Sisa yang Tertinggal

Oleh: Sudjarwo

Ada satu pemandangan yang selalu berulang setiap tahun, seolah menjadi siklus yang tak pernah gagal. Ketika bulan puasa tiba, masjid-mushola kembali hidup. Barisan saf memanjang hingga ke pelataran, suara salam bergaung lebih ramai, dan langkah kaki menuju rumah ibadah terasa lebih ringan. Subuh yang biasanya sunyi mendadak penuh dengan manusia yang seakan berlomba menggapai sesuatu yang lebih dari sekadar rutinitas. Namun, begitu satu Syawal berlalu, keramaian itu perlahan menyusut. Barisan kembali renggang, saf-saf yang dahulu rapat kini menyisakan ruang kosong, dan suasana kembali seperti sediakala. Ibadah, dalam kenyataannya, sering kali menjadi sesuatu yang musiman.

Fenomena ini menghadirkan pertanyaan yang tidak sederhana. Mengapa semangat yang begitu besar dalam satu waktu bisa menguap dalam waktu yang relatif singkat? Apakah dorongan itu lahir dari kesadaran yang mendalam, atau sekadar momentum yang terbentuk oleh suasana kolektif? Bulan puasa memang memiliki daya dorong yang luar biasa. Ia bukan hanya ritual pribadi, tetapi juga pengalaman sosial yang membentuk lingkungan. Ketika semua orang berpuasa, ketika suasana malam dihidupkan oleh ibadah, dan ketika percakapan sehari-hari dipenuhi dengan nilai-nilai spiritual, maka individu pun terdorong untuk ikut larut di dalamnya.

Namun, justru di situlah letak persoalannya. Ketika ibadah bergantung pada suasana, maka ia kehilangan akar yang kokoh dalam diri. Ia menjadi seperti daun yang mudah bergoyang oleh angin. Selama angin itu bertiup kencang, ia tampak hidup dan bergerak. Tetapi ketika angin berhenti, ia pun kembali diam, bahkan layu. Ibadah yang hanya tumbuh karena musim akan kesulitan bertahan di luar musim itu sendiri. Kondisi ini memperlihatkan bahwa manusia sering kali lebih mudah terdorong oleh kebersamaan daripada kesadaran pribadi.

Ada rasa nyaman dalam melakukan sesuatu bersama-sama. Ada semacam energi kolektif yang mengangkat semangat, membuat hal yang berat terasa ringan. Bangun di waktu subuh yang biasanya sulit menjadi lebih mudah ketika diketahui bahwa banyak orang melakukan hal yang sama. Namun, ketika kebersamaan itu memudar, ujian sesungguhnya justru dimulai. Di situlah terlihat apakah ibadah benar-benar menjadi kebutuhan jiwa, atau sekadar kebiasaan sementara.

Lebih jauh lagi, fenomena ini juga mengungkap bagaimana manusia memaknai waktu. Bulan puasa sering dianggap sebagai waktu khusus untuk memperbaiki diri, seolah-olah di luar itu, upaya tersebut bisa ditunda. Padahal, jika ibadah hanya dikerjakan secara intens dalam satu bulan, lalu diabaikan di bulan-bulan berikutnya, maka proses pembentukan diri menjadi terputus-putus. Ia seperti seseorang yang hanya berlatih dalam waktu singkat, lalu berhenti sepenuhnya, berharap hasilnya tetap bertahan.

Dalam kenyataannya, perubahan yang sejati membutuhkan konsistensi. Ia tidak lahir dari ledakan semangat sesaat, melainkan dari langkah-langkah kecil yang terus dijaga. Justru nilai dari bulan puasa seharusnya terletak pada kemampuannya menjadi titik awal, bukan puncak yang kemudian diikuti oleh penurunan. Ia adalah latihan, bukan tujuan akhir. Latihan untuk membentuk kebiasaan, menguatkan niat, dan menanamkan kesadaran yang lebih dalam.

Ketika masjid kembali sepi setelah satu Syawal, itu bukan sekadar perubahan jumlah jamaah. Ia adalah cermin yang memperlihatkan kondisi batin manusia. Sepi itu mengajak untuk bertanya: apakah hubungan dengan ibadah selama ini bersifat sementara, atau memang sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan?

Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban yang diucapkan, tetapi yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan suasana memang memengaruhi manusia. Tidak semua orang mampu mempertahankan intensitas yang sama sepanjang waktu. Namun, perbedaan intensitas bukan berarti harus jatuh ke titik terendah. Ada ruang di antara keduanya, ruang di mana seseorang tetap menjaga kesinambungan, meskipun tidak sekuat saat bulan puasa. Di ruang itulah sebenarnya keteguhan diuji.

Selain itu, ada kecenderungan manusia untuk merasa “cukup” setelah melewati satu fase yang dianggap berat. Bulan puasa sering dipahami sebagai pencapaian, bukan sebagai proses. Setelah ia berlalu, muncul perasaan seolah-olah telah menunaikan sesuatu yang besar, sehingga dorongan untuk melanjutkan menjadi melemah. Padahal, dalam makna yang lebih dalam, ibadah tidak mengenal garis akhir. Ia adalah perjalanan yang terus berlangsung, tanpa batas waktu yang pasti. Ketika satu fase selesai, seharusnya ia membuka pintu bagi fase berikutnya, bukan justru menutupnya.

Dalam konteks itu, sepinya masjid setelah musim ramai bisa juga dipahami sebagai ujian lanjutan. Jika pada bulan puasa manusia diuji dengan menahan diri, maka setelahnya ia diuji dengan mempertahankan. Menahan mungkin terasa berat karena membutuhkan usaha, tetapi mempertahankan sering kali lebih sulit karena membutuhkan kesadaran yang terus hidup. Ia tidak lagi didukung oleh suasana, tidak lagi ditopang oleh kebiasaan bersama, melainkan sepenuhnya bergantung pada kekuatan dari dalam diri.

Akhirnya, fenomena ibadah yang musiman bukan hanya soal ramai dan sepi, tetapi tentang bagaimana manusia memahami dirinya sendiri. Apakah ia hanya bergerak ketika didorong oleh keadaan, atau mampu berjalan dengan kesadaran yang lahir dari dalam?

Musim boleh datang dan pergi, tetapi nilai yang ditanamkan seharusnya tidak ikut menghilang. Sebab, yang dicari dari setiap ibadah bukanlah keramaian sesaat, melainkan perubahan yang menetap. Maka, ketika suatu pagi masjid terasa lebih lengang daripada biasanya, mungkin itu bukan sekadar kehilangan suasana. Itu adalah undangan diam untuk kembali menata niat, menguatkan langkah, dan menjadikan ibadah bukan sebagai bagian dari musim, melainkan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.***

*Guru Besar Universitas Malahayati

 

NUR DAN MAKNA

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Cahaya tidak selalu hadir dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh mata. Ada cahaya yang lebih halus, lebih dalam, dan lebih menentukan arah hidup manusia. Cahaya itu dikenal sebagai nur, sebuah penerang batin yang tidak hanya menyingkap apa yang tersembunyi, tetapi juga memberi makna pada setiap perjalanan kehidupan. Tanpa kehadiran nur, hidup mungkin tetap berjalan sebagaimana mestinya, namun terasa hampa, seperti langkah panjang yang tidak pernah benar-benar sampai pada tujuan.

Manusia hidup di antara dua dimensi yang saling berdampingan: yang tampak dan yang tak tampak. Pada dimensi yang tampak, segala sesuatu dapat dijelaskan melalui logika dan ukuran yang pasti. Keberhasilan dinilai dari pencapaian, kebahagiaan diukur dari kepemilikan, dan arah hidup sering kali mengikuti standar yang terlihat. Namun pada dimensi yang tak tampak, terdapat ruang yang lebih luas dan lebih dalam, tempat di mana makna sejati bersemayam. Dalam ruang inilah nur memainkan peran yang sangat penting.

Nur bukan sekadar cahaya yang menerangi, melainkan juga yang menghidupkan kesadaran. Ia tidak hanya membuat seseorang melihat, tetapi juga memahami. Dengan nur, manusia tidak sekadar mengetahui apa yang benar, tetapi juga merasakan kebenaran itu sebagai sesuatu yang hidup dalam dirinya. Tanpa nur, pengetahuan bisa menjadi dingin dan kering, kehilangan daya untuk membimbing langkah. Sebaliknya, dengan nur, hal-hal sederhana dapat menjelma menjadi sumber kebijaksanaan yang mendalam.

Makna, lahir dari pertemuan antara pengalaman dan kesadaran batin. Banyak orang menjalani berbagai peristiwa dalam hidup, tetapi tidak semua pengalaman itu menghadirkan makna. Ada yang hidup dalam kelimpahan kejadian, namun tetap merasa kosong. Ada pula yang menjalani hidup sederhana, tetapi mampu merasakan kedalaman arti dalam setiap langkahnya. Perbedaan ini terletak pada keberadaan nur dalam hati.

Kehadiran nur mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan. Peristiwa tidak lagi dipandang sebagai rangkaian kejadian yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari alur yang saling terhubung. Kesedihan tidak hanya dilihat sebagai penderitaan, tetapi juga sebagai proses pembentukan diri. Kegagalan tidak dianggap sebagai akhir, melainkan sebagai pintu menuju pemahaman baru. Dari cara pandang seperti inilah makna tumbuh dan berkembang.

Ketiadaan nur membuat hati kehilangan arah. Hal-hal yang tampak menyenangkan bisa terasa kosong, sementara yang seharusnya bermakna justru terabaikan. Dalam keadaan seperti ini, manusia cenderung mencari makna di luar dirinya, melalui pengakuan, pencapaian, atau kepemilikan yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Pencarian tersebut sering kali berujung pada kelelahan batin, karena apa yang dicari tidak sejalan dengan kebutuhan terdalam.

Makna sejati tidak dapat dipaksakan dari luar. Ia tumbuh perlahan dari dalam diri, seiring dengan kejernihan hati. Nur menjadi kunci dari kejernihan tersebut. Ia bekerja seperti cahaya yang menyinari ruang batin, menghilangkan kabut yang menghalangi pandangan. Hati yang jernih memungkinkan manusia melihat dirinya dengan lebih jujur, memahami orang lain dengan lebih dalam, serta menerima kehidupan dengan lebih lapang.

Keberadaan nur sangat bergantung pada kondisi hati. Hati yang dipenuhi kesombongan, kebencian, dan keinginan berlebihan akan sulit menerima cahaya tersebut. Keadaan seperti itu ibarat ruang tertutup yang tidak memberi kesempatan bagi cahaya untuk masuk. Sebaliknya, hati yang rendah, tulus, dan terbuka menjadi tempat yang subur bagi hadirnya nur. Dari sanalah muncul ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan luar.

Perjalanan menuju makna merupakan perjalanan menuju nur itu sendiri. Perjalanan ini tidak selalu mudah, karena menuntut keberanian untuk melihat ke dalam diri. Manusia perlu mengakui kekurangan, menerima keterbatasan, dan melepaskan hal-hal yang selama ini dianggap penting tetapi ternyata tidak memberi kedalaman. Dalam proses ini, nur tidak hanya menjadi tujuan akhir, tetapi juga penuntun dalam setiap langkah.

Nur memberikan keteguhan saat manusia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Ia menjadi penyeimbang dalam kegelisahan dan penenang dalam kebimbangan. Kehadirannya tidak selalu menghapus pertanyaan, tetapi membantu manusia berdamai dengan ketidakpastian. Dari situ lahir kedewasaan batin, yang tidak ditentukan oleh banyaknya jawaban, melainkan oleh kemampuan memahami makna di balik setiap pertanyaan.

Hidup yang diterangi oleh nur tidak lagi sekadar tentang menjalani hari demi hari. Setiap momen menjadi kesempatan untuk menemukan arti. Hal-hal kecil seperti kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian memiliki nilai yang mendalam ketika dilihat dengan hati yang terang. Kehidupan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai ruang untuk bertumbuh dan memahami.

Nur dan makna adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Nur menjadi sumber yang menerangi, sementara makna adalah hasil dari penerangan tersebut. Tanpa nur, hidup kehilangan arah. Tanpa makna, hidup kehilangan tujuan. Keduanya saling melengkapi, membentuk kesatuan yang memberikan kedalaman dan arti bagi kehidupan manusia.

Kesadaran akan pentingnya nur membawa manusia pada pemahaman bahwa yang paling berharga tidak selalu tampak oleh mata. Banyak hal yang bekerja dalam diam, namun memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan. Nur adalah salah satunya. Ia hadir tanpa suara, tetapi mampu mengubah cara pandang, memperdalam rasa, dan menuntun langkah menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Salam Waras

KURSI HADIAH, KINERJA BERMASALAH

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

“Nomor antrian seratus dua puluh, silakan ke loket tiga,” suara mesin memecah kesunyian ruang tunggu di sebuah Bank yang dingin oleh pendingin udara.

“Masih lama giliran kita,” gumam Pak Hasan sambil menatap kertas kecil di tangannya.

“Iya, nomor saya seratus tiga puluh dua,” jawab Pak Husen, tersenyum tipis. “Tapi begini juga enak, bisa duduk lama sambil mengamati.”

“Mengamati apa?” tanya Pak Hasan, sedikit heran.

“Ya, apa saja. Orang-orang datang dan pergi, wajah-wajah lelah, ada yang cemas, ada yang santai. Mirip seperti negeri ini, penuh cerita.”

Pak Hasan terkekeh pelan. “Kau ini masih saja suka berfilsafat, padahal kita cuma mau ambil uang pensiun.”

“Justru itu,” sahut Pak Husen. “Dulu kita kerja puluhan tahun, naik jabatan pelan-pelan, belajar dari bawah. Sekarang, lihat saja berita. Banyak orang duduk di kursi tinggi, tapi kelihatan seperti belum siap.”

“Ah, itu yang kau maksud kursi hadiah?” potong Pak Hasan.

“Iya. Dapat jabatan karena berjasa waktu kampanye. Bukan karena paham kerjaannya.”

Pak Hasan mengangguk, wajahnya berubah serius. “Makanya kadang kebijakan mereka aneh. Seperti orang salah masuk ruangan.”

“Atau seperti kita kalau disuruh tiba-tiba jadi kasir di sini,” tambah Pak Husen sambil tertawa kecil.

“Bisa kacau,” balas Pak Hasan. “Yang antri bisa makin panjang sampai jalan raya sana.”

“Begitulah kira-kira yang terjadi di luar sana,” ujar Pak Husen pelan. “Lucu sih kadang, tapi kalau dipikir-pikir, yang menunggu bukan cuma kita di bank ini, tapi satu negeri.”

Mereka terdiam sejenak, hanya suara nomor antrian yang kembali memanggil, seolah mengingatkan bahwa menunggu adalah bagian dari kenyataan.

Di banyak negeri yang mengaku menjunjung tinggi demokrasi, praktik pembagian jabatan sebagai balas jasa politik bukanlah rahasia lagi. Fenomena ini sering kali dibungkus dengan istilah yang terdengar halus, seolah bagian dari strategi atau kompromi politik yang wajar. Namun di balik itu, tersimpan persoalan mendasar tentang kualitas kepemimpinan dan arah tata kelola negara. Kursi kekuasaan yang seharusnya diisi oleh individu yang kompeten dan berintegritas, justru kerap menjadi “hadiah” bagi mereka yang setia mendukung selama masa kampanye.

Tidak dapat dipungkiri, dalam politik, loyalitas memiliki nilai. Dukungan yang diberikan pada saat-saat genting sering kali menjadi penentu kemenangan. Akan tetapi, ketika loyalitas dijadikan satu-satunya dasar dalam menentukan jabatan publik, maka kualitas menjadi taruhan. Jabatan yang seharusnya diemban dengan tanggung jawab besar berubah menjadi simbol balas budi. Di titik inilah masalah mulai muncul: ketika seseorang duduk di kursi yang tidak sesuai dengan kapasitasnya.

Kursi hadiah tidak selalu buruk. Dalam beberapa kasus, individu yang diberi kepercayaan justru mampu menunjukkan kinerja yang baik, bahkan melampaui ekspektasi. Mereka belajar cepat, beradaptasi, dan membuktikan bahwa kesempatan yang diberikan tidak sia-sia. Namun, kasus semacam ini tampaknya lebih merupakan pengecualian daripada kebiasaan. Yang lebih sering terjadi adalah sebaliknya: jabatan diisi oleh mereka yang tidak siap, tidak memahami bidangnya, dan akhirnya mengambil keputusan yang membingungkan.

Perilaku “aneh-aneh” yang muncul dari pejabat yang tidak kompeten sering kali menjadi bahan perbincangan publik. Kebijakan yang tidak masuk akal, pernyataan yang kontradiktif, hingga tindakan yang terkesan tidak profesional menjadi tontonan sehari-hari. Dalam beberapa kasus, situasi ini bahkan terasa menggelikan, seolah jabatan publik telah berubah menjadi panggung sandiwara. Namun di balik kelucuan yang tampak, ada konsekuensi serius yang harus ditanggung masyarakat.

Kebijakan yang lahir dari ketidaktahuan atau ketidakmampuan dapat berdampak luas. Program yang tidak tepat sasaran, penggunaan anggaran yang tidak efisien, hingga kegagalan dalam merespons krisis adalah beberapa contoh nyata. Rakyat, yang seharusnya menjadi penerima manfaat dari pemerintahan yang baik, justru menjadi korban dari eksperimen yang tidak direncanakan dengan matang. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menggerus kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Lebih jauh lagi, praktik kursi hadiah juga menciptakan budaya yang merusak. Ketika jabatan diberikan sebagai imbalan, maka pesan yang disampaikan adalah bahwa kompetensi bukanlah hal utama. Yang lebih penting adalah kedekatan, loyalitas, atau bahkan kemampuan untuk “bermain” dalam sistem. Budaya semacam ini dapat menurunkan motivasi individu-individu berkualitas untuk terlibat dalam pemerintahan, karena mereka merasa peluangnya tidak ditentukan oleh kemampuan, melainkan oleh koneksi.

Fenomena ini juga memperkuat lingkaran setan dalam politik. Mereka yang mendapatkan jabatan melalui cara seperti ini cenderung akan melakukan hal serupa ketika memiliki kesempatan. Mereka akan membalas dukungan dengan jabatan, menciptakan jaringan kepentingan yang semakin kompleks dan sulit diputus. Pada akhirnya, sistem menjadi semakin tertutup dan jauh dari prinsip meritokrasi.

Namun demikian, tidak semua harapan hilang. Kesadaran publik yang semakin meningkat dapat menjadi tekanan bagi para pengambil keputusan untuk lebih berhati-hati dalam menentukan pejabat. Media dan masyarakat sipil memiliki peran penting dalam mengawasi dan mengkritisi kebijakan serta perilaku pejabat. Transparansi dan akuntabilitas harus terus didorong agar praktik-praktik yang merugikan dapat diminimalkan.

Pada akhirnya, kursi kekuasaan bukanlah sekadar simbol kemenangan politik, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ketika kursi tersebut dijadikan hadiah tanpa mempertimbangkan kemampuan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi individu, tetapi juga masa depan bangsa. Fenomena pejabat yang bertingkah aneh dan menggelikan mungkin dapat menjadi bahan tawa sesaat, tetapi dampaknya jauh lebih serius daripada sekadar hiburan.

Wasit yang Menjual Pluitnya

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

Di sebuah permainan, peluit seorang wasit bukan sekadar alat kecil yang menggantung di leher, melainkan simbol kepercayaan yang besar. Setiap tiupan peluit membawa makna: menghentikan pelanggaran, menegaskan aturan, dan menjaga agar permainan tetap berjalan dalam koridor yang adil. Namun, bayangkan jika peluit itu tidak lagi ditiup berdasarkan kebenaran, melainkan berdasarkan kepentingan. Ketika peluit “dijual”, maka yang rusak bukan hanya satu keputusan, tetapi keseluruhan makna keadilan dalam permainan itu sendiri akan runtuh.

Kondisi inilah yang terasa mengemuka dalam kehidupan hari ini. Banyak pihak yang seharusnya berdiri sebagai penengah, penjaga nilai, dan pengarah moral, justru tampak ikut larut dalam pusaran kepentingan. Mereka tidak lagi menjaga jarak, tidak lagi memegang teguh posisi netral, tetapi perlahan-lahan masuk ke dalam arena, bahkan terkadang menjadi bagian dari permainan itu sendiri. Dalam situasi seperti ini, batas antara pengadil dan pemain menjadi kabur, dan keadilan berubah menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Dalam perspektif Ilmu Roso Sejati, persoalan ini tidak hanya bisa dilihat sebagai penyimpangan struktural, tetapi sebagai tanda melemahnya kesadaran batin. Roso, sebagai inti kepekaan manusia terhadap kebenaran, seharusnya menjadi landasan dalam setiap keputusan. Ia bukan sekadar perasaan biasa, melainkan kemampuan untuk merasakan keselarasan atau ketidaksesuaian dalam suatu tindakan. Ketika roso masih hidup dan jernih, seseorang akan mampu membedakan mana yang benar secara hakiki, bukan hanya secara formal.
Namun, ketika roso mulai tertutup oleh kepentingan, ambisi, atau ketakutan, maka keputusan yang diambil akan kehilangan kejernihannya. Ia mungkin tetap tampak sah di permukaan, dibungkus dengan bahasa yang rapi dan legitimasi yang kuat, tetapi di dalamnya terdapat keganjilan yang sulit disembunyikan. Dan keganjilan itu akan terasa oleh banyak orang, meskipun tidak selalu bisa dijelaskan secara logis.

Fenomena “wasit yang menjual peluitnya” mencerminkan kondisi di mana amanah telah bergeser menjadi alat. Pihak yang seharusnya menjaga nilai justru ikut menentukan arah permainan sesuai kepentingan tertentu. Mereka mungkin tidak secara terang-terangan melanggar, tetapi cara mereka memaknai dan menerapkan aturan sudah tidak lagi netral. Dalam hal ini, keberpihakan tidak selalu muncul dalam bentuk yang kasar, tetapi bisa hadir dalam bentuk pembenaran halus terhadap sesuatu yang sebenarnya menyimpang.
Di sinilah letak kerusakan yang paling dalam. Ketika lembaga atau pihak yang dipercaya sebagai penjaga moral mulai kehilangan kejernihan, maka masyarakat kehilangan rujukan. Apa yang dulu dianggap salah bisa tiba-tiba tampak benar karena dilegitimasi. Apa yang seharusnya dipertanyakan justru dibiarkan. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran tidak lagi berdiri kokoh, melainkan bergantung pada siapa yang berbicara dan dari posisi mana ia berbicara.

Ilmu Roso Sejati mengajarkan bahwa setiap peran memiliki garis rasa yang tidak boleh dilanggar. Seorang pengadil harus menjaga jarak, bukan karena ia tidak peduli, tetapi justru karena ia peduli pada keadilan. Ia tidak boleh terbawa arus, tidak boleh tergoda oleh kedekatan, dan tidak boleh takut terhadap tekanan. Ketika garis ini dilanggar, maka yang terjadi bukan hanya kesalahan peran, tetapi juga gangguan pada keseimbangan yang lebih luas.

Lebih jauh lagi, kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari akumulasi kompromi kecil yang terus-menerus dilakukan. Awalnya mungkin hanya pembiaran terhadap hal yang terasa sedikit janggal. Kemudian berkembang menjadi pembenaran. Hingga akhirnya, penyimpangan besar pun tidak lagi terasa sebagai masalah. Dalam proses ini, roso perlahan-lahan kehilangan kepekaannya. Ia tidak hilang, tetapi tertutup oleh kebiasaan untuk mengabaikan suara batin.
Ketika banyak pihak mengalami hal yang sama, maka terbentuklah sebuah sistem yang secara lahiriah tampak berjalan, tetapi secara batiniah rapuh.

Keputusan-keputusan tetap diambil, pernyataan-pernyataan tetap dikeluarkan, tetapi semuanya terasa hampa. Tidak ada getaran kejujuran di dalamnya. Dan masyarakat, dengan roso yang masih tersisa, akan merasakan kekosongan itu.
Dampaknya sangat luas. Ketika kepercayaan terhadap pengadil hilang, maka aturan kehilangan wibawanya. Orang tidak lagi percaya bahwa keadilan akan ditegakkan secara objektif. Dalam kondisi seperti ini, yang kuat akan mencari cara untuk menang, dan yang lemah akan kehilangan harapan. Permainan tidak lagi menjadi ruang yang adil, melainkan arena pertarungan kepentingan tanpa batas yang jelas.
Namun, di tengah semua itu, masih ada ruang untuk pemulihan. Ilmu Roso Sejati mengingatkan bahwa keseimbangan selalu bisa dikembalikan selama manusia mau kembali mendengarkan rosonya. Setiap individu, terutama mereka yang berada dalam posisi pengaruh, perlu berani melakukan refleksi: apakah peluit yang dipegang masih digunakan untuk menjaga keadilan, atau sudah mulai digunakan untuk melayani kepentingan?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya menuntut kejujuran yang dalam. Karena sering kali, penyimpangan tidak terjadi karena ketidaktahuan, melainkan karena pembiaran terhadap hal yang sebenarnya sudah terasa tidak tepat. Di sinilah pentingnya menjaga roso tetap hidup, agar setiap langkah selalu diuji oleh kepekaan batin, bukan sekadar oleh pertimbangan untung dan rugi.

Pada akhirnya, peluit itu adalah amanah. Ia tidak boleh diperdagangkan, tidak boleh dipengaruhi, dan tidak boleh digunakan di luar fungsinya. Ketika peluit tetap bersih, maka permainan akan berjalan dengan jujur, meskipun penuh persaingan. Tetapi ketika peluit telah “dijual”, maka keadilan berubah menjadi ilusi, dan kebenaran menjadi sesuatu yang sulit dipercaya.

Maka, menjaga agar wasit tidak menjual peluitnya bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi tanggung jawab bersama. Karena ketika roso kolektif tetap terjaga, maka setiap penyimpangan akan terasa, setiap ketidakadilan akan disadari, dan setiap upaya untuk membelokkan kebenaran tidak akan pernah benar-benar berhasil. Sebagai misal saat suatu lembaga yang harusnya indipenden dalam memandu umat di suatu negeri, karena kepentingan penguasa akhirnya memilih bersikap memihak dari pada netral; maka saat itulah “pluit” tergadai; dan lembaga akan kehilangan maruwahnya.
Salam Waras (R-2)

Ketika Perbedaan Diadili

Oleh: Sudjarwo

*Guru Besar Universitas Malahayati

Perbedaan dalam penentuan awal dan akhir puasa pada umat muslim bukanlah fenomena baru. Ia hadir berulang hampir setiap tahun, seolah menjadi siklus yang tak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga memperlihatkan dinamika cara berpikir, cara memahami otoritas, serta cara masyarakat dan negara memosisikan diri dalam menghadapi keragaman.

Fenomena ini sering kali dipandang sebagai persoalan sederhana di permukaan, namun sesungguhnya mengandung lapisan-lapisan persoalan yang lebih dalam, mulai dari aspek ontologis, epistemologis, hingga aksiologis.

Pada tataran ontologis, perbedaan ini sesungguhnya dapat dipahami sebagai sesuatu yang wajar. Realitas keberadaan bulan sebagai objek pengamatan memang memungkinkan adanya variasi penafsiran. Faktor geografis, kondisi atmosfer, serta metode pengamatan yang berbeda-beda membuka peluang terjadinya perbedaan hasil.

Dalam konteks ini, baik metode rukyat maupun hisab memiliki landasan masing-masing yang dapat dipertanggungjawabkan. Perbedaan bukanlah bentuk penyimpangan, melainkan konsekuensi logis dari keragaman cara manusia memahami realitas alam. Justru di sinilah letak kekayaan tradisi intelektual yang berkembang dalam sejarah panjang pemikiran keagamaan.

Namun persoalan menjadi lebih kompleks ketika perbedaan tersebut masuk ke wilayah epistemologi, yaitu bagaimana pengetahuan itu diperoleh, diuji, dan dianggap sah. Pada tahap ini, perbedaan tidak lagi sekadar soal hasil pengamatan, tetapi menyangkut legitimasi metode.

Masing-masing pendekatan mengklaim memiliki dasar yang lebih kuat, baik secara ilmiah maupun normatif. Ketika klaim ini tidak diiringi dengan sikap terbuka, maka ruang dialog menjadi semakin sempit. Perbedaan yang semula bersifat metodologis berubah menjadi pertarungan otoritas pengetahuan. Setiap pihak merasa memiliki kebenaran yang lebih sah, sehingga sulit menerima kemungkinan bahwa kebenaran dapat bersifat plural dalam batas tertentu.

Ketegangan epistemologis ini sering kali diperparah oleh cara penyampaiannya di ruang publik. Alih-alih menjadi diskusi yang sehat, perbedaan justru dibingkai dalam narasi yang saling menegasikan. Bahasa yang digunakan tidak lagi mencerminkan upaya mencari kebenaran bersama, tetapi cenderung menunjukkan dominasi satu pandangan atas yang lain.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat awam yang tidak memiliki akses atau kapasitas untuk memahami kompleksitas metodologis justru menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membingungkan, tanpa adanya panduan yang menenangkan.

Lebih jauh lagi, dalam wilayah aksiologi, yakni soal nilai dan praktik dalam kehidupan sosial, perbedaan ini berpotensi menimbulkan dampak yang nyata. Ibadah yang seharusnya menghadirkan kebersamaan justru memperlihatkan fragmentasi. Ada yang memulai puasa lebih awal, ada yang mengikuti kemudian.

Ada yang merayakan hari raya, sementara yang lain masih menjalankan ibadah puasa. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa memunculkan situasi yang canggung, bahkan berpotensi menimbulkan gesekan sosial. Perbedaan yang tidak dikelola dengan baik dapat berubah menjadi sumber prasangka dan penilaian negatif antar kelompok.

Di titik inilah peran negara menjadi krusial sekaligus problematis. Negara sering kali mengambil posisi sebagai penentu tunggal melalui keputusan resmi yang diharapkan menjadi acuan bersama. Tujuan dari langkah ini dapat dipahami, yakni untuk menjaga ketertiban sosial dan menciptakan keseragaman dalam praktik publik.

Dalam konteks administratif dan pelayanan masyarakat, keseragaman memang memiliki nilai praktis. Namun persoalan muncul ketika keputusan tersebut diposisikan sebagai satu-satunya kebenaran yang tidak boleh diganggu gugat.

Ketika negara melampaui fungsi administratifnya dan masuk ke ranah penilaian kebenaran, maka ia berisiko mengabaikan keberagaman pendekatan yang sebenarnya sah secara epistemologis. Negara tidak lagi sekadar mengatur, tetapi juga menghakimi. Dalam posisi seperti ini, perbedaan pandangan tidak hanya dianggap sebagai variasi, tetapi bisa dipersepsikan sebagai penyimpangan. Bahkan dalam beberapa kasus, muncul kecenderungan untuk menekan atau mendiskreditkan pandangan yang tidak sejalan dengan keputusan resmi. Bahkan sampai pada titik mengharamkan.

Masalah semakin rumit ketika pendekatan semacam ini menimbulkan kesan bahwa negara tidak netral. Alih-alih menjadi penengah yang adil, negara justru terlihat memihak satu pandangan tertentu. Hal ini dapat menggerus kepercayaan masyarakat, terutama bagi mereka yang merasa pandangannya diabaikan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menciptakan jarak antara masyarakat dan institusi negara, yang seharusnya menjadi pelindung bagi semua pihak tanpa kecuali. Padahal, dalam masyarakat yang majemuk, kedewasaan justru diukur dari kemampuan mengelola perbedaan, bukan meniadakannya.

Perbedaan dalam penentuan awal puasa seharusnya dapat menjadi ruang pembelajaran kolektif tentang pentingnya toleransi, dialog, dan penghormatan terhadap keragaman cara berpikir.

Negara seharusnya hadir sebagai penjamin kebebasan berkeyakinan, selama perbedaan tersebut tidak menimbulkan gangguan nyata terhadap ketertiban umum. Dengan demikian, masyarakat dapat menjalankan keyakinannya dengan tenang, tanpa tekanan untuk menyeragamkan diri secara paksa.

Mengelola perbedaan memang bukan perkara mudah. Ia membutuhkan kebijaksanaan, kesabaran, dan keberanian untuk menerima bahwa tidak semua hal harus diseragamkan. Dalam konteks ini, negara dituntut untuk menunjukkan kematangan dalam bersikap. Kematangan tersebut tercermin dari kemampuan untuk membuka ruang dialog, mendengarkan berbagai pandangan, serta mengakomodasi perbedaan tanpa kehilangan fungsi sebagai penjaga stabilitas sosial.

Selain itu, penting untuk menyadari bahwa tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan keputusan final yang seragam. Dalam beberapa kasus, membiarkan perbedaan tetap hidup justru menjadi bentuk penghormatan terhadap kebebasan berpikir dan berkeyakinan. Negara dapat berperan sebagai mediator yang memastikan bahwa perbedaan tidak berkembang menjadi konflik, tanpa harus memaksakan penyatuan yang artifisial. Pendekatan semacam ini membutuhkan kepekaan sosial sekaligus keberanian untuk tidak selalu mengambil jalan yang paling mudah.

Jika negara terlalu cepat mengambil posisi sebagai hakim yang menentukan benar dan salah dalam ranah yang masih terbuka untuk perbedaan, maka ia berisiko kehilangan legitimasi moralnya. Alih-alih menjadi pemersatu, negara justru dapat menjadi sumber ketegangan baru. Oleh karena itu, diperlukan refleksi yang mendalam tentang batas-batas peran negara dalam kehidupan keagamaan masyarakat, terutama dalam hal-hal yang bersifat metodologis dan interpretatif.

Pada akhirnya, perbedaan bukanlah ancaman jika dikelola dengan bijak. Ia justru dapat menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama, memperluas cara pandang, dan memperdalam pemahaman terhadap realitas. Namun tanpa pengelolaan yang matang, perbedaan dapat berubah menjadi sumber konflik yang merugikan semua pihak. Di sinilah pentingnya membangun budaya saling menghormati, baik di tingkat masyarakat maupun dalam kebijakan negara.

Kedewasaan tidak diukur dari kemampuan menyeragamkan segala sesuatu, melainkan dari kemampuan merangkul perbedaan tanpa kehilangan arah. Dalam konteks ini, perbedaan penentuan awal dan akhir puasa seharusnya tidak dilihat sebagai masalah yang harus dihapus, melainkan sebagai kenyataan yang perlu dikelola dengan bijaksana. Dengan cara demikian, kehidupan beragama tidak hanya menjadi ruang praktik ritual, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang bagaimana hidup bersama dalam perbedaan.

 

BADAI PASTI BERLALU

(Yang tersisa di hari Lebaran kemaren)

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Ayah duduk di teras rumah, memandangi langit sore yang perlahan berubah warna. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang baru saja disiram hujan. Di sampingnya, sang anak duduk diam, memegang ponsel yang sejak tadi menampilkan foto keluarga besar di kampung.

“Ayah… tahun ini kita nggak pulang lagi ya?” suara anak itu pelan, nyaris seperti bisikan.

Ayah menarik napas panjang. “Iya, Nak. Tahun ini kita masih di sini.”

Anak itu menunduk. “Teman-teman bilang mereka sudah beli tiket. Katanya mau kumpul sama nenek, makan opor bareng…” suaranya mulai bergetar.

Ayah tersenyum tipis, meski matanya menyimpan kelelahan. “Ayah juga kangen kampung. Kangen suasana Lebaran di sana. Tapi sekarang keadaan kita belum memungkinkan.”

“Karena uangnya belum cukup, ya?” tanya anak itu jujur.

Ayah mengangguk pelan. “Ayah harus pilih, Nak. Untuk sekarang, yang penting kita tetap bisa makan, bayar kebutuhan, dan tetap bersama di sini.”

Anak itu terdiam sejenak, lalu bertanya, “Lebaran di sini tetap seru nggak, Yah?”

Ayah menoleh, menatap anaknya dengan hangat. “Seru atau tidaknya bukan soal tempat. Selama kita masih bisa saling memaafkan, makan bersama, dan tertawa, itu sudah Lebaran.”

Anak itu perlahan tersenyum, meski matanya masih sedikit berkaca-kaca. “Nanti kita tetap masak enak, ya?”

“Tentu,” jawab Ayah lembut. “Mungkin tidak semeriah di kampung, tapi kita buat hangat di sini.”

Anak itu mengangguk. “Ayah… tahun depan kita bisa pulang?”

Ayah terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Kita usahakan. Badai pasti berlalu, Nak.”

Ada masa ketika hidup terasa begitu berat, seakan segala arah tertutup dan harapan hanya menjadi kata-kata kosong. Dalam situasi seperti itu, manusia cenderung melihat masa depan dengan keraguan, bahkan ketakutan. Namun, di tengah kegelisahan tersebut, ada satu keyakinan sederhana yang terus hidup dalam kesadaran kolektif: badai pasti berlalu. Keyakinan ini bukan sekadar ungkapan penghibur, melainkan cerminan dari pengalaman panjang kehidupan yang selalu bergerak dari gelap menuju terang.

Perubahan adalah hukum yang tidak pernah berhenti bekerja. Musim berganti tanpa bisa dicegah, malam selalu disusul pagi, dan kesulitan pada akhirnya akan menemukan titik akhirnya. Dalam konteks kehidupan berbangsa, keyakinan ini menjadi semakin penting, terutama ketika masyarakat dihadapkan pada tekanan ekonomi, ketidakpastian sosial, dan rasa kehilangan arah. Banyak orang merasakan bahwa kehidupan saat ini semakin berat, kebutuhan pokok meningkat, peluang terasa menyempit, dan keadilan sering kali tampak jauh dari harapan. Dalam situasi seperti ini, rasa putus asa mudah tumbuh dan menyebar.

Namun, justru di sinilah makna dari “badai pasti berlalu” menjadi relevan. Ia mengajak untuk melihat kehidupan secara lebih luas, tidak terjebak pada satu titik kesulitan saja. Sejarah telah menunjukkan bahwa setiap krisis, betapapun besar dan menyakitkan, pada akhirnya akan menemukan jalannya menuju pemulihan. Meskipun prosesnya tidak selalu cepat dan tidak selalu adil bagi semua orang, perubahan tetap terjadi. Tidak ada badai yang berlangsung selamanya.

Optimisme yang terkandung dalam keyakinan ini bukanlah optimisme kosong. Ia menuntut ketahanan, kesabaran, dan keberanian untuk terus melangkah meskipun keadaan belum membaik. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang tetap bekerja keras, saling membantu, dan mencari cara untuk bertahan di tengah keterbatasan. Ada solidaritas yang muncul secara alami, memperlihatkan bahwa di balik kesulitan, masih ada kekuatan sosial yang dapat menjadi penopang bersama.

Selain itu, ungkapan ini juga mengandung pesan tentang harapan yang aktif, bukan pasif. Menunggu badai berlalu bukan berarti diam tanpa usaha. Justru, masa-masa sulit sering kali menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat nilai-nilai kebersamaan, dan membangun kembali fondasi kehidupan yang lebih kokoh. Dalam kesulitan, manusia dipaksa untuk lebih kreatif, lebih hemat, dan lebih peduli terhadap sesama. Nilai-nilai ini sering kali terlupakan ketika keadaan sedang nyaman.

Di sisi lain, penting juga untuk menjaga keseimbangan antara harapan dan realitas. Mengakui bahwa keadaan sedang sulit bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kejujuran. Dari pengakuan itu, muncul kesadaran untuk mencari solusi yang lebih tepat dan berkelanjutan. Harapan yang sehat adalah harapan yang berpijak pada kenyataan, bukan sekadar angan-angan.

Ungkapan “badai pasti berlalu” juga mengingatkan bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar permanen. Kesulitan hari ini bukanlah identitas yang melekat selamanya. Dengan waktu, usaha, dan perubahan yang konsisten, keadaan dapat berbalik. Meskipun mungkin tidak kembali seperti sebelumnya, selalu ada kemungkinan untuk menjadi lebih baik dari kondisi saat ini.

Pada akhirnya, keyakinan ini bukan hanya tentang menunggu akhir dari kesulitan, tetapi tentang bagaimana menjalani prosesnya. Cara manusia menghadapi badai sering kali menentukan seperti apa kehidupan setelah badai itu berlalu. Apakah menjadi lebih kuat atau justru semakin rapuh, semuanya bergantung pada sikap dan tindakan selama masa sulit tersebut.

Dalam kondisi yang penuh tekanan seperti sekarang, menjaga harapan adalah bentuk perlawanan terhadap keputusasaan. Harapan memberi energi untuk terus bergerak, meskipun langkah terasa berat. Ia menjadi penuntun di tengah ketidakpastian, sekaligus pengingat bahwa kehidupan selalu memiliki kemungkinan untuk berubah.

Maka, ketika keadaan terasa paling gelap, penting untuk kembali mengingat bahwa tidak ada badai yang abadi. Musim akan berganti, luka akan perlahan sembuh, dan kehidupan akan menemukan ritmenya kembali. Keyakinan ini mungkin sederhana, tetapi justru di dalam kesederhanaannya terdapat kekuatan besar yang mampu menjaga manusia tetap bertahan. Badai pasti berlalu, dan ketika saat itu tiba, mereka yang mampu bertahan akan melihat bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk ditemukan kembali di tengah keberanian untuk terus melangkah.

Salam Satu Syawal

KETIKA RAMADAN PERGI DENGAN SUNYI

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung (malahayati.ac.id) : Ramadan hampir berakhir. Hari-harinya yang terasa begitu cepat kini tinggal menghitung waktu. Seolah baru kemarin malam-malam pertama dijalani dengan semangat yang penuh, masjid-masjid ramai oleh langkah kaki yang datang membawa harapan, dan hati dipenuhi keinginan untuk menjadi lebih baik. Namun tanpa terasa, semuanya perlahan memudar. Ramadan yang begitu dinanti itu kini bersiap pergi, meninggalkan ruang yang terasa hampa di dalam diri.

Ada sesuatu yang berbeda ketika menyadari bahwa Ramadan akan segera berakhir. Bukan sekadar pergantian bulan dalam penanggalan, melainkan sebuah perpisahan yang diam-diam menyentuh perasaan. Selama sebulan penuh, kehidupan terasa memiliki warna yang lain. Waktu dini hari tidak lagi sepi karena ada sahur yang menyatukan keluarga atau setidaknya membangunkan kesadaran bahwa hari baru dimulai dengan niat yang lebih baik. Senja tidak lagi sekadar akhir dari aktivitas, tetapi menjadi saat yang dinanti untuk berbuka dengan rasa syukur yang sederhana.

Malam-malamnya pun terasa lebih hidup. Ada doa yang dipanjatkan lebih lama dari biasanya, ada harapan yang dititipkan dalam sujud yang lebih khusyuk, dan ada air mata yang mungkin jatuh tanpa diketahui siapa pun. Ramadan menghadirkan ruang sunyi yang memungkinkan seseorang berbicara dengan hatinya sendiri. Dalam kesunyian itulah banyak orang menyadari betapa rapuhnya dirinya, betapa banyak hal yang selama ini terlewatkan dalam kesibukan dunia.

Namun kini Ramadan itu akan pergi. Seperti tamu yang singgah sebentar lalu melanjutkan perjalanan, ia tidak tinggal lebih lama dari yang telah ditentukan. Ketika hari-hari terakhirnya tiba, suasana yang dulu terasa begitu hidup mulai berubah menjadi kenangan yang perlahan menjauh. Masjid yang selama ini penuh akan kembali lengang. Malam yang biasanya diisi dengan ibadah panjang mungkin akan kembali menjadi malam yang biasa saja.

Ada rasa sedih yang sulit dijelaskan ketika menyadari hal itu. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang kesempatan yang jarang datang. Kesempatan untuk memperbaiki diri, kesempatan untuk mendekatkan hati kepada hal-hal yang lebih bermakna, dan kesempatan untuk menata kembali arah kehidupan. Ketika kesempatan itu berakhir, muncul perasaan seolah-olah sesuatu yang berharga baru saja terlepas dari genggaman.

Yang membuat perpisahan ini semakin terasa dalam adalah kesadaran bahwa tidak ada jaminan untuk bertemu kembali dengannya tahun depan. Setiap orang berjalan bersama waktu yang terus bergerak maju tanpa pernah menoleh ke belakang. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah tahun depan masih diberi usia untuk menyambut Ramadan lagi. Bagi sebagian kita, Ramadan tahun ini mungkin adalah yang terakhir tanpa pernah kita sadari sebelumnya.

Kesadaran itu membuat setiap detik Ramadan terasa lebih berarti, terutama ketika ia hampir berakhir. Tiba-tiba muncul penyesalan kecil tentang waktu-waktu yang mungkin terlewat begitu saja. Malam yang seharusnya bisa diisi dengan doa justru terlewati dengan kelelahan. Kesempatan untuk memperbaiki diri kadang ditunda dengan alasan masih ada waktu. Padahal waktu tidak pernah menunggu.

Di saat seperti ini, hati sering kali dipenuhi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban pasti. Apakah semua usaha yang telah dilakukan selama Ramadan cukup berarti? Apakah perubahan yang diharapkan benar-benar akan bertahan setelah bulan ini pergi? Dan yang paling sunyi dari semuanya adalah pertanyaan sederhana: apakah masih ada kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadan di tahun yang akan datang?

Pertanyaan itu tidak selalu diucapkan dengan kata-kata. Ia lebih sering hadir sebagai bisikan halus di dalam hati. Sebuah kesadaran bahwa hidup ini berjalan di atas waktu yang terbatas. Bahwa setiap pertemuan pada akhirnya akan berujung pada perpisahan, termasuk pertemuan dengan bulan yang begitu istimewa ini.

Namun mungkin justru di situlah letak makna dari Ramadan yang pergi. Ia tidak datang untuk tinggal selamanya, tetapi untuk meninggalkan pelajaran tentang arti kesempatan. Selama sebulan penuh manusia diingatkan bahwa dirinya mampu menjadi lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat dengan nilai-nilai kebaikan. Ramadan menunjukkan kemungkinan bahwa kehidupan bisa dijalani dengan cara yang lebih bermakna.

Ketika Ramadan akhirnya benar-benar berlalu, yang tertinggal bukan hanya kenangan tentang hari-harinya, tetapi juga jejak perasaan yang sulit dilupakan. Ada rindu yang mungkin baru terasa setelah semuanya berakhir. Rindu pada suasana sahur yang tenang, pada doa-doa yang dipanjatkan dalam gelapnya malam, dan pada perasaan damai yang jarang hadir di bulan-bulan lainnya. Ramadan pergi dengan sunyi, tetapi ia meninggalkan gema yang panjang di dalam hati. Gema yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali, dan bahwa setiap detik kehidupan seharusnya digunakan dengan lebih berarti.

Dan ketika bulan itu benar-benar menghilang dari kalender, satu pertanyaan tetap tinggal bersama kita, seperti bayangan yang tidak pernah sepenuhnya pergi: apakah suatu hari nanti masih ada usia untuk menyambutnya kembali.

Salam Silaturahim

Antara Doa dan Ambisi

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung (Malahayati.ac.id) – Pejabat itu begitu sampai di kantor menyandarkan punggungnya di kursi sambil tersenyum puas, seraya berkata kepada stafnya. “Saya tadi malam shalat malam,” katanya ringan. “Kalau kita rutin bangun malam, apa pun yang kita minta pasti dikabulkan. Saya selalu yakin begitu.”
Staf yang duduk di depannya mengangguk pelan. “Bapak sering sekali bangun malam, ya.”
“Tentu,” jawab pejabat itu dengan nada percaya diri. “Saya selalu punya permintaan yang saya sampaikan. Saya yakin Tuhan akan menuruti. Tinggal menunggu waktu saja.”
Staf itu terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata dengan hati-hati. “Bukankah shalat malam seharusnya juga tentang mendekatkan diri kepada Tuhan, Pak? Bukan hanya tentang apa yang kita inginkan.”
Pejabat itu tertawa kecil. “Ya tidak salah juga meminta. Justru itu gunanya doa. Kita bangun malam supaya keinginan kita didengar.”

Staf itu menatap meja sejenak, lalu kembali berbicara dengan suara tenang. “Meminta memang tidak salah, Pak. Tapi kadang saya berpikir, apakah kita datang karena rindu kepada Tuhan, atau karena ingin sesuatu dari-Nya.”
Pejabat itu sedikit terdiam mendengar kalimat itu. Staf itu melanjutkan pelan, “Kalau yang kita cari hanya keinginan kita sendiri, mungkin tanpa sadar kita seperti memaksa Tuhan mengikuti rencana kita. Padahal bisa jadi Tuhan memiliki rencana yang lebih baik.”
Banyak di antara kita bangun pada malam hari dengan tangan terangkat dan doa yang panjang. Dalam keheningan yang seharusnya penuh kedekatan dengan Tuhan, justru sering kali hati kita dipenuhi daftar keinginan. Kita datang bukan karena rindu untuk bersujud, tetapi karena ada sesuatu yang ingin didapatkan. Malam yang seharusnya menjadi ruang perjumpaan yang tulus berubah menjadi waktu untuk menyampaikan tuntutan bahkan paksaan. Tanpa disadari, doa yang kita panjatkan terkadang lebih mirip permohonan yang mendesak daripada ungkapan cinta kepada Sang Pencipta.

Malam memang memiliki keistimewaan. Ketika dunia menjadi sunyi dan kebisingan kehidupan mereda, manusia memiliki kesempatan untuk berbicara dengan hatinya sendiri. Pada saat seperti itu, jarak antara manusia dan Tuhannya seharusnya terasa lebih dekat. Namun kenyataannya, banyak orang memanfaatkan waktu itu hanya ketika mereka sedang terdesak oleh masalah. Kesulitan hidup, kegagalan, ketakutan, dan keinginan yang belum tercapai mendorong mereka untuk bangun malam. Mereka datang dengan harapan agar Tuhan segera mengabulkan apa yang mereka minta.

Tidak salah jika manusia berdoa dan meminta. Meminta adalah bagian dari hubungan antara makhluk dan Penciptanya. Tetapi yang sering luput adalah niat di balik permintaan itu. Ada perbedaan besar antara seorang hamba yang datang karena rindu kepada Tuhannya dan seorang hamba yang datang karena ingin memaksa kehendaknya terjadi. Rindu melahirkan kerendahan hati, sedangkan tuntutan sering kali lahir dari keinginan yang terlalu kuat terhadap dunia.

Ketika seseorang bangun malam karena rindu, ia tidak selalu membawa daftar permintaan. Ia datang untuk bersujud, untuk mengingat kebesaran Tuhan, dan untuk mengakui kelemahannya sebagai manusia. Dalam sujud itu terdapat rasa syukur, penyesalan, dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Doa yang lahir dari kerinduan biasanya lebih tenang, lebih tulus, dan tidak dipenuhi dengan desakan. Ia memahami bahwa Tuhan mengetahui apa yang terbaik, bahkan sebelum manusia mengucapkannya.

Sebaliknya, ketika bangun malam hanya untuk menuntut, hubungan spiritual menjadi terasa sempit. Doa dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang berisi keinginan pribadi. Kadang bahkan muncul kekecewaan ketika apa yang diminta tidak segera terwujud. Seolah-olah doa menjadi sebuah transaksi: manusia beribadah dengan harapan imbalan tertentu. Jika harapan itu tidak terpenuhi, maka rasa kecewa perlahan muncul dalam hati.

Sikap seperti ini sebenarnya menunjukkan betapa mudahnya manusia terjebak dalam ego dirinya sendiri. Kita ingin segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencananya. Kita berharap Tuhan menyetujui semua keinginan kita tanpa mempertimbangkan apakah itu benar-benar baik bagi kehidupan kita. Padahal, kebijaksanaan Tuhan jauh melampaui pemahaman manusia yang terbatas.

Malam seharusnya menjadi waktu untuk membersihkan hati dari kesombongan tersebut. Dalam kesunyian, manusia dapat menyadari betapa kecil dirinya di hadapan kekuasaan Tuhan. Saat dahi menyentuh lantai, sebenarnya itu adalah simbol bahwa manusia meletakkan seluruh egonya di hadapan Sang Pencipta. Ia mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kuasa apa pun tanpa izin dari Tuhan.
Kesadaran ini dapat mengubah cara seseorang berdoa. Permintaan tetap ada, tetapi tidak lagi disertai dengan sikap memaksa. Ia memohon dengan penuh harap, namun juga dengan kerelaan menerima apa pun keputusan Tuhan. Hatinya lebih lapang, karena ia percaya bahwa setiap ketetapan memiliki hikmah yang mungkin belum dipahami saat ini.

Kerinduan kepada Tuhan juga membuat seseorang tidak hanya datang ketika membutuhkan sesuatu. Ia tetap bangun malam meskipun hidupnya sedang baik-baik saja. Ia tetap bersujud meskipun tidak ada masalah besar yang sedang dihadapi. Kehadirannya dalam ibadah tidak bergantung pada keadaan, tetapi pada rasa cinta yang tumbuh dalam hatinya.

Ketika kerinduan itu mulai tumbuh, malam tidak lagi terasa sebagai beban. Bangun dari tidur menjadi sebuah panggilan yang lembut bagi jiwa. Dalam keheningan, seseorang merasakan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk dunia. Ia tidak lagi sekadar meminta, tetapi juga menikmati kedekatan dengan Tuhannya.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah alasan di balik langkah kita ketika bangun di tengah malam. Apakah kita datang karena hati yang rindu, atau karena keinginan yang ingin segera terpenuhi? Apakah doa kita lahir dari kerendahan hati, atau dari keinginan untuk mengatur takdir sesuai dengan rencana kita?

Malam selalu memberikan kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki niatnya. Ia mengajarkan bahwa hubungan dengan Tuhan tidak seharusnya dibangun di atas tuntutan, tetapi di atas cinta dan ketundukan. Ketika manusia belajar datang dengan hati yang tulus, maka doa tidak lagi menjadi alat untuk memaksa kehendak, melainkan menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.
Salam Lailatul Qadar (R-1)

Luka Sunyi

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) Ada saatnya dalam hidup ketika berkata “ya” bukan lagi tanda kebaikan, melainkan awal dari pengingkaran terhadap diri sendiri. Sejak kecil kita diajarkan untuk membantu, untuk mengulurkan tangan, untuk mendahulukan orang lain.

Nilai-nilai itu tumbuh menjadi keyakinan bahwa menolak berarti egois, bahwa berkata tidak adalah bentuk ketidaksopanan, bahkan ketidakpedulian. Namun kenyataan tidak selalu seindah ajaran. Ada kebaikan yang disambut hangat, tetapi ada pula kebaikan yang diterima tanpa rasa terima kasih, tanpa apresiasi, bahkan dianggap sebagai kewajiban. Pada titik itulah seseorang mungkin terpaksa belajar mengatakan tidak.

Kebaikan yang tidak dihargai sering kali datang secara halus. Awalnya hanya permintaan kecil, bantuan sederhana, pengorbanan waktu yang tampak sepele. Kita memberikannya dengan tulus, tanpa perhitungan. Senyum orang lain menjadi cukup sebagai balasan. Namun ketika bantuan itu berubah menjadi tuntutan, ketika kehadiran kita dianggap sesuatu yang pasti dan harus ada, makna kebaikan mulai bergeser. Ia tidak lagi dipandang sebagai pilihan, melainkan sebagai kewajiban yang tak boleh ditolak.

Ada perasaan lelah yang tumbuh perlahan. Bukan karena membantu itu salah, melainkan karena tidak ada keseimbangan. Setiap kali kita berkata “ya”, ada bagian dari diri yang tergerus. Waktu pribadi berkurang, energi terkuras, pikiran dipenuhi beban yang seharusnya tidak sepenuhnya kita tanggung.

Sementara itu, orang yang menerima bantuan mungkin tak pernah benar-benar menyadari betapa besar usaha yang telah diberikan. Mereka melihat hasil, tetapi tidak melihat proses. Mereka menikmati manfaat, tetapi lupa menghargai niat.

Dalam kondisi seperti itu, berkata “tidak” menjadi sebuah keberanian. Ia bukan sekadar penolakan, melainkan penegasan batas. Batas bahwa kita juga manusia yang memiliki kebutuhan, keterbatasan, dan hak untuk menjaga diri. Namun keberanian ini sering diiringi rasa bersalah. Ada suara dalam hati yang mempertanyakan, “Apakah aku berubah menjadi orang yang tidak peduli?”

Rasa bersalah itu muncul karena kita terbiasa mengaitkan nilai diri dengan seberapa banyak kita bisa memberi.

Padahal, kebaikan yang sehat tidak menuntut pengorbanan tanpa akhir. Ia tumbuh dari keikhlasan, bukan keterpaksaan. Ketika kita terus-menerus memberi tanpa dihargai, keikhlasan itu dapat berubah menjadi kepahitan. Senyum yang dulu tulus bisa berubah menjadi topeng. Bantuan yang dulu ringan terasa berat. Jika dibiarkan, bukan hanya hubungan yang rusak, tetapi juga cara kita memandang kebaikan itu sendiri.

Berkata tidak dalam situasi seperti ini adalah bentuk perlindungan. Ia mengajarkan orang lain bahwa kita memiliki batas. Ia juga mengingatkan diri sendiri bahwa harga diri tidak boleh ditukar dengan penerimaan semu. Terkadang, orang baru belajar menghargai setelah merasakan ketiadaan. Ketika kita selalu tersedia, kehadiran kita dianggap biasa. Namun ketika kita sesekali mundur, barulah terlihat nilai dari apa yang selama ini diberikan.

Tentu saja, tidak semua orang akan memahami keputusan itu. Ada yang merasa kecewa, ada yang menganggap kita berubah. Bahkan mungkin ada yang menuduh kita tidak lagi peduli. Tetapi tidak semua kekecewaan harus kita tanggung. Kita tidak bertanggung jawab atas ekspektasi yang tidak pernah kita janjikan. Kita hanya bertanggung jawab untuk bersikap jujur terhadap kemampuan dan batas diri.

Mengatakan “tidak” bukan berarti menutup pintu kebaikan selamanya. Ia justru membuka ruang untuk kebaikan yang lebih sehat. Dengan batas yang jelas, bantuan menjadi pilihan sadar, bukan refleks otomatis. Kita bisa memberi tanpa merasa terpaksa, karena kita tahu bahwa kita melakukannya atas kehendak sendiri. Dan ketika seseorang benar-benar menghargai, ia akan memahami bahwa penolakan bukanlah penolakan terhadap dirinya, melainkan penegasan atas situasi.

Ada kekuatan dalam kata tidak yang sering diremehkan. Ia melatih kita untuk mengenali prioritas. Ia mengajarkan bahwa menjaga diri bukanlah tindakan egois, melainkan kebutuhan. Tanpa kemampuan berkata tidak, kita mudah terjebak dalam lingkaran eksploitasi emosional. Kita menjadi sumber daya yang terus diambil, tanpa pernah diisi kembali.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak kita mengorbankan diri, melainkan tentang bagaimana kita menyeimbangkan memberi dan menerima. Kebaikan yang sejati tidak memaksa, tidak menuntut tanpa henti, dan tidak mengabaikan batas. Ia tumbuh dalam ruang saling menghargai. Jika penghargaan itu hilang, maka wajar jika kita mengambil langkah mundur.

Saat terpaksa berkata tidak kepada kebaikan yang tidak dihargai, mungkin hati terasa berat. Namun di balik berat itu ada pelajaran penting tentang martabat, tentang keberanian, dan tentang cinta terhadap diri sendiri. Kita belajar bahwa menjadi baik tidak berarti harus selalu mengiyakan. Kita belajar bahwa penolakan bisa menjadi bentuk kebaikan yang lebih besar, yaitu kebaikan terhadap diri, agar tetap utuh dan tidak habis oleh harapan orang lain. Karena pada akhirnya, kebaikan yang paling berharga adalah yang lahir dari kebebasan, bukan dari tekanan. Dan kebebasan itu sering kali dimulai dari satu kata sederhana yang diucapkan dengan tegas:” tidak”.

Salam Ramadan!

MALAM PANJANG PENJAGA GERBANG

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) Malam Ramadan hampir mencapai ujungnya. Angin berembus pelan melewati jalan-jalan perumahan yang mulai lengang setelah tarawih. Lampu-lampu teras rumah menyala redup, sebagian penghuni sudah terlelap, sementara sebagian lain masih terjaga di dalam rumah masing-masing. Di sebuah pos keamanan kecil di sudut gerbang kompleks, dua orang penjaga duduk berdampingan dengan secangkir kopi hangat di tangan. Di sela tugas ronda dan mencatat keluar masuk kendaraan, percakapan sederhana pun mengalir. Dari obrolan ringan itulah perlahan muncul cerita tentang kehidupan yang jarang terlihat oleh orang lain; tentang keluarga, tentang harapan menjelang hari raya, dan tentang kegelisahan yang sering datang pada hari-hari terakhir Ramadan.

“Komandan, malam ini sepi sekali,” kata seorang penjaga muda sambil menutup buku catatan ronda di meja pos.

“Memang begitu kalau sudah mendekati akhir Ramadan,” jawab komandannya pelan. “Orang-orang lebih banyak di rumah, istirahat setelah tarawih.”

Penjaga itu mengangguk, lalu menatap jalan kompleks yang lengang. “Kadang saya kepikiran juga, Komandan. Kita di sini menjaga rumah orang, tapi pikiran justru sering lari ke rumah sendiri.”

Komandan tersenyum tipis. “Keluarga mulai tanya soal lebaran, ya?”

“Iya, Komandan. Anak saya kemarin bertanya apakah nanti bisa beli baju baru. Saya cuma bilang, kita lihat nanti.”

Komandan menghela napas pelan. “Itu juga yang sering saya rasakan. Menjelang lebaran begini, kebutuhan di rumah biasanya banyak.”

“Kadang saya berharap ada THR dari warga,” lanjut penjaga itu hati-hati. “Tapi rasanya juga tidak enak kalau terlalu berharap.”

“Harapan boleh saja,” kata komandan tenang. “Tapi jangan sampai membuat kita kecewa kalau tidak sesuai.”

Penjaga itu mengangguk. “Benar juga, Komandan.”

Beberapa detik mereka terdiam. Angin malam berembus melewati pos kecil itu.

“Dari luar perumahan ini kelihatan mapan,” kata penjaga itu lagi. “Rumah bagus, mobil ada.”

Komandan tersenyum kecil. “Tapi kita juga tahu, banyak yang sedang berjuang dengan cicilan.”

“Jadi semuanya sebenarnya sama-sama berusaha bertahan, ya Komandan?”

“Begitulah hidup,” jawabnya. “Yang penting kita tetap menjalankan tugas dengan baik. Karena di rumah ada keluarga yang menunggu kita pulang.”

Bagi mereka, Ramadan tidak selalu identik dengan ketenangan. Ketika banyak orang berbicara tentang pahala ibadah dan rencana mudik, pikiran mereka justru sering terarah pada hal yang lebih sederhana tetapi mendesak: kebutuhan keluarga. Hari raya semakin dekat, anak-anak mulai bertanya tentang pakaian baru, makanan khas lebaran, atau sekadar harapan kecil untuk merasakan kegembiraan seperti keluarga lain. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terdengar sebagai tuntutan, tetapi cukup untuk membuat dada terasa berat.

Lingkungan perumahan tempat mereka berjaga sering tampak rapi dan mapan dari luar. Rumah-rumah berdiri kokoh dengan pagar yang tinggi, kendaraan terparkir di halaman, dan lampu teras yang menyala lembut setiap malam. Namun kehidupan di balik tembok-tembok itu tidak selalu semewah yang terlihat. Banyak keluarga yang sebenarnya hidup dalam keseimbangan rapuh antara pemasukan dan cicilan. Ada yang mencicil rumah, kendaraan, perabot, bahkan pendidikan anak. Penampilan luar sering menjadi penutup bagi kenyataan bahwa kehidupan ekonomi mereka juga penuh tekanan.

Keadaan itu membuat harapan akan tambahan rezeki menjelang hari raya terasa semakin jauh. Tradisi memberi tunjangan hari raya bagi penjaga lingkungan memang ada di banyak tempat, tetapi tidak selalu pasti. Kadang jumlahnya kecil, kadang terlambat, kadang bahkan tidak ada sama sekali. Harapan itu menggantung seperti awan yang belum tentu menurunkan hujan. Setiap malam yang dilalui dengan berpatroli membawa pertanyaan yang sama: apakah tahun ini akan ada sedikit kelegaan?

Sementara itu, waktu menuju hari gajian masih terasa sangat panjang. Hari-hari berjalan lambat, seperti langkah kaki yang menyusuri jalan kompleks yang sama setiap malam. Di pos kecil yang sederhana, secangkir kopi hangat sering menjadi teman setia untuk mengusir kantuk. Tetapi di balik percakapan ringan atau tawa kecil, selalu ada pikiran yang berputar tentang kebutuhan rumah tangga yang menunggu.

Ironisnya, mereka menghabiskan sebagian besar waktu menjaga ketenangan orang lain, sementara ketenangan dalam hidup sendiri kadang terasa rapuh. Mereka memastikan gerbang tertutup dengan baik, memeriksa sudut-sudut yang gelap, dan mengawasi jalan yang sepi agar para penghuni dapat tidur dengan aman. Namun di balik tugas itu, ada kerinduan sederhana: berada lebih lama bersama keluarga, merasakan suasana Ramadan di rumah sendiri, atau sekadar menikmati waktu berbuka tanpa harus bersiap kembali untuk ronda malam.

Akan tetapi, di tengah segala kesulitan itu, ada sesuatu yang tetap bertahan: ketabahan. Pekerjaan yang dilakukan mungkin tidak selalu dipandang penting oleh banyak orang, tetapi mereka tahu bahwa kehadiran mereka memberi rasa aman bagi sebuah komunitas. Mereka memahami bahwa setiap langkah patroli adalah bentuk tanggung jawab yang tidak terlihat, tetapi nyata.

Ketabahan itu juga lahir dari pemahaman sederhana tentang hidup. Bahwa tidak semua kebahagiaan datang dalam bentuk materi yang melimpah. Kadang kebahagiaan muncul dari hal kecil: kabar bahwa keluarga di rumah sehat, pesan singkat dari anak yang menanyakan kapan pulang, atau secangkir teh hangat yang dibagikan oleh tetangga yang masih terjaga.

Menjelang akhir Ramadan, langit malam sering terasa lebih hening. Angin berhembus lembut melewati jalan-jalan perumahan yang sepi. Di saat seperti itu, mereka yang berjaga sering memandang ke kejauhan, seolah mencoba membaca masa depan dari langit yang gelap. Harapan tetap ada, meskipun kecil dan sederhana. Harapan bahwa hari esok akan membawa kabar baik, bahwa usaha dan kesabaran tidak akan sia-sia.

Dan ketika nanti takbir akhirnya berkumandang di malam yang dinanti, mungkin tidak semua beban hidup langsung hilang. Namun ada satu hal yang tetap hidup dalam hati: keyakinan bahwa setiap pengorbanan, sekecil apa pun, memiliki makna. Seperti senja yang perlahan berubah menjadi malam, kesedihan dan harapan sering berjalan berdampingan. Dalam diam, mereka yang berjaga tetap menunggu fajar ”bukan hanya fajar hari raya, tetapi juga fajar kehidupan yang lebih lapang”.

Salam Lailatul Qadar