Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Tulisan ini diilhami oleh diskusi “tanpa bentuk” dengan Herman Batin Mangku (HBM) dalam melihat dan merasakan keadaan negeri yang sedang tidak baik-baik saja: terutama tentang perputaran roda perpolitikan. Tentu hanya melalui medsos kami berdua.
Kami bersepakat bahwa dunia perpolitikan negeri ini sedang menunjukkan wajahnya dari sisi lain. Biasanya dipertontonkan kekuasaan dan keglamoran; -walaupun tidak semua -, namun karena intensitas dan kwantitasnya; maka tampilannya menjadi “menyala”.
Akan tetapi kini, banyak “tendangan sudut” bereliweran; sehingga tidak jarang meminta korban. Ada yang selesai berjoged langsung di jarah, ada yang sedang ngomel berargumentasi menegakkan pembenaran, kena pusaran.
Tampaknya pemilik kedaulatan negeri ini menunjukkan kekuasaanya, walaupun tidak jarang sekaligus “keliarannya” sehingga timbul penjarahan. Tulisan ini mencoba “menghanyutkan diri” pada gelombang itu untuk menyelami, guna mengetahui kemudian memahami apa sebenarnya yang terjadi. karena keterbatasan pengetahuan, maka tulisan ini hanya melihat dari sudut pandang Filsafat kontemporer.
Politik adalah salah satu medan paling nyata dalam kehidupan manusia di mana moral, kekuasaan, kepentingan, dan nilai-nilai saling bersinggungan secara intens. Dalam dunia politik, tidak ada medan yang sepenuhnya bersih.
.
Lumpur menjadi metafora yang tepat untuk menggambarkan kenyataan bahwa dalam perjuangan membentuk, mempertahankan, atau merebut kekuasaan, seseorang hampir tidak bisa menghindari kotornya realitas: kompromi yang melelahkan, manuver taktis yang sering menabrak batas idealisme, dan pilihan-pilihan sulit yang berisiko menodai prinsip.
Akan tetapi, dalam situasi apa pun, keterlibatan dengan lumpur tidak secara otomatis harus menjelma menjadi kubangan. Berlumpur adalah kondisi; berkubang adalah keputusan. Di sinilah letak garis batas moral yang paling fundamental dalam praktik politik: seseorang boleh bersentuhan dengan kotoran, tetapi ia tidak boleh menjadikannya rumah.
Filsafat kontemporer, yang banyak mengangkat isu tentang ambiguitas, krisis makna, dekonstruksi nilai, dan tanggung jawab etis, memberi kita cara pandang yang lebih jujur dalam menilai realitas politik. Politik tidak pernah berjalan dalam ruang steril.Tidak ada keputusan yang benar-benar bersih dari kepentingan, tidak ada sistem yang sepenuhnya netral.
Namun, filsafat juga mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah justifikasi untuk menyerah pada kekotoran. Justru dalam kesadaran akan ambiguitas itulah, manusia politik dituntut untuk mempertahankan kompas moralnya.
Manusia sebagai subjek politik selalu berdiri dalam relasi kuasa: ia adalah makhluk sosial, tetapi juga makhluk strategis. Ia mampu mencintai, tetapi juga mampu memanipulasi. Ia memiliki kesadaran moral, tetapi juga memiliki dorongan egoistik..
Lumpurnya dunia politik adalah cermin dari kompleksitas manusia itu sendiri. Namun, filsafat kontemporer menunjukkan bahwa tindakan etis tidak harus muncul dari kepastian, tetapi bisa lahir dari keterbukaan terhadap kemungkinan.
Artinya, dalam kondisi yang serba tidak pasti sekalipun, manusia tetap memiliki pilihan. Dan pilihan untuk tidak berkubang adalah ekspresi paling dasar dari keberanian moral.
Berkubang berarti menyerah. Bukan hanya menyerah pada sistem, tetapi menyerah pada kehendak untuk menjadi manusia yang bermakna. Ketika seseorang berkubang, ia tidak lagi sekadar menjalani peran dalam sistem; ia telah menyatu dengan sistem yang korup itu, menjadikannya identitas, bahkan membelanya dengan penuh semangat.
Inilah yang disebut kehilangan jarak kritis: saat seseorang tidak lagi mampu membedakan dirinya dari sistem yang ia kritik dahulu. Ketika lumpur sudah dianggap air, dan busuk dianggap biasa, maka kehancuran etis sudah terjadi.
Orang yang berkubang tidak lagi merasa bersalah, karena rasa bersalah dianggap kelemahan. Ia tidak lagi merasa malu, karena malu dianggap hambatan. Ia tidak lagi merasa salah, karena sistem telah mengatur pembenaran untuk segalanya.
Sementara itu, berlumpur adalah kondisi yang disadari. Ia adalah bentuk partisipasi dalam realitas dengan tetap membawa kesadaran kritis. Orang yang berlumpur tahu bahwa langkahnya mungkin tidak selalu bersih, tetapi ia tetap menjaga agar lumpur itu tidak menyentuh inti dirinya.
Ia tetap menjaga ruang batin tempat nilai, penyesalan, empati, dan kejujuran bisa tumbuh. Ia melakukan kompromi, tetapi tidak menyerahkan prinsip. Ia memahami urgensi taktis, tetapi tidak menjadikan taktik sebagai satu-satunya nilai ukur.
Dalam filsafat kontemporer, kesadaran akan keterbatasan bukanlah titik akhir moralitas, tetapi titik tolak etika reflektif. Artinya, tindakan etis justru dimulai ketika seseorang tahu bahwa ia tidak bisa bersih, tapi tetap berusaha tidak kotor lebih dari yang perlu.
Namun demikian, tidak semua orang yang masuk ke dunia politik harus terjerumus. Berlumpur tidak harus berkubang, karena manusia memiliki kapasitas reflektif untuk menolak penyeragaman sistem. Ia bisa bersikap. Ia bisa memilih untuk tidak memanfaatkan kelemahan sistem demi keuntungan pribadi.
Ia bisa menolak untuk menjilat demi jabatan. Ia bisa memilih untuk mundur ketika prinsip-prinsip tidak bisa lagi dipertahankan. Semua ini membutuhkan keberanian eksistensial: keberanian untuk menjadi berbeda, untuk tidak ikut arus, untuk mengambil resiko kehilangan demi mempertahankan nilai.
Berlumpur juga bisa menjadi pengalaman transformasional. Seseorang yang menyadari bahwa politik itu penuh tantangan etis, bisa menjadi pribadi yang lebih bijak. Ia tidak naïf, tetapi juga tidak sinis. Ia tahu bahwa dunia tidak sempurna, tetapi ia tidak membiarkan ketidaksempurnaan itu menjadi alasan untuk apatis.
Dalam filsafat kontemporer, ini disebut sebagai harapan tragis: harapan yang tidak dibangun di atas ilusi, tetapi di atas kenyataan pahit. Harapan ini adalah bentuk perlawanan terhadap nihilisme, terhadap kekosongan moral yang tumbuh dalam sistem yang membusuk.
Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa sistem sering kali mendorong orang untuk berkubang. Struktur kekuasaan, loyalitas buta, tekanan oligarki, media yang dikendalikan, serta budaya permisif membuat banyak orang terpaksa memilih diam atau ikut bermain.
Namun justru dalam tekanan itulah, ujian sesungguhnya muncul. Integritas bukan diuji ketika situasi mudah, tetapi justru ketika seluruh sistem mendorong seseorang untuk menyerah. Dalam tekanan itu, pilihan-pilihan kecil menjadi penting. Menolak suap, tidak berbohong dalam kampanye, tidak memperalat agama atau identitas, semua itu mungkin terlihat kecil, tapi itulah fondasi dari politik yang etis.
Berlumpur tidak harus berkubang, karena makna dari menjadi manusia politik adalah terus menjaga keseimbangan antara realitas dan nilai, antara pragmatisme dan idealisme, antara strategi dan nurani.
Politik bukan hanya soal kekuasaan, tetapi soal tanggung jawab. Dan tanggung jawab ini bukan hanya kepada rakyat, tetapi kepada hati nurani sendiri. Dalam filsafat kontemporer, tanggung jawab semacam ini disebut tanggung jawab yang tak bisa didelegasikan. Tidak bisa digantikan oleh partai, sistem, atau konsultan. Ia hanya bisa dijalani oleh individu yang sadar akan posisinya dalam sejarah.
Maka dalam dunia yang penuh lumpur, kita tidak diminta untuk berjalan tanpa kotor. Itu mustahil. Yang dituntut adalah agar kita tidak menjadikan lumpur sebagai tempat tinggal. Kita boleh berstrategi, tetapi jangan mengorbankan etika. Kita boleh mengalah untuk sementara, tetapi jangan menyerah pada nilai. Kita boleh berdamai dengan kenyataan, tapi jangan melupakan cita-cita. Kita boleh berlumpur, tetapi tidak boleh berkubang. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Hari Kedua PKKMB Universitas Malahayati, Brigjen TNI Enjang Tanamkan Semangat Bela Negara kepada Mahasiswa Baru
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Malahayati 2025 kembali berlangsung meriah pada hari kedua, Kamis (11/9/2025). Bertempat di Gedung Graha Bintang, sebanyak 1.296 mahasiswa baru mengikuti rangkaian kegiatan yang sarat makna, kali ini dengan tema “Kehidupan Berbangsa, Bernegara, Jati Diri Bangsa, dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara.”
Acara dipandu oleh Satria Wijaya, S.Pd., M.Pd selaku moderator, dan menghadirkan narasumber istimewa, Brigadir Jenderal TNI Enjang, S.I.P., M.Han, Inspektur Daerah Militer (IRDAM) XXI/ Radin Inten.
Dalam pemaparannya, Brigjen TNI Enjang menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan bangsa dan negara. Menurutnya, kehidupan berbangsa dan bernegara bukan hanya sekadar identitas formal, tetapi juga pengamalan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta kepedulian terhadap sesama.
“Bangsa yang besar bukan hanya karena kekayaan alamnya, tetapi karena rakyatnya memiliki jati diri, cinta tanah air, dan kesadaran untuk membela negaranya,” tegas Brigjen Enjang di hadapan ribuan mahasiswa baru.
Ia mengingatkan bahwa jati diri bangsa Indonesia berpijak pada Pancasila sebagai ideologi, UUD 1945 sebagai konstitusi, Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan, dan NKRI sebagai bentuk final negara. Mahasiswa, sebagai generasi penerus, diharapkan mampu menjaga keempat pilar tersebut dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, termasuk arus globalisasi, degradasi moral, hingga penyalahgunaan teknologi.
Brigjen TNI Enjang menjelaskan bahwa bela negara bukan hanya berarti angkat senjata, melainkan bisa diwujudkan dalam banyak hal, seperti: belajar dengan tekun dan berprestasi, menjaga persatuan dan kerukunan, taat hukum dan berdisiplin, serta berkontribusi nyata di masyarakat.
“Kesadaran bela negara adalah kewajiban seluruh warga negara, termasuk mahasiswa. Dengan menanamkan disiplin, etika, dan kepedulian, kita semua bisa menjadi bagian dari benteng pertahanan bangsa,” ujarnya.
Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa tampak antusias menggali pandangan narasumber tentang peran generasi muda di tengah kondisi bangsa saat ini. Brigjen Enjang menegaskan bahwa mahasiswa harus menjadi agen perubahan (agent of change) yang mampu memberikan solusi, bukan hanya menjadi penonton.
Hari kedua PKKMB ini menjadi momentum berharga untuk memperkokoh pemahaman mahasiswa baru tentang pentingnya berbangsa, bernegara, serta kesiapan mereka dalam membangun negeri. Dengan semangat bela negara, Universitas Malahayati berharap para mahasiswa mampu menjadi generasi tangguh yang siap menghadapi tantangan masa depan. (gil)
Editor: Gilang Agusman
PKKMB Universitas Malahayati Hari Kedua, Bekal Memasuki Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0
Acara pada Kamis (11/9/2025) ini dipandu oleh Rika Yulenda Sari, S.Kep., Ns., M.Kep selaku moderator, dan menghadirkan Dr. M. Arifki Zainaro, S.Kep., Ns., M.Kep, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Internal (LPMI) Universitas Malahayati, sebagai narasumber utama. Dr. Arifki membawakan materi dengan tema “Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0”, yang memberikan wawasan penting bagi mahasiswa baru dalam menyiapkan diri menghadapi tantangan zaman.
Lebih jauh, Dr. Arifki menjelaskan konsep Society 5.0 yang diperkenalkan di Jepang pada tahun 2019. Society 5.0 merupakan visi masyarakat super cerdas (super smart society), di mana teknologi digital tidak hanya untuk efisiensi industri, melainkan juga diarahkan bagi kesejahteraan manusia.
“Jika Revolusi Industri 4.0 lebih menekankan pada integrasi teknologi, maka Society 5.0 menempatkan manusia sebagai pusatnya. Teknologi hadir untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar menggantikan peran manusia,” jelasnya.
Suasana PKKMB hari kedua terasa penuh antusiasme. Para mahasiswa mendengarkan dengan seksama, banyak yang mencatat poin-poin penting, bahkan terlibat aktif dalam sesi tanya jawab.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga motivasi untuk menjadi generasi unggul yang adaptif di era digital, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Hari Kedua PKKMB Universitas Malahayati, Bentuk Mahasiswa Berkarakter, Tegas Tolak Narkoba
Acara berlangsung hangat dengan dipandu oleh moderator Ayu Nursari, SE., ME. Dalam sesi ini, Universitas Malahayati menghadirkan narasumber istimewa, Fhata Z’Af Al’Ali, M.I.Kom, Penyuluh Narkoba Ahli Muda dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung.
“Mahasiswa adalah agen perubahan. Jika kalian kuat dan tegas menolak narkoba, maka lingkungan sekitar pun akan ikut terlindungi,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengajak mahasiswa baru Universitas Malahayati untuk menjadi duta anti narkoba di kampus maupun di masyarakat. Menurutnya, langkah kecil seperti berani berkata tidak terhadap ajakan, menjaga pergaulan, hingga aktif menyuarakan bahaya narkoba di media sosial merupakan kontribusi nyata dalam upaya pencegahan.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman, tetapi juga menjadi ajang motivasi bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri dengan karakter yang sehat, tangguh, dan berintegritas. Universitas Malahayati pun menegaskan komitmennya untuk mendukung program pemerintah dalam menciptakan lingkungan kampus yang bersih dari narkoba.
PKKMB hari kedua ini menjadi bukti nyata bahwa Universitas Malahayati tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga serius membentuk mahasiswa yang berkarakter kuat, peduli lingkungan, dan siap menjadi garda terdepan dalam melawan narkoba. (gil)
Editor: Gilang Agusman
PKKMB Universitas Malahayati 2025, Rektor Beri Pesan Inspiratif dan Sukses untuk Generasi Baru
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati dipenuhi semangat dan antusiasme ribuan mahasiswa baru yang mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025. Sebanyak 1.296 mahasiswa baru secara resmi disambut oleh Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, SH., MH, y
ang memberikan sambutan dan arahan inspiratif untuk memulai perjalanan akademik mereka.
Dalam pidatonya, Rektor menekankan pentingnya membangun karakter mahasiswa yang disiplin, kreatif, kolaboratif, dan tangguh. Menurutnya, keempat nilai ini merupakan pondasi penting untuk menghadapi dinamika dunia kampus sekaligus persaingan global di masa depan.
“Kedisiplinan melatih tanggung jawab, kreativitas membuka ruang inovasi, kolaborasi menumbuhkan kekuatan kebersamaan, sementara ketangguhan menjadi bekal menghadapi tantangan hidup,” ujar Rektor.
Rektor juga mengingatkan mahasiswa agar selalu menjaga nama baik almamater Universitas Malahayati, baik di dalam maupun di luar kampus. Ia menegaskan bahwa setiap mahasiswa adalah duta kampus yang membawa citra universitas di tengah masyarakat. “Nama baik almamater ada di pundak kalian. Jadilah pribadi yang berintegritas, santun, dan membanggakan keluarga serta kampus tercinta ini,” tegas Dr. Muhammad Kadafi.
Selain itu, beliau mengimbau seluruh mahasiswa baru agar memiliki komitmen penuh dalam perkuliahan, termasuk hadir tepat waktu, fokus dalam belajar, serta tekun mengembangkan diri. “Komitmen itu penting. Jangan sia-siakan waktu, manfaatkan masa kuliah sebaik-baiknya. Karena dari situlah kesuksesan kalian akan dibangun menuju masa depan yang gemilang,” tambahnya.
Dalam pesannya, Rektor juga menyampaikan harapan besar kepada generasi muda Malahayati. “Kita melihat semangat luar biasa dari mahasiswa baru tahun ini. Mari kita doakan mereka bisa lulus tepat waktu, menjaga amanah orang tua, serta tumbuh menjadi insan cerdas dalam ilmu pengetahuan dan religius dalam sikap. Jadilah seperti pohon yang selalu memberikan kebaikan-kebaikan bagi masyarakat sekitar,” ucapnya penuh makna.
Acara pembukaan PKKMB ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, Wakil Rektor IV, serta seluruh pejabat di lingkungan Universitas Malahayati, yang bersama-sama memberikan dukungan penuh dalam menyambut mahasiswa baru.
PKKMB 2025 pun menjadi momentum penting, bukan hanya sebagai pengenalan kehidupan kampus, tetapi juga sebagai langkah awal membangun generasi unggul yang siap berkontribusi bagi bangsa, masyarakat, dan dunia. (gil)
Editor: Gilang Agusman
PKKMB Universitas Malahayati 2025 Resmi Dibuka, Mahasiswa Baru Siap Jalani Perjalanan Akademik
Tahun ini, sebanyak 1.296 mahasiswa baru resmi bergabung dengan keluarga besar Universitas Malahayati. Kehadiran mereka menjadi bukti semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kampus yang dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi unggulan di Lampung dan Indonesia.
“PKKMB bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi momentum bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat budaya, nilai, dan kehidupan akademik di Universitas Malahayati. Inilah langkah awal untuk menyiapkan diri menjadi insan yang berkarakter, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi bangsa dan masyarakat,” ujar Prof. Dessy.
Beliau juga berpesan agar mahasiswa baru memanfaatkan kesempatan belajar di universitas dengan sebaik-baiknya, tidak hanya untuk meraih prestasi akademik, tetapi juga mengasah soft skill, kepemimpinan, serta kepedulian sosial
PKKMB Universitas Malahayati 2025 sendiri akan berlangsung dengan serangkaian agenda, mulai dari pengenalan visi misi kampus, tata tertib akademik, organisasi mahasiswa, hingga berbagai kegiatan motivasi dan kebangsaan.
Dengan resmi dibukanya PKKMB 2025, Universitas Malahayati berharap para mahasiswa baru dapat segera beradaptasi, menemukan potensi diri, serta tumbuh menjadi generasi unggul yang membawa nama baik almamater ke kancah nasional maupun internasional. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Kolaborasi Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati, Ciptakan Teknologi di Tangan Warga: SIJENTIK DBD Bantu Desa Hajimena Cegah Wabah
Program ini merupakan bagian dari Pengabdian Berbasis Masyarakat (PBM) hasil kolaborasi tim dosen dan mahasiswa Universitas Malahayati, Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, bersama Universitas Teknokrat Indonesia. Tim pengabdian melibatkan dosen Agung Aji Perdana, SKM., M.Epid., Dina Dwi Nuryani, SKM., M.Kes., Angga Bayu Santoso, S.Kom., M.Kom., serta mahasiswa M. Ptra Pratama dan Maharani Kartini. Program ini juga mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendiktisaintek.
Pengenalan SIJENTIK DBD dilakukan melalui pelatihan yang melibatkan kader kesehatan desa, perangkat desa, dan warga. Dengan menggunakan smartphone atau tablet, kader kesehatan dapat mencatat temuan jentik di rumah warga, melampirkan foto lokasi, lalu mengunggahnya ke sistem digital.
Data yang masuk langsung dapat diakses secara real time oleh aparatur desa, petugas puskesmas, hingga kecamatan. Dengan begitu, intervensi pencegahan bisa dilakukan lebih cepat dibanding metode manual sebelumnya.
Seorang kader kesehatan Desa Hajimena mengaku sistem ini sangat membantu.
“Pelatihan penggunaan website SIJENTIK DBD membuat kami lebih mudah mencatat dan melaporkan temuan jentik. Sekarang, data bisa langsung dipantau petugas puskesmas, sehingga tindakan pencegahan DBD dapat dilakukan lebih cepat,” ujarnya.
Implementasi SIJENTIK DBD diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, mempercepat respon terhadap ancaman DBD, dan menyediakan data lingkungan yang akurat. Desa Hajimena pun berpotensi menjadi model digitalisasi kesehatan masyarakat yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Inovasi ini membuktikan bahwa kombinasi teknologi sederhana, kader kesehatan yang aktif, dan partisipasi warga dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan publik. Dengan SIJENTIK DBD, Desa Hajimena semakin siap menghadapi ancaman DBD secara berkelanjutan.(gil)
Editor: Gilang Agusman
Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Pekenalkan Ovitrap, Perangkap Telur Nyamuk DBD, Sehatkan Desa Hajimena
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Berbasis Masyarakat (PBM) yang digagas oleh tim dosen dan mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati, bekerja sama dengan Universitas Teknokrat Indonesia. Program ini mendapat dukungan penuh dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendiktisaintek.
Tidak hanya pelatihan teknis, kegiatan ini juga dibarengi dengan sosialisasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Pesan utamanya jelas: mencegah DBD tidak cukup hanya dengan obat atau fogging, melainkan juga dengan mengurangi habitat nyamuk penyebabnya.
Kepala Desa Hajimena, Suhaimi Abu Bakar, menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini.
“Program ini sangat bermanfaat bagi warga karena memberi solusi praktis dan murah dalam mencegah DBD. Kami akan mendukung penuh keberlanjutan kegiatan ini di desa kami,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Agung Aji Perdana, S.KM., M.Epid., selaku perwakilan tim dosen Universitas Malahayati.
“Ovitrap terbukti menjadi solusi sederhana namun efektif untuk menekan populasi nyamuk penyebab DBD. Dengan partisipasi semua pihak—pemerintah desa, puskesmas, kader kesehatan, dan masyarakat—kami berharap kewaspadaan dini terhadap DBD semakin meningkat dan kasusnya bisa dicegah sejak awal,” jelasnya.
Dengan adanya program ini, Desa Hajimena diharapkan mampu menjadi percontohan dalam penerapan inovasi sederhana namun berdampak besar untuk kesehatan masyarakat. Upaya kecil dari setiap rumah, bila dilakukan bersama-sama, diyakini mampu membangun benteng kuat dalam mencegah DBD. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Dialektika Kepalsuan di Ruang Kekuasaan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Apa hikmah dari peristiwa yang terjadi pada 28 Agustus lalu ?. Pertanyaan ini menggema di ruang kuliah pascasarjana, di ruang diskusi para professor, dan di sudut-sudut pertemuan informal para pendekar disiplin ilmu. Bahkan ada seorang doktor dari Bumi Sriwijaya meminta pendapat melalui piranti sosial tentang peristiwa itu. Tentu jawabannya sangat beragam, sesuai keberagaman sudut pandang dan disiplin ilmu yang dijadikan pijakan.
Tulisan ini mencoba memposisikan diri pada sudut pandang filsafat kontemporer. Tentu dengan perspektif akademik. Tulisan ini bukan mencari kebenaran, akan tetapi mendeskripsikan suatu penalaran filsafat terhadap peristiwa yang terjadi.
Kondisi saat ini tidak lagi berdiri di atas garis terang antara yang sahabat dan yang lawan. Dalam tatanan sosial yang konon demokratis, pembedaan semacam itu seharusnya bisa dikenali dengan jelas melalui prinsip, platform, dan agenda. Namun, di medan kekuasaan yang kini kita hadapi, garis itu telah cair; mengabur oleh retorika, terlarut dalam manuver, dan dibungkus oleh pencitraan. Figur-figur yang tampil di depan begitu bersahabat, saling sanjung, saling memeluk dalam forum-forum publik, tetapi apa yang terjadi di balik layar sering kali adalah permainan tikam-menikam, jebakan loyalitas palsu, dan perebutan
kekuasaan yang sunyi namun ganas. Dalam istilah yang berkembang di ruang sosial: di depan
tampak friendly, di belakang seperti “sengkuni”.
Filsafat kontemporer melihat kondisi ini bukan sekadar sebagai penyimpangan etis, tetapi sebagai bentuk krisis makna dalam praksis sosial-politik. Kita tidak sedang menyaksikan sekadar drama kekuasaan, tetapi pembusukan simbol dalam jagat representasi politik. Relasi sosial dan institusional telah menjadi medan di mana kejujuran dibungkam oleh performa, kebenaran dikalahkan oleh persepsi, dan prinsip diperdagangkan demi aliansi sesaat.
Dalam perspektif fenomenologi kontemporer, realitas tidak lagi dibangun berdasarkan apa yang benar-benar dihayati, tetapi apa yang tampak. Penampilan menjadi realitas itu sendiri. Sosok-sosok di depan kamera menampilkan gestur harmoni, bersalaman, tersenyum, dan menyatakan komitmen terhadap bangsa dan rakyat. Tapi kesadaran yang dibentuk bukan lagi kesadaran akan substansi, melainkan kesadaran akan tampilan. Apa yang tak tampak; niat tersembunyi, strategi culas, atau agenda personal, dibuang dari medan wacana. Kita menjadi saksi atas “fenomenologi kekosongan”. Setiap gestur politik menjadi simulakra: bayangan tanpa wujud asli, gambar tanpa makna yang hidup.
Lebih jauh lagi, teori pascamodernisme, melalui pemikiran tentang dekonstruksi dan permainan
tanda, menunjukkan bahwa dalam ruang semacam ini, tidak ada lagi signifikansi tetap. “Kawan” dan “lawan” adalah tanda-tanda yang tak memiliki rujukan tetap, melainkan terus igeser sesuai kepentingan. Seseorang bisa menjadi kawan hari ini dan lawan besok, tergantung siapa yang berkuasa. Tanda kehilangan landasan. Retorika kerakyatan, nasionalisme, kesetiaan pada konstitusi; semuanya bisa digunakan oleh siapa saja, bahkan oleh mereka yang diam-diam merancang kudeta lembut terhadap etika demokrasi.
Filsafat kontemporer menggarisbawahi bahwa kekuasaan modern bukan lagi kekuasaan yang brutal secara fisik, melainkan kekuasaan yang halus, tersembunyi, dan bekerja melalui kontrol simbolik. Sosok yang tampak ramah bisa saja adalah arsitek kekacauan, selama publik tidak mampu melihat di balik jubah keramahan itu. Kekuasaan hari ini bekerja melalui fabrikasi narasi, manajemen persepsi, dan pertukaran simbol. Seorang yang terlihat “merangkul” belum tentu berniat menyatukan. Bisa jadi ia hanya sedang menyiapkan panggung untuk menusuk saat panggung berganti.
Situasi ini menjelaskan mengapa hari ini, loyalitas menjadi barang yang cair. Tidak ada lagi garis ideologis yang kokoh. Yang ada hanyalah oportunisme dalam bentuk yang dibungkus seolah-olah demi rakyat, demi stabilitas, atau demi persatuan. Persahabatan politik menjadi semacam transaksi sesaat, dan ketika transaksi itu selesai, pengkhianatan bukan lagi dianggap dosa, tetapi taktik.
Dalam pandangan kerangka teori kritis, keadaan ini disebut sebagai distorsi komunikasi: dialog tidak lagi berangkat dari kehendak rasional yang tulus, tetapi dari kalkulasi kepentingan tersembunyi. Saling dukung hanya terjadi jika ada kompensasi kekuasaan. Koalisi dibentuk bukan berdasarkan visi jangka panjang, melainkan pembagian kursi. Bahkan oposisi pun tak lagi murni sebagai pengawas kekuasaan, tetapi sekadar posisi tawar agar dapat masuk ke lingkar kekuasaan yang lebih besar. Maka, narasi “bersatu demi bangsa”
menjadi retorika kosong, dan rakyat hanya menjadi penonton dalam sandiwara elite.
Filsafat etika kontemporer menyadarkan kita bahwa krisis ini adalah krisis tanggung jawab. Penguasa kehilangan watak etikanya ketika keputusan diambil tanpa pertimbangan terhadap keadilan, kebenaran, atau kesejahteraan kolektif. Tindakan penguasa, dalam etika tanggung jawab, seharusnya mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi kehidupan bersama. Namun dalam praksis kita hari ini, tindakan penguasa justru didesain untuk keuntungan jangka pendek: mempertahankan kekuasaan, meredam kritik, dan menciptakan ilusi keberhasilan. Semua dilakukan dengan wajah ramah, dan senyum palsu yang disiarkan di
media.
Dalam refleksi eksistensial, kita menemukan bahwa manusia kontemporer tengah berada dalam krisis keaslian. Ia tak lagi hidup sebagai dirinya sendiri, tetapi sebagai aktor dalam panggung yang menuntut peran tertentu. Keberanian untuk menjadi autentik, untuk menyatakan perbedaan, menolak kooptasi, atau mempertahankan prinsip; menjadi langka. Yang ada justru adalah konformitas yang dibungkus narasi kesatuan. Sosok-sosok yang berani berbeda segera dibungkam dengan dalih tidak sejalan, tidak kooperatif, atau tidak dewasa.
Maka, ketulusan dalam situasi seperti ini menjadi subversif; kejujuran menjadi anomali. Semua ini menunjukkan bahwa kita sedang hidup dalam kondisi krisis episteme: kebingungan mendasar dalam membedakan antara yang asli dan yang palsu, antara yang jujur dan yang manipulatif. Relasi sosial berada dalam medan yang kabur. Kita tak lagi tahu siapa benar-benar kawan, siapa sungguh lawan. Dalam iklim seperti ini, rakyat yang menjadi korban utama: karena mereka tidak memiliki akses terhadap ruang-ruang tersembunyi tempat keputusan strategis diambil. Mereka hanya menerima produk akhir dari manuver elite:
kenaikan harga, pembatasan kebebasan, atau kebijakan-kebijakan yang dibuat atas nama rakyat, tetapi tidak pernah bersama rakyat.
Filsafat kontemporer tidak memberikan solusi sederhana. Ia tidak menawarkan resep revolusi instan atau kepastian moral. Tapi ia menawarkan lensa untuk memahami kompleksitas: bahwa dalam situasi seperti ini, kewaspadaan intelektual menjadi bentuk resistensi. Kita perlu mencurigai keramahan yang terlalu manis, mempertanyakan narasi yang terlalu rapi, dan membongkar keakraban relasi yang tidak dibangun dari nilai.
Kita tidak bisa lagi puas dengan kata-kata indah; karena sering kali, yang paling mematikan justru dibungkus dengan senyum paling hangat. Di titik ini, filsafat kembali menemukan relevansinya. Ia mengajarkan kita untuk berpikir, meragukan, dan tidak terjebak pada permukaan. Bahwa dalam dunia di mana yang tampak
bersahabat bisa jadi adalah yang paling berbahaya, maka satu-satunya jalan adalah menjadi manusia yang berani berpikir secara radikal sampai ke akar. (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Manajemen Universitas Malahayati Siap Berdampak Melalui Magang 2025
Acara ini diikuti oleh 320 mahasiswa angkatan 2022, yang akan menjalani program magang sebagai bagian dari kurikulum universitas. Program magang tidak hanya dikonversi ke dalam Satuan Kredit Semester (SKS), tetapi juga bertujuan menjembatani kesenjangan antara teori perkuliahan dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi yang memadai, kemandirian, serta peluang kerja yang lebih besar di masa depan.
“Harapan kami, melalui program ini mahasiswa dapat menumbuhkan dan mengembangkan etos kerja sekaligus mendukung visi Universitas Malahayati sebagai kampus yang berdampak, tidak hanya bagi civitas akademika, tetapi juga masyarakat luas,” ujarnya.
1. Ayu Nursari, S.E., M.E. menyampaikan materi tentang Etika Magang. Ia menekankan pentingnya mahasiswa untuk mengikuti aturan yang berlaku, memperluas jejaring, menjaga nama baik universitas, serta menunjukkan keterampilan dan keterlibatan aktif di tempat magang.
2. Lestari Wuryanti, S.E., M.M. membahas tentang Sidang Magang yang akan menjadi tahap evaluasi setelah program selesai. Menurutnya, sidang magang bukan hanya formalitas, melainkan wadah mahasiswa untuk memaparkan pengalaman, memberikan kontribusi solusi, serta menganalisis permasalahan yang dihadapi mitra tempat magang.
3. Euis Mufahamah, S.E., M.Ak. memaparkan tentang Alur Bimbingan dan Administrasi Magang. Ia menjelaskan kelengkapan dokumen, timeline penyelesaian, hingga pentingnya koordinasi dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) agar proses pelaporan magang berjalan efektif dan berkesinambungan.
Program magang juga menjadi momentum bagi mahasiswa untuk menyalurkan energi muda, kreativitas, dan gagasan inovatif yang dapat memberikan dampak positif bagi mitra tempat magang.
“Melalui pembekalan ini, kami ingin mahasiswa memahami bahwa magang bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi kesempatan membangun jati diri profesional yang akan bermanfaat dalam karier mereka ke depan,” pungkas panitia. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Menyiasati Politik Saat Ini, Berlumpur Tak Harus Berkubang
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Tulisan ini diilhami oleh diskusi “tanpa bentuk” dengan Herman Batin Mangku (HBM) dalam melihat dan merasakan keadaan negeri yang sedang tidak baik-baik saja: terutama tentang perputaran roda perpolitikan. Tentu hanya melalui medsos kami berdua.
Kami bersepakat bahwa dunia perpolitikan negeri ini sedang menunjukkan wajahnya dari sisi lain. Biasanya dipertontonkan kekuasaan dan keglamoran; -walaupun tidak semua -, namun karena intensitas dan kwantitasnya; maka tampilannya menjadi “menyala”.
Akan tetapi kini, banyak “tendangan sudut” bereliweran; sehingga tidak jarang meminta korban. Ada yang selesai berjoged langsung di jarah, ada yang sedang ngomel berargumentasi menegakkan pembenaran, kena pusaran.
Tampaknya pemilik kedaulatan negeri ini menunjukkan kekuasaanya, walaupun tidak jarang sekaligus “keliarannya” sehingga timbul penjarahan. Tulisan ini mencoba “menghanyutkan diri” pada gelombang itu untuk menyelami, guna mengetahui kemudian memahami apa sebenarnya yang terjadi. karena keterbatasan pengetahuan, maka tulisan ini hanya melihat dari sudut pandang Filsafat kontemporer.
Politik adalah salah satu medan paling nyata dalam kehidupan manusia di mana moral, kekuasaan, kepentingan, dan nilai-nilai saling bersinggungan secara intens. Dalam dunia politik, tidak ada medan yang sepenuhnya bersih.
.
Lumpur menjadi metafora yang tepat untuk menggambarkan kenyataan bahwa dalam perjuangan membentuk, mempertahankan, atau merebut kekuasaan, seseorang hampir tidak bisa menghindari kotornya realitas: kompromi yang melelahkan, manuver taktis yang sering menabrak batas idealisme, dan pilihan-pilihan sulit yang berisiko menodai prinsip.
Akan tetapi, dalam situasi apa pun, keterlibatan dengan lumpur tidak secara otomatis harus menjelma menjadi kubangan. Berlumpur adalah kondisi; berkubang adalah keputusan. Di sinilah letak garis batas moral yang paling fundamental dalam praktik politik: seseorang boleh bersentuhan dengan kotoran, tetapi ia tidak boleh menjadikannya rumah.
Filsafat kontemporer, yang banyak mengangkat isu tentang ambiguitas, krisis makna, dekonstruksi nilai, dan tanggung jawab etis, memberi kita cara pandang yang lebih jujur dalam menilai realitas politik. Politik tidak pernah berjalan dalam ruang steril.Tidak ada keputusan yang benar-benar bersih dari kepentingan, tidak ada sistem yang sepenuhnya netral.
Namun, filsafat juga mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah justifikasi untuk menyerah pada kekotoran. Justru dalam kesadaran akan ambiguitas itulah, manusia politik dituntut untuk mempertahankan kompas moralnya.
Manusia sebagai subjek politik selalu berdiri dalam relasi kuasa: ia adalah makhluk sosial, tetapi juga makhluk strategis. Ia mampu mencintai, tetapi juga mampu memanipulasi. Ia memiliki kesadaran moral, tetapi juga memiliki dorongan egoistik..
Lumpurnya dunia politik adalah cermin dari kompleksitas manusia itu sendiri. Namun, filsafat kontemporer menunjukkan bahwa tindakan etis tidak harus muncul dari kepastian, tetapi bisa lahir dari keterbukaan terhadap kemungkinan.
Artinya, dalam kondisi yang serba tidak pasti sekalipun, manusia tetap memiliki pilihan. Dan pilihan untuk tidak berkubang adalah ekspresi paling dasar dari keberanian moral.
Berkubang berarti menyerah. Bukan hanya menyerah pada sistem, tetapi menyerah pada kehendak untuk menjadi manusia yang bermakna. Ketika seseorang berkubang, ia tidak lagi sekadar menjalani peran dalam sistem; ia telah menyatu dengan sistem yang korup itu, menjadikannya identitas, bahkan membelanya dengan penuh semangat.
Inilah yang disebut kehilangan jarak kritis: saat seseorang tidak lagi mampu membedakan dirinya dari sistem yang ia kritik dahulu. Ketika lumpur sudah dianggap air, dan busuk dianggap biasa, maka kehancuran etis sudah terjadi.
Orang yang berkubang tidak lagi merasa bersalah, karena rasa bersalah dianggap kelemahan. Ia tidak lagi merasa malu, karena malu dianggap hambatan. Ia tidak lagi merasa salah, karena sistem telah mengatur pembenaran untuk segalanya.
Sementara itu, berlumpur adalah kondisi yang disadari. Ia adalah bentuk partisipasi dalam realitas dengan tetap membawa kesadaran kritis. Orang yang berlumpur tahu bahwa langkahnya mungkin tidak selalu bersih, tetapi ia tetap menjaga agar lumpur itu tidak menyentuh inti dirinya.
Ia tetap menjaga ruang batin tempat nilai, penyesalan, empati, dan kejujuran bisa tumbuh. Ia melakukan kompromi, tetapi tidak menyerahkan prinsip. Ia memahami urgensi taktis, tetapi tidak menjadikan taktik sebagai satu-satunya nilai ukur.
Dalam filsafat kontemporer, kesadaran akan keterbatasan bukanlah titik akhir moralitas, tetapi titik tolak etika reflektif. Artinya, tindakan etis justru dimulai ketika seseorang tahu bahwa ia tidak bisa bersih, tapi tetap berusaha tidak kotor lebih dari yang perlu.
Namun demikian, tidak semua orang yang masuk ke dunia politik harus terjerumus. Berlumpur tidak harus berkubang, karena manusia memiliki kapasitas reflektif untuk menolak penyeragaman sistem. Ia bisa bersikap. Ia bisa memilih untuk tidak memanfaatkan kelemahan sistem demi keuntungan pribadi.
Ia bisa menolak untuk menjilat demi jabatan. Ia bisa memilih untuk mundur ketika prinsip-prinsip tidak bisa lagi dipertahankan. Semua ini membutuhkan keberanian eksistensial: keberanian untuk menjadi berbeda, untuk tidak ikut arus, untuk mengambil resiko kehilangan demi mempertahankan nilai.
Berlumpur juga bisa menjadi pengalaman transformasional. Seseorang yang menyadari bahwa politik itu penuh tantangan etis, bisa menjadi pribadi yang lebih bijak. Ia tidak naïf, tetapi juga tidak sinis. Ia tahu bahwa dunia tidak sempurna, tetapi ia tidak membiarkan ketidaksempurnaan itu menjadi alasan untuk apatis.
Dalam filsafat kontemporer, ini disebut sebagai harapan tragis: harapan yang tidak dibangun di atas ilusi, tetapi di atas kenyataan pahit. Harapan ini adalah bentuk perlawanan terhadap nihilisme, terhadap kekosongan moral yang tumbuh dalam sistem yang membusuk.
Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa sistem sering kali mendorong orang untuk berkubang. Struktur kekuasaan, loyalitas buta, tekanan oligarki, media yang dikendalikan, serta budaya permisif membuat banyak orang terpaksa memilih diam atau ikut bermain.
Namun justru dalam tekanan itulah, ujian sesungguhnya muncul. Integritas bukan diuji ketika situasi mudah, tetapi justru ketika seluruh sistem mendorong seseorang untuk menyerah. Dalam tekanan itu, pilihan-pilihan kecil menjadi penting. Menolak suap, tidak berbohong dalam kampanye, tidak memperalat agama atau identitas, semua itu mungkin terlihat kecil, tapi itulah fondasi dari politik yang etis.
Berlumpur tidak harus berkubang, karena makna dari menjadi manusia politik adalah terus menjaga keseimbangan antara realitas dan nilai, antara pragmatisme dan idealisme, antara strategi dan nurani.
Politik bukan hanya soal kekuasaan, tetapi soal tanggung jawab. Dan tanggung jawab ini bukan hanya kepada rakyat, tetapi kepada hati nurani sendiri. Dalam filsafat kontemporer, tanggung jawab semacam ini disebut tanggung jawab yang tak bisa didelegasikan. Tidak bisa digantikan oleh partai, sistem, atau konsultan. Ia hanya bisa dijalani oleh individu yang sadar akan posisinya dalam sejarah.
Maka dalam dunia yang penuh lumpur, kita tidak diminta untuk berjalan tanpa kotor. Itu mustahil. Yang dituntut adalah agar kita tidak menjadikan lumpur sebagai tempat tinggal. Kita boleh berstrategi, tetapi jangan mengorbankan etika. Kita boleh mengalah untuk sementara, tetapi jangan menyerah pada nilai. Kita boleh berdamai dengan kenyataan, tapi jangan melupakan cita-cita. Kita boleh berlumpur, tetapi tidak boleh berkubang. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman