REZEKI AYAM TIDAK AKAN DI SAMBAR ELANG

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Saat meluncurkan artikel yang terbit kebeberapa teman dekat; salah seorang diantaranya memberikan komen seperti judul di atas. Beliau adalah seorang Doktor yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Penulis berperan menjadi penguji utama saat beliau mengambil gelar tertinggi di dunia akademik, membaca pemikirannya, memang beliau  orang cerdas dan visioner. Komen beliau menjadi “bara api” untuk menulisnya dalam seting keseharian. Adapun tulisannya sebagai berikut:

Senja turun perlahan di halaman pesantren. Suara adzan magrib baru saja usai, menyisakan hening yang akrab. Seorang santri duduk bersila di serambi, wajahnya tampak gelisah. Kiai keluar membawa tasbih, lalu berhenti sejenak menghampiri santri, dan berucap  “Kenapa tampak berat pikiranmu, Nak?” tanya kiai lembut.

Santri itu menunduk. “Saya sering merasa tertinggal, Yai. Teman-teman saya banyak yang sudah pandai, sudah dikenal, bahkan ada yang sukses di luar. Saya di sini merasa biasa saja.” Kiai tersenyum tipis seraya bertanya. “Kau pernah lihat ayam di halaman pesantren?” Jawab santri “Sering, Yai.” Kiai  meneruskan, “Apakah ayam itu iri pada elang yang terbang tinggi?”

Santri terdiam, lalu menggeleng. “Ayam hanya sibuk mencari makan di tanah.” Jawabnya. “Nah,” kata kiai pelan, “rezeki ayam tidak akan disambar elang. Ayam punya jalannya sendiri. Elang pun demikian.” “Tapi bukankah elang lebih kuat?” sahut santri.

“Lebih kuat tidak selalu lebih tenang,” jawab kiai. “Elang harus terbang jauh, menantang angin, berburu dengan risiko. Ayam mungkin sederhana, tapi ia cukup dengan apa yang ada di sekitarnya.” Santri menghela napas. “Jadi saya tidak perlu menjadi seperti mereka?”. “Kau perlu menjadi dirimu sendiri,” ujar kiai. “Ilmu tidak diukur dari cepat atau lambat, tapi dari manfaat dan keberkahan. Jangan sibuk melihat piring orang lain sampai lupa nasi di hadapanmu.”

Angin berembus membawa aroma kayu bakar dari dapur. Santri mengangguk perlahan. “Teruslah belajar,” lanjut kiai, “berjalanlah sesuai langkahmu. Jika rezekimu ayam, ia akan datang. Tak perlu takut disambar, selama kau jujur dan sabar menjalaninya.”

Wajah santri tampak lebih tenang. Ia mencium tangan kiai, sementara langit pesantren perlahan berubah gelap, menyimpan pelajaran yang tak tertulis di kitab mana pun

Ungkapan “rezeki ayam tidak akan disambar elang” hidup lama dalam kebijaksanaan lisan masyarakat Nusantara. Ia menyiratkan keyakinan bahwa setiap makhluk memiliki bagian  rezekinya masing-masing, dan tidak semua yang terlihat kuat atau tinggi posisinya berhak mengambil apa yang bukan peruntukannya. Dalam konteks kontemporer, peribahasa ini tetap relevan, bahkan menemukan makna baru di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang bergerak cepat serta sering kali memicu kecemasan kolektif tentang persaingan, ketimpangan, dan rasa tidak aman akan masa depan.

Secara kontemporer, makna rezeki tidak lagi semata-mata soal materi. Rezeki juga hadir dalam bentuk kesehatan mental, relasi sosial yang sehat, kesempatan belajar, serta rasa aman. Banyak orang yang secara ekonomi tampak “elang” justru rapuh secara emosional, terjebak dalam tekanan performa dan validasi publik. Sebaliknya, mereka yang menjalani hidup sederhana, diibaratkan sebagai ayam, sering kali memiliki ketenangan, kejelasan tujuan, dan rasa cukup. Dalam hal ini, rezeki tidak disambar; ia dijalani dan diterima melalui ritme hidup yang selaras.

Ungkapan tersebut juga dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap ketamakan struktural. Dalam sistem ekonomi modern, sering kali yang besar semakin besar, sementara yang kecil terpinggirkan. Jika elang terus menyambar rezeki ayam, keseimbangan ekosistem sosial runtuh. Ketimpangan melebar, kepercayaan publik menurun, dan konflik horizontal mudah tersulut. Dari sudut pandang ini, peribahasa tersebut mengandung pesan etis: ada batas moral dalam mengejar keuntungan. Tidak semua peluang layak diambil, terutama jika merugikan yang lebih rentan.

Pada tingkat personal, ungkapan ini mengajak individu untuk tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang melelahkan. Algoritma digital sering menampilkan potongan kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih cepat, dan lebih gemilang. Tanpa kesadaran, seseorang bisa terdorong untuk merebut apa yang bukan kebutuhannya, mengorbankan nilai, atau melampaui batas dirinya sendiri. Keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar membantu menjaga fokus pada proses pribadi, bukan pada bayangan keberhasilan orang lain.

Selain itu, peribahasa ini juga mengandung dimensi spiritual yang tetap hidup dalam masyarakat modern, meski diekspresikan dengan bahasa yang lebih rasional. Ia menegaskan adanya keteraturan dalam kehidupan, bahwa usaha dan hasil tidak selalu linear tetapi tetap bermakna. Kepercayaan ini bukan ajakan untuk pasif, melainkan dorongan untuk berusaha tanpa panik dan tanpa merusak. Ayam tetap harus mencari makan, tetapi ia tidak perlu terbang setinggi elang untuk bertahan hidup.

Pada akhirnya, ungkapan ini mengajarkan kebijaksanaan tentang proporsi, batas, dan rasa cukup. Di tengah dunia yang mendorong ekspansi tanpa henti, ia mengingatkan nilai kesederhanaan dan keadilan. Rezeki bukan medan perburuan tanpa aturan, melainkan bagian dari tatanan hidup yang menuntut kesadaran etis. Selama ayam dan elang menjalani perannya masing-masing, keseimbangan dapat terjaga, dan kehidupan berlangsung dengan lebih manusiawi. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Pak Ujang dan Warung Nasi

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Tepi jalan utama menuju pantai di kota ini, berdiri sebuah warung nasi yang sudah lama ada; bahkan dalam hitungan generasi warung itu sudah dikelola oleh generasi ketiga. Sedikit dialog antara pemilik dan pelanggan; seperti ini,
“Pak, masih buka?” suara seorang pelanggan terdengar di sela deru kendaraan yang melintas cepat, setelah waktu ashar berlalu. “Masih,” jawab Pak Ujang sambil menggeser kursi plastik. Beliau adalah generasi kedua dari warung ini yang sudah usia lanjut, namun masih gesit menunggui anak dan cucu mengelola warung nasi peninggalan mertuanya.

“Silakan duduk. Mau makan apa?” sergah Pak Ujang. “Yang sederhana saja, Pak. Nasi sama sayur. Kalau ada tempe, satu.” Jawab pelanggan. Pak Ujang mengangguk, menyendok nasi dengan tangan yang sedikit bergetar. “Di kota begini, yang sederhana malah sering paling dicari.” Celetukan Pak Ujang. Pelanggan itu tersenyum. “Iya, Pak. Dari tadi muter-muter, yang mahal semua. Di sini rasanya beda, lebih tenang.”
“Tenang itu bukan tempatnya,” kata Pak Ujang pelan. “Orangnya yang harus belajar pelan.” Ia meletakkan piring di meja. Asap nasi mengepul, bercampur bau knalpot. “Silakan. Dimakan selagi hangat.” Pelanggan itu menatap piringnya sesaat. “Pak, warung ini sudah lama ya?” “Lama,” jawab Pak Ujang. “Lebih lama dari gedung-gedung itu.” Ia menunjuk samar ke arah jalan. “Dulu jalannya belum seramai ini.”
“Bapak tiap hari di sini?”sambung pelanggan. “Hampir,” jawab Pak Ujang. “Kalau badan masih mau diajak bangun pagi.” Pelanggan itu ragu sejenak, lalu bertanya, “Pak, kalau ada orang nggak punya uang apakah masih dilayani?”. Pak Ujang tersenyum tipis. “Kalau lapar, ya makan. Urusan uang belakangan.” “Bapak nggak takut kekurangan?” sambung pelanggan penasaran. Pak Ujang menggeleng. “Takut itu kalau nggak bisa bantu apa-apa.

Pelanggan itu terdiam, lalu berkata lirih, “Sekarang jarang orang mikir begitu.” Pak Ujang menatap jalanan yang padat. “Kota ini bikin orang lupa. Tapi kalau semua lupa, warung begini buat apa ada?”. Pelanggan itu mengangguk pelan, melanjutkan makan, sementara Pak Ujang kembali ke dandang, menjaga nasi tetap hangat di tengah kota yang tak pernah benar-benar berhenti
Pak Ujang tidak banyak bicara. Sapanya singkat, geraknya hemat tenaga, seolah ia tahu tubuhnya tak lagi bisa diajak berkompromi. Usia dan sakit-sakitan membuat langkahnya melambat, tetapi kebiasaan lama menuntunnya tetap hadir. Warung nasi itu bukan sekadar tempat bekerja; ia adalah bagian dari hidup yang telah ia jalani puluhan tahun. Warung itu dulu milik mertuanya, kemudian menjadi penopang keluarga, dan kini telah melewati tiga generasi. Anak dan cucunya mengelola sebagian besar pekerjaan, namun kehadiran Pak Ujang tetap menjadi poros yang tak tergantikan.

Di kota yang serba cepat, warung itu bergerak dengan ritme sendiri. Pelanggan datang dari berbagai arah: pekerja harian, sopir, pedagang kecil, dan mereka yang tak lagi ditanya tujuannya. Percakapan singkat sering terjadi, seperti pagi itu, tentang perut yang lelah, tentang jalanan yang ribut sejak subuh. Pak Ujang mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Baginya, warung bukan hanya tempat makan, tetapi ruang kecil untuk saling mengakui keberadaan.
Satu prinsip yang tak pernah berubah sejak warung itu berdiri adalah memberi makan orang yang tidak mampu. Tidak ada papan pengumuman, tidak ada pernyataan resmi. Prinsip itu hidup dalam gerakan tangan yang tetap menyendok nasi meski dompet pelanggan tak dibuka. Di tengah kota yang mengukur segalanya dengan transaksi, tindakan ini tampak sederhana, bahkan naif. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Warung itu bertahan bukan karena strategi besar, melainkan karena keyakinan lama bahwa rezeki tidak selalu datang dari perhitungan, dan tidak akan tertukar.

Dalam konteks kontemporer, warung Pak Ujang mencerminkan wajah lain kota besar: ekonomi informal yang menopang banyak kehidupan tetapi jarang disorot. Ia menjadi jaring pengaman bagi keluarga besar yang hidup bersama anak, menantu, cucu; dalam satu atap dan satu usaha. Di sana, kerja bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga soal kesinambungan. Anak dan cucu belajar bukan dari buku manajemen, melainkan dari pagi yang panjang, dari pelanggan yang datang dan pergi, dan dari keputusan-keputusan kecil tentang memberi atau menahan.

Pak Ujang sendiri kini lebih sering duduk daripada berdiri. Penyakit membuatnya mudah lelah, dan sebagian pekerjaannya telah digantikan oleh anaknya. Termasuk perannya sebagai marbot masjid di dekat warung. Masjid itu dibangun bersama tetangga, dari gotong royong yang kini terasa semakin asing di tengah kota. Dulu, membersihkan masjid dan menyiapkan keperluan ibadah adalah bagian dari rutinitasnya, sama pentingnya dengan membuka warung.
Namun Pak Ujang tidak mengeluh. Ia memahami bahwa hidup adalah tentang bergeser, bukan berhenti. Seperti warung yang kini dikelola generasi berikutnya, perannya pun berubah. Ia menjadi penjaga nilai, bukan lagi penggerak utama. Dalam diam, ia memastikan bahwa prinsip memberi tetap hidup, bahwa warung tidak hanya mengejar untung, dan bahwa manusia tetap didahulukan dari angka.

Melankolia kisah ini lahir dari kesadaran akan waktu. Kota terus tumbuh, trotoar semakin sempit, dan kemungkinan penggusuran selalu membayangi warung pinggir jalan. Anak dan cucu Pak Ujang hidup di persimpangan antara mempertahankan warisan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Namun selama panci masih dipanaskan dan nasi masih dibagi, warung itu tetap menjadi ruang perlawanan kecil terhadap logika kota yang dingin.

Selamat perjuang Pak Ujang, pahlawan kemanusiaan yang tidak memerlukan penghargaan. Berjalan dengan keyakinan, hidup harus diselesaikan, bukan untuk dikeluhkan. Berbagi itu pasti, karena rejeki bukan urusan nanti, itu milih Illahi. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Garis Finis di Lorong Waktu

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Tulisan ini terinspirasi dari membaca banyak sumber tentang kematian dalam konsep filsafat manusia; dan oleh karena itu deskrepsi analisisnya lebih pada dialog batin. Untuk itu dalam membaca adegan dan analisis tulisan ini, mari memposisikan diri sebagai pembaca instrospektif yang naratif. Jika ada kebenaran di sana, sejatinya itu milik Sang Maha Pencipta, dan jika ada kehilafan di sana itu milik penulis, maka ampunkan atasnya. Mari kita mulai dialog imajinatif itu:

Roh bertanya pada Badan: “Badan, kamu gemetar.”

“Aku lelah,” jawab Badan. “Setiap sendi terasa berat. Napas tidak lagi patuh.”

“Itu tanda waktunya dekat,” kata Roh pelan.

“Jadi aku akan berhenti?” sergah Badan.

“Iya” Jawab Roh. “Kamu sudah bekerja cukup lama.”

Badan terdiam. “Aku menahan banyak hal,” katanya kemudian. “Sakit, tuntutan, dan keinginan orang lain. Aku bertahan supaya tetap kuat di mata mereka.”

“Dan aku ikut menyesuaikan,” sahut Roh. “Aku belajar diam agar kita tetap diterima.”

“Apakah itu salah?” Jawab Badan. Roh menjawab, “Tidak. Tapi itu melelahkan.”

Badan menarik napas pendek. “Aku berharap mereka yang dekat akan tinggal sampai akhir.”

“Sebagian tinggal,” kata Roh, “sebagian hanya dekat dalam jarak, bukan dalam penerimaan.”

“Aku takut dilepas,” bisik Badan.

“Kamu tidak dilepas,” jawab Roh lembut. “Kamu diselesaikan.”

“Apa yang akan kamu bawa nanti?” kata Badan kepada Roh.

“Aku membawa semua yang jujur,” kata Roh. “Yang pura-pura akan tertinggal di sini, bersamamu.”

Badan terasa lebih ringan. “Jadi aku boleh berhenti berusaha?”

“Iya,” kata Roh. “Tidak perlu lagi kuat. Tidak perlu lagi cukup bagi semua orang.”

Hening sejenak.

“Kalau aku diam selamanya,” tanya Badan, “kamu baik-baik saja?”

Roh menjawab sambil tersenyum. “Aku justru baru mulai berjalan.”

Badan menghembuskan napas terakhir.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita sampai di garis finis bersama.”

Dialog itu adalah gema terakhir sebelum langkah memasuki lorong yang sesungguhnya. Setelah percakapan dengan malaikat pencabut nyawa berakhir, tidak ada lagi tanya-jawab, tidak ada lagi tawar-menawar batin. Yang tersisa hanyalah kesadaran penuh bahwa manusia itu telah sampai pada garis finis di lorong kematian, sebuah ruang batin di mana hidup tidak lagi dinilai dari lamanya waktu, melainkan dari kejujuran yang akhirnya muncul.

Percakapan singkat tersebut menyingkap sesuatu yang selama hidup kerap disembunyikan: bahwa di ujung perjalanan, manusia tidak berhadapan dengan penilaian orang lain, melainkan dengan dirinya sendiri. Malaikat tidak menanyakan pencapaian, tidak menyebut nama orang-orang terdekat, dan tidak mengungkit siapa yang setia atau yang menjauh. Ia hanya berbicara tentang pelepasan. Sebab lorong kematian bukan tempat pembelaan, melainkan tempat berhenti membawa beban.

Dalam bayangan banyak orang, garis finis kematian seharusnya dipenuhi wajah-wajah akrab, tangan-tangan yang menggenggam erat, dan kalimat perpisahan yang hangat. Namun pengalaman batin manusia modern sering berbeda. Di lorong itu justru muncul kesadaran yang sunyi: bahwa kedekatan yang selama ini diyakini tidak selalu berarti kehangatan. Banyak relasi dibangun dari kebiasaan, kewajiban, dan peran, bukan dari penerimaan yang utuh. Maka ketika tubuh melemah dan perannya runtuh, maka yang tersisa hanyalah rasa; diterima atau tidak, jujur atau pura-pura.

Lorong kematian bekerja seperti cermin panjang. Setiap langkah memantulkan ulang keputusan-keputusan kecil yang diambil selama hidup: kapan memilih diam agar tidak ditolak, kapan mengalah agar tetap dianggap baik, kapan menekan diri demi menjaga kedekatan. Semua itu mungkin terlihat wajar ketika hidup masih panjang. Namun di dekat garis finis, pilihan-pilihan itu menampakkan konsekuensinya. Bukan dalam bentuk hukuman, melainkan kelelahan batin yang mendalam.

Dialog dengan malaikat menegaskan bahwa kelelahan itu bukan kegagalan. “Kamu hidup,” katanya, “itu bukan kegagalan.” Kalimat ini terasa sederhana, tetapi dalam konteks lorong kematian, ia menjadi penawar. Hidup tidak diukur dari seberapa disukai seseorang oleh yang terdekat, melainkan dari keberanian untuk hadir sebagai diri sendiri. Sayangnya, keberanian ini sering datang terlambat, ketika tubuh tak lagi memberi kesempatan untuk memperbaiki relasi atau mengulang kejujuran.

Dalam kehidupan kontemporer, relasi kerap dipoles dengan keharmonisan semu. Konflik dihindari, perbedaan disamarkan, dan kejujuran ditunda demi menjaga stabilitas. Kedekatan menjadi sesuatu yang fungsional, bukan emosional. Kita dekat karena tinggal bersama, bekerja bersama, atau terikat struktur sosial yang sama. Namun kedekatan semacam ini rapuh. Ia bertahan lama, tetapi sering meninggalkan kehampaan yang baru terasa ketika segalanya harus dilepas.

Lorong kematian mengajarkan bahwa tidak semua relasi perlu dibawa sampai garis finis. Malaikat berkata, “Kamu tidak akan membawa siapa pun.” Kalimat ini bukan ancaman, melainkan pembebasan. Manusia tidak dituntut untuk menuntaskan semua harapan orang lain sebelum pergi. Ia hanya diminta untuk membawa dirinya sendiri, tanpa peran dan tanpa topeng. Di titik ini, rasa bersalah karena tidak cukup bagi semua orang perlahan kehilangan maknanya.

Garis finis di lorong waktu adalah juga lorong kematian, dengan demikian, bukan sekadar akhir biologis, melainkan puncak refleksi eksistensial. Ia memaksa manusia mengakui bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya tentang orang lain. Relasi penting, kedekatan bermakna, tetapi semuanya menjadi rapuh ketika tidak dibangun di atas kejujuran terhadap diri sendiri. Di ujung lorong, keheningan bukan selalu kesepian; sering kali ia adalah kelegaan karena tidak lagi harus berpura-pura.

Ketika malaikat akhirnya berkata, “Ayo, garis finis sudah di depanmu,” itu bukan ajakan menuju kegelapan, melainkan undangan menuju kejujuran terakhir. Kematian, dalam kerangka ini, bukan musuh yang harus ditakuti, tetapi cermin yang terlambat kita lihat. Ia memantulkan bagaimana kita mencintai, bagaimana kita mendekat, dan bagaimana kita perlahan menjauh dari diri sendiri demi diterima.

Garis finis itu harus dilewati sendirian, maka semoga kesendirian itu bukan dipenuhi penyesalan karena terlalu lama hidup dalam kepura-puraan. Semoga ia diisi oleh ketenangan sederhana: bahwa pada akhirnya, manusia itu berhenti berlari, berhenti menyesuaikan diri, dan tiba sebagai dirinya sendiri; utuh, jujur, dan tanpa perlu lagi disukai. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

BERDAMAI DENGAN SUNYI

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

(Sebuah Ruang Pulang)

Lampu ruang tamu menyala redup. Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, seolah menegaskan jarak antara detik dan perasaan. Seorang bapak yang tidak lagi muda duduk di ujung Sofa, menatap ponsel yang layarnya gelap. Di seberangnya, seorang sahabat lama, laki-laki yang juga tidak muda lagi, datang berkunjung, menyeduh teh sendiri tanpa banyak bicara.

“Kau sendirian lagi malam ini?” tanya sang sahabat akhirnya, memecah keheningan. Ia mengangguk pelan. “Seperti biasa. Sudah terbiasa.” Sahabat tadi menyelah: “Terbiasa atau terpaksa?” suara itu hati-hati, yang berupaya untuk tidak ingin melukai.

Ia tersenyum, tapi senyum itu singkat dan rapuh. “Awalnya terasa berat. Sekarang rasanya… datar. Seperti ada bagian diriku yang mati rasa.” Sahabatnya menatap lebih dalam. “Kau tidak marah?”. “Dulu iya,” jawabnya lirih. “Marah, kecewa, bertanya-tanya apa yang kurang dariku. Tapi semakin sering sendiri, marah itu habis sendiri.”

Hening kembali mengisi ruangan. Di luar, suara kendaraan sesekali melintas, lalu hilang.

“Apa yang tersisa sekarang?” tanya sahabatnya. “Sunyi,” jawabnya jujur. “Sunyi yang awalnya menyakitkan, tapi lama-lama seperti teman. Ia tidak menjawab apa-apa, tapi menemaniku berpikir.”. Sahabatnya menyergah lagi; “Dan perasaanmu padanya?”. Ia menarik napas panjang. “Masih ada. Tapi kini lebih tenang. Aku belajar mencintai tanpa harus selalu ditemani.”

Sahabatnya mengangguk pelan. “Mungkin itu caramu bertahan.” Ia menatap jendela, gelap memantul di matanya. “Mungkin. Atau mungkin aku sedang belajar berdamai dengan kehilangan yang terus berulang.”

Jam dinding terus berdetak. Di rumah itu, sunyi tidak lagi berteriak, hanya duduk diam, menyaksikan seseorang yang perlahan memahami lukanya sendiri.

Sunyi sering disalahpahami sebagai kekosongan yang menakutkan. Ia dianggap hampa, dingin, dan memanggil kesepian yang menggerogoti. Padahal, sunyi adalah ruang yang jujur, tempat suara dunia mereda dan gema batin terdengar paling jelas. Dalam sunyi, manusia tidak lagi bersembunyi di balik hiruk-pikuk, tidak berlindung pada kebisingan yang memberi ilusi kebermaknaan. Sunyi membuka pintu ke sebuah perjumpaan yang paling sulit sekaligus paling perlu: perjumpaan dengan diri sendiri.

Dunia modern memuja kecepatan dan kebisingan. Kalender penuh, layar menyala tanpa jeda, notifikasi berdenting seolah menjadi denyut nadi kehidupan. Di tengah itu, sunyi terasa seperti gangguan yang harus dihindari. Namun semakin  dihindari, semakin terasa haus yang tak terpuaskan. Ada kelelahan yang tak bisa disembuhkan oleh keramaian. Ada luka yang tak bisa ditutup oleh tawa. Pada titik itulah sunyi menawarkan sesuatu yang berbeda: kesempatan untuk berhenti, bernapas, dan mendengar.

Sunyi bukan lawan dari kebahagiaan. Ia adalah tanah tempat kebahagiaan yang lebih jujur bertumbuh. Dalam sunyi, pikiran yang berlarian mulai berjalan pelan. Emosi yang selama ini ditahan menemukan bahasa. Ketika tidak ada yang harus dipamerkan, tidak ada yang perlu dibuktikan, seseorang dapat mengakui ketakutan tanpa malu dan menerima keterbatasan tanpa menghakimi. Sunyi mengajarkan keberanian untuk tinggal, bukan lari.

Ada paradoks yang indah di sana. Sunyi memang menyingkapkan rasa sepi, tetapi sekaligus menumbuhkan rasa cukup. Ketika tidak ada suara dari luar yang memandu, intuisi mengambil alih. Hati belajar menjadi kompas. Dalam kesendirian yang dipeluk dengan sadar, muncul kejernihan: apa yang benar-benar penting dan apa yang sekadar bising. Nilai tidak lagi ditentukan oleh sorak, melainkan oleh ketenangan yang bertahan setelah sorak mereda.

Berdamai dengan sunyi bukan berarti menolak dunia. Ia justru memperkaya cara berhubungan dengan dunia. Orang yang akrab dengan sunyi tidak lagi menggantungkan makna hidup pada validasi. Ia hadir dalam keramaian tanpa larut, berelasi tanpa kehilangan diri. Ada keteguhan yang lahir dari kebiasaan mendengar diri sendiri. Dari sana, empati tumbuh lebih tulus, karena memahami diri membuat seseorang lebih peka memahami yang lain.

Sunyi juga menyimpan kekuatan penyembuhan. Ia memberi waktu bagi luka untuk bernapas. Dalam keheningan, ingatan yang terpecah bisa disusun ulang, makna yang retak bisa dijahit kembali. Proses ini tidak selalu nyaman. Terkadang sunyi menghadirkan air mata, penyesalan, atau pertanyaan yang lama dihindari. Namun justru melalui ketidaknyamanan itu, penyembuhan bekerja. Sunyi tidak memaksa jawaban cepat; ia memberi ruang agar jawaban matang.

Di dalam sunyi, kreativitas menemukan rumah. Tanpa tuntutan dan gangguan, imajinasi bergerak bebas. Gagasan lahir bukan sebagai reaksi, melainkan sebagai ekspresi. Ada kebijaksanaan yang tumbuh dari memperlambat ritme. Ketika waktu tidak dikejar, ia menjadi sahabat. Setiap detik memiliki bobot, setiap napas memiliki makna. Sunyi mengajarkan bahwa produktivitas bukan soal banyaknya hasil, melainkan kedalaman proses.

Berdamai dengan sunyi adalah latihan yang berulang. Ia tidak datang sebagai keadaan permanen, melainkan sebagai sikap batin. Ada hari-hari ketika sunyi terasa hangat, ada pula saat ia terasa tajam. Keduanya sama-sama guru. Dengan menerima perubahan itu, seseorang belajar lentur. Tidak lagi menuntut hidup selalu nyaman, tetapi percaya bahwa setiap keadaan membawa pelajaran.

Pada akhirnya, jiwa yang berdamai dengan sunyi menemukan rumah di dalam dirinya sendiri. Rumah yang tidak bergantung pada cuaca dunia. Dari rumah itu, seseorang melangkah dengan lebih ringan. Ia tahu ke mana harus kembali ketika lelah. Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan cukup mendengar. Sunyi tidak lagi menakutkan; ia menjadi sahabat yang setia.

Di tengah dunia yang terus berisik, memilih sunyi adalah tindakan berani. Ia adalah pernyataan bahwa kedalaman lebih penting daripada gemerlap, bahwa keutuhan lebih berharga daripada pengakuan. Sunyi tidak menghilangkan manusia dari kehidupan; ia menempatkan manusia kembali pada inti kehidupan. Dan di sana, dalam keheningan yang jujur, jiwa menemukan damai yang tidak bergantung pada apa pun selain keberanian untuk hadir sepenuhnya. Berkontemplasi adalah mempersiapkan diri untuk menuju perjalanan abadi. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

KADO UNTUKMU MALAHAYATI-KU “Dedikasi dan Keikhlasan”

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Universitas Malahayati akan merayakan Dies Natalis ke-32, sebuah tonggak penting dalam perjalanan panjang institusi pendidikan tinggi yang telah menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa untuk belajar, berinovasi, dan berkembang. Pada momen istimewa ini, jargon “Dedikasi dan Keikhlasan” diangkat sebagai refleksi mendalam tentang bagaimana manusia modern dapat menyeimbangkan antara produktivitas profesional, kepuasan pribadi, dan kontribusi bagi masyarakat. Jargon ini bukan sekadar slogan, tetapi filosofi yang relevan bagi mahasiswa, dosen, alumni, dan seluruh civitas akademika, sekaligus pesan inspiratif bagi masyarakat luas.

Di era globalisasi dan digitalisasi yang serba cepat, bekerja tidak lagi hanya sekadar aktivitas mencari nafkah. Pekerjaan kini menjadi bagian dari identitas diri, sarana aktualisasi potensi, dan medium untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Bekerja dengan dedikasi berarti menempatkan integritas, empati, dan kepedulian sebagai fondasi dalam setiap langkah profesional. Individu yang bekerja dengan dedikasi tidak hanya fokus pada target semata, tetapi juga pada manfaat yang dihasilkan; baik bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Bekerja dengan dedikasi berarti bekerja dengan hati, artinya setiap tugas yang dilakukan memiliki makna yang lebih dalam, tidak sekadar rutinitas semata.

Dalam konteks kontemporer, bekerja dengan hati juga berarti mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan sentuhan humanis. Misalnya, di dunia pendidikan, seorang dosen tidak hanya menyampaikan materi melalui kuliah daring atau modul digital, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang membentuk karakter, empati, dan keterampilan kritis mahasiswa. Di dunia industri, profesional memanfaatkan data, algoritma, dan teknologi artificial intelligence untuk meningkatkan efisiensi kerja, namun tetap memprioritaskan kolaborasi dan komunikasi yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, bekerja dengan hati bukan berarti menolak modernisasi, melainkan mengintegrasikannya dengan kesadaran etis dan sosial.

Dalam konteks Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati, jargon ini memiliki resonansi yang sangat kuat. Universitas bukan hanya tempat menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga menanamkan nilai integritas, empati, dan inovasi. Selama lebih dari tiga dekade, Malahayati telah membuktikan bahwa pendidikan yang menekankan kerja dengan hati akan menghasilkan alumni yang tidak hanya sukses profesional, tetapi juga memiliki kesadaran sosial tinggi. Alumni yang bekerja dengan hati mampu membangun karier yang bermakna sekaligus meraih penghasilan sepenuh hati, yaitu harmoni antara kepuasan personal, keberlanjutan profesional, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dedikasi dan keikhlasan juga menuntut kedisiplinan, keberanian mengambil risiko, dan kreativitas. Dunia kerja modern semakin kompleks: otomatisasi, persaingan global, dan ekspektasi masyarakat menuntut kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Dengan hati, individu mampu menjaga kompas moral dan motivasi intrinsik. Dengan keikhlasan, individu merasa dihargai dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Keduanya membentuk siklus produktivitas yang sehat dan berkelanjutan, yang tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga organisasi dan masyarakat luas.

Lebih jauh lagi, filosofi dedikasi dan keikhlasan mengajarkan kita tentang kepuasan sejati. Banyak orang mengira bahwa kesuksesan diukur dari jumlah materi atau status sosial semata. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa individu yang bekerja dengan hati merasa lebih bahagia, lebih bermakna, dan lebih puas dalam hidupnya, meskipun penghasilannya mungkin tidak selalu besar. Sebaliknya, individu yang hanya mengejar uang tanpa hati seringkali menghadapi stres, kebosanan, dan kehilangan arah. Filosofi ini mengingatkan bahwa keseimbangan antara nilai moral, kepuasan personal, dan imbalan yang berkah adalah kunci hidup modern yang harmonis.

Akhirnya, “Dedikasi dan Keikhlasan” bukan hanya aspirasi profesional, tetapi filosofi hidup kontemporer yang relevan bagi siapa saja. Dalam menghadapi kompleksitas dunia modern, kesuksesan sejati lahir dari keseimbangan antara kontribusi bermakna, kepuasan pribadi, dan penghargaan yang adil. Universitas Malahayati, melalui perjalanan 32 tahun, telah menunjukkan bahwa integrasi antara dedikasi dan keihlasan memungkinkan lahirnya generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi masa depan bangsa.

Dengan bekerja ikhlas, setiap individu menemukan makna dalam beraktivitas sehari-hari. Dengan dedikasi, setiap individu merasakan nilai dari usahanya. Ketika keduanya bersatu, terciptalah kehidupan profesional yang seimbang, harmonis, dan penuh makna; suatu pencapaian yang layak dirayakan di momen istimewa Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati. Jargon ini relevan bagi civitas akademika, yang menghadapi tantangan modernisasi, digitalisasi, dan kompleksitas kehidupan profesional.

Universitas Malahayati telah menunjukkan bahwa pendidikan yang menekankan kerja dengan hati bukan hanya menghasilkan lulusan cerdas, tetapi juga manusia utuh yang siap menghadapi dunia dengan integritas, inovasi, dan empati.

SELAMAT ……DIES NATALIS KE 32…..MAJU..DAN..JAYA..MALAHAYATI-KU. Salam Waras (SJ)

 Editor : Fadly KR

 

Kesempurnaan Yang Tidak Mencari Sempurna

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Sore itu, langit pesantren berwarna jingga. Suara santri mengaji samar terdengar dari kejauhan. Di serambi asrama, dua santri duduk bersila setelah shalat Ashar.

“Aku iri,” ucap salah satu dari mereka, yang sering dipanggil Udin, pelan. “Dia selalu terlihat sempurna. Hafalannya kuat, ucapannya rapi, dan semua orang memujinya.” Temannya yang bernami Sarmin, menoleh, tersenyum tipis. “Kau yakin kesempurnaan itu selalu membawa tenang?”. “Apa maksudmu?” sergah Udin sedikit galak.

“Kau lihat dia dari luar. Tapi kau tak tahu lelahnya menjaga citra. Aku pernah melihatnya menangis di mushala tengah malam,” jawabnya Sarmin lirih. Santri Udin terdiam. “Tapi aku merasa tak pernah cukup. Hafalanku sering salah, aku mudah ragu.”

“Justru itu yang membuatmu terus belajar,” sahut Sarmin. “Kiai pernah bilang, ilmu tidak tumbuh dari kesempurnaan, tapi dari kesungguhan menerima kekurangan.” Angin berembus lembut, menggoyangkan dedaunan. “Jadi kau bilang, kekurangan itu bukan aib?” tegas Udin.

“Bukan. Ia guru paling jujur,” jawabnya Sarmin mantap. “Di pesantren ini, kita diajarkan untuk merapikan hati, bukan sekadar memperindah tampilan.” Santri Udin menunduk, memandangi lantai serambi. “Mungkin selama ini aku terlalu keras pada diriku sendiri.” Sarmin tersenyum. “Kesempurnaan bukan soal tak pernah salah, tapi mau bangkit setiap kali jatuh.”

Suara adzan Maghrib menggema. Keduanya berdiri.

“Terima kasih,” ucap Udin pelan.

“Kita belajar bersama,” jawab Sarmin.

Mereka melangkah menuju masjid, membawa hati yang lebih ringan, perlahan belajar menerima diri, di antara tembok pesantren yang sunyi namun penuh makna

Sering kali manusia terjebak pada anggapan bahwa keindahan adalah tujuan akhir, dan kesempurnaan adalah syarat mutlak kebahagiaan. Mata kita terbiasa mencari yang paling memukau, telinga ingin mendengar yang paling merdu, dan hati kerap mendambakan  keadaan tanpa cela. Namun, perjalanan hidup perlahan mengajarkan bahwa yang terindah tidak selalu menjadi yang terbaik. Ada hal-hal yang tampak sempurna di permukaan, tetapi hampa di dalamnya. Sebaliknya, ada pula yang sederhana, bahkan penuh kekurangan, namun justru menghadirkan ketenangan dan makna yang mendalam.

Keindahan sering bersifat sementara. Ia memikat, tetapi mudah memudar. Apa yang hari ini dipuja, esok bisa menjadi biasa. Dalam keindahan yang hanya berdiri di atas penampilan, manusia kerap lupa menggali kedalaman. Ketika sesuatu dinilai hanya dari luarnya, kekecewaan menjadi bayangan yang tak terhindarkan. Harapan yang terlalu tinggi terhadap kesempurnaan menjadikan manusia rapuh, karena realitas jarang berjalan seiring dengan bayangan ideal yang dibangun di kepala.

Kesempurnaan pun kerap disalahartikan sebagai ketiadaan kekurangan. Padahal, hidup tidak pernah menawarkan ruang kosong dari cela. Setiap langkah membawa risiko, setiap pilihan menyimpan konsekuensi. Ketika seseorang memaksakan hidupnya agar terlihat sempurna, ia sesungguhnya sedang menolak sisi paling manusiawi dari dirinya sendiri. Dari penolakan itulah lahir kegelisahan, rasa tidak cukup, dan ketakutan akan kegagalan. Kesempurnaan yang dibangun di atas penyangkalan justru menjauhkan manusia dari kebahagiaan yang tulus.

Kebahagiaan bukanlah hasil dari hidup yang tanpa luka, melainkan dari kemampuan berdamai dengan luka tersebut. Ada kelegaan yang lahir ketika seseorang berhenti melawan kenyataan dan mulai menerimanya. Penerimaan bukan berarti menyerah, melainkan keberanian untuk melihat diri apa adanya. Di sanalah kekurangan tidak lagi menjadi beban, tetapi ruang untuk bertumbuh. Kekurangan mengajarkan kerendahan hati, mengasah empati, dan menumbuhkan rasa syukur atas hal-hal kecil yang sering terlewatkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering terlihat bagaimana standar kesempurnaan dibentuk oleh perbandingan. Manusia membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain, seolah kebahagiaan adalah perlombaan yang harus dimenangkan. Padahal, setiap orang berjalan di jalurnya masing-masing, dengan beban dan cerita yang berbeda. Apa yang tampak sempurna dari kejauhan bisa jadi menyimpan perjuangan yang tidak terlihat. Ketika perbandingan dihentikan, manusia mulai menyadari bahwa hidupnya sendiri memiliki nilai yang tidak kalah berharga.

Menerima kekurangan sebagai kelebihan bukanlah proses yang instan. Ia menuntut kejujuran pada diri sendiri dan kesabaran dalam menjalani perubahan. Ada saat-saat ketika rasa kecewa muncul, ketika harapan tidak terpenuhi, dan ketika kenyataan terasa pahit. Namun justru di titik-titik itulah makna hidup diperdalam. Kekurangan mengajarkan manusia untuk beradaptasi, menemukan cara baru, dan menghargai usaha, bukan hanya hasil akhir.

Dalam penerimaan, seseorang belajar melihat keindahan dari sudut yang berbeda. Keindahan tidak lagi diukur dari kesempurnaan bentuk, melainkan dari ketulusan proses. Hidup menjadi lebih ringan ketika tidak lagi dibebani tuntutan untuk selalu ideal. Ada kebebasan dalam mengakui bahwa tidak apa-apa untuk tidak sempurna. Dari kebebasan itu tumbuh rasa damai, karena kebahagiaan tidak lagi bergantung pada standar yang rapuh.

Kesempurnaan sejati bukanlah tentang menjadi tanpa cela, melainkan tentang utuh sebagai manusia. Utuh berarti mampu merangkul kelebihan dan kekurangan dalam satu kesadaran yang sama. Ketika seseorang mampu menerima dirinya dengan segala keterbatasan, ia tidak hanya menemukan ketenangan batin, tetapi juga membuka ruang untuk mencintai dan memahami orang lain dengan lebih dalam. Dari sanalah hubungan menjadi lebih jujur, dan kehidupan terasa lebih bermakna.

Pada akhirnya, yang terindah memang tidak selalu yang terbaik, dan yang sempurna tidak selalu menjanjikan kebahagiaan. Kebahagiaan tumbuh dari penerimaan, dari keberanian untuk melihat kekurangan bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup. Ketika manusia mampu mengubah cara pandangnya, menjadikan kekurangan sebagai kelebihan, di situlah kesempurnaan menemukan maknanya yang paling manusiawi. Orang dulu berpesan “jalani dengan tenang, nikmati dengan senang apa yang Tuhan Takar tidak akan pernah tertukar”. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Antara Hujan dan Harapan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Sore itu, kota ini di guyur hujan yang sangat lebat, orang banyak menyebutnya anomali iklim. Saat memandang curahan hujan yang begitu lebat terbersit dalam ingatan untuk menulisnya. Atas palilah (kerelaan) dari sohib jurnalis senior yang menggawangi media ini, jadilah tulisan ini. Dan, di salah satu emper toko ada dua orang yang berteduh. Seorang berprofesi sebagai tukang ojek, dan seorang lagi penjual kue keliling. Mereka berdua terlibat pembicaraan seperti ini;

“Deras banget, ya. Dari tadi kayak nggak ada niat berhenti,” kata tukang ojek sambil memarkir motornya agak ke pinggir teras agar joknya tidak terkena timpahan air dari talang air yang meluap.
“Iya, Mas. Kue saya aja sampai basah-basah. Untung masih sempat ditutup plastik,” jawab penjual kue keliling, menggeser tampahnya lebih dekat ke dinding agar tidak terkena tempias.
“Biasanya jam segini udah dapet penumpang dua atau tiga. Ini malah dapet hujan,” ucap tukang ojek, tertawa kecil.
“Sama. Biasanya sore laku buat orang pulang kerja. Hujan begini, orang milih langsung ke rumah,” kata penjual kue. “Mas ojek narik dari pagi?”
“Dari subuh. Pagi panas, siang mendung, eh sore begini. Kadang cuaca lebih susah ditebak daripada orderan,” jawab tukang ojek sambil menyeringai.

Penjual kue mengangguk. “Kalau saya, yang susah itu kue sisa. Nggak bisa disimpan lama. Besok rasanya udah beda, bahkan cenderung basi.”
“Kalau nggak habis, dibagi ke tetangga?” tanya tukang ojek.
“Kadang. Kadang ya dimakan sendiri. Capek sih, tapi mau gimana.” Jawab penjual kue memelas.

Hujan semakin keras, suara genting dipukul air tanpa jeda.
“Mas masih kuat nunggu hujan reda?” tanya penjual kue lagi.
“Kalau nekat jalan, bahaya. Jas hujan bocor lagi,” jawab tukang ojek. “Mending nunggu. Rezeki nggak ke mana.”
“Iya, ya. Kata orang, rezeki ada waktunya sendiri.” Guman penjual Kue.
“Betul. Kita mah jalanin aja. Hujan, panas, tetap keluar rumah.” Sambung tukang ojek.

Penjual kue tersenyum, dan berkata. “Kalau hujan reda, Mas mau kue satu? Nggak usah bayar.”
“Wah, jangan gitu. Saya beli. Biar sama-sama jalan rezekinya.” Jawab tukang ojek.

Mereka terdiam sejenak, mendengar hujan yang perlahan mulai mengecil, seperti memberi isyarat untuk kembali melanjutkan hari.

Hujan selalu datang tanpa meminta izin, seperti kabar yang tiba di lini masa pada jam-jam paling sibuk. Ia bisa menjadi penanda jeda, bisa pula menjadi alasan keterlambatan. Di kota-kota yang tak pernah benar-benar tidur, hujan memantulkan cahaya lampu dan menebalkan kesepian. Namun, di sela bunyinya yang jatuh berulang, ada sesuatu yang tetap hidup: harapan. Di antara hujan dan harapan, manusia kekinian belajar menata ulang makna bertahan.

Hujan hari ini bukan sekadar peristiwa cuaca. Ia adalah metafora bagi tekanan yang datang beruntun; tagihan yang jatuh tempo, notifikasi yang tak berhenti, target yang berubah setiap pekan, dan berita yang sering kali lebih cepat daripada kemampuan kita mencernanya. Kita hidup di zaman ketika rasa cemas dapat diukur dalam persentase baterai dan kecepatan jaringan. Ketika hujan turun, ritme melambat sejenak, memaksa kita mengakui bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Di trotoar yang basah, langkah-langkah menjadi hati-hati; di kepala yang penat, pikiran mencari pegangan.

Namun harapan, seperti payung yang kadang terlupa, tetap ada meski tak selalu terlihat. Harapan kekinian tidak selalu berwujud mimpi besar yang berkilau. Ia sering hadir sebagai keputusan kecil: tetap bangun pagi meski semalam gagal, mengirim lamaran lagi meski sudah berkali-kali tak berbalas, atau memilih istirahat ketika dunia menuntut lebih. Harapan bukan lagi janji masa depan yang jauh, melainkan ketekunan pada hari ini. Ia belajar merendah agar tak mudah patah.
Di layar-layar kecil, hujan sering difilter agar terlihat indah. Kita mengunggah foto jendela berembun, menulis caption puitis, lalu melanjutkan hidup. Tapi di balik estetika itu, hujan juga berarti banjir yang berulang, rumah yang terendam, pekerjaan yang tertunda. Kekinian mengajarkan paradoks: keindahan dan kesulitan bisa berdampingan, dan keberanian bukan menolak keduanya, melainkan mengakui kehadirannya. Harapan tumbuh ketika kita berhenti menyangkal kenyataan dan mulai merawat kemungkinan.

Hujan menguji solidaritas. Saat air naik, tangan-tangan saling terulur. Di tengah keterpecahan opini, ada momen-momen sederhana ketika empati bekerja tanpa slogan. Harapan mengambil bentuk gotong royong yang disesuaikan zaman: penggalangan dana daring, informasi cepat yang menyelamatkan waktu, dan ruang-ruang diskusi yang mencoba lebih mendengar. Meski sering bising, dunia digital juga menyimpan potensi merajut ulang kepercayaan.

Hujan juga menyingkap hubungan kita dengan diri sendiri. Ketika suara luar mereda, kita mendengar yang selama ini diabaikan. Keletihan yang dipendam, kegembiraan kecil yang tertunda, dan kebutuhan untuk memaafkan diri. Harapan di sini bersifat intim: kesediaan merawat kesehatan mental, menetapkan batas, dan mengakui bahwa kuat tidak selalu berarti keras. Di zaman serba cepat, keberanian paling radikal bisa jadi adalah berhenti sejenak.

Pada akhirnya, antara hujan dan harapan, ada ruang belajar menjadi manusia. Kita belajar bahwa basah bukan akhir dari perjalanan, bahwa menunggu reda pun bagian dari bergerak. Harapan tidak menghapus hujan; ia mengajarkan cara berjalan di bawahnya, kadang dengan payung, kadang dengan membiarkan diri basah sambil tertawa. Di zaman yang penuh ketidakpastian, mungkin itulah kemenangan kecil yang paling nyata: tetap melangkah, meski langit belum sepenuhnya cerah. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Menjalani Sisa Hari

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Sore itu matahari merendah di balik pepohonan taman kecil kompleks perumahan. Dua orang lelaki usia senja duduk berdampingan di bangku besi yang catnya mulai mengelupas. Udara tidak lagi panas, justru membawa rasa dingin yang pelan-pelan meresap ke tulang.

“Badanku akhir-akhir ini cepat capek,” kata Pak Rahman sambil menarik napas panjang.

Tangannya bertumpu pada tongkat kayu yang sudah cukup lama menemaninya. Pak Hadi menoleh, menatap wajah sahabat lamanya yang sudah sejak lama ditinggal istri meninggal dunia.

“Usia memang nggak bisa diajak bohong,” ujarnya pelan. “Tapi alhamdulillah, kita masih bisa jalan ke taman begini.”

Pak Rahman tersenyum tipis seraya berkata, “Kadang saya mikir; Kalau dulu saya lebih berani ambil keputusan, mungkin hidup saya tidak begini.” Pak Hadi terdiam sejenak, memandang daun-daun yang jatuh satu per satu. “Saya juga terkadang begitu. Nyesel karena terlalu banyak menunda, terlalu sering takut.” Ia lalu menghela napas. “Tapi mau gimana lagi? Waktunya sudah lewat.”

“Berat rasanya berdamai sama masa lalu,” ucap Pak Rahman lirih. “Iya,” jawab Pak Hadi. “Tetapi terus mengingatnya juga nggak bikin badan kita lebih kuat.”

Ia tersenyum kecil. “Sekarang ya dijalani aja. Bangun pagi masih bisa napas lega, lutut masih mau diajak jalan, itu sudah hal yang lebih dari cukup.”

Pak Rahman mengangguk pelan. Suara burung sore terdengar samar. “Dulu saya kira hidup itu soal jabatan dan pencapaian,”kata Pak Rahman.

“Sekarang kita tahu,” potong Pak Hadi lembut, “hidup itu soal bisa bangun tanpa rasa sakit yang berlebihan dan pulang dengan hati yang nggak terlalu penuh beban.”

Mereka berdua terdiam cukup lama. Senja semakin turun, menyisakan cahaya tipis yang hangat. “Ada satu hal yang bikin saya tenang,” kata Pak Rahman akhirnya. “Kita masih dikasih badan sehat, meski nggak sempurna.”

Pak Hadi tersenyum, lalu berdiri perlahan. “Itu sebabnya hari ini masih layak dijalani.”

Keduanya melangkah pulang karena sayup-sayup terdengar suara adzan magrib, dengan langkah pelan, meninggalkan bangku taman yang sunyi, membawa sisa usia yang tak lagi panjang, tapi masih cukup untuk terus disyukuri.

Ada kalanya hidup terasa seperti kumpulan keputusan yang datang terlambat. Kita menoleh ke belakang dan menemukan banyak hal yang seandainya saja bisa diulang, diperbaiki, atau setidaknya dipahami dengan lebih tenang.

Penyesalan sering hadir diam-diam, lalu tumbuh menjadi beban yang berat. Ia mengendap di pikiran, membuat hati lelah, dan perlahan menggerogoti rasa syukur. Namun pada satu titik, kita dihadapkan pada kesadaran sederhana: “sudah jangan disesali, sekarang dijalani saja, yang penting kita diberi badan sehat”. Kalimat ini terdengar biasa, tetapi menyimpan kebijaksanaan yang dalam dan menenangkan.

Menjalani hidup apa adanya bukan perkara mudah. Ada hari-hari ketika luka lama kembali terasa perih, ketika ingatan muncul tanpa diundang, dan ketika rasa bersalah datang tanpa ampun. Namun hidup tidak menuntut kita untuk selalu kuat, ia hanya meminta kita untuk terus berjalan. Perlahan, dengan langkah yang kadang tertatih, kita belajar bahwa bertahan saja sudah merupakan bentuk keberanian. Tidak semua orang mampu bangkit dengan gemilang; sebagian hanya mampu bangun dari tempat tidur dan itu pun sudah cukup.

Di tengah semua kegelisahan itu, kesehatan sering kali menjadi hal yang baru disadari nilainya saat ia terancam hilang. Badan yang sehat adalah anugerah yang kerap dianggap remeh. Kita sibuk mengejar pencapaian, pengakuan, dan validasi, sampai lupa bahwa tanpa tubuh yang berfungsi dengan baik, semua itu tidak akan berarti banyak. Saat tubuh masih mampu bernapas tanpa bantuan, berjalan tanpa rasa sakit, dan terbangun setiap pagi, sesungguhnya kita telah memiliki alasan yang kuat untuk melanjutkan hidup.

Kesehatan tidak selalu berarti bebas dari penyakit. Terkadang, sehat berarti masih mampu tersenyum meski ada keterbatasan, masih bisa mensyukuri hal kecil meski kondisi tidak sempurna. Ada ketenangan yang lahir ketika seseorang menyadari bahwa hidup tidak harus selalu ideal untuk tetap dijalani dengan penuh makna. Selama tubuh masih diberi kesempatan untuk bertahan, selama jantung masih setia berdetak, harapan tidak pernah benar-benar habis.

Menjalani hari ini juga berarti berdamai dengan diri sendiri. Kita berhenti membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, berhenti memaksa diri untuk memenuhi standar yang tidak kita pahami asalnya. Hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat atau paling sukses. Ia adalah perjalanan personal yang penuh tikungan dan kejutan. Ada orang yang menemukan jalannya lebih awal, ada pula yang tersesat berkali-kali sebelum akhirnya mengerti ke mana harus melangkah. Semua itu sah dan manusiawi.

Ketika penyesalan datang, mungkin yang perlu dilakukan bukan melawannya, tetapi mendengarkannya sebentar, lalu melepaskannya dengan perlahan. Penyesalan bisa menjadi pengingat agar kita lebih bijak ke depan, bukan cambuk untuk menghukum diri tanpa henti. Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana bersikap hari ini. Dan sering kali, sikap paling bijak adalah menerima hidup apa adanya dengan rasa syukur yang sederhana.

Pada akhirnya, hidup tidak selalu tentang memperbaiki semua kesalahan, melainkan tentang belajar hidup bersama konsekuensinya. Setiap orang punya cerita masing-masing. Kita mungkin tidak memiliki masa lalu yang sempurna, tetapi kita masih memiliki hari ini.

Selama badan masih sehat, selama napas masih bisa dihirup dengan bebas, selalu ada kesempatan untuk menjalani sisa hidup dengan lebih tenang. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri. Cukup jalani saja, satu hari pada satu waktu, dengan kesadaran bahwa bertahan pun adalah bentuk kemenangan kecil yang layak dirayakan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Pertemuan Yang Tak Pernah Selesai

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Pesantren satu ini agak berbeda dari yang lain. Biasanya pesantren didirikan di lereng gunung, atau perbukitan yang agak jauh dari pemukiman, tetapi pesantren ini justru dibangun di tepi laut lepas, tempatnya ada di derah yang cukup tinggi, sehingga seakan-akan menjadi pagar laut. Pemandangannya sangat indah di senja hari, dan sangat menakjubkan di pagi hari. Sore itu selepas ashar ada percakapan kecil antara Kiai dengan seorang Santri, di beranda yang ditingkahi hembusan angin laut sepoi-sepoi, dan diselingi deburan ombak; ringkas percakapan itu sebagai berikut:

“Guru,” kata seorang santri muda tadi, ketika langit mulai merunduk dan laut di kejauhan tampak seperti halaman kitab yang belum selesai dibaca. “Mengapa cakrawala selalu terlihat seperti tempat pertemuan yang kita tak akan pernah bisa gapai?”
Sang kiai menatap ke arah horison yang memudar, seakan sedang membaca sesuatu yang tak tertulis. “Karena ada hal-hal tertentu, Nak, yang diciptakan bukan untuk digapai, tetapi untuk dihayati. Cakrawala itu seperti janji yang tidak pernah selesai diucapkan.”
“Akan tetapi mengapa ia terasa begitu dekat sekaligus jauh, Guru?” tanya sang santri, suaranya ragu, seakan takut mengganggu kesunyian yang turun perlahan bersama angin dari laut. Kiai tersenyum tipis. “Begitulah hidup. Kita sering berdiri di antara dua dunia: yang kita pahami dan yang tak pernah benar-benar kita mengerti. Langit dan laut tampak bersentuhan, padahal mereka tidak. Namun manusia merasa damai saat melihatnya, seolah ada kesepakatan diam antara ketakterhinggaan di atas dan kedalaman di bawah.”

Santri itu mengangguk pelan, namun matanya masih terpaku pada garis semu yang kini hampir hilang. “Jadi, apa yang sebenarnya kita cari di sana, Guru?”. “Kita mencari diri kita sendiri,” jawab sang Kiai lirih, “Di tempat yang hanya bisa kita kunjungi lewat perenungan.”
Santri menundukkan kepala dalam-dalam seraya berkata; “Guru, jika berkenan, saya ingin sekali mendengar tausiyah tentang ini semua dari Guru, maaf Guru atas kelancangan saya”. Kiai tersenyum tipis seraya berkata “Baiklah muridku”:

Garis cakrawala yang tampak tegas itu sesungguhnya hanyalah ilusi: perbatasan yang diciptakan oleh jarak, oleh persepsi, oleh keinginan kita untuk menamai segala yang bergerak dan berubah. Namun justru pada ilusi itulah sering tersimpan kebenaran yang paling melankolis; bahwa segala yang kita kira pasti, sesungguhnya rapuh; bahwa segala yang tampak menyatu, sebenarnya hanya saling mendekat tanpa pernah benar-benar bersentuhan.
Di tempat inilah manusia sering membiarkan pikirannya berkelana. Memandang laut berarti memandang kedalaman yang tidak memiliki pusat; memandang langit berarti memandang keluasan yang tidak memiliki batas. Ketika keduanya tampak saling menyapa, kita sebenarnya sedang menyaksikan dialog antara dua ketakterhinggaan. Dan di tengah dialog itu, manusia berdiri sebagai saksi yang rapuh, yang keberadaannya hanya sekejap dibandingkan dengan rentang waktu yang dilalui ombak.

Ada keheningan tertentu yang hanya dapat lahir di tepi laut saat senja. Keheningan yang bukan berarti tidak ada suara, melainkan suara yang membaur begitu halus hingga tidak dapat dipisahkan. Debur ombak yang teratur, angin yang membawa aroma asin, serta cahaya jingga yang perlahan memudar menjadi abu-abu; semuanya berubah menjadi komposisi yang menenangkan sekaligus mencemaskan. Seolah alam sedang berbicara, namun dalam bahasa yang terlalu tua untuk dapat dimengerti, terlalu luas untuk dapat ditangkap oleh kata-kata.

Dalam keheningan semacam itu, manusia sering merasa kecil. Bukan kecil dalam arti tidak penting, tetapi kecil seperti titik yang menyadari dirinya bukan pusat dari apa pun. Laut mengajarkan bahwa kedalaman tidak memerlukan penjelasan; langit mengajarkan bahwa keluasan tidak membutuhkan alasan untuk tetap terbuka. Dan manusia di antaranya belajar bahwa hidup tidak selalu menawarkan kepastian, melainkan kemungkinan-kemungkinan untuk hanyut, untuk tenggelam, untuk terbang, atau bahkan untuk tetap terdiam di batas antara keberanian dan ketakutan.

Cakrawala menjadi metafora bagi batas-batas batin yang terus bergerak. Seperti garis yang terlihat jelas tetapi tak pernah dapat digapai, banyak hal dalam hidup tetap berada di kejauhan meskipun kita menghabiskan seluruh energi untuk mendekatinya. Kita mengejar ketenangan, tetapi ia bergeser setiap kali kita merasa hampir menyentuhnya. Kita mencari makna, tetapi ia sering kali menampakkan diri justru ketika kita berhenti memaksanya hadir. Seperti langit dan laut yang tak pernah menyatu, manusia dan harapannya sering saling mendekat tanpa benar-benar bertemu.
Namun di sanalah letak keindahannya. Ketidakpastian melahirkan kerinduan; kerinduan melahirkan gerak; dan gerak adalah bukti bahwa kita masih hidup.

Ada kesedihan samar yang muncul dari kesadaran bahwa apa pun yang kita cintai pada akhirnya akan berubah. Tetapi justru karena itulah cinta dapat terasa begitu mendalam. Melihat langit berubah warna dan laut berubah suasana mengingatkan kita bahwa segala yang sementara memiliki tempat khusus di hati: bukan karena ia kekal, tetapi karena ia menghilang.

Ketika malam mulai turun, cakrawala menghilang, dan batas antara langit dan laut larut ke dalam kegelapan. Kita tidak lagi dapat membedakan mana yang di atas dan mana yang di bawah; mana yang melindungi dan mana yang menelan. Pada saat itu, manusia belajar bahwa kejelasan bukanlah satu-satunya bentuk kebenaran. Ada kebenaran yang justru hadir lewat ketidakjelasan kebenaran; bahwa hidup bukanlah peta yang sudah lengkap, melainkan perjalanan yang membiarkan kita tersesat untuk sesaat agar dapat menemukan arah yang lebih jujur.

Di tempat langit dan laut saling menyapa itulah manusia memahami dirinya: makhluk yang dibentuk oleh jarak, disatukan oleh kerinduan, dan dijaga oleh kesadaran bahwa segala yang paling berarti justru berasal dari hal-hal yang tidak dapat digenggam sepenuhnya. Dan dalam kesadaran itulah melankoli menemukan rumahnya; senyap, dalam, namun penuh cahaya yang perlahan menyelinap di antara gelombang. Dan, itulah sejatinya kehidupan, tidak ada yang abadi, yang ada hanya kesementaraan. “Semoga kau paham nak atas kefanaan ini, karena bisa jadi wajah semanis senja memberi luka sedalam samudra ” tutup Kiai dalam tauziahnya. Salam Waras (SJ)

Editor: Fadly KR

Nak Ngebangun Ngutang, Dak Senang Tendang

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

MEMBACA berita awal tahun 2026 pada media ini yang digawangi oleh Herman Batin Mangku (HBM) memunculkan banyak pertanyaan di kepala: Pemprov Lampung ingin ngutang Rp1 triliun buat bangun jalan dan Pemkot Bandarlampung lengserkan pejabat yang baru setahun definitif. What is it? Uji kito, ado apo Wak? 

Pertanyaan ini muncul di banyak benak masyarakat daerah ini. Menjelang tutup kantor di suatu lembaga resmi pemerintahan, dua pegawai begesah, yang ringkasannya sebagai berikut:

Ujang: “Eh, Din, kau denger dak kabar dari lantai atas kemaren?”

Udin: “Kabar apo lagi, Jang? Rasanyo tiap minggu ado bae yang bikin kening bekerut.”

Ujang: “Itu soal rencana proyek lanjutan. Katonyo danonyo dari utangan lagi.”

Udin: “Halah… utangan lagi, utangan lagi. Kito ni wong bawah cuma bisa ngitung sisa kertas di laci.”

Ujang: “Iyo nian. Di rapat kito disuruh setuju bae. Dak usah banyak tanyo.”

Udin: “Kalo ado yang nyinggung dikit soal risiko, langsung dipandang cak salah ngomong.”

Ujang: “Aku kemaren nyebut anggaran rutin makin cekak, langsung diajak pindah topik.”

Udin: “Itu tandonyo, Jang. Artinyo, ‘cukup tau bae, jangan mikir jauh’.”

Ujang: “Padahal kito ni yang tiap hari ngadep masyarakat. Kito tau betul keluhannyo.”

Udin: “Yo nia. Pelayanan dipercepat di kertas, tapi di lapangan serbo terbatas.”

Ujang: “Yang aku heran, baliho proyek besaaak nian, tapi ATK bae disuruh irit.”

Udin: “Hahaha, itulah seni bertahan. Yang penting kejingokan hebat.”

Ujang: “Tapi hutang itu dak ilang, Din. Siapo yang nanggung kagek?”

Udin: “Bukan dio lagi. Pengganti, rakyat, mungkin jugo anak cucu kito.”

Ujang: “Kadang aku ngeraso kito ni dak punyo suara.”

Udin: “Suara ado, tapi volumenyo dikecik ke.”

Ujang: “Sedih yo, Din. Negeri kito sebenernyo biso maju kalo mikirnyo panjang.”

Udin: “Iyo. Tapi selagi kito di sini, kito kerjo jujur bae. Biar hati tenang.”

Ujang:“Bener. Selebihnyo, waktu yang bakal jawab.”

Ungkapan nak mbangun ngutang, idak senang tendang kini makin sering terdengar saat obrolan warung kopi di pinggir sungai sampai ke ruang diskusi kampus. Kalimat ini bukan sekadar guyonan wong kito, tapi sudah jadi kritik sosial yang pedas nian.

Di zaman kini, banyak pemimpin di negeri ini yang pikirannya sempit, muter di situ-situ bae: bagaimana caronya mbangun cepat, tapi duitnyo idak dari keringat sendiri, melainkan dari utangan. Soal bayar belakangan, itu urusan wong lain, pengganti nanti.

Asal kini nampak megah, proyek berdiri, foto terpajang, urusan selesai. Model kepemimpinan cak ini sebenarnyo idak baru, tapi di kondisi kekinian, gejalonyo makin jelas. Di tengah ekonomi yang belum stabil, beban hidup masyarakat makin berat, pemimpin malah ringan tangan ngutang.

Alasannya klise: demi pembangunan, demi percepatan, demi kepentingan rakyat. Tapi rakyat jugo yang akhirnya nanggung akibatnyo. Utang itu bukan hilang, tapi diwariskan. Anak cucu wong kito nanti yang bakal nyicilnyo pelan-pelan, lewat pajak, lewat potongan, lewat pelayanan publik yang makin diketatkan.

Yang lebih miris, kalau ado pejabat atau pihak yang ngingetin soal risiko, soal kehati-hatian, malah dianggap pengganggu. Bukannya didengar, malah “ditendang”. Ditendang bukan selalu berarti fisik, tapi bisa dalam bentuk disingkirkan, dilabeli pembangkang, atau dibuat idak punyo ruang bersuara.

Budaya kritik jadi mati. Padahal dalam pemerintahan yang sehat, kritik itu vitamin, bukan racun. Tapi bagi pemimpin yang pikirannya sudah dikunci ambisi, kritik itu dianggap ancaman.

Di sudut pandang kekinian, kondisi ini bahayo nian. Dunia sekarang menuntut transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Masyarakat sudah makin melek informasi. Media sosial jadi ruang terbuka, data bisa dicari, kebijakan bisa dipantau.

Tapi sayang, sebagian pemimpin masih pakai cara pikir lama: asal proyek jalan, asal laporan rapi, asal atasan senang. Rakyat dianggap penonton, bukan pemilik negeri.

Utang sebenarnyo idak haram. Dalam kondisi tertentu, utang bisa jadi alat bantu. Tapi masalahnyo, utang dijadikan jalan pintas, bukan pilihan terakhir. Idak ado upaya maksimal ngatur anggaran, ngurangin kebocoran, atau ningkatkan pendapatan daerah dengan cara kreatif.

Yang ado malah kebiasaan gali lubang tutup lubang. Tahun ini utang, tahun depan nambah lagi. Akhirnyo, ruang fiskal makin sempit, dan kebijakan publik jadi kaku.

Sikap “idak senang tendang” jugo nunjukkan mentalitas feodal yang belum lepas. Pemimpin merasa paling benar, paling tau, paling berkuasa. Padahal jabatan itu amanah, bukan singgasana. Dalam budaya wong Palembang, sejatinyo pemimpin itu “tue rumah”, yang tugasnyo ngemong, bukan ngusir tamu. Kalau ado yang ngingetin, harusnyo disambut, bukan ditolak.

Di zaman kini, tantangan pembangunan itu kompleks. Bukan cuma bangun gedung, jalan, atau jembatan. Tapi bangun kepercayaan, bangun kualitas hidup, bangun sistem yang adil. Semua itu idak bisa dicapai dengan utang doang, apolagi kalau utangnyo idak dikelola dengan jujur dan cerdas.

Pembangunan sejati itu mungkin idak selalu megah di mata, tapi terasa manfaatnyo di perut rakyat. Masyarakat jugo punyo peran. Jangan cuma ngeluh di belakang, tapi diam di depan. Kesadaran politik harus tumbuh. Pilihan hari ini menentukan beban esok hari.

Kalau terus milih pemimpin yang gemar ngutang dan anti kritik, jangan kaget kalau hidup makin sempit. Wong kito harus berani nuntut akal sehat, nuntut transparansi, nuntut keberanian berkata tidak pada kebijakan yang merugikan.

Ungkapan tadi akhirnya jadi cermin. “Nak mbangun ngutang, idak senang tendang” bukan sekadar sindiran, tapi peringatan. Kalau pola ini dibiarkan, negeri ini akan terus jalan di tempat, bahkan mundur. Sudah waktunyo cara pikir itu diubah.

Membangun jangan cuma mikir hari ini, tapi jugo mikir esok. Memimpin jangan cuma mau dipuji, tapi jugo siap dikritik. Kalau idak, sejarah akan mencatat, bukan sebagai pembangun, tapi sebagai pewaris masalah.

Editor: Fadly KR