Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Pelantikan seorang pejabat tinggi di bidang keuangan negara adalah momen yang mengandung beban simbolik cukup besar. Di sanalah harapan kolektif digantungkan, seakan-akan sosok baru ini bukan hanya datang membawa kebijakan, tetapi juga membawa wajah baru bagi sistem ekonomi yang selama ini dirasa jauh dan tak terjangkau. Namun ketika pada momen pertama kehadirannya ke publik ia menyampaikan sebuah pernyataan yang mereduksi keresahan rakyat menjadi sekadar “reaksi emosional minoritas” yang akan reda seiring dengan pertumbuhan ekonomi, maka simbol yang semestinya mengandung harapan justru menjadi sumber luka. Yang hadir bukan kebaruan, melainkan pengulangan: bahwa kekuasaan masih saja berbicara dengan jarak, masih saja mendefinisikan realitas dari menara statistik.
Filsafat kontemporer telah berulang kali memperingatkan bahwa bahasa bukanlah sekadar sarana komunikasi, melainkan instrumen pembentukan dunia. Di dalam kata-kata, kekuasaan membangun realitas; dan bisa jadi, setiap kata menjadi dasar tindakan. Maka ketika seorang pejabat publik berbicara, ia tidak sedang menyampaikan pendapat personal, tetapi ia sedang menyusun lanskap makna tempat rakyat akan hidup di dalamnya. Kata-kata yang keluar dari mulut seorang pejabat keuangan bukan sekadar refleksi pemikiran pribadi, melainkan sebuah performa simbolik yang mengukuhkan atau merusak legitimasi.
Ketika rakyat merasa harga-harga tidak terjangkau, ketika ketimpangan sosial tampak semakin telanjang, suara mereka adalah bentuk paling otentik dari eksistensi keberadaannya: mereka hadir, mereka menuntut, mereka menyuarakan ketidakadilan. Dan ketika suara ini dijawab dengan penjelasan teknokratis bahwa semua akan baik-baik saja nanti, bahwa pertumbuhan akan menenangkan gejolak, maka pada saat itu pula eksistensi rakyat didegradasi menjadi gangguan statistik. Mereka yang lapar, cemas, dan frustasi tidak lagi diposisikan sebagai manusia dengan pengalaman otentik, tetapi sebagai data yang harus dikelola.
Pendekatan ini sangat mencerminkan logika positivistik yang mendominasi cara berpikir kekuasaan modern. Dalam logika tersebut, hanya yang terukur yang dianggap sahih. Maka yang tidak bisa diukur: seperti rasa sakit sosial, penghinaan simbolik, dan rasa ditinggalkan; dianggap sebagai gangguan yang harus diredam, bukan didengarkan. Di sinilah ironi paling tajam dari kekuasaan kontemporer: ia berbicara tentang rakyat, tetapi tidak mendengar apa kata rakyat; ia berbicara atas nama keadilan sosial, tetapi meragukan legitimasi rasa sakit rakyat.
Filsafat eksistensial mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa direduksi menjadi fungsi. Ia bukan alat dari kebijakan ekonomi, bukan entitas pasif yang menunggu bantuan pemerintah. Ia adalah subjek yang hidup, berpikir, dan merasakan. Maka ketika seorang pejabat publik meremehkan perasaan publik, ia sedang menyatakan bahwa emosi kolektif rakyat tidak punya nilai epistemik; bahwa marah dan kecewa bukan bagian dari pengetahuan, melainkan hambatan yang harus dilampaui. Ini adalah bentuk pelecehan epistemik, di mana satu pihak merasa berhak mendefinisikan mana yang rasional dan mana yang emosional. Dan biasanya, yang emosional adalah rakyat miskin, sementara yang rasional adalah para penguasa.
Namun sesungguhnya, yang mereka sebut sebagai “reaksi emosional” itu adalah bentuk paling jujur dari komunikasi model rakyat. Rakyat tidak memiliki akses ke statistik, tidak paham bahasa pasar obligasi, tidak punya tempat dalam negosiasi IMF. Yang mereka miliki hanyalah pengalaman sehari-hari: harga beras naik, biaya sekolah melonjak, lapangan kerja menyempit. Maka kemarahan mereka bukan gangguan, tetapi narasi yang valid. Dan ketika narasi ini disangkal atau dikecilkan, maka rakyat bukan hanya dibuat tidak relevan, justru mereka dihapus.
Bahasa kekuasaan, dalam konteks ini, menjadi kekerasan simbolik. Ia mengatur siapa yang boleh berbicara, siapa yang layak didengar, dan mana yang hanya layak diabaikan. Ketika seorang pejabat mengatakan bahwa rakyat akan diam setelah ekonomi membaik, ia bukan hanya menyampaikan harapan, tetapi sedang menanamkan premis bahwa penderitaan hari ini sah demi masa depan yang belum tentu tiba. Di sinilah lahir kejahatan metafisika kekuasaan: penderitaan hari ini dianggap wajar, karena janji kesejahteraan telah dicanangkan di esok hari. Padahal, yang menderita hari ini tidak hidup di masa depan. Mereka hidup sekarang, mereka berhak untuk mendapatkan sekarang. Dan, mereka berhak untuk bersuara sekarang.
Filsafat kontemporer; khususnya yang mencermati relasi antara kekuasaan, bahasa, dan tubuh, melihat bahwa kekuasaan tidak lagi hadir dalam bentuk represi fisik, tetapi dalam bentuk pengaturan diskursif. Kekuasaan tidak perlu melarang rakyat berbicara; cukup dengan menciptakan wacana yang membuat suara rakyat tidak terdengar, atau terdengar sebagai keluhan tidak rasional. Maka bahasa pejabat publik bukan hanya soal gaya atau kecakapan komunikasi, tetapi tentang siapa yang dimungkinkan untuk eksis dalam ruang wacana.
Pernyataan yang merendahkan jeritan rakyat bukanlah insiden kecil. Ia adalah penanda ideologi yang lebih dalam: ideologi di mana rakyat diposisikan sebagai objek pembangunan, bukan subjek keadilan. Dalam ideologi ini, ekonomi menjadi berhala baru, dan rakyat hanya layak dihormati jika mereka produktif, patuh, dan tidak cerewet. Maka ketika mereka bersuara, kekuasaan menjawab bukan dengan empati, tetapi dengan perhitungan. Keseimbangan fiskal lebih penting daripada keseimbangan perasaan. Padahal, negara tidak dibangun di atas neraca. Ia dibangun di atas rasa saling percaya. Dan tidak ada kepercayaan tanpa penghormatan terhadap luka.
Ketika rakyat merasa kecewa, terluka, atau marah atas pernyataan pejabat, sesungguhnya mereka sedang menuntut satu hal: pengakuan. Bukan sekadar pengakuan bahwa mereka ada, tetapi pengakuan bahwa mereka berarti. Bahwa suara mereka bukan sekadar gangguan, tetapi ekspresi autentik dari warga negara. Maka tugas pertama seorang pemimpin, sebelum berbicara tentang solusi, adalah mendengarkan.
Mendengarkan bukan untuk menjawab, tetapi untuk mengakui dan memahami. Dalam konteks itu, seorang pejabat publik tidak boleh hanya menjadi perumus kebijakan, tetapi juga pembawa empati. Ia tidak boleh hanya menjadi manajer sistem, tetapi juga pelayan rasa. Dan dalam masyarakat yang luka, bahasa harus menjadi jembatan, bukan palu godam.
Dalam peradaban yang sehat, pemimpin pertama-tama adalah pendengar. Sebab, hanya dengan mendengar, ia bisa mengerti, dan hanya dengan mengerti, ia bisa merawat. Oleh sebab itu, pejabat keuangan yang baru, alih-alih segera bicara tentang bagaimana ekonomi akan menyembuhkan segalanya, seharusnya bertanya lebih dulu: “Apa yang kau rasa hari ini?” Bukan karena pertanyaan itu akan membuat angka berubah, tetapi karena ia akan membuat manusia merasa dilihat. Karena dalam negara yang demokratis, tidak ada hal yang lebih penting daripada rakyat merasa dilihat. Bukan karena mereka bagian dari statistik, tetapi karena mereka adalah alasan mengapa negara ada. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Program Studi Manajemen Universitas Malahayati Gelar Rapat Bedah RPS Semester Ganjil 2025
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati menggelar rapat rutin bedah Rencana Pembelajaran Semester (RPS) untuk Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat, dan dihadiri oleh seluruh dosen pengampu mata kuliah. Selasa (9/9/2025).
Rapat ini bertujuan untuk menyelaraskan dokumen RPS dengan pendekatan pembelajaran berbasis capaian pembelajaran lulusan (Outcome-Based Education/OBE) dan memastikan kesesuaian dengan standar nasional pendidikan tinggi serta kebutuhan dunia kerja.
Ketua Program Studi Manajemen, Dr. Febrianty,S.E., M.Si menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan output lulusan.
“Rapat bedah RPS ini menjadi forum penting untuk memastikan setiap mata kuliah memiliki kejelasan tujuan pembelajaran, kesesuaian capaian, serta metode asesmen yang tepat. Kita juga memetakan dengan jelas mana mata kuliah yang telah sepenuhnya menerapkan pendekatan OBE dan mana yang masih dalam tahap penyesuaian (non-OBE),” ujar Dr. Febrianty,S.E., M.Si selaku Ketua Program Studi Manajemen.
Selama rapat, para dosen melakukan pembahasan mendalam terhadap komponen-komponen RPS, mulai dari deskripsi mata kuliah, capaian pembelajaran (CPL dan CPMK), indikator pencapaian, strategi pembelajaran, hingga penilaian. Beberapa masukan strategis juga diberikan untuk memperkuat integrasi soft skills dan digital literacy dalam materi perkuliahan.
Hasil dari rapat ini akan menjadi dasar dalam pelaksanaan perkuliahan semester ganjil mendatang, serta sebagai bagian dari persiapan akreditasi dan audit mutu internal. Program Studi Manajemen Universitas Malahayati berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas akademik dan relevansi kurikulum melalui kegiatan evaluasi dan pembaruan RPS secara berkala. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Ketika “Kehadiran” Hilang
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Siang menjelang sore, saya kedatangan tamu. Ia enaga pengajar. Kami pun bercengkerama ngalor-ngidul, membicarakan yang remeh temeh sebagai pelepas lelah. Namun dasar dunia ilmuwan, akhirnya ia menyinggung karakteristik hubungan dosen dengan mahasiswanya.
Semula hubungan itu hangat, ramah dan sangat terbuka; bahkan tidak jarang begitu friendly. Namun begitu mereka selesai, satu per satu hubungan itu meredup dan menuju kesunyian. Bahkan tidak ada lagi berita atau sapaan melalui media sosial.
Ironis lagi beberapa berita atau perkabaran yang beliau kirimkan tidak berbalas. Saat diingatkan bahwa tiada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan; beliau tersentak dan seolah tersadar. Akhirnya beliau berkesimpulan biarkan waktu yang menjawabnya; karena peristiwa serupa bukan hanya di ruang kuliah, tetapi disemua lini kehidupan akan seperti itu; semula bersama, kemudian dingin, dan terakhir berpisah dalam sunyi.
Setelah beliau meninggalkan ruangan pemikiran filsafat mulai bergentayangan di alam idea. Dan, mulailah pengembaraan itu berjalan dimulai dari satu pemikiran bahwa manusia adalah makhluk sosial; keberadaannya tak pernah utuh tanpa hadirnya orang lain, tanpa interaksi yang menautkan keberadaan satu insan dengan insan lainnya. Maka ketika relasi yang pernah ada dalam keramahan dan penghormatan mulai redup, entah karena waktu, jarak, pergeseran hati, atau dilema kesibukan dan prioritas, hal itu menimbulkan tantangan eksistensial tersendiri.
Kehilangan keakraban yang dulu menghangatkan ruang jiwa, kini menghadirkan ruang hampa, kesenyapan yang menggema dalam teater kenangan. Lalu, ketika sang teman dalam waktu seolah-olah “lama‑lama minggat tak terlihat”, kita bertanya: apa yang hilang sebenarnya, dan apa harapan di balik hilangnya itu?
Filsafat manusia, khususnya dalam tradisi eksistensialis, mengajarkan bahwa autentisitas relasi adalah jembatan peneguh identitas kita. Sartre menegaskan bahwa eksistensi manusia bukan sekadar hadir, akan tetapi juga hadir bagi yang lain. Tanpa orang lain, dunia kita menjadi monolog hampa. Dalam dunia yang sempat akrab dan penuh hormat, perjumpaan yang sederhana seperti sapaan “apa kabar?”, tawa berbagi cerita, serta pengertian tanpa kata adalah pilar bagi keberlangsungan hidup batin.
Hilangnya kehadiran orang lain, yang dulu selalu ada, seakan merenggut cermin yang selama itu membantu kita melihat refleksi diri. Dalam keheningan yang menyertai hilangnya sosok-sosok yang pernah ada, seolah kita dipertemukan kembali dengan diri sendiri, dengan rasa sendiri, tapi juga dengan ketiadaan.
Dalam filsafat Heidegger, hubungan manusia dengan manusia lain adalah “being‑with”: yaitu, kita adalah makhluk yang “selalu sudah bersama”. Jika kehadiran itu ditarik, ruang‑ruang yang pernah dihuni bersama menjadi kosong dan mengundang kecemasan ontologis: “Dasein” yang dulu nyaman kini merasa terkoyak. Namun, justru dalam kehampaan itu kita menemukan kedalaman masa lalu kita bersama; detik‑detik kecil yang dulu tampak biasa saja, kini memancar sebagai fragmen kehangatan yang sulit dilupakan. Jauh sebelum kehadiran fisik hilang, “muka” filosofis kita terhadap orang lain sudah pernah bertaut lewat citra, tawa, empati, dan saling memahami yang tak banyak kata.
Ketika sang kawan “lama-lama minggat tak terlihat”, ada proses pengendapan; bisa di tingkat psikologis, atau bisa juga di ranah etis. Secara psikologis, kita merasakan penolakan yang samar; kerinduan yang merambat diam-diam. Secara etis, kita bertanya-tanya tentang hubungan: apakah ada sesuatu yang kita abaikan, atau mereka-mereka sendiri yang meninggalkan? Dalam skema filsafat Emmanuel Levinas, etika relasi adalah tanggung jawab tanpa syarat kepada wajah lain.
Di sisi lain, filsafat Martin Buber menyikapi relasi manusia dalam ranah “Aku‑Kamu” versus “Aku‑Itu”. Saat relasi pernah bersifat “Aku‑Kamu”, ada saling pengakuan akan keberadaan yang penuh makna. Setiap sapaan adalah dialog penuh kehadiran. Ketika keakraban meredup dan seseorang “larut tak terlihat”, kita merasa mereka seperti berubah menjadi “Itu”; tak lagi subjek relasional penuh kehadiran, melainkan entitas yang tak terjangkau, bagai bayangan samar di lorong ingatan.
Akhirnya, “semula akrab dan hormat, setelah selesai permintaan lama-lama minggat tak terlihat…” bukan sekadar cerita tentang kehadiran dan ketiadaan, tapi panggilan etis: bagaimana kita memperlakukan ruang antara kehilangan dan kedatangan. Filsafat manusia mengajarkan bahwa relasi tumbuh bukan dari persamaan sempurna, tetapi dari ketidaksempurnaan yang disambut dengan kesabaran, rasa hormat, keaslian, dan kesiapan hati. Jika sapaan kembali dan diterima dengan hangat, itu bukan penegasan bahwa masa lalu selalu benar, melainkan peringatan bahwa masa sekarang punya potensi kebaikan baru.
Kita hidup di tengah sunyi dan gemuruh; antarrelasi bisa retak, meregang, bahkan lenyap. Tetapi bila kita memiliki keberanian untuk menyapa sekali lagi, bukan karena utang rasa atau pamrih, melainkan karena sepenuh hati tetap melihat wajah lain sebagai “kamu” yang pantas dihormati dan dijaga, maka sinar keakraban bisa kembali menyala, meski redup karena waktu. Oleh karena kita tidak bisa menghindar dari dua pasang kata “jumpa dan pisah”; karena dia adalah sunatullah yang harus dijalani manusia dalam “berjalan” di dunia ini; dan kedua kata itu sejatinya meneguhkan kefanaan dunia dan isinya.
Orang bijak mengatakan “kita datang sendirian, dan akan pulangpun kelak dalam kesendirian”. Jangan khawatir kawan, ada Tuhan yang selalu memberasamai; biarkan musim berganti, waktu bergulir; karena kita tetap bersama-Nya. (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Sunyi di Tengah Jaringan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Seorang mahasiswa pasca datang ke ruangan kerja, tampak raut mukanya sedang muram. Mahasiswa yang berlatarbelakang petugas kesehatan ini, merasa mendapatkan tekanan kehidupan yang begitu berat; satu sisi harus bekerja menafkahi keluarga, sisi lain harus bekerja secara professional sesuai prosedur dan aturan kepegawaian, di sisi yang berbeda harus menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa, dan masih banyak lagi persoalan-persoalan kehidupan yang bagai benang kusut. Mahasiswa ini merasa hidup sendirian di tengah hirukpikuknya keterhubungan antarorang saat ini. Setelah sedikit reda karena diajak bersama minum kopi; maka yang bersangkutan memulai menguraikan kesulitannya dalam menyelesaikan tugas akhir. Setelah semua selesai dan berakhir; yang bersangkutan undur diri. Sepulangnya mahasiswa tadi, berjalanlah proses kontemplasi pikiran, memahami bagaimana keterasingan manusia sekarang ditengah ramainya keterhubungan. Tulisan ini mencoba menarasikannya dari kacamata Filsafat Manusia.
Di tengah dunia yang mengagung-agungkan konektivitas, manusia sebenarnya justru semakin sering merasa sendiri. Ini adalah paradoks zaman “now”: semakin banyak hubungan yang dijalin, semakin sedikit makna yang terasa. Dalam ruang digital yang nyaris tak mengenal batas, suara manusia terdengar keras, tapi jarang didengar. Dalam jaringan yang selalu aktif, kehadiran menjadi semu, dan perjumpaan menjadi ilusi. Hubungan yang seharusnya mengikat justru menciptakan jarak. Keterhubungan yang dijanjikan oleh teknologi tidak selalu menghadirkan kebersamaan yang sesungguhnya, melainkan memperlihatkan betapa kosongnya relasi yang kehilangan keintiman.
Fenomena ini bukanlah persoalan teknis. Ini adalah soal manusia, yaitu soal keberadaan, soal rasa, soal makna. Dalam kehidupan yang semakin cepat dan tak pernah berhenti bergerak, manusia dituntut untuk selalu aktif, responsif, dan produktif. Tapi di balik kecepatan itu, ada kesunyian yang tidak bisa dielakkan. Suatu jenis keheningan yang bukan berarti tanpa suara, tetapi tanpa pemaknaan. Keterputusan itu muncul bukan karena manusia tidak bisa saling menyapa, tetapi karena tidak lagi sempat saling mendengarkan. Dunia telah menjadi panggung, dan manusia sibuk menjadi aktor yang tampil, bukan jiwa yang hadir.
Manusia diciptakan sebagai makhluk yang berelasi. Ia tidak bisa hidup sendirian. Ia membutuhkan wajah orang lain untuk mengenali wajahnya sendiri. Namun dalam realitas hari ini, wajah-wajah itu sering kali tidak dilihat dengan kehadiran penuh. Interaksi berlangsung dalam potongan-potongan pendek, emoji menggantikan ekspresi, dan notifikasi menggantikan perjumpaan. Semua ada, tapi tidak benar-benar hadir. Dan dalam keterhubungan yang tak pernah utuh itu, manusia kehilangan dirinya secara perlahan.
Dalam konteks ini, keterputusan menjadi bentuk baru dari penderitaan eksistensial. Bukan karena fisik yang terpisah, melainkan karena hati yang menjauh. Ketika pertemanan menjadi angka, ketika cinta dikurasi dalam profil, ketika pengakuan dihitung dari klik dan suka, maka makna kemanusiaan direduksi menjadi sekadar fungsi. Eksistensi manusia diukur dari keterlihatan, bukan dari kedalaman. Dan ketika tak terlihat, manusia merasa tidak ada. Dalam dunia yang seharusnya mempertemukan, manusia malah tenggelam dalam rasa terasing.
Keterasingan ini bukan mejadi hal yang asing bagi pengalaman manusia. Namun di era keterhubungan tanpa henti, keterasingan itu menjadi lebih tajam karena dibungkus oleh ilusi kehadiran. Seseorang bisa berbicara dengan ratusan orang dalam sehari, tetapi tetap merasa tak ada satu pun yang sungguh mengerti. Ia bisa mengunggah cerita hidupnya, tetapi tetap merasa tidak didengar. Dalam kondisi ini, rasa tidak berarti merayap masuk, menggerogoti batin secara perlahan namun pasti. Manusia yang merasa tidak terlihat bukan hanya merasa sendiri, tetapi mulai mempertanyakan esensi keberadaannya sendiri.
Di tengah kondisi ini, manusia berada di persimpangan. Ia bisa terus melaju mengikuti arus dunia yang cepat dan kosong, atau ia bisa berhenti sejenak, menarik napas dalam, dan bertanya: “Ke mana aku berjalan? Untuk apa semuanya ini?” Kesadaran adalah langkah pertama. Dan kesadaran itu sering kali lahir dari kegelisahan. Kegelisahan akan rasa hampa di tengah keramaian. Kegelisahan akan hubungan yang tidak menghidupkan. Kegelisahan yang, meski menyakitkan, justru menunjukkan bahwa jiwa masih hidup dan menolak untuk dikebiri oleh dunia yang sibuk tetapi hampa.
Pada saat ini, kita harus meredefinisi arti keterhubungan. Bukan lagi sebagai sekadar relasi teknis, tetapi sebagai perjumpaan batin. Kita perlu belajar hadir kembali, mendengarkan kembali, dan mengalami kembali. Perlu membangun ruang-ruang sunyi di mana percakapan yang tulus bisa terjadi. Perlu menciptakan waktu untuk benar-benar melihat satu sama lain, tanpa tergesa, tanpa perlu ditampilkan. Karena hanya dalam keheningan yang jujur, kita bisa kembali merasakan bahwa kita bukan data, bukan fungsi, bukan alat, tetapi pribadi yang membutuhkan pertemuan sejati.
Era keterhubungan seharusnya menjadi berkah. Tetapi jika tidak disadari, ia berubah menjadi jebakan. Maka dibutuhkan kesadaran kolektif untuk merawat kembali nilai-nilai kemanusiaan yang tidak bisa didigitalkan, seperti: empati, kasih sayang, kebersamaan, dan pengertian. Manusia bukanlah mesin yang diukur dari output-nya. Ia adalah makhluk yang merasakan, yang membutuhkan jeda, yang menangis dan tertawa, yang rapuh dan kuat sekaligus. Kehidupan tidak seharusnya dipersempit menjadi grafik pertumbuhan atau angka keterlibatan. Kehidupan adalah ruang di mana manusia bisa menjadi dirinya, dengan segala keberlimpahan dan kekurangannya.
Barangkali tugas kita hari ini bukan menambah koneksi, tetapi memperdalam perjumpaan. Bukan membangun jaringan, tetapi membangun pengertian. Bukan memperluas jangkauan, tetapi memperkuat kehadiran. Dan untuk itu, manusia harus kembali kepada dirinya, bukan untuk bersembunyi, tetapi untuk memulihkan. Keterputusan yang dialami manusia hari ini bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah tanda bahwa kita rindu sesuatu yang lebih dari sekadar notifikasi. Kita rindu sesuatu yang sungguh hidup, sungguh hangat, dan sungguh manusiawi. Pertanyaan terakhir yang memerlukan perenungan dalam adalah “masih layakkah kita disebut manusia ?”. jawabannya ada di dalam hati sanubari kita yang paling dalam. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
UPT Perpustakaan Universitas Malahayati Terlibat dalam Kepengurusan IPI Lampung, Perkuat Peran Pustakawan
Pelantikan pengurus baru IPI Lampung digelar di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung dan langsung dikukuhkan oleh Ketua IPI Pusat. Dalam kepengurusan tersebut, Nowo Hadiyanto dipercaya mengemban amanah sebagai pengurus di bidang usaha dana dan kewirausahaan.
Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) merupakan organisasi profesi yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas pustakawan di seluruh Indonesia. Melalui wadah ini, para pustakawan dapat saling bertukar pengalaman, mengembangkan inovasi pengelolaan perpustakaan, hingga memperkuat jejaring antarperpustakaan baik di tingkat lokal maupun nasional.
Bagi Universitas Malahayati, keikutsertaan dalam kepengurusan IPI Lampung menjadi bentuk nyata dari pengembangan sumber daya manusia sekaligus pengabdian kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan misi universitas dalam mendorong pustakawan agar lebih profesional, adaptif, dan siap menjawab tantangan di era digital.
Dengan dilantiknya pengurus baru IPI Lampung, diharapkan para pustakawan semakin mampu mengoptimalkan peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat, serta menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Anindya Novyan Bakrie Warnai Penutupan PKKMB Universitas Malahayati 2025, Ajak Mahasiswa Optimistis Menuju Indonesia Emas 2045
Rektor Universitas Malahayati Hadiri Peresmian Masjid Raya Al Bakrie Lampung
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, SH., MH, turut menghadiri momen bersejarah peresmian Masjid Raya Al Bakrie Lampung yang berlangsung khidmat pada Jumat (12/9). Acara ini menjadi simbol kebersamaan, spiritualitas, dan kontribusi nyata keluarga besar Bakrie bagi masyarakat Lampung.
Peresmian masjid megah tersebut dihadiri langsung oleh Anindya Novyan Bakrie, B.Sc., M.B.A, yang juga mewakili keluarga besar Bakrie, bersama Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, serta Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, ST., MM. Kehadiran para tokoh nasional dan daerah ini menegaskan besarnya arti masjid sebagai pusat ibadah sekaligus wadah persatuan umat.
Dalam suasana penuh kekhidmatan, peresmian diawali dengan pembacaan doa bersama dan tausiyah. Kehadiran ribuan jamaah yang memadati kawasan masjid memperlihatkan antusiasme dan kebanggaan masyarakat atas berdirinya rumah ibadah yang modern, kokoh, dan berdaya tampung besar ini.
Masjid Raya Al Bakrie Lampung diproyeksikan menjadi salah satu ikon baru provinsi, sekaligus destinasi religi yang mampu menarik jamaah dari berbagai daerah. Dengan arsitektur modern yang berpadu nuansa Islami, masjid ini diharapkan semakin memperkuat peran Lampung sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai spiritual dan kebersamaan. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Pembekalan Magang Prodi Akuntansi Universitas Malahayati, Siapkan Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati menggelar kegiatan Pembekalan Magang bagi mahasiswa tingkat akhir di Ruang 1.13 Universitas Malahayati. Agenda ini menjadi langkah penting untuk membekali mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja melalui program magang di berbagai instansi maupun perusahaan mitra. Sabtu (6/9/2025).
Acara dibuka oleh Muhammad Luthfi, S.E., M.Si., yang menekankan pentingnya kesiapan mental, sikap profesional, dan kemampuan adaptasi mahasiswa saat menjalani magang. Ia menegaskan bahwa magang merupakan jembatan antara teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik nyata di dunia industri.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari tiga narasumber yang menghadirkan perspektif berbeda namun saling melengkapi.
1. Etika dan Profesionalisme dalam Dunia Kerja – Indah Lia Puspita, S.E., M.Si.
Dalam sesinya, Indah menekankan pentingnya menjaga etika dan profesionalisme. Mahasiswa diingatkan untuk selalu bersikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab, sekaligus menghormati aturan serta budaya kerja di tempat magang. Profesionalisme juga tercermin dari komunikasi yang baik, sikap proaktif, hingga penampilan yang rapi dan sopan. Menurutnya, sikap tersebut tidak hanya menunjukkan kualitas pribadi, tetapi juga membawa nama baik Universitas Malahayati di mata industri.
2. Kerja Sama Tim untuk Meningkatkan Kinerja dan Produktivitas – Hardini Ariningrum, S.E., M.Ak., CFRS
Hardini menyoroti pentingnya teamwork dalam dunia kerja. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan perusahaan bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individu, melainkan juga kolaborasi tim. Mahasiswa diajak memahami strategi membangun kerja sama yang efektif, mulai dari komunikasi terbuka, menghargai perbedaan, pembagian tugas yang adil, hingga penyelesaian konflik secara konstruktif.
3. Magang Berdampak dan Panduan Penulisan Laporan – Apip Alansori, S.E., M.Ak., CAPM
Apip mengajak mahasiswa untuk menjadikan magang sebagai pengalaman yang berdampak, bukan sekadar formalitas. Mahasiswa didorong memberikan kontribusi nyata melalui ide, semangat, dan kerja sama. Selain itu, ia juga memaparkan panduan teknis penulisan laporan magang, mencakup sistematika, pengumpulan data, analisis kegiatan, hingga penulisan kesimpulan sesuai standar akademik Prodi Akuntansi.
Pembekalan magang ini bertujuan untuk: Membekali mahasiswa dengan pemahaman awal mengenai dunia kerja. Menanamkan nilai etika dan profesionalisme. Mengasah kemampuan kerja sama tim sebagai soft skill yang vital. Mempersiapkan mahasiswa menyusun laporan magang sesuai kaidah akademik.Membantu mahasiswa memahami ekspektasi perusahaan agar mampu memberikan kontribusi positif.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas Malahayati diharapkan mampu menjalani magang dengan baik, beradaptasi dengan lingkungan kerja profesional, memberikan kontribusi nyata, serta menyelesaikan laporan magang sesuai standar akademik yang berlaku. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Ketika Ajal Tak Memilih Usia (Perenungan Eksistensial di Tengah Takziah)
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Pagi menjelang siang mendapat berita duka salah seorang keluarga besar lembaga ini berpulang. Seorang dosen pejabat teras nengajak membersamainya untuk bertakziah di rumah duka. Rombongan kecil itu berangkat dan sesampainya di tempat mendapat informasi usia almarhum saat dijemput pulang; tiba-tiba hadir kesadaran yang menohok: ajal tidak mengenal usia. Di hadapan kematian, angka hanyalah angka. Yang muda bisa pergi lebih dulu, yang tua bisa tetap tinggal. Ajal tak tunduk pada kalkulasi manusia.
Filsafat kontemporer mengajak kita untuk berhenti sejenak dari kebisingan hidup dan menatap langsung ke dalam diri. Di tengah dunia yang terus mendesak manusia untuk bergerak maju, menumpuk capaian, dan merayakan masa depan, takziah adalah momen yang memaksa kita berhenti. Ia bukan sekadar ritual belasungkawa, tetapi titik hening dalam aliran hidup y ang hiruk pikuk. Dan di titik hening inilah filsafat bekerja. Bukan sebagai wacana, melainkan sebagai cermin eksistensial yang memantulkan kerapuhan, keterbatasan, dan absurditas hidup manusia.
Pendapat bahwa ajal tidak mempertimbangkan usia, dalam filsafat kontemporer, menyentuh inti dari keberadaan manusia. Manusia tidak pernah lahir dengan kontrak masa hidup. Tidak ada jaminan bahwa masa muda berarti “masih lama” dan usia senja berarti “sudah dekat.” Kesadaran akan keterbatasan ini bukan untuk menumbuhkan ketakutan, tetapi untuk mendorong kejujuran dan keberanian eksistensial. Hidup menjadi berarti bukan karena panjangnya usia, tetapi karena bagaimana ia dijalani dalam kehadiran penuh. Dalam lanskap ini, ukuran hidup bukanlah waktu, melainkan intensitas dan keautentikan.
Zaman ini mendorong manusia untuk hidup dalam tumpukan target dan narasi yang dibentuk oleh industri dan budaya massa. Usia muda diasosiasikan dengan potensi, produktivitas, dan energi untuk mengejar. Sedangkan usia tua sering dipinggirkan sebagai fase “menunggu ajal.” Tetapi kematian membatalkan semua peta ini. Ia tidak tunduk pada logika pembangunan diri atau investasi masa depan. Kematian hadir sebagai koreksi radikal terhadap segala bentuk penundaan eksistensial. Penundaan untuk menjadi diri sendiri, penundaan untuk mencintai, memaafkan, mencipta, atau sekadar hadir secara jujur dalam hidup ini.
Filsafat kontemporer, dalam geliatnya yang berangkat dari kehampaan dan absurditas dunia modern, menyodorkan satu pernyataan yang tajam: hidup adalah proyek yang tidak pernah selesai. Dan justru karena tidak selesai itulah hidup harus dijalani dengan kesadaran penuh bahwa setiap saat bisa menjadi yang terakhir. Maka hidup bukanlah soal menunggu momen besar, tetapi bagaimana menanamkan makna dalam momen-momen kecil yang sering diabaikan. Duduk bersama keluarga, memandang langit senja, menulis dengan sepenuh hati, atau bahkan sekadar mendengar dengan sepenuh jiwa; semua ini menjadi tindakan filosofis yang bernilai karena dijalani dalam kesadaran akan kefanaan.
Kematian orang muda kerap menjadi tamparan keras karena ia mencabut keyakinan diam-diam yang kita pelihara: bahwa waktu akan cukup. Tetapi tidak pernah ada jaminan waktu akan cukup. Dalam ruang batin yang telah diterangi oleh kesadaran filsafat, kita mulai memahami bahwa rasa duka dalam takziah bukan hanya karena kepergian orang yang dicintai, tetapi juga karena kita melihat kemungkinan giliran diri sendiri dalam kematiannya. Yang kita tangisi bukan hanya dia, tetapi juga ilusi kita sendiri yang tiba-tiba runtuh. Di hadapan jenazah, yang kita lihat sebenarnya adalah wajah waktu yang sesungguhnya: tidak bisa ditebak, tidak bisa dikendalikan, dan tidak bisa diminta apalagi diundurkan.
Momen ini seharusnya menjadi ruang perlawanan terhadap struktur hidup modern yang menumpulkan sensitivitas eksistensial. Kita hidup dalam masyarakat yang membangun mekanisme untuk menjauhkan manusia dari kematian: rumah sakit, rumah duka, peti mati yang rapih, bahkan kata-kata eufemistik seperti “berpulang” atau “tidur panjang.” Kematian disterilkan dari kehidupan sehari-hari. Padahal, dalam filsafat kontemporer, justru dengan mengintegrasikan kesadaran akan kematian ke dalam hiduplah manusia bisa membebaskan diri dari alienasi. Sebab kematian bukan musuh, tetapi guru yang paling jujur.
Menghadiri takziah adalah momen pengungkapan, bukan penutupan. Ia membuka lapisan terdalam dari diri manusia; lapisan yang sering dikubur oleh rutinitas dan distraksi digital. Kita dihadapkan pada kemungkinan kehilangan, dan pada akhirnya, pada kehilangan diri sendiri. Ketika seseorang yang kita kenal, apalagi yang muda, meninggal dunia, kita tidak hanya kehilangan sosok, tetapi juga bagian dari narasi hidup kita yang ikut berakhir. Ini adalah bentuk kematian simbolik yang mengguncang. Di titik ini, filsafat tidak menawarkan kata-kata manis, tetapi kejujuran pahit: bahwa hidup adalah perjuangan terus-menerus untuk menghadirkan makna, bukan menundanya.
Namun, dari kejujuran pahit inilah muncul potensi pembebasan. Kesadaran bahwa kita bisa meninggal kapan saja memampukan kita untuk mencintai lebih dalam, mengampuni lebih cepat, dan hadir lebih penuh. Ia menelanjangi semua alasan untuk marah yang terlalu lama, ambisi yang menyesakkan, dan kecemasan yang tak produktif. Apa artinya semua itu jika besok kita tiada? Filsafat kontemporer mengajarkan untuk hidup seakan-akan setiap hari adalah yang terakhir, bukan dalam sikap fatalistik, tetapi dalam keterjagaan eksistensial. Dengan demikian, hidup menjadi tindakan penciptaan yang terus menerus: mencipta makna, relasi, harapan, dan kedalaman.
Akhirnya, ketika kaki melangkah meninggalkan rumah duka, pertanyaan besar itu datang: “sudahkah aku benar-benar hidup? Sudahkah aku memilih hidupku sendiri, bukan yang dipaksakan oleh harapan orang lain? Sudahkah aku memaafkan, mencinta, memberi, mencipta, dan melepaskan? Ataukah aku menunggu, menunggu waktu yang tidak pernah menjanjikan apapun?”. Di sinilah filsafat menjadi panggilan sunyi yang paling jujur untuk mengajak kita kembali pada yang esensial, pada hidup yang dijalani dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah anugerah, bukan hak. Takziah adalah undangan untuk berhenti sejenak, menyadari bahwa hidup ini bukan panggung pertunjukan yang bisa diulang, tapi satu-satunya kesempatan untuk menjadi manusia yang utuh. Maka, siapa pun yang berani menatap kematian dengan jujur, akan menemukan kehidupan yang lebih layak untuk dijalani. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Kulit Boleh Ganti, Namun Racun Tetap Berbisa
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Seorang doktor muda dari seberang sana mengirim pesan lewat piranti sosial, yang isinya menunjuk beberapa petinggi; pada masa lalu memiliki persoalan dengan negeri saat menjadi pejabat. Untuk beberapa waktu hilang ditelan bumi, namun kini muncul dengan tampilan baru. Di sisi lain ada “narapidana” ujaran kebencian yang dilayangkan kepada orang nomor dua di negeri ini beberapa waktu lalu, dan keputusannya sudah memiliki kekuatan hukum. Namun entah mengapa eksekusi tidak pernah dilakukan, yang bersangkutan hilang ditelan bumi begitu terbuka kedoknya; berbeda dengan para pencuri ayam, kambing, getah karet; sekalipun belum memiliki kekuatan hukum tetap, mereka sudah masuk buih duluan. Tampaknya sekarang ada adagium bagai ular cuma ganti kulit, namun racun tetap berbisa.
Ungkapan ini sebenarnya bukan hanya pernyataan bernuansa peringatan, tapi juga sebuah jendela menuju refleksi filsafat kontemporer yang dalam dan berlapis. Ia memuat kritik tajam terhadap segala bentuk perubahan yang sifatnya kosmetik; perubahan yang hanya terjadi di permukaan, namun esensi dan potensi bahayanya tetap utuh. Di balik metafora sederhana tentang seekor ular, tersembunyi kebenaran sosial, politik, psikologis, bahkan eksistensial yang sangat relevan dengan dunia modern. Dunia di mana kulit bisa diganti kapan saja, tetapi racun tetap aktif dalam diam.
Pada kehidupan saat ini, perubahan tampilan adalah mata uang sosial yang sangat berharga. Individu, institusi, bahkan negara, berlomba-lomba mengganti ‘kulit’ mereka agar terlihat segar, adaptif, dan progresif. Gaya berpakaian, cara bicara, slogan, merek, desain visual, jargon digital; semua bisa diganti dalam hitungan hari. Namun, jarang yang bertanya: apakah perubahan tersebut juga menyentuh niat, struktur, atau nilai-nilai terdalam yang membentuk entitas itu? Atau jangan-jangan, yang terjadi hanyalah kamuflase? Kulit berubah, namun isi tetap busuk. Racun yang dahulu mengancam tetap aktif, hanya saja sekarang dibungkus lebih rapi, lebih modern, dan lebih sulit dikenali.
Filsafat kontemporer banyak berbicara soal relasi antara penampilan dan esensi. Dunia modern telah menciptakan kondisi di mana representasi bisa menggantikan kenyataan. Penampilan luar tidak lagi menjadi jendela menuju yang dalam, tetapi justru menjadi penghalang yang menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Dalam konteks ini, kulit baru menjadi alat yang sangat efektif untuk membentuk ilusi perubahan. Di sinilah letak bahayanya. Karena dengan kulit yang mengilap dan dirancang secara estetis, racun bisa bergerak lebih leluasa tanpa menimbulkan kecurigaan. Bahkan, racun itu bisa dipasarkan sebagai obat, karena tampilannya kini dibungkus oleh kata-kata yang menenangkan dan visual yang menipu.
Ular dalam ungkapan tersebut bukan hanya mewakili individu yang berpura-pura berubah. Ia juga bisa menjadi simbol dari sistem, institusi, atau kekuasaan yang telah mahir mengubah wajahnya agar tetap relevan dan tidak diganggu. Di ranah kehidupan nyata, sering kali kita melihat pemimpin yang berbicara tentang reformasi, regenerasi, dan transformasi. Namun setelah naik ke tampuk kekuasaan, mereka mengulangi pola dominasi lama, dengan teknik yang lebih halus. Retorika demokrasi digunakan untuk menutupi praktik oligarki. Bahasa perubahan digunakan untuk membungkus pelanggengan struktur lama. Ular telah mengganti kulit, dan masyarakat pun terkecoh. Padahal, racunnya bukan hanya tetap berbisa, melainkan semakin tersembunyi dan lebih sulit diberantas.
Bahkan dalam kehidupan personal, kita melihat pola serupa. Individu berlomba-lomba memperbaiki penampilan, membentuk identitas digital yang rapi, dan berbicara tentang pertumbuhan diri. Kata-kata seperti “healing”, “self-love”, dan “transformasi diri” menjadi bagian dari bahasa sehari-hari. Namun dalam banyak kasus, ini hanya lapisan baru di atas luka lama yang tidak pernah benar-benar dihadapi. Orang mengganti kulitnya, tetapi masih memelihara pola pikir destruktif, cara mencintai yang posesif, atau cara marah yang menekan. Racun dalam diri tidak dinetralkan, hanya disembunyikan agar tidak terlihat oleh publik. Padahal, racun yang disangkal jauh lebih mematikan daripada racun yang diakui.
Esensi dari perubahan yang sejati bukanlah pergantian bentuk, melainkan pergeseran nilai dan pembaruan kesadaran. Filsafat kontemporer berulang kali menekankan pentingnya kesadaran reflektif yaitu kesadaran yang mampu melihat ke dalam, mengakui keretakan, dan bersedia membongkar hal-hal yang telah lama dianggap mapan. Dalam hal ini, kulit baru yang tanpa kesadaran mendalam hanya akan menjadi selubung penipuan. Transformasi sejati menuntut keberanian untuk menyentuh racun, memahami asal-usulnya, dan perlahan-lahan menetralkannya. Bukan dengan menyembunyikannya di balik retorika positif, melainkan dengan proses jujur dan sering kali menyakitkan.
Filsafat kontemporer juga menunjukkan bahwa racun tidak selalu muncul dalam bentuk negatif yang vulgar. Terkadang, racun justru memakai wajah yang manis, kata-kata yang memikat, atau strategi yang menyentuh emosi. Dalam konteks ini, racun bukan sekadar ancaman biologis atau sosial, tapi juga ideologis. Sebuah ide bisa menjadi racun ketika ia menipu, mengontrol, dan meniadakan keberagaman. Dan ketika ide itu dikemas dalam format yang indah, dalam narasi kemajuan, atau dalam janji utopis, ia menjadi racun yang sangat sulit ditolak. Kulit baru membuat racun tampak seperti hadiah. Dan inilah yang membuatnya begitu berbahaya.
Dari seluruh perenungan ini, muncul kesimpulan penting: bahwa kita perlu membangun kepekaan untuk membedakan antara perubahan yang sejati dan yang semu. Kita perlu belajar mengenali kapan seseorang atau sesuatu telah berubah karena kesadaran, dan kapan mereka hanya mengganti kulit agar terlihat baik. Kita perlu belajar melihat ke dalam, tidak hanya terpaku pada permukaan. Dan yang lebih penting, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita pun telah menjadi ular yang mengganti kulit namun tetap memelihara racun?
Transformasi sejati bukanlah kosmetik. Ia adalah proses lambat, reflektif, dan menyakitkan yang dimulai dari pengakuan atas racun yang kita miliki; baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari sistem. Ia bukan tentang tampak lebih baik, tapi tentang menjadi lebih jujur. Ia bukan tentang citra, tapi tentang keberanian menantang kenyamanan lama. Kulit baru tidak cukup, jika racun tetap disimpan.
Maka, dalam dunia yang penuh pencitraan, mungkin peringatan terdalam untuk kita adalah:” jangan hanya jadi ular yang ganti kulit. Jadilah makhluk yang berani membuang racunnya”. Bukan untuk tampil lebih indah, tapi untuk hidup lebih jujur dan menyembuhkan dunia yang sudah terlalu lama dibungkus oleh transformasi yang menipu. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Ketika Kata Menjadi Luka
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Pelantikan seorang pejabat tinggi di bidang keuangan negara adalah momen yang mengandung beban simbolik cukup besar. Di sanalah harapan kolektif digantungkan, seakan-akan sosok baru ini bukan hanya datang membawa kebijakan, tetapi juga membawa wajah baru bagi sistem ekonomi yang selama ini dirasa jauh dan tak terjangkau. Namun ketika pada momen pertama kehadirannya ke publik ia menyampaikan sebuah pernyataan yang mereduksi keresahan rakyat menjadi sekadar “reaksi emosional minoritas” yang akan reda seiring dengan pertumbuhan ekonomi, maka simbol yang semestinya mengandung harapan justru menjadi sumber luka. Yang hadir bukan kebaruan, melainkan pengulangan: bahwa kekuasaan masih saja berbicara dengan jarak, masih saja mendefinisikan realitas dari menara statistik.
Filsafat kontemporer telah berulang kali memperingatkan bahwa bahasa bukanlah sekadar sarana komunikasi, melainkan instrumen pembentukan dunia. Di dalam kata-kata, kekuasaan membangun realitas; dan bisa jadi, setiap kata menjadi dasar tindakan. Maka ketika seorang pejabat publik berbicara, ia tidak sedang menyampaikan pendapat personal, tetapi ia sedang menyusun lanskap makna tempat rakyat akan hidup di dalamnya. Kata-kata yang keluar dari mulut seorang pejabat keuangan bukan sekadar refleksi pemikiran pribadi, melainkan sebuah performa simbolik yang mengukuhkan atau merusak legitimasi.
Ketika rakyat merasa harga-harga tidak terjangkau, ketika ketimpangan sosial tampak semakin telanjang, suara mereka adalah bentuk paling otentik dari eksistensi keberadaannya: mereka hadir, mereka menuntut, mereka menyuarakan ketidakadilan. Dan ketika suara ini dijawab dengan penjelasan teknokratis bahwa semua akan baik-baik saja nanti, bahwa pertumbuhan akan menenangkan gejolak, maka pada saat itu pula eksistensi rakyat didegradasi menjadi gangguan statistik. Mereka yang lapar, cemas, dan frustasi tidak lagi diposisikan sebagai manusia dengan pengalaman otentik, tetapi sebagai data yang harus dikelola.
Pendekatan ini sangat mencerminkan logika positivistik yang mendominasi cara berpikir kekuasaan modern. Dalam logika tersebut, hanya yang terukur yang dianggap sahih. Maka yang tidak bisa diukur: seperti rasa sakit sosial, penghinaan simbolik, dan rasa ditinggalkan; dianggap sebagai gangguan yang harus diredam, bukan didengarkan. Di sinilah ironi paling tajam dari kekuasaan kontemporer: ia berbicara tentang rakyat, tetapi tidak mendengar apa kata rakyat; ia berbicara atas nama keadilan sosial, tetapi meragukan legitimasi rasa sakit rakyat.
Filsafat eksistensial mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa direduksi menjadi fungsi. Ia bukan alat dari kebijakan ekonomi, bukan entitas pasif yang menunggu bantuan pemerintah. Ia adalah subjek yang hidup, berpikir, dan merasakan. Maka ketika seorang pejabat publik meremehkan perasaan publik, ia sedang menyatakan bahwa emosi kolektif rakyat tidak punya nilai epistemik; bahwa marah dan kecewa bukan bagian dari pengetahuan, melainkan hambatan yang harus dilampaui. Ini adalah bentuk pelecehan epistemik, di mana satu pihak merasa berhak mendefinisikan mana yang rasional dan mana yang emosional. Dan biasanya, yang emosional adalah rakyat miskin, sementara yang rasional adalah para penguasa.
Namun sesungguhnya, yang mereka sebut sebagai “reaksi emosional” itu adalah bentuk paling jujur dari komunikasi model rakyat. Rakyat tidak memiliki akses ke statistik, tidak paham bahasa pasar obligasi, tidak punya tempat dalam negosiasi IMF. Yang mereka miliki hanyalah pengalaman sehari-hari: harga beras naik, biaya sekolah melonjak, lapangan kerja menyempit. Maka kemarahan mereka bukan gangguan, tetapi narasi yang valid. Dan ketika narasi ini disangkal atau dikecilkan, maka rakyat bukan hanya dibuat tidak relevan, justru mereka dihapus.
Bahasa kekuasaan, dalam konteks ini, menjadi kekerasan simbolik. Ia mengatur siapa yang boleh berbicara, siapa yang layak didengar, dan mana yang hanya layak diabaikan. Ketika seorang pejabat mengatakan bahwa rakyat akan diam setelah ekonomi membaik, ia bukan hanya menyampaikan harapan, tetapi sedang menanamkan premis bahwa penderitaan hari ini sah demi masa depan yang belum tentu tiba. Di sinilah lahir kejahatan metafisika kekuasaan: penderitaan hari ini dianggap wajar, karena janji kesejahteraan telah dicanangkan di esok hari. Padahal, yang menderita hari ini tidak hidup di masa depan. Mereka hidup sekarang, mereka berhak untuk mendapatkan sekarang. Dan, mereka berhak untuk bersuara sekarang.
Filsafat kontemporer; khususnya yang mencermati relasi antara kekuasaan, bahasa, dan tubuh, melihat bahwa kekuasaan tidak lagi hadir dalam bentuk represi fisik, tetapi dalam bentuk pengaturan diskursif. Kekuasaan tidak perlu melarang rakyat berbicara; cukup dengan menciptakan wacana yang membuat suara rakyat tidak terdengar, atau terdengar sebagai keluhan tidak rasional. Maka bahasa pejabat publik bukan hanya soal gaya atau kecakapan komunikasi, tetapi tentang siapa yang dimungkinkan untuk eksis dalam ruang wacana.
Pernyataan yang merendahkan jeritan rakyat bukanlah insiden kecil. Ia adalah penanda ideologi yang lebih dalam: ideologi di mana rakyat diposisikan sebagai objek pembangunan, bukan subjek keadilan. Dalam ideologi ini, ekonomi menjadi berhala baru, dan rakyat hanya layak dihormati jika mereka produktif, patuh, dan tidak cerewet. Maka ketika mereka bersuara, kekuasaan menjawab bukan dengan empati, tetapi dengan perhitungan. Keseimbangan fiskal lebih penting daripada keseimbangan perasaan. Padahal, negara tidak dibangun di atas neraca. Ia dibangun di atas rasa saling percaya. Dan tidak ada kepercayaan tanpa penghormatan terhadap luka.
Ketika rakyat merasa kecewa, terluka, atau marah atas pernyataan pejabat, sesungguhnya mereka sedang menuntut satu hal: pengakuan. Bukan sekadar pengakuan bahwa mereka ada, tetapi pengakuan bahwa mereka berarti. Bahwa suara mereka bukan sekadar gangguan, tetapi ekspresi autentik dari warga negara. Maka tugas pertama seorang pemimpin, sebelum berbicara tentang solusi, adalah mendengarkan.
Mendengarkan bukan untuk menjawab, tetapi untuk mengakui dan memahami. Dalam konteks itu, seorang pejabat publik tidak boleh hanya menjadi perumus kebijakan, tetapi juga pembawa empati. Ia tidak boleh hanya menjadi manajer sistem, tetapi juga pelayan rasa. Dan dalam masyarakat yang luka, bahasa harus menjadi jembatan, bukan palu godam.
Dalam peradaban yang sehat, pemimpin pertama-tama adalah pendengar. Sebab, hanya dengan mendengar, ia bisa mengerti, dan hanya dengan mengerti, ia bisa merawat. Oleh sebab itu, pejabat keuangan yang baru, alih-alih segera bicara tentang bagaimana ekonomi akan menyembuhkan segalanya, seharusnya bertanya lebih dulu: “Apa yang kau rasa hari ini?” Bukan karena pertanyaan itu akan membuat angka berubah, tetapi karena ia akan membuat manusia merasa dilihat. Karena dalam negara yang demokratis, tidak ada hal yang lebih penting daripada rakyat merasa dilihat. Bukan karena mereka bagian dari statistik, tetapi karena mereka adalah alasan mengapa negara ada. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman