Program Pembinaan Agama Islam (PPAI).
Rektor Universitas Malahayati, Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H., yang diwakili oleh Dekan Fakultas Kedokteran Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan Program PPAI. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan investasi jangka panjang dalam membangun generasi profesional yang berkarakter religius dan berakhlak mulia sebagai bekal dalam pengabdian di masyarakat.
Ketua PPAI Universitas Malahayati, Ust. Muslih, S.H.I., M.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Program PPAI bertujuan membekali mahasiswa agar mampu mengimplementasikan nilai-nilai Islam secara nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan nilai-nilai keislaman, menjaga akhlak mulia, serta memberi kontribusi positif baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat luas.
Sementara itu, Kepala Asrama Green Dormitory, Ust. Sutikno, S.Pd.I., M.Pd.I., menyampaikan tiga pesan penting kepada peserta. Pertama, kegiatan ini diharapkan tidak dimaknai secara simbolis semata, melainkan sebagai perjalanan pembentukan karakter religius. Kedua, Program PPAI yang diamanahkan kepada Green Dormitory menjadi sarana pembentukan lingkungan asrama yang religius sesuai dengan visi Universitas Malahayati. Ketiga, nilai-nilai PPAI diharapkan menjadi bekal mahasiswa di masa depan, khususnya dalam menempuh profesi sebagai dokter yang tidak hanya berilmu, tetapi juga beretika religius.
Workshop PPAI menghadirkan narasumber Ust. Jefri Husanda, S.Pd.I., Gr., Sekretaris JSIT Indonesia Wilayah Lampung sekaligus pendiri Yayasan Bina Auladina Indonesia dan SMPIT Auladina Indonesia. Dalam pemaparannya bertema “Implementasi Etika Religius Mahasiswa (PPAI): Mewujudkan Karakter Islami di Tengah Masyarakat”, ia menekankan bahwa mahasiswa kedokteran tidak hanya dipersiapkan menjadi dokter profesional, tetapi juga sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.
Menurutnya, profesi dokter merupakan amanah dan ladang ibadah yang menuntut integrasi antara ilmu, iman, dan akhlak. Akhlak, empati, sikap santun, menjaga lisan, serta menjaga rahasia pasien menjadi terapi awal bagi pasien, disertai penguatan spiritual melalui doa dan Al-Qur’an. Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan mampu menghadapi tantangan masyarakat, termasuk krisis akhlak, krisis empati, dan maraknya informasi hoaks.
Dampak positif Program PPAI Green Dormitory mulai dirasakan oleh masyarakat dan orang tua mahasiswa. Berdasarkan observasi dan umpan balik, mahasiswa menunjukkan perubahan perilaku yang lebih santun, ramah, serta lebih responsif dalam menjalankan ibadah setelah mengikuti program ini.
Universitas Malahayati berharap Program PPAI dapat terus berkelanjutan dan menjadi percontohan bagi perguruan tinggi lain dalam upaya kolektif mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkarakter religius dan berakhlak mulia.
Workshop PPAI Green Dormitory Universitas Malahayati menunjukkan bahwa pembinaan karakter religius perlu diinternalisasikan melalui lingkungan hidup mahasiswa sehari-hari. Program PPAI yang terstruktur dan berkelanjutan ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat berperan aktif dalam membentuk keseimbangan antara kecakapan akademik dan kematangan moral. Di tengah tantangan dunia modern dan profesional yang semakin kompleks, penguatan nilai etika religius menjadi fondasi penting agar mahasiswa tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki empati, integritas, dan tanggung jawab sosial. Inisiatif Universitas Malahayati melalui PPAI Green Dormitory patut diapresiasi dan diharapkan mampu menjadi model pembinaan karakter mahasiswa yang relevan dan berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi.(fkr)
Editor: Fadly KR
SEBUAH DIALOG TENTANG CINTA DAN KEPULANGAN
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Di dalam satu lingkaran jamaah tasauf, lampu-lampu temaram menyinari wajah-wajah yang tenang. Dzikir baru saja usai, menyisakan keheningan yang lembut. Dua orang sufi duduk berhadapan, sementara jamaah lain menyimak dalam diam.
“Saat dzikir tadi,” ujar salah seorang sufi perlahan, “aku merasakan seakan jarak antara hidup dan mati begitu tipis. Mengapa banyak orang tetap takut pada kematian?”. Sufi di hadapannya menarik napas dalam, seraya menjawab dengan suara lembut nyaris tak terdengar. “Karena mereka datang ke dunia ini dengan beban memiliki. Padahal hakekatnya tidak ada satupun yang benar-benar kita miliki.”
“Apakah karena itu sebabnya maka kematian terasa berat?” tanyanya lagi. “Benar,” jawabnya lembut. “Yang merasa berat adalah aku yang palsu. Jika hati telah terbiasa berserah, kematian justru terasa seperti salam pembuka.”
Semua jamaah menunduk, mendengarkan dengan khusyuk. “Panjenengan mengatakan salam,” lanjut sufi pertama. “Salam dari siapa kepada siapa?”. “Salam dari Yang Maha Dekat kepada hamba yang akhirnya sadar,” katanya. “Bukan nyawa yang dicabut, tetapi kesadaran yang dibangunkan.”
“Lalu apa fungsi hidup jika akhirnya kita kembali?” sergah pertanyaan lanjut. “Hidup adalah adab menunggu,” jawabnya. “Menata hati agar pantas bertemu. Dzikir, diam, dan khidmah hanyalah cara kita belajar mencintai tanpa menuntut.”
Sufi pertama tersenyum. “Maka kematian adalah pertemuan jamaah terakhir.”
“Ya,” balasnya pelan. “Pertemuan tanpa suara, tanpa tubuh, tanpa jarak. Hanya cinta yang saling mengenali.”
Keheningan kembali menyelimuti majelis. Dzikir pun dimulai lagi, kali ini dengan rasa rindu yang lebih jernih dan lebih dalam.
Pandangan tasawuf memandang kematian bukanlah peristiwa gelap yang memutuskan kehidupan, melainkan sebuah gerbang kesadaran yang membuka tabir hakikat. Ia tidak dipahami sebagai tercabutnya nyawa secara paksa, tetapi sebagai perjumpaan yang telah lama dinanti antara kekasih dan Yang Dikasihi. Selama hidup, manusia sering terikat pada bentuk-bentuk lahiriah: tubuh, harta, nama, dan waktu. Semua itu membangun ilusi keterpisahan, seakan-akan manusia berdiri sendiri dan jauh dari sumber keberadaannya. Tasawuf hadir untuk melunakkan ilusi tersebut, mengajak manusia menyadari bahwa hidup sejatinya adalah perjalanan pulang. “Di sini” kita hanya bermain.
Dalam perjalanan itu, cinta menjadi poros utama. Cinta bukan sekadar emosi, melainkan daya yang menggerakkan jiwa untuk mengenal asalnya. Setiap kerinduan, kegelisahan, dan pencarian makna yang muncul dalam batin manusia dapat dipahami sebagai getaran rindu kepada Yang Maha Ada. Hidup di dunia adalah kesempatan untuk memurnikan rindu itu, membersihkannya dari pamrih, ketakutan, dan keterikatan. Kematian, dalam sudut pandang ini, adalah saat ketika rindu yang terpelihara menemukan jawabannya. Bukan kehampaan yang menunggu, melainkan perjumpaan yang menenangkan.
Tasawuf memandang bahwa yang mati bukanlah hakikat manusia, melainkan tirai-tirai yang selama ini menutupinya. Tubuh hanyalah wadah sementara; ia datang dan pergi mengikuti hukum alam. Adapun ruh adalah amanah yang berasal dari sumber yang abadi. Ketika kematian tiba, yang terjadi bukanlah pemusnahan, tetapi pemulangan. Seperti setetes air yang kembali ke lautan, ia tidak lenyap, justru menemukan keluasan yang selama ini hanya diimpikan. Rasa takut terhadap kematian sering muncul karena manusia mengira dirinya adalah tubuh dan sejarahnya. Ketika identitas itu dilepas, yang tersisa adalah kesadaran murni yang telah lama dipanggil.
Dalam latihan batin tasawuf, manusia diajak untuk “mati sebelum mati”, yakni mematikan ego yang merasa memiliki dan menguasai. Ego inilah yang takut kehilangan, karena ia hidup dari klaim dan pembatasan. Selama ego berkuasa, kematian tampak seperti musuh. Namun ketika ego dilunakkan melalui keikhlasan, kesabaran, dan kehadiran hati, kematian berubah wajah menjadi sahabat. Ia tidak lagi datang sebagai perampas, tetapi sebagai penyingkap. Apa yang tersingkap adalah kedekatan yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan dunia.
Perjumpaan antara kekasih dan Yang Dikasihi tidak selalu menunggu akhir hayat. Dalam tasawuf, perjumpaan itu bisa dirasakan sebagai isyarat-isyarat halus dalam hidup: ketenangan yang tiba tanpa sebab, syukur yang meluap di tengah kekurangan, atau rasa cukup yang mengalahkan ambisi. Semua itu adalah kilasan perjumpaan, latihan kecil menuju pertemuan besar. Kematian kemudian dipahami sebagai puncak dari rangkaian perjumpaan tersebut, ketika jarak yang semu benar-benar sirna.
Dengan sudut pandang ini, kematian tidak mematikan harapan, justru menegaskannya. Hidup tidak diakhiri oleh kematian; hidup menemukan maknanya melalui kematian. Setiap napas menjadi berharga karena ia adalah langkah menuju kedekatan. Setiap amal menjadi bermakna karena ia adalah bahasa cinta. Bukan ketakutan yang memimpin langkah, melainkan kerinduan yang terdidik. Manusia yang memaknai hidup seperti ini tidak tergesa-gesa menolak dunia, tetapi juga tidak tenggelam di dalamnya. Dunia dijalani sebagai ladang persiapan, bukan tujuan akhir.
Tasawuf mengajarkan bahwa Yang Dikasihi selalu lebih dekat daripada sang kekasih menyadari. Kematian hanyalah saat kesadaran itu mencapai kepenuhannya. Maka, berbicara tentang kematian bukanlah mengajak pada keputusasaan, melainkan pada keberanian untuk hidup dengan jujur dan penuh makna. Ketika cinta menjadi dasar hidup, kematian tidak lagi menakutkan. Ia menjadi undangan lembut untuk pulang, tempat segala rindu beristirahat, dan segala pencarian menemukan jawaban. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Kemendikdasmen Apresiasi International Professors Summit Universitas Malahayati
BandarLampung (malahayati.ac.id): Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Arif Jamali, S.Pd., M.Pd., menyampaikan sambutan sekaligus pemaparan materi pada kegiatan International Professors Summit 2026 yang diselenggarakan Universitas Malahayati, Rabu (7/1/2026), di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati dan dihadiri oleh Rektor Universitas Malahayati Dr. H. Muhammad Kadafi, SH., MH., Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., Wakil Rektor II Nirwanto, SPd., M.Kes., Wakil Rektor III Dr. Eng Rina Febrina, ST., MT., serta Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes. Turut hadir pula para dekan, dosen, mahasiswa, profesor nasional dan internasional, akademisi, serta perwakilan instansi pemerintah.
Dalam sambutannya, Arif Jamali mengapresiasi penyelenggaraan forum ilmiah berskala internasional tersebut. Ia menyampaikan bahwa tema yang diangkat Universitas Malahayati dinilai sangat relevan dan strategis dalam menjawab tantangan pendidikan saat ini, khususnya terkait krisis numerasi nasional.
Menurutnya, hingga saat ini Universitas Malahayati menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang secara khusus dan komprehensif mengangkat isu krisis numerasi nasional dalam sebuah forum akademik internasional dengan melibatkan para profesor dan pakar lintas negara.
“Isu krisis numerasi adalah persoalan mendasar dalam dunia pendidikan kita. Apa yang dilakukan Universitas Malahayati melalui International Professors Summit ini merupakan langkah strategis dan visioner, karena membahas persoalan numerasi secara menyeluruh dari jenjang sekolah hingga perguruan tinggi,” ujar Arif Jamali.
Ia menegaskan bahwa kemampuan numerasi tidak hanya berkaitan dengan angka dan matematika, tetapi juga berhubungan erat dengan kemampuan berpikir logis, analitis, dan pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif perguruan tinggi dalam merumuskan solusi berbasis kajian ilmiah dan praktik pendidikan yang berkelanjutan.
Arif Jamali juga berharap hasil diskusi dan rekomendasi dari International Professors Summit 2026 dapat menjadi rujukan penting bagi dunia pendidikan, khususnya dalam penyusunan kebijakan dan penguatan pembelajaran matematika dan statistika di Indonesia.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati dan dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, para profesor nasional dan internasional, akademisi, serta perwakilan instansi pemerintah. International Professors Summit 2026 diharapkan mampu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing sumber daya manusia Indonesia di tingkat global.
Penyelenggaraan International Professors Summit 2026 oleh Universitas Malahayati menunjukkan peran aktif perguruan tinggi dalam menjawab tantangan nyata dunia pendidikan, khususnya persoalan krisis numerasi. Melalui forum ilmiah berskala internasional ini, Universitas Malahayati tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga motor penggerak lahirnya gagasan dan rekomendasi strategis berbasis keilmuan. Sinergi antara akademisi, profesor, dan pemerintah yang terbangun dalam kegiatan ini diharapkan mampu mendorong lahirnya kebijakan dan praktik pendidikan yang lebih berkualitas, adaptif, serta berkelanjutan demi peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia.(fkr)
Editor : Fadly KR
International Professors Summit 2026 Resmi Dibuka oleh Rektor Universitas Malahayati
BandarLampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati secara resmi menyelenggarakan International Professors Summit 2026 dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati, yang berlangsung pada Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati. Kegiatan ilmiah berskala internasional ini dibuka langsung oleh Rektor Universitas Malahayati, Dr. H. Muhammad Kadafi, SH., MH.
International Professors Summit tahun ini mengangkat tema “The National Numeracy Crisis: The Strategic Role of Mathematics Educators from Schools to Universities”, yang menyoroti tantangan serius rendahnya kemampuan numerasi di Indonesia serta peran strategis pendidik matematika dari jenjang sekolah hingga perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Acara pembukaan diawali dengan penyambutan tamu kehormatan dan undangan yang dihadiri oleh jajaran pimpinan Universitas Malahayati, yaitu Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., Wakil Rektor II Nirwanto, SPd., M.Kes., Wakil Rektor III Dr. Eng Rina Febrina, ST., MT., serta Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes. Turut hadir pula pimpinan lembaga, para dekan, ketua program studi, dosen, serta perwakilan instansi pemerintah.
Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung yang diwakili oleh Laila Soraya, S.Sos., M.M., serta perwakilan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Arif Jamali, S.Pd., M.Pd.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Malahayati menyampaikan bahwa penyelenggaraan International Professors Summit merupakan wujud komitmen universitas dalam berkontribusi aktif menjawab permasalahan nasional terkait krisis numerasi. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan pembuat kebijakan untuk menghasilkan solusi nyata melalui penguatan pendidikan matematika dan statistika.
“Forum ilmiah ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk bertukar gagasan, memperkuat jejaring akademik internasional, serta melahirkan rekomendasi yang dapat diimplementasikan dalam dunia pendidikan,” ujar Rektor saat meresmikan pembukaan acara.
Rangkaian pembukaan acara juga dimeriahkan dengan tarian adat Sigeh Pengunten sebagai bentuk penghormatan kepada tamu undangan, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne Universitas Malahayati.
International Professors Summit 2026 menghadirkan sejumlah profesor dan pakar nasional maupun internasional dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia dan Malaysia dengan kepakaran di bidang matematika terapan, analisis numerik, optimasi, statistika terapan, hingga matematika Islam dan manuskrip klasik.
Setelah pembukaan resmi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh para profesor dari berbagai universitas nasional dan internasional, yang kemudian diikuti dengan sesi panel diskusi, penyerahan sertifikat kepada narasumber, serta penampilan budaya dan kreativitas mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, Universitas Malahayati menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif mendorong penguatan literasi numerasi, pengembangan keilmuan, serta kolaborasi internasional guna menjawab tantangan pendidikan di era global.
International Professors Summit 2026 menjadi momentum penting bagi Universitas Malahayati dalam memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kolaborasi akademik internasional. Diskusi yang menghadirkan para profesor dan pakar lintas negara ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga membuka ruang lahirnya gagasan strategis dalam menjawab krisis numerasi yang masih menjadi tantangan nasional. Melalui forum ilmiah ini, diharapkan sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan akademisi dapat terus terjalin secara berkelanjutan demi peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing sumber daya manusia Indonesia di tingkat global.(fkr)
Editor: Fadly KR
Katalog buku SISTEM INFORMASI KESEHATAN
Judul buku: SISTEM INFORMASI KESEHATAN
Penulis:
Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., NS., M.Kes
Tyan Tasa,S.Kom.,M.Kom
Penerbit: Universitas Malahayati
Sinopsis:
Kemajuan teknologi informasi yang berlangsung sangat cepat telah membawa perubahan besar dalam sektor kesehatan. Proses pengelolaan data kesehatan yang sebelumnya dilakukan secara manual kini telah berkembang menjadi sistem terkomputerisasi yang terintegrasi. Dalam hal ini, Sistem Informasi Kesehatan memiliki peranan strategis dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan, membantu proses pengambilan keputusan, mempercepat kegiatan administrasi, serta menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu bagi berbagai pihak yang berkepentingan.
Buku ini mengulas berbagai topik mulai dari konsep dasar Sistem Informasi Kesehatan, jenis dan ruang lingkup SIK, komponen sistem, rekam medis elektronik, sistem informasi rumah sakit, standar dan interoperabilitas data kesehatan, aspek keamanan dan kerahasiaan informasi, hingga tahapan analisis, perancangan, implementasi, serta pembahasan mengenai etika dan tantangan di masa depan. Penyajian materi disusun secara sistematis dan dilengkapi dengan contoh-contoh penerapan agar mudah dipahami serta sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
Universitas Malahayati Matangkan Pra-Persiapan International Professors Summit dalam Rangka Dies Natalis ke-32
BandarLampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati terus mematangkan berbagai persiapan menjelang pelaksanaan International Professors Summit yang akan digelar pada 7–8 Januari 2026 di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati, sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati.
Kegiatan berskala internasional ini mengusung tema “The National Numeracy Crisis: The Strategic Role of Mathematics Educators from Schools to Universities”, yang menyoroti peran strategis pendidik matematika dalam menjawab tantangan krisis numerasi dari jenjang sekolah hingga perguruan tinggi.
Koordinator Pelaksana International Professors Summit, Eka Yudha Chrisanto, S.Kep., Ners., M.Kep., menjelaskan bahwa persiapan acara telah berjalan dengan baik dan terkoordinasi antar panitia.
“Menjelang pelaksanaan acara, progres persiapan sudah berjalan sesuai dengan timeline yang ditetapkan. Panitia terus melakukan koordinasi lintas divisi, baik dari sisi teknis acara, kesiapan venue Graha Bintang, hingga akomodasi para narasumber,” ujar Eka Yudha.
Ia menambahkan bahwa panitia telah dibagi ke dalam beberapa divisi kerja guna memastikan seluruh aspek pelaksanaan berjalan optimal, mulai dari divisi acara, perlengkapan, publikasi, hingga pendampingan profesor tamu. Koordinasi rutin dilakukan untuk meminimalkan kendala serta memastikan kesiapan maksimal pada hari pelaksanaan.
International Professors Summit ini akan menghadirkan 11 profesor dan pakar nasional maupun internasional di bidang matematika, optimasi, analisis numerik, dan statistika terapan. Adapun narasumber yang dijadwalkan hadir antara lain:
Narasumber:
Selain para profesor tersebut, kegiatan ini dihadiri oleh Arif Jamali, S.Pd., M.Pd., selaku Staf Khusus Kemendikdasmen Bidang Pembelajaran dan Sekolah Unggul, yang akan memberikan perspektif kebijakan nasional terkait penguatan numerasi dan pendidikan matematika.
Lebih lanjut, Eka Yudha menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki makna strategis bagi Universitas Malahayati.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati dan diharapkan menjadi momentum strategis untuk semakin memperkuat posisi Universitas Malahayati dalam kancah akademik internasional. Melalui International Professors Summit, kami berupaya menghadirkan sebanyak 11 profesor, tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga melalui kolaborasi dengan akademisi dari luar negeri,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa melalui kegiatan ini, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan, penguatan riset, serta perluasan jejaring global.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi sivitas akademika, sekaligus memperkuat jejaring internasional Universitas Malahayati dalam menghadapi tantangan pendidikan di tingkat global,” tutup Eka Yudha.
Melalui penyelenggaraan International Professors Summit, Universitas Malahayati terus berkomitmen mendorong transformasi pendidikan unggul dan berdaya saing internasional.
Penyelenggaraan International Professors Summit dalam rangka Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati menunjukkan langkah strategis kampus dalam merespons tantangan pendidikan global, khususnya pada isu krisis numerasi. Kehadiran profesor dan pakar dari dalam maupun luar negeri tidak hanya memperkaya diskursus akademik, tetapi juga memperkuat posisi Universitas Malahayati sebagai institusi yang aktif membangun kolaborasi internasional.(fkr)
Editor : Fadly KR
Kebahagiaan Sebagai Jejak Kemanusiaan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Senja turun perlahan di halaman posko relawan. Beberapa kardus bantuan masih tersisa. Rani duduk di tangga, mengelap keringat, sementara Bima menyeduh teh hangat dari termos.
“Capek?” tanya Bima sambil menyerahkan gelas.
“Lumayan,” jawab Rani sambil tersenyum. “Tapi entah kenapa rasanya ringan.”
Bima mengangguk. “Aku juga sering begitu. Badan lelah, tapi kepala tenang.”
Rani memandang anak-anak yang masih bermain di kejauhan. “Tadi aku lihat Ibu itu. Yang rumahnya roboh. Dia senyum waktu terima selimut.”
“Ya,” kata Bima pelan. “Senang sekali melihatnya. Padahal yang kita beri sederhana.”
“Kadang aku bertanya,” lanjut Rani, “kenapa hal kecil bisa berarti besar buat mereka.”
“Karena mereka merasa tidak sendirian,” jawab Bima. “Dan mungkin itu juga yang kita rasakan.”
Rani terdiam sejenak. “Aku dulu sering mikir, kapan ya aku bisa benar-benar bahagia.”
“Sekarang gimana?” tanya Bima.
Rani tersenyum, menatap gelas tehnya. “Sekarang aku jarang mikir begitu. Aku lebih sering mikir, besok bisa bantu apa lagi.”
Bima tertawa kecil. “Lucu ya. Kita datang ke sini niat membantu, tapi malah pulang membawa sesuatu.”
“Apa?” tanya Rani.
“Rasa cukup,” jawab Bima mantap. “Bukan karena hidup kita sempurna, tapi karena hari ini kita berguna.”
Angin berembus pelan. Suara tawa anak-anak terdengar lagi.
Rani berdiri. “Ayo bereskan sisa kardus itu.”
Bima ikut bangkit. “Ayo. Masih ada waktu sebelum gelap.”
Mereka berjalan bersama, tanpa banyak kata, tapi dengan langkah yang terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Gagasan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari seberapa sering kita menanyai diri sendiri “apakah aku bahagia”, melainkan dari seberapa banyak orang yang telah kita bahagiakan, mengajak manusia keluar dari pusat egonya. Dalam pandangan filsafat manusia, kebahagiaan bukan sekadar keadaan batin yang privat, melainkan peristiwa relasional: ia lahir, tumbuh, dan bermakna di antara manusia. Manusia tidak hidup sebagai pulau yang terpisah; ia hadir dalam jejaring relasi yang saling memengaruhi. Karena itu, menimbang kebahagiaan dari dampak kebaikan yang kita tebarkan menjadi cara yang lebih jujur untuk memahami makna hidup.
Pertanyaan “apakah aku bahagia” sering terjebak dalam perhitungan subjektif yang rapuh. Ia bergantung pada suasana hati, pencapaian sesaat, atau perbandingan sosial. Ketika kebahagiaan dikejar sebagai tujuan langsung, ia mudah menguap. Filsafat manusia melihat bahwa hasrat yang berpusat pada diri sendiri cenderung tidak pernah selesai; selalu ada kekurangan baru yang menuntut pemenuhan. Dalam lingkaran ini, kebahagiaan menjadi objek yang dikejar, bukan buah yang tumbuh. Akibatnya, manusia menjadi letih oleh tuntutan untuk merasa cukup, padahal standar “cukup” terus bergeser.
Sebaliknya, ketika fokus berpindah pada pertanyaan “siapa yang telah kubahagiakan”, orientasi hidup berubah. Manusia menyadari dirinya sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas kehadirannya di dunia orang lain.
Tindakan kecil seperti; mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memberi waktu, menepati janji, atau menolong tanpa pamrih, menjadi begitu bermakna. Kebahagiaan muncul sebagai efek samping dari tindakan bermakna, bukan sebagai target yang dipaksa. Dalam perspektif ini, kebahagiaan bersifat emergen: ia hadir ketika makna hadir.
Relasi dengan sesama menyingkapkan dimensi etis dari kebahagiaan. Kebahagiaan tidak netral; ia terikat pada pilihan-pilihan yang menghormati martabat manusia lain. Ketika seseorang membahagiakan orang lain, ia mengakui nilai intrinsik sesama sebagai tujuan, bukan alat. Pengakuan ini membangun rasa keterhubungan yang mendalam. Manusia merasakan dirinya berguna, dibutuhkan, dan berarti. Rasa berarti inilah yang menjadi fondasi kebahagiaan yang tahan lama, karena ia tidak bergantung pada pujian atau hasil instan.
Lebih jauh, kebahagiaan yang lahir dari membahagiakan orang lain membentuk karakter. Ia melatih empati, kesabaran, dan kerendahan hati. Empati membuka kemampuan memahami penderitaan dan harapan orang lain; kesabaran menahan dorongan ego; kerendahan hati mengingatkan bahwa kebaikan tidak selalu harus terlihat. Dalam pembentukan karakter ini, manusia tidak hanya “merasa bahagia”, tetapi “menjadi” pribadi yang lebih utuh. Filsafat manusia memandang keutuhan sebagai keselarasan antara niat, tindakan, dan relasi. Di sinilah kebahagiaan menemukan rumahnya.
Namun, membahagiakan orang lain bukan berarti mengabaikan diri sendiri. Ada keseimbangan yang perlu dijaga agar kebaikan tidak berubah menjadi pengorbanan yang merusak. Filsafat manusia menekankan tanggung jawab ganda: terhadap sesama dan terhadap diri. Merawat diri memungkinkan seseorang memberi dengan tulus, bukan dari kekosongan. Dengan demikian, membahagiakan orang lain dan merawat diri bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.
Dalam kehidupan sosial yang sering mendorong kompetisi dan pencitraan, ukuran kebahagiaan yang berorientasi pada dampak kebaikan menawarkan jalan alternatif. Ia membebaskan manusia dari tirani perbandingan dan angka-angka yang menilai diri. Kebahagiaan tidak lagi diukur dari apa yang dimiliki atau dirasakan semata, tetapi dari jejak kemanusiaan yang ditinggalkan. Jejak ini mungkin tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam hubungan yang lebih hangat dan kepercayaan yang tumbuh.
Akhirnya, kebahagiaan sebagai hasil dari membahagiakan orang lain mengembalikan manusia pada makna hidup yang sederhana namun dalam. Hidup menjadi ruang untuk berkontribusi, bukan panggung untuk pembuktian diri. Ketika seseorang berhenti bertanya apakah ia bahagia dan mulai bertanya siapa yang telah ia bahagiakan, ia menemukan paradoks yang indah: kebahagiaan justru datang ketika ia tidak lagi mengejarnya, melainkan menghidupinya melalui kebaikan yang nyata. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
TAHUN BARU ITU PUNYA SIAPA ?
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Di suatu perempatan jalan dua orang sedang berbicara; “Bang, hari sudah ganti tahun lagi,” kata pengamen itu sambil menggesek senar gitarnya pelan, suaranya kalah oleh bising kendaraan. Pengemis tua di sebelahnya tersenyum tipis seraya menjawab: “Iya, tapi perut kita tetap sama. Lapar tak kenal kalender.”
Pengamen berhenti bermain dan berkata. “Orang-orang bilang tahun baru itu awal yang baik. Abang percaya?”. “Percaya atau tidak, kaki ini tetap melangkah ke sini tiap pagi,” jawab si pengemis sekenanya, sambil mengangkat kaleng receh. “Kalau aku libur, siapa yang akan kasih makan?”
Pengamen tertawa kecil, pahit. “Tadi malam aku main di perempatan sana. Kembang api ramai sekali. Tapi tak satu pun pengunjunga singgah mendengar lagu ku.”
“Mereka sibuk merayakan hidupnya,” sahut pengemis. “Kita cuma latar belakang. Kayak bangunan tua di foto pesta.” Pengamen menunduk. “Kadang aku iri. Mereka hitung detik menuju tahun baru, aku hitung receh buat beli nasi kucing.”
“Jangan iri,” kata pengemis pelan. “Iri itu mewah. Kita cukup bertahan.”
“Abang tidak capek?” tanya pengamen. “Capek itu pasti,” jawabnya. “Tapi berhenti lebih menakutkan. Berhenti berarti tak ada cerita besok.”
Pengamen kembali memetik gitar. Nadanya sendu. “Kalau suatu hari keadaan berubah, abang mau apa?”. Pengemis menatap jalan. “Aku mau duduk tanpa harus minta. Minum kopi tanpa dihitung receh.” Pengamen tersenyum tipis. “Aku mau main lagu tanpa dikejar satpam.”
Mereka terdiam sejenak.
“Tahun baru itu punya siapa, Bang?” tanya pengamen. Pengemis menghela napas. “Mungkin punya mereka yang punya pilihan. Kita cuma punya hari ini.”. Lampu merah menyala. Mereka kembali pada peran masing-masing, menunggu belas kasih yang tak pernah dijanjikan
Tahun baru itu punya siapa? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan sosial yang dalam. Setiap pergantian kalender dirayakan dengan kembang api, pesta, dan resolusi penuh harapan. Namun di balik sorak sorai itu, ada kenyataan yang berjalan tanpa jeda: orang-orang miskin tetap mengais di jalanan, pengemis masih mengulurkan tangan dengan tatapan lelah, dan mereka yang hidup di pinggiran moral maupun ekonomi terus bertarung demi sekadar seporsi nasi. Tahun baru datang sebagai simbol, tetapi tidak selalu sebagai perubahan.
Dalam lanskap kota-kota hari ini, kontras sosial semakin nyata. Di satu sisi, pusat perbelanjaan penuh diskon dan perayaan. Di sisi lain, trotoar tetap menjadi ruang hidup bagi mereka yang tidak punya pilihan lain. Pergantian tahun tidak otomatis mengubah struktur ketimpangan yang sudah lama mengakar. Kemiskinan bukan sekadar soal kurangnya uang, melainkan hasil dari sistem yang menormalisasi ketidakadilan. Ketika lapangan kerja menyempit, harga kebutuhan pokok naik, dan akses pendidikan tetap timpang, maka tahun baru hanya menjadi angka baru bagi mereka yang hidup dari hari ke hari.
Fenomena ini diperparah oleh cara masyarakat memaknai keberhasilan dan kegagalan. Narasi populer sering menempatkan kemiskinan sebagai akibat dari kurangnya usaha individu. Padahal, realitas sosial menunjukkan bahwa tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang sejak lahir sudah berada dalam lingkaran keterbatasan, dengan pilihan yang sempit dan risiko yang besar. Dalam konteks ini, menyalahkan korban justru menjadi cara paling mudah untuk membebaskan diri dari tanggung jawab kolektif.
Sementara itu, ruang-ruang kekuasaan kerap jauh dari denyut kehidupan rakyat kebanyakan. Ketika kekuasaan dijalankan tanpa empati, kebijakan publik kehilangan rohnya. Korupsi dan penyalahgunaan wewenang bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap harapan banyak orang. Setiap sumber daya yang diselewengkan berarti kesempatan yang hilang bagi mereka yang paling membutuhkan: layanan kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang terjangkau, dan perlindungan sosial yang manusiawi. Dalam situasi seperti ini, tahun baru justru terasa ironis, dirayakan oleh mereka yang diuntungkan, tetapi menjadi beban bagi mereka yang terus dirugikan.
Di sisi lain, ada kelompok yang hidup di wilayah abu-abu moral karena tekanan ekonomi dan sosial. Pilihan hidup yang keras sering kali lahir dari keadaan yang keras pula. Menghakimi tanpa memahami konteks hanya memperpanjang jarak antara “kita” dan “mereka”. Pendekatan yang lebih manusiawi menuntut keberanian untuk melihat akar masalah: kemiskinan struktural, kekerasan, ketidaksetaraan gender, dan minimnya perlindungan sosial. Tanpa itu, solusi yang ditawarkan hanya akan bersifat sementara dan kosmetik.
Kajian kontemporer tentang kota dan kemiskinan menunjukkan bahwa ruang publik semakin eksklusif. Kota dibangun untuk konsumsi, bukan untuk keberlanjutan hidup semua warganya. Mereka yang tidak sesuai dengan citra “ideal” sering didorong ke pinggiran, baik itu secara fisik maupun simbolik. Tahun baru dalam konteks ini menjadi panggung besar yang menutupi retakan di bawahnya. Kita diajak merayakan optimisme, tetapi jarang diajak membongkar ketidakadilan yang membuat optimisme itu tidak merata.
Namun, pertanyaan “Tahun Baru Itu Punya Siapa?” tidak harus berakhir pada keputusasaan. Ia bisa menjadi undangan untuk refleksi dan tindakan. Tahun baru seharusnya menjadi momentum untuk meninjau ulang prioritas bersama: apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar menyentuh yang paling rentan, apakah kebijakan publik dirancang dengan mendengar suara mereka yang terdampak, dan apakah solidaritas sosial masih menjadi nilai yang hidup, bukan sekadar slogan.
Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam, dan tidak selalu terlihat spektakuler seperti kembang api. Ia sering lahir dari kerja sunyi: kebijakan yang adil, pengawasan yang konsisten, partisipasi warga, dan empati yang dipraktikkan dalam keseharian. Tahun baru akan benar-benar bermakna ketika ia tidak hanya dirayakan oleh sebagian orang, tetapi dirasakan sebagai harapan nyata oleh mereka yang selama ini tertinggal.
Pada akhirnya, tahun baru adalah cermin yang memantulkan siapa kita sebagai masyarakat. Jika cermin itu menunjukkan ketimpangan, ketidakpedulian, dan keserakahan, maka tugas kita bukan memecah cermin, melainkan memperbaiki wajah yang terpantul di dalamnya.
Selamat Tahun Baru Kawan. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR