53 Mahasiswa Akuntansi Universitas Malahayati Lolos Program Inbound di Universitas Brawijaya

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Universitas Malahayati. Sebanyak 53 mahasiswa Program Studi Akuntansi resmi dinyatakan lolos seleksi Program Inbound di Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya, Malang.

Program Inbound ini merupakan bagian dari kolaborasi antarperguruan tinggi yang bertujuan memberikan pengalaman belajar lintas kampus. Melalui program ini, mahasiswa akan mengikuti perkuliahan, diskusi, serta berbagai kegiatan akademik bersama dosen dan mahasiswa Universitas Brawijaya. Kesempatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan akademik, serta memperkaya jejaring profesional para peserta.

Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati, Muhammad Luthfi, SE., M.Si, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang berhasil lolos seleksi.

“Kami berharap para mahasiswa dapat memanfaatkan pengalaman berharga ini sebaik-baiknya. Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin, berinteraksi aktif, dan jadikan momen ini sebagai langkah awal untuk meraih kesuksesan di masa depan,” ujar Luthfi.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan ini menjadi bukti nyata kualitas dan daya saing mahasiswa Universitas Malahayati di tingkat nasional. Partisipasi dalam program ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan mengembangkan diri.

Salah satu mahasiswa peserta program, menyampaikan rasa antusiasnya menjelang keberangkatan ke Malang.

“Kami sangat bersemangat untuk belajar di Universitas Brawijaya. Ini kesempatan langka untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan dengan teman-teman dari kampus lain,” ungkapnya.

Dengan keberangkatan 53 mahasiswa ini, Universitas Malahayati sekali lagi menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa melalui berbagai program akademik yang berkualitas. Selamat menempuh pengalaman belajar di Universitas Brawijaya — banggakan kampus, raih prestasi, dan pulang membawa ilmu yang bermanfaat. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Proses, Takdir dan Fitrah

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Pagi menjelang siang, hari itu kedatangan tiga mahasiswa pascasarjana yang masih semangat-semangatnya ingin menjadi magister. Mereka bertiga menggarap penelitian dengan satu tema tetapi tiga masalah. Dipenghujung diskusi persoalan mengerucut pada proses, takdir dan fitrah. Setelah diberi pemahaman panjang lebar, mereka baru memahami. Satu penggalan diskusi pada wilayah filsafat jika dipaparkan secara ringkas adalah sebagai berikut:

Dalam kehidupan manusia, kita sering dihadapkan pada dinamika yang tak terhindarkan: awal dan akhir, memiliki dan kehilangan, datang dan pergi, sedih dan senang. Ungkapan bijak “Awal dan akhir adalah proses, memiliki dan kehilangan adalah takdir, datang dan pergi adalah fitrah, sedih dan senang tidak selamanya” mencerminkan refleksi mendalam atas perjalanan eksistensi manusia. Kehidupan bukanlah suatu garis lurus yang statis, melainkan arus yang dinamis dan terus-menerus berubah.

Ungkapan “awal dan akhir adalah proses” menggambarkan bagaimana kehidupan manusia berjalan dalam alur waktu. Kelahiran bukan sekadar permulaan biologis, dan kematian bukan sekadar akhir fisik. Keduanya adalah momen dalam alur keberadaan yang lebih luas. Dalam pemikiran Heidegger, kematian bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan harus disadari sebagai kemungkinan eksistensial yang paling pribadi. Kesadaran akan kematian justru membuat hidup lebih otentik.

Dengan menyadari bahwa awal dan akhir adalah bagian dari proses, manusia tidak hanya melihat hidup sebagai tujuan-tujuan eksternal, tetapi juga sebagai pengalaman batin yang mendalam. Kita tidak pernah “selesai” sebagai manusia, oleh sebab itu kita selalu dalam proses menjadi. Inilah yang membuat eksistensi kita begitu unik dan bermakna.

“Memiliki dan kehilangan adalah takdir” merupakan pernyataan yang mencerminkan keterbatasan manusia dalam mengendalikan dunia. Kita seringkali mengira bahwa kita dapat memiliki sesuatu secara mutlak, termasuk orang yang kita cintai, harta, status, atau bahkan waktu. Namun dalam kenyataannya, segala sesuatu yang kita miliki bersifat sementara. Filsuf eksistensialis seperti Søren Kierkegaard dan Jean-Paul Sartre mengungkapkan bahwa keterikatan terhadap hal-hal duniawi sering kali menimbulkan kecemasan, karena di lubuk hati terdalam kita sadar bahwa semua itu bisa hilang.

Dari sisi ini, kehilangan adalah pengalaman universal. Tidak ada satu manusia pun yang hidup tanpa kehilangan. Namun, dalam filsafat, kehilangan bukan sekadar kesedihan; ia juga menjadi pintu pembuka menuju refleksi dan kedewasaan. Dalam kehilangan, manusia dihadapkan pada fakta bahwa dirinya bukan pusat semesta. Ia sadar bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari realitas yang jauh lebih besar.

“Datang dan pergi adalah fitrah” menunjukkan bahwa hubungan antar manusia tidak pernah bersifat permanen. Fitrah, dalam konteks ini, bisa dipahami sebagai kecenderungan alami. Kita bertemu orang, membangun hubungan, lalu berpisah disebabkan karena waktu, jarak, pilihan, atau kematian. Inilah ritme kehidupan sosial manusia.

Dari perspektif filsafat Islam, fitrah manusia mencakup potensi spiritual dan sosial yang telah Allah tanamkan sejak lahir. Menurut Al-Ghazali, manusia memiliki kecenderungan untuk mencari kebaikan, kebenaran, dan cinta. Maka, membangun relasi adalah bagian dari fitrah itu. Tetapi, karena dunia ini fana, maka relasi pun tidak kekal. Datang dan pergi bukanlah tragedi, melainkan bagian dari hukum alam.

Dalam filsafat eksistensial, kehadiran orang lain sering kali menjadi cermin bagi diri sendiri. Sartre menyebut bahwa “neraka adalah orang lain” karena kehadiran mereka membuat kita sadar akan siapa kita. Namun, Emmanuel Levinas justru melihat kehadiran orang lain sebagai panggilan etis. Maka, setiap pertemuan dan perpisahan membawa peluang untuk pertumbuhan moral dan spiritual. Jika datang dan pergi adalah fitrah, maka sikap manusia seharusnya adalah menerima dan belajar dari setiap interaksi. Kehilangan bukan berarti kegagalan, dan pertemuan bukan berarti pemilikan. Semuanya bagian dari perjalanan eksistensial yang harus dijalani.

“Sedih dan senang tidak selamanya” menyentuh aspek emosional dari eksistensi manusia. Emosi adalah bagian integral dari keberadaan manusia. Kita tidak bisa menghindari rasa senang ketika mendapatkan sesuatu yang diinginkan, dan tidak bisa menolak kesedihan ketika kehilangan. Namun, baik senang maupun sedih, keduanya bersifat sementara.

Ungkapan bijak yang menjadi dasar esai ini bukan hanya rangkaian kata-kata puitis, tetapi juga pintu masuk menuju refleksi filosofis yang dalam tentang makna hidup manusia. Dalam hidup, kita selalu berada dalam proses menjadi: dari awal ke akhir, dari memiliki ke kehilangan, dari datang ke pergi, dari senang ke sedih, dan sebaliknya. Kesadaran bahwa semua ini adalah bagian dari struktur keberadaan, bukan sekadar kejadian acak, memberikan kita kekuatan untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna.

Oleh karena itu bahwa hidup tidak harus dimenangkan, melainkan dimengerti. Dengan memahami bahwa proses, takdir, dan fitrah adalah bagian dari keberadaan kita, kita bisa menjalani hidup dengan lebih lapang, penuh kasih, dan penuh makna. Akhirnya, tugas kita bukan untuk melawan arus waktu, tetapi untuk menari di dalamnya, tentu dengan kesadaran, kesabran, cinta, dan keikhlasan. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Bahagia Tak Harus Tertawa, Sedih Tak Harus Menangis

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Menjelang senja rumah kedatangan seorang satuan pengamanan komplek perumahan. Beliau orangnya pendiam, dan jika berbicara seperlunya saja, bahkan tidak jarang tanpa ekspresi. Entah ada apa senja itu dia mampir ke rumah, dan itu sangat jarang dia lakukan kecuali jika ada panggilan; setelah didesak dengan segala macam jurus, ternyata dia menjawab baru tertimpa musibah, uang yang di dalam account-nya dibobol oleh peretas. Setelah beliau berlalu kembali ke pos penjagaan, ada pembelajaran yang dipetik dari seorang satuan pengamanan ini, yaitu seperti yang dijadikan judul tulisan. Bahasan kali ini juga dari sudut pandang filsafat manusia.

Pada kehidupan sehari-hari, kita sering kali mengasosiasikan bahagia dengan tawa, dan sedih dengan tangis. Kita juga menganggap bahwa ekspresi lahiriah merupakan cerminan mutlak dari keadaan batin seseorang. Namun, dalam kenyataannya, tidak semua kebahagiaan harus ditunjukkan dengan senyuman lebar dan sumringah, dan tidak semua kesedihan perlu ditumpahkan dalam bentuk air mata. Bahkan, dalam banyak situasi, diam menjadi satu-satunya bentuk komunikasi yang paling jujur dan penuh makna. Di sinilah letak kekayaan dari pengalaman manusia; yang tak selalu bisa direduksi ke dalam simbol-simbol lahiriah.

Dari sudut pandang filsafat manusia kontemporer, pernyataan “Bahagia tak harus tertawa, sedih tak harus menangis”, bisa jadi diam adalah pilihan terbaik; mencerminkan kompleksitas eksistensi manusia sebagai makhluk yang memiliki kedalaman batin, kebebasan eksistensial, dan kapasitas reflektif yang melampaui permukaan ekspresi fisiknya.

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis, menyatakan bahwa manusia tidak dilahirkan dengan makna atau tujuan tertentu yang sudah ditentukan. Justru, manusialah yang harus menciptakan makna hidupnya sendiri. Dalam kerangka ini, emosi seperti bahagia dan sedih tidak bisa direduksi hanya ke dalam tanda-tanda eksternal. Ketika seseorang bahagia tapi memilih tidak tertawa, atau sedih tanpa menangis, ia sedang menggunakan kebebasannya untuk menafsirkan dan mengelola emosinya sendiri. Beliau juga menekankan konsep “pilihan.” Dalam kebebasannya, manusia bertanggung jawab atas makna yang ia berikan pada hidupnya. Diam, dalam hal ini, bisa menjadi ekspresi kebebasan. Seseorang yang memilih diam ketika bisa saja berteriak atau menangis, sedang menunjukkan kontrol atas dirinya. Ia tidak tunduk pada reaksi spontan semata, tapi sedang membentuk makna emosinya dalam kerangka kebebasan personal.

Martin Heidegger memperkenalkan konsep “Dasein” sebagai istilah untuk menyebut manusia sebagai makhluk yang ‘ada-di-dunia’. Bagi Heidegger, manusia otentik adalah manusia yang menyadari kefanaannya dan mampu hidup dengan kesadaran akan kematian. Dalam konteks ini, perasaan bahagia dan sedih tidak selalu harus diekspresikan secara eksplisit. Manusia yang sadar akan kedalaman eksistensinya bisa saja merasa bahagia dalam kesendirian, dalam keheningan, dalam momen-momen reflektif yang tak tampak dari luar. Oleh sebab itu pula Heidegger menekankan pentingnya “keheningan” dalam pengalaman eksistensial. Dalam Being and Time, ia menulis bahwa keheningan bukanlah ketiadaan komunikasi, melainkan bentuk komunikasi yang lebih mendalam. Ketika seseorang diam, ia sedang ‘menarik diri’ dari kebisingan dunia dan masuk ke dalam ruang refleksi. Diam menjadi momen otentik, di mana seseorang benar-benar berhadapan dengan dirinya sendiri, tanpa distraksi sosial.

Emmanuel Levinas, berbicara banyak tentang etika dan hubungan antar-manusia. Dalam pemikirannya, “wajah” orang lain adalah panggilan etis yang tidak bisa dihindari. Namun menariknya, wajah yang dimaksud Levinas bukan sekadar wajah fisik yang tersenyum atau menangis, melainkan kehadiran yang mengajukan tanggung jawab. Dalam konteks ini, seseorang yang tidak tertawa bukan berarti tidak bahagia, dan seseorang yang tidak menangis bukan berarti tidak merasakan duka. Wajah yang diam bisa saja menyampaikan rasa pedih yang lebih mendalam daripada air mata. Keheningan, dalam relasi antar-manusia, justru bisa menjadi bentuk empati yang paling kuat. Ketika seseorang memilih diam di hadapan penderitaan orang lain, bukan berarti ia tak peduli, tapi bisa jadi ia sedang membuka ruang bagi penderitaan itu untuk berbicara dengan caranya sendiri.

Viktor Frankl, seorang psikiater dan penyintas Holocaust, menulis buku terkenal Man’s Search for Meaning, yang membahas bagaimana manusia dapat menemukan makna bahkan dalam penderitaan terdalam. Ia menyatakan bahwa penderitaan tidak secara otomatis menghancurkan manusia; yang menghancurkan adalah penderitaan yang dianggap tak bermakna. Dalam pengalamannya di kamp konsentrasi Nazi, Frankl menyaksikan banyak orang yang tetap bertahan hidup bukan karena kekuatan fisik, tetapi karena mereka memiliki “mengapa” yang membuat mereka mampu menghadapi “bagaimana.” Ia juga menekankan pentingnya keheningan dalam proses pemaknaan tersebut. Diam, bagi Frankl, bisa menjadi momen di mana seseorang menyelami dirinya untuk menemukan makna yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Dalam konteks ini, tuntutan untuk selalu tersenyum saat bahagia atau menangis saat sedih bukanlah keharusan eksistensial, melainkan konstruksi sosial. De Beauvoir akan berpendapat bahwa memilih diam dalam menghadapi tekanan emosional adalah bentuk pemberontakan terhadap norma sosial yang membatasi ekspresi manusia. Keheningan bisa menjadi bentuk resistensi sekaligus penyelamatan identitas pribadi dari invasi masyarakat.
Filsafat kontemporer juga mengajarkan bahwa emosi manusia tidak bersifat biner. Seseorang bisa merasa bahagia dan sedih pada saat yang sama. Ada kebahagiaan yang muncul dari kehilangan, dan kesedihan yang terasa manis karena mengandung kenangan indah. Emosi manusia adalah dialektika yang kompleks.

Dalam dialektika ini, diam bisa menjadi ruang tempat emosi itu “bercampur” tanpa harus dipisahkan atau diklasifikasikan. Keheningan memungkinkan ambiguitas. Dan justru dalam ambiguitas itulah, pengalaman manusia menjadi utuh. Kita tidak harus tertawa untuk mengakui kebahagiaan, tidak harus menangis untuk merasakan duka, dan tidak harus berbicara untuk memahami.

Dari perspektif filsafat manusia kontemporer, ungkapan “Bahagia tak harus tertawa, sedih tak harus menangis”, terkadang diam menjadi pilihan terbaik. Ini adalah representasi dari kematangan eksistensial. Ia mencerminkan kedalaman pemahaman bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang bereaksi, tetapi juga yang merefleksikan. Keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang batin yang penuh makna. Diam bisa menjadi bahasa yang paling jujur dalam situasi ketika kata-kata gagal, dan ketika ekspresi lahiriah justru menyederhanakan realitas batin yang kompleks. Itulah manusia dengan segala dimensinya, sulit dipahami tetapi mudah dimengerti. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Panitia dan DPL KKLPPM Universitas Malahayati Gelar Monev Pekan Pertama, Paparkan Program Unggulan di 70 Pekon Kabupaten Tanggamus

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Sebagai bentuk komitmen dalam menjalankan program pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas dan berdampak nyata, Panitia dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKLPPM Universitas Malahayati (Unmal) Tahun 2025 melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pekan Pertama sekaligus pemaparan rencana program unggulan yang akan diterapkan di 70 pekon wilayah Kabupaten Tanggamus. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 6 Agustus 2025, bertempat di Ruang Pertemuan Pascasarjana Universitas Malahayati dan dihadiri oleh 35 DPL serta unsur pimpinan dan tim program KKLPPM Unmal.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua KKLPPM Unmal, Eka Yudha Chrisanto, Ns., M.Kep., yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas semangat dan keseriusan para DPL dalam membimbing mahasiswa di lapangan. Ia menekankan bahwa kegiatan monitoring bukan semata menjalankan kewajiban administratif, melainkan sebagai sarana refleksi bersama guna memastikan seluruh kegiatan benar-benar memberi manfaat nyata. “Monitoring dan evaluasi bukan hanya tentang kontrol administratif, tapi sebagai refleksi bersama untuk memastikan bahwa gerakan kampus ini benar-benar berdampak. Kita ingin hadir bukan sekadar formalitas, melainkan sebagai mitra masyarakat,” tegas Eka Yudha.

Diskusi dilanjutkan dengan penyampaian materi Forum Group Discussion (FGD) oleh Tim Program KKLPPM Unmal, yaitu Dr. Lolita Sari, M.Kes., dan Dr. Febriyanti, SE., M.Si. Dalam paparannya, Dr. Lolita menyoroti pentingnya merancang program berbasis data dan kebutuhan riil di masyarakat. Ia mengingatkan bahwa tema KKLPPM Unmal tahun ini, yaitu “Gerakan Kampus Berdampak pada Penanganan Stunting Tanggamus 2025”, bukan sekadar slogan, melainkan harus terwujud dalam program-program terukur dan kolaboratif. “Tema ini harus diterjemahkan ke dalam program yang solutif, kolaboratif dengan pekon, dan memiliki indikator keberhasilan yang terukur,” jelasnya. Sementara itu, Dr. Febriyanti menambahkan bahwa kehadiran mahasiswa dan dosen di masyarakat harus membawa semangat perubahan dan pemberdayaan. “Kita tidak hanya hadir membawa mahasiswa, tapi membawa harapan perubahan,” ungkapnya.

Dalam sesi diskusi dan tanggapan, salah satu DPL, Vira, menyampaikan sejumlah temuan penting dari lapangan. Ia menyoroti tantangan geografis di beberapa wilayah yang masih sulit diakses akibat kondisi jalan yang rusak. Hal ini menurutnya perlu menjadi perhatian serius agar pelaksanaan program di lapangan tetap berjalan dengan aman dan efektif. “Beberapa lokasi, terutama di wilayah perbukitan, sulit dijangkau karena akses jalan rusak. Hal ini perlu jadi perhatian kita bersama,” ujarnya.

Selanjutnya, para DPL dari berbagai kecamatan memaparkan rencana program unggulan masing-masing. Dari Kecamatan Limau, direncanakan program edukasi gizi keluarga dan pendampingan posyandu berbasis budaya lokal yang melibatkan tokoh masyarakat. Kecamatan Kota Agung Barat akan menjalankan program peningkatan kesadaran remaja melalui kegiatan bertajuk “Remaja Sehat, Masa Depan Hebat”. Di Kecamatan Wonosobo, difokuskan pada pelatihan kader stunting dengan pendekatan teknologi informasi sederhana untuk mempercepat alur edukasi masyarakat. Kecamatan Ulu Belu mengusung program keluarga tangguh stunting melalui optimalisasi pertanian rumah tangga berbasis gizi, sedangkan Kecamatan Semaka merancang program revitalisasi sanitasi rumah dan lingkungan melalui pendekatan partisipatif warga.

Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan penguatan komitmen seluruh peserta terhadap semangat kolaboratif dan nilai pengabdian dalam tri dharma perguruan tinggi. Ketua KKLPPM kembali menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi menjadi bagian dari kontribusi strategis Universitas Malahayati dalam mendukung agenda pembangunan kesehatan masyarakat di daerah. “Kita tidak hanya hadir, tapi harus berdaya dan berdampak,” pungkasnya.

Dengan semangat #SIAPIKUTBERIDAMPAK, Universitas Malahayati terus mengukuhkan perannya sebagai kampus yang tidak hanya mencetak lulusan unggul, tetapi juga menjadi mitra perubahan di tengah masyarakat, khususnya dalam mendukung percepatan penanganan stunting di Kabupaten Tanggamus. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Edukasi Hidup Sehat: Mahasiswa KKLPPM Universitas Malahayati Lakukan Penyuluhan PHBS dan Pembuatan Keran Cuci Tangan di SD Negeri 1 TuguRejo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

( malahayati.ac.id ) – Dalam upaya menanamkan budaya hidup sehat sejak dini, SD Negeri 1 TuguRejo mengadakan kegiatan Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga melibatkan para orangtua siswa. Kegiatan ini dilaksanakan dua kali, yaitu pada hari Kamis, 07 Agustus 2025, dan Sabtu, 09 Agustus 2025, sekaligus membuat fasilitas keran cuci tangan di lingkungan sekolah sebagai bentuk penerapan nyata dari materi yang diberikan.

Penyuluhan berlangsung interaktif dengan materi seputar pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, cara mencuci tangan dengan benar, manfaat sarapan sehat, hingga kebiasaan tidak jajan sembarangan. Para siswa tampak antusias mengikuti praktik cuci tangan enam langkah yang benar, sementara para orangtua diajak memahami pentingnya menyediakan makanan sehat di rumah serta mendukung kebiasaan hidup bersih anak-anak mereka.

Yang menarik, kegiatan ini tidak berhenti hanya pada penyampaian materi. Sebagai tindak lanjut, pihak sekolah bersama guru, siswa, dan orangtua bergotong royong membuat keran cuci tangan sederhana di halaman sekolah. Fasilitas ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan maupun setelah bermain.

Kepala SD Negeri 1 TuguRejo menyampaikan bahwa penyuluhan PHBS dan pembangunan sarana cuci tangan ini merupakan langkah nyata sekolah dalam mendukung program UKS dan mewujudkan sekolah sehat.

“Anak-anak bukan hanya diberi pengetahuan, tetapi juga contoh nyata yang bisa langsung mereka praktikkan. Dengan adanya keran cuci tangan ini, mereka bisa terbiasa menjaga kebersihan setiap hari,” ujarnya.

Universitas Malahayati Buka Pendaftaran Program Kelas Eksekutif Fakultas Hukum, Solusi Ideal untuk Profesional yang Ingin Melanjutkan Studi!

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Bagi Anda para profesional, pekerja, maupun karyawan yang ingin melanjutkan studi di bidang hukum tanpa harus meninggalkan kesibukan pekerjaan, kini saatnya mewujudkan impian tersebut! Universitas Malahayati membuka Penerimaan Mahasiswa Baru Program Kelas Eksekutif Fakultas Hukum untuk Tahun Akademik 2025/2026.

Program unggulan ini dirancang khusus untuk para pekerja aktif, dengan sistem perkuliahan yang fleksibel dan adaptif. Kuliah dilaksanakan pada sore hari dan akhir pekan, serta didukung oleh metode pembelajaran hybrid (daring dan luring) untuk memberikan kenyamanan dan efektivitas proses belajar.

Keunggulan Program Kelas Eksekutif Fakultas Hukum:

  • Diselenggarakan oleh salah satu Fakultas Hukum terbaik di Bandar Lampung
  • Terakreditasi BAN-PT, menjamin mutu akademik yang sistematis dan tepat waktu
  • Fasilitas e-learning tersedia, memungkinkan mahasiswa belajar dari mana saja
  • Biaya pendidikan terjangkau dan dapat dicicil
  • Dosen profesional dan berpengalaman, praktisi dan akademisi di bidang hukum

Biaya Pendidikan yang Ringan:

  • Biaya Pendaftaran: Rp 250.000
  • Almamater: Rp 500.000
  • Sumbangan Wajib: GRATIS
  • Biaya Per Semester: Rp 3.000.000
    (Bisa dicicil mulai dari Rp 500.000 per bulan)

Daftar Sekarang, Kuota Terbatas!

Bagi Anda yang ingin mendaftar, segala informasi resmi dan proses tes Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) hanya dilayani langsung di: Gedung Rektorat Universitas Malahayati, Jl. Pramuka No.27, Kemiling, Kota Bandar Lampung.

Informasi & Pendaftaran: 0811-7970-0505. Website: malahayati.ac.id

Waspada penipuan! Pastikan Anda hanya menghubungi kontak resmi Universitas Malahayati.

Bersama Universitas Malahayati, Mari Wujudkan Masa Depan yang Lebih Baik melalui Pendidikan Hukum Berkualitas

Jangan lewatkan kesempatan emas ini. Raih gelar Sarjana Hukum tanpa harus meninggalkan rutinitas kerja Anda. Kelas Eksekutif Fakultas Hukum Universitas Malahayati adalah langkah cerdas untuk meningkatkan karier dan wawasan hukum Anda! (gil)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa Manajemen Universitas Malahayati Raih Juara 1 Bhayangkara Boxing Clash 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. A Walul Fawaldh (23220566), mahasiswa Program Studi S1 Manajemen, berhasil meraih Juara 1 kategori 57kg elite putra dalam ajang bergengsi “Bhayangkara Boxing Clash 2025” yang diselenggarakan oleh Polresta Bandar Lampung pada Jumat, 4 Juli 2025.

Kejuaraan ini digelar dalam rangka memeriahkan Hari Bhayangkara ke-79, dan diikuti oleh para petinju terbaik dari berbagai daerah. Dalam laga final yang berlangsung sengit dan penuh semangat sportivitas, Awalul tampil memukau dengan teknik dan ketangguhannya di atas ring. Ia berhasil menundukkan lawan-lawannya dengan strategi yang matang dan kekuatan yang mengesankan.

Usai kemenangan, Awalul menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian tersebut. Ia mengungkapkan bahwa perjuangannya tidaklah mudah, namun keyakinan dan dukungan dari sang ibu menjadi sumber kekuatan yang tak tergantikan.

“Setiap rintangan pasti ada, tapi doa ibu selalu menjadi kekuatan. Tidak ada kata mundur selagi ibu berkata bisa,” ungkap Awalul penuh haru.

Kemenangan ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi Awalul, tetapi juga mengharumkan nama Universitas Malahayati di kancah olahraga tinju daerah. Pihak kampus memberikan apresiasi tinggi atas prestasi tersebut dan berharap semangat juang Awalul dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi di berbagai bidang.

Selamat kepada A Walul Fawaldh atas pencapaian gemilangnya! Teruslah melangkah maju dan ukir prestasi demi masa depan yang lebih cerah. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Raih Beasiswa Subsidi Unmal Padamu Negeri! Wujudkan Inpianmu di Universitas Malahayati!

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati (Unmal) kembali menunjukkan komitmennya dalam membuka akses pendidikan tinggi seluas-luasnya bagi generasi muda Indonesia. Melalui program BEASISWA SUBSIDI UNMAL – PADAMU NEGERI, Unmal menawarkan solusi nyata bagi kamu yang ingin kuliah, tapi terkendala biaya.

Dengan semangat inklusif dan keberpihakan pada mahasiswa kurang mampu, program ini dirancang khusus untuk eks penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu, dengan berbagai keringanan biaya yang sangat membantu.

Keuntungan Program Beasiswa Subsidi Unmal: Gratis Sumbangan Wajib, beasiswa Subsidi SPP hingga 50%, cicilan SPP Mulai dari Rp 500.000/bulan. Bisa Diangsur!

Tak hanya terjangkau, pilihan fakultas di Universitas Malahayati juga sangat beragam dan relevan dengan kebutuhan zaman. Kamu bisa memilih dari berbagai program studi unggulan di: Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi & Manajemen, Fakultas Hukum. Namun perlu dicatat, program ini tidak berlaku untuk Program Studi S1 Kedokteran dan S1 Farmasi.

Kuota Terbatas! Hanya untuk Pendaftar di Bulan Agustus 2025. Jika kamu serius ingin kuliah dengan biaya terjangkau dan fasilitas lengkap, ini saat yang tepat! Program ini hanya berlaku untuk pendaftar selama bulan Agustus 2025, jadi jangan sampai kelewatan!

Tempat dan Informasi Pendaftaran: Segala bentuk informasi dan pelaksanaan tes Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) hanya dilayani langsung di Gedung Rektorat Lt. 4, Universitas Malahayati: Jl. Pramuka No.27, Kemiling, Kota Bandar Lampung. Info resmi: 0811-7975-0007

Mau kuliah tapi terbatas biaya? UNMAL kasih SOLUSI-nya!
Segera daftar dan raih masa depan cerahmu bersama Universitas Malahayati! “BEASISWA SUBSIDI UNMAL – PADAMU NEGERI” adalah wujud nyata keberpihakan kampus terhadap pemerataan pendidikan tinggi untuk semua kalangan. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Rumah Terakhir

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Pada saat menghadiri sebuah tauziah ditempat keluarga yang ditimpa duka karena kematian kepala keluarga; seorang penceramah muda tampil menceritakan kisah seorang tukang rumah yang telah bekerja selama 60 tahun untuk majikannya. Pada hari ia hendak mengundurkan diri, bosnya meminta satu permintaan terakhir: membangun satu rumah lagi. Sang tukang, yang sudah letih dan ingin segera pensiun, menyelesaikan rumah itu dengan terburu-buru dan tanpa semangat, bahkan cenderung sembrono. Namun, tak disangka, rumah tersebut ternyata dihadiahkan oleh sang majikan kepadanya. Betapa kecewanya sang tukang mengetahui bahwa rumah yang ia bangun asal-asalan itu justru adalah rumah yang akan ia tempati sendiri.

Kisah ini tampak sederhana, tetapi menyimpan makna filosofis yang dalam. Ia menyentuh tema-tema seperti etika kerja, tanggung jawab, makna tindakan, dan refleksi diri dalam menjalani hidup. Dalam esai ini, kita akan mengkaji kisah tersebut dari sudut pandang filsafat, terutama melalui pemikiran etika Aristotelian, filsafat eksistensialisme.

Aristoteles dalam karyanya Nicomachean Ethics mengajarkan bahwa kebahagiaan (eudaimonia) adalah tujuan akhir hidup manusia. Kebahagiaan itu bukan hasil dari kesenangan sesaat atau kekayaan material, melainkan dari hidup yang dijalani dengan keutamaan (virtue). Salah satu keutamaan yang ia tekankan adalah arête, atau keunggulan dalam menjalankan fungsi kita sebagai manusia.

Sang tukang rumah adalah pengrajin, dan tugasnya adalah membangun rumah. Keunggulan baginya adalah membangun dengan baik, penuh dedikasi, dan keahlian. Namun ketika ia membangun rumah dengan sembarangan karena sudah merasa waktunya berhenti, ia melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang pekerja yang beretika. Ia melanggar prinsip areté. Bila ia tetap menjaga kualitas pekerjaannya sampai akhir, ia akan memenuhi keutamaan dirinya. Tetapi ketika ia menyerah pada rasa jenuh dan menurunkan standar, ia tidak hanya mengecewakan bosnya, tetapi dia juga mengkhianati dirinya sendiri. Kisah ini mengajarkan bahwa tindakan kita, sekecil apapun, seharusnya mencerminkan integritas. Karena pada akhirnya, kita sering kali harus tinggal di “rumah” yang kita bangun sendiri.

Sementara dalam pandangan eksistensialisme, terutama menurut Jean-Paul Sartre, manusia adalah makhluk bebas yang harus menciptakan esensi hidupnya melalui tindakan. Sartre terkenal dengan pernyataannya bahwa “eksistensi mendahului esensi.” Artinya, kita tidak ditentukan oleh status atau jabatan, melainkan oleh pilihan dan perbuatan kita sendiri. Sang tukang rumah, dalam kisah ini, membuat sebuah pilihan: ia memilih untuk tidak bekerja sebaik biasanya karena merasa masa pengabdiannya sudah cukup. Ia menggunakan kebebasan eksistensialnya, tetapi ia lupa bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi. Konsekuensi itu datang dalam bentuk penyesalan; karena dia menyadari bahwa tindakannya adalah cerminan dirinya.

Filsafat Eksistensialis juga berbicara tentang autentisitas. Hidup yang otentik adalah hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh bahwa setiap tindakan membentuk siapa kita. Tukang rumah yang membangun rumah asal-asalan berarti sedang “membangun” dirinya sendiri dengan cara asal-asalan pula. Dan ketika ia akhirnya harus menempati rumah itu, ia harus menerima versi dirinya yang terbentuk dari pilihan tersebut.

Kisah ini juga mengajak kita untuk memaknai pekerjaan bukan sekadar rutinitas mencari nafkah, melainkan sebagai laku spiritual. Dalam ajaran filsafat Islam, pekerjaan adalah bentuk ibadah. Setiap paku yang dipukul, setiap semen yang diaduk, setiap kata yang diucap; bila dilakukan dengan niat yang benar dan hati yang ikhlas, maka dia akan menjadi amal ibadah.

Pekerjaan yang dilakukan dengan setengah hati tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga mengosongkan nilai spiritual dalam hidup kita sendiri. Sang tukang rumah telah bekerja selama 60 tahun, dan mungkin ia sudah mengumpulkan banyak pahala dari pekerjaan itu. Namun pada akhirnya, satu perbuatan buruk di akhir masa kerja mampu menghapus rasa puas terhadap seluruh pengabdiannya. Dalam hal ini, ada pesan penting: konsistensi moral dan spiritual itu penting sepanjang hidup. Tidak cukup untuk “pernah baik”; kita harus “selalu berusaha menjadi baik”, karena kita tidak tahu kapan dan di mana akhir dari perjalanan hidup kita.

Rumah dalam kisah ini bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga simbol dari kehidupan yang kita bangun sendiri. Tindakan kita, kebiasaan kita, pilihan kita, dan semuanya menjadi “batu bata” yang menyusun keberadaan kita. Ketika kita hidup dengan asal-asalan, maka kita pun membangun diri yang rapuh dan tidak tahan uji. Ketika sang tukang harus tinggal di rumah itu, ia harus tinggal dalam “hasil dirinya sendiri.” Betapa mirip dengan kenyataan hidup: kita harus tinggal dalam batin kita sendiri, menghadapi konsekuensi dari kehidupan yang telah kita bangun.

Kalau kita renungkan ada pelajaran etis yang kuat dalam kisah ini. Cerita ini mengajarkan bahwa setiap tindakan terakhir adalah potensi warisan kita. Banyak orang mengendurkan kualitas diri di akhir, karena merasa sudah cukup. Padahal, tindakan terakhir sering kali yang paling dikenang. Bukan hanya dalam pekerjaan, tetapi dalam kehidupan secara umum: kita tidak tahu kapan akhir kita tiba. Mungkin hari ini adalah kesempatan terakhir kita untuk memperbaiki hubungan, untuk berbuat baik, atau untuk menunjukkan cinta dan perhatian. Dalam konteks ini, cerita sang tukang menjadi simbol penting: bahwa kita harus menyelesaikan setiap “tugas kehidupan” kita dengan kualitas terbaik. Karena siapa tahu, bahwa itu akan menjadi “hadiah” atau “warisan” yang harus kita tanggung sendiri.

Kisah tukang rumah ini juga bukan sekadar dongeng moral, melainkan cermin filosofis yang menyentuh inti kehidupan manusia. Ia mengajarkan bahwa hidup adalah proses membangun “rumah” kita sendiri melalui tindakan sehari-hari. Etika kerja, tanggung jawab, kebebasan memilih, dan kesadaran spiritual semua berpadu dalam kisah ini. Dengan memahami dan merenungkan kisah ini, kita diingatkan untuk tidak hidup secara sembarangan. Karena kita tidak pernah tahu, kapan “rumah” terakhir itu akan diberikan kepada kita. Dan pada akhirnya, kita akan tinggal dalam rumah yang kita bangun sendiri. Baik atau buruk sangati tergantung kita saat menyelesaikannya. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Fakultas Hukum Universitas Malahayati Adakan Pengabdian Masyarakat di MAS Hidayatul Islamiyah, Angkat Isu Bullying dari Perspektif Hukum

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Fakultas Hukum Universitas Malahayati (FH Unmal) kembali menegaskan komitmennya dalam membangun kesadaran hukum sejak dini melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) yang kali ini digelar di Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Hidayatul Islamiyah, Jumat (1/8/2025).

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Dekan Fakultas Hukum, Aditia Arief Firmanto, SH., MH, didampingi dosen Dwi Arrasy Aprillia RS, SH., MH, serta melibatkan sejumlah mahasiswa dari berbagai angkatan. Dengan suasana interaktif dan penuh antusiasme, kegiatan ini menyasar edukasi hukum kepada para siswa-siswi, khususnya tentang isu krusial yang kerap terjadi di lingkungan sekolah: bullying.

“Pengabdian masyarakat ini adalah bagian dari tanggung jawab akademik kami. Selain sebagai bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat, kami juga ingin meningkatkan kesadaran hukum sejak dini kepada para pelajar,” ujar Dekan FH Unmal, Aditia Arief Firmanto.

Dalam sesi utama, para siswa mendapatkan pemaparan mendalam mengenai bullying dalam perspektif hukum pidana. Mereka diajak memahami bentuk-bentuk bullying, sanksi hukum yang dapat dikenakan kepada pelaku, serta hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan hukum.

Menurut Dwi Arrasy Aprillia, SH., MH kegiatan ini dirancang agar para siswa tidak hanya mengetahui batasan perilaku yang masuk dalam kategori bullying, tetapi juga memiliki keberanian untuk melaporkan jika mengalami atau menyaksikan tindakan serupa.

“Edukasi ini penting agar para siswa tahu bahwa bullying bukan hanya tindakan tidak menyenangkan, tapi juga bisa menjadi tindak pidana. Kita ingin mereka paham hak dan kewajiban hukumnya,” jelas Dwi.

Selain penyuluhan hukum, FH Unmal juga memperkenalkan berbagai keunggulan Program Studi Ilmu Hukum di Universitas Malahayati. Dalam kesempatan itu, pihak fakultas memberikan informasi mengenai peluang beasiswa KIP Kuliah untuk tahun 2026.

“Kami merekomendasikan 5 siswa-siswi dari MAS Hidayatul Islamiyah untuk mendapatkan beasiswa KIP Kuliah. Ini bentuk nyata dukungan kami terhadap pendidikan yang inklusif dan berkeadilan,” ungkap Aditia.

Kegiatan Pengmas ini juga menjadi wadah pengembangan diri bagi mahasiswa Fakultas Hukum. Mereka diberi kesempatan untuk melatih kemampuan public speaking, komunikasi efektif, negosiasi, serta pemecahan masalah hukum secara langsung di lapangan.

“Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tapi juga praktek langsung menyampaikan materi hukum kepada audiens yang beragam. Ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan membentuk karakter profesional,” kata Aditia.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program roadshow rutin tahunan yang dilakukan Fakultas Hukum Unmal ke sekolah-sekolah tingkat SMA/sederajat. Untuk tahun ini, ada enam lokasi yang menjadi sasaran kegiatan, mencakup wilayah Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Pesawaran.

Melalui kegiatan ini, FH Unmal berharap dapat menanamkan nilai-nilai hukum dan kesadaran kritis terhadap perilaku bullying yang masih kerap terjadi di sekolah. Edukasi hukum yang disampaikan dengan cara yang komunikatif dan mudah dipahami diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga beretika dan taat hukum.

“Jika mereka paham hukum, mereka akan lebih bijak dalam bertindak. Kami ingin menjadikan hukum sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari siswa,” tutup Aditia. (gil)

Editor: Gilang Agusman