Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Tulisan ini terinspirasi dari membaca banyak sumber tentang kematian dalam konsep filsafat manusia; dan oleh karena itu deskrepsi analisisnya lebih pada dialog batin. Untuk itu dalam membaca adegan dan analisis tulisan ini, mari memposisikan diri sebagai pembaca instrospektif yang naratif. Jika ada kebenaran di sana, sejatinya itu milik Sang Maha Pencipta, dan jika ada kehilafan di sana itu milik penulis, maka ampunkan atasnya. Mari kita mulai dialog imajinatif itu:
Roh bertanya pada Badan: “Badan, kamu gemetar.”
“Aku lelah,” jawab Badan. “Setiap sendi terasa berat. Napas tidak lagi patuh.”
“Itu tanda waktunya dekat,” kata Roh pelan.
“Jadi aku akan berhenti?” sergah Badan.
“Iya” Jawab Roh. “Kamu sudah bekerja cukup lama.”
Badan terdiam. “Aku menahan banyak hal,” katanya kemudian. “Sakit, tuntutan, dan keinginan orang lain. Aku bertahan supaya tetap kuat di mata mereka.”
“Dan aku ikut menyesuaikan,” sahut Roh. “Aku belajar diam agar kita tetap diterima.”
“Apakah itu salah?” Jawab Badan. Roh menjawab, “Tidak. Tapi itu melelahkan.”
Badan menarik napas pendek. “Aku berharap mereka yang dekat akan tinggal sampai akhir.”
“Sebagian tinggal,” kata Roh, “sebagian hanya dekat dalam jarak, bukan dalam penerimaan.”
“Aku takut dilepas,” bisik Badan.
“Kamu tidak dilepas,” jawab Roh lembut. “Kamu diselesaikan.”
“Apa yang akan kamu bawa nanti?” kata Badan kepada Roh.
“Aku membawa semua yang jujur,” kata Roh. “Yang pura-pura akan tertinggal di sini, bersamamu.”
Badan terasa lebih ringan. “Jadi aku boleh berhenti berusaha?”
“Iya,” kata Roh. “Tidak perlu lagi kuat. Tidak perlu lagi cukup bagi semua orang.”
Hening sejenak.
“Kalau aku diam selamanya,” tanya Badan, “kamu baik-baik saja?”
Roh menjawab sambil tersenyum. “Aku justru baru mulai berjalan.”
Badan menghembuskan napas terakhir.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita sampai di garis finis bersama.”
Dialog itu adalah gema terakhir sebelum langkah memasuki lorong yang sesungguhnya. Setelah percakapan dengan malaikat pencabut nyawa berakhir, tidak ada lagi tanya-jawab, tidak ada lagi tawar-menawar batin. Yang tersisa hanyalah kesadaran penuh bahwa manusia itu telah sampai pada garis finis di lorong kematian, sebuah ruang batin di mana hidup tidak lagi dinilai dari lamanya waktu, melainkan dari kejujuran yang akhirnya muncul.
Percakapan singkat tersebut menyingkap sesuatu yang selama hidup kerap disembunyikan: bahwa di ujung perjalanan, manusia tidak berhadapan dengan penilaian orang lain, melainkan dengan dirinya sendiri. Malaikat tidak menanyakan pencapaian, tidak menyebut nama orang-orang terdekat, dan tidak mengungkit siapa yang setia atau yang menjauh. Ia hanya berbicara tentang pelepasan. Sebab lorong kematian bukan tempat pembelaan, melainkan tempat berhenti membawa beban.
Dalam bayangan banyak orang, garis finis kematian seharusnya dipenuhi wajah-wajah akrab, tangan-tangan yang menggenggam erat, dan kalimat perpisahan yang hangat. Namun pengalaman batin manusia modern sering berbeda. Di lorong itu justru muncul kesadaran yang sunyi: bahwa kedekatan yang selama ini diyakini tidak selalu berarti kehangatan. Banyak relasi dibangun dari kebiasaan, kewajiban, dan peran, bukan dari penerimaan yang utuh. Maka ketika tubuh melemah dan perannya runtuh, maka yang tersisa hanyalah rasa; diterima atau tidak, jujur atau pura-pura.
Lorong kematian bekerja seperti cermin panjang. Setiap langkah memantulkan ulang keputusan-keputusan kecil yang diambil selama hidup: kapan memilih diam agar tidak ditolak, kapan mengalah agar tetap dianggap baik, kapan menekan diri demi menjaga kedekatan. Semua itu mungkin terlihat wajar ketika hidup masih panjang. Namun di dekat garis finis, pilihan-pilihan itu menampakkan konsekuensinya. Bukan dalam bentuk hukuman, melainkan kelelahan batin yang mendalam.
Dialog dengan malaikat menegaskan bahwa kelelahan itu bukan kegagalan. “Kamu hidup,” katanya, “itu bukan kegagalan.” Kalimat ini terasa sederhana, tetapi dalam konteks lorong kematian, ia menjadi penawar. Hidup tidak diukur dari seberapa disukai seseorang oleh yang terdekat, melainkan dari keberanian untuk hadir sebagai diri sendiri. Sayangnya, keberanian ini sering datang terlambat, ketika tubuh tak lagi memberi kesempatan untuk memperbaiki relasi atau mengulang kejujuran.
Dalam kehidupan kontemporer, relasi kerap dipoles dengan keharmonisan semu. Konflik dihindari, perbedaan disamarkan, dan kejujuran ditunda demi menjaga stabilitas. Kedekatan menjadi sesuatu yang fungsional, bukan emosional. Kita dekat karena tinggal bersama, bekerja bersama, atau terikat struktur sosial yang sama. Namun kedekatan semacam ini rapuh. Ia bertahan lama, tetapi sering meninggalkan kehampaan yang baru terasa ketika segalanya harus dilepas.
Lorong kematian mengajarkan bahwa tidak semua relasi perlu dibawa sampai garis finis. Malaikat berkata, “Kamu tidak akan membawa siapa pun.” Kalimat ini bukan ancaman, melainkan pembebasan. Manusia tidak dituntut untuk menuntaskan semua harapan orang lain sebelum pergi. Ia hanya diminta untuk membawa dirinya sendiri, tanpa peran dan tanpa topeng. Di titik ini, rasa bersalah karena tidak cukup bagi semua orang perlahan kehilangan maknanya.
Garis finis di lorong waktu adalah juga lorong kematian, dengan demikian, bukan sekadar akhir biologis, melainkan puncak refleksi eksistensial. Ia memaksa manusia mengakui bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya tentang orang lain. Relasi penting, kedekatan bermakna, tetapi semuanya menjadi rapuh ketika tidak dibangun di atas kejujuran terhadap diri sendiri. Di ujung lorong, keheningan bukan selalu kesepian; sering kali ia adalah kelegaan karena tidak lagi harus berpura-pura.
Ketika malaikat akhirnya berkata, “Ayo, garis finis sudah di depanmu,” itu bukan ajakan menuju kegelapan, melainkan undangan menuju kejujuran terakhir. Kematian, dalam kerangka ini, bukan musuh yang harus ditakuti, tetapi cermin yang terlambat kita lihat. Ia memantulkan bagaimana kita mencintai, bagaimana kita mendekat, dan bagaimana kita perlahan menjauh dari diri sendiri demi diterima.
Garis finis itu harus dilewati sendirian, maka semoga kesendirian itu bukan dipenuhi penyesalan karena terlalu lama hidup dalam kepura-puraan. Semoga ia diisi oleh ketenangan sederhana: bahwa pada akhirnya, manusia itu berhenti berlari, berhenti menyesuaikan diri, dan tiba sebagai dirinya sendiri; utuh, jujur, dan tanpa perlu lagi disukai. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Pak Ujang dan Warung Nasi
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Tepi jalan utama menuju pantai di kota ini, berdiri sebuah warung nasi yang sudah lama ada; bahkan dalam hitungan generasi warung itu sudah dikelola oleh generasi ketiga. Sedikit dialog antara pemilik dan pelanggan; seperti ini,
“Pak, masih buka?” suara seorang pelanggan terdengar di sela deru kendaraan yang melintas cepat, setelah waktu ashar berlalu. “Masih,” jawab Pak Ujang sambil menggeser kursi plastik. Beliau adalah generasi kedua dari warung ini yang sudah usia lanjut, namun masih gesit menunggui anak dan cucu mengelola warung nasi peninggalan mertuanya.
“Silakan duduk. Mau makan apa?” sergah Pak Ujang. “Yang sederhana saja, Pak. Nasi sama sayur. Kalau ada tempe, satu.” Jawab pelanggan. Pak Ujang mengangguk, menyendok nasi dengan tangan yang sedikit bergetar. “Di kota begini, yang sederhana malah sering paling dicari.” Celetukan Pak Ujang. Pelanggan itu tersenyum. “Iya, Pak. Dari tadi muter-muter, yang mahal semua. Di sini rasanya beda, lebih tenang.”
“Tenang itu bukan tempatnya,” kata Pak Ujang pelan. “Orangnya yang harus belajar pelan.” Ia meletakkan piring di meja. Asap nasi mengepul, bercampur bau knalpot. “Silakan. Dimakan selagi hangat.” Pelanggan itu menatap piringnya sesaat. “Pak, warung ini sudah lama ya?” “Lama,” jawab Pak Ujang. “Lebih lama dari gedung-gedung itu.” Ia menunjuk samar ke arah jalan. “Dulu jalannya belum seramai ini.”
“Bapak tiap hari di sini?”sambung pelanggan. “Hampir,” jawab Pak Ujang. “Kalau badan masih mau diajak bangun pagi.” Pelanggan itu ragu sejenak, lalu bertanya, “Pak, kalau ada orang nggak punya uang apakah masih dilayani?”. Pak Ujang tersenyum tipis. “Kalau lapar, ya makan. Urusan uang belakangan.” “Bapak nggak takut kekurangan?” sambung pelanggan penasaran. Pak Ujang menggeleng. “Takut itu kalau nggak bisa bantu apa-apa.
Pelanggan itu terdiam, lalu berkata lirih, “Sekarang jarang orang mikir begitu.” Pak Ujang menatap jalanan yang padat. “Kota ini bikin orang lupa. Tapi kalau semua lupa, warung begini buat apa ada?”. Pelanggan itu mengangguk pelan, melanjutkan makan, sementara Pak Ujang kembali ke dandang, menjaga nasi tetap hangat di tengah kota yang tak pernah benar-benar berhenti
Pak Ujang tidak banyak bicara. Sapanya singkat, geraknya hemat tenaga, seolah ia tahu tubuhnya tak lagi bisa diajak berkompromi. Usia dan sakit-sakitan membuat langkahnya melambat, tetapi kebiasaan lama menuntunnya tetap hadir. Warung nasi itu bukan sekadar tempat bekerja; ia adalah bagian dari hidup yang telah ia jalani puluhan tahun. Warung itu dulu milik mertuanya, kemudian menjadi penopang keluarga, dan kini telah melewati tiga generasi. Anak dan cucunya mengelola sebagian besar pekerjaan, namun kehadiran Pak Ujang tetap menjadi poros yang tak tergantikan.
Di kota yang serba cepat, warung itu bergerak dengan ritme sendiri. Pelanggan datang dari berbagai arah: pekerja harian, sopir, pedagang kecil, dan mereka yang tak lagi ditanya tujuannya. Percakapan singkat sering terjadi, seperti pagi itu, tentang perut yang lelah, tentang jalanan yang ribut sejak subuh. Pak Ujang mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Baginya, warung bukan hanya tempat makan, tetapi ruang kecil untuk saling mengakui keberadaan.
Satu prinsip yang tak pernah berubah sejak warung itu berdiri adalah memberi makan orang yang tidak mampu. Tidak ada papan pengumuman, tidak ada pernyataan resmi. Prinsip itu hidup dalam gerakan tangan yang tetap menyendok nasi meski dompet pelanggan tak dibuka. Di tengah kota yang mengukur segalanya dengan transaksi, tindakan ini tampak sederhana, bahkan naif. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Warung itu bertahan bukan karena strategi besar, melainkan karena keyakinan lama bahwa rezeki tidak selalu datang dari perhitungan, dan tidak akan tertukar.
Dalam konteks kontemporer, warung Pak Ujang mencerminkan wajah lain kota besar: ekonomi informal yang menopang banyak kehidupan tetapi jarang disorot. Ia menjadi jaring pengaman bagi keluarga besar yang hidup bersama anak, menantu, cucu; dalam satu atap dan satu usaha. Di sana, kerja bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga soal kesinambungan. Anak dan cucu belajar bukan dari buku manajemen, melainkan dari pagi yang panjang, dari pelanggan yang datang dan pergi, dan dari keputusan-keputusan kecil tentang memberi atau menahan.
Pak Ujang sendiri kini lebih sering duduk daripada berdiri. Penyakit membuatnya mudah lelah, dan sebagian pekerjaannya telah digantikan oleh anaknya. Termasuk perannya sebagai marbot masjid di dekat warung. Masjid itu dibangun bersama tetangga, dari gotong royong yang kini terasa semakin asing di tengah kota. Dulu, membersihkan masjid dan menyiapkan keperluan ibadah adalah bagian dari rutinitasnya, sama pentingnya dengan membuka warung.
Namun Pak Ujang tidak mengeluh. Ia memahami bahwa hidup adalah tentang bergeser, bukan berhenti. Seperti warung yang kini dikelola generasi berikutnya, perannya pun berubah. Ia menjadi penjaga nilai, bukan lagi penggerak utama. Dalam diam, ia memastikan bahwa prinsip memberi tetap hidup, bahwa warung tidak hanya mengejar untung, dan bahwa manusia tetap didahulukan dari angka.
Melankolia kisah ini lahir dari kesadaran akan waktu. Kota terus tumbuh, trotoar semakin sempit, dan kemungkinan penggusuran selalu membayangi warung pinggir jalan. Anak dan cucu Pak Ujang hidup di persimpangan antara mempertahankan warisan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Namun selama panci masih dipanaskan dan nasi masih dibagi, warung itu tetap menjadi ruang perlawanan kecil terhadap logika kota yang dingin.
Selamat perjuang Pak Ujang, pahlawan kemanusiaan yang tidak memerlukan penghargaan. Berjalan dengan keyakinan, hidup harus diselesaikan, bukan untuk dikeluhkan. Berbagi itu pasti, karena rejeki bukan urusan nanti, itu milih Illahi. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Universitas Malahayati Resmi Buka Malahayati Year Festival 2026, Ajang Prestasi dan Kreativitas Pelajar
Bandarlampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati resmi membuka Malahayati Year Festival (MYF) 2026 yang digelar pada 19–23 Januari 2026 di lingkungan kampus Universitas Malahayati. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32 sekaligus wujud komitmen kampus dalam mendukung pengembangan minat, bakat, dan prestasi pelajar SMA, SMK, dan MA se-Provinsi Lampung.
Acara pembukaan MYF 2026 diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Himne Universitas Malahayati, dilanjutkan dengan laporan Ketua Pelaksana Dies Natalis ke-32 serta sambutan pimpinan universitas. Pembukaan resmi MYF 2026 disampaikan melalui sambutan Rektor Universitas Malahayati yang diwakili oleh Wakil Rektor I, menandai dimulainya rangkaian kompetisi dan kegiatan kreatif selama lima hari ke depan.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., Ketua PMB Romy J Utama, SE., M.Sos., Ketua Pelaksana Dies Natalis ke-32 Dr. M. Arifki Zainaro, S.Kep., Ns., M.Kep., Koordinator Malahayati Year Festival (MYF) Syafik Arisandi, S.S., M.Kes., Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan Muhammad Ricko Gunawan, S.Kep., M.Kes., Kepala Bagian Kemahasiswaan Rudi Winarno, Ns., M.Kes., Kepala Bagian Humas Emil Tanhar, S.Kom., para Dekan fakultas, Kaprodi, serta dosen, tenaga kependidikan, panitia, dan mahasiswa Universitas Malahayati. Turut hadir pula kepala sekolah dan guru pendamping, peserta lomba Malahayati Year Festival 2026, serta tamu undangan lainnya.
Malahayati Year Festival merupakan agenda tahunan yang menghadirkan beragam kegiatan akademik, seni, budaya, kreativitas, dan inovasi. Ajang ini dirancang sebagai ruang aktualisasi bagi pelajar untuk menampilkan potensi terbaiknya sekaligus memperkenalkan atmosfer akademik Universitas Malahayati kepada generasi muda.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., menyampaikan bahwa MYF 2026 menjadi sarana strategis untuk menumbuhkan semangat berprestasi sejak dini.
“Malahayati Year Festival 2026 merupakan bentuk komitmen Universitas Malahayati dalam mendukung pengembangan minat, bakat, dan prestasi generasi muda. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang yang positif, kompetitif, dan inspiratif bagi siswa SMA, SMK, dan MA di Provinsi Lampung,” ujarnya.
Sebagai bagian dari rangkaian pembukaan, panitia juga menghadirkan penampilan dari Juara 1 MYF tahun sebelumnya yang kini menjadi mahasiswa Universitas Malahayati. Penampilan tersebut menjadi bukti nyata bahwa MYF tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga membuka peluang pendidikan melalui program beasiswa bagi peserta berprestasi.
Ketua Pelaksana Dies Natalis Universitas Malahayati ke-32, Dr. M. Arifki Zainaro, S.Kep., Ns., M.Kep., menegaskan bahwa MYF 2026 dirancang sebagai kegiatan yang berkelanjutan dan berdampak.
“Pelaksanaan Malahayati Year Festival 2026 yang berlangsung selama lima hari, mulai 19 hingga 23 Januari 2026, diharapkan menjadi ajang silaturahmi sekaligus wadah aktualisasi potensi siswa. Tidak hanya kompetisi, tetapi juga pembentukan karakter, kreativitas, dan semangat berprestasi,” ungkapnya.
Kesuksesan pelaksanaan Malahayati Year Festival (MYF) 2026 turut didukung oleh berbagai sponsor, di antaranya PT World Innovative Telecommunication (Oppo), Grab Bandar Lampung, PT Pegadaian Tanjung Karang, PT Persada Sarana Mobilindo (Chery), serta Andaru Event Organizer & Sound System. Selain itu, kegiatan ini juga mendapat dukungan publikasi dari sejumlah media partner, yakni Humas Malahayati, Radar Lampung, Tribun Lampung, Lampung Post, dan Infokyai.
Malahayati Year Festival 2026 bukan sekadar agenda tahunan, melainkan refleksi peran perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan inspiratif. Dengan mempertemukan dunia pendidikan menengah dan perguruan tinggi dalam satu panggung prestasi, MYF menjadi jembatan awal lahirnya generasi muda yang berdaya saing, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Universitas Malahayati, melalui MYF, menunjukkan bahwa kampus bukan hanya pusat akademik, tetapi juga ruang tumbuhnya mimpi dan potensi generasi penerus bangsa.(fkr)
Editor : Fadly KR
Garis Finis di Lorong Waktu
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Tulisan ini terinspirasi dari membaca banyak sumber tentang kematian dalam konsep filsafat manusia; dan oleh karena itu deskrepsi analisisnya lebih pada dialog batin. Untuk itu dalam membaca adegan dan analisis tulisan ini, mari memposisikan diri sebagai pembaca instrospektif yang naratif. Jika ada kebenaran di sana, sejatinya itu milik Sang Maha Pencipta, dan jika ada kehilafan di sana itu milik penulis, maka ampunkan atasnya. Mari kita mulai dialog imajinatif itu:
Roh bertanya pada Badan: “Badan, kamu gemetar.”
“Aku lelah,” jawab Badan. “Setiap sendi terasa berat. Napas tidak lagi patuh.”
“Itu tanda waktunya dekat,” kata Roh pelan.
“Jadi aku akan berhenti?” sergah Badan.
“Iya” Jawab Roh. “Kamu sudah bekerja cukup lama.”
Badan terdiam. “Aku menahan banyak hal,” katanya kemudian. “Sakit, tuntutan, dan keinginan orang lain. Aku bertahan supaya tetap kuat di mata mereka.”
“Dan aku ikut menyesuaikan,” sahut Roh. “Aku belajar diam agar kita tetap diterima.”
“Apakah itu salah?” Jawab Badan. Roh menjawab, “Tidak. Tapi itu melelahkan.”
Badan menarik napas pendek. “Aku berharap mereka yang dekat akan tinggal sampai akhir.”
“Sebagian tinggal,” kata Roh, “sebagian hanya dekat dalam jarak, bukan dalam penerimaan.”
“Aku takut dilepas,” bisik Badan.
“Kamu tidak dilepas,” jawab Roh lembut. “Kamu diselesaikan.”
“Apa yang akan kamu bawa nanti?” kata Badan kepada Roh.
“Aku membawa semua yang jujur,” kata Roh. “Yang pura-pura akan tertinggal di sini, bersamamu.”
Badan terasa lebih ringan. “Jadi aku boleh berhenti berusaha?”
“Iya,” kata Roh. “Tidak perlu lagi kuat. Tidak perlu lagi cukup bagi semua orang.”
Hening sejenak.
“Kalau aku diam selamanya,” tanya Badan, “kamu baik-baik saja?”
Roh menjawab sambil tersenyum. “Aku justru baru mulai berjalan.”
Badan menghembuskan napas terakhir.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita sampai di garis finis bersama.”
Dialog itu adalah gema terakhir sebelum langkah memasuki lorong yang sesungguhnya. Setelah percakapan dengan malaikat pencabut nyawa berakhir, tidak ada lagi tanya-jawab, tidak ada lagi tawar-menawar batin. Yang tersisa hanyalah kesadaran penuh bahwa manusia itu telah sampai pada garis finis di lorong kematian, sebuah ruang batin di mana hidup tidak lagi dinilai dari lamanya waktu, melainkan dari kejujuran yang akhirnya muncul.
Percakapan singkat tersebut menyingkap sesuatu yang selama hidup kerap disembunyikan: bahwa di ujung perjalanan, manusia tidak berhadapan dengan penilaian orang lain, melainkan dengan dirinya sendiri. Malaikat tidak menanyakan pencapaian, tidak menyebut nama orang-orang terdekat, dan tidak mengungkit siapa yang setia atau yang menjauh. Ia hanya berbicara tentang pelepasan. Sebab lorong kematian bukan tempat pembelaan, melainkan tempat berhenti membawa beban.
Dalam bayangan banyak orang, garis finis kematian seharusnya dipenuhi wajah-wajah akrab, tangan-tangan yang menggenggam erat, dan kalimat perpisahan yang hangat. Namun pengalaman batin manusia modern sering berbeda. Di lorong itu justru muncul kesadaran yang sunyi: bahwa kedekatan yang selama ini diyakini tidak selalu berarti kehangatan. Banyak relasi dibangun dari kebiasaan, kewajiban, dan peran, bukan dari penerimaan yang utuh. Maka ketika tubuh melemah dan perannya runtuh, maka yang tersisa hanyalah rasa; diterima atau tidak, jujur atau pura-pura.
Lorong kematian bekerja seperti cermin panjang. Setiap langkah memantulkan ulang keputusan-keputusan kecil yang diambil selama hidup: kapan memilih diam agar tidak ditolak, kapan mengalah agar tetap dianggap baik, kapan menekan diri demi menjaga kedekatan. Semua itu mungkin terlihat wajar ketika hidup masih panjang. Namun di dekat garis finis, pilihan-pilihan itu menampakkan konsekuensinya. Bukan dalam bentuk hukuman, melainkan kelelahan batin yang mendalam.
Dialog dengan malaikat menegaskan bahwa kelelahan itu bukan kegagalan. “Kamu hidup,” katanya, “itu bukan kegagalan.” Kalimat ini terasa sederhana, tetapi dalam konteks lorong kematian, ia menjadi penawar. Hidup tidak diukur dari seberapa disukai seseorang oleh yang terdekat, melainkan dari keberanian untuk hadir sebagai diri sendiri. Sayangnya, keberanian ini sering datang terlambat, ketika tubuh tak lagi memberi kesempatan untuk memperbaiki relasi atau mengulang kejujuran.
Dalam kehidupan kontemporer, relasi kerap dipoles dengan keharmonisan semu. Konflik dihindari, perbedaan disamarkan, dan kejujuran ditunda demi menjaga stabilitas. Kedekatan menjadi sesuatu yang fungsional, bukan emosional. Kita dekat karena tinggal bersama, bekerja bersama, atau terikat struktur sosial yang sama. Namun kedekatan semacam ini rapuh. Ia bertahan lama, tetapi sering meninggalkan kehampaan yang baru terasa ketika segalanya harus dilepas.
Lorong kematian mengajarkan bahwa tidak semua relasi perlu dibawa sampai garis finis. Malaikat berkata, “Kamu tidak akan membawa siapa pun.” Kalimat ini bukan ancaman, melainkan pembebasan. Manusia tidak dituntut untuk menuntaskan semua harapan orang lain sebelum pergi. Ia hanya diminta untuk membawa dirinya sendiri, tanpa peran dan tanpa topeng. Di titik ini, rasa bersalah karena tidak cukup bagi semua orang perlahan kehilangan maknanya.
Garis finis di lorong waktu adalah juga lorong kematian, dengan demikian, bukan sekadar akhir biologis, melainkan puncak refleksi eksistensial. Ia memaksa manusia mengakui bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya tentang orang lain. Relasi penting, kedekatan bermakna, tetapi semuanya menjadi rapuh ketika tidak dibangun di atas kejujuran terhadap diri sendiri. Di ujung lorong, keheningan bukan selalu kesepian; sering kali ia adalah kelegaan karena tidak lagi harus berpura-pura.
Ketika malaikat akhirnya berkata, “Ayo, garis finis sudah di depanmu,” itu bukan ajakan menuju kegelapan, melainkan undangan menuju kejujuran terakhir. Kematian, dalam kerangka ini, bukan musuh yang harus ditakuti, tetapi cermin yang terlambat kita lihat. Ia memantulkan bagaimana kita mencintai, bagaimana kita mendekat, dan bagaimana kita perlahan menjauh dari diri sendiri demi diterima.
Garis finis itu harus dilewati sendirian, maka semoga kesendirian itu bukan dipenuhi penyesalan karena terlalu lama hidup dalam kepura-puraan. Semoga ia diisi oleh ketenangan sederhana: bahwa pada akhirnya, manusia itu berhenti berlari, berhenti menyesuaikan diri, dan tiba sebagai dirinya sendiri; utuh, jujur, dan tanpa perlu lagi disukai. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Mahasiswa UNMAL Ukir Prestasi di Kejuaraan Beladiri Bandar Lampung
Bandarlampung (malahayati.ac.id) – Mahasiswa Universitas Malahayati (UNMAL) kembali menunjukkan prestasi membanggakan di bidang olahraga beladiri. Sejumlah mahasiswa dari berbagai program studi berhasil meraih gelar juara dalam ajang Pekan Olahraga Kota (PORKOT) Bandar Lampung 2025 yang diselenggarakan oleh Wali Kota Bandar Lampung pada 27–28 Desember 2025 dan 24–31 Desember 2025.
Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Dimas Baskoro (NPM 24410040), berhasil menorehkan prestasi dengan meraih Juara 1 Judo kelas -73 kg, Juara 2 Combat Sambo kelas -71 kg, serta Juara 1 Sport Sambo kelas -71 kg. Dimas menyampaikan bahwa kejuaraan ini menjadi batu loncatan penting dalam mengawali kariernya sebagai atlet beladiri.
“Pertandingan ini bukanlah akhir, melainkan awal bagi saya untuk terus berprestasi hingga tingkat nasional dan internasional,” ungkapnya. Ia juga menuturkan bahwa kecintaannya terhadap olahraga beladiri, khususnya Judo, dilandasi oleh filosofi olahraga tersebut yang mampu membentuk karakter, mental, dan kedisiplinan diri.
Prestasi membanggakan juga diraih oleh Ahmad Sempoerna Jaya (NPM 25410001), mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, yang berdasarkan sertifikat resmi PORKOT 2025 berhasil meraih medali emas cabang Judo kelas -66 kg, medali emas Sport Sambo kelas -64 kg, serta medali perak Combat Sambo kelas -64 kg. Sertifikat penghargaan tersebut ditandatangani langsung oleh Wali Kota Bandar Lampung sebagai bentuk pengakuan resmi atas capaian prestasi atlet.
Menurut Ahmad, kejuaraan ini menjadi pacuan semangat untuk terus berkembang sebagai judoka yang disiplin dan berani.
“Hasil dari keringat dan disiplin yang keras tidak akan mengkhianati hasil. Teruslah berlatih,” pesannya.
Sementara itu, mahasiswa Program Studi Manajemen, Awalul Fawaidh (NPM 23220566), turut mengharumkan nama Universitas Malahayati dengan meraih Juara 1 kategori Combat kelas -64 kg dalam kejuaraan yang berlangsung pada 24–31 Desember 2025 di PKOR Way Halim. Ia mengungkapkan bahwa ajang tersebut merupakan pengalaman pertarungan pertamanya dengan aturan (rules) combat.
“Jangan pernah menyerah,” ujarnya singkat namun penuh makna.
Prestasi yang diraih para mahasiswa ini semakin menegaskan komitmen Universitas Malahayati dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa secara menyeluruh. Tidak hanya unggul di bidang akademik, Universitas Malahayati juga terus mendorong prestasi non-akademik sebagai bagian dari pembentukan karakter mahasiswa yang berdaya saing dan bermental juara.(fkr)
Editor: Fadly KR
BERDAMAI DENGAN SUNYI
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
(Sebuah Ruang Pulang)
Lampu ruang tamu menyala redup. Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, seolah menegaskan jarak antara detik dan perasaan. Seorang bapak yang tidak lagi muda duduk di ujung Sofa, menatap ponsel yang layarnya gelap. Di seberangnya, seorang sahabat lama, laki-laki yang juga tidak muda lagi, datang berkunjung, menyeduh teh sendiri tanpa banyak bicara.
“Kau sendirian lagi malam ini?” tanya sang sahabat akhirnya, memecah keheningan. Ia mengangguk pelan. “Seperti biasa. Sudah terbiasa.” Sahabat tadi menyelah: “Terbiasa atau terpaksa?” suara itu hati-hati, yang berupaya untuk tidak ingin melukai.
Ia tersenyum, tapi senyum itu singkat dan rapuh. “Awalnya terasa berat. Sekarang rasanya… datar. Seperti ada bagian diriku yang mati rasa.” Sahabatnya menatap lebih dalam. “Kau tidak marah?”. “Dulu iya,” jawabnya lirih. “Marah, kecewa, bertanya-tanya apa yang kurang dariku. Tapi semakin sering sendiri, marah itu habis sendiri.”
Hening kembali mengisi ruangan. Di luar, suara kendaraan sesekali melintas, lalu hilang.
“Apa yang tersisa sekarang?” tanya sahabatnya. “Sunyi,” jawabnya jujur. “Sunyi yang awalnya menyakitkan, tapi lama-lama seperti teman. Ia tidak menjawab apa-apa, tapi menemaniku berpikir.”. Sahabatnya menyergah lagi; “Dan perasaanmu padanya?”. Ia menarik napas panjang. “Masih ada. Tapi kini lebih tenang. Aku belajar mencintai tanpa harus selalu ditemani.”
Sahabatnya mengangguk pelan. “Mungkin itu caramu bertahan.” Ia menatap jendela, gelap memantul di matanya. “Mungkin. Atau mungkin aku sedang belajar berdamai dengan kehilangan yang terus berulang.”
Jam dinding terus berdetak. Di rumah itu, sunyi tidak lagi berteriak, hanya duduk diam, menyaksikan seseorang yang perlahan memahami lukanya sendiri.
Sunyi sering disalahpahami sebagai kekosongan yang menakutkan. Ia dianggap hampa, dingin, dan memanggil kesepian yang menggerogoti. Padahal, sunyi adalah ruang yang jujur, tempat suara dunia mereda dan gema batin terdengar paling jelas. Dalam sunyi, manusia tidak lagi bersembunyi di balik hiruk-pikuk, tidak berlindung pada kebisingan yang memberi ilusi kebermaknaan. Sunyi membuka pintu ke sebuah perjumpaan yang paling sulit sekaligus paling perlu: perjumpaan dengan diri sendiri.
Dunia modern memuja kecepatan dan kebisingan. Kalender penuh, layar menyala tanpa jeda, notifikasi berdenting seolah menjadi denyut nadi kehidupan. Di tengah itu, sunyi terasa seperti gangguan yang harus dihindari. Namun semakin dihindari, semakin terasa haus yang tak terpuaskan. Ada kelelahan yang tak bisa disembuhkan oleh keramaian. Ada luka yang tak bisa ditutup oleh tawa. Pada titik itulah sunyi menawarkan sesuatu yang berbeda: kesempatan untuk berhenti, bernapas, dan mendengar.
Sunyi bukan lawan dari kebahagiaan. Ia adalah tanah tempat kebahagiaan yang lebih jujur bertumbuh. Dalam sunyi, pikiran yang berlarian mulai berjalan pelan. Emosi yang selama ini ditahan menemukan bahasa. Ketika tidak ada yang harus dipamerkan, tidak ada yang perlu dibuktikan, seseorang dapat mengakui ketakutan tanpa malu dan menerima keterbatasan tanpa menghakimi. Sunyi mengajarkan keberanian untuk tinggal, bukan lari.
Ada paradoks yang indah di sana. Sunyi memang menyingkapkan rasa sepi, tetapi sekaligus menumbuhkan rasa cukup. Ketika tidak ada suara dari luar yang memandu, intuisi mengambil alih. Hati belajar menjadi kompas. Dalam kesendirian yang dipeluk dengan sadar, muncul kejernihan: apa yang benar-benar penting dan apa yang sekadar bising. Nilai tidak lagi ditentukan oleh sorak, melainkan oleh ketenangan yang bertahan setelah sorak mereda.
Berdamai dengan sunyi bukan berarti menolak dunia. Ia justru memperkaya cara berhubungan dengan dunia. Orang yang akrab dengan sunyi tidak lagi menggantungkan makna hidup pada validasi. Ia hadir dalam keramaian tanpa larut, berelasi tanpa kehilangan diri. Ada keteguhan yang lahir dari kebiasaan mendengar diri sendiri. Dari sana, empati tumbuh lebih tulus, karena memahami diri membuat seseorang lebih peka memahami yang lain.
Sunyi juga menyimpan kekuatan penyembuhan. Ia memberi waktu bagi luka untuk bernapas. Dalam keheningan, ingatan yang terpecah bisa disusun ulang, makna yang retak bisa dijahit kembali. Proses ini tidak selalu nyaman. Terkadang sunyi menghadirkan air mata, penyesalan, atau pertanyaan yang lama dihindari. Namun justru melalui ketidaknyamanan itu, penyembuhan bekerja. Sunyi tidak memaksa jawaban cepat; ia memberi ruang agar jawaban matang.
Di dalam sunyi, kreativitas menemukan rumah. Tanpa tuntutan dan gangguan, imajinasi bergerak bebas. Gagasan lahir bukan sebagai reaksi, melainkan sebagai ekspresi. Ada kebijaksanaan yang tumbuh dari memperlambat ritme. Ketika waktu tidak dikejar, ia menjadi sahabat. Setiap detik memiliki bobot, setiap napas memiliki makna. Sunyi mengajarkan bahwa produktivitas bukan soal banyaknya hasil, melainkan kedalaman proses.
Berdamai dengan sunyi adalah latihan yang berulang. Ia tidak datang sebagai keadaan permanen, melainkan sebagai sikap batin. Ada hari-hari ketika sunyi terasa hangat, ada pula saat ia terasa tajam. Keduanya sama-sama guru. Dengan menerima perubahan itu, seseorang belajar lentur. Tidak lagi menuntut hidup selalu nyaman, tetapi percaya bahwa setiap keadaan membawa pelajaran.
Pada akhirnya, jiwa yang berdamai dengan sunyi menemukan rumah di dalam dirinya sendiri. Rumah yang tidak bergantung pada cuaca dunia. Dari rumah itu, seseorang melangkah dengan lebih ringan. Ia tahu ke mana harus kembali ketika lelah. Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan cukup mendengar. Sunyi tidak lagi menakutkan; ia menjadi sahabat yang setia.
Di tengah dunia yang terus berisik, memilih sunyi adalah tindakan berani. Ia adalah pernyataan bahwa kedalaman lebih penting daripada gemerlap, bahwa keutuhan lebih berharga daripada pengakuan. Sunyi tidak menghilangkan manusia dari kehidupan; ia menempatkan manusia kembali pada inti kehidupan. Dan di sana, dalam keheningan yang jujur, jiwa menemukan damai yang tidak bergantung pada apa pun selain keberanian untuk hadir sepenuhnya. Berkontemplasi adalah mempersiapkan diri untuk menuju perjalanan abadi. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Menuju Tata Kelola Keuangan Publik yang Lebih Baik, Prodi Akuntansi UNMAL Jalin PKS dengan Pemkab Pesisir Barat
KADO UNTUKMU MALAHAYATI-KU “Dedikasi dan Keikhlasan”
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Universitas Malahayati akan merayakan Dies Natalis ke-32, sebuah tonggak penting dalam perjalanan panjang institusi pendidikan tinggi yang telah menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa untuk belajar, berinovasi, dan berkembang. Pada momen istimewa ini, jargon “Dedikasi dan Keikhlasan” diangkat sebagai refleksi mendalam tentang bagaimana manusia modern dapat menyeimbangkan antara produktivitas profesional, kepuasan pribadi, dan kontribusi bagi masyarakat. Jargon ini bukan sekadar slogan, tetapi filosofi yang relevan bagi mahasiswa, dosen, alumni, dan seluruh civitas akademika, sekaligus pesan inspiratif bagi masyarakat luas.
Di era globalisasi dan digitalisasi yang serba cepat, bekerja tidak lagi hanya sekadar aktivitas mencari nafkah. Pekerjaan kini menjadi bagian dari identitas diri, sarana aktualisasi potensi, dan medium untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Bekerja dengan dedikasi berarti menempatkan integritas, empati, dan kepedulian sebagai fondasi dalam setiap langkah profesional. Individu yang bekerja dengan dedikasi tidak hanya fokus pada target semata, tetapi juga pada manfaat yang dihasilkan; baik bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Bekerja dengan dedikasi berarti bekerja dengan hati, artinya setiap tugas yang dilakukan memiliki makna yang lebih dalam, tidak sekadar rutinitas semata.
Dalam konteks kontemporer, bekerja dengan hati juga berarti mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan sentuhan humanis. Misalnya, di dunia pendidikan, seorang dosen tidak hanya menyampaikan materi melalui kuliah daring atau modul digital, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang membentuk karakter, empati, dan keterampilan kritis mahasiswa. Di dunia industri, profesional memanfaatkan data, algoritma, dan teknologi artificial intelligence untuk meningkatkan efisiensi kerja, namun tetap memprioritaskan kolaborasi dan komunikasi yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, bekerja dengan hati bukan berarti menolak modernisasi, melainkan mengintegrasikannya dengan kesadaran etis dan sosial.
Dalam konteks Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati, jargon ini memiliki resonansi yang sangat kuat. Universitas bukan hanya tempat menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga menanamkan nilai integritas, empati, dan inovasi. Selama lebih dari tiga dekade, Malahayati telah membuktikan bahwa pendidikan yang menekankan kerja dengan hati akan menghasilkan alumni yang tidak hanya sukses profesional, tetapi juga memiliki kesadaran sosial tinggi. Alumni yang bekerja dengan hati mampu membangun karier yang bermakna sekaligus meraih penghasilan sepenuh hati, yaitu harmoni antara kepuasan personal, keberlanjutan profesional, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dedikasi dan keikhlasan juga menuntut kedisiplinan, keberanian mengambil risiko, dan kreativitas. Dunia kerja modern semakin kompleks: otomatisasi, persaingan global, dan ekspektasi masyarakat menuntut kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Dengan hati, individu mampu menjaga kompas moral dan motivasi intrinsik. Dengan keikhlasan, individu merasa dihargai dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Keduanya membentuk siklus produktivitas yang sehat dan berkelanjutan, yang tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga organisasi dan masyarakat luas.
Lebih jauh lagi, filosofi dedikasi dan keikhlasan mengajarkan kita tentang kepuasan sejati. Banyak orang mengira bahwa kesuksesan diukur dari jumlah materi atau status sosial semata. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa individu yang bekerja dengan hati merasa lebih bahagia, lebih bermakna, dan lebih puas dalam hidupnya, meskipun penghasilannya mungkin tidak selalu besar. Sebaliknya, individu yang hanya mengejar uang tanpa hati seringkali menghadapi stres, kebosanan, dan kehilangan arah. Filosofi ini mengingatkan bahwa keseimbangan antara nilai moral, kepuasan personal, dan imbalan yang berkah adalah kunci hidup modern yang harmonis.
Akhirnya, “Dedikasi dan Keikhlasan” bukan hanya aspirasi profesional, tetapi filosofi hidup kontemporer yang relevan bagi siapa saja. Dalam menghadapi kompleksitas dunia modern, kesuksesan sejati lahir dari keseimbangan antara kontribusi bermakna, kepuasan pribadi, dan penghargaan yang adil. Universitas Malahayati, melalui perjalanan 32 tahun, telah menunjukkan bahwa integrasi antara dedikasi dan keihlasan memungkinkan lahirnya generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi masa depan bangsa.
Dengan bekerja ikhlas, setiap individu menemukan makna dalam beraktivitas sehari-hari. Dengan dedikasi, setiap individu merasakan nilai dari usahanya. Ketika keduanya bersatu, terciptalah kehidupan profesional yang seimbang, harmonis, dan penuh makna; suatu pencapaian yang layak dirayakan di momen istimewa Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati. Jargon ini relevan bagi civitas akademika, yang menghadapi tantangan modernisasi, digitalisasi, dan kompleksitas kehidupan profesional.
Universitas Malahayati telah menunjukkan bahwa pendidikan yang menekankan kerja dengan hati bukan hanya menghasilkan lulusan cerdas, tetapi juga manusia utuh yang siap menghadapi dunia dengan integritas, inovasi, dan empati.
SELAMAT ……DIES NATALIS KE 32…..MAJU..DAN..JAYA..MALAHAYATI-KU. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR
Katalog buku Potensi Herbal Untuk Meredakan Nyeri Punggung Kehamilan Pendekatan Berbasis Bukti Dalam Asuhan Kebidanan
judul buku: Potensi Herbal Untuk Meredakan Nyeri Punggung Kehamilan Pendekatan Berbasis Bukti Dalam Asuhan Kebidanan
Isbn:proses
Penulis:Dr. Dainty Maternity, S.ST.Bdn., M.Keb.
Penerbit: Universitas Malahayati
Sinopsis:
Nyeri punggung merupakan salah satu keluhan yang paling sering dialami oleh ibu hamil dan dapat memengaruhi aktivitas, kualitas tidur, serta kualitas hidup selama kehamilan. Kondisi ini sering kali dianggap sebagai keluhan fisiologis, sehingga tidak mendapatkan penanganan yang optimal.
Buku Potensi Herbal untuk Meredakan Nyeri Punggung Kehamilan membahas secara sistematis konsep nyeri punggung kehamilan, perubahan anatomi dan fisiologi, peran stres dan inflamasi, hingga pemanfaatan terapi nonfarmakologis dan terapi herbal sebagai pendekatan komplementer dalam asuhan kebidanan.
Disusun berdasarkan bukti ilmiah dan penelitian pra-klinik, buku ini menempatkan terapi herbal secara bijak, aman, dan sesuai dengan kewenangan bidan. Dilengkapi dengan studi kasus, latihan soal, dan contoh edukasi Kelas Ibu Hamil, buku ini diharapkan menjadi referensi praktis bagi mahasiswa kebidanan dan bidan dalam memberikan asuhan kebidanan yang holistik dan berbasis bukti.
Mahasiswa Ilmu Hukum UNMAL Buktikan Prestasi Lewat Dua Kejuaraan Beladiri 2025
Bandarlampung (malahayati.ac.id): Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Malahayati (UNMAL) kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang olahraga beladiri. Galan Prasojo (NPM 25610091) berhasil meraih dua gelar juara dalam ajang Muaythai Fight Arena dan Pekan Olahraga Kota (PORKOT) Bandar Lampung 2025 yang berlangsung pada akhir Desember 2025.
Pada cabang olahraga Muaythai, Galan Prasojo sukses meraih Juara 1 kelas 48 Kg kategori Amatir dalam event Muaythai Fight Arena Vol. 2 yang diselenggarakan oleh Gajah Lampung Fight Camp pada 27–28 Desember 2025.
Sementara itu, pada ajang Pekan Olahraga Kota (PORKOT) Bandar Lampung 2025, Galan Prasojo kembali menunjukkan performa terbaiknya dengan meraih medali emas cabang olahraga Kick Boxing kelas 51 Kg Full Contact kategori Senior. Kegiatan PORKOT ini diselenggarakan oleh Wali Kota Bandar Lampung bekerja sama dengan KONI Lampung, serta induk organisasi olahraga terkait, dan berlangsung pada 24–31 Desember 2025.
Prestasi yang diraih tersebut menjadi bukti konsistensi, disiplin, dan totalitas Galan Prasojo dalam menekuni dunia olahraga beladiri. Ia menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi pemacu semangat untuk terus berkembang dan menargetkan prestasi yang lebih tinggi di masa mendatang.
“Prestasi ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus berproses dan mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi dalam bidang olahraga,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada generasi muda agar senantiasa menjaga konsistensi dalam kondisi apa pun. Menurutnya, keberhasilan sangat ditentukan oleh sikap disiplin, konsisten, dan totalitas dalam menjalani proses latihan dan perjuangan.
Ketertarikan Galan Prasojo terhadap dunia olahraga menjadi alasan utama dirinya menekuni cabang beladiri Muaythai dan Kick Boxing. Melalui olahraga, ia tidak hanya menyalurkan bakat, tetapi juga membentuk karakter, mental, serta daya juang yang kuat.
Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa Universitas Malahayati mampu menyeimbangkan antara akademik dan non-akademik. Keberhasilan tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi serta membawa nama Universitas Malahayati ke tingkat yang lebih tinggi.(fkr)
Editor: Fadly KR
Katalog buku Pengantar Teknologi Informasi
Judul buku : Pengantar Teknologi Informasi
Penulis:
Tyan Tasa,S.Kom.,M.Kom
Dr.Sri Lestari,S.Kom.,M.Cs
Nirwana Hendrastity, S.Kom., M.Cs
ISBN: Proses
Penerbit : Universitas Malahayati
Sinopsis:
Buku ini membahas konsep-konsep fundamental Teknologi Informasi, mulai dari pengertian dan komponen TI, perangkat keras dan perangkat lunak, data dan sistem informasi, jaringan komputer, keamanan informasi, hingga etika dan perkembangan teknologi terkini. Materi disajikan dengan bahasa yang sederhana, runtut, dan dilengkapi dengan contoh penerapan agar mudah dipahami oleh pembaca pemula.