MENUJU PERJALANAN ABADI

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Malam telah turun perlahan. Lampu-lampu temaram menggantung di serambi suatu pesantren, sementara suara jangkrik bersahutan memecah keheningan. Seorang Santri duduk bersila, menunggu dengan gelisah. Ketika langkah kaki terdengar mendekat, ia menundukkan kepala.

“Engkau tampak resah,” ujar sang Kiai pelan, suaranya tenang seperti air yang mengalir. “Maaf, Kiai,” jawab Santri itu lirih. “Saya hanya… sering bertanya-tanya akhir-akhir ini.” “Pertanyaan adalah tanda hidup,” kata sang Kiai sambil duduk di hadapannya. “Apa yang mengusik pikiranmu?”

Santri itu menarik napas. “Mengapa di pesantren ini kami diajarkan hidup sederhana, diam, dan mengulang hal-hal yang sama setiap hari? Sementara di luar sana, orang berlomba-lomba mengejar banyak hal. Saya takut, jangan-jangan hidup saya tertinggal.” Sang Kiai tersenyum tipis. “Apakah engkau yakin hidup itu perlombaan?” Santri terdiam. “Bukankah semua orang ingin sampai lebih dulu, Kiai?”. “Kemana?” tanya sang Kiai balik.

Pertanyaan itu membuat Santri terhenyak. Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam. “Saya tidak tahu,” jawabnya jujur. “Di sinilah letak pelajarannya,” ujar sang Kiai lembut. “Pesantren tidak mengajarkanmu untuk berlari, tetapi untuk berjalan dengan sadar. Tidak semua yang cepat itu benar, dan tidak semua yang sunyi itu tertinggal.”

Santri mengangkat wajahnya. “Lalu, apa sebenarnya yang sedang kami persiapkan di sini, Kiai?”. Sang kiai memandang langit yang gelap, seolah membaca sesuatu yang tak tertulis. “Engkau sedang mempersiapkan dirimu sendiri. Membersihkan niat, menata hati, dan mengenali batas-batasmu sebagai manusia.”

“Untuk apa semua itu?” tanya Santri pelan. “Untuk perjalanan yang tak bisa dihindari oleh siapa pun,” jawab sang Kiai. “Perjalanan yang tidak memerlukan bekal dunia, tetapi membutuhkan kejernihan jiwa.” Santri terdiam lama. Angin malam berembus pelan, membawa ketenangan yang aneh. “Berarti,” katanya kemudian, “jalan sunyi ini bukan hukuman?”. “Bukan,” sahut sang Kiai mantap. “Ia adalah tugas terakhir kehidupan. Agar ketika engkau sampai di ujung, engkau tahu siapa dirimu, dan ke mana engkau akan kembali.” Santri itu menunduk lebih dalam. Di wajahnya tak lagi tampak kegelisahan, melainkan kesadaran yang baru mulai tumbuh.

Jalan sunyi mempersiapkan perjalanan abadi adalah tugas terakhir dari kehidupan. Kalimat ini menemukan maknanya dalam sebuah ruang hidup yang sederhana, tertib, dan penuh pengendalian diri. Di tempat semacam ini, kehidupan tidak bergerak mengikuti arus dunia luar yang bising, melainkan berjalan pelan dalam irama yang teratur. Hari-hari diisi dengan rutinitas yang sama, doa yang berulang, dan keheningan yang justru mengajarkan banyak hal tentang arti menjadi manusia. Dari sudut pandang filsafat humanistik, ruang ini adalah tempat manusia belajar memahami dirinya sebagai makhluk yang sadar akan tujuan akhir, bukan sekadar pelaku aktivitas duniawi.

Filsafat manusia menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab. Namun kebebasan tidak selalu berarti bergerak tanpa batas. Di ruang hidup yang asketis ini, kebebasan justru ditemukan dalam pembatasan. Aturan-aturan yang mengikat, kesederhanaan fasilitas, dan kedisiplinan waktu bukanlah penjara, melainkan sarana untuk melatih kehendak. Manusia belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi, dan tidak semua dorongan harus diikuti. Dalam pengendalian diri itulah martabat manusia ditegakkan, karena ia mampu memilih nilai, bukan sekadar menuruti naluri.

Kesunyian menjadi elemen penting dalam proses ini. Kesunyian bukanlah ketiadaan kehidupan, melainkan ruang untuk mendengar suara batin. Filsafat humanistik memandang refleksi diri sebagai syarat utama bagi manusia untuk hidup secara otentik. Tanpa refleksi, manusia mudah terjebak dalam kehidupan yang mekanis. Dalam keheningan malam, ketika aktivitas fisik berhenti dan pikiran mulai tenang, manusia berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar: untuk apa hidup dijalani, apa yang benar-benar bernilai, dan ke mana arah langkah ini bermuara. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang perlahan mempersiapkan manusia menghadapi perjalanan yang tak dapat dihindari.

Jalan sunyi juga berarti mengambil jarak dari hiruk-pikuk dunia tanpa harus memusuhinya. Dunia tetap diakui sebagai bagian dari kehidupan, tetapi bukan sebagai tujuan akhir. Dalam filsafat humanistik, ini disebut sebagai kemampuan transendensi: manusia mampu melampaui kepentingan sesaat menuju nilai yang lebih tinggi. Dengan mengurangi keterikatan pada hal-hal material dan simbol-simbol sosial, manusia diarahkan untuk menata ulang orientasi hidupnya. Ia belajar bahwa keberhasilan sejati tidak selalu tampak dari luar, melainkan dirasakan dari kedalaman batin.

Tugas terakhir dari kehidupan, jika dipahami secara filosofis, bukanlah pencapaian eksternal, melainkan kesiapan internal. Perjalanan abadi tidak menuntut bekal materi, melainkan keadaan batin yang jernih. Kesadaran akan kefanaan justru membuat hidup dijalani dengan lebih bertanggung jawab. Manusia menyadari bahwa setiap tindakan memiliki makna, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Kesadaran ini tidak melahirkan ketakutan, tetapi kebijaksanaan.

Pada akhirnya, jalan sunyi adalah proses memanusiakan manusia. Dalam kesederhanaan, keteraturan, dan keheningan, manusia diajak kembali pada esensinya. Hidup tidak lagi dipahami sebagai perlombaan tanpa akhir, melainkan sebagai perjalanan yang penuh makna. Setiap hari menjadi latihan, setiap diam menjadi pengajaran. Ketika saat perjalanan abadi itu tiba, yang dibawa bukanlah kebisingan dunia, melainkan ketenangan batin yang telah ditempa sepanjang jalan sunyi kehidupan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Adu Vokal Pelajar Se-Lampung di Lomba Solo Pop Song Malahayati Yearfest 2026

Bandarlampung (malahayati.ac.id): Dalam rangka memeriahkan Dies Natalis ke-32, Universitas Malahayati kembali menggelar Malahayati Yearfest Competition 2026. Salah satu cabang lomba yang dilaksanakan pada Jumat, 23 Januari 2026, adalah lomba Solo Pop Song yang berlangsung di lingkungan Universitas Malahayati.

Lomba Solo Pop Song ini diikuti oleh 41 peserta yang berasal dari pelajar SMA/MA/SMK se-Provinsi Lampung. Para peserta menampilkan kemampuan vokal terbaik mereka dengan membawakan berbagai lagu pop nasional, menunjukkan keberanian, ekspresi, serta teknik bernyanyi di hadapan dewan juri dan penonton.

Kegiatan ini menjadi wadah pengembangan kreativitas, bakat, dan potensi generasi muda, sekaligus sarana untuk memperkenalkan lingkungan akademik Universitas Malahayati kepada masyarakat luas. Melalui Malahayati Yearfest Competition 2026, para pelajar tidak hanya berkompetisi, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenal dunia perguruan tinggi.

Dalam pelaksanaannya, lomba Solo Pop Song dinilai oleh Ahmad Iqbal, S.S. sebagai Juri I dan Yoan Ristama, S.Sn., M.Sn. sebagai Juri II. Penilaian dilakukan secara objektif dengan memperhatikan kualitas vokal, penguasaan lagu, intonasi, ekspresi, serta penampilan peserta di atas panggung.

Selain perlombaan, Malahayati Yearfest Competition 2026 juga diramaikan dengan berbagai kegiatan pendukung, seperti bazar kuliner, pameran program studi, serta partisipasi UMKM. Rangkaian kegiatan tersebut menciptakan suasana festival edukatif yang terbuka bagi pelajar, civitas akademika, dan masyarakat umum.

Melalui kegiatan ini, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan soft skill generasi muda, khususnya di bidang seni dan kreativitas, serta mempererat hubungan antara pendidikan menengah dan perguruan tinggi.

Lomba Solo Pop Song dalam Malahayati Yearfest Competition 2026 menunjukkan bahwa pengembangan potensi pelajar tidak hanya terfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada bakat seni dan keberanian berekspresi. Antusiasme peserta yang datang dari berbagai sekolah di Provinsi Lampung menjadi bukti bahwa ruang kompetisi seni masih sangat dibutuhkan oleh generasi muda. Kegiatan ini layak untuk terus dikembangkan sebagai sarana pembinaan bakat sekaligus ajang promosi dunia pendidikan tinggi yang lebih inklusif dan inspiratif.(fkr)


Editor: Fadly KR

Solo Dangdut Song Meriahkan Malahayati Yearfest Competition 2026 di Dies Natalis ke-32

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dalam rangka memeriahkan Dies Natalis ke-32, Universitas Malahayati menyelenggarakan Malahayati Yearfest Competition 2026 yang digelar pada 22 Januari 2026 di lingkungan Universitas Malahayati.

Salah satu kegiatan yang menjadi daya tarik dalam rangkaian acara tersebut adalah lomba Solo Dangdut Song yang diikuti oleh 22 peserta dari pelajar SMA/MA/SMK se-Provinsi Lampung. Lomba ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat seni tarik suara, khususnya di bidang musik dangdut, sekaligus melatih kepercayaan diri dan keberanian tampil di depan publik.

Malahayati Yearfest Competition 2026 tidak hanya berfokus pada perlombaan, tetapi juga menjadi sarana pengenalan lingkungan akademik Universitas Malahayati kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, para pelajar memperoleh pengalaman langsung mengenal dunia perguruan tinggi serta berbagai program studi yang tersedia.

Selain lomba Solo Dangdut Song, rangkaian kegiatan Malahayati Yearfest Competition 2026 juga dimeriahkan dengan bazar kuliner, pameran program studi, serta partisipasi UMKM. Rangkaian kegiatan tersebut menciptakan suasana festival yang edukatif, inklusif, dan terbuka bagi pelajar, civitas akademika, maupun masyarakat umum.

Dalam pelaksanaannya, lomba Solo Dangdut Song dinilai oleh Ahmad Iqbal, S.S. sebagai Juri I dan M. Fahmi Alun Kresna Sanjaya sebagai Juri II. Penilaian dilakukan secara objektif dengan memperhatikan kualitas vokal, penguasaan lagu, ekspresi panggung, serta penampilan peserta.

Melalui penyelenggaraan Malahayati Yearfest Competition 2026, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan kreativitas, bakat, dan potensi generasi muda, sekaligus mempererat hubungan antara pendidikan menengah dan perguruan tinggi.

Lomba Solo Dangdut Song dalam Malahayati Yearfest Competition 2026 menunjukkan bahwa ruang ekspresi seni memiliki peran penting dalam pengembangan karakter generasi muda. Tidak hanya menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga membangun kepercayaan diri, keberanian, serta apresiasi terhadap budaya musik tanah air. Kegiatan semacam ini patut terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya perguruan tinggi dalam mendukung potensi nonakademik pelajar sekaligus mendekatkan dunia pendidikan tinggi kepada masyarakat luas.(fkr)

Editor : Fadly KR

Pengisian KRS Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Malahayati

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati mengumumkan pelaksanaan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 bagi seluruh mahasiswa dari semua fakultas dan program studi. Pengisian KRS online dimulai pada 2 Februari hingga 20 Februari 2026.

Pengisian KRS merupakan tahapan penting dalam proses perkuliahan. Oleh karena itu, diharapkan seluruh mahasiswa dapat mengisi KRS secara tepat waktu dan cermat agar tidak mengalami kendala dalam proses akademik di semester mendatang.

Informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan teknis pengisian KRS dapat diperoleh melalui masing-masing program studi atau laman resmi akademik Universitas Malahayati.

Pelajar Se-Lampung Unjuk Kemampuan Story Telling dan Speech di Malahayati Yearfest Competition 2026

Bandarlampung (malahayati.ac.id): Dalam rangka memeriahkan Dies Natalis ke-32, Universitas Malahayati menyelenggarakan Malahayati Yearfest Competition 2026 yang dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari 2026, di lingkungan Universitas Malahayati. Kegiatan ini diikuti oleh pelajar SMA/MA/SMK se-Provinsi Lampung dan menjadi ajang pengembangan kreativitas, bakat, serta potensi generasi muda.

Malahayati Yearfest Competition 2026 dirancang sebagai wadah kompetisi sekaligus sarana pengenalan lingkungan akademik Universitas Malahayati kepada masyarakat luas. Melalui kegiatan ini, para pelajar tidak hanya berkompetisi, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenal dunia perguruan tinggi serta berbagai program studi yang tersedia.

Pada pelaksanaannya, rangkaian kegiatan diisi dengan lomba Story Telling dan Speech yang berlangsung dengan antusias. Lomba Story Telling diikuti oleh 16 peserta, sementara lomba Speech diikuti oleh 18 peserta dari berbagai sekolah di Provinsi Lampung. Para peserta menampilkan kemampuan berbahasa, kepercayaan diri, serta keterampilan komunikasi di hadapan dewan juri.

Lomba Story Telling dinilai oleh Syafik Arisandi, S.S., M.Kes. sebagai Juri I dan Arif Setiajaya, S.T., M.Si. sebagai Juri II. Sementara itu, lomba Speech juga menghadirkan Hariyanto M.Pd sebagai Juri I dan Muhammad Irfan Pratama, S.E., M.M. sebagai Juri II. Penilaian dilakukan secara objektif dengan memperhatikan penguasaan materi, pelafalan, intonasi, ekspresi, serta kepercayaan diri peserta.

Selain perlombaan, Malahayati Yearfest Competition 2026 turut dimeriahkan dengan berbagai kegiatan pendukung, seperti bazar kuliner, pameran program studi, serta partisipasi UMKM. Rangkaian kegiatan ini menciptakan suasana festival edukatif yang terbuka dan inklusif bagi pelajar, civitas akademika, maupun masyarakat umum.

Melalui penyelenggaraan Malahayati Yearfest Competition 2026, Universitas Malahayati menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan soft skill generasi muda, khususnya dalam bidang komunikasi, kreativitas, dan keberanian tampil di ruang publik. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara pendidikan menengah dan perguruan tinggi, sekaligus menginspirasi pelajar untuk terus berprestasi dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.(fkr)

Editor: Fadly KR

Fakultas Hukum Meriahkan Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32 Melalui Bazar dan Layanan Konsultasi Hukum

Bandarlampung (malahayati.ac.id): Dalam rangka memeriahkan Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32, Fakultas Hukum turut berpartisipasi aktif dalam berbagai rangkaian kegiatan yang digelar di lingkungan Universitas Malahayati pada 19–23 Januari 2026. Salah satu bentuk partisipasi tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan bazar Fakultas Hukum yang berlokasi di area belakang pelataran parkir kampus.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari perayaan Dies Natalis Fakultas Hukum Universitas Malahayati yang ke-10. Bazar berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari civitas akademika, menciptakan suasana yang hangat, interaktif, serta menjadi daya tarik tersendiri dalam rangkaian perayaan Dies Natalis universitas.

Adapun rangkaian kegiatan Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32 meliputi Malahayati Yearfest Competition, Bazar Kuliner, Pameran Program Studi, serta UMKM yang melibatkan berbagai fakultas dan unit di lingkungan kampus.

Dalam pelaksanaannya, bazar Fakultas Hukum menghadirkan tiga stan mahasiswa dan satu stan Program Studi Ilmu Hukum. Sebanyak 15 kelompok mahasiswa dengan total 75 mahasiswa berpartisipasi aktif dengan menyajikan sekitar 30 produk inovatif berupa makanan dan minuman. Ragam kuliner tradisional hingga modern berhasil menarik minat para pengunjung selama kegiatan berlangsung.

Selain kegiatan kewirausahaan, Fakultas Hukum juga membuka satu stan Konsultasi Hukum Gratis yang dilaksanakan pada 22–24 Januari 2026. Layanan ini menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus implementasi keilmuan hukum yang dimiliki oleh sivitas akademika Fakultas Hukum.

Acara pembukaan bazar dihadiri oleh Ketua Program Studi Ilmu Hukum Dr. Rissa Afni Martinouva, S.H., jajaran dosen Fakultas Hukum, serta mahasiswa angkatan 2023 yang tengah menempuh mata kuliah kewirausahaan berbasis Outcome Based Education (OBE).

Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, S.H., M.H., dalam sambutannya menyampaikan dukungan dan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa bazar ini merupakan bentuk implementasi visi dan misi Fakultas Hukum di bidang Hukum Bisnis dan Kewirausahaan, sekaligus bagian dari pembelajaran berbasis OBE yang bertujuan membekali mahasiswa sebelum terjun ke dunia usaha berbasis keilmuan hukum bisnis.

Para pengunjung menyambut positif kegiatan ini dan berharap agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di tahun-tahun mendatang. Kegiatan bazar Fakultas Hukum ini juga mendapat tanggapan positif dari pimpinan Universitas Malahayati sebagai bagian dari penguatan kegiatan kemahasiswaan dan pengembangan soft skill mahasiswa.

Partisipasi Fakultas Hukum dalam rangkaian Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32 menunjukkan bahwa pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada praktik nyata yang relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui kegiatan bazar dan layanan konsultasi hukum gratis, mahasiswa tidak hanya dilatih untuk berwirausaha, tetapi juga diajak memahami peran hukum dalam dunia bisnis dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan semacam ini patut dipertahankan dan dikembangkan sebagai sarana pembentukan lulusan yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing.(fkr)

Editor : Fadly KR

REZEKI AYAM TIDAK AKAN DI SAMBAR ELANG

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Saat meluncurkan artikel yang terbit kebeberapa teman dekat; salah seorang diantaranya memberikan komen seperti judul di atas. Beliau adalah seorang Doktor yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Penulis berperan menjadi penguji utama saat beliau mengambil gelar tertinggi di dunia akademik, membaca pemikirannya, memang beliau  orang cerdas dan visioner. Komen beliau menjadi “bara api” untuk menulisnya dalam seting keseharian. Adapun tulisannya sebagai berikut:

Senja turun perlahan di halaman pesantren. Suara adzan magrib baru saja usai, menyisakan hening yang akrab. Seorang santri duduk bersila di serambi, wajahnya tampak gelisah. Kiai keluar membawa tasbih, lalu berhenti sejenak menghampiri santri, dan berucap  “Kenapa tampak berat pikiranmu, Nak?” tanya kiai lembut.

Santri itu menunduk. “Saya sering merasa tertinggal, Yai. Teman-teman saya banyak yang sudah pandai, sudah dikenal, bahkan ada yang sukses di luar. Saya di sini merasa biasa saja.” Kiai tersenyum tipis seraya bertanya. “Kau pernah lihat ayam di halaman pesantren?” Jawab santri “Sering, Yai.” Kiai  meneruskan, “Apakah ayam itu iri pada elang yang terbang tinggi?”

Santri terdiam, lalu menggeleng. “Ayam hanya sibuk mencari makan di tanah.” Jawabnya. “Nah,” kata kiai pelan, “rezeki ayam tidak akan disambar elang. Ayam punya jalannya sendiri. Elang pun demikian.” “Tapi bukankah elang lebih kuat?” sahut santri.

“Lebih kuat tidak selalu lebih tenang,” jawab kiai. “Elang harus terbang jauh, menantang angin, berburu dengan risiko. Ayam mungkin sederhana, tapi ia cukup dengan apa yang ada di sekitarnya.” Santri menghela napas. “Jadi saya tidak perlu menjadi seperti mereka?”. “Kau perlu menjadi dirimu sendiri,” ujar kiai. “Ilmu tidak diukur dari cepat atau lambat, tapi dari manfaat dan keberkahan. Jangan sibuk melihat piring orang lain sampai lupa nasi di hadapanmu.”

Angin berembus membawa aroma kayu bakar dari dapur. Santri mengangguk perlahan. “Teruslah belajar,” lanjut kiai, “berjalanlah sesuai langkahmu. Jika rezekimu ayam, ia akan datang. Tak perlu takut disambar, selama kau jujur dan sabar menjalaninya.”

Wajah santri tampak lebih tenang. Ia mencium tangan kiai, sementara langit pesantren perlahan berubah gelap, menyimpan pelajaran yang tak tertulis di kitab mana pun

Ungkapan “rezeki ayam tidak akan disambar elang” hidup lama dalam kebijaksanaan lisan masyarakat Nusantara. Ia menyiratkan keyakinan bahwa setiap makhluk memiliki bagian  rezekinya masing-masing, dan tidak semua yang terlihat kuat atau tinggi posisinya berhak mengambil apa yang bukan peruntukannya. Dalam konteks kontemporer, peribahasa ini tetap relevan, bahkan menemukan makna baru di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang bergerak cepat serta sering kali memicu kecemasan kolektif tentang persaingan, ketimpangan, dan rasa tidak aman akan masa depan.

Secara kontemporer, makna rezeki tidak lagi semata-mata soal materi. Rezeki juga hadir dalam bentuk kesehatan mental, relasi sosial yang sehat, kesempatan belajar, serta rasa aman. Banyak orang yang secara ekonomi tampak “elang” justru rapuh secara emosional, terjebak dalam tekanan performa dan validasi publik. Sebaliknya, mereka yang menjalani hidup sederhana, diibaratkan sebagai ayam, sering kali memiliki ketenangan, kejelasan tujuan, dan rasa cukup. Dalam hal ini, rezeki tidak disambar; ia dijalani dan diterima melalui ritme hidup yang selaras.

Ungkapan tersebut juga dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap ketamakan struktural. Dalam sistem ekonomi modern, sering kali yang besar semakin besar, sementara yang kecil terpinggirkan. Jika elang terus menyambar rezeki ayam, keseimbangan ekosistem sosial runtuh. Ketimpangan melebar, kepercayaan publik menurun, dan konflik horizontal mudah tersulut. Dari sudut pandang ini, peribahasa tersebut mengandung pesan etis: ada batas moral dalam mengejar keuntungan. Tidak semua peluang layak diambil, terutama jika merugikan yang lebih rentan.

Pada tingkat personal, ungkapan ini mengajak individu untuk tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang melelahkan. Algoritma digital sering menampilkan potongan kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih cepat, dan lebih gemilang. Tanpa kesadaran, seseorang bisa terdorong untuk merebut apa yang bukan kebutuhannya, mengorbankan nilai, atau melampaui batas dirinya sendiri. Keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar membantu menjaga fokus pada proses pribadi, bukan pada bayangan keberhasilan orang lain.

Selain itu, peribahasa ini juga mengandung dimensi spiritual yang tetap hidup dalam masyarakat modern, meski diekspresikan dengan bahasa yang lebih rasional. Ia menegaskan adanya keteraturan dalam kehidupan, bahwa usaha dan hasil tidak selalu linear tetapi tetap bermakna. Kepercayaan ini bukan ajakan untuk pasif, melainkan dorongan untuk berusaha tanpa panik dan tanpa merusak. Ayam tetap harus mencari makan, tetapi ia tidak perlu terbang setinggi elang untuk bertahan hidup.

Pada akhirnya, ungkapan ini mengajarkan kebijaksanaan tentang proporsi, batas, dan rasa cukup. Di tengah dunia yang mendorong ekspansi tanpa henti, ia mengingatkan nilai kesederhanaan dan keadilan. Rezeki bukan medan perburuan tanpa aturan, melainkan bagian dari tatanan hidup yang menuntut kesadaran etis. Selama ayam dan elang menjalani perannya masing-masing, keseimbangan dapat terjaga, dan kehidupan berlangsung dengan lebih manusiawi. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Lomba Puisi Warnai Dies Natalis ke-32 Malahayati Yearfest Competition 2026

Bandar Lampung — Dalam rangka memeriahkan Dies Natalis ke-32, Universitas Malahayati menggelar Malahayati Yearfest Competition 2026 yang resmi dibuka pada Senin, 20 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi ajang pengembangan kreativitas generasi muda sekaligus sarana pengenalan lingkungan akademik Universitas Malahayati kepada masyarakat luas.

Hari pertama Malahayati Yearfest Competition 2026 diisi dengan lomba baca puisi yang diikuti pelajar SMA/MA/SMK dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Lampung. Para peserta tampil membawakan karya sastra dengan penuh penghayatan, menunjukkan keberanian berekspresi serta kepekaan rasa melalui medium puisi.

Kompetisi lomba puisi ini dinilai oleh dua dewan juri berkompeten, yakni Dr. Rissa Afni Martinouva, S.H., M.H. sebagai Juri I dan Sutikno, S.Pd., M.Pd.I. sebagai Juri II. Penilaian dilakukan secara objektif dengan memperhatikan aspek penghayatan, artikulasi, intonasi, serta pemaknaan terhadap karya puisi yang dibawakan peserta.

Selain lomba puisi, suasana Malahayati Yearfest Competition 2026 semakin semarak dengan berbagai rangkaian kegiatan pendukung. Pengunjung dapat menikmati bazar kuliner, menelusuri pameran program studi, serta melihat langsung partisipasi UMKM yang turut meramaikan area kegiatan. Rangkaian ini dirancang untuk menciptakan atmosfer festival edukatif yang inklusif dan menarik bagi pelajar maupun masyarakat umum.

Melalui kegiatan ini, Universitas Malahayati berupaya mendorong pengembangan soft skill pelajar, seperti kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan daya pikir kritis. Lomba puisi tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembelajaran untuk menumbuhkan apresiasi terhadap seni sastra di kalangan generasi muda.

Penyelenggaraan Malahayati Yearfest Competition 2026 menjadi wujud nyata komitmen Universitas Malahayati dalam mendukung kemajuan pendidikan dan budaya di Provinsi Lampung. Diharapkan, kegiatan ini mampu mempererat hubungan antara dunia pendidikan menengah dan perguruan tinggi, sekaligus menginspirasi pelajar untuk terus berkarya dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.(fkr)

Editor : Fadly KR

Pak Ujang dan Warung Nasi

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Tepi jalan utama menuju pantai di kota ini, berdiri sebuah warung nasi yang sudah lama ada; bahkan dalam hitungan generasi warung itu sudah dikelola oleh generasi ketiga. Sedikit dialog antara pemilik dan pelanggan; seperti ini,
“Pak, masih buka?” suara seorang pelanggan terdengar di sela deru kendaraan yang melintas cepat, setelah waktu ashar berlalu. “Masih,” jawab Pak Ujang sambil menggeser kursi plastik. Beliau adalah generasi kedua dari warung ini yang sudah usia lanjut, namun masih gesit menunggui anak dan cucu mengelola warung nasi peninggalan mertuanya.

“Silakan duduk. Mau makan apa?” sergah Pak Ujang. “Yang sederhana saja, Pak. Nasi sama sayur. Kalau ada tempe, satu.” Jawab pelanggan. Pak Ujang mengangguk, menyendok nasi dengan tangan yang sedikit bergetar. “Di kota begini, yang sederhana malah sering paling dicari.” Celetukan Pak Ujang. Pelanggan itu tersenyum. “Iya, Pak. Dari tadi muter-muter, yang mahal semua. Di sini rasanya beda, lebih tenang.”
“Tenang itu bukan tempatnya,” kata Pak Ujang pelan. “Orangnya yang harus belajar pelan.” Ia meletakkan piring di meja. Asap nasi mengepul, bercampur bau knalpot. “Silakan. Dimakan selagi hangat.” Pelanggan itu menatap piringnya sesaat. “Pak, warung ini sudah lama ya?” “Lama,” jawab Pak Ujang. “Lebih lama dari gedung-gedung itu.” Ia menunjuk samar ke arah jalan. “Dulu jalannya belum seramai ini.”
“Bapak tiap hari di sini?”sambung pelanggan. “Hampir,” jawab Pak Ujang. “Kalau badan masih mau diajak bangun pagi.” Pelanggan itu ragu sejenak, lalu bertanya, “Pak, kalau ada orang nggak punya uang apakah masih dilayani?”. Pak Ujang tersenyum tipis. “Kalau lapar, ya makan. Urusan uang belakangan.” “Bapak nggak takut kekurangan?” sambung pelanggan penasaran. Pak Ujang menggeleng. “Takut itu kalau nggak bisa bantu apa-apa.

Pelanggan itu terdiam, lalu berkata lirih, “Sekarang jarang orang mikir begitu.” Pak Ujang menatap jalanan yang padat. “Kota ini bikin orang lupa. Tapi kalau semua lupa, warung begini buat apa ada?”. Pelanggan itu mengangguk pelan, melanjutkan makan, sementara Pak Ujang kembali ke dandang, menjaga nasi tetap hangat di tengah kota yang tak pernah benar-benar berhenti
Pak Ujang tidak banyak bicara. Sapanya singkat, geraknya hemat tenaga, seolah ia tahu tubuhnya tak lagi bisa diajak berkompromi. Usia dan sakit-sakitan membuat langkahnya melambat, tetapi kebiasaan lama menuntunnya tetap hadir. Warung nasi itu bukan sekadar tempat bekerja; ia adalah bagian dari hidup yang telah ia jalani puluhan tahun. Warung itu dulu milik mertuanya, kemudian menjadi penopang keluarga, dan kini telah melewati tiga generasi. Anak dan cucunya mengelola sebagian besar pekerjaan, namun kehadiran Pak Ujang tetap menjadi poros yang tak tergantikan.

Di kota yang serba cepat, warung itu bergerak dengan ritme sendiri. Pelanggan datang dari berbagai arah: pekerja harian, sopir, pedagang kecil, dan mereka yang tak lagi ditanya tujuannya. Percakapan singkat sering terjadi, seperti pagi itu, tentang perut yang lelah, tentang jalanan yang ribut sejak subuh. Pak Ujang mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Baginya, warung bukan hanya tempat makan, tetapi ruang kecil untuk saling mengakui keberadaan.
Satu prinsip yang tak pernah berubah sejak warung itu berdiri adalah memberi makan orang yang tidak mampu. Tidak ada papan pengumuman, tidak ada pernyataan resmi. Prinsip itu hidup dalam gerakan tangan yang tetap menyendok nasi meski dompet pelanggan tak dibuka. Di tengah kota yang mengukur segalanya dengan transaksi, tindakan ini tampak sederhana, bahkan naif. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Warung itu bertahan bukan karena strategi besar, melainkan karena keyakinan lama bahwa rezeki tidak selalu datang dari perhitungan, dan tidak akan tertukar.

Dalam konteks kontemporer, warung Pak Ujang mencerminkan wajah lain kota besar: ekonomi informal yang menopang banyak kehidupan tetapi jarang disorot. Ia menjadi jaring pengaman bagi keluarga besar yang hidup bersama anak, menantu, cucu; dalam satu atap dan satu usaha. Di sana, kerja bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga soal kesinambungan. Anak dan cucu belajar bukan dari buku manajemen, melainkan dari pagi yang panjang, dari pelanggan yang datang dan pergi, dan dari keputusan-keputusan kecil tentang memberi atau menahan.

Pak Ujang sendiri kini lebih sering duduk daripada berdiri. Penyakit membuatnya mudah lelah, dan sebagian pekerjaannya telah digantikan oleh anaknya. Termasuk perannya sebagai marbot masjid di dekat warung. Masjid itu dibangun bersama tetangga, dari gotong royong yang kini terasa semakin asing di tengah kota. Dulu, membersihkan masjid dan menyiapkan keperluan ibadah adalah bagian dari rutinitasnya, sama pentingnya dengan membuka warung.
Namun Pak Ujang tidak mengeluh. Ia memahami bahwa hidup adalah tentang bergeser, bukan berhenti. Seperti warung yang kini dikelola generasi berikutnya, perannya pun berubah. Ia menjadi penjaga nilai, bukan lagi penggerak utama. Dalam diam, ia memastikan bahwa prinsip memberi tetap hidup, bahwa warung tidak hanya mengejar untung, dan bahwa manusia tetap didahulukan dari angka.

Melankolia kisah ini lahir dari kesadaran akan waktu. Kota terus tumbuh, trotoar semakin sempit, dan kemungkinan penggusuran selalu membayangi warung pinggir jalan. Anak dan cucu Pak Ujang hidup di persimpangan antara mempertahankan warisan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Namun selama panci masih dipanaskan dan nasi masih dibagi, warung itu tetap menjadi ruang perlawanan kecil terhadap logika kota yang dingin.

Selamat perjuang Pak Ujang, pahlawan kemanusiaan yang tidak memerlukan penghargaan. Berjalan dengan keyakinan, hidup harus diselesaikan, bukan untuk dikeluhkan. Berbagi itu pasti, karena rejeki bukan urusan nanti, itu milih Illahi. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Universitas Malahayati Resmi Buka Malahayati Year Festival 2026, Ajang Prestasi dan Kreativitas Pelajar

Bandarlampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati resmi membuka Malahayati Year Festival (MYF) 2026 yang digelar pada 19–23 Januari 2026 di lingkungan kampus Universitas Malahayati. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32 sekaligus wujud komitmen kampus dalam mendukung pengembangan minat, bakat, dan prestasi pelajar SMA, SMK, dan MA se-Provinsi Lampung.

Acara pembukaan MYF 2026 diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Himne Universitas Malahayati, dilanjutkan dengan laporan Ketua Pelaksana Dies Natalis ke-32 serta sambutan pimpinan universitas. Pembukaan resmi MYF 2026 disampaikan melalui sambutan Rektor Universitas Malahayati yang diwakili oleh Wakil Rektor I, menandai dimulainya rangkaian kompetisi dan kegiatan kreatif selama lima hari ke depan.

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., Ketua PMB Romy J Utama, SE., M.Sos., Ketua Pelaksana Dies Natalis ke-32 Dr. M. Arifki Zainaro, S.Kep., Ns., M.Kep., Koordinator Malahayati Year Festival (MYF) Syafik Arisandi, S.S., M.Kes., Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan Muhammad Ricko Gunawan, S.Kep., M.Kes., Kepala Bagian Kemahasiswaan Rudi Winarno, Ns., M.Kes., Kepala Bagian Humas Emil Tanhar, S.Kom., para Dekan fakultas, Kaprodi, serta dosen, tenaga kependidikan, panitia, dan mahasiswa Universitas Malahayati. Turut hadir pula kepala sekolah dan guru pendamping, peserta lomba Malahayati Year Festival 2026, serta tamu undangan lainnya.

Malahayati Year Festival merupakan agenda tahunan yang menghadirkan beragam kegiatan akademik, seni, budaya, kreativitas, dan inovasi. Ajang ini dirancang sebagai ruang aktualisasi bagi pelajar untuk menampilkan potensi terbaiknya sekaligus memperkenalkan atmosfer akademik Universitas Malahayati kepada generasi muda.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., menyampaikan bahwa MYF 2026 menjadi sarana strategis untuk menumbuhkan semangat berprestasi sejak dini.

“Malahayati Year Festival 2026 merupakan bentuk komitmen Universitas Malahayati dalam mendukung pengembangan minat, bakat, dan prestasi generasi muda. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang yang positif, kompetitif, dan inspiratif bagi siswa SMA, SMK, dan MA di Provinsi Lampung,” ujarnya.

Sebagai bagian dari rangkaian pembukaan, panitia juga menghadirkan penampilan dari Juara 1 MYF tahun sebelumnya yang kini menjadi mahasiswa Universitas Malahayati. Penampilan tersebut menjadi bukti nyata bahwa MYF tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga membuka peluang pendidikan melalui program beasiswa bagi peserta berprestasi.

Ketua Pelaksana Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32, Dr. M. Arifki Zainaro, S.Kep., Ns., M.Kep., menegaskan bahwa MYF 2026 dirancang sebagai kegiatan yang berkelanjutan dan berdampak.

“Pelaksanaan Malahayati Year Festival 2026 yang berlangsung selama lima hari, mulai 19 hingga 23 Januari 2026, diharapkan menjadi ajang silaturahmi sekaligus wadah aktualisasi potensi siswa. Tidak hanya kompetisi, tetapi juga pembentukan karakter, kreativitas, dan semangat berprestasi,” ungkapnya.

Kesuksesan pelaksanaan Malahayati Year Festival (MYF) 2026 turut didukung oleh berbagai sponsor, di antaranya PT World Innovative Telecommunication (Oppo), Grab Bandar Lampung, PT Pegadaian Tanjung Karang, PT Persada Sarana Mobilindo (Chery), serta Andaru Event Organizer & Sound System. Selain itu, kegiatan ini juga mendapat dukungan publikasi dari sejumlah media partner, yakni Humas Malahayati, Radar Lampung, Tribun Lampung, Lampung Post, dan Infokyai.

Malahayati Year Festival 2026 bukan sekadar agenda tahunan, melainkan refleksi peran perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan inspiratif. Dengan mempertemukan dunia pendidikan menengah dan perguruan tinggi dalam satu panggung prestasi, MYF menjadi jembatan awal lahirnya generasi muda yang berdaya saing, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Universitas Malahayati, melalui MYF, menunjukkan bahwa kampus bukan hanya pusat akademik, tetapi juga ruang tumbuhnya mimpi dan potensi generasi penerus bangsa.(fkr)

Editor : Fadly KR