Menyingkap Tirai Diri

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di sebuah pesantren tua yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan pepohonan rindang, senja turun perlahan. Langit berwarna jingga keemasan, dan sholat magrib baru saja berlalu, menyisakan keheningan yang dalam. Di serambi surau seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiainya. Matanya redup, menatap tanah seolah mencari jawaban dari sesuatu yang tak terucap.
“Yai,” ucapnya perlahan, “aku belajar, berzikir, berdoa, tapi entah mengapa Allah terasa semakin jauh. Bukankah seharusnya aku semakin dekat?”
Sang kiai menatapnya lama, lalu tersenyum dengan sorot mata yang meneduhkan. “Nak,” katanya lembut, “Allah tidak pernah jauh, hanya hatimu yang berjalan menjauh karena engkau mencari di luar, bukan di dalam.”

Santri itu terdiam. Angin membawa suara daun bambu yang berdesir, seperti ikut berzikir bersama mereka. “Lalu, di mana aku harus mencari-Nya, Yai?” tanyanya lirih. Sang kiai memejamkan mata sejenak, lalu berkata pelan, “Carilah di dalam roso sejati. Ketika engkau benar-benar mengenal rasa yang paling dalam itu, engkau akan menemukan ada sejati — hakikat Allah yang bersemayam dalam dirimu sendiri.” Malam pun turun, dan dalam diam, sang santri merasa seolah baru saja membuka pintu menuju perjalanan batin yang sesungguhnya.

Santri tadi mendengarkan wejangan gurunya dengan takzim, yang jika kita sarikan wejangan itu sebagai berikut;
Dalam pandangan tasawuf, jalan menuju Tuhan bukan sekadar perjalanan menuju sesuatu di luar diri, melainkan perjalanan menembus lapisan diri yang semu hingga yang tersisa hanyalah hakikat. Diri manusia yang tampak, dengan segala hawa, keinginan, dan pikirannya, adalah bayangan dari sesuatu yang lebih hakiki. Ketika manusia hidup hanya di tataran bayangan itu, ia akan terjebak dalam keramaian wujud, dalam hiruk-pikuk dunia yang penuh bentuk, nama, dan perbedaan. Namun, ketika ia mulai mendengar getar halus dari dalam, itulah roso sejati; maka tirai-tirai mulai tersingkap satu demi satu.

Roso sejati bukanlah perasaan emosional atau dorongan batin yang sesaat. Ia adalah kesadaran murni yang lahir dari kejernihan jiwa. Dalam diam yang dalam, ketika segala hasrat duniawi terlepas, muncullah pengalaman roso sejati: kesadaran yang tidak menilai, tidak menuntut, dan tidak membeda-bedakan. Di titik itu, manusia tak lagi memandang Tuhan sebagai sesuatu yang jauh di luar dirinya, tetapi sebagai inti yang senantiasa hadir di dalam dirinya sendiri. Tuhan bukan objek pencarian, tetapi sumber keberadaan yang menyinari seluruh wujud.
Ada sejati, pada sisi lain, adalah hakikat dari segala yang ada. Ia bukan sesuatu yang bisa dipahami oleh rasio semata, sebab ia melampaui konsep dan bentuk. Pikiran hanya mampu menggambarkan bayangannya, tetapi tidak dapat menjangkau keberadaannya yang mutlak. Oleh karena itu, perjalanan menuju ada sejati tidak dapat dilakukan dengan berpikir semata, melainkan dengan mengalami yaitu; dengan membiarkan kesadaran menyatu dengan keberadaan tanpa sekat. Dalam kondisi demikian, subjek dan objek melebur; yang mengenal dan yang dikenal menjadi satu dalam keheningan makrifat.

Jalan ini tidak mudah, karena ia menuntut pembubaran ego. Ego adalah bayangan yang menutupi cermin hati, membuat manusia melihat dirinya terpisah dari Tuhan. Selama ego masih menjadi pusat kesadaran, roso sejati tak akan muncul. Namun, ketika ego meleleh dalam cahaya kesadaran, manusia akan menyadari bahwa dirinya tidak lain adalah pancaran dari ada sejati. Segala yang ada bukanlah “lain”, melainkan manifestasi dari satu sumber yang sama. Dari kesadaran inilah lahir makrifat; pengetahuan langsung yang tidak diperoleh dari berpikir, tetapi dari penyatuan.

Makrifat adalah titik pertemuan antara roso sejati dan ada sejati. Ia bukan hasil belajar, tetapi hasil pengosongan. Ketika pikiran diam, ketika hati jernih, maka kebenaran itu menyingkap dirinya sendiri. Seperti mata air yang tidak pernah kering, roso sejati senantiasa mengalir dari sumber ada sejati. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan yang fana dengan yang abadi. Dalam pengalaman makrifat, manusia tidak lagi merasa menjadi pencari, karena yang dicari ternyata adalah dirinya sendiri dalam dimensi terdalam keberadaan.

Dalam kesadaran roso sejati, seluruh perbedaan luluh. Baik dan buruk, tinggi dan rendah, luar dan dalam; semuanya kehilangan maknanya di hadapan keutuhan ada sejati. Manusia menyadari bahwa segala bentuk adalah permainan dari keberadaan yang satu. Dari sinilah lahir cinta yang sejati, bukan sebagai emosi yang bergelora, tetapi sebagai penerimaan total terhadap segala wujud sebagai pancaran dari Tuhan. Cinta menjadi bentuk tertinggi dari makrifat, sebab di dalamnya tak ada lagi “aku” dan “Engkau”; yang ada hanyalah satu kehadiran yang tak terpisah.

Perjalanan ini menuntut keberanian untuk hening di tengah hiruk-pikuk, untuk melihat ke dalam ketika dunia menyeret ke luar. Dalam hening itu, manusia menemukan bahwa Tuhan tidak datang dari luar sebagai cahaya yang menyinari, melainkan sebagai cahaya yang selama ini berdiam dalam diri, menunggu disingkap. Roso sejati adalah kunci untuk membuka tirai itu, dan ketika tirai tersingkap, yang tampak hanyalah ada sejati, yaitu hakikat yang selama ini dicari di luar, padahal bersemayam di inti kesadaran.

Dengan demikian, ada sejati dan roso sejati bukan dua hal yang terpisah, tetapi dua jalan yang saling menyingkap. Roso sejati adalah kesadaran yang bergerak dari dalam menuju kebenaran, sementara ada sejati adalah kebenaran itu sendiri yang menunggu untuk disadari. Dalam kesatuan keduanya, makrifat terjadi; bukan sebagai pencapaian, tetapi sebagai pengingatan kembali atas asal dan tujuan manusia. Pada akhirnya, siapa yang benar-benar mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhan, karena diri sejati bukan lain dari pancaran ada sejati itu sendiri. Pak Yai menutup wejanannya kepada Santri dengan satu kalimat kunci bahwa “Keberadaan “Ada Sejati” itu lebih dekat dari urat lehermu, DIA hanya bisa kau kenali dengan “roso sejati” mu. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly

 

Cahaya Ilahi di Balik Kesederhanaan dan Kebersamaan Para Jaula Ijtima di Kota Baru

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

TIGA HARI LALU, Herman Batin Mangku (HBM) sebagai jurnalis senior turun meliput persiapan Ijtima Akbar Dunia yang akan dilaksanakan akhir bulan ini. Karya jurnalistik itu terasa sekali “dagingnya”, karena disajikan oleh orang yang memang profesional pada bidangnya. Dan, atas tanggungjawab moral jualah tulisan ini ingin disumbangkan untuk melengkapinya dari sisi lain.

Pertemuan anggota organisasi Islam yang bercirikan jaula dan berjumlah ribuan orang tentu akan menghadirkan suasana yang berbeda dari sekadar kumpul-kumpul biasa. Jaula dalam konteks ini dapat dipahami sebagai sisi manusia yang selalu merasa diri masih perlu dibimbing, diarahkan, dan disempurnakan akhlaknya.

Dan, tentu ini suatu sikap mulia. Ribuan manusia yang akan datang dengan berbagai latar, pemikiran, pengalaman, dan tingkat pemahaman menjadi potret nyata bahwa perjalanan spiritual umat tidak pernah seragam. Justru dalam keragaman inilah terhampar pelajaran bahwa Islam mengajarkan proses, bukan hanya hasil.

Sudah bisa dibayangkan sejak persiapan awal acara, suasana sudah dipenuhi energi spiritual yang kuat. Bisa dibayangkan ribuan suara yang akan menyatu dalam lantunan doa menghadirkan getaran kebersamaan yang tidak mudah dilukiskan dengan kata-kata.

Meski ribuan orang akan berkumpul dalam satu tempat, tentu ketertiban tetap terjaga karena rasa hormat dan kesadaran kolektif bahwa momen tersebut merupakan bagian dari ibadah dan pencarian makna hidup. Setiap langkah yang diambil menuju tempat pertemuan serupa ini seakan menjadi simbol perjalanan menuju cahaya, meninggalkan segala keraguan dan kekeliruan diri yang selama ini menghambat perbaikan jiwa.

Pertemuan besar seperti ini tentu selalu memiliki ciri khas tersendiri. Aroma persaudaraan akan menyebar begitu kuat, membuat setiap orang merasa dekat meski sebelumnya tidak saling mengenal. Banyak yang datang dengan membawa beban kehidupan, ada yang memikul keresahan batin, ada pula yang sekadar ingin memperbaiki diri.

Namun, ketika duduk bersama dalam satu majelis, semua perbedaan itu melebur menjadi satu niat: mempertebal iman dan memperbaiki akhlak. Di sinilah letak keindahan sebuah organisasi Islam; kemampuannya menyatukan hati tanpa memandang kedudukan atau tingkat pemahaman.

Jahula sebagai ciri yang dibawa oleh anggota bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi justru menjadi bagian dari dinamika pembelajaran. Dalam setiap manusia pasti ada sisi yang perlu dihaluskan. Pertemuan ribuan orang ini, akan mencerminkan bahwa mengakui kelemahan adalah langkah awal menuju perbaikan.

Tidak ada yang datang sebagai sosok paling sempurna; semua hadir sebagai insan yang masih belajar mengenal Tuhannya. Hal inilah yang kemudian membuat suasana semakin hangat, karena setiap orang melihat dirinya sebagai bagian dari proses kolektif menuju kebaikan. Dan, ini yang terbaca saat HBM mendatangi lokasi pertemuan.

Salah satu kekhasan lain dari pertemuan tersebut ialah akan adanya dialog batin yang tercipta tanpa harus melalui kata-kata. Banyak yang akan merasa tersentuh hanya dengan melihat ribuan manusia lainnya yang juga tengah berusaha menjadi pribadi lebih baik.

Pesan-pesan moral yang akan disampaikan selama kegiatan, baik melalui kajian maupun renungan bersama, akan terasa masuk lebih dalam karena disampaikan dalam suasana yang penuh ketulusan.

Momen seperti ini membuat setiap individu merasa diingatkan bahwa hidup bukan sekadar mengejar dunia, melainkan memperbaiki diri agar semakin dekat dengan nilai-nilai Ilahiah.

Pada saat pembahasan mengenai pentingnya keikhlasan, tentu suasana majelis akan menjadi sangat hening. Semua mata akan tertuju ke podium, tetapi sesungguhnya perhatian mereka lebih tertuju ke dalam hati masing-masing.

Dalam keheningan seperti itu, akan banyak yang menyadari bahwa ketulusan tidak lahir begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan pergulatan batin. Dengan akan melihat ribuan orang yang sama-sama berjuang, seseorang akan merasa lebih kuat karena ia tidak berjalan sendirian. Kesadaran ini akan menjadi bagian dari hikmah pertemuan besar semacam itu.

Selain itu, semangat ukhuwah Islamiyah sudah begitu terasa dari saat persiapan dan akan berlanjut dalam interaksi sederhana, seperti berbagi makanan, saling memberi tempat duduk, hingga menegur-sapa satu sama lain dengan penuh adab.

Semua itu menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya diajarkan melalui ceramah, tetapi juga melalui tindakan nyata. Justru tindakan-tindakan kecil itulah yang paling mudah membuka pintu hati. Ketika ribuan orang melakukan kebaikan kecil secara serempak, dampaknya akan berubah menjadi gelombang spiritual yang sangat dahsyat.

Pertemuan besar ini juga mengingatkan setiap kita bahwa dakwah tidak harus selalu dilakukan oleh orang yang sudah sempurna. Dakwah yang paling menyentuh justru adalah dakwah yang muncul dari kesadaran bahwa diri sendiri masih penuh kekurangan. Dari sini, terbentuklah rasa rendah hati kolektif yang mendorong setiap orang untuk terus memperbaiki diri tanpa merasa lebih mulia dari yang lain. Sikap seperti ini sangat penting untuk menjaga keharmonisan organisasi.

Pada akhirnya, pertemuan ribuan anggota organisasi Islam yang bercirikan jaula ini akan menjadi cermin bahwa perjalanan menuju kesempurnaan iman adalah perjalanan bersama, bukan perjalanan individu. Dalam kebersamaan tersebut, cahaya persaudaraan memancar begitu kuat, menghapus segala jarak, dan menguatkan tekad untuk terus berjalan di jalan yang diridai.

Pertemuan ini bukan hanya acara, tetapi momentum spiritual yang menyatukan hati-hati yang sedang mencari jalan pulang kepada Tuhannya. Semoga cahaya itu terus terjaga, menerangi setiap langkah menuju kehidupan yang penuh berkah dan kedamaian. Dan, tentu diharapkan akan memberikan dampak positif kepada seluruh warga Provinsi Lampung pada khususnya.

Terimakasih juga disampikan pada HBM yang dengan setia mengawal kegiatan ini secara jurnalistik. Sihat selalu Kolpah. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Ketika Hati Menemukan Jalan Pulang

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Suatu sore setelah Ashar di serambi sebuah pesantren yang teduh, seorang santri muda duduk bersimpuh di hadapan kiainya. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah seusai hujan, sementara daun-daun bergesekan lembut di atas genting. Dengan suara lirih, santri itu bertanya kepada Kiai, …“Kiai, mengapa hati manusia sering gelisah meski telah banyak berdoa dan beribadah?”.. Sang kiai menatap wajah santri, lalu memandang jauh ke langit senja yang merona. Ia menarik napas dalam-dalam dan menjawab dengan lembut, …“Karena hatimu, Nak, belum menemukan jalan pulang. Manusia sering tersesat dalam keinginan dan ketakutan, hingga lupa bahwa damai sejati hanya muncul saat hati tertata dan siap menerima setiap ujian, bahkan kematian.”… Hening sejenak menyelimuti keduanya, seolah waktu ikut menunduk, memberi ruang bagi jiwa untuk merenung.

Kalimat yang berbunyi “Ketika hati menemukan jalan pulang”, ini menunjuk pada situasi dimana manusia tidak lagi hidup dalam kegelisahan tanpa ujung. Ia mulai memahami bahwa hidup bukan perlombaan untuk memiliki sebanyak mungkin, melainkan perjalanan untuk memahami arti kehilangan. Dalam pemahaman itu, manusia belajar menata hatinya, diantaranya adalah menerima perubahan, mengampuni masa lalu, dan berdamai dengan ketidaksempurnaan. Penataan hati bukan sekadar upaya moral, tetapi tindakan eksistensial yang lahir dari kesadaran bahwa setiap hal yang datang pasti akan pergi. Dengan menata hati, manusia sedang melatih dirinya untuk tidak gentar menghadapi kefanaan.

Kematian, yang sering dianggap sebagai momok menakutkan, sebenarnya hanyalah kepulangan yang tak terhindarkan. Ketika hati belum tertata, kematian tampak seperti jurang gelap yang menelan segala makna. Namun bagi hati yang tenang, kematian menjadi seperti senja yang lembut, sebagai penutup yang indah bagi hari yang telah penuh cerita. Menemukan jalan pulang berarti menemukan cara untuk menatap kematian dengan damai, karena hati telah memahami bahwa yang berakhir hanyalah bentuk, sementara makna tetap berdenyut di ruang yang tak terjangkau waktu.

Manusia sering tersesat karena terlalu sibuk menatap ke luar, mengejar citra, kedudukan, dan bahkan pengakuan, hingga lupa menengok ke dalam. Padahal, di sanalah jalan pulang sejati berada. Di dalam diri, terdapat ruang sunyi yang tidak tersentuh oleh hiruk-pikuk dunia, tempat segala kebisingan berhenti, dan manusia dapat mendengar suara yang paling jernih: suara hatinya sendiri. Namun untuk sampai ke ruang itu, diperlukan keberanian yang besar, keberanian untuk menghadapi kesepian, luka, dan bayangan diri yang selama ini dihindari.

Menemukan jalan pulang bukanlah perjalanan yang cepat. Ia menuntut keheningan, kejujuran, dan kesediaan untuk melepaskan. Melepaskan bukan berarti menyerah, melainkan membebaskan diri dari hal-hal yang menjerat jiwa. Dalam setiap kehilangan, manusia diajak untuk melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perpisahan. Ia belajar bahwa melepaskan adalah bagian dari mencintai, bahwa dalam setiap akhir ada kesempatan untuk menemukan makna baru. Hati yang mampu melepaskan tidak lagi terbelenggu oleh masa lalu, melainkan terbuka menerima segala yang datang dengan lembut.

Ketika hati tertata, waktu tak lagi terasa sebagai ancaman, melainkan anugerah. Setiap detik menjadi kesempatan untuk hidup sepenuhnya, bukan untuk menumpuk pencapaian, tetapi untuk menebarkan kebaikan. Hidup tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, tetapi sebagai ruang untuk mengalami kehadiran yang sejati. Dalam kesadaran ini, manusia mulai menyadari bahwa jalan pulang bukan terletak di ujung kehidupan, tetapi hadir di setiap langkah yang dijalani dengan kesadaran penuh.

Hati yang menemukan jalan pulang adalah hati yang tidak lagi takut kehilangan. Ia tahu bahwa segala sesuatu yang dicintainya suatu saat akan berubah bentuk, namun tidak benar-benar lenyap. Cinta, kebaikan, dan keikhlasan akan tetap hidup, bahkan setelah tubuh berhenti bernapas. Maka, kematian bukanlah pemisahan, melainkan kelanjutan dari perjalanan menuju bentuk keberadaan yang lain. Dalam pandangan ini, hidup dan mati tidak lagi bertentangan, tetapi saling melengkapi seperti siang dan malam yang bergantian menjaga keseimbangan alam.

Pulang, dalam makna terdalam, adalah kembalinya manusia pada kesadaran akan dirinya yang sejati. Ia tak lagi dikuasai oleh ego yang menuntut pengakuan, tak lagi terikat oleh keinginan yang tak pernah puas. Ia telah belajar bahwa kebahagiaan tidak terletak pada memiliki, melainkan pada menjadi. Menjadi hadir, menjadi damai, menjadi cinta. Dalam keadaan itu, hati tidak lagi berkelana tanpa arah, sebab ia telah tiba di tempat yang paling hakiki: kedamaian dalam diri sendiri.

Mungkin jalan pulang tidak selalu mulus. Ada luka, kecewa, dan penyesalan yang harus dilalui. Namun justru di sanalah makna perjalanan itu tumbuh. Tanpa luka, manusia tidak akan tahu makna penyembuhan. Tanpa kehilangan, ia tidak akan mengerti nilai dari kehadiran. Hati yang matang adalah hati yang telah melewati badai dan tetap mampu mencintai dunia dengan kelembutan. Ia tidak lagi menuntut kehidupan agar sempurna, karena ia tahu bahwa kesempurnaan sejati hanya ada dalam penerimaan total terhadap yang tidak sempurna.

Dan, pada akhirnya, ketika hati benar-benar menemukan jalan pulang, manusia tidak lagi berusaha melarikan diri dari kematian. Ia justru menyambutnya dengan ketenangan yang mendalam, seperti seseorang yang kembali ke rumah setelah perjalanan jauh. Tidak ada lagi kegelisahan, hanya rasa syukur bahwa hidup telah dijalani dengan penuh makna. Di saat itu, kematian bukanlah kehilangan, melainkan kepulangan ke pelukan keabadian.

Ketika hati menemukan jalan pulang, hidup dan mati berhenti menjadi dua hal yang terpisah. Keduanya melebur menjadi satu pengalaman keberadaan yang utuh. Hidup menjadi doa yang berjalan, dan mati menjadi jeda dalam keheningan yang suci. Di sana, manusia akhirnya mengerti bahwa semua pencarian yang panjang di dunia ini sebenarnya hanyalah upaya untuk kembali, yaitu kembali pada hati yang damai, pada diri yang sejati, pada sumber segala kehidupan. Dan ketika hati telah sampai di sana, maka tak ada lagi yang perlu dicari, sebab ia telah benar-benar pulang. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Menafsir Roso Sejati

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Malam itu suasana di suatu pesantren begitu hening. Hanya suara jangkrik yang menemani para santri yang tengah mengulang hafalan di serambi masjid. Seorang santri muda yang terkenal cerdas dalam angkatannya; menghampiri kiai yang sedang duduk di beranda, ditemani secangkir teh hangat dalam keremangan lampu yang memang berkapasitas kecil.

Santri dengan sikap takzim berkata: ..“Kiai, mengapa hati saya sering gelisah? Saya sudah belajar, berzikir, dan berusaha taat, tapi tetap saja terasa ada yang kosong di dalam diri.”
Kiai dengan senyum khasnya, sambil membenahi sorban yang terlilit dilehernya menjawab: …“Nak, apa yang kau cari bukan di luar dirimu. Ketenangan itu lahir dari rasa yang sejati, bukan dari banyaknya amal atau pengetahuan.”…

Santri muda tadi penasaran, dengan takzimnya dia bertanya lanjut: …“Apakah yang panjenengan maksud dengan rasa sejati itu, Kiai ?”…
Kiai menjawab dengan disertai senyuman ikhlas di bibirnya: …“Roso sejati itu Nak. Ia adalah getar halus dalam hati ketika engkau benar-benar sadar akan kehadiran Gusti Allah. Ia tak bisa kau hafalkan, hanya bisa kau rasakan dalam keheningan yang jujur terhadap dirimu sendiri.”…

Santri itu terdiam, menundukkan kepala. Di tengah sunyi malam pesantren, ia mulai memahami bahwa pelajaran terpenting bukan hanya di kitab yang terbuka di pangkuannya yang dia hafalkan setiap hari itu saja, karena semua itu adalah baru media untuk mengenal apa yang ada di dalam batinnya sendiri.

Selanjutnya Mbah Yai menjelaskan panjang lebar disertai dalil yang sangat dikuasainya. Dan jika diringkas secara harfiah penjelasannya demikian;
Di tengah arus kehidupan yang kian ramai ini, manusia sering kehilangan arah batinnya. Ia berlari mengejar banyak hal, seperti; kekuasaan, harta, penghormatan, ilmu pengetahuan. Namun setelah semua itu diraih, masih saja ada ruang kosong yang tak terisi. Kekosongan itu sesungguhnya adalah panggilan dari dalam, panggilan untuk kembali mengenal jati diri yang sejati. Dalam istilah Jawa, keadaan ini disebut roso sejati: rasa batin yang telah kembali ke asalnya, bening dan tenang, bebas dari kabut keakuan dan nafsu dunia.

Roso sejati bukan sekadar perasaan halus, bukan pula kelembutan emosional semata. Ia adalah kesadaran yang jernih, di mana seseorang mampu merasakan kehadiran yang tak kasat mata namun nyata dalam setiap denyut kehidupan. Di dalam diri manusia ada ruang yang sunyi, lebih dalam dari pikiran dan lebih halus dari kata-kata. Di sanalah roso sejati bersemayam, menunggu untuk disadari. Untuk bisa menyentuhnya, seseorang harus berani berjalan ke dalam dirinya sendiri, menyingkap lapisan demi lapisan yang menutupi hati, hingga tiba pada inti kesadaran yang paling murni.

Dalam keheningan hati, manusia mulai menemukan arah. Ia menyadari bahwa hidup bukan sekadar pergerakan lahiriah, melainkan perjalanan menuju pemahaman yang utuh tentang diri dan kehidupan. Ketika hati mulai jernih, dunia pun tampak berbeda. Segala peristiwa, baik pahit maupun manis, dilihat bukan sebagai ujian yang menakutkan, tetapi sebagai bagian dari irama kehidupan yang harus dijalani dengan sabar. Dari sini muncul ketenangan; bukan karena dunia menjadi mudah, tetapi karena hati telah mengerti cara menerima.

Perjalanan menuju roso sejati menuntut laku yang tekun. Seseorang harus belajar menundukkan keakuannya, menahan diri dari dorongan untuk selalu merasa benar, dan menggantinya dengan kerendahan hati. Dalam diam yang disertai kesadaran, manusia belajar mengingat asalnya. Ia mulai menyadari bahwa setiap hembusan napas adalah anugerah, setiap gerak adalah titipan. Dalam kesadaran semacam ini, hidup menjadi ibadah yang tenang, tanpa perlu banyak kata, tanpa perlu banyak tanda.

Roso sejati membuat seseorang hidup dengan hati yang lembut. Ia tidak mudah marah, tidak mudah iri, tidak gemar menilai. Ia memandang sesama bukan dengan mata dunia, melainkan dengan rasa yang penuh kasih. Ia menebar kebaikan tanpa pamrih, karena hatinya telah dipenuhi oleh rasa syukur yang tulus. Dalam kesehariannya, ia menjadi cahaya kecil yang menenangkan siapa pun di sekitarnya. Dari hati yang damai lahir perilaku yang damai, sebab perilaku adalah cermin dari keadaan batin.
Namun, roso sejati tidak dapat diraih melalui pengetahuan semata. Ia tumbuh dari pengalaman batin yang dilalui dengan kesungguhan dan kesabaran.

Banyak orang mencari kedamaian di luar dirinya, padahal sumbernya ada di dalam. Hati yang masih diselimuti amarah, iri, dan dendam tidak akan mampu merasakan roso sejati. Ia seperti air yang keruh; tak mampu memantulkan cahaya. Maka tugas manusia adalah membersihkan wadah hatinya, hingga bening dan mampu merefleksikan kebenaran. Ketika bening itu muncul, ia akan melihat bahwa segala sesuatu itu sesungguhnya adalah satu didalam rahmat-Nya.
Dalam keadaan demikian, hidup menjadi sederhana. Seseorang tetap bekerja, berkeluarga, bergaul dengan dunia, tetapi tidak lagi diperbudak oleh keinginan dan ketakutan.

Ia menjalani hidup dengan tenang, sebab roso sejatinya telah memimpin jalan hidupnya. Tidak ada lagi pertentangan antara dunia dan batin, antara lahir dan makna. Semua menyatu dalam harmoni yang sunyi.
Roso sejati pada akhirnya bukan sesuatu yang jauh. Ia tidak berada di langit tinggi atau di balik rahasia gaib. Ia ada di sini, di dalam diri yang sadar. Dalam setiap tarikan napas yang dihayati dengan penuh kehadiran, dalam setiap kesadaran yang jujur terhadap hidup, di sanalah roso sejati berbisik lembut: “Pulanglah.” Siapa yang mampu mendengar bisikan itu dengan sepenuh hati, akan menemukan kedamaian yang tak lagi bergantung pada apa pun. Ia telah menafsir hidup, dan menemukan makna terdalamnya, ya roso sejati itu sendiri. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Bayang-Bayang di Balik Mahkota

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Pada 10 November 2025, di media ini Syarief Makhya, seorang Guru Besar Universitas negeri terkenal di negeri ini, mengemukakan pendapatnya dengan lugas, tegas dan mendasar tentang diberikannya gelar pahlawan nasional kepada seorang tokoh negeri ini.

Uraian beliau sangat mendasar dari segi moral kepemerintahan, sesuai bidang keahliannya. Tergerak pikir untuk menambahi tulisan itu, tetapi dari sudut Filsafat Kontemporer; tentu bukan bertujuan untuk memposisikan diri setuju atau tidak; namun ingin menyuguhkan pikiran lain sebagai pelengkap; itupun dengan bahasa kiasan agar menjadi lebih enak dipahami dengan rasa sejati.

Pada kisah pewayangan model Jawa selalu ada sosok yang lahir dari ambisi dan kekuasaan, yang langkahnya menorehkan jejak ganda; antara kemakmuran dan kehancuran. Ia bukan sekadar manusia, tetapi simbol dari paradoks peradaban: tangan yang menanam padi adalah tangan yang sama menumpahkan darah. Ia diingat dengan dua wajah; satu bercahaya, satu berjelaga; dan di sanalah filsafat kontemporer menemukan ruangnya untuk merenung tentang makna kepahlawanan, kekuasaan, dan moralitas.

Sebagai contoh dalam pewayangan, sang penguasa yang memimpin Hastina pernah diyakini sebagai titisan dewa. Ia memerintah dengan wibawa dan ketegasan, menata negeri dari puing menjadi taman. Di bawah kepemimpinannya, rakyat mengenal tertib, ladang berbuah, jalan-jalan terbuka, dan langit negeri tampak teduh. Namun di balik kedamaian yang tampak, tersimpan kisah tentang darah yang jatuh di antara bayang-bayang malam, tentang mereka yang hilang suara karena dianggap mengganggu harmoni.

Jika dibaca dengan kacamata filsafat kontemporer, kisah ini menyingkap pertanyaan mendasar tentang etika kekuasaan. Michel Foucault, misalnya, pernah menulis bahwa kekuasaan tidak hanya beroperasi melalui kekerasan, tetapi juga melalui produksi kebenaran. Sang penguasa Hastina, dalam konteks ini, bukan sekadar raja, melainkan arsitek dari narasi besar yang menjadikan dirinya pusat dari makna “ketertiban”. Dalam tangannya, kata “damai” bisa berarti “diam”, dan “setia” tetapi bisa juga berarti “tak boleh bertanya”.

Namun manusia, betapapun besar kuasanya, tidak dapat menghapus jejak paradoks eksistensialnya. Kierkegaard mungkin akan menyebutnya sebagai “keputusasaan dalam keagungan”, manakala seseorang menjadi begitu besar hingga kehilangan dirinya sendiri. Ia mencintai negerinya dengan cara yang keras, menegakkan kesatuan dengan memotong keragaman, dan menanam rasa aman dengan menutup pintu kebebasan. Maka lahirlah ironi: negeri yang makmur tapi takut, rakyat yang tunduk tapi tak sepenuhnya percaya.

Ketika masa berlalu dan sejarah mulai mengendap, muncul perdebatan tentang layakkah sang penguasa ini disebut pahlawan. Filsafat kontemporer tidak mencari jawaban hitam-putih; ia mengajak kita melihat pahlawan bukan sebagai patung, tetapi sebagai proses pemaknaan. Jean-Paul Sartre mengatakan manusia adalah makhluk yang selalu dalam “proyek menjadi”, oleh karena itu ia tidak pernah selesai. Maka, mungkin kepahlawanan pun bukan status yang abadi, melainkan tafsir yang terus berubah bersama kesadaran zaman.

Pada bayangan pewayangan, sang penguasa Hastina dapat dipandang seperti Duryudana atau bahkan Karna sekalipun sebagai tokoh yang berjuang dengan niat luhur, namun terperangkap dalam struktur kekuasaan dan dendam sejarah. Mereka tidak sepenuhnya jahat, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Mereka berada dalam ruang abu-abu di mana moralitas dan kebutuhan politik saling membelit. Ketika rakyat lapar, mereka memberi makan; ketika rakyat berteriak, mereka membungkam. Dalam dialektika Hegelian, inilah antitesis dari kepahlawanan klasik: ketika tindakan yang menyelamatkan pada saat yang sama juga melukai.

Bagi filsafat etika, terutama dalam pandangan Hannah Arendt, persoalannya bukan hanya tentang siapa yang membunuh atau siapa yang menyelamatkan, melainkan bagaimana manusia mampu bertanggung jawab atas akibat dari tindakannya. Arendt mengingatkan bahwa kejahatan terbesar sering kali lahir bukan dari kebencian, melainkan dari ketaatan yang buta. Dalam kisah Hastina, banyak yang mengabdi karena cinta kepada tanah air, namun cinta itu menjelma menjadi alat untuk meniadakan yang berbeda.

Ketika masa penobatan tiba dan suara-suara mulai memuji, muncul kegelisahan di antara para bijak. Apakah kemakmuran yang lahir dari luka dapat disebut sebagai kebajikan? Apakah sejarah yang dibangun di atas penghapusan dapat dijadikan dasar bagi penghormatan? Filsafat tidak menolak penghargaan, tetapi mengingatkan bahwa setiap gelar adalah cermin: ia memantulkan bukan hanya sosok yang diberi, tetapi juga kesadaran moral mereka yang memberi.

Di dalam mitologi Jawa, setiap raja besar akhirnya harus berjalan menuju pertapaan, meninggalkan mahkota dan senjata. Ia harus menatap kembali dirinya tanpa gelar, tanpa pengawal, tanpa legitimasi. Di sanalah ia diuji: apakah yang tersisa hanyalah dosa kekuasaan, atau ada seberkas cahaya kebajikan yang benar-benar lahir dari niat tulus. Barangkali di titik itulah kita dapat memahami makna “pahlawan” bukan sebagai simbol kesempurnaan, melainkan sebagai medan pergulatan antara niat baik dan akibat buruk.

Maka, ketika zaman modern mengangkat kembali kisah sang penguasa Hastina dan menempatkannya di altar kehormatan, yang sejatinya diuji bukan hanya sosoknya, melainkan juga ingatan kolektif kita. Apakah kita telah dewasa dalam menilai sejarah? Ataukah kita masih takut menatap sisi gelap dari masa lalu karena cahayanya terlalu menyilaukan?

Pada akhirnya, mitologi mengajarkan bahwa setiap bayang selalu mengikuti cahaya. Tidak ada pahlawan tanpa dosa, dan tidak ada tiran tanpa alasan. Yang tersisa hanyalah kesadaran untuk terus bertanya: ketika darah dan bunga sama-sama tumbuh dari tanah yang sama, manakah yang lebih layak kita rawat—keindahannya atau lukanya? Jawabanya ada pada wilayah “Roso Sejati” yang kita punya. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Rezeki, Kehendak, dan Jalan Tuhan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Sore itu di serambi sebuah pesantren, ketika cahaya matahari mulai condong ke barat, seorang santri muda bertanya dengan raut ingin tahu kepada kiainya. “Kyai, mengapa ada orang yang tahu bahwa bersedekah itu baik, tapi tetap enggan melakukannya?”

Sang Kiai tersenyum, menatap lembut wajah santrinya, lalu menjawab pelan. “Nak, membelanjakan rezeki di jalan Allah bukan perkara tahu atau tidak tahu, tetapi perkara hati yang dibukakan oleh-Nya. Ada yang tahu tetapi tak mau. Ada yang mau tetapi tak mampu. Di situlah Allah menunjukkan kuasa-Nya…”

Pertanyaan sederhana itu kemudian menjadi awal perenungan panjang tentang manusia, rezeki, dan kebebasan hati.

Dalam kehidupan manusia, konsep rezeki sering dipahami sebagai anugerah yang datang dari Tuhan, sesuatu yang melampaui perhitungan manusia dan usaha rasionalnya. Namun, dalam kenyataan sehari-hari, cara manusia memperlakukan rezeki justru menjadi cermin dari sejauh mana kesadarannya tentang makna hidup, tujuan keberadaan, dan hubungannya dengan yang transenden.

Ketika dikatakan bahwa “membelanjakan rezeki ke jalan Tuhan tidak semua kita dibukakan hati,” maka di sana tersembunyi suatu kebenaran yang dalam tentang keterbatasan manusia dalam memahami dan menjalankan nilai-nilai kebaikan.

Banyak yang tahu apa yang baik, tetapi tidak mau melakukannya. Ada pula yang ingin berbuat baik, namun tidak mampu. Dalam ketimpangan antara pengetahuan, kehendak, dan kemampuan itulah, Tuhan menyingkapkan rahasia kuasa-Nya.

Manusia, sebagai makhluk berakal dan berkehendak, selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan moral. Ia dapat menggunakan rezeki, dalam bentuk harta, waktu, tenaga, maupun pengetahuan, untuk menegakkan kebaikan atau justru memuaskan hawa nafsunya. Namun, keputusan untuk membelanjakan rezki di jalan Tuhan tidak semata-mata hasil dari kesadaran rasional.

Ada dimensi batin yang lebih dalam: “pembukaan hati”. Hati yang terbuka kepada kebenaran adalah anugerah, bukan semata hasil usaha manusia. Oleh karena itu, ada manusia yang tahu apa yang benar, tetapi tidak mau melakukannya karena hatinya tertutup oleh keserakahan, ketakutan, atau egoisme. Ada pula yang memiliki hati yang tulus, namun tidak diberi kemampuan material untuk berbuat sebagaimana yang diinginkan. Di sinilah letak misteri kehendak ilahi dan keterbatasan manusia di hadapan-Nya.

Rezeki, dalam hal ini, bukan hanya soal kepemilikan material. Ia adalah simbol dari potensi yang Tuhan titipkan kepada manusia. Setiap bentuk kelebihan, entah harta, kemampuan berpikir, tenaga, atau bahkan waktu, merupakan bagian dari rezki. Ketika seseorang tidak mau membelanjakan rezekinya di jalan kebaikan, hal itu mencerminkan keterputusan antara dirinya dengan sumber makna yang sejati. Ia memandang rezeki sebagai miliknya, bukan titipan. Padahal, kesadaran bahwa segala sesuatu adalah titipan merupakan titik awal spiritualitas yang mendalam dari seseorang.

Di saat seseorang mampu melepaskan egonya dan menggunakan rezeki sebagai sarana pengabdian, ia sebenarnya sedang melampaui keterbatasan dirinya. Ia membebaskan dirinya dari cengkeraman kepemilikan yang palsu dan menemukan kebebasan sejati: kebebasan untuk memberi.

Namun, bagaimana dengan mereka yang ingin memberi tetapi tidak mampu? Di sini, filsafat manusia mengajarkan bahwa nilai moral tidak hanya diukur dari tindakan lahiriah, tetapi juga dari niat dan kesadaran batin. Kehendak untuk berbuat baik, meski tanpa kemampuan untuk melakukannya, sudah merupakan bukti dari hati yang terbuka.

Dalam ranah eksistensial, kehendak itu sendiri adalah bentuk pengakuan terhadap nilai kebaikan yang melampaui kepentingan pribadi. Tuhan, dalam kebijaksanaan-Nya, memperhitungkan bukan hanya hasil, tetapi juga keikhlasan yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Maka, dalam keterbatasan seseorang yang tidak mampu, justru tampak keindahan iman: sebuah penerimaan bahwa dirinya tidak berkuasa atas segala hal, dan bahwa segala sesuatu bergantung pada kasih dan kehendak Tuhan.

Sementara itu, bagi mereka yang memiliki kemampuan namun tidak mau menggunakannya untuk kebaikan, di situlah tampak sisi gelap kebebasan manusia. Mereka tahu, tetapi tidak mau. Pengetahuan tanpa tindakan melahirkan kehampaan moral. Manusia semacam ini hidup dalam ilusi kebebasan, padahal sesungguhnya diperbudak oleh keinginan dan ketakutannya sendiri. Ia menolak jalan Tuhan bukan karena tidak tahu, melainkan karena enggan menundukkan diri. Dari sudut pandang filsafat eksistensial, ini adalah bentuk keterasingan tertinggi: manusia yang kehilangan makna karena menolak sumber makna itu sendiri.

Pada tatanan semesta yang lebih luas, perbedaan antara yang tahu tetapi tidak mau, yang mau tetapi tidak mampu, dan yang mampu serta mau, menunjukkan bahwa kehidupan manusia adalah ruang bagi perwujudan berbagai kemungkinan eksistensi. Tuhan menunjukkan kuasa-Nya dengan menempatkan manusia pada posisi-posisi yang berbeda agar dari setiap keadaan itu muncul pelajaran dan kesadaran baru.

Yang tahu tetapi tidak mau diingatkan akan kesombongannya, yang mau tetapi tidak mampu diuji keikhlasannya, dan yang mampu serta mau diberi kesempatan untuk menegakkan kebaikan dan menjadi saluran rahmat bagi sesamanya. Dalam keberagaman nasib dan kemampuan itulah, tersingkap keadilan yang lebih tinggi: bahwa setiap manusia diberi ruang untuk menemukan makna hidupnya masing-masing.

Membelanjakan rezeki di jalan Tuhan, pada akhirnya, bukan sekadar tentang memberi secara material. Ia adalah perjalanan menuju pemurnian diri. Ketika seseorang rela melepaskan sebagian dari yang ia cintai demi kebaikan, ia sedang melatih dirinya untuk tidak diperbudak oleh benda. Ia belajar tentang makna keberadaan yang sejati; bahwa hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang dikumpulkan, melainkan dari seberapa banyak yang dapat diberi. Dalam proses memberi itu, manusia menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari kepemilikan, melainkan dari kesatuan dengan sumber kebaikan itu sendiri.

Pada titik itu, rezeki menjadi jembatan antara manusia dan Tuhan. Ia bukan lagi sekadar harta atau sumber daya, tetapi sarana penyadaran diri. Hati yang terbuka akan memahami bahwa memberi adalah bentuk tertinggi dari menerima. Sebab, dalam memberi, manusia menegaskan kembali hakikat dirinya sebagai makhluk yang diciptakan untuk mencintai dan berbuat baik. Sebaliknya, hati yang tertutup akan terus memandang rezeki sebagai milik pribadi, dan dari situlah muncul kesempitan hidup meski dalam kelimpahan.

Maka, ketika kita melihat bahwa tidak semua dibukakan hati untuk membelanjakan rezeki di jalan Tuhan, janganlah kita tergesa menghakimi. Sebab di balik setiap hati yang tertutup atau setiap tangan yang kosong, Tuhan sedang menunjukkan sisi lain dari keadilan dan kasih-Nya.

Ia mengajarkan bahwa kebaikan bukanlah hasil dari kemampuan semata, tetapi buah dari kesadaran yang dibimbing oleh rahmat. Di antara tahu, mau, dan mampu, manusia terus berjalan, berjuang memahami dirinya dan mencari jalan pulang menuju sumber segala kebaikan. Di situlah filsafat kehidupan menemukan maknanya: bahwa dalam setiap keterbatasan, selalu ada ruang bagi Tuhan untuk menampakkan kuasa dan kasih-Nya. Terimakasih untuk orang-orang baik. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Ketika Rencana Bertemu Takdir

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Menjadi rutinitas setelah duduk dua jam lebih, maka guna menjaga kebugaran tubuh, karena memang sudah tidak muda lagi, aktivitas rutine mengelilingi separoh lantai lima Gedung Rektorat, sambil ketoilet. Entah hari itu tidak begitu bersemangat, berjalan sedikit gontai. Ternyata diujung sana ada seorang yunior, lelaki bergas, tampan, dan pandai; sedang berdiri gotai bersandar kepagar. Tatkala melewati yang bersangkutan, orang muda ini sedikit menyergah untuk sedikit berbincang. Ternyata beliau sedang dalam posisi “tidak baik-baik” saja, karena hampir separoh rencana kerjanya berantakan. Beliau bertanya dengan pertanyaan filosofis, lengkapnya “…Profesor, mengapa rencana itu terlalu sering tidak jumbuh dengan takdir ?..”. tentu pertanyaan berat ini harus diuraikan panjang kali lebar dan dalam.

Manusia adalah makhluk yang berpikir, merencanakan, dan berharap. Dalam setiap langkah hidupnya, manusia menata masa depan dengan penuh kesungguhan, seolah nasibnya dapat dibentuk sepenuhnya oleh kekuatan kehendak dan kecerdasannya. Namun, sering kali kenyataan menunjukkan bahwa sehebat apa pun rencana yang disusun dengan teliti, selalu ada ruang bagi hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Kalimat “Sehebat apa pun rencanaanmu akan kalah dengan takdirmu” mencerminkan pergulatan eksistensial manusia antara keinginan untuk mengatur kehidupan dan kesadaran akan keterbatasan di hadapan kekuatan yang melampaui dirinya.

Ketika manusia membuat rencana, ia sebenarnya sedang menegaskan eksistensinya sebagai makhluk yang sadar dan berkehendak. Ia menolak pasrah terhadap arus kehidupan yang acak. Rencana menjadi bentuk perjuangan untuk menata kekacauan menjadi keteraturan, memberi makna pada hidup yang seolah tidak menentu. Dalam tindakan merencanakan, manusia menegaskan dirinya sebagai subjek yang ingin menentukan arah hidupnya sendiri. Namun, pada saat yang sama, ketika rencana-rencana itu gagal atau berubah, manusia diingatkan akan realitas bahwa dirinya bukan penguasa tunggal atas hidup ini. Ia hanyalah bagian kecil dari keseluruhan semesta yang bekerja dengan hukum-hukum dan misteri yang tidak seluruhnya dapat dijangkau.

Takdir itu hadir sebenarnya bukan sebagai bentuk pengekangan, melainkan sebagai cermin dari keterbatasan manusia. Dalam setiap kegagalan rencana, terdapat kesempatan untuk merenungi makna eksistensi itu sendiri. Mengapa manusia merencanakan? Mengapa manusia kecewa ketika rencananya gagal? Karena di balik rencana itu ada harapan akan kendali dan kepastian. Namun, hidup menolak untuk sepenuhnya dikendalikan. Ketika takdir melampaui rencana, manusia belajar tentang kerendahan hati dan penerimaan. Ia mulai memahami bahwa kebijaksanaan tidak selalu berarti kemampuan menguasai segalanya, melainkan kesadaran untuk berdamai dengan hal-hal yang tak bisa dikendalikan.

Manusia yang hanya berpegang pada rencana cenderung terjebak dalam ilusi kontrol. Ia menganggap dunia sebagai sesuatu yang sepenuhnya dapat diprediksi dan diatur. Padahal, dalam pengalaman konkret, justru peristiwa yang tidak direncanakan sering kali membawa perubahan besar dalam hidup. Banyak perjumpaan, peluang, atau kesadaran baru muncul justru dari hal-hal yang tidak pernah masuk dalam skema perencanaan. Dari sini dapat dipahami bahwa ketidakpastian bukan semata musuh, melainkan ruang kebebasan tempat manusia menemukan dimensi terdalam dari keberadaannya.

Namun, menerima takdir bukan berarti menyerah. Penyerahan tanpa kesadaran hanyalah bentuk keputusasaan. Sebaliknya, penerimaan yang sejati adalah pengakuan bahwa manusia berhak berusaha, tetapi hasil akhirnya tidak selalu berada dalam genggamannya. Di sinilah keseimbangan antara kehendak dan kepasrahan menemukan bentuknya. Manusia perlu merencanakan hidupnya dengan sungguh-sungguh karena melalui rencana itu ia mempraktikkan kebebasannya. Tetapi ia juga harus siap menghadapi kenyataan bahwa setiap rencana memiliki kemungkinan untuk gagal. Dalam kegagalan itu, manusia belajar tentang arti ikhlas, yaitu sebuah sikap yang tidak berarti berhenti berjuang, melainkan tetap berusaha sambil menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kehendaknya sendiri.

Ketika seseorang berkata bahwa sehebat apa pun rencanamu akan kalah oleh takdirmu, hal itu bukanlah seruan untuk berhenti merencanakan. Sebaliknya, kalimat itu mengandung ajakan untuk menyadari bahwa hidup memiliki lapisan makna yang lebih luas daripada sekadar hasil. Rencana menunjukkan usaha manusia, sementara takdir menunjukkan rahasia kehidupan. Ketika keduanya dipahami secara seimbang, manusia tidak lagi merasa hancur ketika rencana gagal, karena ia tahu bahwa setiap kejadian, bahkan yang tidak diinginkan, membawa pesan yang dapat memperkaya jiwanya.

Pada akhirnya, manusia harus menerima kenyataan bahwa ia tidak dapat mengendalikan arah angin, tetapi ia dapat mengatur layar perahunya. Rencana adalah layar itu; bentuk konkret dari usaha manusia untuk mencapai tujuan. Takdir adalah angin yang menentukan arah perjalanan, kadang lembut, kadang kencang, kadang berlawanan dengan keinginan. Namun justru dalam perjumpaan antara layar dan angin itulah kehidupan menemukan maknanya. Jika hanya ada rencana tanpa takdir, hidup akan menjadi mekanis dan membosankan; jika hanya ada takdir tanpa rencana, hidup kehilangan arah dan makna.

“Sehebat apa pun rencanamu akan kalah dengan takdirmu” bukanlah kalimat yang mematikan semangat, melainkan pengingat agar manusia tetap rendah hati di hadapan misteri kehidupan. Ia mengajarkan bahwa dalam setiap usaha manusia untuk menata masa depan, selalu ada ruang bagi takdir untuk berbicara. Dan mungkin, justru di situlah letak keindahan hidup: pada ketidakpastian yang mengajarkan manusia untuk terus berusaha, berharap, dan sekaligus pasrah, karena pada akhirnya hidup bukan hanya tentang mencapai rencana, tetapi tentang bagaimana kita bertumbuh di antara kehendak dan ketentuan. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Konsep “Ada Sejati” Dalam Filsafat Kontemporer

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Cuaca pagi menjelang siang dihiasi mendung tebal, cuaca dingin tak berkesudahan. Namun, “Tidak” di ruang kerja penulis. Justru diskusi hangat sedang terjadi dengan seorang dosen yang berlabel diri penguat berfikir akal sehat. Kali ini topik perbincangan ada pada wilayah “Ada”, dengan sudut kajian filsafat manusia. Karena diskusi seperti ini hanya menhabiskan waktu dan kopi bagi mereka yang tidak paham, tetapi bagi kami diskusi ini menarik karena sering terjadi kajian lintas berfikir. Jika dibentang singkat, dan diambil sari patinya; maka diskusi tadi memiliki ringkasan seperti ini; Manusia sejak awal keberadaannya selalu dihantui pertanyaan tentang apa artinya “ada”.

Dalam setiap renungan, dalam setiap pergulatan dengan hidup, tersembunyi kerinduan untuk memahami sesuatu yang lebih dari sekadar bentuk dan peristiwa. Pertanyaan itu tidak pernah selesai, sebab “ada” bukan sekadar pernyataan bahwa sesuatu eksis, melainkan misteri tentang bagaimana segala sesuatu memperoleh makna keberadaannya. Di sinilah muncul gagasan tentang “Ada Sejati”; keberadaan yang tidak bersyarat, tidak bergantung pada apa pun, dan menjadi dasar dari segala wujud.

Ketika manusia menatap dunia, ia melihat perubahan yang tiada henti. Segalanya muncul dan lenyap, tumbuh dan punah, datang dan pergi. Namun di balik arus perubahan itu, selalu ada intuisi bahwa sesuatu yang tetap menopang seluruh proses itu. Seperti samudra yang tenang di balik ombak, “Ada Sejati” menjadi dasar dari setiap bentuk keberadaan, meski ia sendiri tidak berwujud. Ia bukan benda, bukan pikiran, bukan konsep, tetapi sesuatu yang memungkinkan semua itu ada. Maka, berbicara tentang “Ada Sejati” bukanlah berbicara tentang objek yang bisa dipahami, melainkan tentang sumber yang membuat pemahaman itu mungkin.

Manusia modern sering kali terperangkap dalam pemahaman yang terpisah antara subjek dan objek, antara diri dan dunia. Pengetahuan dianggap hanya sah jika diukur, diklasifikasi, dan dijelaskan melalui kategori yang pasti. Namun pandangan semacam itu, betapapun berguna, sering menutupi keutuhan keberadaan. Ketika budi manusia hanya bekerja sebagai alat analisis, ia memotong realitas menjadi potongan-potongan kecil yang terlepas dari makna keseluruhannya. Dalam keheningan reflektif, manusia menyadari bahwa realitas tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika pemisahan; yang dibutuhkan adalah kejernihan batin untuk mengalami keberadaan secara langsung. Di situlah jalan menuju “Ada Sejati” dimulai: bukan melalui penjelasan, melainkan melalui penghayatan.

Budi yang terasah adalah budi yang tidak lagi terikat oleh keserakahan, ketakutan, dan kepentingan, akan menjadi cermin bagi keberadaan. Ketika cermin itu jernih, keberadaan memantulkan dirinya tanpa distorsi. Dalam keadaan demikian, manusia tidak lagi memandang dunia sebagai kumpulan objek, tetapi sebagai kesatuan wujud yang menampakkan “Ada Sejati”. Tidak ada lagi jarak antara yang memandang dan yang dipandang; keduanya hanyalah denyut dari keberadaan yang satu. Inilah momen ketika budi menemukan kedamaian: saat menyadari bahwa dirinya bukan pusat dunia, melainkan bagian dari aliran keberadaan yang tak terpisahkan.

“Ada Sejati” tidak dapat dijangkau dengan kata-kata, sebab setiap bahasa selalu membatasi. Ia melampaui dualitas: bukan “ada” dan bukan “tiada” dalam pengertian biasa. Ia adalah dasar dari keduanya. Dalam perenungan mendalam, manusia mungkin mengalami bahwa di balik segala perubahan dan kesementaraan, ada kediaman yang tidak terguncang. Itulah “Ada Sejati” yaitu; keheningan yang tidak mati, kehadiran yang tak terkatakan. Dari keheningan itu, semua bentuk lahir, tumbuh, dan kembali. Maka “Ada Sejati” bukanlah sesuatu yang jauh atau asing; ia justru paling dekat, bahkan lebih dekat dari kesadaran manusia terhadap dirinya sendiri.

Dunia modern dengan segala kebisingan dan percepatannya sering membuat manusia kehilangan kedalaman penghayatan terhadap “ada”. Segalanya diukur dengan manfaat, efisiensi, dan kecepatan. Dalam keadaan itu, manusia menjadi makhluk yang bergerak tanpa arah, sibuk tanpa makna. Ia hidup di permukaan gelombang, tanpa sempat menyelami samudra keberadaan. Maka tugas filsafat, dan terutama tugas kesadaran manusia, adalah mengembalikan pandangan ke dasar samudra itu; ke keheningan yang memberi arti bagi semua gerak. Mengingat “Ada Sejati” berarti kembali mengingat siapa diri kita di dalam keseluruhan ini.

“Ada Sejati” bukanlah sesuatu yang harus dicapai, sebab ia selalu hadir. Yang hilang hanyalah kesadaran kita akan kehadirannya. Seperti langit yang tetap biru meski tertutup awan, “Ada Sejati” tetap ada meski kesadaran manusia tertutup oleh kabut pikiran dan emosi. Menemukannya bukan berarti menciptakan sesuatu yang baru, tetapi menyingkap tabir yang menutupi apa yang selalu ada. Proses itu membutuhkan keheningan, kesabaran, dan keterbukaan batin, yaitu sebuah sikap budi yang tidak menuntut, tidak memaksa, hanya menyadari.

Pada akhirnya, “Ada Sejati” bukanlah konsep yang bisa dimiliki, tetapi pengalaman yang hanya bisa dihayati. Ia hadir dalam keheningan doa, dalam renungan sunyi, dalam pandangan yang jernih terhadap sesama, bahkan dalam kepasrahan menghadapi kematian. Ia adalah rahasia yang menyatukan segala sesuatu tanpa harus meniadakan perbedaan. Dalam setiap nafas, dalam setiap gerak, “Ada Sejati” berdenyut; tak terlihat, tak terdengar, namun menjadi sumber dari seluruh keberadaan.
“Ada Sejati” bukan akhir dari perjalanan, tetapi kesadaran yang menyertai setiap langkah. Ia adalah keheningan yang hidup di tengah suara, cahaya yang tersembunyi di dalam bayangan, dan keberadaan yang menjiwai segala yang tampak. Ketika manusia mampu berdiam sejenak dan menatap ke dalam dirinya sendiri dengan penuh kejernihan, ia akan menemukan bahwa “Ada Sejati” tidak pernah pergi. Ia selalu ada, menunggu untuk dikenali, dalam setiap hembusan napas keberadaan. Ringkasnya: “Ada Sejati” adalah keberadaan murni yang tidak terikat bentuk, sumber dari segala yang ada, dan dapat dialami hanya melalui budi yang telah jernih dalam keheningan. Semakin kita mendekat kepadaNYA, maka NYA akan semakin lari menghampiri kita. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Api Dibalik Kekuasaan (Refleksi Filsafat Kontemporer atas “Kebakaran Jenggot” Para Pejabat)

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Hampir setiap pekan kita disuguhi berita bagaimana pejabat tinggi negeri ini terusik oleh kerja-kerja Menteri Keuangan. Bahkan salah seorang petinggi perminyakan “mencak-mencak” menggunakan bahasa vulgar yang tidak elok didengar.

Sebelumnya juga ada pejabat senior yang juga mantan atasan Menteri Keuangan, merasa tidak nyaman dengan kelakuan mantan anak buahnya. Demikian juga ada kepala daerah yang terusik, seolah terzalimi oleh kelakuan Sang Menteri; walaupun sesungguhnya dia membuka kebodohannya sendiri.

Tampaknya fenomena sosial-politik di Indonesia akhir-akhir ini memperlihatkan dinamika menarik yang menggugah kesadaran publik. Banyak pejabat publik tiba-tiba “kebakaran jenggot” setelah tindakan tegas dari Menteri Keuangan mengungkapkan penyimpangan, penyalahgunaan wewenang, dan praktik kecurangan yang selama ini tersembunyi di balik retorika pelayanan publik.

Ungkapan “kebakaran jenggot” di sini bukan sekadar idiom humor, melainkan metafora filosofis tentang bagaimana kekuasaan, moralitas, dan kebenaran saling berkelindan dalam arena politik modern. Fenomena ini dapat dibaca bukan hanya sebagai peristiwa administratif atau hukum, tetapi sebagai cermin eksistensial dari krisis kejujuran dan tanggung jawab yang melekat dalam struktur kekuasaan kontemporer.

Filsafat kontemporer memandang kekuasaan bukan semata sebagai instrumen untuk mengatur masyarakat, melainkan sebagai medan di mana kebenaran dan kepalsuan bertarung secara halus. Dalam konteks ini, tindakan seorang pejabat tinggi yang berani menyingkap penyimpangan dapat dimaknai sebagai peristiwa pembongkaran tabir: suatu momen ketika kebenaran yang selama ini disembunyikan muncul ke permukaan dan memaksa struktur kekuasaan untuk menatap dirinya sendiri.

Ketika pejabat-pejabat lain “kebakaran jenggot”, itu menandakan bukan hanya ketakutan terhadap konsekuensi hukum, tetapi juga kecemasan eksistensial karena topeng moral yang selama ini dipakai mulai terbakar oleh nyala kebenaran.

Fenomena semacam ini mengingatkan bahwa kekuasaan selalu menyimpan paradoks. Ia menjanjikan kemampuan untuk menciptakan keteraturan, tetapi dalam praktiknya sering menjadi sumber kekacauan moral. Di dalam ruang birokrasi, logika efisiensi dan kepatuhan sering kali menggantikan logika tanggung jawab etis. Pejabat yang semestinya menjadi pelayan publik justru terjebak dalam permainan citra, angka, dan laporan yang tampak indah di permukaan.

Filsafat kontemporer melihat ini sebagai bentuk alienasi baru: individu terasing dari makna sejati pekerjaannya karena sistem mendorongnya untuk lebih peduli pada performa administratif ketimbang integritas. Maka, ketika sistem keuangan negara mulai menuntut transparansi dan akuntabilitas secara ketat, rasa terancam itu muncul bukan karena ketidakadilan, melainkan karena realitas mulai menyingkap kepalsuan yang ada selama ini, sudah dianggap wajar.

Kebakaran jenggot para pejabat itu juga dapat dibaca sebagai krisis identitas. Dalam tatanan sosial modern, posisi pejabat bukan hanya jabatan administratif, melainkan simbol status sosial, penghormatan, dan otoritas moral. Ketika simbol itu terguncang, individu di baliknya harus menghadapi kehampaan eksistensial: siapakah dirinya tanpa kekuasaan itu?

Di sinilah muncul ketakutan mendalam yang jauh melampaui urusan hukum atau karier. Ini adalah ketakutan akan kehilangan makna hidup yang dibangun di atas legitimasi palsu. Dalam kacamata filsafat kontemporer, ini adalah momen dekonstruktif, di mana subjek yang selama ini menganggap dirinya pusat kekuasaan justru disadarkan bahwa ia hanyalah bagian dari jaringan relasi yang lebih besar, dan relasi itu kini menuntut kejujuran.

Tindakan tegas dari otoritas keuangan dalam konteks ini dapat dilihat sebagai momen etis yang langka. Ia mengganggu kenyamanan sistem yang sudah terbiasa dengan kompromi dan penyesuaian moral. Dalam pandangan filosofis, tindakan semacam ini bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga bentuk praksis moral yang menantang tatanan simbolik.

Di tengah budaya birokrasi yang kerap memisahkan etika dari kebijakan, munculnya figur yang menegakkan prinsip dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap nihilisme structural; yaitu keadaan ketika nilai-nilai kehilangan bobot karena semuanya bisa dinegosiasikan.

Filsafat kontemporer mengajarkan bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang absolut dan tunggal, melainkan hasil dari pergulatan terus-menerus antara wacana dan kekuasaan. Maka, ketika seorang pejabat berani menyingkap penyimpangan, tindakan itu bukan hanya menyingkap fakta, tetapi juga menantang struktur wacana yang telah mapan. Ia mengganggu keseimbangan semu yang selama ini dijaga oleh kompromi diam-diam antara kekuasaan dan kenyamanan. Reaksi “kebakaran jenggot” menunjukkan bahwa tindakan itu berhasil mengguncang fondasi simbolik yang rapuh.

Namun filsafat kontemporer juga mengingatkan bahwa perubahan sejati tidak cukup hanya dengan menyingkap kesalahan individu. Struktur yang memungkinkan penyimpangan itu harus turut dikritik. Ketika sistem insentif, budaya birokrasi, dan mekanisme pengawasan masih memungkinkan penyalahgunaan, maka tindakan moral seorang pejabat hanya menjadi percikan kecil di tengah hutan kering.
Nyala api itu bisa padam, atau sebaliknya, membakar seluruh sistem hingga hangus. Maka tantangan filosofis bagi masyarakat modern adalah bagaimana menjaga agar api kebenaran tidak berubah menjadi bara destruktif, tetapi menjadi cahaya yang menerangi jalan reformasi berkelanjutan.

Pada akhirnya, kebakaran jenggot para pejabat akibat ulah Menteri Keuangan bukan sekadar kisah politik, melainkan kisah tentang manusia. Ia memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat menipu, bagaimana kebenaran dapat membakar, dan bagaimana moralitas dapat lahir kembali dari puing-puing kebohongan. Dalam pandangan filsafat kontemporer, momen seperti ini adalah titik balik; bukan karena sistem telah bersih, tetapi karena kesadaran akan kerapuhan sistem itu mulai muncul. Dari kesadaran inilah perubahan sejati mungkin dimulai.

Api memang menakutkan, tetapi ia juga menerangi. Di tengah kepanikan para pejabat yang terbakar oleh kebenaran, masyarakat seharusnya tidak hanya menyoraki, tetapi belajar. Sebab setiap manusia, dalam skala kecil maupun besar, memiliki potensi untuk terjebak dalam godaan kekuasaan dan kepalsuan.

Kebakaran jenggot para pejabat adalah cermin bagi kita semua; bahwa dalam kehidupan sosial, integritas bukan sekadar slogan, melainkan perjuangan terus-menerus melawan api dalam diri sendiri. Jika bangsa ini ingin maju, maka nyala api kebenaran itu harus dijaga, bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keberanian untuk terus menatapnya tanpa berpaling. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Api yang Membakar Diri Sendiri

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Beberapa hari lalu mendapat kiriman keluhan dari sahabat lama tentang kondisi saat ini, melalui media sosialnya. Beliau mengeluh penggunaan media sosial yang sangat vulgar saat ini oleh banyak kalangan, dan beliau mempertanyakan bagaimana pendidikan etika saat ini yang sudah tergerus oleh teknologi. Rasa malu yang sudah entah minggat kemana, sehingga banyak orang sudah tidak memilikinya. Bisa dibayangkan ucapan bahkan aibnya sendiri diumbar tanpa rasa sungkan, apalagi risi. Keluhan sahabat tadi memicu dawai rasa untuk menuliskan apa yang sedang terjadi dari kacamata filsafat kontemporer.

Dunia maya kini telah menjadi panggung besar tempat manusia menampilkan segala sisi dirinya tanpa batas. Di sana, segala hal mengalir begitu cepat; pikiran, perasaan, bahkan hasrat yang paling pribadi sekalipun. Media sosial yang dahulu digadang sebagai alat untuk memperluas wawasan dan mempererat koneksi antarmanusia, kini tampak seperti ruang yang berisik, vulgar, dan sering kali kehilangan arah moral. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah ini merupakan kegagalan pendidikan? Ataukah justru ini adalah cermin jujur dari wajah pendidikan itu sendiri, yang sejak awal mungkin telah kehilangan jiwanya?

Jika kita menelusuri akar persoalannya, tampak bahwa media sosial bukanlah penyebab tunggal dari lunturnya moralitas. Ia hanyalah media, bagai cermin besar tempat manusia menatap pantulan dirinya sendiri. Namun ketika pantulan itu tampak kabur, penuh dengan ekspresi syahwat, ego, dan narsisisme, maka yang patut disalahkan bukan cerminnya, melainkan wajah yang dipantulkan di dalamnya. Media sosial, dalam hal ini, hanya memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi nilai yang ditanamkan oleh sistem pendidikan dan kebudayaan kita. Ketika seseorang dengan mudah menayangkan tubuhnya, amarahnya, bahkan kehinaannya kepada dunia tanpa rasa malu, maka sesungguhnya ia sedang menegaskan bahwa nilai-nilai tentang rasa hormat, batas, dan tanggung jawab tidak lagi menjadi bagian dari kesadarannya.

Pendidikan yang sejati seharusnya tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan kebijaksanaan. Namun yang terjadi kini, pendidikan lebih sering berperan sebagai pabrik pengetahuan, yaitu mengajarkan manusia untuk memahami rumus, teori, dan konsep, tapi tidak untuk memahami dirinya sendiri. Manusia didorong untuk menjadi cerdas, produktif, dan kompetitif, tetapi tidak diarahkan untuk menjadi arif, sadar, dan beradab. Maka tak heran jika hasilnya adalah generasi yang pandai memanfaatkan teknologi, namun kehilangan arah dalam menggunakannya. Mereka mampu mengolah gambar, kata, dan algoritma, tetapi tak mampu mengolah makna, rasa, dan tanggung jawab.

Dari sudut pandang filsafat kontemporer, krisis moral di media sosial bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah gejala dari krisis yang lebih dalam: hilangnya pusat nilai dalam kehidupan manusia modern. Dunia digital hidup dalam logika yang serba cepat, instan, dan visual. Nilai-nilai moral yang sejatinya tumbuh dalam permenungan dan refleksi menjadi tidak kompatibel dengan ritme digital yang tak memberi ruang bagi jeda. Segalanya harus segera: berpikir cepat, bereaksi cepat, menilai cepat. Dalam situasi seperti itu, moralitas yang membutuhkan kedalaman justru dianggap tidak relevan. Manusia menjadi seperti bayangan yang bergerak cepat tanpa arah, mengikuti arus data dan tren tanpa sempat bertanya: untuk apa semua ini?

Pendidikan moral yang diajarkan di sekolah sering kali berhenti pada tataran normative, yaitu sekadar daftar larangan dan perintah. Ia tidak lagi berbicara kepada hati dan kesadaran manusia, melainkan hanya kepada kepatuhan formal. Maka ketika individu masuk ke dunia yang tidak memiliki pengawasan langsung, seperti media sosial, ia kehilangan orientasi. Tanpa rasa takut pada otoritas eksternal, ia menunjukkan siapa dirinya sebenarnya: produk dari pendidikan yang gagal menanamkan kesadaran moral intrinsik. Dalam arti itu, benar bahwa kebobrokan moral di media sosial adalah kegagalan pendidikan, tetapi bukan kegagalan yang terjadi di ruang kelas belaka. Ia adalah kegagalan kolektif; kegagalan keluarga, masyarakat, bahkan sistem nilai yang menopang kehidupan bersama kita.

Menyalahkan pendidikan semata juga tidak cukup. Ada dimensi lain yang harus disadari: teknologi digital sendiri dibangun di atas logika kapitalisme global yang memonetisasi perhatian. Setiap klik, setiap gambar vulgar, setiap ekspresi emosi ekstrem memiliki nilai ekonomi. Platform digital dirancang untuk menstimulasi bagian otak yang haus akan penghargaan instan. Dalam ekosistem semacam ini, nilai moral tidak memiliki tempat yang menguntungkan secara finansial. Maka tidak mengherankan bila yang paling cepat menyebar adalah yang paling sensasional, bukan yang paling bernilai. Dalam arus itu, individu yang telah kehilangan kesadaran etis akan mudah terseret, mengira bahwa popularitas adalah ukuran kebermaknaan.

Ironisnya, di tengah kebisingan media sosial, manusia modern justru semakin kesepian. Ia mengumbar diri bukan karena percaya diri, tetapi karena haus pengakuan. Ia berteriak di ruang digital karena tak lagi mampu mendengar dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, pendidikan moral seharusnya tidak lagi berbicara dengan bahasa hukuman dan dogma, melainkan dengan bahasa kesadaran dan empati. Ia harus mengajarkan manusia untuk menatap ke dalam, menyadari keterbatasannya, dan menghargai martabat dirinya sendiri.
Maka, pada akhirnya, apa yang kita saksikan di media sosial bukan hanya kegagalan pendidikan, melainkan juga kesempatan bagi manusia untuk memulai kembali. Dunia digital telah memperlihatkan betapa rapuhnya kita, dan kesadaran atas kerapuhan itu seharusnya menjadi titik tolak untuk membangun sistem pendidikan yang lebih manusiawi, pendidikan yang mengajarkan bagaimana menggunakan kebebasan dengan bijak, bagaimana menjaga kehormatan diri di tengah keterbukaan tanpa batas, dan bagaimana menjadi manusia yang utuh di tengah arus data yang melenakan.

Kebebasan yang sejati bukanlah kebebasan untuk menelanjangi diri, melainkan kebebasan untuk memilih tetap bermartabat ketika semua orang kehilangan rasa malu. Jika media sosial kini menjadi ruang yang vulgar, maka solusinya bukan dengan menutup ruang itu, melainkan dengan membuka kesadaran kita sendiri. Karena pada akhirnya, pendidikan moral yang paling hakiki tidak diajarkan di sekolah, melainkan dimulai dari keberanian untuk menatap diri dan bertanya: sudahkah aku benar-benar manusia di tengah dunia yang begitu bebas ini? Jawabannya kembali kepada hati nurani kita masing-masing yang paling dalam. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman