Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Bandar lampung ( malahayati.ac.id )
Langit senja mulai meredup di atas halaman Pesantren. Cahaya jingga perlahan menghilang di balik pepohonan yang mengelilingi kompleks asrama. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan sore tadi. Dari masjid tua di tengah pesantren terdengar lantunan ayat suci yang dibaca para santri setelah salat Magrib. Ramadan sudah memasuki penghujungnya. Sepuluh malam terakhir mulai dijalani, dan suasana di pesantren terasa lebih hidup dari biasanya.
Di serambi masjid, seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiai. Wajahnya tampak serius, seolah menyimpan banyak pertanyaan. Sementara itu sang kiai memegang tasbih, memandang halaman pesantren yang mulai dipenuhi santri yang berjalan membawa kitab masing-masing.
“Yai,” tanya santri itu pelan, “kenapa setiap menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, pesantren terasa berbeda dari biasanya?”
Kiai tersenyum tipis. “Berbeda bagaimana maksudmu?”
“Rasanya lebih hidup,” jawab santri. “Masjid lebih ramai. Teman-teman yang biasanya cepat mengantuk sekarang malah kuat begadang. Bahkan yang biasanya jarang terlihat di pengajian tiba-tiba datang lebih awal.”
Kiai mengangguk perlahan. “Itu karena mereka mulai menyadari bahwa Ramadan hampir selesai. Waktu yang tersisa sedikit, sementara harapan mereka masih banyak.”
Santri itu menatap ke arah halaman pesantren yang mulai sepi. “Mereka berharap mendapatkan malam yang istimewa itu, ya Yai?”
“Benar,” jawab kiai. “Banyak orang memaknai bahwa di antara sepuluh malam terakhir ada satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu mereka berusaha memanfaatkan waktu yang tersisa.”
Santri itu tersenyum kecil. “Saya juga melihat beberapa teman membaca kitab suci hampir setiap waktu. Seolah-olah mereka tidak ingin melewatkan satu halaman pun.”
“Ramadan memang punya kekuatan seperti itu,” kata kiai. “Bulan ini mampu membangunkan hati manusia. Orang yang biasanya jarang membaca kitab suci tiba-tiba ingin menamatkannya. Orang yang jarang berdoa menjadi lebih sering menengadahkan tangan.”
Santri itu tampak berpikir sejenak. Lalu ia berkata, “Tapi Yai, saya juga mendengar cerita dari kampung. Katanya menjelang hari raya justru banyak orang yang semakin sibuk berbelanja.”
Kiai tertawa kecil. “Itu juga kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri.”
“Mereka sibuk ke pasar, mencari pakaian baru, menyiapkan makanan untuk hari raya,” lanjut santri. “Bahkan ada yang lebih sering pergi ke pusat perbelanjaan daripada ke masjid.”
Kiai mengangguk pelan. “Manusia memang memiliki banyak kesibukan. Ada yang sibuk mengejar pahala, ada yang sibuk mengejar keuntungan, dan ada pula yang sibuk mengejar kesenangan.”
Santri itu kemudian bertanya, “Apakah itu berarti mereka salah, Yai?”
“Tidak selalu,” jawab kiai dengan tenang. “Mempersiapkan kebahagiaan untuk keluarga juga bagian dari kebaikan. Namun yang perlu dijaga adalah keseimbangannya. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita melupakan tujuan Ramadan.”
Santri itu menunduk sejenak. “Tujuan Ramadan adalah agar kita menjadi lebih baik, bukan?”
“Betul,” kata kiai. “Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia melatih kesabaran, kejujuran, dan kemampuan mengendalikan diri. Selama sebulan manusia belajar untuk menahan amarah, menjaga ucapan, dan memperbanyak kebaikan.”
Beberapa santri terlihat berjalan menuju masjid untuk mengikuti pengajian malam. Suara langkah mereka terdengar pelan di halaman yang mulai dipenuhi embun.
Santri itu kembali bertanya, “Yai, kalau selama Ramadan orang bisa berubah menjadi lebih baik, kenapa setelah Ramadan banyak yang kembali seperti semula?”
Kiai memutar tasbih di tangannya sebelum menjawab. “Karena sebagian orang menganggap Ramadan sebagai tujuan, bukan sebagai latihan.”
“Latihan?” tanya santri dengan heran.
“Ya,” kata kiai. “Ramadan itu seperti madrasah selama satu bulan. Di dalamnya manusia belajar mengendalikan diri, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak. Namun setelah bulan itu selesai, banyak orang yang melupakan pelajaran yang sudah mereka dapatkan.”
Santri itu mengangguk pelan, seolah mulai memahami.
“Coba kamu perhatikan,” lanjut kiai. “Selama Ramadan masjid penuh oleh orang yang ingin salat berjamaah. Kitab suci dibaca hampir setiap hari. Sedekah juga lebih sering diberikan. Tetapi setelah bulan itu berlalu, semua perlahan kembali seperti semula.”
Santri itu menghela napas kecil. “Masjid kembali sepi, ya Yai.”
“Begitulah sering terjadi,” jawab kiai.
Santri itu menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. “Berarti ujian sebenarnya justru datang setelah Ramadan selesai.”
Kiai tersenyum. “Kamu mulai mengerti.”
“Jika seseorang hanya rajin beribadah selama Ramadan, tetapi kembali pada kebiasaan lama setelahnya, berarti Ramadan belum benar-benar mengubah dirinya.”
Santri itu terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan, “Saya ingin Ramadan tahun ini tidak berlalu begitu saja, Yai.”
“Bagus,” kata kiai. “Keinginan itu adalah langkah awal.”
“Tapi bagaimana cara menjaga semangat itu setelah Ramadan?” tanya santri.
Kiai menjawab dengan lembut, “Mulailah dari hal-hal kecil. Jika selama Ramadan kamu terbiasa membaca beberapa halaman kitab suci setiap hari, cobalah mempertahankannya walaupun tidak sebanyak sebelumnya. Jika kamu terbiasa salat berjamaah di masjid, jangan langsung meninggalkannya.”
Santri itu mengangguk mantap.
“Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan konsisten,” lanjut kiai.
Suasana malam semakin tenang. Dari dalam masjid terdengar suara santri yang mulai membaca kitab bersama-sama.
Santri itu berdiri perlahan. “Terima kasih, Yai. Saya akan mencoba menjaga pelajaran Ramadan, bukan hanya selama bulan ini.”
Kiai tersenyum sambil terus memutar tasbih di tangannya.
“Pergilah ke masjid,” katanya. “Malam masih panjang. Gunakan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.”
Santri itu berjalan menuju masjid bersama teman-temannya. Sementara itu sang kiai tetap duduk di serambi, memandang langit Ramadan yang tenang.
Dalam hatinya ia berharap para santri tidak hanya menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan, tetapi juga mampu menjaga cahaya Ramadan dalam kehidupan mereka setelah bulan suci itu berlalu.
Salam Lailatul Qadar.
RAMADAN (Musim atau Perubahan)
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Bandar lampung ( malahayati.ac.id )
Langit senja mulai meredup di atas halaman Pesantren. Cahaya jingga perlahan menghilang di balik pepohonan yang mengelilingi kompleks asrama. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan sore tadi. Dari masjid tua di tengah pesantren terdengar lantunan ayat suci yang dibaca para santri setelah salat Magrib. Ramadan sudah memasuki penghujungnya. Sepuluh malam terakhir mulai dijalani, dan suasana di pesantren terasa lebih hidup dari biasanya.
Di serambi masjid, seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiai. Wajahnya tampak serius, seolah menyimpan banyak pertanyaan. Sementara itu sang kiai memegang tasbih, memandang halaman pesantren yang mulai dipenuhi santri yang berjalan membawa kitab masing-masing.
“Yai,” tanya santri itu pelan, “kenapa setiap menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, pesantren terasa berbeda dari biasanya?”
Kiai tersenyum tipis. “Berbeda bagaimana maksudmu?”
“Rasanya lebih hidup,” jawab santri. “Masjid lebih ramai. Teman-teman yang biasanya cepat mengantuk sekarang malah kuat begadang. Bahkan yang biasanya jarang terlihat di pengajian tiba-tiba datang lebih awal.”
Kiai mengangguk perlahan. “Itu karena mereka mulai menyadari bahwa Ramadan hampir selesai. Waktu yang tersisa sedikit, sementara harapan mereka masih banyak.”
Santri itu menatap ke arah halaman pesantren yang mulai sepi. “Mereka berharap mendapatkan malam yang istimewa itu, ya Yai?”
“Benar,” jawab kiai. “Banyak orang memaknai bahwa di antara sepuluh malam terakhir ada satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu mereka berusaha memanfaatkan waktu yang tersisa.”
Santri itu tersenyum kecil. “Saya juga melihat beberapa teman membaca kitab suci hampir setiap waktu. Seolah-olah mereka tidak ingin melewatkan satu halaman pun.”
“Ramadan memang punya kekuatan seperti itu,” kata kiai. “Bulan ini mampu membangunkan hati manusia. Orang yang biasanya jarang membaca kitab suci tiba-tiba ingin menamatkannya. Orang yang jarang berdoa menjadi lebih sering menengadahkan tangan.”
Santri itu tampak berpikir sejenak. Lalu ia berkata, “Tapi Yai, saya juga mendengar cerita dari kampung. Katanya menjelang hari raya justru banyak orang yang semakin sibuk berbelanja.”
Kiai tertawa kecil. “Itu juga kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri.”
“Mereka sibuk ke pasar, mencari pakaian baru, menyiapkan makanan untuk hari raya,” lanjut santri. “Bahkan ada yang lebih sering pergi ke pusat perbelanjaan daripada ke masjid.”
Kiai mengangguk pelan. “Manusia memang memiliki banyak kesibukan. Ada yang sibuk mengejar pahala, ada yang sibuk mengejar keuntungan, dan ada pula yang sibuk mengejar kesenangan.”
Santri itu kemudian bertanya, “Apakah itu berarti mereka salah, Yai?”
“Tidak selalu,” jawab kiai dengan tenang. “Mempersiapkan kebahagiaan untuk keluarga juga bagian dari kebaikan. Namun yang perlu dijaga adalah keseimbangannya. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita melupakan tujuan Ramadan.”
Santri itu menunduk sejenak. “Tujuan Ramadan adalah agar kita menjadi lebih baik, bukan?”
“Betul,” kata kiai. “Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia melatih kesabaran, kejujuran, dan kemampuan mengendalikan diri. Selama sebulan manusia belajar untuk menahan amarah, menjaga ucapan, dan memperbanyak kebaikan.”
Beberapa santri terlihat berjalan menuju masjid untuk mengikuti pengajian malam. Suara langkah mereka terdengar pelan di halaman yang mulai dipenuhi embun.
Santri itu kembali bertanya, “Yai, kalau selama Ramadan orang bisa berubah menjadi lebih baik, kenapa setelah Ramadan banyak yang kembali seperti semula?”
Kiai memutar tasbih di tangannya sebelum menjawab. “Karena sebagian orang menganggap Ramadan sebagai tujuan, bukan sebagai latihan.”
“Latihan?” tanya santri dengan heran.
“Ya,” kata kiai. “Ramadan itu seperti madrasah selama satu bulan. Di dalamnya manusia belajar mengendalikan diri, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak. Namun setelah bulan itu selesai, banyak orang yang melupakan pelajaran yang sudah mereka dapatkan.”
Santri itu mengangguk pelan, seolah mulai memahami.
“Coba kamu perhatikan,” lanjut kiai. “Selama Ramadan masjid penuh oleh orang yang ingin salat berjamaah. Kitab suci dibaca hampir setiap hari. Sedekah juga lebih sering diberikan. Tetapi setelah bulan itu berlalu, semua perlahan kembali seperti semula.”
Santri itu menghela napas kecil. “Masjid kembali sepi, ya Yai.”
“Begitulah sering terjadi,” jawab kiai.
Santri itu menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. “Berarti ujian sebenarnya justru datang setelah Ramadan selesai.”
Kiai tersenyum. “Kamu mulai mengerti.”
“Jika seseorang hanya rajin beribadah selama Ramadan, tetapi kembali pada kebiasaan lama setelahnya, berarti Ramadan belum benar-benar mengubah dirinya.”
Santri itu terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan, “Saya ingin Ramadan tahun ini tidak berlalu begitu saja, Yai.”
“Bagus,” kata kiai. “Keinginan itu adalah langkah awal.”
“Tapi bagaimana cara menjaga semangat itu setelah Ramadan?” tanya santri.
Kiai menjawab dengan lembut, “Mulailah dari hal-hal kecil. Jika selama Ramadan kamu terbiasa membaca beberapa halaman kitab suci setiap hari, cobalah mempertahankannya walaupun tidak sebanyak sebelumnya. Jika kamu terbiasa salat berjamaah di masjid, jangan langsung meninggalkannya.”
Santri itu mengangguk mantap.
“Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan konsisten,” lanjut kiai.
Suasana malam semakin tenang. Dari dalam masjid terdengar suara santri yang mulai membaca kitab bersama-sama.
Santri itu berdiri perlahan. “Terima kasih, Yai. Saya akan mencoba menjaga pelajaran Ramadan, bukan hanya selama bulan ini.”
Kiai tersenyum sambil terus memutar tasbih di tangannya.
“Pergilah ke masjid,” katanya. “Malam masih panjang. Gunakan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.”
Santri itu berjalan menuju masjid bersama teman-temannya. Sementara itu sang kiai tetap duduk di serambi, memandang langit Ramadan yang tenang.
Dalam hatinya ia berharap para santri tidak hanya menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan, tetapi juga mampu menjaga cahaya Ramadan dalam kehidupan mereka setelah bulan suci itu berlalu.
Salam Lailatul Qadar.
LUPA SETELAH SELAMAT
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) Di sebuah serambi sederhana pada sore hari, seorang santri duduk bersila di hadapan kiainya. Angin berhembus pelan, membawa suasana tenang yang membuat percakapan terasa lebih dalam.
“Santri,” kata sang kiai dengan suara lembut, “pernahkah kamu memperhatikan bagaimana manusia bersikap ketika hidupnya sedang sulit?”
Santri itu berpikir sejenak, lalu menjawab, “Biasanya mereka menjadi lebih banyak berdoa, lebih rajin beribadah, dan lebih sering meminta pertolongan, termasuk pertolongan pada Tuhan.”
Kiai tersenyum tipis. “Benar. Saat hati terdesak oleh kesulitan, manusia menjadi sangat sadar bahwa dirinya lemah. Ia memohon dengan sungguh-sungguh, seolah seluruh harapannya digantungkan pada doa.”
Santri mengangguk pelan. “Namun saya juga sering melihat sesuatu yang aneh, Kiai.”
“Apa itu?” tanya sang kiai.
“Ketika keadaan sudah membaik, ketika rezeki menjadi lancar dan hidup terasa mudah, banyak orang justru mulai melupakan doa-doa yang dulu mereka panjatkan.”
Kiai menatap jauh ke halaman pesantren. “Itulah salah satu sifat manusia yang paling sering terjadi. Ketika sulit, mereka meminta bersama-sama dengan harapan yang besar. Namun ketika senang, mereka sering lupa segalanya.”
Santri tampak merenung. “Apakah itu berarti manusia memang mudah lupa, Kiai?”
“Ya,” jawab kiai perlahan. “Lupa bukan hanya tentang ingatan, tetapi juga tentang kesadaran. Kesenangan kadang membuat manusia merasa seolah-olah ia tidak lagi membutuhkan pertolongan.”
Santri menundukkan kepala. “Lalu bagaimana agar kita tidak menjadi seperti itu?”
Kiai kembali tersenyum. “Caranya sederhana, tetapi tidak mudah: jangan pernah melupakan masa sulitmu. Ingatlah bagaimana kamu berdoa saat itu. Jika ingatan itu kamu jaga, maka kebahagiaan tidak akan membuatmu lupa diri.”
Santri mengangguk pelan, menyadari bahwa pelajaran tentang hidup sering datang dari hal-hal yang terlihat sederhana.
Fenomena ini bukanlah sesuatu yang asing. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Ketika seseorang berada dalam kesulitan ekonomi, sakit, atau menghadapi kegagalan, ia menjadi lebih rajin berdoa, lebih tekun merenung, dan lebih sering mengingat nilai-nilai kehidupan. Kesadaran tentang betapa rapuhnya manusia membuatnya ingin mendekat pada harapan dan kebaikan. Dalam momen seperti itu, hati terasa jujur dan tulus, karena tidak ada lagi yang dapat diandalkan selain harapan dan doa.
Namun ketika keadaan berubah menjadi lebih baik, manusia sering kali merasa seolah-olah semua keberhasilan itu adalah hasil dari usahanya sendiri. Rasa syukur yang dahulu begitu hangat perlahan berubah menjadi rasa biasa. Doa yang dahulu dipanjatkan setiap malam mulai jarang diucapkan. Kesadaran tentang keterbatasan diri pun perlahan menghilang. Kehidupan yang nyaman membuat manusia merasa aman, bahkan terkadang merasa tidak lagi membutuhkan tempat untuk bersandar.
Sifat mudah lupa inilah yang sering menjadi bagian dari perjalanan manusia. Ingatan manusia ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh waktu, tetapi juga oleh keadaan. Penderitaan membuat manusia mengingat, sementara kesenangan sering membuat manusia lengah. Dalam keadaan sulit, manusia menyadari bahwa hidup tidak selalu berada dalam kendali. Tetapi ketika keadaan membaik, ia sering kembali pada keyakinan lama bahwa dirinya mampu mengendalikan segalanya.
Padahal kehidupan memiliki cara yang unik untuk mengingatkan manusia. Kesulitan dan kebahagiaan datang silih berganti seperti dua sisi dari satu perjalanan yang sama. Tidak ada keadaan yang benar-benar permanen. Hari yang cerah dapat berubah menjadi mendung, dan masa yang berat dapat berubah menjadi ringan. Jika manusia menyadari hal ini dengan lebih dalam, ia mungkin akan belajar untuk tidak mudah lupa, baik ketika sedang berada dalam kesulitan maupun ketika sedang berada dalam kelapangan.
Menghargai kebahagiaan bukan berarti melupakan masa sulit yang pernah dilewati. Justru ingatan terhadap masa sulit seharusnya menjadi sumber kebijaksanaan. Kesulitan mengajarkan kesabaran, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ketika seseorang berhasil melewati masa-masa itu, seharusnya ia membawa pelajaran tersebut ke dalam masa bahagia yang ia rasakan.
Rasa syukur yang sejati sebenarnya tidak hanya muncul ketika seseorang menerima sesuatu yang ia inginkan. Rasa syukur yang sejati adalah kemampuan untuk tetap mengingat dan menghargai perjalanan hidup secara utuh. Ia tidak bergantung pada keadaan semata. Dalam keadaan sulit, rasa syukur muncul dalam bentuk harapan. Dalam keadaan bahagia, rasa syukur muncul dalam bentuk kesadaran bahwa kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang datang tanpa makna.
Masalahnya, manusia sering kali terlalu cepat beradaptasi dengan kenyamanan. Apa yang dahulu dianggap sebagai anugerah besar, lama-kelamaan menjadi hal yang dianggap biasa. Inilah yang membuat rasa syukur memudar tanpa disadari. Bukan karena manusia tidak ingin bersyukur, tetapi karena ia terbiasa dengan apa yang ia miliki. Kebiasaan membuat keajaiban terasa biasa, dan ketika sesuatu terasa biasa, manusia cenderung berhenti memikirkannya.
Di sinilah pentingnya kesadaran diri. Manusia perlu sesekali berhenti sejenak dan mengingat kembali perjalanan hidupnya. Mengingat hari-hari ketika harapan terasa jauh, ketika doa menjadi satu-satunya pegangan, dan ketika harapan kecil terasa sangat berharga. Ingatan seperti ini bukan untuk membuka kembali luka lama, tetapi untuk menjaga kerendahan hati.
Ketika seseorang mampu mengingat masa sulitnya dengan jujur, ia akan lebih mampu menghargai kebahagiaan yang ia miliki. Ia tidak akan mudah merasa sombong atau lupa diri, karena ia tahu bahwa kehidupan dapat berubah kapan saja. Kesadaran ini membuat kebahagiaan terasa lebih bermakna, bukan sekadar kenyamanan yang dinikmati tanpa pemahaman.
Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang keluar dari kesulitan dan mencapai kebahagiaan. Kehidupan juga tentang bagaimana manusia menjaga ingatan dan kesadarannya sepanjang perjalanan itu. Kesulitan seharusnya mengajarkan kerendahan hati, dan kebahagiaan seharusnya menguatkan rasa syukur.
Jika manusia mampu menjaga ingatan ini, maka kebahagiaan tidak akan membuatnya lupa, dan kesulitan tidak akan membuatnya putus asa. Ia akan berjalan dengan kesadaran bahwa setiap keadaan memiliki maknanya sendiri. Dengan demikian, doa yang pernah dipanjatkan saat sulit tidak akan hilang begitu saja ketika kebahagiaan datang, melainkan tetap hidup sebagai pengingat bahwa segala sesuatu dalam kehidupan memiliki asal dan tujuan yang lebih dalam.
Salam Ramadan
Diantara Cukup dan Tenang
Oleh: Sudjarwo,
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Bandar Lampung ( malahayati.co.id ) – Selepas sholat subuh di suatu pesantren; seorang santri muda mendekati Kiai di serambi pondok, dan berkata: “Yai, kenapa saya merasa selalu kurang, padahal kebutuhan sudah tercukupi?” tanya santri muda tadi. Suaranya lirih, seolah takut mengganggu ketenangan pagi yang masih diselimuti embun.
Sang kiai tidak segera menjawab. Ia memandang halaman pesantren yang masih lengang, lalu berkata pelan, “Nak, yang sering kurang itu bukan hidupmu, melainkan ukuranmu tentang hidup.” Santri itu mengangkat wajahnya. “Bukankah cukup berarti punya banyak, Yai?”. “Tidak selalu,” jawab sang kiai, sambil tersenyum tipis. “Banyak belum tentu cukup, dan sedikit belum tentu kurang. Cukup itu bukan urusan angka, melainkan urusan hati. Kalau hatimu gaduh, sebanyak apa pun yang kau punya tak akan terasa cukup. Tapi kalau hatimu tenang, yang sedikit pun bisa terasa lapang.”
Percakapan itu berhenti, tetapi maknanya tidak. Ia justru membuka pintu bagi pertanyaan yang lebih besar tentang cara manusia modern memahami hidup. Di balik dialog sederhana di pondok pesantren, tersembunyi kritik halus terhadap logika zaman yang menilai keberhasilan dari akumulasi dan kecepatan. Dunia kontemporer membentuk kesadaran bahwa hidup yang baik adalah hidup yang senantiasa bertambah: harta harus meningkat, prestasi harus naik, dan pengalaman harus semakin beragam. Namun ironisnya, di tengah kelimpahan tersebut, rasa cukup justru semakin sulit ditemukan.
Filsafat kontemporer membaca fenomena ini sebagai krisis makna. Manusia tidak kekurangan pilihan, tetapi kehilangan orientasi.
“Cukup” dan “kurang” tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan riil, melainkan oleh perbandingan tanpa henti. Media, teknologi, dan budaya kompetisi menjadikan hidup sebagai etalase pencapaian. Dalam situasi seperti ini, rasa kurang tidak muncul karena ketiadaan, tetapi karena kesadaran yang terus digeser untuk menginginkan lebih. Akibatnya, manusia hidup dalam keadaan tidak pernah tiba, selalu menuju, tetapi jarang berhenti.
Pernyataan bahwa banyak belum tentu cukup dan sedikit belum tentu kurang menantang asumsi dasar tersebut. Ia mengingatkan bahwa cukup adalah pengalaman eksistensial, bukan kondisi material semata. Dalam filsafat kontemporer, pengalaman hidup tidak dipahami sebagai fakta objektif yang berdiri sendiri, melainkan sebagai hasil interaksi antara dunia dan kesadaran. Dua orang dapat berada dalam kondisi yang sama, tetapi menghayatinya secara berbeda. Perbedaan itu terletak pada cara memaknai, bukan pada jumlah yang dimiliki.
Dari sini, ajakan untuk tidak mengejar hidup senang, melainkan hidup tenang, menjadi relevan. Hidup senang sering kali dipahami sebagai rangkaian kepuasan instan: terpenuhinya keinginan, tercapainya target, atau diperolehnya pengakuan. Namun kesenangan bersifat rapuh. Ia bergantung pada kondisi eksternal yang mudah berubah dan selalu menuntut pengulangan. Ketika kesenangan dijadikan tujuan utama, manusia akan terjebak dalam siklus hasrat yang tidak pernah selesai. Begitu satu keinginan terpenuhi, keinginan lain segera menggantikannya.
Hidup tenang tidak berarti hidup tanpa masalah atau tanpa ambisi. Ketenangan adalah sikap batin yang memungkinkan manusia menghadapi kenyataan tanpa terus-menerus dilanda kegelisahan. Ia lahir dari kesadaran akan batas: batas kemampuan, batas keinginan, dan batas kontrol manusia atas hidupnya. Filsafat kontemporer memandang pengakuan terhadap batas ini sebagai bentuk kebijaksanaan. Dengan menyadari bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, manusia justru memperoleh kebebasan batin.
Dalam kerangka ini, mengajari hati untuk bersabar dan bersyukur dalam segala hal menjadi latihan etis yang penting. Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan kemampuan menunda reaksi dan memberi ruang bagi refleksi. Di dunia yang serba cepat, kesabaran sering disalahpahami sebagai ketertinggalan. Padahal, tanpa kesabaran, manusia mudah terjebak dalam keputusan impulsif dan penilaian dangkal. Kesabaran memungkinkan manusia melihat proses sebagai bagian dari makna hidup, bukan sekadar hambatan menuju tujuan.
Rasa syukur, di sisi lain, adalah bentuk penerimaan aktif terhadap kehidupan. Bersyukur bukan berarti menutup mata terhadap penderitaan atau ketidakadilan, tetapi mengakui bahwa hidup selalu mengandung nilai, bahkan dalam keterbatasan. Filsafat kontemporer melihat rasa syukur sebagai cara manusia berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dengan bersyukur, manusia berhenti menunda kebahagiaan ke masa depan dan mulai hadir di saat ini. Kehadiran inilah yang menjadi dasar ketenangan.
Filsafat kontemporer menegaskan bahwa makna tidak selalu ditemukan, tetapi sering kali diciptakan melalui sikap. Dengan prasangka baik, manusia tidak mengubah fakta, tetapi mengubah cara berelasi dengan fakta tersebut. Hal ini memberi ruang bagi ketenangan, karena manusia tidak lagi memaksa hidup untuk selalu sesuai dengan keinginannya. Ia belajar menerima bahwa hidup memiliki logikanya sendiri yang tidak selalu dapat dipahami secara instan.
Pada akhirnya, dialog antara kiai dan santri itu mencerminkan pencarian manusia kontemporer secara umum. Di tengah dunia yang bising, cepat, dan kompetitif, manusia merindukan kesederhanaan makna. Ia lelah mengejar kesenangan yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Yang dibutuhkan bukan tambahan, melainkan penataan ulang orientasi hidup. Bukan hidup yang paling senang, tetapi hidup yang paling tenang.
Salam Ramadan (R-1)
LPPM Universitas Malahayati Laksanakan Monev dan Berikan Apresiasi kepada Prodi Berprestasi dalam Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Malahayati melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) terhadap pencapaian luaran penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan Universitas Malahayati.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, LPPM juga memberikan penilaian serta apresiasi kepada program studi yang menunjukkan kinerja terbaik dalam Capaian Luaran Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat selama periode penilaian Tahun 2025.
Berdasarkan hasil evaluasi, tiga program studi dengan capaian luaran penelitian terbaik Tahun 2025 yaitu:
1. Program Studi Manajemen sebagai terbaik pertama.
2. Program Studi Pendidikan Dokter sebagai terbaik kedua.
3. Program Studi Kesehatan Masyarakat sebagai terbaik ketiga.
Sementara itu, untuk kategori capaian luaran Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun 2025, tiga program studi terbaik yaitu:
1. Program Studi Manajemen sebagai terbaik pertama.
2. Program Studi Kesehatan Masyarakat sebagai terbaik kedua.
3. Program Studi Teknik Lingkungan sebagai terbaik ketiga.
Penghargaan dan apresiasi kepada program studi berprestasi tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, M.Kes, serta Wakil Rektor III, Dr. Eng. Rina Febrina, S.T., M.T.
Ketua LPPM Universitas Malahayati, Prof. Erna Listyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas penelitian serta pengabdian kepada masyarakat di lingkungan Universitas Malahayati.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua LPPM Eka Yudha Chrisanto, S.Kep., Ns., M.Kep, Sekretaris LPPM Dewi Avianti, S.E., S.Psi, Ketua LPMI Universitas Malahayati, serta para dosen di lingkungan Universitas Malahayati.
Melalui kegiatan ini diharapkan seluruh program studi dapat terus meningkatkan kinerja dalam menghasilkan luaran penelitian yang berkualitas serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak nyata bagi masyarakat luas. Apresiasi yang diberikan juga diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh civitas akademika Universitas Malahayati untuk terus berprestasi dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta pemberdayaan masyarakat.
# Lppm Unggul
# Riset Unggul
# PKm Berdampak
Editor : Chandra faza
Silaturahmi dan Buka Bersama, Universitas Malahayati Perkuat Kebersamaan di Bulan Ramadan.
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan kebersamaan di bulan suci Ramadan, keluarga besar Universitas Malahayati menggelar kegiatan Silaturahmi dan Buka Bersama yang diikuti oleh dosen dan karyawan. Acara tersebut dilaksanakan pada Kamis, 12 Maret 2026 di Swiss-Belhotel Lampung.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh civitas akademika untuk berkumpul dalam suasana penuh kekeluargaan, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di lingkungan kampus. Acara ini di hadiri oleh : Rektor Universitas Malahayati : Dr. H. Muhammad Kadafi, SH,. MH, Rektor Abulyatama : Bapak R. Agung Efrio Hadi, Sekertaris Yayasan : Ibu Eli Zuana, MARS., Wakil Kadin Lampung : Bapak Irfan Ghani, Ketua MUI Pesawaran : KH.Ahmad Ruydi Ubaidillah Abror Spd., Wakil Rektor 1, Bapak Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep.,Ns.,M.Kes., Wakil Rektor 2, Bapak Drs Nirwanto, M.Kes., Wakil Rektor 3, Ibu Dr. Eng. Rina Febrina, ST.,MT., Wakil Rektor 4, Bapak Drs Suharman, M.Pd.,M.Kes.
Dalam sambutannya, Rektor Dr. H. Muhammad Kadafi, SH,. MH, menyampaikan bahwa bulan suci Ramadan merupakan waktu yang sangat tepat untuk mempererat hubungan antar sesama serta memperkuat semangat bekerja dengan niat ibadah.
Beliau menekankan pentingnya menjaga nilai kekeluargaan, semangat kebersamaan, dan keberkahan Ramadan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menjalankan tugas di lingkungan universitas.
“Momentum Ramadan ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperkuat kebersamaan, meningkatkan semangat dalam bekerja, serta berharap keberkahan dari Allah SWT dalam setiap langkah yang kita lakukan,” ujarnya.
Selain itu, beliau juga mengajak seluruh dosen dan karyawan untuk menjadikan Ramadan sebagai sarana memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan, sehingga semangat tersebut dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan universitas.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah keagamaan oleh H.Ahmad Ruydi Ubaidillah Abror Spd, yang menyampaikan pesan tentang pentingnya berlomba-lomba dalam kebaikan, terutama di bulan suci Ramadan. Dalam tausiah tersebut disampaikan bahwa Ramadan merupakan kesempatan bagi setiap muslim untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak amal, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Para peserta diajak untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum memperbanyak amal saleh, mempererat silaturahmi, serta menanamkan nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana hangat dan penuh kebersamaan semakin terasa ketika menjelang waktu berbuka puasa, di mana seluruh peserta bersama-sama menikmati hidangan berbuka dalam suasana yang penuh kekeluargaan.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan bersalaman dan saling memaafkan antar sesama dosen dan karyawan sebagai bentuk mempererat silaturahmi serta menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri dengan hati yang bersih dan penuh kebersamaan.
Kegiatan ini diharapkan dapat terus memperkuat hubungan kekeluargaan di lingkungan Universitas Malahayati serta membawa keberkahan bagi seluruh civitas akademika dalam menjalankan aktivitas di bulan suci Ramadan.
Editor : Chandra Faza
LUPA SETELAH SELAMAT
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Di sebuah serambi sederhana pada sore hari, seorang santri duduk bersila di hadapan kiainya. Angin berhembus pelan, membawa suasana tenang yang membuat percakapan terasa lebih dalam.
“Santri,” kata sang kiai dengan suara lembut, “pernahkah kamu memperhatikan bagaimana manusia bersikap ketika hidupnya sedang sulit?”
Santri itu berpikir sejenak, lalu menjawab, “Biasanya mereka menjadi lebih banyak berdoa, lebih rajin beribadah, dan lebih sering meminta pertolongan, termasuk pertolongan pada Tuhan.”
Kiai tersenyum tipis. “Benar. Saat hati terdesak oleh kesulitan, manusia menjadi sangat sadar bahwa dirinya lemah. Ia memohon dengan sungguh-sungguh, seolah seluruh harapannya digantungkan pada doa.”
Santri mengangguk pelan. “Namun saya juga sering melihat sesuatu yang aneh, Kiai.”
“Apa itu?” tanya sang kiai.
“Ketika keadaan sudah membaik, ketika rezeki menjadi lancar dan hidup terasa mudah, banyak orang justru mulai melupakan doa-doa yang dulu mereka panjatkan.”
Kiai menatap jauh ke halaman pesantren. “Itulah salah satu sifat manusia yang paling sering terjadi. Ketika sulit, mereka meminta bersama-sama dengan harapan yang besar. Namun ketika senang, mereka sering lupa segalanya.”
Santri tampak merenung. “Apakah itu berarti manusia memang mudah lupa, Kiai?”
“Ya,” jawab kiai perlahan. “Lupa bukan hanya tentang ingatan, tetapi juga tentang kesadaran. Kesenangan kadang membuat manusia merasa seolah-olah ia tidak lagi membutuhkan pertolongan.”
Santri menundukkan kepala. “Lalu bagaimana agar kita tidak menjadi seperti itu?”
Kiai kembali tersenyum. “Caranya sederhana, tetapi tidak mudah: jangan pernah melupakan masa sulitmu. Ingatlah bagaimana kamu berdoa saat itu. Jika ingatan itu kamu jaga, maka kebahagiaan tidak akan membuatmu lupa diri.”
Santri mengangguk pelan, menyadari bahwa pelajaran tentang hidup sering datang dari hal-hal yang terlihat sederhana.
Fenomena ini bukanlah sesuatu yang asing. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Ketika seseorang berada dalam kesulitan ekonomi, sakit, atau menghadapi kegagalan, ia menjadi lebih rajin berdoa, lebih tekun merenung, dan lebih sering mengingat nilai-nilai kehidupan. Kesadaran tentang betapa rapuhnya manusia membuatnya ingin mendekat pada harapan dan kebaikan. Dalam momen seperti itu, hati terasa jujur dan tulus, karena tidak ada lagi yang dapat diandalkan selain harapan dan doa.
Namun ketika keadaan berubah menjadi lebih baik, manusia sering kali merasa seolah-olah semua keberhasilan itu adalah hasil dari usahanya sendiri. Rasa syukur yang dahulu begitu hangat perlahan berubah menjadi rasa biasa. Doa yang dahulu dipanjatkan setiap malam mulai jarang diucapkan. Kesadaran tentang keterbatasan diri pun perlahan menghilang. Kehidupan yang nyaman membuat manusia merasa aman, bahkan terkadang merasa tidak lagi membutuhkan tempat untuk bersandar.
Sifat mudah lupa inilah yang sering menjadi bagian dari perjalanan manusia. Ingatan manusia ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh waktu, tetapi juga oleh keadaan. Penderitaan membuat manusia mengingat, sementara kesenangan sering membuat manusia lengah. Dalam keadaan sulit, manusia menyadari bahwa hidup tidak selalu berada dalam kendali. Tetapi ketika keadaan membaik, ia sering kembali pada keyakinan lama bahwa dirinya mampu mengendalikan segalanya.
Padahal kehidupan memiliki cara yang unik untuk mengingatkan manusia. Kesulitan dan kebahagiaan datang silih berganti seperti dua sisi dari satu perjalanan yang sama. Tidak ada keadaan yang benar-benar permanen. Hari yang cerah dapat berubah menjadi mendung, dan masa yang berat dapat berubah menjadi ringan. Jika manusia menyadari hal ini dengan lebih dalam, ia mungkin akan belajar untuk tidak mudah lupa, baik ketika sedang berada dalam kesulitan maupun ketika sedang berada dalam kelapangan.
Menghargai kebahagiaan bukan berarti melupakan masa sulit yang pernah dilewati. Justru ingatan terhadap masa sulit seharusnya menjadi sumber kebijaksanaan. Kesulitan mengajarkan kesabaran, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ketika seseorang berhasil melewati masa-masa itu, seharusnya ia membawa pelajaran tersebut ke dalam masa bahagia yang ia rasakan.
Rasa syukur yang sejati sebenarnya tidak hanya muncul ketika seseorang menerima sesuatu yang ia inginkan. Rasa syukur yang sejati adalah kemampuan untuk tetap mengingat dan menghargai perjalanan hidup secara utuh. Ia tidak bergantung pada keadaan semata. Dalam keadaan sulit, rasa syukur muncul dalam bentuk harapan. Dalam keadaan bahagia, rasa syukur muncul dalam bentuk kesadaran bahwa kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang datang tanpa makna.
Masalahnya, manusia sering kali terlalu cepat beradaptasi dengan kenyamanan. Apa yang dahulu dianggap sebagai anugerah besar, lama-kelamaan menjadi hal yang dianggap biasa. Inilah yang membuat rasa syukur memudar tanpa disadari. Bukan karena manusia tidak ingin bersyukur, tetapi karena ia terbiasa dengan apa yang ia miliki. Kebiasaan membuat keajaiban terasa biasa, dan ketika sesuatu terasa biasa, manusia cenderung berhenti memikirkannya.
Di sinilah pentingnya kesadaran diri. Manusia perlu sesekali berhenti sejenak dan mengingat kembali perjalanan hidupnya. Mengingat hari-hari ketika harapan terasa jauh, ketika doa menjadi satu-satunya pegangan, dan ketika harapan kecil terasa sangat berharga. Ingatan seperti ini bukan untuk membuka kembali luka lama, tetapi untuk menjaga kerendahan hati.
Ketika seseorang mampu mengingat masa sulitnya dengan jujur, ia akan lebih mampu menghargai kebahagiaan yang ia miliki. Ia tidak akan mudah merasa sombong atau lupa diri, karena ia tahu bahwa kehidupan dapat berubah kapan saja. Kesadaran ini membuat kebahagiaan terasa lebih bermakna, bukan sekadar kenyamanan yang dinikmati tanpa pemahaman.
Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang keluar dari kesulitan dan mencapai kebahagiaan. Kehidupan juga tentang bagaimana manusia menjaga ingatan dan kesadarannya sepanjang perjalanan itu. Kesulitan seharusnya mengajarkan kerendahan hati, dan kebahagiaan seharusnya menguatkan rasa syukur.
Jika manusia mampu menjaga ingatan ini, maka kebahagiaan tidak akan membuatnya lupa, dan kesulitan tidak akan membuatnya putus asa. Ia akan berjalan dengan kesadaran bahwa setiap keadaan memiliki maknanya sendiri. Dengan demikian, doa yang pernah dipanjatkan saat sulit tidak akan hilang begitu saja ketika kebahagiaan datang, melainkan tetap hidup sebagai pengingat bahwa segala sesuatu dalam kehidupan memiliki asal dan tujuan yang lebih dalam.
Salam Ramadan
Mahasiswi Universitas Malahayati Raih Prestasi Miss Lampung Berbakat 2025
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) –
Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Marifatuz Zahra (NPM 23500010) berhasil meraih penghargaan Miss Lampung Berbakat dalam ajang pemilihan Mister dan Miss Lampung 2025 yang berlangsung pada 22–29 November 2025 di Swiss-Belhotel Lampung.
Ajang Mister dan Miss Lampung merupakan salah satu kompetisi bergengsi yang bertujuan untuk mencari generasi muda berprestasi yang tidak hanya memiliki penampilan menarik, tetapi juga memiliki bakat, kecerdasan, serta kemampuan berkontribusi positif bagi masyarakat. Dalam kompetisi tersebut, Marifatuz Zahra berhasil menunjukkan kemampuan dan bakat yang dimilikinya sehingga terpilih sebagai penerima penghargaan Miss Lampung Berbakat.
Keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Universitas Malahayati. Prestasi yang diraih Marifatuz Zahra membuktikan bahwa mahasiswa Universitas Malahayati mampu mengembangkan potensi diri tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga di bidang seni, bakat, dan pengembangan diri.
Universitas Malahayati terus mendorong mahasiswanya untuk aktif berprestasi dan mengembangkan kemampuan di berbagai bidang, baik akademik maupun nonakademik, sebagai bagian dari upaya mencetak generasi muda yang unggul, percaya diri, dan mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional.
Editor : Chandra Faza
Diantara Cukup dan Tenang
Oleh: Sudjarwo,
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) – Selepas sholat subuh di suatu pesantren; seorang santri muda mendekati Kiai di serambi pondok, dan berkata: “Yai, kenapa saya merasa selalu kurang, padahal kebutuhan sudah tercukupi?” tanya santri muda tadi. Suaranya lirih, seolah takut mengganggu ketenangan pagi yang masih diselimuti embun.
Sang kiai tidak segera menjawab. Ia memandang halaman pesantren yang masih lengang, lalu berkata pelan, “Nak, yang sering kurang itu bukan hidupmu, melainkan ukuranmu tentang hidup.” Santri itu mengangkat wajahnya. “Bukankah cukup berarti punya banyak, Yai?”. “Tidak selalu,” jawab sang kiai, sambil tersenyum tipis. “Banyak belum tentu cukup, dan sedikit belum tentu kurang. Cukup itu bukan urusan angka, melainkan urusan hati. Kalau hatimu gaduh, sebanyak apa pun yang kau punya tak akan terasa cukup. Tapi kalau hatimu tenang, yang sedikit pun bisa terasa lapang.”
Percakapan itu berhenti, tetapi maknanya tidak. Ia justru membuka pintu bagi pertanyaan yang lebih besar tentang cara manusia modern memahami hidup. Di balik dialog sederhana di pondok pesantren, tersembunyi kritik halus terhadap logika zaman yang menilai keberhasilan dari akumulasi dan kecepatan. Dunia kontemporer membentuk kesadaran bahwa hidup yang baik adalah hidup yang senantiasa bertambah: harta harus meningkat, prestasi harus naik, dan pengalaman harus semakin beragam. Namun ironisnya, di tengah kelimpahan tersebut, rasa cukup justru semakin sulit ditemukan.
Filsafat kontemporer membaca fenomena ini sebagai krisis makna. Manusia tidak kekurangan pilihan, tetapi kehilangan orientasi.
“Cukup” dan “kurang” tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan riil, melainkan oleh perbandingan tanpa henti. Media, teknologi, dan budaya kompetisi menjadikan hidup sebagai etalase pencapaian. Dalam situasi seperti ini, rasa kurang tidak muncul karena ketiadaan, tetapi karena kesadaran yang terus digeser untuk menginginkan lebih. Akibatnya, manusia hidup dalam keadaan tidak pernah tiba, selalu menuju, tetapi jarang berhenti.
Pernyataan bahwa banyak belum tentu cukup dan sedikit belum tentu kurang menantang asumsi dasar tersebut. Ia mengingatkan bahwa cukup adalah pengalaman eksistensial, bukan kondisi material semata. Dalam filsafat kontemporer, pengalaman hidup tidak dipahami sebagai fakta objektif yang berdiri sendiri, melainkan sebagai hasil interaksi antara dunia dan kesadaran. Dua orang dapat berada dalam kondisi yang sama, tetapi menghayatinya secara berbeda. Perbedaan itu terletak pada cara memaknai, bukan pada jumlah yang dimiliki.
Dari sini, ajakan untuk tidak mengejar hidup senang, melainkan hidup tenang, menjadi relevan. Hidup senang sering kali dipahami sebagai rangkaian kepuasan instan: terpenuhinya keinginan, tercapainya target, atau diperolehnya pengakuan. Namun kesenangan bersifat rapuh. Ia bergantung pada kondisi eksternal yang mudah berubah dan selalu menuntut pengulangan. Ketika kesenangan dijadikan tujuan utama, manusia akan terjebak dalam siklus hasrat yang tidak pernah selesai. Begitu satu keinginan terpenuhi, keinginan lain segera menggantikannya.
Hidup tenang tidak berarti hidup tanpa masalah atau tanpa ambisi. Ketenangan adalah sikap batin yang memungkinkan manusia menghadapi kenyataan tanpa terus-menerus dilanda kegelisahan. Ia lahir dari kesadaran akan batas: batas kemampuan, batas keinginan, dan batas kontrol manusia atas hidupnya. Filsafat kontemporer memandang pengakuan terhadap batas ini sebagai bentuk kebijaksanaan. Dengan menyadari bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, manusia justru memperoleh kebebasan batin.
Dalam kerangka ini, mengajari hati untuk bersabar dan bersyukur dalam segala hal menjadi latihan etis yang penting. Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan kemampuan menunda reaksi dan memberi ruang bagi refleksi. Di dunia yang serba cepat, kesabaran sering disalahpahami sebagai ketertinggalan. Padahal, tanpa kesabaran, manusia mudah terjebak dalam keputusan impulsif dan penilaian dangkal. Kesabaran memungkinkan manusia melihat proses sebagai bagian dari makna hidup, bukan sekadar hambatan menuju tujuan.
Rasa syukur, di sisi lain, adalah bentuk penerimaan aktif terhadap kehidupan. Bersyukur bukan berarti menutup mata terhadap penderitaan atau ketidakadilan, tetapi mengakui bahwa hidup selalu mengandung nilai, bahkan dalam keterbatasan. Filsafat kontemporer melihat rasa syukur sebagai cara manusia berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dengan bersyukur, manusia berhenti menunda kebahagiaan ke masa depan dan mulai hadir di saat ini. Kehadiran inilah yang menjadi dasar ketenangan.
Filsafat kontemporer menegaskan bahwa makna tidak selalu ditemukan, tetapi sering kali diciptakan melalui sikap. Dengan prasangka baik, manusia tidak mengubah fakta, tetapi mengubah cara berelasi dengan fakta tersebut. Hal ini memberi ruang bagi ketenangan, karena manusia tidak lagi memaksa hidup untuk selalu sesuai dengan keinginannya. Ia belajar menerima bahwa hidup memiliki logikanya sendiri yang tidak selalu dapat dipahami secara instan.
Pada akhirnya, dialog antara kiai dan santri itu mencerminkan pencarian manusia kontemporer secara umum. Di tengah dunia yang bising, cepat, dan kompetitif, manusia merindukan kesederhanaan makna. Ia lelah mengejar kesenangan yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Yang dibutuhkan bukan tambahan, melainkan penataan ulang orientasi hidup. Bukan hidup yang paling senang, tetapi hidup yang paling tenang.
Salam Ramadan (R-1)
3 Mahasiswa S1 Manajemen Universitas Malahayati Raih Prestasi di Ajang Mister dan Miss Lampung Ambassador 2026
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) –Mahasiswa Universitas Malahayati kembali menorehkan prestasi membanggakan di ajang pengembangan bakat dan potensi generasi muda. Tiga mahasiswa dari Program Studi S1 Manajemen Universitas Malahayati berhasil meraih prestasi pada ajang Mister dan Miss Lampung Ambassador yang diselenggarakan pada 18 Januari 2026.
Editor : Chandra Faza
Perkuat Kompetensi Profesional, Universitas Malahayati Buka Pendaftaran Program Pascasarjana 2026
BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Universitas Malahayati Bandar Lampung kembali membuka kesempatan bagi para lulusan sarjana untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Melalui Program Pascasarjana (S2), universitas ini menawarkan jalur akademik yang fleksibel untuk mendukung peningkatan karier para profesional di bidang kesehatan dan ekonomi.
Pada periode pendaftaran Maret-Juli 2026, Universitas Malahayati memfokuskan pada dua program studi utama, yakni Magister Kesehatan Masyarakat (S2 Kesmas) dan Magister Akuntansi (S2 Akuntansi). Keduanya hadir dengan kurikulum yang dirancang untuk menjawab tantangan industri masa kini.
Variasi Kelas dan Jalur Rekognisi (RPL) Untuk program S2 Kesehatan Masyarakat, universitas menyediakan tiga jalur pilihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa:
Kelas Reguler: Bagi mahasiswa yang fokus pada jalur akademik standar.
Kelas Khusus Eksekutif: Dirancang khusus untuk para profesional dengan jadwal yang lebih fleksibel.
Jalur RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau): Memungkinkan pengalaman kerja dikonversi menjadi kredit mata kuliah, sehingga masa studi dapat ditempuh dengan lebih efisien.
Penawaran Khusus: Bebas Sumbangan Wajib S2 Akuntansi Dalam upaya mendukung peningkatan sumber daya manusia di bidang keuangan, Universitas Malahayati merilis kebijakan khusus untuk program S2 Akuntansi Reguler. Selama periode pendaftaran Maret-Juli 2026, calon mahasiswa akan dibebaskan dari biaya Sumbangan Wajib (FREE), sehingga total biaya awal menjadi lebih kompetitif, yakni sebesar Rp5.400.000 (mencakup pendaftaran, SPP semester awal, dan PKKMB).
Rincian Biaya dan Fasilitas Pembayaran Berdasarkan data resmi PMB, rincian estimasi total biaya awal untuk program lainnya adalah sebagai berikut:
Pihak kampus juga menegaskan bahwa seluruh sistem pembayaran bersifat transparan dan dapat dilakukan melalui sistem angsuran untuk meringankan beban mahasiswa. Transaksi resmi hanya dilayani di Loket Keuangan, Gedung Rektorat Lantai 5.
Informasi Pendaftaran Masyarakat yang ingin mendaftar dapat memproses aplikasi secara mandiri dengan memindai QR Code yang tersedia di brosur resmi atau menghubungi pusat informasi di nomor 0811-7970-0505. Informasi lebih lanjut juga dapat diakses melalui situs resmi
malahayati.ac.idatau mengunjungi langsung Gedung Rektorat di Jalan Pramuka No. 27, Kemiling, Bandar Lampung.Editor : Chandra Faza