Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Apa hikmah dari peristiwa yang terjadi pada 28 Agustus lalu ?. Pertanyaan ini menggema di ruang kuliah pascasarjana, di ruang diskusi para professor, dan di sudut-sudut pertemuan informal para pendekar disiplin ilmu. Bahkan ada seorang doktor dari Bumi Sriwijaya meminta pendapat melalui piranti sosial tentang peristiwa itu. Tentu jawabannya sangat beragam, sesuai keberagaman sudut pandang dan disiplin ilmu yang dijadikan pijakan.
Tulisan ini mencoba memposisikan diri pada sudut pandang filsafat kontemporer. Tentu dengan perspektif akademik. Tulisan ini bukan mencari kebenaran, akan tetapi mendeskripsikan suatu penalaran filsafat terhadap peristiwa yang terjadi.
Kondisi saat ini tidak lagi berdiri di atas garis terang antara yang sahabat dan yang lawan. Dalam tatanan sosial yang konon demokratis, pembedaan semacam itu seharusnya bisa dikenali dengan jelas melalui prinsip, platform, dan agenda. Namun, di medan kekuasaan yang kini kita hadapi, garis itu telah cair; mengabur oleh retorika, terlarut dalam manuver, dan dibungkus oleh pencitraan. Figur-figur yang tampil di depan begitu bersahabat, saling sanjung, saling memeluk dalam forum-forum publik, tetapi apa yang terjadi di balik layar sering kali adalah permainan tikam-menikam, jebakan loyalitas palsu, dan perebutan
kekuasaan yang sunyi namun ganas. Dalam istilah yang berkembang di ruang sosial: di depan
tampak friendly, di belakang seperti “sengkuni”.
Filsafat kontemporer melihat kondisi ini bukan sekadar sebagai penyimpangan etis, tetapi sebagai bentuk krisis makna dalam praksis sosial-politik. Kita tidak sedang menyaksikan sekadar drama kekuasaan, tetapi pembusukan simbol dalam jagat representasi politik. Relasi sosial dan institusional telah menjadi medan di mana kejujuran dibungkam oleh performa, kebenaran dikalahkan oleh persepsi, dan prinsip diperdagangkan demi aliansi sesaat.
Dalam perspektif fenomenologi kontemporer, realitas tidak lagi dibangun berdasarkan apa yang benar-benar dihayati, tetapi apa yang tampak. Penampilan menjadi realitas itu sendiri. Sosok-sosok di depan kamera menampilkan gestur harmoni, bersalaman, tersenyum, dan menyatakan komitmen terhadap bangsa dan rakyat. Tapi kesadaran yang dibentuk bukan lagi kesadaran akan substansi, melainkan kesadaran akan tampilan. Apa yang tak tampak; niat tersembunyi, strategi culas, atau agenda personal, dibuang dari medan wacana. Kita menjadi saksi atas “fenomenologi kekosongan”. Setiap gestur politik menjadi simulakra: bayangan tanpa wujud asli, gambar tanpa makna yang hidup.
Lebih jauh lagi, teori pascamodernisme, melalui pemikiran tentang dekonstruksi dan permainan
tanda, menunjukkan bahwa dalam ruang semacam ini, tidak ada lagi signifikansi tetap. “Kawan” dan “lawan” adalah tanda-tanda yang tak memiliki rujukan tetap, melainkan terus igeser sesuai kepentingan. Seseorang bisa menjadi kawan hari ini dan lawan besok, tergantung siapa yang berkuasa. Tanda kehilangan landasan. Retorika kerakyatan, nasionalisme, kesetiaan pada konstitusi; semuanya bisa digunakan oleh siapa saja, bahkan oleh mereka yang diam-diam merancang kudeta lembut terhadap etika demokrasi.
Filsafat kontemporer menggarisbawahi bahwa kekuasaan modern bukan lagi kekuasaan yang brutal secara fisik, melainkan kekuasaan yang halus, tersembunyi, dan bekerja melalui kontrol simbolik. Sosok yang tampak ramah bisa saja adalah arsitek kekacauan, selama publik tidak mampu melihat di balik jubah keramahan itu. Kekuasaan hari ini bekerja melalui fabrikasi narasi, manajemen persepsi, dan pertukaran simbol. Seorang yang terlihat “merangkul” belum tentu berniat menyatukan. Bisa jadi ia hanya sedang menyiapkan panggung untuk menusuk saat panggung berganti.
Situasi ini menjelaskan mengapa hari ini, loyalitas menjadi barang yang cair. Tidak ada lagi garis ideologis yang kokoh. Yang ada hanyalah oportunisme dalam bentuk yang dibungkus seolah-olah demi rakyat, demi stabilitas, atau demi persatuan. Persahabatan politik menjadi semacam transaksi sesaat, dan ketika transaksi itu selesai, pengkhianatan bukan lagi dianggap dosa, tetapi taktik.
Dalam pandangan kerangka teori kritis, keadaan ini disebut sebagai distorsi komunikasi: dialog tidak lagi berangkat dari kehendak rasional yang tulus, tetapi dari kalkulasi kepentingan tersembunyi. Saling dukung hanya terjadi jika ada kompensasi kekuasaan. Koalisi dibentuk bukan berdasarkan visi jangka panjang, melainkan pembagian kursi. Bahkan oposisi pun tak lagi murni sebagai pengawas kekuasaan, tetapi sekadar posisi tawar agar dapat masuk ke lingkar kekuasaan yang lebih besar. Maka, narasi “bersatu demi bangsa”
menjadi retorika kosong, dan rakyat hanya menjadi penonton dalam sandiwara elite.
Filsafat etika kontemporer menyadarkan kita bahwa krisis ini adalah krisis tanggung jawab. Penguasa kehilangan watak etikanya ketika keputusan diambil tanpa pertimbangan terhadap keadilan, kebenaran, atau kesejahteraan kolektif. Tindakan penguasa, dalam etika tanggung jawab, seharusnya mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi kehidupan bersama. Namun dalam praksis kita hari ini, tindakan penguasa justru didesain untuk keuntungan jangka pendek: mempertahankan kekuasaan, meredam kritik, dan menciptakan ilusi keberhasilan. Semua dilakukan dengan wajah ramah, dan senyum palsu yang disiarkan di
media.
Dalam refleksi eksistensial, kita menemukan bahwa manusia kontemporer tengah berada dalam krisis keaslian. Ia tak lagi hidup sebagai dirinya sendiri, tetapi sebagai aktor dalam panggung yang menuntut peran tertentu. Keberanian untuk menjadi autentik, untuk menyatakan perbedaan, menolak kooptasi, atau mempertahankan prinsip; menjadi langka. Yang ada justru adalah konformitas yang dibungkus narasi kesatuan. Sosok-sosok yang berani berbeda segera dibungkam dengan dalih tidak sejalan, tidak kooperatif, atau tidak dewasa.
Maka, ketulusan dalam situasi seperti ini menjadi subversif; kejujuran menjadi anomali. Semua ini menunjukkan bahwa kita sedang hidup dalam kondisi krisis episteme: kebingungan mendasar dalam membedakan antara yang asli dan yang palsu, antara yang jujur dan yang manipulatif. Relasi sosial berada dalam medan yang kabur. Kita tak lagi tahu siapa benar-benar kawan, siapa sungguh lawan. Dalam iklim seperti ini, rakyat yang menjadi korban utama: karena mereka tidak memiliki akses terhadap ruang-ruang tersembunyi tempat keputusan strategis diambil. Mereka hanya menerima produk akhir dari manuver elite:
kenaikan harga, pembatasan kebebasan, atau kebijakan-kebijakan yang dibuat atas nama rakyat, tetapi tidak pernah bersama rakyat.
Filsafat kontemporer tidak memberikan solusi sederhana. Ia tidak menawarkan resep revolusi instan atau kepastian moral. Tapi ia menawarkan lensa untuk memahami kompleksitas: bahwa dalam situasi seperti ini, kewaspadaan intelektual menjadi bentuk resistensi. Kita perlu mencurigai keramahan yang terlalu manis, mempertanyakan narasi yang terlalu rapi, dan membongkar keakraban relasi yang tidak dibangun dari nilai.
Kita tidak bisa lagi puas dengan kata-kata indah; karena sering kali, yang paling mematikan justru dibungkus dengan senyum paling hangat. Di titik ini, filsafat kembali menemukan relevansinya. Ia mengajarkan kita untuk berpikir, meragukan, dan tidak terjebak pada permukaan. Bahwa dalam dunia di mana yang tampak
bersahabat bisa jadi adalah yang paling berbahaya, maka satu-satunya jalan adalah menjadi manusia yang berani berpikir secara radikal sampai ke akar. (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Sinergi Akademisi Universitas Malahayati dan Masyarakat, Arah Baru Pengelolaan Sampah dan Akses Sanitasi di Tanggamus melalui Pelatihan Bank Sampah
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Pelatihan dan penimbangan Bank Sampah di Kapuran ini merupakan tindak lanjut dari pengukuhan bank sampah yang telah dilakukan sebelumnya oleh Dina Dwi Nuryani, SKM., M.Kes., Nova Muhani SST., MKM., Anita, serta tim dosen dan mahasiswa Universitas Malahayati sebagai bagian dari perwujudan Tri Dharma perguruan tinggi di bidang kesehatan masyarakat serta sebagai bagian dari komitmen dalam mendukung gerakan sanitasi dan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Tanggamus.
Acara ini juga dihadiri oleh Camat Kota Agung dan Lurah Pasar Madang yang aktif mendukung setiap program. Pembicara Lisa (Bank Sampah Induk Kabupaten Tanggamus) dan Dwi Apriana (Kementerian Kehutanan) memberikan materi tentang pengelolaan sampah terpadu, strategi pembukuan bank sampah, serta kaitannya dengan peningkatan akses sanitasi.
Program ini melanjutkan hasil penelitian Vera Yulyani (Universitas Malahayati) mengenai pemberdayaan sanitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak masyarakat belum memiliki jamban. Melalui Bank Sampah Kapuran, diharapkan masyarakat dapat menabung dari sampah untuk membangun jamban sendiri, menciptakan lingkungan bersih, sehat, dan bebas BABS.
Harapannya, kegiatan ini dapat memperkuat kesadaran lingkungan, meningkatkan akses sanitasi, dan menjadi model pemberdayaan berkelanjutan di Kabupaten Tanggamus.
Pendanaan kegiatan ini didukung oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema PKM dengan judul: “Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Sinergi Pengelolaan Sampah dan Akses Sanitasi untuk STOP BABS di Kabupaten Tanggamus.” angkah kecil, dampak besar!
Pelatihan dan penimbangan di Bank Sampah Kapuran ini merupakan tindak lanjut dari pengukuhan bank sampah yang telah dilakukan sebelumnya oleh Dina Dwi Nuryani, Nova Muhani, Anita, serta tim dosen dan mahasiswa Universitas Malahayati sebagai bagian dari perwujudan Tri Dharma perguruan tinggi di bidang kesehatan masyarakat.
Pendanaan kegiatan ini didukung oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema PKM dengan judul:
“Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Sinergi Pengelolaan Sampah dan Akses Sanitasi untuk STOP BABS di Kabupaten Tanggamus.” (gil)
Editor: Gilang Agusman
Hari Kedua PKKMB Universitas Malahayati, Prof. Sudjarwo Kupas Peran Pendidikan Tinggi dalam Membangun SDM Unggul
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Malahayati 2025 kembali berlanjut pada hari kedua, Kamis (11/9/2025). Bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati, sebanyak 1.296 mahasiswa baru antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang menghadirkan materi inspiratif mengenai “Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia.”
Acara dipandu oleh Satria Wijaya, S.Pd., M.Pd sebagai moderator, dengan narasumber utama Prof. Dr. Sudjarwo, MS, Guru Besar Universitas Malahayati yang dikenal sebagai akademisi senior dengan kepakaran dalam bidang pendidikan.
Dalam pemaparannya, Prof. Sudjarwo menekankan bahwa pendidikan tinggi merupakan salah satu kunci penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Negara-negara yang berhasil berkembang pesat, kata beliau, selalu menempatkan pendidikan tinggi sebagai prioritas pembangunan.
“Pendidikan tinggi bukan sekadar tempat belajar teori, tetapi juga laboratorium kehidupan yang mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi perubahan dunia,” ungkap Prof. Sudjarwo.
Beliau menjelaskan, peran pendidikan tinggi sangat strategis dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing global. Tiga poin utama yang menjadi sorotan adalah:
1. Menciptakan tenaga kerja terampil dan adaptif – Mahasiswa dipersiapkan agar mampu bersaing di dunia kerja yang terus berubah.
2. Mendorong inovasi dan riset – Perguruan tinggi harus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.
3. Membangun karakter dan kepemimpinan – Pendidikan tinggi harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas, visioner, dan siap memimpin.
Selain peluang besar, Prof. Sudjarwo juga menyoroti tantangan global yang dihadapi dunia pendidikan tinggi, mulai dari revolusi industri 4.0, perkembangan teknologi digital, hingga persaingan tenaga kerja lintas negara. Mahasiswa dituntut untuk tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki soft skill, kemampuan komunikasi, dan daya adaptasi yang tinggi.
“Kalian, para mahasiswa baru, adalah aset bangsa. Tantangan global tidak boleh membuat gentar, justru harus menjadi motivasi untuk terus belajar, berinovasi, dan membawa nama Indonesia ke kancah dunia,” tegasnya.
Materi ini disambut antusias oleh mahasiswa baru Universitas Malahayati. Sesi tanya jawab berlangsung dinamis, memperlihatkan rasa ingin tahu dan semangat mereka untuk memahami lebih dalam tentang sistem pendidikan tinggi serta perannya bagi masa depan. Kemudian dilanjut pemaparan langsung dari LPPM (Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat) yang dipimpin langsung Kepala LPPM, Prof. Erna Listyaningsih, SE, M.Si., Ph.D.
Universitas Malahayati melalui PKKMB 2025 berkomitmen tidak hanya memperkenalkan kehidupan kampus, tetapi juga menanamkan wawasan yang membekali mahasiswa untuk siap menghadapi tantangan global.
Hari kedua PKKMB ini menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi bukan hanya ruang akademik, melainkan juga sarana untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas, inovatif, dan berkarakter. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Hari Kedua PKKMB Universitas Malahayati, Brigjen TNI Enjang Tanamkan Semangat Bela Negara kepada Mahasiswa Baru
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Malahayati 2025 kembali berlangsung meriah pada hari kedua, Kamis (11/9/2025). Bertempat di Gedung Graha Bintang, sebanyak 1.296 mahasiswa baru mengikuti rangkaian kegiatan yang sarat makna, kali ini dengan tema “Kehidupan Berbangsa, Bernegara, Jati Diri Bangsa, dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara.”
Acara dipandu oleh Satria Wijaya, S.Pd., M.Pd selaku moderator, dan menghadirkan narasumber istimewa, Brigadir Jenderal TNI Enjang, S.I.P., M.Han, Inspektur Daerah Militer (IRDAM) XXI/ Radin Inten.
Dalam pemaparannya, Brigjen TNI Enjang menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan bangsa dan negara. Menurutnya, kehidupan berbangsa dan bernegara bukan hanya sekadar identitas formal, tetapi juga pengamalan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta kepedulian terhadap sesama.
“Bangsa yang besar bukan hanya karena kekayaan alamnya, tetapi karena rakyatnya memiliki jati diri, cinta tanah air, dan kesadaran untuk membela negaranya,” tegas Brigjen Enjang di hadapan ribuan mahasiswa baru.
Ia mengingatkan bahwa jati diri bangsa Indonesia berpijak pada Pancasila sebagai ideologi, UUD 1945 sebagai konstitusi, Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan, dan NKRI sebagai bentuk final negara. Mahasiswa, sebagai generasi penerus, diharapkan mampu menjaga keempat pilar tersebut dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, termasuk arus globalisasi, degradasi moral, hingga penyalahgunaan teknologi.
Brigjen TNI Enjang menjelaskan bahwa bela negara bukan hanya berarti angkat senjata, melainkan bisa diwujudkan dalam banyak hal, seperti: belajar dengan tekun dan berprestasi, menjaga persatuan dan kerukunan, taat hukum dan berdisiplin, serta berkontribusi nyata di masyarakat.
“Kesadaran bela negara adalah kewajiban seluruh warga negara, termasuk mahasiswa. Dengan menanamkan disiplin, etika, dan kepedulian, kita semua bisa menjadi bagian dari benteng pertahanan bangsa,” ujarnya.
Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa tampak antusias menggali pandangan narasumber tentang peran generasi muda di tengah kondisi bangsa saat ini. Brigjen Enjang menegaskan bahwa mahasiswa harus menjadi agen perubahan (agent of change) yang mampu memberikan solusi, bukan hanya menjadi penonton.
Hari kedua PKKMB ini menjadi momentum berharga untuk memperkokoh pemahaman mahasiswa baru tentang pentingnya berbangsa, bernegara, serta kesiapan mereka dalam membangun negeri. Dengan semangat bela negara, Universitas Malahayati berharap para mahasiswa mampu menjadi generasi tangguh yang siap menghadapi tantangan masa depan. (gil)
Editor: Gilang Agusman
PKKMB Universitas Malahayati Hari Kedua, Bekal Memasuki Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0
Acara pada Kamis (11/9/2025) ini dipandu oleh Rika Yulenda Sari, S.Kep., Ns., M.Kep selaku moderator, dan menghadirkan Dr. M. Arifki Zainaro, S.Kep., Ns., M.Kep, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Internal (LPMI) Universitas Malahayati, sebagai narasumber utama. Dr. Arifki membawakan materi dengan tema “Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0”, yang memberikan wawasan penting bagi mahasiswa baru dalam menyiapkan diri menghadapi tantangan zaman.
Lebih jauh, Dr. Arifki menjelaskan konsep Society 5.0 yang diperkenalkan di Jepang pada tahun 2019. Society 5.0 merupakan visi masyarakat super cerdas (super smart society), di mana teknologi digital tidak hanya untuk efisiensi industri, melainkan juga diarahkan bagi kesejahteraan manusia.
“Jika Revolusi Industri 4.0 lebih menekankan pada integrasi teknologi, maka Society 5.0 menempatkan manusia sebagai pusatnya. Teknologi hadir untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar menggantikan peran manusia,” jelasnya.
Suasana PKKMB hari kedua terasa penuh antusiasme. Para mahasiswa mendengarkan dengan seksama, banyak yang mencatat poin-poin penting, bahkan terlibat aktif dalam sesi tanya jawab.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga motivasi untuk menjadi generasi unggul yang adaptif di era digital, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Hari Kedua PKKMB Universitas Malahayati, Bentuk Mahasiswa Berkarakter, Tegas Tolak Narkoba
Acara berlangsung hangat dengan dipandu oleh moderator Ayu Nursari, SE., ME. Dalam sesi ini, Universitas Malahayati menghadirkan narasumber istimewa, Fhata Z’Af Al’Ali, M.I.Kom, Penyuluh Narkoba Ahli Muda dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung.
“Mahasiswa adalah agen perubahan. Jika kalian kuat dan tegas menolak narkoba, maka lingkungan sekitar pun akan ikut terlindungi,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengajak mahasiswa baru Universitas Malahayati untuk menjadi duta anti narkoba di kampus maupun di masyarakat. Menurutnya, langkah kecil seperti berani berkata tidak terhadap ajakan, menjaga pergaulan, hingga aktif menyuarakan bahaya narkoba di media sosial merupakan kontribusi nyata dalam upaya pencegahan.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman, tetapi juga menjadi ajang motivasi bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri dengan karakter yang sehat, tangguh, dan berintegritas. Universitas Malahayati pun menegaskan komitmennya untuk mendukung program pemerintah dalam menciptakan lingkungan kampus yang bersih dari narkoba.
PKKMB hari kedua ini menjadi bukti nyata bahwa Universitas Malahayati tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga serius membentuk mahasiswa yang berkarakter kuat, peduli lingkungan, dan siap menjadi garda terdepan dalam melawan narkoba. (gil)
Editor: Gilang Agusman
PKKMB Universitas Malahayati 2025, Rektor Beri Pesan Inspiratif dan Sukses untuk Generasi Baru
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati dipenuhi semangat dan antusiasme ribuan mahasiswa baru yang mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025. Sebanyak 1.296 mahasiswa baru secara resmi disambut oleh Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, SH., MH, y
ang memberikan sambutan dan arahan inspiratif untuk memulai perjalanan akademik mereka.
Dalam pidatonya, Rektor menekankan pentingnya membangun karakter mahasiswa yang disiplin, kreatif, kolaboratif, dan tangguh. Menurutnya, keempat nilai ini merupakan pondasi penting untuk menghadapi dinamika dunia kampus sekaligus persaingan global di masa depan.
“Kedisiplinan melatih tanggung jawab, kreativitas membuka ruang inovasi, kolaborasi menumbuhkan kekuatan kebersamaan, sementara ketangguhan menjadi bekal menghadapi tantangan hidup,” ujar Rektor.
Rektor juga mengingatkan mahasiswa agar selalu menjaga nama baik almamater Universitas Malahayati, baik di dalam maupun di luar kampus. Ia menegaskan bahwa setiap mahasiswa adalah duta kampus yang membawa citra universitas di tengah masyarakat. “Nama baik almamater ada di pundak kalian. Jadilah pribadi yang berintegritas, santun, dan membanggakan keluarga serta kampus tercinta ini,” tegas Dr. Muhammad Kadafi.
Selain itu, beliau mengimbau seluruh mahasiswa baru agar memiliki komitmen penuh dalam perkuliahan, termasuk hadir tepat waktu, fokus dalam belajar, serta tekun mengembangkan diri. “Komitmen itu penting. Jangan sia-siakan waktu, manfaatkan masa kuliah sebaik-baiknya. Karena dari situlah kesuksesan kalian akan dibangun menuju masa depan yang gemilang,” tambahnya.
Dalam pesannya, Rektor juga menyampaikan harapan besar kepada generasi muda Malahayati. “Kita melihat semangat luar biasa dari mahasiswa baru tahun ini. Mari kita doakan mereka bisa lulus tepat waktu, menjaga amanah orang tua, serta tumbuh menjadi insan cerdas dalam ilmu pengetahuan dan religius dalam sikap. Jadilah seperti pohon yang selalu memberikan kebaikan-kebaikan bagi masyarakat sekitar,” ucapnya penuh makna.
Acara pembukaan PKKMB ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, Wakil Rektor IV, serta seluruh pejabat di lingkungan Universitas Malahayati, yang bersama-sama memberikan dukungan penuh dalam menyambut mahasiswa baru.
PKKMB 2025 pun menjadi momentum penting, bukan hanya sebagai pengenalan kehidupan kampus, tetapi juga sebagai langkah awal membangun generasi unggul yang siap berkontribusi bagi bangsa, masyarakat, dan dunia. (gil)
Editor: Gilang Agusman
PKKMB Universitas Malahayati 2025 Resmi Dibuka, Mahasiswa Baru Siap Jalani Perjalanan Akademik
Tahun ini, sebanyak 1.296 mahasiswa baru resmi bergabung dengan keluarga besar Universitas Malahayati. Kehadiran mereka menjadi bukti semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kampus yang dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi unggulan di Lampung dan Indonesia.
“PKKMB bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi momentum bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat budaya, nilai, dan kehidupan akademik di Universitas Malahayati. Inilah langkah awal untuk menyiapkan diri menjadi insan yang berkarakter, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi bangsa dan masyarakat,” ujar Prof. Dessy.
Beliau juga berpesan agar mahasiswa baru memanfaatkan kesempatan belajar di universitas dengan sebaik-baiknya, tidak hanya untuk meraih prestasi akademik, tetapi juga mengasah soft skill, kepemimpinan, serta kepedulian sosial
PKKMB Universitas Malahayati 2025 sendiri akan berlangsung dengan serangkaian agenda, mulai dari pengenalan visi misi kampus, tata tertib akademik, organisasi mahasiswa, hingga berbagai kegiatan motivasi dan kebangsaan.
Dengan resmi dibukanya PKKMB 2025, Universitas Malahayati berharap para mahasiswa baru dapat segera beradaptasi, menemukan potensi diri, serta tumbuh menjadi generasi unggul yang membawa nama baik almamater ke kancah nasional maupun internasional. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Kolaborasi Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, Ciptakan Teknologi di Tangan Warga: SIJENTIK DBD Bantu Desa Hajimena Cegah Wabah
Program ini merupakan bagian dari Pengabdian Berbasis Masyarakat (PBM) hasil kolaborasi tim dosen dan mahasiswa Universitas Malahayati, Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, bersama Universitas Teknokrat Indonesia. Tim pengabdian melibatkan dosen Agung Aji Perdana, SKM., M.Epid., Dina Dwi Nuryani, SKM., M.Kes., Angga Bayu Santoso, S.Kom., M.Kom., serta mahasiswa M. Ptra Pratama dan Maharani Kartini. Program ini juga mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendiktisaintek.
Pengenalan SIJENTIK DBD dilakukan melalui pelatihan yang melibatkan kader kesehatan desa, perangkat desa, dan warga. Dengan menggunakan smartphone atau tablet, kader kesehatan dapat mencatat temuan jentik di rumah warga, melampirkan foto lokasi, lalu mengunggahnya ke sistem digital.
Data yang masuk langsung dapat diakses secara real time oleh aparatur desa, petugas puskesmas, hingga kecamatan. Dengan begitu, intervensi pencegahan bisa dilakukan lebih cepat dibanding metode manual sebelumnya.
Seorang kader kesehatan Desa Hajimena mengaku sistem ini sangat membantu.
“Pelatihan penggunaan website SIJENTIK DBD membuat kami lebih mudah mencatat dan melaporkan temuan jentik. Sekarang, data bisa langsung dipantau petugas puskesmas, sehingga tindakan pencegahan DBD dapat dilakukan lebih cepat,” ujarnya.
Implementasi SIJENTIK DBD diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, mempercepat respon terhadap ancaman DBD, dan menyediakan data lingkungan yang akurat. Desa Hajimena pun berpotensi menjadi model digitalisasi kesehatan masyarakat yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Inovasi ini membuktikan bahwa kombinasi teknologi sederhana, kader kesehatan yang aktif, dan partisipasi warga dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan publik. Dengan SIJENTIK DBD, Desa Hajimena semakin siap menghadapi ancaman DBD secara berkelanjutan.(gil)
Editor: Gilang Agusman
Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Pekenalkan Ovitrap, Perangkap Telur Nyamuk DBD, Sehatkan Desa Hajimena
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Berbasis Masyarakat (PBM) yang digagas oleh tim dosen dan mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati, bekerja sama dengan Universitas Teknokrat Indonesia. Program ini mendapat dukungan penuh dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendiktisaintek.
Tidak hanya pelatihan teknis, kegiatan ini juga dibarengi dengan sosialisasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Pesan utamanya jelas: mencegah DBD tidak cukup hanya dengan obat atau fogging, melainkan juga dengan mengurangi habitat nyamuk penyebabnya.
Kepala Desa Hajimena, Suhaimi Abu Bakar, menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini.
“Program ini sangat bermanfaat bagi warga karena memberi solusi praktis dan murah dalam mencegah DBD. Kami akan mendukung penuh keberlanjutan kegiatan ini di desa kami,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Agung Aji Perdana, S.KM., M.Epid., selaku perwakilan tim dosen Universitas Malahayati.
“Ovitrap terbukti menjadi solusi sederhana namun efektif untuk menekan populasi nyamuk penyebab DBD. Dengan partisipasi semua pihak—pemerintah desa, puskesmas, kader kesehatan, dan masyarakat—kami berharap kewaspadaan dini terhadap DBD semakin meningkat dan kasusnya bisa dicegah sejak awal,” jelasnya.
Dengan adanya program ini, Desa Hajimena diharapkan mampu menjadi percontohan dalam penerapan inovasi sederhana namun berdampak besar untuk kesehatan masyarakat. Upaya kecil dari setiap rumah, bila dilakukan bersama-sama, diyakini mampu membangun benteng kuat dalam mencegah DBD. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Dialektika Kepalsuan di Ruang Kekuasaan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Apa hikmah dari peristiwa yang terjadi pada 28 Agustus lalu ?. Pertanyaan ini menggema di ruang kuliah pascasarjana, di ruang diskusi para professor, dan di sudut-sudut pertemuan informal para pendekar disiplin ilmu. Bahkan ada seorang doktor dari Bumi Sriwijaya meminta pendapat melalui piranti sosial tentang peristiwa itu. Tentu jawabannya sangat beragam, sesuai keberagaman sudut pandang dan disiplin ilmu yang dijadikan pijakan.
Tulisan ini mencoba memposisikan diri pada sudut pandang filsafat kontemporer. Tentu dengan perspektif akademik. Tulisan ini bukan mencari kebenaran, akan tetapi mendeskripsikan suatu penalaran filsafat terhadap peristiwa yang terjadi.
Kondisi saat ini tidak lagi berdiri di atas garis terang antara yang sahabat dan yang lawan. Dalam tatanan sosial yang konon demokratis, pembedaan semacam itu seharusnya bisa dikenali dengan jelas melalui prinsip, platform, dan agenda. Namun, di medan kekuasaan yang kini kita hadapi, garis itu telah cair; mengabur oleh retorika, terlarut dalam manuver, dan dibungkus oleh pencitraan. Figur-figur yang tampil di depan begitu bersahabat, saling sanjung, saling memeluk dalam forum-forum publik, tetapi apa yang terjadi di balik layar sering kali adalah permainan tikam-menikam, jebakan loyalitas palsu, dan perebutan
kekuasaan yang sunyi namun ganas. Dalam istilah yang berkembang di ruang sosial: di depan
tampak friendly, di belakang seperti “sengkuni”.
Filsafat kontemporer melihat kondisi ini bukan sekadar sebagai penyimpangan etis, tetapi sebagai bentuk krisis makna dalam praksis sosial-politik. Kita tidak sedang menyaksikan sekadar drama kekuasaan, tetapi pembusukan simbol dalam jagat representasi politik. Relasi sosial dan institusional telah menjadi medan di mana kejujuran dibungkam oleh performa, kebenaran dikalahkan oleh persepsi, dan prinsip diperdagangkan demi aliansi sesaat.
Dalam perspektif fenomenologi kontemporer, realitas tidak lagi dibangun berdasarkan apa yang benar-benar dihayati, tetapi apa yang tampak. Penampilan menjadi realitas itu sendiri. Sosok-sosok di depan kamera menampilkan gestur harmoni, bersalaman, tersenyum, dan menyatakan komitmen terhadap bangsa dan rakyat. Tapi kesadaran yang dibentuk bukan lagi kesadaran akan substansi, melainkan kesadaran akan tampilan. Apa yang tak tampak; niat tersembunyi, strategi culas, atau agenda personal, dibuang dari medan wacana. Kita menjadi saksi atas “fenomenologi kekosongan”. Setiap gestur politik menjadi simulakra: bayangan tanpa wujud asli, gambar tanpa makna yang hidup.
Lebih jauh lagi, teori pascamodernisme, melalui pemikiran tentang dekonstruksi dan permainan
tanda, menunjukkan bahwa dalam ruang semacam ini, tidak ada lagi signifikansi tetap. “Kawan” dan “lawan” adalah tanda-tanda yang tak memiliki rujukan tetap, melainkan terus igeser sesuai kepentingan. Seseorang bisa menjadi kawan hari ini dan lawan besok, tergantung siapa yang berkuasa. Tanda kehilangan landasan. Retorika kerakyatan, nasionalisme, kesetiaan pada konstitusi; semuanya bisa digunakan oleh siapa saja, bahkan oleh mereka yang diam-diam merancang kudeta lembut terhadap etika demokrasi.
Filsafat kontemporer menggarisbawahi bahwa kekuasaan modern bukan lagi kekuasaan yang brutal secara fisik, melainkan kekuasaan yang halus, tersembunyi, dan bekerja melalui kontrol simbolik. Sosok yang tampak ramah bisa saja adalah arsitek kekacauan, selama publik tidak mampu melihat di balik jubah keramahan itu. Kekuasaan hari ini bekerja melalui fabrikasi narasi, manajemen persepsi, dan pertukaran simbol. Seorang yang terlihat “merangkul” belum tentu berniat menyatukan. Bisa jadi ia hanya sedang menyiapkan panggung untuk menusuk saat panggung berganti.
Situasi ini menjelaskan mengapa hari ini, loyalitas menjadi barang yang cair. Tidak ada lagi garis ideologis yang kokoh. Yang ada hanyalah oportunisme dalam bentuk yang dibungkus seolah-olah demi rakyat, demi stabilitas, atau demi persatuan. Persahabatan politik menjadi semacam transaksi sesaat, dan ketika transaksi itu selesai, pengkhianatan bukan lagi dianggap dosa, tetapi taktik.
Dalam pandangan kerangka teori kritis, keadaan ini disebut sebagai distorsi komunikasi: dialog tidak lagi berangkat dari kehendak rasional yang tulus, tetapi dari kalkulasi kepentingan tersembunyi. Saling dukung hanya terjadi jika ada kompensasi kekuasaan. Koalisi dibentuk bukan berdasarkan visi jangka panjang, melainkan pembagian kursi. Bahkan oposisi pun tak lagi murni sebagai pengawas kekuasaan, tetapi sekadar posisi tawar agar dapat masuk ke lingkar kekuasaan yang lebih besar. Maka, narasi “bersatu demi bangsa”
menjadi retorika kosong, dan rakyat hanya menjadi penonton dalam sandiwara elite.
Filsafat etika kontemporer menyadarkan kita bahwa krisis ini adalah krisis tanggung jawab. Penguasa kehilangan watak etikanya ketika keputusan diambil tanpa pertimbangan terhadap keadilan, kebenaran, atau kesejahteraan kolektif. Tindakan penguasa, dalam etika tanggung jawab, seharusnya mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi kehidupan bersama. Namun dalam praksis kita hari ini, tindakan penguasa justru didesain untuk keuntungan jangka pendek: mempertahankan kekuasaan, meredam kritik, dan menciptakan ilusi keberhasilan. Semua dilakukan dengan wajah ramah, dan senyum palsu yang disiarkan di
media.
Dalam refleksi eksistensial, kita menemukan bahwa manusia kontemporer tengah berada dalam krisis keaslian. Ia tak lagi hidup sebagai dirinya sendiri, tetapi sebagai aktor dalam panggung yang menuntut peran tertentu. Keberanian untuk menjadi autentik, untuk menyatakan perbedaan, menolak kooptasi, atau mempertahankan prinsip; menjadi langka. Yang ada justru adalah konformitas yang dibungkus narasi kesatuan. Sosok-sosok yang berani berbeda segera dibungkam dengan dalih tidak sejalan, tidak kooperatif, atau tidak dewasa.
Maka, ketulusan dalam situasi seperti ini menjadi subversif; kejujuran menjadi anomali. Semua ini menunjukkan bahwa kita sedang hidup dalam kondisi krisis episteme: kebingungan mendasar dalam membedakan antara yang asli dan yang palsu, antara yang jujur dan yang manipulatif. Relasi sosial berada dalam medan yang kabur. Kita tak lagi tahu siapa benar-benar kawan, siapa sungguh lawan. Dalam iklim seperti ini, rakyat yang menjadi korban utama: karena mereka tidak memiliki akses terhadap ruang-ruang tersembunyi tempat keputusan strategis diambil. Mereka hanya menerima produk akhir dari manuver elite:
kenaikan harga, pembatasan kebebasan, atau kebijakan-kebijakan yang dibuat atas nama rakyat, tetapi tidak pernah bersama rakyat.
Filsafat kontemporer tidak memberikan solusi sederhana. Ia tidak menawarkan resep revolusi instan atau kepastian moral. Tapi ia menawarkan lensa untuk memahami kompleksitas: bahwa dalam situasi seperti ini, kewaspadaan intelektual menjadi bentuk resistensi. Kita perlu mencurigai keramahan yang terlalu manis, mempertanyakan narasi yang terlalu rapi, dan membongkar keakraban relasi yang tidak dibangun dari nilai.
Kita tidak bisa lagi puas dengan kata-kata indah; karena sering kali, yang paling mematikan justru dibungkus dengan senyum paling hangat. Di titik ini, filsafat kembali menemukan relevansinya. Ia mengajarkan kita untuk berpikir, meragukan, dan tidak terjebak pada permukaan. Bahwa dalam dunia di mana yang tampak
bersahabat bisa jadi adalah yang paling berbahaya, maka satu-satunya jalan adalah menjadi manusia yang berani berpikir secara radikal sampai ke akar. (SJ)
Editor: Gilang Agusman