Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Usai sholat Tarawih malam itu, nafas para santri masih terasa berat. Satu juz telah dilantunkan tanpa jeda panjang, membuat kaki pegal dan punggung terasa kaku. Beberapa santri langsung merebahkan diri di serambi masjid pesantren, sementara yang lain berjalan pelan menuju asrama. Di sudut halaman yang mulai sepi, seorang santri menghampiri kiai yang baru saja duduk melepas sorban.
“Yai,” ucapnya lirih, “malam ini terasa sekali lelahnya. Berdiri lama, bacaan panjang. Tapi saya justru merasa ada yang kosong.”
Kiai memandangnya lembut. “Kosong bagaimana, Nak?”
“Saya khawatir, jangan-jangan saya hanya sibuk menyelesaikan satu juz. Bangga karena kuat berdiri. Tapi hati saya tidak benar-benar hadir.”
Kiai tersenyum tipis. “Itu kegelisahan yang baik. Banyak orang selesai Tarawih merasa puas karena target tercapai. Tapi jarang yang bertanya apakah dirinya sudah benar-benar tunduk.”
Santri itu menunduk. “Bukankah semakin banyak bacaan semakin baik, Yai?”
“Baik, jika membuatmu makin kecil di hadapan Allah. Tapi kalau justru membuatmu merasa lebih kuat, lebih hebat, itu tanda ego masih ikut berdiri di saf.”
Santri itu terdiam, mengingat kembali rakaat demi rakaat yang baru saja ia jalani.
“Tarawih panjang,” lanjut kiai pelan, “seharusnya melatih kita merendah. Lelah itu mengikis kesombongan. Saat kaki gemetar dan punggung sakit, kau sadar bahwa kau rapuh. Di situlah sholat menjadi perendahan diri.”
“Jadi lelah ini bukan sia-sia, Yai?” sergah Santri.
“Tidak. Jika kau jadikan ia jalan untuk pasrah. Sholat bukan tentang kuat berdiri satu juz, tapi tentang luluhnya ‘aku’ dalam setiap ayat yang kau dengar.”
Santri itu menarik napas panjang, kali ini lebih ringan. Malam terasa hening, dan di antara rasa lelah, ia mulai memahami bahwa yang diuji bukan hanya fisiknya, melainkan egonya.
Ada satu tahap dalam perjalanan batin ketika sholat tidak lagi dipahami sebagai sekadar kewajiban ritual, gerakan tubuh, atau rangkaian bacaan yang harus ditunaikan. Ia berubah menjadi peristiwa eksistensial: perendahan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah. Pada titik ini, sholat bukan lagi tentang apa yang kita lakukan, melainkan tentang siapa yang luruh ketika berdiri, rukuk, dan sujud. Yang hadir bukan ambisi rohani, bukan pula pencitraan kesalehan, melainkan kesadaran bahwa diri ini sepenuhnya milik dan dalam genggaman-Nya.
Sering kali manusia mendekati ibadah dengan membawa agenda. Ada yang ingin ketenangan, ada yang mencari solusi, ada yang berharap pahala, bahkan ada yang ingin diakui sebagai pribadi saleh. Tanpa disadari, ego menyelinap dalam bentuk yang paling halus. Ia bersembunyi di balik doa-doa panjang, dalam kekhusyukan yang dipamerkan, dalam keinginan agar dilihat sebagai hamba yang taat. Sholat menjadi panggung sunyi tempat diri masih ingin berdiri sebagai pusat perhatian; meskipun yang dituju adalah Tuhan.
Namun bagi mereka yang telah memahami hakikatnya, sholat adalah momen penghancuran pusat itu. Ketika takbir diucapkan, yang dibesarkan bukan diri, melainkan Allah semata. Ketika berdiri, yang dirasakan bukan kebanggaan sebagai hamba yang beribadah, tetapi kesadaran akan kerapuhan diri. Ketika rukuk, tulang punggung yang biasanya tegak oleh kesombongan dipaksa tunduk. Ketika sujud, dahi, simbol martabat manusia, diletakkan di tanah, seakan mengakui bahwa asal dan akhir manusia hanyalah debu dalam kehendak-Nya.
Pada titik ini, sholat menjadi titik nol kesadaran. Segala identitas sosial menguap: jabatan, harta, reputasi, bahkan citra kesalehan. Tidak ada lagi kebutuhan untuk dianggap baik. Tidak ada lagi hasrat untuk dipuji sebagai ahli ibadah. Yang ada hanyalah kesadaran murni bahwa diri ini sepenuhnya bergantung. Ketergantungan itu bukan kelemahan, melainkan kebenaran terdalam tentang keberadaan manusia. Di hadapan Yang Mahakuasa, semua ego hanyalah ilusi yang rapuh.
“Sowan Gusti Allah” menjadi ungkapan yang tepat sekaligus dalam untuk menggambarkan keadaan ini. Bukan datang untuk meminta, bukan pula datang untuk menawar takdir, tetapi datang sebagai hamba yang ingin hadir. Dalam keheningan itulah sholat menemukan maknanya yang paling dalam: kehadiran total tanpa syarat. Ketika seseorang sampai pada kesadaran ini, doa-doanya berubah. Ia tidak lagi didominasi oleh daftar permintaan. Bahkan permohonan pun terasa sebagai bentuk ketergantungan yang sederhana, bukan tuntutan. Jika diberi, ia bersyukur. Jika tidak, ia tetap bersujud. Kepasrahan bukan berarti pasif atau menyerah pada nasib tanpa usaha, melainkan menerima bahwa hasil akhir bukan berada dalam genggamannya. Usaha adalah kewajiban, tetapi keputusan adalah hak prerogatif Allah.
Kepasrahan total ini melahirkan kedamaian yang tidak tergantung pada keadaan. Sholat tidak lagi menjadi sarana untuk melarikan diri dari masalah, melainkan ruang untuk menempatkan masalah pada proporsinya. Masalah tetap ada, kesulitan tetap nyata, tetapi hati tidak lagi memberontak. Ada keyakinan sunyi bahwa apa pun yang terjadi adalah bagian dari kehendak-Nya yang lebih luas dari pemahaman manusia.
Di sinilah ego benar-benar lenyap. Ego selalu ingin mengendalikan, ingin memastikan, ingin dihargai, ingin diakui. Namun dalam sholat yang sejati, semua keinginan itu lepas. Hamba tidak lagi menuntut agar hidupnya sesuai dengan rencana pribadinya. Ia tidak lagi memaksa doa agar terwujud sesuai ekspektasinya. Ia menerima bahwa kehendak Allah jauh melampaui logika dan harapan manusia.
Keadaan ini bukan sesuatu yang instan. Ia lahir dari pergulatan panjang melawan diri sendiri. Setiap kali sholat dilakukan dengan kesadaran yang jernih, sedikit demi sedikit ego terkikis. Setiap sujud menjadi latihan meruntuhkan kesombongan. Setiap salam menjadi pengingat bahwa hidup setelah sholat pun harus dijalani dengan kesadaran yang sama: rendah hati, pasrah, dan tulus.
Ketika sholat dipahami sebagai pertemuan, bukan sebagai transaksi, maka orientasi hidup pun berubah. Ibadah tidak lagi diukur dari seberapa banyak orang melihat atau memuji, tetapi dari seberapa dalam hati merasa kecil di hadapan-Nya. Keikhlasan tidak lagi menjadi konsep yang diucapkan, melainkan pengalaman yang dirasakan. Ada kelegaan ketika tidak perlu lagi menjadi apa-apa di mata manusia, karena yang terpenting adalah menjadi hamba di hadapan Allah.
Pada akhirnya, sholat adalah perjalanan kembali ke asal: kesadaran bahwa manusia bukan pusat semesta. Ia adalah makhluk yang bergantung, yang hidup atas izin, yang bergerak atas kehendak. Dalam sujud yang paling dalam, manusia menemukan kebebasan tertingginya yaitu; kebebasan dari ego, dari ambisi semu, dari kebutuhan akan pengakuan. Yang tersisa hanyalah kepasrahan total. Dan dalam kepasrahan itulah, justru martabat manusia menemukan kemuliaannya.
Salam Ramadhan
Sekitar Kita PULANG KE DALAM (Saat Penilaian Tak Lagi Berkuasa)
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Di serambi pesantren yang lengang selepas subuh, seorang santri duduk bersila dengan wajah gelisah. Kitab di pangkuannya tertutup sejak tadi. Sang kiai menghampiri perlahan, lalu duduk di depannya tanpa suara. “Kenapa pagi-pagi sudah berat begitu napasmu?” tanya kiai lembut. Santri menunduk. “Saya bingung, Yai. Kalau dipuji, hati saya berbunga. Tapi kalau dicela, rasanya runtuh. Saya capek bolak-balik seperti ini.”
Kiai tersenyum tipis. “Lalu apa yang kau cari dari pujian dan hinaan itu?” “Saya ingin merasa cukup,” jawab santri jujur. “Cukup menurut siapa?” tanya kiai. Santri terdiam lama. “Mungkin… menurut orang.”
Kiai mengambil segenggam kerikil di lantai. “Jika orang bilang kerikil ini emas, apakah ia berubah jadi emas?” “Tidak, Yai.” Jawab santri tegas. “Jika orang menghina emas dan menyebutnya batu, apakah emas itu kehilangan nilainya?” lanjut kiai. Santri menggeleng.
“Begitu juga dirimu,” kata kiai pelan. “Nilai tidak lahir dari lidah manusia. Ia lahir dari pengenalanmu kepada siapa dirimu di hadapan Tuhan.” Santri menarik napas. “Tapi bagaimana caranya, Yai, agar hati saya tidak ikut naik dan jatuh?” Kiai menatap halaman pesantren yang sunyi, dan berkata dengan tegas. “Pulang.” “Pulang ke mana?” jawab santri bingung. “Ke dalam,” jawab kiai. “Selama kau tinggal di luar, di mata orang, di suara manusia, kau akan terus jadi tamu. Tamu selalu gelisah. Tapi ketika kau pulang ke dalam dirimu, kau tak lagi sibuk meminta izin untuk merasa berharga.”
Santri mengangguk perlahan. “Jadi ketika pujian dan hinaan terasa sama…” “Itu bukan karena kau tak punya rasa,” potong kiai lembut, “melainkan karena rasamu sudah menemukan rumahnya.” Santri tersenyum kecil. “Berarti itu tanda saya selesai dengan diri saya?” Kiai tertawa pelan. “Bukan selesai hidup, tapi selesai bertengkar dengan diri sendiri. Dan itu awal dari ketenangan.” Angin pagi berembus. Santri menunduk, kali ini dengan dada yang lebih lapang.
Ada satu fase dalam perjalanan batin manusia yang sunyinya tidak menakutkan, justru menenangkan. Fase ketika sanjungan tidak lagi membuat dada mengembang, dan hinaan tidak lagi meruntuhkan langkah. Rasa yang muncul dari keduanya sama: netral, jernih, dan tenang. Pada titik inilah seseorang diam-diam telah menyelesaikan urusan terpanjang dalam hidupnya, yaitu urusan dengan diri sendiri.
Sejak awal, manusia tumbuh dengan cermin di sekelilingnya. Cermin itu bernama penilaian. Kita belajar mengenali diri dari apa yang dikatakan orang lain: pujian dianggap bukti keberhargaan, cercaan dianggap tanda kegagalan. Tanpa sadar, identitas dibangun dari gema suara luar. Maka tidak heran jika sanjungan terasa seperti cahaya yang menghidupkan, sementara hinaan menjelma gelap yang menyesakkan. Kita berlari mengejar yang satu dan menghindari yang lain, seolah keduanya menentukan siapa kita sebenarnya.
Namun, ada harga yang harus dibayar ketika hidup terlalu bergantung pada penilaian. Kegembiraan menjadi rapuh karena bersyarat, dan ketenangan mudah runtuh karena satu kalimat yang salah. Di sanalah kelelahan batin bermula. Seseorang bisa tampak kuat di luar, tetapi di dalam terus-menerus bernegosiasi dengan ekspektasi, membuktikan nilai, dan membela harga diri yang sesungguhnya belum benar-benar dikenal.
Ketika sanjungan dan hinaan terasa sama, bukan karena keduanya kehilangan makna, melainkan karena makna hidup tidak lagi dititipkan pada keduanya. Pujian bisa diterima sebagai apresiasi, bukan validasi. Hinaan bisa dipahami sebagai sudut pandang, bukan vonis. Keduanya lewat seperti angin: terasa, tapi tidak menetap. Yang tinggal hanyalah kesadaran bahwa nilai diri tidak berkurang oleh kebencian, dan tidak bertambah oleh kekaguman.
Di titik ini, seseorang mulai hidup dengan pijakan ke dalam. Keputusan diambil bukan untuk menyenangkan semua orang, melainkan untuk setia pada nilai yang diyakini. Ada keberanian untuk berkata tidak tanpa rasa bersalah, dan kerendahan hati untuk berkata salah tanpa takut kehilangan harga diri. Hidup menjadi lebih sederhana, bukan karena masalah berkurang, tetapi karena konflik batin tidak lagi diperpanjang.
Menyelesaikan diri sendiri juga berarti berhenti menjadikan masa lalu sebagai ruang sidang abadi. Penyesalan tidak lagi diulang-ulang untuk menghukum diri, dan kesuksesan lampau tidak terus dipuja untuk membenarkan ego. Semuanya ditempatkan sebagai pengalaman: pernah ada, memberi pelajaran, lalu dilepaskan. Dengan begitu, energi hidup tidak habis untuk mempertahankan cerita lama, tetapi tersedia untuk hadir sepenuhnya di hari ini.
Pada akhirnya, titik sunyi ini bukanlah tujuan yang bisa dipamerkan. Ia hadir diam-diam, sering kali setelah lelah mencoba menjadi banyak hal. Ketika keinginan untuk diakui berubah menjadi keberanian untuk menerima, dan kebutuhan untuk dipuji bergeser menjadi komitmen untuk jujur. Saat itulah sanjungan dan hinaan berdiri sejajar, bukan karena dunia menjadi lebih ramah, tetapi karena diri telah menjadi rumah yang aman. Dan mungkin, itulah bentuk kebebasan paling sederhana sekaligus paling langka: hidup tanpa, harus terus membela diri, tanpa harus terus membuktikan apa pun, karena kita akhirnya tahu, dan menerima, siapa diri kita sebenarnya.
Salam Ramadan
HENING TANPA TUNTUTAN
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Usai sholat Tarawih malam itu, nafas para santri masih terasa berat. Satu juz telah dilantunkan tanpa jeda panjang, membuat kaki pegal dan punggung terasa kaku. Beberapa santri langsung merebahkan diri di serambi masjid pesantren, sementara yang lain berjalan pelan menuju asrama. Di sudut halaman yang mulai sepi, seorang santri menghampiri kiai yang baru saja duduk melepas sorban.
“Yai,” ucapnya lirih, “malam ini terasa sekali lelahnya. Berdiri lama, bacaan panjang. Tapi saya justru merasa ada yang kosong.”
Kiai memandangnya lembut. “Kosong bagaimana, Nak?”
“Saya khawatir, jangan-jangan saya hanya sibuk menyelesaikan satu juz. Bangga karena kuat berdiri. Tapi hati saya tidak benar-benar hadir.”
Kiai tersenyum tipis. “Itu kegelisahan yang baik. Banyak orang selesai Tarawih merasa puas karena target tercapai. Tapi jarang yang bertanya apakah dirinya sudah benar-benar tunduk.”
Santri itu menunduk. “Bukankah semakin banyak bacaan semakin baik, Yai?”
“Baik, jika membuatmu makin kecil di hadapan Allah. Tapi kalau justru membuatmu merasa lebih kuat, lebih hebat, itu tanda ego masih ikut berdiri di saf.”
Santri itu terdiam, mengingat kembali rakaat demi rakaat yang baru saja ia jalani.
“Tarawih panjang,” lanjut kiai pelan, “seharusnya melatih kita merendah. Lelah itu mengikis kesombongan. Saat kaki gemetar dan punggung sakit, kau sadar bahwa kau rapuh. Di situlah sholat menjadi perendahan diri.”
“Jadi lelah ini bukan sia-sia, Yai?” sergah Santri.
“Tidak. Jika kau jadikan ia jalan untuk pasrah. Sholat bukan tentang kuat berdiri satu juz, tapi tentang luluhnya ‘aku’ dalam setiap ayat yang kau dengar.”
Santri itu menarik napas panjang, kali ini lebih ringan. Malam terasa hening, dan di antara rasa lelah, ia mulai memahami bahwa yang diuji bukan hanya fisiknya, melainkan egonya.
Ada satu tahap dalam perjalanan batin ketika sholat tidak lagi dipahami sebagai sekadar kewajiban ritual, gerakan tubuh, atau rangkaian bacaan yang harus ditunaikan. Ia berubah menjadi peristiwa eksistensial: perendahan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah. Pada titik ini, sholat bukan lagi tentang apa yang kita lakukan, melainkan tentang siapa yang luruh ketika berdiri, rukuk, dan sujud. Yang hadir bukan ambisi rohani, bukan pula pencitraan kesalehan, melainkan kesadaran bahwa diri ini sepenuhnya milik dan dalam genggaman-Nya.
Sering kali manusia mendekati ibadah dengan membawa agenda. Ada yang ingin ketenangan, ada yang mencari solusi, ada yang berharap pahala, bahkan ada yang ingin diakui sebagai pribadi saleh. Tanpa disadari, ego menyelinap dalam bentuk yang paling halus. Ia bersembunyi di balik doa-doa panjang, dalam kekhusyukan yang dipamerkan, dalam keinginan agar dilihat sebagai hamba yang taat. Sholat menjadi panggung sunyi tempat diri masih ingin berdiri sebagai pusat perhatian; meskipun yang dituju adalah Tuhan.
Namun bagi mereka yang telah memahami hakikatnya, sholat adalah momen penghancuran pusat itu. Ketika takbir diucapkan, yang dibesarkan bukan diri, melainkan Allah semata. Ketika berdiri, yang dirasakan bukan kebanggaan sebagai hamba yang beribadah, tetapi kesadaran akan kerapuhan diri. Ketika rukuk, tulang punggung yang biasanya tegak oleh kesombongan dipaksa tunduk. Ketika sujud, dahi, simbol martabat manusia, diletakkan di tanah, seakan mengakui bahwa asal dan akhir manusia hanyalah debu dalam kehendak-Nya.
Pada titik ini, sholat menjadi titik nol kesadaran. Segala identitas sosial menguap: jabatan, harta, reputasi, bahkan citra kesalehan. Tidak ada lagi kebutuhan untuk dianggap baik. Tidak ada lagi hasrat untuk dipuji sebagai ahli ibadah. Yang ada hanyalah kesadaran murni bahwa diri ini sepenuhnya bergantung. Ketergantungan itu bukan kelemahan, melainkan kebenaran terdalam tentang keberadaan manusia. Di hadapan Yang Mahakuasa, semua ego hanyalah ilusi yang rapuh.
“Sowan Gusti Allah” menjadi ungkapan yang tepat sekaligus dalam untuk menggambarkan keadaan ini. Bukan datang untuk meminta, bukan pula datang untuk menawar takdir, tetapi datang sebagai hamba yang ingin hadir. Dalam keheningan itulah sholat menemukan maknanya yang paling dalam: kehadiran total tanpa syarat. Ketika seseorang sampai pada kesadaran ini, doa-doanya berubah. Ia tidak lagi didominasi oleh daftar permintaan. Bahkan permohonan pun terasa sebagai bentuk ketergantungan yang sederhana, bukan tuntutan. Jika diberi, ia bersyukur. Jika tidak, ia tetap bersujud. Kepasrahan bukan berarti pasif atau menyerah pada nasib tanpa usaha, melainkan menerima bahwa hasil akhir bukan berada dalam genggamannya. Usaha adalah kewajiban, tetapi keputusan adalah hak prerogatif Allah.
Kepasrahan total ini melahirkan kedamaian yang tidak tergantung pada keadaan. Sholat tidak lagi menjadi sarana untuk melarikan diri dari masalah, melainkan ruang untuk menempatkan masalah pada proporsinya. Masalah tetap ada, kesulitan tetap nyata, tetapi hati tidak lagi memberontak. Ada keyakinan sunyi bahwa apa pun yang terjadi adalah bagian dari kehendak-Nya yang lebih luas dari pemahaman manusia.
Di sinilah ego benar-benar lenyap. Ego selalu ingin mengendalikan, ingin memastikan, ingin dihargai, ingin diakui. Namun dalam sholat yang sejati, semua keinginan itu lepas. Hamba tidak lagi menuntut agar hidupnya sesuai dengan rencana pribadinya. Ia tidak lagi memaksa doa agar terwujud sesuai ekspektasinya. Ia menerima bahwa kehendak Allah jauh melampaui logika dan harapan manusia.
Keadaan ini bukan sesuatu yang instan. Ia lahir dari pergulatan panjang melawan diri sendiri. Setiap kali sholat dilakukan dengan kesadaran yang jernih, sedikit demi sedikit ego terkikis. Setiap sujud menjadi latihan meruntuhkan kesombongan. Setiap salam menjadi pengingat bahwa hidup setelah sholat pun harus dijalani dengan kesadaran yang sama: rendah hati, pasrah, dan tulus.
Ketika sholat dipahami sebagai pertemuan, bukan sebagai transaksi, maka orientasi hidup pun berubah. Ibadah tidak lagi diukur dari seberapa banyak orang melihat atau memuji, tetapi dari seberapa dalam hati merasa kecil di hadapan-Nya. Keikhlasan tidak lagi menjadi konsep yang diucapkan, melainkan pengalaman yang dirasakan. Ada kelegaan ketika tidak perlu lagi menjadi apa-apa di mata manusia, karena yang terpenting adalah menjadi hamba di hadapan Allah.
Pada akhirnya, sholat adalah perjalanan kembali ke asal: kesadaran bahwa manusia bukan pusat semesta. Ia adalah makhluk yang bergantung, yang hidup atas izin, yang bergerak atas kehendak. Dalam sujud yang paling dalam, manusia menemukan kebebasan tertingginya yaitu; kebebasan dari ego, dari ambisi semu, dari kebutuhan akan pengakuan. Yang tersisa hanyalah kepasrahan total. Dan dalam kepasrahan itulah, justru martabat manusia menemukan kemuliaannya.
Salam Ramadhan
Penyusunan RPS Prodi Manajemen Universitas Malahayati : Pembelajaran Sistematis dan Implementatif Outcome Based Education
Penyambutan tahun ajaran baru dengan mempersiapkan RPS (Rencana Pembelajaran Semester) yang matang adalah kegiatan rutin Prodi Manajemen pada setiap semesternya terutama persiapan Semester Genap 2025/2026 yang terselenggara pada hari Selasa tanggal 10 Februari 2026.
Kegitan yang berfokus pada pengembangan kurikulum berbasis OBE (Outcome Based Education) dan pembelajaran aktif seperti Case/Project Based Learning. Agenda ini mencakup, persiapan dan analisis
review Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang dibebankan pada mata kuliah,
analisis kebutuhan studi manajemen (misal: kurikulum berbasis OBE),
Perumusan komponen RPS,
Distribusi bahan kajian/materi pembelajaran,
menentukan metode pembelajaran (diskusi, studi kasus, proyek manajemen),
review dan finalisasi dokumen RPS agar terstandarisasi.
Agenda ini bertujuan memastikan materi yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan industri dan standar nasional. Kegiatan yang berlangsung di ruang pasca Lantai 5 Universitas Malahayati dihadiri oleh Ketua Program Studi, dosen tetap, serta dosen praktisi. Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Manajemen menegaskan bahwa implementasi OBE merupakan langkah strategis untuk memastikan setiap mata kuliah memiliki keterkaitan yang jelas dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), sehingga proses pembelajaran menjadi lebih terarah, terukur, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Melalui forum diskusi dan lokakarya, para dosen melakukan peninjauan dan penyelarasan RPS agar sesuai dengan prinsip OBE, mulai dari perumusan CPMK (Capaian Pembelajaran Mata Kuliah), indikator penilaian, metode pembelajaran,strategi asesmen hingga ouput yang dihasilkan. Kegiatan ini juga menjadi wadah refleksi bersama untuk memperkuat integrasi antara teori dan praktik, termasuk penguatan soft skills, literasi digital, serta kompetensi manajerial yang adaptif terhadap perkembangan industri dan dinamika global.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Program Studi Manajemen Universitas Malahayati berharap dapat menghasilkan dokumen RPS yang lebih sistematis dan implementatif, serta kurikulum yang selaras dengan prinsip Outcome Based Education. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan mutu lulusan yang kompeten, profesional, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional.
Editor : Chandra Faza
Wakil Rektor I Universitas Malahayati Pantau Langsung Kuliah Perdana Semester Genap 2025/2026
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati Bandar lampung resmi memulai perkuliahan semester genap tahun akademik 2025/2026 pada Senin (2/3/2026). Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes, melakukan pemantauan langsung pelaksanaan kuliah perdana di sejumlah ruang kelas. Dalam kunjungannya, Prof. Dessy didampingi oleh Ketua PMB Romy J. Utama, S.E., M.Sos., Kepala BAA Ahmad Iqbal, S.S., Kepala BAU Ahmad Sidiq, ST., MT., serta Kepala Humas dan Protokol Emil Tanhar, S.Kom.
Tim pimpinan universitas ini berkeliling ke berbagai ruang kuliah untuk memeriksa kesiapan fasilitas, antusiasme dosen, dan semangat mahasiswa pada hari pertama kuliah. Menyambut dimulainya semester baru, Prof. Dessy mengungkapkan rasa syukur dan puas atas kelancaran perkuliahan. “Alhamdulillah, perkuliahan pada hari pertama ini berjalan lancar, baik dari segi fasilitas kelas, kesiapan dosen, dan antusiasme mahasiswa dalam memulai semester baru,” ujarnya dengan senyum lebar.
Namun demikian, Prof. Dessy juga mengingatkan bahwa masih ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki, terutama terkait sarana dan prasarana fasilitas kelas. “Kami akan terus melakukan monitoring dan evaluasi untuk meningkatkan kualitas fasilitas kelas guna mendukung kenyamanan dan efektivitas proses pembelajaran,” tambahnya.
Sebagai bentuk apresiasi, Prof. Dessy juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan perkuliahan minggu pertama ini, mulai dari P3T, BAU, hingga seluruh dosen, dekan, kepala program studi, dan mahasiswa yang telah berperan aktif dalam kelancaran kegiatan akademik.
Dengan pemantauan yang cermat dan semangat positif dari seluruh sivitas akademika, diharapkan semester genap ini dapat menjadi ajang pencapaian yang lebih besar bagi mahasiswa dan dosen Universitas Malahayati. Proses perkuliahan yang lancar dan berkualitas akan memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan akademik dan peningkatan mutu pendidikan di masa yang akan datang.
Editor : Chandra Faza
DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Ruangan itu hening, seolah waktu menahan napasnya sendiri. Cahaya redup menggantung di langit-langit, dan detak yang tersisa berdentang pelan seperti lonceng jauh di lembah tak terlihat. Di antara bayang dan napas yang menipis, hadir sebuah percakapan yang tak terdengar oleh telinga dunia; percakapan antara yang datang untuk menjemput dan yang bersiap untuk pulang.
“Aku tahu kau ada,” bisik manusia itu dalam batinnya, tanpa suara, tanpa gerak bibir. “Sejak beberapa hari lalu, udara terasa berbeda. Ada dingin yang tak berasal dari angin.”
“Aku selalu ada,” jawab malaikat pencabut nyawa, lembut tanpa mengguncang. “Bukan untuk menakutkan, melainkan untuk menuntun. Setiap yang bernapas telah dijanjikan akan dipertemukan denganku.”
“Apakah ini saatnya?” tanya manusia itu. Ada gemetar di antara pasrah dan ragu.
“Waktu bukan milikmu, dan bukan pula milikku,” sahut sang malaikat. “Ia adalah titipan yang kini kembali kepada Pemiliknya. Saatnya telah sampai sebagaimana tertulis, tidak lebih cepat, tidak pula terlambat.”
Manusia itu terdiam. Ingatan berkelindan seperti lembaran-lembaran yang tersibak angin. Wajah-wajah yang dicintai, tawa yang pernah mengisi ruang makan, tangis yang pecah di sudut malam, doa-doa yang kadang khusyuk, kadang tergesa. “Aku belum selesai,” gumamnya. “Masih ada yang ingin kupeluk lebih lama. Masih ada maaf yang belum sempat kuucapkan.”
“Tak ada manusia yang merasa benar-benar selesai,” jawab malaikat itu. “Kehidupan di dunia adalah persinggahan. Ia tak dirancang untuk lengkap, melainkan untuk menguji dan membentuk. Yang kau sebut belum selesai, sering kali adalah kerinduan untuk menunda perpisahan.”
“Tapi aku takut,” suara itu kini lebih jujur. “Takut pada gelap. Takut pada pengadilan atas segala yang telah kulakukan. Ada hari-hari ketika aku lalai. Ada kata-kata yang menyakiti. Ada kesempatan berbuat baik yang kulewatkan. Ada dosa yang kulakukan”
Keheningan mengembang, namun bukan keheningan yang kosong. “Takut adalah tanda bahwa hatimu masih hidup,” kata malaikat itu. “Namun ingatlah, rahmat lebih luas daripada kesalahan. Pintu ampunan tak tertutup selama napas masih ada. Bahkan kini, di detik-detik terakhirmu, penyesalan yang tulus memiliki cahaya.”
Manusia itu merasakan sesuatu meluruh dari dadanya; bukan sakit, melainkan beban. “Apakah semua akan diperlihatkan?” tanyanya lirih.
“Semua yang kau tanam akan kau lihat tumbuhnya,” jawab Sang Penjemput. “Kebaikan sekecil apa pun tak akan hilang, sebagaimana keburukan sekecil apa pun tak akan tersembunyi. Tetapi keadilan tak pernah berdiri tanpa kasih.”
“Aku sering mengira hidup ini panjang,” lanjut manusia itu. “Aku menunda-nunda perubahan. Kukira esok selalu tersedia untuk ku.”
“Begitulah manusia belajar tentang waktu,” balas malaikat. “Ia terasa luas saat dijalani, namun tampak singkat ketika dikenang. Banyak yang baru memahami arti satu hari ketika hari-harinya hampir habis.”
Ada desir halus, seperti tirai yang bergeser. Tubuh di tempat tidur itu semakin lemah, tetapi kesadarannya justru terasa terang. “Apakah perpisahan ini menyakitkan?” pertanyaan itu meluncur seperti anak kecil yang takut pada malam.
“Bagi yang hatinya terpaut hanya pada dunia, perpisahan terasa seperti direnggut,” ujar malaikat dengan tenang. “Namun bagi yang memandang dunia sebagai ladang, ia adalah musim panen. Rasa yang kau alami akan sepadan dengan apa yang memenuhi hatimu.”
Manusia itu mencoba menimbang hatinya sendiri. Ada cinta pada keluarga, ada bangga pada pencapaian, ada sesal atas kesalahan, dan ada rindu pada kedamaian yang lebih dalam dari sekadar istirahat. “Jika aku diberi satu kesempatan lagi,” katanya, “aku ingin lebih banyak bersyukur dan lebih sedikit mengeluh. Lebih cepat meminta maaf dan lebih ringan memberi.”
“Setiap jiwa memiliki kesempatan saat waktunya berjalan,” jawab malaikat. “Kini kesempatanmu berubah bentuk. Bukan lagi untuk menambah amal, melainkan untuk menyerahkan hasilnya.”
“Apakah mereka akan baik-baik saja?” tanya manusia itu, memikirkan yang akan ditinggalkan.
“Setiap jiwa memiliki jalannya sendiri,” sahut sang malaikat. “Sebagaimana kau dijaga sepanjang hidupmu, mereka pun dalam penjagaan yang sama. Kepergianmu adalah bagian dari kisah mereka, sebagaimana kepergian orang-orang sebelum ini pernah membentuk dirimu.”
Napas itu semakin tipis, seperti benang yang hampir putus. Namun di ambang itu, ada kejernihan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. “Aku siap,” ucap manusia itu akhirnya. Bukan tanpa sedih, tetapi tanpa penolakan.
“Berserahlah,” bisik malaikat pencabut nyawa. “Lepaskan sebagaimana daun melepaskan dirinya dari dahan saat musimnya tiba. Engkau tak sedang menuju ketiadaan, melainkan berpindah dari satu ruang ke ruang yang lain.”
Detik terakhir tiba bukan dengan dentuman, melainkan dengan kelembutan yang tak terlukiskan. Di dunia, mungkin hanya terdengar helaan napas panjang yang terhenti. Namun di balik tabir, sebuah perjalanan dimulai.
Percakapan itu usai, tetapi maknanya tinggal bagi siapa pun yang masih bernapas. Bahwa kematian bukan sekadar akhir yang menakutkan, melainkan cermin yang memantulkan cara kita menjalani hidup. Di ambang sunyi yang terakhir, manusia tak lagi membawa harta atau gelar, hanya jejak amal dan keadaan hati. Dan di sana, di antara takut dan harap, setiap jiwa akhirnya belajar bahwa hidup adalah kesempatan yang terlalu berharga untuk ditunda-tunda. الْمَوْت ذَائِقَةُ نَفْسٍ كُلُّ (Kullu nafsin żā’iqatul-maut).
Salam Ramadan
Puasa Yang Sesungguhnya
Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati
(Bandar Lampung) -Senja turun perlahan di halaman Pesantren. Angin menggerakkan daun-daun pohon Mangga, sementara para santri baru saja selesai mengaji. Di serambi masjid, seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiai yang memegang tasbih dengan tenang.
“Yai,” tanya santri itu pelan, “mengapa banyak orang mampu berpuasa menahan lapar dan dahaga, tetapi tetap mudah marah dan saling menyakiti?”
Kiai tersenyum tipis. “Karena menahan lapar itu urusan perut, Nak. Menahan amarah itu urusan hati. Perut yang kosong terasa jelas, tetapi hati yang keruh sering tak disadari.”
Santri itu mengangguk, lalu kembali bertanya, “Apakah itu yang disebut puasa batin, Yai?”
“Benar,” jawab kiai. “Puasa batin bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Ia adalah latihan menjaga lisan agar tidak melukai, menjaga pikiran agar tidak berburuk sangka, dan menjaga niat agar tetap lurus. Orang bisa saja kuat menahan haus, tetapi belum tentu kuat menahan ego.”
Santri terdiam, memandangi lantai kayu yang mulai redup oleh cahaya senja. “Mengapa terasa lebih sulit, Yai?”
“Karena yang dilawan bukan sekadar rasa lapar,” kata kiai lembut, “melainkan diri sendiri. Nafsu ingin dipuji, ingin menang, ingin selalu benar. Itu tidak terlihat, tetapi pengaruhnya besar.”
Adzan magrib berkumandang dari menara. Kiai berdiri perlahan. “Ingatlah, Nak, puasa lahir mengosongkan perut untuk beberapa jam. Puasa batin mengosongkan kesombongan untuk seumur hidup.”
Santri itu menunduk hormat, hatinya terasa lebih penuh daripada sebelumnya.
Hampir setiap orang bisa menahan lapar dan dahaga. Tubuh memiliki kemampuan beradaptasi; perut yang kosong dapat dilatih untuk bersabar, tenggorokan yang kering dapat dikuatkan untuk bertahan hingga waktu berbuka. Puasa lahiriah adalah disiplin yang kasatmata, terukur oleh jam dan ditandai oleh terbit serta terbenamnya matahari. Ia memiliki batas yang jelas: kapan harus berhenti, kapan boleh kembali menikmati. Karena itu, banyak orang sanggup melakukannya. Ia adalah latihan fisik yang, meskipun tidak mudah, tetap berada dalam jangkauan kehendak.
Namun puasa batin tidak sesederhana menahan makan dan minum. Ia tidak diukur oleh waktu, tidak ditandai oleh perubahan cahaya, dan tidak diumumkan oleh suara apa pun. Puasa batin berlangsung di ruang yang sunyi, di wilayah terdalam dari diri manusia; di mana keinginan, amarah, iri hati, kesombongan, dan berbagai dorongan lain saling berkelindan. Jika puasa lahiriah meminta tubuh untuk berhenti sejenak, puasa batin menuntut jiwa untuk jujur dan sadar tanpa henti.
Menahan lapar adalah perkara fisik; menahan ego adalah perkara eksistensial. Lapar memiliki batas biologis, sedangkan ego seolah tidak pernah kenyang. Ia selalu ingin diakui, dipuji, dibenarkan. Ia ingin menjadi pusat perhatian, ingin menang sendiri, ingin diprioritaskan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang bisa saja berpuasa makan dan minum, tetapi tetap memelihara amarah dalam hati, tetap menyebarkan kata-kata yang menyakitkan, tetap memandang rendah sesama. Di sinilah perbedaan antara puasa sebagai ritual dan puasa sebagai kesadaran menjadi begitu nyata.
Puasa batin adalah kemampuan untuk menahan diri dari reaksi yang berlebihan. Ketika dihina, ia memilih diam yang bermartabat. Ketika dipuji, ia memilih rendah hati. Ketika tergoda untuk berbuat curang, ia memilih jujur meskipun tidak ada yang melihat. Puasa batin bukan tentang menahan sesuatu yang masuk ke dalam tubuh, melainkan menahan sesuatu yang keluar dari hati dan pikiran. Ia mengendalikan kata-kata sebelum terucap, menimbang niat sebelum menjadi tindakan, dan membersihkan motivasi sebelum menjelma keputusan.
Mengapa tidak semua orang mampu melakukannya? Karena puasa batin menuntut kesadaran yang lebih dalam daripada sekadar kepatuhan pada aturan. Ia memerlukan refleksi, keberanian untuk melihat kekurangan diri, dan kerendahan hati untuk mengakuinya. Tidak ada sorak-sorai ketika seseorang berhasil menahan amarahnya. Tidak ada pujian ketika ia menolak godaan untuk menyombongkan diri. Puasa batin sering kali sunyi dan tidak terlihat. Ia hanya diketahui oleh diri sendiri dan oleh Yang Maha Mengetahui.
Selain itu, puasa batin menantang kenyamanan. Menahan makan dan minum memang menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi ketidaknyamanan itu jelas sebabnya dan jelas pula akhirnya.
Sementara itu, menahan dendam atau memaafkan kesalahan orang lain bisa terasa jauh lebih berat dan berkepanjangan. Ia menyentuh harga diri dan luka batin. Ia meminta kita untuk melepaskan beban yang justru sering kita peluk erat-erat.
Puasa batin juga berarti menata pikiran di tengah derasnya arus informasi dan godaan dunia. Di zaman ketika segala sesuatu bergerak cepat dan serba instan, manusia mudah terjebak dalam keinginan untuk selalu memiliki, selalu tahu, selalu terlihat. Puasa batin mengajarkan jeda. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi, tidak semua keinginan perlu dipenuhi, dan tidak semua pendapat perlu diumbar. Dalam jeda itulah, manusia belajar mengenali dirinya sendiri.
Ketika seseorang menjalani puasa batin, ia sedang melatih kebebasan sejati. Bukan kebebasan untuk melakukan apa saja, melainkan kebebasan dari belenggu nafsu dan dorongan yang membutakan. Ia tidak lagi mudah diprovokasi, tidak gampang terseret arus kebencian, dan tidak cepat silau oleh pujian. Ia menjadi lebih tenang, lebih jernih, dan lebih arif dalam melihat persoalan. Dalam ketenangan itu, ia menemukan ruang untuk bertumbuh.
Pada akhirnya, puasa batin adalah perjalanan panjang yang tidak dibatasi oleh kalender. Ia tidak selesai ketika hari raya tiba, tidak berakhir ketika hidangan kembali tersaji. Ia adalah komitmen untuk terus membersihkan hati, meluruskan niat, dan mengendalikan diri dalam setiap situasi. Ia adalah latihan seumur hidup untuk menjadi manusia yang lebih utuh.
Hampir setiap orang mampu menahan lapar dan dahaga untuk beberapa waktu. Tetapi tidak semua orang bersedia menahan kesombongan, kemarahan, dan keinginan untuk selalu menang. Di situlah letak tantangan sekaligus kemuliaannya. Puasa batin adalah hening yang mengenyangkan; ia mungkin tidak mengisi perut, tetapi ia mengisi jiwa dengan kedamaian. Dan ketika jiwa kenyang oleh kedamaian, tubuh pun belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari apa yang dikonsumsi, melainkan dari apa yang mampu dikendalikan.
Salam Ramadan (R-1)
Kesendirian yang Mengantar pada Kepulangan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Kontemplasi sendirian di rumah memang menyenangkan sekaligus menakutkan. Ada jeda yang panjang antara satu tarikan napas dan tarikan berikutnya, seakan waktu melunak dan membiarkan jiwa menyentuh dirinya sendiri. Di ruang yang sepi, suara detak jam menjadi zikir yang berulang, dan cahaya yang menembus jendela seperti tangan halus yang mengusap kepala. Kesendirian menghadirkan ruang untuk lebih khusyuk beribadah, untuk menundukkan hati tanpa distraksi, untuk berbicara dengan Yang Maha Mendengar tanpa perlu mengeraskan suara. Dalam sunyi, doa terasa lebih jujur. Ia tidak perlu bersaing dengan riuh dunia; ia meluncur perlahan, seperti air yang menemukan celah di antara batu-batu.
Rumah yang biasanya hanya menjadi tempat beristirahat berubah menjadi ruang tafakur. Lantai yang dingin menyerap jejak langkah yang pelan, seakan mengingatkan bahwa setiap pijakan adalah perjalanan menuju akhir. Dinding-dinding memantulkan bisikan doa, menyimpannya dalam gema yang tak terdengar. Di sana, sujud bisa berlangsung lebih lama, napas bisa diatur dengan tenang, dan air mata jatuh tanpa perlu ditahan. Tidak ada yang menyela, tidak ada yang mengetuk pintu, tidak ada percakapan yang memecah konsentrasi. Hanya ada keheningan yang menyelimuti, membiarkan hati membuka lapisan-lapisan yang selama ini tertutup oleh kesibukan dan tuntutan dunia.
Saat dalam kesendirian, seseorang bisa menimbang ulang hidupnya. Kesalahan-kesalahan lama muncul seperti bayangan di sudut ruangan, menunggu untuk diakui. Penyesalan yang selama ini ditekan perlahan mengemuka, meminta pengampunan. Ada kelegaan yang lahir ketika hati berani berkata jujur kepada dirinya sendiri dan kepada Tuhannya. Kesendirian memberi kesempatan untuk memperbaiki niat, meluruskan kembali arah yang sempat melenceng. Ia menjadi ruang penyucian, tempat jiwa dicuci dari debu-debu yang menempel sepanjang perjalanan.
Namun, kesunyian yang sama dapat berubah wajah ketika malam turun perlahan. Cahaya meredup, bayangan memanjang, dan pikiran mulai berjalan ke arah yang lebih gelap. Di sela-sela doa, terlintas pertanyaan yang tak selalu nyaman: bagaimana jika malaikat maut datang saat tak seorang pun berada di sekitar? Bagaimana jika napas berhenti di antara sajadah dan lantai, dan tubuh terbaring tanpa saksi? Rumah yang tadi terasa hangat mendadak menjadi ruang yang terlalu luas untuk satu tubuh yang tak lagi bergerak.
Ketakutan itu tidak semata tentang kematian, melainkan tentang waktu yang terulur tanpa kabar. Tentang hari-hari yang berlalu sebelum keluarga menyadari bahwa seseorang telah pergi. Pintu yang tetap terkunci, telepon yang berdering tanpa jawaban, pesan yang hanya berstatus terkirim. Bayangan paling getir adalah tubuh yang terbaring lama, perlahan membusuk dalam diam, sebelum akhirnya ditemukan oleh kecurigaan atau aroma yang tak lagi bisa disembunyikan. Betapa panjang sunyi yang demikian, betapa hampa akhir yang tak segera diketahui siapa pun.
Pikiran semacam itu seperti angin dingin yang menyelinap di sela-sela keimanan. Ia menguji keteguhan hati: apakah kesendirian ini benar-benar pilihan yang mendekatkan diri pada Tuhan, atau justru jarak yang memperbesar kemungkinan dilupakan? Manusia diajarkan bahwa kematian adalah kepastian, dan waktu kedatangannya adalah rahasia Ilahi. Tidak ada yang bisa menawar, tidak ada yang bisa menunda. Namun, sebagai makhluk yang lemah, tetap ada keinginan untuk ditemani di detik-detik terakhir, untuk ada tangan yang menggenggam atau suara yang membisikkan kalimat-kalimat penguat.
Kesendirian menyadarkan bahwa pada akhirnya setiap jiwa memang akan menghadap sendiri. Tak ada keluarga, tak ada sahabat, tak ada harta yang menyertai melewati batas antara hidup dan mati. Hanya amal dan rahmat yang menjadi bekal. Dalam perenungan itu, ketakutan perlahan bergeser makna. Ia tidak lagi sekadar takut pada tubuh yang membusuk tanpa diketahui, tetapi takut pada hati yang mungkin belum cukup bersih, pada doa yang mungkin belum sungguh-sungguh, pada waktu yang mungkin terbuang percuma. Jika kematian datang dalam sunyi, bukankah yang terpenting adalah kesiapan jiwa, bukan cepat atau lambatnya jasad ditemukan?
Tetap saja, manusia adalah makhluk yang merindukan kehadiran. Ada kehangatan dalam mengetahui bahwa seseorang akan mencari ketika kita tak memberi kabar. Ada penghiburan dalam keyakinan bahwa kehilangan kita akan disadari, bahwa keberadaan kita memiliki arti bagi orang lain. Ketakutan akan mati sendirian sejatinya adalah cerminan dari kebutuhan untuk diingat, untuk diakui pernah ada, untuk dirindukan setelah tiada. Rumah yang sunyi menjadi cermin dari pertanyaan itu: sejauh mana hidup kita terhubung dengan kehidupan orang lain?
Mungkin jawabannya bukan dengan menghindari kesendirian, melainkan dengan mengisinya secara utuh dan seimbang. Kontemplasi yang sejati bukan hanya tentang memperbanyak ibadah dalam sepi, tetapi juga menata hubungan dengan sesama selagi masih ada waktu. Mengabari keluarga, menyapa sahabat, memperbaiki hubungan yang retak, meninggalkan jejak kebaikan di hati orang lain. Dengan begitu, jika suatu hari malaikat maut benar-benar datang di antara dinding-dinding rumah yang sunyi, kepergian itu tidak sepenuhnya sepi. Ada doa yang menyusul, ada langkah yang bergegas, ada pelukan terakhir yang mungkin terlambat namun tetap tulus.
Sunyi akan selalu menjadi ruang yang ambigu; ia bisa menjadi taman yang menumbuhkan iman, sekaligus lorong yang memperbesar ketakutan. Di sanalah manusia belajar tentang makna hadir dan hilang, tentang jarak dan kedekatan, tentang hidup yang sementara dan mati yang pasti.
Di antara sajadah dan pintu yang terkunci, di antara doa dan bayangan kematian, tersimpan pelajaran tentang kefanaan. Bahwa hidup, betapapun sunyinya, tetap berharga selama ia dipenuhi kesadaran dan cinta. Dan bahwa mati, betapapun sendirinya, akan menemukan maknanya ketika jiwa telah siap kembali, dengan hati yang lapang dan harap yang tidak pernah padam.
Ketika AKU Menjadi Hijab
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Di serambi pesantren yang mulai sunyi setelah isya, seorang santri duduk bersila di hadapan kiai. Lampu temaram menggantung, angin malam membawa aroma tanah basah. “Yai,” tanya santri itu pelan, “mengapa doa saya sering terasa jauh, padahal lisan tak pernah berhenti memohon?”. Kiai tersenyum, menatap halaman gelap di depannya. “Karena yang berdiri paling depan dalam doamu bukan Tuhan, tapi ‘aku’-mu.”
Santri terdiam. “Bukankah aku yang berdoa, Yai?”. “Benar,” jawab kiai lembut, “tetapi ketika engkau merasa sebagai pemilik doa, di situlah hijab bermula. ‘Aku’ ingin didengar, ingin dikabulkan, ingin diakui. Padahal doa sejati bukan soal didengar, melainkan soal hadir.”
“Lalu bagaimana caranya menyingkirkan ‘aku’ itu?” Jawab Santri. Kiai menggeleng perlahan. “Ia tidak disingkirkan dengan marah. “Aku” dilembutkan dengan sadar. Sadari bahwa nafasmu bukan milikmu, niatmu pun dipinjamkan. Ketika engkau menyadari itu, ‘aku’ akan menunduk dengan sendirinya.”. Santri menunduk lebih dalam. “Jika ‘aku’ menunduk, apa yang tersisa, Yai?”. “Yang tersisa,” kata kiai sambil tersenyum, “adalah hamba tanpa klaim. Di sanalah makrifat mulai berbisik. Bukan dengan suara, tapi dengan ketenangan yang tak lagi bertanya apakah doa sampai atau tidak.” Angin berhembus pelan. Santri itu terdiam, bukan karena tak paham, tetapi karena hatinya sedang belajar diam.
Di antara manusia dan Tuhan berdiri sesuatu yang tampak akrab, bahkan terasa sebagai diri sendiri, yaitu “aku”. Kata ini ringan diucapkan, tetapi berat maknanya. Ia membungkus kesadaran, mengklaim pengalaman, dan menuntut pengakuan. Dalam jalan makrifat, “aku” bukan sekadar kata ganti, melainkan tirai halus yang menutup pandangan batin. Selama tirai itu belum tersingkap, doa tetap terdengar, tetapi tidak sungguh sampai; ibadah dilakukan, tetapi belum sepenuhnya berjumpa.
Ego lahir dari kebutuhan untuk bertahan dan dikenali. Ia mengatur cerita tentang siapa diri ini, apa yang pantas didapat, dan bagaimana dunia seharusnya memperlakukan kita. Dalam kehidupan sehari-hari, ego tampak wajar, bahkan perlu. Namun ketika ia dibawa masuk ke ruang ketuhanan, ego berubah menjadi penghalang. Doa yang seharusnya merupakan penyerahan berubah menjadi tuntutan. Harap yang seharusnya bersandar berubah menjadi transaksi. Kata “aku” menyusup di setiap kalimat batin: aku berdoa, aku beribadah, aku pantas dikabulkan. Pada saat itulah hubungan menjadi dua arah yang terpisah, bukan perjumpaan yang melebur.
Makrifat mengajarkan keheningan di balik kata. Di sana, kesadaran tidak lagi sibuk mengklaim. Ketika seseorang menyadari bahwa segala yang dimiliki: nafas, pikiran, bahkan kehendak, bukan sepenuhnya miliknya, maka “aku” mulai melunak. Ego tidak dihancurkan dengan kekerasan, melainkan dilunakkan dengan pengenalan. Ia dipahami, bukan dimusuhi. Kesadaran melihat bahwa ego hanyalah alat, bukan pusat. Ia berguna untuk hidup di dunia, tetapi harus ditinggalkan ketika memasuki hadirat Yang Maha Ada.
Doa yang terhijab ego sering kali penuh kata, tetapi miskin hadir. Bibir bergerak, pikiran mengembara, dan hati sibuk menghitung hasil. Dalam kondisi ini, doa menjadi cermin ego itu sendiri. Ia memantulkan keinginan, ketakutan, dan ambisi. Makrifat mengajak doa kembali pada asalnya: diam yang sadar. Dalam diam, tidak ada lagi yang meminta atas nama “aku”. Yang tersisa hanyalah kesaksian bahwa segala sesuatu berlangsung dalam kehendak-Nya. Dari sini, doa bukan lagi permohonan, melainkan penyelarasan.
Ego juga gemar merasa paling benar dan paling dekat. Ia bisa menyamar dalam kesalehan, merasa lebih suci, lebih tahu, atau lebih layak. Penyamaran ini paling halus dan paling berbahaya, karena ia membuat seseorang merasa sudah sampai, padahal justru terhenti. Makrifat tidak mengenal rasa selesai. Semakin dekat, semakin lenyap rasa memiliki. Semakin dalam, semakin ringan identitas diri. Di titik ini, ego tidak lagi memimpin, ia hanya mengikuti arus kesadaran yang lebih luas.
Menghadapi ego bukan berarti meniadakan diri secara fisik atau menolak peran hidup. Yang ditinggalkan adalah klaim, bukan keberadaan. Seseorang tetap bekerja, mencinta, dan berdoa, tetapi tanpa beban pengakuan. Ia hadir, namun tidak menuntut. Ia bergerak, namun tidak menguasai. Inilah keadaan ketika “aku” berubah menjadi amanah, bukan pusat semesta. Dalam keadaan ini, jarak dengan Tuhan menyempit bukan karena langkah mendekat, tetapi karena penghalang menyingkir.
Ketika ego mereda, doa menemukan jalannya sendiri. Ia tidak selalu berwujud terkabulnya keinginan, tetapi hadir sebagai ketenangan menerima. Jawaban tidak selalu datang sebagai perubahan keadaan, melainkan perubahan cara memandang. Inilah pengabulan yang sering luput disadari. Bukan dunia yang menyesuaikan diri dengan ego, melainkan ego yang larut dalam kehendak Ilahi. Pada saat itu, tidak ada lagi “aku” yang berdiri di depan-Nya. Yang ada hanyalah kesadaran yang bersaksi, bahwa sejak awal tidak pernah ada jarak, kecuali yang diciptakan oleh klaim diri.
Salam waras
KESALEHAN YANG RETAK
(Yang Saleh bisa salah, Yang salah bisa Saleh)
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Malam telah jauh melewati puncak sunyinya. Setelah sholat tahajud, pesantren seakan menahan napas. Sajadah-sajadah masih terhampar, aroma kayu tua dan lantunan doa yang tertinggal menggantung di udara. Seorang Santri belum beranjak dari tempat duduknya. Air matanya belum kering, dadanya masih bergetar oleh doa-doa yang tak sempat terucap dengan kata.
Di sudut Masjid itu, Kiai duduk bersandar pada tiang, memejamkan mata, seolah menyimak sesuatu yang tak terdengar. Santri itu mendekat dengan langkah ragu, lalu bersimpuh. “Yai,” bisiknya lirih, takut memecah kesunyian, “mengapa setiap selesai tahajud, hati saya justru merasa semakin kecil, seolah semua amal saya tak berarti apa-apa?”
Kiai membuka mata perlahan. Wajahnya tenang, namun suaranya menghunjam. “Karena di sepertiga malam, Tuhan tidak membesarkan manusia, Nak. DIA mengecilkannya, agar tidak ada yang tersisa selain kejujuran.” Santri itu menelan ludah. “Lalu bagaimana dengan orang-orang yang merasa sudah dekat dengan-Nya?”. “Dekat menurut siapa?” tanya kiai pelan. “Orang yang benar-benar dekat biasanya gemetar. Ia takut jika sujudnya hanya gerak, doanya hanya suara, dan taatnya hanya cara halus untuk memuja diri.”
Hening kembali jatuh. Kiai melanjutkan, “Ada manusia yang rusak hidupnya, dan juga hancur hatinya. Dari kehancuran itu, ia mengenal Tuhannya. Dan ada yang rapi ibadahnya, tapi utuh egonya. Yang utuh itu justru menutup jalan menuju Tuhan-nya.” Air mata santri itu jatuh ke sajadah. Dalam sunyi selepas tahajud, ia mengerti: Tuhan lebih sering ditemui oleh hati yang remuk daripada oleh jiwa yang merasa telah sempurna
Ungkapan bahwa yang saleh bisa salah dan yang salah bisa saleh mengguncang cara pandang moral yang sering kita anggap mapan. Ia menolak pemisahan hitam-putih antara kebaikan dan keburukan, serta membongkar ilusi bahwa kesalehan adalah status tetap yang dapat dimiliki seseorang. Dalam filsafat ketuhanan, pernyataan ini mengarahkan kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang relasi manusia dengan Yang Ilahiah: relasi yang tidak ditentukan oleh klaim kesucian, melainkan oleh kesadaran akan keterbatasan diri.
Kesalehan sering dipahami sebagai ketaatan lahiriah: kepatuhan pada aturan, konsistensi dalam ritual, dan kemampuan menjaga citra moral di hadapan sesama. Namun, ketika kesalehan diperlakukan sebagai identitas final, ia berisiko berubah menjadi bentuk keakuan yang halus. Pada titik ini, kesalehan tidak lagi mengarah ke Tuhan, melainkan berputar kembali kepada diri sendiri. Seseorang merasa telah “sampai”, merasa lebih benar, lebih bersih, dan lebih dekat kepada kebenaran dibanding yang lain. Dalam perspektif ketuhanan, inilah bentuk kesalahan yang paling sunyi namun paling berbahaya: kesalahan yang tersembunyi di balik keyakinan bahwa diri sudah benar.
Sebaliknya, kesalahan, dalam arti pelanggaran moral atau penyimpangan, sering dipandang sebagai jarak dari Tuhan. Namun pengalaman eksistensial manusia menunjukkan hal yang lebih kompleks. Kesalahan dapat menjadi ruang perjumpaan yang jujur dengan diri sendiri. Saat seseorang jatuh, runtuhlah ilusi kehebatan diri. Rasa hina, penyesalan, dan kesadaran akan kelemahan membuka ruang batin yang sebelumnya tertutup oleh kesombongan. Dalam ruang inilah, Tuhan tidak lagi dipahami sebagai legitimasi atas kebaikan diri, melainkan sebagai tempat kembali bagi jiwa yang rapuh.
Ungkapan bahwa ahli maksiat terkadang lebih mengenal Tuhannya dibanding ahli taat bukanlah glorifikasi kesalahan, melainkan kritik terhadap kesalehan palsu. Kesalahan tidak dipuji, tetapi kesadaran atas kesalahan itulah yang dinilai. Dalam filsafat ketuhanan, kesadaran adalah kunci. Tuhan tidak “didekati” melalui prestasi moral, tetapi melalui kejujuran batin. Ketika seseorang mengakui kesalahannya, ia sedang menyingkirkan tirai ego yang selama ini menghalangi pandangan kepada Yang Transenden.
Kesalehan sejati, dengan demikian, bukanlah ketiadaan dosa, melainkan keberlanjutan kesadaran. Ia hidup dalam ketegangan antara usaha dan pengakuan akan ketidakcukupan. Orang yang saleh secara autentik tidak pernah merasa aman dengan kesalehannya sendiri. Ia selalu menyisakan ruang ragu, ruang takut, dan ruang harap. Ragu terhadap kemurnian niatnya, takut terhadap kesombongannya, dan berharap pada rahmat yang melampaui perbuatannya.
Pada akhirnya, yang salah bukanlah mereka yang jatuh dan menyadari kejatuhannya, melainkan mereka yang berdiri tegak di atas keyakinan bahwa mereka tidak mungkin jatuh. Dalam pandangan ketuhanan yang mendalam, Tuhan lebih dekat pada hati yang remuk daripada dada yang membusung. Kesalahan bisa menjadi jalan, dan kesalehan bisa menjadi tirai. Yang menentukan bukan label moral, melainkan sikap batin: apakah manusia masih menunduk, atau sudah terlalu sibuk mengagumi bayangannya sendiri. Oleh karena itu para ulama terdahulu berpesan bahwa; Syariat itu mengajarkan kita untuk membenahi diri, torekat itu mengajarkan kita untuk mampu mengenali diri, hakekat itu mengajarkan kita untuk berserah diri, dan makrifat itu mengajarkan kita untuk mengenali sejatinya diri.
Salam Ramadan
Prodi Manajemen Siap Sambut Semester Genap 2025/2026 dengan Transformasi Metode Pengajaran Berbasis Teknologi dan Inovasi
Pembukaan awal semester menjadi ajang pembaharuan dalam menyambut tahun ajaran baru Genap 2025/2026 dan Prodi Manajemen sukses menyelenggarakan kegiatan pembukaan awal semester pada hari Selasa 10 Februari 2026, dengan mengangkat tema “Transformation of Teaching Methods: Innovation, Technology, and Student-Centered Learning.” Kegiatan ini diikuti oleh seluruh dosen Prodi Manajemen agar dapat dijadikan momentum strategis dalam menyelaraskan arah pembelajaran dengan tuntutan era digital serta penguatan pendekatan outcome-based education.Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Pelaksana, Harold Kevin Alfredo, S.E., M.BA., yang menegaskan bahwa transformasi metode pengajaran merupakan keniscayaan dalam menjawab perubahan lanskap pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja.
Paparan Materi: Transformasi Paradigma dan Praktik, Pemateri pertama, Dr. Febrianty, S.E., M.Si., menyampaikan materi berjudul “Paradigma Metode Pengajaran Perguruan Tinggi di Era Digital dan Outcome-Based Education.” Beliau menekankan pentingnya pergeseran dari teacher-centered learning menuju pembelajaran berbasis capaian (OBE) yang terukur dan relevan dengan kebutuhan industri. Penekanan juga diberikan pada penyusunan RPS berbasis learning outcomes serta asesmen autentik yang mampu mengukur kompetensi secara komprehensif.
Selanjutnya, Dr. Yuni Ekawati, S.E., M.M., ACPA., membawakan materi “Metode Pengajaran Terkini dan Praktik Terbaik.” Ia memaparkan pendekatan seperti case-based learning, project-based learning, dan integrasi learning management system sebagai bagian dari strategi meningkatkan keterlibatan mahasiswa. Menurutnya, praktik terbaik dalam pengajaran harus berorientasi pada efektivitas pembelajaran, bukan sekadar penggunaan teknologi.
Sebagai pemateri ketiga, Ayu Nursari, S.E., M.E., mengangkat tema “Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).” Dalam paparannya, ia menekankan bahwa transformasi pembelajaran juga harus diiringi dengan penciptaan lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan berkeadilan. Sosialisasi mekanisme pelaporan serta pemahaman regulasi PPKS menjadi bagian penting dalam membangun budaya kampus yang sehat.
Sesi Diskusi Interaktif dan Reflektif
Setelah pemaparan materi ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berlangsung dinamis dan interaktif. Para dosen dan peserta aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman mengenai implementasi metode pembelajaran inovatif di kelas masing-masing.
Diskusi berkembang pada isu-isu strategis seperti tantangan penerapan outcome-based education, efektivitas asesmen berbasis proyek, hingga integrasi nilai-nilai etika dan keamanan kampus dalam proses pembelajaran. Beberapa peserta juga menyoroti pentingnya pelatihan berkelanjutan bagi dosen agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi pembelajaran.
Sesi ini tidak hanya menjadi ruang tanya jawab, tetapi juga forum refleksi kolektif untuk menyamakan persepsi dan memperkuat kolaborasi antar dosen dalam mewujudkan pembelajaran yang lebih adaptif dan berpusat pada mahasiswa.
Komitmen Menuju Pembelajaran Transformatif
Melalui rangkaian kegiatan ini, Program Studi Manajemen menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dalam metode pengajaran, memanfaatkan teknologi secara strategis, serta memastikan terciptanya lingkungan akademik yang aman dan inklusif.
Pembukaan semester ini diharapkan menjadi titik awal konsolidasi akademik menuju sistem pembelajaran yang lebih modern, responsif, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi mahasiswa secara holistik. Dengan semangat kolaborasi dan transformasi, Prodi Manajemen optimis mampu mencetak lulusan yang unggul, adaptif, dan berintegritas di tengah dinamika global.
Editor : Chandra faza